Yesus Menampakkan Diri
Luk. 24:13-35
Pdt. Dawis Waiman, M. Div
Bapak Ibu Saudara yang dikasihi Tuhan, minggu lalu kita telah melihat bahwa pada waktu Yesus masuk ke Yerusalem, tujuan daripada peristiwa yang dicatat di dalam Injil Matius adalah untuk mau bertanya atau menanyakan kepada diri kita, siapakah sebenarnya Yesus Kristus itu? Orang yang duduk di atas keledai dan masuk menuju Yerusalem, di mana semua orang menyambut diri Dia, lalu berkata “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan atau Dia yang adalah anak Daud” tersebut. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita merenungkan bagian itu, ini adalah satu pertanyaan yang bukan hanya perlu dijawab oleh murid-murid dan orang banyak yang datang untuk menyambut Yesus Kristus masuk ke Yerusalem saja. Tapi ini juga adalah satu pertanyaan yang kita perlu tanyakan dan kita perlu gumulkan dalam hidup kita, atau jawab dalam kehidupan kita, siapakah sesungguhnya Yesus Kristus itu? Dan mengapa ini menjadi satu hal yang penting dalam kehidupan kita? Karena di dalam perjalanan para murid, di dalam perjalanan orang-orang yang merupakan rasul dari Yesus Kristus, di dalam perjalanan iman dari orang-orang yang mengatakan diri mereka Kristen sezaman dengan Yesus Kristus, dan bahkan dari perjalanan dari orang-orang yang mengatakan diri Kristen pada zaman kita hari ini, banyak kali kita menemukan dan sering kali kita menemukan apa yang terjadi bagi murid-murid, itu persis terjadi dengan diri kita sendiri. Dalam pengertian apa? Dalam pengertian kita juga walaupun sering mendengarkan pengajaran Yesus Kristus, walaupun kita sering kali mendengarkan mengenai siapa itu Yesus Kristus, apa yang Dia lakukan, apa yang menjadi pengajaran-Nya, tetapi dalam hati kita, kita masih di dalam kegelapan, kita masih di dalam kebingungan dan ketidaktahuan di dalam kehidupan kita.
Saya ambil contoh, misalnya pada waktu kita melihat mengenai peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sendiri. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang menjadi dasar kita bisa berkata bahwa Yesus sungguh-sungguh mati, Yesus sungguh-sungguh bangkit daripada kematian itu? Mungkin salah satu dasar yang sering kali kita katakan adalah, coba lihat bukti dari dunia. Adakah bukti dari orang-orang Yahudi yang bukan Kristen, dan dari kerajaan Roma sendiri yang mengatakan pribadi yang namanya Yesus Kristus pernah ada di dalam dunia ini, pernah diadili oleh Pontius Pilatus, pernah mati disalibkan dan pernah dibangkitkan? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita berbicara hal ini, di dalam catatan sejarah sendiri, itu mengatakan pribadi yang namanya Yesus Kristus pernah ada di dalam dunia ini, pernah terlahir, pernah diadili di hadapan Pontius Pilatus, pernah disalibkan dan mati dikuburkan. Tetapi berbicara mengenai kebangkitan, itu adalah berbicara mengenai lain hal yang tidak ditemukan di dalam catatan dari dunia. Walaupun mungkin ada beberapa yang mencatat, tetapi yang lebih kita bisa dapatkan adalah dari perkataan Alkitab sendiri.
Tetapi pada waktu kita berbicara mengenai “Sungguhkah Yesus mati? Sungguhkah Yesus bangkit dari kematian?” Dari perkataan Kitab Suci, itu adalah sesuatu yang benar dan dapat dipercaya. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Alkitab memberikan kepada kita banyak sekali bukti berkaitan dengan hal ini. Dan salah satu bukti, saya nggak akan bahas semuanya, karena kita akan ada kebaktian Paskah di hari Jumat nanti. Di situ saya akan bahas lebih banyak mengenai hal ini. Tetapi salah satu bukti yang berkaitan dengan kematian dan kebangkitan Kristus yang kita bisa sungguh-sungguh pegang adalah dari bagaimana orang-orang Kristen yang merupakan murid Yesus Kristus, ketika mendapatkan kabar pengajaran dari Yesus Kristus; “Dia akan mati, menderita, Dia akan menanggung dosa, Dia akan dipakukan di atas kayu salib, lalu dikuburkan dan bangkit dari kematian,” respon mereka bukan respon orang yang percaya, tapi respon mereka adalah respon dari orang-orang yang tidak percaya, bahwa hal itu akan terjadi pada diri Yesus Kristus atau bahkan sudah terjadi kepada diri Yesus Kristus.
Bapak, Ibu bisa lihat dari peristiwa ketika Yesus ada di Kaisaria Filipi. Ketika Yesus bertanya kepada orang banyak atau kepada murid-murid-Nya berkenaan dengan apa yang dikatakan orang banyak mengenai diri Dia. Maka Yesus, ketika bertanya menurut mereka “Siapakah Aku ini?” Murid-murid-Nya berkata, “menurut orang Engkau adalah Yohanes Pembaptis, Engkau adalah Yeremia, Engkau adalah salah satu dari para nabi itu.” Tapi pada waktu Yesus mendengar itu semua Dia tidak puas, Dia tanya kepada murid-murid-Nya sendiri, “Menurut kalian, siapakah Aku ini?” Maka Petrus mewakili murid-murid yang lain berkata, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah.” Dan pada waktu hal itu dikatakan oleh Petrus, Yesus kemudian mulai mengajarkan mengenai apa yang akan dialami oleh diri Dia. Dimulai dari pengajaran mengenai penderitaan yang akan dialami oleh Yesus Kristus.
Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada kali pertama Yesus mengajar mengenai penderitaan yang Dia akan alami, Dia akan menderita, Dia akan ditolak oleh tua-tua, Dia akan ditolak oleh imam-imam kepala ahli Taurat. Lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Apa yang menjadi respon murid? Mereka pada waktu itu tidak percaya akan kondisi itu, Petrus yang mewakili itu langsung menarik dari tangan Yesus lalu berkata, “Sekali-kali hal itu tidak akan terjadi pada Engkau Yesus Kristus.” Jadi pada pikiran murid ketika Yesus mengajarkan mengenai penderitaan dan kematian-Nya, itu adalah mustahil terjadi bagi seorang yang bernama Yesus atau Dia adalah Mesias Anak Allah itu.
Lalu Bapak, Ibu bisa lihat lagi pada waktu peristiwa Yesus mengajarkan mengenai penderitaan yang kedua kali yang akan dilakukan Yesus Kristus. Apa yang dilakukan oleh murid-murid? Setelah mendengar peristiwa itu mereka ada di dalam ketidakmengertian. Kalau, Bapak, Ibu, mau buka boleh buka Markus di situ, murid-murid kebingungan atau ketidakmengertian, kalau pakai istilah di situ. Markus 9, tetapi wujud ketidakmengertian itu kemudian dinyatakan dari perdebatan yang ada di kalangan murid sendiri; yaitu, siapa yang terbesar di antara kita. Apakah Petrus, Yakobus, Yohanes, atau murid-murid yang lain tersebut. Jadi pada waktu Yesus bicara mengenai kematian, waktu Yesus bicara mengenai pengorbanan yang akan dialami, murid justru berkata, siapa di antara kita yang paling besar daripada yang lainnya.
Lalu kalau Saudara baca kembali pada peristiwa Yesus mengajarkan penderitaan Dia yang ketiga, yaitu di dalam Markus pasal yang ke-10, di situ terjadi peristiwa yang lebih, lebih mungkin mengagetkan diri kita; Alkitab mencatatkan murid-murid ketakutan, ketika mendengar Yesus akan menderita mati lalu kemudian menuju ke Yerusalem untuk tujuan tersebut. Tetapi juga di ayat 35 dan seterusnya, Yakobus dan Yohanes meminta Ibunya datang kepada Yesus Kristus untuk meminta posisi di sebelah kanan dan sebelah kiri dari Yesus Kristus.
Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, apakah ini adalah murid Yesus yang hebat itu? Yang terkenal itu? Yang begitu dekat dengan Yesus Kristus, yang 3,5 tahun tidak pernah meninggalkan Yesus sama sekali? Kalau kita berkata benar, kenapa mereka menjadi begitu butanya untuk pengertian hal mengenai penderitaan, kematian dan kebangkitan dari Yesus Kristus? Tetapi ini adalah satu fakta realita yang Alkitab tulis bagi kita, pada waktu murid mendengar tentang penyaliban Yesus Kristus, mereka sendiri adalah orang-orang yang tidak percaya peristiwa itu akan terjadi pada Yesus Kristus. Dan dalam pikiran mereka Yesus tidak mungkin mati. Yesus adalah Mesias. Yesus adalah Raja. Dia pasti akan memerintah dan mengalahkan musuh-musuh-Nya. Tetapi pada waktu Dia masuk ke Yerusalem, semua pengharapan mengenai Yesus Kristus, itu semua menjadi pupus di dalam hati para murid.
Bapak, Ibu, bisa lihat di dalam Lukas 24 yang tadi kita baca, ketika Yesus berbicara dengan dua orang murid yang berjalan ke Emaus itu. “Murid itu bertanya kepada Yesus, masakah Engkau orang asing satu-satunya tidak pernah mendengar apa yang terjadi pada Yesus orang Nazareth itu? Kami adalah orang-orang yang menaruh harapan kepada pekerjaan dan perkataan dari orang itu atau menaruh pengharapan bahwa Dialah Mesias yang akan datang itu, untuk membebaskan orang Israel? Tetapi sekarang, Dia sudah disalibkan dan Dia sudah mati dikuburkan.” Itu sebabnya dua murid Emaus itu pulang ke Emaus. Itu sebabnya kalau Bapak, Ibu baca di dalam Injil Yohanes, Petrus mengajak teman-teman yang lain, rasul-rasul yang lain itu pergi mancing lagi di Danau Galilea, atau menangkap ikan di Danau Galilea. Kita ndak tahu murid-murid yang lain di mana, tidak dicatat seperti itu, tetapi yang menjadi hal yang kita bisa pertimbangkan, pada waktu mereka menemukan Yesus mati di kayu salib dan dikuburkan, mereka kembali ke tempat mereka masing-masing, mereka kembali ke profesi mereka sebelumnya karena apa? Mereka tidak percaya Yesus akan bangkit. Mereka tidak berpikir bahwa perkataan Yesus adalah sesuatu yang bisa dipegang dan dipercaya dan pasti terjadi seperti itu.
Termasuk ketika para perempuan Maria Magdalena, Maria dan Salome yang pergi kepada kubur Yesus pada pagi di hari Minggu itu, setelah hari Sabat berlalu, tujuan mereka datang itu untuk apa? Alkitab menyatakan mereka menyediakan begitu banyak rempah-rempah untuk meminyaki mayat dari Yesus Kristus. Dan di dalam perjalanan menuju kepada makam itu, di dalam pembicaraan mereka, mereka berkata, “Siapa yang akan menggulingkan batu besar yang menutupi makam itu? Kita adalah tiga perempuan di sini, nggak ada yang bisa bantu kita.” Tetapi pada waktu mereka tiba di situ, batu sudah terguling dan Alkitab mencatat mereka tidak menemukan jenazah dari Yesus Kristus di situ.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kenapa hal ini dicatat? Kenapa para perempuan itu dan pembicaraan dan apa yang mereka lakukan itu dicatat di situ? Tujuannya cuma satu yaitu mau menekankan mereka tidak ingat akan pengajaran Yesus Kristus: pada hari ketiga Yesus akan bangkit dari kematian. Mereka tidak percaya kepada pengajaran Yesus Kristus bahwa Dia akan mengalahkan kuasa maut. Dan itu sebabnya mereka datang ke makam itu untuk merempah-rempahi jenazah dari Yesus Kristus.
Jadi, itu sebabnya pada waktu kita berbicara mengenai kematian dan kebangkitan Yesus, apa yang menjadi dasar kita bisa percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh mati? Bahwa Yesus sungguh-sungguh bangkit dari kematian? Salah satu dasarnya adalah para murid sendiri –di dalam kondisi itu, ketika menuliskan peristiwa kematian dan kebangkitan– mereka bukan dalam kondisi yang sedang mengarang cerita atau sedang membohongi diri kita bahwa: “Peristiwa ini adalah satu peristiwa yang tidak terjadi, tetapi kami sedang menuliskan sesuatu supaya seolah-olah peristiwa ini terjadi.” Melainkan mereka sendiri mengakui –dalam hati mereka dan kepada diri kita semua– bahwa mereka pun sebelumnya tidak percaya bahwa perkataan Yesus adalah kebenaran. Mereka sendiri pun tidak percaya Yesus akan bangkit dari kematian. Dan mereka kehilangan pengharapan; mereka kembali ke tempat mereka masing-masing. Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya lihat ini adalah salah satu hal yang penting untuk kita bisa pahami berkaitan dengan kematian dan peristiwa kebangkitan dari Yesus Kristus.
Nah, sekarang saya mau ajak kita masuk ke dalam peristiwa yang dicatat di dalam Lukas 24: berkaitan dengan dua murid yang pergi ke Emaus untuk pulang ke rumah mereka tapi di tengah jalan mereka bertemu dengan Yesus Kristus. Nah, pada waktu mereka bertemu dengan Yesus Kristus, terjadi dialog yang sangat menarik sekali. Saya nggak tahu apakah Bapak, Ibu membaca bagian ini dengan satu pemikiran, “Ah, sudah biasa. Oh, percakapan antara Yesus dengan dua orang murid di Emaus. Ini bukankah berbicara mengenai Yesus menampakkan kepada dua orang murid seperti halnya kepada murid-murid yang lain, untuk membuktikan bahwa Dia sudah bangkit dari kematian?” Memang benar ini adalah satu pencatatan berkaitan Yesus yang bangkit dari kematian yang dicatat oleh Lukas di sini. Dan kalau kita mau mundur sedikit, di dalam Injil Yohanes, apa yang menjadi tujuan dari Yesus masuk ke dalam Yerusalem? Di situ ada satu kata yang menarik: walaupun mereka melakukan hal itu tetapi mereka tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Sampai peristiwa Yesus bangkit dari kematian, baru mereka mengerti apa yang mereka lakukan pada waktu itu. Nah, ini mau menunjukkan seperti ini, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan; kalau, andai kata, Yesus tidak pernah bangkit dari kematian, kira-kira ada gunanya tidak para murid menuliskan kesaksian Yesus mati dan bangkit dari kematian? Kalau peristiwa Yesus bangkit dari kematian itu adalah satu kebohongan, ada gunanya tidak para murid menulis peristiwa Yesus masuk ke Yerusalem? Dan yang lainnya tentunya? Jadi, pada waktu murid-murid berjalan ke Emaus pada waktu itu, mereka tahu bahwa Yesus, atau mereka berpikir, Yesus tidak bangkit dari kematian. Lalu kalau mereka berpikir Yesus tidak bangkit dari kematian, dan sungguh-sungguh tidak bangkit dari kematian, ada gunanya tidak kalimat di dalam perikop ini dicatat untuk kita baca seperti itu? Saya percaya semua itu tidak berguna. Tetapi kadang-kadang kita berpikir, “Oh, ini adalah satu hal yang biasa. Saya sudah tahu bahwa Yesus bangkit dari kematian.” Sehingga apa yang dicatat dalam Kitab Suci tidak kita baca lebih detail dan lebih teliti lagi.
Nah, apa yang menarik di sini selain tadi yang saya katakan itu? Yaitu pada waktu Yesus bercakap-cakap dengan orang-orang yang menuju ke Emaus ini? Di dalam perjalanan itu, Yesus bertemu dengan mereka, lalu bertanya, “Apa yang engkau percakapkan?” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, aneh nggak? Yesus bertemu dengan mereka lalu Yesus tanya, “Apa yang kalian bicarakan?” Lalu orang itu bertanya kepada Yesus, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing yang tidak mengetahui apa yang terjadi di Yerusalem?” Mereka bingung, justru, mendengar pertanyaan dari Yesus Kristus. Mereka berpikir: “Masa, Yesus di Yerusalem, peristiwa yang begitu besar, Engkau sama sekali tidak mengetahui hal itu?”
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita baca dengan teliti mungkin kita akan bertanya, “Iya, ya. Kenapa Yesus bertanya seperti itu? Apakah Yesus sungguh-sungguh tidak mengetahui peristiwa yang terjadi di Yerusalem?” Saya yakin enggak mungkin. Karena Dia sendirilah orang yang dibicarakan oleh kedua murid tersebut. Tapi pada waktu Dia tahu bahwa diri Dia sedang dibicarakan oleh dua murid, kenapa Dia masih bertanya, “Apa yang engkau membicarakan di dalam perjalananmu itu?”
Lalu yang kedua adalah pada waktu murid-murid berbicara, “Kami sedang berbicara mengenai Yesus yang dari Nazaret itu. Tidakkah Engkau mengetahuinya? Atau tidakkah Engkau mendengarnya?” Lalu jawaban Yesus bagaimana? Yesus dikatakan tidak menjawab, “Itulah Aku. Kalian tahu nggak? Kalian itu sedang berbicara tentang diri Saya. Ini Saya, Yesus Kristus yang bangkit dari kematian.” Yesus nggak berbicara seperti itu. Tapi yang Yesus kemudian ajak murid-murid itu melihat bahwa apa yang tercatat di dalam Kitab Suci berkenaan dengan diri Yesus harus terjadi seperti yang dicatat di dalam Kitab Suci tersebut.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, mengapa hal ini menjadi hal yang dicatat di dalam Injil Lukas? Kenapa Yesus di dalam pembicaraan tidak langsung terus terang berbicara, “Saya-lah orangnya, yang kalian bicarakan itu. Saya sudah bangkit dari kematian.” Mengapa Yesus sebelum menyatakan siapa diri Dia, mengutip ayat-ayat di dalam Kitab Suci lalu kemudian Yesus menanyakan kepada murid-murid, “Kalian sedang berbicara mengenai apa?” Saya sendiri percaya bahwa ini adalah salah satu cara Allah—ada yang menafsirkan seperti ini, Tuhan senang sekali sepertinya bermain dengan murid-murid-Nya untuk menguji murid-murid-Nya di dalam pengertian mereka akan siapakah Yesus Kristus itu.
Saya lihat ada benarnya seperti itu Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi oleh Tuhan. Kalau kita baca di dalam Injil, tiap kali di dalam percakapan yang dilakukan murid dengan Yesus Kristus dan Yesus dengan murid-murid, umumnya Yesus akan berusaha untuk mengajak murid-murid itu memikirkan ulang; doktrin mereka tentang Mesias seperti apa? Lalu siapakah Yesus Kristus itu? Dan mereka diminta untuk menjawab pertanyaan siapakah diri Yesus Kristus itu yang sesungguhnya. Dan caranya bagaimana? Dengan bertanya kepada murid-murid, dengan bertanya kepada diri kita. Tapi dalam hal ini, kenapa Yesus bertanya kepada mereka? Selain dari ingin menguji pengetahuan dari murid-murid, tentunya Yesus ingin mereka menilai sendiri; selama ini mereka imani apa tentang diri Yesus Kristus? Apa yang mereka terima dari pengajaran yang Yesus sudah ajarkan kepada diri mereka? Dan ternyata jawabannya adalah mereka tidak mengerti. Mereka sama sekali tidak mengerti mengenai peristiwa itu.
Lalu kalau mereka tidak mengerti tentang peristiwa kebangkitan Yesus Kristus, kenapa Yesus tidak langsung bicara kepada murid-murid, kasih tahu mereka, “Akulah orangnya”? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita seringkali di dalam pemikiran logika kita, kita akan berkata seperti ini, “Kalau Yesus Tuhan, buktikan Dia Tuhan dengan cara Dia katakan, ‘Aku adalah Tuhan’.” Kita seringkali berpikir kalau Yesus bangkit dari kematian, caranya adalah bagaimana? Tidak usah belat-belit, yang efisien saja bicara. Kalau, “Inilah Aku. Aku sudah bangkit, dan Aku yang berdiri di hadapan engkau. Dia-lah atau Aku-lah orang tersebut yang kalian bicarakan.” Tetapi Yesus nggak mengatakan seperti itu. Tujuannya untuk apa? Saya percaya di dalam hal ini, tujuannya adalah untuk memberitahu kita, kesaksian yang paling kuat untuk menyatakan mengenai Yesus Kristus dan kebenaran-kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus, itu bukan hanya dengan berkata bahwa Yesus adalah orang tersebut, dan Dia sudah mati dan bangkit dari kematian saja. Tetapi, cara membuktikan Yesus sungguh-sungguh bangkit dari kematian adalah seperti yang Yesus lakukan kepada para murid. Yaitu menunjukkan kepada murid-murid tersebut, mengenai segala perkataan yang akan dialami oleh Yesus Kristus di dalam Perjanjian Lama.
Jadi, pada waktu kita membaca bagian ini di dalam ayat 27, “Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.” Istilah kitab Musa dan kitab nabi-nabi, itu mau menunjukkan bahwa demi untuk menjelaskan siapa diri Dia, Yesus harus mengajak murid-murid mulai lagi dari kitab Kejadian, yang berbicara mengenai apa yang dilakukan oleh Mesias, sampai kepada Maleakhi. Jadi, Yesus membawa murid melihat kembali satu per satu. Di mana Alkitab berbicara mengenai janji kelahiran Mesias. Siapa itu Mesias menurut Yakub? Siapa itu Mesias menurut Daud? Apa yang dikatakan Musa berkaitan dengan Mesias itu? “Dia adalah Nabi yang akan berbicara di antara saudara-saudaramu, yang harus engkau dengarkan, bukan orang lain.” Lalu apa yang berkaitan dengan perkataan Yesaya di dalam Yesaya 53, bahwa, “Nabi itu atau Mesias itu akan mengalami penderitaan, Dia akan mati, Dia akan dibawa menuju kepada pembantaian, seperti domba yang keluh mulutnya yang tidak bisa bersuara, menuju kepada pembantaian itu.” Tapi di situ juga dikatakan, “Setelah Dia mengalami penderitaan, Dia akan bangkit, Dia akan hidup, Dia akan kembali kepada Bapa, dan Dia akan datang kembali untuk berkuasa di dalam dunia sebagai Raja sampai selama-lamanya.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah kebenaran-kebenaran yang Yesus ajak murid-murid yang menuju ke Emaus untuk memperhatikan hal itu. Dan saya percaya sendiri ini adalah cara yang paling tepat, ini adalah cara yang paling benar di dalam membuktikan siapa sebenarnya Yesus Kristus. Dan ini juga yang menjadi satu cara yang murid-murid sendiri lakukan setelah peristiwa kebangkitan dari Yesus Kristus dan setelah peristiwa Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta. Yaitu apa? Ketika Petrus membuktikan atau berkhotbah, ketika Paulus berkhotbah, mereka mengutip satu per satu dari ayat Kitab Suci untuk menunjukkan bahwa Yesus lah Mesias itu. Saudara bisa baca itu di dalam Kisah Para Rasul berkaitan dengan khotbah para rasul ini. Jadi, ini yang menjadi dasar.
Saya percaya prinsip ini bukan sesuatu yang hanya dipegang oleh para rasul pada zaman para rasul. Prinsip ini bukan hanya harus dipegang oleh gereja Tuhan ketika Kitab Suci masih belum complete untuk dituliskan tapi prinsip ini juga adalah satu prinsip yang gereja Tuhan sampai hari ini pun, walaupun Kitab Suci sudah kita terima semua, harus kita pegang untuk membuktikan mengenai kebenaran Yesus Kristus. Artinya apa? Artinya Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau Yesus mau berbicara kepada kita caranya adalah melalui Alkitab dan bukan melalui perkataan verbal. Saya ulangi ya, kita di dalam zaman ini, sering kali berpikir kalau Yesus berbicara kepada kita untuk membuktikan kebenaran perkataan Yesus Kristus adalah melalui satu pendengaran yang kita terima dari Tuhan atau melalui satu pengalaman rohani yang kita alami atau pengalaman supranatural yang kita alami dalam hidup kita untuk kita saksikan kepada orang lain? Lalu kita bicara, “Yesus sungguh-sungguh berbicara dengan saya.”, “Yesus sungguh-sungguh memberkati saya.”, “Yesus sungguh-sungguh menolong diri saya.” Karena saya mengalami hal ini dan hal itu, Dia betul-betul adalah Tuhan. Dia betul-betul adalah Juruselamat dalam kehidupan manusia yang berdosa. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu bukan cara Tuhan! Dan itu bukan cara para rasul dan itu bukan cara dari orang-orang Kristen mula-mula. Cara dari Tuhan bagaimana? Cara dari Tuhan yang bisa mengatakan, “Akulah Tuhan!”, justru tidak berkata seperti itu melainkan membuktikan Diri Dia adalah Mesias itu, Diri Dia adalah Tuhan, Diri Dia adalah Juruselamat itu, Diri Dia sungguh-sungguh menderita, mati, dan bangkit dari kematian dari apa yang Alkitab katakan mengenai Diri Dia. Para rasul juga menggunakan prinsip yang sama; melalui Kitab Suci. Dan orang Kristen mula-mula, dan orang Kristen yang betul-betul mengerti hal ini menggunakan Kitab Suci untuk membuktikan kebenaran Yesus Kristus atau Firman Tuhan. Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya ini membuat kita bisa berkata seperti ini, “Segala hal yang mengandalkan pengalaman supranatural berkaitan dengan Yesus Kristus itu adalah kesaksian yang sangat-sangat lemah sekali karena Tuhan sendiri tidak menggunakan prinsip itu untuk membuktikan kebenaran diri Dia.”
Nah selain dari semua ini, ada hal-hal lain juga yang mungkin kita bisa pegang dari ayat ini, kalau Bapak, Ibu perhatikan di dalam ayat 14 dan ayat 18, di sini ada satu kata yang menarik, yang muncul, “dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.” Lalu di dalam ayat 18 dikatakan, “Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: ”Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?”” Kata yang penting di situ adalah, yang dikatakan, “hari-hari belakangan ini”, “hal-hal yang terjadi pada hari-hari belakangan ini”. Itu menjadi dua kata yang dua kali diulang. Mau mengatakan apa? Ini mau mengatakan bahwa peristiwa penyaliban Yesus Kristus, peristiwa dari apa yang dipercayai oleh orang Kristen di dalam gereja atau di dalam kehidupan kita, ini adalah satu peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi di dalam sejarah manusia. Ini bukan cerita mitos. Ini bukan sesuatu legenda. Ini adalah sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, yang disaksikan oleh para murid dengan mata mereka sendiri.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tadi saya di awal mengutip ada beberapa hal berkaitan dengan ketidakpercayaan dari para murid tentang peristiwa kebangkitan dan kematian Yesus Kristus, tetapi Bapak, Ibu kalau mau tarik sedikit lagi, Bapak, Ibu bisa melihat sendiri satu peristiwa yang terjadi pada waktu murid-murid yang lain sudah melihat Yesus yang bangkit, lalu ada satu murid yang ketinggalan pada waktu itu. Namanya Tomas. Lalu ketika murid-murid yang lain bercerita kepada Tomas, “Tomas, tahu tidak kami sudah melihat Yesus yang bangkit dari kematian! Dia betul-betul hidup! Dia tidak mati!” Tomas bilang, “Saya, ya, sebelum melihat Dia sendiri, sebelum lihat bekas luka di tangan dan perut-Nya dan sebelum saya mencucukkan jari saya ke bekas luka itu, saya nggak akan percaya kalau Dia bangkit dari kematian.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Alkitab kemudian berkata, Yesus menampakkan diri. Lalu, setelah itu, Tomas langsung jatuh berlutut di hadapan Yesus dan berkata, “Engkau adalah Tuhanku dan Allahku,” seperti itu. Lalu, ada kalimat berikutnya yang Yesus katakan, yang penting sekali. “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini maksudnya apa? Ini maksudnya adalah ketika kita bicara mengenai kebangkitan Kristus, kita mungkin berpikir itu adalah sesuatu iman orang Kristen yang ditujukan kepada sesuatu, sepertinya kebenaran, tetapi kebenaran itu bukan satu kebenaran yang bisa dibuktikan sebagai satu kebenaran. Tetapi, itu adalah satu kebenaran yang hanya dipercayai oleh orang Kristen karena dia percaya Yesus adalah Tuhannya dan Alkitab berkata Dia sungguh-sungguh bangkit. Maka, kita percaya bahwa Dia adalah Tuhan yang telah menebus kita dan sudah bangkit dari kematian. Tetapi, sebenarnya nggak ada pembuktian sama sekali. Tetapi, kalau kita perhatikan apa yang dikatakan oleh Yesus kepada Tomas dan apa yang dikatakan oleh Tomas pada waktu itu, maka kita bisa berkata: apa yang dikabarkan oleh para murid itu bukan sesuatu yang menjadi iman tanpa bukti. Apa yang dikabarkan oleh para murid itu bukan sesuatu mitos. Ada yang mencatat mitos itu bukan hal yang gampang untuk menjadi mitos. Butuh berapa generasi setelah peristiwa? Kalau mitosnya itu mulai, misalnya tahun 2000, butuh berapa generasi kemudian? Mungkin 20 tahun, 40 tahun, nggak cukup, 100 tahun atau lebih, baru hal itu bisa menjadi satu mitologi seperti itu. Tetapi, pada waktu kita membaca mengenai peristiwa kebangkitan Kristus, Alkitab mencatat, ini pasti bukan mitologi. Karena apa? Peristiwa kebangkitan Kristus itu bukan sesuatu yang muncul berapa ratus tahun kemudian setelah peristiwa kebangkitan Yesus itu terjadi, tetapi peristiwa kebangkitan Kristus itu sudah diceritakan, dikabarkan, diwartakan sejak dari saksi mata pertama masih hidup. Dan apa yang dikatakan oleh Tomas itu mau mengatakan Yesus sungguh-sungguh bangkit dari kematian dari mana? Itu bukan sesuatu yang dia dengar, tetapi apa yang dilihat mata dari Tomas sendiri.
Maksud saya adalah seperti ini, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan. Kalau Bapak, Ibu dengar peristiwa kebangkitan dari Yesus Kristus, Bapak, Ibu bisa percaya karena apa? Karena pembuktian kebangkitan Yesus bukan melalui pembuktian oral tradisi, bukan melalui pembuktian dari satu cerita yang turun-temurun diberikan oleh orang-orang dahulu kepada diri kita, tetapi pembuktian dari Yesus Kristus karena mereka melihat langsung dengan mata mereka kalau Yesus bangkit dari kematian. Mereka saksi mata, tetapi demi untuk bisa kita percaya kepada kebenaran itu, Alkitab berkata, kita butuh bukan hanya saksi mata, tetapi juga anugerah Tuhan yang kita terima melalui iman yang percaya kepada Yesus, walaupun kita tidak melihat Yesus bangkit dari kematian.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang kita pegang hari ini, itu adalah satu kebenaran historis. Apa yang kita pegang hari ini, itu adalah satu kebenaran yang ada para saksi dan pengalaman. Bukan hanya spiritual, tetapi pengalaman fisik yang dialami oleh para rasul pada waktu itu yang kemudian dikabarkan kepada diri kita. Tetapi, apa yang dikabarkan itu, bagaimana bisa menjadi satu iman bagi diri kita yang percaya, walaupun kita tidak melihat kepada kebenaran itu? Yesus berkata, itu adalah anugerah dari Tuhan dan itu adalah sesuatu yang akan memberikan kita kebahagiaan kalau kita menerimanya.
Nah, ini membuat kita masuk ke dalam hal kedua. Pada waktu kita berbicara mengenai peristiwa penebusan Yesus Kristus, peristiwa penebusan itu bukan hanya fakta historis yang ada di dalam sejarah saja yang kita terima, kemudian melalui anugerah dari Tuhan. Tetapi, kalau kita perhatikan bagaimana murid memberitakan tentang Kristus, kalau kita perhatikan bagaimana para rasul memberitakan Yesus dan Yesus Kristus sendiri memberitakan mengenai peristiwa kematian dan kebangkitan-Nya, itu berarti menjadi orang Kristen atau memiliki iman Kristen itu bukanlah menjadi seorang yang tidak rasional. Tetapi, menjadi orang Kristen atau iman Kristen itu berkaitan erat dengan rasio yang Tuhan berikan bagi diri kita. Bapak, ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mungkin kalau saya pakai istilah yang cukup tajam adalah, kadang-kadang usia dulu ya, nggak tahu sekarang bagaimana, semoga nggak lagi seperti itu, tetapi kalau dulu orang mau datang ke gereja, otaknya ditaruh di depan pintu gereja dulu. Dia masuk tanpa otak, mungkin otaknya taruh di dengkul kayak gitu, untuk beribadah kepada Tuhan. Maksudnya bagaimana? Maksudnya adalah kalau kita mau beribadah kepada Allah yang adalah roh, jangan gunakan akal budi tapi gunakan rohmu untuk beribadah kepada Tuhan. Jadi, maksudnya bagaimana gunakan roh? Ya gunakan emosimu mungkin untuk beribadah kepada Tuhan, gunakan perasaanmu untuk datang di hadapan Tuhan. Kalau engkau tersentuh, engkau betul-betul mencucurkan air mata, kalau perasaanmu terangkat maka itu berarti Tuhan bekerja dalam hidupmu. Tapi kalau suruh dengar firman nggak sampai 5 menit, 10 menit sudah tertidur. Seolah-olah dengar firman itu kurang penting daripada saya memuji Tuhan dan menyembah Tuhan, dan merasakan kehadiran Tuhan di dalam ibadah kita. Tapi Alkitab bilang nggak seperti itu.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Yesus membuktikan Dia bangkit dengan argumentasi dari Kitab Suci. Para murid membuktikan Yesus bangkit dari argumentasi berkaitan dengan Kitab Suci. Berarti bahwa pada waktu kita beribadah kepada Tuhan, akal budi yang dicipta oleh Tuhan bagi kita, itu bukan sesuatu yang hanya digunakan di dagang dan usaha dan sekolah saja, tetapi akal budi yang Tuhan ciptakan dan taruh di otak kita itu juga sesuatu yang digunakan di dalam kita beribadah kepada Tuhan. Ini penting sekali Bapak, Ibu, Saudara yang dikasih Tuhan. Karena kalau kita mengerti mengenai Tuhan kita, kita mengerti mengenai apa yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita, dari situlah kita baru punya pengharapan dan kekuatan untuk menjalani hidup di dalam dunia yang begitu rusak, begitu berdosa dan begitu tidak ada pengharapan sama sekali.
Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, mungkin saya ambil sedikit dari sisi filsafat seperti ini, saya nggak usah masuk filsafat macam-macam ya. Di dalam hidup kita, setiap orang pasti punya filsafat hidupnya atau prinsip hidupnya atau cara pandang dari kehidupan yang dia jalankan ini atau untuk menjalani kehidupan ini. Tetapi yang menjadi pertanyaan seperti ini, pada waktu kita melihat hidup penuh dengan penderitaan, penuh dengan kesulitan, penuh dengan tantangan dan tidak ada jalan keluar dari diri manusia dari kematian, semua orang pasti harus keluar dari dunia ini menuju kepada alam maut atau alam kekal. Pertanyaan saya apakah prinsip yang kita pegang itu adalah sesuatu yang bisa membuat kita bertahan di dalam hidup, bukan cuma dalam dunia ini tapi masuk dalam kekekalan juga? Adakah yang bisa sungguh-sungguh menjawab asal usul dari manusia? Adakah yang bisa sungguh-sungguh menjawab apa yang menjadi tujuan dari hidup manusia? Adakah yang bisa sungguh-sungguh menjawab dari siapa itu manusia atau diri kita dan apa yang akan kita alami? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita tidak menemukan atau kita berpegang pada satu prinsip yang membuat kita tetap berpikir itu adalah kebenaran, tapi kita tidak bisa membuktikan hal itu sebagai satu kebenaran, saya kira kita sangat-sangat kasihan sekali kalau terus berpegang pada prinsip itu atau filsafat itu.
Saya, kalau bingung, kalau Bapak, Ibu bingung mungkin saya ambil contoh kayak gini ya, saya kadang-kadang, maafkan kalau saya mengutip satu label tertentu, kadang-kadang kalau saya ketemu orang Katolik, lalu saya tanya kepada dia, “Kenapa nggak ke Kristen saja tetapi ke Katolik?” Maka jawaban yang seringkali dikatakan itu seperti ini, “Saya ini anak tertua, kalau di Katolik saya masih diizinkan untuk mendoakan keluarga saya, orang tua saya, nenek saya, kakek saya, dan yang lain yang sudah meninggal itu. Sedangkan anak-anak, adik-adik saya dan anak-anak saya, itu sudah tidak lagi melakukan ibadah itu karena mereka sudah jadi Kristen, mungkin mereka tidak percaya lagi akan hal itu maka mereka tidak lakukan sembahyang itu. Jadi saya sebagai anak tertua, itu tetap mempertahankan Katolik. Saya percaya Yesus, tapi karena di dalam Kristen tidak boleh lakukan penyembahan itu, di dalam Katolik masih boleh, maka saya jadi Katolik. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu logika yang benar atau nggak? Kalau saya bicara dengan mereka saya kadang ngomong kayak gini, “Bapak atau Ibu percaya nggak kalau Yesus itu sungguh-sungguh Tuhan dan Juruselamat?” “Iya” dia bilang. “Bapak atau Ibu percaya nggak kalau perkataan Alkitab itu adalah sungguh-sungguh kebenaran yang kita pegang sebagai kebenaran yang bersumber dari Tuhan?”
“Iya.” “Bapak, Ibu percaya nggak kalau Alkitab punya perkataan itu tidak salah?” “Percaya, semua perkataan dari Tuhan itu tidak salah.” Lalu yang berikutnya saya tanya, “Kira-kira Alkitab ngajarin apa yang tentang orang yang sudah mati? Jiwanya ke mana?”
“Oh ya saya nggak tahu. Ke mana jiwanya? Bukannya ke purgatory?” Oh nggak, coba baca di dalam Injil Yoh. 14, coba baca di dalam Ibr. 9:27, coba baca di dalam bagian-bagian Kitab Suci mengenai misalnya orang kaya dan Lazarus yang miskin. Alkitab mau menyatakan bahwa ketika orang mati, begitu dia mati dia langsung dihakimi. Dan ketika dia dihakimi dia langsung terbagi menjadi dua tempat, apakah dia masuk surga atau masuk ke dalam neraka. Lalu di dalam surga dan di dalam neraka Yesus sendiri berkata ada jurang pemisah yang begitu lebar, nggak ada satu orang pun yang bisa menyeberangi jurang pemisah itu termasuk juga masuk ke dalam dunia untuk mengabarkan kepada orang-orang yang masih hidup kalau jangan masuk ke neraka percaya kepada Yesus Kristus saja. Yesus bilang di dunia ada hukum Musa, kalau orang tidak percaya kepada hukum Musa atau Alkitab, maka orang tidak akan percaya walaupun ada orang yang mati bangkit dari kematian untuk memberitahukan mengenai jalan kebenaran dalam Yesus Kristus.
Jadi, kalau Alkitab bicara seperti itu, ketika orang percaya pada Yesus, dia meninggal, jiwanya ke mana? Alkitab bilang langsung masuk surga. Kalau dia meninggal di luar iman kepada Kristus jiwanya ke mana? Alkitab bilang dia langsung di hukum karena ketidakpercayaannya kepada Tuhan atau karena dosa-dosa yang dia lakukan di dalam kehidupan mereka. Lalu kemudian saya tanya, “kalau begitu ada manfaatnya nggak doain orang yang sudah mati?” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, nggak ada manfaatnya karena kita bilang orang yang sudah percaya langsung masuk surga. Kenapa nggak ada manfaatnya? Tujuan kita doakan orang yang sudah mati untuk apa? Untuk masuk surga kan? Tapi Alkitab menjanjikan orang yang sudah mati di dalam Kristus sudah di dalam surga. Doakan lagi?
Nah itu yang menjadi salah satu contoh ya mungkin. Kalau kita berpikir bahwa filsafat kita yang mengajarkan manusia yang mati walaupun dia di dalam Tuhan masih tidak pasti seperti itu. Sedangkan Alkitab bilang itu adalah sesuatu yang sudah pasti. Bapak, Ibu masih terus berpegang pada ketidakpastian, kepada tradisi, kepada pengajaran manusia, kepada mungkin dongeng dalam hidup yang tidak pernah bisa dibuktikan dalam hidup ini kebenarannya. Kira-kira kita akan menjadi orang yang paling-paling kasihan, karena kita tahu kebenaran, kita mengenal Kristus, Kristus menyatakan kebenaran itu bagi kita, tapi kita kesampingkan hal itu, kita lebih percaya kepada tradisi.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, iman Kristen itu bukan iman yang tanpa di dasarkan pada pengetahuan, tanpa di dasarkan kepada suatu kebenaran yang masuk akal. Tapi iman Kristen adalah kebenaran yang bisa kita mengerti, kita bisa analisa, satu fakta yang sungguh-sungguh terjadi di dalam sejarah manusia tetapi juga ada satu lagi, yang sungguh bisa diuji kebenarannya dan dibuktikan kebenarannya. Ini adalah dasar iman kita dan itu yang mungkin kita bisa gumulkan atau kita pelajari dari Luk. 24 ini, melalui peristiwa Yesus Kristus yang bangkit dan membuktikan semua itu, memberikan analisanya, menguji kebenaran yang berbicara mengenai Yesus Kristus sehingga murid-murid ini tahu bahwa Yesus sungguh-sungguh bangkit dari kematian. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita melalui apa yang kita dengarkan hari ini. Mari kita masuk dalam doa.
Bapa kami sungguh bersyukur karena Engkau telah bangkit dari kematian. Kami sungguh bersyukur karna di dalam kebangkitan-Mu ada satu kebangkitan yang telah kami terima di dalam Yesus Kristus. Ada satu kehidupan kekal yang Engkau karuniakan dalam kehidupan kami. Ada satu kebenaran yang bukan bersumber dari manusia tetapi bersumber dari Tuhan Allah sendiri. Kami sungguh bersyukur ya Bapa untuk apa yang kau telah nyatakan bagi kami di dalam Kitab Suci. Tolong kami ya Tuhan untuk lebih beriman kepada perkataan-Mu, untuk terus berpegang kepada perkataan-Mu sebagai kebenaran yang bersumber dari Tuhan sendiri dan tidak berpegang pada bijaksana dari diri kami sendiri. Kami sekali lagi berdoa dan menyerahkan segala sesuatunya, hanya di dalam nama Yesus Kristus, amin. (HS)
