Yesus Masuk ke Yerusalem, 13 April 2025

Yesus Masuk ke Yerusalem

Mrk. 11:1-11

Pdt. Dawis Waiman, M. Div

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, peristiwa Yesus masuk ke Yerusalem itu adalah satu peristiwa di mana Yesus akan mengakhiri hidup-Nya di atas kayu salib. Nah pada waktu kita bicara mengenai peristiwa Yesus masuk ke Yerusalem, menarik sekali, Alkitab khususnya di dalam Markus misalnya, atau pun di dalam Yohanes, itu memberikan porsi yang begitu besar sekali terhadap peristiwa masuknya Yesus ke Yerusalem dan kisah yang terjadi selama Yesus ada di Yerusalem tersebut. Markus mengambil sepertiga dari kitabnya untuk menuliskan peristiwa ini. Yohanes mengambil setidaknya setengah dari kitabnya untuk membicarakan mengenai hari-hari Yesus yang ada di Yerusalem tersebut. Nah apa yang membuat mereka sangat menekankan pada peristiwa ini? R. C. Sproul itu mengatakan bahwa ini mau menunjukkan bahwa peristiwa Yesus ke Yerusalem, mati di atas kayu salib, lalu bangkit dari kematian, itu adalah peristiwa yang sangat penting sekali di hadapan Tuhan itu sebabnya Tuhan memberikan seluruh energi-Nya, kekuatan-Nya untuk fokus pada peristiwa yang terjadi di Yerusalem tersebut. Karena itu para penulis yang mengerti peristiwa ini, mereka kemudian mengambil porsi yang besar untuk menyatakan kebenaran ini pada diri kita.

Nah Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu Yesus masuk ke Yerusalem tersebut, terjadi suatu kegemparan yang besar di kota Yerusalem ini. Tetapi pada waktu kita berbicara mengenai kegemparan ini, apakah ini adalah suatu peristiwa yang baru pertama kali terjadi di Yerusalem atau di Israel seperti itu? Alkitab khususnya di dalam Matius mengatakan sebenarnya ini bukan merupakan suatu peristiwa yang pertama, tapi ini adalah peristiwa yang kedua terjadi di Yerusalem atau di daerah Israel Selatan ini. Peristiwa pertama adalah pada waktu Yesus lahir di dalam dunia ini. Bapak, Ibu, bisa lihat di dalam Injil Matius. Pada waktu Yesus lahir di dalam dunia ini ada orang-orang majus dari Timur yang datang ke Yerusalem untuk mencari di mana bayi itu berada, dan itu membuat kegemparan besar yang terjadi di Yerusalem. Tetapi setelah semua itu terjadi, terjadi suatu kesenggangan waktu yang cukup panjang selama 30-an tahun lalu setelah itu terjadi peristiwa yang kedua ini, Yesus masuk ke Yerusalem lagi lalu terjadilah kegemparan yang lebih besar di Yerusalem ini. Nah apakah ada hubungannya? Ada hubungan yang sangat jelas sekali. Yaitu untuk Yesus datang ke dalam dunia sebagai apa? Kalau kita lihat di dalam Injil Matius, Yesus datang sebagai Raja di dalam dunia ini untuk memerintah umat-Nya atau memerintah bangsa-bangsa. Dan itu adalah peristiwa yang menggemparkan Yerusalem pada waktu itu.

Saya ketika membaca ini merenungkan ada pengkhotbah yang berkata ini menunjukkan bahwa kehadiran Kristus itu seharusnya menjadi suatu kegemparan di mana berita Injil itu dikabarkan. Nah kegemparan Injil itu di mana? Mungkin kita bisa lihat 2000 tahun yang lalu itu terjadi di Yerusalem. Tetapi pengkhotbah ini mengatakan, menarik sekali seperti ini, sebenarnya ini adalah sesuatu yang bukan hanya kita harapkan terjadi 2000 tahun yang lalu tetapi di mana kita berada, di mana gereja didirikan, di mana Injil dikabarkan kita seharusnya mengharapkan terjadi kegemparan dari kehadiran Kristus atau berita Injil yang dikabarkan tersebut. Nah itu bisa Saudara gumulkan sendiri ketika kita ada di kota Jogja ini, bagaimana keberadaan dari gereja kita, kehadiran dari setiap pribadi-pribadi kita yang percaya Tuhan, seharusnya menjadi kegemparan bagi orang-orang yang ada di sekitar kehidupan kita.

Nah Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, pada waktu hal itu terjadi, pada waktu kegemparan terjadi di Yerusalem, dan ada begitu banyak orang yang memuji Yesus atau memanggil “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan”. Apa yang membuat orang-orang ini berseru seperti itu, apakah mereka sungguh-sungguh mengerti siapa yang datang pada waktu itu? Apakah mereka sungguh-sungguh mengerti apa yang menjadi tindakan yang mereka lakukan pada waktu itu? Nah menariknya adalah, kalau Bapak, Ibu bandingkan dengan Injil Matius pasal yang ke-21, peristiwa Yesus dielu-elukan di Yerusalem, maka setelah peristiwa itu terjadi, maka Matius mencatat di ayat yang ke-10 seperti berikut. “Dan ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata: ”Siapakah orang ini?”” Jadi pada waktu Yesus masuk, ada kegemparan yang begitu hebat, tetapi anehnya adalah orang -orang yang sudah mengalami peristiwa itu kemudian bertanya, “Siapa sesungguhnya orang ini? Siapakah orang ini yang datang ke Yerusalem tersebut?” Nah ini harus menjadi pertanyaan yang kita jawab ketika kita mendengar kabar mengenai Yesus Kristus. Bukan hanya ketika kita mendengar kabar tentang Yesus Kristus tetapi juga pada waktu kita ada di dalam gereja setiap minggunya untuk berbakti kepada Tuhan yang katanya di dalam Kristus Yesus ini; siapakah yang menjadi orang ini atau siapakah orang ini.

Nah Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita membaca pertanyaan ini, apakah yang menjadi tujuan para penulis menuliskan pertanyaan ini? Kita bisa simpulkan tujuannya adalah untuk memberi tahu kita siapakah orang ini yang bernama Yesus Kristus itu sesungguhnya. Tapi kalau kita baca kembali di dalam pasal 11 ayat Markus atau Injil Markus ini, adakah jawaban bagi kita siapakah sesungguhnya orang ini yang datang ke dalam Yerusalem itu? Yang kita temukan hanyalah peristiwa di mana ketika Yesus mau masuk ke Yerusalem maka Dia menyuruh murid-Nya untuk membawa keledai yang tertambat untuk datang dan ditunggangi oleh Yesus Kristus. Lalu selain dari peristiwa itu, ada peristiwa di mana murid-murid menghamparkan pakaian di atas keledai dan juga di sepanjang jalan yang akan ditempuh oleh keledai itu untuk masuk ke dalam Yerusalem. Selain dari peristiwa itu, ada peristiwa lagi yang menyatakan bahwa orang-orang berseru kepada –atau dengan suara yang nyaring–, “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Yesus.” Lalu selain dari peristiwa itu, ada peristiwa yang dicatat ketika Yesus masuk ke Yerusalem sepertinya terjadi satu antiklimaks yang tidak dicatat di dalam Injil yang lain tetapi hanya di dalam Injil Markus saja, yaitu apa? Yesus masuk ke Yerusalem, Dia langsung menuju kepada Bait Allah. Lalu ketika Dia sampai di Bait Allah, Alkitab mencatat semuanya sudah pergi meninggalkan Bait Allah. Nggak ada orang yang ada di sana karena hari hampir malam dan Yesus kemudian meninjau Bait itu lalu kemudian pergi meninggalkan Bait Allah dan menuju kepada Betania.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini catatan apa sebenarnya? Apakah ini adalah satu bukti mengenai peristiwa Yesus pernah tiba di Yerusalem? Yesus pernah masuk ke Bait Allah? Lalu pada waktu itu Dia tidak menemukan siapa pun di situ, lalu dia pergi seperti orang yang kecele? Mungkin bayangannya kayak gini: Saya ingin datang ke gereja ini. Saya ingin bertemu dengan jemaat di dalam gereja ini. Saya ingin menyampaikan firman dalam gereja ini. Tetapi ketika saya tiba –di hari Minggu misalnya– ternyata nggak ada satu pun jemaat yang hadir di dalam gereja untuk berbakti kepada Tuhan. Apakah seperti itu? Atau ada hal lain yang Alkitab ingin nyatakan kepada kita? Sebenarnya semua peristiwa yang dicatat di dalam peristiwa Yesus masuk ke Yerusalem, itu adalah peristiwa penggenapan dari apa yang dinubuatkan di dalam Perjanjian Lama.

Nah, saya sendiri lihat ini adalah peristiwa yang dinubuatkan di dalam Perjanjian Lama untuk kita bisa mengenali siapa sebenarnya Yesus Kristus itu. Dari mana kita bisa tahu? Pertama adalah dari keledai yang ditunggangi oleh Yesus Kristus. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita baca secara sepintas, Yesus meminta seekor keledai untuk dibawa kepada diri-Nya untuk Dia tunggangi. Mungkin kita bisa berpikir bahwa, “Oh, ini adalah satu peristiwa yang mau menunjukkan bahwa Yesus mungkin sudah lelah jalan jauh-jauh dari Utara menuju ke Selatan. Lalu ketika Dia mau masuk ke dalam Yerusalem itu, Dia menjadi orang yang butuh transportasi untuk bisa menopang perjalanan itu. Akhirnya, Dia minta murid-murid-Nya untuk pergi membawa keledai pada diri-Nya untuk ditunggangi seperti itu.” Tetapi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ada yang menafsirkan seperti ini juga; lalu, peristiwa ini sebenarnya sesuatu yang sudah direncanakan oleh Yesus atau belum? Maksudnya bagaimana? Kan di sini ada seperti kata sandi yang Yesus katakan: “Kalau ada orang yang bertanya kepada engkau, “Apa maksudnya kamu melepaskan keledai itu?” Lalu jawablah kepada mereka bahwa Tuhan memerlukannya. Maka mereka akan memberikan keledai itu untuk dipakai oleh Yesus Kristus.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita melihat pada perkataan itu atau penafsiran tersebut, maka kita mungkin berpikir, “Oh, ini adalah satu peristiwa yang sudah direkonstruksi terlebih dahulu atau sudah direncanakan oleh Yesus Kristus terlebih dahulu untuk Dia bisa masuk ke Yerusalem.” Alkitab tidak menyatakan hal ini kepada kita secara jelas. Tetapi R. C. Sproul mengatakan seperti ini, “Sebenarnya peristiwa ini bukan berbicara mengenai sesuatu yang Tuhan sudah rencanakan. Peristiwa ini bukan sesuatu yang berbicara mengenai murid-murid diminta untuk mengambil keledai orang lain untuk digunakan oleh Yesus Kristus tanpa permisi terlebih dahulu, seperti itu. Tetapi peristiwa ini adalah satu peristiwa yang mencatat peristiwa penggenapan yang dinyatakan di dalam Kitab Zak. 9:9.

Bapak, Ibu boleh buka di dalam kitab Perjanjian Perjanjian Lama, Zak. 9:9, demikian firman Tuhan yang ditulis dengan judul Raja Mesias di Sion: “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai Puteri Sion, bersorak-sorailah, hai Putri Yerusalem! Lihat rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang terjadi di Yerusalem pada waktu itu? Kenapa Yesus harus naik di atas keledai pada waktu itu? Zakharia mengatakan, “Ini adalah satu tanda bahwa Mesias yang dijanjikan di dalam Perjanjian Lama oleh Tuhan kepada umat-Nya itu adalah Yesus Kristus.” Dan Dia bukan hanya seorang nabi saja yang datang tetapi Dia adalah raja atas umat-Nya yang masuk ke dalam Yerusalem pada waktu itu. Dengan menunggangi apa cirinya? Yaitu dengan menunggangi seekor keledai yang muda pada waktu itu.

Tetapi ini adalah satu peristiwa yang bukan hanya dicatat dalam Zak. 9:9. Tapi kalau Bapak, Ibu mundur lagi ke dalam Kejadian 49, di situ juga dicatat di dalam ayat yang ke 8–10 berkaitan dengan nubuat yang diberikan oleh Tuhan mengenai raja yang akan memerintah di Israel. Di dalam Kej. 49:8-10, demikian firman Tuhan, “Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu. Yehuda adalah seperti anak singa: setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang tinggi, hai anakku; ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina; siapakah yang berani membangunkannya? Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.”

Jadi, di dalam pemikiran orang-orang Yahudi, mereka sudah ada tertanam satu konsep yaitu suatu hari nanti dari keturunan Yehuda akan lahir seorang Raja. Raja ini bukan Raja sembarangan yang hanya menjabat sebagai Raja beberapa tahun saja di dalam dunia ini atau di dalam kehidupannya. Tetapi Raja ini adalah Raja yang akan memerintah sampai selama-lamanya. Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda dan bahkan bangsa-bangsa akan takluk di bawah kekuasaan dari Raja ini. Dia akan disebut sebagai singa dari Yehuda. Siapa Raja itu? Dan di dalam perkembangan dari pewahyuan yang Tuhan berikan, kita tahu ada ciri-ciri lain yang diberikan oleh para nabi berkaitan dengan Raja ini dan salah satunya adalah dia adalah keturunan Daud dan dia adalah seorang yang nanti akan masuk ke Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai yang muda di situ.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, selain dari hal ini ada tanda lain nggak? Kalau masih mau berbicara mengenai keledai, kita paling tidak bisa menarik beberapa hal lagi. Pertama adalah, kenapa keledai muda yang digunakan pada waktu itu? Sebabnya adalah satu hal, adalah pada waktu seorang raja akan menunggangi kendaraan dia, maka kendaraan itu adalah sebuah kendaraan yang tidak pernah boleh ditunggangi oleh orang lain. Misalnya Bapak, Ibu, bisa lihat di dalam peristiwa Mordekhai yang dimuliakan pada waktu Haman ingin membunuh diri dia. Walaupun ini berkaitan dengan bangsa yang lainnya. Tetapi paling tidak pada zaman itu mungkin ada satu konsep, yaitu bahwa seekor kendaraan atau kuda atau keledai atau sesuatu yang digunakan oleh raja untuk menandakan kemilikan dan kebesaran dari raja itu. Itu bukan sesuatu yang boleh dipergunakan oleh orang lain dengan sembarangan. Jadi kalau Mordekhai didudukkan di atas kuda kebesaran dari raja, itu berarti ada satu penghormatan yang luar biasa sekali yang raja itu berikan kepada Mordekhai itu.

Nah, peristiwa di Yerusalem juga tidak jauh berbeda, yaitu pada waktu seorang menduduki takhta yang memerintah pada waktu itu, dia memiliki kendaraan khusus yang tidak boleh digunakan oleh orang lain. Ini menjadi satu ciri. Dan kendaraan itu apa? Keledai. Kenapa keledai? Satu lambang dari kelemahlembutan. Tetapi ada satu hal yang menarik adalah pada waktu seseorang menunggangi keledai, sebenarnya keledai itu tidak jauh berbeda dari seekor kuda. Dalam pengertian apa? Kuda kalau ingin ditunggangi, kuda itu harus ditaklukkan terlebih dahulu. Kuda itu harus ditundukkan terlebih dahulu. Ketika orang duduk di atas punggungnya, dia tidak menjadi kuda yang liar, yang lompat-lompat seperti orang-orang koboi yang naik rodeo seperti itu.

Tetapi pada waktu peristiwa Yesus naik ke atas keledai ini, ada hal yang sungguh luar biasa terjadi. Keledai itu adalah keledai yang belum ditunggangi siapa pun. Seekor keledai yang muda. Tapi pada waktu Yesus naik ke atas keledai itu, apa yang terjadi? Alkitab mencatat tidak ada satu peristiwa yang di mana terjadi kecelakaan pada diri Yesus Kristus, tidak ada satu peristiwa yang membuat keledai itu melawan orang yang bernama Yesus yang duduk di atas punggungnya tersebut. Tetapi keledai itu dengan menundukkan diri, kemudian berjalan mengikuti Yesus untuk masuk ke kota Yerusalem.

Nah, di sini R. C. Sproul kembali menambahkan seperti ini; coba lihat percakapan antara murid-murid Yesus dengan orang yang memiliki keledai itu dan apa yang Tuhan taruh di dalam mulut dari murid-murid Yesus untuk disampaikan kepada pemilik keledai itu. Kenapa keledai itu tunduk? Kenapa orang itu yang menjadi pemilik keledai itu mengizinkan Yesus untuk menggunakan keledai itu? Di sini dikatakan, pada waktu orang itu bertanya, “kenapa engkau mengambil keledai ini?” Yesus berkata kepada mereka. Di ayat yang ketiga, “katakan kepada mereka, Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya ke sini.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Tuhan di sini bahasa yang digunakan adalah “kurios”. Dan kalau kita perhatikan di dalam Injil Markus, sebenarnya Injil Markus lebih menekankan Yesus yang melayani sebagai seorang hamba. Tetapi menarik sekali, pada waktu Yesus berbicara untuk memberitahu orang-orang itu, “Siapa yang meminta kamu lakukan ini? Tuhan yang memintanya. Dia akan mengembalikannya.” Apakah itu berarti kurios yang dimaksud oleh Yesus Kristus adalah sekedar berkata, Tuhan memerlukannya. Bapak memerlukannya. Nanti dia akan mengembalikannya kembali kepada engkau? Nah, di sini R. C. Sproul mengatakan, Saya percaya kata kurios ini bukan hanya sekedar merujuk kepada Tuhan, atau Mister, atau Bapak, seperti itu. Tetapi kurios di sini yang Tuhan gunakan adalah untuk merujuk kepada yang berkuasa itu, si Raja itu, yang berdaulat itu, Tuhan itu sendiri yang datang untuk mau menggunakan keledai yang engkau punyai tersebut. Dan ini adalah satu kata yang bukan dimunculkan oleh orang-orang yang melihat pada Yesus, yang meresponi Yesus Kristus tetapi ini adalah kata yang Yesus taruh di dalam mulut dari murid-murid-Nya untuk disampaikan kepada pemilik dari keledai. Artinya apa? Yesus sendiri mengatakan, “Saya yang akan gunakan. Tapi Saya ini adalah Raja itu, yang berkuasa itu atas dunia, atas bangsa-bangsa, yang akan menunggangi keledai itu.” Makanya mereka kemudian mengizinkan Yesus untuk menggunakan keledai tersebut masuk.

Tetapi selain dari peristiwa ini ada hal lain nggak yang menjadi dasar bahwa yang menunggangi itu adalah Raja makanya orang-orang banyak kemudian menyerukan, “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan”? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, sebenarnya ada satu peristiwa lagi yang berkaitan dengan keledai yang dicatat di sini. Yaitu peristiwa murid-murid-Nya dan orang banyak itu membuka pakaiannya, menaruh di atas punggung keledai, lalu menghamparkan di sepanjang jalan di mana keledai yang ditunggangi oleh Yesus Kristus itu masuk ke dalam kota Yerusalem. Nah signifikansinya apa peristiwa ini terjadi? Kalau kita baca di dalam Injil, atau di dalam Perjanjian Baru, mungkin kita nggak akan mendapatkan makna dari peristiwa ini, mungkin itu sebagai satu penghormatan saja yang mereka lakukan kepada Yesus Kristus untuk masuk ke dalam kota Yerusalem atau satu tanda sukacita yang mereka miliki sehingga mereka menghamparkan pakaian mereka untuk dilalui oleh Yesus Kristus, seperti karpet merah.

Tetapi kalau Bapak, Ibu bandingkan dengan peristiwa yang ada di dalam Perjanjian Lama, yaitu di dalam kitab 2 Raj. 9:13, peristiwa ini adalah satu peristiwa yang dilakukan bagi raja. Pada waktu itu, Elisa meminta ada seorang nabi untuk mengurapi seorang panglima yang bernama Yehu. Kenapa dia diurapi? Supaya dia menegakkan keadilan Allah bagi Ahab dan keluarganya; seorang raja yang begitu kejam, yang tidak segan-segan untuk melanggar hukum Tuhan, yang tidak segan-segan untuk membunuh umat Tuhan yang taat kepada Tuhan, yang betul-betul mau melayani Tuhan bahkan nabi Tuhan demi untuk ambisi dia atau kepercayaan dia atau kepentingan dia sendiri.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu itu Ahab sudah mati di dalam peperangan tetapi kerajaan masih ada di dalam garis keturunan Ahab ini. Lalu nabi Elisa mengurapi nabi muda ini, “pergi ke Yehu, masuk ke sana, bawa dia menyingkir ke tempat lain, urapi dia sebagai raja untuk menegakkan keadilan Tuhan bagi Ahab.” Lalu kemudian Elisa berkata, “Setelah engkau mengurapi, cepat lari pergi meninggalkan tempat itu.” Lalu nabi itu datang ke tempat di mana Yehu berada. Dia sedang bersama-sama dengan tentara yang lain, mungkin kepala-kepala tentara yang lain. Mereka mungkin sedang bersenda gurau, atau beristirahat, atau apa pun seperti itu. Lalu nabi ini datang untuk kemudian memanggil Yehu, berbicara kepadanya. Setelah itu dia lari ke luar. Lalu ketika dia lari ke luar, dilihat oleh teman-temannya, teman-temannya bertanya, “Apa yang terjadi? Apa yang dikatakan oleh orang itu kepada engkau?” Yehu Cuma berkata, “Dia adalah orang gila yang menemui diriku.” Tapi teman-temannya mengatakan, “Aku tidak percaya. Kami tidak percaya dengan apa yang engkau katakan. Dia bukan orang gila tapi dia pasti menyampaikan sesuatu.” Akhirnya Yehu berkata, “Iya, benar. Dia memang menyampaikan sesuatu, yaitu aku akan menjadi raja atas Israel.” Lalu setelah perkataan itu dikatakan, teman-temannya kemudian membuka pakaiannya, menghamparkannya di depan kaki Yehu untuk Yehu jalan sambil bersorak bahwa dia adalah raja atas Israel.

Bapak, Ibu boleh buka 2 Raj. 9:13. 2 Raj. 9:13 demikianlah firman Tuhan, “Segeralah mereka masing-masing mengambil pakaiannya dan membentangkannya di hadapan kakinya begitu saja di atas tangga, kemudian mereka meniup sangkakala serta berseru: ”Yehu raja!”” Jadi ini adalah peristiwa yang bukan sekedar peristiwa yang dicatat untuk mereka bersukacita atau mereka menghamparkan pakaiannya di depan dari Yesus Kristus tetapi ini adalah satu peristiwa yang sungguh-sungguh mau menyatakan bahwa Yesus adalah Raja yang masuk ke kota Yerusalem dan mereka melakukan prosesi seorang raja yang masuk ke dalam kota Yerusalem.

Dan ada satu lagi juga berkaitan dengan keledai ini. Kalau Bapak, Ibu baca di dalam Markus itu tidak terlalu terlihat. Kalau Bapak, Ibu baca di dalam Injil Matius juga di dalam versi bahasa Indonesia atau NIV itu tidak terlalu terlihat. Tapi kalau Bapak, Ibu baca di dalam versi King James, maka di situ akan didapatkan satu hal yang menarik; ketika hamparan pakaian itu sudah ditaruh di atas keledai itu, di ayat 7 Matius dikatakan, “Lalu Yesus pun naik ke atasnya.” Seolah-olah Yesus yang berinisiatif naik dan duduk di atas keledai itu. Tetapi kalau Bapak, Ibu baca versi King James itu dikatakan, “Lalu mereka mendudukkan Yesus di atas keledai itu.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kenapa ada penekanan seperti itu? Karena di situlah menunjukkan bahwa mereka sungguh-sungguh ingin menyambut Yesus masuk ke Yerusalem sebagai seorang raja pada waktu itu.

Nah, di sini, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, jadi, pada waktu kita membaca peristiwa keledai yang masuk ke Yerusalem itu, kita bisa mengetahui satu hal; ini bukan orang biasa. Ini bukan nabi biasa. Dia adalah Yesus yang masuk ke Yerusalem, tetapi Dia bukan hanya Yesus saja, tetapi Dia adalah Raja yang masuk ke Yerusalem dan Dia adalah orang yang diurapi oleh Tuhan sendiri dan termasuk juga nyanyian hosana. Itu adalah penggenapan dari Mazmur yang ada di dalam kitab Perjanjian Lama, ya. Jadi, pada waktu Yesus masuk ke Yerusalem, siapa Dia? Itu menjadi satu pertanyaan yang orang-orang tanyakan, tetapi ini juga menjadi satu pertanyaan yang seharusnya kita tanyakan kepada diri kita sendiri pada waktu kita mendengar nama Yesus diperdengarkan di telinga kita.

Nah, yang kedua adalah kita bisa melihat dari peristiwa Yesus yang masuk ke Yerusalem. Tadi, saya katakan: Ini adalah satu peristiwa yang sepertinya antiklimaks. Kenapa antiklimaks? Karena Yesus ketika masuk ke Yerusalem, di situ Dia kemudian menuju ke Bait Allah dan pada waktu Dia sampai di Bait Allah, Dia tidak menemukan siapa pun di situ sehingga Dia terpaksa pergi keluar menuju kepada Betania dan keesokan harinya, baru Dia masuk ke dalam Bait Allah sendiri. Nah, Bapak, Ibu, Saudara  yang dikasihi Tuhan, kenapa Markus mencatat hal ini? Kenapa Markus tidak mencatat Yesus langsung ke Bait Allah. Lalu, Dia memporak-porandakan Bait Allah dan Dia marah di situ karena terjadi hal-hal yang menajiskan nama Tuhan di situ. Tapi, kenapa Markus seolah-olah berkata Dia diam di situ, tidak terjadi sesuatu, tapi Dia meninjau dengan teliti semua yang ada di dalam Bait Allah tersebut?

Nah, di sini kembali saya kutip R. C. Sproul, ya. R. C. Sproul berkata seperti ini: Pada waktu Yesus masuk ke Yerusalem, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Markus mau mengatakan tujuan utama Yesus masuk ke Yerusalem itu bukan menuju ke Yerusalemnya, ke kotanya, walaupun Dia adalah Raja itu. Dia datang sebagai seorang yang sudah dijanjikan oleh Tuhan akan memerintah atas umat-Nya dan bangsa-bangsa, tetapi tujuan utama Yesus datang ke Yerusalem itu adalah untuk datang ke Bait Allah. Bait Allah yang mana? Bait Allah yang saat itu sudah dibangun oleh Herodes menggantikan Kemah Suci.

Tapi, ada makna lain yang dikatakan R.C. Sproul, yaitu pada waktu Dia menuju kepada Bait Allah itu, sebenarnya Dia juga mau mengatakan satu hal, yaitu diri Dia adalah Bait Allah itu sendiri. Nah, kenapa bisa begitu? Di sini, dia mengutip dari Yoh. 1:14. Kalau kita baca Yoh. 1:1-2, dikatakan: “Dia adalah Firman. Dia bersama-sama dengan Allah dan Dia adalah Allah.” Tetapi, di dalam ayat 14 dikatakan: “Firman itu kemudian menjadi manusia dan diam di tengah-tengah kita.Nah, kata yang digunakan untuk merujuk “Yesus adalah Bait Allah” itu adalah dari kata “Dia berdiam” atau “Diam di tengah-tengah kita.” kata “-Nya” adalah Tabernakel di situ. Dan ini mau menunjukkan bahwa pada waktu Yesus hadir, Dia adalah Bait Allah itu sendiri, Dia adalah Rumah dari Tuhan sendiri yang hadir di tengah-tengah kita. Dan ini sendiri dikonfirmasi oleh Yesus Kristus; pada waktu Dia berhadapan dengan orang banyak, Dia berkata: “Robohkan Bait Allah ini. Aku akan membangunnya dalam 3 hari lagi.” Artinya apa? Orang-orang banyak berpikir bahwa Yesus ingin meminta orang banyak untuk menghancurkan Bait Allah yang dibangun oleh Herodes selama 40 tahun lebih yang belum selesai itu. Tetapi, Alkitab mencatat bukan itu. Yang dimaksudkan oleh Yesus adalah tubuh-Nya adalah Bait Allah. Hancurkan bait Allah itu dan Aku akan membangunnya kembali dalam 3 hari.”

Kehadiran Yesus menyatakan kehadiran Tuhan sendiri, menyatakan Rumah Tuhan itu ada di tengah-tengah dari umat Allah. Tetapi, pada waktu itu, orang-orang Israel tidak mengerti mengenai kebenaran ini. Tetapi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, peristiwa dicatat di mana Yesus mulai dari Betfage, masuk Yerusalem, masuk ke dalam Bait Allah. Tidak ditemukan apa-apa. Lalu, keluar ke Betania. Lalu, keesokan hari, masuk ke dalam Bait Allah. Ini peristiwa yang penting, tidak? Saya percaya, selain dari peristiwa menyatakan tujuan Yesus adalah ke Bait Allah, Dia adalah Bait Allah itu sendiri yang datang ke dalam dunia. Ada penggenapan lain yang Alkitab katakan.

Kalau Bapak, Ibu buka di dalam kitab Yehezkiel, maka di situ ada 1 peristiwa yang dicatat oleh kitab Yehezkiel pada tahun 586 SM. Yehezkiel mencatat Israel sudah terlalu jahat. Menyembah berhala; melakukan kejahatan-kejahatan yang layak membuat mereka untuk dibinasakan. Lalu, Yehezkiel menyatakan, dia melihat kemuliaan Allah yang mulai dari Bait Allah itu, kemudian terangkat kemuliaan Tuhannya. Terangkat, kemudian pindah ke pintu gerbang timur daripada Bait Allah itu. Setelah itu, pergi ke bukit yang ada di sisi timur dari Bait Allah itu. Lalu, setelah itu pergi menghilang. Tetapi, pada waktu kita membaca Markus 11 ini, Markus mencatat Yesus datang dari, memang Betfage, menuju Yerusalem, masuk ke Yerusalem menuju kepada Bait Allah, lalu setelah itu Dia pergi ke Betania. 

Kenapa hal ini dicatat? Bapak, Ibu kalau lihat di dalam peta di belakang dari Kitab Suci, kita akan menemukan atau di sini dicatat juga, Betania itu adalah tempat di mana atau terletak di Bukit Zaitun. Bukit Zaitun itu berada di sisi timur dari pada Bait Allah atau dari Yerusalem dan di situ dikatakan Yesus datang dari Betania menuju ke Yerusalem, masuk ke dalam Bait Allah. Mau mengatakan apa? Mau mengatakan kalau dulu Tuhan begitu marah kepada Israel, pergi meninggalkan Israel, kemuliaan-Nya itu menjauh atau meninggalkan Israel tapi sekarang di dalam diri Yesus Kristus, Allah yang dulu pergi meninggalkan Yerusalem sekarang sudah datang berkunjung kepada umat-Nya kembali. Dimulai dari mana? Dimulai dari bukit Zaitun, bukit yang kira-kira 300 m tingginya di atas Yerusalem, kemudian Dia masuk ke Yerusalem dan masuk menuju kepada Bait Allah tersebut.

Jadi, pada waktu kita membaca Injil Markus, Markus dan juga Matius, Lukas dan Yohanes mereka secara jelas sekali mau memberitahu kita bahwa Dia adalah Mesias itu. Dia adalah Nabi Tuhan, Dia adalah yang diurapi oleh Tuhan, tetapi Dia juga adalah Raja dan Allah itu sendiri yang datang ke Yerusalem untuk mengunjungi umat-Nya tersebut. Tetapi di dalam Matius dikatakan ketika mereka melihat hal itu, meraka bertanya, “Siapakah orang ini, kami tidak mengenal diri mereka, Dia. Siapa Dia sesungguhnya?” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, sebenarnya ini adalah pertanyaan yang diajukan oleh siapa? Ini bukan hanya pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang bukan merupakan murid dari Yesus Kristus, tapi ini juga adalah satu pertanyaan yang saya percaya diajukan juga oleh murid-murid dari Yesus Kristus. Bapak, Ibu bisa lihat di dalam Injil Lukas, di situ dikatakan di dalam peristiwa ini, pada waktu mereka melakukan semua itu, di dalam Lukas pasal 19 mereka tidak mengerti apa yang dilakukan. Ayat 42 “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk  dalami sejahteramu!” Lalu boleh buka Injil Yohanes. Injil Yoh. 12:15, dikatakan “Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai.” Lalu ayat 16, “Mula-mula murid-murid Yesus tidak mengerti akan hal itu, tetapi sesudah Yesus dimuliakan, teringatlah mereka, bahwa nas itu mengenai Dia, dan bahwa mereka telah melakukannya juga untuk Dia.” Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu Yesus datang, tadi saya katakan kita harus tanya siapa Dia, tapi pertanyaan kedua yang kita perlu tanya juga adalah, apakah murid-murid mengerti peristiwa itu adalah satu peristiwa mereka sedang merajakan Yesus Kristus? Apakah mereka mengerti itu adalah satu peristiwa yang harus terjadi? Apakah mereka mengerti bahwa peristiwa itu adalah satu peristiwa yang betul-betul menggenapi apa yang dicatat dalam Perjanjian Lama? Murid-murid dikatakan, mereka tidak mengerti sama sekali. Pada waktu itu mereka tidak memahami apa yang mereka lakukan tetapi mereka melakukan itu seperti orang banyak yang melakukan hal itu.

Nah, ini mau mengatakan apa Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan? Pertanyaan siapakah Yesus Kristus, itu bukan satu pertanyaan yang hanya perlu ditanyakan oleh orang-orang yang ada di luar dari iman Kristen, tetapi ini adalah satu pertanyaan yang harus kita tanyakan juga di dalam diri kita yang setiap kali katanya bergaul dengan Tuhan, yang menyatakan diri kita sebagai orang Kristen. Dan bersyukur sekali ini adalah satu pertanyaan yang bukan hanya kita tanyakan saja, tetapi ini adalah pertanyaan yang diajukan juga atau diberitahukan kepada kita oleh Tuhan berkaitan dengan murid-murid yang mengikut Yesus pada waktu itu. Maksudnya bagaimana? Maksudnya begini Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, di dalam Markus pasal 4 ada satu peristiwa ketika Yesus mengajarkan mengenai benih yang ditabur, yang jatuh kepada empat jenis tanah. Di pinggir jalan, di tanah berbatu, kemudian di semak diri dan di tanah yang subur. Pada waktu itu murid-murid datang kepada Yesus Kristus setelah Yesus mengajar, lalu bertanya kepada Yesus Kristus, “Guru, apa maksud dari perumpamaan-Mu? Kenapa Engkau mengajarkan perumpamaan demi perumpamaan seperti itu?” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Supaya walaupun mereka memiliki mata tetapi mereka tidak melihat, mereka memiliki telinga tetapi mereka tidak mendengar apa yang diajarkan. Tetapi kepada engkau dikaruniakan untuk mengerti hal itu.”

Nah, Napak, Ibu Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita membaca peristiwa itu, pertanyaannya adalah, sebenarnya siapa yang tidak mengerti perumpamaan itu? Apakah hanya orang-orang banyak yang bukan murid Yesus? Ternyata bukan, tetapi murid Yesus pun tidak mengerti mengenai perumpamaan yang diajarkan oleh Yesus Kristus, dan Alkitab dengan jujur mencatat hal itu pada diri kita dan masih ada banyak lagi peristiwa-peristiwa yang mencatat bahwa murid-murid tidak mengerti apa yang Yesus kerjakan.

Contoh lain misalkan, pada waktu Saudara baca Yoh. 14. Di dalam Yoh. 14 dikatakan Yesus berkata “Aku akan pergi meninggalkan kau, tapi jangan khawatir di rumah Bapa-Ku ada banyak tempat yang tersedia bagi engkau. Nanti kalau tempat itu sudah tersedia, Aku akan datang untuk membawa engkau bersama-sama tinggal bersama-sama dengan Aku di tempat itu.” Lalu bertanyalah satu murid “Guru, Engkau mau pergi ke mana? Tunjukkan jalan itu kepadaku.” Lalu Yesus berkata “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa tanpa melalui Aku.” Tetapi kemudian Filipus bertanya seperti ini “Guru, tolong tunjukkan Bapa itu kepada kami.” Lalu Yesus jawab apa? “Filipus-Filipus, setelah sekian lama engkau ikut Aku, engkau masih minta Aku menunjukkan Bapa kepada engkau? Bukankah ketika engkau melihat Aku, engkau melihat Bapa.”

Lalu apakah cukup sampai di situ? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu Yesus mati, Yesus dipakukan di atas kayu salib lalu dikuburkan, bangkit dari kematian, apakah murid-murid mengerti apa yang terjadi? Apakah murid-murid percaya dengan peristiwa itu sebagai sesuatu kebenaran yang dinyatakan Kitab Suci terlebih dahulu? Mereka mendengar perkataan Yesus, “Anak manusia akan datang ke dalam dunia untuk dianiaya, untuk menderita, untuk disalibkan, untuk mati.” Tapi murid misalnya Petrus, dia tidak percaya peristiwa itu akan terjadi pada Mesias dan bahkan sampai Yesus bangkit dari kematian pun murid-murid masih tidak mengerti sampai Yesus harus berjalan mendampingi mereka. Saya ambil contoh, murid yang menuju ke Emaus berbicara kepada mereka menerangkan kembali segala sesuatu yang pernah Dia ajarkan kepada murid-murid-Nya. Masih mengerti nggak? Nggak ngerti juga. Sampai kapan? Sampai Tuhan membuka mata mereka untuk mengerti kebenaran itu.

Nah di sini saya mau bicara dua hal ya. Yang pertama, pada waktu kita mendengar nama Yesus, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita sering kali ada di dalam posisi seperti murid-murid juga. Yaitu apa? Kita dengar, dengar, dengar, dengar, dengar terus setiap minggunya tapi kita nggak ngerti, nggak ngerti, nggak ngerti terus. Hamba Tuhan mungkin berbagai hamba Tuhan bicara, ajar, kasih tahu, beritahu kebenaran, dorong kita untuk percaya, dorong kita untuk melihat kepada Tuhan, mendorong kita untuk meyakinkan firman Tuhan kepada diri kita, tapi kita tetap dengar tapi nggak dengar, lihat tapi tidak melihat. Selalu terjadi di kehidupan kita, persis seperti murid dari Yesus Kristus.

Lalu apa yang harus kita tanyakan atau apa yang harus kita lakukan? Hal pertama adalah mungkin yang lebih mendasar, selama ini kita mendengar tentang siapa Yesus tapi apakah sampai peristiwa terjadi Yesus mati di kayu salib, Yesus bangkit dari kematian pada hari yang ketiga, kita tetap nggak ngerti siapa Dia? Walaupun itu sesuatu yang di sampaikan terus menerus, tiap tahun berbicara mengenai kematian dan kebangkitan Yesus Kristus tapi pada waktu kita melihat pada kehidupan kita tetap nggak mengerti siapa Dia. Contohnya dari mana? Contohnya adalah pada waktu Tuhan meminta kita membayar harga misalnya, melepaskan apa yang menjadi keinginan kita demi untuk mengikut Yesus, apakah kita bersedia? Pada waktu kita harus berhadapan dengan satu pilihan, misalnya untuk anak-anak muda yang belum menikah, memilih antara Tuhan dengan pasangan hidup, siapa yang kita pilih? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kadang-kadang kita berpikir bahwa lebih penting pasangan hidup, yang lebih penting mengejar ambisi kita, yang lebih penting adalah melakukan apa yang kita inginkan daripada apa yang Tuhan kehendaki. Apakah itu berarti kita mengerti Dia adalah Tuhan? Apakah kita mengerti bahwa Dia adalah Raja atas kehidupan kita?

Kemarin di dalam seri pembinaan pemuda saya ada kutip perkataan C. S. Lewis berkaitan dengan tulisan yang dia tulis dalam buku The Screwtape. Lalu di dalam buku itu dia berbicara kepada keponakannya mengatakan seperti ini “Keponakan, kamu tahu tidak untuk melawan musuh kita, kita nggak usah susah-susah membuat ia atau mereka menjadi orang ateis.” Lalu keponakannya tanya “Lalu bagaimana?” Siapa musuh Screwtape? Yaitu orang Kristen. Screwtape bilang “Untuk membuat orang Kristen melawan Tuhan nggak usah membuat mereka melupakan, mengabaikan Tuhan dan tidak percaya akan keberadaan Tuhan seperti itu. Lalu bagaimana paman untuk menghadapi orang Kristen, membuat mereka akhirnya melawan Tuhan?” Gampang dia bilang, buat orang Kristen yang percaya Tuhan itu ketika ngalamin tekanan dia tidak percaya Tuhan sanggup memeliharanya atau hidup dalam kekawatiran. Lalu apa lagi? Buat orang Kristen ketika dia mengalami kerusakan relasi dengan orang lain, dia sakit hati, lupa untuk mengampuni dan mengasihi. Buat orang Kristen ketika mengalami suatu kondisi yang goncang, lupa untuk percaya Allah itu sanggup untuk memelihara kehidupan dia. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita bisa bicara “Tuhan, Tuhan, saya percaya Yesus, Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita.” Tetapi sebenarnya kita nggak mengerti  makna dari siapa Yesus ketika kita panggil Dia Tuhan dan Juruselamat, Raja kita yang berdaulat itu.” Bapak Ibu Saudara yang dikasihi Tuhan, kita perlu tanya itu.

Tapi bersyukur pada waktu kita di dalam kondisi seperti ini, yang kadang-kadang kita juga nggak mengerti mengenai firman, kita perlu terus untuk mencari tahu tentang kebenaran itu. Dan murid-murid juga mengalami hal itu dalam kehidupan dia. Tapi Alkitab memberitahu kita, murid jujur mengakui itu. Tetapi juga ketika murid jujur mengakui itu, Tuhan memberi jawabannya. Jawabannya apa? Anugrah. Kasih karunia. Tuhan membukakan pengertian itu. Untuk bisa kita mengerti siapa Yesus dan percaya Yesus, itu butuh karunia. Untuk kita bisa berjalan di dalam iman kepada Kristus dan bersama dengan Yesus Kristus, kita juga butuh karunia. Untuk mengerti hal-hal yang Yesus katakan dalam hidup kita, kita butuh karunia.

Tapi pertanyaan yang saya mau tanya adalah seperti ini, maksudnya apa ya mendapat karunia? Lalu apakah kalau itu adalah satu karunia yang Tuhan berikan kepada kita, berarti saya nggak apa-apa untuk nggak lakukan apa-apa. Yang penting saya menunggu saja, karunia itu diberikan kepada saya. Jadi selama saya nggak mengerti, ya sudah, saya nggak mengerti. Kalau ditanya, kenapa nggak mengerti? Ya itu kan anugerah Tuhan. Kalau itu adalah anugerah Tuhan, saya bisa buat apa untuk bisa mengerti Firman Tuhan? Bisa mengerti tentang kebenaran Tuhan? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mungkin itu sebabnya banyak orang Kristen malas belajar firman. Mungkin itu sebabnya banyak orang Kristen malas berdoa. Karena berpikir bahwa kalau itu karunia, maka karunia itu berarti saya pasif, Tuhan yang aktif. Alkitab nggak pernah mengajarkan prinsip ini. Alkitab mengajarkan Tuhan memang mencelikkan mata, tetapi sebagai umat Tuhan yang mengikut Tuhan, ada tanggung jawab. Ada hal yang harus kita kerjakan.

Contohnya apa? Pada waktu murid mendengarkan tentang perumpamaan benih yang ditabur. Murid, ketika tidak mengerti, mereka datang kepada Yesus. Tanya Yesus, “Guru maknanya apa?” Kenapa mereka bisa datang? Saya percaya karena ada rasa haus yang Tuhan taruh di dalam hati semua orang yang mengikut Yesus dengan sungguh-sungguh. Dan ketika mereka tidak mengerti apa yang Tuhan maksudkan, itu tidak membuat mereka hidup dengan sejahtera. Tetapi mereka kemudian ingin tahu maknanya apa, ingin tahu apa kehendak Tuhan, ingin tahu apa yang Tuhan ingin mereka kerjakan, ingin tahu kebenaran Tuhan lebih jauh, ingin mengenal Tuhan lebih banyak lagi dalam hidup mereka. Lalu apa yang mereka lakukan? Cari tahu. Belajar, lalu berdoa kepada Tuhan. Meminta Tuhan mencelikkan hati kita dan pikiran kita terhadap kebenaran.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, siapa Yesus? Sudahkah kita mengenal Yesus? Atau kita masih belum mengenal Dia? Sudahkah kita berpikir kita sudah mengenal Yesus, tapi ada hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran-kebenaran yang Dia ajarkan dalam hidup kita, kita masih tidak mengerti? Renungkan itu baik-baik. Berani uji hati kita. Selama ini, siapa Yesus? Atau kenapa saya datang Ibadah Minggu? Untuk apa saya hadir di sini? Untuk apa saya melayani Tuhan? Untuk apa saya mengklaim diri saya adalah orang Kristen? Sudahkah saya mengerti siapa Yesus sesungguhnya? Apa yang Yesus kehendaki untuk kita lakukan dalam hidup kita? Alkitab berkata, “Dia datang untuk mati bagi dosa kita. Tapi Dia datang bukan hanya untuk mati, tapi untuk berkuasa atas hidup kita.” Kiranya Tuhan boleh memberkati kita, ya. Mari kita masuk di dalam doa. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mari kita sama-sama membuka suara. Kita berdoa minta belas kasih Tuhan untuk mengaruniakan kepada kita pengertian akan siapakah Kristus yang sesungguhnya. Mari kita berdoa.

Bapa di Surga kami bersyukur untuk Firman, kebenara-Mu yang boleh Engkau singkapkan bagi kami. Tolong kami ya Tuhan yang seringkali tidak mengerti, tidak menanggap, tidak memahami, begitu lamban sekali untuk mengerti kebenaran-kebenaran mengenai Engkau. Tolong kami ya Tuhan, supaya kami boleh dikaruniakan pengertian itu. Jangan biarkan kami membela diri kami sendiri dengan bermalas-malas, tanpa menekuni kebenaran firman, tanpa ingin mengenali Tuhan lebih jauh dalam kehidupan kami. Tetapi biarlah kami boleh tetap hidup di dalam satu hati yang haus akan kebenaran, yang lapar akan kebenaran, yang terus mengejar. Tapi di sisi lain kami sadar bukan karena kemampuan kami untuk mengerti, tetapi karena kasih karunia yang Tuhan berikan dalam kehidupan kami. Tolong kami ya Tuhan, karuniakan pengertian itu bagi kami. Bawa kami untuk ketika berjalan, kami sungguh-sungguh memahami bagaimana hidup sebagai orang Kristen, bagaimana menuhankan Yesus, bagaimana merajakan Dia dalam kehidupan kami. Walaupun kami sering mungkin tersandung, tapi biarlah kami boleh kembali untuk merajakan Tuhan, menjalankan apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam kehidupan kami. Kami sungguh bersyukur Bapa, biarlah makna dari kedatangan Kristus dan kematian Kristus itu adalah satu kebenaran yang sungguh-sungguh kami mengerti dalam hidup kami. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. (HS)