Khotbah Yesus di Bukit (2), 6 April 2025

Khotbah Yesus di Bukit (2)

Mat. 5:31

Vik. Nathanael Marvin, M. Th

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di dalam khotbah Yesus di bukit – kurang lebih dua ribu tahun yang lalu – tema-tema yang Yesus khotbahkan, yang Yesus ajarkan itu bermacam-macam. Dan pada bagian ini kita bisa tahu bahwa permulaan khotbah Yesus di bukit – Yesus sebagai Guru Besar Agung, ya di atas bukit Galilea – Dia memberikan satu tema yaitu bicara soal ucapan bahagia atau beautitudes. Bahasa Inggrisnya, ya, beautitudes. Sebuah perkataan-perkataan yang indah; perkataan-perkataan yang bahagia, bagaimana seseorang pada akhirnya bisa mendapatkan kebahagiaan yang sejati dari Tuhan. Beautitudes berasal dari kata Latin, ya yaitu “beatus” yang berarti apa? Yang berarti diberkati; yang berarti bahagia; yang berarti sejahtera. Kalau bahasa Yunaninya adalah “makarios” yang berarti adalah kebahagiaan ataupun diberkati.

Jadi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ketika Yesus memulai seminar-Nya, memulai khotbah-Nya di atas bukit, Yesus menjelaskan tentang sebuah perasaan yang sering kali muncul dalam hati manusia, ya. Kalau pendeta Stephen Tong mengatakan bahwa emosi yang sering kali muncul dalam kehidupan manusia itu hanya dua meskipun kita memiliki banyak sekali emosi. Manusia punya emosi takut, manusia punya emosi bingung, ragu, manusia punya emosi sukacita, dukacita, marah. Tetapi yang sering kali muncul dalam kehidupan kita sehari-hari adalah emosi sukacita maupun dukacita. Dan pada kesempatan ini, Yesus Kristus menyadari bahwa manusia itu menginginkan hidup yang senang, hidup yang bersukacita, hidup yang bahagia. Dan di sinilah Yesus menyatakan tentang kebahagiaan yang sejati yang seharusnya manusia miliki yaitu bicara soal beautitudes atau ucapan-ucapan bahagia.

Manusia punya emosi: betul. Tetapi manusia sendiri memiliki jenis-jenis emosi yang bisa kudus di hadapan Tuhan maupun yang tidak kudus di hadapan Tuhan. Nah, manusia tidak boleh memiliki emosi yang tidak kudus: emosi yang salah, yang tidak berkenan di hadapan Tuhan melainkan emosi yang tepat sesuai dengan kehendak Tuhan. Jadi, beautitudes ini bicara soal kebahagiaan sejati menurut Allah itu seperti apa. Berarti ada sukacita, ada kebahagiaan yang sebenarnya kita tidak boleh miliki. Ada kebahagiaan atau sukacita yang salah di hadapan Tuhan. Maka Yesus mengajarkan ucapan bahagia satu per satu supaya manusia menyadari perasaannya sendiri dan memiliki tujuan yang benar di dalam kehidupannya.

Kebahagiaan yang sejati yang Yesus ajarkan tentu berbeda dengan kebahagiaan-kebahagiaan palsu menurut dunia. Dan apa yang paling membuat manusia memiliki kebahagiaan sejati? Di sinilah jawabannya. Kalau kamu mau hidup yang bahagia, mau pernikahan yang bahagia, mau keluarga yang bahagia, mau pekerjaan yang kita bisa mengerjakan dengan bahagia di hadapan Tuhan, di sini tersimpan jawaban dari seluruh pergumulan dari kehidupan manusia. Pergumulan tentang tujuan hidup manusia yaitu kebahagiaan. Yaitu adalah hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Kamu mau bahagia? Ikuti perkataan dari Yesus Kristus ini.

Kebahagian manusia yang sejati bukanlah kebahagiaan yang keinginannya terkabul terus-menerus. Ketika punya keinginan, terkabul, terkabul. Bukan dari hal tersebut. Bukan dari hal kekayaan, kuasa, atau kenikmatan daging. Tetapi kebahagiaan yang sejati tentu berasal dari “Sang Sumber Kebahagiaan” itu sendiri yaitu adalah Tuhan. Ketika seseorang melakukan kehendak Tuhan, orang itulah yang sebenarnya mendapatkan kebahagiaan yang sejati dari Tuhan. Ketika seseorang betul-betul menaati apa yang menjadi perintah Tuhan atau firman Tuhan itu sendiri, orang itu bersukacita dan bahkan Allah bersukacita! Malaikat yang tidak bisa atau tidak bisa jatuh dalam dosa atau tidak berdosa, ya, malaikat juga bersukacita. Ketika kita betul-betul melakukan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, itulah yang menyenangkan Tuhan.

Tetapi, ternyata, kehendak Tuhan tidak selalu menyenangkan hidup kita. Waktu kita taat kepada Tuhan, waktu beribadah ke gereja Tuhan, banyak tantangan, banyak permasalahan, dan bahkan banyak penderitaan dan kesedihan ketika kita mau melakukan kehendak Tuhan. Tetapi waktu kita betul-betul melakukan kehendak Tuhan, meskipun susah, meskipun menderita, meskipun sakit, Tuhan janjikan apa? Kebahagiaan. Tetap ada sukacita ketika kita melakukan kehendak Tuhan. Dan itulah harus kita menyadari alasan kita bersukacita di hadapan Tuhan. Itulah yang menguatkan kita bisa bertahan layaknya seorang martir yang berkorban untuk mengabarkan Injil sampai harus dibunuh dan menderita.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kehendak Tuhan itu tidak mudah meskipun itu menimbulkan kebahagiaan yang sejati dan juga betul-betul memberikan kita sukacita yang sejati dalam Tuhan. Buktinya adalah Yesus mengatakan barangsiapa tidak pikul salib setiap hari, tidak sangkal diri, tidak ikut Dia, maka orang itu tidak layak menjadi murid Kristus. Kita mau ikut Yesus, taat Yesus, dapat kebahagiaan. Tetapi harus apa? Harus mengeluarkan tenaga kita: pikul salib! Lalu juga harus menyangkal keinginan kita yang membuat kita itu malah justru menjauh dari Tuhan. Keinginan daging yang menggoda kita untuk melakukan dosa, kita harus tolak: “Tidak!”, ya. “Tidak”: berkata kepada diri kita sendiri. Kita tidak boleh, misalkan tidak boleh malas membaca Alkitab, tidak boleh malas pergi ke gereja. Kita berkata, “Saya tidak mau, ya malas-malasan di dalam kehidupan saya!” Nah, itu adalah hal yang tidak enak: berkata “tidak” kepada diri. Tidak boleh begini. Tetapi itu adalah sumber sukacita yang menyangkal diri keinginan daging yang berdosa di hadapan Tuhan. Orang itu, kalau tidak ikut Yesus, tidak sangkal diri, tidak pikul salib, orang itu bahkan tidak layak untuk menjadi murid Yesus Kristus. Menjadi murid Kristus, susah: ada kesulitan; ada penderitaan; ada kesedihan, tetapi ada sukacita yang besar juga, kebahagiaan di dalam menjalankan kehendak Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, waktu kita melihat khotbah Yesus di bukit ini, ya, ada berapa sih jumlah ucapan bahagia yang Yesus nyatakan di dalam khotbah-Nya? Kalau kita hitung semuanya secara detail, ya, itu ada sembilan, ya. Sembilan ucapan bahagia atau sembilan hal yang seharusnya membuat orang Kristen itu berbahagia atau diberkati oleh Tuhan. Dan ada yang secara aktif diusahakan. Ya, ada yang secara aktif kita usahakan untuk bisa memiliki kehidupan yang berbahagia. Tetapi juga ada yang secara pasif kita terima di dalam situasi dan kondisi yang ada dan kita bisa bertahan dengan tepat, ya, dan akhirnya kita berbahagia juga. Secara aktif berarti kita harus taat pada kehendak Tuhan. Secara pasif berarti kita harus bertahan di dalam setiap penderitaan ataupun situasi kondisi yang tidak mudah, di mana kita bisa bertumbuh di dalam Tuhan.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kenapa ada sembilan ucapan bahagia? Kenapa tidak tiga saja? Sederhana, supaya mudah diingat. Kenapa banyak sekali sembilan ucapan bahagia? Atau menurut orang Yahudi angka yang sempurna, angka yang penuh, yang lengkap adalah angka tujuh. Kenapa tidak tujuh ucapan bahagia? Kenapa harus sembilan? Ada yang menafsirkan bahwa sembilan itu, ya, mengacu juga kepada sembilan rasa dari buah Roh Kudus.

Ini unik, ya. Roh Kudus punya buah yaitu satu. Satu buah saja tunggal, tetapi ada sembilan rasa yang berbeda. Baik kasih, sukacita, damai sejarah, dll, ya. Itu muncul di dalam kehidupan seorang yang percaya kepada Kristus. Dan di sini berarti apa? Sembilan rasa dari buah Roh Kudus melambangkan sembilan karakter Kristen, bagaimana seorang Kristen harus hidup di hadapan Tuhan karena dia sudah memiliki Roh Kudus dalam kehidupannya. Ya, sembilan karakter rohani dari seorang Kristen. Dan ketika kita kembangkan buah Roh Kudus ini, sebenarnya kita akan memiliki sukacita yang sejati di dalam Tuhan. Hidup yang diberkati di dalam Tuhan. Ketika kita betul-betul menyadari buah roh yang Roh Kudus berikan di dalam kehidupan kita dan kita juga jalankan dalam kehidupan kita.

Inilah upah kita sebagai orang Kristen. Orang Kristen, ya, tidak selalu kaya. Tidak selalu sehat. Tidak selalu hidup diberkati secara jasmani, punya tubuh yang lengkap. Tidak selalu. Tetapi orang Kristen selalu dijanjikan sukacita yang sejati dari Tuhan. Selalu dijanjikan kebahagiaan yang sejati dari Tuhan, ketika orang-orang Kristen melakukan firman Tuhan. Dan beatitudes ini juga menggambarkan karakter yang ideal bagi kerajaan Allah. Warga kerajaan Allah.

Kita tahu Bapak, Ibu, Saudara sekalian, bahwa kita bukanlah warga negara di dunia ini saja. Warga negara Indonesia. Tetapi kita juga adalah warga kerajaan Allah. Maka bersikaplah sebagaimana mestinya warga kerajaan Allah. Sebagai warga negara Indonesia kita dituntut oleh pemerintah bersikap baik sebagai warga negara Indonesia. Demikian juga sebagai warga kerajaan Allah, Raja kita yaitu Yesus Kristus mengatakan bahwa kamu mau memiliki kehidupan yang berbahagia, maka ikutilah firman atau khotbah yang Yesus sudah berikan kepada orang-orang di zaman dulu. Nah, warga kerajaan Allah mencerminkan pekerjaan Roh Kudus dalam hati mereka. Jadi, Yesus menjelaskan tentang beatitudes ini, sembilan ucapan bahagia ini dengan tujuan bahwa kamu, ya, sebagai manusia yang sudah Tuhan ciptakan bersikaplah sebagai manusia yang berasal dari Allah. Kamu itu tidak berasal dari setan. Kamu itu pada mulanya diciptakan dari Allah. Maka bersikaplah sebagaimana keturunan-keturunan Allah. Bersikaplah sebagaimana seharusnya. Dan ini menentang standar dunia tentang kebahagiaan. Manusia yang berdosa, sudah jatuh dalam dosa, punya standar kebahagiaannya sendiri. Ya, punya cita-citanya sendiri yang menurut mereka bahwa ketika mereka dapatkan cita-citanya itu, mereka akan bahagia. Padahal tidak tentu kalau cita-citanya bertentangan dengan kehendak Tuhan. Tapi kalau cita-citanya sesuai dengan kehendak Tuhan, itu adalah sukacita yang besar, yang Tuhan berikan kepada mereka.

Di sini Yesus Krisus menjelaskan tentang ucapan bahagia sebagai sebuah standar. Ada yang mengatakan ini adalah manual of discipleship. Ya, sebuah pemuridan, ya, manual untuk orang-orang dapat memasuki kerajaan Allah dan hidup dalam kerajaan Allah. Mau jadi orang Kristen yang sejati, mau mencerminkan buah Roh Kudus yang ada di dalam kehidupan kita, maka ikutilah apa yang dikatakan oleh Yesus Krisus di dalam ucapan-ucapan bahagia ini.

Ucapan bahagia pertama yang menjadi pembahasan kita pada hari ini, sangat singkat tetapi kita bisa mendapatkan banyak hikmat yang Allah berikan di dalam ucapan bahagia pertama ini yaitu, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang mempunyai kerajaan surga.” ESV, ya, English Standard Version itu berkata, “Blessed are the poor in spirit, for theirs is the kingdom of heaven.”

Tahun 2024 lalu, di pemuda GRII Yogyakarta, kita adakan retreat, ya. Retreat dengan tema ‘Christian Style of Living’. Harap kita masih ingat, ya, para pemuda baru setahun yang lalu. Persis, ya, bulan Maret yang lalu dan kemudian ada juga pemuda-pemuda dari Solo ikut juga. Dan kita membahas tentang ucapan bahagia tersebut, ya. Dan kenapa kita adakan retreat tersebut bagi para pemuda? Supaya para pemuda memiliki karakter hidup yang dibentuk oleh khotbah Yesus Krisus sendiri. Para pemuda itu punya gaya hidup yang berbeda, yang melawan arus zaman. Di mana ketika para pemuda-pemuda yang lain, yang tidak mengenal Tuhan ataupun pemuda-pemuda Kristen yang tidak mau taat kepada firman Tuhan mengatakan bahwa, “Kebahagiaan itu berasal dari pemenuhan keinginan diri, pemuasan hawa nasu dan juga uang,” nah, kita orang-orang Kristen sebagai pemuda-pemuda Kristen memiliki kebahagiaan yang sejati dan kita merasa puas di dalam Kristus sehingga kita tidak iri kepada pemuda-pemuda yang hidup dalam dosa tetapi menikmati juga kebahagiaan yang palsu, yang semu, yang sementara. Maka dari itu kita membahas tentang bagaimana ucapan bahagia dari Yesus Krisus.

Nah, kalimat pertama ini artinya apa Bapak, Ibu, Saudara sekalian? “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang mempunyai kerajaan surga.” Miskin di hadapan Allah. Banyak orang-orang berpikir juga bahwa ini maksudnya adalah untuk orang-orang yang miskin. Secara jasmani. Orang-orang yang tidak punya uang, orang-orang yang menderita, sengsara, tertindas, orang-orang yang tidak bisa mendapatkan akses-akses dengan uang, misalkan kesehatan yang minim, makanan yang sangat sederhana. Kalau orang-orang zaman dulu, ya, berapa puluh tahun yang lalu ketika mereka tidak punya uang, mereka hanya makan nasi dengan tahu tempe saja setiap hari. Garam, ditambah garam dan kecap seperti itu. Apakah ini menggambarkan orang-orang yang kondisinya miskin secara jasmani? Kondisi yang berkekurangan secara ekonomi dan juga akhirnya kesehatannya kurang baik, lalu mereka pasti masuk ke surga Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Apalagi kalau di dalam Alkitab dijelaskan tentang ada seorang yang bernama Lazarus yang masuk surga, berarti orang-orang miskin itu yang secara jasmani miskin, mereka empunya kerajaan surga? Sehingga orang-orang yang miskin dan sedang sakit langsung dihibur, “Nggak apa-apa, kita miskin di bumi, nanti kita pasti masuk surga.” Ini adalah tentu tafsiran yang tidak tepat ya Bapak, Ibu, Saudara sekalian.

Bicara soal kemiskinan atau kekayaan, itu tidak menentukan orang itu akan masuk ke mana; surga atau neraka. Ada orang-orang yang menderita, miskin, penuh sakit penyakit, mereka pun tidak percaya kepada Yesus Kristus, mereka tidak percaya Allah ada, mereka pun akan menerima upah yang sama dengan manusia berdosa lainnya; yaitu upah dosa adalah maut. Baik orang kaya maupun miskin, kalau sama-sama berdosa, upah dosa adalah maut. Tetapi yang dimaksudkan di dalam khotbah Yesus di bukit ini, arti miskin adalah, bukan bicara soal miskin secara jasmani melainkan miskin secara rohani. Berbahagialah orang yang rohnya merasa miskin. Rohnya. Unsur-unsur yang rohani, unsur-unsur yang tidak kelihatan, unsur-unsur tentang relasi dengan Tuhan, unsur-unsur bicara soal ibadah. Rasanya miskin, rasanya saya kurang untuk bisa kenal Tuhan.

Roh seseorang menyadari dia begitu miskin, begitu kurang mengenal Tuhan, maka pelan-pelan dia akan mencari dan mengenal Tuhan di dalam kehidupannya. Ini seperti perkataan rasul Paulus di dalam Fil. 3, dia mengatakan bahwa setelah dia melayani begitu banyak, menjadi misionaris, menjadi seseorang yang terus takut akan Tuhan, dia punya kehendak, yaitu satu kehendak yang aku inginkan adalah mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan Kristus dan juga persekutuan dalam penderitaan Kristus, sehingga pada akhirnya bisa hidup serupa dengan Kristus di dalam kematiannya sekalipun. Setelah itu Paulus akan berkata, “Aku akan bersukacita karena pada akhirnya aku akan memiliki kebangkitan dari orang mati, akan memiliki kehidupan yang kekal.”

Paulus di dalam kehidupannya yang begitu kita lihat secara kasat mata, dia begitu tekun melayani Tuhan, dia pergi melakukan perjalanan misionaris begitu banyak, sampai kehidupannya itu pun tetap dia mengatakan, “Yang kukehendaki adalah mengenal Kristus.” Berarti dia rasa apa? Pengenalan akan Kristus masih kurang, sekalipun menjadi misionaris. Pengenalan akan Kristus masih kurang sekalipun dia dilempari batu. Pengenalan akan Kristus dia masih kurang sekalipun dia sudah tekun berpuasa. Pengenalan akan Kristus masih kurang sekalipun dia menjadi rasul yang unik yang dipanggil Yesus ketika Yesus sudah bangkit dan naik ke surga. Rasul-rasul lain dipanggil Kristus ketika Yesus masih hidup di bumi, tetapi Paulus dipanggil Kristus ketika Yesus sudah ada di surga dengan kuasa-Nya yang begitu besar. Nah sampai pada tahap itu Paulus masih merasakan bahwa, “Rohaniku masih miskin, rohaniku masih kurang. Aku masih terus mau mengenal Kristus, siapakah Dia.”

Kata “miskin” yang dipakai dalam kata Yunaninya adalah “ptochos”, yaitu kata yang sering dipakai oleh pengemis di pinggir jalan. Maksudnya adalah apa? Maksudnya adalah orang yang betul-betul pengemis, yang betul-betul tidak punya apa-apa dan akhirnya harus mengemis untuk minta-minta kepada orang lain. Pengemis itu, harusnya ya, pengemis yang sejati ya, pengemis yang sejati harusnya bukanlah orang yang malas. Dia mau bekerja, dia punya talenta yang baik tetapi kondisi di sekitarnya membuat dia itu harus mengemis, meminta-minta padahal dia mau kerja. Bukannya dia tidak mau kerja, bukannya dia akhirnya menjadi malas-malasan. Bukan! Pengemis yang sejati itu mau kerja, rajin, apa pun pekerjaan, yang penting bisa hidup untuk dirinya dan keluarganya, maka dia mau mengerjakan apa pun. Tetapi pada akhirnya tidak ada sehingga dia harus meminta-minta kepada orang yang lain. Dan pengemis yang sejati pada akhirnya harus bergantung kepada orang lain padahal dia mau kerja, nggak ada yang kasih kerjaan. Dia nggak mau malas-malasan, dia mau rajin. Rajin pun nggak bisa.  Nggak ada yang bisa menghasilkan uang ketika dia sudah mau kerja, mau rajin. Akhirnya dia harus minta kepada orang lain yang dapat pekerjaan, yang punya uang lebih. Dia akhirnya bekerja mencari-cari di pinggir jalan.

Kalau pengemis yang palsu kita tahu ya Bapak, Ibu, Saudara sekalian, pengemis yang palsu itu punya rumah, kaya raya, penghasilannya tetap. Di kondisi yang krisis ekonomi, dia penghasilannya tetap, dapat terus. Padahal dia bisa kerja yang lain, tapi dia minta-minta di pinggir jalan. Dan dia akhirnya punya istri banyak, punya hal yang cukup. Itu bukan pengemis yang sejati. Itu pengemis yang palsu, yang malas. Nah kata yang dipakai di sini di dalam menggambarkan pengemis yang betul-betul miskin.

Nah kalau kita lihat negara-negara di dunia, negara itu selalu menghadapi kemiskinan. Negara apa pun. Tidak ada negara yang betul-betul kaya sampai tidak ada orang miskin. Pasti ada orang miskin. Tetapi kebanyakan orang miskin itu adalah orang yang malas bekerja, orang yang memanfaatkan orang lain. Tetapi ada yang betul-betul miskin, dalam arti dia mau bekerja tetapi tidak ada pekerjaan. Nah beberapa negara yang miskin adalah seperti negara-negara di Sudan Selatan, di Afrika ya. Kita bayangkan negara yang miskin biasa juga mengacu kepada benua Afrika. Di Afrika Tengah, Afrika Timur. Dan juga ada negara yang paling miskin itu disebut sebagai negara Burundi ya, di Afrika. Itu adalah negara yang sangat kasihan, kenapa? Karena pemerintahannya tidak peduli kepada masyarakat, pemerintahannya korupsi. Bukan saja itu, pemerintahan sudah korupsi, tetapi pemerintahan juga mengalami perang saudara satu dengan yang lainnya di negara tersebut sehingga akses untuk bekerja, akses untuk kesehatan sangat buruk. Sehingga orang-orang miskin yang betul-betul miskin itu tidak bisa bekerja dan kesehatannya sangat buruk, kelaparan, sangat kurus badannya. Anak-anak mereka tidak sekolah, air bersih tidak ada. Mau tidur pun susah karena sakit dan lapar. Ini adalah gambaran dari orang-orang yang begitu miskin.

Maka dari itu, kalau kita betul-betul menggambarkan atau membayangkan, ya, ini keunikan manusia, kita itu bisa berempati, membayangkan kita betul-betul miskin, meskipun kita tidak betul-betul miskin. Kalau kita betul-betul bisa menggambarkan diri kita itu betul miskin, kita bisa lakukan apa, sih, Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Minta-minta. Ya, betul-betul miskin itu kita butuh pertolongan orang lain yang mampu.

Nah, sekarang, kita sudah melihat gambaran miskin secara jasmani. Sekarang, gambaran miskin secara rohani. Kalau kita betul-betul rasa butuh sesuatu, kita lapar, kita haus, kita nggak punya apa-apa di hadapan Tuhan, kita datang kepada siapa? Setan? Nggak, kan? Kita datang kepada siapa? Manusia? Nggak! Kita datang kepada siapa? Malaikat? Nggak! Kita datang kepada Tuhan. Datang betul-betul memohon pertolongan Tuhan di dalam kehidupan kita karena kita nggak punya apa-apa. Tanpa Tuhan, kita nggak bisa apa-apa. Yesus sudah katakan juga bahwa, “Di luar Aku, kamu itu nggak bisa apa-apa.” Di luar Yesus Kristus, manusia berdosa rohaninya sudah nol, bahkan minus dan kita juga sudah di dalam Kristus, kalau kita tidak mengandalkan Yesus Kristus, kalau Roh Kudus tidak menolong kita, kita juga nggak bisa apa-apa. Maka, respon kita sebagai orang yang sadar akan kerohanian yang begitu miskin, yang butuh terus topangan dari Tuhan, maka kita akan terus datang kepada Tuhan.

Seorang pengemis yang benar-benar miskin adalah orang yang hidup hari demi hari. Dia nggak pernah planning. minggu depan mau ke mana, ya? Mau liburan ke mana? Minggu depan mau ke kafe yang mana? Bulan depan mau ke kota yang mana? Tahun depan mau ngapain? Nggak ada, ya. Orang yang miskin secara jasmani hanya berpikir kesusahan hari ini bisa terlewati. Kesusahan besok juga sama saja. “Aku akan berusaha melewatinya hari demi hari.” Itu orang yang betul-betul miskin secara jasmani. Dia nggak bisa planning apa-apa. Nggak punya apa-apa, kok! Nggak punya akses apa-apa. Nah, demikian juga dengan kerohanian kita, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Yesus katakan, “Kamu mau berbahagia? Kamu mau hidupnya diberkati? Kamu harus bisa memiliki perasaan roh kamu itu miskin.” Karena apa? Karena berdosa. Siapa di antara kita yang tidak berdosa? Nggak ada. Kalau kita berdosa, miskin secara rohani. Kita butuh Tuhan supaya menguatkan kita untuk hari demi hari menjalani dengan hidup takut akan Tuhan.

Orang yang miskin di hadapan Allah juga adalah orang yang sadar dan mengakui kemiskinan rohaninya di hadapan Allah. Bukan saja saat ini, tetapi masa lalunya. Kita tahu ya, kita harus ingat juga bahwa orang Kristen itu bukan hanya orang yang hidup di masa kini, bukan hanya juga orang yang hidup akan menjalani masa depan, tetapi orang Kristen juga adalah orang yang sudah Tuhan pimpin di masa lalunya. Kalau kita bisa menyadari bahwa kita miskin saat ini secara rohani, itu anugerah Tuhan, tetapi juga kita bisa menyadari bahwa kita miskin di zaman dulu. Zaman dulu sebelum kita mengenal siapakah Yesus Kristus, kita ini adalah orang-orang yang terhilang dan harus binasa. Karena apa? Karena upah dosa adalah maut dan tidak ada manusia yang tidak berdosa. Semuanya harus masuk neraka.

Beberapa minggu lalu, ketika KKR Regional di Solo, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, saya tanya kepada anak-anak, kan. Anak-anak SD. “Siapa yang mau masuk surga?” Semua mau masuk surga, kan? “Siapa yang mau masuk neraka?” Puji Tuhan, nggak ada yang mau masuk neraka, ya. Kalau ada yang mau masuk neraka, wah, itu harus dikonseling, gitu, ya. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ketika dijelaskan tentang Injil, bagaimana seseorang bisa masuk surga, bagaimana seseorang bisa masuk neraka, ya, terus, saya mau tekankan bahwa seharusnya semua manusia itu masuk ke mana? Masuk ke neraka. Jadi, anak-anak yang nggak mau masuk neraka itu menolak. “Kita semua itu harus masuk neraka.” Saya katakan demikian, ya. Wah, ini pendeta kok ngajarin bahwa kita harus masuk neraka, ya? Bingung, kan,anak-anak. Tapi, dijelaskan bahwa kita harus masuk neraka karena apa? Kita berdosa. Berarti kalau kita berdosa bisa masuk surga itu kenapa? Karena dosanya sudah dihapus oleh Yesus Kristus.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau kita menyadari bahwa hidup kita itu harus masuk neraka, harusnya kita akan menyadari bahwa kita ini betul-betul tidak layak di hadapan Tuhan, kita betul-betul miskin di hadapan Tuhan karena nggak ada yang membuat kita itu mampu menolong kita untuk masuk ke surga. Semua orang yang berdosa sudah mati dalam pelanggaran-pelanggarannya dan semua orang sudah berdosa, tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Maka, di dalam teologi reformed, kita mengenal total depravity. Kerusakan total. Bagaimana semua manusia yang sudah jatuh dalam dosa yang di dalam keturunan Adam dan Hawa, kita semua sudah berdosa, maka seluruh aspek hidup kita ini sudah tercemar oleh dosa dan kecenderungan hidup kita hanyalah berdosa dan berdosa. Tetapi, kita tetap manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah, hanya gambar dan rupa Allah itu sudah rusak. Maka dari itu, orang yang berdosa digambarkan di dalam Alkitab, dirinya sudah mati rohani dan tinggal menunggu binasa dan masuk neraka. Itu adalah manusia yang berdosa. Nah, ketika Tuhan memberikan anugerah iman yang menyelamatkan, orang itu memiliki hidup yang kekal.

Maka Bapak, Ibu, Saudara sekalian, inilah paradoks kerohanian orang Kristen. Sebelum kita mengenal Kristus, kita rasa, kita kaya rohnya, kita bisa menyelamatkan diri kita sendiri. Tetapi kemudian, setelah pada akhirnya Roh Kudus sudah memberikan anugerah, ada firman Tuhan ditaburkan di dalam hati kita yang berdosa ini, tiba-tiba kita yang tadinya rasa kaya secara roh, kemudian miskin secara roh. Sampai pada titik nol, kita sadar kita betul-betul miskin, tidak punya apa-apa. Sampai kita mengambil keputusan berpegang kepada salib Kristus. Satu sisi, kita rasa kaya sekali, tetapi kaya sekali itu dibarengkan dengan miskin sekali juga. Kalau kita bisa berkata bahwa kita ini double citizenship, kita adalah warga kerajaan dunia dan warga kerajaan Allah, kita bisa katakan di dalam kerohanian kita juga adalah kita ini miskin secara rohani, tetapi juga kaya secara rohani. Ini paradoks.

Seringkali di dalam kerohanian orang Kristen demikian, kita bisa melihat dua hal yang berbeda dan bertentangan tetapi terjadi bersama-sama dalam kehidupan kita, karena apa? Karena Allah juga adalah Allah yang paradoks. Ya, Allah juga adalah Allah yang mau menyelamatkan manusia dengan cara Allah menjadi manusia. Yesus Kristus itu paradoks terbesar diantara seluruh alam semesta, Allah 100% tetapi manusia juga 100%. Maka dari itu kita bisa menyadari ya, kita jangan pikir kita selalu kaya rohani di dalam Kristus itu kaya terus selalu benar, selalu lebih hebat daripada orang lain, nggak, kita juga miskin secara rohani karena kita berdosa juga, kita masih manusia yang berdosa. Ya, bukan berarti kita akhirnya menjadi orang yang minder, ya, menganggap bahwa orang Kristen yang sudah ditebus dengan darah Kristus betul-betul sama dengan orang yang non-Kristen yang tidak ada Yesusnya, sehingga orang itu bisa menuntun kita kepada jalan yang benar. Tidak! Ya, orang yang di dalam Kristus kita punya akses yang begitu besar untuk kesehatan rohani kita. Buah Roh Kudus sudah ada di dalam hati kita. Sarana-sarana anugerah yang membuat kita itu bisa bertumbuh dengan baik sudah ada dimiliki oleh kita. Orang lain masih mati rohaninya, orang non-Kristen betul-betul tidak ada apa pun yang bisa dia bawa kepada Tuhan.

Maka dari itu kita harus, inilah menjadi tugas kita, ya, untuk mengabarkan Injil kepada banyak orang. Kita sudah punya modalnya, kita sama-sama miskin rohani tetapi orang yang belum dalam Kristus jauh lebih miskin daripada kita, sehingga kita bisa ada hal yang kita tawarkan kepada mereka, entah itu  kebenaran, entah gaya hidup pemuda yang baik, ya, entah teladan kita dalam pekerjaan kita bisa memberikan kepada mereka.

Di sini dikatakan miskin di hadapan Allah, di hadapan Allah yang mana? Ya, Allah itu hanya ada satu tetapi manusia sebagai manusia yang berdosa sering kali buat banyak ilah, banyak dewa dan apa yang dia sembah juga meskipun dia mengatakan hanya ada satu Allah, itu pun bukan Allah. Mereka rasa diri rendah di hadapan allah tersebut, tetapi allah tersebut bukanlah Allah. Maka apakah mereka betul-betul merasakan miskin di hadapan Allah? Tentu tidak. Objeknya saja salah, objeknya saja bukan Allah yang sejati, bagaimana mereka bisa merasa miskin di hadapan allah yang palsu. Maka dari itu kita bisa pelajari, ya, bahwa waktu kita berhadapan dengan Allah yang sejati kita bisa bersikap dengan tepat kepada Dia, Allah yang sumber segala kebahagiaan maupun sumber segala kekayaan rohani.

Nah, di dalam teologi reformed juga, Bapak, Ibu, Saudara kita diingatkan bahwa kerohanian kita itu harus Coram Deo, ya. Terus kemarin baru ketemu pemuda yang sekolah di CIT, ya, Bapak, Ibu sekalian, di Calvin Institute of Technology. Setiap mereka mau lulus mungkin sudah semester 8 ya, berarti ya, mereka harus retreat, retreat dari kampus. Ini sebuah tradisi yang bagus ya, sebelum mereka lulus dari kampus tersebut diadakan retreat. Terus kemudian saya tanya, “Oh temanya apa ya temanya?” Di sini kemudian ada tulisan Coram Deo, ya temanya adalah Coram Deo, yaitu apa? Hidup, atau artinya adalah di hadapan Allah, in the presence of God.

Waktu kita lihat ucapan bahagia dari Yesus Kristus dikatakan, di hadapan Allah, miskin di hadapan Allah. Nah, orang bisa merasa miskin secara rohani karena apa? Karena dia membandingkan dengan Allah itu sendiri . Kalau kita bandingkan diri kita dengan yang lebih bawah dari kita, kita akan rasa terus kaya. Orang paling kaya di Jogja pun ya kalau dia bandingkan sama yang di bawah juga dia akan rasa paling kaya, tapi kalau dia bandingin yang lebih kaya lagi, dia rasa kurang kaya nih, masih miskin, terus lagi cari uang gitu ya. Nah, maka Bapak, Ibu sekalian kalau ini pembandingannya itu sangat indah. Kamu bisa miskin rohani di hadapan Allah, kamu pasti miskin, rasa miskin secara rohani, karena Allah itu adalah Allah yang sangat-sangat kaya secara rohani. Maka kita bisa bergantung kepada Tuhan karena kita tahu bahwa Allah itu adalah Allah yang sangat-sangat kaya.

Yesus itu pokok anggur, ya, penggambaran Yesus Kristus dalam perumpaman seringkali menunjukkan bahwa kita harus bergantung kepadanya-Nya karena Dia adalah sumber segala sesuatu. Demikian juga di dalam khotbah Yesus di bukit, Yesus mengajarkan agar kita tuh berhadapan dengan Allah dan sadar kita berhadapan dengan siapa dan itu menolong kita untuk memiliki rasa miskin secara rohani.

Waktu kita bertemu dengan orang-orang disekitar kita Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya,  kalau kita mengagumi orang tersebut, kalau kita menganggap orang itu orang yang kuat, yang hebat, yang penuh dengan talenta, apakah kita bisa sombong? Bagaimana bisa sombong kalau kita mengagumi orang tersebut, nggak bisa. Kalau kita rasa orang itu di atas kita, kita bisa sombong seperti apa? Tapi kalau kita anggap diri kita di atas orang lain, nah, itu kita bisa menjadi orang yang sombong dan rasa diri lebih hebat, lebih kaya seperti itu ya. Tetapi tidak demikian, waktu kita berhadapan dengan Allah kita itu harus berada di posisi yang paling bawah karena dia adalah Allah yang Maha tinggi.

John Calvin menjelaskan bahwa miskin di hadapan Allah itu adalah orang-orang yang sedang dilanda penderitaan dan kesedihan dan kemudian pada akhirnya diambil keputusan “Saya mau datang kepada Allah.”  Nah, berarti menurut John Calvin, kalau orang itu mengalami penderitaan dan kesedihan dan merasa kurang tetapi pada akhirnya dia tidak mau datang kepada Allah, dia bukanlah orang yang miskin di hadapan Allah. Dia adalah orang yang memang sedang menderita, sedang sakit, sedang sedih dan mereka tidak rasa butuh Allah.  Banyak orang ditekan oleh penderitaan dan kesedihan dan rohaninya sebenarnya kosong, tetapi hidupnya tetap sombong dan juga begitu kejam. Itu adalah orang yang bukan miskin di hadapan Allah. Orang yang miskin di hadapan Allah adalah ketika dia sadar dia lemah, dia sadar dia rasa kosong, dia rasa tidak punya apa-apa, dan pada akhirnya datang kepada Allah. Ini bisa dilakukan oleh orang kaya sekalipun. Orang kaya sekalipun, dia bisa merasa miskin rohani yang begitu mendalam.

Ini yang diharapkan Yesus Kristus kepada banyak orang yang Dia khotbahkan, “kamu itu jangan sombong, kamu itu bukan siapa-siapa di luar Tuhan, Tuhan tega, tega loh – kalau kita mau pakai bahasa manusia – Tuhan tega memasukkan manusia berdosa ke neraka.” Bahkan Alkitab menyatakan ya kalau ada tukang periuk membuat perabot yang bagus tetapi ada perabot yang buruk yang akhirnya juga dibuang sama dia ya. Kalau tukang periuk saja punya hak atas apa yang dia buat, keramik yang ini saya buang. Ini saya pajang di lemari. Ini saya buang dibakar lagi atau dibuang lah ke tong sampah. Kenapa Tuhan tidak punya hak seperti itu? Kasarannya ya Bapak, Ibu, Saudara. Meskipun Tuhan ketika menghukum orang masuk ke neraka itu dengan moralitas yang tertinggi. Dia sedih orang masuk neraka. Dan dengan perasaan yang sedih karena Dia harus menghukum orang di neraka selama kekekalan orang itu menderita dan terpisah dengan Allah.

Tetapi kalau kita bayangkan ya kalau Tuhan saja tega memasukkan orang ke neraka ya, kenapa kita bisa merasa bahwa Tuhan itu di bawah kita ya? Kenapa kita bisa merasa diri kita itu hebat, layak dikasih dan diselamatkan oleh Tuhan? Tuhan tega kok masukkin orang ke neraka. Terus dengan sombongnya kita sudah ditebus dengan darah Kristus, kita merasa diri kita lebih hebat, lebih sombong, lebih kejam, lebih rasa diri kaya, nggak ada kerendahan hati sama sekali. Justru kalau kita adalah orang Kristen yang saya sudah pasti selamat, saya sudah pasti lebih baik daripada orang lain, saya tidak perlu belajar daripada orang lain, saya tidak butuh orang lain, saya tidak butuh Tuhan bahkan, merasa diri sudah bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Tapi orang yang merasa demikian itu hanya rasa-rasa saja. Pada akhirnya dia adalah orang yang merasa bahwa sudah berseru-seru memanggil nama Tuhan, melakukan mukjizat demi nama Tuhan, mengabarkan Injil, tetapi Tuhan mengatakan, “Pergi enyahlah engkau hai pembuat kejahatan.”

Orang yang Kristen seharusnya apa Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Orang yang Kristen itu harusnya memiliki kerohanian yang terus sadar akan kemiskinan rohani, tanpa firman Tuhan kita nggak bisa bertumbuh, tanpa berdoa dengan tekun kita akan terhilang, tanpa persekutuan di gereja Tuhan, sakramen, kita akan jauh dari Tuhan kita akan melawan Tuha. Dan itu betul ya. Di mana orang tidak akan melawan Tuhan kalau dia tidak memiliki firman Tuhan dan juga doa kepada Tuhan?

Miskin di hadapan Allah berarti sadar dirinya manusia berdosa, total depravity ini yang harus kita ingat. Kerusakan total bukan berarti kita menjadi iblis sejahat-jahatnya, tetapi kerusakan total adalah dari pikiran kita, seluruh tubuh kita ini sudah tercemar oleh dosa. Maka waktu kita melakukan sesuatu dengan pikiran kita, kita sadar bahwa kita bisa melakukan dosa, kita bisa melakukan dosa di dalam pelayanan kita, bahkan kita membaca firman pun kita menafsirkan dengan cara melawan Tuhan. Berdoa pun berdoa secara salah, berdoa untuk tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Sakramen pun ya kita bisa menerima perjamuan kudus itu dengan hati yang sombong sehingga Tuhan pun bisa hukum kita karena kita melayani dengan keberdosaan kita. Maka orang yang betul-betul sadar akan total depravity harus rendah hati, akan rendah hati. Tapi kalau kita pada akhirnya sombong, pada akhirnya kita menjadi orang yang melawan Tuhan, kita itu tidak sadar kita itu berdosa, kita itu miskin secara rohani.

Dan hasil yang paling kelihatan dari ayat ini Bapak, Ibu, Saudara sekalian, orang yang miskin di hadapan Allah akan empunya kerajaan surga, hasil yang kelihatan adalah orang itu menjadi orang yang rendah hati. Ini karakter yang menjadi pergumulan seumur hidup kita. Kita pun kalau ditanya soal kerendahan hati kita akan bingung menjawabnya bagaimana. Apa definisi kerendahan hati? Semua jawaban bisa berbeda-beda bahkan kita pun katakan “peduli amat, bingung saya soal kerendahan hati itu apa.” Tapi yang Yesus ajarkan soal karakter Kristen yang pertama adalah kamu rendah hati di situlah sumber kamu memperoleh kasih karunia dari Tuhan.

Kerendahan hati adalah suatu karakter yang kompleks yang begitu indah, bahkan dapat kita katakan Bapak, Ibu sekalian menjadi dasar dari semua karakter yang baik itu asalnya kerendahan hati. Maka kita waktu mengatakan seseorang itu baik ya atau melakukan perbuatan baik kita bisa katakan itu rendah hati kok. Dia melayani sebagai pemusik, sebagai liturgis, sebagai singer misalkan ya. Oh dia rendah hati, dia mau kok ya, mau ikut melayani orang, mau tidak dibayar untuk sama-sama memuji Tuhan misalkan ya. Namanya pelayanan tuh pasti rendah hati di hadapan Tuhan. Bekerja pun ya kalau bekerjanya sungguh-sungguh, bekerja keras, mau yang terbaik, dia pun rendah hati ya. Segala perbuatan baik kita bisa definisikan rendah hati karena dasar dari seluruh perbuatan baik adalah rendah hati.

Tetapi rendah hati juga bukanlah minder, bukanlah rendah diri sampai pada akhirnya kita tidak melakukan apa-apa karena saya masih belum layak ya, saya masih nggak bisa apa-apa. Memangnya Tuhan pakai rasul itu ketika dia sudah jadi rasul? Memangnya Tuhan pakai misionaris itu ketika dia sudah jadi misionaris? Memangnya ketika Tuhan pakai orang Kristen itu ketika dia sudah jadi orang Kristen? Nggak. Tuhan pakai orang itu supaya apa? Supaya akhirnya menggenapkan rencana Allah. Orang yang belum Kristen pada akhirnya dia tetap Tuhan anugerahkan sebelum pada akhirnya dia menjadi orang Kristen.

Nah rendah hati berarti apa? Kita sadar bahwa di luar Yesus Kristus kita tidak bisa apa-apa. Maka seorang filsuf, seorang teolog terkenal ya Agustinus dari Hippo, dia mengatakan ketika bicara soal essential virtue ya, esensi kebajikan yang paling esensi atau paling penting dalam kekristenan dia jawab adalah kerendahan hati, bagaimana kita rendah hati. Waktu kita percaya kepada Kristus harus rendah hati. Tetapi kenapa setelah percaya kepada Kristus kita tidak rendah hati ya? Padahal untuk bisa percaya kepada Kristus kita rendah hati, kita sadar berdosa, Yesus punya keselamatan, Yesus sudah berkorban begitu besar, kita nggak punya apa-apa untuk Tuhan.

Agustinus menulis bahwa “as far as you are made humble, so far are you made capable of receiving grace” ya, “Sejauh kamu itu bisa merendahkan hatimu di hadapan Tuhan sejauh itu juga kamu akan memperoleh anugerah.” Jadi sejauh kita sombong, kita nggak akan dapat banyak anugerah dari Tuhan. Maka Amsal mengatakan bahwa orang sombong itu akan direndahkan, supaya apa? Supaya dia menerima kasih karunia. Baiknya Tuhan itu gitu, ya. Kita bisa belajar bahwa orang sombong akan dihancurkan, orang rendah hati akan ditinggikan, kenapa? Karena Tuhan mengasihi orang tersebut. Tuhan adil terhadap kedua orang tersebut. Kalau orang sombong, supaya dia mengerti keadilan Tuhan dan mendapatkan kasih karunia dari Tuhan, Tuhan hancurkan dia, rendahkan dia, sampai dia memiliki kerendahan hati. Mulai dari kerendahan hati, barulah dia akan ditinggikan. Tapi orang yang rendah hati, sudah rendah hati, Tuhan kasih upah juga dia untuk mendapatkan segala anugerah atau berkat yang lainnya. Maka kerendahan hati adalah suatu pintu masuk ke dalam kasih karunia.

Kita juga tahu Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di dalam teologi reformed ada sarana-sarana anugerah. Sarana-sarana anugerah adalah bukan anugerah itu sendiri yang akhirnya mempertumbuhkan iman kita. Anugerah itu sendiri, yang mempertumbuhkan diri kita, adalah dari Tuhan. Allah yang memberikan pertumbuhan. Manusia bisa menyiram, manusia bisa menanam, tapi Allah yang memberikan pertumbuhan, Roh Kudus memberikan pertumbuhan. Yang bisa kita lakukan apa Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Yang bisa kita lakukan adalah supaya kita bisa bertumbuh di situasi atau lingkungan yang mendukung pertumbuhan itu sendiri. Yaitu dengan apa? Sarana-sarana anugerah.

Nah, kalau kita lihat sarana-sarana anugerah, kita tahu ya, kita sudah belajar. Sarana itu yang membuat kita bertumbuh itu apa? Firman Tuhan, doa, kemudian sakramen. Ini paling umumnya tiga. Terus kemudian persekutuan orang-orang Kristen, dan lain-lainnya. Tetapi untuk bisa masuk ke dalam sarana anugerah, butuh apa Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Butuh apa supaya kita bisa baca Alkitab? Butuh apa supaya kita bisa berdoa kepada Tuhan? Butuh apa supaya kita bisa dengar khotbah atau ke gereja hari ini? Jawabannya adalah karakter rendah hati. Kalau kita sombong kita nggak akan baca Alkitab. Kita baca Alkitab juga demi untuk kesombongan kita, kemuliaan kita, bukan untuk menaati Tuhan, kan? Maka ini adalah suatu anugerah yang begitu besar yang seharusnya kita inginkan terus dalam hidup kita. Yaitu apa? Tuhan ajarkan aku rendah hati. Ajarkan aku menyadari bahwa aku itu bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan dan tanpa Tuhan.

Siapa yang, Bapak Ibu Saudara sekalian kalau kita lihat, kalau kita berelasi dengan orang-orang di sekitar kita, siapa sih orang yang tidak suka dengan orang yang rendah hati? Semua orang suka dengan orang yang rendah hati, yang baik, yang menjalankan tugas sebagaimana mestinya dia jalankan. Entah itu mungkin sebagai manusia, ya. Ini yang kurang diantara masyarakat zaman sekarang, setelah Covid dan juga zaman gadget, yaitu pelajaran tata krama. Bagaimana kita memiliki tata krama yang baik ketika bertemu dengan orang, kita menyapa. Ketika kita salah, kita minta maaf. Ketika kita dibaikin sama orang, kita bilang terima kasih, ya. Kalau kita bertemu dengan orang, kita juga sangat menghormati sebagai gambar dan rupa Allah. Kita mengasih dia, kita menyapa, kita ramah. Ramah saja Bapak, Ibu, Saudara sekalialian, kita pasti suka sama orang tersebut.

Kalau saya sendiri, ya Bapak Ibu Saudara, ya. Kalau menggunakan jasa driver online, ya. Kalau drivernya ramah, baik, rendah hati, nggak terlalu cerewet/ngomong terus, nggak terlalu diem juga, gitu ya, secukupnya lah. Langsung saya ingin kasih tips. Ya nggak banyak tipsnya, terus saya kasih traktat juga, biasanya gitu ya. Tapi kalau betul-betul sombong, gitu ya, nyebelin, males, saya juga diem saja. Kasih traktat pun nggak. Wah, ini orang berdosa, ya. Harusnya justru orang sombong yang butuh traktat, kan? Orang rendah hati, ya udahlah nanti dia mungkin bisa belajar dari Youtube, internet, gitu ya. Dari orang-orang dia bisa belajar, dari siapapun dia bisa belajar. Orang Kristen kalau rendah hati, belajar dari yang non-Kristen pun bisa, sebatas apa? Sebatas anugerah umum ya, wahyu umum. Tetapi orang yang non-Kristen seharusnya lebih banyak belajar dari kita, karena kita punya anugerah umum, punya anugerah khusus, gitu ya.

Kalau kita rendah hati itu, orang itu baik sama kita kok. Akan mendapatkan banyak kasih karunia dari orang sekitar. Itu anugerah umum juga, ya. Dan di sini ditawarkan anugerah yang begitu besar, kamu kalau miskin dihadapan Allah, kamu kalau rendah hati, betul-betul rendah hati, dapat surga. Surga itu kamu terima, kamu itu punya kerajaan Allah, kamu itu warga kerajaan surga, kenapa? Tidak ada warga kerajaan surga yang sombong. Semua warga kerajaan surga itu rendah hati, dan kamu pasti memilikinya. Ini ibarat Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya, rendah hati itu jalan keselamatan. Kerendahan yang sejati itu jalan keselamatan. Ya, kita tahu tentu ya, Yesus Kristus adalah jalan kebenaran dan hidup. Tapi bagaimana seseorang bisa percaya kepada Yesus kalau dia tidak rendah hati? Orang yang sombong itu hanya percaya pada diri saja, diri terus. Tidak mau percaya sama yang lain. Tetapi orang Kristen yang dapat anugerah keselamatan, percaya kepada Yesus, itu pasti sudah mendapatkan kerendahan hati dari Tuhan. Upah dari orang yang rendah hati adalah kerajaan surga.

Maka ucapan bahagia yang pertama, betul-betul pertama. Kalau kamu mau diberkati oleh Tuhan, kamu mau menerima keselamatan sekalipun, kamu harus miskin di hadapan Allah, kamu harus rendah hati. Ini adalah titik awal dari kerohanian seseorang. Ini adalah suatu nasihat penginjilan Yesus Kristus, yang Yesus lakukan kepada banyak orang di bukit Galilea. Berbahagialah orang yang rendah hati, karena orang yang rendah hati memiliki surga. Yesus penginjilan, Yesus memberitakan kabar baik kepada banyak orang lewat kotbah. Kalimat pertamanya di atas bukit.

Tetapi sebaliknya Bapak, Ibu, Saudara sekalian, dari kalimat ini kita bisa melihat bahwa orang yang tidak diberkati Tuhan adalah sebaliknya, orang yang merasa kaya di hadapan Tuhan, orang yang merasa hebat di hadapan Tuhan, mereka tidak punya kerajaan surga. Sekarang kita bisa cek Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya, meskipun dalam beberapa minggu ke depan ada pemeriksaan kesehatan, check up. Kita seharusnya juga check kerohanian kita, kalau medical check up secara jasmani bisa dilakukan, kenapa kita, medical check up secara rohani tidak bisa dilakukan? Bisa. Ya, dengan cara apa? Ya dengan cara ucapan bahagia ini. Pertama-tama kita bertanya ya, apakah diri saya itu sudah rasa kurang di hadapan Tuhan? Miskin di hadapan Tuhan? Atau saya rasa sudah cukup? Saya tahulah khotbah, ngapain sih ibadah tiap Minggu? Udah lah. Nggak perlu dengerin satu orang khotbah misalnya gitu ya, rasa diri cukup lah. Nggak perlu baca-baca Alkitab tiap hari, bangun tidur langsung kerja, nggak usah baca firman.

Kita merasa diri kita itu kaya, Bapak Ibu sekalian, secara rohani di hadapan Tuhan? Nggak boleh, ya. Memang di satu sisi kita bisa katakan ya, ini paradoks lagi, kita harus puas di hadapan Tuhan, kita juga tidak puas di dalam Tuhan. Bingung ya. Menjadi orang Kristen itu seperti hidup di dua dunia. Maksudnya apa? Puas di dalam Kristus karena anugerahnya cukup bagi kita, tetapi tidak puas di dalam Tuhan dalam arti apa? Karena kita lapar dan haus akan kebenaran. Kita butuh Tuhan terus, butuh anugerah-Nya, butuh pertolongan-Nya. Kita butuh firman-Nya, kita butuh berdoa, kita butuh gereja Tuhan. Kita butuh sakramen. Itulah yang membuat kita terus datang kepada Tuhan.

Kita harus senantiasa miskin rohaninya di hadapan Tuhan, dan selalu menuntut diri untuk kemajuan, sehingga kita bisa katakan kita tidak boleh berpuas pada diri kita selama ini, kalau bisa maju, maju. Maju sudah mentok, barulah sudah puas kita katakan ya. Tetapi kita juga, bisa mengatakan bahwa saya rasa cukup. Seperti Paulus ya, anugerah Tuhan itu, kasih karunia Tuhan itu cukup bagiku, kalau memang saya harus sakit ya, sampai tidak bisa sembuh, kalau memang saya harus sakit, sakitlah nggak apa apa, itu namanya mengatakan aku puas di dalam Tuhan, aku cukup di dalam Tuhan. Tapi kalau bisa sembuh ya sembuh. Kita usahakan yang terbaik. Tapi kalau kita sudah usahakan, tidak bisa, ya sudah, kita usahakan. Seperti Paulus ya, Paulus mengatakan, sudah cukup kasih karunia Tuhan bagiku.

Nah ini adalah kerohanian yang tidak mudah kita pahami di dalam kehidupan kita, tetapi inilah yang diajarkan oleh Tuhan kepada kita. Bagaimana kita miskin secara rohani di hadapan Allah, tetapi jangan lupa kita juga tetap merasa cukup di dalam Yesus Kristus. Kita ingat kita menyembah Pribadi yang paling kaya secara rohani. Itu adalah Allah kita. Waktu berhadapan dengan Allah, kita nggak bisa merasa diri kita kaya di hadapan Tuhan. Kita jangan seperti seorang Farisi yang bersyukur kepada Tuhan tetapi dengan merasa hatinya itu kaya raya. “Bersyukur aku bukan perampok, bersyukur aku bukan pemungut cukai, bersyukur aku bukan pezinah, bersyukur aku bukan bla bla bla”, tapi akhirnya rasa kaya di hadapan Tuhan. “Ya ini karena usahaku, ini karena aku lebih hebat daripada orang lain.” Tetapi ketika pemungut cukai itu datang untuk berdoa di hadapan Tuhan, dikatakan, “aku ini orang berdosa, pekerjaanku saja berdosa, aku dikucilkan, ya, pekerjaanku banyak godaan untuk melakukan dosa, aku korupsi lah, menipu lah, aku siapa sih, aku bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan.” Tetapi di situ Yesus jelaskan, orang yang dibenarkan adalah pemungut cukai, orang yang disalahkan adalah orang Farisi.

Ya kiranya kita boleh mengingat bahwa hidup kita ini celaka kalau kita merasa kaya di hadapan Allah. Karena kalau kita merasa kaya di hadapan Allah, kita tidak punya kerajaan surga. Dan kita ingat hidup kita itu Sola Gratia, semua hanya karena anugerah Tuhan saja, bukan jasa kita, bukan kehebatan kita, bukan kecakapan kita, tetapi kalau kita boleh diselamatkan dan hidup kudus di dalam Tuhan, itu adalah anugerah Tuhan semata. Marilah kita menjadi orang yang rendah hati dan mengingat bahwa Tuhan memberikan kasih karunia-Nya yang begitu limpah kepada orang yang rendah hati, dan kita sudah memiliki kerajaan surga di dalam Yesus Kristus sebagai Pribadi manusia yang paling rendah hati juga. Kiranya kita bersukacita di hadapan Allah, kita menunjukkan kerendahan hati kita dengan apa? Dengan ibadah di hadapan Tuhan, dengan membaca Alkitab setiap hari, dengan berdoa kepada Tuhan, dengan sungguh-sungguh mau melayani Tuhan.

Mari kita tutup kotbah kita dengan membaca, Filipi 2:5-11. Filipi 2:5-11 ini adalah bagian dari kerendahan hati Yesus Kristus, kita baca bersama-sama firman Tuhan ini, satu, dua, tiga, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allahitu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkandiri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Diadan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lututsegala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Mari kita sama-sama berdoa.

Ya Tuhan Allah Bapa kami yang di surga, kami sungguh mengucap syukur pada hari ini kami boleh diingatkan kembali bagaimana kami harus hidup di hadapan Tuhan, bagaimana kami harus memiliki kebahagiaan yang sejati yang dari Tuhan sendiri. Kami bersyukur Tuhan untuk berbagai firman Tuhan yang boleh kami renungkan dari perkataan Yesus di bukit, bagaimana kami bisa berbahagia jika orang ataupun kami miskin di hadapan Allah, karena orang-orang yang demikianlah memiliki kerajaan surga. Kami mengucap syukur Tuhan bahwa hidup kami ini senantiasa hidup ditopang oleh Tuhan sendiri. Allah yang adalah pribadi yang kaya raya, Tuhan adalah pemilik segala sesuatu. Kami berdoa Tuhan supaya di dalam kehidupan kami, untuk menjalani kehidupan sehari-hari kami bukan menjadi orang yang sombong, kami bukan menjadi orang yang merasa kaya di hadapan Tuhan, tetapi kami boleh betul-betul memiliki sifat karakter yang menyadari kekosongan kami, kebergantungan kami kepada Tuhan. Kami mau Tuhan, memiliki kerohanian yang bergantung pada Tuhan. Tolonglah kami supaya kami bisa melihat segala sesuatunya dari perspektif Tuhan sendiri bagaimana Tuhan bertahta di atas kerajaan dunia maupun kerajaan surga. Pimpinlah hidup kami supaya boleh melayani Engkau dengan kerendahan hati. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup, kami sudah berdoa dan mengucap syukur, Amin. (HS)