Sesungguh-sungguhnya (4)
Yoh. 5:1-47
Pdt. Dawis Waiman
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, peristiwa dari percakapan yang terjadi antara Yesus Kristus dengan orang-orang Yahudi. Alkitab mencatat ini terjadi pada hari Sabat. Hari Sabat hari apa? Hari di mana orang-orang Yahudi mendidik seluruh orang Yahudi atau pemimpin Yahudi mendidik orang-orang Yahudi. Mereka tidak boleh bekerja, mereka tidak boleh melakukan sesuatu apa pun di dalam hari Sabat. Karena pada waktu mereka melakukan itu, maka tindakan itu dianggap sebagai satu dosa, satu pelanggaran terhadap hukum Tuhan.
Tapi pada waktu hari Sabat itu, Yesus justru menyembuhkan orang yang sudah lumpuh selama 38 tahun di dalam hidupnya. Dan setelah menyembuhkan, Yesus justru meminta orang itu mengangkat tilamnya untuk berjalan dan pergi dari tempat itu. Nah, ini menangkap atau menarik perhatian dari orang-orang Yahudi atau polisi Sabat yang ada pada waktu itu. Yang membuat mereka kemudian mencari tahu dan menyelidiki kenapa orang ini melanggar hukum Sabat, siapa yang membuat orang ini melanggar hukum Sabat itu, dan ada satu hal yang menyedihkan di situ mereka tidak melihat kuasa Tuhan yang sedang bekerja di tengah-tengah mereka.
Nah, ini hal yang saya kira sebagai umat Tuhan kita perlu hati-hati dan kita perlu dengan jujur atau dengan satu kebesaran hati atau satu kepekaan untuk melihat kepada kehidupan kita. Ada orang-orang tertentu yang lebih legalis, lebih memikirkan hukum, lebih memikirkan peraturan. Itu baik tidak? Itu sangat baik sekali saya percaya. Karena di balik daripada tuntutan hukum yang harus kita kerjakan, di situ ada hati yang takut Tuhan, hati yang ingin kita menaati Tuhan dan melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan supaya kita tidak melanggarnya.
Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang menjadi salah dari orang-orang Yahudi ini? Mereka bukan hanya melihat hukum dan terpaku kepada hukum, tetapi mereka ketika melihat pada hukum dan terpaku pada hukum, mereka sampai melewatkan kuasa Tuhan yang sedang bekerja di tengah-tengah mereka dan terjadi di depan mata mereka pada waktu itu. Sehingga akibatnya adalah mereka menolak kesembuhan itu, mereka menolak pribadi Yesus Kristus yang telah menyatakan kuasa Tuhan untuk menyembuhkan orang yang sakit ini yang sudah lumpuh 38 tahun tersebut. Dan tindakan penolakan itu bukan hanya ngomong, “Oh, Engkau harus pergi dari bangsa ini. Engkau adalah orang yang tidak taat kepada Tuhan.” Bukan hanya ekskomunikasi yang diberikan. Tetapi yang dicatat Kitab Suci adalah mereka ingin membunuh Yesus Kristus, mereka ingin mematikan Yesus Kristus.
Tetapi menariknya adalah pada waktu Yesus Kristus itu menghadapi mereka dan menjawab pertanyaan mereka kenapa Engkau menyembuhkan pada hari Sabat, Yesus menjawab mereka, “Seperti Bapa-Ku yang bekerja sampai pada hari ini, maka Aku pun turut bekerja sampai hari ini.” Artinya apa? Artinya pada waktu Yesus menjawab pertanyaan mereka yang membuat mereka begitu marah sekali dan bahkan mungkin sampai kepada klimaks kemarahannya, bukan hanya karena mereka melihat Yesus meminta orang itu untuk berjalan mengangkat tilamnya tetapi mereka juga melihat Yesus menyamakan dirinya dengan Tuhan Allah sendiri. Nah, ini membuat mereka ingin mematikan Yesus Kristus. Dan ini yang tadi saya katakan, walaupun mereka seperti orang beribadah, mereka taat kepada Tuhan, tetapi sebenarnya mereka buta terhadap kebenaran-kebenaran yang Tuhan kerjakan di tengah-tengah mereka.
Saya berdoa kita bukan menjadi orang seperti itu, ya. Yang setiap minggu datang beribadah, yang setiap minggu melayani Tuhan, yang setiap minggu memberikan persembahan untuk Tuhan, yang setiap bulan atau setiap tahun terlibat dalam penginjilan atau KKR Regional, tapi ketika melihat ada jiwa yang dimenangkan, ada orang yang hadir di dalam gereja, ada orang yang bertobat, ada orang yang tidak sesuai dengan diri kita, ada orang yang aneh atau unik di tengah-tengah kita tapi dia datang untuk beribadah kepada Tuhan karena dia mengenal kebenaran Tuhan kita merasa dia beda dengan diri kita, dia tidak masuk hitungan dari kita, dan saya tidak mau bersama-sama dengan orang itu.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita harus bisa melihat ada kuasa Tuhan yang bekerja. Kapan kuasa Tuhan itu bekerja. Kapan Tuhan ada di tengah-tengah diri kita. Dengan begitu, saya yakin sekali kita akan menjadi orang yang selalu hidup meresponi Tuhan di dalam kehidupan kita, ya.
Nah, pada waktu Yohanes menceritakan bagian ini. Apa hal yang penting di sini yang kita perlu perhatikan? Saya kembali ke dalam Yohanes 20 untuk ingatkan kita dan saya yakin selama kita membahas mengenai kata sesungguh-sungguhnya atau truly-truly ini. Saya akan ulangi bagian ini sebagai suatu penekanan supaya kita tidak akhirnya lupa akan esensi dari Injil Yohanes untuk disampaikan atau dituliskan kepada kita.
Untuk apa cerita ini ditulis? Yohanes berkata di dalam ayat 30 dan 31 dari pasal 20. “Injil ini ditulis untuk memberitahu kita bahwa apa yang dikerjakan oleh Yesus Kristus di depan murid-murid-Nya itu adalah sesuatu yang merupakan tanda.” Tanda itu apa maksudnya? Tanda itu adalah satu petunjuk untuk membuat orang melihat kepada siapa diri dari Yesus Kristus itu. Supaya apa? Supaya ketika kita melihat tanda yang dilakukan oleh Yesus Kristus, kita percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah dan supaya kamu, oleh imanmu, memperoleh hidup dalam nama-Nya.
Jadi pada waktu kita membaca bagian dari Yohanes pasal 5 dan bahkan seluruh dari Injil Yohanes ini, kita harus mengerti satu hal, Yohanes bukan sekedar menulis Kitab Suci kepada kita supaya kita mengerti mengenai kebenaran Tuhan saja, mengerti apa yang harus kita lakukan dalam kehidupan kita sebagai umat Allah, tetapi Yohanes memiliki satu tujuan yang penting supaya pada waktu kita melihat kepada tanda-tanda yang dilakukan Yesus Kristus, kita tahu Dia adalah Mesias itu, kita tahu Dia adalah Anak Allah, kita tahu bahwa Dia datang ke dalam dunia ini untuk menyelamatkan kita dari dosa, dan kita tahu bahwa di luar dari Yesus Kristus tidak ada jalan lain untuk kita datang kepada Tuhan Allah. Itu yang menjadi tujuan Yohanes untuk menuliskan Injil-nya bagi diri kita.
Nah Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, lalu apa hubungannya dengan orang lumpuh yang disembuhkan itu? Mungkin pertama kita bisa melihatnya dari perspektif ini, di dalam Kitab Yesaya, ada satu kalimat yang Yesaya nubuatkan kepada umat-Nya. Pada waktu Mesias datang ke dalam dunia ini, maka Dia akan lakukan hal-hal yang besar di dalam dunia ini. Nah hal-hal yang besar itu apa? Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta ditahirkan. Nah ini yang terjadi pada waktu Yesus Kristus datang ke dalam dunia untuk melayani.
Bapak, Ibu bisa bandingkan dengan cerita yang dicatat di dalam Injil Matius, pada waktu Yohanes pembaptis dipenjarakan karena dia menegur Herodes telah mengambil istri orang lain atau saudaranya secara tidak sah atau dia telah berselingkuh atau berzinah, maka Herodes merasa tidak suka, akhirnya dia memenjarakan Yohanes pembaptis ini. Tapi ketika dia ada di dalam penjara itu dia melihat kok orang yang dia promosikan, orang yang dia perkenalkan kepada bangsa Israel sebagai Anak Allah, sebagai Mesias itu, kok kerjaannya adalah hanya keliling kesana kemari dari utara ke selatan, selatan ke utara seperti itu, lalu mengajarkan Firman Tuhan, lalu menyembuhkan orang sakit, dan melakukan kebaikan-kebaikan dalam hidupNya. Di mana Mesias yang revolusioner itu? Di mana Mesias yang akan memulihkan kerajaan Daud itu? Nggak ada kelihatan sama sekali.
Lalu Yohanes kemudian mengutus muridnya untuk bertanya kepada Yesus Kristus, “Sebenarnya Engkaukah orang yang kami nantikan itu atau kami harus menunggu orang lain?” Lalu pada waktu itu Yesus menjawab murid itu, “Katakan kepada Yohanes apa yang engkau lihat. Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir.” Maksudnya apa Yesus katakan seperti itu? Kok Yesus sepertinya tidak menjawab pertanyaan dari Yohanes pembaptis? Bukan Yesus tidak menjawab, Yesus justru menjawab pertanyaan itu dan Dia menjawab berdasarkan Kitab Suci yaitu dalam Injil Yesaya. Apa yang Dia kerjakan ada tercatat di dalam Yesaya dan apa yang Dia kerjakan itu menunjukkan bahwa Dialah orang yang dinubuatkan dalam Kitab Yesaya.
Makanya kalau Bapak, Ibu baca dalam Yohanes 5 tadi yang kita baca, di dalam ayat 39 dikatakan, “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Artinya apa? Pada waktu orang-orang Yahudi ini membaca seluruh Perjanjian Lama, banyak orang berkata, “Oh Perjanjian Lama itu mengajarkan Taurat, Perjanjian Lama itu mengajarkan bagaimana hidup di dalam ketaatan kepada Tuhan, Perjanjian Lama itu mengajarkan perbuatan itu membenarkan kita di hadapan Tuhan, Perjanjian Lama itu menyatakan tuntutan Tuhan dan keadilan Tuhan bagi manusia berdosa.” Ada nggak aspek keadilan itu? Ada. Tetapi kalau kita hanya membaca Perjanjian Lama seperti itu, Yesus mau mengatakan, kita salah baca. Karena seluruh dari Perjanjian Lama itu menunjuk kepada Yesus Kristus. Berarti apa? Seluruh dari Perjanjian Lama itu dengan iman melihat ke depan, melihat kepada apa yang Allah akan kerjakan di dalam diri Yesus Kristus, bukan di dalam diri dari orang-orang yang beribadah kepada Tuhan.
Jadi itu yang membuat di sini atau tadi saya katakan pada waktu kita melihat kesembuhan dari orang yang sudah 38 tahun lumpuh itu, tujuannya untuk apa? Tujuannya menjadi satu tanda untuk kita melihat bukan pada kesembuhannya, bukan pada kuasa dari Yesus yang bisa menyembuhkan sehingga kita stop di dalam kesembuhan dan kita memiliki iman untuk disembuhkan secara fisik karena ada Hamba Tuhan atau nabi yang begitu berkuasa sekali pada zaman itu, dan saat ini Yesus pun masih berkuasa untuk menyembuhkan diri kita. Kalau kita melihat hanya sampai di situ, saya kira kita salah dalam membaca Kitab Suci.
Tapi kalau begitu apa yang menjadi tujuannya? Tujuannya adalah supaya kita melihat Yesuslah penggenapan dari janji-janji yang Tuhan berikan di dalam sepanjang Perjanjian Lama. Dia adalah Mesias itu, Dia adalah Anak Allah, Dia adalah satu-satunya mediator antara manusia dengan Allah yang Suci, dan di dalam Dia ada hidup yang kekal, dan di luar Dia tidak ada kehidupan.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini poin pertama yang penting, ya, tapi ada yang kedua yang kita juga bisa lihat. Kenapa di sini digunakan orang yang lumpuh 38 tahun dan Yesus menyembuhkan dia? Ini adalah untuk mau menunjukkan gambaran dari orang lumpuh itu yang secara fisik tidak bisa berjalan selama 38 tahun itu dan secara fisik tidak mampu menolong diri dia untuk bisa disembuhkan dari kondisinya selama 38 tahun itu sebagai satu gambaran dari kondisi rohani kita. Bagaimana kita bisa mengerti kalau kita adalah orang berdosa? Bagaimana kita bisa mengerti dampak dosa itu dalam kehidupan kita seberapa besar? Bagaimana kita bisa mengerti bahwa di dalam kondisi berdosa, kita tidak bisa mengubah keadaan kita yang berdosa menjadi keadaan yang benar, keadaan yang kita bisa diterima oleh Tuhan?
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Yesus menggunakan orang sakit. Yesus menggunakan orang yang lumpuh. Jadi, pada waktu kita melihat kepada orang lumpuh ini, seperti dia nggak bisa berjalan. Saya kira, kalau dia hidup di dalam zaman sekarang, dia akan menjalani berbagai terapi yang ada secara fisiologi supaya dia bisa, paling tidak bertahan di dalam kondisi tubuhnya atau ototnya itu. Tetapi, bisa tidak? Kalau dia lumpuh, saya yakin tidak bisa.
Di jemaat kita-saya ngomong ini bukan untuk membangun kesedihan, ya, atau mengorek luka lama di dalam jemaat kita, tetapi yang saya mau ngomong adalah di jemaat kita ada orang yang mengalami hal ini. Di antara kita, dulu pernah di sini, tapi dia jemaat di Solo, ya-ada 2 keluarga yang anak-anaknya itu terlahir cacat. Cacatnya itu membuat dia nggak bisa menggerakkan tubuhnya, mengontrol tubuhnya, kakinya. Nggak bisa berjalan, nggak bisa berkomunikasi seperti itu karena ada satu kesalahan atau sesuatu kerusakan yang terjadi di dalam otaknya. Lalu, sekarang sudah usia berapa? Ada yang sudah masuk remaja. 15 tahunan atau bahkan 20 tahun seperti itu.
Dan pada waktu saya melihat, mereka masih kecil, masih usia berapa bulan atau mungkin beberapa tahun di awal. Masih batita atau masih balita seperti itu, dan orang tuanya begitu giat sekali untuk merawat anak ini, bahkan papanya itu memutuskan untuk berhenti bekerja supaya bisa merawat anak ini dan mamanya yang pergi bekerja. Kenapa begitu? Karena anak ini ketika makin bertambah besar, makin bertambah besar, mamanya nggak kuat lagi untuk angkat anak itu, untuk memandikan anak itu atau untuk membersihkan anak itu atau memindahkan anak itu ke tempat-tempat yang lain. Akhirnya, semua tugas itu dikerjakan oleh papanya.
Awal-awal, keluarga ini begitu tekun sekali untuk pergi mencari terapis. Obat-obatan yang digunakan, susu yang digunakan, lalu kemudian, pijitan-pijitan yang berusaha untuk mungkin menstimulasi syaraf-syaraf yang ada. Itu dikerjakan semua. Yang terbaik pokoknya dilakukan semua. Saya sedih sekali pada waktu saya baru berapa bulan yang lalu datang lagi untuk mengunjungi, itu perubahan terjadi drastis sekali, ya. Anaknya, kulit itu sudah cuma membungkus tulang. Badan itu sudah skoliosis, sudah seperti S, sudah nggak bisa gerak lagi. Lalu kemudian kaki juga kurus sekali. Walaupun papanya masih panggil tukang terapi untuk memijit, tapi sudah nggak bisa diperbaiki lagi.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita melihat kepada kelumpuhan dari orang ini, jangan pikir mereka ketika melewati tahun demi tahun, kondisi fisik otot itu bisa dijaga semua. Saya pernah baca, manusia ketika mengalami penuaan, otot yang pertama kali diserang itu adalah otot kaki. Betul nggak? Mulai dari kaki terlebih dahulu.
Nah, sekarang, orang ini yang dialami adalah kaki. Ketika dia nggak bisa menggunakan kakinya sama sekali, apa yang terjadi? Saya yakin, yang lama-lama terjadi adalah kakinya makin mengecil, makin mengecil. Ada harapan nggak untuk orang ini sembuh? Pasti ndak mungkin! Bisa nggak dengan dia berusaha berjalan sendiri, melakukan terapi, dia bisa menguatkan ototnya? Nggak bisa! Dia nggak ada kekuatan sama sekali untuk hal itu. Nggak ada kemampuan sama sekali untuk hal itu.
Nah, ini gambaran dari apa? Ini gambaran dari kondisi rohani kita. Siapa manusia? Manusia itu berdosa. Maksud dosa itu apa? Kadang-kadang kita cuma, “Oh, manusia berdosa itu adalah manusia yang kurang sempurna, kurang baik. Karena itu untuk kita bisa hidup dan diterima oleh Tuhan kita perlu menyempurnakan diri kita, kita perlu memperbaiki kelakuan kita, perbuatan kita, dan ketaatan yang kita lakukan di hadapan Tuhan.” Tapi kondisi orang lumpuh ini mau mengatakan bahwa bagaimanapun engkau berusaha untuk hidup di dalam ketaatan di hadapan Tuhan, di dalam kondisi yang melakukan kebaikan dalam hidupmu, kita tidak mungkin bisa mampu untuk membuat diri kita benar di hapadan Tuhan, seperti orang yang lumpuh ini.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya ini adalah hal yang sangat penting sekali, ya, ini adalah hal yang sangat serius sekali, karena di dalam semua agama yang ada di dunia ini, mereka tahu manusia itu berdosa tapi mereka tidak pernah bisa melihat kondisi dosa itu sebagai hal yang membuat mereka tidak mampu hidup benar di hadapan Tuhan. Mereka tetap melihat ada kebaikan, ada usaha, ada perjuangan, yang mereka bisa lakukan untuk membuat mereka diterima oleh Tuhan. Tapi Alkitab selalu menggambarkan manusia ndak mungkin bisa benar di hadapan Tuhan dari kondisi dirinya sendiri.
Di dalam Efesus 2 itu digunakan satu ilustrasi atau satu pengertian analogi ya, orang yang berdosa itu adalah orang yang mati. Bapak, Ibu boleh buka Efesus 2:1. Kita baca bersama-sama, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.” Jadi Paulus mau mengatakan bahwa orang berdosa itu adalah orang yang mati. Nah, ini bicara mati apa? Saya yakin itu adalah bicara mati rohani yang dimaksud oleh Paulus di sini, karena Paulus menulis surat kepada jemaat yang masih hidup, yang bisa menerima FirmanNya, dan bisa mengerti kamu dahulu sudah mati oleh pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.
Tetapi yang saya mau ajak kita lihat seperti ini ya, di dalam bagian yang lain kematian itu bukan hanya sebagai kematian rohani saja yang digambarkan Kitab Suci. Misalnya Yesus sendiri pada waktu membangkitkan Lazarus dari kematian, di situ dikatakan bahwa Yesus begitu masygul, begitu sedih melihat ada kematian di depan Dia. Ada sesuatu yang diakibatkan oleh dosa. Lalu Bapak, Ibu bisa lihat di dalam Roma juga ada kalimat-kalimat yang mengatakan bahwa, misalnya di dalam Roma 5, walaupun hukum Taurat baru diberikan pada zaman Musa tetapi sejak dari Adam sampai pada zamanMusa ada kematian di dalam dunia ini, di dalam kehidupan semua manusia. Dan sebabnya karena apa? Paulus berkata sebabnya karena dosa. Sebab upah dosa ialah maut.
Berarti pada waktu kita melihat kepada kata mati itu, mati bukan hanya bicara mati rohani saja, tapi mati juga menuju kepada kematian fisik yang dialami oleh manusia. Dan ada dua definisi, tambah satu lagi adalah kematian kekal yang dialami oleh manusia. Alkitab mengajarkan seperti itu. Tapi yang saya mau ajak kita lihat adalah dari perspektif kematian fisik. Upah dosa ialah maut. Manusia kenapa mengalami kematian secara fisik? Karena berdosa.
Pertanyaannya adalah seperti ini, adakah satu manusia pun di dalam dunia ini bisa bangkit sendiri dari kematian? Saya yakin kita akan ngomong tidak ada. Nggak ada satu pun orang yang bisa memulihkan kondisinya yang sudah mati untuk menjadi hidup kembali. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini artinya adalah, pada waktu kita melihat kepada dosa, pada kematian yang dialami manusia, Tuhan sudah memberikan kepada kita satu kemurahan untuk kita bisa melihat, dosa itu mengakibatkan maut, tapi orang yang ada di dalam maut baik secara fisik ataupun secara rohani nggak bisa dan tidak mungkin mampu untuk membuat dirinya dan rohaninya hidup kembali dari dalam dirinya sendiri. Karena itu kita perlu apa? Kita perlu Firman. Kita perlu dalam pengertian Firman adalah Firman yang hidup itu. Kita perlu Firman yang inkarnasi itu ke dalam dunia. Kita perlu Yesus Kristus untuk menebus kita dari dosa. Itu adalah hal yang Tuhan ingin kita mengerti. Yohanes ingin kita mengerti ketika kita membaca tanda-tanda ini dalam kehidupan kita.
Jadi, pada waktu kita melihat kepada kelumpuhan ini, kelumpuhan ini gambaran dari apa? Dosa kita. Akibat dari dosa kita, ketidakmampuan dari diri kita untuk hidup benar di hadapan Tuhan dan kita ada di bawah penghakiman dari Tuhan Allah. Atau istilah lainnya adalah, Injil Yohanes dan tindakan Yesus untuk menebus kita atau menyembuhkan orang yang sakit lumpuh ini adalah untuk kita menyadari, solusi dari semua masalah dalam hidup manusia khususnya di dalam hal dosa tidak pernah ada di dalam diri kita tetapi di luar dari diri kita.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, lihatlah kepada Yesus kalau mau ada penyelesaian masalah dosa. Jangan lihat kepada orang lain, jangan lihat kepada diri kita sendiri, jangan pikir bahwa kita adalah orang yang mampu memperbaiki keadaan, tetapi lihatlah pada Yesus Kristus karena Dialah solusi yang diberikan oleh Tuhan untuk mengatasi masalah dosa yang kita alami dalam kehidupan kita.
Dan hal yang lain adalah berkaitan dengan Yesus Kristus ini yaitu pada waktu kita berbicara, lihatlah kepada Yesus Kristus, Alkitab juga di sini menekankan kepada kita, itu bukan hasil perbuatanmu, tetapi itu adalah hasil dari tindakan yang dikerjakan oleh Yesus kepada diri kita atau bagi diri kita sendiri. Yaitu dari mana? Yaitu dari kalimat ketika Yesus berkata di dalam ayat yang ke-24. Bapak, Ibu bisa melihat dalam ayat 24 dan 25 ya. Pada waktu orang-orang ini berdialog dengan Yesus, Yesus berkata, “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” Ayat 25, “Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.”
Maksudnya bagaimana? Maksudnya adalah seperti ini, pada waktu kita berbicara mengenai hidup dan mati, kita berbicara mengenai kuasa itu bersumber dari luar dari diri kita dan bukan dari diri kita, maka Yesus mau mengatakan di sini atau menegaskan lebih jauh, hal itu adalah berkaitan dengan apa yang dikerjakan oleh Yesus Kristus. Kenapa di sini dikatakan Bapa mengutus Aku? Tujuannya untuk apa Bapa mengutus Aku ? Untuk memberikan hidup yang kekal itu bagi diri kita. Dengan cara bagaimana? Kalau Bapak, Ibu baca seterusnya, Bapak, Ibu akan menemukan dengan cara Yesus mati di atas kayu salib. Artinya adalah, pada waktu kita ingin memperoleh hidup yang kekal, itu bukan dengan kita percaya pada kemampuan diri kita, tapi kita percaya pada kemampuan dari Yesus Kristus atau pekerjaan dari Kristus yang menaati Bapa di dalam kesempurnaan untuk menggantikan posisi kita yang harusnya mati akibat dosa.
Jadi, itu sebabnya Yesus di sini katakan, di dalam Dia ada hidup dan hidup itu kita terima melalui apa? Bukan melalui pekerjaan baik yang kita kerjakan, tetapi melalui mendengarkan perkataan Tuhan. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, memang ada bagian lain bicara percaya kepada Anak tunggal Bapa, misalnya di dalam Yohanes 3:16. Tapi di dalam bagian ini saya percaya ini bukan satu kontradiksi ketika Yesus berkata engkau mempunyai hidup yang kekal kalau engkau mendengar perkataan-Ku. Karena orang yang percaya kepada Tuhan, pasti mendengar perkataan Tuhan.
Tapi yang saya mau ajak kita lihat lebih jauh di sini dari perkataan Yesus adalah seperti ini, pada waktu kita berbicara mengenai hidup yang kekal atau pada waktu kita berbicara mengenai manusia yang ada dalam kondisi yang berdosa, maka permasalahan manusia yang ada dalam dosa dengan permasalahan manusia yang ada di dalam kehidupan kekal itu bedanya di mana? Kalau kita bandingkan dengan ayat 23 perbedaan yang paling utama adalah, orang yang ada di dalam dosa adalah orang yang tidak menghormati Yesus Kristus, orang yang ada di dalam hidup kekal harusnya adalah orang yang menghormati Yesus Kristus. Apa maksud menghormati? Orang yang menghormati Yesus adalah orang yang mendengarkan perkataan Yesus, orang yang tidak menghormati Yesus adalah orang yang tidak mendengarkan perkataan Yesus.
Masalah manusia di dalam dunia ini ya, berpikir bahwa agama itu bisa menolong mereka, perbuatan bisa menolong mereka, dengan cara bagaimana? Melakukan. Mereka menghormati Allah tidak? Menghormati Allah. Dengan cara bagaimana? Melakukan apa yang Allah kehendaki. Tetapi Yesus di sini katakan, masalahnya bukan engkau mengenal Allah itu siapa, bukan hanya engkau melakukan apa yang Allah katakan kepadamu saja, tetapi masalah yang lebih utama adalah, walaupun kau melakukan apa yang Allah katakan kepadamu, engkau menghormati Yesus tidak, engkau mendengarkan perkataan Yesus tidak dalam hidupmu? Itu yang penting. Maksudnya apa? Maksudnya adalah, semua manusia yang berkata dia memiliki Allah tapi dia tidak memiliki Yesus itu tidak ada di dalam hidup yang kekal.
Tetapi ada hal yang lain, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau masalah manusia di dalam dunia ini adalah masalah tidak menghormati Yesus Kristus, mungkin mengakui Dia sebagai nabi, tetapi tetap tidak menghormati Yesus, maksudnya apa? Tidak menghargai Dia sebagai Tuhan, tidak menghargai Dia sebagai Raja, dan tidak menghargai Dia sebagai Juru Selamat dalam hidup mereka. Maka hal ini menjadi sesuatu yang kita juga harus renungkan.
Kita bisa berkata bahwa kita adalah orang Kristen, kita adalah orang sudah diselamatkan di dalam Kristus, kita adalah orang yang sudah ditebus, kita adalah orang yang sudah mendapatkan hidup yang kekal di dalam Yesus Kristus, kita ngomong seperti itu, tapi masalah yang lebih utama yang kita perlu nilai adalah bukan pengakuan iman kita sepihak dari mulut kita, saya sudah percaya pada Yesus Kristus. Di dalam Galatia 6 itu ada satu kalimat, Yesus berkata, “Jangan sesat,” atau Paulus berkata, “Jangan sesat, apa yang kau tabur, itu yang kau tuai. Kalau engkau menabur daging, engkau menuai kebinasaan, kalau engkau menabur roh engkau menuai hidup.” Kenapa Paulus berkata jangan sesat dan lalu Paulus kaitkan dengan satu kehidupan tabur dan tuai di situ? Karena Paulus mengerti sekali bawa orang-orang Kristen bisa hidup di dalam suatu kebohongan rohani. Mereka berkata mereka adalah orang yang percaya Yesus, mereka berkata mereka adalah orang yang sudah diselamatkan di dalam Yesus Kristus tetapi ketika kita lihat hidupnya, mereka selalu menaburkan kedagingan demi kedagingan, mereka hanya menuai hal-hal yang berdosa dalam hidup mereka.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Paulus mau berkata yang harus engkau perhatikan bukan hanya pengakuan mulut dari orang lain, bukan hanya pengakuan mulut dari diri kita sendiri, tapi yang perlu kita melihat adalah buah apa yang kita hasilkan dari hidup kita. Buah apa yang kita lakukan? Orang lihat kita, lihat Kristus hidup dalam diri kita atau tidak? Orang lihat kita ada cinta kasih dari Kristus ada atau tidak? Orang lihat kita ada penguasaan diri atau tidak? Orang melihat kita ada kesabaran atau tidak? Orang melihat kita ada satu kehidupan yang suci atau tidak? Orang melihat kita ada satu kasih yang kita nyatakan kepada saudara seiman kita atau tidak dalam kehidupan kita?
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, walaupun kita adalah orang-orang yang berkata saya percaya Yesus Kristus, dalam 1 Korintus 6 ada kalimat, walaupun engkau berkata percaya Yesus, tapi kalau hidupmu terus dalam perzinahan, di dalam dosa, dalam kehidupan LGBT, engkau tidak memiliki bagian dalam Kerajaan Allah. Itu berarti bahwa satu perubahan hidup dan pertobatan itu menjadi hal yang penting di dalam hidup orang Kristen.
J.C. Ryle ngomong kayak gini, “Hidup Kristen atau sekolah Kristen itu, harus dimasuki dengan pertobatan dan dijalankan dengan iman.” Maksudnya adalah setiap orang yang berkata saya ada di dalam Kerajaan Allah tetapi tidak pernah mengalami hidup yang berbalik dari dosa, itu bukan orang yang di dalam sekolah Kristus. Tetapi kalau orang itu berkata saya ada pertobatan dan saya hidup berbalik dari dosa saya tetapi kalau dia tidak hidup di dalam iman kepada Kristus, dia ada di dalam Kerajaan Allah? Dia juga nggak ada di dalam situ.
Jadi apa yang mendasari kita itu adalah orang-orang yang ada di dalam kerajaan Allah. J.C. Ryle berkata hidup di dalam iman. Tetapi iman kepada siapa? Kepada Yesus. Bagaimana kita bisa beriman kepada Yesus dan dikatakan saya percaya Yesus? Di sini dikatakan, “Dengarkan perkataan Yesus Kristus.” Itu adalah orang beriman.
Tapi kalau mau ngomong kayak gini, ya Bapak Ibu Saudara yang dikasihi Tuhan, kita sering kali dengar orang dunia ngomong, “Jadi Kristen itu gampang sekali ya. Percaya Yesus sudah diselamatkan. Kami hidup di dalam ketaatan, di dalam satu usaha yang betul-betul menyita atau menguras tenaga kami, harta kami,” seperti itu. Orang Kristen tahan enggak puasa satu bulan? Ada yang tahan mungkin, ada orang-orang tertentu tapi bisa dihitung jari. “Orang muslim demi untuk bisa diterima dan diampuni dosanya, puasanya satu bulan, lho. Rela lho, di pinggir-pinggir jalan bagiin nasi. Rela membeli sapi yang besar yang harganya puluhan juta untuk dikorbankan.” Kita kalau ngomong janji iman aja, susahnya minta ampun. Tapi mereka rela lakukan itu semua.
Tapi pada waktu mereka lakukan itu semua, dengan satu pengorbanan yang dikerjakan itu, apakah itu menunjukkan bahwa perbuatan agama mereka dan tindakan mereka itu lebih sulit daripada beriman kepada Tuhan? Yang mana yang lebih sulit? Oh, mau benar di hadapan Tuhan? Jangan bolos doa, ya. Kalau kita ada Persekutuan Doa setiap Rabu, pokoknya dari engkau percaya Yesus sampai mati, jangan bolos doa. Gimana mau cara diselamatkan? Oh gampang, setiap Minggu juga harus beribadah di hadapan Tuhan. Kalau ada 52 minggu dalam satu tahun ibadah, maka jangan lewat sepuluh persen lah absennya. Engkau sudah lumayan baik dan sangat baik sekali di dalam beribadah kepada Tuhan. Kalau engkau melakukan satu dosa, harus bagaimana? Bukan hanya mengaku dosamu saja di hadapan Tuhan atau di hadapan hamba Tuhan. Tetapi coba kerjakan hal-hal baik dalam hidupmu untuk membayar hutang dosa yang engkau sudah lakukan. Dengan cara apa? Misalnya, lakukan doa, ucapkan Bapa Kami 100 kali, lalu kemudian pergi lakukan kebaikan kepada 100 orang, misalnya.
Bapak Ibu Saudara yang dikasihi Tuhan, mana yang lebih mudah? Melakukan itu semua atau percaya kepada Tuhan? Yang mudah yang mana? Saya kasih tau ya, yang mudah adalah melakukan semua itu yang lain, dibandingkan percaya sama Tuhan. Percaya Tuhan itu nggak gampang. Untuk bisa percaya Tuhan kita harus buka telinga kita, mendengarkan apa yang Tuhan katakan. Kita harus mengerti apa yang Tuhan katakan. Dan kita harus menunjukkan di dalam tindakan kita kalau kita percaya kepada Tuhan. Bukan mengandalkan perbuatan kita, tapi mengandalkan perbuatan Tuhan di dalam hidup kita. Gampang tidak? Nggak gampang.
Contoh, ya. Di sini ada yang usaha, buka usaha sendiri? Mungkin ada. Bapak Ibu Saudara yang dikasihi Tuhan, mau nggak tutup usahamu di hari Minggu? Sabat untuk Tuhan. Saya yakin nggak semua kita akan setuju, dan kita akan cari jalan untuk membenarkan kita tetap usaha di hari Minggu. Karena apa? Karena mungkin salah satu sebabnya adalah kita merasa hari Minggu jauh lebih profit daripada hari yang lain. Berani nggak kita bicara kepada atasan kita, “Hari Minggu saya mau khususkan dulu untuk Tuhan.” Dengan konsekuensi saya dipecat dari pekerjaan? Mungkin kita akan ngomong bodoh ya, hal seperti itu.
Saksi Yehovah yang kita anggap bidat itu ya, bisa ambil keputusan dengan sangat berani untuk tidak meghormati bendera dan tidak bekerja di hari Sabtu lho. Lalu kita orang-orang yang mengatakan diri kita orang yang percaya dan berada dalam Tuhan dalam iman yang benar, sulit sekali untuk melakukan hal itu. Ini bicara tentang kekristenan. Bapak, Ibu, boleh noleh ke sebalah, orang yang bukan Kristen, setiap kali mereka dituntut untuk satu ibadah kepada Tuhan, mereka berani lho bicara, atau melakukan sesuatu hal dan tidak ada yang berani ganggu mereka, tapi kita yang ngomongin beribadah kepada Allah yang benar, Allah yang sejati, hal yang kecil itu pun sulitnya minta ampun.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mana yang lebih mudah, melakukan tindakan baik, perbuatan baik, usaha agama atau percaya-percaya kepada Tuhan? Alkitab bilang, percaya kepada Tuhan itu bukan hal yang gampang, itu adalah hal yang sangat sulit sekali. Tetapi ada kalimat di dalam Roma, iman timbul akibat dari pendengaran akan Firman Kristus Yesus. Jadi pada waktu kita ingin beriman, kita harus buka telinga mendengar. Pada waktu kita membuka telinga mendengar, apakah berarti kita sudah mendengar? Alkitab bilang, belum tentu, tetapi kita mungkin di posisi mendengar tetapi tidak mendengar.
Ada yang ambil ilustrasi kayak gini, maksudnya gimana ya, mendengar tetapi mendengar? Bapak, Ibu pernah muter lagu sebelum tidur, lalu ketika Bapak Ibu puter lagi dengar, dengar, dengar, pelan-pelan lalu Bapak, Ibu mulai kehilangan kesadaran. Lalu kemudian sadar dikit, lalu kemudian ngantuk lagi, kurang kesadaran. Pernah kayak gitu nggak? Bahkan dipanggil oleh orang di dalam rumah misalnya, “Dawis!” Saya di dalam posisi antara sadar nggak sadar seperti itu. Kadang-kadang kita di dalam posisi nggak sampai, tadi ada remaja ke atas, salaman mukanya layu banget, saya ngomong, “Belum sadar ya?” “Iya. Belum bangun Pak.” Kadang-kadang kita bisa seperti itu. Jadi pada waktu kondisi seperti itu ada ha-hal yang bisa lewat, mungkin itu bisa jadi satu contoh ya. Maksudnya apa? Kita mendengar, dengar suara, tapi kita tidak ada pengertian di situ. Kita mendengar tetapi nggak ada satu pun yang nyantol di dalam hati kita. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mendengar itu memperhatikan, mengerti, menaruhnya di dalam hati kita, dan melakukan apa yang kita dengarkan itu. Itu yang dituntut oleh Tuhan.
Dan terakhir saya mau bicara, di dalam ayat ke-29 ya. Atau ayat ke-28, 29, kita baca, “Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidupyang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahatakan bangkit untuk dihukum.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, di sini ada hal yang kita perlu perhatikan kembali. Ada dasar Tuhan di dalam menghukum, yang pertama. Kedua adalah siapa yang akan menjadi hakim atas manusia itu. Yang pertama kita lihat terlebih dulu ya, apa yang menjadi dasar Tuhan menghukum? Di ayat 29, Yesus dikatakan berkata, “Barangsiapa yang berbuat baik, akan keluar dan bangkit untuk hidup. Tetapi barang siapa telah melakukan berbuat jahat, akan bangkit untuk dihukum.”
Nah mungkin pada waktu kita baca ini, ada orang yang menafsirkan seperti ini, seperti siapa itu, William Barclay. William Barclay ngomong seperti ini, ada hal-hal baik dari khotbah atau commentary dia ya. Historisitas, kejelasan itu, kesetiaan kepada itu baik, tetapi di dalam menafsirkan mengenai iman ada hal-hal yang menyimpang dari dia. Nah saya mau angkat yang menyimpang ini ya. Dia berkata seperti ini, Yesus punya perkataan di sini adalah mau menunjukkan bagaimana kita sungguh-sungguh hidup dan berbuat baik, itu yang membuat Yesus memperkenan diri kita. Jadi kalau di sini dikatakan, siapa yang akan hidup siapa yang akan mati, dasarnya apa? Dia berkata dasarnya adalah kita menabur sesuatu yang baik atau melakukan sesuatu yang cocok dengan perkataan Tuhan atau tidak.
Bapak, Ibu, pengen coba nggak? Cobanya kayak gini ya, ada 10 Perintah Allah kan, 10 Perintah Allah itu bicara mengenai ketaatan luar dan ketaatan di dalam hati, ketulusan di dalam hati, pulang dari gereja ini, melalui dari hari ini sampai hari Minggu besok, coba jalankan 10 Perintah Allah dengan ketat ya, dari hati yang betul-betul mengasihi Tuhan dan sesama, dari hati dan tindakan yang betul-betul tidak kompromi dengan apa yang dikatakan dengan 10 Perintah Allah. Boleh dicatat ya, saya bisa lakukan itu atau tidak. Kalau mau bikin PR, nanti saya siapin kotak di depan, tulis anonim di situ, masukin aja, saya bisa atau tidak menjalan 10 Perintah Allah.
Nah William Barclay bilang, kita harus hidup di dalam ketaatan itu, kita harus hidup di dalam suatu penundukan diri terhadap apa yang Tuhan minta kita lakukan itu. Tapi saya katakan ya, pada waktu kita berpikir itulah yang membuat kita memiliki hidup atau tidak, maka saya yakin sekali kita ada di dalam satu hati yang pasti sangat cemas sekali, sangat kuatir, sangat takut sekali karena kita tidak mungkin lakukan itu. Lalu apa yang dimaksudkan di sini? Maksudnya adalah, saya tadi di awal ada singgung sedikit ya, perbuatan baik itu penting tidak? Sepertinya tidak ada hubungannya dengan keselamatan. Bukan. Tetapi perbuatan baik di sini adalah buah dari iman kita kepada Tuhan, maka tadi saya katakan kalau kita percaya kepada Tuhan, kita mendengar Dia. Tapi mendengar itu adalah sesuatu yang diwujudkan dalam tindakan yang kita lakukan.
Jadi, pada waktu Bapak, Ibu baca bagian ini, jangan lihat ini: “Eh, Yesus kontradiksi sendiri” atau Yesus mengajarkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang saya katakan. Bukan. Tapi ayat ini berbicara mengenai buah dari kita mendengar Yesus itu adalah perbuatan baik. Buah kita ada di dalam hidup adalah perbuatan ketaatan. Bukan perbuatan ketaatan yang membuat kita memiliki hidup. Tapi ada satu hal lagi yang kita mungkin harus pikirkan baik-baik adalah siapa yang akan menjadi hakim atas hidup kita? Siapa yang akan menghadapi kita di hari terakhir nanti? Alkitab bilang Yesus Kristus.
Bapa telah menyerahkan penghakiman itu kepada Yesus Kristus. Dan siapa Dia? Dia adalah Allah yang setara dengan Bapa. Kalau Bapa Maha Hadir, Dia Maha Hadir. Kalau Bapa Maha Tahu, Dia Maha Tahu. Kalau Bapa menjatuhkan penghakiman, Dia menjatuhkan penghakiman karena Bapa sudah menjatuhkan penghakiman itu kepada diri Dia. Kalau Bapa bisa memberi hidup, Dia punya kuasa untuk memberi hidup. Kalau Bapa menyerahkan kepada Dia atau memiliki kuasa untuk melempar orang ke dalam neraka, Dia juga memiliki kuasa untuk melempar orang ke dalam neraka.
Pertanyaannya begini Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita bisa lari dari Tuhan? Ada yang bisa bersembunyi dari hadapan Tuhan? Ada nggak? Bahkan sampai dunia orang mati pun kita nggak bisa bersembunyi dari hadapan Tuhan. Mazmur 139. Nah, sekarang begini, ya, kalau kita tidak bisa bersembunyi dari hadapan Tuhan, bagaimanapun usaha kita –dan kita pasti berhadapan dengan Yesus Kristus sebagai Hakim atas semua manusia– hal yang paling bijaksana adalah cepat-cepat bertobat dan percaya pada Yesus hari ini atau nunggu sampai kita bertemu Dia sebagai Hakim atas hidup kita? Karena enggak ada Allah lain yang akan menghakimi kecuali Yesus Kristus!
Jadi, ini hal yang kita bisa lihat, ya dari Yohanes 5. Dan Yesus berkata, “Sesungguh-sungguhnya.” Artinya apa? Apa yang Yesus katakan pasti terjadi. Ya dan amin. Nggak ada orang yang bisa lari dari penghakiman Yesus Kristus. Tapi, mulai hari ini, renungkan baik-baik, gumulkan baik-baik jika saat saya berdiri di hadapan Yesus nanti, Dia ada di pihak saya atau Dia ada di pihak lawan saya? Kalau Dia di pihak lawan saya, saya kira satu kalimat yang paling tepat walaupun sangat-sangat kurang adalah, celakalah kita! Karena itu nggak bisa menggambarkan berapa bahayanya kita, berapa celakanya kita ketika berdiri di hadapan Hakim segala hakim, Hakim yang Adil itu. Tapi kalau Dia ada di pihak kita, kita bisa bersyukur, kita bisa bersukacita, kita kita bisa memiliki sekuritas karena Dia tidak akan menjatuhkan penghakiman itu bagi diri kita. Mari kita masuk dalam doa, ya.
Bapak, Ibu silahkan gumulkan kembali dalam hati adakah Kristus dalam hidupmu? Adakah suara Tuhan? Bapak, Ibu mengerti dan Bapak, Ibu dengarkan dengan baik adakah satu kehidupan yang bersandar kepada Kristus atau tidak dalam hidup kita? Kalau itu belum ada, silakan cepat-cepat bertobat, kembali kepada Tuhan. Karena kita akan menjadi orang yang dikatakan Yesus, “Celaka” kalau kita sampai bertemu di hadapan Dia. Mari kita masuk dalam doa.
Kami sungguh bersyukur, Bapa untuk firmanMu, untuk kebenaranMu, untuk kasihMu yang Kau boleh nyatakan bagi kami. Kami sadar dengan adanya penghakiman itu, kami boleh melihat bahwa tidak ada sesuatu yang bisa berlari dari hadapan Tuhan. Engkau tidak akan membiarkan satu manusia pun dari yang berdosa terhindar dari hukuman. Tapi di sisi lain, dari aspek penghakiman, kami juga boleh melihat ada kasih yang Tuhan boleh nyatakan bagi kami di dalam Kristus. Sehingga di dalam Kristus ada hidup yang kekal, ada sukacita yang kekal, ada jaminan yang kekal. Karena itu, ya Bapa, saat ini kami kembali mohon kiranya Engkau boleh sungguh-sungguh menguji hati kami. Melihat ke dalam hati kami yang paling dalam: adakah kami memiliki Iman di dalam Kristus ataukah tidak? Adakah kami memiliki Firman dalam hati kami atau tidak? Apakah perkataan Alkitab boleh sungguh-sungguh tergores di dalam hati kami yang berbuah dalam kehidupan kami ataukah tidak? Tolong kami, ya Tuhan. Jangan biarkan kami menjadi orang-orang Kristen yang membohongi diri, yang menipu diri: berpikir kami adalah anak Tuhan, tapi sebenarnya Engkau berkata, “Pergilah engkau!” Atau, “Enyahlah engkau dari hadapan-Ku, hai pembuat kejahatan!” Sehingga kami boleh sungguh-sungguh hidup di dalam terang Tuhan, di dalam kebenaran, di dalam kesucian. Dan lebih terutama adalah di dalam Kerajaan dari Anak Tunggal-Mu Yesus Kristus. Sekali lagi kami memohon, ya Tuhan, kiranya Engkau boleh ampuni dosa kami. Dan kiranya Engkau boleh sungguh-sungguh mengaruniakan pengertian ini dan pendengaran akan perkataan Engkau. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.
