Khotbah Yesus di Bukit, 23 Maret 2025

Khotbah Yesus di Bukit

Mat. 5:1-12

Vik. Nathanael Marvin, M. Div

Bapak, Ibu, Saudara sekalian yang dikasihi Tuhan, kita bersyukur di dalam Gereja Reformed Injili Indonesia, kita memiliki penekanan pelayanan tentang seminar, tentang pemberitaan firman Tuhan. Seminar yang kita adakan sebagai gereja Tuhan bukanlah seminar-seminar yang bertemakan hal yang umum, secara ekonomi, politik, sosial, masyarakat atau budaya tetapi penekanan dari seminar-seminar yang diadakan oleh gereja Tuhan, gereja Tuhan di tempat ini adalah bicara soal pemahaman akan teologi yang benar, bicara soal bagaimana kita mengenal Tuhan, bicara soal bagaimana kita mengenal diri kita sebagai manusia yang hidup satu kali di bumi saja dan akan menyelesaikan hidup kita suatu hari nanti, bagaimana kita menghabiskan waktu yang sudah Tuhan berikan kepada kita di dalam dunia ini.

Kita mengadakan banyak seminar, kita mengadakan banyak pembinaan iman, untuk apa? Karena apa yang kita mau pelajari, apa yang mau kita kenal adalah Pribadi yang tidak terbatas, Pribadi yang begitu kekal, Pribadi yang begitu berharga, Pribadi yang begitu mulia yang melebihi seluruh pribadi-pribadi yang lain dan Pribadi itu hanya ada di dalam Allah Tritunggal. Bagaimana kita sebagai manusia berdosa bisa memahami Allah yang suci? Bagaimana kita yang terbatas bisa memahami Allah yang tidak terbatas? Itu mustahil! Hanya karena pertolongan dan anugerah Tuhan, dan kasih-Nya kepada kita, kita boleh mengenal Tuhan lewat firman, kita boleh mengadakan acara-acara yang sifatnya rohani, yang dasarnya adalah kebenaran Alkitab, yang sifatnya adalah untuk kepentingan bersama sebagai umat Tuhan yang sudah ditebus dengan darah Yesus Kristus.

Nah Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kenapa kita adakan banyak seminar? Khususnya di bulan Maret, tadi sudah diberitahu ya. Begitu banyak seminar, begitu banyak acara, begitu banyak pemberitaan firman Tuhan oleh berbagai macam hamba Tuhan karena dasarnya adalah Alkitab yang Tuhan berikan kepada kita. Yang dilakukan oleh gereja harusnya adalah semuanya berprinsip pada kebenaran Alkitab. Tidak boleh di luar Alkitab! Namanya saja gereja, umat Tuhan yang sudah ditebus dengan darah Kristus, kita harus mengikut Yesus. Mengikut Yesus bukanlah hal yang mudah. Ibarat Yesus kita bisa lihat seperti zaman dulu, mengikut Yesus berarti kita mengikut ke mana Yesus pergi; ke padang gurun, ke kota-kota, ke desa-desa, ke rumah orang, ketemu orang yang berdosa, orang yang marginal, orang yang sakit. Kita ikut Yesus Kristus, kita yang beradaptasi dengan Yesus Kristus, bukan Yesus yang harus beradaptasi dengan kita. Itulah mengikut Yesus, itulah syarat kita menjadi murid Kristus. Bukanlah hal yang mudah kita berusaha terus untuk mengikuti apa kata Alkitab dan apa teladan Yesus Kristus dalam hidup kita.

Nah kenapa kita mengadakan begitu banyak seminar? Karena Yesus Kristus pun menginginkan hal tersebut. Di tengah-tengah wahyu umum yang begitu limpah, orang mengadakan seminar, seminar dan seminar; seminar politik, seminar bisnis, seminar ekonomi, seminar dagang, seminar kesehatan, seminar sosial, seminar psikologi, macam-macam seminar orang melakukan dengan jabatan Ph.D. atau Master yang mengajarnya ya. Tapi bagaimana dengan orang Kristen? Apakah orang Kristen berhenti membuat seminar? Tidak! Yesus Kristus adalah Guru Agung kita semua. Yesus Kristus adalah Manusia yang paling sempurna dan tidak pernah melakukan dosa sama sekali. Dan Yesus Kristus melakukan hal yang dikehendaki oleh Bapa sepenuhnya.

Dan waktu ketika Yesus Kristus berumur 30 tahun, Dia memulai pelayanan publik-Nya, Dia menunjukkan Diri-Nya kepada banyak orang. Kita tahu Yesus lahir di Betlehem, di provinsi Yudea. Di Selatan ada Yerusalem, ada Betlehem. Kemudian agak tengah, masih provinsi Yudea, ada Samaria. Dan di atas ada provinsi Galilea, lebih kecil dari provinsi Yudea. Di Galiliea ada Nazaret, ada Kapernaum, ada kota-kota yang lain, Betsaida gitu ya, ada Tiberias juga. Dan Yesus lahir di Betlehem, besar di Nazaret. Yesus adalah manusia, sama seperti kita. Tetapi Dia juga punya natur Ilahi; Dia adalah Allah 100%, Dia juga adalah manusia 100%. Dan Dia hidup sebagai manusia sampai umur 30 tahun, Dia kemudian menunjukkan diri kepada publik, Dia melayani banyak orang setelah sebelumnya Dia melayani keluarga-Nya. Dia melayani mama-Nya, menghormati Maria, Dia melayani adik-adik-Nya, Dia bekerja sebagai tukang kayu, Dia jalankan tugasnya sebagai orang Yahudi, Dia pergi ke Bait Allah, Dia belajar firman Tuhan, Dia hafal Perjanjian Lama. Dan tiba saatnya di waktu yang sudah Tuhan tentukan, Yesus Kristus melayani berbagai macam orang, Yesus Kristus melakukan mukjizat, Yesus Kristus menyembuhkan yang sakit, Yesus Kristus memanggil para rasul. Dan kemudian orang banyak begitu berbondong-bondong dan mau melihat siapakah Yesus Kristus itu. Dan di sinilah Yesus Kristus bertindak sebagai profesor kehidupan.

Yesus Kristus, ketika banyak orang berbondong-bondong mengikut-Nya, Yesus Kristus naik ke atas bukit dan di situ, Dia mengadakan seminar teologi yang pertama di dalam kehidupan-Nya. Banyak orang Kristen menganggap ini adalah seminar pertama Yesus Kristus di dalam awal pelayanan-Nya. Dia mengadakan seminar, khotbah kepada banyak orang, ribuan orang berkumpul dan Yesus Kristus sedang menyatakan tentang kebenaran Allah, Kerajaan Allah. Banyak orang mengatakan, Yesus adalah profesor. Dia mengadakan seminar dan Dia melakukan khotbah-Nya dengan hati yang penuh kasih kepada semua orang, baik orang Kristen, baik orang yang non-Kristen. Kebanyakan waktu, orang-orang mengikut Yesus pada waktu itu, itu adalah banyak orang yang non-Kristen. Yesus mengabarkan Injil dan mengajarkan tentang kebenaran firman Tuhan.

Dan Bapak, Ibu, Saudara sekalian, setelah lewat berlalu, tulisan Yesus ini, ya, khotbah Yesus Kristus ini ditulis oleh Rasul Matius dan berkembang sampai zaman sekarang sudah ribuan tahun, ratusan tahun dan ternyata khotbah di Bukit ini dari Matius 5-7 itu bukan saja orang Kristen yang mempelajarinya, tetapi banyak orang non-Kristen pun menghargai khotbah Yesus Kristus sebagai harta karun di dalam kehidupannya. Ambil contoh, kisah yang paling terkenal, orang yang mendapatkan berkat dari khotbah Yesus di bukit ini di zaman sekarang adalah Mahatma Ghandi sebagai seorang pemimpin agama Hindu dan juga pejuang kemerdekaan India. Dia mengatakan bahwa khotbah Yesus di bukit merupakan puncak dari kemanusiaan, puncak dari etika yang begitu indah di mana semua manusia harus mempelajari khotbah Yesus di bukit. Ini adalah suatu etika yang tertinggi. Orang Hindu pun menyadari kehebatan khotbah Yesus Kristus. Lalu, ada juga Friedrich Nietzsche, seorang filsuf. Seorang yang mengatakan, Allah itu mati. God is dead. Dia pun mengatakan, khotbah Yesus di bukit merupakan sebuah etika yang radikal. Etika kehidupan manusia yang mengakar. Manusia harusnya hidup seperti apa yang dikatakan oleh Yesus Kristus. Ada juga seorang pemimpin agama Buddha dari Tibet bernama Dalai Lama. Dia mengatakan bahwa khotbah Yesus di bukit ini merupakan suatu kunci keharmonisan di antara umat beragama. Apalagi kita tahu, orang-orang Buddha sangat menekankan tentang belas kasih. Wah, Dalai Lama mengatakan bahwa Yesus Kristus itu mengajarkan mengasihi musuh. Siapa yang bisa mengasihi musuh? Nggak ada manusia berdosa yang bisa mengasihi musuh, tetapi Yesus mengatakan, ”Kasihilah musuhmu. Kasihilah mereka yang menganiaya kamu.” Orang-orang non-Kristen pun menghargai khotbah Yesus di bukit ini.         

Saya ajak kita merenungkan satu tokoh, yaitu Mahatma Ghandi, ya. Dia seorang pemuda pintar. Ketika dia muda, dia kuliah di Inggris. Dia mengambil jurusan hukum. Dia ingin menjadi pengacara karena di tengah-tengah kondisi India, yang pada waktu itu, kurang lebih 200 tahun yang lalu saja, kondisi India sangat banyak ketidakadilan. India dijajah oleh orang Inggris, orang berkulit putih dan juga, orang Inggris kulit putih itu terkenal dengan agamanya, yaitu agama Kristen. Agama orang-orang India mayoritas adalah agama Hindu. Dan kemudian setelah dia lulus, sebagai pemuda kurang lebih berumur 25 tahun, Mahatma Ghandi ini pergi ke Afrika Selatan untuk belajar, untuk melayani orang-orang di Afrika Selatan. Dan di Afrika Selatan, dia pernah naik kereta. Ya, zaman dulu kita tahu, ya. Saya pernah mengalami juga zaman naik kereta di Indonesia itu, waktu kita duduk di kursi, ada kondektur, ya, mengecek tiket itu, terus dibolongin ya, pakai jepretan, bolongan. Zaman sekarang nggak. Sudah pakai online semua. Si kondekturnya cuma ngecek aja. Oh, ini ada orang, ada orang. Terus, orangnya, ya, ok lah gitu, ya. Terus kemudian, si Mahatma Ghandi ini dicek. Kemudian dicek tiketnya. Si kondekturnya juga nggak suka sama Mahatma Ghandi atau ada orang juga di sekitarnya, ya, penumpang yang lainnya mengatakan bahwa, “Ini orang hitam! Orang hitam nggak boleh naik ke kereta ini! Ini kereta eksekutif! Suruh orang ini turun dari kereta ini!” Ya, ada penumpang yang berbicara kepada kondekturnya. Kondekturnya juga nggak suka, ya, sama Mahatma Ghandi. Dan akhirnya Mahatma Ghandi dipaksa untuk turun dari kereta yang dia sudah bayar. Dia sudah tunjukkan tiketnya. “Ini tiketku! Ini juga tiket kelas yang eksekutif, kok! Yang bagus! Aku bukan orang yang sembarangan. Bukan orang miskin, bukan orang yang jahat. Kenapa harus diturunkan?” Dan pada kesempatan itu, akhirnya terpaksa, ya, Mahatma Ghandi ini diturunkan di stasiun terdekat dan akhirnya dia menghabiskan malam di sana dan sambil merenungkan.

Karena dia diperlakukan tidak adil karena ada rasisme, ada diskriminasi, dia sebagai pengacara, sebagai orang yang belajar hukum, dia fokus kepada unsur-unsur ketidakadilan di dalam manusia dan dia berjuang untuk memperjuangkan keadilan dalam dunia ini. Dia terus belajar. Ya, dia ingat sosok orang kulit putih penumpang itu yang tidak suka orang kulit hitam, ya, dia bisa saja mengkarikaturkan penumpang tersebut sebagai orang Kristen. Orang kulit putih zaman waktu itu suka menjajah orang-orang yang lain karena kepintarannya, karena kehebatannya dan akhirnya malah tidak menjadi saksi Kristus yang baik. Mereka rasis sekali.

Kemudian Mahatma Gandhi mulai mempelajari juga kekristenan, dia belajar khotbah Yesus di Bukit dari Matius 5-7. Ada teman-temannya juga yang kalangan Kristen sampai di Afrika Selatan itu Mahatma Gandhi sempat diajak oleh teman-temannya ke gereja, “Ayo datang ke gereja.” “Ok. saya tertarik.” Tetapi waktu datang ke gereja juga dia dirasis-rasisin. Oh, orang kulit hitam nggak boleh masuk gereja orang kulit putih. Iya dia mau beribadah ditolak, dia mulai sebal, ya. Saya mengagumi Yesus Kristus tetapi saya tidak mengagumi para pengikut Kristus, ya. Dan di dalam kehidupannya dia kecewa sama orang Kristen. Orang Kristen ajarannya bagus sekali, tetapi hidupnya buruk sekali ya, lebih jelek daripada orang-orang yang punya common grace, kalau kita ngomong gitu ya; anugerah umum bagi semua orang, wahyu umum bagi semua orang. Tetapi orang Kristen yang katanya punya wahyu khusus, punya Yesus Kristus, punya Alkitab masih rasis, masih membeda-bedakan orang, masih menindas orang-orang yang lemah yang marginal yang dianggap buruk oleh banyak orang.

Mahatma Gandhi kita tahu ceritanya, ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, dia tidak pernah dibaptis, dia tidak pernah menjadi orang Kristen tetapi dia adalah seseorang yang non-Kristen, seorang Hindu yang sangat mau mengenal Yesus, yang sangat menghargai Yesus Kristus bahkan, ya, dia sangat menyukai khotbah Yesus di bukit. Ada yang mengatakan bahwa Mahatma Gandhi ini setelah tahu khotbah Yesus di Bukit, Matius 5-7, itu menjadi bahan setiap hari bacaannya ya, bacaan setiap hari dia sebelum memulai aktivitas dia baca Matius 5-7 itu. Sebelum memulai aktivitas dia mau dengar khotbah Yesus Kristus, sebelum memulai kegiatan dia mau dengar pimpinan Tuhan Yesus ini ya yang dia hormati sebagai Guru Agung ini, apa yang harus berbuat untuk menyelesaikan masalah ketidakadilan baik di Afrika Selatan, baik di India. Sampai dia ketika merenungkan firman Tuhan terus menerus akhirnya dia memulai gerakan yang dinamakan sebagai gerakan anti kekerasan. Dia sudah kembali ke India, yang melihat bahwa penjajah Inggris, Inggris terkenal dengan orang Kristen dia tidak suka dengan penjajahan dari orang-orang Inggris tidak adil tapi dia melawan revolusi dari Mahatma Gandhi bukan dengan kekerasan tetapi dengan anti kekerasan atau yang kita tahu sebagai gerakan Ahimsa. Gerakan anti kekerasan yang di mana dia menolak penjajahan tapi tidak melawan dengan pedang. Terus memperjuangkan keadilan, terus memperjuangkan untuk masyarakat India, sehingga orang-orang India itu sangat menghormati Mahatma Gandhi sebagai pemimpin pejuang kemerdekaan dan seseorang yang sangat baik kepada masyarakat India.

Ya sampai suatu saat ada yang membenci gerakan Mahatma Gandhi. Orang yang tidak Kristen pun dibenci. Mahatma Gandhi nggak percaya Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat tetapi dia melakukan apa yang dikhotbahkan Yesus Kristus, yaitu anti kekerasan, kasihlah musuhmu. Ya, dia sempat memprotes penjajahan Inggris dengan berjalan ratusan kilometer jalan kaki, dia pernah protes dengan hidupnya untuk bisa tidak makan, ya intinya proteslah ke penjajahan Inggris. Sampai suatu hari ada kaum Hindu yang ekstrim, yang tidak suka terhadap gerakan Mahatma Gandhi; kok berperang tanpa senjata, kok melawan dengan kasih. Ekstrimis Hindu ini kemudian berencana membunuh Mahatma Gandhi, dia cari pistol, senjata api. Dan ketika Gandhi itu mengadakan pertemuan besar ya dengan sekelompok orang-orang India dan ketika  Mahatma Gandhi dipersilahkan untuk naik ke panggung untuk berdoa, tiba-tiba si pemuda ekstrimis ini maju juga mendekati Gandhi dan kemudian menembakkan senjata api dari jarak dekat sampai Gandhi tewas. Wah, ini adalah kehidupan orang-orang yang memperjuangkan keadilan untuk masyarakat. Hidupnya susah, matinya dibunuh. Ya, banyak yang menghina dia, banyak yang mencela dia, banyak yang tidak mengerti apa yang dia kerjakan juga.

Tetapi juga ada yang mengatakan ya Bapak, Ibu, Saudara sekalian, teolog Kristen mengatakan bahwa Mahatma Gandhi ini dia terus membaca Mat. 5-7 ini sampai hari kematiannya. Sebelum memulai aktivitas di pagi hari, saat teduhnya adalah khotbah Yesus. Bayangkan ya Bapak, Ibu sekalian, maka kalau kita nanti masuk surga jangan kaget kalau ada Mahatma Gandhi, tapi jangan kaget juga kalau tidak ada, karena ada orang yang menghormati Yesus tapi tidak percaya Yesus, ada orang yang mempelajari ajaran Yesus tapi tidak peduli terhadap siapakah Yesus Kristus. Orang Kristen adalah orang yang sangat peduli siapakah Juruselamatnya, sangat menghargai perkataan Juruselamatnya, sangat mau mengikuti teladan Juruselamatnya. Itulah kita yang seharusnya sebagai orang Kristen.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, pada hari ini kita akan membahas hanya ayat satu sampai dua saja. Dan di sini kita tahu bahwa ketika Rasul Matius menulis Injil Matius, Matius itu mau memperkenalkan secara fokus kepada orang-orang Yahudi. Para pembaca dari Injil Matius adalah orang-orang Yahudi. Dan orang-orang Yahudi sedang menantikan Mesias. Dan Matius sebagai pemungut cukai dulunya dan kemudian dia bertobat menjadi rasul Yesus Kristus, Matius mau menjelaskan bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang dijanjikan dengan cara apa? Dengan cara menjelaskan bahwa Yesus adalah Raja yang kamu tunggu, Raja di atas segala raja dan Raja itu mau agar kita mengikut Dia, mengikut peraturan-Nya, mengikut pimpinan-Nya, mengikut segala perlindungan yang Raja itu berikan. Nah di sini latar belakang dari khotbah Yesus di bukit bicara bagaimana Yesus Kristus mengajarkan firman Tuhan kepada banyak orang dan juga mengingatkan bahwa orang-orang yang sudah percaya kepada Yesus Kristus, dia itu tidak sendirian. Kita harus melihat bahwa apa yang Yesus ajarkan kepada banyak orang atau ajarkan kepada kita, kita ingat bahwa Yesus ajarkan kepada sekelompok manusia atau umat-Nya.

Sebagai orang Kristen kita harus diingatkan ya oleh firman Tuhan kalau kita hidup tidak sendirian, kita itu bersama dengan jemaat yang lain, itulah gereja, itulah kerajaan Allah. Yesus khotbah di bukit menceritakan tentang kerajaan Allah, bagaimana seseorang manusia harus hidup di hadapan Tuhan, tetapi Yesus juga mengajarkan bahwa umat Tuhan harus bekerja sama satu dengan yang lainnya untuk menggenapkan rencana dari Allah sendiri di dalam memberkati seluruh dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Jadi ini lah salah satu fokus dari Matius ketika menulis Injilnya, yaitu kamu orang Kristen, jangan pikir kamu itu sendirian saja di bumi ini, kamu ingat bahwa ada Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan kamu dan kamu juga ingat bahwa ada jemaat yang lain ada pengikut Yesus Kristus yang lain yang sama-sama berjuang untuk taat kepada Yesus dan juga melakukan kehendak Yesus Kristus.

Maka kita bisa lihat gereja Tuhan itu adalah bicara soal kerajaan Allah, kerajaan Allah yang harus semakin luas, semakin besar yang ada di bumi ini. Supaya apa? Supaya orang tahu siapakah pemimpin dari kerajaan Allah itu yaitu Yesus Kristus sebagai Raja. Maka waktu kita berusaha mengerti khotbah Yesus, jangan pikir itu khotbah untuk diri kita sendiri tapi itu juga khotbah untuk jemaat yang lain untuk sama-sama bekerja sama melayani Tuhan dan memperluaskan kerajaan Tuhan di bumi ini. Kita ingin supaya kerajaan Tuhan ada di bumi ini bukan secara rohani saja tetapi betul-betul secara fisik, secara wilayah itu ada. Ada seorang pendeta mengatakan Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya “Perusahaan yang terbesar sekarang, perusahaan yang terbesar itu bukan Amazon, bukan Walmart, bukan Microsoft, bukan Starbucks, bukan perusahaan-perusahaan yang lainnya, bukan Alfamart, Indomaret gitu ya, Superindo, bukan. Tetapi perusahaan yang terbesar, korporat terbesar di seluruh dunia zaman sekarang adalah gereja.” Hah kok bisa? Kemudian si pendeta itu menjelaskan bahwa kenapa gereja, karena pengikut gereja sekarang saja kalau mau dihitung, itu paling banyak kalau dicampur dengan Katolik. Jumlah pengikut atau member orang Kristen di seluruh dunia ya, setelah dihitung 2,9 miliar itu adalah gereja. Dari sini kita tahu bahwa aset gereja begitu banyak, salah satunya adalah GRII Yogyakarta, ada tanahnya itu bicara soal kerajaan kan, ada wilayahnya, ada pemimpinnya, ada rakyatnya. Gereja itu sangat banyak tersebar di seluruh dunia. Nah inilah wujud kerajaan Allah secara fisik yaitu adanya gereja, adanya gedungnya, adanya pemimpinnya, ada wilayah, ada rakyatnya. Di sini kita bisa belajar bahwa kita secara satu kesatuan kita harus mengerti kita ini mengikuti Raja kita

Dan di sini, Sang Raja tersebut sedang naik ke atas bukit. Dia melihat orang yang banyak, ya. Orang banyak berkumpul di sana. Di situ Yesus melihat dengan pandangan yang penuh kasih. “Oh, itu Raja. Yang betul-betul Raja tapi tidak diakui sebagai raja dunia.” Dan di situ, di atas bukit, di provinsi Galilea tersebut, Yesus sedang mengajarkan suatu prinsip bagaimana seseorang hidup dalam kerajaan Allah. Yesus melihat dengan mata yang penuh kasih, dengan mata yang penuh dengan belas kasihan kepada banyak orang, dengan mata yang melihat orang itu ‘orang’. Manusia itu adalah gambar dan rupa Allah yang harus dikasihi, yang butuh Firman Tuhan. Dan di sini lah pemberian yang terbesar yang Yesus berikan kepada umat Tuhan adalah khotbahnya. adalah firman Tuhan yang tidak pernah salah, yang diucapkan oleh Orang yang tidak pernah berdosa.

Yesus Kristus di atas bukit melihat banyak orang, ya. Kemudian Yesus naik ke atas bukit, setelah itu Ia duduk. Yesus Kristus punya mata yang sering kali orang Kristen tidak miliki, yaitu apa? Mata penuh belas kasihan, mata penuh kasih, penuh kebenaran juga dan penuh hikmat. Yang kita bisa pelajari kalau dalam teologi adalah worldview, pandangan dunia. Bagaimana kita cara memandang dunia, mata Yesus itu adalah mata yang paling berharga. Karena Dia tidak pernah memandang segala sesuatu secara salah, bertentangan dengan Bapa di surga. Worldview berarti apa? Bagaimana cara kita memandang hidup, memandang diri, tujuan hidup apa. Memandang sesama kita, memandang Allah yang sejati itu harusnya seperti apa. Kita harus memiliki cara pandang Kristen, cara pandang yang Alkitabiah. Supaya apa? Supaya kita bisa betul-betul mengikut Yesus Sang Raja kita. Mata Yesus Kristus itu, kita harus berdoa, kita memiliki mata seperti Yesus yang melihat segala sesuatunya. Dengan cara yang benar, cara yang bijaksana, cara yang baik.

Lalu kemudian yang dilakukan Dia adalah naik ke atas bukit. Naik ke atas bukit tentu secara praktis adalah supaya Yesus Kristus bisa memberitakan firman dan bisa banyak orang mendengar Dia dari atas. Kenapa ya, sering kali desain mimbar gereja atau panggung selalu lebih atas daripada yang pendengarnya atau pesertanya? Salah satunya adalah supaya bisa melihat dengan jelas orang yang sedang menyampaikan sesuatu. Tetapi juga supaya kita bisa mendengar suara dengan lebih jelas dari ketinggian. Kalau di bawah itu ya, kalau di bawah kita bersuara, telinga saja ada di atas manusia, kan? Di kepala kita. Maka waktu dari atas, kita langsung bisa mendengar suara dari telinga yang ada di bagian atas tubuh kita. Nah, di sini cara Yesus secara praktis, kenapa Dia naik ke bukit? Karena memang ada di sana bukit yang lebih tinggi, dan Dia mau menyampaikan firman secara jelas. Supaya Injil Tuhan itu boleh didengar oleh banyak orang yang berkumpul pada waktu itu.

Ada yang memparalelkan ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kenapa bicara soal bukit? Karena kita tahu Allah Israel sering kali menunjukkan diri-Nya, Allah kita tentunya, Allah Israel itu Allah kita, sering menunjukkan diri-Nya di bukit, gunung Horeb, gunung Karmel. Itu menyatakan kuasa Tuhan dari atas. Dari atas kepada dunia. Dan kemudian Dia duduk. Nah inilah kenapa ya, Bapak-Ibu Saudara sekalian, dosen itu duduk. Karena ini bicara soal mengajar dengan otoritas. Dia bukan saja berdiri, tentu berdiri adalah proklamasi, nggak masalah ya, kita mengajar dengan berdiri. Tapi ada waktu-waktu di mana Yesus itu santai, lho. Sambil santai, Dia duduk sebagai raja yang bertakhta di atas bukit. Dia mengajar firman Tuhan, kotbah kepada banyak orang. Tentu lebih susah, ya. Lebih susah ngomong atau bicara ketika duduk. Berarti semua pendengar pada waktu itu tenang sekali. Dan mau mendengar perkataan Yesus yang berharga. Dan Yesus khotbah dengan duduk, dengan mengajar kebenaran firman Tuhan. Dengan lantang, dengan otoritas Sang Guru, Dia mengajar.

Dan ketika Dia duduk, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, disebutkan ya di ayat pertama ini “Datanglah murid-muridNya kepada Yesus Kristus.” Ini kita kalau zaman sekarang, saya duduk, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Bapak, Ibu, Saudara sekalian menjauh dari saya. Karena takut, ya. Mau ditegur, kah? Mau di ajak ngobrol, kah? Gitu ya. Tapi waktu seorang guru duduk pada waktu itu, itu tanda bahwa kita harus dengar karena Dia mau bicara sesuatu. Dan para murid, para rasul Yesus Kristus tahu kebiasaan rabi-rabi zaman itu. Ya Dia duduk, berarti ada sesuatu yang mau diomongkan kepada pengikutNya. Dan di situ para murid Yesus mengerti bahwa, ketika Yesus naik ke atas bukit, ya. Mau ngapain? Padahal kan baru selesai pelayanan, orang-orang berbondong-bondong mengikut Yesus Kristus. Terus ketika Yesus duduk di atas bukit yang paling tinggi itu, para murid langsung mendekat kepada Yesus. Untuk apa? Untuk mendengar pengajaran Yesus Kristus secara lebih dekat, lebih pasti, lebih sungguh-sungguh mendengar firman Tuhan.

Nah Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ini suatu budaya yang baik ya, kalau Bapak, Ibu, Saudara, datang ke dalam gereja, Bapak, Ibu, sekalian datang di paling depan. Ya bukan itu berarti suatu kursi yang terhormat, supaya kita dilihat orang, bukan, tetapi supaya bisa mendengar firman Tuhan dengan lebih fokus, lebih jelas. Ya, Bapak, Ibu, Saudara, sama waktu kita KKR Regional, kita inginnya kan para murid duduk dekat kita, dekat kita yang sedang berdiri menyampaikan firman kan. Bukan jauh-jauh semua kan? Nggak dengar, nggak fokus. Makin mendekat pembicara, makin fokus. Nah itulah yang dilakukan murid-murid Kristus. Mereka datang kepada Kristus dalam arti apa? Mau mendengar Kristus. Nah itulah yang perlu kita lakukan sebagai murid Kristus, sebagai warga kerajaan Allah, yaitu kita menjalani hari-hari kehidupan kita, kita harus duduk, diam, dekat dengan Yesus Kristus, mendengar firman-Nya supaya kita bisa tahu apa yang harus kita lakukan di dalam dunia ini.

Nah kemudian apa yang Yesus lakukan setelah Yesus melihat banyak orang? Ini cara pandang Kristen ya, yaitu bagaimana Yesus melihat, Yesus naik ke atas bukit, duduk di atasnya, para murid di sekitar-Nya, dan Yesus mulai berbicara dan mengajar mereka. Nah ini adalah mulut Yesus Kristus. Yesus menggunakan mulut-Nya untuk menyampaikan hal yang baik bagi manusia. Pemberian yang terbaik yang kita bisa berikan kepada sesama kita, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, bukanlah materi, meskipun materi itu penting. Bukanlah soal kita itu berperilaku dengan baik, karena berperilaku pun dengan baik itu pun penting juga. Ya tetapi itu adalah anugerah umum, orang non-Kristen pun bisa berperilaku demikian. Apalagi nanti, mau lebaran, orang non-Kristen kembali ke kampung bertemu dengan keluarga, menghormati orang tua, bawa oleh-oleh ya, bersikap baik dengan keluarga mereka, mengasihi dan juga bersekutu bersama-sama. Orang non-Kristen bisa melakukan hal tersebut. Orang Kristen harus bisa melakukan hal tersebut juga. Harus! Kenapa nggak bisa?

Dan orang Kristen, Yesus memberikan teladan, di dalam perkataan maupun perbuatan kamu, kamu harus berdasarkan firman Tuhan. Inilah antitesis antara orang Kristen maupun non-Kristen. Waktu kita berperilaku baik kepada orang, bukan karena harus berperilaku baik untuk bisa masuk surga, bukan karena takut dihukum atau takut mendapat celaka, waktu kita berbuat baik sama orang, waktu kita memberi sesuatu kepada seseorang, perilakunya sama, tapi motivasinya berbeda. Waktu orang Kristen berbuat baik, menghormati orang tua, memberikan oleh-oleh misalnya, datang bersekutu bersama keluarga, itu dijalankan dengan hati mengasihi Yesus dan mau menaati perintah Yesus Kristus, bahkan mau membagikan siapakah Yesus Kristus dalam kehidupan kita. Itu antitesis yang berbeda antara orang Kristen dengan non-Kristen. Praktiknya bisa sama, bisa mirip. Mereka bangun tempat ibadah yang besar, yang jauh lebih besar dari GRII Jogjakarta, mereka umatnya ribuan jutaan, mereka juga perbuatan baiknya banyak, mereka berdoa juga, mereka juga berpuasa, mereka juga ada yang khotbah, tapi bedanya apa? Yang tidak kelihatan. Yaitu apa? Motivasi dengan tujuan. Motivasi di belakang, tindakan di prosesnya, tujuannya di akhir.

Orang Kristen ketika melakukan perbuatan baik pertama motivasinya karena Yesus sudah mati buat saya, karena Yesus sudah mengasihi saya, karena Yesus memberikan perintah pada saya, saya mau melakukan perbuatan baik. Tujuannya apa? Tujuannya adalah untuk memuliakan Allah, dan memberitakan Injil kepada banyak orang. Nah di sini Yesus Kristus menggunakan mulut-Nya yang sudah Tuhan berikan, yang Bapa berikan kepada-Nya ketika Yesus menjadi manusia, dan di sinilah Yesus memberitakan firman Tuhan, memberitakan kebenaran memberikan jalan kebenaran dan hidup kepada banyak orang. Itulah pemberian yang kita bisa berikan yang terbesar yang kita bisa berikan kepada manusia yang lainnya, memberikan firman Tuhan. Ya mengajak mereka untuk mendengarkan khotbah yang sesuai dengan kebenaran Alkitab.

Ya di tengah zaman ini, begitu banyak orang berbicara, begitu banyak orang mengajar, tetapi apa yang diajarkan ada yang sifatnya wahyu umum, tetapi juga ada yang sifatnya wahyu khusus. Orang-orang Kristen ya. Tetapi ada juga yang bertentangan dengan wahyu khusus, ada juga yang bertentangan dengan wahyu umum. Ada yang sesat, ada yang salah, ada yang motivasinya tidak beres, ada yang tujuannya juga untuk kemuliaan diri dan berdosa di hadapan Tuhan. Di sini melihat semua itu Yesus mulai berbicara dan mengasihi mereka dengan kebenaran firman Tuhan.

Lalu, selanjutnya, ya, pertama-tama Dia memikirkannya, Yesus Kristus mau memberikan khotbah apa kepada banyak orang yang sudah berkumpul di atas bukit tersebut, di atas bukit Galilea. Yesus mengatakan, “Berbahagialah” atau blessed, diberkatilah, ya. Yesus bicara soal berkat yang manusia bisa peroleh ketika manusia itu melakukan Firman Tuhan. Yang diajarkan Yesus bukanlah berkat jasmani, bukanlah prosperity gospel, bukanlah hal yang sifatnya kedagingan, tetapi Yesus menjelaskan tentang hal yang rohani. Nah, nanti kita akan bahas di pertemuan selanjutnya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Itu bicara soal “berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.”

Di dalam ajaran-ajaran Yesus di dalam khotbah di bukit, Yesus memulai dengan berkat Tuhan secara rohani. Dan inilah yang seharusnya juga kita bisa teladani sebagai orang Kristen: bagaimana kita memiliki hati yang untuk Tuhan. Hati untuk hal-hal yang rohani. Kita bisa mengabarkan Injil kepada banyak orang. Ya, kita gunakan setiap sarana supaya Firman Tuhan boleh disebarluaskan kepada banyak orang. Kita menggunakan seluruh hidup kita seperti Yesus Kristus. Dia menggunakan mata-Nya, Dia menggunakan tubuh-Nya, Dia menggunakan mulut-Nya untuk menyampaikan anugerah terbesar yang bisa diterima oleh manusia yaitu adalah Firman Tuhan. Ya, sebagai kebenaran, sebagai jalan, dan sebagai kehidupan bagi umat manusia.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di dalam khotbah Yesus di bukit ini, Yesus mengawali dengan kata “berbahagialah”. Ini berarti apa? Ya, ini berarti Yesus Kristus menjelaskan tentang hal yang biasanya menjadi tujuan hidup manusia, yaitu apa? Hidup bahagia. Tetapi Yesus Kristus justru meng-antitesis kebahagiaan manusia itu harusnya bagaimana? Apa yang kita anggap bahagia? Apakah betul-betul sesuai dengan yang dianggap Tuhan? Apakah yang kita menjadi tujuan hidup kita betul-betul itu yang menjadi tujuan dari Tuhan atas hidup kita? Nah, itu yang Yesus jelaskan bahwa kebahagiaan kita ini bukan dari dunia, melainkan harusnya dari Tuhan.

Sukacita kita: kita bisa bersukacita atas hal yang jahat, hal yang duniawi, hal yang berdosa tetapi itu bukanlah yang dikehendaki Tuhan, yang Tuhan kehendaki adalah sukacita surgawi. Kita bisa bersukacita kalau banyak uang: betul. Kita bersukacita kalau bisa memiliki jabatan yang lebih tinggi lagi. Kita bisa bersukacita kalau kita mendapatkan hal yang kita inginkan. Hidup kita nyaman. Hidup kita mendapatkan hal yang kita anggap itu bisa memberikan sukacita. Tetapi sukacita itu adalah sukacita yang semu, kebahagiaan yang semu, yang sementara, bahkan yang salah di hadapan Tuhan karena itu bersumber dari segala kedagingan kita maupun hal-hal yang jahat.

Nah, yang Yesus ajarkan di dalam bagian pertama khotbah di bukit adalah supaya kita bisa memiliki kebahagiaan yang bersumber dari Tuhan. Waktu kita bersukacita, kita bersukacita karena apa? Waktu kita mencari sukacita, mencari kebahagiaan, kita mencari di mana? Dengan cara apa? Itu yang kita kejar. Emosi yang manusia sering kali muncul dalam kehidupan kita sehari-hari adalah emosi dukacita dan sukacita. Dan sebagai orang yang diciptakan dengan gambar dan rupa Allah, kita memang punya emosi. Tetapi kalau emosinya karena alasan yang salah, karena motivasi yang salah, dan tujuannya salah, maka emosi itu juga tidak berkenan di hadapan Tuhan. Kita sukacita atas ketidakadilan. Kita sukacita kalau orang jatuh. Kita sukacita kalau kita melampiaskan hawa nafsu kita. Kita sukacita kalau kita melihat orang sakit, berduka. Kita sukacita kalau kita berbuat jahat. Itu bisa bersukacita. Kita bisa happy. Tapi itu adalah sukacita yang palsu, sukacita yang berdosa di hadapan Tuhan. Tetapi kita juga bisa berduka cita, sedih, ya, kecewa terhadap dosa. Sedih melihat orang-orang kok tidak mau melakukan Firman Tuhan. Sedih kalau orang-orang tidak mendengarkan Injil. Itu adalah sukacita yang kudus: sukacita yang berasal dari Tuhan sendiri.

Maka dari itu, pada bagian ini kita bisa melihat bahwa khotbah di bukit adalah khotbah yang sangat indah yang diberikan oleh Yesus Kristus kepada kita: bagaimana kita bisa meneladani Yesus Kristus. Bagaimana kita bisa melihat seperti Tuhan Yesus melihat. Bagaimana kita menggunakan tubuh seperti Yesus menggunakan tubuh-Nya. Dan bagaimana kita menggunakan mulut kita seperti Yesus menggunakan mulut-Nya. Kiranya kita boleh melihat bahwa kehidupan Yesus Kristus merupakan adalah kehidupan orang yang penuh dengan hikmat. Di dalam pribadi Yesus Kristus maupun di dalam perkataan-Nya itu semua penuh dengan hikmat Tuhan. Maka hikmat yang terbesar adalah bagaimana kita boleh meneladani Yesus Kristus.

Ya, kita tahu nasihat ini Bapak, Ibu sekalian, ya: hikmat yang terbesar adalah bagaimana kita melihat segala sesuatu dari surga. Kita diangkat ke surga, ya, kita berdoa, kita minta firman Tuhan, itu seperti kita diangkat ke surga untuk melihat segala sesuatu itu dari perspektif Allah. Dari matanya Allah. Matanya Kristus. Kalau kita bisa melihat segala sesuatu dari matanya Allah, maka hidup kita pun akan lebih hati-hati untuk bertindak ini dan itu. Apakah itu sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak. Nah, itulah yang membuat kita semakin berhikmat.

Nah, bagaimana supaya kita bisa diangkat ke surga untuk bisa melihat segala sesuatu berdasarkan perspektif Tuhan dari surga dan bagaimana kita pada akhirnya bisa memuliakan Tuhan dari bumi ini, dari bawah? Yaitu dengan cara kita menaati firman Tuhan. Kita bergumul, merenungkan firman Tuhan siang dan malam dan juga kita bagaimana menghargai khotbah Yesus di bukit ini.

Sebelum saya khotbah ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, saya tidak mau kalah dengan Gandhi, ya. Saya baca dulu pasal 5-7, kemarin malam. Kemarin malam saya baca dulu, saya mau bisa lebih dari Gandhi. Mau bisa lebih daripada orang-orang non-Kristen yang menghargai Yesus dan firman-Nya, orang-orang non-Kristen yang menghargai firman Tuhan. Maka apa yang kita bisa lakukan Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya? Salah satu aplikasi dari khotbah ini adalah baca Matius 5-7. Ya, baca dan hargai betul-betul ini perkataan Yesus. Khotbah Yesus. Kita mungkin punya pengkhotbah favorit. Ya, nggak salah. Kita manusiawi. Kita bisa suka sama orang, bisa tidak suka sama orang. Wajar. Tapi kita tidak boleh tidak suka pada firman Tuhan. Kita harus menghormati Tuhan. Kita harus suka dengan Tuhan. Kita harus cinta pada Tuhan. Kalau kita cinta maka kita akan melakukan firman Tuhan. Kita harus dengar khotbah yang baik. Jangan pikir semua khotbah manusia sama. Ya, manusianya saja sudah beda, kok. Ya, pembahasan tentang firman Tuhan bisa berbeda. Saya khotbah Matius 5:1-2 dengan orang lain berkhotbah Matius 5:1-2 juga bisa beda. Tetapi yang tidak pernah berubah, yang tetap konsisten dan sama adalah firman Tuhan sendiri yang sudah Tuhan berikan dan juga pekerjaan Roh Kudus dalam hati kita yang sama seperti bagaimana Roh Kudus bekerja dalam hati umat-Nya. Roh Kudus yang sama masa sih kasih ajaran yang beda? Roh Kudus yang sama dalam hati kita dan juga Roh Kudus yang sama dengan hati orang lain waktu membahas firman, kok bisa sih berbeda ajaran? Berbeda doktrin? Harusnya nggak. Prinsipnya tetap sama. Hal-hal lain, aplikasi bisa bermacam-macam.

Mari, Bapak, Ibu, Saudara sekalian kita sungguh-sungguh mencintai Yesus Kristus; pribadi-Nya dan perkataan-Nya. Mari kita baca Matius 5-7. Hari ini selesai. Ya, kurang lebih 20-30 menit kok baca itu. Ya, nggak lama. Tapi kita bisa mendengarkan suara Yesus Kristus dari firman Tuhan yang sudah Tuhan sediakan di dalam kehidupan kita. Hati-hati terhadap khotbah-khotbah di dalam seluruh dunia ini, ya, yang bisa menyesatkan hidup kita. Kita harus awasi diri dan awasi ajaran kita. Mari kita sama-sama berdoa.

Tuhan, Allah Bapa kami yang di surga, kami sungguh mengucap syukur jikalau kami boleh menyadari dan percaya bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang menjelma jadi manusia dan lahir ke dalam dunia ini 2000 tahun yang lalu. Yesus Kristus mau menjadi sama seperti kami sebagai manusia untuk menjadi teladan bagi hidup kami, bahkan untuk mati di atas kayu salib, menanggung hukuman dosa yang seharusnya kami terima. Kami bersyukur Tuhan untuk keselamatan yang Yesus berikan di dalam kehidupan kami. Ajar kami Tuhan, untuk mencintai Yesus Kristus lebih dalam lagi. Kami mau mempersembahkan seluruh pikiran kami, perasaan kami, kehendak kami, tubuh kami hanya untuk kemuliaan Tuhan saja karena Tuhan Yesus Kristus sudah menyerahkan seluruh tubuh Yesus Kristus terlebih dahulu bagi kami yang penuh dengan dosa ini. Ketika kami lemah, Yesus Kristus mati untuk kami. Ketika kami berdosa, Yesus Kristus berkorban di atas kayu salib. Dan Yesus Kristus juga bangkit pada hari yang ketiga mengalahkan kuasa kematian dan memberikan pengharapan di dalam kehidupan kami untuk senantiasa taat kepada firman Tuhan. Kami mau Tuhan meneladani Yesus Kristus dalam kehidupan kami. Kami mau melihat segala sesuatu dari perspektif Tuhan. Ampuni kami Tuhan jikalau kami merasa diri kami itu pintar, tidak pernah salah, dan merasa lebih benar daripada semua orang. Kami mau Tuhan; tunduk di hadapan Tuhan, rendah hati untuk mengikut Yesus setiap hari. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami yang hidup, kami sudah berdoa dan mengucap syukur. Amin. (HS)