Sukacita Paulus
Pdt. Hendry Ongkowidjojo, M. Div, Th. M, D. Th.
Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita baru membaca 4 surat Paulus, ya. 4 bagian dari 4 surat Paulus dan saya, tadi kalau Saudara memperhatikan apa yang menjadi permintaan saya pertama tadi ya, Saudara mencari persamaannya, maka seharusnya gitu ya, setidaknya ada 1 persamaan yang Saudara sudah bisa temukan harusnya, meskipun mungkin 2 persamaan yang lain kita perlu waktu untuk bisa memperhatikan. Sehingga kalau saya boleh mengatakan dari keempat bagian yang tadi kita baca, ada 3 persamaan. Ya, 3 persamaan yang penting yang kita perlu sadari, ya, kalau kita mau mempunyai sukacita. Ya, kalau mau hidup kita tidak terus diwarnai dengan kegalauanlah, sedikit-sedikit perlu healing-lah dan seterusnya, gitu, ya. Apalagi sekarang juga mulai marak yang namanya itu masalah problema kejiwaan dan seterusnya, sehingga saya percaya ketika orang Kristen boleh kembali kepada Firman, kiranya oleh anugerah Tuhan, kita bisa dijauhkan daripada hal-hal yang seperti ini.
Ya, karena persamaan yang pertama yang tadi harusnya setiap Saudara sudah bisa langsung menebak adalah kita menemukan seorang rasul yang bukannya hidupnya tanpa kesulitan, yang bukannya hidupnya tanpa masalah, tanpa tantangan, tapi seorang rasul yang kita menemukan berkali-kali, berkali-kali, berkali-kali menyatakan sukacita-sukacitanya. Ya, sehingga persamaan yang paling jelas dari keempat bagian tadi adalah kita menemukan Paulus yang selalu, selalu, dan selalu mengatakan, ”Aku mengucap syukur.” “Aku bersukacita.” “Aku bersukacita di dalam doaku.” “Aku mengucap syukur di dalam doaku.”
Saudara, saya percaya, ya, dunia hari ini sangat memerlukan orang-orang Kristen yang bisa menyatakan sukacitanya seperti Paulus. Kenapa? Ya, karena tadi, saya mengatakan apa? Ya, kita melihat sama-sama ya dalam dunia hari ini begitu banyak kegalauanlah, begitu banyak perlu healing-lah. Kalau nggak bisa staycation itu atau vacation itu rasanya susah sekali. Sehingga hari ini, issue mengenai kesehatan jiwa, waduh, itu sepertinya menjadi suatu issue yang sangat viral, yang menunjukkan berarti banyak orang yang mengakui bahwa kelihatannya jiwanya kurang sehat ini. Sehingga, itu kenapa perlu seminar mengenai kesehatan jiwa. Tapi, Saudara, kita mengamini, ya, kalau orang yang boleh hidupnya itu seperti Paulus, begitu banyak sukacita seperti Paulus, kira-kira jiwanya bakal lebih sehat atau tidak, ya? Kira-kira bakal lebih perlu banyak healing atau tidak, ya?
Sehingga dari situ, pertanyaan yang penting: kenapa, ya, kita menemukan seseorang yang bisa begitu penuh dengan sukacita? Padahal kalau Saudara cukup mengenal Paulus, harusnya Saudara tahu, ya, ini bukan orang yang hidupnya nyantai-nyantai. Itu kenapa dia bisa sukacita? Karena bisa kemudian ke restoran mana, jepret, masukkan ke instagram, gitu, ya. Ke tempat yang lain lagi mana, ke tempat baru jepret lagi. Wah, ini tempat yang baru, yang instagramable. Harusnya, Saudara tahu, Paulus jauh dari semua itu, lho. Harusnya, Paulus tahu, ya. Sebesar-besarnya hari ini, ya, saya nggak tahu hari ini siapa yang sedang merasa mempunyai pergumulan yang sangat berat, tapi saya percaya, Saudara bisa mengamini kalau saya mengatakan, ya, ndak ada lah, ya, di antara Saudara termasuk saya yang pernah mengalami pergumulan seperti Paulus. Ya, ndak. Yang ngomong tadi, yang bersukacita tadi bukan seperti anak kemarin sore yang tidak tahu dunia ini penuh dengan kesulitan sehingga dengan naifnya gitu, ya, mengatakan, “Saya bersukacita! Ya, saya bersyukur! Saya bersyukur di dalam doa.” Tidak, lho! Ya, sehingga Paulus adalah seseorang yang sangat tahu dunia berdosa itu seperti apa, seseorang yang sangat kenyang dengan berbagai-bagai kesulitan. Sehingga pertanyaannya: kenapa, ya, dia bisa sedemikian bersukacita?
Kalau Saudara tadi memperhatikan sungguh-sungguh, ya, di dalam ke-4 ayat tadi, maka Saudara akan menemukan bukan hanya yang pertama, persamaan dari keempat bagian tadi adalah kita menemukan Paulus bersukacita, tapi yang kedua, ini yang penting karena sering kali, yang kedua ini yang kita tidak ada. Ya, jadi kenapa kita kok sulit bersukacita seperti Paulus? Bukan karena hidup kita lebih sulit daripada dia, tetapi karena alasan Paulus bersukacita. Alasan Paulus bersukacita sering kali itu yang kita tidak ada. Dan di dalam keempat bagian firman Tuhan yang tadi kita baca, 4 bagian tadi menunjukkan kepada kita, Paulus bersukacita sebetulnya karena satu hal. Alasan apa? Apa alasan Paulus bersukacita yang dinyatakan di dalam keempat tadi yang kita akan lihat sama-sama, ya? Betulkah kita juga mempunyai alasan sukacita yang sama dan sangat mungkin tidak? Sehingga Saudara, persamaan yang kedua dari ke-4 ayat yang tadi kita sudah baca adalah Paulus yang bersukacita. Dia bersukacita karena gereja, lho. Amin, ndak? Betul kan? Jadi, dalam surat Korintus, Paulus mengatakan apa? “Aku bersukacita karena kamu” Di dalam surat Filipi, Paulus mengatakan apa? “Aku bersukacita karena kamu.” Di dalam Kolose, Paulus mengatakan apa? “Aku bersukacita karena kamu.” Di Tesalonika? Sama, lho ya. Ya, kalau nggak percaya, Saudara bisa melihat Alkitab Saudara kembali. Di Tesalonika pun, dia mengatakan, “Aku bersukacita karena kamu.” Kamu, kamu, kamu, kamu di sini itu siapa? Harusnya jelas. Ketika di dalam jemaat Korintus berarti kamu ini adalah jemaat Korintus, jemaat Filipi, jemaat Kolose, jemaat Tesalonika. Jemaat. Paulus bersukacita karena jemaat.
Ya, sementara hari ini, Saudara kapan terakhir kali bersukacita karena gereja? Ya, hari ini, ya, kira-kira menurut Saudara, ya, gereja itu sumber sukacita atau sumber masalah? Yang mana, ya? Kalau Yesus sumber sukacita. Wah, amin! Salib Kristus, sehingga kita akan merayakan sebentar lagi Jumat Agung dan Paskah dan saya percaya, setiap kita pada waktu mengingat Yesus mati bagi kita, kita bersyukur. Ya, pada waktu Yesus bangkit dari antara orang mati, kita bersyukur. Sehingga kalau Yesus sumber sukacita, amin? Amin! Gereja sumber sukacita, amin? Hening. Ini artinya apa? Gitu, ya. Saudara sering kali tidak. Lha, ini bedanya, ya. Dari situ kita bertanya, ya, Paulus kok bisa bersukacita, ya? Saya kan juga di dalam Tuhan, tapi kok nggak bersukacita?
Nah, ini bedanya. Saudara mungkin bersukacita karena Tuhan, tapi Saudara tidak bersukacita karena gereja, lho. Paulus bukan hanya bersukacita di dalam Tuhan, dia bersukacita karena gereja-Nya. Ya, semua sukacita tadi, Paulus sukacita di dalam Tuhan, betul. Gitu, ya. Sukacita kepada Tuhan. Sukacita yang dinyatakan di dalam doa itu kepada Tuhan. Dalam hal ini, Saudara dan saya bisa jadi sama dengan Paulus. Tapi, kenapa meskipun saya dan Paulus sama-sama bersukacita di dalam Tuhan, kok faktanya Paulus sungguh-sungguh bersukacita, saya kok tidak? Ya, karena Saudara, di dalam ke-4 ayat tadi, kita membaca apa? Paulus bersukacita di dalam Tuhan itu karena gereja-gereja-Nya. Sementara, hari ini kalau saya boleh mengatakan, orang Kristen sering kali bersukacita di dalam Tuhan, tetapi tidak bersukacita karena gereja Tuhan.
Yang paling ekstrim, ya, saya pernah pada waktu studi di Amerika, ada sebuah khotbah yang judulnya itu sangat provokatif, ya. Itu kenapa saya ingat sampai sekarang. Ya, jarang, ya, kita bisa ingat judul khotbah gitu, ya, tapi karena judulnya sangat menarik gitu, ya sehingga saya ingat judul khotbah itu sampai sekarang. Judulnya apa khotbah itu? Ya, khotbah itu judulnya adalah: “I love Jesus. I Hate Church.” Waduh! Gitu, ya. Jadi, “Saya Cinta Yesus. Saya Benci Gereja.”gitu, ya. Saya nggak suka gereja. Ya, Saudara, meskipun saya percaya bukan berarti kemudian hamba Tuhannya mendorong jemaat benci gereja ya gitu ya, tapi ya judul gereja itu, judul khotbah itu sedikit banyak menggambarkan banyak perasaan orang Kristen kepada gereja. Kalau kita melihat Tuhan, wah ini baik ya, kalau kita melihat gereja, wah ini repot ya, gegeran terus lah gitu ya, masalah ini lah, masalah itu lah gitu. Sehingga apa alasan kita bersuka cita untuk gereja?
Sehingga bahkan ya, banyak orang Kristen yang meskipun mungkin tidak akan seekstrim tadi ya sampai mengatakan “I Hate Church!”, “saya benci gereja”, tapi seringkali banyak orang Kristen sebetulnya mempunyai satu keyakinan yang sama kan? Sehingga kalau dengan Kristus semakin dekat itu semakin baik tapi kalau dengan gereja kalau bisa ya jangan terlalu dekat-dekat, Amin? Ya, sehingga paling datang pada hari Minggu, gitu ya, setelah dateng kita salaman gitu ya. Yaaa, ada perjamuan sebulan sekali di bawah. Terus setelah itu ya sudah, ya tunggu nanti minggu depannya saya datang lagi, yang penting kan pokoknya hari Minggunya saya datang, gitu ya. Bahkan kalau bisa datangnya tidak terlambat, pulangnya tidak cepat-cepat, tapi sudah lho ya. Ya, sehingga pada waktu kita diminta untuk berbagian lebih lanjut, gitu ya, “Ayo datang ya seminar” atau “Ayo ikut ya KKR Regional”, atau “Ayo ya pelayanan ini”, banyak orang Kristen kemudian mengambil jarak, kenapa? Ya, karena takut ya. Ya, kalo semakin saya dekat gereja, nanti hidup ini sudah susah, ya sehingga kalau saya makin dekat dengan gereja, wah hidup saya lebih susah. Itu bagaimana ya?
Sehingga Saudara, ini sesuatu pertanyaan yang penting ya, yang kita harus renungkan bersama-sama. Betulkah gereja itu sumber masalah? Hanya Tuhan itu sumber sukacita? Ataukah ya hari ini, apa yang membuat orang Kristen sebetulnya kurang bisa menghidupi kekristenannya? Karena kita bisa jadi betul mengenal Tuhan, tetapi salah mengenal Gereja. Sehingga kita, saya ingin mengajak Saudara bersama-sama melihat, apa ya yang membuat Paulus kok bisa bersuka cita sedemikian rupa itu karena gereja? Ya, bukan cuma karena Yesus mati bagi saya, ya, dia bersuka cita karena kamu, karena gereja-Nya. Apakah mungkin? Ya bisa jadi ya, jangan-jangan ya karena ini adalah gereja-gereja yang Paulus dirikan. Itu kenapa mungkin gerejanya nggak banyak masalah ya? Sementara gereja hari ini karena tidak secara langsung didirikan oleh rasul, maka gereja hari ini sepertinya banyak masalah? Sehingga nggak heran ya, kalau Paulus bisa bersuka cita karena gereja, ya kita susah bersuka cita karena gereja ya karena ini kan gereja yang didirikan oleh Paulus, yang mestinya nggenah gitu ya, mestinya bagus, itu kenapa Paulus bisa bersuka cita. Betulkah karena itu?
Dan saya percaya Saudara yang pernah mempelajari surat-surat Paulus, Saudara tidak akan berpikir seperti itu kan? Betul ya? Sejelek-jeleknya atau sebanyak-banyaknya masalah yang hari ini kita temukan di dalam gereja kita Saudara, saya berani mengatakan, Saudara sulit menemukan gereja ya, dengan masalah sebanyak seperti di dalam jemaat Korintus. Bisa jadi ya, di gereja kita seperti Korintus ya, ada yang mengatakan kan saya golongan Paulus, saya golongan Petrus, saya golongan Apolos, saya golongan itu Kristus gitu ya. Bisa jadi di GRII juga bisa ada lho. Saya golongan Pak Jimmy, oh mungkin ya, saya golongan Pak Ivan, saya golongan apa itu namanya Pak Agus, atau saya golongan Pak Tong. Bisa jadi ada. Tapi kan di tengah-tengah kita ya, tidak ada yang sampai kemudian seorang jemaat tidur dengan istri ayahnya, dan saya harap juga di antara kita jangan sampai ada jemaat yang mengadukan jemaat yang lain ke pengadilan, juga nggak ada di antara kita yang kemudian berbahasa roh secara tidak teratur, ya juga nggak ada di antara kita yang pada waktu perjamuan sebagian makan, sebagian kelaparan. Yang semua masalah ini, kita temukan di dalam jemaat Korintus. Ya sehingga betulkah jemaat Paulus itu Paulus bisa bersuka cita karena jemaatnya baik-baik? Ya tidak.
Dan bahkan kalau Saudara memperhatikan ketiga jemaat yang lain yang tadi kita baca, kita melihat ya, meskipun memang, ya puji Tuhannya, ketiga jemaat yang lain tidak sebanyak Korintus masalahnya, tapi ndak ada satu pun dari semua jemaat tadi yang tidak ada masalahnya. Filipi, itu meskipun itu tidak separah Korintus tetapi ya ada gesekan, ada gegeran di antara pemimpinnya. Ya, sehingga Paulus mengatakan di dalam surat Filipi, “Eudia kunasehati, Sintikhe kunasehati, supaya bersatu hati.” Yang berarti mereka tidak bersatu hati. Ya sehingga di dalam jemaat Filipi kita melihat Paulus terus menekankan, jangan kerjakan keselamatanmu tanpa mengeluh. Ya di dalam Kristus ada penghiburan. Ya, sehingga satu hati di dalam Kristus itu menunjukkan di dalam jemaat Filipi, meskipun memang tidak sebermasalah Korintus, eh ada gegeran ya.
Di jemaat Kolose, ya, ada ajaran sesat yang mulai masuk. Ya, bahkan di jemaat Tesalonika yang sepertinya Paulus begitu bersuka cita pada waktu menuliskan 1 Tesalonika, ya ternyata ada masalahnya. Ada sebagian jemaat yang karena yakin Yesus segera datang mereka jadinya ndak kerja. Ya, sehingga di 1 Tesalonika Paulus mengatakan hendaklah masing-masing mengurus urusannya sendiri jangan sibuk mengurus urusan orang lain. Tetapi ternyata ya, ndak langsung bertobat orang-orang ini. Ya, sehingga di 2 Tesalonika Paulus mengatakan dengan lebih keras, yang ndak mau kerja ndak usah makan. Itu Tesalonika lho, ya, di mana Paulus mengatakan yang ndak mau kerja ndak usah makan. Itu di Tesalonika yang menunjukkan, ya di Tesalonika juga ternyata ada masalah. Ya, sehingga bukan berarti hari ini jemaat banyak masalah itu kenapa saya tidak bersuka cita karena gereja. Ternyata pada zaman Paulus juga sama lho.
Ya, sehingga kenapa sekali lagi ya, Paulus bisa bersuka cita? Ya, apakah kemungkinan yang berikutnya adalah, jangan-jangan Paulus itu hanya bersilat lidah ini. Gitu ya. Sehingga dia pura-pura bersyukur, sebelum nantinya itu menegur. Ya, jadi Saudara ya di dalam apologetika yang baik, ya, saya pernah sekali ya, pada waktu di Amerika itu salah seorang profesor kami ya Harold Nedlan, ya dia berapologetika ya dengan salah seorang pendukung penting dari Religius Pluralism, Pluralisme Agama. Sampai di suatu titik ya, kemudian Profesor Nedlan mengatakan kalimat seperti ini “Wah, apa yang dikatakan oleh profesor tamu kita ini sangat baik.” Semua kita yang pengalaman apologetika kita akan tahu, biasanya setelah kalimat itu muncu “tetapi”. Wah gitu ya. “Tetapi” dan di situ kemudian kritikannya muncul. Itu bagus juga lho ya. Jadi mempersiapkan yang bersangkutan sebelum dikritik. Ya, jadi dipuji dulu gitu ya kemudian dikritik. Nah, apakah Paulus kira-kira juga seperti itu? Ya jadi sebetulnya ya berbasa-basi aja gitu ya, sebelum nantinya dia akan mengkritik.
Nah Saudara kalau Saudara memperhatikan ke-4 bagian tadi ya, Saudara akan menemukan poin persamaan ketiga yang membuat hal ini tidak mungkin. Bukan Paulus sekedar berbasa-basi, kenapa? Apa persamaan ketiga? Jadi, yang pertama kan Paulus sama-sama bersyukur, yang kedua Paulus bersyukur karena gereja-Nya, yang ketiga apa persamaan dari ke-4 bagian yang tadi saya baca? Di dalam keempat-empatnya ya, Saudara selalu menemukan kata “karena” atau “sebab” ya. Aku bersuka cita karena kamu, karena kamu kaya dengan anugerah Tuhan. Aku bersuka cita karena kamu, karena pengharapanmu di dalam Kristus. Aku bersuka cita karena kamu, karena dari awal kamu berbagian di dalam berita Injil. Perhatikan kata “karena” ini menunjukkan kepada kita ya bahwa Paulus tidak berbasa basi. Dan kalau Saudara memperhatikan nanti ya Saudara mendalami lagi surat Paulus, Saudara akan melihat pujian Paulus itu betul-betul sesuai dengan kelebihan jemaat masing-masing.
Empat surat yang tadi kita baca ya alasan Paulus bersuka cita itu tidak sama lho, masing-masing beda. Kepada jemaat Korintus, Paulus bersuka cita karena jemaat Korintus memang mempunyai banyak karunia, itu kenapa Paulus bersuka cita “aku bersuka cita karena kekayaan Tuhan dinyatakan di dalam kamu”. Jemaat Filipi, kenapa Paulus mengatakan kamu berbagian dari sejak awal dengan berita Injil? Karena jemaat Filipi adalah jemaat yang langka ya, yang dari sejak awal berdirinya langsung mereka memberikan dukungan misi kepada Paulus, sehingga itu kenapa Paulus mengatakan “aku bersukacita dari sejak awal kamu berbagian di dalam Injil”. Lain lho alasannya. Ya demikian juga kenapa Paulus bersuka cita karena jemaat Kolose? Karena mereka bertahan di tengah-tengah ajaran yang sesat karena pengharapan mereka. Demikian pula jemaat Tesalonika, kenapa Paulus bersyukur? Karena mereka bertahan dari penganiayaan, beda lagi. Kolose bertahan dari ajaran sesat, Tesalonika bertahan dari penganiayaan. Dengan kata lain ya, di sini kita melihat pujian Paulus adalah pujian yang tulus karena setiap pujian itu didasarkan kepada alasan yang benar.
Ya sehingga Saudara, dari sini kita mulai akan melihat ya, sehingga apa ya, apa yang membuat Paulus itu bisa bersukacita karena gereja sementara kita tidak? Nah Saudara perhatikan alasan yang pertama. Yaitu yang pertama, Paulus melihat gereja ya, untuk bisa bersyukur karena gereja Tuhan, itu diperlukan kedewasaan iman, ya diperlukan kedewasaan kerohanian. Ya sehingga Saudara yang pernah melihat “Fokus” yang pernah saya bawakan, kenapa saya selalu menekankan kedewasaan? Ya kenapa saya buat “Fokus”? Supaya jemaat itu belajar dewasa di dalam Tuhan. Loh apa maksudnya? Kenapa bapak mengatakan kami kurang dewasa? Karena satu hal ya, yang membedakan orang dewasa dengan anak-anak itu bagaimana orang dewasa bisa melihat secara lebih penuh, orang dewasa bisa mempertimbangkan banyak faktor, sementara anak-anak seringkali hanya melihat satu faktor dan satu faktor saja dan sering kali hal yang dia lihat adalah hal yang apa yang dia itu rasakan di dalam hatinya. Ini bedanya ya, orang dewasa dengan anak-anak. Orang dewasa bisa mempertimbangkan “Oh iya ini ada negatifnya tetapi ada juga positifnya.” Sementara anak-anak sering kali ya yang dilihat adalah satu hal dan sering kali yang dilihat itu adalah hal yang tidak baik. Amin nggak ya?
Sehingga sebagai sebuah contoh ya, kalau saya boleh menjadikan diri saya sendiri sebagai sebuah contoh pada waktu saya anak-anak, siapa di sini anak-anak yang tidak suka pergi ke rumah kakek neneknya? Ya saya rasa anak-anak hari ini juga suka ya dengan rumah kakek neneknya. Kenapa? Ya karena seringkali lebih gampang minta sesuatu kepada kakek nenek ketimbang kepada papa mama. Sehingga satu kali ya, mama saya sudah menjanjikan “nanti ya, nanti hari Sabtu mama anterin ke rumah engkong dan emak”. Wah saya sudah senang sekali, saya sudah menantikan hari itu gitu ya. Saya menantikan hari itu, eh pada waktu itu papa mama saya punya toko gitu ya, kita tinggal di ruko, bawah toko atas rumah, sehingga pada waktu hari Sabtu itu pas toko papa mama saya itu ramai, ya sehingga pada waktu saya sudah turun ya, sudah siap-siap mau ke rumahnya emak dan engkong, mama saya mengatakan “waduh sorry ya, ini tokonya ramai belum mungkin. Mungkin nanti diganti lain kesempatan.” Wah pada waktu saya dengar itu saya kecewa sekali, terus saya marah. Terus saya ngomong kepada mama saya begini “Mama ya, kalau nggak menepati janji saya doakan tokonya sepi.” Saya dulu ternyata bisa nemen gitu ya. Bersyukur anak saya tidak ikut-ikutan gitu ya. Wah mama saya marah gitu ya, terus pada waktu mama saya marah, saya ini heran, sudah nggak menepati janji kok masih berani marah. Ya sekarang saya heran dulu kok saya mengherankan seperti itu gitu ya.
Tetapi kalau Saudara lihat itu anak-anak kan? Pokoknya tahunya satu, mama sudah janji dan kalau janji Alkitab mengatakan harus ditepati gitu kan? Alkitab itu mengatakan begitu saya nggak mau tahu yang lain, bagaimana toko itu ramai, kalau toko itu ramai hasil toko itu dipakai untuk membayar uang sekolah saya, untuk kasih saya makan, untuk belikan saya baju, untuk bawa saya ke dokter saat saya sakit. Ya anak nggak mikir. Ya simply nggak mikir. Pokoknya mama sudah janji bawa saya ke rumah kakek nenek, saya sudah menunggu selama satu minggu begitu ya, sekarang sudah tiba waktunya lha kok tidak ditepati. Maka langsung kemudian bagi seorang anak itu cukup loh, bagi seorang anak sudah cukup mama jahat, mama nggak sayang saya, papa tidak sungguh-sungguh. Bagi seorang anak itu cukup, bagi orang dewasa kita akan menggeleng-gelengkan kepala begitu ya.
Nah Saudara, permisi tanya ya, pertanyaannya ya, kita dengan gereja lebih mirip yang mana? Kenapa di awal tadi Saudara merasa heran ya, sukacita karena gereja? Gereja itu mau disukacitai apa? Kalau sukacita karena Kristus itu mungkin, betul kah ya? Karena kita lebih melihat gereja itu secara lebih realistis daripada Paulus ataukah karena Paulus melihat gereja lebih dewasa daripada kita? Ya tadi kita sudah melihat bersama-sama ya, Paulus bukannya tidak melihat kelemahan dari masing-masing, dan Paulus juga bukan tipe orang yang tidak berani menegur, nggak mau kerja nggak usah makan. Ya maka pada surat Korintus saudara membaca Paulus mengatakan “aku mau supaya kamu malu”. Paulus itu bukan orang atau hamba Tuhan yang “waduh kalau saya negur nanti jemaat marah, supaya jemaat nggak marah ya sudah saya baik-baik saja lah.” Tidak loh. Paulus bukan orang yang tidak melihat kelemahan jemaat dan bahkan bukan orang yang tidak berani menegur kelemahan jemaat. Tapi Saudara ini dewasa tadi saya katakan, orang dewasa ya tidak hanya melihat kelemahannya. Dari sini kita harus belajar dari seorang Paulus, di tengah-tengah kesibukan pelayanannya dapat kabar-kabar yang tidak baik; jemaat Kolose ada ajaran sesat, jemaat Tesalonika ada yang nggak mau kerja, ngurus urusan orang lain kemudian minta gereja membantu dia dengan diakonia, jemaat Filipi pemimpinnya itu gegeran, jemaat Kolose itu waduh si A datang ngomong masalah A, si B datang ngomong masalah B. Di tengah segala kesibukan pelayanannya. Tapi ini dewasa ya, dia menyadari segala kelemahan yang ada tetapi dia juga melihat, ya jemaat Korintus memang tidak dewasa di dalam memakai karunianya, tapi bersyukur loh ini jemaat dengan karunia yang banyak. Jemaat Filipi memang kurang dewasa ya, masak sudah pemimpin kok masih gegeran, tapi mereka sungguh-sungguh punya hati untuk Injil loh. Jemaat Kolose itu meskipun jemaat yang kecil, jemaat yang nggak penting begitu ya, mereka sungguh-sungguh di dalam Tuhan. Jemaat Tesalonika, meskipun di dalam tekanan yang berat mereka tidak menyangkal iman. Nah ini namanya dewasa, berarti tidak hanya melihat apa yang salah, tidak hanya melihat apa yang kurang tetapi juga melihat bagaimana masih ada pemeliharaan Tuhan yang sangat nyata di dalam masing-masing gereja meskipun masing-masing gereja juga penuh dengan kelemahan.
Sehingga Saudara, hari ini kita perlu menyadari seberapa jauh ya kita tidak hanya melihat jeleknya gereja, tapi seberapa jauh ya Saudara menyadari bagaimana Tuhan memakai gereja-Nya untuk mempertumbuhkan kita. Sehingga coba ya, kalau saya boleh ajak Saudara memikirkan, sehingga Saudara nggak langsung amin. Coba ya, menurut Saudara, kalau Saudara mau lebih meyakini apa yang saya katakan, bahwa gereja itu ternyata ya nggak jelek-jelek amat. Sederhana kok, sederhana kalau mau menyadari akan hal itu. Satu pertanyaan, ya. Saudara, adakah hal rohani yang Saudara dapatkan dari Tuhan, yang tidak Tuhan berikan kepada Saudara melalui gereja-Nya? Ada nggak? Ada nggak? Ada yang mau angkat tangan? Ada nggak ya, hal rohani yang Tuhan berikan kepada Saudara, yang tidak Tuhan berikan kepada gereja? Siapa tahu adakah di antara Saudara yang bertobat karena malaikat menghampiri Saudara, ada kah? Ya mungkin yang diinjili langsung oleh siapa? Tuhan Yesus atau siapa? Tidak ada, ya? Sehingga Semua saudara hari ini menjadi Kristen karena siapa? Gereja.
Dan bahkan, andai kata pun ada di antara Saudara yang percaya Yesus karena malaikat mendatangi Saudara. Setelah Saudara percaya Yesus pun, juga Saudara ke mana? Gereja. Ya, sehingga Saudara siapakah yang membaptiskan kita? Gereja. Mulai dari kita lahir, gereja membaptiskan kita dengan baptisan anak. Sampai kemudian kita mati, gereja itu yang memakamkan kita. Ketika orang tua kita meninggal, gereja itu yang tutup peti, gereja itu yang malam penghiburan, gereja itu yang memimpin, kemudian sampai peti mati itu dimakamkan atau dikremasi. Sehingga Saudara sadar atau tidak sadar, ya. Mulai kita itu awal menjadi orang Kristen sampai kita mengakhiri hidup Kristen kita, Saudara tidak terlepas dari, tidak terlepas dari gereja.
Sehingga Saudara sejauh mana ya, saat saudara akan mengamini kalimat berikut ini. Boleh tolong ditayangkan dari AUVI. Karena kalau saya boleh mengatakan, orang Katolik pasti akan langsung amin dengan kalimat ini. “Karena tidak ada jalan lain untuk memulai kehidupan, kecuali jikalau ibu ini mengandung kita di dalam rahimnya, melahirkan kita, memberikan kita susu, dan kecuali jika ibu ini membesarkan kita di bawah perhatian dan bimbingannya.” Tadi saya salah, ya, memberikan kepada AUVI dalam bentuk pdf, ya. Harusnya di dalam bentuk powerpoint. Kenapa? Karena kalau di dalam bentuk powerpoint, yang di bawahnya itu tidak keluar dulu itu. Sehingga karena sudah keluar yang di bawahnya John Calvin, ya. Kalau saya tanya kepada saudara, “Saudara setuju nggak dengan kalimat ini?” Ya saudara akan setuju ya, kenapa? Karena yang bawah, yang ngomong John Calvin, ya. Tidak berani kita mengatakan tidak setuju. Tapi kalau misalnya ya Saudara, kata yang di bawah itu tidak muncul, saya tidak tahu, ya. Kalau saya tanya kepada Saudara, “Saudara setuju tidak kalimat ini?” Karena kalau orang Katolik pasti setuju. Ibu di sini maksudnya siapa? Ibu di sini maksudnya siapa? Gereja. Begitu ya? Kalau orang Katolik ya, menyebut gereja sebagai ibu, amin. Tapi kalau orang reformed, gitu ya? Sekarang karena sudah ada John Calvin di bawahnya, Saudara akan “iya-iya”, “benar-benar”, gitu ya. Tapi kalau tidak ya, pengalaman menunjukkan orang protestan tidak akan gampang menyetujui kalimat ini. Bapa di surga? Amin. Gereja sebagai ibu? Masa? Begitu ya? Tapi Saudara, di sini jelas, Calvin itu yang mengatakan kalimat ini di dalam Institute of Christian Religion yang baru diterjemahkan oleh momentum itu. Calvin mengatakan apa? Tidak ada jalan lain untuk memulai kehidupan. Ini maksudnya kehidupan Kristen, kehidupan rohani, kehidupan di dalam Kristus. Kecuali jika ibu ini, gereja, mengandung kita di dalam rahimnya, melahirkan kita, memberikan kita susu. Kecuali jika ibu ini membesarkan kita di bawah perhatian dan bimbingannya.
Satu lagi ya, satu lagi dari John Calvin, dia mengatakan apa? Calvin mengatakan “kita melihat bagaimana Allah yang bisa menyempurnakan umatNya dalam sekejap mata, memilih untuk mendewasakan mereka semata-mata melalui didikan gereja.” Menurut siapa? Menurut Yohanes Calvin. Di mana? Di dalam Institute of Christian Religion buku yang keempat. Dari Christian Religion itu dibagi menjadi empat buku, yang paling panjang itu buku yang keempat. Buku keempat mengenai apa? Buku keempat mengenai gereja. Ya itu adalah yang paling panjang sebetulnya di dalam Institute of Christian Religion yang Calvin itu tuliskan.
Di sini kita melihat ya, Calvin dewasa. Dia tahu kalau Allah mau menyempurnakan kita langsung ya bisa sih, Allah bisa menyempurnakan kita dalam sekejap mata. Tapi bagaimana Allah di dalam hikmat bijaksananya, ternyata memilih untuk mendewasakan kita di dalam gereja. Dan permisi tanya Saudara, apakah hari ini menurut Saudara, gereja sepenuhnya gagal? Kalau gereja sepenuhnya gagal, bagaimana hari ini Saudara bisa berada di sini? Ya karena tadi, kita bukan hanya sekedar ketika bertobat tidak ada malaikat datang kepada kita. Demikian juga dalam hidup Kristen, juga ternyata betul ya, tidak ada malaikat juga yang datang kepada kita. Tapi ternyata Saudara bisa percaya Tuhan, Saudara bisa mengenal Tuhan, Saudara bisa di baptis, Saudara bisa bertumbuh, dan Saudara bisa setia kepada iman Kristen, dan hari ini Saudara bisa beribadah, siapa yang Tuhan itu pakai untuk membawa kita sampai hari ini? Saudara akui atau tidak akui, faktanya, realitanya, kenyataannya Tuhan memakai gereja-Nya. Sehingga pada waktu saya mendengar seseorang yang mengatakan, “aduh apa itu gereja? saya tidak mau diikat oleh gereja.” Begitu ya?
Sehingga kenapa seminar besok lusa itu bagi saya penting, ya karena hari ini kita hidup pada zaman penuh dengan free thinker. Yang kemarin di persetuan pemuda, saya sudah singgung. Tidak perlu gereja kok, hari ini ada Youtube, hari ini ada Instagram, hari ini ada TikTok. Di Youtube banyak khotbah, bahkan khotbahnya Pak Jimmy juga ada, khotbahnya Pak Tong juga ada, begitu ya? Di Instagram apalagi, di TikTok apalagi. Ya karena untuk membuat TikTok Saudara cuma perlu kamera dengan apa itu namanya, nggak perlu terlalu bagus-bagus juga, dan semua orang bisa ngomong, dan juga sepertinya tidak perlu gereja. Ya akhirnya saudara akan menjadi semakin kehilangan arah, semua diputusin sendiri.
Sehingga hari ini ya, kita hidup di zaman yang semua sepertinya saya bisa putuskan sendiri. Sehingga banyak orang Kristen kemudian ketika kamu jadi anggota gereja mana, waduh itu kok sepertinya terlalu formalitas, ya. Kita kan Kristen, begitu ya. Kita kan orang Kristen, kita kan di dalam Kristus, mestinya tidak boleh terikat oleh satu organisasi gereja. Ya nggak boleh terikat pada satu golongan gereja. Saya melayani Kristus bukan melayani gereja. Waduh luar biasa, ya? Kalimatnya seperti rohani, ya? Tapi permisi tanya ya, orang seperti ini kalau mau nikah nyari siapa? Nyari Tuhan? “Tuhan saya mau menikah, bolehkah Engkau mengutus Paulus untuk memberkati pernikahanku?” Begitu? Orang seperti ini kalau mau nikah, nyari siapa ya? Kemudian ketika dia mau dibaptis, cari siapa ya? Dia punya anak, anaknya mau dibaptis, cari siapa ya? Dia kemudian punya orang tua, orang tuanya meninggal, yang dia minta untuk memakamkan, siapa ya? Kalian kan betul. Saya ingin sekali mengatakan, “Kamu kan anak Tuhan seluruh dunia, ya? Kamu minta hamba Tuhan seluruh dunia dong.” gitu ya? “Untuk memberkati pernikahanmu.” Kenapa pada waktu menikah, kok mencari gereja lokal? Saudara, ini dewasa atau tidak? Permisi tanya, gitu ya. Sehingga orang dewasa itu bukan hanya tahu apa yang dia itu terima. Orang dewasa itu tahu apa yang dia itu beri, anak-anak tidak. Anak-anak tahu apa yang dia itu terima, untuk beri pun kita mesti ajari kan. “Eh, sudah omong terima kasih belum?” Itu anak-anak. Bahkan sudah diajari pun, berikutnya bisa lupa itu, kalau Saudara tidak ingatkan. Sehingga, oh iya-iya. Terima kasih, terima kasih. Nah itu anak-anak. Nerima senang, nerima suka, mengucapkan terima kasih pun itu kalau ndak diajari ndak langsung lho, ndak otomatis. Anak-anak itu kalau terima pemberian, otomatis mengatakan terima kasih, padahal hanya mengatakan terima kasih, ndak otomatis.
Sehingga hari ini kalau saya boleh mengatakan, kadang-kadang banyak anggota gereja seperti itu ya. Datang, jadi anggota ngomong, pergi nggak ngomong. Itu dewasa atau tidak? Dari sini kita melihat bedanya Paulus dengan banyak orang Kristen hari ini. Bukan karena orang Kristen hari ini itu lebih realistis, Paulus tidak kurang realistis, tetapi Paulus melihat gereja Tuhan itu dari suatu kedewasaan iman. Dan kita bersyukur ya, Yohanes Calvin juga melihat gereja dari kedewasaan yang sama. Dia tidak melepaskan pertumbuhan kita dari Tuhan, dia amini segala pertumbuhan itu berasal dari Tuhan, bahkan Tuhan itu bisa secara otomatis langsung mempertumbuhkan kita, tetapi dia juga melihat bagaimana Tuhan memakai gereja-Nya, untuk mempertumbuhkan kita. Sehingga amin ya, ndak ada lho ya, hal rohani yang baik yang Saudara terima dari Tuhan yang tidak Tuhan berikan melalui gereja-Nya.
Sehingga ya, sering kali ya, Saudara tahu nggak, kalau Saudara mau boleh ya, Alkitab kita ya, saya pernah kerja di Momentum ya. Alkitab kita itu kalau nggak disubsidi ya, itu mahal lho, ya karena Alkitab kita itu bagus. Mau coba sama-sama boleh, gitu ya. Ndak apa-apa lho. Ya. Ndak robek ini. Ini bukan magic lho. Karena memang, saya orang di Momentum cukup lama. Ini jahitannya bagus ini. ya, ini jahitan bagus sekali, dan kertasnya juga bagus. Ini kalau Harry Potter ya, pasti lebih tebal dengan jumlah halaman segini ya, nggak mungkin seringan ini, ndak mungkin sepraktis ini, ini saya tahu kertasnya mahal ini. Sehingga kalau bukan subsidi ya, Saudara nggak mungkin Alkitab seperti ini bisa Saudara dapatkan cuman dengan 100.000 atau di bawah 100.000. siapa yang men-subsidi? Siapa yang mendanai LAI, siapa juga yang mempersiapkan hamba-hamba Tuhan sehingga mereka bisa menerjemahkan Alkitab kita. Betul lho Saudara. Semakin Saudara pikirkan secara lebih dewasa, Saudara akan semakin mengamini apa yang tadi saya katakan, semua yang Tuhan berikan kepada kita. Tuhan berikan kepada kita melalui gereja-Nya.
Nah Saudara kenapa kesadaran ini penting? Kembali kepada tema sukacita kita ya, karena tadi yang pertama, kalau kita tidak dewasa, ya memang sulit sukacita ya, sehingga anak-anak kenapa gampang galau? Ya dia sudah menerima kasih orang tua begitu banyak, disekolahkan, baju dicucikan, dia nggak merasa orang tua gagal satu hal dia langsung merasa orang tua tidak mengasihi dia, yang dia pikirkan itu terus. Ya bagaimana bisa dia sukacita? Sehingga sering kali baru ketika kita mahasiswa ya, sering kali baru kita sadar ternyata baju itu tidak lurus sendiri ya. Sehingga banyak orang mengatakan, setelah merantau mahasiswa merantau terus lebih sayang Mama. Sehingga untuk pertama kalinya Saudara tahu ya, sepatu ini tidak bersih sendiri, baju ini tidak bersih sendiri ya, ternyata pakai sekali, perlu cuci sekali. Siapa yang selama ini cuci? Mama gitu ya. Baru sadar kasih orang tua kepada kita. Sehingga selama kita tidak dewasa itu ya di dalam hidup Kristen kita, kita susah sukacita, karena Saudara lihat yang jelek sedikit, itu yang masuk dalam pikiran kita, semua lain kita take it for granted. Wajar Mama bersihkan, Mama masakkan bagi saya. Wajar. Ya mana bisa sukacita kalau seperti itu. Ini yang pertama ya. Sehingga kenapa kita sulit sukacita seperti Paulus? Karena jangan-jangan kita kurang dewasa yang ditunjukkan dengan bagaimana kita memandang gereja Tuhan.
Lalu juga yang kedua ya, kenapa kalau kita memandang gereja secara salah, kita sulit sukacita. Karena di luar gereja, di luar gereja, Saudara sering kali sulit untuk mengamini kuasa penyertaan Tuhan secara konkret. Perhatikan sekali lagi, apakah orang Kristen percaya Allah mengasihi dia? Amin. Tetapi kalau ditanya buktinya apa? Banyak orang Kristen akan bingung. Kalau orang karismatik akan mengatakan karena saya kaya. Orang Reformed mengatakan ya nggak gitu. Kalau nggak gitu terus gimana? Sering kali ya, pada waktu kita berbicara, sering kali ya, pada waktu bicara kuasa Tuhan kita amin. Sering kali ya, kita hanya mengaitkan dengan masa lalu. Apa buktinya Allah mengasihi saya? Yesus mati bagi saya, Yesus menebus dosa saya. Yesus menyelamatkan saya. Pastinya itu ndak salah, tapi kalau saya boleh tanya, Yesus mati bagi kitanya kapan? Itu past tenses, future tenses, atau present tenses? Yesus mati bagi kita itu kapan? Ya 2000 tahun yang lalu betul ya. Yesus mati bagi kita kapan? 2000 tahun yang lalu, kapan Yesus menyelamatkan saya, mungkin sekian puluh tahun yang lalu pada waktu saya menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat. Lalu kapan lagi Yesus menyatakan kuasa-Nya? Nanti ketika Dia datang kedua kali. Kapan Yesus menyatakan kasih-Nya secara ultimat? Nanti ketika di Surga ada di langit dan bumi yang baru. Sehingga hari ini ya, apa yang membuat orang Kristen sulit bersukacita gitu ya? Karena ketika mereka melihat kuasa dunia ini mereka melihat masalah sekarang.
Indonesia dulu gelap, akan gelap atau sedang gelap? Yang mana? Wah kemarin sudah ikut RCRS semua ya, jadi nggak Pak, nggak gelap. Banyak orang mengatakan sudah gelapnya itu kapan? Sekarang. Indonesia sedang gelap. Yang mau kabur yuk itu dulu, masa depan atau sekarang? Sekarang, sehingga masalah sekarang. Barusan tadi pagi ya, saya menerima itu daftar jumlah klasmen BUMN dengan jumlah korupsi terbanyak. Peringkat satu sudah bukan Triliun ya, KD Kuadriliun atau apa. Sehingga Saudara sulit ya bersukacita. Masalahnya sekarang Yesus mati buat kita, ya amin sih, dulu. Yesus akan menghakimi koruptor? Ya amin sih, nanti. Sehingga kalau seperti ini menurut Saudara ya, Saudara bisa sukacita nggak? Masalahnya sekarang, penyertaan Tuhannya kalau nggak dulu nanti. Gelapnya sekarang. Terangnya sekarang ya nanti, ketika Yesus datang akan membawa terang itu nanti. Atau dulu ketika Dia datang terang dunia. Dulu Yesus datang terang dunia, nanti datang lagi terang lagi. Berarti sekarang ya wajar kenapa kok gelap, karena nggak ada terang ya. Sehingga Saudara lihat ya, lepas dari gereja, Saudara akan melihat kuasa kebaikan Tuhan meskipun kita mengamini. Saya percaya Saudara akan mengamini Tuhan berkuasa, saya percaya Saudara amin Tuhan mengasihi Saudara, saya percaya amin, kenapa sering kali itu tidak bisa atau masih sulit menolong kita hidup dengan penuh sukacita? Ya karena tadi ya Tuhan mengasihi saya, tapi Tuhan di surga, masalah saya di bumi, sehingga bagaimana Tuhan bisa menolong saya?
Jadi hari ini saya mengatakan keyakinan seperti ini timbul karena Saudara melepaskan pekerjaan Tuhan itu di dalam gereja, ya. Kalau Saudara memperhatikan apa yang Tuhan kerjakan melalui gereja-Nya? Saudara suka nggak suka, faktanya, realitanya ya, kenyataannya ya, kuasa dan kasih Tuhan dinyatakan dan dinyatakan sampai saat ini melalui siapa? Melalui gereja-Nya. Dan Saudara saya mengatakan ini ya, dalam pengertian yang sekomprehensif mungkin, bukan hanya dalam pengertian rohani. Sehingga mungkin saya perlu menunjukkan, ya. Menurut Saudara, ya –saya mengatakan sebagai satu pujian, ya, bukan sebagai suatu kritikan, ya– ada enggak, ya perusahaan internasional yang lebih lama, lebih tua daripada Gereja Katolik? Ada ndak, ya? Ada nggak? Perusahaan apa hari ini yang umurnya setua gereja, bisa bertahan seperti gereja? Ada nggak? Microsoft atau Google atau apa, gitu? Ada nggak? Saudara, amin nggak, ya kalau saya mengatakan, ya: Gereja Katolik itu perusahaan tertua di dunia, lho. Amin? Dan sekali lagi, ya. Saya mengatakan ini sebagai pujian, ya, bukan sebagai kritikan. Begitu, ya. Dan itu betul! Gitu, ya. Menurut Saudara, ya. Satu katedral yang di Jakarta itu, kalau mau beli itu, Starbucks harus jual kira-kira berapa ratus gerai, gitu? Ya, di Indonesia saja, ya. Saya pernah sekali survei gitu, ya. Starbucks itu ada berapa, ya? Tiga ratus atau ada berapa gitu, ya, di sekitar pulau Jawa? Banyak, sih. Tapi kira-kira perlu jual berapa untuk bisa dapat satu katedral yang di Jakarta itu? Dan di Jogja juga ada katedral, ya. Di Solo ada katedral. Di Semarang ada katedral. Betul, kan? Ya, kira-kira menurut Saudara, ya. Itu, mana: Tesla atau lebih besar mana, ya antara Tesla dengan gereja, ya? Asetnya lebih banyak mana menurut Saudara itu? Kita tidak terpikir. Betul, ya?
Dan, bahkan bukan hanya Gereja Katolik. Saya seringkali heran, ya khususnya kita di GRII, ya, khususnya kalau Saudara ikut masterclass. Ya, sudah lah, saya nggak percaya Saudara heran. Saya nggak tahu Saudara heran atau nggak heran. Saya heran sih. Ya, karena kan hari ini semua mengatakan itu Indonesia sedang gelap, ya. Daya beli masyarakat berkurang, ya. Kalau Saudara ikut juga IG, ya. Mall yang dulu rame sekarang sepi gitu, ya. Dilihatkan gambar mall –apalagi di Jakarta, ya– dengan apa tuh namanya begitu banyaknya mall. “Wah, banyak mall yang dulu rame, dulu legend, sekarang sepi!” Banyak itu. Ya, sekarang pun, sekarang sudah masa-masa puasa, ya. Tingkat daya beli masih berkurang, ya, sehingga mungkin karena itu liburannya diperpanjang gitu, ya. Haleluya, ya: Dari 24 Maret ke 21 Maret sudah libur, gitu. Ya, sehingga hari ini kan itu yang terus kita dengar sehingga kadang-kadang saya heran lho, heran, ya. “Kok Indonesia seperti ini?” Ya, tapi kok herannya GRII kok bisa terus? Ini mau bangun, ya. Cabang itu mau bangun. Jogja: puji Tuhan ini sudah boleh selesai gitu, ya. Kemudian, sekarang ini Kupang lagi bangun. Ini Ambon lagi bangun. Kemudian Medan –ini lagi sudah dapat izin– mau bangun. Kemudian Tokyo: ini lagi bangun, Tokyo, ya. Kemudian Singapura: ini kalau kita dapat izinnya, itu akan mesti mulai bangun. Sydney juga: ini lagi beli tanah, bangun. Melbourne: ini juga lagi bangun begitu, ya. Perth: Perth juga barusan saja pindah ke tempat yang, tempat yang baru. Itu kuasa dari mana? Gitu, ya. Dan itu fakta, lho. Gitu, ya.
Saudara kalau ikut Masterclass harusnya Saudara tahu yang semua yang saya omongkan tadi itu benar. Itu kuasa, kuasa dari mana? Apakah kuasa manusia? Saudara boleh percaya ketika Pak Tong mengatakan, “Uang dari mana, saya tidak tahu.” Itu betul! Gitu, ya. Ya, karena beliau mau menjual semua koleksi jamnya, beliau mau menjual semua hartanya, ya ndak dapet lah. Untuk satu CIT, 100 triliun, ya ndak dapet lah. Uangnya dia itu mau sekian triliun begitu, ya, dia mau dapat uang itu dari, dari mana begitu? Ya ndak ada! Tapi herannya, ya, kenapa kok bisa satu, satu, satu, satu, itu kemudian jadi, ya? Itu kuasa siapa? Itu pertolongan, pertolongan dari mana?
Dan yang lebih heran lagi, ya. Kalau Saudara juga menyadari: ndak ada, lho agama, ya yang dari sejak awalnya pernah dianiaya sebesar orang Kristen, sebesar Kekristenan, dan hari ini bisa menjadi agama nomor satu, ya? Hari ini, ya, Kristen plus Katolik tetap adalah agama terbanyak di dunia! Faktanya begitu! Saudara boleh tanya Google, Saudara mau tanya Meta, Saudara mau tanya yang lain, akan mengeluarkan hasil yang sama. Demikian juga fakta, lho: ndak ada lho, ya, –agama, ya– yang di awal berdirinya pernah mengalami penganiayaan itu seperti Gereja Tuhan! Ndak ada! Tahun 70, ya itu adalah penganiayaan terbesar yang pernah dialami oleh semua agama di mana pun yang bisa bertahan. Meskipun –perhatikan, ya– jumlah orang Kristen yang mati di abad-19, martir, itu sama. Tidak kalah banyak dengan yang mati di abad pertama. Jangan pikir hari ini Kekristenan sudah ndak ada Martir, ya. Jumlah martir di abad yang ke-20 gitu, ya, itu tidak kalah banyak dengan jumlah martir di abad yang pertama. Cuma bedanya adalah secara jumlah martir memang nggak kalah banyak, tapi secara jumlah orang Kristen kan ndak bisa dibandingkan! Hari ini ada 2,5 miliar orang Kristen. Katakanlah –misalnya saja– martirnya itu 100 ribu, ya. Berapa, ya? Satu persen? Di bawah satu persen? Betul, ya? Tetapi di gereja mula-mula jumlah orang Kristen, kan baru sekian puluh ribu. Dan pusat penganiayaan terjadi di Yerusalem dan terjadi di Roma, ya. Sehingga penganiayaan di abad pertama, ya itu menimpa hampir 80 – 90% orang Kristen. Bisa bertahan, ya. Itu anugerah Tuhan: besar dan besar sekali, lho! Betul, ya? Nggak ada agama, lho yang bisa menjadi besar, ya ketika dalam satu masa –apalagi masa masih begitu kecil, ya– 80 sampai 90% pemeluknya itu terancam mati! Yaitu bagaimana kita melihat Kekristenan, ya: dimulai dari situasi seperti itu, hari ini, ya bisa menjadi seperti ini, ya.
Saya pernah membaca sebuah tulisan, ya sebuah buku dari Stephen Neill. Ya, dia adalah salah seorang yang mempelajari mengenai misi. Dia tulis buku mengenai sejarah misi, ya. Dia membuat satu kalimat besar, ya. Dia mengatakan, “Pada abad yang ke-19 untuk pertama kalinya di dalam sejarah umat manusia, sejak Adam, ada sebuah agama yang boleh disebut sebagai agama global: Kekristenan.” Gitu, ya. Dan Saudara perlu tahu, ya. Stephen Neill bukan karena dia Kristen dia ngomong begitu, ya. Orang ini datanya luar biasa, lho! Kalau ndak percaya, ya saya kasih satu bukti, ya. Dia mengatakan –dia tahu– Kekristenan pertama kali masuk ke Indonesia, masuk ke Jawa, masuk ke Jawa Timur, masuk ke Wiyung. Di sini siapa yang tahu Wiyung boleh angkat tangan? Ndak ada satu pun tahu Wiyung, kan? Ya, orang, ada, nggak ada, nggak ada satu pun yang tahu Wiyung? Betul? Kalau ada boleh angkat tangan kah supaya saya tahu bahwa Saudara dan saya berasal dari provinsi yang sama? Oh, Pak Taufik begitu, ya. Yang lain enggak ada yang tahu Wiyung, ya? Nah, Saudara, kalau Saudara tahu Wiyung, saya akan nanya, “Dari Jawa Timur, ya?” Atau, “Pernah ke Jawa Timur, ya?” Karena selain di luar orang Jawa Timur, ya, Saudara, sangat langka orang tahu Wiyung.
Ya, saya pada waktu studi di Singapura, ya. Seringkali saya jengkel karena mereka suka mengajukan tiga pertanyaan. Gitu, ya. Pertanyaan yang pertama: “Kamu dari mana?” “Indonesia.” Pertanyaan yang kedua: “Indonesia, dari mana?” “Surabaya.” Pertanyaan yang ketiga: “Surabaya di mana, ya?” Nah, itu. Gitu, ya. Jadi orang Singapura pun ndak banyak tahu Surabaya. Bali tahu. Tapi ini, ya, ada orang bule bisa tahu ada kota kecil di Surabaya. Bahkan daerah kecil sih, bukan kota, ya Wiyung itu, ya. Wiyung itu satu daerah kecil di Surabaya: namanya Wiyung. Dan pada waktu sekali saya naik taksi gitu, ya, coba ajak ngomong sopir taksinya. Eh, ternyata dia Kristen. Ternyata dia GKJW: Gereja Kristen Jawi Wetan. Saya baru tahu dari sopir taksi itu, ya. GKJW pertama di Jawa Timur itu di Wiyung. Wah, Stephen Neill ini luar biasa, ya! Orang bule bisa tahu di Indonesia ada satu tempat yang namanya Wiyung.
Dan dia mengatakan kalimat tadi ya, dia mengatakan bahwa sejak zaman Adam, pertama kali ada agama yang boleh disebut sebagai agama global itu adalah agama Kristen pada abad yang ke-19. Dari awal yang sedemikian penuh dengan tekanan. 300 tahun pertama kekristenan, ada 10 penganiayaan besar. Yang paling besar, itu yang pertama di tahun 70. Yang kedua terbesar itu adalah yang terakhir, di awal abad yang ke-4. Itu semua orang mengatakan mukjizat. Kalau kekristenan itu masih bisa ada, itu mukjizat. Karena yang menganiaya tidak lain tidak bukan adalah negara Roma. Negara Roma itu sendiri! Tapi puji Tuhan ya, hari ini, nah ini Saudara lihat, ini penting ya, kekristenan itu tidak hanya “pokoke”. Pokoke Tuhan mengasihi kamu. Pokoke Tuhan berkuasa. Tidak! Sehingga Saudara mengatakan betulkah Tuhan berkuasa? Ya saya tinggal lihat ajak Saudara lihat, ya betul nggak lho? Gereja hari ini berkembang nggak? Ya MRII Yogyakarta sekarang punya gedung seperti ini bersyukur nggak? Terakhir saya ke Jogja itu 12 tahun yang lalu, Saudara itu masih di satu ruangan di satu gang. Satu ruangan di satu gang dengan ruang kebaktian yang very, very simple sekali. Kalau saya nggak salah itu cuma dindingnya itu dicat dengan keramik di bawah, dengan mimbar yang kecil dan saya mengisi di sana sekitar 12 tahun yang lalu. Hari ini, nah Saudara sekali lagi ya, sejauh mana kita melihat. “Ya, ini kan wajar.” Ya sejauh mana kita menyadari ya Tuhan mengatakan kuasa-Nya. Dan Tuhan menyatakan kuasa-Nya melalui gereja-Nya. Bahkan Tuhan menyatakan kuasa-Nya melalui gereja-Nya meskipun gereja penuh dengan kelemahan.
Sehingga Saudara, ini pertanyaan penting ya, sejauh mana Saudara mau bersuka cita? Sejauh mana kita mau belajar dewasa? Dan sejauh mana kita melihat kuasa Tuhan dinyatakan di dalam gereja-Nya? Hari ini banyak orang Kristen yang tidak mau berbagian di dalam gereja. Kalau boleh saya bandingkan ya, seperti hari ini banyak orang yang punya anak susah ya, sehingga itu kenapa nggak usah punya anak sehingga saya bisa vacation ke sana, sehingga saya bisa staycation ke situ. Betul! Ya Saudara kalau nggak punya anak, Saudara nggak perlu nabung untuk uang sekolah anak. Betul! Saudara nggak punya anak, Saudara nggak usah kuatir nanti anak Saudara jatuh kepada pornografi. Betul! Saudara nggak punya anak, Saudara kemudian bisa langsung pasangan suami istri, staycation ke mana, vacation ke mana. Betul! Tapi setiap orang yang punya anak akan tahu, ya betul sih, kamu memang mendapatkan sukacita yang kami nggak dapat karena kami punya anak. Mesti pikir uang sekolah anak. Mesti pikir capek-capek pulang melakukan sesuatu, eh anak sakit, harus bawa dia ke dokter. Tapi setiap orang tua yang melihat anaknya jadi, nggak mungkin akan mau, “Waduh tahu begitu saya nggak punya anak ya.” Nggak lho! Tidak lho!
Sehingga memang, Saudara tidak berbagian di gereja, sepertinya enak. Sepertinya enak ya hanya Minggu saja datang. Ketika datang juga lampu, semuanya ini sudah ada, sementara yang jadi pengurus kemarin wah bingung ya, ini kemarin ada satu masalah di dalam bass nya. Ini tinggi, naiknya bagaimana. Sementara Saudara datang, wes pokoknya sound systemnya bagus, penataannya bagus, AC nya dingin. Setelah itu pulang, Minggu depan datang ke sini lagi. Ya, Saudara akan dilepaskan dari banyak kesulitan. Tapi sama seperti tadi ya, Saudara akan sulit juga melihat betul-betul kuasa Allah dinyatakan. Saudara akan sulit juga melihat bagaimana penyertaan Allah itu dinyatakan. Sehingga akhirnya ya, ketika kita menghadapi situasi sehari-hari, kita merasa di mana ini kasih Tuhan. “Tuhan kan di surga, sementara masalah saya kan di Bumi.” Ya sementara bagi setiap orang yang sungguh-sungguh berbagian di dalam gereja, kita bersyukur ya boleh berbagian di dalam gereja Tuhan di tempat ini, kita akan melihat betul ya GRII bukannya sempurna, GRII juga banyak kelemahan, GRII juga banyak masalahnya, tapi puji Tuhan ya, Tuhan masih boleh berkasih karunia, Tuhan masih boleh menyertai, Tuhan masih boleh menyatakan kuasa-Nya dan menyatakan kuasa-Nya pada hari ini.
Sehingga boleh kah kita belajar seperti Paulus? Bolehkah kita lebih dewasa di dalam hidup rohani kita? Tidak hanya melihat kelemahan daripada gereja, tapi melihat juga faktanya, melalui gereja, hari ini kita ada. Dan bolehkah juga di dalam gereja kita semua berbagian sehingga kuasa Tuhan, penyertaan Tuhan boleh lebih nyata lagi di dalam hidup kita. Amin. Mari kita berdoa.
Bolehkah saya rindu meminta Saudara hari ini, saat ini berdoa di hadapan Tuhan. Bolehkah secara khusus, saya tahu Saudara pastinya sering bersyukur karena kasih Tuhan, sering bersyukur karena anugerah Tuhan. Bolehkah hari ini Saudara secara khusus datang di hadapan Tuhan bersyukur karena Tuhan di dalam hikmat bijaksana-Nya, Tuhan yang bisa menyempurnakan Saudara dalam sekejap mata memilih untuk memakai gereja-Nya, gereja-Nya yang penuh dengan kelemahan, tetapi Tuhan masih boleh pakai untuk boleh memimpin Saudara hingga hari ini. Bukankah itu layak disyukuri? Bukankah itu layak untuk membuat kita seperti Paulus berterima kasih kepada Tuhan? Sehingga saya ingin memberikan kepada setiap Saudara kesempatan pada hari ini berterima kasih lah kepada Tuhan karena gereja-Nya. Bersyukurlah kepada Tuhan karena gereja-Nya. Mari setiap kita berdoa di hadapan Tuhan pribadi lepas pribadi.
Bapa di dalam kerajaan Surga, kami sungguh bersyukur sekali lagi ya Tuhan untuk apa yang boleh kami renungkan bersama-sama. Ampunilah kami ya Tuhan kalau kami secara kami tidak sadari, di dalam hidup Kristen kami, mungkin kami ternyata, mirip ya Tuhan, dengan anak-anak, yang kami hanya melihat kelemahan demi kelemahan dan demi kekurangan dan demi kekurangan tanpa kami melihat betapa di dalam gereja-Mu ya Tuhan, Engkau menyatakan kasih-Mu kepada kami, melalui gereja-Mu ya Tuhan, Engkau menegur kami, melalui gereja-Mu ya Tuhan, Engkau melayani kami ya Tuhan, melalui gereja-Mu ya Tuhan, Engkau mempertumbuhkan kami. Ajarkan kami melihat, bagaimana kasih Tuhan dinyatakan melalui gereja. Ajar kami juga melihat ya Tuhan, bagaimana kuasa Tuhan juga dinyatakan di dalam gereja-Mu. Ya Tuhan, dan tolonglah kami, supaya kami jangan hanya menjadi tamu. Tolonglah kami supaya kami jangan hanya menjadi orang yang melihat dari kejauhan. Tapi biarlah kami juga boleh berbagian bersama-sama, meskipun memang ya Tuhan, itu akan memberikan beban kepada kami. Tapi biarkan kami boleh melihat, di tengah-tengah segala beban ini, kuasa Tuhan, penyertaan Tuhan dinyatakan dengan lebih konkret lagi di dalam hidup kami. Terima kasih ya Tuhan, kami sungguh bersyukur ya Tuhan sekali lagi hamba-Mu sungguh bersyukur untuk GRII Jojga yang hari ini boleh ada. Kami sungguh bersyukur untuk gedung yang sedemikan baik yang Tuhan boleh karuniakan kepada jemaat Tuhan di tempat ini. Dan hamba-Mu berdoa ya Tuhan, kiranya oleh pertolongan Tuhan, oleh kemampuan daripada Tuhan, biarlah sungguh-sungguh GRII Jogja ini boleh menjadi berkat bagi lebih banyak orang, bagi lebih banyak orang, bagi lebih banyak orang lagi ya Tuhan, khususnya mereka yang berada di daerah sekitar ini dan mereka yang berada juga di Jogja. Terima kasih ya Tuhan, kami juga berdoa bagi para mahasiswa di tempat ini ya Tuhan, biarlah kami juga mengingat bagaimana Engkau boleh membesarkan kami, memimpin kami di dalam gereja-Mu. Sehingga andaikata pun kami setelah selesai studi, kami kembali ke kota kami masing-masing, Tuhan pimpin kami supaya kami boleh sungguh-sungguh boleh menemukan gereja Tuhan yang baik, dan kami juga boleh berbagian di gereja di mana Tuhan menempatkan kami. Suara manusia sudah berlalu, kiranya Roh Kudus Tuhan yang boleh terus berbicara dan menyatakan kehendak Tuhan kepada kami. Dalam nama Yesus kami berdoa dan kami bersyukur. Amin. (HS)
