Sesungguh-sungguhnya (3), 9 Maret 2025

Sesungguh-sungguhnya (3)

Yoh. 5:1-24

Pdt. Dawis Waiman, M. Div

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita berbicara mengenai tema “sesungguhnya” atau “truly, truly” pada bagian ini, itu lebih menyorot kepada ayat yang ke-24, di mana Yesus berkata, “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percayakepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum,sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” Apa yang dimaksud dengan “sesungguhnya” itu? Kita sudah membahas bahwa ”sesungguhnya” itu adalah sesuatu yang memiliki arti sama dengan “amin” atau sesuatu yang pasti terjadi atau sesuatu yang sungguh benar seperti itu. Dan pada waktu kita berbicara mengenai “sesungguhnya” ini dan kita kaitkan dengan seluruh daripada Injil Yohanes, maka ada 1 hal yang kita perlu diingatkan kembali, pada waktu kita membaca Injil Yohanes dan secara khusus Yohanes pasal yang ke-5 ini, Yohanes menulis Injilnya dengan satu tujuan untuk diberikan kepada kita yaitu supaya kita mengenal siapa itu Mesias dan kita tahu bahwa Dia adalah Anak Allah sehingga melalui iman kita kepada Mesias atau Yesus Kristus itu, kita bisa beroleh selamat atau hidup di dalam nama-Nya. Ini, kita bisa baca dalam Yohanes 20:30-31. Dan pada waktu kita membaca Yohanes pasal yang ke-5 ini, apa yang menjadi perkataan Yohanes di dalam Yohanes 20 itu sungguh-sungguh menjadi satu pertentangan yang terjadi di antara Yesus Kristus dengan orang-orang yang merupakan orang, mungkin, Farisi atau orang Yahudi atau mungkin para polisi Sabat yang berpatroli pada waktu hari tersebut.

Dan apa yang menjadi masalah yang membuat mereka ingin membunuh Yesus Kristus? Yaitu ada satu masalah yang penting karena mereka betul-betul menyadari Yesus sedang mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan status atau derajat-Nya di hadapan orang banyak ini. Yesus sedang mengatakan siapa sesungguhnya diri-Nya. Dia bukan sekedar manusia saja, sama seperti semua manusia yang lain. Dia bukan hanya seorang nabi manusia yang diutus ke dalam dunia ini untuk menyampaikan perkataan Tuhan kepada manusia atau umat Allah di dalam dunia ini. Tetapi, pada waktu Yesus Kristus berkata bahwa seperti Bapa yang bekerja dan Anak bekerja dan Anak tidak dapat bekerja atau mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa itu juga yang dikerjakan Anak, maka hal itu membuat orang-orang Yahudi menyadari satu hal: Yesus bukan hanya sedang berbicara Dia adalah Nabi Tuhan, tetapi Dia sedang meninggikan diri-Nya sampai pada derajat Allah sendiri. Atau Dia sedang mengklaim kalau diri-Nya adalah Allah, itu yang membuat Dia bisa melakukan hal-hal yang Dia lakukan kepada orang yang lumpuh itu. Nah, ini membuat orang-orang yang menjadi polisi Sabat pada waktu itu yang berpatroli untuk mengamati adakah orang yang melanggar hukum Sabat itu dilakukan dan mereka akan siap untuk menangkap orang itu dan siap untuk menghukum orang tersebut.

Ketika kita berbicara mengenai hal ini, J. C. Riley itu mengatakan ini adalah satu pernyataan dari Yesus yang sangat mendasar sekali, yang sangat penting sekali berkaitan dengan siapa diri Yesus Kristus itu. Dan ini membuat kita kemudian bertanya mungkin, apa yang menjadi konteks sehingga percakapan ini muncul? Dan itu membuat kita harus membaca dari ayat 1-18 yang tadi kita baca mengenai penyembuhan orang pada hari Sabat. Dan di sini dikatakan bahwa pada waktu Yesus sedang berjalan-jalan di kolam Betesda. Dan pada waktu Dia berjalan di kolam Betesda, Dia menemukan ada seorang yang sudah lumpuh selama 38 tahun di dalam kehidupan dia. Dan selain dari orang lumpuh ini, ada begitu banyak orang sakit lainnya yang ada bersama-sama dengan orang ini yang mungkin berbaring atau menunggu, mengitari kolam Betesda tersebut. Apa yang menjadi tujuan mereka menunggu di sana? Ada satu kepercayaan yang saya tidak akan katakan apakah itu benar atau diperdebatkan, apakah itu benar atau tidak benar, apakah itu adalah satu mitos atau tidak, tapi saya percaya bahwa kalau Alkitab berkata seperti ini adalah sesuatu yang kita perlu percayai. Dan pada waktu mereka mengumpul di sekeliling dari kolam Betesda itu, tujuannya untuk apa? Karena mereka percaya bahwa kalau ada goncangan di dalam air itu, berarti malaikat dari Allah telah turun untuk menggoncang air itu dan setiap orang yang terjun ke dalam kolam itu yang pertama masuk ke dalam kolam itu, maka dia akan disembuhkan dari segala macam penyakitnya. Dan orang lumpuh ini menjadi salah satu orang yang ada di sana, yang berbaring dan menunggu kolam itu digoncangkan. Dan pada waktu Yesus datang menariknya adalah ada begitu banyak orang yang sakit yang mengharapkan kesembuhan pada waktu itu, tetapi yang Yesus setujui hanya satu orang saja, itu orang yang sudah lumpuh selama 38 tahun hidup.

Kalau kita tanya seperti ini ya, apa yang membuat Yesus datang kepada orang yang 38 tahun lumpuh itu? Kenapa Yesus tidak pergi ke antara orang-orang lain yang juga mengalami sakit tersebut? Mungkin kita mulai berpikir bahwa, Oh, mungkin ia adalah orang yang paling dikasihani, dia adalah orang yang sudah 30 tahun, 38 tahun lumpuh, maka dia adalah orang yang perlu didapatkan perhatian yang lebih daripada semua orang yang lainnya itu. Saya kira kalau itu yang menjadi jawaban kita atau pemikiran kita maka kita mungkin akan berkata bahwa orang-orang yang lain pun mungkin adalah orang-orang yang sudah mengalami sakit puluhan tahun juga, walaupun mungkin mereka tidak mengalami kelumpuhan di dalam hidupnya atau seperti orang yang lumpuh kakinya ini. Tetapi kalau kita kemudian bertanya mungkin orang lumpuh itu lebih baik daripada orang orang-orang lain pada pada waktu itu, maka kalau Saudara perhatikan di dalam ayat yang ke 10 dan ke atas, ketika orang lumpuh itu ketangkap basah oleh polisi Sabat yang bertanya, “Kenapa engkau angkat tilammu itu?” Itu bukan sekedar tikar mungkin, itu adalah sesuatu yang mungkin cukup berat yang menjadi tempat dia tidur itu. Dia kemudian berkata, “Ada orang yang meminta aku untuk mengangkat tilam ini.” Dan dia tidak tahu siapa orang itu, tetapi pada waktu dia sudah tahu siapa orang itu di dalam Bait Allah, dia cepat-cepat pergi cari polisi Sabat itu untuk memberitahukan kepada polisi Sabat, Dia adalah Yesus Kristus.

Nah, ini membuat ada yang menafsirkan seperti ini, kalau kita berpikir orang ini adalah orang yang lebih baik daripada orang-orang sakit lainnya, kita salah besar karena ini bukan karakter yang baik. Bagaimana mungkin seorang yang sudah mendapatkan kesembuhan dari orang yang dia akhirnya tahu siapa dia, orang yang betul-betul mengharapkan pemulihan tetapi nggak ada satu pun yang bisa menolong dia dan nggak ada kesempatan untuk bisa masuk ke kolam itu, sekarang dia tidak perlu lagi menyeburkan diri ke dalam kolam itu, dia sekarang bisa bangkit dan berjalan sekarang mengadukan orang itu adalah Yesus Kristus sehingga dia harus berhadapan dengan polisi Sabat dan mempertanggungjawabkan perbuatan yang Yesus lakukan itu. Nah, ini membuat, tadi saya katakan, kelihatannya orang ini bukan orang yang baik, kelihatannya orang ini bukan lebih baik daripada orang-orang sakit yang lainnya yang mengharapkan kolam itu untuk digoncangkan oleh malaikat dan mereka disembuhkan.

Tetapi di sini Yesus datang justru kepada orang yang lumpuh itu yang sudah 38 tahun tidak bisa berjalan, artinya apa? Tidak ada kesempatan bagi diri dia untuk bisa berdiri dan mungkin berjalan kembali kecuali betul-betul mukjizat dari Tuhan Allah. Dan pada waktu Yesus datang kepada diri dia, Yesus bertanya “Maukah engkau sembuh?” lalu orang ini jawabnya apa? Dia nggak punya pemikiran sama sekali siapa Yesus itu, dia tidak kenal Yesus Kristus dan dia juga mungkin berpikir dalam hatinya mungkin ada orang yang baik yang membantu saya untuk mengangkat saya memasukkan saya ke dalam air kolam itu ketika kolam itu bergoncang. Tetapi masa dia mau menunggui saya setiap hari di sini, makanya dia kemudian berkata kepada Yesus, tentu aku mau untuk disembuhkan tetapi tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam ini atau kolam itu apabila airnya mulai goncang dan sementara aku menuju ke sana orang-orang lain sudah mendahului aku masuk ke dalam kolam itu.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya kira itu adalah salah satu ungkapan putus asa yang dia miliki kepada Yesus Kristus. Dan pada waktu dia mengungkapkan itu kemudian Yesus berkata kepada dia, “nggak usah ada orang angkat engkau ke dalam kolam, tetapi hari ini juga, sekarang juga bangunlah, bangkitlah dan berjalanlah.” Maka orang itu seketika memiliki kaki yang kuat dan dia bisa berjalan. Tetapi pada waktu hal itu terjadi, Yohanes mengajak kita melihat ternyata hari itu adalah pada hari Sabat. Apa kepentingan hari Sabat di sini? Orang-orang Yahudi, khususnya para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, mereka sangat menekankan sekali pada satu pengajaran di hari Sabat tidak boleh ada orang yang bekerja. Di hari Sabat, kalau ada orang yang bekerja ia pasti akan mendapatkan hukuman yang berat. Kalau ada orang yang sampai menyuruh orang bekerja pasti dia adalah orang yang bukan seorang yang takut akan Tuhan dalam hidupnya.

Mengapa prinsip ini bisa muncul? Karena pada waktu kita melihat kembali ke dalam sejarah orang-orang Israel, maka salah satu sebab orang-orang Israel dihukum dan dibuang oleh Tuhan karena mereka tidak mematuhi peraturan Sabat yang bersumber dari Tuhan. Mengkhususkan satu hari untuk beribadah di hadapan Tuhan. Memang kalau kita lihat di dalam 10 perintah Allah, hukum Sabat itu tidak didahului dengan satu kata larangan. Jangan ada allah lain di hadapan-Ku atau jangan menyembah patung dalam wujub apapun baik di langit di atas, di bumi di bawah, dan di air di bawah bumi ini, jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan, atau jangan membunuh, jangan berzinah dan yang lain-lainnya. Tetapi ini adalah satu hukum yang dimulai dengan kata “ingatlah”, ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat.

Dan saya nggak tahu kenapa Tuhan menggunakan kata ingat di situ dan bukan jangan di situ, tetapi mungkin ini menjadi suatu dasar, kita berpikir pada waktu sekarang ini, kalau itu adalah “ingat” berarti otoritas dari tuntutan hukum terhadap pelanggaran terhadap hari Sabat itu lebih rendah dari tuntutan yang lain yang dimulai dengan kata “jangan” itu. Makanya itu menyebabkan orang-orang Israel pada waktu itu tidak terlalu mengutamakan Sabat. Nah itu juga mungkin yang menyebabkan orang-orang Kristen hari ini tidak terlalu mementingkan hari Sabat, hari Minggu untuk beribadah kepada Tuhan Allah. Tapi di zaman itu, orang-orang Yahudi dihukum karena mereka melanggar Sabat di dalam kehidupan mereka. Memang dimulai dengan “ingat”, tetapi kata “ingat” bukan berarti tuntutan, akibat dari konsekuensi melawan 10 perintah Allah itu lebih rendah dari perintah-perintah yang lain; sama-sama hukumannya adalah mati seperti yang terjadi pada zaman Musa. Nah ini membuat orang-orang Farisi, ahli Taurat, pemimpin agama Yahudi sepertinya mengalami saya pakai istilah “trauma”, jangan sampai peristiwa itu terjadi lagi di tengah-tengah kita. Kita harus jaga betul-betul jangan ada pelanggaran terhadap hukum Sabat, kita harus menjaga ketat jangan sampai kita dihukum oleh Tuhan Allah kembali. Nah ini membuat mereka begitu ketat sekali menjaga. Pada waktu mereka menemukan orang lumpuh ini mengangkat tilamnya, maka mereka langsung ingin menginterogasi dan mengetahui siapa yang menjadi penyebab orang ini angkat tilam, yang sudah lumpuh 38 tahun ini.

Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ada hal yang perlu kita perhatikan di dalam poin ini, paling tidak ada dua hal disini. Apakah Yesus adalah pelanggar Sabat? Karena pada waktu itu Yesus memerintahkan orang lumpuh ini untuk mengangkat tilamnya dan kemudian pulang dan bahkan menyembuhkan dia pada hari itu. Saya percaya Yesus tidak sedang melanggar hukum Sabat, tetapi yang Yesus langgar adalah hukum Sabat yang ditambahkan oleh orang-orang Farisi atau ahli Taurat kepada orang Yahudi untuk dijalankan dalam kehidupan mereka. Maksudnya bagaimana? Maksudnya kalau Saudara perhatikan pada satu peristiwa, ketika orang-orang Yahudi menuduh Yesus dan murid-murid-Nya melanggar Sabat, Yesus bertanya kepada orang-orang itu, tidakkah engkau pernah membaca kisah Daud? Pada waktu Daud dan para prajuritnya itu kelaparan, dia datang ke tempat Bait Allah, dan kemudian dia meminta roti pada waktu itu untuk dimakan. Dan orang itu yang menjadi imam pada waktu itu mengizinkan roti itu untuk dimakan oleh Daud dan para pengikutnya. Lalu di situ Yesus kemudian mengajarkan pada hari Sabat itu ada dua hal yang kita bisa lihat tetap dilakukan oleh umat Allah tetapi mereka tidak dituntut oleh Tuhan atau dihukum oleh Tuhan. Pertama adalah work of mercy, yang kedua adalah work of necessity.

Yang dimaksud work of mercy adalah pada waktu kita melihat ada Saudara kita ada di dalam kelemahan, ada di dalam kesulitan, ada di dalam bahaya, ada di dalam kebutuhan untuk dibantu walaupun hal itu adalah pada hari Sabat, kita sebagai orang Kristen tidak boleh beralasan “Ini sabat, saya tidak perlu membantu mereka, saya tidak boleh membantu dan menolong mereka” tapi kita harus mengulurkan tangan untuk menolong orang tersebut. Dan demi untuk mengajarkan ini Yesus juga mempertentangkan mereka dengan apa yang terjadi kalau ada seekor domba mereka atau binatang peliharaan mereka yang jatuh ke dalam selokan dan tidak bisa keluar pada hari Sabat, bukankah engkau akan menolong binatang itu keluar? Anak manusia atau manusia itu lebih berharga daripada binatang, masa kita tidak boleh melaksanakan suatu kebaikan kepada orang pada hari Sabat dan kita menuduh dia sudah melakukan satu dosa yang besar.

Yang kedua adalah work of necessity. Work of necessity ini adalah berkaitan dengan satu kerja yang harus dikerjakan. Seperti siapa? Imam. Imam pada hari Sabat tetap harus bekerja sebagai seorang imam yang membawa binatang persembahan dan memotong binatang itu, membawa daging korbannya untuk dipersembahkan kepada Tuhan Allah. Dan itu semua adalah sesuatu yang tidak membuat para imam itu dituntut atau dihukum. Kalau pada zaman sekarang mungkin kita bisa katakan justru pada waktu Bapak, Ibu berlibur di hari Minggu, para pendeta, para penginjil, tidak ada waktu libur. Dan kita harus bekerja pada waktu semua orang Kristen, Tuhan minta untuk libur. Ini adalah bagian dari work of necessity yang kita harus kerjakan.

Jadi pada waktu kita melihat kepada Yesus Kristus, Yesus sangat mengerti hal ini. Sabat bukan berbicara mengenai tuntutan demi tuntutan yang tidak boleh dilakukan. Tapi mungkin ada hal lain yang kita tidak boleh lakukan. Tapi paling tidak dua hal ini tetap boleh dilakukan, dan tindakan yang Yesus lakukan itu adalah work of mercy bagi orang yang lumpuh tersebut. Tetapi kalau kita tanya lagi, kenapa orang-orang yang menjadi polisi Sabat itu bisa menuduh Yesus sudah melanggar Sabat? Karena mereka punya peraturan tambahan. Misalnya kayak gini, kalau Bapak, Ibu di hari biasa boleh ngaca atau bercermin, maka pada hari Sabat orang tidak boleh bercermin. Karena apa? Takut kalau dia lihat ada uban, dia cabuti ubannya, maka itu sudah pelanggaran terhadap hari Sabat. Lalu ada hal lain tidak? Ada. Contoh kedua adalah kalau di hari biasa gigi kita ompong, kita boleh pakai gigi palsu. Tetapi kalau hari Sabat mereka melarang kita untuk memakai gigi palsu. Kenapa begitu? Karena mereka khawatir kalau gigi itu terjatuh, maka orang yang pakai gigi palsu terpaksa harus angkat gigi itu. Dan mungkin hal itu adalah satu pelanggaran terhadap Sabat. Karena bagi orang-orang Farisi pada hari Sabat mereka tidak boleh membawa ada yang ngomong satu, ada yang ngomong dua buah ara. Sesuatu benda yang beratnya lebih daripada satu atau dua buah ara.Itu buah yang kecil sekali.

Jadi pada waktu mereka melakukan hal-hal pada hari Sabat, hal itu bukan menjadi sesuatu yang membawa damai, membawa ketenangan, membawa sukacita atau ucapan syukur, dan membuat mereka bisa beristirahat dengan tenang, melainkan mereka terbeban oleh hari Sabat itu. Padahal Tuhan memberikan Sabat kepada kita bukan supaya kita terbeban oleh peraturan demi peraturan melainkan supaya kita bisa beristirahat di hadapan Tuhan. Dan saya lihat ini menjadi satu kebenaran yang kita boleh pegang dan belajar untuk jalankan juga. Karena pada waktu kita menjalankan hal itu, ada satu aspek yang penting. Kita belajar percaya kalau Tuhan memiliki kuasa untuk memelihara kehidupan kita walaupun kita tidak bekerja pada hari Sabat atau hari Minggu, di mana kita beribadah kepada Tuhan Allah.

Tapi ada aspek kedua. Pada waktu kita melihat orang-orang yang menjadi polisi Sabat itu melihat orang lumpuh ini berdiri dan berjalan. Apa yang mereka lihat? Ini menarik sekali ya. Mereka tidak melihat bagaimana orang lumpuh ini bisa berjalan setelah 38 tahun lumpuh. Tetapi yang mereka lihat adalah orang ini sudah melanggar hukum Sabat. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya kira ini mau menunjukkan bahwa orang-orang ini tidak memiliki belas kasih sama sekali di dalam diri mereka. Dan mereka adalah orang yang begitu kaku di dalam hatinya, sehingga mereka tidak melihat ada kuasa Tuhan yang bekerja di tengah-tengah mereka pada waktu itu.

Tetapi hal ini adalah sesuatu yang jangan kita heran. Kadang-kadang mungkin kita bisa jatuh ke dalam satu kehidupan legalisme seperti orang-orang yang menjadi polisi Sabat ini juga. Pada waktu kita melihat misalnya, ada saudara kita yang bertobat tetapi gaya hidupnya, penampilannya, cara dia berkomunikasi dengan Tuhan atau beribadah kepada Tuhan berbeda dengan kita, karena dia baru bertobat. Saudara akan bagaimana perlakukan orang itu? Apa kita akan melihat dia sebagai orang yang aneh di tengah-tengah kita? Orang yang tidak Kristen, seperti itu? Dan mulai menghakimi? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya kira kita perlu punya mata yang jauh dari sekedar melihat sebuah tingkah laku yang kita lakukan di hadapan manusia. Kita harus punya mata yang lebih melihat bagaimana Tuhan bekerja, adakah Tuhan hadir di dalam kehidupan kita? Di dalam kehidupan dari orang tersebut? Adakah Tuhan telah menyelamatkan jiwa dari orang tersebut? Dan membawa pertobatan di dalam kehidupan dia atau tidak? Itu menjadi hal yang lebih penting daripada kita cuma sekedar menaruh pada hal-hal yang tidak boleh dan peraturan demi peraturan yang menurut kita benar, menurut kita baik, tapi kita mengesampingkan semua pekerjaan Tuhan yang terjadi di depan mata kita dan kita anggap itu sesuatu yang bahkan lebih parah melanggar aturan Tuhan, dan tidak mungkin Tuhan bekerja pada waktu itu. Tetapi di dalam realita ini adalah Yesus bekerja. Kuasa Tuhan ada pada orang itu. Orang itu boleh disembuhkan dari penyakitnya.

Nah hal ini membuat setelah orang ini sembuh, terjadilah percakapan antara orang yang menjadi polisi Sabat ini dengan Yesus Kristus. Dan pada waktu mereka bertemu, maka hal yang mereka ajukan adalah, “Kenapa orang itu Engkau perintahkan untuk bisa mengangkat tilam, tetapi juga Engkau menyembuhkan dia pada hari Sabat?” Nah menarik sekali, pada waktu itu Yesus berkata, “karena Bapaku bekerja sampai sekarang, maka aku pun bekerja sampai pada hari ini.” Nah Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita sering kali mendengar klaim dari orang Islam, berkaitan dengan Yesus Kristus. Di mana ayat Alkitab yang menunjukkan kalau Yesus Kristus itu berkata Dia adalah Tuhan? Kalau Dia adalah Tuhan, tolong kasih tahu saya ayat yang berkata, “Aku adalah Tuhan.” Aku akan mengakui bahwa Yesus betul-betul adalah Tuhan.

Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, betulkah di dalam Kitab Suci, Yesus tidak pernah mengaku Dia adalah Tuhan? Ada ayat-ayat yang kuat sekali berbicara mengenai itu? Salah satu yang begitu jelas ada di dalam Yoh. 13:13. Pada waktu itu Yesus berkata, “Engkau berkata Aku adalah Tuhan? Memang benar Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Guru.” Tetapi ada ayat lain tidak? Ada. Salah satunya, atau lebih dari satu dikatakan di dalam Yoh. 5 ini. Pada waktu kita membaca tulisan Yesus, jangan cuma membaca apa yang Yesus katakan saja, tetapi kita juga perlu membaca bagaimana respon dari orang-orang mendengar perkataan Yesus pada waktu itu. Maksudnya gimana? Kalau kita baca kayak gini ya, “karena Bapaku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja.” Bapak Ibu punya tafsiran gimana? Oh mungkin Yesus mau berkata seperti ini, oh bukankah Tuhan itu bekerja terus tiap hari, Tuhan tidak pernah istirahat. Walaupun di dalam Kejadian dikatakan pada hari yang ketujuh itu Tuhan beristirahat, sebenarnya Tuhan tidak beristirahat. Tuhan mengganti pekerjaan penciptaan itu menjadi pekerjaan penopangan terhadap seluruh ciptaan Dia di dalam dunia ini. Itu sebabnya Yesus berkata, “karena Bapa-Ku bekerja sampai hari ini, maka Aku pun bekerja sampai hari ini” berarti apa? Kalau Tuhan tidak pernah istirahat, saya pun tidak boleh istirahat. Saya pun terus bekerja. Tetapi ayat ini tidak berbicara mengenai Yesus menyamakan diri-Nya dengan Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu adalah sesuatu penafsiran yang benar atau tidak? Saya kira ada sisi benarnya, tetapi salahnya banyak. Yaitu apa? Kita abaikan respon dari orang-orang yang mendengar perkataan Yesus Kristus. Dan orang-orang Yahudi ketika mendengar perkataan Yesus, respon yang mereka berikan adalah mereka marah. Mereka ingin membunuh Yesus Kristus. Karena apa? Karena mereka tahu betul saat itu Yesus bukan hanya berbicara “karena Bapa-Ku bekerja, maka Aku bekerja” dari perspektif seseorang  manusia yang berbicara mengenai giatnya untuk bekerja karena Bapa-Nya atau Tuhannya yang di Surga terus bekerja. Tetapi pada waktu itu mereka sungguh-sungguh menangkap kalau Yesus sedang mengatakan bahwa diri-Nya adalah Allah. Dan Allah itu adalah Bapa-Nya, dan itu membuat diri-Nya adalah Pribadi yang setara dengan Bapa, atau Pribadi yang setara dengan Allah. Dan itu yang membuat Dia ingin dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Artinya apa? Ini adalah kalimat yang keluar dari mulut Yesus sendiri yang mengklaim kalau Dia adalah Allah. Cuma mungkin tidak sesuai dengan harapan orang yang mungkin mau mengatakan kalau Yesus Tuhan, Dia harus ngomong “Aku Tuhan.” Tetapi Yesus menggunakan cara lain untuk mengatakannya.

Ada lain perkataan tidak yang mengatakan hal ini? Tentunya ada. Misalnya di ayat ke-19 berkata, “Aku berkata kepadamu sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Engkau tidak melihat bahwa Bapa mengerjakannya. Sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.” Maksudnya bagaimana? Apakah ini mau menunjukkan bahwa Yesus adalah satu Pribadi yang lebih rendah daripada Bapa? Saya kira bukan. Karena pertama di ayat 18 ada respon yang mengatakan bahwa Dia menyamakan diri-Nya dengan Allah dan Yesus tidak membantah hal itu. Tetapi ayat ini, kalau begitu bicara apa? Ini mau berbicara bahwa apa yang dikerjakan Anak itu tidak bisa dipisahkan dari apa yang dikerjakan Bapa. Semua yang dikerjakan Bapa pasti dikerjakan oleh Anak. Artinya apa? Dia memiliki –mungkin kita bisa katakan– kuasa seperti kuasa Bapa sehingga segala sesuatu yang bisa dikerjakan Allah Bapa itu pun bisa dikerjakan oleh Allah Anak. Jadi ini juga mengklaim bahwa Yesus sungguh-sungguh adalah orang yang mengatakan kalau diri-Nya adalah Allah.

Lalu, kemudian Saudara juga bisa melihat di dalam ayat 20 ya, “Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran.” Ayat 21, “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.” Artinya apa? Orang-orang Yahudi mengerti kalau Bapa adalah sumber pencipta, sumber kehidupan. Seluruh dari alam semesta ini mendapatkan hidupnya dari mana? Yaitu dari Allah. Tetapi pada waktu Yesus berbicara mengenai kuasa kehidupan ini, Yesus berkata, “seperti Bapa yang memiliki kuasa itu, Anak juga memiliki kuasa itu untuk membangkitkan.” Tetapi pada waktu kita berbicara mengenai “membangkitkan orang yang mati menjadi hidup”, mungkin kita bisa bedakan menjadi dua hal. Pertama adalah di dalam Perjanjian Lama ada nabi yang membangkitkan orang mati. Misalnya Elia membangkitkan orang mati, Elisa membangkitkan dua kali orang mati. Tetapi di dalam seluruh sejarah, ketika mereka membangkitkan orang itu, itu adalah sesuatu yang harus didasarkan atau ditundukkan kepada kehendak Allah. Tetapi pada waktu Yesus Kristus membangkitkan orang mati – menarik sekali di sini dikatakan – Yesus menghidupkan siapa. Bukan apa yang Bapa kehendaki saja, tetapi Yesus membangkitkan barangsiapa yang Dia kehendaki. Yaitu siapa? Yesus Kristus. Jadi, apa yang Yesus kehendaki? Siapa yang Yesus mau membangkitkan? Dia memiliki kuasa untuk membangkitkan orang itu.

Lalu yang berikutnya adalah Yesus berkata, “Bapa tidak menghakimi siapa pun. Tetapi Bapa telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak.” Berarti bahwa pada akhir zaman nanti, Yesus mau berkata, “Yang akan berhadapan dengan seluruh manusia; yang akan berhadapan dengan orang-orang Kristen; yang akan berhadapan dengan orang-orang bukan Kristen; yang berhadapan dengan orang-orang yang tidak percaya dengan Yesus Kristus, itu adalah Yesus Kristus.” Karena Dia adalah Hakim dari seluruh umat manusia yang ada di dalam dunia ini. Bapak, Ibu bisa lihat di dalam Matius 25 tentang penghakiman akhir. Di situ dikatakan kalau Yesus adalah Hakim itu. Bapak, Ibu bisa lihat di dalam Filipi 2:11, di situ dikatakan ketika akhir zaman tiba, Yesus akan datang dan semua lutut akan bertekuk lutut di hadapan dari Yesus Kristus, karena Dia adalah Tuhan itu, tetapi Dia juga adalah Hakim dari semua manusia.

Jadi, kalau kita baca dari perkataan yang Yesus berbicarakan kepada dia, dengan orang-orang Yahudi itu, apa yang Yesus sedang bicarakan? Cuma satu poin, sih, “Saya adalah Allah. Saya menyatakan kuasa kebangkitan itu, kuasa kesembuhan itu, yang seperti dinubuatkan oleh nabi-nabi dalam Perjanjian Lama: kalau Mesias datang, Dia adalah Allah, tetapi Dia juga memiliki kuasa untuk menjadikan orang yang lumpuh bisa berjalan, orang yang buta bisa melihat, orang yang sakit bisa menjadi tahir.” Dan ini yang semua Yesus katakan di hadapan mereka. Bukan hanya katakan tetapi Yesus peragakan kalau Dia memang memiliki kuasa untuk melakukan hal itu. Atau istilah lainnya adalah Dia bisa mengerjakan pekerjaan yang Allah sendiri bisa dan hanya bisa lakukan di dalam dunia ini.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita berbicara mengenai hal ini, tentunya kita mungkin bisa menyinggung sedikit: kalau begitu siapa Yesus? Dia Allah. Lalu, apakah Yesus yang adalah Allah itu adalah Allah yang sama dengan Bapa? Nah, di sini dikatakan: tidak. Karena Yesus sedang mengatakan: ada kehendak Bapa, ada kehendak diri-Nya; ada apa yang dikerjakan oleh Bapa, ada pekerjaan yang Dia kerjakan. Dan itu membuat kita bisa melihat ada dua Pribadi yang berbeda yang sedang mengerjakan sesuatu yang sama, yang dikerjakan. Tetapi ada juga sesuatu yang –mungkin kita bisa katakan– beda seperti yang terjadi di taman Getsemani. Pada waktu itu Yesus berdoa. Dia sambil meneteskan peluh yang seperti jagung besarnya dan sampai seperti ada tetesan darah di situ karena begitu susah hati-Nya untuk menghadapi penghakiman yang akan Dia jalani di atas kayu salib. Tetapi pada waktu itu Yesus berdoa, “Bapa seandainya cawan ini Engkau singkirkan, saya minta hal itu disingkirkan. Tapi kalau Engkau tidak mengatakan cawan ini disingkirkan, Aku akan meminumnya dan menjalani penghakiman dan penanggungan murka Allah itu atas diri Saya.”

Dan kita tahu bahwa di dalam seluruh Kitab Suci tidak pernah dikatakan Bapa mati bagi dosa manusia. Yang mati bagi dosa manusia itu adalah Yesus Kristus. Allah atau Anak Allah yang mati bagi dosa manusia. Nah, ini juga menunjukkan ada perbedaan Pribadi antara Bapa dengan Pribadi Yesus Kristus. Tetapi kita juga menemukan satu hal, apa yang dilakukan Bapa itu dilakukan oleh Anak. Apa yang dipikirkan Bapa itu juga dipikirkan oleh Anak. Apa yang menjadi kuasa yang dimiliki Bapa itu juga menjadi kuasa yang dimiliki oleh Anak. Kalau Bapa itu adalah Allah, Anak itu juga adalah Allah. Artinya apa? Walaupun mereka adalah beda Pribadi, tetapi mereka adalah Allah yang satu dan tentunya kalau kita mau tambahkan ada Pribadi Allah Roh Kudus juga bisa dimasukkan ke dalam hal ini. Itu sebabnya kekristenan menyebut bahwa Allah yang kita percaya itu bukan Allah monoteisme. Tetapi Allah yang kita percayai itu adalah Allah Tritunggal. Allah yang memiliki tiga Pribadi. Setiap Pribadi sepenuhnya Allah dan Allah itu Esa. Itu yang menjadi pengajaran kita dan dasarnya dari mana? Dari apa yang Yesus juga katakan di tempat ini.

Dan terakhir saya mau bicara seperti ini. Pada waktu kita berbicara mengenai pekerjaan Yesus dan di dalam Dia ada hidup itu. Maka Yesus mau memberitahu kepada kita bahwa Dia sungguh-sungguh adalah hidup itu dan di dalam Dia ada hidup yang kekal dan tidak ada lagi penghukuman bagi manusia. Kalau kita bicara begini, ya. Kalau kita kutip di dalam Rm. 8:1, “Di dalam Yesus atau di dalam Dia tidak ada lagi penghukuman.” Itu dikatakan oleh Paulus. Kalau mungkin kita akan tanya, “Di mana dasarnya kita berkata kalau di dalam Yesus itu tidak ada lagi penghukuman?” Jawabannya ada di dalam ayat ini, Yoh. 5:24, Yesus berkata, “di dalam Aku ada hidup yang kekal dan kita tidak turut di hukum sebab orang yang percaya kepada Yesus atau berada di dalam Yesus sudah pindah dari alam maut ke dalam hidup.”

Tapi kalau kita tanya, “Bagaimana kita bisa pindah?” Maka Yesus berkata, kita harus percaya dan mendengar bahwa perkataan Yesus itu adalah satu kebenaran dan Bapa telah mengutus Dia. Untuk apa? Untuk memberikan hidup yang kekal itu kepada diri kita. Dan kata ini diteguhkan dengan kata atau kalimat ini diteguhkan dengan kata “sesungguhnya” atau “truly, truly” atau “ya, amin”. Ini adalah perkataan yang benar. “Kalau engkau mau hidup, engkau harus percaya Bapa mengutus Aku dan di dalam Aku ada hidup yang kekal itu.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hal inimembuat keberadaan Yesus dan iman percaya orang Kristen kepada Yesus itu dipisahkan dari semua kepercayaan yang ada di dalam dunia ini. Orang sering kali berkata seperti ini, “Aku percaya kepada Allah. Saya tahu ada Allah. Satu Allah.” Orang Kristen juga percaya ada satu Allah, kan? “Tetapi yang saya percaya adalah Allah yang menjadi pencipta langit dan bumi dan saya tidak percaya Yesus Kristus itu adalah Allah yang Allah utus ke dalam dunia untuk menebus manusia.” Mohon tanya, orang yang kayak gini punya hidup yang kekal tidak? Islam percaya ada Allah. Tapi tidak melalui Yesus. Buddhisme mungkin bisa dikatakan percaya ada Allah. Yang tertinggi. Hindu juga seperti itu. Tetapi mereka tidak percaya pada Yesus Kristus yang Allah utus untuk menebus dosa kita. Mohon tanya. Mereka ada hidup kekal atau mereka tidak memiliki hidup kekal? Saya katakan mereka tidak memiliki hidup kekal. Karena apa? Ini bukan perkataan saya, ini perkataan Yesus sendiri. Yesus berkata Dia adalah Allah dan hanya dengan percaya kalau diri Dia adalah Pribadi yang diutus Allah untuk memberikan hidup yang kekal pada kita, maka kita akan memulai hidup yang kekal. Berarti pada waktu kita berbicara, “Saya ingin hidup yang kekal.” Caranya bagaimana? Kita harus menerima dua Pribadi ini paling tidak. Ada Bapa yang mengutus Yesus Kristus dan ada Pribadi Yesus yang menjadi penebus dosa kita dengan mati di atas kayu salib. Kalau kita hanya menerima satu saja yaitu Allah pencipta, maka Yesus berkata tidak ada kehidupan kekal bagi orang yang hanya mengaku ada Allah saja tanpa melibatkan Yesus di dalamnya. Jadi ini yang menjadi dasar Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan.

Tapi pada waktu kita berbicara Yesus adalah Allah kita, Dia adalah Tuhan kita, Dia adalah Juruselamat dalam kehidupan kita, saya mau tanya satu hal, atas dasar apa kita mengatakan Dia adalah Tuhan kita, Dia adalah Allah kita, Dia adalah Juruselamat kita? Saya sudah dipindahkan dari kehidupan dari dalam dunia ini atau kehidupan kegelapan ke dalam kehidupan atau kerajaan dari Anak-Nya, atas dasar apa? Saya lihat Alkitab bukan hanya berbicara mulut kita yang mengaku Yesus adalah Tuhan yang membuat kita diselamatkan saja tetapi ada perubahan hidup, ada pertobatan, ada penyerahan diri untuk percayakan keselamatan kita ke dalam tangan Yesus Kristus dan juga ada kehidupan yang betul-betul mempercayakan diri kita di dalam melewati dunia ini ke dalam tangan pemeliharaan Tuhan Yesus Kristus.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini baru yang namanya iman. Dan hal itu sering kali ditunjukkan pada waktu kita masuk ke dalam persimpangan jalan untuk memutuskan mau percaya Tuhan atau mau percaya kepada kemampuan diri. Mau percaya kepada Yesus dan kuasa Tuhan atau mau percaya kepada materi yang kita miliki dalam kehidupan kita. Mau belajar untuk mengakui bahwa Yesus yang berdaulat dalam hidup saya atau saya yang mengatur segala sesuatu di dalam kehidupan saya. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu semua menjadi salah satu sarana atau persimpangan jalan yang Tuhan ingin didik kita bawa kita masuk ke situ untuk menunjukkan sebenarnya siapa yang berotoritas atas kehidupan kita, siapa yang menjadi pemilik atas hidup kita ini.

Sehingga pada waktu kita berbicara ini, mungkin kita bisa katakan seperti ini, pada waktu Bapak, Ibu pulang dari tempat ini, yang perlu kita pikirkan adalah bukan dari status saya siapa. Maksudnya adalah saya adalah orang, mungkin, Chinese. Saya adalah orang Jawa atau orang Batak atau orang yang lain. Saya adalah orang yang kaya, dia bukan kaya. Saya adalah orang yang berpendidikan tinggi, dia berpendidikan rendah. Semua itu adalah status nilai yang diukur manusia terhadap diri manusia. Tetapi yang saya mau ajak Bapak, Ibu renungkan baik-baik adalah seperti ini, pada waktu Saudara pulang dari tempat ini, keluar dari pintu ini, coba tanya, sebenarnya saya memiliki Yesus atau saya tidak memiliki Yesus? Apakah saya sungguh-sungguh percaya bahwa Allah telah mengutus Yesus Kristus untuk memberikan hidup yang kekal itu dalam kehidupan saya atau saya sebenarnya hanya dengan mulut mengaku, tetapi kehidupan saya sebenarnya tidak menunjukkan bahwa saya memiliki Yesus dan Yesus adalah Tuhan dan berkuasa atas kehidupan saya. Itu adalah dua hal yang lebih penting daripada kita berkata status yang membedakan kita; status sosial, status materi, status pendidikan, status jabatan yang membedakan kita. Tetapi lebih tepat adalah apakah kita milik Tuhan atau kita bukan milik Tuhan?

Kalau kita bicara siapa yang menjadi milik Tuhan? Alkitab berkata ada 3 dasar. Pertama adalah kepemilikan kita berdasarkan penciptaan. Mau ulangi nggak? Kepemilikan kita berdasarkan penciptaan. Artinya semua manusia dalam dunia ini adalah milik Tuhan. Tapi kepemilkan pertama itu tidak menjadikan kita diselamatkan. Yang menjadikan kita diselamatkan adalah kepemilikan yang kedua, yaitu kepemilikan kita di dalam Yesus yang menebus diri kita dari dosa. Mau ulangi? Kepemilikan di dalam Yesus yang menebus kita dari dosa. Dan yang ketiga adalah kepemilikan Allah atas hidup kita karena Roh Kudus telah diberikan untuk tinggal di dalam diri kita. Ini 3 hal yang membuat kita menjadi milik Tuhan. Dan yang menyelamatkan kita adalah yang kedua dan yang ketiga.

Makanya pada waktu kita berbicara mengenai Yoh. 3, ketika Nikodemus berbicara dengan Tuhan, apa yang Tuhan katakan? “Sesungguh-sungguhnya kalau orang tidak dilahirkan kembali, dia tidak akan melihat kerajaan Allah.” Artinya apa? Kalau kita belum menerima Roh Kudus, kelahiran baru oleh Roh Kudus dan tinggalnya Roh Kudus dalam diri kita yang membawa kita percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita tidak ada di dalam kerajaan Allah.

Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini menjadi satu hal yang kita boleh renungkan di dalam kehidupan kita ya. Tetapi juga sekaligus membawa kita merenungkan iman kita, kepemilikan kita ketika kita akan menjalankan perjamuan kudus pada pagi hari ini. (HS)