Doa Bapa Kami (13), 2 Maret 2025

Doa Bapa Kami (13)

Mat. 6:13b

Vik. Nathanael Marvin, M. Th

Bapak, Ibu, Saudara sekalian kenapa ayat ini berbeda dengan ayat-ayat yang sebelumnya? Padahal dikatakan ini adalah doa Bapa Kami atau yang lebih tepat adalah terjemahan bahasa Inggris ya, The Lord’s Prayer; doanya Tuhan Yesus yang di mana Tuhan Yesus ajarkan kepada kita sebagai para murid-Nya. Tetapi di dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai doa Bapa Kami karena apa? Dimulainya dengan Bapa Kami yang di surga. Nah kenapa beda? Kenapa ini ditanda kurung oleh penulis Alkitab ini? Karena tidak ditemukan dalam sebagian besar manuskrip Yunani tertua atau paling awal. Ayat ini kalau cari di dalam manuskrip firman Tuhan, Alkitab yang pertama itu tidak ditemukan, maka di dalam kalimat ini ditaruh tanda kurung. Akan tetapi di teks-teks kemudian, di teks penyalinan Alkitab yang terus beredar pada waktu itu muncul teks-teks seperti ini. Ya, beberapa terjemahan modern pun memasukannya dalam tanda kurung atau dicatat sebagai catatan kaki. Jadi ini adalah kalau kita lihat Alkitab pada mulanya, penulis Injil Matius yaitu Matius sendiri, menulis itu salinannya tidak ada kalimat ini. Tapi tentu kemudian setelah kitab Matius ini disalin, disalin, eh muncul teks yang berbunyi demikian dan kemudian pada akhirnya diakui sebagai firman Tuhan yang merupakan sebuah ungkapan pujian kepada Tuhan, doksologi. Ya, kalimat ini disebut doksologi dan diyakini ditambahkan dalam tradisi liturgi gereja awal.

Dan kenapa kita terus memakainya? Terus kemudian kita tidak komplain kepada LAI atau penerjemahan yang lain bahwa kalimat ini kan tidak ada tertulis di Alkitab yang pertama, surat manuskrip yang pertama, kenapa? Karena memang kalimat ini secara teologis itu benar, tidak ada yang salah, sesuai dengan doktrin yang baik, tradisi yang baik. Dan di sini kita bisa belajar bahwa orang Kristen pun bukan tidak menghargai tradisi gereja yang baik. Orang Kristen menghargai tradisi gereja yang baik, yang sesuai firman Tuhan, yang tidak bertentangan dengan firman Tuhan, dan yang boleh terus dilakukan kalau memang itu baik. Maka di dalam doa Bapa Kami kita terus berdoa demikian, ya, meskipun tidak ada di dalam manuskrip yang tertua yang awalnya ya, tetapi kemudian muncul kalimat ini dalam teks-teks yang lain.

Nah kita akan lihat doa Bapa Kami ini seperti apa boleh ditampilkan ya slide-nya. Nah, gambar ini Bapak, Ibu, Saudara sekalian diambil dari Katekismus Singkat Westminster  yang menyimpulkan tentang doa Bapa Kami. Jadi kita bisa lihat ya, ini adalah pola yang begitu indah dari doa Bapa Kami yang prinsipnya kita boleh terus ikuti, pelajari dan juga boleh renungkan dalam kehidupan kita ketika kita berelasi dengan Tuhan. Inilah salah satu doa yang terindah yang diajarkan oleh Yesus sendiri, doa yang kudus, doa yang mulia, doa yang menjadi panduan bagaimana kita harus berdoa. Tuhan Yesus mengajarkan bagaimana kamu berelasi dengan Bapa di surga, caranya adalah seperti ini. Seperti doa yang Aku ajarkan. Jangan bilang  bahwa Yesus tidak pernah mengajarkan kita berelasi dengan Bapa di surga. Yesus mengajarkan bagaimana kita berelasi, yaitu salah satunya adalah lewat doa Bapa Kami.

Kita bisa lihat bahwa di dalam kalimat pembuka ya, di situ dikatakan doa Bapa Kami dimulai dengan Allah kemudian kalimat penutup diakhiri dengan Allah juga. Itu yang akan kita bahas pada hari ini, “karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama lamanya.” Lalu kemudian kita bisa lihat ya, di kalimat pendahuluan itu dimulai dengan “Bapa Kami yang di surga”, lalu ada permohonan satu sampai yang ke enam. Itu permohonan yang sudah kita bahas dalam beberapa minggu, berapa bulan yang lalu dan kalimat penutup nya adalah tentang diakhiri dengan Allah. Jadi pertama-tama kepada Allah kita ngomong tuh kepada Tuhan bukan ngomong kepada diri sendiri atau kepada pribadi yang tidak jelas gitu ya, kita betul-betul menghadap Allah sebagai Pencipta dan Penebus kita. Pertama-tama berelasi dengan Tuhan ya ngomong kepada Tuhan. Lalu ditutup untuk kemuliaan Tuhan lagi. Alfa dan Omega untuk Tuhan karena kita berelasi dengan Tuhan yang betul-betul Pencipta segala sesuatunya.

Ada seorang jemaat pernah cerita ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di tengah-tengah pergumulan yang besar kehidupannya, dia begitu lelah dalam pekerjaan, dalam relasi dalam keluarga, sampai dia berkata bahwa sudah sulit untuk berdoa kepada Tuhan, sudah sulit berkata-kata kepada Allah. Tapi uniknya di dalam kesulitan tersebut atau pergumulan orang tersebut, uniknya Roh Kudus menggerakkan dia untuk terus berdoa kepada Tuhan. Solusi menghadapi masalah itu adalah di dalam Tuhan. Dan bagaimana kita menemukan solusi tersebut?  Ya, kita datang kepada Tuhan. Uniknya meskipun dia sulit berkata-kata kepada Tuhan di dalam pergumulan yang begitu besar, sulit untuk berdoa, anugerah dari Roh Kudus boleh terus menyertai hidupnya, yaitu apa?  Kerinduan untuk datang berdoa. Saya harus berdoa, saya harus berdoa,  saya harus berdoa. Tapi saya tidak tahu harus berdoa apa. Ya, di tengah-tengah pergumulan, permohonan yang begitu kompleks, ya, kesulitan yang begitu besar, dia bingung untuk berkata apa-apa. Lalu yang keluar apa Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Yang keluar dari mulutnya adalah doa Bapa Kami. Unik. Ini adalah doa yang Yesus ajarkan kepada setiap pengikut-Nya dan alangkah baiknya kita betul-betul mengerti indahnya doa Bapa Kami ini, dan juga memaknai doa Bapa Kami dalam kehidupan kita, khususnya waktu kita berdoa kepada Tuhan.

Kita nggak harus selalu persis kata-katanya seperti doa Bapa Kami, tetapi prinsip yang dijelaskan doa Bapa Kami harus kita lakukan di dalam kehidupan doa kita. kita harus menghargai dan mengagumi doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus Kristus, tapi hati-hati jangan sampai jadikan mantra juga ya atau pemberhalaan. Banyak orang-orang Kristen berpikir dengan banyaknya doa Bapa kami mulutnya jadi lebih suci, mulia, pahalanya semakin banyak dengan mengucapkan doa Bapa Kami 100 kali satu hari misalkan ya. Itu bukan menyucikan mulut, itu membuat mulut menjadi terbiasa dengan kata-kata itu ada poinnya, tetapi memperlakukan doa Bapa Kami bukan di dalam prinsip kebenaran maupun relasi kepada Tuhan, melainkan sebagai mantra yang bisa memberkati, mencukupkan kehidupan saya dan memuaskan kehidupan saya. Bukan ya.

Hari ini kita membahas tentang Bapa kami, “Karena Engkaulah yang punya kerjaaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin” Katekismus Singkat Westminster menyimpulkan kalimat penutup ini bahwa kalimat ini itu mengajarkan tiga hal ya, kalimat doksologi ini, pujian kepada Allah atau kalimat penutup dari doa Bapa Kami ini mengajarkan tiga hal. Ini dianalisa oleh Katekismus Singkat Westminster. Yaitu yang pertama, ini adalah pengajaran bahwa kita menerima dorongan dalam doa hanya dari Tuhan. Kenapa kita berdoa? Sering kali orang Kristen berdoa karena apa? Saya ada masalah, saya punya keinginan, saya butuh ini butuh itu, dunia begitu rusak banyak penderitaan, dunia yang lain di luar saya. Tapi pernahkan kita berdoa alasannya karena Tuhan? Kenapa kamu mau berdoa? Karena saya mencintai Tuhan, karena saya mau menaati firman Tuhan, karena doa itu adalah hal yang indah bersama dengan Tuhan. Nah di sini Westminster mengajarkan kita itu waktu berdoa alasan pertama-tama sebenernya bukan dunia, bukan ciptaan tetapi alasan kita berdoa kepada Tuhan karena Pencipta itu sendiri. Kita butuh Tuhan maka kita berdoa, betul, tetapi balik lagi karena Tuhan lah yang memelihara hidup kita, Tuhan lah yang sudah menyelamatkan hidup kita, Tuhan lah yang sudah memberikan perintah kepada kita untuk berdoa maka kita berdoa. Itu hal pertama yang diajarkan.

Yang kedua adalah dalam doa-doa kita, kita didorong untuk memuji Tuhan bukan memohon kepada Tuhan. Kita diarahkan bahwa doa adalah pujian kepada Tuhan. Siapa sih di dalam dunia ini yang tidak senang dipuji? Hewan pun senang dipuji “Ayo anjing pintar ya” dielus-elus ya senang, begitu dihukum ya memang tidak senang. Kita senang dipuji. Kita punya kemampuan, pelayanan kita baik, pekerjaan kita juga maksimal misalkan ya, kita lakukan yang terbaik, kita senang dipuji. Tuhan pun sama, Tuhan senang dipuji oleh ciptaan-Nya dan Dialah yang seharusnya menerima pujian tertinggi dari seluruh ciptaan. Nah waktu kita berdoa sebenarnya kita mau memuji Tuhan selain kita mau memohon kepada Tuhan. Permohonan kita pun sebenarnya adalah bentuk pujian kepada Tuhan. Karena apa? Kita tahu bahwa ke mana kita mendapatkan solusi, ke mana kita mendapatkan jawaban di dalam pergumulan kita, kita datang kepada Tuhan.

Lalu yang ketiga yang diajarkan Westminster dalam menanggapi kalimat penutup ini adalah kita diajarkan untuk menganggap bahwa kerajaan, kuasa dan kemuliaan itu hanyalah milik Tuhan. Kita bersikap bahwa hidupku adalah milik Tuhan, apa yang aku miliki, harta, kekayaan, keluarga, teman, seluruh kepercayaan yang Tuhan percayakan ini semua itu asalnya dari Tuhan. Kita mau mengagungkan Tuhan dan membuat kita juga melihat kemuliaan Tuhan sehingga pada akhirnya kita menjadi orang yang rendah hati. Semakin kita berpusat kepada Allah, semakin kita mengerti bahwa doa Bapa Kami ini dimulai fokus kepada Allah, ditutup fokus kepada Allah dan seluruh permohonan dan isi dari doa Bapa Kami ini fokus kepada Allah. Semakin kita memiliki hidup yang terpusat kepada Allah dan pada akhirnya kita menjadi orang yang rendah hati.

Lalu sebagai kesaksian atas doa kita, keinginan kita dan keyakinan kita untuk didengar oleh Tuhan, maka kita katakan “Amin”. Nah ini adalah suatu hal yang indah ya. Yang pertama kita bisa lihat kalimat penutup dari doa Bapa Kami itu diakhiri untuk kemuliaan Allah Bapa atau Soli Deo Gloria. Ini adalah salah satu dari lima “solas”, lima “hanya” atau “the only” yang menunjukkan bahwa orang itu mengenal teologi reform atau nggak. Salah satunya adalah lima solas ini; Sola Scriptura, Solu Christus, Sola Gratia, Sola Fide, Soli Deo Gloria. Soli Deo Gloria adalah diurutkan di bagian terakhir juga dari lima solas ini, itu juga menunjukkan bahwa segala kemuliaan hanya untuk Allah Bapa di surga, hanya untuk Allah Tritunggal saja. Diambil dari mana lima solas ini? Ya dari Alkitab. Lalu Soli Deo Gloria diambil dari ayat mana? Nah kita semua seharusnya sudah ingat ya, dari Rom. 11:36 yang mengatakan bahwa “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Amin. Nah ini harus menjadi satu slogan di dalam kehidupan setiap kita, lima solas ini. Kalau kita merenungkan tentang reformasi ya, itu salah satu kontribusi besar dari sejarah reformasi gereja adalah lima solas ini. Dan kita diajarkan bahwa seluruh hidup kita ini untuk memuliakan Tuhan. Kita mengakhiri hidup kita harus untuk kemuliaan Tuhan, mengawali hidup kita itu dari Tuhan, menjalani kehidupan kita itu juga sebenarnya untuk kemuliaan Tuhan saja.

Johan Sebastian Bach, seorang komponis Jerman yang sangat berpengaruh dan juga seorang Kristen yang taat, sering menulis SDG di akhir banyak komposisi musiknya, terutama pada musik gereja atau kantata. Musik-musik rohani yang dia tuliskan, di bagian akhirnya adalah SDG (Soli Deo Gloria), selain namanya dia juga, ya bahwa dia adalah komposernya, dia adalah penggubah lagu ini. Itu mengingatkan bahwa ini lagu yang saya persembahkan untuk kemuliaan Tuhan. Karena hidup kita, hidup kita itu tidak menjadi dualisme, ya. Sebagai orang Kristen, kita tidak bedakan satu sekuler, satu rohani. Itu dualisme dan itu salah. Semua itu rohani, semua itu satu di hadapan Tuhan. Kehidupan kita itu semuanya rohani, tidak ada yang tidak rohani, semuanya adalah untuk menyatakan kemuliaan bagi Tuhan. Inilah yang membuat kita semakin bertumbuh di dalam pekerjaan kita. Kita ingin bekerja sebaik mungkin untuk memuliakan Tuhan, bukan bekerja sebatas untuk manusia saja, kebaikan bagi manusia saja, tetapi kita memiliki relasi terhadap Tuhan yang memberikan kita pekerjaan untuk bekerja sebaik mungkin di dalam segala suatu. Baik pekerjaan kita, baik sekolah kita, baik keluarga kita, baik pelayanan kita, ini hubungan aku dengan Tuhan terlebih dahulu. Ini relasi aku dengan Tuhan, untuk kemuliaan Tuhan. Dan di sini Johan Sebastian Bach menunjukkan bahwa musik itu bukan hanya seni, tetapi juga ibadah kepada Tuhan. Dan kalimat penutup ini bicara soal Soli Deo Gloria.

Yang kedua, bicara soal Soli Deo Gloria yang pertama, yang kedua adalah dikatakan “Engkau lah yang empunya kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan”, “Yours is the kingdom, the power and the glory”. Kalau kita merenungkan soal kerajaan, di situ berarti ada apa? Ada kuasa dan kemuliaan. Kerajaan, kuasa, kemuliaan itu saling berkaitan satu dengan yang lainnya, tetapi payung besarnya adalah kerajaan. Kerajaan tanpa kuasa bukan kerajaan. Kerajaan tanpa kemuliaan bukan kerajaan. Tapi kemuliaan bisa dilepas dari konteks soal pemerintahan atau kerajaan. Kuasa juga bisa dilepas dari konteks pemerintahan atau kerajaan. Tapi kalau kerajaan, sudah pasti harus ada kuasa maupun kemuliaan. Dalam kerajaan harus ada pemimpinnya, ada juga yang dipimpin. Ada tanah atau wilayah, lahan, ya. Entah kecil atau luas, itulah kerajaan.

Sekarang kita bisa merenungkan, Bapak-Ibu saudara sekalian, ya. Di dalam doa Bapa kami ini, dalam perenungan saya, saya bertanya juga, ya. Tuhan, harus merenungkan tentang apa, untuk membahas kotbah kalimat penutup dari doa Bapak Kami ini? Akhirnya fokus kepada raja-raja yang muncul di dalam Alkitab, dan kita bisa pelajari, ya Bapak-Ibu saudara sekalian, Raja Saul. Kita bisa lihat Raja Saul itu, ia memimpin Israel yang sebelumnya itu bersifat tidak menyatu, dia organisir dengan baik, sehingga dia menjadi raja yang pertama, dan dia bisa memelihara kerajaan Israel atau bangsa Israel, dan dia juga menjadi orang yang menjadi ancaman bagi bangsa Filistin, Amon, Amalek di sekitarnya. Saul adalah raja yang gagah, raja yang berani berperang juga, dan memenangkan banyak kemenangan melawan musuh dari bangsa Israel. Tetapi raja di dalam dunia ini, raja pertama dari bangsa Israel pun, tidak ada yang sempurna. Saul tidak sempurna. Pada akhirnya dia pun ada kelemahan, ada dosa, dia pun menjadi raja yang ditolak Tuhan karena dia tidak taat, dia sombong, dia bahkan mengambil tugas imam untuk mempersembahkan korban, dia tidak menjalankan tugasnya sebagai raja dengan baik.

Lalu kita lihat raja yang kedua, Raja Daud, ini adalah raja yang lebih baik daripada Saul, dia menggantikan Saul. Daud menjadi raja yang paling dihormati dalam sejarah Israel, dia memiliki hati yang terus mencari kehendak Tuhan, hati yang terus mau mengenal dan menyenangkan Tuhan. Dia berhasil menyatukan suku Israel juga dan membuat Yerusalem menjadi ibu kota kerajaan. Bahkan Tuhan juga mengikat perjanjian dengan Daud, ini disebut sebagai Covenant of David, ya. Perjanjian Daud, bahwa di mana keturunan Daud itu akan tetap berada di tahta Israel, bahkan dari garis keturunan Raja Daud akan dilahirkan seorang Mesias, yaitu Yesus Kristus. Tuhan sangat menghormati dan mengasihi Daud sebagai orang yang taat kepada Tuhan. Dan kemudian Raja Daud juga belajar terus setia, sabar menunggu waktunya sebagai raja. Padahal dia diurapi sebagai raja oleh Samuel itu masih muda, tapi menunggu waktu begitu lama sampai pada akhirnya dia menjadi raja. Daud, raja yang dikenal sebagai orang yang mencari hati Tuhan, the man after God’s own heart pun ada kelemahan, jatuh dalam dosa, membunuh, berzinah, berbohong, mencuri, merampok, ya. Itu adalah Raja Daud, raja di dunia yang tidak sempurna.

Terus muncul lagi keturunan dari Daud, Salomo. Raja Salomo dikenal sebagai raja yang paling berhikmat, paling menjaga stabilitas politik dengan baik, ekonomi pun maju, rakyat sejahtera, dia punya hubungan dengan bangsa-bangsa lain, raja-raja lain dengan bijaksana, ya. Semua raja menghormati dia, perdagangan internasional baik, pembangunan pun besar-besaran, sampai dia pun membangun Bait Suci di Yerusalem, yang menjadi pusat ibadah bagi bangsa Israel dan simbol kemuliaan kerajaan Allah di bumi. Tuhan sangat senang dengan Salomo. Namun, kita tahu bahwa raja paling berhikmat pun, ya bicara soal hati, hatinya akhirnya condong kepada berhala juga. Jatuh dalam dosa, memberhalakan dewa-dewa yang lain juga, menyembah dewa-dewa yang lain. Kenapa? Karena banyak istri, banyak selir yang membawa dia akhirnya jatuh ke dalam dosa pemberhalaan atau menyembah dewa lain. Itu raja paling berhikmat. Raja yang paling mencari hati Tuhan, itu Daud. Raja Saul raja pertama. Itu tidak ada yang sempurna.

Di dunia ini, sepanjang sejarah dunia ini, semua raja tidak sempurna, semua kerajaan tidak sempurna. Tidak ada raja yang tanpa cacat. Tidak ada raja yang juga memiliki seluruh kerajaan. Ya apakah ada orang yang punya ambisi besar bahwa ya saya akan menyatukan seluruh dunia menjadi satu negara. Nggak ada. Mustahil. Ada satu orang pemimpin menyatukan seluruh negara-negara yang beda suku. Berbeda bahasa, berbeda lokasi, satu raja itu akan memimpin seluruh pulau yang ada di dunia ini. Nggak ada. Tetapi Yesus Kristus bisa melampaui semua raja dan semua kerajaan tanpa cacat tanpa dosa satu pun. Ya semua raja-raja dunia berusaha meniru kuasa Allah, kemuliaan Allah, tetapi gagal. Raja yang sempurna, kerajaan yang sempurna, raja yang berkuasa atas seluruh alam semesta adalah Yesus Kristus.

Lalu kita berpikir dan bertanya juga, ya, buktinya apa kerajaan Kristus itu memerintah seluruh dunia? Buktinya apa Yesus Kristus menjadi Raja atas seluruh alam semesta. Sekarang kita nggak lihat Yesus Kristus, Yesus Kristus di surga. Sekarang kita juga nggak lihat kerajaan Yesus Kristus seperti apa. Mana realitas bukti konkrit bahwa Yesus Raja atas seluruh raja? Yesus itu memiliki kerajaan atas seluruh kerajaan yang ada di dunia ini? Nah bagaimana kita memahami pemerintahan Kristus, kerajaan Kristus? Nah di sini lah pentingnya kita belajar tentang eskatologi atau akhir zaman. Di dalam pemahaman tentang eskatologi Kristen, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita memahami bahwa Kerajaan Allah itu di dalam dua aspek yang paradoks, yang kelihatannya bertentangan tetapi keduanya berjalan bersama-sama. Yaitu apa? Aspek already and not yet. Kerajaan Yesus Kristus betul memerintah, memimpin, betul. Karena Yesus sudah datang pertama kali ke dalam dunia ini. Untuk apa? Untuk menggenapkan rencana keselamatan dari Allah. Dia menang atas kuasa maut, maut saja dikalahkan. Dia menang atas kuasa iblis, iblis aja dikalahkan. Apalagi yang bisa mengalahkann Yesus Kristus? Iblis dikalahkan, maut dikalahkan. Itu kedatangan Yesus yang pertama. Sudah? Sudah.

Tetapi yang kita bayangkan tadi, pikiran bahwa Yesus akan menjadi Raja yang di mana semua orang tunduk dan semua itu akan bertekuk lutut di hadapan Yesus Kristus, itu belum datang. Dan akan datang. Dan kita tidak tahu kapan. Di situ lah kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya ke dalam dunia ini. Inilah kerajaan Yesus Kristus, already but not yet. Anthony A. Hoekema, dalam bukunya “Alkitab dan Akhir Zaman,” menyatakan bahwa, “Kerajaan Allah ini harus dimengerti secara realitas dua hal ini. already but not yet. Yesus sudah datang, lewat pengajaran-Nya, mujizat-Nya, kematian dan kebangkitan-Nya, dan Yesus juga belum datang kedua kalinya karena Yesus sekarang berada di surga, dan penggenapan itu akan ada di dalam sejarah dunia.”

Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di dalam Perjanjian Lama, ada satu raja yang begitu berkuasa, dia berasal bukan dari bangsa pilihan, bukan dari bangsa Israel, bahkan dia juga justru menjajah bangsa Israel. Dia dalam kesombongannya, kuasanya dan merasa dirinya begitu terhormat dan mulia, sampai berpikir bahwa, diberikan nasihat ya oleh berbagai pejabat-pejabatnya, mari kita buat patung, yang menjadi simbol bahwa patung itu adalah dia. Ini orang sangat luar biasa apa, gila untuk dirinya. Dia setuju dengan usulan tersebut. Dia membuat patung emas, dari emas ya, begitu tinggi, tingginya itu 27 meter. Kurang lebih seperti gedung GRII Jogjakarta ini ya. Wah tinggi sekali bisa dilihat oleh orang-orang Jogja sekitar, dari jauh, dari emas lagi, ya, dan lebarnya itu 2,7 meter. Jadi lebarnya 2,7 meter, tingginya 27 meter. Untuk apa? Untuk disembah oleh banyak orang. Dia begitu sombong, dia begitu keras memerintahkan kepada rakyatnya bahwa semua harus menyembah patung ketika musik dilantunkan. Di momen tertentu, saat tertentu, ketika ada musik dilantunkan, semua harus sujud menyembah kepada patung emas tinggi tersebut, yang begitu besar, yang menyimbolkan tentang dirinya sendiri yang begitu berkuasa, begitu mulia, dan adalah raja atas kerajaan tersebut. Hukuman dilaksanakan bagi orang yang tidak mau menyembah patung tersebut dengan cara apa? Dengan cara dibakar. Hukuman kematian. Ekstreme sekali. Ya. Bicara soal penyembahan, tunduk kepada menyembah patung tersebut. Kalau tidak mau maka mati.

Tapi kita tahu bahwa pada akhirnya pada satu momen dia begitu sombong bahwa pada satu hari begitu sombong kepada Tuhan, tapi di satu momen pun, Tuhan pun akhirnya membuat dia, mau tidak mau tunduk kepada Tuhan. Orang paling sombong bisa ditundukkan oleh Tuhan. Di satu moment, mau tidak mau dia tunduk pada Yesus Kristus. Raja semesta alam. Kita tahu Bapak, Ibu, Saudara sekalian, siapakah raja ini? Raja ini adalah raja Nebukadnezar. Dan kita kalau ingat Raja Nebukadnezar, ini kesannya adalah raja yang jahat, raja yang melawan Tuhan. Tetapi ingat di dalam realitanya, dia pun sempat tunduk kepada Allah semesta alam. Terserah, ini bicara soal dia percaya kepada Allah atau tidak percaya kepada Allah, pada akhirnya orang yang percaya kepada Allah maupun yang tidak percaya kepada Allah, di akhir zaman ini, di not yet tersebut, pasti semuanya tunduk kepada Allah. Mau dia percaya kepada Kristus, mau tidak percaya kepada Kristus, semua lutut bertelut dan mengakui, “Oh Yesus Kristus itu adalah Allah.” Cuma yang satu, sebagian kelompok itu adalah hati yang percaya, bersyukur dan sebagian yang kelompok adalah hati yang tidak percaya. Dan dia juga mungkin menyesal, kenapa dulu di bumi, waktu masih hidup tidak percaya kepada Kristus.

Kita biasanya memandang Nebukadnezar ini adalah orang yang tunduk kepada Allah dan dia tidak percaya kepada Allah, tetap tidak percaya kepada Allah. Biasanya kita berpikir demikian, tetapi ternyata ada 2 pandangan Bapak, Ibu, Saudara sekalian, yang muncul ketika merenungkan tentang raja Nebukadnezar. Pertama adalah dia, raja Nebukadnezar, pada zaman Daniel itu, dia betul-betul tunduk kepada Allah dan percaya juga kepada Allah. Karena ada pengakuan-pengakuan tertentu di mana ini adalah pengakuan yang bahkan melebihi bangsa pilihan. Itu pandangan yang pertama ya. Pandangan kedua adalah pandangan yang tadi saya sebutkan bahwa Nebukadnezar ini tunduk kepada Allah tapi hatinya tidak percaya. Dia tetap hanya sebatas tahu bahwa Allah itu Allah, tapi nggak mau percaya kepada Allah yang Mahakuasa itu.

Nah kemudian kita renungkan, kita bisa belajar argumennya, mana yang benar? Apakah Nebukadnezar ini umat pilihan, orang yang percaya kepada Tuhan? Ataukah Nebukadnezar bukan umat pilihan, orang yang tidak percaya kepada Tuhan? Untuk hasil akhirnya kita bisa menebak-nebak Bapak, Ibu, Saudara sekalian, orang ini masuk surga atau neraka, orang pilihan atau bukan pilihan. Kita bisa saja menebak-nebak, tetapi yang pasti, jalan keselamatan itu sudah dijelaskan di dalam Alkitab. Dan yang pasti juga tugas kita yang utama adalah mengabarkan Injil kepada semua orang karena kita tidak tahu mana yang pilihan dan mana yang bukan pilihan. Kalau mau tahu Nebukadnezar masuk surga atau tidak, nanti saja, tunggu kerajaan Allah yang kedua kali. Siapa tahu kita bisa nyapa Nebukadnezar di surga.

Kita pasti masuk surga karena Yesus Kristus menjamin. Nah kalau Nebukadnezar betul-betul tunduk kepada Allah dan akhirnya percaya kepada Allah sungguh-sungguh, nanti waktu kita masuk surga, nanti kita ketemu Nebukadnezar. Terus ngobrol sama dia, “Kok bisa percaya sih? Kamu begitu sombong, bikin patung tinggi. Emas lagi. Ngabisin banyak uang, menyiksa rakyat. Kok bisa masuk surga?” Itu bisa saja ya, kita bisa memastikan nanti. Tapi intinya kita merenungkan firman nggak masalah, bagus. Yang penting argumennya masing-masing bisa muncul.

Dalam Dan. 4, Nebukadnezar ini, raja Babel ini, kenapa pada akhirnya dia bisa mengakui dan tunduk kepada Allah, kepada kuasa Allah? Dia mengalami pengalaman yang sangat drastis. Yaitu apa? Setelah dia menyombongkan diri atas kemegahan kerajaannya, menganggap bahwa kerajaannya adalah hasil dari kebesarannya sendiri, Nebukadnezar berpikir bahwa kerajaan dan kuasa dan kemuliaan itu semua hasil dia. Wah ini sangat sombong sekali. Semua hasil kerja dia, semua untuk dia, dan dialah yang layak dihormati. Sebagai hukuman, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Allah sangat mudah untuk merendahkan hati yang sombong. Yaitu dengan cara apa? Tuhan membuat orang yang normal menjadi gila, menjadi sakit mental. Ya jangan pikir ya Tuhan itu baik, melakukan mujizat dari yang sakit menjadi sembuh. Itu memang Tuhan baik, mengasihi. Dan itu ada tanda khusus di dalam Alkitab mau merujuk kepada Kristus, maka Tuhan kasih mujizat yang supranatural, yang baik tersebut.

Tapi, ada juga Tuhan bisa membuat orang yang sehat, sakit. Orang yang sehat, mati siapa yang buat? Tuhan yang izinkan! Baik kehidupan maupun kematian seseorang kan semua di tangan Tuhan. Tapi Tuhan ketika melakukan sesuatu hal yang mengizinkan sesuatu hal yang negatif terjadi, itu bukan karena kebencian. Justru karena kasih. Kamu sehat sombong, kamu kaya kamu menindas yang lemah. Tuhan bisa kok membuat yang kaya menjadi miskin, sehat jadi sakit, melihat jadi buta; kalau mau dibalikkan ya, yang jalan jadi lumpuh, yang mendengar jadi tuli. Tuhan bisa. Supaya apa? Supaya kita bertobat. Harus dengan cara yang keras. Dan Nebukadnezar ini sudah hatinya keras, sombong sekali, Tuhan izinkan Nebukadnezar ini mungkin jadi mikir, terus gila. Dan dia gila selama 7 masa. 7 masa itu berapa lama? 7 tahun dia gila hidup seperti binatang. Karena apa? Karena kesombongan di dalam seluruh hidupnya. Jadi binatang. Pegawai-pegawainya terus memelihara raja ini karena masih hidup. Tapi gila, kok. Ya, seperti binatang yang tidak beretika, tidak ngerti apa pun, ya.

Kita bisa lihat slidenya, ya, ini gambar Nebukadnezar ketika dia sakit mental, sakit gila itu, ya. Betul-betul nggak diurus semua badannya. Sampai yang coba menggambarkannya pun ini seperti binatang, kan? Mirip-mirip apa ini? Mungkin sapi atau apa, ya? Gila selama 7 tahun. Padahal dia sombong, ya, begitu besar. Nah, Bapak, Ibu, Saudara, setelah penghukumannya, di situlah Nebukadnezar sadar lagi. Setelah 7 tahun dia sadar lagi, “Wah, ya, kita nggak bisa lawan Tuhan. Kita harus mengakui kuasa Tuhan, kedaulatan Tuhan, kita nggak bisa sombong, ya. Ya, mengakui kedaulatan Allah.” Kembali ke tahta-Nya, tetapi dengan hati yang lebih rendah hati dan mengakui kuasa Tuhan. Nah, ini raja Nebukadnezar. Raja yang begitu besar, paling sombong pun Tuhan bisa turunkan. Tuhan bisa tegur dengan keras.

Dalam Fil. 2:9-11, mari kita baca bersama-sama, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Fil. 2:9-11, iniadalah kerajaan Allah yang not yet, ya. Kerajaan Allah yang not yet. Kita baca bersama-sama. Fil. 2:9-11,Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ”Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Inimenunjukkan bahwa pada saat kedatangan Yesus Kristus yang kedua, semua bertekuk lutut karena Dia Tuhan. Semua akan mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan demi kemuliaan bagi Allah Bapa karena Yesus betul-betul Tuhan. Tetapi, tadisaya sudah katakan bahwa, “Ada dua kelompok yang fenomenanya seperti ini. Sama-sama tunduk menyembah, ya, sama-sama mengaku Yesus. Tapi yang satu dengan hati yang percaya, satu hati yang menolak untuk percaya Yesus.” Seperti Nebukadnezar yang pada akhirnya mengakui Allah setelah mengalami penghukuman yang begitu besar, demikian juga seluruh dunia akan mengakui Kristus pada waktu penghukuman atau penghakiman yang terakhir. Nebukadnezar mewakili bangsa-bangsa yang angkuh, ya, yang mengandalkan kejayaan duniawi. Bagi orang percaya pengakuan kepada Kristus dan kepercayaan kepada Kristus ini membawa kepada kemuliaan dan keselamatan, tapi bagi orang fasik, dia mengakui Yesus sebagai Tuhan tapi dalam konteks dia baru sadar bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan akhirnya mengalami hukuman kekal.

Seorang teolog bernama Octavius Winslow, Bapak, Ibu, Saudara sekalian mengatakan bahwa, Kerajaan Allah ini kita bisa mengerti dalam 3 hal. 3 aspek. Yang satu adalah kita mau mengenal kerajaan Allah yang sekarang itu lewat apa? Lewat alam ciptaannya. Bumi ini melayang. Ya, bumi ini melayang, nggak ada fondasi sama sekali, kok. Melayang di alam semesta. Kita bisa mengagumi Tuhan itu Mahakuasa. Semua yang dibangun harus ada fondasi supaya bisa berdiri dengan kokoh. Tuhan membangun, menciptakan bumi ini nggak perlu fondasi. Dengan alam semesta, Tuhan mengatur semua karya-Nya.

Ada hamba Tuhan kita bercerita bahwa jumlah bintang di seluruh dunia itu 2 miliar. Ya, lebih mungkin, tidak tahu. Bumi ini cuma satu. Penduduk bumi juga, ya, terhitung oleh manusia. Sekarang mungkin sudah 8 atau 9 miliar yang masih hidup. Belum yang sudah mati, dihitung banyak juga. Tuhan berkuasa atas seluruh hidup manusia satu per satu. Seluruh pikiran kita, perkataan kita, perbuatan kita pun Tuhan tahu dan akan menghakiminya di akhir zaman. Tuhan itu Mahakuasa. Tuhan itu Mahaadil. Ya, lewat alam kita bisa lihat kemuliaan Tuhan, kerajaan Tuhan.

Lalu yang kedua, Octavius Winslow mengatakan, lewat providensia Tuhan. Ya, Tuhan bekerja dalam sejarah. Ya, dan sejarah ini, dia katakan, berparalel dengan providensia Tuhan. Di mana ada sejarah manusia, di situ ada Allah. Tidak ada dunia, sejarah manusia, yang tanpa Allah sedetik pun. Tuhan pun memelihara, masuk, ya, menghadiri kehidupan kita, dan ada di dalam setiap waktu-waktu kehidupan kita. Itu Tuhan Mahakuasa. Ya, di dalam ciptaan ini, Roh Kudus bekerja.

Lalu yang ketiga, kerajaan Allah juga mencakup apa? Anugerah-Nya. Bukan saja alam, bukan saja providensia, atau pemeliharaan Allah atas sejarah dunia, tapi juga Tuhan menyatakan kerajaan-Nya lewat anugerah, yaitu anugerah keselamatan bagi umat pilihannya, sehingga orang-orang di dalam dunia ini, ada orang Kristen. Orang Kristen membangun gereja yang adalah simbol kemuliaan Allah. Simbol kabar baik, ya, bangunan ini. Rumah Tuhan. Dan akhirnya kita di dalam iman kita, kita mau melayani Raja kita. Kita adalah warga kerajaan Allah. Kita juga memiliki double citizenship. Ya, kita warga dunia, hidup di dunia, tetapi juga kita warga kerajaan Allah. Sehingga kita bisa melihat bahwa relasi kita dengan Tuhan, Tuhan itu Raja, kita ini adalah rakyatnya. Dan sebagai rakyat harus tunduk kepada Allah yang sebagai Raja dan kita mau taat. Nah ini adalah kerajaan Allah, Tuhan memberikan kerajaan-Nya lewat orang-orang yang percaya kepada Kristus. Kita diselamatkan oleh anugerah semata, kita pun mau menjalankan perintah Tuhan dan itulah kerajaan Allah.

Lalu poin selanjutnya yang kita renungkan adalah “selama-lamanya” atau “forever and ever”. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita sebagai umat pilihan yang sudah ditebus dengan darah Kristus, kita punya tugas yang kekal dari Tuhan, yaitu apa? Memperkembangkan kerajaan Tuhan. Baik di bumi maupun nanti di surga, kita terus taat kepada perintah Tuhan. Ini menunjukkan bahwa ini adalah suatu privilege yang luar biasa. Kita dikasih tugas itu selama-lamanya untuk taat kepada Bapa di surga. Kita dikasih 10 hukum Taurat itu selama-lamanya. Kita diberikan perintah untuk terus bersaksi bagi Kristus selama-lamanya. Ini adalah suatu anugerah yang besar. Maka sebagai orang Kristen Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya, kita kan mengenal istilah pensiun ya, tetapi pensiun bagi kita adalah ketika kita mati atau dipanggil Tuhan. Bukan ketika kita sudah umur 60 nih, ya sudah nggak usah kerja apa-apa. Uang, anak yang kasih, anak yang sediakan. Rumah, sudah didiemin saja, nggak usah dibersihin. Kita pensiun, terus nggak ngapa-ngapain. Nggak! Selama kita masih di dunia, berarti ada tugas dari Tuhan dan tugas dari Tuhan itu selama-lamanya bahkan. Maka dari itu, kita mau terus mempersembahkan hidup kita juga selama-lamanya, bukan sementara. “Ya saya mempersembahkan hidup saya hari Minggu saja deh Tuhan, saya hidup kudus. Hari Senin sampai Sabtu nggak hidup kudus, nggak mempersembahkan hidup bagi Tuhan.” Nggak ya.

Kita diciptakan, dilahirkan, bahkan untuk hidup pun selama-lamanya kok. Ada unsur kekal dalam diri manusia. Kita diciptakan dalam 2 aspek, satu jasmani, satu rohani; satu fisik, satu non-fisik; satu materi, satu non-materi; satu kelihatan, satu tidak kelihatan. Itu manusia. Ada seorang teolog mengatakan “Immoratality is all birth right”, “Kekekalan adalah satu hak lahir kita”. Kamu lahir dalam dunia ini, kamu ada dalam dunia ini berarti kamu kekal selama-lamanya. Dan kekekalan nanti, di hidup yang akan datang ditentukan dalam kesementaran kamu hidup dalam bumi ini. Maka betapa pentingnya kita memikirkan konsep waktu. Alkitab mengajarkan kalau kamu mau berbijaksana, hitunglah waktu, hitung hari-hari. Kalau kamu mau berbijaksana lagi, pikirkanlah soal kekekalan. Kalau nanti suatu hari nanti hidup kita lebih banyak di kekekalan, lebih lama di kekekalan, dan yang menentukan kekekalan itu adalah hari ini di mana kita ada di dalam dunia ini, bumi ini, maka betapa pentingnya kita menjalankan hidup yang sekarang ini.

Kita tidak percaya dengan pemahaman yang sedang ramai juga ya, yaitu tentang anihilasionisme. Nihil, ada orang-orang Kristen seperti tokoh-tokoh hebat yang menulis banyak buku, pengkhotbah Kristen juga, mengatakan bahwa nanti orang yang mati di luar Kristus itu nggak akan mendapatkan penghakiman yang seperti tadi digambarkan. Nanti Tuhan Yesus datang kedua kalinya, sekelompok orang percaya tunduk kepada Kristus. Ada sekelompok orang tidak percaya tunduk kepada Kristus juga. Nah si hamba Tuhan ini nggak percaya bahwa orang yang tidak percaya kepada Kristus itu akan tunduk dan mengaku dengan lidahnya, meskipun dia tidak percaya ya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Nggak! Tetapi orang yang tidak percaya kepada Kristus, itu kan di Injil Yoh. 3:16 dikatakan apa? Binasa kan? Binasa itu apa? Hilang. Orang yang tidak percaya kepada Kristus nanti ketika mati, sekarang ini sudah mati, hilang dia. Nggak akan dihukum di kekal, di neraka, nggak ada. Neraka nggak ada. Yang ada hanyalah surga saja. Surga bagi orang yang percaya kepada Kristus, baru kita masuk surga. Enak kan? “Tapi kalau Tuhan menyiksa orang di neraka, menghukum orang di neraka, kayanya itu bukan Tuhan yang Mahakasih deh. Aku tidak mau percaya Tuhan yang seperti itu.” Nah banyak orang Kristen seperti ini juga. Kalau Tuhan menciptakan neraka, Tuhan mengizinkan sebagian banyak orang itu akhirnya dihukum kekal di neraka, bukankah itu Allah yang kejam? Bukankah itu Allah yang tidak mengasihi? Maka saya tidak mau terima surga dan neraka, saya terimanya surga saja. Nah ini adalah anihilasionisme. Ya orang yang sudah mati di luar Kristus hilang, binasa, tidak eksis lagi.

Tapi itu bukanlah ajaran Alkitab ya Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya. Ajaran Alkitab adalah kebangkitan orang mati, baik yang percaya, yang benar, maupun yang fasik. Baik yang percaya kepada Kristus, akan bangkit di akhir zaman, baik yang tidak percaya kepada Kristus juga akan bangkit. Ini menunjukkan apa? Roh manusia kekal. Allah yang kekal itu ketika menciptakan roh yang lain, roh itu kekal juga. Allah ciptakan malaikat, roh malaikat kekal. Allah ciptakan manusia, roh manusia kekal. Selama-lamanya. Frasa selama-lamanya, sampai selama-lamanya adalah pengakuan bahwa jiwa kita yang kekal ini harus mengakui kedaulatan Allah yang kekal juga. Kerajaan, kuasa, dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Di dalam kedaulatan Allah tidak ada hal yang di luar kendali Tuhan. Hal-hal kecil, Tuhan tahu. Tuhan berdaulat. Hal-hal besar, Tuhan pun tahu. Tuhan pun berdaulat. Hal-hal yang bagi kita, kita anggap penting, Tuhan pun berdaulat. Hal yang bagi kita, kita anggap tidak penting, Tuhan pun berdaulat. Kedaulatan Allah itu selama-lamanya. Tidak ada yang bisa melawan pemerintahan Allah yang selama-lamanya. Dan sebagai pengikut Kristus, kita harus menyadari hal ini sehingga dalam kehidupan, kita bisa terus belajar rendah hati. Ya, rendah hati, mau bergantung pada Tuhan, mau mengikuti pimpinan Tuhan, dan taat kepada Tuhan selama-lamanya. Ini mengajarkan kita untuk menaruh harapan kepada Allah yang kekal, bukan pada keduniawian yang sementara ini. Itu sangat indah, ya.

Dan terakhir, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, dan Doa Bapa Kami ini ditutup dengan kata “Amin.” Ya, Doa Bapa Kami ditutup dengan “Amin.” Sebuah kata yang begitu sederhana, mendalam, dan kata “Amin” sendiri dalam bahasa Ibrani, kan, digunakan untuk menyatakan “Saya sungguh-sungguh.” “Ya dan pasti.” “Amin,” gitu, ya. “Saya berpikir secara setuju dan berhasrat juga agar betul terjadi.” Nah, ini “Amin.” “Amin” berarti benar, setia, pasti. Kata yang bagus. Ya, tapi baru saja juga, ya ngobrol sama jemaat di Solo mengatakan bahwa-dia bilang dia agak risih kadang-kadang sama orang-orang Kristen yang selalu latah. Kalau ngomong sering-sering katakan “Amin!” gitu, ya. “Amin.” Biasanya kenapa? Begitu ada sesuatu kalimat, terus disahut dengan “Amin.” Biasanya kenapa? Ya, si jemaat itu mengatakan bahwa biasanya itu lebih ke permohonan yang kedagingan.”Sehat-sehat, ya!” “Amin!” “Diberkati Tuhan, ya! Kaya-raya, ya!” “Amin!”gitu, ya. “Nanti pasti, Tuhan akan kasih berkat yang besar.” “Amin!” Kedagingan, gitu, ya. Tapi, “Ayo, penginjilan!” “E..e.. Amin, nggak, ya?” Diubah aja, deh. Jangan “Amin”. Jadinya, “Nima”, gitu,ya. Itu hati-hati, ya.

Kita biasanya “Amin” itu kenapa, sih, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya? Karena didoakan yang lebih sifatnya materi, prosperity gospel? Kita juga terpengaruh, ya. Bukan berarti itu buruk, ya. Tentu, ya, kita doakan supaya sehat-sehat, ya. Tapi, kan, semua kedaulatan Tuhan, ya. Kita nggak bisa katakan, “Pasti sehat!” Kalau sakit, gimana? “Pasti kaya!” Kalau miskin, gimana? Kita nggak bisa, lho memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. “Harus! Amin! Amin! Harus sehat! Harus kaya! Harus berhasil!” Ya, ini nggak seperti itu, ya.

Kita kalau dinasehati, ”Rajin-rajin ibadah, ya!” “Amin!” gitu, dong, ya! “Rajin-rajin ibadah Minggu, ya!” “Amin!” “Penginjilan.” “Amin!” “KKR Regional.” ”Amin!” “PA, PD.” “Amin!” Misalkan gitu,kan. Wah, ini sudah seperti malaikat surgawi ini, ya. Ya, nasehatin malaikat surgawi, Amin terus dia, ya.

Ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita perlu melihat juga, kenapa, sih,  kita katakan “Amin,” ya. Tapi, kita bisa lihat ini justru di kalimat yang bicara soal kemuliaan Tuhan, kerajaan Tuhan, kuasa Tuhan. Kalau memang bicara soal kerajaan Tuhan, pemerintahan Tuhan, kita katakan “Amin. Ya, saya mau berbagian dalam kerajaan Tuhan. Saya mau dipakai Tuhan, meskipun saya lemah, saya bukan orang yang terlalu pintar, saya banyak juga kekurangan, tapi saya “Amin” untuk pekerjaan Tuhan.”

Doa Bapa Kami ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, adalah doa yang berpusat kepada Allah dan doa yang mengajak kita untuk senantiasa memuji kepada Allah. Kiranya hidup kita boleh senantiasa memuji Tuhan dan Jonathan Edwards mengatakan, ya, bagian penutup dalam Doa Bapa Kami ini, “Kemuliaan dan kekuasaan Tuhan adalah dua hal pertama yang disebutkan dalam Doa Bapa Kami dan dua hal terakhir yang disebutkan dalam doa yang sama adalah dalam penutupnya, kemuliaan Tuhan dan kuasa dari Tuhan.” Tuhan adalah Alfa dan Omega dalam Doa Bapa Kami dan juga kemuliaan Tuhan adalah Alfa dan Omega dalam Doa Bapa Kami. Kiranya kehidupan doa kita, relasi kita dengan Tuhan itu semakin dekat, semakin melihat kemuliaan Tuhan. Hidup kita pun semakin memancarkan kemuliaan Tuhan. Mari kita sama-sama berjuang demi kemuliaan Tuhan dan kita menyadari bahwa hidup kita ini adalah dari Tuhan, untuk Tuhan, bagi Tuhan selama-lamanya. Amin, ya. Mari kita sama-sama berdoa.

Bapa kami yang di surga, kami bersyukur boleh merenungkan kembali tentang Doa Bapa Kami yang Yesus sudah ajarkan kepada setiap kami sebagai orang Kristen. Kami mau Tuhan, bertumbuh dalam relasi kami dengan Tuhan. Bukan sebatas teori, bukan sebatas doktrin yang begitu indah karena kami tahu bahwa orang-orang yang di luar Kristus pun mampu mempelajari teori maupun doktrin. Tapi, kami mau mengalami Tuhan dalam kehidupan kami sehari-hari, Tuhan, mau berelasi dengan Kristus, mau menyembah Kristus, mau mengakui Kristus dalam seluruh perilaku kami. Ampunilah dosa-dosa kami, Tuhan, jikalau kami sebagai orang Kristen melupakan identitas kami dan juga melupakan siapakah Tuhan dalam hidup kami. Kami mau mengakui kemuliaan Tuhan. Kami mau mengakui kuasa Tuhan. Kami mau mengakui kerajaan Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup, kami sudah berdoa dan mengucap syukur. Amin. (HS)