Yesus Kristus Sang Utusan Allah
Yoh. 7:14-36
Vik. Nathanael Marvin, M. Th
Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Yesus Kristus adalah Mesias. Dia adalah Mesias yang dijanjikan oleh Allah, Dia adalah Mesias yang diberitakan di dalam firman Tuhan yang Tuhan nyatakan kepada umat Tuhan. Inilah yang membedakan pemahaman antara orang-orang Yudaisme maupun juga orang-orang Kristen. Orang-orang Yahudi tidak percaya bahwa Yesus Kristus adalah Mesias, seorang yang diurapi dijanjikan Allah untuk membebaskan umat-Nya dari belenggu dosa. Sedangkan orang-orang Kristen percaya bahwa Mesias itu adalah Yesus Kristus, Mesias itu sudah datang sesuai yang dijanjikan oleh Tuhan di dalam firman Tuhan yang Tuhan berikan kepada umat-Nya.
Kata Mesias dalam bahasa Ibrani berarti apa? Māšîaḥ atau yang berarti “yang diurapi oleh Tuhan”. Dan yang diurapi oleh Tuhan biasanya orang-orang yang memiliki gelar atau jabatan untuk raja, imam dan nabi. Semuanya itu diurapi dan Tuhan yang memerintahkan orang-orang untuk mengurapi mereka yang memiliki tiga jabatan ini. Tetapi ada satu jabatan yang pengurapannya itu berbeda dengan jabatan yang lain. Sekarang kita lihat Raja Daud, dia diurapi dengan minyak oleh Samuel. Itu menandakan bahwa Raja Daud akan menjadi raja Israel menggantikan Raja Saul, raja yang pertama. Dan yang kedua kita bisa lihat Imam Harun itu diurapi juga dengan minyak oleh siapa? Oleh Nabi Musa. Raja maupun imam diurapi oleh manusia, tetapi untuk nabi kita tidak bisa melihat secara eksplisit Alkitab menuliskan ada nabi yang diurapi dengan minyak secara langsung oleh orang lain. Tetapi nabi itu pasti diurapi bukan diurapi sebatas simbol dengan minyak melainkan dengan Roh Kudus dari Tuhan sendiri. Sehingga seorang nabi itu dipanggil oleh Tuhan, diurapi dengan Roh Kudus dan diminta oleh Tuhan menjalankan tugas khusus yang penting untuk memberitakan tentang siapa diri-Nya, memberitakan tentang firman Tuhan, kehendak Tuhan. Itu nabi.
Raja diurapi dengan minyak itu juga lambang bahwa Roh Kudus, urapan dari Roh Kudus. Imam Harun juga sama diurapi dengan minyak, itu juga lambang dari pengurapan Roh Kudus. Tetapi nabi itu diurapi oleh Tuhan. Ketika orang-orang diurapi dan diangkat untuk menjalankan tugas khusus dari Tuhan, itu berarti mereka diutus untuk pekerjaan mulia dari Tuhan. Jabatan raja, imam, nabi yang dijelaskan khususnya dalam konteks bangsa Israel yang dipimpin oleh Tuhan. Dan ini adalah suatu pekerjaan yang membawa berkat bagi banyak orang. Pada mulanya memang Allah menciptakan manusia di dalam tiga fungsi ini, raja, imam, nabi. Adam dan Hawa punya tiga fungsi ini; fungsi raja, fungsi imam, fungsi nabi. Tetapi ada jabatan khusus yang Tuhan pilih di dalam diri beberapa orang untuk akhirnya menjadi raja saja, menjadi imam saja, menjadi nabi saja.
Dan dalam Ef. 4:23-24 dijelaskan bahwa “supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Jadi orang-orang yang sudah jatuh di dalam dosa kehilangan kebenaran Allah, kekudusan Allah maupun pikiran dari Allah sendiri. Kita semua sudah jatuh dalam dosa dan tercemar oleh dosa, gambar dan rupa Allah memang tidak hilang melainkan rusak serusak-rusaknya karena sudah tercemar oleh dosa. Tetapi ketika kita di dalam Kristus, ketika percaya kepada Yesus Kristus, ketika kita dibenarkan oleh Yesus Kristus, kekudusan Allah, kebenaran Allah, pikiran Allah diberikan kepada kita sehingga kita mengenakan manusia baru. Manusia lama masih ada karena kita manusia yang sama. Sebelum percaya Kristus, setelah percaya Kristus kita manusia yang sama. Kita kan pribadinya nggak langsung berubah menjadi pribadi yang berbeda kan? Kita masih jatuh dalam dosa, kita masih manusia berdosa, tetapi manusia lama ini pada satu titik ditambah manusia baru. Dan ini berjalan bersama-sama. Manusia baru harus mengalahkan manusia yang lama di dalam kekuatan Roh Kudus.
Manusia baru di dalam Kristus diciptakan di dalam tiga aspek ini, dikatakan di dalam Ef.4:23-24 itu kita itu punya pikiran Allah atau roh Allah. Nah pikiran dan roh Allah ini berfungsi sebagai nabi. Kalau kita punya pikiran Allah, kita suka baca Alkitab, kita memberitakan firman, kita mengabarkan Injil kepada sesama, kita berfungsi sebagai nabi. Yang kedua, Tuhan ciptakan di dalam Kristus adalah kebenaran yang sesungguhnya. Nah ini righteousness, terjemahan yang lebih tepat adalah righteousness berbicara soal benar dan adil. Seorang raja harus melakukan penghakiman yang benar maupun yang adil, seorang raja harus melindungi rakyatnya, seorang raja harus berkorban demi rakyatnya, seorang raja harus menginginkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Waktu kita berusaha memelihara keluarga kita, kita berfungsi sebagai raja. Waktu kita berusaha untuk memperbaiki sistem masyarakat yang bobrok, kita berfungsi sebagai raja juga. Dan yang ketiga adalah bicara soal kekudusan, manusia yang diciptakan dalam Kristus itu diciptakan dalam kekudusan yang sesungguhnya. Ini berarti apa? Berfungsi sebagai imam. Imam harus kudus untuk bisa melayani Tuhan, imam harus kudus mempersiapkan diri untuk berdoa kepada Tuhan dan mempersembahkan korban kepada Tuhan.
Waktu kita berdoa kepada Tuhan untuk bangsa ini, untuk penginjilan, untuk Myanmar, untuk New Zealand, untuk semua orang, kita berfungsi sebagai imam. Waktu kita mempersembahkan korban kepada Tuhan, kita datang ke gereja, “Tuhan ini tubuhku. Aku mau berdoa, mau beribadah kepada Tuhan,” kita berfungsi sebagai imam. Tapi kita bukanlah jabatan nabi, kita bukan jabatan imam, kita bukan jabatan raja. Kita berfungsi ketiga hal ini, dan tiga hal inilah yang pada akhirnya memberkati semua orang, dan boleh menyenangkan hati Tuhan. Ketika kita jalankan tiga fungsi ini.
Dan ada satu orang yang memiliki tiga jabatan mulia dan melakukan fungsi tiga dari jabatan ini, yaitu siapa? Yaitu hanya Yesus Kristus. Di dalam sepanjang sejarah Israel, raja ya raja, imam ya imam, nabi ya nabi. Mungkin ada yang overlap. Nabi Samuel, Imam Samuel, pernah kan menjalankan tugas tersebut? Mungkin ada yang overlap, Raja Daud, tapi kok Raja Daud juga bisa bernubuat atau memberitakan firman. Ada kekhususan, tapi tidak ada seseorang yang punya tiga jabatan ini secara langsung. Yang punya tiga jabatan ini adalah Yesus Kristus, makanya Yesus disebut Mesias. Karena Yesus raja, Dia nabi, Dia imam, ketiga jabatan ini harus diurapi Roh Kudus. Yesus adalah Mesias yang dijanjikan karena Dia adalah nabi dipanggil dari Allah sendiri. Lalu Dia keturunan Daud, Dia adalah raja, keturunan Yehuda. Dan Dia adalah imam juga menurut peraturan yang bukan dari Harun, tetapi peraturan Melkisedek. Yesus adalah raja, imam, dan nabi. Dia adalah Mesias, Dia adalah yang diurapi Allah. Dia adalah sang utusan Allah yang sempurna tanpa dosa.
Nah, waktu kita bicara soal utusan Allah, Bapak-Ibu Saudara sekalian, ini bicara soal lebih khusus kepada jabatan nabi maupun rasul. Apostle, apostolos itu berarti apa? Utusan Allah. Nabi, prophet, prophetus itu berarti apa? Utusan Allah juga. Jadi kita bisa lihat, kita bisa fokus bahwa Yesus itu betul-betul utusan Allah. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal. Mengutus AnakNya yang tunggal, supaya barang siapa percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” Itu berarti ada utusan. Bapa mengaruniakan, mengutus AnakNya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus untuk diselamatkan.
Bapak-Ibu Saudara sekalian, salah satu tema di dalam KKR Regional di Solo, kita membahas dalam tiga tahun ini kan Yesus adalah raja, Yesus adalah imam, dan pada tahun ini kita membahas Yesus adalah sang nabi. Nah maksudnya apa? Yesus adalah utusan Allah yang menyampaikan firman Tuhan tanpa salah, tanpa dosa, menyampaikan kebenaran isi hati Tuhan. Dan Yesus adalah nabi yang dijanjikan Allah, dan Yesus adalah satu-satunya nabi yang lebih besar daripada nabi-nabi yang lainnya, dan kita lihat di dalam Alkitab nabi terakhir adalah Yesus Kristus. Jabatan nabi terakhir, setelah Yesus Kristus tidak ada lagi nabi. Kecuali nabi-nabi yang hidup sejaman dengan Yesus yang belum mati. Ya, maka waktu kita lihat Yesus sudah naik ke surga, kok masih ada nabi-nabi di Kisah Para Rasul, karena hidup sezaman dengan Yesus. Tapi kemudian ketika nabi-nabi itu sudah mati, nggak ada nabi lagi. Yesus nabi terakhir, Yesus nabi yang lebih besar dengan nabi-nabi yang lain, Yesus adalah utusan Allah yang mulia.
Dalam bagian Injil Yohanes yang kita baca ini, diceritakan sebelumnya bahwa Yesus sebagai nabi, sebagai raja, sebagai imam, Dia menjalankan fungsinya dengan tepat. Meskipun Yesus tidak betul-betul jadi raja semua orang Israel, misalkan ya. Tapi Dia adalah raja yang dijanjikan, raja umat pilihan Tuhan. Yesus juga tidak menjadi orang yang menjalankan tugas sebagai imam di Bait Allah secara khusus, menyembelih dan lain-lain. Tapi Dia adalah Imam Besar Agung yang pada akhirnya melakukan pengorbanan itu cuma satu kali, di atas kayu salib. Imam-imam yang lain mempersembahkan korban hewan, tapi Yesus Kristus satu kali saja untuk selama-lamanya, mempersembahkan tubuhNya untuk kita supaya boleh diselamatkan.
Dalam bagian ini Yesus berkeliling di Galilea. Galilea utara Samaria. Jadi kita ingat ya, ini peta yang perlu kita pelajari waktu kita baca Alkitab. Samaria itu di tengah, ya. Yehuda atau Yerusalem itu di Selatan. Samaria di tengah, Galilea itu di Utara. Di Galilea itu ada Kapernaum, ada Nazareth, ada Danau Galilea, itu provinsi Galilea. Terus tengahnya Samaria, selatannya itu provinsi Yudea dan Yerusalem. Orang-orang Yahudi berkumpul di Bait Allah di Yerusalem. Jadi, tengah-tengahnya adalah Samaria, gitu ya.
Dan Yesus berkeliling di Utara, Dia menjalankan tugasnya sebagai raja, imam, nabi kepada banyak orang. Dan satu hari tibalah Hari Raya Pondok Daun. Pada waktu itu, di mana ini adalah suatu tradisi hari raya yang sangat penting bagi orang-orang Yahudi. Di mana semua laki-laki wajib datang ke bait Allah untuk memperingati Hari Raya Pondok Daun selama 7 hari tambah satu hari lah. 8 hari untuk beribadah di Bait Suci. Hari Raya Pondok Daun itu apa? Hari Raya Pondok Daun itu memperingati bangsa Israel itu waktu di Mesir, selama 40 tahun, tinggalnya di pondok-pondok atau di tenda-tenda. Ya mereka berkemah di padang gurun tapi disertai Tuhan selama puluhan tahun meskipun situasi kondisi buruk sekali ya. Nah kemudian orang Yahudi setelah melewati masa itu memperingati perjalanan 40 tahun di padang gurun itu dengan 7 hari Pondok Daun ditambah 1 hari untuk menutup perayaan hari raya Pondok Daun tersebut, mereka mengingat penyertaan Tuhan di padang gurun.
Lalu ketika Yesus di Galilea bersama adik-adik, ya adik-adik tiri dari Yesus Kristus ya, adik-adik tiri dari Yesus itu berarti itu hasil hubungan dari Yusuf dan Maria ya, Yesus punya adik-adik. Tapi adik-adik yang melihat Yesus melakukan mujizat, melayani, mereka sendiri tidak percaya siapa Yesus Kristus. Mereka nggak percaya Yesus itu Mesias. Mereka nggak percaya Yesus itu orang yang diutus Tuhan atau orang yang diurapi oleh Tuhan sendiri. Lalu Yesus dikatakan oleh adik-adik-Nya, bahwa, “Ayo Yesus pergilah ke hari raya orang Yahudi Pondok Daun tersebut. Pergilah ke Yudea, ke selatan!” Ya dari utara ke selatan pergi ke Yerusalem untuk merayakan hari raya Pondok Daun.
Kenapa Yesus didorong oleh saudara-saudara-Nya? Bukan saudara-Nya itu mengasihi Yesus inilah kewajiban yang baik orang Yahudi? Yesus orang Yahudi ya, tetapi sebenarnya dijelaskan dalam Yohanes ini bukan karena saudara-saudaranya itu bukannya peduli dan mengasihi Yesus, melainkan saudara-saudaranya itu tidak percaya Yesus adalah Mesias. Maka disuruh pergi dengan cara mereka sendiri, “Kalau kamu adalah Mesias, tunjukkanlah pada orang-orang Yahudi yang sedang kumpul di Bait Suci, Yerusalem, untuk hari raya Pondok Daun itu. Tunjukkanlah bahwa Diri-Mu adalah Mesias, supaya bukan kami doang yang kamu beritakan Kamu adalah Mesias.” Ya jadi didorong oleh adik-adiknya sendiri, saudara-saudara Yesus tidak percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, Mesias, yang mereka percaya adalah ini Kakakku tukang kayu. Biasa kok, memang baik sih, Yesus baik, Dia menafkai kami setelah papa meninggal. Tetapi kami tidak melihat bahwa Yesus itu orang yang special kok. Bayangin aja hidup selama kurang lebih 20an tahun sama Yesus adik-adiknya ini, 20 – 25 tahun, dia melihat Yesus itu orang biasa manusia biasa. Maka tidak mudah melihat Yesus adalah Mesias lho. Orang yang hidup serumah dengan Tuhan Yesus pun tidak percaya, Yesus itu Mesias, adik Yesus sendiri. Maria masih percaya, karena Maria dikabarkan oleh Malaikat. Maria percaya bahwa Yesus ini bukan hanya dikabarkan oleh Malaikat Yesus ini bukan hanya Anak Manusia tetapi bahwa betul-betul Anak Allah. Apalagi dia tahu dia hamil bukan dari Yusuf tapi dari Roh Kudus. Tetapi adik-adik Yesus, melihat Yesus itu manusia biasa saja, meskipun memang Yesus melakukan banyak mukjizat, tetapi mereka tetap ragu, yang melakukan mujizat kan bukan hanya Yesus saja. Nabi-nabi lain di Perjanjian Lama melakukan mujizat juga.
Nah kemudian Yesus menjawab kepada saudara-saudaranya itu, Ia mengatakan bahwa “waktu-Ku belum tiba. Belum waktunya Aku ke Yerusalem, tetapi waktumu selalu ada, dunia tidak membenci kamu, tetapi dunia membenci Aku.” Maksudnya apa? Kamu itu sama seperti orang-orang dunia dalam memahami Aku; jadi kamu nggak dibenci dunia. “Tetapi dunia membenci Aku karena Aku bersaksi tentang diri-Ku, yang adalah Mesias, dan Aku juga menegur orang-orang yang membenci dosa.” Jadi dibenci, orang-orang membenci Yesus itu bukan karena Yesus itu jahat atau melakukan dosa. Bukan! Orang-orang membenci Yesus karena tidak percaya sama Yesus, dan juga Yesus itu menegur dosa-dosa mereka. Maka Yesus itu dibenci, kurang lebih Yesus katakan bahwa, “Adik-adikku waktu-Ku belum tiba, kamu jangan nyuruh-nyuruh Aku. Akut idak mau ke Pondok Daun berdasarkan suruhanmu, berdasarkan motivasi kamu yang tidak percaya kepada-Ku sebagai Mesias.”
Nah dalam kalimat ini, Yesus menjalankan fungsinya sebagai Nabi juga, yaitu “waktu-Ku belum tiba.” Itu fungsi Nabi kan, Dia tahu waktu Tuhan, waktu Tuhan kapan. Nah kemudian Yesus juga menegur orang-orang berdosa untuk bertobat dan resikonya ialah dibenci. Akhirnya Yesus bertindak sebagai Nabi yang tahu masa depan. Masa depan waktu-Ku belum tiba, tahu kapan penderitaan-Ku, tahu kapan mati di kayu salib. Itu Yesus tahu semua, karena Yesus adalah Nabi, nabi yang mengatakan nubuatan-Nya sendiri tentang kematian-Nya sendiri di Yerusalem. Sehingga Yesus mengatakan kepada adik-adikNya, “waktu-Ku belum tiba, Aku masih tetap di Galilea, di Utara.” Justru kemudian, Yesus mengatakan, “kamu adik-adikKu kamu orang Yahudi maka pergilah ke hari raya Pondok Daun itu”. Begitu ya, jadi ada satu diskusi dengan adik-adik Yesus Kristus.
Nah uniknya setelah Saudara-saudara Yesus pergi ke Yerusalem untuk merayakan hari raya Pondok daun itu, anehnya ya, anehnya ni kita baca Alkitab itu, Yesus nyusul dengan diam-diam. Lho? Kok Yesus ikutan dalam hari raya Pondok Daun? Adik-adiknya sudah pergi ni, orang-orang Yahudi sudah pergi duluan, terus Yesus pelan=pelan, diam-diam, sendirian, nggak bersama rombongan orang-orang Yahudi lainnya, Yesus tetap pergi ke hari raya Pondok Daun. Aneh nggak Bapak Ibu sekalian kalau kita baca Firman Tuhan di bagian sebelumnya ya, bilangnya di depan tidak mau pergi, ternyata pergi diam-diam. Nah apakah kita bisa mengatakan bahwa Yesus itu munafik? Perkataan beda dengan perbuatan? Ya, tentu jawabannya tidak. Di sini Yesus menolak arahan atau ajakan saudara-saudara-Nya karena Yesus tahu motivasi saudara-saudara-Nya yang tidak percaya pada Dia. Dan Yesus ketika tolak itu, dalam arti memang “belum waktu-Ku tiba”. “Aku nggak boleh pergi bersama-sama dengan kamu. Kamu ingin agar Aku ini dikenal dengan cara kamu.” Ditunjukkan: “Ini Mesias! Ini Mesias!”, ya. “Nggak! Aku diam-diam saja. Nggak ada yang kenal Aku sampai nanti Aku muncul di Bait Allah di hari raya Pondok Daun di Yerusalem.”
Jadi, Yesus menyatakan otoritas Yesus sebagai Anak Allah sama seperti ketika mukjizat pertama Yesus di Kana. Di pernikahan di Kana, kan Maria tuh udah minta kepada Yesus: “Yesus, lakukan sesuatu dong!”Ya, “Di sini kekurangan anggur! Aku tahu pasti Kamu bisa melakukan sesuatu!” Yesus katakan, “Ya, waktu-Ku belum tiba.” Tapi setelah Yesus katakan, “Nanti, ya waktu-Ku belum tiba”, Dia akhirnya melakukan mukjizat juga. Itu mau menyatakan otoritas Yesus bahwa Dia adalah anak Allah yang tidak bisa sembarangan disuruh-suruh manusia. Jadi, kita nggak boleh sembarangan nyuruh-nyuruh Yesus, ya. “Memberkati saya! Saya sudah taat, harus diberkati! Nggak boleh menderita!” Misalkan kayak gitu, ya. Nggak. Yesus bilang, “Waktuku belum tiba.” Ya, Yesus bisa tolak doa kita, ya. Jangan pikir Allah itu tidak bisa menolak doa kita kalau kita sudah taat, sudah melayani Tuhan. Allah itu bisa menolak doa kita. Tetapi dengan bijaksana, dengan kasih-Nya, ya, kepada kita.
Yesus pergi ke Yerusalem tidak dengan cara yang dikehendaki oleh saudara-saudara-Nya. Tapi Yesus pergi ke Yerusalem, orang-orang Yahudi banyak yang pergi untuk beribadah di hari raya Pondok Daun, tetapi Yesus pergi sendirian dengan diam-diam juga. Dan ketika orang-orang Yahudi sudah tahu bahwa Yesus akan datang, karena Yesus seorang Yahudi, ya, mereka mencari tahu di mana Yesus. Mereka sudah persiapan, nih. Orang-orang yang membenci Yesus, orang-orang yang tidak suka dengan Yesus Kristus bahkan sudah berniat membunuh Yesus itu, ketika hari raya Pondok Daun, ya, kumpul ke Yerusalem, mereka sudah siap. “Mana, ya? Mana yang dikatakan Yesus?” Nah, karena Yesus perginya diam-diam, ya nggak ketahuan . Ya, di manakah Yesus Kristus? Kalau perginya bersama-sama saudara Yesus, bersama orang-orang Yahudi yang lainnya, ketahuan lah. “Oh, itu Yesus! itu Yesus!” Semua orang mengerubungi. Tetapi karena Yesus, dengan hikmat Tuhan, pokoknya datang sendirian saja untuk beribadah di hadapan Tuhan, maka orang-orang Yahudi yang mau membunuh Yesus tidak bisa melancarkan rencananya untuk membunuh Yesus di hari raya Pondok Daun tersebut. Mereka kecolongan. “Nggak kelihatan kok! Yesus Kristus mana?” Mereka sudah cari-cari juga, ya.
Lalu terjadi perbincangan yang timbul dari dua pandangan tentang Yesus. “Yesus itu siapa sih? Yesus itu orang baik atau orang jahat? Yesus itu menyesatkan atau memberi ajaran yang benar?” Tidak ada yang berani mengatakan dengan pasti siapakah Yesus Kristus di dalam kumpulan orang-orang Yahudi itu. Dan orang-orang Yahudi ketika berkumpul tuh betul-betul penasaran, “Siapa Yesus? Kita lihat, ya. Ya, kita lihat Dia melakukan banyak mukjizat dan lain-lain. Siapakah Yesus dan kita bisa temui Yesus Kristus di hari raya Pondok Daun.” Karena Yesus sendiri adalah orang Yahudi.
Dan di sini kita bisa lihat, Saudara sekalian, ya, bahwa tidak semua orang mengenal siapakah Yesus Kristus itu secara tepat dan benar, ya. Jangan pikir kita selalu punya pandangan yang benar tentang Yesus Kristus terutama dalam hal Allah ke-tritunggal-an, ya. Banyak yang salah sangka tentang Yesus Kristus: entah kah Dia adalah orang saja, entahk ah dia Tuhan, entah kah Dia orang yang baik, orang jahat, orang yang sesat. Dan dalam sejarah Gereja banyak sekali pengajaran yang salah tentang Yesus Kristus mulai dari abad pertama. Sampai sekarang pun orang banyak anggap Yesus bukan Tuhan. Maka ada kekristenan yang menyimpang, yang dianggap sesat, karena apa? Dia mengakui Yesus Kristus. Dia mengakui Alkitab. Tapi Yesus Kristus bukan Tuhan, ya. Bukan Allah yang menjelma jadi manusia. Yesus itu guru saja, bukan Anak Allah. Nah, ini adalah pemahaman yang salah. Kita harus kembali ke Alkitab untuk bisa terus mengenal Yesus Kristus yang sejati. Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat dan Dia adalah utusan Allah yang terbesar di sepanjang zaman.
Lalu, ketika perayaan Pondok Daun itu sudah berlangsung, di tengah-tengah acara –nah, itulah ayat yang barusan tadi kita baca. Tiba-tiba Yesus masuk ke Bait Allah kemudian mengajar kebenaran Firman Tuhan. Yesus bertugas lagi menjalankan fungsi sebagai nabi. Dia masuk, berdiri di Bait Allah, terus ngajarin kebenaran firman Tuhan, pesan Tuhan, kehendak Tuhan. Dan apa yang Yesus lakukan? Inilah yang dilakukan oleh para rabi Yahudi atau guru Yahudi dan juga para nabi maupun juga Farisi maupun ahli Taurat. Jadi, Yesus mengambil posisi mereka dan Yesus mengajar kebenaran Firman Tuhan.
Kemudian orang-orang Yahudi pun heran dan berkata, ya, “Kita sudah dengerin beberapa waktu pengajaran dari Yesus Kristus di Bait Allah.” Terus orang-orang Yahudi yang membenci Yesus juga, terus kemudian ada orang-orang yang berpikir juga, “Bagaimana orang ini bisa memiliki pengetahuan tanpa belajar?” Wah, enak banget, ya nggak belajar tapi tahu banyak hal, gitu, ya. Nah, yang dimaksudkan dalam tulisan Rasul Yohanes ini bukan berarti Yesus tidak belajar terus ngajar. Orang yang ngajar pasti belajar. Nggak mungkin ya ada guru, dosen nggak pernah belajar terus bisa ngajar. Nggak mungkin. Maka Yesus pun belajar. Tapi yang dimaksudkan oleh orang-orang Yahudi adalah bagaimana Yesus punya banyak pengetahuan tentang Perjanjian Lama, tentang sejarah Alkitab Perjanjian Lama: Abraham, Ishak, Yakub, Musa, gitu, ya. Dan kemudian tokoh-tokoh di PL, ayat-ayat di PL. Kok bisa banyak pengetahuan padahal Yesus tidak sekolah, di sekolah Rabi Yahudi? Yang dimaksudkan adalah demikian.
Kita punya sekolah, sekolah orang Yahudi, sekolah-sekolah rabi Yahudi. Farisi belajar di sana, ahli taurat belajar di sana. Kita nggak pernah lihat Yesus tuh masuk ke sekolah itu. Kok bisa, sih, Dia ngajar firman Tuhan di Bait Allah dengan otoritas yang begitu berkuasa dan dengan pengetahuan perjanjian lama yang Dia sangat kuasai. Orang saduki hanya pelajari 5 hukum Taurat—5 kitab Taurat. Kejadian, Keluaran, Imamat, bilangan, Ulangan, Yesus tahu semuanya. Orang Farisi mempelajari kejadian sampai Maleakhi, ahli Taurat menguasai kejadian sampai Maleakhi. Yesus kok bisa tahu juga? Ini berarti Yesus dari siapa, nih, kuasanya? Ya, tentu kita pelajari bahwa Yesus pasti belajar sendiri. Ya, Dia terus ketika di bait Allah, Dia sebagai orang Yahudi, Dia beribadah, Dia juga pelajari secara intens, ya, tentang kebenaran Perjanjian Lama.
Mendengar keheranan dari orang-orang Yahudi, nah, Yesus membalas keheranan mereka—kasak-kusuk, ya, lagi ngobrol sendiri di situ—Tuhan Yesus tegur langsung, misalkan gitu, ya. Kalau ada orang yang beribadah yang sedang ngantuk, ngobrol, ditegur. Kurang lebih kayak gitu, ya.
Yesus menegur bahwa, Dia katakan dengan panjang lebar, “Ajaran-Ku bukan dari diri-Ku sendiri, tapi Dia yang mengutus Aku.” Nah, di sini kita bisa lihat bahwa Yesus itu sedang mau memperkenalkan tentang Bapa yang mengutus Dia dan juga akhirnya mengenalkan kepada banyak orang bahwa Yesus juga adalah anak Allah, Mesias. Ya, “Bapa yang utus Aku. Apa yang Aku ajarkan itu berasal dari Bapa sendiri, dari firman Tuhan, dari Perjanjian Lama.” Ini berarti otoritas PL. Kenapa pada akhirnya kita orang Kristen mengakui otoritas PL? Karena Yesus mengakui PL itu semua dari Bapa. Makanya kita pelajari Perjanjian Lama. Bukan kita pilih-pilih sendiri. Ya, “Oh, Perjanjian Lama itu bagus, ya. Orang Yahudi aja, orang yang paling pintar, orang yang teliti aja percaya bahwa Kejadian sampai Mleakhi adalah firman Tuhan,” kita ikut-ikutan. Kayak gitu, ya. Ya udah, orang Kristen percaya juga deh, sejarahnya sama. Nggak. Kita percaya PL maupun PB adalah firman Tuhan, itu karena otoritas Yesus Kristus yang mengatakan bahwa, “Ajaran-Ku ini berasal dari Bapa di surga. Yesus adalah utusan Bapa.” Itu kalimat pertamanya. Kalimat kedua adalah, “Barang siapa mau melakukan kehendak Bapa, orang itu akan tahu ajaran-Ku ini berasal dari Bapa, Allah, atau dari diri-Ku sendiri.” Jadi kalau kita bisa tahu, ya, tentang, “oh, ini ajaran yang sesuai firman Tuhan.” Itu pun butuh pengenalan akan Tuhan. Kita bisa tahu bahwa, “oh, si pengkhotbah ini ajarin yang benar. Ajarin hal yang sesuai Alkitab.” Itu pun karena Roh Kudus bekerja dalam diri kita untuk mengetahui bahwa ini kehendak Bapak, disesuaikan.
Kenapa pada akhirnya banyak gereja-gereja yang sesat, tapi banyak pengikutnya? Karena pengikutnya juga tidak mengenal kehendak Bapa. Sehingga pikir, oh, “Khotbah pendeta ini benar.” Padahal mengajarkan Allah itu bukan Tritunggal, misalkan. Tapi kalau kita tahu, oh, “Ini kayaknya beda dengan firman Tuhan,” itu adalah kuasa dari Allah. Dan yang ketiga, Yesus katakan, “Barang siapa ngomong dari dirinya sendiri, itu cari hormat, kemuliaan untuk dirinya, kalau nggak ngomongin firman Tuhan.” Jadi kalau banyak, ya, guru-guru, pendeta-pendeta, hamba-hamba Tuhan, kalau dia ngomong berdasarkan dari diri sendiri, nggak ngomongin firman Tuhan, dia mencari hormat dan kemuliaan untuk diri sendiri. Tetapi Yesus hanya membicarakan yang dari Bapa, maka Dia mencari kemuliaan untuk Allah Bapa sendiri. Ya, Yesus adalah kebenaran dan Allah yang mengutus Yesus itu di dalam kebenaran dan penyertaan Tuhan sendiri, ya, Bapa sendiri.
Yang keempat, Yesus juga tegur. Nah, ini yang membuat orang-orang Yahudi emosi, yaitu ketika ada teguran, ya. “Bukan Musa yang telah memberikan hukum Taurat kepadamu. Namun tidak seorang pun di antara kamu yang menati hukum Taurat itu, mengapa kamu berusaha membunuh aku?” Nah, ini Yesus tegur bahwa, “Kamu mengagung-agungkan Musa, padahal kamu itu salah menafsirkan tentang Taurat Musa. Kamu itu legalis. Kamu buat peraturan-peraturan sendiri yang akhirnya tidak menunjukkan cinta kasih kepada Tuhan, melainkan kesombongan.” Itu Yesus tegur dan kalimat ini lah yang terakhir begitu tajam kepada orang-orang Yahudi dan ahli Taurat maupun orang farisi, “Kamu sudah belajar hukum Taurat, kamu pikir kamu taat hukum Taurat, padahal kosong. Nol besar. Kamu pikir sudah begitu hebat menaati hukum Taurat?” Yesus katakan, “Kamu nol. Nggak taat hukum Taurat. Karena apa? Kamu menjalankan peraturan begitu ketat, tapi kamu mengabaikan cinta kasih kepada Tuhan, mengabaikan pengenalan kepada Tuhan. Kamu cuma lakukan ritual-ritual dan aturan-aturan yang kamu buat sendiri demi kepentingan kamu sendiri, demi kesombongan kamu sendiri.” Yesus tegur sampai kedalaman hati orang-orang Yahudi.
Orang-orang itu menjawab bahwa, “Kamu kerasukan setan, ya. Siapa yang berusaha membunuh Engkau?” Mereka sudah malu ditegur, karena memang mereka sudah merencanakan pembunuhan Yesus di hari raya Pondok Daun. Kalau Yesus ikut adik-adiknya, “Ayo kita pergi bersama-sama.” Terus Yesus dikenal, mungkin diarak, “Ini Yesus, semua lihat.” Langsung Yesus dibunuh. Maka Yesus katakan, “Waktu-Ku belum tiba. Aku ituakan mati bukan karena di hari raya Pondok Daun, tetapi hari raya Paskah. Aku akan mati ketika hari raya Paskah, Aku akan mati di atas kayu salib.”
Wah, orang-orang Yahudi sudah ketahuan rencananya. Ini kan Yesus sebagai fungsi Nabi, Dia tahu orang-orang Yahudi, orang-orang Farisi mau membunuh Dia. Lalu menutupi dengan rasa malu dengan menyalahkan balik, “Kamu kerasukan setan! Nggak lah, saya nggak mau bunuh Kamu kok!” Ini sudah ngeles ya, sudah ketahuan salahnya malah ngeles, menghindar. Memang ini manusia berdosa ya, tidak mau diungkap kesalahannya, ditegur dosanya.
Yesus lanjutkan teguran kepada orang-orang Yahudi yang legalisme ini, mari kita baca Yoh. 7:21-24 bersama-sama sekali lagi ya. Ini teguran Yesus lagi, mari kita baca bersama-sama ayat ini, “Jawab Yesus kepada mereka: ”Hanya satu perbuatan yang Kulakukan dan kamu semua telah heran. Jadi: Musa menetapkan supaya kamu bersunat – sebenarnya sunat itu tidak berasal dari Musa, tetapi dari nenek moyang kita – dan kamu menyunat orang pada hari Sabat! Jikalau seorang menerima sunat pada hari Sabat, supaya jangan melanggar hukum Musa, mengapa kamu marah kepada-Ku, karena Aku menyembuhkan seluruh tubuh seorang manusia pada hari Sabat. Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.”” Salah satu nasihat yang begitu tajam dari Yesus Kristus sampai zaman sekarang adalah “kamu boleh menghakimi.” Boleh! Siapa bilang kita sebagai manusia tidak boleh menghakimi? Menghakimi berarti apa? Menilai. Menghakimi berarti meneliti. Kemudian pada akhirnya menyimpulkan sesuatu. Itu kan menghakimi. Kita sehari-hari melihat, menilai, menyimpulkan. Melihat, menilai, menyimpulkan. Kita sehari-hari, setiap hari, yang mengatakan bahwa, “Orang Kristen jangan menghakimi, menghakimi!” Dia sedang menghakimi. Karena bisa menilai bahwa orang sedang menghakimi, berarti dia menghakimi juga. Maka orang yang mengatakan “Kita nggak boleh menghakimi” itu sedang menghakimi, dia melawan dirinya sendiri. Dia tidak sadar bahwa dia sedang menghakimi.
Maka Yesus katakan dengan kalimat nasihat bijaksana bahwa boleh kok menghakimi, apa salahnya menghakimi? Cuma ada dua jenis penghakiman; penghakiman yang kudus, penghakiman yang tidak kudus. Penghakiman yang objektif, penghakiman yang subjektif. Penghakiman yang adil, penghakiman yang tidak adil. Orang Kristen harus menghakimi dengan adil, orang Kristen harus menghakimi dengan objektif, orang Kristen harus menghakimi dengan hikmat Tuhan. Yesus ajarkan hal tersebut di dalam konteks ini. Karena semua orang sering menilai, menghakimi Yesus, Yesus juga menghakimi mereka dan Yesus katakan hakimilah dengan adil. Wah bijaksana ya. Yeuss bisa melihat situasi yang tepat untuk memberitakan Firman Tuhan. Balik lagi, karena Dia adalah Mesias. Dan Dia saat ini sedang menggunakan fungsi-Nya, menggunakan jabatan-Nya sebagai Nabi.
Beberapa orang dari Yerusalem bahkan bingung sekarang ya. Yesus mengajar panjang lebar, Yesus menegur juga, terus kemudian orang Yahudi itu kemudian “Bukankah orang ini yang mereka ingin bunuh? Bukankah orang-orang Yahudi ini mau bunuh Yesus? Tetapi lihatlah, Yesus terus bicara, terus ngajar, nggak ada orang yang berani bunuh Yesus. Jangan-jangan para pemimpin, para Farisi, ahli Taurat, tahu bahwa Yesus ini adalah Mesias, adalah Kristus.” Wah ini timbul pergunjingan ya, timbul perdebatan di dalam hari raya Pondok Daun tersebut. Kita tahu dari mana orang ini berasal, sedangkan kapan Mesias datang itu kita tidak ada yang tahu. Jelas ya. Mesias itu sebenarnya datang dari surga, Allah menjelma menjadi manusia ini banyak orang tidak tahu. Tapi kalau melihat Yesus, tahu lah, Yesus lahir dari Betlehem, besar di Nazaret. Yesus datang dari Nazaret, Galilea. Dan biasanya orang-orang dari Galilea itu tidak ada yang menjadi nabi. Orang-orang bodoh semua lah, orang-orang yang tidak terpelajar lah. Kok bisa sih Yesus jadi nabi? Nah ini yang pergumulan orang-orang Yahudi pada waktu itu, dan Yesus mengajar di Bait Allah, “Kamu mengenal Aku dan kamu tahu dari mana Aku berasal, namun Aku datang bukan kehendak-Ku sendiri.” Yesus sedang merujuk kepada Bapa yang mengutus Dia tapi “Dia lah yang mengutus Aku adalah benar”. Bapa itu benar, dan kamu tidak mengenal Bapa, Aku mengenal Bapa. Aku datang dari Bapa dan Bapa lah yang mengutus Aku.” Berarti kalau mau kenal Bapa di surga, mau mengenal Allah yang sejati harus melalui Yesus Kristus.
Nah secara tidak langsung Yesus menjelaskan diri-Nya juga sebagai Pengantara kepada Bapa. Kalau Yesus adalah dari Bapa maka untuk bisa mengenal Bapa, kita harus mengenal Yesus, apa yang dikatakan-Nya. Karena apa yang dikatakan Yesus adalah dari Bapa. Inilah maksud Yesus adalah Sang Utusan Allah. Yesus selalu mengatakan kehendak Bapa. Orang-orang Yahudi makin emosi lagi, makin marah. Karena apa? Mereka tetap tidak mau percaya kepada Yesus sebagai Mesias, sebagai utusan Allah. Lalu mereka berusaha menangkap Yesus. Tetapi uniknya, begitu menangkap Yesus, nggak jadi, nggak berani. Begitu, “Ayok, ayok kita tangkap yuk. Tangkap yuk.” Dorong orang lain begitu ya, “Kamu saja yang nangkap! Saya nggak berani.” Loh nggak jadi lagi. Jadi Yesus pada waktu itu mengajar dengan leluasa, memberitakan Firman di Bait Allah kepada banyak orang. Dan kemudian tidak ada orang yang berani menangkap Yesus.
Menarik, dari mimbar, “Turunkan Yesus. Tangkap Dia!” Nggak ada yang berani karena yang dikatakan adalah kebenaran, yang dikatakan adalah firman Tuhan dan Dia sebagai Nabi yang terakhir. Dia memiliki jabatan Nabi. Tetapi Yesus menjelaskan bahwa orang tidak menangkap Aku karena apa? Waktu-Nya belum tiba. Sehingga tidak ada orang yang menjamah Yesus. Itu dalam tulisan Injil Yohanes.
Lalu banyak juga dari antara mereka percaya kepada-Nya, dan juga berkata, “Ketika Kristus datang apakah Ia akan melakukan lebih banyak tanda daripada apa yang dilakukan Orang ini?” Wah ini pemahaman yang sangat indah. “Ok, kalau Dia ini bukan Mesias, sekarang kan kita sedang menantikan Mesias. Maka kalau Mesias itu datang, betulkah ada Medari mimbar, turunkan Yesus, tangkap Dia. Nggak ada yang berani karena yang dikatakan adalah kebenaran, yang dikatakan adalah firman Tuhan, dan Dia sebagai Nabi yang terakhir. Dia memiliki jabatan nabi. Nggak ada yang berani lawan nabi. Orang Yahudi sangat menghormati nabi. Tetapi, Yesus menjelaskan bahwa, “Orang tidak menangkap Aku karena apa? Waktunya belum tiba.” Waktu Yesus belum tiba sehingga tidak ada orang yang menjamah Yesus Kristus. Itu dalam tulisan Injil Yohanes.
Lalu, banyak juga dari antara mereka percaya kepada-Nya dan juga berkata, “Ketika Kristus datang, apakah Ia akan melakukan lebih banyak tanda daripada yang telah dilakukan orang ini?” Wah, ini pemahaman yang sangat indah! “OK, kalau Dia ini bukan Mesias, sekarang, kita kan sedang menantikan Mesias. Maka, kalau Mesias itu datang, betulkah ada Mesias yang datang itu akan melakukan banyak mukjizat seperti yang kita lihat saat ini di dalam kehidupan Yesus Kristus? Orang buta melihat; orang tuli mendengar; orang timpang berjalan; orang sakit disembuhkan; orang mati dibangkitkan. Kalau Mesias betul-betul nanti suatu hari datang dan Yesus ini bukan Mesias, apakah Mesias itu bisa melakukan yang dilakukan oleh Yesus Kristus?” Orang mulai goyah hatinya, mulai berpikir, ”Jangan-jangan, Yesus betul-betul Mesias. Apa salahnya, kita percaya Yesus adalah Mesias? Ya, betulkah? Dia tidak melakukan kesalahan; Dia mengajarkan firman Tuhan.”
Dan terakhir, nubuatan Yesus mengatakan: “Tinggal sedikit waktu saja, Aku ada bersama dengan kamu. Sesudah itu, Aku pergi kepada Dia yang mengutus Aku. Kamu akan cari Aku, tetapi tidak akan ketemu Aku sebab kamu tidak dapat datang ke tempat di mana Aku berada.” Nah, ini Yesus katakan demikian. “Sebentar lagi, Aku akan mati di atas kayu salib, dikuburkan, bangkit pada hari yang ketiga, naik ke surga, ketemu Sang pengutus Yesus Kristus. Kalau kamu mau cari Aku lagi, sudah tidak ada di bumi. Kamu pun tidak bisa datang kepada Sang pengutus Yesus-Bapa itu-kalau kamu tidak percaya Aku naik ke surga, tidak percaya Aku dibangkitkan dari antara orang mati, tidak percaya kematian Yesus, kamu tidak akan bisa masuk ke surga.” Oh, ini keras sekali, ya. Injil itu betul-betul tajam. Percaya Yesus, selamat, masuk surga. Tidak percaya Yesus, tidak selamat, masuk neraka. Mau pilih yang mana?
Ada lagu anak sekolah Minggu bercerita: Di dalam dunia ini ada 2 jalan. Jalan yang lebar, jalan yang sempit. Manakah yang kau pilih? Yang lebar itu menuju api, jiwamu mati. Tetapi, yang sempit itu adalah kehidupan kekal dan hanya di dalam Yesus Kristus yang sejati. Tetapi, orang Yahudi balik lagi, ya, berpikir perkataan Yesus ini secara literal, pikir Yesus akan pergi ke perantauan. Ya, mungkin ke Mesir, ke Arab, mungkin, ke Persia, ya, sehingga tidak ada orang yang bisa ketemu Yesus. Mungkin, mereka pikir juga, ”Oh, Yesus ini akan meninggalkan orang-orang Yahudi, bangsa Yahudi. Mungkin akan pergi ke Yunani.” Tetapi, mereka tidak mengerti maksud perkataan Yesus itu.
Nah, dari kisah ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita bisa lihat, ya, kita bisa lihat, Yesus itu berani mengabarkan Injil kepada banyak orang. Apa yang Yesus ajarkan di Bait Allah itu seperti hamba Tuhan khotbah di gereja, ya, di gereja sendiri atau di gereja lain. Saya pun tidak anti berkhotbah di gereja yang lain kalau memang ada kesempatan, kalau memang tanggung jawab saya di gereja ini sudah beres, kan. Misalkan, kita cuma ibadah 1x. Belum 2x, belum 3x. Misalkan, ada yang undang saya khotbah sore hari, hari Minggu. Masalah, nggak? Daripada saya mungkin sore hari tidur-tidur mungkin, ya. Mending pelayanan di gereja lain, nggak masalah. Memberitakan kepada orang-orang yang lain lah, tidak di dalam gereja sendiri.
Kita ada program pelayanan KKR Regional. Itu bukan cuma hamba Tuhan yang khotbah, tetapi Bapak, Ibu, Saudara sekalian pengkhotbah-pengkhotbah awam meneladani Yesus Kristus yang berkhotbah juga kepada banyak orang, mengabaran Injil kepada para siswa SD, SMP, SMA. Kita datang ke sekolah. Itu semua murid gerejanya nggak ada yang di GRII mungkin, ya. Nggak ada yang di gereja kita, tetapi kita mau layani karena itu jiwa-jiwa, kok. Semua jiwa, kita mau layani. Terus, mungkin kita ada alasan, kan, itu juga orang Kristen semua? Ngapain kita menginjili lagi orang Kristen? Memangnya orang Kristen sudah sungguh-sungguh Kristen dan tidak perlu lagi firman Tuhan? Memangnya orang Kristen nggak perlu dikhotbahin? Kita tetap butuh firman Tuhan. Maka, tidak salah ada kesempatan ke sekolah, mengabarkan Injil. Sejam saja, ya, terus mendoakan mereka. Itu adalah pelayanan yang indah di mata Tuhan dan Yesus sudah teladani dalam kisah ini.
Yesus mengajar, memberitakan firman, mengabarkan Injil kepada banyak orang. Dan sumber ajaran dari seseorang yang mau memberitakan firman dan Yesus Kristus adalah harus dari surga. Harus dari surga berarti harus mengenal Alkitab, firman Tuhan, dan juga harus hidup kudus di hadapan Tuhan. Kita nggak boleh menjadi orang munafik. Katakan yang benar, yang baik, terus kasih yang baik-baik, tetapi hidup kita pun penuh dengan dosa. Otoritas Yesus tidak diragukan dan asal Yesus juga sudah jelas. Maka, waktu kita bertindak sebagai pengkhotbah awam, sebagai pemberita firman Tuhan awam, bukan sebagai hamba Tuhan yang sekolah Alkitab dan melayani kita harus tahu sumbernya dari mana yaitu dari surga, dari firman Tuhan. Ini yang perlu kita teladani.
Yesus diutus Bapa dan kita pun diutus Yesus Kristus untuk memberitakan Injil maka satu ayat yang menjadi ayat hafalan bagi semua pemberita Injil, semua orang Kristen yang mau memberitakan Injil adalah amanat Agung Yesus Kristus, Matius 28:19-20. Yesus bukan hanya memberitakan Injil secara personal kepada perempuan Samaria, kepada Nikodemus tapi Yesus juga memberitakan Injil di hari Raya Pondok Daun, hari raya orang Yahudi dalam konteks yang tepat di mana banyak orang-orang yang belajar ibadah agama Yahudi itu berkumpul untuk beribadah kepada Tuhan, Yesus sengaja memberitakan Injil dan menjelang dia pada akhirnya akan mengorbankan dirinya di atas kayu salib.
Kiranya kita boleh ingat identitas kita sebagai orang Kristen, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, bahwa Yesus diutus Bapa, tapi bukan berarti Yesus lebih rendah dari Bapa, ya, jangan sampai kita salah paham bahwa karena Bapa mengutus Yesus, Yesus mengutus roh Kudus seolah-olah ada hierarki. Nggak. Waktu kita belajar Tritunggal, Bapa mengutus Yesus itu dari kiri ke kanan, Yesus mengutus Roh Kudus itu dari kiri ke kanan. Jadi ini bicara soal urutan, kronologis tapi hierarki sama-sama mulia, sama-sama Allah sama-sama tidak berdosa itu Allah Tritunggal kita ya, Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kita diutus Yesus, kita lebih rendah kita jangan mau nyama-nyamain, “saya juga jadi pribadi ke empat dari Allah Tritunggal.” Bukan, kita waktu diutus Yesus manusia yang berdosa manusia yang lemah dan kita orang yang dipakai Tuhan dengan luar biasa untuk memberitakan Injil.
Kita baca Bapak, Ibu selesaikan dua ayat terakhir 2 Kor. 5:20. 2 Kor. 5:20, ini adalah ayat tentang identitas kita sebagai orang Kristen, mari kita baca bersama-sama, 2 Kor. 5:20 bersama-sama “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Bahasa Inggrisnya apa utusan-utusan Kristus? Ambassadors for Christ, ya, Ambassadors for Christ, kita ini duta-duta besar dari Allah. Kita jangan sampai jadi duta besar makanan, ya, duta besar wisata, gitu ya, kita harus jadi duta besar Kristus ini yang terutama dan terlebih dahulu.
Lalu ayat terakhir yang kita baca adalah Yoh. 20:21. Ya Injil Yoh. 20:21 kita baca bersama-sama Yesus mengutus kita, “Maka kata Yesus sekali lagi: Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” kiranya kita pada hari ini boleh mengerti bahwa Allah Tritunggal, Allah yang kudus, Allah yang sejati itu mau mengutus kita yang penuh dengan kelemahan, penuh dengan dosa betapa harusnya kita gentar dan takut akan Tuhan ketika kita melakukan pekerjaan Tuhan. Waktu kita ditugaskan sebagai usher, waktu kita ditugaskan sebagai tim audio video, sebagai liturgis, sebagai pianis, sebagai apa pun di dalam konteks keluarga kita, sebagai suami, istri, anak-anak, kita tahu bahwa kita itu utusan Tuhan. Kalau Tuhan tidak mengutus kita, kita nggak akan ada di bumi ini. Kalau Tuhan tidak mau memakai kita sebagai orang Kristen kita nggak akan jadi Kristen sampai kapan pun, tetapi kalau Tuhan mau kita hidup di bumi ini bahkan kita menjadi orang Kristen kita harus mengerti kita tuh punya tugas dari Tuhan untuk mengabarkan Injil, menjadi perantaraan untuk orang lain berdamai dengan Allah ya kita mewakili Kristus kita adalah wakil Kristus di dunia ini.
Maka Yesus tidak perlu datang lagi ke dunia ini, Yesus pun tidak perlu di bumi ini karena dia sudah utus Roh Kudus dalam diri kita. Roh Kudus inilah yang terus memperbarui hidup kita untuk menjadi utusan-utusan Kristus yang mulia. Maka dari itu kita boleh berkata seperti nabi Yesaya mengatakan bahwa, “Tuhan ini aku, utuslah aku.” Tuhan bilang sudah Aku utus. sudah Aku utus kok, kamu yang tidak merasa diutus, ya, maka kita mau taat kepada Tuhan. Mari kita sama-sama berdoa.
Bapa kami yang di surga, kami mengucap syukur pada hari ini kami boleh sekali lagi mengenal Pribadi Yesus Kristus yang begitu Agung dan mulia. Yesus Kristus adalah Mesias, Yesus Kristus adalah satu-satunya yang diurapi oleh Tuhan menjadi utusan Tuhan memiliki jabatan Raja, Imam dan Nabi. Dan kami mau Tuhan meneladani Yesus Kristus yang adalah Tuhan kami, sebab kami sendiri adalah pengikut-pengikut Kristus, kami sendiri adalah utusan-utusan Kristus. Kiranya sebagai orang Kristen kami mengingat jati diri kami sebagai orang Kristen untuk bisa terus memberitakan Injil, untuk bisa terus taat kepada Tuhan, untuk bisa terus melayani Tuhan. Ampunilah segala dosa-dosa kami ya Tuhan, perbaharuilah hidup kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami sudah berdoa dan mengucap syukur. Amin (HS)
