Allah adalah Allah atas Orang-orang yang Hidup, 16 Februari 2025

Allah adalah Allah atas Orang-orang yang Hidup

Mrk. 12:18-27

Pdt. Dawis Waiman, S.E, M. Div

Bapak Ibu Saudara yang dikasihi Tuhan, kita di dalam rangkaian seri pembahasan di bulan Februari ini, sudah melihat bagaimana Yesus menghadapi seorang yang bernama Nikodemus. Yaitu seorang pemimpin agama, gurunya para guru agama di dalam kehidupan Yesus Kristus. Dandi situ kita sudah melihat prinsip-prinsip yang berkaitan dengan bagaimana Yesus kemudian menginjili Nikodemus dan menuntun dirinya untuk bisa melihat kepada kebenaran yang ada di dalam Kitab Suci. Walaupun di dalam akhir pembicaraan tersebut, Nikodemus sepertinya masih di dalam kegelapan. Matanya belum terbuka untuk melihat kebenaran yang Yesus katakan. Karena itu dia pulang dengan satu pertanyaan, “bagaimana hal itu mungkin terjadi? Bagaimana seorang yang sudah dewasa, sudah tua harus masuk kembali ke dalam rahim ibunya, untuk dilahirbarukan atau dilahirkan kembali?”, seperti itu. Tapi masalahnya adalah Nikodemus tidak memahami mengenai makna supranatural atau rohani yang Yesus sedang ajarkan kepada dirinya; yang dia lihat adalah masalah fisik, atau masalah kebutuhan, atau masalah yang terjadi di dalam kehidupan manusia.

Nah, itu membuat Nikodemus pulang ke rumahnya dengan tanda tanya yang besar dalam pikirannya, “Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?” Sayangnya dia belum bisa paham, walaupun di dalam perjalanan berikutnya kita bisa melihat bahwa kelihatannya Nikodemus menjadi orang yang percaya kepada Yesus Kristus, dia rela untuk menghadap kepada Pilatus bersamaan dengan seorang yang lain, dan dia minta mayat Yesus Kristus, dan kemudian mereka menguburkan mayat itu. Dan menurut tradisi, Nikodemus menjadi orang yang percaya Yesus, dia dibaptis oleh Petrus dan Yohanes, dan akibatnya dia dikucilkan dari masyarakat Yahudi, dan istrinya serta anaknya harus tinggal di dalam kemiskinan karena seluruh kekayaannya telah dilucuti atau disita oleh para pemimpin dari orang-orang Yahudi itu. Ada yang mengatakan Nikodemus mati martir karena imannya kepada Yesus Kristus.

Dan setelah peristiwa ini, sebenarnya kita perlu membahas berkaitan dengan perempuan Samaria. Tapi kemarin ada Pdt. Aiter yang datang, sehingga kita tidak membahas mengenai perempuan Samaria dan bagaimana Yesus menginjili kepada perempuan Samaria itu. Tapi hari ini kita nggak akan bahas itu, karena tema kita berkaitan dengan hal yang lainnya. Nah, hari ini kita akan bahas bagaimana kita mengetahui bahwa Yesus atau Allah itu adalah Allah atas orang-orang yang hidup.

Nah, apa hubungannya dengan penginjilan? Saya percaya pada waktu kita menginjili, pada waktu kita mengimani pada satu kebenaran, ada salah satu aspek yang penting di dalam iman kita kepada satu kepercayaan agama tertentu, atau pengajaran agama tertentu; yaitu unsur yang menyatakan bahwa “setelah kehidupan ini ada kehidupan lagi.” Atau setelah kita mati dari dunia ini, ada kehidupan. Apa yang kita jalani di dalam dunia ini bukan finalitas dari kehidupan kita, atau bukan satu-satunya kehidupan yang ada di dalam alam semesta ini atau di dalam bumi ini, dan masih ada kehidupan lain setelah kita mengalami kematian di dalam dunia ini.

Nah, ini bukan satu pengertian atau tradisi yang hanya diajarkan oleh Alkitab saja kepada kita. Tapi ini adalah satu tradisi yang diajarkan oleh berbagai budaya masyarakat yang ada di dalam dunia ini. Mau mereka adalah orang Mesir, mau mereka adalah orang Yunani, mau mereka adalah orang-orang pedalaman, seperti itu. Mereka punya satu konsep bahwa setelah kematian masih ada kehidupan. Saya ambil contoh satu pada waktu seorang Firaun itu mati, maka ketika ada orang yang menggali kubur dari Firaun itu, mereka menemukan ternyata di dalam kubur itu bukan hanya ada mayat dari Firaun itu, yang mungkin sudah dimumikan. Tetapi juga di dalam kubur itu ada sebuah perahu, yang menyertai kuburan itu. Lalu tujuannya untuk apa menaruh perahu di situ? Karena mereka mempunyai kepercayaan bahwa ketika seseorang mati, dia akan naik ke dalam perahu itu untuk berlayar melewati langit, setelah kematian mereka. Jadi ada konsep ini dalam kehidupan mereka.

Lalu mungkin ada budaya lain yang mengatakan bahwa ketika seseorang, misalnya orang Indian, mengalami kematian. Atau orang Dayak, seperti itu. Bukan orang Dayaknya kita, mungkin Dayaknya Amerika, kayak gitu, mengalami kematian. Lalu pada waktu mereka mati, apa yang terjadi? Orang-orang yang menjadi keluarga, menjadi teman mereka, akan menguburkan orang itu di dalam tanah. Tetapi selain dari menguburkan orang itu, mereka juga akan menaruh di dalamnya busur dan panah. Supaya apa? Dia bisa hidup senang di tanah perburuan yang baru. Dan ini adalah sebagian contoh. Bapak-Ibu bisa teruskan di dalam pembelajaran berkaitan dengan budaya yang ada. Dan mereka memiliki kepercayaan-kepercayaan mengenai hal ini. Tapi saya nggak akan panjang lebar membahas itu. Yang saya mau ajak kita melihat lebih lanjut adalah bagaimana kepercayaan orang Yahudi itu sendiri, sehingga pembicaraan antara orang Saduki dengan Yesus Kristus bisa terjadi pada ayat di mana kita baca ini.

Nah, waktu kita ingin mengetahui apa yang menjadi kepercayaan dari orang Saduki atau orang Yahudi, dan kenapa di sini ada mancantumkan orang Saduki di sini? Siapa mereka? Mereka adalah bagian dari orang Yahudi, yang pada masa kegelapan, yaitu 400 tahun sebelum Yesus Kristus datang ke dalam dunia ini, maka timbul kelompok-kelompok dalam orang Yahudi. Ada yang menamakan dirinya Farisi, orang Farisi adalah orang yang memisahkan diri dari umat yang lain, dan dengan memisahkan diri mereka mau memperdalam Kitab Suci dan menganggap diri mereka paling benar melalui ketaatan mereka kepada hukum Taurat. Mereka betul-betul ingin setia walaupun ada kompromi-kompromi yang dilakukan oleh orang Farisi. Lalu orang Saduki ini siapa? Orang Saduki ini adalah orang biasanya terlibat di dalam politik, mereka adalah pemimpin biasanya dari orang-orang yang merupakan kelompok Sanhedrin, dan bahkan mereka adalah Imam Besar dari orang-orang Yahudi. Mereka memiliki jabatan yang tinggi, yang penting di dalam budaya orang Yahudi. Tetapi kelompok ini berbeda dari kelompok orang Farisi. Mereka adalah orang-orang yang percaya kepada Lima Taurat Musa, dan mereka menganggap seluruh kitab perjanjian yang lain dari Yosua sampai Maleakhi itu adalah tafsiran terhadap Taurat Musa. Jadi di sini mereka mengatakan bahwa Taurat Musa itu adalah kitab yang sangat penting sekali, dan segala yang diajarkan di dalam kitab-kitab yang lain kalau tidak bisa ditarik kembali ke dalam Taurat Musa, maka kita tidak bisa menerimanya sebagai salah satu kebenaran seperti itu.

Nah salah satunya apa? Yaitu berkaitan dengan kebangkitan orang mati. Dan ini membuat pada waktu kita berbicara mengenai orang Saduki, mereka berkata bahwa adakah Taurat Musa mengajarkan tentang kebangkitan? Ketika mereka berdebat dengan orang Farisi, mereka menemukan tidak ada satu dasar ayat pun yang cukup kuat untuk mendukung pengajaran Farisi yang mengatakan bahwa malaikat ada, kebangkitan orang mati itu ada. Lalu ini membuat orang-orang Saduki berkata, tidak ada kebangkitan, karena kitab Musa tidak pernah mengajarkan tentang kebangkitan itu. Dan dari sini kita bisa belajar dari Markus 12 yang adalah salah satu dari kepercayaan mereka, mereka tidak percaya pada kebangkitan itu. Nah kalau Bapak Ibu bandingkan dari Kisah Rasul maka Bapak, Ibu dapatkan, sebenarnya orang Saduki bukan hanya tidak percaya kebangkitan itu ada, tetapi mereka juga tidak percaya keberadaan dari malaikat di dalam dunia ini.

Jadi ini yang merupakan kepercayaan orang Saduki, dan mereka betul-betul ketat sekali dalam mempertahankan pengajaran dari Taurat itu. Ada yang menafsirkan mereka jauh lebih ketat dari orang-orang Farisi dan demi mempertahankan apa yang mereka percayai dan khususnya posisi mereka di Sanhedrin sebagai Imam Besar atau kepala dari orang Yahudi mereka tidak mau berkompromi dengan pengajaran yang dianggap tidak benar oleh mereka.

Tapi selain dari kelompok Farisi, kelompok dari Saduki ini, ada kelompok Essenes. Kelompok Essenes itu adalah kelompok yang menarik diri dari komunitas, kemudian mereka kemudian mereka misalnya itu tinggal dalam gua-gua. Karena bagi mereka kalau bergaul dengan orang-orang yang ada di dalam dunia, itu akan mengakibatkan mereka tidak hidup dalam kesucian, maka itu mereka menarik diri lalu mereka betul-betul memfokuskan diri seperti orang-orang yang ada dalam biara untuk berdoa untuk menyalin Kitab Suci dan yang lainnya. Dan itu sebabnya pada waktu peristiwa ditemukannya Gua Kumran, ada kitab Yesaya yang ditemukannya ternyata persis sama dengan Kitab yang kita miliki hari ini. Maka dari mana kitab itu berada, siapa yang menyimpan kitab itu? Kita menemukan orang-orang Essenes yang menemukan kitab itu atau menuliskan kitab itu, dan menyimpan kitab itu. Dan Tuhan memakai mereka untuk menjadi konfirmasi bahwa Kitab Suci yang kita pegang ini adalah suatu kebenaran.

Ada pembagian kelompok di dalam kehidupan orang Yahudi ini. Dan pada waktu mereka berbicara tentang kebangkitan, saya mau reduksi ya, ini adalah satu pembicaraan bukan sesuatu yang baru, tapi ini adalah suatu pembicaraan yang sudah lama terjadi di antara orang Yahudi Farisi dengan orang Yahudi Saduki ini. Tapi sebenarnya orang Yahudi sendiri memiliki kepercayaan apa tentang kebangkitan? Apakah mereka sungguh-sungguh meyakini kebangkitan itu ada? Nah kalau bicara mengenai hal ini, maka Bapak, Ibu bisa melihat di dalam tradisi orang Yahudi yang ada di dalam Kitab Deuterokanonika. Ini adalah satu Kitab yang ada di antara Perjanjian Lama, dan Perjanjian Baru yang kita miliki, yang kita nggak ada kitab itu tetapi Katolik ada Kitab itu.

Jadi orang Kristen percaya bahwa Kitab Suci ada 66, 39 Perjanjian Lama, 27 Kitab Perjanjian Baru, tetapi dalam kepercayaan Katolik, mereka memasukkan Kitab yang kedua itu yaitu Deutrokanonika atau Apokrifa di tengah-tengah kedua Kitab itu yang merupakan bagian dari pengajaran Perjanjian Lama. Tapi di dalam iman Kristen kita menganggap Deutrokanonika bukan firman Tuhan, tapi kalau kita ingin mengerti kehidupan dari orang-orang Yahudi secara lebih jauh dan lebih dalam, apa yang ada di budaya mereka pada saat itu, persoalan yang ada, apa yang jadi kepercayaan mereka saat itu, maka Kitab Deuterokanonika menjadi kitab yang penting untuk kita ketahui.

Dan di dalam kitab itu ada 2 kitab yang bisa kita kutip. Pertama adalah kitab 2 Makabe. Di dalam kitab 2 Makabe 14:46 di sini dikatakan bahwa, “Meskipun darahnya hampir keluar semuanya, namun ia menarik isi perutnya ke luar, mengambilnya dengan kedua tangannya, lalu dilemparkannya ke atas orang banyak itu. Dalam pada itu berserulah ia kepada Penguasa hidup dan nyawa, semoga Ia kelak memberikannya kembali kepadanya.” Atau istilah lainnya adalah kenapa dia keluarkan isi perutnya semua? Karena dia percaya setelah peristiwa kematiannya ia akan dikembalikan kehidupannya. Lalu kemudian di dalam Kitab Barukh. Di Barukh ada kalimat seperti ini: “Bumi pasti mengembalikan orang mati. Bumi tidak akan mengubah bentuk mereka. Tetapi seperti yang telah diterimanya, bumi akan memelihara mereka dan seperti yang diserahkannya kepada bumi, bumi akan membangkitkan mereka.” Lalu: “Itu akan terjadi ketika mereka masing-masing telah mengenali orang-orang yang mereka kenal sekarang.” Atau dengan kata lain adalah pada waktu hari kebangkitan terjadi, maka Kitab Barukh mengatakan kita akan bangkit di dalam kondisi kita apa adanya. Jadi, kalau Bapak, Ibu mati tertabrak mobil misalnya, ya mungkin efek dari tabrakan itu masih terlihat ketika kita bangkit dari kematian. Kalau Bapak, Ibu meninggal dengan mengenakan baju tertentu, seperti itu, maka pada waktu kebangkitan kita tetap akan mengenakan baju di mana kita dikuburkan bersama baju tersebut. Ini adalah kepercayaan dari orang-orang Yahudi.

Dan pada waktu kita bicara tentang perdebatan antara orang Saduki dengan orang Farisi, kelihatannya pemahaman ini ada di dalam pemikiran mereka, khususnya di dalam pemikiran orang Farisi dan orang Saduki. Mengenai apa? Mengenai bagaimana kondisi dari orang yang meninggal itu ketika mereka bangkit kembali. Kenapa orang-orang Saduki di sini mengangkat mengenai ada tujuh saudara laki-laki yang menikah dengan satu orang wanita? Pertama, dia menikah dengan wanita ini lalu yang pertama ini, laki-laki ini, mati. Lalu yang kedua menikah dengan wanita ini. Yang kedua juga mati tanpa meninggalkan anak. Yang ketiga menikah dengan wanita ini, meninggal tanpa meninggalkan anak. Sampai yang ketujuh, menikah, mati tanpa meninggalkan anak. Lalu perempuan itu juga mengalami kematian. Nah, pada waktu semua itu mengalami kematian, orang Saduki bertanya, “Pada hari kebangkitan nanti, siapa yang akan menjadi suami dari perempuan ini?” Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena di dalam tradisi orang Yahudi ada pemikiran: pada waktu kita bangkit dari kematian, maka kita akan bangkit di dalam kondisi kita sebelum kita mati. Jadi pada waktu orang-orang bangkit itu – atau suami dari satu istri itu, tujuh suami itu – bangkit dari kematian, perempuan ini bangkit dari kematian, mungkin perempuan itu akan kebingungan sendiri mencari siapa yang menjadi suaminya, ya? Apakah suami yang pertama? Kedua? Atau suami terakhir sebelum dia mengalami kematian, seperti itu? Nah, ini yang menjadi satu perdebatan. Dan orang-orang Farisi pada waktu itu sama sekali nggak bisa menjawab pertanyaan dari orang Saduki itu. Dan pertanyaan ini yang kemudian diajukan kepada Yesus Kristus.

Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mungkin hal berikut yang kita perlu tanyakan adalah, pada waktu orang Saduki ini bertanya kepada Yesus Kristus berkaitan dengan kebangkitan orang mati ini, pertanyaannya adalah apakah ini adalah satu pertanyaan yang sungguh-sungguh keluar dari hati yang mau mengerti kebenaran atau dari sebuah hati yang sebenarnya ingin menguji, mencobai Yesus Kristus dan ingin menjatuhkan Yesus Kristus? Kalau Bapak, Ibu perhatikan di dalam konteks dari pembicaraan, kelihatannya ini bukan satu pertanyaan yang murni dari dalam hati. Tapi ini adalah satu pertanyaan jebakan yang mereka ajukan kepada Yesus Kristus karena ada rangkaian dari pertanyaan yang dicatat di dalam Kitab Suci. Mulai dari siapa? Mulai dari ada utusan yang datang kepada Yesus Kristus seolah-olah ingin mengerti kebenaran tapi bertanya kepada Yesus Kristus, “Kira-kira seorang anak Israel atau umat Tuhan boleh tidak bayar pajak kepada Kaisar?” Tetapi pada waktu mereka bertanya di sini, ada orang-orang yang menjadi suruhan orang Farisi dan Herodian untuk memata-matai jawaban dari Yesus Kristus. Kalau Dia berkata, “Tidak boleh”, maka mungkin hari itu Yesus sudah ditangkap lalu dipenjarakan. Tapi Yesus bisa menjawab dengan begitu bijaksana sekali.

Lalu, ketika mereka gagal untuk menjebak Yesus di dalam hal itu, pertanyaan kedua muncul di sini yang bertanya bahwa: “Bagaimana dengan kebangkitan orang mati? Betul tidak orang mati itu tidak bangkit dari kematian? Kalau tidak, kalau ada kebangkitan, buktinya apa?” Untuk apa? Kalau Yesus tidak bisa menjawab ini, saya yakin reputasi Dia sebagai seorang Guru atau Rabi pada waktu itu akan hancur karena Yesus tidak bisa menjawab pertanyaan dari orang Saduki ini. Lalu, yang ketiga ada kalimat berkait, bertanya tentang: “Apa yang menjadi hukum yang terutama di dalam seluruh daripada Taurat Tuhan?” Dan Yesus kembali bisa menjawab dengan begitu tepat sekali.

Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah rangkaian peristiwa ketika Yesus ada menuju ke Yerusalem untuk disalibkan. Dan pada waktu itu Yesus diuji oleh orang-orang ini. Dan saya sendiri percaya bahwa ujian itu penting sekali di sini. Tujuannya untuk apa? Untuk mengkonfirmasi kepada kita bahwa Yesus tidak pernah bersalah di dalam politik. Yesus tidak pernah berdosa di dalam kesalahan mengerti firman Tuhan. Yesus sungguh-sungguh memahami firman Tuhan dengan begitu benar, begitu ketat, dan begitu bijaksana sekali. Dan pada waktu Dia naik di atas kayu salib, itu bukan karena Dia berdosa. Bukan karena Dia melakukan kejahatan. Bukan karena Dia layak untuk dikasihi dan menaruh belas kasih kita karena Dia adalah orang benar yang kemudian dipakukan secara tidak adil, seperti itu. Tapi Alkitab berkata Dia sungguh-sungguh dipakukan di atas kayu salib demi untuk mengganti posisi saya dan Bapak, Ibu semua. Kalau Dia tidak naik atas kayu salib, nggak mungkin ada satu orang pun yang bisa mendapatkan hidup di dalam Yesus Kristus. Yang perlu mendapatkan belas kasih itu bukan Yesus Kristus, tapi yang perlu mendapatkan belas kasih adalah kita yang berdosa ini. Makanya pada waktu Yesus, dikatakan bertemu dengan seorang perempuan yang menangisi diri Dia. Maka Yesus berkata, “Kenapa engkau menangisi Aku?” Kita harusnya menangisi diri kita sendiri yang berdosa dan harus dihukum. Yesus justru dihukum supaya kita tidak mengalami hukuman itu.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya kembali di sini, ya. Jadi pada waktu orang Saduki ini berbicara dengan Yesus Kristus, tujuannya adalah untuk betul-betul menjebak Yesus dan pada waktu itu Yesus tahu tidak? Saya percaya Dia tahu. Karena di dalam Yohanes 2 yang kita bahas dua minggu yang lalu, Yesus tahu semua apa yang ada di dalam hati manusia. Tanpa perlu manusia memberitahukan atau mengutarakan hal itu kepada Yesus Kristus. Jadi Dia tahu orang Saduki itu sedang menjebak Dia. Lalu pada waktu orang Saduki ini menjebak Dia, apa yang menjadi jawaban Yesus Kristus? Saya lihat Yesus tidak terlalu bermain kata di situ. Dia menjawab dengan begitu lugas sekali kepada orang-orang Saduki ini. Yaitu dengan mengatakan bahwa, “Kamu sesat justru karena kamu tidak mengerti kitab suci maupun kuasa Allah, maka engkau bisa mengatakan hal itu.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang membuat orang Saduki bisa mau menjebak Yesus? Menanyakan sesuatu yang menurut mereka adalah satu kebenaran, tetapi sebenarnya itu adalah hal yang mereka tidak bisa, mereka sebenarnya salah di dalam mengerti kebenaran menurut pikiran mereka sendiri. Apa yang membuat mereka berpikir bahwa kebangkitan itu tidak ada? Alkitab berkata, orang yang mempertanyakan kebenaran firman Tuhan seperti orang Saduki yang mempertanyakan kebenaran firman Tuhan cuma ada jawaban bahwa orang itu tidak mengerti Kitab Suci, dan orang itu orang yang tidak mengenal kuasa Allah.

Jadi saya kira itu adalah satu jawaban yang tegas, tetapi juga adalah satu jawaban yang begitu tepat sekali. Bapak, Ibu boleh berbicara dengan orang-orang lain yang mempertanyakan kepercayaan kita. Tiap kali kita bertemu dengan mereka yang mempertanyakan kepercayaan kita, ada aspek ini, mereka tidak sepenuhnya mengerti kitab suci kita, dan mereka tidak sepenuhnya percaya kepada kuasa Allah. Saya ambil contoh, pertanyaan berkaitan dengan, “Apakah Yesus bisa menjadi manusia?” Satu sisi ada yang mengatakan Yesus itu Mahakuasa. Kalau Dia Mahakuasa berarti Dia bisa melakukan segala sesuatu? Bisa. Lalu kalau Dia bisa melakukan segala sesuatu, bisa nggak Dia menjadi manusia? Ada yang mengatakan tidak bisa. Semua yang lain bisa, kecuali satu, menjadi manusia. Kenapa tidak bisa? Karena mereka sudah dipagari dengan satu pengertian; Allah bukan manusia, dan Allah tidak mungkin menjadi manusia. Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, sedangkan Alkitab mengajarkan Allah bisa menjadi manusia. Jadi pada waktu kita berkata mengenai siapa Allah kita? Yesus itu Allah atau manusia? Kita berkata Dia adalah Allah 100% dan manusia 100%. Kenapa orang sulit menerima ini? Yesus berkata, “Karena dia tidak mengerti Kitab Suci, dan karena dia tidak mengenal kuasa Allah di dalam kehidupan dia.”

Yang kedua adalah, Yesus bukan hanya berkata seperti ini, tapi Yesus juga mengatakan bahwa, “Kenapa orang-orang itu sesat dan buktinya apa mereka tidak mengenal Kitab Suci?” Pertama adalah, mereka tidak tahu pada waktu orang bangkit dari kematian, maka orang hidup seperti malaikat di sorga. Mereka tidak lagi hidup kawin dan mengawinkan seperti manusia yang hidup di dalam dunia ini tapi mereka betul-betul hidup seperti malaikat di sorga. Dan menarik sekali ketika berbicara mengenai hal ini, ada yang sampai menafsirkan seperti ini. Maksudnya apa hidup seperti malaikat di sorga? Maksudnya adalah ketika orang bangkit dari kematian, maka alat reproduksi dari laki-laki dan perempuan itu tidak ada lagi. Lalu kalau tidak ada lagi, apakah kita bisa mengenali dia laki-laki atau perempuan? Mereka berkata, tapi gender masih bisa ada. Cukup menarik tafsiran tersebut, walaupun kita tidak bisa mengerti 100% apakah itu adalah satu kebenaran. Cuma mungkin dalam pemikiran mereka, kenapa bicara reproduksi atau seksual itu tidak ada lagi? Karena manusia hidup seperti malaikat. Manusia bukan malaikat, tapi manusia hidup seperti malaikat. Dalam hal apa? Yang tidak kawin, tidak melahirkan anak, tidak ada kebutuhan seksual di situ. Makanya ada tafsiran itu muncul di tengah-tengah kita, ya.

Lalu ada hal lain apa yang dikatakan? Mereka bukan hanya tidak kawin dan mengawinkan, mereka hidup seperti malaikat di sorga, tapi Yesus ajak orang-orang Saduki itu melihat kembali ke dalam bagian Kitab Suci, yang orang-orang Saduki percaya itu adalah dasar yang paling tepat untuk mengerti keseluruhan dari Kitab Suci, yaitu lima Kitab Musa. Dan di dalam Kitab Musa itu, Yesus mengajak mereka merujuk kepada Keluaran 3, yaitu berkaitan dengan peristiwa di mana Musa bertemu dengan Tuhan di semak duri. Bapak, Ibu boleh buka ayat ini ya. Orang Yahudi berbeda dengan kita ya, mereka punya kitab masih dalam bentuk gulungan, mereka nggak bisa bawa ke mana-mana dengan sesuka seperti kita membawanya. Itu sebabnya pada waktu Yesus berbicara mengenai Kitab Suci kepada mereka, Yesus tidak mengatakan, “Tolong buka pasal sekian ayat sekian” kepada mereka. Tapi yang Yesus katakan adalah, “Kamu tahu tidak peristiwa yang ada di padang gurun? Ketika Musa sedang menggembalakan kambing domba, lalu dia bertemu dengan Tuhan di semak belukar.” Jadi ada petunjuk yang Yesus katakan di situ, lalu kemudian ketika Yesus bicara mereka kemudian langsung ngeh, oh ini adalah peristiwa di mana Musa bertanya kepada Tuhan, “Siapakah nama-Mu?”. Lalu Tuhan berkata, “Aku adalah AKU”. Tetapi poin yang lebih penting adalah bukan pada perkataan Yesus, “Aku adalah AKU” itu tetapi pada perkataan dari Tuhan yang mengatakan siapa Allah yang menampakkan diri pada Musa pada waktu itu.

Kita boleh baca dari Kel. 3:1 ya. “Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. Lalu Malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: ”Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?” Ketika dilihat Tuhan, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: ”Musa, Musa!” dan ia menjawab: ”Ya, Allah.” Lalu Ia berfirman: ”Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” Lagi Ia berfirman: ”Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.”” Ini yang dikutip oleh Yesus Kristus. Maksudnya bagaimana? Maksudnya adalah mau mengatakan kepada orang-orang Saduki itu, tidakkah engkau membaca kalimat yang Tuhan katakan pada Musa pada waktu itu? Mereka pasti ngomong, “Saya baca itu, saya tahu apa yang dipercakapkan pada waktu itu.” Tetapi Yesus kemudian tanya, maksudnya adalah, “Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada Musa?” Yang mana? Dia berkata Dia adalah Allah, Bapamu Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub.

Maksudnya bagaimana? Abraham itu hidup jauh sebelum Musa hidup di dalam dunia ini; ratusan-ratusan tahun sebelumnya. Ishak juga seperti itu. Yakub juga seperti itu. Tapi kenapa ketika Allah berhadapan dengan Musa pada waktu itu, Dia berkata dengan bentuk kata kerja present yang mengatakan “Saya sampai hari ini adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub”? Berarti Tuhan mau berkata bahwa sampai hari ini Abraham itu masih ada di hadapan Allah, sampai hari ini Ishak itu ada di hadapan Allah, Yakub juga ada di hadapan Allah. Mereka adalah pribadi-pribadi yang masih hidup di hadapan Tuhan.

Nah Bapak, Ibu, Saudara bisa membandingkan itu dengan Why. 4. Di dalam Why. 4, ketika itu ada pembicaraan antara orang-orang kudus yang mati martir dengan Yesus Kristus. Lalu orang-orang kudus ini berkata, “Tuhan, berapa lama lagi kami harus menunggu?”. Lalu Yesus berkata, “Sebentar lagi.” Waktunya sebentar lagi Yesus akan menyatakan diri. Jadi Alkitab tidak pernah mengajarkan orang yang mati jiwanya habis seperti tubuhnya yang rusak di dalam kuburan. Alkitab tidak pernah mengajarkan orang yang mati jiwanya tertidur di dalam kubur dan tidak memiliki kesadaran sama sekali. Alkitab mengatakan ketika orang mati, dia langsung hidup terpisah dalam dunia ini berdasarkan apa yang dia lakukan. Yang pertama adalah dia akan tinggal bersama dengan Tuhan atau dia akan tinggal di dalam hukuman sampai selama-lamanya di dalam neraka karena di dalam Ibrani dikatakan bahwa manusia mati satu kali, lalu akan dihakimi, seperti itu.

Jadi pada waktu kita mati, Alkitab berkata, jiwa kita masih ada dan penentuan nasib yang kita lakukan dalam dunia ini itu langsung dihakimi oleh Tuhan; masuk surga atau masuk neraka. Dan pada waktu orang masuk neraka, dia ada dalam kesadaran penuh. Kita bisa baca itu di dalam cerita Lazarus yang miskin dengan orang kaya yang ada di dalam neraka itu. Pada waktu dia masuk surga, kita bisa dapatkan kondisinya dari mana? Dari Lazarus yang miskin, yang ada di dalam pangkuan Abraham dan juga dari Wahyu pasal 4 yang di mana mereka sadar dan beribadah di hadapan Tuhan Allah.

Jadi pada waktu Yesus berkata kepada orang Saduki, “Tidakkah engkau mengerti bahwa di dalam Kitab Suci, Allah berkata kepada Musa bagaimana? “Aku adalah Allah Abraham, Ishak dan Yakub”. Mereka adalah Allah dari orang-orang yang hidup bukan orang-orang yang mati.” Ini mau mengatakan bahwa kebangkitan itu ada, hidup setelah kematian itu sungguh-sungguh ada, yang dimaksud dengan surga itu ada. Tetapi pada waktu kita hidup di sana, Saudara harus mengerti kehidupan di surga berbeda dengan kehidupan di dalam dunia ini. Karena kita tidak lagi seperti kita hidup di sini. Zaman itu dikatakan kita hidup seperti malaikat yang ada di surga.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini  membuat kita mungkin bertanya seperti ini, kalau begitu, kira-kira di surga itu, saya bisa mengetahui, nggak, siapa yang jadi istri saya, suami saya, dan anak-anak saya ketika saya hidup dalam dunia ini? Kira-kira pada waktu itu kalau bicara tentang organ seks tidak ada lagi atau tidak berfungsi seperti kita hidup di dalam dunia ini, apakah kita memperlakukan pasangan kita itu seperti kita hidup dalam dunia ini, masih seperti itu atau seperti orang-orang umumnya yang ada yang menjadi teman-teman kita? Saudara boleh lihat kiri, kanan, mungkin itu keluarga, tapi kalau lihat depan, belakang, Saudara merasa bahwa saya menghadapi pasangan dengan menghadapi teman-teman gereja, kan, pasti beda. Kalau kita semua hidup di surga seperti malaikat, berarti semua dari kita seperti teman-teman, kayak gitu? Nggak ada sepertinya kontak relasional emosi di situ lagi.

Jadi, bagaimana  kita sebenarnya  hidup? Lalu, kondisi kita seperti apa? Nah, ini menjadi satu pertanyaan yang sangat menarik sekali dan untuk menjawab ini ada satu kutipan yang saya mungkin bisa bacakan kepada Bapak, Ibu, ya. Seorang pendeta Irish, dari gereja Presbiter, dia berkata seperti ini, ya: “Pada waktu kita meninggal, bagaimana kedekatan kita dengan orang-orang yang dekat dengan kita di bumi ini?” Lalu, dia bertanya lagi: “Apakah kita masih memiliki relasi spesial dengan istri kita di dalam surga? Apakah kita akan memperlakukan orang tua kita seperti papa dan mama kita di dalam dunia ini? Apakah kita akan memiliki teman dekat di sana seperti halnya kita ada di dalam dunia ini dan dia akan tetap menjadi teman dekat kita di dalam surga nanti?” Lalu, “Atau kita akan melihat mereka semua seperti ribuan orang yang lain yang kita sepertinya nggak ada hubungannya sama mereka?” Lalu, dia bertanya, ”Tetapi, bukankah kita dicipta dengan cara di mana kita masih menghendaki ada orang-orang yang dekat dengan kita?” Ini adalah satu pertanyaan yang sangat natural sekali dan tidak mudah untuk dijawab.

Makanya, pada waktu kita berbicara mengenai kebangkitan orang mati dan kehidupan paska dari kematian ini, ada yang mengatakan sebenarnya pertanyaan dari orang Saduki ini adalah salah satu dari ucapan Yesus yang sulit untuk dijelaskan dan saya percaya itu adalah ada benarnya, ya. Lalu, dia kemudian ngomong kayak gini: “Alkitab bicara apa?” Dia bilang, ”Coba perhatikan Daud. Pada waktu dia mendapatkan seorang anak dari Batsyeba, hasil dari perselingkuhannya dengan Batsyeba. Dia pada waktu itu puasa mati-matian ketika dia tahu anak itu ada di dalam kondisi yang sakit. Lalu, setelah anak itu mati, orang-orang bawahannya nggak ada yang berani memberitahu kepada Daud, anak itu sudah mati karena mereka khawatir Daud lebih terpukul lagi karena pada waktu anak itu masih hidup, dia sampai puasa; dia tidak mandi, mungkin; dia betul-betul berdoa setiap hari untuk keselamatan dari anak itu. Tapi kemudian, ketika dia mendengar pegawainya bisik-bisik, dia tahu anak itu sudah mati. Lalu, dia tanya, “Anak itu masih hidup atau tidak?” “Sudah mati.” “Kenapa engkau tidak beritahu aku?” Mereka takut. Tapi, ketika Daud dengar itu, dia langsung mandi, berurap, melakukan kegiatan seperti tidak ada apa-apa yang membuat pegawainya tanya, “Kenapa engkau lakukan itu? Kenapa engkau sepertinya tidak bersedih?” Lalu, Daud ngomong apa? “Nanti suatu hari, aku akan dikumpulkan bersama dia di dalam kekekalan.” Jadi, pendeta ini berkata kalau kita perhatikan Daud, maka di situ dikatakan bahwa Daud sepertinya tahu sekali kalau dia akan dipersatukan dengan anaknya yang sudah meninggal itu dan dia mengenal anak itu.

Lalu, kalau Saudara baca di dalam 1 Tesalonika 4. Paulus bilang, “Janganlah engkau bersedih seperti orang-orang yang tidak mengenal Tuhan.” 1 Tes. 4:13 dikatakan, “Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.” Dan seterusnya.

Jadi Paulus berkata orang Kristen ketika kehilangan dari keluarga boleh menangis tidak? Sangat boleh sekali untuk menangis. Bersedih boleh nggak? Sangat boleh sekali untuk bersedih. Tetapi Paulus memberi catatan walaupun kita boleh bersedih jangan sampai kehilangan kendali, jangan sampai begitu dikuasai oleh kesedihan sampai seolah-olah kita tidak punya pengharapan lagi dalam kehidupan ini seperti orang dunia yang ditinggal oleh keluarganya. Apa sebab? Karena kita sebenarnya ketika keluarga kita meninggalkan kita di dalam Tuhan, Paulus berkata mereka tidak mati, mereka tidak terhilang, tetapi mereka sudah dikumpulkan bersama-sama dengan Kristus dan suatu hari kita pun akan pergi untuk tinggal bersama-sama dengan mereka di surga. Jadi itu sebabnya pada waktu kita meninggal, di sini ada satu pengertian kita dikumpulkan bersama Tuhan, kita hidup tetapi yang kedua adalah kita akan mengenal secara implisit siapa yang menjadi keluarga kita, siapa yang menjadi orang tua kita, suami kita, istri kita, dan anak-anak kita.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu sebabnya pada waktu kita hidup dalam dunia saya lihat Alkitab mengatakan benar ya, tujuan laki-laki menikah itu bukan karena masalah cinta dengan cinta saja tetapi tujuan laki-laki dan perempuan menikah itu adalah masalah covenant antara Allah dengan umat-Nya atau laki-laki dan perempuan itu di hadapan Allah dan jemaat. Ini adalah masalah perjanjian yang harus diingat. Kenapa covenant? Karena mencerminkan kasih Kristus dengan jemaat, tetapi di sisi lain ada tujuan yang penting, Tuhan ingin kita melahirkan anak-anak Ilahi di dalam dunia ini, anak-anak yang takut Tuhan. Untuk apa? Supaya bisa meneruskan iman kita di dalam dunia ini tetapi disisi lain adalah supaya kita bisa bawa mereka ke dalam surga juga dan bertemu dengan mereka di dalam kekekalan nanti. Itu adalah warisan yang sangat penting dan sangat berharga di dalam kehidupan kita ya.

Saya lanjutkan ya, jadi Paulus berkata bahwa pada waktu orang percaya meninggal, kita akan ada bersama dengan Kristus. Itu sebabnya kita nggak boleh terlalu bersedih ketika menghadapi keluarga kita yang meninggal mendahului diri kita sendiri. Lalu hal berikutnya adalah begini, Dia bicara mengenai pernikahan. Kalau kita bicara soal pernikahan di dalam dunia, maka pernikahan kita di dunia ini bukankah mencerminkan Kristus dengan jemaat? Tapi kalau kita sudah meninggal di dalam Tuhan dan tinggal di dalam surga, apakah kita masih perlu menyatakan cerminan Kristus dengan jemaat di dalam keluarga kita? Ya dia berkata tidak perlu lagi, karena pada waktu kita di surga, kita adalah jemaat, Tuhan adalah Tuhan kita dan relasi itu sudah begitu jelas sekali ada di sana. Lalu apa yang menjadi istri kita masih perlu perlindungan dari kita sebagai suami kepada diri dia? Dia juga berkata nggak perlu lagi. Apakah seorang suami masih membutuhkan istri sebagai penolong dalam kehidupannya ketika masuk ke dalam kekekalan? Dia menjawab juga tidak perlu lagi. Apakah anak-anak masih membutuhkan pemeliharaan dari orang tuanya ketika ada di dalam surga? Dia juga berkata tidak perlu lagi. Dan bahkan alat reproduksi pun tidak berfungsi lagi di sana atau tidak diperlukan lagi di sana karena jumlah orang yang di surga itu sudah tetap berdasarkan jumlah orang pilihan yang Tuhan sudah tetapkan di dalam kekekalan.

Jadi beda dengan kita yang hidup di dalam dunia ini ya. Saya percaya selama kita masih bisa melahirkan anak dalam dunia ini, berarti masih ada orang pilihan yang masih dilahirkan di dalam dunia ini. Selama dunia ini masih berlangsung berarti masih ada orang-orang yang perlu mendengarkan Injil untuk bisa diselamatkan di dalam Yesus Kristus. Tapi ketika kita ada di dalam surga semua itu tidak perlu lagi, perbanyakan manusia itu tidak perlu lagi karena jumlahnya sudah sesuai dengan yang Tuhan tetapkan dan akan terus seperti itu di dalam kekekalan.

Nah di sini yang menarik, lalu dia bertanya seperti ini “Kalau begitu apakah berarti bahwa suamiku atau teman baikku itu tidak menjadi berarti lagi di dalam kehidupan yang akan datang?” Nah dia berkata seperti ini “Bapak, Ibu kalau menikah senang ga menikah dengan pasangannya di dalam keluarga?” Yang belum menikah cepet-cepet menikah ya, yang belum punya pacar cepet-cepet cari pacar. Karena apa? Karena membangun keluarga itu adalah berkat yang begitu baik yang Tuhan berikan kepada kita yang tidak bisa dibandingkan dengan yang lain. Jadi pada waktu kita punya keluarga itu adalah berkat yang bersumber dari Tuhan yang baik. Waktu kita punya anak, itu adalah berkat dari Tuhan yang baik dalam kehidupan kita. Pada waktu kita memiliki teman yang misalnya kayak Daud dan Yonatan, itu adalah berkat yang begitu baik di dalam kehidupan mereka. Nah pertanyaannya adalah kalau Allah adalah sumber segala kebaikan yang memberikan hal-hal yang baik dalam kehidupan kita  di tengah dunia ini, apakah Dia akan menghentikan apa yang baik itu ketika kita masuk ke dalam kekekalan?

lalu Pendeta ini berkata, dia nggak percaya hal itu. Dia berkata bahwa kebaikan itu ada kemungkinan diteruskan di dalam kekekalan. Jadi kalau kita membangun keluarga dalam dunia ini, kita di dalam kekekalan akan tetap melihat dia dulu adalah mungkin suami atau istri saya, dia adalah keluarga saya seperti itu, dan saya ada dalam kehidupan yang baik bersama dia. Kalau kualitas saya hidup dalam dunia misalnya kalau saudara kasih 0 sampai 10 itu adalah 8 kayak gitu, atau tujuh maka di sorga Saudara akan menikmati itu dalam angka 10. Ketika Saudara hidup di dalam dunia dengan teman yang Saudara anggap baik, walaupun di dalam dunia kadang-kadang ada hal yang mengecewakan, ada hal-hal yang menyedihkan di dalam pertemanan, tapi ketika Saudara masuk ke dalam sorga, pertemanan Saudara akan memenuhi satu kriteria yang jauh melampaui kebaikan yang Saudara nikmati dalam dunia ini.

Dan saya kira itu ada benernya juga ya. Pada waktu kita bicara tentang sorga dan bumi, itu ada kontinuitas dan diskontinuitas. Pada waktu kita berbicara mengenai Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu ada kontinuitas dan ada diskontinuitas di situ. Kontinuitas misalnya apa Perjanjian Lama sama Perjanjian Baru? Konsep kovenan antara Allah dengan umatnya. Diskontinuitas masalah apa? Masalah sunat dengan masalah baptisan. Pada waktu kita meninggalkan dunia ini, ada aspek itu juga ketika kita masuk ke dalam kekekalan nantinya.

Jadi kenapa kita membahas ini dan kenapa saya mengutip hal ini? Saya mengatakan seperti ini, ketika kita hidup dalam dunia ini, kita satu sisi boleh percaya dan yakin percaya karena Yesus sendiri mengatakan bahwa kebangkitan itu sungguh-sungguh ada. Kehidupan pasca kematian itu bukan sekedar satu imajinasi atau mimpi atau pemahaman atau penglihatan yang kita miliki dalam hidup kita, tetapi kehidupan di dalam kekekalan nanti, itu betul-betul adalah satu regenerasi atau ciptaan baru yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita, sehingga pada waktu kita masuk ke dalamnya kita bukan masuk dalam kondisi kita yang apa adanya setelah sebelum kita meninggal atau pada waktu kita meninggal, tapi kita ada di dalam kondisi yang lebih baik daripada kondisi ketika kita meninggal atau hidup di dalam dunia ini.

Tadi waktu kita baca pembacaan bertanggapan di dalam 1 Korintus 15, kita nggak baca ayat perikop berikutnya. Kita hanya baca tentang kebangkitan dari Kristus tapi ayat perikop berikutnya itu berbicara mengenai kebangkitan dari diri kita yang mati. Di situ Paulus menjabarkan bagaimana kondisi kita ketika kita hidup di dalam kekekalan nanti bersama dengan Kristus. Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, perlu nggak orang-orang seperti Saduki ini yang datang kepada Yesus Kristus untuk berdebat dengan Dia? Saya yakin perlu sekali, karena apa? Satu sisi mungkin kita berkata, ini niat jahat yang mereka lakukan kepada Yesus. Tapi di sisi lain Tuhan bisa mengubah yang jahat itu untuk menjadi kebaikan. Dengan cara bagaimana? Dengan cara ketika percakapan itu ada, kita lebih mengerti tentang rencana Tuhan, kehendak Tuhan di dalam kehidupan kita.

Jadi, dari pembahasan kita saya mau tanya, kita punya Allah itu adalah Allah yang hidup atau tidak? Saya yakin kita jawab iya. Allah kita adalah Allah yang Mahakuasa atau tidak?  Saya yakin kita jawab iya juga. Tapi yang berikutnya adalah, Dia adalah Allah dari orang-orang yang hidup atau tidak? Itu adalah iman kita di dalam Yesus Kristus. Jadi dengan begitu saya berdoa apa yang kita bahas ini, itu boleh makin memperteguh kita untuk berjalan bersama Kristus ya. Bukan mulai mempertanyakan hal-hal yang tidak penting tapi apa yang Yesus katakan kita bisa percayai kebenaran karena Dia adalah Allah yang menjadi manusia untuk memberitahukan hal-hal tersembunyi yang tidak dimengerti oleh manusia.

Nah, dari sini saya mau ajak kita melihat kayak gini, ketika kita mengalami kehidupan di mana keluarga kita meninggalkan kita atau kita akan memasuki kematian di dalam hidup kita, pertanyaannya adalah, Saudara lebih percaya perkataan Alkitab atau tradisi manusia? Saudara lebih percaya Alkitab berkata kita sudah dipersatukan dengan Tuhan atau percaya bahwa masih ada orang yang berkeliaran dalam dunia ini roh-rohnya? Saudara lebih percaya masih perlu mendoakan dan mengusahakan mereka untuk supaya mereka bisa diterima oleh Tuhan melalui amal kebaikan kita dalam dunia ini atau kita sudah bisa bersyukur dan memuji Tuhan karena Tuhan sudah mempersatukan mereka dengan diri Dia? Saya kira ini adalah poin-poin yang penting ya. Dia adalah Allah dari orang-orang yang hidup, berarti setiap orang yang meninggal di dalam Tuhan, kita langsung dipersatukan dengan Dia dan hal itu adalah satu kebenaran karena Tuhan Yesus sendiri menyatakan itu sebagai kebenaran bagi kita. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita pada pagi ini. Mari kita masuk dalam doa.

Kami sungguh bersyukur Bapa untuk Firman-Mu, untuk kebenaran-Mu bagi kami, untuk pengertian yang boleh Engkau tambahkan dalam hidup kami. Biarlah kami boleh makin bertumbuh di dalam iman, di dalam kebenaran, di dalam kasih kami kepada Tuhan, karena segala kebaikan yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup kami, bukan hanya untuk menebus kami dari dosa, mengaruniakan hidup yang kekal bagi kami tapi Engkau juga adalah Allah yang juga boleh menopang hidup kami, memimpin hidup kami, menjadikan hal-hal yang mungkin jahat akibat dari dunia ini, akibat dari dosa, untuk menjadi satu kebaikan dalam kehidupan kami. Terima kasih ya Bapa untuk anugerah-Mu ini, dan kiranya Engkau boleh sertai di dalam perjalanan iman kami, anak anak-Mu ini. Biarlah kami boleh makin berpegang teguh dengan setiap perkataan yang Tuhan nyatakan bagi kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin. (HS)