Sasaran Injil yang Terabaikan, 9 Februari 2025

Sasaran Injil yang Terabaikan

Mat.9:35-38

Pdt. Aiter, S. Kom, M. Div

Saya akan ajak kita melihat satu bagian di dalam Injil Matius, yaitu yang di pasal yang ke-9. Mat. 9, kita akan melihat ayat di pasal 9:35-38. Saya akan menyoroti ayat ke-35, “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat”, dan ini adalah lokasi di mana Yesus pelayanan. Kota-kota, desa-desa dan rumah-rumah ibadat. Di zaman Tuhan Yesus sama zaman kita, zaman kita sudah lebih kompleks. Di zaman kita ada persekutuan kantor, di zaman kita ada persekutuan keluarga, lalu ada komisi-komisi di dalam gereja-gereja, di zaman Tuhan Yesus tidak ada selengkap itu. Maka Saudara perhatikan, strategi penginjilan Tuhan Yesus, Yesus lakukan di tiga wilayah yang sangat penting ini, yaitu keliling kota.

Kota adalah tempat di mana Injil harus dikabarkan. Kenapa? Karena semua pusat pendidikan selalu ada di kota. Saudara kalau mau melihat satu tempat itu kota atau desa gampang. Banyak indikator yang kita bisa lihat; jalannya sudah memadai belum, atau transportasinya hanya kuda atau kerbau atau sudah ada mobil atau truk. Saudara bisa analisa desa itu maju atau tidak, lihat jumlah kecamatannya ada berapa desa, lihat kantor-kantor pemerintahan berapa besar, lihat orang yang buka usaha toko atau ruko ada tidak, lalu Pizza Hut ada di situ atau tidak, BCA atau tidak. Dari situ kita bisa analisa kota ini maju atau tidak. Jadi cara melihat satu tempat ini gampang sekali. Saya setiap kali masuk satu tempat, satu kali saya keliling kota, langsung saya tahu kira-kira ekonomi di sini berapa, lalu kira-kira pendidikan di sini berapa tinggi. Kenapa? Karena saya akan lacak dia ada SMA atau tidak. Kalau dia tidak ada SMA di desa itu, berarti ini desa. Karena SMA biasanya ada di agak kota. Lalu kalau SMA ada lebih dari satu di satu tempat, kota itu sudah lebih maju. Tapi kalau dia masih ada satu dan baru buka, berarti desa ini sudah akan menuju kepada kota.

Nah saudara perhatikan, kota ini sasaran penginjilan yang sangat penting. Karena di kota, manusia sudah menikmati segala sesuatu fasilitas akhirnya kehilangan berita Injil. Saudara perhatikan, gereja-gereja besar di kota-kota besar, mereka khotbahnya apa? Mereka susun planning khotbah selama satu tahun, kira-kira temanya apa? Kebanyakan semua tema adalah tema praktika. Lalu kapankah berita Injil baru dikhotbahkan. Di dalam satu tahun, mereka susun ada satu bulan, bulan misi. Saat itulah baru khotbah tentang Injil, khotbah tentang Kristus, khotbah tentang penginjilan dikhotbahkan selama satu bulan, kira-kira empat kali hari Minggu. Setelah khotbah selesai, misi tetap tidak jalan. Saya berkali-kali khotbah di gereja-gereja yang katanya bulan misi. Setelah bulan misi selesai, tetap tidak bermisi, dan sebelum bulan misi tetap tidak bermisi. Saat ada bulan misi, mereka dengar tentang tema misi habis itu tetap tidak jalankan.

Nah ini kesalahan besar di kota-kota, karena apa? Karena kota sudah merasa kami sudah melayani dengan baik. Lihat gedung kami sudah bagus, lihat komisi wanita ada, ada hamba Tuhannya, lihat komisi anak-anak, Sekolah Minggu. Ini ada pembinaan begitu banyak, lalu untuk apa lagi kita kabarkan Injil untuk orang-orang di kota? Biarkan orang-orang di kota mereka kelak sadar sendiri melalui perbuatan dari orang Kristen. Nggak bisa Saudara! Perbuatan orang Kristen, bisa tidak memenangkan orang tanpa perkataan firman? Tidak mungkin. Orang dengar firman, baru dapat iman. Ndak ada lihat orang Kristen berbuat langsung dia tahu “Yesus mati bagiku”. Nggak mungkin! Ada orang Kristen datang ke rumah kita, kita non-Kristen, lalu dia kasih kita makan. Lalu dia bilang “Saya orang Kristen”. Lalu teringatlah saya, Yesus mati di kayu salib, Yesus punya 12 Rasul gitu ya. Alkitab Kejadian sampai Kitab Wahyu. Ndak mungkin karena dari perbuatan satu kali.

Kita tidak mungkin terpikir Yesus pernah keliling ke kota-kota, ke desa-desa, Yesus melakukan mukjizat A, mukjizat B. kalimat-kalimat yang tadi saya sebutkan, Yesus melakukan mukjizat, Yesus ke kota A, kota B hanya kita bisa tahu kalau ada yang kabarkan. Ndak bisa kita lihat perbuatan orang Kristen yang kasih saya sembako, teringatlah Yesus mengusir setan yang ada di Gerasa. Ndak mungkin. Yesus menghardik itu ombak gitu ya, lalu ada angin yang bertiup yang begitu kencang, teringatlah saya karena orang Kristen memberikan saya sembako. Ndak ada itu. Teringatlah saya kepala prajurit berkata, “Sungguh Engkau Anak Allah.” Ndak mungkin. Harus dari perkataan.

Di kota sudah kehilangan berita Injil. Oleh sebab itu perhatikan, gereja-gereja bisa besar, tetapi di dalamnya keropos luar biasa. Saya pernah khotbah saya buat tema KKR di suatu gereja, gereja itu kira-kira sudah 50tahun berdiri, dan jemaatnya biasa saja suam-suam kuku, saya buat seminar dan KKR di situ. Waktu saya buat KKR, Saudara mau tahu, majelis berkata kepada kami, Pak, sebetulnya gereja ini tidak biasa KKR. Lho kenapa? Karena semua sudah Kristen. Gereja ini tidak pernah dipakai satu kali pun untuk KKR. Dan saya pakai, itulah kali pertama. Wah bayangkan Saudara-saudara ya, saya kotbah, mau khotbah apa ya, ini daerah suam-suam kuku kayak begini. Setelah khotbah selesai, saya dibawa ke belakang makan bersama majelis di ruang majelis. Lalu majelis sama pendeta gembalanya berkata begini, “sekarang kami baru tahu kelemahan besar gereja kami, kami kira sudah Kristen semua, dan tidak ada lagi penginjilan sejak berdiri sampai sebelum Pak Aiter khotbah. Dan sekarang, kami sadar kami perlu jadwalkan rutin untuk tema-tema KKR.” Oh Puji Tuhan Saudara-saudara ya. Ini sinode gereja yang sangat besar di Indonesia, dan gerejanya ada sekolah, saya khotbah di sekolahnya, dan mereka ada hamba Tuhan di gereja tapi tidak khotbah di sekolah. Sekolah diserahkan ke guru agama ngajar kurikulum dan seterusnya. Nggak ada KKR saudara-saudara. Begitu kita KKR, di situ dia sadar, tempat kami perlu ada KKR.

Nah sekarang kita kembali, tiga wilayah ini sangat penting, kota-kota dan Yesus keliling. Artinya tidak terjebak di satu kota. Kelemahan kita di dalam KKR regional, kalau sudah pegang satu tempat, ndak mau dilepas Saudara-saudara. Kenapa? Karena di situ makannya enak. Coba ya, saya buka trip, ke Kalimantan Barat. Orang yang belum tahu Kalimantan Barat pengen daftar Saudara-saudara ya. Setelah ikut satu kali, kali kedua dia mikir 1000 kali ya, karena ndak ada fasilitas apa pun, airnya kuning-kuning. Ituzaman dulu, ya. Lalu kita jalan jauh, mau 8 jam, mau 10 jam pemandangannya sama semua, Saudara! Ndak ada sesuatu yang menarik di situ. Begitu orang itu dibawa satu kali, makannya juga biasa-biasa. Kali kedua, kali ketiga ajak dia lagi, langsung alasannya banyak. Coba, kalau KKR regional ke Medan. Wah, kebayanglah “Kwetiau Akang”, “Bakso Akiaw”. Keluar semua Saudara-saudara, ya, menu makanan: lupis, bakpao, siomay, macem-macem. Keluar semua, ya. Itu mie keriting, lah, mie blonding lah, apa semua, keluar semua, ya. Nasi pete lah, apa, semua keluar menu makanannya. Kebayang juga danau Toba. Langsung daftarkan diri. Setelah makan yang enak, kali berikutnya ajak, dia datang lagi Saudara-saudara. Kenapa? Karena kota itu menarik hatinya untuk dia datang ke situ.

Yesus tidak pernah terikat di satu tempat! Bayangkan, Yesus datang ke Samaria. Perempuan Samaria bertobat lalu membawa banyak orang kota datang kepada Yesus. Dan hari itu mereka konfirmasi, Yesus sungguh-sungguh Juruselamat dunia. Kalau Yesus stay di Samaria, berdirilah “GRII Samaria”, Saudara-saudara. Gembala sidangnya Tuhan Yesus. Karena semua sudah percaya Yesus, tinggal letakkan batu pertama, jadi gereja. Betul nggak? Kenapa Yesus tinggalkan Samaria? Kenapa waktu diaken Filipus men-takjub-kan tanah Samaria dan tanah Samaria sudah dengarkan Injil, Filipus dipindahkan untuk bertemu sida-sida Etiopia yang waktu itu di tempat yang sunyi? Padahal kalau Samaria dirikan Pos PI MRII, Filipus jadi gembala sidangnya, Saudara-saudara, ya. Langsung hari itu jemaat yang datang begitu banyak karena hasil pertobatan dari Injil yang dikabarkan. Tapi Filipus dipindahkan. Dipindahkan ke tempat yang sunyi. Artinya: kota nggak boleh ikat satu orang! Amin? Amin, ndak? Amin, ya?

Sekarang saya kasih lebih spesifik: Gereja tidak boleh ikat hamba Tuhan! Setuju? Wah, Saudara yang bilang setuju mungkin sudah benci sama hamba Tuhan, Saudara-saudara, ya? Biar dia pergi saja. Kelemahan banyak gereja besar: Gereja mengikat hamba Tuhan dan Gereja melepaskan hamba Tuhan. Maksudnya gini. Hamba Tuhan yang model kayak begini: kalau khotbah terlalu keras menegur dosa, “Kembalilah kau ke habitatmu –gitu, ya– ke gunung sana kau!” Dia mengutus hamba Tuhan itu, tanda petik, artinya dia usir hamba Tuhan itu untuk dia pergi. Dia lepaskan hamba Tuhan itu. Tapi kalau dia lihat satu hamba Tuhan yang khotbahnya menyenangkan, dia ikat hamba Tuhan itu. Sinode mau pindahkan dia, dia demo ke sinode. “Kalau sinode mau pindahkan gembala sidang kami, kami, Gereja ini lepas dari sinode! Kami buat nama sendiri!” Wah, misalnya Gereja Reformed Injili Sejati. Yang lama tidak sejati gitu, ya. Lalu ada gereja apa lagi? “Kami buka yang baru!” Kenapa? Karena hamba Tuhan diikat oleh dia. Nah, hamba Tuhan yang diikat merasa, wah, dia sangat diterima dengan baik sehingga semua jemaat ingin dia jadi gembala. Ingat! kalau majelis bisa mengikat hamba Tuhan seperti itu, majelis yang sama bisa melepaskan hamba Tuhan itu jikalau hamba Tuhan tidak lagi menyenangkan majelis.

Ini yang terjadi di banyak gereja besar! Sehingga di banyak gereja besar, hamba-hamba Tuhan yang bisa bertahan berpuluh-puluh tahun. Selain dia setia, di balik itu ada alasan lain: karena hamba Tuhan ini hamba Tuhan yang takluk kepada majelis sehingga majelis merasa aman maka, “Pertahankanlah hamba Tuhan seperti ini.” Lalu yang berani menyinggung dosa, semua sudah dimutasikan ke gunung. Sudah di lautan bebas Saudara-saudara, ya. Dilepaskan. “Jangan kau pulang ke sini lagi!” Akhirnya gereja dilayani oleh gembala-gembala sidang yang menyenangkan kuping majelis dan gereja kehilangan berita Injil! Kenapa? Kalau Injil dikabarkan, pasti dosa diungkit. Betul nggak? Kalau Injil dikabarkan, pasti teguran, pedang bermata dua akan keluar dari perkataan Firman! Tapi kalau Injilnya sudah dibuang, pedangnya tidak keluar lagi. Menjadi pisau plastik yang potong kue ulang tahun yang kalau gosok ke tangan nggak luka. Tidak lagi seperti samurai yang begitu tajam. Maka gereja-gereja kalau sudah kehilangan berita Injil, ini gereja pasti suam-suam kuku. Dan di dalam gereja terjadi dosa yang begitu banyak, perselisihan yang begitu banyak.

Nah, sekarang kita kembali: kota. Semua cabang-cabang gereja di desa dibuka oleh gereja kota. Jikalau gereja di kota atau orang-orang di kota tidak dirubah, lalu mereka buka cabang ke desa, akhirnya apa yang terjadi? Di kota akan di-copy paste, yaitu di desa-desa. Akhirnya semua kesalahan di kota dibawa sampai ke desa-desa. Akhirnya desa dirusak oleh orang-orang kota. Maka sasaran penginjilan harus masuk ke kubu-kubu di kota. Kota, kubunya itulah wilayah sinode. Sinode memegang peranan yang sangat penting. Bobolnya gereja karena sinodenya tidak kuat!

Saya ketemu pimpinan-pimpinan di gereja-gereja. Ada yang saya tanya begini, “Pak, Bapak punya bawahan gereja begitu banyak. Bapak bisa mutasikan hamba Tuhan di salah satu gereja.” Dia bilang, “Nggak bisa Pak, karena kami policy-nya kalau sudah buka satu gereja, itu otonom. Artinya saya di sinode ndak bisa otak-atik di cabang A, cabang B karena otonom. Dan semua cabang-cabang yang buka harus ada sistem setoran ke sinode.” Akhirnya sinode mendapatkan setoran, dia kira cabang itu sudah jalankan tugas dengan baik. Tetapi gembala-gembala yang ada di bawah, yang korslet-korslet, tidak bisa dimutasikan oleh sinode dan majelis mempertahankan hamba Tuhan itu, sehingga hamba-hamba Tuhan di situ menjadi raja-raja kecil. Kalau seperti itu khotbah pasti tidak lagi menegur dosa. Maka Injil tidak lagi dikabarkan di kota besar.

Dari jalur sinode tidak kabarkan sampai ke bawahan, ke cabang-cabang, tidak kabarkan. Inilah kebobolan gereja-gereja di kota: dimulai dengan konflik besar di sinode. Sinode ada konflik perebutan aset. Sinode ada konflik karena di ketua sinode, pimpinan sinode itu adalah orang-orang yang tidak berjiwa misi dan tidak berjiwa kabarkan Injil. Akhirnya seluruh bawahan itu menjadi orang yang pasif karena mereka bilang, “Ketua sinode saya begini. Pimpinan di sinode kami begini.” Maka akhirnya karena tidak ada teladan di atas, hancurlah semua.

Kenapa kita di gereja Reformed masih dianggap sangat kuat? Karena Pak Tong pimpinan dari seluruh gerakan Reformed mengerjakan semuanya. Kita hamba-hamba Tuhan, kadang-kadang belum kerjakan semua tapi sok-sok seperti Pak Tong, Saudara. Pak Tong kalau masuk ke satu ruangan, “Ah, tiangnya salah, WC salah, pintunya salah, semua salah.” Nggak ada yang benar, Saudara-saudara. Lalu kita ikut-ikutan, ya, datang ke rumah orang, “Jendelanya salah, kaca ketebalan.” Kita ngerti pun tidak, tapi tiru-tiru gayanya. Pak Tong kalau kritik, dia bukan hanya kritik. Dia buat yang benar, maka dia dirikan gereja. Kalau dia bilang pintunya salah, lihatlah pintu gereja yang dia buat. Kalau dia bilang tiangnya salah, lihatlah gereja Reformed ada tiang atau tidak. Jadi waktu dia kritik, dia buat, Saudara-saudara. Dia datang ke concert hall, dia bilang concert hall ini jelek, suaranya jelek. Lu ngomong, “Jelek, jelek, jelek,” lu ditiru oleh pendeta-pendeta. Dia datang ke satu tempat akustik. Akustiknya tidak bagus, speaker-nya jelek, pintunya jelek, semua jelek, ruangnya salah-salah. Setelah salah, suruh dia buat satu ruang akustik. Nggak jadi-jadi.

Pak Tong begitu, kritik hall, dia dirikan concert hall. Dia kritik ukiran lukisannya kurang baguskah, jelekkah, patungnya jelekkah, proposisinya tidak cocoklah, nggak proposional lah, Dia dirikan museum Saudara-saudara. Lagu ini nggak bagus, kurang, tidak enak, kurang, terlalu happy, lalu dia buat lagu, Saudara-saudara. Kita kan gampang, ya, “Lagu ini nggak enak, jangan nyanyi.” Coba lu buat satu. Sampai kiamat nggak jadi-jadi, Saudara. Dari awal do-mi-sol, do-mi-sol, do-mi-sol, tidak ada not lain, Saudara-saudara, ya. Cuma do-mi-sol, do-mi-sol, do-mi-sol. Pak Tong kritik lagu, dia ciptakan lagu. Dia kritik semua musik-musik dunia. Dia conduct musik klasik. Ini baru fair, Saudara-saudara.

Saudara perhatikan, kita di Reformed kenapa masih dianggap kuat? Karena pimpinannya mengerjakan hal seperti ini. Yesus kenapa bisa utus dua belas rasul? Kenapa bisa utus tujuh puluh murid? Karena sebelum utus, Yesus sudah diutus dari surga ke bumi. Kalau dari surga ke bumi melewati perjalanan, kalau pakai istilah perjalanan, yang begitu jauh. Sekarang Yesus utus rasul. Berani kah rasul berkata, “Jauh sekali.” Tujuh puluh murid berkata, “Aduh, jauh sekali.” Berani mereka ngomong? Begitu lihat Yesus turun dari surga, langsung semua bungkam. Maka Pak Tong kalo memerintahkan hamba Tuhan kerjakan ini, gereja cabang kerjakan ini, semua bungkam. Kenapa? Karena kalau kita serang balik ke Pak Tong, kita langsung diem. “Lu ngomong tok, ngomong tok, suruh ini, suruh ini. Lu sendiri nggak kerjakan.” Langsung diam-diam. “Ha, nggak kerjakan? Sebelum kau lahir, aku sudah kerjakan.” Wah, stress kita. Karena sejak masa muda dia sudah keliling, Saudara-saudara, ya.

Sekarang kita kembali tiga wilayah ini. Kota, lalu sudah digempur, sekarang masuk ke desa. Orang kota yang sudah berprestasi, mereka ada sebagian kerja di kota, sebagian buka usaha di desa. Dan yang buka usaha di desa biasanya lebih sukses daripada buka usaha di kota. Karena di kota banyak saingan, di desa tanah masih murah. Ceban sudah makan nasi sayur sama ayam, di kota goban, Saudara-saudara, ya. Di Jakarta kalau Saudara makan, ajak keluarga, minimal Rp400.000-Rp500.000. Ada satu tempat makan, kepitingnya Rp1,8 juta. Wih, saudara waktu potong, ambil satu, goceng. Goceng. Itu mahalnya luar biasa. Itu dihitung mau yang jumbo kah, mau yang ada telur kah. Mahalnya luar biasa. Rp1,8 juta. Di sini sudah makan untuk satu bulan kali, ya. Di sana cuma satu kepiting, Saudara-saudara.

Sekarang kita kembali. Kota, Yesus keliling artinya nggak ada satu kota yang bisa membendung Tuhan Yesus dan mengikat Tuhan Yesus. Kalau satu kota melarang Tuhan Yesus untuk datang, Yesus masih akan keliling ke kota lain. Artinya, misi tidak akan berhenti jika satu kota menghambat. Amin? Banyak orang bermisi, dia ke satu kota. Lancar luar biasa, akhirnya misi berhenti karena kota itu mengadakan perlawanan untuk gereja itu bisa masuk. Lalu gereja sudah tidak bermisi, gerejanya berdoa. Kiranya Tuhan melembutkan kota itu, mematikan orang-orang jahat itu, gitu, ya, supaya kami bisa masuk lagi. Bodoh sekali lho, Saudara-saudara. Kalau satu kota menghambat, kota lain masih banyak. Kalau semua kota sudah melarang, padang gurun masih ada. Lihatlah Yohanes Pembaptis masih bisa khotbah di padang gurun karena massa Tuhan bisa datangkan. Jadi, bukan tergantung di kota A, maka misi kalau dilarang, berhentilah misi. Tidak.

Lalu tahap kedua, lihat Yesus masuk ke desa-desa. Nah, ini yang sangat sulit, Saudara-saudara. Kebanyakan orang kalau sudah jadi hamba Tuhan di kota, susah masuk desa. Karena dia akan punya mindset kota, gaji kota, restoran kota, pastori kota. Sampai ke desa dia lihat, “Pastori kok model kayak begini?” Langsung minta pulang dia. Lihat mimbar gereja yang di kota begitu bagus, sampai ke desa dindingnya masih kayu semua. Akhirnya banyak hamba Tuhan yang sudah lama di kota besar, akhirnya gagal di desa-desa. Maka semua kita harus bisa di kota dan harus bisa di desa. Amin? Ini susah amin, ya. Saudara kalau hidup sudah nyaman, susah juga, ya. Kamar mandi saja itu granitnya luar biasa. Sampai di kota kecil, wih, tanah liat. Lantainya masih tanah liat. Bak mandinya bisa dipakai untuk amplas sangking kasarnya. Belum di aci semua. Lihat airnya di bawah, “Hih, ada kotoran-kotoran-kotoran. Hih, banyak kali.” Akhirnya nggak berani mandi, Saudara-saudara. Saudara kira Saudara pakai shower dengan ada tandon, itu sudah bersih? Coba manjat ke tandon, lihat. Di atas tandon juga ada kumpulan kotoran-kotoran. Ada cacing-cacing kecil, Saudara.

Kami dulu kuliah, kami tinggal di Sunter, yaitu di Institute Reformed, yang sekarang jadi kampus SPRII itu. Kami kalau mandi kan pakai shower. Air semua ditampung di tandon. Suatu saat, waktu mandi, keluar binatang merah-merah, kecil-kecil, halus-halus. Cacing, Saudara-saudara. Bisa lolos dia keluar dari lubang shower. Kalau keluar cacing berarti ada sumbernya. Begitu kita cari sumbernya kembali ke tandon. Buka tandon. Gila, banyak bener cacing-cacing di situ. Ternyata tandonnya kotor, Saudara-saudara, karena jarang dibersihkan. Tapi selama kami di situ, kami sikat gigi juga sudah beberapa ekor ketelen, Saudara-saudara, ya. Hidup juga, Saudara-saudara. Sekarang, cacing yang sama, ada di pedalaman, di bak mandi. Kenapa kita tidak berani mandi? Oh karena terlihat, terlihat. Ya sudah, tutup mata saja, nggak usah lihat. Kebanyakan orang yang saya bawa, kalau sudah sampai ke desa, semua kesulitan luar biasa. Kamar mandi nya, WC nya, kasur nya, lalu situasi di situ mereka tidak bisa lolos di situ. Maka siapkan diri untuk bisa masuk ke semua lapangan! Amin? Kota, desa. Nah ini 2 wilayah yang sangat penting karena nanti saya mau jelaskan ada wilayah yang sangat penting di zaman ini yang terabaikan.

Yesus keliling ke rumah ibadat. Nah ini sudah masuk ke puing yang terabaikan di zaman ini. Kota, gereja banyak. Desa, gereja banyak, karena dari kota sudah buka cabang. Sekarang kita masuk, ada tempat yang terabaikan di zaman ini, yaitu masuk ke gereja-gereja. Wah ini menarik. Yesus masuk ke gereja-gereja bukan menunggu diundang. Wah ini strategi Tuhan Yesus. Misi Paulus pergi ke satu kota, ke kota lain, dia mengatur jam berangkat, jam berjalan, hari berangkat dan hari tiba. Tahu dari mana? Karena kalau dia move dari satu kota, dia menuju ke kota lain, dia harus mengantisipasi jangan sampai waktu tiba di kota yang dia mau tuju, lewat hari Sabat. Maka, kalau dia berangkat hari Senin misalnya ya, dia akan atur, mampir ke desa ini, ke desa ini, maka nanti dia harus cepat pindah karena dia akan masuk di hari Sabat, dia akan ke gereja di kota A ini. Dan begitu masuk di hari Sabat, dia masuk ke kota itu, dia langsung masuk ke rumah ibadat.

Yesus masuk ke rumah-rumah ibadat untuk apa? Untuk memenangkan jiwa orang di rumah ibadat. Yesus berkata kepada murid yang Dia utus, “Pergilah! Jangan ke Samaria.” Kenapa? Karena ini misi utama harus ke domba-domba terhilang di Israel. Israel, orang Yahudi sudah ada Bapak Abraham, Ishak dan Yakub, sudah ada Kitab Taurat, sudah ada PL, sudah dengar firman, sudah rajin beribadah tapi disebut domba-domba terhilang di Israel. Berarti gereja-gereja terkumpul semua orang-orang yang terhilang, yang begitu banyak ada dalam gereja. Karena apa? Karena di gereja yang terhilang sudah 5 tahun tetap terhilang karena tidak ada berita Injil yang membuat mereka kembali dan tidak terhilang kembali. Itulah rumah-rumah ibadat.

Rumah ibadat dipimpin oleh pemimpin agama di situ, dipimpin oleh pejabat-pejabat gereja di situ, dipimpin oleh orang rohaniawan dan ada baca Kitab Suci, ada baca Kitab Yesaya, ada nyanyi memuji Tuhan, ada doa, lalu mereka juga memberikan persembahan. Ini ibadah yang sudah rutin. Tetapi ada domba yang terhilang, dan Yesus keliling ke rumah-rumah ibadah.

Setelah saya mempelajari Kitab Suci, saya melihat strategi seperti ini, maka setelah berapa tahun yang belakangan ini, saya banyak masuk ke kubu-kubu gereja-gereja di luar GRII. Bagaimana saya bisa mempengaruhi gereja di situ? Kalau saya berkata aliran mereka, ajaran mereka salah, waktu saya mengatakan “Salah!”, bagian saya untuk mereka itu apa. Dulu waktu saya masih kuliah di komputer di Binus, saya didatangi saksi Yehova, dan saya janjian rutin untuk mereka datang. Di situ saya belajar tentang dunia saksi Yehova. Dan saya terus berkata, “Bapak, bapak ajarannya salah. Yang bapak katakan itu salah, itu dipengaruhi oleh penatua Bapak. Bapak, yang benar ini gini, gini gini.” Tahu tidak, dia ngomong kalimat ini, “Pak, banyak orang Kristen menganggap kami bidat. Kalau betul-betul kami bidat, mengapa tidak ada orang Kristen yang datang ke rumah kami, kabarkan yang benar?” Oh, kalimat ini saya dengar sejak saya masih kuliah di Bina Nusantara zaman dahulu. “Kalian berkata kami salah, kami bidat, kenapa tidak ada orang Kristen datang ke rumah kami kabarkan yang benar?” Kalimat ini satu kalimat yang sangat menggerakkan saya, sekaligus saya mau jawab dia, “Datang ke rumahmu belum tentu kamu mau dengar!” Gitu ya, karena memang sudah auban dia. Tapi satu kalimat pencetusan dari dia yang saya sangat kagum, “Kalian bilang saya salah? Kalian kapan datang ke tempat kami?” Maka saya masuk ke kubu-kubu gereja-gereja, di situ nanti pendeta nya dengar, di situ nanti pendeta muda nya dengar, di situ majelis nya dengar, di situ semua mereka berkumpul dan dengar. Dan semuanya ikut dengar semua, dan saya khotbah di situ.

Wah waktu khotbah di situ, mereka pasti pasang kuda-kuda ya; jangan-jangan gua mau sikat mereka. Ingat, kita nggak bisa rubah ibadah mereka di dalam waktu yang singkat. Sekarang kasih tahu saya, di gereja mana yang tidak pakai band? 50 tahun yang lalu, kalau Saudara jadi hamba Tuhan, teriak-teriak tentang jangan pakai musik band. Sekarang, 50 tahun kemudian, contoh ya, di mana gereja yang tidak pakai band? Bisa rubah? Kita sekarang berteriak, mau rubah mereka 50 tahun suruh gereja kembali ke musik-musik yang zaman dulu? Tidak mungkin. Jadi yang kita mau benahi adalah doktrinnya, yang kita mau benahi  adalah kualitas Injil yang sudah dibuang. Kenapa gereja lari ke musik? Karena mereka mempunyai konsep ibadah kalau musik belum diangkat, orang tidak bisa konsentrasi dengar firman. Jadi kalau firman nya 15 menit sudah cukup, kalau musiknya 1.5 jam. Ini cara yang mereka pikir, maka musiknya dibanyakin, firmannya dipendekin. Yang kita mau rubah adalah firman Tuhan itu sudah cukup pada diri-Nya, yang lain-lain itu hanya mempersiapkan orang mendengarkan firman. Porsi firman harus lebih banyak. Maka waktu kita khotbah, kita khotbahkan kepada firman yang akan menarik perhatian mereka, bukan lagu yang menarik hati mereka.

Maka waktu saya menjadi gembala di Surabaya, saya atur tim, saya bawa mereka keliling 40 kota di Jatim dan Jateng, dan saya masuk ke kubu-kubu karismatik itu. Saya khotbah di GBI Rock, saya khotbah di GPdI. Saudara bisa lihat di channel GRII Citra Raya. Itu saya masukkan ke Youtube semua. Saya khotbah di gerejanya GUPDI. Lihat semua khotbah-khotbah saya, apakah saya kompromi? Tidak Saudara-saudara! Saya tetap beritakan firman seperti yang saya khotbahkan di gereja Reformed. Tetapi ketika disampaikan kepada mereka, mereka senangnya luar biasa karena kita menyampaikan inti dari kristen yang sejati, yaitu Injil dan berita firman dan Alkitab.

Mengapa mereka lari ke mimpi? Karena dianggap Alkitab kurang sempurna, perlu ditambah mimpi. Maka, kita mesti kembali ke intinya Alkitab. Kalau sudah ke intinya, nanti yang lain-lain itu gampang. Mereka akan ubah sendiri, Saudara-saudara. Perhatikan, Paulus berkata kepada Timotius: “Akan tiba saatnya orang mencari guru-guru palsu untuk menyenangkan kuping manusia.” Akan tiba saatnya. Lalu, Paulus berkata kepada Timotius: “Tetapi, engkau tunaikan tugas pekabaran Injil!” Kenapa? Waktu orang mencari guru-guru palsu, berarti pendeta-pendeta palsu, cerita mimpi lah, cerita kekayaan lah, motivator. Mirip, ya, di zaman sekarang, ya? Kalau orang sudah ke sana, kamu tugasnya apa? Ubah mereka! Ya, ubah! Suruh mereka jangan! Tidak! Kamu tunaikan tugas pekabaran Injil. Karena gereja sudah hilang Injil, maka mereka ke mimpi. Gereja sudah hilang firman, maka mereka pergi mencari semua dukun-dukun dan stand up comedy untuk naik ke mimbar, lalu menghibur semua jemaat.

Gereja kehilangan Kitab Suci dan inti Kitab Suci, yaitu Yesus. Itulah tugas kita. Masuk ke dalam. Yesus masuk untuk memberitakan apa? Injil Kerajaan Allah yang tidak ada di rumah ibadat. Paulus, kenapa keliling-keliling sampai ke tempat yang jauh? Untuk memberitakan Mesias yang bangkit; Mesias yang mati; Mesias yang disalibkan; Mesias yang adalah Juruselamat, yang adalah penantian dari seluruh Yahudi dari zaman Perjanjian Lama. Sekarang, Dia sudah hidup, sudah dimatikan, dan Dia naik ke surga. Ndak usah tunggu yang lain lagi. Itu yang diberitakan! Gereja kehilangan inti itu, maka kita kembalikan ke inti itu. Nanti, manusia akan mulai sadar.

Kalau inti sudah ke Kristus, inti sudah ke Alkitab, bagaimana saya menyembah Kristus dengan benar, ya? Apakah Kristus dipuaskan dengan saya pakai lagu ini? Dia mulai akan bertanya-tanya, Saudara-saudara. Barulah, dia akan mencari tahu ibadah yang benar seperti apa. Maka, kita mesti masukkan konten-konten khotbah di Youtube yangsangat banyak, sehingga nanti, waktu mereka mencari tahu ibadah yang benar seperti apa, masa Bait Suci dibuat seperti night club? Baru dia cari tahu. Saat itulah, Tuhan akan ubah dia. Tetapi, kalau intinya belum diubah; Kristusnya, dia belum terima; Kitab Suci, dia belum agungkan sebagai yang terutama, Saudara ubah yang lain, ndak ada guna, Saudara-saudara. Saudara ngomong sampai mulut berbusa, tetap dia akan berkata, “Kami yang benar!”

Dan saya masuk ke gereja-gereja. Ini yang saya kerjakan dan akhir dari 2024, saya mulai gempur Kalimantan Barat lagi karena dulu, saya sudah keliling Kalimantan Barat. Saya masuk lagi ke Kalimantan Barat. Saya masuk ke gereja. Lalu, saya masuk ke STT. Nah, ini. Poin yang pertama yang diabaikan adalah rumah ibadat. Poin kedua adalah STT. STT hampir tidak ada pekabaran Injil yang dilakukan di sana karena STT, mahasiswa datang, lalu masuk ke kelas, masuk ke asrama. Pagi, kuliah. Siang, kuliah. Malam chapel, dst. Ndak ada KKR yang dikhususkan secara periodik. Misalnya, setahun berapa kali untuk mahasiswa teologia karena konsepnya sudah mahasiswa teologia. Ndak perlu ada KKR lagi. Sudah ada panggilan, berarti sudah terima Tuhan Yesus dan sekarang akan siap menjadi hamba Tuhan. Padahal, STT banyak orang yang belum terima Tuhan Yesus, tetapi masuk ke dalam.

Nah, sekarang, saya akan fokuskan 2 tempat ini yaitu gereja atau rumah ibadat sama STT. Saya tidak menyinggung tentang sekolah. Sekolah itu penting. Lalu, yayasan itu penting; persekutuan kantor itu penting; PA, semua penting. Yang saya mau soroti ada 2 tempat yang sangat penting yang gereja sudah abaikan. Contoh, saya kalau dari 1 sinode yang sudah tidak tekankan pekabaran Injil, semua pendeta-pendeta akan susun jadwal kebaktian Minggu, jadwal PA, jadwal apa, semua tidak ada hubungan dengan KKR. Lalu, bagaimana mereka bisa tercelik? Karena sudah rutinitas. Maka, kita yang perlu masuk ke gerejanya. Kita lobi sama mereka sehingga kita bisa lakukan KKR di gerejanya sehingga setelah dia lihat, baru dia sadar, Saudara-saudara.

Di Kalimantan, ada 1 rektor. Saya ajak dia. Saya bawa dia ke sekolah. Lalu, dia dampingi saya. Saya khotbah kepada anak SMA. Dan waktu itu handphone masih jadul. Saya nyesel sekali ndak ada orang bawa kamera merekam saya. Di SMA itu, itu di Kalimantan Barat, itu sekolahnya saya masih ingat sampai hari ini. Setiap kali saya lewat situ, saya terus memperhatikan sekolah itu. Sekolah itu agak di tanjakan, agak di gunung sedikit. Dan waktu itu, khotbah kepada anak SMA dan saya berdiri di lapangan dengan siswa-siswa yang ada di lapangan. Saya lihat langit sudah gelap. Wah, celaka ini! Hujan ini. Hujan ini. Eh, benar! Awan yang gelap makin ke arah saya dan hujan. Alkitab saya sudah basah. Lalu, wah, murid-murid sudah kasak-kusuk, kasak-kusuk. Saya berkata, “Semua murid di sini, kalian mundur ke teras sekolah. Saya tetap akan khotbah di sini.” Lalu, sebagian murid sudah mundur ke teras. Lalu, saya khotbah. Eh, saya lihat mendadak murid-murid tadi serbu ke depan di lapangan. Saya kaget! Kenapa mereka serbu ke depan? Lalu, saya bilang, ”Kalian semua mundur ke teras! Nanti, kalian basah semua.” Lalu, murid-murid itu berkata, “Tidak, Pak! Kami mau mandi hujan sama Bapak!” Oh, itu terharu. Itu di Kalimantan Barat, Saudara-saudara.

Lalu, waktu saya khotbah, si rektor ini kasak-kusuk, kasak-kusuk bicara sama  guru. Saya pikir, mau ngapain dia? Saya khotbah, dia terus cat cit cut. Lalu, dia pergi. Lalu, tiba-tiba sudah di belakang saya. Dia pakaikan saya jas hujan. Ternyata, dia tanya guru, “Ada jas hujan?” “Ada jas hujan?” “Ada jas hujan?” Ada 1 guru yang bawa jas hujan di sepeda motor. Dia pergi ke parkiran sepeda motor. Dia buka kap motornya. Dia ambil jas hujan. Dia di belakang saya. Dia pakaikan saya jas hujan. Sambil khotbah, sambil pakai-pakai, Saudara-saudara. Setelah pakai, baru sadar saya. Suara saya hilang karena speaker pinggangyang ditutup jas hujan. Speaker pinggang yang di sini, Saudara-saudara. Ini, ya. Saya naikin sedikit. Lalu, saya angkat jas hujan yang ini. “Saudara-saudara, Tuhan mencintai Saudara!” Wah, dia rekam pakai handphone dia, Saudara. Aduh, saya handphone-nya jadul. Dia send ke saya video itu. Aduh, sayang sekali. Itu pengalaman yang sangat berkesan. Habis itu, saya calling. “Siapa yang mau jadi hamba Tuhan?” Itu di hujan lebat. Mereka angkat tangan mau jadi hamba Tuhan. Setelah selesai, kami kembali ke mobil bersama dia. Dia bawa saya. Di mobil, dia cerita. Sampai hari ini, kalau saya ke STT-dia pimpinan STT, ya-kalau saya mau isi sesi, langsung kapan saja saya datang, langsung isi sesi. Dia berkata gini. ”Pak, saya lulusan sekolah teologia dan saya punya tesis tentang misiologi. Saya pimpinan STT. Saya sudah kira tidak ada lagi orang serahkan diri jadi hamba Tuhan.” Karena apa? Nggak pernah ada KKR, Saudara-saudara. Tapi hari ini mata saya melihat sendiri, anak anak SMA yang papa mamanya saya kenal, mereka angkat tangan mau jadi hamba Tuhan, dan sekarang saya semangat lagi memimpin STT saya. Sampai hari ini STT-nya masih ada Saudara-saudara. Sampai hari ini dia sadar, masih ada yang serahkan diri jadi hamba Tuhan karena pentingnya KKR.

Kami dari STEMI, dari hamba-hamba Tuhan yang terus pergi pedalaman KKR, karena kami pikirnya anak siswa ingus hijau hijau, ngerti nggak sih lu dengar khotbah terima jadi hamba Tuhan, angkat tangan, nangis-nangis, lu ngerti nggak sih?  Ternyata bertahun, berpuluh tahun kemudian waktu saya masuk STT, saya ketemu mereka yang dulunya pernah dilayani, sekarang ada di STT.  Sebelum saya di sini saya ada di Magelang, saya isi di STT Magelang. Saya tanya, kamu dari mana? Dari NTT, Kamu dari mana? Kalbar. Kamu dari mana? Dia sebutkan dari Alor, dari mana, mana. Saya langsung katakan, dari kecamatan mana? Saya tahu lokasimu, rumahmu daerah mana kecamatan di mana. Dia kaget luar biasa. Serelah itu saya tanya, siapa yang tahu lagu Tuhan Yesus aku berjanji? Angkat tangan semua. Saya bilang, kalian sudah dilayani tim STEMI, yang datang naik sepeda motor bawa speaker pinggang.  Itulah tim STEMI dan saya membawa tim masuk NTT bertahun tahun dan sekarang saya ketemu orang-orang yang pernah dulu dilayani. Ada yang dulu masih SMA, ada yang dulu SMP, ada yang dulu SD, sekarang satu per satu mereka ada yang sudah jadi hamba Tuhan, ada yang dilayani oleh tim STEMI di tahun-tahun belakangan ini, ada yang sudah jadi hamba Tuhan dan saya ketemu mereka ada di STT. Wah, saya semangat kembali Saudara.

Di NTB saya isi di satu STT, 300 muridnya. Saya tanya, kamu dari mana?  Dari NTB, dari mana, oh saya tahu lokasi-lokasi mereka, dari Sumba saya hafal semua daerah Sumba. Kaget mereka Saudara-saudara. Lalu saya tanya, kau lulus tahun berapa? Tahun sekian. Kau sudah tahu lagu Tuhan Yesus aku berjanji kan? Saya nyanyikan sepotong lagu itu. Saya tanya, siapa yang sudah tahu lagu ini angkat tangan. 98% semua angkat tangan Saudara.  Sampai dosennya kaget. Setelah saya isi seminar semua selesai,  dosennya berkata, “Ternyata sebelum kami layani mahasiswa ini, STEMI sudah layani mereka, waktu mereka masih SD, SMP atau SMA.”  Wah, setelah dengar kalimat ini, sukacita besar saudara-saudara.

Ok sekarang saya akan fokus ke dua tempat ini, gereja. Kita kalau mau masuk ke gereja, tunggu dia undang, setengah mati, karena gereja-gereja kecil mereka kurang dana untuk mengundang hamba Tuhan. Gereja-gereja yang beda aliran mereka ”sungkan” untuk undang setiap kita. Maka saya pakai cara, saya datangin. Saya mau buat acara di tempat ini, bolehkah saya pakai di hari Senin kah atau Selasa kah? Lalu libatkan mereka, nanti minta si gembalanya doa pembukaan. Akhirnya jemaatnya ikut dateng. Setelah itu, kalau saya ada di kota yang jauh, dia minta “Pak, Minggu bapak bisa tak khotbah di tempat ini?” Ah, ini tempatnya, bisa! Begitu khotbah, itu mempengaruhi semua. Pernah saya habis khotbah waktu salaman mereka berkata “Ini baru pendeta.” Jadi yang lain siapa? Setan gitu? Ini baru pendeta. Kita selama tidak masuk ke kubu mereka, mereka tidak pernah bisa membandingkan yang mana hamba Tuhan, yang khotbah firman sama yang bukan khotbah firman. Di situlah mereka mulai terbuka dan mereka akan cari tahu Reformed Injili, karena selalu saya perkenalkan dari GRII, mereka akan cari khotbah dari Reformed Injili. Jadi, masuk ke gereja-gereja, ke kubu mereka, karena banyak domba-domba terhilang ada di situ. Penginjilan selalu abaikan gereja, domba terhilang di Israel, ok?

Sekarang terakhir, STT. Gembala-gembala sekarang, sebelum jadi gembala, dia mahasiswa STT. Dia mahasiswa STT,  kalau kita sudah layani dan pengaruhi dia, minimal konsep-konsep firman Tuhan tertentu sudah mempengaruhi dia. Suatu saat kalau dia sudah jadi gembala, kami datang ke pelosok ketemu sama dia langsung diterima baik dan jadi kawan baik. Karena waktu dia masih mahasiswa kami sudah layani dan dosen-dosen dia menyambut kami. Kalau dosen menyambut kami berarti kami bukan musuhnya mereka dan dia akan sambut kami dengan baik dan saat itulah kita tinggal atur mau buat sesi apa di tempat dia, semua nanti akan jadi lancar. Saya punya handphone banyak sekali pendeta-pendeta aliran dari gereja yang macam-macam. Dan mereka sangat menghormati, dan mereka sangat bangga kalau kita bisa layani mereka, dan mereka rendah hati Saudara. Tetapi pasti ada yang sombong-sombong ya.

Ada satu pendeta saya kagum. Ia dosen teologi yang menghasilkan semua pendeta-pendeta yang akan mengisi gereja yang sangat banyak di Indonesia. Saya tidak sebutkan nama gerejanya karena sebutkan nama gereja saudara langsung tahu STT nya di mana. Dia dosen di situ. Dan dia punya gereja besar, saya pake gerejanya dua kali untuk KKR. Dan setiap kali KKR selesai dia kasih kata sambutan dan dia senengnya minta ampun, dan dia sering kontek saya. Terakhir waktu dia kontek saya dia berkata gini, “Pak, saya mau minta bimbingan pak.” Dia dosen teologi lho. “Menurut konsep Reformed bagaimana ya pak ya? Saya punya jemaat ada yang mau nikah, mereka jatuh cinta tapi papa, mama tidak setuju. Kalau kalian hadapi kasus ini, apa yang harus dikerjakan ya Pak? Karena nanti saya akan ketemu pasangan ini sama mama, papanya. Saya bingung mau ngomong apa pak?” Oh saya kasih nasehat kepadanya. “Ok Pak terima kasih, saya sudah jelas sekarang.” Lalu dia sampaikan kepada orang yang mau menikah. Lalu ada pendeta di Papua di pelosok. Dia kalau lagi siapkan firman, lalu dia buntu, dia kontek saya. “Pak Aiter, ada tema tentang ini nggak Pak Aiter? Saya  lagi mau siapkan khotbah tentang itu.” Saya carikan tema itu, send ke dia. Lalu ada yang berkata “Ih kulakan, kulakan.” Tidak lho Saudara. Kita baca commentary juga kulakan, betul nggak? Saudara denger khotbah lain juga kulakan. Kenapa dia minta petunjuk kok kita tidak kasih? Oh saya kasih Saudara, kasih ke dia, kasih ke dia.

Ada satu gembala sidang di satu tempat, ini gereja yang sangat besar, dia lagi buat tesis. Saya tanya “Pak, Bapak lagi buat tesis apa?” “Saya lagi buat tesis Yohanes pasal satu, tapi saya kesulitan buku pak, saya kesulitan bahan.” “Ok saya kasih bahan ke Bapak mau nggak?” “Mau.”  “Saya kasih link Youtube, link dari Google.” ” Mau.”  Saya send semua link ke dia, wah dia senengnya minta ampun Saudara-saudara. Jadi kita menjadi bagian untuk memperlancar dia punya tesis, kita kasih bahan-bahan yang bermutu, nanti pasti akan mempengaruhi dia waktu dia  persiapan. STT-STT tidak boleh dilupakan.

Di Reformed, saya orang pertama yang keliling STT. Dulu KKR Regional, Tuhan gerakkan saya untuk keliling dan latih pengkhotbah awam. Sekarang pengkhotbah awam gereja-gereja Reformed sudah terus kerjakan KKR Regional tapi keliling STT belum ada satu kali pun. Saya yang pertama Saudara-saudara. Dan saya sudah kerjakan berapa tahun lalu, dan tahun ini saya akan keliling STT-STT yang ada di Jabodetabek dan saya keliling banyak STT di tempat yang lain. Mereka nggak ada uang untuk undang kita Saudara-saudara. Jangankan mereka kasih kita uang, malah kita kasih persembahan beras untuk mereka karena banyak STT sudah mau mati karena mereka tidak ada sponsor yang terus rutin dan mereka harus kasih makan mahasiswa. Beras 1 ton dalam tempo beberapa bulan habis, petani masih doa belum tanam sudah habis berasnya ya Saudara-saudara. Mereka makannya kadang-kadang banyaknya luar biasa sehingga ada STT yang sekarang sudah membendung makanan tidak boleh diambil sendiri, dicentongin Saudara-saudara. Saya pernah masuk ke salah satu STT, saya tunggu jam makan, saya lihat mahasiswa-mahasiswa makan, wih mengerikan saudara-saudara. Hitungnya per-gunung Saudara-saudara, tempe sih tempe, tapi satu gunung itu loh. Tempenya sih murah tapi beras naik terus harganya per-gunung. Mereka kalau makan mesti banyak, kalau tidak nggak semangat dia. Kalau begitu habis semua beras petani nanti. Akhirnya banyak STT-STT banyak rubah, mereka pakai centong, paling maksimal 2 centong. “Lu lapar? Berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan kecilkan lambungmu. Kok enak ikut lambungmu yang mekar-mekar terus.” Dan ada STT yang pakai cara untuk irit beras lakukan di kampus seminggu 2 kali doa puasa. Kalau STT buat peraturan “Senin tidak makan.” Wah mereka protes. Tapi Senin puasa, nah semua rohani Saudara-saudara ya. Mau marah lagi puasa, jadi semua jinak-jinak. Padahal itu rencana untuk kurangi jam makannya mereka.

Dan mereka 5 tahun kemudian sudah lulus, ada yang sudah jadi gembala siding. Maka sebelum menjadi gembala sidang, pengertian firman yang mereka pelajari di STT dia akan bawa jadi gembala sidang nanti. Maka kita pengaruhi mereka, bukan kita jadi dosen tetap, tidak, kalau kita jadi dosen tetap kita diikat dia. Begitu kita sampaikan firman, kita share, dia tahu nama kita, dia tahu gereja kita, kita share link Youtube, nanti dia akan cari sendiri karena banyak STT ada Wi-Fi karena mereka akan kerjakan tugas pakai Wi-Fi. Maka dia nanti akan dengarkan firman Tuhan dari channel Youtube GRII. Maka GRII tidak boleh stop Youtube, amin? Ada hamba Tuhan yang tidak setuju ada Youtube, saya paling setuju harus ada Youtube, kalau kita tidak isi channel, isi konten, orang akan isi konten yang sampah-sampah. Ada orang malam-malam orang sudah tidur dia belum tidur “Makan apa? Makan apa? Jengkol. Apa? Apa? Bawang” Yang nonton ratusan ribu saudara-saudara. Kita khotbah sampai mulut berbusa-busa yang nonton mau seribu aja susah. Yang konten-konten kayak begitu banyak bener Saudara-saudara. Maka, konten Youtube harus kita isi, sehingga nanti orang ketik “Cerai” keluar khotbah Reformed cerai. Satu kata saja keyword dia tulis apa, misalnya “Lari pagi” ada orang khotbah teologia lari pagi, misalkan. Dia salah ketik pun keluar wajah kita saking banyaknya konten.

Bayangkan kalau setiap gereja, setiap Reformed itu upload 100 khotbah. Masa tidak ada 100 khotbah? Pasti ada to, kalikan kalau GRII misalnya kita hitung 90 cabang misalnya. Bayangkan 100 x 90 sudah berapa itu, dan banyak GRII khotbahnya pasti sudah di upload lebih dari 100 tapi banyak GRII tidak, Ini sayang sekali. Pengaruhi STT, maka Saudara di sini kemarin saya berkata kepada Pak Dawis, di sini ada berapa STT? Dia sebutkan. Terus saya kasih kepada dia “Pak, masuk ke STT, lobi ke pimpinannya mereka senang.” Tunggu mereka undang mereka tidak ada dana. Kita calonkan diri, “Saya mau ambil sesi untuk anak-anak mahasiswa di sini, bisa saya dapat hari apa?” Lalu kasih tema, jangan tema yang langsung menyerang kepada mereka. Kasih tema Injil kah, Alkitab kah, mereka akan senangnya luar biasa. Setelah selesai kita akan berpisah sama mereka, tapi kesan dari mahasiswa akan nempel selama-lamanya, amin? Doakan ya, ini pelayanan yang sangat penting.

Yesus dulu masuk ke dalam rumah ibadat, memenangkan pemimpin-pemimpin yang ada di situ. Paulus Tuhan pakai selain rumah ibadat, Tuhan pakai memenangkan narapidana-narapidana dan memenangkan kepala penjara. Nah itu bukan bagian kita ya, kalau bagian kita, kita harus masuk ke penjara dulu ya Saudara-saudara demi Injil baru itu mungkin bagian dari orang lain yang misalnya membela iman Kristen kemudian ia difitnah macam-macan kemudian dia dipenjarakan. Nah akhirnya dia memenangkan banyak napi. Kalau panggilan Tuhan kepada kita seperti itu, mungkin kita dipenjarakan untuk memenangkan napi, tapi panggilan kita sebagian bukan seperti itu. Maka kita hamba-hamba Tuhan Reformed kita bisa gampang masuk ke STT karena kita bisa kasih suatu pengertian kepada mereka lalu menangkan mereka. Satu mahasiswa STT kalau kita menangkan dan pengertian dia menjadi pengertian Reformed, kelak dia menggembalakan 200 jemaat, 200 jemaat akan dia ajari dengan yang benar, amin? Ini masa depan gereja ada di tangan mahasiswa teologia, dan inilah penginjilan yang diabaikan.

Saya kalau isi seminar di STT, saya calling mereka Saudara-saudara, siapa yang sungguh-sungguh mau terima Tuhan Yesus dan mau jadi utusan Injil, saya calling Saudara-saudara. Waktu saya isi di salah satu STT di Kalimantan Barat, saya calling mahasiswanya untuk terima Tuhan Yesus dan saya berkata “Jangan kira kau sudah mahasiswa teologia kau sudah Kristen, belum tentu.” Dan akhirnya mereka angkat tangan mau terima Tuhan Yesus, ini namanya KKR di STT, amin? Jadi kita buat dengan model seminar, setelah seminar di selesaikan lalu kita masuk ke puncaknya, kita calling mereka. Nanti kalau mereka sudah jadi hamba Tuhan yang baik, gereja di masa depan ada harapan, amin? Lalu kalau kita ada acara, tinggal contact bawa jemaatnya, kita sudah kenal dia, dia percaya dengan kita, dia akan bawa jemaatnya. Kita kirim jemaat kita KKR regional ke gunung sana, dia gembala di situ, dia akan cari jemaatnya antarin kita karena dia tahu dulu waktu mahasiswa kita berbagian untuk dia. Jadi, gereja Reformed di tempat ini sudah sangat besar biar jadi berkat bagi banyak orang.

Kemarin saya berkata kepada Pak Dawis, “Pak Dawis banyak gereja di sini yang mungkin lagi sulit untuk izin gereja, tawarkan diri ke gereja-gereja. Kalau mereka kesulitan, bolehkah kami berikan sedikit saran pengalaman kami?” Supaya mereka tahu, mereka kadang-kadang kejebak di satu jalan buntu. Kita di Reformed ini kenapa kita bisa dapat izin? Tuhan berkati to? Lalu kalau sudah dapat, kita harapkan gereja lain juga dapat. Jangan kita berdoa “Kiranya Tuhan tidak kasih izin ke mereka, supaya gereja kami paling besar di dunia ini.” Tidak, dosa besar nanti. Kita calonkan diri, tawarkan. “Oh, saya dengar gereja kalian susah, ya? Boleh saya kasih pengalaman bagaimana kami dulu urus?” Sehingga nanti kalau Tuhan buka jalan untuk mereka, mereka bangun gede juga, puji Tuhan. Selama ajarannya benar, puji Tuhan. Sehingga kehadiran kita bukan kehadiran untuk diri. Tapi kita, yang Tuhan pimpin jalan bisa sampai dapat gedung gereja, kita harap kita bisa jadi berkat. Untuk gereja lain, juga kita bisa kasih pengarahan, supaya mereka juga bisa dapat. Sehingga relasi kita sama yang lain bukan relasi saling iri, saling curiga, tidak. Kita bisa dapat besar bagus, kita harapin mereka juga bisa dapat besar dan bagus. Amin?

Pak Tong desain gedung gereja Reformed. Jangan kira hanya gedung gereja Reformed dia desain. Gereja-gereja lain, kalau hamba Tuhan yang kenal Pak Tong dan betul-betul rendah hati minta petunjuk Pak Tong, Pak Tong bantu desainkan, Saudara. Hebat lho, Pak Tong jiwanya luar biasa. Bukan hanya gereja Reformed yang harus bagus, tapi gereja lain kalau minta petunjuk dia, dia bantu desain, dia gambarin. Kalau saya lihat di zaman dulu Pak Tong sudah desain, GKKP Singkawang, GKKP Pontianak. Itu semua model-model desainnya Pak Tong. Dan Pak Tong juga ada desain gereja-gereja di tempat lain, kalau hamba Tuhannya datang minta petunjuk. Bagaimana dengan kita? Kalau gereja lain punya kesulitan, kita kasih petunjuk.

STT kurang hamba Tuhan, kita masuk untuk melayani mereka. STT kurang dana, kita gumul Tuhan, mereka perlu dibantu, lalu kita bantu mereka. Jangan semua dibantu, Saudara-saudara. Kami kadang-kadang setelah melayani STT, saya ujinya begini, ini terakhir ya. Setelah saya kenalan sama mereka, saya tunggu, mereka WA saya minta uang nggak. Ada tempat tertentu belum apa-apa sudah minta, ya Saudara-saudara, “doakan kami.” Itu kata “doakan” itu bahaya, ya saudara-saudara. “Doakan kami.” Lagi renovasi, arti doakan adalah kirimlah dana, Saudara-saudara. “Doakan kami.” Dulu ada satu hamba Tuhan kita waktu KKR regional, dia masih polos, Saudara-saudara ya. Waktu dia khotbah selesai, kepala sekolah berkata, “Pak doakan kami ya Pak, kami lagi bangun gedung di samping ini. Doakan kami, ya Pak.” Itu artinya kirim dana. Tapi hamba Tuhan ini masih polos, doakan kami. “Ok Pak, sekarang kita berdoa.” Kepseknya nggak tahu mukanya merah atau tidak, ya ini. Maksudnya doakan, lu kirim dana, bukan sekarang lu doakan saya, bukan. Gitu ya. Doakan kami Pak, doakan rumah saya bocor, doakan lagi butuh 15 seng dan seterusnya. Biasanya seperti itu, ya.

Tapi ada STT-STT yang tidak minta sama sekali. Nah, biasanya itulah yang saya rencanakan. Saya kembali lagi ke sana, lalu kita bantu mereka. Kadang-kadang kita bisa bawa beras yang jumlahnya sangat banyak, kita bisa beli minyak, lalu beli yang lain-lain untuk mahasiswa STT-nya. Lalu saya juga masuk ke panti asuhan, lalu masuk ke panti jompo. Yang ini saya tidak jelaskannya karena waktu kita tidak cukup. Di panti asuhan saya masuk ke kamar, saya tanya “kamu dari mana?” “Saya dari Papua.” Masih kecil-kecil, saudara. Dari Papua, kok bisa? Waktu kerusuhan di Enduga, mereka semua lari. Ada ayah dan ibunya sudah lari, nggak tahu ke mana. Anaknya kececer, nggak tahu ke mana. Lalu ada orang yang baik, mereka selamatkan semua anak-anak, lalu ditaruh ke panti asuhan. Sebagian Saudara tahulah dibawa ke mana, yang non-Kristen. Dikirim ke satu tempat untuk dicuci otak di situ. Saya tidak sebutkan wilayah itu.

Sebagian ditaruh di panti asuhan dan mereka dilayani. Waktu dilayani panti asuhan, sangat miskin. Saya lihat lemari mereka, kamar mereka, aduh, nggak nyaman. Lalu saya pergi ke pasar, saya cari lemari, saya share ke grup, kita mau kumpulkan uang untuk membantu panti asuhan. Siapa yang Tuhan gerakkan silakan, kita akan cari. Lalu saya cari lemari, lalu saya cari handuk, lalu saya cari-cari semua barang-barang yang dibutuhkan. Setelah dapat, saya serahkan ke panti asuhan, disaksikan oleh semua siswa, sehingga semua mereka tahu ini barang untuk mereka. Dan mereka senang sekali, Saudara-saudara. Siapa yang sangka setelah dia dewasa, dia juga jadi hamba Tuhan. Dan dia ingat, waktu dia masih di anak panti, STEMI sudah masuk melayani.

Jadi tugas kita sangat banyak. Di panti asuhan kita kabarkan Injil, gereja kita harus gempur. Cara gempur kita masuk ke dalam. Cara yang lain kita bawa mereka keluar, kita kumpul di satu tempat. Tapi ingat pentolan-pentolannya tidak mungkin datang. Dia akan ikut satu dua orang yang orang biasa dan mata-mata. Tapi pentolan semua orang kunci ada di dalam. Dengan masuk di dalam, saya pakai gedung mereka untuk buat acara. Malah saya didukung dengan doa, saudara. Sebelum kita mulai, ayo kita doa sama-sama. Saya didoain oleh mereka, Saudara. Saya pernah ditumpang tangan oleh mereka, “Kita berdoa untuk Bapak Pendeta Aiter.” Saya kaget juga ditumpang tangan, “Berdoa untuk Bapak Pendeta Aiter yang akan mengisi seminar di tempat ini. Kira Tuhan memberkati dia.” Kapan lagi saya didoain sama orang lain, Saudara ya. Dan setelah mereka doakan saya, masa mereka langsung pergi dan tidak dengarkan firman? Pasti kuai-kuai dengarkan firman. Dan saat itulah Tuhan bekerja dan Tuhan merubah mereka. Ini strategi yang kita bisa pakai, saudara-saudara.

Saya kerjakan ini, karena betul-betul saya lihat apa yang ada di lapangan. Harap nanti suatu saat banyak pendeta-pendeta kita, mulai masuk ke STT, buat seminar dan KKR di STT-STT. Dan masuk ke gereja-gereja tetangga yang mungkin miskin-miskin tidak bisa undang kita. Kita layani mereka. Kita buat KKR di situ. Buat seminar untuk kebangunan gereja-gereja. Mari kita berdoa.

Bapa di dalam surga, kami berterima kasih untuk apa yang sudah kami dengar. Kami berdoa untuk gereja Reformed yang Tuhan sudah berkati sampai hari ini. Kami bersyukur ada STT yang menghasilkan banyak hamba-hamba Tuhan dan terus akan mewisuda banyak hamba Tuhan dan mempendetakan banyak vikaris. Tapi kami juga berdoa banyak gereja yang di luar GRII, mereka semua kesulitan karena masalah dana, masalah hamba Tuhan, masalah teladan dari pimpinan-pimpinan. Tuhan pakai kami untuk menjadi berkat bagi banyak gereja-gereja. Kami juga berdoa buat setiap kami hamba-hamba Tuhan yang sudah lulus, yang sudah diuji dalam ladang pelayanan untuk kami menjadi teladan bagi mahasiswa-mahasiswa STT yang sekarang sedang studi, bagaimana kami mempengaruhi mereka. Kami juga berdoa untuk gereja Reformed yang sudah dapat izin gereja, Tuhan pakailah semua tim pembangunan untuk menjadi penasehat bagi gereja-gereja yang lain, pendorong gereja yang lain, bahkan memfasilitasikan pertemuan kepada orang-orang kunci supaya gereja-gereja lain yang Injili yang juga adalah aliran yang benar, mereka pun bisa mendapatkan gedung seperti kami yang sudah dapatkan. Biarlah semua anak-anak Tuhan bertumbuh di gereja di mana Tuhan tempatkan dan biarlah Tuhan memakai hamba-hamba Tuhan Reformed untuk berbagian di dalam pertumbuhan gereja-gereja Tuhan. Karena gereja-gereja Tuhan Tuhan izinkan ada di muka bumi dengan berbagai-bagai aliran tapi di dalam kubu-kubu mereka ada umat-umat pilihan yang perlu dimenangkan, ada domba-domba Tuhan yang perlu dimenangkan yang sekarang ada di tempat-tempat yang jauh. Terima kasih ya Tuhan, dengar doa kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin. (HS)