Percakapan Tuhan dengan Nikodemus, 2 Februari 2025

Percakapan Tuhan dengan Nikodemus

Yoh. 3:1-10

Pdt. Dawis Waiman, M. Div

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, di dalam pembicaraan kita sebelumnya, kita telah melihat bahwa di dalam Yoh. 3, Yesus Kristus ketika bercakap-cakap dengan Nikodemus berkaitan dengan Kerajaan Allah, Yesus Kristus itu menekankan satu hal yang penting: siapa yang bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah? Dan Yesus berkata, “Kalau orang itu tidak dilahirkan kembali –atau di dalam bahasa Yunaninya bisa diartikan kalau orang itu “tidak dilahirkan dari atas”– maka dia tidak memiliki bagian di dalam Kerajaan Sorga atau dia tidak bisa ada di dalam Kerajaan Sorga”. Ini artinya apa? Artinya bahwa pada waktu seseorang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga hal itu bukan tergantung dari tindakan yang dia kerjakan, tidak ada hubungannya dengan perbuatan yang ia lakukan dalam hidup dia, tidak ada hubungannya sama sekali dengan kegiatan keagamaan yang dia lakukan di dalam ibadah dia kepada Tuhan supaya dia dinilai benar oleh Tuhan, tetapi semuanya adalah hal yang dikerjakan oleh Tuhan dari, atau oleh Roh Kudus, bagi orang yang berdosa ini. Jadi, pada waktu Yesus berbicara mengenai, “Engkau harus dilahirkan kembali, baru engkau melihat Kerajaan Allah”, Yesus mau berkata bahwa semua itu adalah hal yang dikerjakan oleh Allah tanpa ada bagian sama sekali dari manusia.

Nah, di dalam istilah teologi, hal ini disebut dengan monergistik. Monergistik itu berarti bahwa hanya ada satu yang bekerja yaitu Tuhan Allah sendiri untuk mengerjakan keselamatan itu di dalam kehidupan orang yang berdosa. Kalau sinergistik itu berbicara mengenai ada kebersamaan atau ada kerja sama antara Allah dengan manusia di dalam mengerjakan keselamatan.

Tetapi ketika kita kembali kepada Yoh. 3, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa keselamatan itu bukan sesuatu yang ditawarkan oleh Allah lalu yang kita terima dalam iman yang merupakan hasil dari keputusan kita, keinginan kita, yang bersumber dari diri kita sendiri. Tetapi yang Yesus katakan adalah pada waktu kita ingin masuk ke dalam Kerajaan Allah, hal itu adalah sesuatu yang dikerjakan oleh Tuhan. Jadi ini membuat kita bisa berkata, “Peran manusia di dalam keselamatan itu tidak ada sama sekali.” Usaha manusia di dalam keagamaan yang dia kerjakan itu tidak ada guna sama sekali untuk kita bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah. Karena apa? Semua itu dikerjakan oleh Allah melalui kelahiran baru yang dikerjakan oleh Roh Kudus di dalam kehidupan kita.

Nah, hal ini menjadi hal yang penting untuk kita bahas juga. Pada waktu kita berbicara mengenai kelahiran baru itu adalah sesuatu yang bersumber dari Allah, tahu dari mana kita bersumber dari Allah? Di sini Yesus menggunakan beberapa, satu ilustrasi, atau mungkin bisa dikatakan dua ilustrasi untuk menggambarkan hal itu. Pertama adalah Yesus mau mengatakan kelahiran baru itu seperti seorang yang dilahirkan dalam dunia. Kalau kita berkata, “Bagaimana saya terlahir di dalam dunia ini?” Maka jawabannya adalah: apakah itu tergantung daripada keinginan saya sebelum saya lahir dalam dunia? Lalu saya berbicara dengan papa mama saya, “Pa, ma, saya pengen lahir dalam dunia ini. Karena itu usahakan, ya, supaya saya bisa lahir dalam dunia ini.” Dan kemudian papa mama kita mengusahakan itu lalu kita terlahir di dalam dunia ini. Kadang-kadang di dalam cerita-cerita Chinese itu ada hal-hal yang lucu, ya. Mereka percaya kepada reinkarnasi. Mereka percaya kepada bisa travel antar waktu, seperti itu. Dan kadang ada kasus-kasus tertentu di mana anaknya datang dari masa depan ke masa lalu, kayak gitu, lalu melihat papa mamanya belum menikah, belum mengenal satu sama lain, dan kelihatannya ada orang ketiga yang berusaha untuk merusak relasi yang mulai terbangun atau yang akan terbangun di antara papa dan mamanya. Lalu akhirnya anak ini berusaha untuk supaya mempersatukan orang tuanya di masa lalu supaya dia bisa lahir dalam dunia ini. Itu bukan pengertian dari Alkitab. Dan saya percaya itu juga bukan sesuatu yang kita pahami dalam kehidupan kita.

Siapa di sini yang berkata bahwa “saya punya kelahiran itu sudah ditentukan”? “Saya sendiri mau lahir dalam dunia ini. Saya yang merancang kelahiran itu.” Saya percaya, kecuali dari Yesus Kristus, nggak ada satu pun dari kita yang bisa berkata seperti itu. Itu sebabnya Yesus di sini katakan kelahiran baru itu atau kelahiran kembali itu seperti apa? Yesus menggunakan satu ilustrasi atau analogi: hal itu seperti seorang yang lahir dari kandungan mamanya. Dan hal itu mau mengatakan bahwa itu bukan tergantung dari si anak. Tetapi, kalau kita bicara secara manusia, itu tergantung dari papa dan mama dari anak itu. Jadi, ilustrasi pertama yang Yesus gunakan untuk menjelaskan bahwa tidak ada bagian sama sekali dari diri kita untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah melalui usaha dan perbuatan kita itu adalah dari analogi seorang yang lahir dari ibunya.

Yang kedua adalah dari analogi angin. Makanya di dalam ayat yang tadi kita baca: Yesus berkata bahwa kelahiran baru itu seumpama angin yang bertiup, ya. “Angin bertiup kemana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Kalau kita bicara ayat yang ke-8 ini, apa yang Yesus mau tekankan di situ? Ada beberapa hal. Pertama adalah angin bertiup ke mana ia mau. Artinya apa? Kita nggak bisa mengontrol ke mana arah angin itu harus bertiup. Kalau kita merasa bahwa, “Saya hari ini perlu angin bertiup dari depan.” Kita ngomong sama angin, “Angin, sekarang tiup dari depan saya, ya. Jangan dari belakang saya!” Saya yakin kita nggak bisa ngomong seperti itu. Yang kita harus lakukan adalah menyesuaikan dengan arah angin itu, kan? Jadi, arah angin kita nggak bisa kontrol dalam hidup kita. Lalu, tapi ada nggak angin itu? Ada. Dari mana? Dari apa yang kita rasakan atau yang kita dengarkan, seperti itu. Dan ke mana dia mau pergi? Kita juga nggak pernah tahu ke mana dia pergi. Lalu ini mau menunjukkan apa? Mau menunjukkan bahwa kelahiran baru itu adalah sepenuhnya tindakan Allah yang berdaulat terhadap diri seseorang. Dan kita tidak pernah tahu siapa yang dilahirbarukan, siapa yang mendapatkan anugerah itu dari Tuhan.

Jadi, pada waktu kita berbicara mengenai hal ini, Yesus mau mengatakan apa? Satu hal: yaitu pada waktu Roh Kudus bekerja untuk melahirbarukan seseorang, itu sepenuhnya berdasarkan kedaulatan Tuhan. Tetapi pada waktu hal itu sudah dilakukan atau dikerjakan oleh Allah dalam kehidupan kita, maka tidak ada satu orang pun yang bisa menolak pekerjaan Roh Kudus itu di dalam hidup kita untuk melahirbarukan kita. Sepenuhnya bersumber dari Tuhan Allah sendiri.

Nah, di dalam istilah doktrin – kalau G.I, eh, si siapa? Ya, John Piper – berkata seperti ini, “Lebih baik kita mengerti pengajaran firman yang bener itu seperti apa dan tidak mengetahui istilah yang digunakan untuk doktrin tersebut. Daripada kita tahu mengenai istilahnya tapi kita tidak mengerti apa yang dijabarkan di dalam istilah tersebut.” Maksudnya adalah pada waktu kita baca bagian ayat 8, Bapak, Ibu pasti akan mengerti satu hal. Ketika kita berbicara mengenai kelahiran baru itu. Kelahiran baru bersumber dari Tuhan, betul nggak? Siapa yang bisa mengendalikan Tuhan untuk memberikan kelahiran baru bagi seseorang? Nggak ada sama sekali. Siapa yang bisa tahu siapa yang akan dilahirbarukan? Nggak ada yang sama sekali tahu. Kecuali Tuhan yang berdaulat itu yang tahu siapa yang menjadi orang pilihan-Nya untuk dilahirbarukan. Ini namanya apa? Ini namanya adalah kalau dalam TULIP, Irresistable Grace atau anugerah Allah yang tidak dapat ditolak. Jadi pada waktu Tuhan bekerja dalam diri seseorang, Tuhan akan membuat hati kita akhirnya menghendaki diri kita untuk datang kepada Kristus, untuk diselamatkan di dalam Kristus. Tuhan akan memastikan bahwa kita pasti ada di dalam Kerajaan Allah. Itu sebabnya di dalam teologi reformed dikatakan sebagai irresistable grace. Jadi pada waktu kita melihat kepada bagaimana seseorang ada di dalam Kerajaan Allah, Injil atau Yesus Kristus sendiri mengatakan bahwa semua itu bukan berbicara mengenai caranya bagaimana. Tetapi semua itu adalah berbicara mengenai kasih karunia yang Tuhan berikan di dalam kehidupan kita orang-orang yang berdosa ini.

Nah, kenapa hal ini perlu ditekankan? Karena di dalam kekristenan kadang-kadang kita berpikir kelahiran baru itu adalah sesuatu yang bisa diusahakan. Kelahiran baru itu bisa menjadi sesuatu yang kita miliki di dalam kehidupan kita melalui syarat-syarat yang kita lakukan. Contohnya apa? Kalau kita percaya kepada Yesus Kristus, maka kita dilahirbarukan. Kalau kita melakukan kebaikan di dalam kehidupan kita, misalnya menjaga moralitas kita, mulai kemudian beribadah dengan baik di dalam gereja, lalu kemudian melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh Tuhan, misalnya memperhatikan orang miskin, memperhatikan para janda, yatim piatu seperti itu, maka itu membuat kita bisa berkata bahwa kita adalah orang yang sudah dilahirbarukan. Tapi sebenarnya prinsip dari lahir baru itu bukan seperti itu. Melainkan mendahului semua hal yang dikerjakan oleh orang-orang tersebut.

Jadi pada waktu kita berbicara mengenai kelahiran baru, kelahiran baru itu bukan sesuatu yang kita bisa usahakan. Tidak ada caranya, kalau mungkin Bapak, Ibu ingin tahu satu-satunya cara untuk seseorang dilahirkan baru dalam kedaulatan Tuhan adalah mungkin doakan orang itu. Minta Tuhan bekerja dalam diri orang itu, supaya orang itu mengerti bahwa Injil yang dikabarkan kepada dia, itu adalah satu kebenaran yang dia harus pegang dan imani dalam hidupnya seumur hidup dia. Dia mengerti bahwa Yesus adalah satu-satunya Tuhan, Juru selamat, jalan dan kebenaran hidup dalam kehidupan dia. Tetapi siapa yang berdoa itu? Ya kita yang sudah mendapatkan kelahiran baru oleh Tuhan. Dan kenapa kita berdoa seperti itu? Karena Tuhan Yesus sendiri pernah berkata dan berjanji kalau kita meminta Roh Kudus, Roh Kudus pasti akan diberikan di dalam kehidupan orang itu. Jadi pada waktu kita berbicara mengenai keselamatan, kehidupan kekal yang digambarkan oleh Yesus dengan ada di dalam Kerajaan Allah, sekali lagi saya tekankan, itu sepenuhnya adalah anugerah Tuhan dan tidak ada bagian dari manusia sama sekali.

Nah atas dasar prinsip ini, kita kemudian masuk ke dalam percakapan yang dilakukan oleh Yesus dengan Nikodemus. Tapi sebelumnya kita akan melihat siapa itu Nikodemus sendiri. Supaya pada waktu kita menginjili, atau kita belajar mengenai prinsip Yesus dalam menginjili, kita bisa menarik prinsip-prinsip yang kita bisa gunakan dan terapkan juga pada waktu kita menginjili orang.

Sekarang, siapa itu Nikodemus? Dan apa yang membuat Nikodemus datang kepada Yesus Kristus? Nah, kalau kita bicara siapa itu Nikodemus, salah satu definisi atau salah satu pengertian yang paling tepat adalah yang dikatakan Kitab Suci sendiri. Nikodemus adalah seorang Farisi. Kalau kita tanya lagi, apa itu orang Farisi? Orang farisi itu bisa dikatakan sebagai elite-nya orang Yahudi. Atau elite-nya orang-orang yang mengikuti Taurat atau hukum Musa atau istilah lainnya adalah mereka adalah orang-orang yang sungguh-sungguh mendedikasikan hidupnya di dalam mentaati hukum Taurat.

Bapak, Ibu bisa lihat di dalam kehidupan dari Rasul Paulus di dalam Filipi 3. Dia dikatakan adalah seorang Farisi sebelum dia mengalami pertobatan dari dosanya ketika Yesus menampakkan diri untuk menyelamatkan diri dia. Dan pada waktu itu Rasul Paulus berbicara dengan satu atau menghidupi kehidupan yang begitu membanggakan dirinya. Dia berkata seperti ini di dalam Flp. 3:4, “Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi”. Maksudnya apa? Ayat 6, “tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.” Jadi pada waktu kita bicara siapa itu orang Farisi? Orang Farisi adalah orang yang berpikir bahwa mereka adalah orang yang betul-betul setia di dalam mentaati hukum Tuhan. Dan ketika dia mentaati hukum Tuhan dengan begitu setia dan begitu ketat, dan berusaha menjalankan semua pengajaran yang mengenai hukum Taurat dalam hidup mereka, mereka merasa bahwa orang-orang lain di luar dari kelompok mereka itu adalah para pendosa, orang-orang yang terkutuk. Itu sebabnya pada waktu kita bicara mengenai Paulus sebagai orang Farisi, dia adalah orang yang begitu giat untuk Tuhan menurut dia dengan ketaatan dia kepada Taurat tetapi dia juga mencelakakan banyak orang lain yang dianggap di luar dari kelompok Farisi atau khususnya kepada orang yang percaya kepada Yesus Kristus.

Jadi siapa itu Farisi? Orang-orang yang memisahkan diri dari orang-orang Yahudi yang lain dan mereka menganggap dengan memisahkan diri mereka menjadi orang yang kudus dan tidak bercacat karena mereka mentaati firman tidak seperti orang-orang lain yang di luar dari kelompok dari orang-orang Farisi ini. Tetapi kalau kita tanya lagi, betulkah orang-orang Farisi itu adalah orang-orang yang sungguh-sungguh mentaati firman Tuhan? Maka Alkitab juga memberikan kepada kita ada bocoran-bocoran berkaitan dengan Farisi. Misalnya ambil contoh, pada waktu Yesus berbicara tentang ada dua orang yang masuk ke dalam Bait Allah. Yang satu adalah orang farisi, yang satu adalah pemungut cukai. Yesus berkata begini, ketika orang Farisi berdoa, dia berdoa melihat ke atas dan dia berkata, “Saya bersyukur kepada Tuhan karena saya bukan orang pemungut cukai itu. Saya melakukan hukum agama dengan setia dan taat dalam hidup saya. Saya memberi persembahan, saya berdoa, saya melakukan kebaikan dalam hidup saya. Tidak seperti pemungut cukai itu.” Tetapi pemungut cukai itu ketika berdoa, tidak berani menengadah ke atas, dia hanya menundukkan kepalanya ke bawah lalu memukul dadanya dan menangis dan meminta pengampunan dari Tuhan. Lalu Yesus membuat satu pertanyaan, “Siapa yang pulang dengan kebenaran yang bersumber dari Tuhan?” Dan Yesus berkata, “Orang pemungut cukai itu.” Walaupun di dalam pandangan orang Farisi dia adalah orang yang berdosa, tetapi di hadapan Tuhan dia adalah orang yang benar.

Nah kenapa hal ini bisa terjadi? Karena ada bagian lain dari Kitab Suci yang mengatakan orang Farisi itu siapa; orang Farisi itu adalah orang yang munafik. Kenapa munafik? Karena mereka menampilkan diri sebagai orang yang beribadah di hadapan Tuhan, mereka menampilkan diri sebagai orang yang benar, tetapi hatinya penuh dengan kebusukan, hatinya penuh dengan kejahatan, hatinya seperti tulang yang busuk atau tulang yang membusuk di dalam kuburan. Luarnya dilabur dengan putih, menarik, indah. Setiap kali saya menguburkan orang, saya suka memperhatikan kuburan-kuburan orang. Dan ada yang, khususnya yang dari kelompok Chinese Kristen atau Chinese, ketika keluarganya sudah mati, pertama dikubur itu kayaknya sederhana sekali. Tetapi ketika tanahnya sudah memadat, dia akan membuat satu, semacam apa itu, bukan gapura ya, komplek, ya apa lah. Dia akan membuat dengan begitu indah sekali; tulisan dari emas, gambar salib dari emas atau mungkin kalau yang bukan Kristen yang lainnya kayak gitu. Bagus. Kadang sampai mau datang ke situ takut mengotori. Tapi Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, dalamnya seperti apa? Dalamnya siapa yang berani gali? Saya yakin sekali itu akan menunjukkan satu kebusukan, kerusakan, kehancuran yang ada di dalamnya. Tapi orang Farisi digambarkan seperti itu. Dia adalah orang-orang yang sepertinya adalah baik, beribadah, tetapi sebenarnya semuanya itu adalah satu kemunafikan. Kenapa? Di bagian lain daripada Injil ada kalimat seperti ini, “Orang Farisi punya satu kebiasaan; kalau mereka berdoa, mereka ingin dilihat orang dan dipuji orang ketika mereka berdoa. Mereka ingin didengar kata-kata yang diucapkan pada waktu berdoa supaya orang ngomong mereka adalah orang-orang yang beriman, orang-orang yang saleh, orang-orang yang beribadah kepada Tuhan.” Pada waktu mereka melakukan kebaikan, ketika mereka melakukan kebaikan, Tuhan Yesus pernah mengajarkan apa yang kau lakukan di salah satu tanganmu, tangan yang satu lagi jangan ketahui. Tapi orang Farisi ketika melakukan kebaikan mereka ingin dikenal oleh orang-orang yang lain.

Jadi orang Farisi itu siapa? Orang Farisi satu sisi adalah orang yang beragama, orang yang sepertinya sungguh-sungguh dalam mentaati Tuhan, tapi di sisi lain, Tuhan Yesus berkata mereka sebenarnya adalah orang yang hanya memelihara tradisi manusia bukan hukum Tuhan dalam hidup mereka. Dan ketika mereka beribadah sepertinya kepada Tuhan, sebenarnya mereka bukan beribadah kepada Tuhan tapi mereka sedang meninggikan diri mereka sendiri. Itu adalah orang Farisi.

Nah Nikodemus adalah salah satu dari kelompok itu. Nikodemus bukan hanya salah satu dari kelompok itu tetapi dia juga dikatakan sebagai guru dari para guru. Memang di dalam ayat yang kita baca, misalnya di ayat 10, itu tidak terlalu jelas. “Jawab Yesus: ”Engkau adalah pengajar Israel””. Maksud “pengajar Israel” itu apa? Mungkin bisa dikatakan, Oh, seperti seorang pendeta yang mengajar jemaatnya atau sepeti seorang penginjil yang mengajar umat Tuhan, seperti itu. Tetapi saya ketika menonton film di Netflix ya, mengenai The Chosen, itu ada satu penafsiran yang sangat menarik sekali, dan saya kira ini ada tepatnya dengan bagian ini karena di dalam commentary yang lain juga berkata, “Siapa Nikodemus? Nikodemus bukan guru biasa yang mengajarkan firman. Tetapi dia adalah gurunya para guru yang mengajarkan firman Tuhan.” Jadi dia adalah orang yang begitu penting sekali di kalangan dari orang-orang Farisi sendiri atau para ahli Taurat. Dan bukan hanya itu saja, dia adalah orang yang pintar, dan menurut tradisi, dia adalah orang yang kaya sekali, dan di kalangan orang Yahudi pada waktu itu dia adalah 1 dari 3 orang terkaya yang ada pada waktu itu.

Jadi, kalau kita bicara mengenai Nikodemus, siapa dia? Orang Farisi. Bagaimana dengan jabatan dia? Sangat tinggi sekali; gurunya para guru. Dan sebagai gurunya para guru, kalau saya tambahkan sedikit, dia masuk ke dalam kelompok Sanhedrin, yaitu kelompok dari 70 orang yang menjadi pemimpin dari orang-orang Yahudi, penegak hukum dari antara orang-orang Yahudi kalau mereka membutuhkan keadilan. Dan dia sangat kaya. Nah kenapa kaya ini menjadi sesuatu yang saya angkat juga? Karena menurut konsep orang-orang pada waktu itu, ketika Tuhan memberkati seseorang, maka salah satu tandanya dia memiliki kekayaan. Jadi pada waktu Nikodemus itu menjabat sebagai pemimpin dari orang-orang Yahudi, dia merasa dia adalah orang yang baik, dia adalah orang yang diberkati oleh Tuhan, mungkin, sampai satu waktu Yesus Kristus muncul seperti itu, atau bahkan sebelum Yesus Kristus muncul. Tapi paling tidak, orang luar ketika melihat Nikodemus, dia akan menundukkan diri, memberikan hormat kepada orang ini karena dianggap orang ini adalah orang yang begitu penting dan orang yang sangat dipakai oleh Tuhan dan diberkati oleh Tuhan.

Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi oleh Tuhan, kalau kita kembali ke dalam pasal 3 ayat yang ke-2, itu menunjukkan ada satu pemahaman yang sangat bertolak belakang sekali. Di ayat yang ke-2 dikatakan, “Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: ”Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”” Maksudnya bagaimana? Maksudnya adalah seperti ini, pada waktu Nikodemus menjabat sebagai orang yang paling tinggi di dalam kehidupan dari orang-orang Yahudi, kira-kira dia bisa dikatakan sebagai orang yang berada di puncak iman. Nah sebagai orang yang ada di puncak iman, yang disanjung dan dihormati oleh semua orang, seharusnya dia ada di dalam kondisi yang baik kan? Kalau dia ada pergumulan dalam hidup dia, dia  bisa cari siapa? Saya yakin nggak ada orang yang dia bisa ajak diskusi untuk berbicara mengenai hal itu, kecuali dia doa sama Tuhan mungkin. Tapi ketika dia ada di dalam posisi seperti itu, muncul orang lain yang namanya Yesus Kristus, yang bisa melakukan hal-hal yang dia nggak bisa lakukan. Nikodemus pandai di dalam hal Torah, Nikodemus sangat mengerti ayat-ayat di dalam Kitab Suci, Nikodemus adalah guru yang mengajar, tapi dalam hidup dia, dia tidak pernah bisa melakukan mukjizat yang bisa dilakukan oleh Yesus Kristus.

Itu sebabnya pada waktu dia datang, dia melihat Yesus Kristus, dia melihat bahwa ini orang pasti diberkati oleh Tuhan, ini orang pasti dipakai oleh Tuhan, dan ini orang pasti memiliki kerohanian yang ada di atas diri dia. Makanya Nikodemus datang kepada Yesus Kristus. Tapi pertanyaannya begini, kenapa Nikodemus datang? Lalu ketika dia datang, dia membicarakan apa dengan Yesus Kristus? Itu yang menjadi hal yang penting yang perlu kita lihat. Yaitu apa? Ketika Nikodemus datang, sebabnya karena dia – ini tafsiran ya, tapi saya percaya tafsiran ini benar – dia merasa walaupun dia adalah pemimpin tertinggi, walaupun dia dilihat sebagai orang yang diberkati dan sangat, sangat dipakai oleh Tuhan, tapi hatinya kosong, dia tahu dirinya munafik dan dia tidak mengalami ketenangan dalam hidup dia. Tahu dari mana? Dari pembicaraan tentang Kerajaan Allah. Nanti, kita akan masuk lebih jauh, ya. Tetapi, di sini saya mau bicara Nikodemus datang kepada Yesus karena hatinya gelisah karena dia tahu bahwa dia mungkin di luar dari Kerajaan Allah dan Yesus tahu itu.

Nah, saya sebelum masuk lebih lanjut, saya mau angkat satu hal yang penting. Percakapan dari masterclass yang Pdt. Stephen Tong katakan kemarin. Waktu di masterclass, Pak Tong ada bicara seperti ini. Ada 1 pendeta yang bicara seperti ini. Mana yang lebih dahulu harus dialami seseorang? Sadar akan murka Allah, penghakiman Tuhan dalam hidupnya atau memiliki rasa takut akan Tuhan dari sisi Tuhan akan menghukum dirinya atau cinta kasih Tuhan? Mana yang lebih dahulu? Maka, di situ Pak Tong bilang, yang lebih dahulu harus kita miliki adalah sadar akan diri kita yang berdosa dan sadar bahwa kita ada di bawah penghakiman Tuhan dan sadar bahwa kita adalah orang yang tidak bisa menaati perintah Tuhan. Itu penting.

Itu sebabnya, pada waktu kita baca Alkitab, ini pengajaran Pak Tong ya, tapi walaupun itu pengajaran Pak Tong, ada di dalam Katekismus Singkat Westminster. Bapak, Ibu juga bisa baca di situ. Kenapa Katekismus Singkat Westminster itu dimulai dari buku 1 yang berbicara mengenai dasar iman, bukan dari buku 2 yang bicara tentang 10 perintah Allah, bicara tentang Doa Bapa Kami, sakramen yang ada di dalamnya? Bukankah di dalam Perjanjian Lama itu dimulai dari Taurat terlebih dahulu, bukan dengan anugerah terlebih dahulu? Memang, Katekismus Singkat berkata seperti ini. Karena kita menjaga supaya orang tidak berpikir, ”Saya bisa dibenarkan melalui ketaatan saya kepada Taurat.” Itu sebabnya, kita mulai dengan satu dasar iman Kristen itu seperti apa? Kebutuhan kita akan Kristus itu seperti apa?

Tetapi, kalau Bapak, Ibu kembali ke dalam Kitab Suci, Alkitab tidak mulai daripada kebutuhan kita akan Kristus. Alkitab tidak mengajarkan mulai dari anugerah Tuhan yang diberikan kepada kita. Ya, mungkin bisa bicara anugerah karena orang Israel keluar dari perbudakan Mesir itu karena janji Tuhan. Abraham bisa keluar dari Mesopotamia karena janji Tuhan atau anugerah Tuhan yang memanggil dia keluar daripada Mesopotamia itu. Tetapi, yang lebih menonjol di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, walaupun ada sisi anugerah itu adalah hukum Tuhan, di mana kalau kita melihat orang-orang Yahudi melakukan dosa, ketidaktaatan dalam hidup dia kepada hukum Tuhan, kita akan membaca tidak ada kompromi sama sekali bagi mereka. Mereka saat itu langsung dimatikan oleh Tuhan atau mereka mengalami musibah atau mereka akan diserang oleh bangsa yang lain sebagai satu tindakan penghukuman bagi diri mereka. Jadi, kita akan melihat bahwa di dalam Perjanjian Lama, Allah itu  sepertinya begitu keras sekali dengan umat-Nya dan Allah tidak bermain-main dengan orang yang berdosa. Baru setelah peristiwa itu, kita masuk ke dalam Perjanjian Baru, di mana kita diajak untuk melihat Allah penuh dengan cinta kasih; Allah memberikan anugerah keselamatan; Allah mati bagi manusia yang berdosa seperti itu.

Tetapi, dari sisi ini, Pak Tong mau mengatakan bahwa pada waktu kita ingin mengerti dan menghargai anugerah Tuhan dalam hidup kita, hal pertama yang harus mendahului itu adalah satu kegelisahan, satu kesadaran dalam diri kita. ”Saya adalah orang yang pasti dihakimi oleh Tuhan dan saya memiliki rasa takut yang begitu besar terhadap Tuhan Allah yang begitu suci dalam hidup saya.”  Itu sebabnya, Nikodemus datang kepada Yesus Kristus karena di dalam hati, dia sadar satu hal, “Saya tidak serohani dari Yesus Kristus. Ada masalah, bahkan ketika dia dalam menggumulkan hal itu, saya percaya salah satu adalah, “Saya sebenarnya ada di dalam Kerajaan Allah atau tidak?”” Nah, kok, bisa bicara seperti ini? Karena Yesus memberi jawaban yang tidak nyambung dengan Nikodemus di ayat yang ke-3.

Coba, Bapak, Ibu bayangkan kayak gini, ya. Kalau saya yang jadi Nikodemus, Bapak, Ibu jadi Tuhan Yesus. Lalu, saya bertemu dengan Bapak, Ibu. Lalu, saya ngomong, “Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai Guru yang diutus oleh Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertai-Nya.” Jawaban Saudara kepada saya apa? Jawabannya apa? Kemungkinan besar, “Benar!” “Bagus!” kayak gitu. “Karena engkau mengerti bahwa aku bukan diutus oleh manusia, tapi aku pasti diutus oleh Tuhan,” gitu, kan? Atau kita akan ngomong, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah, mungkin, karena engkau mengenal siapa diri Yesus Kristus.” Tapi, jawaban Yesus adalah kayak gini. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali,ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Nyambung, nggak bicara Yesus tentang Dia adalah seorang yang disertai oleh Tuhan; Dia adalah seorang yang diutus oleh Tuhan; Dia adalah Rabi yang Agung itu? Tapi, Yesus kayaknya nggak memedulikan itu semua, tapi Dia bilang langsung berkaitan dengan kalau orang tidak dilahirkan kembali, dia tidak akan melihat Kerajaan Allah.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ada yang ngomong, Yesus ngomongnya nggak nyambung. Tetapi, kalau Bapak, Ibu mau menafsirkan bagian ini, jangan lupa Yoh. 2:24-25. Kita baca, ya. Yoh. 2:23-25, “Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percayadalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tandayang diadakan-Nya.”Puji Tuhan, ya. Banyak orang yang datang kepada Yesus Kristus. Ribuan orang datang untuk mengikuti Yesus Kristus karena melihat tanda yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Tapi, ayat 24 bicara seperti ini: “Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorang pun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.” Ada satu kontras di situ. Orang banyak mengikuti Yesus Kristus. Orang banyak mengikut Yesus Kristus karena apa? Karena melihat tanda yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Tetapi, pada waktu orang banyak itu mengikuti Yesus Kristus, Yohanes berkata, Yesus tidak memercayakan diri-Nya kepada mereka karena apa? Yesus mengenal mereka semua dan Yesus tahu apa yang ada di dalam hati mereka. Artinya bahwa Yesus tahu tindakan mereka mencari Yesus bukan karena mereka mengenal siapa Yesus, bukan karena mereka percaya kepada Yesus Kristus. Ini paham ya? Bapak, Ibu datang ke gereja untuk apa Tuhan Yesus tahu, apa yang ada di dalam hati kita.

Tapi dasar ini coba diterapkan ke dalam ayat yang ke-3 di dalam jawaban Yesus. Pada waktu Nikodemus datang kepada Yesus ngomong : “Guru, Engkau pasti diutus oleh Tuhan. Tanda-tanda yang Kau lakukan itu hanya bisa dilakukan oleh orang diutus oleh Tuhan.”  Yesus tahu nggak apa yang ada di dalam pikiran Nikodemus? Yesus tahu nggak pergumulan Nikodemus itu seperti apa? Yaitu berkaitan dengan Kerajaan Allah. Ia sangat tahu makanya Dia nggak memedulikan kalimat Nikodemus di awal. Yesus langsung masuk ke dalam masalah inti,. Kenapa Nikodemus datang kepada Yesus Kristus? Karena engkau pengen tahu kan engkau ada di dalam Kerajaan Allah atau tidak?  Bagaimana caranya kita bisa ada di dalam Kerajaan Allah itu? Maka pada waktu Yesus Kristus mendengar kalimat Nikodemus, Yesus langsung ngomong : “Jika engkau” atau pakai kata depan “Sesungguh-sungguhnya, jika engkau tidak dilahirkan kembali atau seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yang menarik di sini Bapak, Ibu, Tuhan tidak langsung ngomong “engkau” tapi Tuhan menggunakan kata ganti orang ketiga, “jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Saya tidak tahu kenapa Dia gunakan kalimat orang ketiga tapi mungkin supaya tidak terlalu seperti menuduh seperti itu, mungkin seperti itu. Tapi Dia menggunakan orang ketiga untuk memberitahu Nikodemus kalau dia sudah dilahirkan kembali atau belum. Kalau belum ia ada di luar dari Kerajaan Allah.

Nah, hal ini membuat tadi ya, kalau kita mau tarik pengertiannya apa, saya nggak usah ngomong lagi yang di awal ya, atau saya simpulkan kayak gini, keberadaan kita di dalam Kerajaan Allah itu bukan berdasarkan akumulasi kebaikan yang kita lakukan. Ada orang yang pernah ngomong sama saya, Pak di luar kekristenan ada orang yang baik tidak? Ada nggak orang yang baik? Ada kan? Yesus sendiri memuji ada orang yang baik kok. Tetapi ketika kita bicara, ada orang yang baik bahkan banyak yang lebih baik dari orang Kristen seperti itu, apakah itu menjadikan mereka ada di dalam Kerajaan Allah? Nah, ini yang kalimat yang saya mau ngomong, kalau kita melihat kalimat, yang seorang itu kalau tidak dilahirkan kembali ia tidak akan ada di dalam Kerajaan Allah. Berarti kebaikan yang kita lakukan, akumulasi kebaikan, maksudnya adalah kebaikan tambah kebaikan tambah kebaikan tambah kebaikan tambah kebaikan dan semua kebaikan yang kita lakukan seumur hidup dari kita lahir sampai kita mati seperti itu, itu nggak akan membuat kita ada di dalam Kerajaan Allah.

Yang kedua adalah, akumulasi dari tindakan kita beribadah kepada Tuhan, yang paling baik, yang paling benar sekalipun, itu tidak membuat kita ada di dalam Kerajaan Allah. Dan konsep moral yang kita miliki, yang kita anggap baik, yang dipuji oleh orang, kalau Saudara tambahkan semua, itu pun tidak akan membuat kita ada di dalam Kerajaan Allah. Atau istilah lainnya adalah, di hadapan Tuhan semua akumulasi dari kebaikan kita, ibadah kita, dan tindakan moral yang kita lakukan, itu adalah nol besar.

Saya kira ini kalimat yang cukup keras, karena kadang-kadang kita melihat orang-orang yang di sekitar kita ibadah mereka dan perbuatan mereka yang katanya penuh dengan kasih dan rahmat itu, itu seolah-olah menjadi sesuatu yang membuat kita harusnya mampu menghargai mereka dan menerima mereka dan mengakui hal itu dalam hidup mereka. Tetapi maafkan, Yesus sendiri berkata itu nggak ada gunanya sama sekali untuk kita bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah. Dan Yesus tahu itu ada di dalam pemikiran dari Nikodemus. Nikodemus berpikir bahwa apa yang dia lakukan mungkin bisa membuat dia ada dalam Kerajaan Allah, tapi kalau hal itu ada membuat dia ada dalam Kerajaan Allah, kenapa dia masih datang kepada Yesus Kristus untuk meminta petunjuk dari Yesus Kristus?

Nah, ini membuat kita bisa narik prinsip kayak gini, ketika kita menginjili seseorang, kita perlu tahu apa yang menjadi kebutuhan atau kesulitan orang itu atau pergumulan di dalam hati orang itu yang membuat ketika kita berbicara kepada diri dia, maka dia tahu kita sedang bicara mengenai hal yang dia paling butuhkan di dalam hidup dia. Yang kedua adalah, pada waktu kita memberitakan tentang Injil maka Bapak, Ibu jangan berpikir mengenai toleransi antar agama. Dalam pengertian kayak gini, saya iman Kristen, saya percaya bahwa apa yang saya percayai sebagai satu kebenaran, yang engkau percayai juga adalah satu kebenaran. Makanya saya harus tidak mengatakan bahwa kebenaran itu hanya ada di dalam Kristus. Tetapi kita harus membawa orang itu mengerti bahwa kebaikan dia, moralitas yang dia miliki, dan kehidupan keagamaan dia sama sekali tidak bisa menolong dia di hadapan Tuhan karena Yesus berkata: “Kecuali orang itu dilahirkan kembali.”  Jadi ada satu kesadaran, orang itu sendiri ada dalam pergumulan, kita mengerti apa yang menjadi pergumulannya. Kalau dia tidak mengerti pergumulannya atau dia tidak merasa terlalu jauh di dalam berpikir mengenai kehidupan kekal bagaimana?  Paling nggak mungkin kita bisa melemparkan api supaya dia mulai memikirkan hidup dan nasibnya, seperti itu. Lalu kita mengerti dan ketika ada waktu kita kemudian mulai membicarakan hal yang lebih jauh dengan orang itu. Tapi paling tidak kita bicara hal yang benar, yang dibutuhkan dan dimengerti oleh orang itu.

Atau saya, saya gunakan contoh kayak gini ya, ini bukan bicara masalah hati ya, tapi ini bicara cara komunikasi, nanti akan kita masuk lebih jauh. Bapak, Ibu kalau berhadapan dengan orang yang suka lukisan lebih mudah bicara dan masuk kepada diri dia dengan bahasa lukisan atau bahasa tentang pertanian?  Contoh lain kayak gini, kemarin saya bicara dengan saudara kita Tobias. Dia melihat bahwa musik itu, dia tanya saya, “Bapak suka musik apa?” Saya sebenarnya banyak musik yang saya suka juga, ternyata dia banyak musik yang dia nggak ada preferensi secara khusus. Tapi dia ngomong kayak gini, musik klasik itu beda dari musik-musik yang lain karena apa? Karena musik klasik itu tidak ada, apa istilahnya, pagar ya? Musik klasik itu bisa diterima oleh semua kalangan. Lalu saya tanya, maksudmu? Kamu lihat musik itu dari sisi bahasa ya? Ah ya benar juga kayaknya, karena ketika saya belajar atau mendengar seseorang menjelaskan musik dengan bahasa yang berbeda dengan bahasa ibu saya, saya mungkin bisa belajar mengerti apa yang dia ngomongin tetapi begitu dia memainkan musik itu saya tahu maunya itu seperti apa. Jadi ada komunikasi seperti itu. Bisa lebih paham. Kalau kita bisa mengerti apa yang menjadi kebutuhan orang itu ketika kita bicara dengan orang itu, orang itu akan mengerti bahwa kita mengerti dia dan apa yang menjadi kebutuhan dia di dalam pergumulan dia. Banyak orang itu ketika menginjili mungkin hanya bicara tanpa mengerti pergumulan, tanpa tahu pola pikir dari orang itu seperti apa, yang penting kita memberitakan tentang Yesus Kristus kepada diri mereka. Tuhan Yesus tidak seperti itu.

Mungkin selanjutnya saya agak cepat saja ya karena waktu kita sangat terbatas. Perkataan Yesus ketika menghadapi Nikodemus seperti ini, Yesus bicara bahwa orang itu harus dilahirkan kembali, tetapi Nikodemus punya jawaban juga kadang-kadang disalah mengerti. Nikodemus bertanya seperti ini, ini yang saya mau ngomong Nikodemus sebenarnya mengerti apa yang Yesus katakan. Nikodemus terus ngomongBagaimanakah mungkin seorang dilahirkan kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Bapak, Ibu, Saudara yang di kasihi Tuhan, maksudnya apa Nikodemus bilang seperti ini? Ini ada orang ngomong kayak gini “Kayaknya Nikodemus itu nggak paham deh yang diomongin oleh Yesus.” Karena apa? Karena Yesus bilang dilahirkan kembali hal yang rohani seperti itu, lalu Nikodemus nangkepnya dilahirkan secara fisik. Saya sudah tua, saya yang sudah tua ini bagaimana bisa dilahirkan lagi apakah saya harus kembali jadi bayi masukin lagi ke dalam perut mama saya lalu dikeluarkan kembali lagi seperti itu? Yang kedua ada orang yang mengatakan “Kayaknya bukan Nikodemus nggak mengerti tetapi Nikodemus sedang menertawakan Yesus Kristus atau meremehkan Yesus”. Kenapa? Yesus bicara tentang kelahiran kembali lalu Nikodemus ngomong kayak giniHahaha bagaimana mungkin sih, nggak masuk akal, masa orang masuk dalam perut mamanya lagi padahal dia sudah tua.”

Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita berbicara mengenai jawaban Nikodemus ini, kita harus mengerti dari perspektif Yoh. 2:24-25. Tuhan betul-betul tahu apa yang ada di dalam hati Nikodemus, Tuhan betul-betul tahu siapa itu Nikodemus, Tuhan betul-betul tahu kemampuan Nikodemus untuk mengerti apa yang disampaikan oleh Yesus Kristus. Jadi pada waktu Yesus bicara orang harus dilahirkan kembali, Nikodemus jawab “Bagaimana mungkin seorang dilahirkan kalau lihat sudah tua.” maksudnya adalah Nikodemus tahu Yesus sedang mengajarkan dengan analogi, analoginya apa? Orang harus dilahirkan kembali seperti seorang anak yang dilahirkan itu tanpa ada satu perbuatan dan usaha dari diri dia sendiri. Lalu Nikodemus tanya dengan analogi ini “Kalau begitu bagaimana mungkin saya sudah tua, saya nggak ngerti, hal itu bagi saya mustahil, saya nggak paham bagaimana seseorang itu bisa dilahirkan kembali.” seperti itu. Atau dia nggak paham prinsip Yesus bahwa keselamatan itu adalah anugerah dari Tuhan. Secara sederhana bisa seperti itu.

Tetapi apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus berikutnya ini juga mungkin penting bagi kita di dalam melatih menginjili. Tadi saya ada singgung sedikit ada orang yang nginjili pokoknya nggak banyak bicara tanya namanya seperti apa lalu kemudian sudah percaya Yesus Kristus atau belum, belum. Lalu mungkin kalau pakai EE, saya bukan ngomongin EE jelek ya ok, EE banyak sekali yang baik dan prinsip-prinsipnya Alkitabiah seperti itu. Semua lima hal itu adalah Alkitabiah walaupun penjabarannya saya nggak tahu masing-masing orang di dalam doktrin gereja mereka; tetapi berdasarkan anugerah, hadiah, percaya kepada Kristus, Allah yang adalah adil, penghukum, Yesus menjadi perantara itu yang menjawab keadilan Tuhan Allah, lalu komitmen untuk hidup di dalam iman kepada Kristus itu benar.

Nah waktu kita bicara Injil, kadang-kadang kita ngomong kayak gini “Kalau andai kata kita mati hari ini, kita masuk surga atau Saudara masuk surga atau tidak?” Lalu dia ngomong, “Iya.” Pertanyaan diagnosis kedua adalah “Apa yang membuat Saudara yakin Saudara akan diterima oleh Tuhan?” Waktu dia nggak bisa menjawab seperti itu mulailah kita mau ngomong dari A sampai Z tentang Injil Tuhan lalu kita merasa kita sudah menginjili. Menginjili bukan? Ok lah baik bagian dari menginjili kita mengabarkan seperti ini, tapi cara Yesus agak unik loh, pada waktu Nikodemus itu ada di dalam kebuntuan logika dia untuk mengerti bagaimana mungkin hal itu hanya dari pekerjaan Tuhan dan tidak ada bagian dari manusia sama sekali, yang Yesus lakukan adalah menolong dia untuk berpikir dan mengerti dari kacamata dia, dari pemikiran dia tentang Alkitab dan Yesus tidak membuat dia harus mengikuti apa yang Yesus katakan dan mengkonfirmasi apa yang dikatakan oleh Yesus. Atau ya maksud saya itu adalah ini, setelah kita jabarkan tentang Yesus Kristus Saudara mau percaya atau tidak tanpa peduli dia sedang bergumul apa di dalam pemikiran dia. Tapi Yesus mau menuntun dia untuk mengerti dan bertumbuh dan mengenal perkataan Yesus sebagai satu kebenaran.

Caranya bagaimana? Caranya adalah dengan dua jalannya. Pertama adalah Yesus mengajak Nikodemus untuk mengerti apa yang dimaksud dengan lahir dari air dan roh. Nah bicara lahir dari air dan roh, orang ada yang menafsirkan air itu berarti dia harus lahir sebagai manusia terlebih dahulu baru dia bisa diselamatkan seperti itu, atau ada yang mengatakan air dari air itu berarti dia harus dibaptis dengan air baru dia diselamatkan atau dari perspektif Katolik orang itu harus menerima sakramen baptisan baru surga itu terbuka bagi diri dia. Tapi kalimat ini bukan seperti ini. Pada waktu Yesus Kristus berbicara mengenai air dan roh, sebenarnya Yesus sedang menggunakan bahasa yang sangat dimengerti oleh Nikodemus. Kenapa? Karena ini bahasa yang dipakai di dalam Perjanjian Lama untuk membicarakan satu perjanjian baru antara Allah dengan manusia karena perjanjian yang lama itu sudah dilanggar oleh umat Allah.

Saudara bisa lihat misalnya Yeh. 36:25-33, kita nggak usah baca semua tapi karena kita cepet aja ya, tapi paling tidak saudara dapatkan intinya. “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.” Kalau Bapak, Ibu baca di judulnya yang diberikan LAI pasal 36 itu pembaruan Israel. Dapat inti itu dari mana? Tadi ayat 25 seperti ini, apa yang membuat Tuhan mencurahkan kepada kita air jernih? Tujuannya untuk apa? Untuk mentahirkan. Tapi siapa yang berinisiatif untuk mentahirkan kita dari kenajisan kita? Yaitu Tuhan. Tuhan yang mencurahkan air itu. Lalu ayat 26, pada waktu itu, apa yang akan dilakukan Tuhan juga, ketika Dia mencurahkan air itu atau yang disimbolkan dengan mencurahkan air itu? Yaitu memberikan hati yang baru, memberikan roh yang baru dalam batinmu. Menjauhkan kita dan tubuh kita dari hati yang keras, memberikan kepada kita hati yang taat. “Roh-Ku akan kuberikan diam di dalam batinmu”, ayat 27. “Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapanku”, dan seterusnya.

Jadi pada waktu Yesus bicara, “kecuali oleh air dan roh,” pemikiran Nikodemus sebagai gurunya Guru Farisi atau gurunya Guru Taurat, itu pasti merujuk kepada Yehezkiel. Dan ketika Yehezkiel berbicara mengenai air dan roh, itu bukan berbicara mengenai kelahiran dari perut perempuan, bukan berbicara mengenai baptisan air, tetapi berbicara mengenai satu perjanjian baru yang Tuhan tegakkan dengan umatnya. Atau covenant baru, di situ ya. Saudara bisa lihat banyak bagian yang lain berkaitan dengan hal ini. Mungkin salah satunya saudara boleh buka lagi dari Yer. 24:7, “Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah Tuhan, mereka akan menjadi umatku, dan Aku ini akan menjadi Allah mereka. Sebab mereka akan bertobat kepadaku dengan segenap hatinya.”

Jadi saat itu Yesus sedang lakukan apa? Yesus sedang membawa Nikodemus untuk mengerti, sebenarnya apa yang diajarkan Yesus itu bukan sesuatu yang baru. Apa yang diajarkan oleh Yesus tentang kelahiran kembali itu sudah ada di dalam Perjanjian Lama. Yeremia, Yehezkiel, itu sudah mengajarkan hal-hal seperti ini, yaitu apa? Ini adalah satu perjanjian atau satu pembaruan yang bukan dikerjakan oleh manusia, tetapi ini adalah satu pembaruan yang dikerjakan oleh Allah sendiri di dalam hati manusia. Itu yang dikatakan di dalam Yehezkiel.

Jadi intinya sama dengan yang tadi di awal, bukan tindakan manusia yang menyelamatkan, tapi Tuhan mau mengajar Nikodemus berpikir bahwa keselamatan itu bukan dari usahamu, tapi pemberian dari Tuhan Allah sendiri. Nikodemus harus mengerti ini. Yang kedua adalah berbicara mengenai angin tadi, perumpamaan tentang angin. Saya nggak usah masuk ke situ lagi, Bapak Ibu sudah mengerti hal itu, saya sudah jelaskan di awal, ya.

Nah, pertanyaan yang mungkin kita perlu tanyakan lanjutnya adalah seperti ini, kenapa seorang guru Yahudi, guru agama yang mengajarkan tentang Taurat Tuhan, dia tidak bisa mengerti tentang Perjanjian Baru? Kira-kira penyebabnya apa? Ada yang mengatakan seperti ini, kemungkinan besar adalah karena Nikodemus memiliki konsep dosa yang salah. Nikodemus tidak memahami bahwa manusia yang lahir dari dosa atau manusia berdosa, ketika melahirkan anak, itu adalah anak yang berdosa. Yang dikatakan oleh Yesus di sini, daging itu melahirkan daging, roh itu melahirkan roh. Nikodemus berpikir bahwa daging itu bisa melahirkan roh.

Tetapi pada waktu bicara hal ini, konsep Yesus dari mana? Kembali lagi dari Perjanjian Lama. Misalnya ambil contoh ya, kalau Bapak, Ibu lihat di dalam Kej. 6, itu bicara mengenai air bah. Apa yang membuat Tuhan menghukum seluruh umat manusia kecuali Nuh dan keluarganya? Karena manusia berdosa, lalu Nuh dan keluarganya diselamatkan apakah karena mereka benar, dan tindakan mereka yang membuat mereka benar di hadapan Tuhan? Bukan, di dalam bagian lain itu ada bicara Nuh mendapatkan kasih karunia dari Tuhan. Maka dia tidak dihukum oleh Tuhan Allah. Tapi kalau Saudara kemudian lihat setelah peristiwa air bah itu, Nuh kemudian keluar dari air bah itu, apa yang dilakukan oleh Nuh? Pasal 8, Nuh keluar, lalu dia kemudian mempersembahkan persembahan Harun di atas mezbah. Kej. 8:20, Nuh membuat mezbah bagi Tuhan, lalu dia ambil segala binatang yang tidak haram, lalu mempersembahkan binatang itu di hadapan Tuhan dan segala burung juga dipersembahkan kepada Tuhan yang tidak haram. Tujuannya untuk apa? Pengampunan dosa. Nuh tahu dia berdosa, dia mempersembahkan itu sebagai satu ibadah yang dia bawa ke hadapan Tuhan. Lalu ayat 21, “Ketika Tuhan mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah Tuhan dalam hatinya, “Aku tak akan mengutuk bumi ini lagi, karena manusia sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya.”

Jadi Tuhan dari sejak kejadian itu, sudah kasih tahu manusia yang lahir itu, yang bayi-bayi itu, bukan orang baik, itu adalah orang jahat, dia adalah orang berdosa di hadapan Tuhan. Bagi kita dia imut, dia baik, dia lucu. Ingat, di hadapan Tuhan, ini orang berdosa yang bisa melawan Tuhan, dan melakukan kejahatan besar karena dia punya natur yang berdosa. Tetapi kenapa sampai hari ini nggak ada air bah lagi? Karena ada perjanjian Tuhan dengan Nuh, bahwa dia tidak akan mendatangkan air bah lagi dalam dunia ini, makanya ada pelangi di situ.

Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, jangan lupa, kasih Tuhan dan kemurahan Tuhan, kesabaran Tuhan itu ada batasnya. Di dalam surat Petrus dikatakan, bagi Tuhan seribu tahun itu sama seperti satu hari, satu hari sama dengan seribu tahun. Jangan pikir Tuhan tidak akan menghukum manusia, Tuhan tetap akan menghukum manusia. Tapi kenapa dia lewatkan ribuan tahun setelah air bah tidak ada sepertinya penghakiman? Karena Tuhan ingin manusia bertobat dan tidak dihukum. Tapi suatu hari nanti ketika manusia tidak mau bertobat, Tuhan akan menghukum dengan memusnahkan bumi ini melalui api. Itu di dalam surat Petrus. Dan setelah itu, ada penghakiman terakhir yang Tuhan akan berikan bagi semua manusia.

Jadi pada waktu kita bicara tentang dosa, Alkitab sudah bicara orang yang berdosa, Nuh melahirkan siapa? Anak berdosa. Anak Nuh yang berdosa, melahirkan siapa? Anak Nuh yang berdosa lagi. Makanya di situ ada peristiwa Ham yang melihat ayahnya dalam kondisi yang telanjang, kemudian dia dihukum oleh Tuhan. Ada dosa yang ada di dalam kehidupan manusia. Dan setelah peristiwa Nuh, jangan pikir kejahatan hilang dari muka bumi ini. Tapi mulai ada kejahatan demi kejahatan yang terus muncul di dalam dunia ini. Sampai Yesus Kristus, sampai hari ini dalam kehidupan manusia. Sebabnya karena orang yang lahir dari daging itu akan melahirkan daging. Nggak mungkin yang dari daging itu bisa menghasilkan roh.

Bukan hanya di dalam Kej. 6, tapi kalau Bapak Ibu baca di dalam Mzm. 51, ketika Daud itu berzinah dengan Betsyeba. Dia sadar ketika setelah ditegur oleh Nathan, “saya berdosa.” Lalu bagaimana caranya Daud mendapatkan pengampunan dari Tuhan dan pembaruan dari Tuhan? Apakah dia bawa korban ke mezbah lalu membakar korban itu lalu merasa dosanya sudah diampuni seperti itu? Apakah Daud kemudian berlakukan kebaikan-kebaikan untuk menebus dosanya kepada keluarganya agar dosanya diampuni oleh keluarga suami dari Betsyeba seperti itu? Alkitab nggak mengatakan seperti itu. Tetapi yang Alkitab katakan saat itu Daud berdoa di hadapan Tuhan. Dia meminta Tuhan mentahirkan dirinya, mengampuni dirinya, tidak mengingat akan dosanya kembali dan memperbaharui hatinya. Boleh buka Mzm. 51 ya, Mzm. 51 misalnya ayat 12, “jadikanlah hatiku tahir ya Allah dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh.” Itu bicara tentang Daud betul-betul mengerti bahwa dosanya hanya bisa diampuni oleh Tuhan dan hal itu hanya bisa dikerjakan oleh Tuhan dan dia butuh hati yang baru, yang berbeda dengan hati yang lama yang membawa dia jatuh ke dalam dosa.

Jadi Daud mengerti ini, dan Yesus membantu Nikodemus untuk bisa mengerti kebenaran ini tapi Nikodemus mengerti tidak? Nggak. Di dalam percakapan Yesus dengan Nikodemus terakhir, itu menunjukkan bahwa Nikodemus tetap mau menjadi orang Farisi dan dia tetap hidup sebagai orang yang ada di dalam Sanhedrin kalau kita baca di Yohanes selanjutnya ya. Ayat 9 ya, Nikodemus pulang dengan frustasi mungkin. “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi mungkin?” Tetapi yang dikatakan oleh Yesus bagaimana? Yesus nggak ngomong kayak gini, “Pokoknya sekarang kamu harus bertobat. Kalau kamu tidak bertobat ada hukuman yang menanti engkau.” Mungkin ada bagian itu, Yesus katakan ada di bawah hukuman. Tetapi mungkin juga setelah percakapan itu, Nikodemus meninggalkan Yesus Kristus mungkin, kita nggak tahu secara pasti. Mungkin Yesus berbicara dengan Nikodemus sampai ayat 21. Tetapi setelah ayat 9 itu, Nikodemus sama sekali nggak dicatat sama sekali. Yesus hanya menjelaskan atau mengajarkan mengenai prinsip Kitab Suci berkaitan dengan dosa, berkaitan dengan Perjanjian Baru yang Tuhan Yesus kerjakan bagi manusia atau umat-Nya tersebut.

Lalu bagaimana? Yesus nggak memaksa. Saya percaya ini prinsip dari Alkitab ya. Pada waktu kita menginjili, kalau kita mengerti iman seseorang itu adalah anugerah dari Tuhan, Saudara akan ngotot untuk menginjili orang, tetapi Saudara tidak akan ngotot untuk memaksa orang untuk percaya pada Yesus Kristus. Saudara akan punya kebesaran hati, kesabaran untuk mendoakan orang itu, untuk menantikan orang itu untuk bertumbuh di dalam pengenalan dan Roh Kudus bekerja melalui firman yang sudah ditaburkan melalui diri dia, sampai dia mungkin datang lagi untuk mau belajar lebih jauh dan mau mendengar Injil lebih jauh lagi. Jadi ini apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus ya.

Saya singkat aja ya, Nikodemus akhirnya percaya pada Tuhan atau tidak? Kelihatannya percaya, karena di bagian akhir, ketika Yesus mati di kayu salib, Yusuf Arimatea bersama Nikodemus minta mayat Yesus dari Pilatus, lalu kemudian menguburkan mayat itu dengan rempah-rempah. Sebelum peristiwa itu terjadi, ketika Yesus Kristus itu mulai makin menjadi orang yang membuat “kerusuhan” di antara kalangan orang Yahudi, dan orang-orang mulai berpikir siapa sebenarnya Dia? Jangan-jangan Dia adalah betul-betul Mesias itu? Orang-orang Farisi dan kelompok Sanhedrin itu ingin membunuh Yesus Kristus. Lalu Nikodemus tampil dan berkata, menurut hukum kita, kita harus mengadili orang terlebih dahulu kan, bukan terus menjatuhkan penghakiman. Tapi respons dari teman-temannya yang lain dari Sanhedrin adalah menghina dia, “kamu adalah bagian dari orang Galilea itu kan? Kamu sendiri tahu kalau tidak ada Nabi yang muncul dari Galilea.” Berarti mereka tahu Nikodemus sedang membela Yesus Kristus.

Dan menurut tradisi, Nikodemus adalah orang Kristen, dia dibaptis oleh Petrus dan Yohanes, dia memberitakan Injil yang berani sekali, tapi akhirnya dia mendapatkan penolakan dengan cara dia kemudian diusir dari Yerusalem, dia dilucuti dari segala jabatannya, dan kekayaan dihabisin oleh Sanhedrin, dia dibuang keluar tapi keluarganya dibiarkan tinggal di Yerusalem dengan kemiskinan. Lalu ada yang mencatat seperti ini, pernah suatu hari ada seorang rabi yang melihat ada seorang perempuan yang sedang memungut makanan dari sampah. Lalu rabi ini berbelas kasih lalu menghampiri perempuan ini, dia tanya “kamu anak siapa?” Perempuan ini ngomong “saya anak Nikodemus.” Lalu, “Apa yang terjadi dengan Papamu?”, “Papaku percaya kepada Yesus Kristus, dan akhirnya dia diusir keluar.” Rabi itu pergi dan tidak berani membantu dia. Menurut tradisi abad pertama Nikodemus mati martir.

Tapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini kisah seorang yang mengenal Kristus, kisah seorang yang diinjili oleh Yesus dan melihat Yesus secara pribadi dalam hidupnya. Ada pertobatan, ada satu perubahan dalam hidupnya yang dia nyatakan ketika dia menerima Injil Tuhan. Tapi ada prinsip-prinsip tadi yang Yesus ajarkan bagi kita ya, atau kita bisa terapkan dalam pengijilan ya.

Kalau saya mau tarik aplikasi yang terakhir, Nikodemus berani menjadi orang yang berkorban begitu besar dalam kehidupannya demi Yesus Kristus, kita bagaimana? Kiranya Tuhan boleh memberkati kita ya. Mari kita masuk di dalam doa.

Kami sungguh bersyukur Bapa, untuk firman-Mu, untuk kebenaran-Mu, untuk kasih-Mu, untuk satu kepastian bahwa di dalam Kristus berdasarkan anugerah Tuhan kami boleh diselamatkan dan dimenangkan. Kami boleh dibawa untuk menyadari bahwa itu bukan sesuatu yang kami bisa usahakan tetapi pemberian dari Tuhan Allah sendiri. Tolong kami ya Tuhan ketika kami menyadari hal ini, kami mengerti ini kami tidak menghina Tuhan, kami tidak meremehkan anugerah Tuhan tetapi timbul rasa kasih dalam hati kami. Timbul pertobatan dalam diri kami. Karena dari hati yang takut akan Tuhan, karena kami tahu bahwa Tuhan mati bagi kami supaya kami tidak binasa tetapi melainkan kami boleh menghormati Tuhan, menghampiri Tuhan, menghargai pekerjaan penebusan Kristus, memuliakan Tuhan di dalam Yesus Kristus. Tolong sertai kami ya Tuhan. Dan biarlah cinta kasih kami kepada saudara kami juga boleh dimunculkan. Ketika kami mendengar prinsip mengenai penginjilan, bukan hanya kami belajar secara teori tetapi kami boleh juga belajar menerapkannya, kami boleh membagikan Injil Kristus kepada keluarga kami, saudara kami, teman-teman kami yang belum percaya kepada Kristus sehingga mereka boleh berjumpa dengan Kristus secara pribadi, dan mereka boleh ada di dalam Kerajaan Allah, seperti kita yang sudah dilahirkanbarukan oleh Roh Kudus. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa, Amin. (HS)