Visi yang Sejati, 26 Januari 2025

Visi yang Sejati

Mzm. 27

Vik. Lukman S.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, apa visi yang dapat menopang kita ketika kita menjalani hari kita sebagai seorang Kristen? Mzm. 27 Bapak, Ibu, Saudara sekalian, merupakan satu Mazmur yang menyatakan keyakinan iman yang teguh di dalam Tuhan. Karena Bapak, Ibu, Saudara sekalian bisa melihat di ayat 1 sampai dengan ayat 3, betapa yakinnya si pemazmur, yaitu Daud, bahwa Tuhan akan menyertai dia. Dia mengatakan, “Tuhan adalah terangku dan keselamatanku”, dia mengatakan, “kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?”. Saudara sekalian, ini adalah satu Mazmur dengan confidence yang begitu tinggi di dalam Tuhan.

Maka Saudara sekalian, kita berpikir, ketika kita membaca pemazmur menyatakan iman yang begitu teguh, kita mungkin berpikir bagaimana iman pemazmur begitu kuat? Mungkin karena di dalam pengalaman hidupnya Tuhan itu terus menolong dia sampai apa yang dia kerjakan selalu berhasil dan pemazmur ini tidak punya ketakutan sama sekali. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ternyata kita bisa lihat di ayat-ayat selanjutnya, pemazmur yang punya iman begitu teguh, yang seperti seolah-olah tidak takut dengan musuh, tidak ada ketakutan, ternyata juga adalah seorang yang pernah takut Saudara sekalian. Bukan berarti di sini tidak akan takut itu tidak pernah takut. Pemazmur dengan iman yang teguh bukan tidak punya ketakutan, bukan tanpa pergumulan, tetapi justru di dalam kegentaran dan ketakutannya, dia bersandar kepada Tuhan.

Maka itu Saudara sekalian, ada yang menyatakan bahwa di dalam ayat selanjutnya, Mazmur ini juga adalah Mazmur ratapan. Mazmur seruan minta tolong kepada Tuhan karena sadar saya banyak kelemahan, karena sadar saya banyak pergumulan, karena sadar saya masih terus penuh ketakutan dan iman saya masih dalam proses bertumbuh, bersandar kepada Tuhan. Saudara sekalian, Mzm. 27 menyatakan kepada kita, iman yang kuat bukan iman tanpa ketakutan. Iman yang kuat justru iman dibangun di dalam kesulitan, pergumulan, di dalam ratapan, tetapi terus bersandar kepada Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, pemazmur ini menyatakan pergumulannya itu seperti di dalam istilah peperangan. Kita bisa melihat di ayat ke-2, ke-3, “penjahat-penjahat menyerang aku”, “lawanku”, “musuhku”, “mengepung aku”. Saudara sekalian, kalau kita membaca mazmur, itu bahasa istilah kiasan. Itu bisa kita tafsirkan bisa literal, tapi juga tentunya yang lebih dari itu yaitu mungkin saja penderitaan kesusahan, mungkin saja sakit penyakit, mungkin konflik keluarga di dalam rumahnya, mungkin kerja yang membuat dia stres, depresi, kegalauan jiwanya, dan segala kesulitan hidup yang pasti kita semua juga alami. Dan pemazmur menggambarkannya di dalam seperti peperangan. Penderitaan itu begitu aktif menyerang dan menjatuhkan dia. Entah juga dosa musuh di dalam dirinya yang terus membuat dia bergumul, yang mau menjatuhkan dia.

Bahkan digambarkan di sini Saudara sekalian, bukan hanya kesusahan itu aktif tetapi apa dampak yang dia alami? Saudara sekalian bisa melihat di ayat selanjutnya, ayat 11-12. Saudara sekalian, dikatakan orang yang dikatakan dekat justru tidak memberikan nasehat penghiburan kepada dia. Orang yang memusuhinya, membencinya, semakin menghakiminya. Ini keadaan yang sulit. Saudara sekalian, ketika kita mengalami pergumulan, yang paling kita harapkan adalah orang dekat kita itu bisa kita andalkan. Ya khususnya, mungkin, di dalam istilah pemazmur, yaitu ayah, ibunya atau orang tuanya. Bukankah rumah adalah menjadi tempat yang terus menerima kita di dalam keadaan apa pun harusnya? Bukankah orang tua kita seharusnya menjadi orang yang terus bisa menerima kita di tengah segala kesulitan, pergumulan kita? Orang tua kita, yang melahirkan kita, yang mendidik kita, yang menolong kita, membimbing kita dari kita kecil. Tetapi pemazmur mengatakan orang tuanya pun, yang paling dekat, yang melahirkan dia, membimbing dia, tidak dapat bersama dengan dia, tidak memberikan nasehat dan pertolongan yang berarti di dalam penderitaannya.

Dan bukan hanya itu saja – itu sudah mengecewakan Bapak, Ibu, Saudara sekalian, – tetapi begitu banyak orang yang tidak menyukai semakin menghakimi. Saudara sekalian, ini keadaan yang sulit. Ini keadaan yang, mungkin, sangat membuat dia bisa depresi begitu berat Saudara sekalian. Tetapi apa yang membuat dia dapat kuat atau kita katakan mempunyai iman yang teguh, mempunyai kepercayaan yang begitu tinggi kepada Tuhan? Apa? Ayat ke-4, “Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya.” Saudara sekalian, ini juga diteguhkan di ayat 8 dan ayat 9, “Hatiku mengikuti firman-Mu: ”Carilah wajah-Ku”; maka wajah-Mu kucari, ya Tuhan. Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka; Engkaulah pertolonganku, janganlah membuang aku dan janganlah meninggalkan aku, ya Allah penyelamatku!”. Inilah visi yang menguatkan dari pemazmur, yaitu visi keindahan Allah.

Di dalam terjemahan aslinya Saudara sekalian, di ayat 4, di dalam Indonesia itu, LAI menerjemahkan, “menyaksikan kemurahan Tuhan”. Ini arti yang memang cukup tepat ya, cukup baik juga karena salah satu artinya itu memang kemurahan Tuhan. Tapi dalam aslinya itu “menyaksikan keindahan Tuhan dan menikmati bait-Nya”. “Hanya inilah yang kudambakan” di dalam terjemahan baru. Di dalam aslinya, “hanya inilah yang kukejar, kutuntut, kucari dengan sungguh-sungguh, yaitu menyaksikan keindahan Tuhan.”

Saudara sekalian, di tengah segala pergumulan kita, apa yang menjadi visi kita sehingga kita dapat bertahan menjadi orang Kristen? Pemazmur mengatakan “satu ini saja”, ini single-minded; “hanya satu inilah”. Saudara sekalian, lalu dikatakan, “kuminta, kukejar, kudambakan”. Banyak penafsir mengatakan ini bukan permintaan yang baru. Ini artinya, kalau bisa diterjemahkan seperti ini yaitu, “dari dulu, sekarang, sampai nantinya Tuhan, yang kuinginkan, yang kudambakan, yang kuharapkan: menyaksikan keindahan Tuhan.”

Saudara sekalian, mari kita buka Luk. 10:41-42. Ada istilah yang sama Saudara, dipakai di situ. Dan itu dikatakan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri. Luk. 10:41-42. Kisah ini adalah kisah ketika Tuhan Yesus mengunjungi Maria dan Marta. Lalu kemudian Marta itu sibuk dengan banyak sekali yang dikerjakan. Secara manusiawi itu wajar. Ketika ada tamu yang datang, maka kita ingin mempersiapkan yang terbaik. Apalagi yang datang Tuhan Yesus Kristus. Saudara sekalian, kalau saat itu kita sendiri yang mengalami itu, saya yakin kita akan menjadi Marta. Kita akan mempersiapkan semua yang terbaik. Mungkin kalau tahu lebih awal jadwalnya, mungkin kita siapkan karpet merah ya untuk Tuhan Yesus. Kita beritakan, sebarkan kiri, kanan, tetangga kita Tuhan Yesus akan datang. Kita siapkan makanan yang terbaik, ajak orang lain mempersiapkannya dengan baik. Tapi, ada satu orang, saudara Marta, yaitu Maria, diam saja, duduk dekat dengan Tuhan Yesus, melihat Tuhan Yesus, mendengarkan Tuhan Yesus mengajar. Lalu Marta bilang kepada Tuhan Yesus, “Coba suruhlah Maria itu untuk bantu-bantu juga. Masak dia diam aja begitu Tuhan?” Tapi Tuhan Yesus mengatakan, “hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Maria memilih Yesus.

Saudara sekalian, ketika momen itu, ini biasanya dipertentangkan; yang aktif sama yang kontemplasi; via aktiva, via kontemplativa. Saudara sekalian, Alkitab tidak menekankan hal itu. Tetapi ketika momen itu tiba, apa yang paling diinginkan itu muncul. Marta mungkin pikir Tuhan Yesus datang, saya kira penilaian Tuhan Yesus katakan kepada Marta, “Marta, Marta, engkau kuatir. Engkau penuh kuatir.” Saudara sekalian, Tuhan Yesus bisa melihat hati Marta dan melihat apa yang dikerjakan Marta, kesibukannya, bukan karena dia mau memuliakan Tuhan tapi kuatir. Mungkin kuatir dihakimi Tuhan Yesus, mungkin kuatir kalau makanannya nggak enak, Tuhan Yesus bilang, “Marta kok makanannya nggak enak sih?”. Mungkin. Apa pun kekawatirannya, fokusnya kepada dirinya, bukan kepada Tuhan Yesus. Dan Maria telah memilih satu hal saja yang penting, yang terbaik, yang tidak bisa diambil dari padanya, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Seperti ini juga pemazmur Saudara sekalian. Kalau kita bandingkan di seluruh Perjanjian Lama, ada yang menyatakan satu-satunya tulisan, pernyataan dari orang beriman yang seperti ini hanya dinyatakan oleh Daud di dalam Mzm. 27:4, “Satu hal saja yang kudambakan ya Tuhan, satu hal saja yang kukejar dan kurindukan.” Single-minded, single-hearted, yang sungguh-sungguh hanya tertuju kepada Tuhan di seluruh Perjanjian Lama hanya dinyatakan di dalam ayat ini, yaitu menyaksikan keindahan Tuhan.

Saudara sekalian, ketika pemazmur menginginkan, dia ingin diam di rumah Tuhan, di dalam bagian sebelumnya, “tinggal di rumah Tuhan seumur hidupku”, itu artinya Saudara sekalian, bukan literal dia mau tinggal di rumah Tuhan terus. Lalu kita menafsirkan dengan begitu salah, oh berarti ini hamba-hamba Tuhan. Hamba Tuhan kan tinggalnya di rumah Tuhan ya; kayak saya di pastori, di belakang, dekat banget. Dekat dengan Tuhan begitu ya. Ini salah, penafsiran salah. Pemazmur bukan berarti maksudnya oh yang kuinginkan tinggal di rumah Tuhan berarti, literally, kita ingin sungguh-sungguh terus ke gereja, setiap hari ke gereja, bahkan tinggal di gereja, jadi hambanya Tuhan di gereja. Bukan Saudara sekalian! Maksud pemazmur di sini yaitu dia merindukan hadirat Tuhan, merindukan kehadiran Tuhan yang nyata. Di dalam konteks Perjanjian Lama, kehadiran Tuhan itu nyata di dalam Bait Allah, di Kemah Suci, di tempat ibadah kepada Tuhan. Dan sungguh nyata, khususnya lagi, yaitu kehadiran Tabut Perjanjian di ruang maha kudus. Itulah kehadiran Tuhan. Yang dia rindukan adalah bahwa kehadiran Tuhan yang sama, yang nyata di dalam Bait Allah, Tabut Perjanjian yang nyata di dalam ruang maha kudus itu, juga hadir di dalam hidupnya sehari-hari. Itu yang pemazmur nyatakan. Dia ingin menyaksikan itu Saudara sekalian.

Di dalam istilah aslinya, “menyaksikan” itu artinya dengan antusias melihat, dengan semangat melihat, dengan intelek melihat, dengan pengalaman inderawi melihat, Saudara sekalian. Bukan imajinasi, bukan membayangkan, bukan! Tapi sungguh-sungguh mengalaminya di dalam seluruh keberadaan dirinya, dan dengan antusias, dengan semangat. Apa artinya keindahan Tuhan? Secara umum, Saudara sekalian, keindahan adalah satu hal yang membuat kita bisa menarik, membuat kita itu puas terhadap sesuatu, melihat sesuatu itu sebagai sesuatu dengan terbaik, itu artinya keindahan; pada benda, atau pada orang, atau pada sesuatu. Kalau di dalam musik, itu musiknya mungkin secara telinga enak didengar. Di dalam seni visual, seni visualnya itu mungkin “enak dilihat” atau menarik hati kita ketika kita melihatnya. Di dalam sastra, tulisan kata yang begitu indah, ungkapan-ungkapan begitu indah, yang menarik kita sehingga kita katakan puitis, Saudara sekalian. Keindahan adalah sesuatu yang menarik kita, yang mempesona kita, yang menggugah kita sehingga kita kagum, sehingga kita penuh syukur berlimpah-limpah. Di dalam hal ini, yaitu kepada Tuhan. Tapi tentu Saudara sekalian, saya nggak mengajak kita memahami keindahan Tuhan itu seperti kita memahami keindahan manusiawi. Artinya, oh kalau Tuhan yang indah itu artinya Tuhan itu memiliki golden rasio, simetris. Kalau saya lihat Tuhan Yesus itu berarti muka-Nya simetris. Lalu kalau tafsiran keindahan Asia, putih Tuhan Yesusnya. Afrika, gelap, hitam. Bukan! Bukan keindahan dalam seperti pengertian itu Saudara sekalian.

Lalu bagaimana, apa artinya keindahan Allah? Salah satu hal yang mungkin kita bisa, Alkitab sendiri nyatakan, keindahan Allah itu dinyatakan di dalam, misalnya, arsitek dan desain Bait Allah. Saudara, kita bisa melihat Kel. 25-30, Saudara sekalian bisa melihat, membacanya, dan banyak ayat lainnya; di Raja-raja, di Tawarikh. Di dalam Kel. 25-30, itu adalah tentang Kemah Suci. Saudara sekalian, kita bisa melihat ada aturan-aturan yang Tuhan buat, Allah adalah Allah yang indah, dan keindahan-Nya itu dinyatakan di dalam karya-Nya. Secara khusus di dalam Kel. 25-30, yaitu ketika Dia menyatakan, mengajarkan, menyampaikan tentang bagaimana Kemah Suci itu dibuat. Secara khusus, diwahyukan secara khusus Saudara sekalian.

Bangsa Israel di Mesir melihat bagaimana bangunan Mesir, arsitek dan desain Mesir yang begitu megah sampai sekarang. Tetapi kemudian Tuhan tidak menyatakan, “Ya sudah kamu sudah belajar, ikuti saja yang Mesir.” Bukan! Tuhan memberikan seperti tandingan keindahan yang dinyatakan melalui arsitek dan desain dari Kemah Pertemuan. Ada kain-kain yang khusus dipakai, dengan warna yang khusus, dengan bentuk yang Tuhan tentukan, dengan keahlian yang Tuhan juga berikan kepada orang-orang yang membuatnya.

Saudara sekalian, penafsir ada yang mengatakan, perayaan seni manusia itu dinyatakan secara indah di dalam Kemah Suci. Kemah Suci bukan hitam putih, Saudara sekalian atau bukan putih saja. Bajunya imam bukan putih saja. Bukan satu warna saja. Begitu banyak warna dengan jenis kain yang begitu beragam. Saudara sekalian, salah satu warna yang sering dipakai, warna kain itu merah hampir ke ungu, Saudara sekalian. Itu warna yang begitu mahal, bukan warna yang murahan. Kalau menurut di dalam Perjanjian Lama, di dalam ancient, dunia kuno, warna itu didapatnya di laut. Itu hewan-hewan laut yang bisa memberikannya. Binatang, tumbuhan di laut yang bisa memberikan warna itu. Maka itu, Saudara sekalian, ketika Tuhan Yesus disalib, diberikan apa? Jubah warna ungu. Itu begitu mahal. Bukan sembarangan orang memakai itu. Ingat, di dalam Kisah Para Rasul, ada perempuan yang percaya kepada Tuhan. Pengusaha perempuan, penjual kain ungu, Saudara sekalian. Itu orang kaya. Bukan warna yang gampangan. Nggak ada sintesis seperti sekarang. Begitu mahal dibuatnya. Artinya apa? Tuhan adalah Allah yang indah yang dipancarkan keindahan-Nya di dalam karya-Nya.

Saudara sekalian, Tuhan begitu rinci memberikan rencana pengerjaan Kemah Suci dan Bait Allah. Ini dalam hal arsitek dan desain. Saudara sekalian bisa melihat juga di dalam musik, misalnya. Mari kita buka Mzm. 81:3. Mzm. 81:3, “Angkatlah lagu, bunyikanlah rebana,kecapiyang merdu, diiringi gambus.” Apa nilai estetis di sini, Saudara sekalian? “Angkatlah lagu, bunyikanlah rebana, kecapi yang fals”? Yang merdu, Saudara sekalian! Diiringi gambus. Dengan iringan yang begitu beragam. Saudara sekalian, bukan berarti kayak gini, ”Wah, lalu Pak Lukman bilang ini indah. Tuhan harus memberikan dengan suara yang merdu. Saya fals, mending nggak usah nyanyi.” Nah, ini salah! Salah. Kalau kita nyanyi masih kurang tepat, belajar karena visi kita keindahan Allah. Itu hati yang benar. Itu teachable. Bukan artinya, ”Oh, ya udah saya fals. Tetap saja begitu!”

Saudara sekalian, visi keindahan Allah seharusnya menjadi visi kita. Di dalam Alkitab sendiri, Alkitab ditulis dengan begitu keindahan sastra yang begitu variatif, sejarah, bentuk narasi, bentuk puisi, bentuk nasehat-nasehat, peribahasa, bentuk surat, Injil. Begitu beragam keindahan sastra yang dipakai Alkitab mencakupi seluruh kategori sastra di seluruh dunia. Saudara sekalian, Allah adalah Allah yang indah dan keindahan-Nya dipancarkan di dalam karya-Nya dan ini membawa kita kepada ibadah, Saudara sekalian. Maka itu, Saudara sekalian, ketika pemazmur, dia mengatakan di dalam Mzm. 27:5-6, “Sebab Ia akan melindungi aku dalam pondok-Nya pada hari malapetaka; Ia menyembunyikan aku dalam persembunyian di Kemah-Nya, dan mengangkat aku ke atas gunung batu. Maka sekarang aku menegakkan kepalaku, menghadapi musuh-musuh yang mengepungku; dalam kemah-Nya aku hendak mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku hendak menyanyi dan bermazmur bagi TUHAN.” Keindahan Allah di dalam diri Allah dan di dalam karya-Nya seharusnya membawa kita syukur kepada Allah, beribadah kepada Allah.

Kita datang kepada Tuhan bukan karena kita takut dihukum. Kita datang kepada Tuhan bukan karena supaya Tuhan memberkati kita. Kita datang kepada Tuhan karena Allah adalah Allah yang indah. “Dengan penuh syukur, aku datang kepada Tuhan.” Dia Allah yang layak disembah, layak dipuji. Saudara sekalian, coba baca di Alkitab. Pelajari, mengapa kita memuji Tuhan? Apa karena takut dihukum? Kalau tidak memuji Tuhan masuk neraka? Kenapa? Ayat-ayat Alkitab menyatakan karena Dia layak menerima segala pujian, segala hormat. Worthy is The Lamb. Di dalam Wahyu, dikutip di dalam nyanyian Handel, “Messiah.”  Worthy is The Lamb. Karena Dia layak menerima semua itu; karena Dia indah; karena Dia patut ditinggikan dan patut dipuji

Saudara sekalian, kita lihat Pkh. 12:10. Pengkhotbah mengatakan dia berusaha menemukan kata-kata yang menyenangkan, kata-kata yang indah, dan kata-kata kebenaran secara jujur. Artinya, keindahan juga ini tidak bisa dilepaskan dengan kebenaran. Kata-kata yang menyenangkan, yang indah, dan kata-kata yang kebenaran. Keindahan bukan berarti kepalsuan. Keindahan bukanlah tipuan dan kebohongan. Keindahan adalah juga kebenaran. Saudara sekalian, ketika kita datang kepada Tuhan, datanglah karena kita melihat Allah sebagai Allah yang indah yang patut kita tinggikan dan patut kita puji.

Saudara sekalian, di dalam istilah ayat-ayat Alkitab yang lain, apa sih yang dimaksud dengan keindahan Allah? Mari kita lihat beberapa ayat. Mari kita buka 1 Tim. 1:17. 1 Tim. 1:17, “Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Rajasegala zaman, Allah yang kekal,yang tidak nampak danyang esa!Amin.” Banyak yang menafsirkan menyatakan “yang tidak nampak” inilah yang mengacu kepada Allah yang indah. Allah yang mulia yang tidak nampak yang tidak dapat kita pahami secara utuhnya. Itulah yang dimaksud Allah yang indah. Yang tidak bisa kita pahami secara akal kita. Itulah artinya Allah yang indah, Saudara sekalian. Di bagian ayat yang lain, kita bisa melihat. Di dalam Mzm. 96:6, saya bacakan bagi kita sekalian. Mzm. 96:6 “Keagungan dan kesemarakan ada , di hadapan-Nya, kekuatan dan kegemilangan ada di tempat kudus-Nya.”  Keagungan, semarak, kekuatan, kegemilangan, itulah artinya juga  Allah yang indah saudara sekalian.

Kita bisa melihat lagi Yes. 28:5. Saudara sekalian saya minta, Bapak, Ibu, Saudara sekalian membacakannya bagi saya Yes. 28:5. Yes. 28:5, “Pada waktu itu Tuhan semesta alam akan menjadi mahkota kepermaian, dan perhiasan kepala yang indah-indah bagi sisa umat-Nya.” Allah akan menjadi hiasan keindahan bagi umat Tuhan. Saudara sekalian, begitu banyak ayat-ayat menyatakan keindahan Allah, semarak-Nya, kekuatan-Nya, ketidakbisa dipahami-Nya, yang tidak nampak itu, kemuliaan-Nya yang terpancar. Saudara sekalian keindahan Allah bukan berarti kita yang menilai Allah itu indah. Keindahan Allah bukan berarti saya ukur Allah itu ya tadi, golden rasio gitu ya. Bukan!Keindahan Allah artinya Dialah sumber keindahan, Dialah keindahan sejati, Dialah yang harusnya menjadi standar kita untuk mendefinisikan keindahan yang ada.

Terakhir Saudara sekalian untuk menyatakan keindahan Allah kita buka Why. 1:13-18. Saya akan membacakannya bagi kita. Why. 1:13-18, “Di tengah-tengah kaki pelita itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas. Kepala dan rambut-Nya putih seperti bulu domba, seputih salju, dan mata-Nya bagaikan nyala api. Kaki-Nya berkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian. Suara-Nya bagaikan desau air bah. Di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik. Ketika aku melihat Dia, sujudlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati. Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata, “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.” Saudara sekalian ini satu visual yang begitu luar biasa, tidak bisa digambarkan secara literal hanya bisa digambarkan secara puitis karena Allah adalah Allah yang indah.

Saudara sekalian, Dialah sumber keindahan dan keindahan Allah itu harusnya membawa kita kagum kepada Allah, menyembah kepada Dia. Dan di dalam Why. 22:3-4  yang dikatakan setiap orang beriman akan melihat wajah-Nya, kemuliaan-Nya Saudara sekalian. Apa yang menjadi tantangan kita? Saudara sekalian Jonathan Edwards mengatakan, ciri orang yang memiliki visi keindahan Allah, di dalam Religius Affection dia mengatakan, orang yang hasratnya itu kepada kesucian, yang kerinduannya adalah Tuhan, yang lapar dan haus akan kekudusan Tuhan. Inilah orang yang memiliki visi akan keindahan Allah. Tetapi apa masalahnya? Apa tantangan kita sekarang? Yang pertama Saudara sekalian, kita menyempitkan Allah bukan memaknai Allah bukan dalam keindahan tapi dalam kegunaan. Allah itu berguna. Saudara sekalian, waktu kita sakit kita datang kepada Allah karena Allah berguna menyembuhkan saya. Waktu kita depresi saya datang kepada Allah karena Allah berguna melepaskan saya dari depresi saya. Waktu saya belum dapat pasangan, saya datang rajin ke gereja, pelayanan, karena Allah berguna menemukan saya kepada orang yang akan saya nikahi. Kita menyempitkan Allah pada kegunaan, saudara sekalian. Maka nggak heran kita waktu belajar ikut nanti STTRIY ya ada ya, misalnya Doktrin Allah atau nanti Perjanjian Lama gitu ya, kita mungkin, “Gunanya apa? Harusnya yang berguna dong dibahas; supaya bisnis sukses. Doktrin kerja sukses menurut doktrin Reformed. Ha, itu dong berguna. Doktrin teologi menjadi mahasiswa yang berhasil, itu yang berguna. Doktrin Allah, apa ini gunanya bagi hidup saya? Kristologi, apa gunanya bagi saya untuk bekerja, berpasangan, keluarga?” Karena kita menyempitkan makna Allah, makna rohani ini, makna keagamaan ini, Alkitab ini kegunaan, saudara-saudara. Kalau itu berguna, nah itulah Allah.

Tapi ini berlawanan saudara sekalian. Apakah memang kegunaan ini hanya satu-satunya prinsip dalam hidup kita? Nggak. Ya pada Allah ya kegunaan. Kalau saya kuatir akan hidup saya setelah kematian, saya harus percaya kepada sesuatu allah, supaya Dia berguna menyelamatkan saya setelah kematian. Saya masuk surga, berguna membawa saya kepada surga. Tapi urusan makan yang enak yang mana ya? Bukan hanya kenyang kan? Bapak, Ibu, Saudara sekalian  kalau makan, makan karena untuk kenyang perutnya atau untuk juga enak? Maka itu ada wisata kuliner, ya kan? Wisata kuliner bukan hanya visual. Makan, makan utamanya kan supaya saya kenyang ini, supaya dapat energi, tapi nggak, nikmatnya. Banyak bakmi Jawa di sini, bakmi Jawa yang paling enak di mana kita cari. Di Jogja sedikit ya makanan Batak, saksang itu ya. Di antara yang sedikit anggaplah saya nggak tahu, anggaplah lima rumah makan itu Batak itu ya, lapo, BPK. Mana yang paling enak. Padahal sudah langka pun dicari yang paling enak, lebih satu lagi ya. Urusan makan enaknya, urusan Tuhan gunanya.

Saudara sekalian karena kita menyempitkan Allah itu pada kegunaan bukan pada keindahan. Saya datang pada Allah kalau saya butuh saja. Kalau saya baik-baik, nggak ada apa-apa, saya nggak butuh. Saudara sekalian, bukankah dalam prinsip hidup kita menjalani, real, konkritnya di dalam manusia, kegunaan bukan satu-satunya prinsip kita. Saudara sekalian, beberapa tahun ini banyak konser-konser ya, pop, artis-artis luar datang ke Indonesia ataupun yang dekat-dekat dengan Indonesia misalnya Taylor Swift, ini nanti Maroon 5 misalnya ya. Orang bukan hanya itu ya, Saudara sekalian kalau bicara gunanya itu hampir tidak ada. Tapi orang beli tiket jutaan bukan hanya beli tiket, transportasi jutaan, akomodasi jutaan, pas sampai lompat-lompat, senang-senang, pulang. Gunanya apa? Sehat? Menyembuhkan saya dari sakit saya? Mengenyangkan perut saya? Pulang mungkin lapar ya karena uang habis. Pulang langsung kerja lagi giat, malah memperbudak.

Saudara sekalian, kegunaan bukan prinsip kita satu-satunya, tapi untuk Allah gunanya apa? Ibadah gunanya apa? Lalu akhirnya mulai cari-cari. Saya mau ibadah kalau saya disembuhkan, saya mau ibadah ya kalau berguna ada informasi baru yang disampaikan oleh hamba Tuhan, ada gunanya. Saya bukan berarti melawan Saudara sekalian, prinsip kegunaan itu penting, Alkitab juga mengatakan ibadah itu berguna dalam banyak hal, kerohanian berguna, tapi juga ada prinsip keindahan. Saudara sekalian, kalau kita nonton film di bioskop karena apa? Sakit nonton untuk sembuh? Nggak. Kita nonton untuk senang-senang, untuk kepuasan, untuk kenikmatan. Ketika kita mencintai orang Saudara sekalian, kita siapkan waktu kita, kita keluarkan uang kita, seluruh hati kita, kita berikan, bahasa anak muda emosinya  “Engkaulah hidupku” ya Saudara sekalian. Berguna nggak? Yang ada uang habis, waktunya termakan lagi, bukan. Tapi apa? Mencintai, melakukan sesuatu kepada orang yang mencintai itu indah. Ada sukacita yang nggak bisa digantikan dalam hal kegunaan, kita siap rugi. Kalau ditanya “kenapa?” Karena dia layak ya kan? Kadang-kadang akalnya nggak bisa kita pikirkan lagi. Kenapa? Saudara sekalian, hidup kita bukan hanya dasarnya kegunaan tetapi keindahan. Bukankah kita seharusnya berjumpa kepada Tuhan juga seperti itu? Jangan datang kepada Tuhan hanya karena kegunaan. Datang kepada Tuhan karena saya kagum kepada Tuhan, Allah yang indah yang patut ditinggikan.

Yang kedua Saudara sekalian, tantangan kita keindahan palsu menggantikan Allah. Saudara sekalian, Allah adalah sumber keindahan dan keindahan-Nya itu dinyatakan di dalam ciptaan. Di dalam Kej. 1:31, Dia mencipta dan dikatakan sungguh amat baik. Dalam Mzm.19:2 dikatakan langit menceritakan kemuliaan-Nya Saudara sekalian. Tapi, keindahan yang sudah Tuhan cipta ini kemudian jatuh dalam dosa, lalu adanya penyimpangan akan keindahan. Bukan keindahannya yang salah, tapi menyimpang dari keindahan yang seharusnya, kepalsuan, berdosa.

Saudara sekalian, kita buka Yeh. 16:13-14. Saya bacakan bagi kita sekalian, Yeh. 16:13-14 Saudara sekalian, ini dari Tuhan, keindahan yang dari Tuhan “Dengan demikian engkau menghias dirimu dengan emas dan perak, pakaianmu lenan halus dan sutera dan kain berwarna-warna; makananmu ialah tepung yang terbaik, madu dan minyak dan engkau menjadi sangat cantik, sehingga layak menjadi ratu. Dan namamu termasyhur di antara bangsa-bangsa karena kecantikanmu, sebab sangat sempurna adanya, oleh karena semarak perhiasan-Ku yang Kuberikan kepadamu, demikianlah firman Tuhan Allah.” Tuhan yang memberikan keindahan kepada umat Tuhan. Tetapi lanjutannya ayat 15-16, saya bacakan Saudara sekalian ”Tetapi engkau mengandalkan kecantikanmu dan engkau seumpama bersundal dalam menganggarkan ketermasyhuranmu dan engkau menghamburkan persundalanmu kepada setiap orang yang lewat. Engkau mengambil dari pakaian-pakaianmu untuk membuat bukit-bukit pengorbananmu berwarna-warni dan engkau bersundal di situ; seperti itu belum pernah terjadi dan tidak akan ada lagi.” Apa masalahnya? Tuhan sudah berikan keindahan, tetapi kita menggantikan keindahan Tuhan dengan keindahan yang Tuhan berikan. Kita menggantikan keindahan Tuhan, Sang sumber yang indah itu dengan keindahan yang lain, keindahan ciptaan yang fana. Saudara sekalian  di Rm.1:23,25 dikatakan “menggantikan kemuliaan Allah yang sejati itu dengan yang fana.” Ini masalahnya. Yang ekstrimnya kita anti keindahan. Keindahan dari Tuhan tidak salah, Tuhan cipta dunia yang indah tidak salah, tetapi kita memperlakukan keindahan ciptaan itu menyamakannya dengan Allah, Saudara sekalian. Keindahan yang palsu.

Saudara sekalian, ketika ada kesempatan ya, saya pelayanan KKR di Tapanuli Utara, ini tempat yang jauh. Dulu waktu beberapa kali saya ke Tapanuli Utara, yang pertama waktu belum ada Bandara Silangit, jadi dari Bandara Kualanamu Medan itu harus naik mobil lagi berapa jam itu, 8 jam atau berapa gitu. Begitu jauh sekali sampai ke Tapanuli Utara. Ketika ada Bandara Silangit, itu tinggal sudah lebih dekat. Nah Saudara sekalian, mumpung kita pelayanan di Tapanuli Utara kesempatan untuk bisa menikmati saksang yang enak, lalu saya tanya kepada orang yang menemani “Lapo atau saksang yang enak itu di mana di sini?” Lalu dia bilang “Di sini semua saksang enak, di sinilah sumbernya.” Saudara sekalian di sinilah sumbernya, iya kan? Makanan Medan, makanan Batak itu ya Tapanuli Utara, deket banget dengan Toba lho, ini sudah ciri khasnya ya di sini. Lalu jadi kayak konyol ya pertanyaan saya begitu. Lalu ya sudah lah, makan lah di pinggir gitu ya, ada warung gitu. Kalau lapo kan kaya warung-warung sederhana, kalau di sini kayak bagus gitu ya . Saya makan gitu, waduh saya kepedesan. Dalam hati saya, “Nggak enak ini.” Lalu saya mikir, lebih enak Lapo di Jakarta, Saksang di Jakarta. Nah, ini ambigu saudara sekalian. “Saksang di Jakarta lebih enak daripada Saksang di Toba,” kan lucu, ya? Ya ini, keindahan Allah, kita bilang, kita ganti dengan keindahan yang sementara, konyol. Ini nanti sama, saya belum coba, ya. Saya belum ke Padang. Coba nanti makan di Padang, ya. Rumah makan Padang di sini, bandingkan di Padang, di tanah Padang. Coba bandingkan. Jangan-jangan kita pikir, “rumah makan Padang di sini lebih enak loh, daripada aslinya di sana.” Jangan-jangan begitu. Ini menggantikan keenakan yang sumbernya. Keindahan Allah digantikan dengan keindahan yang fana, Saudara sekalian.

Seorang bernama David Gordon, dia menulis buku yang begitu baik, “Why Johnny Can’t Sing Hymn”, mengapa Johnny tidak bisa menyanyikan hymn. Johnny ini bukan nama seorang, tapi menyangkut generasi yang sekarang, generasi muda. Mengapa generasi sekarang itu nggak bisa menyanyikan hymn, atau menikmati hymn, Saudara sekalian? Di bagian yang pertama, di bab pertama dia katakan karena relativisme estetik, karena keindahan yang relatif, saudara sekalian. Kenapa? Karena musik sudah ada di mana-mana, nggak kayak dulu. Dulu mungkin di gereja itu nggak ada tandingannya, musiknya. Dan musik Kristen, misalnya di Kisah Para Rasul, musik Kristen yang sungguh-sungguh menyanyikan doktrin yang benar sesuai ajaran, ya hanya di gereja. Nggak ada di yang lain. Yang lain itu sudah pagan, itu kafir. Jadi ini keindahannya menikmati sekali. Lalu kemudian di abad pertengahan juga hampir seperti itu. Ada folk song, nyanyian rakyat, Saudara sekalian. Bisa dibandingkan, berbeda sekali. Sekarang musik di mana-mana, dan yang indah bukan hanya di gereja, secara nggak falsnya, gitu ya? Mungkin di gereja malah banyak yang fals, ya. Di sana nya nggak, di luar itu nggak. Maka ada tandingan relativisme estetis. Saudara sekalian, jadi orang lihat “banyak kok, bisa dapat di mana-mana musik yang indah.” Maka orang jadi lebih tertarik, “ya, musik yang indah di luar gereja banyak.”

Saudara sekalian, seorang teman pernah bilang ke saya, dulu ya. Dia bilang, “Kak Lukman, cantik itu relatif, jelek itu mutlak.” Saudara sekalian, saya setuju bahwa memang di dalam dunia ini relatif, yang mutlak itu hanya Tuhan. Masalahnya Saudara sekalian, masalahnya, tapi jelek juga nggak mutlak, relatif juga loh. Cantik itu relatif, jelek itu mutlak, waduh. Jelek itu juga relatif. Ok, di sini relatif, masalahnya apa? Kita angkat itu ke atas, atau mungkin lebih tepat, kita tarik Allah itu ke bawah. Allah itu juga relatif, jadi opsional. Saya bisa pilih Allah, kok. Kita ini seperti datang ke pasar, pilih Allah yang mana. KW 1, KW 2, KW 3, KW 4? Kita pilih yang paling mendekati. Yang celakanya, KW 1 warnanya lebih cerah, lebih indah, lebih bagus, lebih menarik. Kita pilih KW 1, yang aslinya jelek banget. Relativisme estetis. Akhirnya kita kenakan kategori ini kepada Allah, Allah juga relatif, saudara sekalian. Maka Allah nggak mengagumkan lagi. Saya datang ke Kristen, saya belajar, “Ah, Allahnya biasa aja, lebih hebat allah yang lain kok.”

 Saudara sekalian, di dalam pelayanan gereja, ketika kita menggantikan keindahan Allah pada berpusat pada diri, kita menjadi orang yang suka mengontrol, otoriter, merasa benar sendiri, tidak mau belajar, nggak teachable, defensif, terisolasi, sinis, kita menganggap diri kita lebih baik dari orang lain. Kita menganggap diri kita sudah lulus kelas kasih karunia, saudara sekalian. Jika kita sungguh-sungguh adalah orang yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan, dan kita sungguh visinya adalah keindahan Allah, di dalam pelayanan kita sadar, diri kita lemah terbatas, banyak kelemahan, orang-orang lain banyak kelemahan. Tapi kekuatan kita pada Allah, kita datang dengan penuh sukacita karena Allah menerima kita, orang yang tidak layak, tapi menebus kita. Kita datang dengan berani sekaligus dengan rendSh hati, saudara sekalian. Dalam pekerjaan, ketika keindahan Allah diganti pada keindahan palsu, yaitu pekerjaan itu sendiri, kita menjadi workaholic. Kita mengatur segala sesuatu, waktunya, berdasarkan utamanya adalah kerja kita. Uang menjadi yang utama. Kesuksesan standarnya adalah uang, banyak materi yang saya punya, banyak koneksi yang saya punya. Pekerjaan bukan lagi dilihat sebagai pelayanan kemuliaan bagi Allah, atau bagi sesama, menjadi berkat bagi banyak orang. Bukan lagi dijalani dengan syukur karena anugerah Tuhan yang memberikan kita pekerjaan.

Saudara sekalian ada seorang Kristen yang sukses dalam banyak hal. Ini kisah nyata, Saudara. Banyak uang, punya kuasa yang begitu besar, rumah begitu besar, mobil yang begitu bagus, begitu mahal, dan bukan hanya satu, begitu banyak. Punya perahu, perahu yang besar, kapal pesiar, yang dia bisa pergi ke mana. Punya istri yang cantik, punya anak-anak. Saudara sekalian, empat anak. Sudah hampir menurut standar Reformed, ya. Empat anak, keturunan juga banyak, Saudara sekalian. Dia juga mendirikan yayasan untuk membantu orang. Dia sibuk mengurus semuanya itu. Tapi saat yang sama, dia masih bisa menyempatkan untuk beribadah ke gereja. Tapi dia menjadi orang yang sinis, orang yang kepahitan, orang yang penuh kekecewaan, orang yang hanya fokus pada pekerjaannya sendiri. Sehingga anaknya waktunya kurang, fokusnya kepada persahabatan, kepada gereja kurang. Dan sudah lama sekali dalam satu waktu dia berhenti mencari Tuhan. Lalu kemudian dia datang kepada hamba Tuhan, lalu dia bertanya kepada hamba Tuhan. “Saya sudah punya banyak hal, tetapi kenapa saya merasa kosong?” Kenapa? Karena dia tidak punya Allah. Dia tidak punya visi keindahan Allah. Semua yang dia punya adalah achievement dia. Visi keindahan Allah, Saudara sekalian, seharusnya menjadi dasar topangan hidup kita. Ketika visi keindahan Allah kita ganti dengan keindahan palsu, kita akan mengalami pembusukan rohani. Walaupun di luarnya kelihatan baik-baik saja, buahnya adalah dosa.

Saudara sekalian, dalam Perjanjian Lama, kita bisa melihat keindahan Allah itu juga menyatakan suatu hal yang menggentarkan. Kita bisa melihat bagaimana Nadab dan Abihu mau datang kepada Tuhan, menyalakan api, menggantikan api Allah yang sejati dengan api yang lain, lalu mereka mati. Musa, ketika datang kepada Tuhan di dalam Kel. 33, dia melihat, dia rindu, juga dia mengatakan, “Aku mau berjumpa dengan Engkau, aku mau melihat kemuliaan-Mu ya Tuhan.” Tuhan katakan, “Engkau tidak akan tahan melihat Aku. Engkau tidak akan tahan memandang wajah-Ku, engkau akan mati. Maka Aku lewat saja bagian belakang-Ku dan engkau menyaksikan bagian belakang-Ku.” Saudara sekalian, Yesaya di dalam Yes. 6, ketika berjumpa dengan Tuhan yang mulia dan kudus, yang indah itu, dia mengatakan, “Celakalah aku, aku binasa. Karena aku najis bibir, maka aku berjumpa Tuhan Sang Raja semesta alam.” Karena dia akan mati Saudara sekalian. Keindahan begitu menggentarkan.

Tetapi Mzm. 27:4 justru menginginkan menyaksikan keindahan Allah. Ini artinya apa Saudara sekalian? Ini artinya visi yang lebih tinggi dan lebih baik. Visi, ambisi yang begitu besar, ambisi yang lebih besar daripada jadi orang kaya di seluruh dunia. Ambisi yang lebih besar daripada menjadi pemimpin gereja yang paling besar di seluruh dunia. Ambisi yang lebih besar daripada membuat keluarga bahagia. Yaitu visi akan keindahan Allah, menyaksikan akan keindahan Allah, Saudara sekalian.

Sekarang pertanyaan bagaimana menyaksikan keindahan Allah? Saudara sekalian, bagaimana sih pak Lukman? Ok, keindahan Allah begitu mulia, begitu penting untuk hidup kita, bagaimana saya menyaksikannya? Yang pertama, melalui alam ciptaan. Mzm. 19:2, “langit menceritakan kemuliaan Allah.” Kita bisa melihat kemuliaan Allah dalam ciptaan. Tuhan yang indah memancarkan keindahan di dalam ciptaan. Maka kita lihat ciptaan itu begitu indah Saudara sekalian. Warna-warni. Bukan hanya satu warna. Beragam bentuk Saudara sekalian, kita bisa melihat. John Calvin mengatakan, Puritan Inggris, Amerika, Jonathan Edwards mengatakan satu pandangan yang sama, dunia ciptaan adalah panggung pertunjukan kemuliaan Allah. Teater nya God’s glory. Teater, pertunjukan dari kemuliaan Allah. Maka ketika kita melihat ciptaan, harusnya itu membawa kita memuliakan Allah Sang Pencipta, kita bisa merenungkan keindahan Allah di dalam ciptaan. Itu bukan sesuatu yang muluk-muluk, sesuatu yang rumit, sesuatu yang jauh, tapi dekat sekali dengan kita. Kita bisa melihat sesama kita, kita bisa melihat desain gereja ini yang indah, memuliakan Allah.

Saudara sekalian, ketika saya pelayanan di Sulawesi Utara, lalu kemudian saya menyeberang ke satu pulau, itu namanya pulau Makalehi. Satu kesempatan di situ pelayanan. Teman KKR di situ bilang, “Kalau bisa Kak Lukman, pergi ke seberang. Karena itu di dalam pelayanan KKR Regional biasanya jarang sekali untuk bisa ke tempat itu.” Wah saya pergi ke sana. “Tapi bagaimana caranya?” “Coba tanya saja pengawas atau guru di situ.” Ya saya tanya yang ada di situ, guru-guru yang ada di situ. Lalu saya ketemu pengawas dari SD di sekolah di situ. Lalu saya tanya, “Kalau saya mau pelayanan ke sekolah SD di Makalehi itu bagaimana? Atau siswa-siswa, entah ada SMP, saya nggak tahu, SMA di sana?”, “Oh, tapi itu jauh lho pak. Nyeberangnya itu nggak mudah.” Itu nyeberang, laut Saudara sekalian. Jadi bukan sungai, tapi benar-benar itu pulau yang ke atas ya, ke arah Filipina atau ke arah atas, ke laut atas Saudara sekalian.

Lalu dikatakan, itu nggak setiap hari orang bisa nyeberang, harus dilihat cuacanya bagaimana. Lalu ditanya, yang nelayannya berani atau nggak. Kalau ini nelayannya bukan mendayung ya, tapi pakai motor, pakai mesin. Lalu akhirnya ya sudah, kita coba besok, tapi belum tahu bagaimana. Coba kita besok. Akhirnya guru ini juga mau menemani, dia bilang kita bagi saja biaya transportnya karena cukup mahal. Sekali bolak-balik itu saja bisa hampir 600 ribu, sekitar segitu. Lalu wah, uang juga terbatas, di daerah itu nggak banyak ATM. Akhirnya saya pergi. Besoknya pagi-pagi, lihat cuaca, oh ok, bisa pergi. Kami pergi dengan satu orang yang membawa perahu pakai motor. Jadi bertiga. Perahunya itu kecil, bukan yang ada atapnya. Jadi goyang-goyang perahunya. Lalu nyeberangnya itu kira-kira 45 menit Saudara sekalian.

Saya nyeberang begitu, awal nya nggak apa-apa. Lalu sudah di tengah-tengah, wah daratan yang sana semakin jauh, di sana jauh, seperti di tengah-tengah lautan. Saya begitu rasanya seperti kecil sekali. Saya lihat laut begitu biru, awan begitu indah. Saya kagum kepada Tuhan. Saya sampai mikir, “Ya Tuhan, terima kasih saya ada kesempatan kayak gini, bisa lihat ini.” Tapi ada lagi. Tiba-tiba, kan kita lihat lurus ke depan ya, nggak ada atap, jadi kita itu berjemur, saya juga nggak bawa topi apa begitu ya, itu kesalahannya. Jadi waktu lalu saya lebih gelap dari sekarang. Itu tiba-tiba di kiri, kanan itu ada yang gerak. Saya, ini percikan air atau apa, saya lihat. Saya rekam pakai HP saya. Ternyata ikan terbang! Ikan kecil, terbang. Psst, pst, pssst. Saya lihat, wow, kebiru-biruan. Entah itu pantulan dari laut, dari langit, saya nggak tahu. Berkilau begitu indah. Ini saya merinding lho cerita ini. Begitu indah, saya sampai, “Ya Tuhan, indah banget ya ciptaan Tuhan.” Indah banget Saudara sekalian. Saya kira kalau orang nggak bisa melihat itu ada Tuhan mencipta itu aneh banget. Ada Tuhan yang mencipta. Sampai ke seberang dengan penuh syukur. 45 menit duduk, nggak bisa gerak, capek tapi punya kekuatan, kesegaran, semangat. Keindahan itu menyegarkan, memberikan semangat. Keindahan Tuhan dipancarkan Tuhan.

Yang kedua Saudara sekalian, di mana kita bisa melihat keindahan Tuhan? Melalui Tuhan Yesus Kristus. Saudara sekalian, pemazmur 27 mungkin melihatnya samar-samar, nggak terlalu jelas. Tapi Saudara sekalian, kita bisa melihat di Mzm. 27:4 dikatakan, “diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati bait-Nya.” Di dalam ketika kita melihat Bait Allah, inti dari Bait Allah itu adalah Tabut Perjanjian. Dan Tabut Perjanjian itu tentang apa? Perjanjian penebusan dari Kristus, di dalam Kristus. Saudara sekalian, tentang penebusan Kristus. Kita bisa melihat di dalam Yoh. 1:14, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya.” Bukan belum! Telah melihat kemuliaan-Nya. Di dalam Ibr. 1:3, Yesus adalah “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah”. Kol. 2:9: “Keindahan kemuliaan-Nya kepada manusia berdosa. Dalam Dia lah secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan”, Saudara sekalian. Tetapi 2 Kor. 4:4, “Kita dibutakan oleh ilah zaman sehingga kita tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambar Allah.” Dosa yang membutakan kita sehingga kita tidak mengagumi Kristus, sehingga kita hanya melihat Kristus sebagai di dalam berguna saja, dan sehingga kita menggantikan Kristus dengan kristus yang lain, dengan ilah yang lain, karena dosa. Kemuliaan Allah nampak pada wajah Kristus, di dalam 2 Kor. 4:6.

Saudara sekalian ingat satu lagu yang ditulis oleh Charles Wesley? “Hark the Herald Angels Sing”? “Dengarlah Malak Menyanyi”? Di bait kedua –bahasa Indonesia nggak terlalu jelas– di bait kedua, “Christ, by highest heav’n adored, Christ, the everlasting Lord: Late in time behold Him come, Offspring of the favor one. Veiled in flesh the Godhead see, Hail th’ incarnate Deity!”. Veiled in flesh, terselubung dalam daging. The Godhead see, keilahian dipertunjukkan, diperlihatkan. Bukan Veiled in flesh, terselubung dalam daging, The Godhead hidden, keilahian tersembunyi. Bukan! “Godhead see” Saudara sekalian. Charles Wesley ini memikir – ini paradoks, Saudara sekalian – mengapa kita dapat menyaksikan keindahan Allah kemuliaan Allah melalui Kristus? Karena di dalam Mzm. 27:9–10,12 pemazmur katakan: “Jangan kau menyembunyikan wajahmu Tuhan kepadaku. Ayah ibu meninggalkanku!” Saudara sekalian. “Jangan menyerahkanku kepada musuh-musuh.” Siapa yang mengalami ini semua? Yesus Kristus! Ditinggalkan murid-murid-Nya, ditinggalkan orang-orang dekat Dia yang Dia katakan sahabat, Saudara sekalian. Diserahkan kepada musuhnya. Dia di dalam Yes. 53:2–5 dikatakan “Ia tidak tampan.. ” di dalam “..dan semaraknya pun tidak ada.” Kalau di dalam bahasa Inggrisnya “No form of majesty. No beauty”, Saudara sekalian.Mengapa Dia menanggung itu? Dia menjadi jelek, menjadi buruk rupa-Nya demi kita? Supaya kita bisa melihat kemuliaan-Nya di dalam Yesus yang disalib!

Saudara sekalian, George Bernard di dalam lagu “The Old Rugged Cross”, “Di bukit Golgota”. Di bait kedua: “Oh, that old rugged cross, so despised by the world, Has a wondrous attraction for me”. “Wondrous attraction for me.” Dalam Indonesianya, “Meski manusia menghina salib-Nya namun bagiku lambang mulia”, Saudara sekalian. Kemuliaan Allah dinyatakan di salib. Kagum kah kita pada Kristus? Sudahkah kita menyaksikan kemuliaan Allah di dalam Kristus?

Saudara sekalian, di dalam kisah “Chariots of Fire”, film yang mengisahkan tentang Eric Liddel dan Harold Abraham. Seorang Kristen, Eric Liddle dan Abraham, sama-sama berjuang untuk di dalam Olimpiade Paris 1924, Saudara sekalian. Mereka berjuang untuk mendapatkan gold, untuk mendapatkan emas, untuk mendapatkan penghargaan yang terbaik, Saudara sekalian. Eric Liddle itu seharusnya ahli dalam 100 meter dan sungguh-sungguh diproyeksikan akan menang. Tetapi karena itu hari Minggu pertandingannya, dia menolak bertanding sampai seluruh pemerintah itu heboh. Lalu pemerintah Inggris itu mau ingin untuk diganti harinya. Nggak bisa karena ini sudah direncanakan. Dia nggak ikut lalu digantikan sama temannya. semua orang protes. Tapi di dalam pertandingan 100 meter hari Minggu itu, Eric Liddle datang beribadah kepada Tuhan. Saudara sekalian, akhirnya dia dapat yang 400 meter. Lalu kemudian dia menang, Saudara sekalian. Tapi, Saudara sekalian, itu hanya sebagian kisah.

Sekarang saya mau ngajak kita melihat apa visi mereka? Sama-sama orang Yahudi. Orang Kristen. Harold Abraham mengatakan ketika ditanya, “Apa sih yang mendorong kamu?” “Saya punya waktu 10 detik untuk membuktikan diri saya. Saya menjadi orang yang hebat. Pembuktian diri.” Liddel menyampaikan kepada saudaranya, saudarinya yang perempuan, Saudara sekalian, dia mengatakan, “Tuhan membuat aku cepat dan ketika aku berlari, aku menikmati kemuliaan-Nya.” Dia berlari bukan karena untuk menang. Dia berlari untuk menikmati kemuliaan Tuhan. “God made me fast and when I run, I feel His pleasure”, Saudara sekalian. Apa yang mendorong kita?

Saudara sekalian, Daud – penggembala, raja, punya harta, punya kuasa, seorang suami juga, orang yang beriman – menginginkan menyaksikan Allah dan menikmati bait-Nya. Menyaksikan keindahan Allah dan menikmati bait-Nya. Maria – saudaranya Marta, seorang perempuan, kaum marginal, pinggiran, ekonomi rendah, orang beriman juga – memilih Kristus, memilih bagian yang tidak bisa diambil dari padanya. Paulus –pemimpin agama, orang yang beriman, pengajar, Saudara sekalian – yang dia inginkan mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Fanny Crosby – seorang yang kesulitan di dalam melihat, orang yang miskin, seorang istri, seorang penulis lagu – ketika ada orang berkata kepada dia, “Saya pikir sayang sekali, ya. Tuhan memberikan kau bakat begitu besar tapi tidak memberikan mata yang melihat.” Fanny Crosby mengatakan, “Tahukah kamu? Jika aku lahir dan aku ditanya Tuhan, “Apa yang engkau paling inginkan?”” Dia mengatakan, “Aku ingin ketika mataku melihat, aku melihat wajah Sang Juruselamatku.”

Saudara sekalian, satu hal telah kuminta kepada Tuhan. Hanya inilah yang kukejar, yang kutuntut: diam di Rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan keindahan Tuhan, dan menikmati bait-Nya. Apa yang menjadi visi hidup kita? Mari kita membaca slide yang –tolong ditayangkan – kiranya ini menjadi visi hidup kita. Mari kita membaca bersama-sama, “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, hanya inilah kudambakan: tinggal di Rumah Tuhan,  seumur hidupku, menyaksikan keindahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.” Mari kita berdoa.

Bapa di surga kami bersyukur, ya Tuhan atas belas kasihan Tuhan. Kami yang berdosa, yang sering menggantikan Allah, yang menggantikan kemuliaan, keindahan Tuhan dengan hal-hal yang fana, dengan diri kami, dengan bahkan pemberian Tuhan. Tetapi karena Engkau mengasihi kami, Engkau menebus kami di dalam Kristus supaya kami dapat menyaksikan keindahan-Mu, ya Tuhan: kagum kepada Engkau, menjalani hari penuh syukur penuh bersandar kepada Tuhan dengan iman yang terus bertumbuh di dalam Kristus, berharap akan penyertaan-Mu, hadirat-Mu sungguh nyata di dalam setiap hal yang kami kerjakan. Ampuni kami, ya Tuhan. Dan kiranya Engkau menolong kami untuk menyaksikan keindahan-Mu, lebih mulia, lebih kagum lagi, lebih menyembah Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.