Kesuksesan Orang Kristen, 19 Januari 2025

Kesuksesan Orang Kristen

Yos. 1:1-9

Pdt. Dawis Waiman, M. Th

1.16.43 – 1.23.28

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kitab Yos. 1 ini adalah satu kitab yang mendahului pelayanan yang Yosua lakukan di dalam kehidupannya. Dan pada waktu Yosua akan melayani, ada satu peristiwa besar yang terjadi di antara orang-orang Israel. Bukan hanya penunjukkan Yosua sebagai seorang pemimpin yang akan membawa Israel masuk ke dalam perjanjian, tetapi juga Musa, yang menjadi pemimpin utama orang-orang Israel pada waktu itu, dikatakan telah mati. Orang yang begitu besar, orang yang begitu penting di dalam kalangan orang-orang Israel, saat itu sudah tidak ada lagi di tengah-tengah dunia ini.

Alkitab melihat Musa adalah orang yang begitu besar. Dan bahkan kalau mungkin kita mau bandingkan antara Musa dengan Yosua, kita bisa katakan Musa adalah orang yang jauh lebih besar daripada Yosua. Dari mana kita bisa mengerti hal ini? Tentunya kalau kita mau bicara mengenai siapa Musa dan siapa Yosua, dari identitas ini saja, dari apa yang dikerjakan, kita bisa katakan Musa sudah memimpin orang Israel selama 40 tahun dalam kehidupannya. Musa sudah melakukan hal-hal besar di tengah-tengah orang Israel selama 40 tahun itu. Tetapi kalau kita bicara mengenai Yosua, apa peran Yosua di dalam dunia ini? Apa peran Yosua di dalam kehidupan dari orang-orang Israel? Mungkin kita cuma bisa berkata Yosua adalah abdinya Musa dan Yosua adalah seorang yang mungkin menjadi panglima perang bangsa Israel. Pada waktu Israel harus menghadapi Amalek, pada waktu itu Musa memang berdiri sebagai seorang yang berdoa, imam yang berdoa di hadapan Tuhan bagi kemenangan orang-orang Israel, tetapi Yosua bersama dengan prajurit Israel maju di depan untuk memerangi orang-orang Amalek tersebut.

Jadi kalau kita berbicara mengenai adakah jasa Yosua? Tentunya kita akan berkata ada! Tetapi kalau dikomparasi dengan Musa sendiri, itu seperti langit dan bumi jauhnya, kualitasnya mungkin. Itu sebabnya kalau kita baca di dalam kitab Yosua, maka ada satu jabatan atau satu gelar yang diberikan kepada Musa, yang juga nantinya diberikan kepada Yosua. Tetapi kalau Bapak, Ibu lihat sendiri, dan menghitung sendiri, jumlah dari gelar itu yang diberikan kepada Musa dan diberikan kepada Yosua ada perbedaan yang besar sekali di dalam jumlah. Gelar itu adalah “hamba-Ku, Musa”. Dan pada waktu kita membaca kitab ini, berapa kali Tuhan menyebut Musa itu sebagai “hamba-Ku”? Ada 12 kali. Tetapi kalau Yosua bagaimana? Selama Bapak, Ibu baca Yosua dari pasal 1 sampai dengan pasal yang ke-24, istilah “hamba-Ku” yang disandingkan kepada Yosua itu hanya muncul 1 kali saja. Dan satu kali itu bukan di awal pelayanan dari Yosua tapi satu kali itu adalah di akhir daripada pelayanan Yosua.

Bapak, Ibu bisa buka Yos. 24 dan Bapak, Ibu bisa menemukan ada satu kata yang muncul bahwa Yosua adalah “hamba Tuhan”. Saya nggak akan ngomong di mana ayatnya, nanti cari sendiri ya di bagian itu. Saya sendiri tahu ayatnya di mana cuma saya nggak mau bicarakan di sini. Cuma satu kali itu saja Yosua adalah “hamba-Ku”, Musa adalah “hamba-Ku”. Musa adalah orang yang dibandingkan dengan Yosua, kalau kita mau bicara dari 12 kali itu, mungkin kita bisa katakan Musa jauh 12 kali lebih hebat daripada Yosua. Mungkin ini terlalu literal, seperti itu, tetapi saya mau bicara Musa adalah orang yang begitu penting sekali.

Tetapi kalau kita tanya lagi, apa yang membuat Musa ini menjadi orang yang begitu penting sekali di kalangan orang-orang Israel? Maka Bapak, Ibu mungkin bisa berkata, “Ya, dia adalah orang yang pernah membawa Israel keluar dari perbudakan di Mesir, menyeberangi Laut Merah” seperti itu. Lalu selama perjalanan itu, Tuhan melalu Musa mengadakan begitu banyak mujizat di tengah-tengah orang Israel. Air yang pahit menjadi air yang manis. Kekeringan menjadi tempat di mana sumber air itu begitu melimpah di kalangan orang-orang Israel. Tempat yang tidak ada tanaman dan tumbuhan untuk bisa mendapatkan makanan, di situ manna bisa diturunkan dari langit. Lalu ketika mereka menginginkan daging dan di padang gurun itu tidak ada daging, melalui Musa Tuhan mengirimkan daging kepada orang-orang Israel. Dan selama perjalanan 40 tahun itu, orang-orang Israel menyadari satu hal, bahwa pemeliharaan Tuhan begitu luar biasa di dalam kehidupan mereka. Dari mana? Ada satu ayat di dalam kitab Taurat yang mengatakan bahwa, “selama 40 tahun itu, kasut kita, pakaian kita itu tidak rusak sama sekali.”

Jadi apa yang menjadi kebesaran Musa? Atau betulkah Musa adalah seorang yang sangat besar? Benar sekali. Karena melalui Musa, Tuhan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang besar di kalangan orang-orang Israel, umat Allah. Tapi kalau Bapak, Ibu menanyakan kepada orang-orang Yahudi sendiri, orang-orang Israel, “Apa yang membuat kalian mengatakan Musa adalah orang yang begitu besar sekali?” Ada kemungkinan mereka berkata, “Bukan karena mujizat yang dilakukan oleh Musa, bukan karena Musa bisa membelah Laut Merah lalu menyeberangi Laut Merah itu.” Lalu apa? Musa adalah satu tokoh yang dianggap besar karena dia telah menerima Torah dari Tuhan sendiri, atau Taurat dari Tuhan. Hukum-hukum Tuhan, itu yang membuat Musa menjadi orang yang begitu penting sekali di kalangan orang-orang Yahudi.

Saya percaya satu istilah yang berkaitan dengan hamba Tuhan di situ, “hamba-Ku” itu adalah satu istilah yang tidak lepas dari Torah sendiri. Karena apa? Ketika kita berbicara mengenai tuan dan hamba, maka satu tugas yang dilakukan oleh seorang hamba itu adalah menaati perkataan dari tuannya, melakukan perkataan yang diinginkan oleh tuannya, melayani tuannya seumur hidup di dalam kehidupannya. Itu sebabnya, pada waktu kita berbicara mengenai Musa, apakah dia adalah orang yang hebat? Betul. Kenapa dia begitu hebat? Karena dia adalah orang yang menerima Torah dan mengajarkan Torah itu di dalam kehidupan orang-orang Israel. Tetapi juga ada satu kalimat dari Tuhan yang mengatakan, “Dia adalah hamba-Ku yang setia di dalam segenap rumah-Ku.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya lihat ini adalah poin yang penting, ya. Pada waktu kita berbicara mengenai kita melayani Tuhan, satu sisi memang ada gelar-gelar lain yang Tuhan berikan kepada kita. Siapa orang Kristen? Umat Allah. Kalau di dalam zaman dulu itu adalah hamba Tuhan atau umat Tuhan, tapi di dalam Perjanjian Baru, kita melihat, kita adalah anak-anak Tuhan. Kita memiliki gelar yang lebih tinggi. Walaupun orang-orang Israel di dalam Perjanjian Lama mungkin ada disebut juga anak-anak Allah di situ, tetapi kita memiliki satu kepastian di dalam Kristus, kita betul-betul adalah anak Allah karena ada Kristus yang telah menebus kehidupan kita. Bukan hanya sampai di situ, tetapi kita juga disebut sebagai sahabat dari Yesus Kristus sendiri. Tapi, pada waktu kita bicara mengenai gelar yang begitu baik, “anak Allah”, “sahabat dari Allah”, kita sering kali mungkin, kalau kita tidak sandingkan dengan “hamba Tuhan,” kita akan merasa besar kepala. Kita akan merasa kita adalah anak Allah. Kita adalah orang yang dikasihi oleh Allah. Kita memiliki status yang begitu tinggi sekali. Karena itu, apa yang kita lakukan? Kita hanya fokus kepada diri kita yang adalah pribadi yang dikasihi oleh Tuhan, diri kita yang memiliki kedudukan yang begitu tinggi sekali di dalam Yesus Kristus, tapi kita lupa apa yang menjadi tanggung jawab kita; Apa yang menjadi kewajiban kita ketika Tuhan menebus diri kita.

Saya lihat, ketika Yosua mengatakan atau Tuhan memberitahu kepada kita, “Musa adalah hamba-Ku.” Lalu, kenapa ini menjadi unsur yang penting? Di mana letak signifikansi daripada perkataan ini? Yaitu di dalam kalimat ayat yang ke-8. Ketika Tuhan berbicara kepada Yosua, “Engkau harus taat kepada kitab Taurat. Engkau harus merenungkan itu siang dan malam. Engkau harus bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan menjadi berhasil dan engkau akan beruntung.” Itu menjadi satu kunci yang penting. Selain dari status yang begitu tinggi, jangan lupa, kita juga adalah hamba dan keberadaan kita sebagai hamba yang setia, hamba yang baik di dalam segenap rumah Tuhan itu didasarkan pada apa? Ketaatan kita kepada segenap dari perkataan yang Tuhan katakan kepada diri kita.

Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Musa orang yang besar, nggak? Besar sekali. Dia adalah orang yang seperti apa? Dia adalah orang yang setia di dalam segenap rumah Tuhan. Tetapi, kalau Bapak, Ibu mau tarik lebih jauh sedikit, maka kita bisa lihat, Torah yang Tuhan berikan kepada Musa dibandingkan dari seluruh dari Kitab Suci, maka tidak ada satu pun Kitab Suci dari Yosua sampai Wahyu yang tidak mengungkapkan hukum yang ada di dalam kitab Musa. Kitab Musa menjadi dasar atau menjadi fondasi untuk mereka kemudian menyatakan wahyu Tuhan yang lain atau prinsip firman Tuhan yang diajarkan kepada orang-orang Israel. Ada satu konsistensi. Ada kesinambungan di dalam seluruh Kitab Suci kita mulai dari Kejadian sampai kepada kitab Wahyu.

Ini adalah hal yang penting sekali, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan karena ketika kita berbicara mengenai pengertian kita akan firman, ketaatan kita kepada perkataan Tuhan, maka hal yang paling utama adalah ketika kita ingin menaati Tuhan dengan segenap hati, dengan sepenuh jiwa kita, maka kita tidak boleh ada satu kontradiksi dalam pengertian kita akan firman yang membuat kita lebih memilih yang satu, mengabaikan yang lain dalam kehidupan kita. Mengutamakan apa yang kita cocok dengannya, tapi kita mengesampingkan apa yang kita anggap kurang penting atau tidak sesuai dengan prinsip saya atau tidak sesuai dengan apa yang saya sukai dalam kehidupan saya. Itu bukan pelayanan.

Makanya, pada waktu kita berbicara mengenai Musa, Musa adalah orang yang penting, tidak? Penting. Orang yang besar, tidak? Orang yang besar sekali. Yosua, siapa? Yosua adalah hambanya, abdinya. Orang yang penting, tidak? Penting juga. Pentingnya di mana? Dia adalah orang yang menjadi penerus Musa. Dia adalah orang yang Tuhan percayakan untuk menjadi pemimpin orang Israel. Dia adalah orang yang Tuhan persiapkan untuk menjadi pemimpin Israel. Dia adalah salah satu dari 2 orang yang memiliki iman ketika berhadapan dengan orang-orang yang ada di Kanaan dan orang-orang yang menjadi para pengintai. Mereka berdua berdiri di hadapan seluruh umat Israel dan berkata: “Tuhan pasti menyerahkan tanah perjanjian untuk menjadi milik kita,” Walaupun tanah perjanjian dikatakan penuh dengan orang-orang yang raksasa, orang-orang yang besar, orang-orang yang menjadi prajurit-prajurit yang hebat yang ditakuti oleh orang-orang Israel.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ada peran masing-masing; ada posisi masing-masing; ada pengakuan terhadap diri masing-masing, tetapi ketika kita membandingkan kembali Musa dan Yosua, tetap ada perbedaan seperti langit dan bumi. Kalau Bapak, Ibu mau bandingkan, mungkin seperti ini, ya. Di dalam zaman kita, banyak orang bertanya, “Pak Tong sekarang sudah tua. Kalau Pdt. Stephen Tong sudah tua, siapa yang akan melanjutkan pekerjaan Tuhan melalui GRII ini?” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika kita mendengar kalimat itu, kenapa kalimat itu bisa muncul? Karena kita melihat – saya bukan merendahkan hamba Tuhan yang lain. Mungkin dari antara semua hamba Tuhan yang lain, saya yang paling lemah; saya yang paling kecil; saya yang paling tidak berarti seperti itu-banyak orang yang besar di antara kita, banyak orang memiliki pengetahuan teologi yang begitu baik, banyak orang memiliki pelayanan yang begitu luar biasa sekali di dalam gerakan kita ini, tapi pada waktu kita melihat pelayanan dari Pdt. Stephen Tong dibandingkan dengan hamba-hamba Tuhan yang ada di dalam GRII yang sudah dipersiapkan juga untuk meneruskan, kenapa kalimat itu masih muncul? Kenapa kita masih bertanya bahwa siapa yang akan menjadi penerus dari gerakan ini? Bagaimana nasib daripada gereja Reformed Injili paska dari Pdt. Stephen Tong? Mungkin karena satu sisi kita tahu bahwa Pdt. Stephen Tong adalah orang yang memiliki talenta yang begitu luar biasa, begitu besar sekali, tetapi hamba-hamba Tuhan yang lain, mungkin ada talenta tapi tidak sebanyak Pdt. Stephen Tong. Perlu digabungkan beberapa orang untuk bisa menandingi levelnya Pdt. Stephen Tong, tetapi itu pun masih jauh sekali. Dan kita berpikir bahwa ini membuat hari depan dari GRII itu seperti apa.

Saya percaya pada waktu itu orang-orang Israel juga bertanya, “Sekarang Musa sudah tidak ada lagi, ada Yosua sih, orang yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan, orang yang sudah dipersiapkan oleh Musa sendiri, dia akan memimpin kita”, tapi mereka akan tanya siapa sih Yosua? Saya percaya kenapa Alkitab mengulangi istilah “hanya kuatkan dan teguhkanlah hatimu sebanyak tiga kali” itu mau menunjukkan bahwa tugas Yosua tidaklah mudah, tugas Yosua adalah berat sekali. Beratnya di mana? Bukan hanya akan melawan bangsa Kanaan, tapi dia akan menjadi wakil Tuhan menggantikan Musa untuk memimpin orang Israel. Lalu Israel itu siapa? Apakah mereka adalah umat Allah yang setia dan taat kepada Tuhan? Alkitab berkata mereka adalah umat yang tegar tengkuk dan seringkali mempertanyakan otoritas dari pemimpinnya.

Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya kira apa yang menjadi tanggung jawab Yosua itu bukan sesuatu yang mudah, apalagi Yosua walaupun sudah ada pengalaman, pengalamannya tidak sebesar dari Musa. Kenapa bukan Musa sendiri yang memimpin masuk? Kenapa harus Yosua yang memimpin masuk? Saya percaya ini ada di dalam kehendak Tuhan walaupun Alkitab mencatat bahwa Musa tidak bisa masuk ke dalam tanah perjanjian karena dia melakukan dosa. Lalu dosa apa yang Musa lakukan? Dia memukul batu karang untuk mengeluarkan air sebanyak dua kali padahal pada waktu itu Tuhan berkata kepada Musa “Musa katakan kepada batu karang itu, keluarkan air dari batu karang itu.” Tetapi karena geramnya Musa kepada orang Israel yang tidak pernah belajar untuk beriman kepada Tuhan, untuk memanggil Tuhan dalam hidupnya, akhirnya dia jalan ke batu karang itu, dia ambil tongkatnya dan pukul batu karang itu dua kali. Air keluar nggak? Keluar, seperti sebelumnya mungkin. Tetapi Alkitab mencatat Musa sudah berdosa di hadapan Tuhan dan Musa tidak boleh masuk ke dalam tanah perjanjian.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ada orang yang tahu tidak Musa berdosa? Saya yakin kalau Musa tidak tulis itu di dalam kitabnya, nggak ada satu orang pun yang tahu, betul kan? Dia bisa aja sembunyikan itu di dalam hatinya, dia makan sendiri, dia minta pengampunan dari Tuhan dan tidak ada seorang pun yang tau. Tapi kenapa Tuhan harus meminta Musa mencatat dia sudah berdosa di situ? Saya percaya ini mau menunjukkan bahwa Tuhan kita bukan Tuhan yang bisa dimanipulatif, Tuhan kita bukan Tuhan bisa dibohongi, Tuhan kita adalah Tuhan yang mengerti isi hati orang, Tuhan kita adalah Tuhan yang bukan hanya melihat ketaatan kita di luar, tapi apa yang ada di dalam hati kita yang membuat kita melakukan sesuatu dalam hidup kita, Tuhan bukan hanya melihat kita mentaati dia betul-betul setia di luar tapi dia tahu hati kita memberontak terhadap Dia dan terpaksa melakukan sesuatu atau tidak.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan,Tuhan bukan manusia, Tuhan bukan melihat seperti manusia melihat, tetapi Tuhan melihat jauh daripada apa yang dilihat oleh manusia dan Tuhan tidak bisa dibohongi sama sekali. Jadi, itu sebabnya Musa harus mencatat itu seperti halnya Daud yang harus mencatat dia telah membunuh Uria, merebut istri orang lain dan itu adalah menyatakan bahwa sebenarnya dosa manusia tidak pernah dilupakan di hadapan Tuhan. Dosa manusia selalu diingat oleh Tuhan. Lalu apa yang bisa membuat kita bisa diperdamaikan di hadapan Tuhan? Itu sebabnya Alkitab berkata kalau Tuhan mengingat, bahkan 1000 tahun sama seperti satu hari dan ingatan Tuhan tidak pernah hilang dan lupa atau berkurang seperti itu. Maka satu-satunya solusi bukan bagaimana kita bisa menghapus dosa kita dan perbuatan kita, tetapi satu-satunya solusi adalah kita ada di dalam Kristus atau tidak yang menghapus dosa kita karena Tuhan tidak mengabaikan dosa, dilihat dari apa? Ada kayu salib di mana Yesus Kristus harus menanggung dosa kita. Jadi, bukan Tuhan melupakan dalam pengertian Tuhan hapus, tapi Tuhan melupakan dalam pengertian ada Pribadi yang lain yang menanggung dosa kita supaya kita tidak perlu menanggung dosa yang kita lakukan di dalam kehidupan kita.

Saya balik ke sini ya, jadi pada waktu Musa ingin masuk ke situ, kenapa dia tidak boleh? Dia berdosa dihadapan Tuhan. Lalu ketika dia berdosa dihadapan Tuhan, apakah itu menjadi penyebab dia tidak boleh masuk? Betul ada tanggung jawab yang Musa harus pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Tetapi kalau itu menjadi suatu kebenaran, kenapa saya tadi katakan di atas bawah ada kehendak dan maksud Tuhan juga. Sebabnya adalah karena pada waktu Musa berdosa, satu sisi itu menjadi perbuatan Musa melawan Tuhan, tetapi di sisi lain Tuhan ingin mendidik umat Israel untuk mengerti kesuksesan, keberhasilan di dalam satu usaha atau satu pekerjaan yang kita lakukan, itu bukan terletak pada kehebatan pribadi orang yang memimpin, tetapi pada Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita bicara misalnya kapabilitas dari Yosua untuk memimpin mungkin kita akan ngomong dia adalah orang yang terlatih begitu hebat sekali. Tetapi kenapa ketika dia sudah dilatih begitu hebat, dia bisa gagal melawan Ai, kota yang begitu kecil sekali. Karena di balik dari peristiwa itu ada satu dosa yang dilakukan oleh Akhan umat Israel, tetapi di dalam di balik dari peristiwa itu mereka juga merasa bahwa mereka mampu tanpa melibatkan Tuhan sama sekali di dalam usaha penaklukan itu, dan ini membuat kita bisa melihat kenapa Musa tidak boleh masuk? Kenapa Yosua yang menjadi pemimpin yang melanjutkan otoritas Musa itu memimpin Israel bisa gagal di dalam kehidupanya. Tujuannya adalah supaya Israel belajar tadi, ketika kita melihat pada kehidupan, kita mengerti satu hal, yang penting itu adalah bukan pribadi siapa yang memimpin, yang penting itu bukan kemampuan orang itu, keahlian dari orang itu, bijaksana dari orang itu, strategi yang dimiliki oleh orang itu untuk memimpin. Tetapi yang penting adalah siapa yang ada dibalik dari pribadi itu, itu yang lebih utama yaitu Tuhan sendiri.

Nah ini yang membuat saya percaya Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika ada orang yang bertanya seperti ini “Bagaimana nasib dari GRII paska Pdt. Stephen Tong?” Kenapa kita bisa bertanya seperti itu? Karena satu sisi mungkin kita akan berkata ada kualitas yang begitu besar sekali antara Pdt. Stephen Tong dengan orang yang ada di bawahnya, tapi di sisi lain mungkin mata kita bukan melihat kepada Tuhan, tapi mata kita melihat kepada siapa orang itu, kualifikasi nya seperti apa, seolah-olah kualifikasi dari orang itu, pengalaman dia, pengetahuan dia, bijaksana dia, pengaruh yang dia miliki, itu yang menentukan kesuksesan di dalam hidup dia atau kesuksesan dan jalannya dari gereja ini ke depannya.

Di dalam dunia bisnis, dulu saya pernah ngomong ya, saya pernah baca satu buku tentang kesuksesan dan di dalam buku itu bicara kalau kita ingin sukses caranya bagaimana? Gunakan prinsip ATM, maksud ATM itu apa? Maksudnya adalah “amati, tiru dan modifikasi”. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apakah itu yang menjadi jaminan kesuksesan? Saya kok percaya tidak ya, karena ketika saya ke Palembang bulan lalu ada satu hal yang terjadi yang cukup menarik. Pengurus yang jemput saya bertanya kepada saya “Pak, ini kan sudah jam makan malam. Bapak pengen makan apa?” Saya belum makan juga waktu itu. Saya ngomong “Saya suka kwetiau. Dulu setahu saya di Jl. Basuki Rahmat di kota Palembang ada satu kwetiau yang enak sekali. Saya kalau bisa selalu pergi ke situ untuk makan kwetiau itu. Tempatnya ada di pinggir jalan. Masih ada nggak?”, “Saya kurang tahu ya yang dimaksud Bapak itu kwetiaunya sama atau tidak. Tetapi di Basuki Rahmat memang ada kwetiau yang enak” dia bilang. “Bapak mau cari kwetiau yang seperti apa?” Saya ngomong, “Bukan yang tipis-tipis dari beras itu, tetapi yang tebel-tebel itu ya.”, “ Oh ya, ya, kwetiaunya kaya gitu.” Lalu dia bawa saya ke situ. Setiba di tempat itu kami masuk lalu dia keluar dari mobil, saya keluar dari mobil kayak gitu, lalu saya perhatiin dia, di berdiri di depan rumah makan itu, lalu dia melihat ke kanan, dia lihat ke kiri, dia melihat ke kanan, dia lihat ke kiri karena di situ ada dua restoran kwetiau. Cuma dua itu yang ada di depan mata dia. Lalu ketika dia lihat kanan, lihat kiri, yang kanan sepi, yang kiri ramai, lalu dia tanya ke saya “Pak, Bapak mau yang mana? Yang kanan atau yang kiri?”, Saya ngomong “Gimana tahunya? Tapi saya mau tanya rasanya gimana? Yang kanan itu enak nggak? Atau yang kiri lebih enak dari yang kanan?” Dia ngomong kayak gini “Sama aja sebenarnya, saya kalau sendirian biasanya makan yang kanan walaupun sepi. Jadi bapak mau yang mana?” Saya ngomong “Ya sudah kali ini kita ambil kiri dulu ya.” kita makan di situ. Tapi saya nggak pernah tahu rasa yang kanan itu seperti apa, cuma saya dengar dari dia bahwa yang kanan itu juga nggak kalah enak.

Nah pertanyaannya gini, dua tempat kwetiau di tempat yang sama, kenapa yang satu ramai, yang satu sepi? Apakah karena strateginya kurang? Tempatnya sama kok. Apakah karena kualitas makanannya beda? Dia bilang sama kok. Lalu apa yang membedakan? Amati nya sama, tirunya sama, modifnya mungkin saya liat dua-duanya nggak terlalu friendly kok, dua-duanya diem aja nggak manggil “Ayo kemari masuk ke sini untuk makan” seperti itu. Nggak ada. Dua-duanya duduk aja, cuma kita lihat mereka, mereka lihatin kita, pikir kita mau pergi yang ke mana kayak gitu. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kenapa yang satu sepi, yang satu rame? Kalau kita tanya orang-orang yang di luar Kristen mungkin katanya ada pelaris dan yang lain-lain kayak gitu. Maafkan saya ngomong gini ya, orang Kristen ketika mulai usaha dan berdoa, itu penglaris bukan? Saya kira itu juga bagian dari penglaris. Kayak orang dunia berdoa kepada allah mereka untuk memberkati mereka. Tapi nggak usah gunakan istilah itulah, ya.

Cuma yang saya mau katakan kayak gini, pada waktu kita melihat konsep dunia. Pelajari yang masa lalu, kalau masa lalu itu baik, kita kembangkan lebih baik lagi. Kalau ada progres yang baik, berarti ke depan mungkin ada progres yang baik dalam usaha kita. Apa yang kita kerjakan seperti itu. Tapi Bapak Ibu Saudara yang dikasihi Tuhan, mohon tanya, itu menjadi jaminan tidak? Ada pemimpin yang baik sebelumnya. Kalau ada pemimpin yang lebih baik lagi, apakah itu menjadikan jaminan ke depan sebuah usaha atau sebuah gereja itu menjadi lebih baik? Saya kira bukan itu. Tetapi kembali lagi, Tuhan yang menjadi penyebab. Tuhan yang memberkati. penyertaan Tuhan di dalam satu usaha, itu yang boleh membuat kita yakin sekali bahwa apa yang kita kerjakan itu bisa sukses.

Makanya kalau Bapak Ibu baca di dalam ayat yang ke-9, ketika Tuhan berkata kepada Yosua, “bukankah telah kuperintahkan kepadamu, kuatkan dan tegukanlah hatimu.” Kalimat yang berikutnya adalah, “janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan Allahmu menyertai engkau kemana pun engkau pergi.” Saya lihat ini yang menjadi kunci yang penting dalam kehidupan kita. Sering kali kita berpikir bahwa yang menjadi kunci kesuksesan adalah ketekunan kita, tentu ada bagian itu. Yang menjadi kunci kesuksesan adalah marketing kita, memang ada bagian itu. Kunci kesuksesan adalah bagaimana kita bisa memilih satu tempat dagang yang tidak ada saingannya dalam kehidupan kita, mungkin ada bagian itu. Tetapi Bapak Ibu jangan lupa, kalau tidak ada penyertaan Tuhan di situ, apapun yang kita kerjakan, itu menjadi sesuatu yang sia-sia. Saya kira ini adalah pesan yang penting yang Alkitab katakan kepada diri kita.

Khususnya pada waktu kita masuk ke dalam tahun yang baru ini. Saya nggak tahu Bapak Ibu optimis atau pesimis di dalam tahun ini. Tetapi paling tidak banyak orang berkata dagang tahun lalu itu sulit sekali. Kadang-kadang saya berbicara dengan orang-orang yang saya kenali, bagaimana dagang kali ini? Nggak tahu, pokoknya sepi sekali. Sampai uang tabungan pun tersedot demi untuk bisa menghidupi kehidupan ini. 2025 bagaimana? Nggak tahu. Tetapi Bapak, Ibu boleh yakin satu hal, kalau ada Tuhan yang menyertai di situ, maka kita sebenarnya nggak perlu khawatir dan nggak perlu takut dalam kehidupan kita.

Saya seringkali menggambarkan orang Kristen ketika berjalan dalam dunia, itu seperti bidak catur. Maksudnya kita pegang kepada fatalisme begitu? Bukan. Fatalisme itu maksudnya apa? Saya nggak lakukan apa-apa, saya dijalani oleh Tuhan dalam kehidupan saya. Tuhan mau ke mana? Ya terserah. Kalau Tuhan mau berkati, nggak ada tanggung jawab yang saya lakukan, Tuhan pasti berkati. Bukan seperti itu! Pada waktu kita bicara orang Kristen itu seperti bidak catur dalam kehidupan kita, maksudnya bagaimana? Maksudnya adalah sebenarnya orang bisa punya planning. Orang bisa punya rencana ke depan. Orang bisa punya ambisi di dalam melakukan sesuatu, dan saya percaya harus ada hal itu dalam kehidupan dia. Harus ada planning, harus ada tujuan dalam hidup dia. Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya pakai/gunakan istilah yang dipakai Pdt. Ivan Kristiono ya, “kita harus menjadi orang yang memiliki open system, bukan closed system.” Maksudnya apa open system? Bedanya apa dengan closed system? Closed system itu bicara tentang saya punya planning, pokoknya planning saya harus terjadi, apapun itu yang saya harus hadapi dan tidak ada kemungkinan di luar yang bisa intervensi di dalamnya, untuk mengubah atau merusak dari planning saya. Pokoknya planning saya harus terjadi seperti yang saya inginkan. Dan ketika planning itu tidak terjadi, saya nggak bisa terima. Karena apa? Pokoknya saya sudah rencanakan seperti ini, ini yang baik untuk saya, ini yang membuat saya sukses, maka hal itu harus terjadi.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hidup tidak seperti itu kan? Dalam kehidupan kita banyak hal-hal di luar faktor X yang kita nggak bisa ubah, kita nggak bisa tahu dan akan mempengaruhi kehidupan kita. Dan itu sebabny Pdt. Ivan berkata, pada waktu kita menjalani hidup, jangan pikir bahwa dunia itu milik kita, kita yang menjadi Tuhan atas kehidupan kita sendiri dalam dunia ini.Ingat ada Tuhan di atas kita. Dan kalau kita ingat ada Tuhan di atas kita, itu membuat ketika kita merencanakan sesuatu, kita tidak menjadi Tuhan atas hidup kita sendiri, dan kita tahu ada kontrol yang lain. Dan saya yakin sekali itu akan membuat hidup Bapak, Ibu, Saudara jauh lebih damai dan jauh lebih stabil.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, dan ini seperti bidak catur. Termasuk juga dalam hal meresponi kehidupan ini. Maksudnya bagaimana? Kita punya ambisi, boleh. Misalnya menaklukkan raja. Pokoknya raja harus takluk.Tapi kalau misalnya, andai kata, ketika kita berjalan dengan semua orang yang ada di sekitar kita yang kita pikir bisa menjadi prajurit yang menaklukkan raja itu, lalu terjadi hal yang tidak diduga. Yang satu mengecewakan kita, menipu kita, meninggalkan kita. Yang satu lagi mati. Mau cari orang lain, nggak ada yang bisa menggantikan posisi dia, atau belum ada. Lalu kekuatan kita, mungkin menjadi sakit karena ada persoalan tertentu. Dan apa yang kita rencanakan, strategi yang kita jalankan kok tidak semulus yang kita harapkan, seperti itu. Bapak Ibu Saudara yang dikasihi Tuhan, apa beda closed system sama open system? Closed system akan lupa Tuhan, akan kesampingkan Tuhan, dan mungkin dia akan kejar mati-matian apa yang dia akan capai dan berusaha mengkoreksi segala sesuatu supaya tujuan dia bisa tercapai. Komitmen hidupnya bagi apa yang menjadi ambisi dia. Tetapi kalau open system, dia akan mikir kayak gini, “Aduh kenapa ada orang yang menipu saya ya? Kenapa teman saya rekan saya ini mati ya padahal dia adalah orang yang penting? Kenapa saya yang semula sehat menjadi sakit ya?” Dan yang lain-lain Bapak, Ibu bisa tanya-tanya. Penting nggak saya tahu sebabnya kenapa? Saya kira nggak terlalu penting, tetapi yang penting adalah kita tahu pada waktu kita alami itu ada Tuhan yang menggerakkan kita ke situ. Kita nggak perlu tahu bagaimana jalan kita, punya tujuan boleh pasti, tapi kalau Tuhan belokkan tujuan itu, bagaimana? Saya kira kita sebagai orang percaya, akan, kalau kita punya prinsip terbuka, mengizinkan Tuhan untuk memimpin hidup kita, yang kita lakukan adalah, kita tahu satu hal, saya percaya ada Tuhan, semua yang Tuhan lakukan dalam hidup saya adalah sesuatu yang baik dalam hidup saya dan yang penting adalah ketika saya tahu itu adalah sesuatu yang baik, yang penting adalah bagaimana saya meresponi sebagai seorang hamba Tuhan di tengah-tengah situasi yang saya alami itu. Dan itu akan membawa hidup yang bersyukur. Itu akan membawa satu kehidupan yang ada ketenangan, ada pegangan. Karena kita tahu bahwa bukan kita yang menjadi pengontrol tetapi ada kuasa yang Maha Kuasa yang besar, yang tidak ada musuh yang bisa menaklukkan dan mengalahkan diri Dia. Dan kita ada di dalam kasih karunia dari Pribadi itu.

Saya mau ajak kita melihat satu ayat ya. Kemarin ada saya singgung sedikit di KTB Bapak, Ibu. Silahkah Bapak, Ibu buka di 1 Ptr. 5:10-11. Kita baca kedua ayat ini bersama-sama ya. 1 Petrus 5:10-11, “Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita membaca surat Petrus ini, Petrus berkata bahwa hidup Kristen itu bukan satu pilihan opsional tapi kehidupan Kristen itu akan mengalami penderitaan. Tapi pada waktu orang Kristen mengalami penderitaan, ingat sekali lagi, bukan sesuatu yang kita inginkan. Alkitab tidak pernah mengajarkan orang Kristen harus menginginkan penderitaan, tetapi Alkitab mengajarkan orang Kristen tidak mungkin bisa lepas dari penderitaan dalam hidup mereka. Penderitaan menjadi unsur yang penting dalam kehidupan iman. Karena apa? Pada waktu kita menjadi lemah, jatuh, mengalami kesulitan dalam kehidupan kita, itu menjadi salah satu sarana yang Tuhan pakai untuk membuat kita ingat Tuhan. Kalau kita terlalu lancar, saya yakin, kita mungkin ingat Tuhan tetapi tidak seingat kalau kita ada di dalam penderitaan dan kesulitan.

Makanya Petrus di sini mengatakan, orang Kristen akan mengalami penderitaan seketika. Tetapi orang Kristen ketika masuk ke dalam penderitaan dan kesulitan itu, perlu takut nggak? Perlu kuatir tidak? Mungkin saya pakai istilah itu karena jawabannya adalah tidak. Karena apa? Karena di sini ada kalimat, “Tuhan akan melengkapi, Dia akan meneguhkan, Dia akan menguatkan, Dia akan mengokohkan kita ketika kita menderita seketika lamanya.” Jadi Petrus mau mengatakan, penderitaan akan dialami betul, berapa lama? Nggak tahu. Tapi seketika, sementara kayak gitu. Lalu kita perlu takut tidak? Tidak. Karena apa? Kita boleh yakin satu hal, Tuhan akan berikan kita kekuatan kita untuk melewati penderitaan itu.

Pertanyaannya Bapak, Ibu, Saudara, jaminannya apa?  Apa yang membuat kita bisa begitu yakin kalau kita akan memiliki kekuatan itu? Apa karena Tuhan Mahakuasa? Maka kita bisa diberikan kekuatan untuk melewati penderitaan itu? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, banyak orang Kristen, nggak usah ngomong banyak lah ya, ada orang-orang Kristen yang merasa nggak punya kekuatan akhirnya mereka mengakhiri hidup mereka. Orang-orang dunia ada yang tidak diberi kekuatan untuk itu. Lalu apa yang menjadi jaminan kita memiliki kekuatan itu? Yaitu percaya akan Pribadi Allah yang adalah sumber kasih karunia dalam hidup kita. Itu yang menjadi jaminan. Kasih karunia maksudnya apa? Maksudnya adalah mungkin kita bisa tafsirkan sebagai orang yang percaya kepada Kristus, kita adalah orang yang diberikan kasih karunia oleh Tuhan. Dan ketika Tuhan memberikan kasih karunia itu kepada kita yang percaya kepada Kristus, hal itu bukan didasarkan kelayakan diri kita, kebaikan diri kita, tetapi karena kasih karunia Tuhan. Lalu kalau kita bicara, itu bukan karena kelayakan diri kita, kebaikan diri kita, Tuhan memberikan kasih karunia itu kepada kita, kenapa kita bisa berpegang kepada kasih karunia itu? Dasarnya apa? Berapa lama? Dan pasti nggak kita akan menerima semua yang dijanjikan Tuhan itu? Pasti! Sebabnya karena apa? Karena yang berjanji itu adalah Tuhan yang tidak berubah.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita kalau janji sama orang, bisa kita ubah, bisa kita batalkan. Bukan cuma itu, pribadi kita pun bisa berubah dan tidak bisa dipercayai kadang-kadang, atau orang itu tidak bisa dipercayai. Tapi kalau Tuhan sudah berjanji, Dia tidak akan berubah. Ketika Dia memberikan kasih karunia, maka kita bisa yakin akan satu hal, seluruh hidup kita ada di dalam kasih karunia dari Tuhan kalau kita ada di dalam Yesus Kristus. Itu sebabnya di sini dikatakan apa yang membuat kita bisa begitu yakin sekali dalam menjalani hidup? Karena kita memiliki Tuhan yang bukan hanya Mahakuasa, tapi Tuhan yang telah memberi kasih karunia kepada kita anak-anak-Nya ini. Itu yang menjadi jaminan!

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ada karakter Tuhan yang kita perlu tahu; ada kesetiaan Tuhan yang kita perlu tahu; ada kuasa Tuhan yang kita perlu tahu; ada bijaksana Tuhan yang kita perlu tahu dalam hidup kita; ada karya-karya yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan kita yang kita harus tahu dalam hidup kita. Itu membuat kita baru bisa beriman kepada Tuhan. Makanya tadi saya katakan, “Semua penatalayan kenapa harus ikut PA? Kenapa harus ikut doa? Supaya mengenal Tuhan yang engkau layani!” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, karena Dia lah yang membuat berhasil segala sesuatu. Bukan kita tapi Dia yang membuat berhasil! Peran kita apa? Peran kita adalah menyesuaikan diri di dalam arus keberhasilan yang Tuhan rencanakan dalam dunia ini dan dalam kehidupan kita. Makanya tadi saya bilang, “Itu pion”. Makanya tadi saya katakan, “Ada syarat nggak kenapa orang hidup, Tuhan menyertai dia?” Tuhan bilang, “Pelajari firman Tuhan siang malam! Renungkan itu! Ingat itu! Perkatakan itu! Lakukan itu! Jangan menambahi! Jangan mengurangkan firman Tuhan itu!” Itu adalah salah satu syarat Tuhan menyertai. Tetapi hati-hati: jangan melakukan itu dengan motif untuk Tuhan memberi kesuksesan bagi ambisi pribadi kita! Tetapi yang benar adalah saya melakukan itu supaya saya ada di dalam jalur yang Tuhan pimpin dan Tuhan sertai dalam kehidupan kita.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu kunci kesuksesan. Tapi pada waktu kita bicara mengenai kesuksesan dalam hidup kita melalui ketaatan pada firman Tuhan, maksudnya apa? Saya percaya pada waktu Tuhan berkata kepada Yosua di sini, pada waktu Daud berbicara di dalam Mzm 1, “sukses itu adalah renungkan firman Tuhan siang dan malam.” Maka itu berarti kesuksesan itu nggak harus dalam bentuk materi. Kesuksesan itu bukan berarti, “Kalau saya sekarang di tahun kemarin kekayaannya misalnya 1 M maka tahun 2025 harus jadi 2 M.” Nggak harus begitu. “Atau 3M.” Nggak harus seperti itu. Karena di dalam Kitab Suci ada begitu banyak sekali orang yang ada di dalam kehidupan yang tidak berkelimpahan sebagai anak Tuhan yang begitu saleh. Contohnya siapa? Nggak usah jauh-jauh, lihat aja Maria, ibunya Yesus! Lihat saja para rasul! Mereka bukan orang yang berkelimpahan tapi mereka adalah orang saleh dan dikatakan sebagai orang yang benar di hadapan Tuhan.

Jadi, pada waktu kita bicara mengenai kesuksesan, apa maksud kesuksesan itu? Nah, ini beda dengan konsep dunia. Sukses di dalam hidup Kristen itu bukan berarti umur panjang, mati tua. Karena Henokh usia 300 tahun, lebih muda dari semua orang yang mengikut dia – yang seumuran atau pendahulu dia – dan setelah dia itu diangkat Tuhan terlebih dahulu. Sukses bukan berarti bahwa, “Saya sehat.” Sukses bukan berarti bahwa, “Saya kaya dan makin kaya.” Sukses bukan berarti bahwa, “Ambisi pribadi saya terus dilancarkan dalam kehidupan saya sesuai dengan keinginan saya.” Sukses bukan berarti bahwa, “Saya diterima oleh semua orang.” Itu bukan sukses!

Lalu sukses itu apa? Saudara menjalankan firman Tuhan. Saudara tidak tengok kanan dan kiri walaupun seluruh keadaan berusaha menghasut Saudara untuk tengok kanan dan kiri. Saudara tidak menyangkali Tuhan seumur hidupmu. Itu sukses! Makanya mungkin satu-satunya Pribadi yang kita bisa katakan sangat sukses hidupnya itu adalah Yesus Kristus. Saudara ingin menjadi seperti Yesus, kan? Teladani hidup sukses yang Yesus miliki! Dan Dia dikatakan oleh Bapa, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya lah Aku berkenan.” Itu sukses!

Kenapa begitu? Karena hidup sementara. Kalau saudara mengejar kesementaraan, Saudara hanya akan kehilangan hal yang kekal dan itu bukan sukses. Tapi kalau Saudara mengejar kekekalan, Saudara rugi sedikit di dalam kesementaraan, Saudara adalah orang yang bijaksana dan Saudara lebih mengerti hal yang penting, yang utama, yang mutlak, yang tidak boleh ditawar dalam hidup ini itu apa. Itu sebabnya saya percaya kenapa Amsal berkata, “Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat, permulaan didikan” karena itu adalah menjadi satu kunci supaya kita bisa melihat apa yang penting, apa yang mutlak, apa yang relatif, apa yang kurang penting dalam hidup ini, dan itu menjadikan kita bijaksana.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Tuhan ingin kita taat, Tuhan ingin kita setia. Apa yang menjadi ciri orang disertai oleh Tuhan? Satu adalah dia taat dan setia kepada hukum Tuhan. Tetapi ada ciri kedua yang menjadi satu jaminan. Yaitu apa? Saya kutip Martin Luther punya kalimat, “Kalau dia mengalami kesulitan demi kesulitan di dalam hidup, maka dia adalah orang yang pasti disertai oleh Tuhan.” Maksudnya gimana? Sebagai anak Tuhan, kita jalan, ingin menjalani apa yang menjadi kehendak Tuhan kita. Tetapi Bapak, Ibu jangan lupa, sebagai anak Tuhan yang menggenapi kehendak Tuhan, kita punya musuh loh. Seperti Tuhan punya musuh. Makanya di dalam Petrus ada kalimat seperti ini, “Iblis itu seperti singa yang mengaum-aum. Yang berusaha untuk menerkam anak-anak-Nya.” Jadi pada waktu kita berjalan dalam hidup kita, kalau kita menjalani hidup ini dengan setia, dengan taat kepada Tuhan, mohon tanya, lancar atau bermasalah? Lancar atau baik? Dari sisi Tuhan pasti baik. Tapi kalau ada Iblis yang berusaha menerkam, saya yakin pasti dikasih masalah, dikasih hambatan, dikasih pencobaan, dikasih hal-hal yang membuat kita patah semangat di dalam melayani.

Makanya kenapa Yosua harus dikatakan sampai tiga kali? “Hanya kuatkan dan teguhkanlah hatimu.” Karena peperangannya itu bukan hanya melawan manusia. Tapi peperangannya adalah melawan kuasa-kuasa yang ada di angkasa, yang ada di balik tindakan-tindakan manusia terhadap diri kita. Itu sebabnya pada waktu kita bicara tentang apa yang menjadi satu jaminan atau suatu konfirmasi kalau saya adalah pengikut Kristus dan Tuhan menyertai kehidupan kita, pasti bukan seperti yang karismatik ajarkan, kelancaran. Tetapi ada kesulitan yang akan kita alami dalam kehidupan kita karena di balik kita ada Iblis yang akan memerangi kita seperti dia memerangi Yesus Kristus.

Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya mohon tanya, ya. Kalau Bapak, Ibu di dalam hidup tidak pernah ngalami kesulitan sama sekali, ambisi yang engkau kejar itu satu per satu diberikan untuk dijawab. Itu tanda penyertaan Tuhan, bukan? Tapi ketika Bapak, Ibu jatuh-bangun, jatuh-bangun di dalam hidup yang membuat Bapak, Ibu, Saudara selalu ingat ada Tuhan dalam kehidupan, yang membuat Bapak, Ibu kembali lagi ke Tuhan. Kembali lagi kepada Tuhan. Itu adalah menyatakan ada penyertaan Tuhan nggak dalam hidup ini? Yang mana? Saya kira kalau kita terlalu dilancarkan, mungkin sebenarnya kita sedang mengejar ambisi pribadi kita dan Tuhan tidak menyertai. Tapi kalau kita seringkali patah semangat, seringkali merasa mau mundur, seringkali merasa tidak berarti, seringkali berusaha dihalangi seperti itu ketika kita mau melayani. Saya kira di situ kita bisa berkata, “Saya sedang mengerjakan pekerjaan Tuhan karena musuh kita, Iblis, tidak menghendaki kita sukses di dalam melakukan apa yang Tuhan mau.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kiranya Tuhan boleh menolong kita ya. Mungkin kalimat saya agak terlalu generalisasi. Tetapi paling tidak Bapak, Ibu boleh uji di dalam hati. Motif hati kita di dalam bekerja, tujuan kita di dalam melakukan sesuatu untuk siapa? Kalau Bapak, Ibu ketika sudah menguji tulus di dalam hati, tidak ada ambisi pribadi di situ untuk kepentingan pribadi, “Saya sungguh-sungguh ingin mengerjakan apa yang Tuhan kehendaki saya lakukan.” Tidak ada halangan di situ. Berarti mungkin sedang Iblis halangi dan Saudara bisa berkata, “Saya sedang mengerjakan pekerjaan Tuhan dalam hidup kita.” Kiranya Tuhan boleh memberkati ya.

Tahun 2025, kita nggak tahu mau ke mana. Tapi paling tidak, kalau kita punya kasih karunia Tuhan dalam hidup kita, kita nggak perlu tanya, kenapa yang itu mati muda? Kenapa yang itu sakit? Kenapa yang ini mengecewakan dan yang lain-lain? Karena kita tahu ada Tuhan yang berserta dengan kita di dalam kehidupan kita. Kiranya Tuhan boleh berkati. Mari kita masuk dalam doa.

Kami sungguh bersyukur Bapa, ada Firman yang boleh menolong kami melihat kepada dunia ini. Bukan dari kacamata kami, tapi dari kacamata Tuhan sendiri. Kami sungguh bersyukur, ya Bapa, karena ketika kami menjalani hidup kami boleh sadar di belakang kami ada deking yang tidak mungkin ada yang bisa mengalahkan, yaitu Tuhan Allah sendiri. Bukan hanya Tuhan Allah Pencipta kami, tapi adalah Bapa kami yang penuh dengan kasih karunia karena ada Kristus Yesus yang menjadi perantara kami. Dan kami juga bersyukur, ya Tuhan, karena ketika kami melihat kembali kepada Firman-Mu, kami tahu selain Engkau adalah Bapa kami, tapi Engkau adalah yang memegang kendali dalam hidup kami. Engkau yang telah merencanakan segala sesuatu dan Firman-Mu berkata, ketika Engkau memulai sesuatu, maka Engkau akan mengakhirinya sendiri. Kami sungguh bersyukur, ya Bapa, itu membuat ketika kami menjalani hidup, mata kami tidak terfokus kepada konsep-konsep dunia mengenai bijaksana, mengenai kesuksesan, mengenai hal-hal yang dikatakan berkat yang diterima, tetapi kami boleh melihat pada prinsip Tuhan yang dimaksud dengan kesuksesan dan berkat dari Tuhan. Ketika kami menjalani hidup, walaupun ada gelombang, walaupun ada badai, walaupun ada pencobaan, walaupun ada hal-hal yang kami tidak sukai dan kami berusaha untuk hindari dalam kehidupan kami. Tapi kami percaya bahwa semua itu tidaklah menjadi sesuatu yang bisa menjatuhkan kami, mematahkan kami, menghancurkan kehidupan kami, karena ada Tuhan yang beserta dengan kami. Tolong kami, ya Tuhan, pimpin anak-anak-Mu semua, pimpin gereja-Mu ini, nyatakan penyertaan-Mu, nyatakan kasih-Mu. Khususnya ketika kami lemah, ketika kami ada di dalam kondisi yang tidak mampu, dan tentunya kami adalah orang yang tidak mampu dan lemah tanpa ada Tuhan yang menyertai kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin. (HS)