Ambisi Rohani
Mat. 5:20
Vik. Nathanael Marvin, M. Th
Kita memasuki tahun yang baru, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Dan biasanya, di tahun yang baru kita memiliki harapan-harapan yang baru. Kemudian, ada orang-orang tertentu yang sangat excited untuk membuat resolusi-resolusi yang baru. Ada harapan, ada cita-cita. Dan sebagai orang Kristen, kita harus memperhatikan apa yang kita resolusikan, apa yang harus kita harapkan, apa yang harus menjadi target kita di tahun 2025 ini. Tentu bukan hal-hal yang sifatnya duniawi, sifatnya kedagingan, sifatnya keegoisan. Hal-hal yang duniawi, kita buang jauh-jauh dan tetapi, seharusnya kita memiliki keinginan atau harapan dan resolusi untuk berpusat kepada Allah saja. Kehidupan yang cinta akan hal-hal surgawi. Kehidupan yang cinta akan hal-hal yang baik, benar, dan kudus. Maka, dari hati yang cinta akan Tuhan ini, barulah kita bisa menetapkan sebuah resolusi atau beberapa resolusi yang berkenan di hadapan Tuhan.
Nah, di dalam khotbah di Bukit Yesus Kristus, Dia mengatakan satu kalimat yang begitu menuntut, begitu menggerakkan, yang membuat orang Kristen berpikir tentang kehidupannya, yaitu di dalam Mat. 5:20 dikatakan, “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Yesus katakan kepada banyak orang di khotbah di Bukit. Yesus mengatakan, “Kalau hidup keagamaanmu tidak lebih hebat, tidak lebih besar daripada orang Farisi itu, para pengajar, para teolog yang memperhatikan Perjanjian Lama, hukum Taurat, kalau kerohanianmu tidak lebih hebat dari ahli-ahli Taurat, kamu tidak bisa masuk ke dalam kerajaan surga.” Wah, itu mengerikan! Itu seolah-olah Yesus berkata, “Kalau kamu tidak lebih hebat daripada pendeta maupun vikaris, kamu nggak bisa masuk ke dalam kerajaan surga.” Ini adalah perkataan yang begitu mengagetkan banyak orang.
Apa maksud Tuhan Yesus? Apakah Yesus mengajarkan bahwa keselamatan itu, masuk ke kerajaan surga itu karena perbuatan baik kita? Karena kerohanian kita? Karena usaha manusia untuk mendapatkan keselamatan dan kerajaan surga? Tentu jawabannya bukan demikian. Yesus Kristus tidak mengajarkan Armenianisme yang mengajarkan bahwa keselamatan itu karena perbuatan baik kita. Ada usaha atau jasa manusia untuk membuat manusia itu masuk ke dalam kerajaan surga. Yesus tidak ajarkan demikian.
Yesus tetap ajarkan bahwa keselamatan itu anugerah Tuhan. Keselamatan itu adalah inisiatif Tuhan. Bukan manusia berdosa yang mencari Tuhan, melainkan Allah yang kudus yang mencari manusia yang berdosa. Kita tidak bisa menyelamatkan diri kita dengan perbuatan baik kita, dengan usaha kita karena kita sudah jatuh ke dalam dosa dan rohani kita sudah mati. Orang yang mati sudah tidak bisa apa-apa. Maka dari itu, Allah yang hidup, Allah yang adalah sumber hidup itu saja yang bisa menyelamatkan manusia berdosa ketika Allah, di dalam pekerjaan Roh Kudus, melahirkembalikan seseorang dari kerohanian yang mati menjadi kerohanian yang hidup. Dari kerohanian yang hidup, dia mengenal Yesus Kristus, dia meminta ampun atas dosa-dosanya, dia menyerahkan hidup bagi Yesus Kristus. Itulah keselamatan. Maka, panggilan Injil harus dikabarkan kepada semua banyak orang. “Percayalah Yesus Kristus, maka engkau mendapatkan keselamatan, memperoleh hidup yang kekal.” Nah, itu adalah panggilan Injil.
Nah, di dalam ayat ini, Bapak, Ibu sekalian, Yesus mengajarkan bahwa standar hidup dan kebenaran orang Kristen harus jauh lebih tinggi dari apa yang sudah dilakukan oleh orang Farisi dan ahli Taurat. Maksudnya bagaimana? Berarti, Yesus sedang meneliti atau mengadili atau menghakimi orang Farisi dan ahli Taurat di dalam keberdosaan mereka, bukan di dalam perbuatan baik mereka. Orang Farisi-dikatakan, ya, di dalam tradisi Yahudi-dia itu taat aturan agama. Ya, kalau ibadah mungkin tepat waktu terus. Kalau berdoa, dia rajin berdoa, tapi, ya, sering kali dia juga berdoa supaya dilihat orang, di pinggir-pinggir jalan. Tetapi, dia melakukan ketaatan yang bagus di dalam ritual-ritual. Hanya saja, kelemahannya apa, Bapak, Ibu sekalian? Kelemahannya adalah dia melakukan doa yang teratur, pembacaan firman yang teratur, kebaikan yang teratur tanpa hati yang mengasihi Tuhan, tanpa hati yang mengenal Tuhan, tanpa hati yang menyembah Tuhan. Orang Kristen harus lebih dari itu semua. Orang Kristen harus punya hati yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati. Orang Kristen harus punya hati yang menyembah Tuhan. Itu maksudnya Yesus Kristus. Dan di dalam anugerah Yesus Kristus, Roh Kudus menguatkan kita untuk bisa terus mengasihi Tuhan dan melayani Tuhan.
Nah, kemudian kita lihat ahli Taurat. Ahli Taurat hafal banyak firman Tuhan. Dia bukan saja menghafal, dia juga merenungkan firman Tuhan, tetapi tujuannya adalah demi kesombongan. Dengan menghafal banyak ayat, saya dipuji orang. Dengan menghafal banyak firman Tuhan, saya bisa merendahkan orang dan meninggikan diri sendiri. Orang Kristen harus melebihi ahli Taurat. Nggak boleh sombong. Nggak boleh mencari pujian diri sendiri, tetapi harus rendah hati. Orang Farisi dan ahli Taurat disiplin dalam Taurat, disiplin dalam doa, disiplin dalam Sabat, disiplin dalam makanan, disiplin dalam sedekah, dalam praktik ibadah, tetapi sayangnya Yesus melihat bahwa, oh, itu tidak didasarkan kasih kepada Tuhan. Dia nggak mau mengenal Tuhan. Dia hanya praktik ritual biasa saja, kewajiban biasa saja demi dirinya sendiri. Maka, orang tersebut sebenarnya belum mendapatkan kerajaan surga.
Orang Kristen harus melebihi orang Farisi maupun ahli Taurat, tapi bukan dalam praktiknya, bukan dalam tindakannya, melainkan dalam hatinya, prinsip hidupnya, prioritas hidup dan iman kepada Tuhan. Yesus ajarkan bahwa inti dari seluruh hukum Taurat itu apa? Mengasihi Allah dan mengasihi sesama! Maka, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di dalam pergumulan saya memasuki tahun baru, salah satu resolusi saya, Bapak, Ibu sekalian, ya, mau lebih mengasihi Tuhan, mau lebih hidup kudus bagi Tuhan dan berjuang bagi kerajaan surga. Maka, waktu memasuki hari pertama, 1 Januari 2025, saya sempat bilang kepada istri saya, “Saya sudah bilang, ya. Nanti tanggal 1 Januari, saya akan puasa.” Bukan diet, ya. Betul-betul puasa. Melatih disiplin, menyangkal diri, mau lebih mengasihi Tuhan, mau hidup kudus bagi Tuhan. Terus, istri saya mengatakan, “Iya, tapi siap-siap, ya, kalau nanti selesai ibadah, ya selesai ibadah tahun baru, nanti kalo ada jemaat yang ajak makan atau orang tua ajak makan bagaimana?” Saya bilang, “oh ya nggak apa-apa makan saja, ya, saya fleksibel kok nanti jadinya puasa setengah hari aja, gitu ya, nggak full gitu ya”, saya katakan demikian. Kita tenang, kita tidak kaku seperti orang Farisi dan lain-lain ya.
Terus kemudian sudah ibadah ternyata Tuhan kabulkan doa saya ya, nggak ada yang ajak makan, ya, selesai ibadah. Jemaat nggak peduli sama saya, ya, terus kemudian orang tua, orang tua atau mertua saya, ya, nggak peduli juga langsung pergi. Wah, berarti Tuhan mengabulkan doa saya supaya saya puasa. Silakan istri saya makan, gitu ya. Dan kemudian puasa dan akhirnya saya melihat dari situ, wah Tuhan betul ya bisa mengabulkan doa yang betul-betul fokus kepada Tuhan dan saya merasakannya. Jadi di awal tahun baru itu apa yang saya rasakan? Satu perut lapar tentu ya tetapi saya bisa menjalankan puasa dalam arti saya meratapi dosa-dosa saya di tahun 2024, saya berusaha mau hidup lebih dekat bagi Tuhan, ya, terus menyangkal kedagingan saya. Jadi hanya makan satu hari gitu ya. Puasanya tetap minum sih, ya, tetap minum air putih saja, tetapi makan hanya satu kali di malam hari seperti itu ya. Dan di situ adalah pengalaman yang indah dan itu, resolusi itu menjadi sebuah ambisi juga buat saya untuk bisa apa? Untuk bisa hidup lebih berkenan di hadapan Tuhan.
Nah maka dari itu hari ini tema khotbahnya adalah tentang ambisi rohani ya. Apa sih jenis-jenis ambisi, lalu bagaimana kita sebagai orang Kristen memiliki ambisi yang Rohani. Nah, secara akar katanya Bapak, Ibu sekalian ya, ambisi itu berarti apa? Ambisi itu berarti adalah sebuah atau tindakan berjalan mengelilingi untuk menghasilkan sesuatu. Jadi, ambisi berarti bisa kita definisikan adalah sebuah gerakan. Karena akar kata dari ambisi adalah berjalan mengelilingi untuk mendapatkan hal yang dia inginkan, yang dia tuju, yang dia harapkan. Itu ambisi. Dari pada masa Romawi kuno, ya, di situ digambarkan suatu kata ambisi ini yaitu kegiatan para calon pejabat politik yang berjalan mengelilingi kota-kota bertemu dengan masyarakat untuk mengumpulkan dukungan suara supaya dia dipilih menjadi pemimpin. Itu dia berambisi. Ya, kalau pemimpin politik pejabat, gitu ya, yang mau dipilih oleh masyarakatnya tidak berambisi dia nggak akan berjalan keliling. Nggak akan promosi tentang dirinya bahwa “Pilih saya, saya akan memajukan bangsa ini”. Tidak!
Nah, kemudian kita bisa liat ambisi menjadi makna figuratif yang menunjukkan apa? Ambisi adalah hasrat atau dorongan yang begitu kuat untuk mendapatkan sesuatu. Ketika orang berambisi, dia nggak bisa diam di tempat. Dia harus bergerak berjalan berkeliling, berusaha semampu mungkin untuk mendapatkan hal yang dia inginkan dengan segala cara apa pun. Ya, pokoknya dia dapatkan, dia inginkan, dia jalan, dia nggak pernah diam. Maka sering kali ambisi didefinisikan secara negatif. “Wah, orang yang berambisi itu menghalalkan segala cara, tidak berdoa yang penting usaha.” Nah, bagaimana kita sebagai orang Kristen itu menyikapinya? Nah jadi ambisi adalah hasrat atau dorongan kuat untuk mencapai keberhasilan, ya, untuk tujuan tertentu dalam kehidupan dan ambisi sering dikaitkan juga dengan tekad yang kuat.
Dalam konteks gerakan Reformed Injili, Bapak, Ibu sekalian, Gerakan sendiri sudah memiliki definisi ambisi ya. Gerakan Reformed Injili berarti ambisi itu apa? Ya, Pdt. Stephen Tong dan hamba-hamba Tuhan lainnya juga pernah mengatakan bahwa ambisi itu seperti apa? Seperti fighting spirit. Ya, suatu semangat, bertarung, berjuang bagi kerajaan Tuhan. Nah, sebagai orang Kristen kalau kita ditanya, apakah orang Kristen harus berambisi? Ya, apakah orang Kristen harus punya dorongan yang kuat, hasrat yang kuat untuk mencapai yang dia inginkan? Jawabannya adalah harus! Kita harus punya ambisi. Ya, tetapi ambisi yang terarah atau ambisi yang rohani, bukan ambisi yang duniawi, bukan ambisi yang melawan Tuhan ya, tetapi justru mencintai Tuhan.
Ambisi orang Kristen adalah hasrat untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap kekuatan, segenap jiwa, hasrat untuk mempersembahkan diri bagi Tuhan dan terus menyembah Tuhan. Orang Kristen yang berambisi akan terus mencari kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya akan ditambahkan kepadanya. Kenapa? karena dia berambisi. Orang yang mencari kerajaan Allah, orang yang mencari kebenaran dari kerajaan Allah itu nggak akan pernah berhenti karena tidak mungkin kita bisa mencapai kesempurnaan dalam pengenalan kita akan Tuhan waktu kita hidup di bumi ini. Bahkan nanti waktu kita masuk surga pun, apakah kita bisa mengenal Tuhan secara sempurna? Kita bukan makhluk yang maha tahu, di surga pun kita baru tahu sesuatu, kita bisa tanya, ya, kehidupan Yesus bagaimana, kita tidak maha tahu. Maka dari itu orang yang mencari kerajaan Allah itu adalah orang yang sebenarnya di dalam ayat tersebut punya ambisi. Karena apa? Semua ditambahkan kok, ditambahkan terus. Tapi tentu itu bukan ayat yang mengacu kepada hal-hal yang materi ya, tapi hal-hal yang Rohani. Ya, materi itu di dalam doa Bapa kami dikatakan “berikanlah makanan kami yang secukupnya hari”. Bukan yang berkelebihan lho ya, secukupnya. Tetapi untuk hal rohani kita harus berambisi karena tidak pernah cukup. Kita tidak akan pernah cukup mengenal Tuhan, tidak akan pernah cukup dengar firman, kita tidak akan pernah cukup baca firman atau berdoa, kita harus terus melakukannya sampai kita bertemu dengan Yesus Kristus di surga.
Paulus dalam 1 Kor. 9:24-27, kita bisa baca lewat slide ya, Bapak, Ibu sekalian. Nah, ini bicara soal mengejar tujuan dengan disiplin tetapi dalam kerangka muliakan Tuhan. Berambisi untuk memulihkan Tuhan. Mari kita sama-sama baca firman Tuhan ini bersama-sama, “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Paulus punya ambisi yang begitu besar untuk mempermuliakan Tuhan, untuk mengabarkan Injil. Dan dia gambarkan dirinya itu seperti pelari yang punya tujuan, yaitu garis finish. Selama kita belum mati Bapak, Ibu sekalian, tujuan kita adalah terus memuliakan Tuhan seumur hidup kita, sampai kita mati masuk surga. Di surga pun kita hanya bisa memuliakan Tuhan, tidak bisa berdosa lagi.
Maka Paulus menggambarkan kerohanian itu seperti seorang pelari yang terus berjuang menggunakan tenaganya tetapi punya target yang jelas, yaitu garis finish untuk menyenangkan Tuhan. Dan juga Paulus menggambarkan aku ini bukan petinju yang menggunakan kekuatan, asal saja tembak sana, tembak sini, pukul sana, pukul sini tanpa ada arah dan tujuan. Tidak! Aku tidak menggunakan tenagaku sembarangan tetapi aku punya target yang jelas, punya ambisi, hasrat dorongan yaitu punya tujuan yang jelas untuk memuliakan Tuhan. Dia berambisi memulihkan Tuhan.
Alkitab mengajarkan kepada kita Bapak, Ibu sekalian bahwa sumber kehidupan itu adalah Yesus Kristus. Yesus Kristus digambarkan seperti pokok anggur, kita ini ranting-ranting-Nya. Dan sebagai orang Kristen yang adalah ranting dari pokok anggur tersebut kita diminta untuk berbuah berkali-kali lipat. Dulunya sumber kehidupan itu adalah Yesus ya, pokoknya, ranting itu adalah kita. Ketika kita jatuh ke dalam dosa, ranting itu terputus, patah. Lama-kelamaan ranting itu akan mati. Masih hidup nggak rantingnya? Masih, untuk beberapa waktu. Daunnya masih hijau, mungkin masih ada buahnya juga, tapi sudah terputus dari pokok anggur tersebut. Bagaimana supaya orang itu bisa kembali kepada sumber hidup? Allah sendiri mengambil ranting tersebut lalu mencangkokkan kembali atau menempelkan kembali kepada pokok anggur tersebut yaitu Yesus Kristus. Nah di situ barulah kita bisa mengenal Yesus, percaya Yesus dan mengalami kerajaan surga.
Dan Yesus mengatakan bahwa kamu sudah dikembalikan lagi di dalam pokok anggur maka kamu harus berbuah banyak, berbuah lebat. Ketika kita sudah di dalam Kristus yang Yesus inginkan adalah kamu tuh berbuah limpah. Bukan bicara soal materi, balik lagi ya. Ada nggak orang Kristen yang dari lahir sampai matinya selalu berkekurangan, bisa kita katakan selalu miskin? Ada nggak orang-orang di zaman peperangan ya, nggak punya rumah sampai dia mati anak kecil, misalkan, umur lima tahun, hidupnya sudah susah, lima tahun dalam peperangan mati juga. Ada orang-orang di dalam dunia ini tuh selalu miskin, ada yang dulu miskin sekarang kaya, ada yang sekarang kaya nanti miskin, ada yang kaya terus hidupnya dari kecil sampai matinya. Kita nggak bisa katakan bahwa ketika kita jadi orang Kristen ketika kita sudah disambungkan dengan Kristus maka hidup kita harus kaya raya, harus dari miskin menjadi kaya secara materi ya. Tidak demikian! Yang dimaksudkan Yesus Kristus adalah kamu itu kaya secara rohani, kamu itu hidup berkelimpahan secara rohani. Bagaimana hidup berkelimpahan secara Rohani? Yaitu imanmu terus bertambah, kasihmu terus bertambah pengharapanmu terus bertambah ya, cintamu terus bertambah, kasihmu terus bertambah, bijaksanamu makin bertambah. Buah Roh Kudus, kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kemurahan, kelemahlembutan, penguasaan diri, semuanya itu bertambah.
Lalu apakah ketika kita bertambah kasihnya bertambah pengendalian dirinya, apakah kita bisa sampai ke taraf maksimum? Wah saya sudah perfect pengendalian diri saya. Tetap tidak bisa. Di dalam dunia ini kita akan kurang terus kerohanian kita. Maka itu kita butuh Tuhan. Kita manusia berdosa, kita manusia yang lemah, maka dari itu berkat rohani lah yang harusnya menjadi melimpah-limpah. Kita harus memiliki ambisi terhadap hal-hal yang rohani, bukan hal-hal yang duniawi. Orang Kristen harus punya ambisi rohani ini.
Nah sekarang Bapak, Ibu sekalian kita akan melihat tiga poin di dalam khotbah ini tentang ambisi rohani. Yang pertama ya, boleh ditampilkan slide-nya, bukan uang atau kekayaan. Ambisi rohani berarti bukan soal uang, bukan soal kekayaan. Dan kebanyakan orang, bahkan orang Kristen pun sangat mudah digoda untuk berambisi terhadap kekayaan atau kemakmuran. Gereja-gereja Kristen pun diserang dengan yang namanya teologi kemakmuran ya. Bukan teologi yang alkitabiah tetapi teologi kemakmuran, yaitu apa? Kalau ikut Tuhan pasti kaya raya, kalau ikut Tuhan pasti makmur pasti sejahtera, kalau kamu beribadah, kalau kamu persembahan hidupmu makmur, ibadah untuk kemakmuran diri, kekayaan diri. Sebagai orang Kristen kita tidak boleh berharap pada kekayaan, tetapi kita harus berharap hanya kepada Tuhan saja.
Ketika saya melihat media sosial Bapak, Ibu sekalian ya, ada wishlist, ada daftar dari harapan di tahun 2025 ini. Terus kemudian saya baca satu kalimat yang cukup agak mengerikan gitu ya, yaitu apa? Wishlist-nya tuh cuma satu tapi banyak komanya begitu ya. Yaitu apa? Saya ingin punya banyak duit ya terus, didatengin banyak duit, diguyur duit, dibanjiri duit, lima, dijatuhi duit. Wah gila ya, mengerikan ya kalimat ini. Memang mungkin bercandaan ya karena semua orang “suka uang” ya, nyaman kalau banyak uang, ini kedagingan kita ya, tetapi kalau harapan itu mengerikan ya. Itu berarti ambisinya apa? Cari uang. Itu berarti kenapa dia punya ambisi cari uang? Karena dia cinta akan uang. Nah ini yang kita soroti, mengerikannya ha-hal yang bisa beredar dalam kehidupan manusia.
Orang yang cinta akan uang dia cari uang, tapi untuk uang itu sendiri untuk kenyamanan diri. Bahkan hal-hal rohani pun diubah jadi untuk demi uang. Dia berdoa rajin supaya dapat banyak uang, dia ibadah dengan rajin supaya dapat banyak uang, dia persembahan dengan banyak, itu demi uang juga. Itu mengerikan ya kalau kita cinta akan uang dan Alkitab mengatakan di dalam 1 Tim. 6:10 “karena akar segala kejahatan ialah cinta akan uang” Bukan uang itu sendiri tapi kita nya. Cinta akan uang itu. Sebab oleh memburu uang lah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Memburu loh, memburu. Kalau memburu itu harus berambisi, saya harus dapatkan sasaran saya ya. Kalau memburu binatang misalkan ya, itu harus berambisi, caranya bagaimana, waktunya kapan yang tepat, itu memburu. Dikatakan bahwa orang yang cinta akan uang itu memburu. Memburu uang dengan apa? Dengan segala cara. Maka orang-orang banyak sekali memburu uang dengan judi online, pinjaman online, memburu uang dengan mencelakakan orang dan tidak peduli kebenaran. Bahkan memburu uang, dengan menipu.
Baru-baru ini, Bapak Ibu sekalian, ada nomor baru menggunakan nama saya, profile picture saya juga. Nomor baru ya, jadi harusnya bukan di-hack. Nomor HP saya harusnya aman-aman saja. Tapi ini nomor baru pakai profile picture saya, dapat dari mana? Oh, itu foto instagram, ya. Memang foto instagram saya, saya dengan istri, ya. Hati-hati Bapak Ibu sekalian, ya, foto dengan istri di profile picture. Tapi semoga aman-aman saja harusnya, kecuali tidak di-hack, ya, gadget kita. Terus kemudian ada jemaat yang laporan bahwa ada yang berusaha mau menipu dengan menggunakan nama saya. Hamba Tuhan, ya, vikaris, terus dia komunikasi, ngobrol dan niatnya adalah menipu. Banyak teman istri saya juga mengatakan, “Wah, sudah ditipu juga oleh orang lain, sudah kerja cari uang, ditipu, diambil oleh orang.” Banyak sekali kasus-kasus demikian, maka hati-hati Bapak Ibu sekalian, yaa terhadap gadget juga, kita ternyata bisa celaka. Karena gadget juga, kita pikir itu orang yang demikian. Caranya supaya kita terhindar dari penipuan, ya hati-hati. Ya kalau kita ragu dengan orang tersebut, kita bisa video call aja. Ya jelas gitu orangnya, “Oh, memang orang tersebut tidak menipu,” dan lain-lainnya. Itu adalah hal yang mengerikan. Dia mau dapat uang dengan menipu.
Uang sendiri sebenarnya tidak salah, tetapi sikap terhadap uanglah yang perlu kita perhatikan. Jangan salah sampai kita itu memberhalakan uang, ya. Uang itu harus kita gunakan untuk kemuliaan Tuhan. Jadi pertama, ambisi rohani orang Kristen seharusnya bukan uang atau kekayaan. Tetapi apa? Tetapi perkembangan kerajaan Tuhan. Kita mau memperkembangan pekerjaan Tuhan, dengan apa? Dengan uang. Sampai sekarang pun, gedung gereja ini masih hutang miliaran kok. Ya? Terus bayarnya pakai apa? Pakai daun? Nggak, pakai uang. Hutangnya uang kok.
Nah, bagaimana untuk membayar hutang begitu banyak miliaran? Ya nggak bisa satu orang, ini kan gereja milik kita semua. Di mana Tuhan gerakan kita untuk akhirnya saya mau mempersembahkan uang, yang adalah uang Tuhan, yang Tuhan titipkan pada saya, saya persembahkan untuk pekerjaan Tuhan. Nah, itu ambisi rohani bagi kita sebagai orang Kristen. Kita cari uang untuk melayani Tuhan. Kita cari uang untuk pekerjaan Tuhan. Tapi juga kita bisa perhatikan pekerjaan Tuhan bukan saja di gereja. Kita cari uang untuk pelayanan di keluarga kita. Kita cari uang juga untuk pelayanan bagi sesama, bersedekah bagi sesama. Kita cari uang juga untuk mendukung pekerjaan Tuhan, lewat gereja Tuhan. Nah itulah ambisi rohani bagi orang Kristen.
GRII Yogyakarta bisa berdiri beberapa bulan ini, yang memang salah satunya aspeknya adalah karena ada uang, kan? Bayar biaya operasional, bayar pegawai yang menjaga dan lain-lain, ya. Pekerjaan Tuhan memang pakai uang, tetapi uang tidak segala-galanya. Tuhan lah yang segala-galanya. Kita harus mengerti hal demikian, ya. Bapak-Ibu sekalian, bagaimana kita mengatur keuangan kita di hadapan Tuhan? Uang kita yang kita habiskan itu, seberapa besar sih untuk betul-betul pekerjaan Tuhan? Bukan untuk kepentingan diri atau foya-foya, seperti itu ya. Kita bisa lihat keuangan kita, ya. Cek laporan keuangan kita. Mungkin ada, ya, saya biasanya buat laporan keuangan sendiri. Uang ini saya dapatkan dari mana, pengeluarannya untuk apa, sederhana saja. Dan saya kumpulkan apa yang sudah Tuhan boleh nyatakan di dalam hidup keuangan saya. Entah itu perpuluhan, entah itu persembahan, entah itu janji iman, saya semua tahu. Kapan saya perpuluhan, saya tahu. Jumlahnya juga saya tahu. Kapan saya janji iman, saya tinggal lihat catatan meskipun sekarang lupa, ya. Nominalnya berapa, saya tahu. Saya keluarkan uang berapa, saya tahu semua.
Dan Tuhan mau supaya kita bertanggung jawab atas segala sesuatu untuk memuliakan Tuhan saja. Bagi kita yang masih pelit, ya. Lepaskanlah kepelitan itu, ya. Ada orang yang pelit ngasih seribu aja nggak mau, dua ribu aja nggak mau ke tukang parkir, ya. Hidupnya susah. Nggak bisa dapet pekerjaan yang mapan, nggak pernah bisa lama di dalam satu pekerjaan. Kenapa? Pelit, ya. Tetapi orang yang justru murah hati, berbagi kepada sesama, Tuhan tambahkan juga berkatnya kepada dia. Maksud saya adalah kita belajar, ya, mempersembahkan seluruh keuangan kita, tenaga kita, waktu kita untuk Tuhan. Bukankah Rm. 12:1 mengatakan, “persembahkanlah tubuhmu.” Ya sudah, persembahkan tubuhmu. Ini milik saya, tubuh saya milik saya, tetapi sebenarnya itu milik Tuhan juga. Pikiran saya milik saya, tetapi pikiran saya adalah milik Tuhan juga. Perasaan saya itu perasaan saya, tetapi perasaan saya juga adalah milik Tuhan. Kehendak saya itu memang kehendak saya, tetapi kehendak saya itu milik Tuhan. Uang saya, uang saya, tetapi uang saya pun milik Tuhan. Dari Tuhan, semua dari Tuhan untuk kemuliaan nama Tuhan.
Yang kedua, Bapak, Ibu sekalian, ambisi rohani bukanlah keberhasilan personal. Orang Farisi dan ahli Taurat anggap keberhasilan personal dan kesombongan diri mereka, bisa puasa seminggu dua kali. Dengan berpuasa seminggu dua kali mereka rasa sombong. Saya pun mungkin digoda, ya. Hari pertama tahun ini, bisa puasa. Wah, bisa juga menganggap diri sombong. Tapi tidak lah ya, berdoa dengan tekun, apakah kita bisa sombong terhadap segala kerohanian kita, segala perbuatan baik kita? Nggak. Tapi orang Farisi dan ahli Taurat itu menjalankan demikian. Mereka taat perpuluhan, taat berpuasa, taat berdoa, taat hafal Firman Tuhan, Taurat. Tetapi mereka jalankan untuk keberhasilan diri, bukan kemuliaan Tuhan. Mereka meninggikan diri dengan cara merendahkan orang lain. Mereka meninggikan diri dengan perbuatan mereka. Mereka melakukan keberhasilan itu, bukan dasar cinta akan Tuhan, tetapi kesombongan diri.
Nah, banyak orang Kristen, ataupun kita pun ya, hamba-hamba Tuhan dan pelayan Tuhan, mencari nama dengan menggunakan hal-hal rohani. Kenapa misalkan gereja ini bisa berkembang, ya? Lalu pikirannya adalah karena saya, karena kehebatan saya. Karena saya pemimpinnya, karena ada saya yang melayani, maka gereja ini tetap jalan. Kalau nggak ada saya, gereja ini tidak jalan. Itu kata kita. Tapi kata Tuhan, nggak kok. Tanpa kamu gereja tetap bisa jalan karena Tuhan bisa pakai orang lain. Nggak harus karena diri kita. Pelayanan itu tidak harus karena diri kita. Justru kalau kita dipakai Tuhan untuk melayani dia, kita itu harusnya bersyukur karena Tuhan tidak butuh kita layani, pekerjaan Tuhan pun tidak butuh kita. Tapi kalau kita dipakai Tuhan untuk melayani Dia dan berbagian dalam pekerjaan Tuhan, kita harusnya semakin rendah hati, bukan sombong. Kita harusnya semakin bersyukur Tuhan masih mau pakai saya ya. Selama saya masih bisa melayani, saya melayani dengan baik, bukan demi keberhasilan diri, atau kesombongan diri atau kemuliaan diri ya. Orang yang ambisinya keberhasilan personal, dia juga tergoda untuk mengompromikan kebenaran. Dia memfitnah, menipu, mencuri kemuliaan Tuhan, memakai agama demi kemuliaan diri sendiri. Itulah orang Farisi dan ahli Taurat. Yesus katakan kamu harus lebih dari mereka, kamu tidak boleh seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang begitu sombong begitu cari kepentingan diri.
R.C. Sproul mengatakan, “The Greatest weakness in the church today is that servant of God keep looking over their shoulder for the approval of man.” Kelemahan dari gereja saat ini adalah kalau kita para pelayan Tuhan itu selalu melihat pundak kita atau masa lalu dilihat, wih karena saya, saya bisa melakukan pekerjaan itu benar-benar karena saya ya. Karya saya, kehebatan saya, bukan orang lain. Sombong karena dipakai Tuhan. Wah ini adalah hal yang mengerikan ya. R. C. Sproul berpesan bahwa kecenderungan para pelayan Tuhan seperti pendeta, pemimpin gereja, pelayan rohani lainnya itu lebih mengutamakan pengakuan, pujian, atau persetujuan manusia sebagai daripada berfokus pada kehendak Allah dan kebenaran Allah. Jadi dia bekerja dengan sebaik mungkin untuk apa? Supaya dikasih hormat. Ya, supaya namanya termasyhur, supaya namanya besar, maka saya bekerja dengan sebaik mungkin. Tetapi bukan ya. Ambisi rohani bukan keberhasilan personal, tetapi apa? Meneladani Yesus Kristus dan juga jadi teladan bagi orang lain. Ini adalah ambisi yang kedua. Ambisi rohani adalah meneladani Yesus Kristus, Allah 100% Manusia 100%. Allah yang menjadi manusia dan kita meneladani kemanusiaan Yesus Kristus. Kita bukan jadi ingin sama dengan Allah, kita ingin seperti Yesus Kristus, serupa dengan Yesus Kristus yang mau terus mencari kehendak Bapa, mau terus menaati Firman Tuhan. Nah ini adalah ambisi kita.
Kita mau meneladani Yesus Kristus karena Dia adalah idola kita. Karena Dia adalah patron kita. Meneladani Yesus berarti apa? Melakukan kehendak Bapa dan mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan juga mengasihi sesama manusia. Bila Tuhan menggerakkan kita untuk melakukan berbagai cara untuk mengasihi Tuhan, kita lakukan, kita mau. Hati Yesus selalu berpusat kepada Bapa.
Maka Bapak, Ibu sekalian ya, saya punya beberapa resolusi. Ya resolusi di tahun ini. Meskipun harus berhati-hati dalam beresolusi tetapi kita tidak anti beresolusi. Nah di tahun baru ini saya bagikan dua resolusi saya saja, yang pertama adalah puasa satu minggu dua kali. Wah ini kenapa ini? Gara-gara Vikaris Marvin mempelajari kehidupan orang Farisi dan Ahli Taurat gitu ya? Nah Bapak, Ibu sekalian, bukan berarti saya meneladani hidup untuk meninggikan diri ya, tetapi saya mau mencoba ya, mau menguji diri saya untuk bisa betul-betul untuk menyangkal diri saya, untuk bisa seminggu dua kali gitu ya. Orang Farisi dan ahli Taurat, dikritik Yesus yang melakukan disiplin rohani itu atas dasar pembenaran dan kesombongan. Kenapa kamu berpuasa? Kenapa kamu perpuluhan? Kenapa kamu disiplin ini dan itu? Karena kesombongan. Karena dengan demikian merasa rasa hidup benar dan hidup diselamatkan. Tetapi orang Kristen adalah, kita sudah diselamatkan, kita sudah dibenarkan maka kita mau melayani Tuhan. Mau melakukan firman Tuhan. Kita mau hidup lebih kudus bagi Tuhan. Bukan saya mau menjadi orang Farisi yang membenarkan diri saya, tetapi saya mau menjadi orang yang bertobat menjadi orang Kristen tetapi mereka pun tetap melakukan puasa seminggu dua kali dan juga perpuluhan dalam kehidupan mereka.
Saya ketika memikirkan siapa ya tokoh Kristen yang berpuasa seminggu dua kali lalu perpuluhan juga, saya ternyata menemukan ya, ada dua tokoh ya minimal, ada juga mungkin ada tokoh-tokoh yang lain. Yaitu adalah Nikodemus yang bertobat. Nikodemus pernah bertemu Yesus waktu malam hari untuk bertanya tentang kerajaan Allah. Dan kemudian kenapa kita bisa tahu bahwa Nikodemus itu bertobat, percaya kepada Yesus? Bukankah dia pemimpin Farisi? Dia orang Farisi? Karena Nikodemus melayani Kristus di pekuburan waktu Yesus mati di atas kayu salib, dia datang menguburkan mayat Yesus Kristus. Itu bentuk iman Nikodemus. Nikodemus datang dua kali, menghampiri Yesus ketika Yesus masih hidup, dan juga ketika Yesus sudah mati. Ya mungkin dalam momen-momen lainnya bertemu juga, tetapi itu yang diceritakan di dalam Alkitab. Lalu yang kedua adalah Rasul Paulus. Rasul Paulus adalah orang Farisi dari Mazhab yang terketat dari Sanhedrin itu. Dia berpuasa satu minggu dua kali, perpuluhan juga. Nah ketika Nikodemus dan Rasul Paulus menjadi orang Kristen, apakah mudah mengubah tradisi dia, ketaatan, ataupun disiplin rohani dia? “Ya sudah karena saya sudah jadi orang Kristen, saya kayaknya nggak perlu puasa ya. Saya tidak perlu perpuluhan.” Tidak. Mereka tetap jalankan puasa seminggu dua kali dan jalankan perpuluhan karena mereka sudah terbiasa puluhan tahun untuk melakukan hal tersebut demi Tuhan.
Jadi puasa orang Kristen, kalau Bapak Ibu sekalian hendak berpuasa ya, itu bukan sebagai kesombongan tetapi sebagai ekspresi iman bahwa saya mau hidup bagi Tuhan. Puasa itu ada momennya, nggak mesti ya harus rutin seminggu dua kali. Yesus berkata bahwa apabila kamu berpuasa. Berarti ada nggak waktu berpuasa sebagai orang Kristen? Ada. Tapi kamu tentukan sendiri waktunya. “Aku berpuasa sebelum pelayanan publik, 40 hari Aku berpuasa tanpa makan.” Maka waktu Yesus Kristus melayani di hadapan orang lain, Dia bukan jadi orang yang gemuk ya, Dia sangat kurus. 40 hari nggak makan coba Bapak, Ibu sekalian ya, pasti kurus sekali pasti lemah sekali. Tetapi di dalam kelemahan tubuh-Nya, Dia punya kuasa yang besar sekali untuk menyatakan firman Tuhan. Yesus puasa 40 hari, tanpa makan. Ada waktunya. Maka kapan waktu berpuasa Bapak, Ibu sekalian? Ketika kita dalam kesedihan, ketika kita mau merendahkan diri. Kalau kita rasa kita selalu sombong gitu ya, harus berpuasa, merendahkan diri di hadapan Tuhan. Terlalu banyak dosa, terlalu banyak kesulitan untuk lepas dari kecanduan. Berpuasa. Puasa sebagai disiplin rohani itu menyangkal diri, membuat kita juga lebih sehat, kalau betul-betul teratur ya, kalau betul-betul dengan cara yang benar.
Maka Bapak, Ibu, sekalian, salah satu komitmen tahun ini – ini ambisi, ya, saya berkhotbah soal ambisi rohani – saya lakukan dulu khotbah yang saya ingin lakukan. Itu khotbah yang benar, ya. Kalau khotbah soal ambisi nggak lakukan, nggak punya ambisi sendiri, nggak punya target sendiri, untuk apa berkhotbah? Maka dari itu Bapak, Ibu, sekalian setahun ini – setahun: 52 minggu – kalau saya puasa seminggu dua kali, ya, saya seperti orang Farisi, ya, seperti orang Farisi, tapi saya hitung berarti saya 104 kali puasa, ya. 24 jam satu kali puasa, ya.
Dan, ya puji Tuhan, ya, sudah dua minggu lewat, berhasil juga, ya, puasa seminggu dua kali di hadapan Tuhan. Puji Tuhan nggak langsung kurus, ya. Baru dua minggu ini, ya, baru empat kali puasa. Masih normal aja kan? Masih bisa hidup juga. Nggak makan tapi tetap minum gitu, ya. Nah ini tidak mudah tapi tidak salah mencoba juga, ya. Nah maka, tapi ini baru dua minggu. Bisa nggak minggu depan saya gagal? Ya, bisa aja gitu, ya. Tapi bisa nggak berhasil juga? Who knows, ya, nggak tahu. Kalau Tuhan menganugerahkan supaya saya betul-betul bisa, ya lebih dekat dengan Tuhan lah. Bukan karena, puasa itu bukan karena sesuatu hal-hal yang khusus, bukan! Hal-hal yang sederhana, biasa saja. Hal-hal yang betul-betul secara rohani itu mau mengasihi Tuhan, ya. Maka jangan kaget mungkin kalau tiga bulan, enam bulan tiba-tiba saya kurus, ya. “Aduh, lemas khotbahnya.” Jangan salahin istri saya, “wah jangan-jangan istri saya nggak kasih makan gitu, ya.” “Ayo masak!” Gitu, ya. Nggak. Itu karena saya, ya, karena saya. Bisa juga kok tetap gemuk kalau puasa seminggu dua kali. Kenapa? Karena pas buka itu porsinya tiga kali makan gitu, ya. Atau dua kali makan. Ya tetap gemuk lah, ya. Itulah, tergantung situasi dan kondisi, ya.
Nah, yang ketiga. Ambisi rohani ketiga adalah bukan keinginan diri ya. Kalau bicara soal keinginan, Bapak, Ibu, sekalian, itu susah dibantah, ya. Itu sangat susah dibantah soal keinginan. Kalau soal pikiran, soal emosi itu bisa saja didiskusikan, ya: kenapa ini dan itu. Tapi soal keinginan itu nggak bisa didiskusikan lagi. Misalkan, ya, kenapa tidak mau beribadah? Ya, kan? Kalau misalnya perasaannya, “Aduh, males capek.” Gitu, ya. “Nggak, nggak nyaman ibadah.” Itu bisa didiskusikan, “Loh, kenapa nggak nyaman? Ayo bareng saya yuk supaya nyaman!” Solusi kan? “Ayo saya anterin.” Supaya nyaman. Terus kalau misalkan nggak ibadah kenapa? “Aduh kayaknya lagi nggak fokus.” Udahlah, ya, udah bisa aja kita tetap, “justru ibadah supaya fokus pikiran kamu.” Gitu, ya. Tapi kalau sudah bicara soal keinginan, “Kenapa nggak mau, kenapa tidak ibadah hari ini?” “Karena saya tidak mau.” “Waduh, kenapa nggak mau?” “Nggak mau. Ya, memang nggak mau. Lagi nggak mau!” Gitu, ya. Wah sulit, ya kalau soal, bicara soal keinginan tuh nggak bisa dibantah, ya. Keinginan itu kalau nggak mau: nggak mau, udah aja. “Kenapa tidak mau pelayanan paduan suara?” “Tidak mau ikut.” “Kenapa tidak mau ikut NREC?” “Nggak mau.” Udah nggak bisa dibantah oleh orang. Mau dinasehatin juga tetap nggak bisa. “Kenapa tidak mau?” Ya. “Kenapa kamu tidak mau?” “Ya tidak mau!” Gitu, ya. Oh, mentok lagi. “Kapan kamu maunya?” “Ya, nanti aja kalau saya mau!” “Kapan kepinginnya?” “Saat ini belum ingin.” Wah sulit sekali.
Sebagai manusia berdosa, Bapak, Ibu, sekalian, susah sekali, ya mengendalikan keinginan kita. Pelayanan tuh sebenarnya, sedikit banyak waktu kita melayani Tuhan, itu sebenarnya butuh penyangkalan keinginan kita. Menyangkal diri. Pelayanan butuh menyangkal diri, memikul salib, dan ikut Yesus. Kalau pada akhirnya kita mengerjakan semua yang kita mau, jangan-jangan itu bukan mengikut Yesus. Karena syarat menjadi murid Kristus adalah sangkal diri. Berarti berkata tidak kepada diri. Diri inginnya malas. Berkata, “Saya tidak mau malas. Saya maunya rajin!” Diri tidak mau pelayanan. Saya berkata, “Saya tidak mau tidak pelayanan. Saya mau melayani Tuhan.” Ya, itu adalah syarat mengikut Yesus. Harus sangkal kedagingan. Harus kemudian memikul salib, menjalankan tugas kita, dan juga ikut Yesus ke mana Yesus pergi.
Keinginan kita sebagai manusia berdosa pada dasarnya adalah memuaskan diri, bukan memuaskan Tuhan. Maka dari itu, kalau kita keinginannya bisa memuaskan Tuhan, keinginan kita tuh keinginan hal yang baik, yang benar, hal yang rohani, itu anugerah Tuhan. Pada dasarnya manusia berdosa itu egois: inginnya melakukan yang dikehendaki oleh diri. Maka dalam satu buku, ya, judulnya “Tidakkah Kamu Memiliki Hak?”, ya, sebagai orang Kristen hak terbesar adalah hak untuk melepaskan hak kita. Hak kita: malas-malasan hari Minggu, liburan hari Minggu, jalan-jalan hari Minggu. Itu hak manusia berdosa. Tapi kita mau buang hak tersebut demi beribadah kepada Tuhan, melayani Tuhan, baca Firman, dengar khotbah. Itu hak terbesar dari orang Kristen. Melepaskan hak: hak untuk berdosa, hak kenyamanan diri yang sebenarnya mungkin juga hak itu bukan berdosa, tetapi “Demi Tuhan saya lepaskan hak tersebut!” Misalkan kan, sebagai orang Kristen kita bisa, boleh saja makan babi, ya, B2. Tapi karena kita waktu mau mengabarkan Injil kepada orang yang anti dengan babi itu, “Ya udahlah, saya lepaskan hak saya. Saya nggak makan. Saya makan yang lain.” itu kan melepaskan hak. Boleh nggak, makan? Boleh! Tapi dia tidak makan demi apa? Menjaga relasi dengan baik. Gitu, ya. Itu adalah keinginan kita, ya.
Nah, ambisi rohani kita bukanlah keinginan diri tetapi apa? Kehendak Tuhan. Jelas, ya? Tujuan hidup kita adalah melakukan kehendak Tuhan dan kehendak Tuhan pasti baik, pasti berkenan di hati Tuhan, dan juga pasti menjadi berkat bagi sesama.
Nah, resolusi kedua dari saya, saya sharing-kan ya, yaitu adalah punya pembacaan setiap hari tetapi topiknya khusus. Nah, biasanya Bapak, Ibu, sekalian, ya, saya ada pembacaan setiap hari: daily reading. Kalau daily bible reading harusnya hamba Tuhan harus gitu, ya. Daily bible reading itu harus. Tetapi daily reading supaya apa? Supaya kita betul-betul lebih punya hati seorang murid yang mau belajar sesuatu yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Gitu, ya. Nah resolusi kedua saya adalah daily reading. Tetapi biasanya kan daily reading saya tuh macam-macam: bisa topik penginjilan, bisa kerohanian, ya, spiritualitas, kalau doktrinal juga bisa. Tetapi saya kemudian menggumulkan, ya tahun 2025 ini pengin coba lah skill baru, ya. Fokus baru di dalam pembelajaran pribadi saya, self-study saya. Yaitu apa? Yaitu saya pilih tentang filsafat, ya, tentang filsafat. Saya coba fokus setiap hari itu ada dengar khotbah soal filsafat atau baca buku tentang filsafat, ya. Kenapasaya pilih tersebut? Ya, karena saya pikir-pikir filsafat itu menolong untuk saya melayani Tuhan dengan lebih besar lagi. Filsafat berarti apa, Bapak, Ibu sekalian? Cinta bijaksana. Waktu orang belajar filsafat, dia harusnya semakin bijaksana dan filsafat ini mendasari seluruh bidang-bidang yang lain seperti teologi.
Ada hamba Tuhan mengatakan bahwa, “Setelah teologi – kalau Martin Luther katakan bidang yang terpenting lagi adalah musik. Itu bagi Martin Luther. Tapi ada seorang hamba Tuhan mengatakan – setelah teologi bukan musik, tapi filsafat yang paling dekat. Sedangkan yang tengah itu adalah kebenaran.” Pertama itu Alkitab. Ya, Alkitab itu adalah harus kita baca. Harus kita pelajari. Itu makanan rohani kita. Itu kebenaran. Kedua yang terpenting adalah teologi. Ya, teologi kita apa? Bagaimana kita mengenal Tuhan? Caranya bagaimana? Ituada banyak jenis teologi, kan? Yang ketiga adalah —paling dekat dengan teologi itu filsafat. Ya, kalau mau di sekalian, tambah musik lah. Wah, itu adalah bidang-bidang yang sebenarnya sangat penting kita pelajari. Untuk apa? Untuk memperbesar kapasitas kita melayani Tuhan. Hikmat. Jadi filsafat bicara soal mempelajari hikmat. Hikmat di dalam setiap bidang itu ada dan hikmat yang sejati adalah Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah hikmat Allah dan kekuatan Allah.
Maka waktu saya coba gumulkan, saya sih ada interest yang lain, ya. Saya mau mempelajari soal konseling, soal puritan, soal pernikahan, soal macam-macam, ya, yang lain. Tetapi pada akhirnya saya pilih filsafat otodidak. Ya, saya tidak kuliah filsafat seperti Vikaris Lukman, ya, kuliah filsafat, S2. Saya kuliah filsafat sendiri, otodidak, ya. Tapi semoga tidak tersesat di dalam filsafat-filsafat dunia, ya. Ada hikmat-hikmat dunia yang palsu. Alkitab cuma satu kali mencetuskan kata filsafat. Ya, hanya satu kali. Satu kata di dalam seluruh Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, itu ada satu kata filsafat. Ya, yaitu di dalam kitab Kolose itu. Itu bicara filsafat kosong dan palsu. Itu harus kita jauhi. Tetapi ada filsafat yang sejati, itu adalah tentang Yesus Kristus.
Dan fungsi filsafat ternyata mirip seperti fungsi teologi juga. Yaitu apa? Supaya kita bisa ber-etika dan ber-apologetika. Ya, ber-etika maksudnya apa? Kita bisa hidup tepat seperti yang Tuhan mau. Itu namanya hikmat. Maka buku di dalam Alkitab, Kitab Amsal, ada 31 pasal, ya, itu menunjukkan bahwa kita tuh harus setiap hari minta hikmat Tuhan. Ya. 31 pasal itu satu bulan, ya. Hari dalam satu bulan, 31, itu menunjukkan kepada kita, oh, sangat penting hikmat Tuhan. Karena apa? Dengan hikmat dari Kristus, dengan Yesus Kristus sendiri, kita bisa hidup tepat di hadapan Tuhan. Berbicara itu secara tepat. Kepada orang yang lebih tua, kepada anak-anak, bisa tepat. Ya, berpikir itu secara tepat. Ya, jangan salah tindakan, jangan salah ambil keputusan. Kita semuanya itu tepat, benar, baik. Wah, itu sangat penting ya. Ternyata filsafat itu supaya kita bisa berkotbah dengan tepat juga. Itu butuh filsafat, ya. Minum dengan cara yang tepat. Kapan butuh minum? Kapan butuh makan? Kapan harus tidak makan? Kapan harus tidak minum? Itu butuh filsafat semua. Bangun gedung gereja juga butuh filsafatnya. Arsiteknya itu butuh filsafat. Di dalam seluruh bidang pun ada filsafatnya. Ada hikmatnya harus bagaimana soal etika, soal keindahan, soal ketepatan.
Dan juga fungsi filsafat berarti ber-apologetika. Saya tahu pikiran kamu apa. Itu karena sudah punya hikmat dari Tuhan. Kenapa kamu bisa percaya bahwa Allah itu tidak ada? Terus dengan filsafat kita bisa menilai iman seseorang dan juga menjelaskan kebenaran firman Tuhan dengan cara yang tepat kepada orang yang membutuhkan dan terjebak dalam masalah tersebut. Dokter butuh filsafat. Kasih resep yang tepat. Men-diagnosa penyakit. Ini resepnya. Itu dengan filsafat, dengan hikmat. Ya, tata cara yang benar itu juga filsafat semua.
Nah, Bapak, Ibu sekalian, sekali lagi saya ulangi, ya. Ada tiga ambisi rohani. Yang pertama bukan uang atau kekayaan tetapi perkembangan kerajaan Tuhan. Bukan keberhasilan personal tetapi meneladani Yesus Kristus dan jadi teladan juga bagi orang yang lain. Dan juga bukan keinginan diri tetapi kehendak Tuhan.
Bapak, Ibu sekalian kita lihat bahwa Yesus Kristus teladan kita yang teragung, apakah dia berambisi? Woah, Yesus Kristus itu tidak berdosa, ya, dalam kehidupan-Nya dan Yesus adalah salah satu teladan seseorang yang punya ambisi rohani yang sangat besar. Hidup-Nya untuk menggenapi kehendak Bapa. Hidup-Nya untuk kemuliaan Allah. Hidup-Nya untuk keselamatan bagi umat-Nya. Hidup-Nya untuk memperluas kerajaan Allah dan menjadi teladan yang sempurna bagi para pengikut-Nya. Yesus Kristus meskipun dalam rupa Allah, tidak menganggap diri-Nya itu harus dipertahankan. “Saya harus melepas hak Saya sebagai Allah,” dalam arti apa? Mengosongkan diri-Nya. Untuk apa? Mengambil rupa manusia. Kalau Allah tetap Allah saja nggak masalah. Tetapi Dia mau mengosongkan diri-Nya dengan apa? Menambah natur yang baru dalam diri-Nya, natur manusia supaya apa? Supaya bisa menjadi jalan keselamatan bagi orang berdosa. Dia tetap Allah. Bukan berarti kalau Yesus jadi manusia, ya, Allah jadi manusia, Allah-nya hilang. Nggak. Allah jadi manusia, Dia anak Allah, Dia juga anak manusia. Itu Yesus Kristus. Maka dengan natur kemanusiaan-Nya, Dia bahkan mati di atas kayu salib menanggung hukuman dosa kita karena Dia taat kepada kehendak Bapa.
Nah, sebagai orang Kristen, kita harus memiliki ambisi rohani seperti Yesus Kristus dan ada beberapa tips agar kita bisa memiliki ambisi rohani, Bapak, Ibu sekalian ya, yaitu mempelajari 5 karakteristik dari radical lifestyle, ya. Tadi boleh ditampilkan slide-nya. Ada 5. Yang pertama adalah tinggal dalam damai Injil Kristus. Bapak, Ibu sekalian yang belum baca firman Tuhan setiap hari, coba baca. Jangan malu-maluin Tuhan yang sudah membuatkan Alkitab bagi kita. Salah satu karya Tuhan yang kita bisa pegang, yang kita bisa lihat, yang kita bisa rasakan adalah Alkitab yang kita miliki. Itu karya Tuhan di dalam dunia ini. Karya fisik Tuhan. Allah itu adalah Roh, tetapi Roh Kudus bekerja lewat orang-orang yang dipilih-Nya untuk membuat Alkitab yang adalah firman Tuhan. Maka kita harus baca firman Tuhan setiap hari. Yang kedua, menyadari bahwa hidup kita bukan milik kita lagi. Kesadaran ini, awareness ini tentang hidup saya bukan hidup milik saya sendiri, tetapi sebenarnya milik Kristus. Saya sudah dibeli dengan darah yang begitu mahal. Maka ini adalah sikap berdoa. Maka Rasul Paulus ketika mengatakan kepada jemaat Tesalonika, “Tetaplah berdoa.” Pray without ceasing. Berdoa tanpa berhenti. Tetaplah berdoa. Berarti orang Kristen itu bisa berdoa senantiasa. Kita berdoa setiap detik. Karena apa? Karena kesadaran bahwa hidup saya itu milik Tuhan, hidup saya itu bagi Tuhan. Nah ini adalah sikap yang sangat radikal, ketika kita berdoa senantiasa dalam hati bahwa saya senantiasa milik Tuhan.
Yang ketiga, relasi dengan gereja lokal dengan serius. Itu mengubahkan kehidupan kita juga. Ya bukan saja kita setiap hari baca Firman saja, setiap hari kita berdoa, tetapi ada pertemuan-pertemuan ibadah kita datang, kita bertemu dengan sesama orang Kristen, kita mengasihi mereka, mereka mengasihi kita. Dan juga ada gesekan, manusia menajamkan sesamanya seperti besi menajamkan besi. Kemudian kita dibentuk menjadi orang Kristen yang tidak childish. Apa-apa sedikit, ngambek. Tidak dihormati sedikit, tidak disalami sedikit. “Wah saya tidak mau lagi ke gereja itu.” Misalkan ya. Nggak! Kita kalau tekun, relasi dengan gereja lokal serius, itu betul-betul melatih iman kita.
Yang keempat, jadilah seorang murid yang berkomitmen. Kita punya hati seorang murid. Jangan pikir kita itu lebih hebat dari orang lain terus. Meskipun sudah jadi pengkhotbah, sudah jadi guru sekolah minggu, nggak, kita itu terus belajar di dalam kehidupan kita. Dan yang kelima Bapak, Ibu sekalian, carilah kesempatan-kesempatan pelayanan. Warta yang kita miliki di dalam gereja kita, kita bisa lihat, gumulkan, doakan. Kita kira Tuhan panggil saya itu, sebagai anggota tubuh Kristus itu, melayani dalam bidang apa. Entah paduan suara kah, entah sekolah minggu kah, entah usher, entah kolektan, entah pemusik, kita bisa gumulkan. Saya mau melayani Tuhan. Bagaimana caranya? Jangan sampai kita sudah menderita, sudah sakit, renta, sudah tua, sudah tidak bisa apa-apa lagi, kita baru mengatakan, “Tuhan saya mau cari kesempatan melayani Tuhan.” Sudah telat.
Biasanya setiap minggu saya ada pelayanan di Solo ya, di Solo ada pelayanan Rumah Sakit. Ada seseorang itu sudah tidak bisa lagi berdiri ya, sudah lumpuh dari pinggang sampai ke kaki. Dia sudah nggak bisa apa-apa. Tapi dia cerita bahwa dulu saya jadi ketua acara tertentu, saya melayani. Tapi kalau sudah lumpuh, bagaimana sekarang melayani? Apakah perintah Tuhan itu tidak bisa kita jalankan ketika kita sakit? Lalu dalam diskusi saya, saya bilang, “Ya sudah, ini memang sudah istirahat, sudah sakit, ada kelemahan, tapi tetap kita bisa melayani Tuhan dengan cara apa? Ya kita berdoa.” Apakah kita mau sampai kesempatan pelayanan itu sampai sempit sekali, hanya bisa berdoa saja baru kita mau melayani Tuhan? Nggak bisa. Justru ketika masih sehat, masih kuat, masih ada kemampuan, kita cari kesempatan pelayanan, terjun di dalam pelayanan. Ini bicara soal kualitas rohani.
Maka waktu kita bicara soal kualitas rohani, kita berdoa supaya kuantitas pun mengikuti. Kalau kerohanian kita baik, siapa sih yang nggak suka kita? Ya mungkin orang yang berdosa, orang yang bebal. Tapi kalau kita melihat Yesus Kristus, banyak orang yang cinta Tuhan itu senang sama Yesus Kristus. Tapi banyak juga yang benci sama dia. Ya karena tidak suka kebenaran, tidak suka firman Tuhan. Tetapi kita boleh berambisi ya supaya kita juga punya kerohanian yang baik, nanti kuantitas itu mengikuti. Kita bisa berambisi dalam pekerjaan, kita berambisi dalam keluarga, atau mungkin gereja ini yang banyak kursi kosongnya. Ada yang punya ambisi, “Wah tahun ini saya ingin bisa bawa keluarga saya yang belum ke gereja untuk datang di dalam ibadah”? Atau berambisi, “Pokoknya saya bawa jiwa”? Bisa. Boleh, sangat boleh, tetapi juga perhatikan kerohanian kita. Kita menjangkau jiwa dengan cara yang tepat, dengan cara yang bijaksana maka kuantitas pun akan menyusul.
Terakhir Bapak, Ibu sekalian, kita lihat William Carey, seorang bapak misionaris modern ya, bapak misi, memberikan kutipan, di dalam slide, “Expect great things from God, attempt great things for God.” Ini suatu kalimat yang sering kali kita dengar, dan juga mendorong kita untuk memiliki ambisi yang rohani. “Harapkanlah hal-hal yang besar dari Tuhan. Hal-hal yang besar dari Tuhan. Usahakanlah hal-hal besar untuk Tuhan.” Kutipan ini diambil dari khotbahnya. Judul khotbahnya William Carey adalah “Expect great thing from God, attempt great things for God.” Supaya apa? Supaya orang Kristen itu betul-betul mau memacu dirinya untuk memperluas kerajaan Tuhan. Kiranya Bapak, Ibu sekalian, sebagai orang Kristen, khotbah hari ini boleh menggerakkan Bapak, Ibu sekalian untuk semakin memiliki dorongan, hasrat yang kuat untuk mempersembahkan hidup bagi Tuhan. Rm. 12:1 mengatakan, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Tubuh saja kita persembahkan, apalagi seluruh hal yang kita miliki bagi Tuhan. Kiranya kita boleh senantiasa memiliki ambisi rohani bagi kerajaan Allah. Mari kita sama-sama berdoa.
Ya Tuhan, Allah Bapa kami yang di surga, kami mengucap syukur untuk Engkau yang sudah begitu mengasihi kami, Engkau yang terlebih dahulu melayani kami, Engkau yang terlebih dahulu berkorban bagi kami dan mengasihi kami dengan kasih di Kalvari. Kami bersyukur Tuhan untuk Tuhan Yesus yang mau mempersembahkan hidup-Nya untuk menyelamatkan jiwa kami yang sudah jatuh ke dalam dosa dan tidak layak ini. Kami mau Tuhan, supaya hidup kami semakin memiliki cinta yang besar kepada Tuhan saja. Dan Tuhan juga kiranya berikan kami bijaksana untuk hidup sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Peliharalah iman kami Tuhan, tambahkanlah kasih kami, tambahkanlah pengharapan kami, tambahkanlah iman kami supaya hidup kami boleh semakin dipakai Tuhan untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan. Di tengah-tengah dunia yang begitu berdosa, banyak penderitaan, banyak perbuatan jahat, kiranya kami sebagai gereja Tuhan, sebagai orang-orang Kristen boleh menjadi terang dan garam di dunia yang kelam ini. Pimpin hidup kami Tuhan, pakailah hidup kami untuk bisa berfokus kepada pekerjaan Tuhan, berfokus kepada Pribadi Yesus Kristus dan juga berfokus kepada kehendak Tuhan saja. Ampunilah dosa-dosa kami ya Tuhan, dan peliharalah hidup kami. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Penebus dan Juruselamat kami yang hidup, kami sudah berdoa dan bersyukur. Amin. (HS)
