Ringkasan Khotbah Pdt. Titus Ndoen, 5 Januari 2025

Ringkasan Khotbah Pdt. Titus Ndoen

Mazmur 90

Mazmur ini ditulis oleh Musa ketika dia berusia kira-kira 120 tahun. Kemungkinan besar ditulis ketika Musa dan orang Israel berada di padang gurun. Ketika itu  Tuhan sedang murka terhadap orang Israel.  Musa meresponi murka Tuhan dengan menaikkan doa dalam bentuk mazmur.  Walaupun mazmur ini sebetulnya adalah sebuah doa, namun di dalamnya bukan hanya terdapat permohonan. Mazmur ini dimulai dengan sebuah releksi/permenungan tentang kekekalan Allah dan kesementaraan dan keberdosaan hidup manusia di dunia serta respons yang benar terhadap kedua hal itu.

Ada beberapa pelajaran yang kita bisa ambil dari Mazmur ini. Pertama tentang Allah, Tuhan adalah tempat perteduhan/perlindungan umat-Nya turun temurun. Ini adalah pernyataan iman Musa di tengah-tengah situasi yang sangat sulit. Musa memimpin suatu bangsa yang masih baru, tidak terlatih dalam berperang, tidak mempunyai senjata-senjata perang. Mereka harus berjalan melalui bangsa-bangsa asing yang lebih kuat secara militer. Mereka pasti merasa takut dan terancam oleh musuh-musuh mereka yang selalu siap untuk menyerang mereka kapan pun.  Dalam keadaan seperti itulah Musa berkata, ‘Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan/perlindungan kami turun temurun.’ Kalimat ini ‘mengingatkan’ Tuhan akan perjanjian/Covenant yang dibuat oleh-NYA dengan Abraham, Ishak dan Yakub.  Engkau adalah tempat perteduhan bagi Abraham, Engkau adalah tempat perlindungan bagi Ishak, Engkau adalah tempat perteduhan bagi Yakub/Israel, Engkau juga adalah tempat perteduhan bagi kami, anak-anak Israel, dan juga bagi anak-anak kami. 

Tuhan Allah adalah kekal. Dia tidak berubah. Oleh sebab itu Dia dapat diandalkan. Dia adalah tempat perteduhan yang aman dan kokoh. Karena Dia tidak berubah maka Dia tetap setia terhadap umat-Nya.  Tuhan berdaulat atas manusia, dan juga atas alam semesta. Keberadaan Allah yang kekal di sini dikontraskan dengan kesementaraan hidup manusia di bumi ini.

Seribu tahun manusia sama dengan satu hari bagi Allah. Seribu tahun adalah the limit of modern history, an indefinite length of time, the long stretch of time. Dalam jangka waktu seribu tahun, itu manusia bisa berbuat banyak hal, tetapi dari pandangan Allah, seribu tahun itu sama saja dengan satu hari. Itu juga berarti bahwa segala sesuatu yang dikerjakan dalam jangka waktu seribu tahun, dapat dilakukan oleh  Tuhan dalam waktu yang singkat. Dia cukup berfirman, “jadilah maka jadilah”. Segala prestasi dan kejayaan manusia yang telah dibangun berabad-abad dapat dengan mudah dihancurkan oleh Tuhan dalam sekejap.  Yang terpenting bukanlah lamanya waktu kita hidup di dunia ini, tetapi bagaimana kita mengisi hari-hari kita dengan melakukan kehendak Tuhan.  Meskipun kita bisa hidup sampai seribu tahun seperti yang dicita-citakan oleh Chairil Anwar, tetapi kalau tanpa Tuhan, hidup kita itu tidak ada maknanya sama sekali. 

Kedua, Tentang Manusia. Ada tiga gambaran tentang Manusia dalam Mazmur ini. Manusia digambarkan seperti debu, seperti rumput (berkembang dan bertumbuh di waktu pagi, lisut dan  layu di waktu siang), dan seperti mimpi. Ketiga Gambaran itu menunjukkan keterbatasan manusia. Selain  terbatas, manusia juga berada manusia juga berdosa di hadapan Tuhan dan berada di bawah murka Tuhan. Manusia  hidup dalam penderitaan dan kesukaran

Ketiga, tentang Hukuman/Murka Allah. “Engkau mengembalikan manusia kepada debu.”  ‘Debu’ mengingatkan kita kepada Firman Allah kepada Adam: “…. Engkau akan kembali kepada debu karena dari situlah engkau diambil.” (Kej 3). “Engkau menghanyutkan manusia seperti mimpi, seperti rumput”. “Sungguh, kami habis lenyap karena murka-Mu, dan karena kehangatan amarah-Mu kami terkejut.” “Segala hari kami berlalu karena gemas-Mu”. “Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu”. “Hari-hari Engkau menindas kami”.

Respons yang benar terhadap murka Allah, pertama memohon Tuhan mengajar kita menghitung hari-hari. Apakah yang dimaksud dengan ‘menghitung hari’? Bagaimana caranya? ‘Cara’ Tuhan menghitung hari: seribu tahun = satu hari. Ini menunjukkan bahwa waktu kita hidup di dunia itu sangat singkat. Jikalau 1000 tahun = satu hari. Bagaimana dengan 70  tahun? (Ungkapan 70-80 tahun tidak merujuk pada rata-rata usia orang pada waktu itu. 70-80 tahun adalah usia ideal pada waktu itu. Jikalau Lebih dari 70 atau 80 tahun yang ada hanyalah penderitaan dan kesukaran). 

Hidup ini sementara, kesadaran terhadap kesingkatan hidup menolong kita untuk menggunakan waktu kita yang singkat dengan lebih bijaksana untuk kebaikan kekal. Kita perlu mengambil waktu untuk menghitung waktu kita dengan pertanyaan,  apa yang saya ingin terjadi dalam hidup saya sebelum saya meninggal? Hal apa yang harus lakukan hari ini untuk tujuan itu? Menurut Efesus 6: “waktu-waktu ini adalah waktu yang jahat”. Mengapa perlu menghitung hari-hari? Supaya memiliki hati yang bijaksana. Apa artinya memiliki hati yang bijaksana. Kalau kita menghitung hari-hari kita sesuai dengan cara Tuhan maka kita akan beroleh hati yang bijaksana. Hati yang bijaksana itu hanya bisa diperoleh kalau kita belajar menghitung dan melihat waktu kita seperti cara Tuhan menghitung dan melihat waktu.  Kita harus melihat hari-hari kita itu dari perspektif kekekalan.

Sudah berapa harikah kita hidup di planet ini? Apakah yang sudah kita kerjakan di dalam hari-hari yang sudah kita lalui itu? Apakah kita mengisi hari-hari kita dengan hal-hal yang menyenangkan hati Tuhan? Apakah kita mengisi hari-hari kita dengan hal-hal yang berbau kekekalan? Tinggal berapa hari lagi kita berada di dunia ini? Hidup yang berkenan kepada Tuhan dimulai dengan menghitung waktu kita. Berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk pelebaran Kerajaan Allah di bumi ini dan untuk kemuliaanNya? Kalau kita tidak belajar menghitung hari-hari kita, maka kita  akan menyia-nyiakan waktu yang Tuhan telah berikan kepada kita. 

Kedua, memohon Tuhan untuk kembali melawat kita. Mungkin ada di antara kita yang merasa kering secara rohani; merasa Tuhan sudah meninggalkan kita, Tuhan begitu jauh dari kita. Tidak ada salahnya kita meminta Tuhan untuk kembali melawat kita.  Di bagian sebelumnya Tuhan berfirman kepada manusia, “kembalilah”, di bagian ini kita melihat bahwa orang berdosa juga boleh memanggil  Tuhan untuk kembali.  Secara rohani kita tidak  bisa kembali kepada Tuhan. Dengan kekuatan kita,  kita hanya bisa kembali kepada debu. Kekuatan dan dosa kita hanya mampu mengembalikan kita kepada debu. Untuk datang kembali kepada Tuhan kita membutuhkan pertolongan Tuhan. Tuhan Yesus berkata kepada Nikodemus, “kamu harus dilahirkan kembali”. Tanpa kelahiran kembali kita tidak mampu melihat Kerajaan Surga.

Ketiga, memohon dipuaskan oleh kasih setia Tuhan. Satisfy us in the morning with your steadfast love. Musa memohon agar dirinya dan umat Israel dipuaskan oleh kasih setia Tuhan.  Di saat berada di bawah murka  Allah, kebutuhan terbesar kita adalah kasih setia Tuhan.  Tanpa kasih setia Tuhan kita tidak akan memiliki sukacita dan damai sejahtera yang sejati.  Tanpa kasih setia Tuhan, kita tidak akan pernah bisa menikmati hidup dengan penuh dan berarti, berapa pun panjangnya dan lamanya hidup kita. Musa juga meminta Tuhan membuat mereka bersukacita seimbang dengan hari-hari mereka menderita. Puji Tuhan, di dalam Kristus, penderitaan kita tidak sebanding dengan kemuliaan yang Tuhan janjikan. Musa meminta agar penderitaan mereka sebanding dengan sukacita mereka, tetapi Tuhan Yesus, yang lebih besar daripada Musa memberikan sesuatu yang lebih besar daripada permintaan Musa. Tuhan memberikan kemuliaan kepada kita jauh lebih banyak daripada penderitaan kita hari ini.

Keempat, memohon Tuhan meneguhkan pekerjaan kita. Manusia diciptakan dengan suatu mandat untuk bekerja. Pekerjaan bukanlah akibat dosa. Sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa manusia sudah diperintahkan untuk bekerja. Memang sejak manusia jatuh ke dalam dosa, pekerjaan manusia menjadi lebih berat: “dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kej. 3:17-19)

Kehidupan manusia tidak bisa lepas daripada pekerjaan. Itu sebabnya Paulus berkata, jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. (2Tes 3:10). Musa tidak meminta Tuhan membebaskannya dari pekerjaannya. Di awal doa ini, Musa menulis Doa Musa, abdi Allah. Musa sadar benar bahwa dirinya adalah hamba Allah. Dalam arti luas, semua umat Tuhan juga adalah hamba Allah. Selama kita hidup kita memang harus bekerja, tetapi semua hasil pekerjaan kita itu akan berakhir di toilet dan kuburan jikalau Tuhan tidak meneguhkannya.  Pengkhotbah berkata, “Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” (Pkh 1:14).

Kalau kita merenungkan dengan jujur dan dalam tentang hidup kita, maka kita akan bertemu dengan pertanyaan besar ini: Siapakah yang bisa melepaskan kita dari kesia-siaan hidup, kesia-sian pekerjaan, kesiaan penderitaan, dan dosa serta murka Allah?  Musa berkata siapakah yang mengenal kekuatan murka Allah? Pertanyaan Musa ini mewakili pertanyaan semua manusia. Satu-satunya pribadi yang mengenal kekuatan murka Allah adalah Dia yang berkata, “Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Hanya Yesus Kristus yang mengenal secara tuntas kekuatan murka Allah karena Dialah yang telah menanggung murka Allah yang seharusnya ditimpakan kepada saudara dan saya. Barang siapa percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, dia dibebaskan dari murka Allah, dari kuasa dosa, dari kesia-siaan hidup.  Paulus berkata, “dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1Kor 15:58).

Tuhan Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” (Mat 11:28-30 ITB). Datanglah sekarang kepada Tuhan Yesus, percayalah kepada-Nya, dan pikullah salib yang Dia berikan, maka jiwa kita akan mendapat ketenangan.

We are created by God to have fellowship in Him, therefore our hearts are restless until they find rest in Him alone (Augustine). Kita diciptakan oleh Tuhan untuk memiliki persekutuan di dalam Dia, oleh karena itu hati kita gelisah sampai mereka menemukan ketenangan di dalam Dia saja (Agustinus).