Kembali ke Betlehem
Luk. 2:1-16
Vik. Lukman Sabtiyadi, S.Th., M.Fil.
Bapak, Ibu, Saudara sekalian, hari ini saya mau mengajak kita kembali merenungkan tentang peristiwa Betlehem. Hari ini adalah masih momen natal, tapi sekaligus juga momen kita menjelang akhir tahun. Saudara sekalian, ketika antara tegangan dari dua momen ini mari kita untuk kembali merenungkan hari-hari yang sudah lewat di belakang dan hati kita juga dibawa untuk mengaitkannya di dalam momen Natal.
Saya mau mengajak kita hari ini untuk di dalam masa-masa menjelang akhir tahun dan sekaligus Natal kita melihat kembali akan kebenaran Allah yang dinyatakan di dalam kisah yang sudah kita baca yaitu perjalanan ke Betlehem. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Betlehem di dalam Alkitab itu ada dua. Pertama, Betlehem di Zebulon, mari kita buka Yos. 19:15. Yos. 19:15, “Selain itu ada kata Nahalal, Simron, Yidala dan Betlehem seluruhnya 12 kota dengan desa desanya. Itulah milik pusaka Bani Zebulon menurut kaum mereka kota-kota itu dengan desa-desanya.” Dan Betlehem Zebulon ini ada satu ayat lagi yang menyatakan yaitu di dalam Hak. 12:8,10. Tetapi hari ini kita akan merenungkan Betlehem yang sangat kita kenal yaitu Betlehem di Yehuda. Mari kita buka Hak. 17:7. Hak. 17:7 “Pada waktu itu ada seorang pemuda dari Betlehem Yehuda dari kaum Yehuda, ia seorang Lewi dan tinggal di sana sebagai pendatang”. Di dalam Perjanjian Lama ada diberikan keterangan Betlehem Yehuda karena memang ada dua Betlehem di sini. Betlehem Yehuda adalah Betlehem yang terletak dekat dengan Yerusalem, pada zaman dulu kira-kira 4 hari jauh perjalanan.
Apa yang bisa kita renungkan tentang Betlehem? Bapak, Ibu, Saudara sekalian ada beberapa hal yang kita renungkan dan kiranya kebenaran yang kita renungkan ini dapat sungguh nyata juga di dalam kehidupan kita. Yang pertama Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Betlehem itu adalah kota penuh penderitaan, kematian dan tragedi. Bapak, Ibu, Saudara sekalian kita bisa melihat di dalam Perjanjian Lama ada kisah yang mungkin menyedihkan, secara khusus bagi Yakub; yaitu Rahel yang dikasihinya itu meninggal dan dikubur di Betlehem (Kej. 35:16-20, Kej. 48:7). Di dalam perjalanan bersama-sama dengan Yakub sekeluarga menuju Betlehem, di dalam perjalanan itu mereka berduka karena Rahel meninggal dan dikuburkan di sana.
Saudara sekalian juga mengingat di dalam Perjanjian Lama ada kisah yang begitu tragis, yang begitu menyedihkan yang mungkin sangat mengherankan bisa terjadi di tengah-tengah umat Tuhan, di dalam Hak. 19. Saudara sekalian, apa yang terjadi di dalam Hak. 19? Ada gundik dari Betlehem diperkosa dan dianiaya. Kemudian gundik itu dipotong-potong dan dibagikan ke seluruh suku Israel menjadi peringatan bagi bangsa Israel. Begitu menyedihkannya umat Tuhan, yang katanya adalah umat Tuhan tetapi di dalam zaman Hakim-hakim kejahatan begitu mengerikan, yang mungkin tidak pernah terbayangkan. Setelah peristiwa Hak. 19, terjadi peperangan Israel dengan Benyamin. Saudara sekalian, perang saudara. Kisah yang begitu menyedihkan, begitu tragis.
Saudara sekalian juga bisa menyaksikan di ayat-ayat yang lain, di dalam Ezr. 2:21, Neh. 7:26, dan Yer. 41:17, yaitu di mana umat Tuhan itu dibuang dan memang termasuk yang menjadi yang menderita mengalami masa-masa pembuangan itu adalah orang-orang di Betlehem Saudara sekalian. Dan kisah terakhir yang begitu menyedihkan, yang begitu mengerikan di dalam Mat. 2:17-18. Ini sudah dinubuatkan oleh Yeremia di dalam pasal 31:15, yaitu adanya pembunuhan terhadap bayi-bayi oleh Raja Herodes, oleh perintah Raja Herodes. Betlehem menjadi tempat yang penuh penderitaan, penuh kesusahan, penuh tragedi.
Apa yang bisa kita renungkan Saudara sekalian dari hal ini? Saudara sekalian, seorang bernama Dorothy Sayers seorang sastrawan mengatakan “Sangat buruk jika muncul gagasan bahwa Agama Kristen adalah agama yang tidak realistis, agama yang idealis dan tidak masuk akal yang menyatakan jika kita berbuat baik kita akan bahagia.” Apa artinya Saudara sekalian? Ketika kita melihat kekristenan atau kebenaran Alkitab yang dinyatakan kepada kita sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan kita, sebagai sesuatu yang tidak realistis di dalam kehidupan kita, itu masalah dan itu sangat buruk. Tetapi sering kali kenyataannya memang terjadi demikian. Saya dan Bapak, Ibu, Saudara sekalian melihat kebenaran Alkitab bukan kebenaran yang sungguh bisa dinyatakan di dalam kehidupan kita.
Misalnya seperti kebenaran Betlehem, kalau kita lihat sekilas, apa sih yang bisa kita pelajari? Inilah yang menjadi tugas kita dan kita sungguh-sungguh harus minta tolong kepada Tuhan, kiranya Roh Kudus mencelikkan kita akan kebenaran Alkitab itu sungguh bisa nyata di dalam kehidupan kita. Apa yang bisa kita renungkan di dalam peristiwa Betlehem yang mempunyai sejarah penuh penderitaan dan kematian ini? Ini kebenaran Alkitab yang menyatakan bahwa dunia kita penuh penderitaan dan kematian. Ini satu realitas dunia yang tidak bisa kita sangkali. Saudara sekalian, mungkin pada waktu saya mengatakan ini sepertinya kita seperti “Ah, sudah tahu lah, dunia itu penuh penderitaan, penuh kesusahan.” Siapa yang bisa menyangkali ini? Apalagi beberapa waktu ini ya Saudara sekalian, kita tahu ada juga hamba-hamba Tuhan, ada orang-orang yang kita kasihi itu meninggal Saudara sekalian. Maka kita melihat ini, ya ini kebenaran umum.
Saudara sekalian, ya memang ini sepertinya realita kebenaran yang nggak bisa kita sangkali, setiap orang mengakui itu bahwa dunia ini penuh dosa, penuh penderitaan dan kematian. Tapi Saudara sekalian, kadang-kadang di dalam kita bersikap melihat dunia ini hati kita bertolak belakang dengan itu. Saudara sekalian, misalnya kita berharap kalau jadi Kristen berarti tidak sakit, kalau menjadi Kristen artinya hidupnya nyaman, kalau saya jadi Kristen artinya tidak ada kesusahan di dalam kehidupan saya. Kita menyadari dunia susah, tetapi menjadikan kekristenan, Alkitab, pelarian dari kesusahan kita. Maka di dalam hati kita paling dalam, kita mempunyai satu harapan bahwa kita tidak usah hidup susah. Kita berusaha cari kerja yang tidak membuat kita susah, kita mau sukses tanpa susah, kita mau bahagia tanpa pergumulan. Saudara sekalian, ini yang terus menjadi harapan kita.
Kalau ditanya mau hidup susah masuk surga atau mau tidak susah dan masuk surga pilih mana? Ya pasti tidak susah dan sekaligus masuk surga. Secara hati kita, kita masih mengharapkan dunia yang tanpa dosa dan tanpa penderitaan. Di sisi lain, itu bisa menyatakan bahwa memang pada dasarnya awal Tuhan menciptakan ini, memang dunia yang berdosa, penuh penderitaan itu bukanlah “rancangan Allah” yang sesungguhnya. Sekalipun di dalam kedaulatan-Nya Dia mengizinkan itu. Dosa dan penderitaan itu adalah sesuatu yang sebenarnya asing, itu di sisi lain. Tapi kedua, bisa saja itu adalah penyangkalan kita kepada realita dunia berdosa. Kalau kita mempunyai pemahaman Saudara sekalian, ketika kita sudah Kristen, kita beriman kepada Tuhan, maka harusnya hidupnya lebih nyaman. Kalau hidup yang tidak nyaman itu berarti kurang Kristen, kalau hidup yang masih ada kesusahan mungkin kurang iman, kalau hidup yang masih penuh banyak pergumulan, mungkin belum percaya sungguh-sungguh pada Tuhan Yesus Kristus. Ini masalah. Alkitab menyatakan, dunia yang berdosa ini, penuh penderitaan dan kematian. Dan kita terus bergumul di dalam dosa. Dan itu realita yang pasti, yang harus, kita terus masuk di dalam hati kita.
Saudara sekalian, kalau kita ya, ada dapat tawaran asuransi. Saudara sekalian, lagi banyak ya, ada asuransi-asuransi. Nggak sepenuhnya salah. Di hamba Tuhan juga didorong untuk bisa punya asuransi, baik kesehatan maupun asuransi jiwa. Saudara sekalian, tidak sepenuhnya salah. Tetapi ada satu asumsi, misalnya asuransi yang bisa seperti tabungan. Kita bayar sampai suatu tahun tertentu, nanti uang yang kita berikan itu, akan dikali-lipatkan dan bisa menjadi pendapatan kita. Tetapi saudara sekalian bisa melihat, ada asumsi dibalik bagaimana dunia ini berjalan, kehidupan ini berjalan. Asumsinya apa? Semuanya baik-baik saja. Saya terus bisa membayar iuran atau uang kepada (asuransi), memiliki uang terus setiap bulannya atau setiap tahunnya, saya berikan kepada asuransi. Ada sesuatu asumsi bahwa dunia ini akan terus baik-baik saja. Ini sesuatu yang berlawanan dengan Alkitab.
Ketika kita menjalani pekerjaan kita, lalu kita membuka usaha. Saudara sekalian, nggak sedikit dari kita ketika membuka usaha, kita mengambil kredit, misalnya. Atau mau memiliki rumah atau mobil, kita mengambil kredit. Nggak sepenuhnya salah. Tetapi di balik sistem itu ada asumsi, bahwa ketika saya mengambil kredit, penghasilan saya stabil dan bahkan naik. Dunia ini semakin positif. Bahwa karir saya akan terus baik, ada asumsi seperti itu. Asumsi seperti itu seharusnya tidak dimiliki orang Kristen. Kita sebagai orang Kristen, kita harus mengasumsikan di dalam hati kita paling dalam, dunia ini yang berdosa penuh penderitaan kematian. Alkitab bahkan mengatakan ada satu orang yang tidak berdosa, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Dia suci, tapi bukan tanpa penderitaan.
Siapa kita Saudara sekalian? Kadang-kadang kalau kita lihat orang Kristen datang itu susah terus, lalu “Kayaknya kamu kurang percaya pada Kristus, ya?” Kita injili. Pekerjaannya nggak pernah sukses, “Wah, ini kayaknya harus dipertobatkan dulu.” Kalau beriman, percaya, pasti harusnya lancar. Aneh kalau orang Kristen itu susah. Saudara sekalian, di Alkitab nggak pernah mengajarkan seperti itu. Alkitab menyatakan ada tokoh-tokoh iman, begitu banyak pergumulan dan kesulitan dalam hidupnya. Sekali lagi, bahkan Tuhan Yesus yang suci, yang tanpa dosa, bergumul, mengalami penderitaan dan kematian.
Saudara sekalian, kebenaran yang pertama yang kita renungkan di sini, yaitu bahwa dunia kita penuh dosa, penuh penderitaan dan kematian. Sesuatu yang harus terus kita keep / simpan di dalam hati kita. Nggak ada tempat di dunia ini yang dikatakan safe haven. Tempat yang aman dan nyaman, termasuk Yogyakarta. Kalau Yogyakarta ini kan terkenalnya tempat yang nyaman. Kalau saya ngobrol-ngobrol sama orang-orang di jalan sering mengatakan Jogja ini memang tempat nyaman. “Kalau mau tinggal di sini, tapi enaknya adalah tinggal di sini gajinya Jakarta.” Namun, nggak ada namanya safe haven. Termasuk di dalam keluarga Kristen, dan gereja Tuhan.
Selain Betlehem menyatakan kepada kita bahwa dunia ini penuh penderitaan dan kesusahan, Betlehem juga membawa kabar buruk kepada kita. Mari kita buka Mat. 2:17-18. Mat. 2:17-18, saya akan membacanya bagi kita sekalian. Mat. 2:17-18, saya bacakan dari ayat 16, “Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: ”Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.””
Saudara sekalian, ada kabar buruk dari Betlehem. Apa itu? Kristus datang ke dunia. Karena ketika Raja sejati datang, raja palsu harus turun. Saudara sekalian, kita mungkin senang ketika hari Natal. Hari Natal adalah hari yang penuh sukacita. Dan semua orang Kristen senang, merayakan begitu meriah, begitu banyak hiasan, begitu banyak hadiah, begitu banyak kegiatan perayaan. Semuanya diadakan begitu meriah. Tapi Saudara sekalian, ada kabar buruk di balik Natal, yaitu Raja yang sejati datang, raja yang palsu harus turun. Di dalam konteks yang kita baca, Herodes mewakili raja palsu. Dia harus turun, dan dia nggak mau terima karena dikatakan ada Raja yang lahir. Pilihannya cuma dua hal, “Saya mengakui Raja yang lahir itu, saya harus turun takhta. Atau mematikan Raja yang lahir itu, saya masih terus bertakhta.”
Saudara sekalian, pribadi maupun bersama, bukankah masih banyak raja palsu di dalam hidup kita? Kita masih egois. Setiap kita, termasuk saya, cenderung memikirkan diri sendiri, memikirkan keluarga kita, memikirkan kenyamanan diri kita lebih dari orang lain. Bahkan lebih daripada Tuhan. Kalau bisa Tuhan, setiap kita berdoa, permohonan kita yang harus didengar, bukan kehendak Tuhan yang jadi. Di dalam mulut kita, mungkin mengatakan kehendak Tuhan yang jadi. Tetapi berapa sering ketika yang terjadi di dalam hidup kita adalah bukan kehendak kita, kita begitu kesel sama Tuhan? “Kenapa semua ini terjadi Tuhan? Saya sudah melakukan yang baik tapi kerja susah. Kalau gitu ya saya fokus kerja. Saya sudah pelayanan, tetapi studi saya nggak beres.” Lalu Tuhan disalahkan.
Berapa banyak kita yang secara luar masih mengakui Tuhan sebagai Raja kita tetapi masih menyimpan raja palsu yang bertakhta di dalam hati kita? Konsekuensi dari kabar Kristus datang, lahir di Betlehem, Sang Raja sejati itu datang, konsekuensinya adalah raja palsu harus turun. Ego kita harus dimatikan. Kita harus belajar menyangkal diri. Kita harus belajar memikul salib. Kita harus belajar mementingkan kehendak Tuhan daripada kehendak kita.
Luk. 14:26, Tuhan Yesus mengatakan, mengajarkan kepada kita: kita harus mengasihi Dia lebih daripada apa pun! Termasuk lebih dari diri dan orang-orang di sekitar kita yang kita kasihi! Sulit Saudara sekalian. Rm. 8:7–8, Alkitab mengatakan manusia berdosa cenderung itu, bermusuhan pada Allah; cenderung nggak mau tunduk dengan kehendak Allah; cenderung melawan perintah Tuhan. Kita cenderung untuk berpusat pada diri kita. Kita cenderung lebih menginginkan orang-orang sekitar kita memikirkan kita.
Kalau kita nikah, ya, Saudara sekalian, itu kayaknya dunia itu pusatnya ke kita semua. Kita ingin nikahan harus sempurna. “Ini momen kita!” Kalau kita punya anak, ingin anaknya dapat yang terbaik, yaitu bukan jadi hamba Tuhan, ya kan? Jadi hamba Tuhan? “Waduh, ini.” Eh, tapi kalau anaknya nakal, “Nggak apa-apa, silakan jadi hamba Tuhan aja”, ya? Ada keluarga-keluarga tertentu, anaknya yang nggak beres dikasihnya jadi hamba Tuhan. Tapi anak yang terbaik, yang sulung, laki-laki lagi, misalnya, jadi hamba Tuhan, “Waduh, susah! ini bukan kehendak Tuhan!” Kayak bergumul berat.
Berapa banyak dari kita saja masih menyatakan, “Saya masih sulit memahami Yesus menjadi manusia, Dia Allah sepenuhnya, Dia manusia sepenuhnya. Sebelum saya bisa memahaminya secara rasional, secara akal saya, saya nggak percaya kepada Tuhan!” Ini artinya apa? Tuhannya adalah akalnya.
Saudara sekalian, di Alkitab juga dinyatakan, ”Sebelum saya mencucukkan jariku, memegang luka-luka Kristus itu, yang dikatakan Kristus itu bangkit, aku nggak mau percaya!” Thomas. Mungkin dengan kalimat yang lain, kita mengatakan, “Sebelum saya Tuhan sembuhkan, saya nggak mau percaya sama Tuhan!; Sebelum usaha saya sukses, saya nggak mau percaya kepada Tuhan!; Katanya Tuhan ada, tetapi kenapa saya masih mengalami kesusahan? Sebelum hidup saya lancar, saya nggak mau percaya pada Tuhan!; Sebelum saya dapat pasangan nikah, saya nggak mau percaya sama Tuhan!” Siapa raja kita? Ketika Raja sejati datang, raja palsu harus turun.
Ada begitu banyak Herodes-Herodes kecil di dalam setiap kita yang sangat terganggu dengan kehadiran Kristus, melihat Kristus sebagai ancaman, melihat Kristus mengambil kekuasaan dari raja palsu itu. Ada banyak dari kita tuhannya adalah diri kita sendiri. Tuhannya adalah harta kita, hikmat kita, mungkin, yang menjadi sandaran utama hidup kita, mungkin bahkan perbuatan baik kita, Saudara sekalian. Mengapa ada orang-orang yang beragama sulit percaya kepada Kristus, Sang Juruselamat, percaya kepada Dia, memperoleh hidup kekal? Karena tuhannya: perbuatan baik dan agamanya. Mari momen ini kita melihat ke dalam hati kita, minta Tuhan selidiki hati kita, “Tuhan, jadilah Raja atas hidupku. Matikanlah, hancurkanlah raja-raja palsu di dalam hatiku.”
Selanjutnya, Saudara sekalian, kebenaran apa yang kita bisa renungkan di sini? Yaitu kabar baik dari Betlehem, kita memiliki Sang Juruselamat yang menderita. Ini kabar baiknya. Saudara sekalian, kalau kita membandingkan keselamatan yang ditawarkan, dinyatakan, atau mungkin tokoh-tokoh penyelamat di dalam agama-agama, sejauh yang saya pelajari, tidak ada namanya penyelamat yang menderita sampai bahkan mati begitu mengenaskan seperti Tuhan Yesus Kristus!
Misalnya Saudara sekalian, kita bisa melihat Krishna misalnya, di dalam Hindu. Krishna itu dari kecilnya saja sudah powerful. Tapi Kristus, inilah uniknya Injil. Dia adalah Allah Pencipta dan Penebus kita yang mau menderita bagi kita. Dia datang ke Bethlehem, menjadi bayi. Kelahirannya bergantung kepada segala kondisi di sekitarnya. Bayi itu begitu rapuh. Waktu ada keputusan Herodes, pembunuhan bayi di bawah dua tahun, Dia bisa apa? Sebagai bayi begitu rapuh, lahir di keluarga yang begitu sederhana, tempat kelahiran-Nya pun berdasarkan sensus yang diadakan Agustus. Biasa sekali. Pergumulan manusiawi. Kelahiran-Nya pun bukan yang wah.
Saudara sekalian, Tuhan Yesus juga pernah dicurigai dan tidak dimengerti. Keluarganya pun awalnya belum langsung percaya kepada Tuhan Yesus. Bahkan Dia pernah ditolak oleh keluarganya. Ditolak oleh kampungnya. Dia tidak punya tempat tinggal Saudara sekalian. Saudara sekalian, bagi kita yang masih bergumul dengan punya rumah, Tuhan Yesus nggak punya rumah juga. Dia ngerti Saudara sekalian. Dia mengatakan, “Serigala punya tempat untuk istirahat, liang, rumahnya, tapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk merebahkan kepala-Nya.” Alkitab mengatakan Dia memanjatkan doa dengan ratap, tangis dan keluh kesah di dalam Ibr. 5:7. Dia pernah dicobai iblis? Pernah Saudara sekalian. Apakah Tuhan Yesus nggak bergumul di dalam pernikahan. Tuhan Yesus kan nggak nikah. Benar Tuhan Yesus nggak nikah? Tuhan Yesus nikah Saudara sekalian. Siapa mempelai wanita-Nya? Gereja. Dia nikah. Mempelai wanita Kristus adalah umat Tuhan. Dia mempelai laki-laki dan Dia bergumul di dalam pernikahan-Nya. Dia mengikat covenant dengan orang yang berdosa, yang terus menolak Dia. Saudara sekalian, ingat kitab Kidung Agung? Kitab Hosea? Salah satu pesan inti yang menyatakan yaitu kasih Tuhan kepada umat-Nya seperti relasi pernikahan. Di dalam Why. 21:9 dikatakan Dia mempelai laki-laki dan kita mempelai wanita-Nya. Dia nikah dan Dia bergumul bagaimana mengubah orang. Pergumulannya bukan hanya puluhan tahun, pergumulannya sepanjang sejarah dunia.
Bahkan ada satu penderitaan yang tidak mungkin kita alami, yaitu Dia ditinggalkan Bapa di kayu salib. Kenapa? Karena Tuhan berjanji “Aku tidak akan meninggalkan engkau, Aku akan terus menyertai engkau.” Itu janji Tuhan kepada kita, umat-Nya. Tetapi Dia rela meninggalkan Anak-Nya, Kristus dilepaskan dari kasih kekal Bapa. Ini yang orang berdosa nggak alami. Saudara sekalian, orang berdosa yang di luar Kristus pun masih mendapatkan kasih kekalnya Kristus. Ada anugerah umum yang Tuhan berikan, masih ada kasih Tuhan kepada orang yang berdosa, yang di luar Kristus sekalipun. Tetapi Kristus ditinggalkan oleh Bapa. Saudara sekalian, ini penderitaan yang tidak mungkin kita pernah alami. Karena apa? Supaya setiap kita yang di dalam Kristus tidak pernah ditinggalkan Bapa lagi. Juruselamat kita adalah Allah yang menderita. Tuhan yang menderita supaya kita memperoleh hidup di dalam Dia. Supaya kita sembuh oleh penderitaan-Nya. Supaya kita selamat oleh penderitaan-Nya.
Apa lagi kebenaran yang bisa kita renungkan kembali ketika kita merenungkan Betlehem? Betlehem juga menyatakan kepada kita Betlehem adalah kota raja. Saudara sekalian, ini kisah yang sangat kita kenal, yaitu Daud. Daud lahir di Betlehem. Nenek moyang Daud, Rut di Betlehem. Rut itu ketemu dengan Boas. Lalu di dalam keturunan sekian, lahirlah Daud. Daud lahir di Betlehem, besar di Betlehem, menggembalakan di Betlehem, diurapi Samuel di Betlehem. Ini menjadi kota yang sangat dikenal sebagai kota raja karena Daud, raja pertama Israel, yang seharusnya pertama, itu lahir di Betlehem Saudara sekalian. Yang akhirnya kemudian dinubuatkan melalui keturunan Daud akan lahir Sang Mesias Saudara sekalian.
Dan seperti apakah Kristus Mesias yang dijanjikan itu? Saudara sekalian, kita melihat, bisa merenungkan di sini. Kristus, Raja yang dijanjikan, adalah Raja yang rendah hati. Kalau kita melihat, merenungkan kembali kelahiran Kristus kebanyakan tokoh-tokoh kerajaan itu ketika lahirnya itu dirayakan. Tetapi kelahiran Yesus biasa saja. Sederhana. Betlehem itu di desa. Waktu pelayanan ke daerah-daerah, biasanya KKR regional, dulu, kan, masih Jabodetabek. Tapi, kalau pergi ke luar kota, KKR regional ke luar pulau, misalnya ke Papua, ketika ditanya “Datang dari mana, Pak?” Ya, saya bilangnya dari Bekasi. Nggak ada yang tahu. “Datangnya dari Jakarta.” “Oh, Jakarta!” Ini, kalau gini, Yesus lahir di mana? Yerusalem. Wah, Yerusalem! Itu kota yang luar biasa. Ini di Betlehem. Desa kecil! Saudara sekalian, lalu, pemilihan tempat karena sensus. Nggak ada pemilihannya karena Tuhan Yesus sendiri langsung-atau malaikat Tuhan bilang, “Kamu harus ke Betlehem, ya! Supaya karena Mesias itu lahir di situ!” Pengertian itu nggak seperti itu di dalam Lukas yang kita baca tadi. Yusuf pergi karena sensus. Perjalanan jauhnya dari Yerusalem ke Betlehem, 4 hari berjalan jauhnya. Saudara sekalian, kita bisa melihat bagaimana segala hal Tuhan pakai seperti biasa untuk menggenapi rancangan Allah yang mulia. Keputusan-keputusan dari Romawi, keputusan dari Yusuf, Maria biasa sekali, manusiawi sekali, Saudara sekalian, tapi di balik itu, ada Raja yang lahir. Ini Raja yang rendah hati. Bahkan, ketika sampai mau melahirkan itu tempat penginapan nggak ada. Kalau menurut catatan itu kemungkinan kandang atau gua. Ada kemungkinan itu seperti ruangan yang sisa saja untuk tamu, bukan ruangan yang sungguh-sungguh dipersiapkan. Yesus datang biasa lalu dibaringkan di palungan. Bahkan, ada yang menafsirkan kemungkinan bukan di palungan yang di tempat tinggi. Kalau gambar-gambar palungan sekarang tempat tinggi. Kemungkinan palungan di lantai, di bawah. Tempat makan hewan dan bahkan mungkin saja tempat pembiakan hewan.
Kelahirannya begitu biasa, Saudara sekalian. Dia Raja yang rendah hati. Dia melihat bahwa segala sesuatu yang membuat keagungan-Nya bukan sesuatu yang ditempelkan dari luar. Kalau kita, Saudara sekalian, mungkin dikenalnya kalau kita punya mobil, mobilnya merk apa, bajunya merk apa, lahirnya di kota apa, asalnya kota mana, berkariernya di kota apa. Saudara sekalian, pasti beda, kalian berkarier, “Oh, saya kerja di Jakarta!” dengan “Saya kerja di Brebes!” gitu misalnya. Wah, langsung lebih tinggi rasanya. Bukan hanya gajinya. Secara kompetitifnya, secara banyak hal. Kita bisa melihat Yesus adalah Raja yang rendah hati.
Apa lagi yang kita renungkan di sini? Keagungan-Nya. Dia Raja yang agung. Dia sebagai Raja tidak tergantung dari hal-hal yang ditambahkan di luar diri-Nya. Berapa banyak dari kita, harga diri kita nilainya adalah segala hal yang ditambahkan dari diri kita? Title kita, kepintaran kita, studi kita. “Kalau saya nggak capai S3, rasanya kurang.” “Kalau saya nggak S1, S2,S3 seperti ada yang kurang dari kita. Status kita, diri kita, harga diri kita disandarkan pada hal-hal yang di luar diri kita. Tuhan Yesus Raja bukan karena apa yang menempel di luar. Keagungan Yesus dinyatakan dalam kerendahan hatinya. Ia agung sekaligus rendah hati. Kalau kita berwibawa seperti susah sekaligus sederhana. Gimana menjadi seorang yang sederhana, tapi sekaligus berwibawa. Kenapa? Kesederhanaan cenderung pada rendah diri, self pity. Wibawa cenderung kepada kesombongan, harga diri yang lebih tinggi. Tuhan Yesus menyatakan Dia sebagai Raja, walaupun Dia lahir di palungan dan dalam kesederhanaan.
Betlehem membawa kita merenungkan siapa Tuhan Yesus Kristus: pertama, Tuhan Yesus Kristus Raja di atas segala Raja. Raja sejati atas hidup kita, semua raja palsu harus diturun. Kedua, Tuhan Yesus Kristus, Sang Juruselamat yang menderita, Allah yang berkorban bagi umat-Nya. Ia mengerti penderitaan kita karena Ia Juruselamat yang mengalami langsung penderitaan manusia bahkan sampai pada titik “ditinggalkan Bapa.” Ketiga, Tuhan Yesus Kristus, Raja yang Rendah Hati yang rela datang ke dunia dalam kesederhanaan untuk menebus manusia berdosa. Keempat, Tuhan Yesus Kristus, Raja yang Agung. Mengangkat kita yang berdosa. Dalam Ef. 1:3, dikatakan “Terpujilah Allah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Dalam Rm. 8:28-30 dinyatakan kita yang didalam Kristus dipilih, dipanggil, dibenarkan, dan dimuliakan. Ia agung, sehingga sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (2 Kor. 8:9).
