Memaknai Kebangkitan Kristus dari 4 Injil, 27 April 2025

Memaknai Kebangkitan Kristus dari 4 Injil

Pdt. Nathanael Marvin, M. Th

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, sebagai orang Kristen kita tidak asing dengan yang namanya Injil atau kabar baik bahkan di dalam Alkitab kita diberikan empat jenis kitab, penulisnya berbeda yang disatukan dengan namanya Injil. Kita memiliki empat kitab Injil, empat kitab kabar baik. Injil itu apa Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Injil adalah kabar baik yang manusia berdosa harapkan, yang manusia berdosa rindukan, karena apa? Karena mengetahui efek dosa itu adalah hal yang sangat-sangat buruk. Kabar baik akan menjadi kabar baik kalau memang ada kabar buruknya, kabar buruk akan menjadi kabar buruk kalau kita mengakui itu buruk dan pada akhirnya kita bisa melihat ada suatu kabar yang baik. Nah di Alkitab Tuhan menyediakan four gospels ya, empat injil yang menceritakan tentang kisah Tuhan Yesus Kristus, yang menceritakan tentang biografi Yesus Kristus, siapakah dia dan juga apa yang dia kerjakan dan itu tidak cukup Tuhan memberikan di dalam satu kitab saja, satu buku saja ya. Tuhan ingin menyatakan kuasanya, kebenarannya tentang Yesus Kristus itu melalui empat penulis yang berbeda-beda. Kenapa kita perlu sampai empat Injil? Itu menjadi perenungan kita ketika kita membaca Alkitab. Apakah kita pernah merenungkan kenapa ya ada Matius, Markus, Lukas dan Yohanes? Kenapa nggak hanya Matius saja? Kenapa nggak hanya Yohanes saja? Itu kan semua sama-sama menceritakan tentang Tuhan Yesus Kristus di dalam kisah kehidupannya, pekerjaannya, pribadinya, penderitaannya, kematiannya, kebangkitannya dan kenaikannya. Kenapa? Alasan singkatnya ya Bapak, Ibu, sekalian sebab empat kitab Injil ini memberikan sudut pandang yang berbeda tetapi saling melengkapi satu dengan yang lainnya khususnya memahami Yesus Kristus. Sehingga ketika kita lihat bahwa empat kitab Injil diberikan oleh Tuhan sendiri, itu membuat kita mengenal Yesus Kristus itu secara utuh dan betul-betul kebenaran, bukan suatu cerita bohong, bukan suatu cerita yang palsu. Ambil contoh ya Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ketika kita membaca kitab Matius, ya bible reading dari GRII Yogyakarta sedang membaca kitab Injil juga. Sudah Matius, Markus, Lukas. Nah mungkin ada yang merasa berat membaca kitab Lukas, kenapa? Ayatnya sangat Panjang, ya satu pasal kayaknya panjang sekali, puluhan ayat bahkan sampai 70 ayat satu pasal. Kenapa Bapak, Ibu sekalaian? Karena bahkan ya kalau kita meneliti Perjanjian Baru, kitab yang terpanjang itu apa? Kitab Injil. Injil Lukas itu adalah kitab terpanjang dari seluruh Perjanjian Baru ya. Kitab Matius kita soroti ini adalah Injil yang ditulis oleh Matius sebagai orang Yahudi dan kitab ini berfokus untuk memperkenalkan Yesus Kristus adalah Mesias yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi yang firman Tuhan Perjanjian Lama sudah dibaca orang Yahudi. Maka ada pertanyaan ya entah di kelas katekisasi atau kelas-kelas yang lain ya, ada pertanyaan orang Yahudi itu agamanya yudaisme mereka percaya Perjanjian Lama, Kejadian sampai Maleaki, kok bisa enggak percaya Yesus Kristus? Bukankah Yesus Kristus itu adalah penggenapan dari seluruh nubuatan Perjanjian Lama, tentang kedatangan Mesias itu Yesus. Injil pertama Kej. 3:15, protoevangelium itu mengacu kepada Yesus. Yesus lahir di Betlehem, Mesias itu udah dikasih tahu di dalam Perjanjian Lama. Kenapa ya orang Yahudi itu enggak percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juru selamat? Nah di sini Matius datang untuk menggambarkan Injil, fokus kepada orang-orang Yahudi karena Matius pun adalah orang-orang Yahudi. Maka di dalam Injil Matius begitu banyak kutipan perjanjian lama. Ini kontekstual, saya mau mengabarkan Injil kepada suku saya ya, saya mengerti konsep yang benar yang baik di dalam suku saya tentang firman Tuhan terutama bukan hanya general revelation dia pakai apa yang dipercaya orang Yahudi yang adalah kebenaran firman Tuhan kemudian dikaitkan dengan Yesus Kristus yang adalah sang Mesias yang adalah raja dari keturunan Daud. Sehingga Matius ketika kita baca oh Yesus adalah raja bukan saja hanya raja orang Yahudi, raja yang dinanti-nantikan, Mesias yang dijanjikan, melainkan sebenarnya raja atas segala raja, Dia adalah Tuhan, itu Matius. Misalkan masuk ke Markus ya Bapak, Ibu sekalian, Injil Markus ditulis untuk siapa? Bukan untuk orang Yahudi yang terutama, tetapi konteksnya adalah untuk orang Romawi yang justru backgroundnya adalah penjajah dari orang-orang Yahudi. Orang Romawi bisa saja orang Yahudi, orang Romawi banyak yang orang Yunani, tetapi konteksnya adalah warga negara Romawi. Sehingga gaya tulisannya ya, gaya tulisan Markus itu cukup kasar cukup singkat dan padat, mau jelasin langsung jelasin. Ini Yesus itu siapa, kamu nggak tahu konteks Perjanjian Lama kan? Nih Yesus itu seperti ini. Sehingga ada yang mengatakan ya memang dari penelitian bahwa kitab Injil Markus itu adalah Injil yang tertua. Menyoroti Yesus sebagai hamba yang menderita, hamba yang taat untuk datang melayani dan penuh kuasa menjadi tebusan bagi banyak orang ya. Orang Romawi merasa diri superior karena penjajah kok, kekaisaran Romawi begitu besar, sekarang Yesus mau diperkenalkan bahwa ini adalah manusia yang berbeda dengan manusia yang lainnya, manusia yang tanpa dosa dan dia datang itu melayani bukan menggunakan otoritas atau kuasa yang begitu besar tapi melayani sebagai hamba yang menderita tapi penuh kasih. Yesus betul-betul manusia, Yesus betul-betul datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani menjadi tembusan bagi banyak orang. Sehingga Injil Markus ketika kita membaca, “Oh kita bisa mengenal Yesus sebagai hamba ya.” Hamba yang setia, hamba yang menderita yang banyak penganiayaan yang dia terima dari seluruh kehidupannya yang di sekitarnya ya. Kemudian Injil Lukas ya, Injil Lukas itu ditulis untuk orang Yunani. Lukas adalah satu-satunya penulis yang bukan Yahudi. Matius, Markus, Yohanes itu orang Yahudi dan mereka menulis bukan untuk orang Yahudi juga selalu bukan untuk orang Yahudi. Matius tulis untuk orang Yahudi, Markus tulis untuk Romawi, nah Lukas uniknya dia bukan orang Yahudi dia tulis untuk orang Yunani.

Markus tulis untuk orang Romawi. Nah, Lukas uniknya dia bukan orang Yahudi, dia tulis untuk orang Yunani. Dan apa yang ditulis Lukas? Ketika kita membaca Injil Lukas, kita bisa lihat bahwa Yesus itu betul-betul manusia yang penuh kasih. Injil ini ditulis oleh seorang Lukas yang adalah dokter, yang adalah sejarawan. Double ketelitian, ya. Dokter harus teliti, harus bisa mendiagnosa segala gejala terus kasih resep dengan tepat. Harus punya pemikiran yang jernih. Sejarawan juga sama, sejarawan itu harus mengacu kepada literatur. Literatur makin banyak, berarti itu makin asli. Tapi kalau literaturnya cuma satu doang, itu enggak dipakai. Maka waktu kita para mahasiswa, ya. Mengerjakan tugas akhir pun, skripsi, tesis, ataupun disertasi, kita biasanya cari suatu hal yang banyak literaturnya. Kenapa? Semakin banyak literatur itu semakin asli. Karena ditulis oleh banyak orang, kok, saksinya begitu banyak.

Lukas seorang dokter, Lukas seorang sejarawan, apa yang dia tulis bahkan Injilnya itu paling panjang, lho. Padahal dia bukan orang Yahudi, dia tulis begitu banyak untuk orang Yunani, dan akhirnya ini menunjukkan bahwa Injil itu bukan suatu cerita anak-anak yang banyak kebohongan, seperti itu. Injil itu betul-betul karya sistematis.

Saya waktu kuliah, ya. Kelas metodologi penelitian, ya. Metodologi penelitian itu, kenapa kita ada, ini kan wahyu umum, kan? Semua kampus itu belajar metode penelitian. Tapi dosen saya mengatakan metode itu salah, karena apa? Metode penelitian ya berarti kasih ajaran metode, metode, metode, metode, metode. Tapi kalau metodologi penelitian ini berarti ilmu cara untuk meneliti itu seperti apa.

Dan salah satu sumbernya, dari mana? Alkitab itu adalah sumber segala pengetahuan, sumber pengetahuan yang tertinggi, yaitu salah satunya adalah dari kitab Lukas. Injil Lukas ini menjelaskan Injil Yesus Kristus atau kisah Yesus Kristus secara sistematis, teratur, seksama, ya. Nggak ada yang bisa mengatakan bahwa kitab Lukas itu palsu, ya. Lukas seorang dokter, Lukas seorang sejarawan, bukan saja itu, Lukas seorang Kristen yang dipimpin Roh Kudus.

Kalau kita bicara soal Roh Kudus, nggak mungkin lah Roh Kudus itu salah. Roh Kudus itu bisa mengerjakan sesuatu sempurna karena Roh Kudus adalah Allah, ya. Sehingga di dalam Injil Lukas, Lukas menjelaskan kepada orang Yunani juga bahwa ini ada Yesus Kristus, Dia sungguh-sungguh manusia. Tetapi Dia bukan hanya manusia biasa, Dia itu punya natur yang lain yaitu Allah. Tapi fokusnya adalah Lukas mau memperkenalkan Yesus sebagai manusia kepada banyak orang Yunani, supaya orang Yunani bisa tahu Yesus itu betul-betul hidup di dalam dunia ini.

Terus kemudian yang terakhir adalah Injil Yohanes. Injil Yohanes itu berbeda dengan Matius, Markus, Lukas, karena apa? Kalau Matius, Markus, Lukas, teolog mengklasifikasikan bahwa ini adalah Injil sinoptik. Sin berarti dari sinkronisasi bersama-sama. Optik, ya. Sinoptik, optik berarti mata. Mata melihat bersama-sama tentang Yesus Kristus, itu Matius, Markus, Lukas.

Tentang Yesus Kristus sebagai siapa? Ya sebagai manusia. Ini dari bawah, kalau kita lihat Injil itu Matius, Markus, Lukas, Injil sinoptik itu belajar melihat, mengenal Yesus itu dari sisi manusia, natur manusianya. Tetapi Injil Yohanes tidak bisa disebut Injil sinoptik, kenapa? Karena Yohanes pergi ke surga. Kurang lebih, ya. Tanda kutip, ya. Pergi ke surga lihat siapakah Yesus Kristus dari atas.

Kalau Matius, Markus, Lukas, melihat Yesus dari bawah. Kalau Yohanes melihat Yesus dari atas. “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah.” Yesus adalah Firman yang menjadi manusia. Yesus itu Allah 100%, Dia jadi manusia 100%. Sehingga Injil Yohanes, Yohanes tulis itu fokus kepada keilahian Yesus Kristus, dan Yesus sebagai Allah dan juru selamat dunia. Kita bisa lihat dua perspektif yang berbeda di dalam menuliskan siapakah Yesus Kristus.

Satu sisi Matius, Markus, Lukas mau memperkenalkan Yesus itu manusia 100%, tapi Dia juga juru selamat. Tetapi Injil Yohanes dia tulis untuk semua orang, ya. Bukan hanya orang Yahudi, orang Yunani, orang Romawi, tetapi Injil Yohanes tulis untuk semua orang, Yesus itu Allah. Bukan hanya Allah orang Kristen, Yesus itu adalah Allah semua orang. Kita punya Allah yang satu, siapakah itu? Yesus Kristus. Ya dia betul-betul Allah kita. Sehingga kita bisa lihat empat Injil ditulis, supaya kita bisa mengenal Yesus Kristus secara lebih utuh. Jangan sampai menjadi orang-orang Kristen yang sesat, hanya percaya Yesus dalam kemanusiaan-Nya. Sudah, manusia manusia, nabi nabi, raja raja, imam imam, yaudah itu manusia kan? Tapi bukan Tuhan dan juru selamat.

Jangan juga sampai mengatakan bahwa Yesus itu Tuhan saja. Lalu waktu Dia jadi manusia, Dia hanya pakai cosplay, Dia hanya pakai kostum saja. Bagaimana itu menjelaskan karya keselamatan atau pengampunan dosa bagi umat manusia? Enggak bisa, Yesus betul pada mulanya Dia belum menjadi manusia. Dia Allah 100%, tetapi ketika Dia jadi manusia, Dia adalah Allah sekaligus manusia 100%, ya.

Di sini mau menunjukkan, ya, kenapa ada empat Injil? Itu menunjukkan bahwa tulisan Alkitab itu tentang Yesus Kristus adalah hal yang asli. Hal yang berdasarkan histori dan juga otentik. Dan kita sudah belajar, ya, kalau kita mengikuti kelas Alkitab, Bapak Ibu Saudara sekalian, Kita tahu teologi reformed menjelaskan bahwa Alkitab itu infallible. Bukan hanya infallible, Alkitab itu yang ditulis pertama kali di dalam pimpinan Roh Kudus melalui orang-orang pilihannya, itu bukan saja infallible tapi inerran. Bukan hanya tidak bisa salah, tetapi memang tidak salah, tidak error, tidak ada errornya di dalam naskah aslinya. Yang sekarang sudah tidak tahu dimana. Yang ada adalah copy-an, copy-an, copy-an, ya. Tetapi itu adalah Firman Tuhan, itu Alkitab.

Yang sekarang sudah tidak tahu di mana, yang ada adalah copy-an, copy-an, copy-an ya, tetapi itu adalah firman Tuhan, itu Alkitab, dan kita menyadari bahwa kenapa kita bisa beriman, itu karena Roh Kudus bekerja dan karena firman Tuhan adalah kebenaran. Alkitab sudah nyatakan ya, Bapak, Ibu, sekalian, bahwa di dalam penghakiman di pengadilan, tidak boleh dilakukan terhadap seseorang  berdasarkan kesaksian dari seseorang saksi mata saja, tetapi minimal dua atau tiga. Kalau dua orang mengatakan, “Dia itu jahat.” Masih bisa diakui bahwa orang itu jahat. Dua orang saja lho, apalagi tiga orang, sekarang kitab Injil tulisannya berapa orang? Empat. Sudah melebihi standar kesaksian di pengadilan. Itu Alkitab ya. Empat saksi atau fourth for witnesses, ini menyampaikan cerita masing-masing dari sudut pandang mereka, Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan di sini kita tahu bahwa Injil itu betul-betul asli, betul-betul benar, dan itu adalah pekerjaan Tuhan sendiri. Lalu bukan saja ada four for witnesses, ada saksi empat kali lipat, saksi itu bisa saja satu, satu orang, tapi ada saksi empat kali lipat, itu ada yang mengatakan, itu bukan saja Matius, Markus, Lukas, Yohanes, tetapi juga kesaksian empat kali lipat ini adalah pertama Yohanes Pembaptis. Sebelum Yesus datang, Yohanes Pembaptis sudah berkotbah tentang pertobatan dan dia adalah seseorang yang mendahului Yesus Kristus, yang akan mempersiapkan jalan kedatangan Yesus Kristus. Jadi Dia beritakan itu siapa sih? Itu betul-betul Yesus Kristus, sepupunya sendiri. Yohanes Pembaptis menjadi saksi, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Yohanes Pembaptis mengatakan demikian ya. Tapi yang menjadi saksi lagi yang kedua adalah apa yang Yesus kerjakan. Yesus berkotbah, kotbah di bukit, kotbah di bukit, Yesus melakukan mukjizat, Yesus menyatakan diri-Nya berkuasa atas alam, Yesus juga selalu mengatakan, “Aku ini diutus Bapa. Dan Aku menyampaikan apa yang disampaikanm Bapa kepada Aku, Aku sampaikan kepada kamu.” Yesus berasal dari surga. Ini juga saksi ya. Dan yang ketiga adalah saksi ya, saksi Yesus Kristus adalah Allah Bapa sendiri, ketika Bapa bersuara, ketika Yesus dibaptis di Sungai Yordan. Bapa bersuara, langit terbuka, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya aku berkenan.” Bapa bersaksi terhadap Yesus Kristus. Pekerjaan Yesus Kristus bersaksi terhadap Yesus Kristus. Yohanes Pembaptis bersaksi kepada Yesus Kristus. Dan yang terakhir Yesus Kristus sendiri bersaksi tentang diri-Nya sendiri, bahwa Dia adalah penggenapan dari Perjanjian Lama. Masihkah ada alasan bagi manusia berdosa itu bisa menolak Yesus, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian? Kecuali karena dosanya sendiri, kecuali karena kesombongannya sendiri, kecuali karena kekerasan hati dan keras kepalanya sendiri, atau karena dosa yang menghalangi matanya sehingga ada selubung sehingga tidak bisa melihat Yesus itu adalah utusan Allah bahkan Allah sendiri. Harusnya nggak ada. Ya, semua manusia kalau mau betul-betul bersandar kepada Tuhan dan rendah hati kepada Tuhan bisa melihat bahwa injil itu sejati, injil itu benar, Yesus Kristus itu betul-betul hidup dan Dia adalah Allah sekaligus manusia dan Dia adalah Juru Selamat.

Ada seorang Bapa Gereja, Ireneus, di abad ke-2. Dia mengatakan, dia berkomentar soal empat injil, kenapa ada empat injil? Dia sebutkan seperti ada empat penjuru bumi, ya dia pakai general revelation, ya dia pakai wahyu umum, wahyu yang baik dari Tuhan sendiri, yang diakui oleh semua orang, dia mengatakan bahwa, seperti di bumi ini ada utara, selatan, timur, barat, ya demikian juga injil itu ada empat, untuk apa? Untuk disebarkan ke suluruh dunia. Untuk betul-betul kita kabarkan kepada banyak orang. Jadi empat kitab injil itu Bapak, Ibu, Saudara sekalian, itu adalah kesaksian bahwa kisah tentang Yesus dan pribadi Yesus Kristus adalah sebuah fakta yang tak tergoncangkan. Yesus benar-benar lahir ke dalam dunia melaui Perawan Maria, Yesus benar-benar hidup taat seluruhnya pada hukum taurat, Yesus adalah Anak Allah 100%, Yesus juga benar-benar Anak Manusia 100%, Yesus benar-benar menderita kematian di atas kayu salib, Yesus benar-benar bangkit dari kematian pada hari yang ketiga, Yesus benar-benar menampakkan diri kepada ratusan murid, satu waktu kepada 500 orang sekaligus, Yesus benar-benar naik ke Surga dan hidup selama-selamanya, inilah iman Kristen. Iman Kristen berpusat kepada pribadi yang hidup, yaitu Yesus Kristus yang hidup juga di dalam orang Kristen.

Di dalam perjanjian lama, kita bisa lihat, ada tiga kisah kebangkitan. Tiga kisah kebangkitan, ada anak janda di Sarfat, itu dibangkitkan oleh Elia, lalu juga anak perempuan Sunem, yang meninggal kemudian dibangkitkan oleh Elisa, lalu juga ada tulang-tulang Elisa terus kemudian dikuburkan terus kemudian tulang-tulang itu ya terbuka, terus kemudian ada orang yang melempar jenazah ke tulang-tulang Elisa, tersentuh kemudian bangkit juga orang tersebut. Jadi Alkitab mencatat, kisah kebangkitan ya, kisah tentang kuasa Tuhan yang membangkitkan itu, itu ada tiga di perjanjian lama. Ya. Orang-orang perjanjian lama, orang-orang Yahudi, mengakui adanya kebangkitan, meskipun banyak orang tidak mau juga percaya akan kebangkitan tubuh ya, tetapi kalau kita lihat perjanjian baru, perjanjian baru adalah penggenapan, perjanjian baru itu adalah satu hal yang lebih jelas dibandingkan perjanjian lama. Yang satu janji, yang satu penggenapan ya. Yang satu bayang-bayang yang satu wujudnya ya. Seperti itu ya, itu PL dan PB, maka kita lihat ternyata Tuhan mengizinkan penulis-penulis perjanjian baru di Alkitab itu, menuliskan ada enam kebangkitan di luar Yesus Kristus. Ya, ada dua kali lipat dibandingkan perjanjian lama, siapa saja, Yesus membangkitkan tiga orang di antara yang lainnya ya, anak janda di Naim, anak perempuan Lazarus, itu Yesus juga yang membangkitkan, lalu di perjanjian lama dibangkitkan oleh Nabi Elia dan Nabi Elisa, dua orang ya, tetapi di perjanjian baru, Yesus sendiri bangkitkan tiga orang.

Entah itu anak janda di Nain, anak perempuan Yairus, dan juga Lazarus. Itu Yesus yang membangkitkan. Kalau di Perjanjian Lama dibangkitkan oleh Nabi Elia dan nabi Elisa –dua orang, ya–, tetapi di Perjanjian Baru Yesus sendiri bangkitkan tiga orang. Lalu orang yang lainnya, ya: ada Tabita, itu dibangkitkan oleh Rasul Petrus. Lalu Eutikhus juga dibangkitkan Rasul Paulus, ya.

Nah, lalu bukan saja itu, ya. Yesus membangkitkan tiga orang ketika Dia masih hidup. Tapi di dalam Kitab Injil juga dicatat bahwa waktu Yesus mati di atas kayu salib, berkorban bagi kita yang berdosa –Yesus mati dicatat di dalam Kitab Injil Matius 27:52, ya– di situ dikatakan mereka yang sudah mati itu bangkit. Orang-orang kudus itu mengalami kebangkitan. Tetapi orang-orang kudus ini masih diam di situ menunggu kebangkitan Yesus Kristus. Jadi, kematian Yesus membangkitkan orang-orang kudus yang lainnya, yang sudah mati di Yerusalem. Jadi waktu Yesus hidup, Dia membangkitkan orang mati. Waktu Yesus mati, Dia membangkitkan beberapa orang kudus: orang-orang Kristen, orang yang percaya Dia itu, bangkit juga. Terus kemudian menunggu kebangkitan Yesus Kristus, barulah orang-orang kudus itu bangkit juga.

Dan Yesus juga adalah Allah yang bisa bangkit sendiri, ya. Bisa membangkitkan diri-Nya sendiri dalam natur manusia-Nya. Itulah kuasa kebangkitan Kristus. Itulah kenapa kita memperingati Paskah setiap tahun: bahwa ini peringatan yang unik karena bicara soal kebangkitan tubuh. Dan kita memperingati kebangkitan yang berbeda dengan kebangkitan-kebangkitan yang lainnya seperti dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Kebangkitan Yesus itu adalah kebangkitan yang sulung di mana ketika Dia bangkit, Dia tidak mati lagi, tetapi naik ke surga. Sedangkan orang-orang yang bangkit itu –yang lainnya, ya– kemudian mati lagi. Yang kita peringati bukanlah kebangkitan orang yang hidup terus mati lagi. Bukan kebangkitan orang-orang Kristen lainnya atau orang-orang yang di bangkitkan oleh Yesus atau para rasul atau para nabi. Tapi waktu kita memperingati Paskah, itu adalah hari kebangkitan tentang Tuhan Yesus Kristus dari kematian.

Maka kita sebut kebangkitan Yesus Kristus adalah kebangkitan yang kekal karena Dia tidak mati lagi, kok. Tetapi kebangkitan orang-orang yang dibangkitkan oleh kuasa Tuhan itu, kebangkitan yang sementara. Nanti bisa mati lagi. Nanti –karena Yesus memiliki kebangkitan yang sulung, kebangkitan yang kekal– Tuhan menjanjikan, ya dalam 1 Korintus 15 itu dikatakan bahwa kita pun nanti akan seperti itu. Semua orang yang percaya Yesus maupun tidak percaya Yesus dapat kebangkitan kekal di akhir zaman. Cuman, sebagian orang akan hidup kekal bersama dengan Yesus, dengan tubuh kebangkitan. Sebagian lagi akan binasa kekal dengan tubuh yang kekal.

Kurang lebih, ya, roh kita itu ada permulaan tidak ada akhir, ya kan? Roh kita, roh manusia itu ada permulaan ketika Tuhan ciptakan, tapi enggak ada akhir. Nah, maka roh ini akan terus tidak ada akhir. Tubuh ini –karena sudah jatuh dalam dosa, ia bisa mati– nanti tubuh ini akan mengikuti roh yang kekal itu di akhir zaman, di hari kiamat, di hari kedatangan Yesus kedua kalinya. Karena roh itu kekal. Dan tubuh akan ditransformasikan mengikuti roh yang kekal. Cuman masalahnya, nanti di akhir zaman itu kita masuk ke dalam surga atau neraka? Dan Alkitab sudah menjelaskan bahwa barang siapa percaya kepada Kristus, dia memperoleh hidup yang kekal. Kesempatan untuk bertobat itu hanya ada di dalam bumi yang singkat ini, nanti akan menentukan kehidupan yang kekal.

Mari kita baca bersama-sama Roma 6:9–10, Bapak, Ibu sekalian. Roma 6:9–10 kita buka suara, ya, kita baca bersama-sama firman Tuhan ini. Satu, dua, tiga, “Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.” Yesus sudah mati satu kali dan Dia bangkit mendahului kita menjadi kebangkitan yang sulung.

Nah, sekarang Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita melihat bagaimana respons dari saksi Yesus Kristus? Saksi dari penulis Kitab Injil terhadap kebangkitan Yesus Kristus? Misalkan kitab Injil Matius, ya. Di dalam Kitab Injil Matius, ketika Matius menuliskan tentang kebangkitan Kristus, Matius itu menceritakan tentang kuasa kebangkitan dan juga amanat agung dari Tuhan Yesus Kristus. Dia fokus kepada hal tersebut. Kenapa? Ingat! Matius menulis untuk orang Yahudi. Orang Yahudi itu percaya ada mukjizat-mukjizat, ada kuasa-kuasa. Kehidupan Perjanjian Lama saja penuh dengan mukjizat dan tanda-tanda tentang siapakah Tuhan. Maka, Matius tidak, tidak ragu-ragu: “Ini ada gempa bumi yang dahsyat!”, gitu ya, waktu kebangkitan itu, enggak ragu. “Ini ada malaikat!” Ya, orang-orang Yahudi percaya, kok, ada kuasa Tuhan yang begitu besar, ya.

Dan hanya di Injil Matius juga dicatat bahwa para imam itu meminta Pilatus untuk menempatkan para penjaga di kuburan Yesus. Dan Pontius menempatkan penjaga itu atas permintaan imam-imam kepala dan orang Farisi. Kita tahu ceritanya. Alasan mereka apa? Alasan mereka adalah karena mereka ingat bahwa Yesus itu akan menderita, mati, dan bangkit pada hari yang ketiga. Ini kontekstual, ya, Matius menulis untuk orang Yahudi: dikasih tahu kejelekannya para imam dan orang Farisi, ya. Mereka memakai agama demi kepentingan mereka sendiri, ya. Mereka itu ingin agar Yesus itu dijauhi atau dimusuhi atau disalah mengerti. Itu orang Yahudi dan imam kepala, ya. Mereka khawatir bahwa murid-murid pada akhirnya itu mencuri mayat Yesus Kristus kemudian mengatakan kepada orang-orang bahwa, “Yesus telah bangkit dari antara orang mati!” Kalau seperti itu ceritanya, maka terjadi penyesatan yang luar biasa.

Tetapi uniknya, setelah kebangkitan, para penjaga kubur kaget bahwa ada gempa bumi yang dahsyat, ada kuasa kebangkitan. Tapi kemudian imam kepala ini menyuap, ya, menyuap para penjaga kuburan untuk berbohong bahwa mayat Yesus betul-betul dicuri oleh para murid-Nya. Saat kebangkitan Kristus ada gempa bumi yang dahsyat, malaikat menggulingkan batu. Kebangkitan digambarkan sebagai suatu peristiwa alam semesta: gempa bumi yang dahsyat dan kuasa kebangkitan Yesus melampaui kuasa gempa bumi. Kuasa kebangkitan Kristus melampaui kuasa batu yang begitu besar yang menutup kuburan Yesus Kristus. Ini mencerminkan tentang kuasa Allah.

Saat kebangkitan Kristus, ada gempa bumi yang dahsyat. Malaikat menggulingkan batu. Kebangkitan digambarkan sebagai suatu peristiwa alam semesta. Gempa bumi yang dahsyat dan kuasa kebangkitan Yesus melampaui kuasa gempa bumi. Kuasa kebangkitan Kristus melampaui kuasa batu yang begitu besar, yang menutup kuburan Yesus Kristus. Ini mencerminkan tentang kuasa Allah. Dan kemudian Yesus menampakkan diri dan memberikan perintah amanat agung yang menjadi suatu perintah yang begitu indah, begitu berat, begitu kompleks bagaimana seseorang Kristen harus hidup setelah kuasa kebangkitan itu dinyatakan. Nah,, itu Injil Matius.

Tapi Injil Markus, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya. Kita lihat Injil Markus itu kepada orang Romawi misalkan, ya. Nah, justru Injil Markus, Markus menulis itu penuh dengan misteri dan juga penuh dengan suatu respon manusia yang kebingungan dan tidak percaya kepada kebangkitan. Karena apa? Orang-orang Romawi ini juga ngnggak terlalu fokuskan tentang kebangkitan, ya. Ngnggak terlalu rasa penting kebangkitan. Maka Injil Markus ditulis dengan cara yang unik. Ya, bahwa di ayat 8, ya. Ini dijelaskan, ya, di Markus 16:8a itu sempat disebut bahwa, “Lalu para perempuan yang menyaksikan kebangkitan Yesus Kristus itu, mereka keluar dari kubur, lari,” Sebab apa? “Gentar dan dasyat menimpa mereka.” Ada unsur ketakutan.

Ada unsur mereka itu bahkan bisu. Ada unsur kebisuan terhadap kebangkitan Kristus. Ini menunjukkan bahwa Markus menulis itu kepada orang Romawi, “Kamu itu nggak tahu apa-apa soal kebangkitan. Dengarkan baik-baik. Pikirkan sungguh-sungguh soal kebangkitan itu. Kamu gentar nggak masalah.” Ya, apalagi baru tahu, ya, bahwa tubuh manusia yang sudah mati itu bisa bangkit.

Maka Markus menulis perasaan yang memang dirasakan oleh para perempuan yang menyaksikan kebangkitan Kristus atau kuburan kosong itu adalah perasaan yang kaget, bingung. Ada gentar dan mana mungkin kita ketika menyaksikan atau mengalami kebangkitan itu langsung tahu, “Oh, saya harus beritakan kebangkitan ini.” Enggak, bingung dulu. Yesus betul-betul bangkit. Stop dulu.

Dan penuh dengan misteri dan para perempuan itu bisu, tidak mengatakan itu kepada siapa-siapa. Nah, ini penulisan Injil Markus terhadap kebangkitan Yesus Kristus. Ya, seperti ada misteri. Kebangkitan itu seperti apa sih? Kalau kita lihat, pelajari di dalam Alkitab pun penjelasan tentang kebangkitan tubuh itu sedikit sekali. Yang cukup panjang lebar menjelaskan adalah Paulus dan Yesus Kristus, ya. Paulus menulis dalam 1 Korintus 15 cukup lengkap tapi di bagian lain itu sedikit tentang kebangkitan orang mati. Sedikit juga tentang kebangkitan Kristus yang seperti apa. Dan di sini Markus menjelaskan bahwa pada akhirnya orang itu kalau tidak karena anugerah Tuhan, nggak bisa percaya kebangkitan Kristus. Itu sebuah hal yang misteri. Suatu hal yang membingungkan bagi manusia dan kita pun jarang, kan ya, ada melihat kesaksian di dalam kehidupan seseorang itu betul-betul orang bangkit dari kematian misalkan. Ya, itu kan suatu hal yang aneh. Suatu hal yang misteri.

Kalau kita masuk lagi ke Injil Lukas, kebangkitan Kristus itu sebagai pemenuhan dari nubuatan tentang Yesus Kristus dan bagaimana Yesus Kristus menjelaskan bahwa seseorang itu kalau bisa mengenal Yesus Kristus, itu karena ada yang dibuka di matanya. Ada selubung yang dibuka oleh Tuhan sendiri dan itu tergantung kuasa Tuhan sendiri. Injil Lukas menceritakan narasi perjalanan dua murid Yesus ke Emaus. Hanya di Injil Lukas. Ya, menggambarkan tentang orang-orang Kristen yang dulu kurang lebih tahu Yesus itu adalah Mesias. Dia janjikan juga bahwa bangkit pada hari yang ketiga mungkin mereka masih ingat, tapi pada akhirnya orang-orang itu tidak percaya Yesus Kristus. Meninggalkan Yesus Kristus dan juga mereka kembali ke kampung mereka masing-masing dengan putus asa. Karena Yesus tidak bangkit. Mereka sudah tidak berharap Yesus muncul atau bangkit dan di situ ketika dua murid ini ke Emaus, Yesus datang. Ya, ada sesuatu yang menyelubungi mata mereka sehingga mereka tidak bisa mengenali siapakah orang tersebut yang mendampingi mereka. Sampai Yesus jelaskan firman. Sampai Yesus pun memecah-mecahkan roti. Di situ Yesus memberikan iluminasi kepada mereka untuk mengenal siapakah Yesus yang sudah bangkit tersebut. Jadi, penekanannya kepada penggenapan nubuatan tentang kebangkitan Yesus Kristus.

Kita jangan pikir bahwa kebangkitan Yesus Kristus itu dinubuatkan hanya oleh Yesus Kristus sendiri. Bukan. Di dalam perjanjian lama pun sudah disebutkan orang kudus, ya, akan bangkit dari kebinasaan. Mesias itu akan bangkit dari kematian. Itu sudah dinubuatkan di dalam perjanjian lama. Ya, maka waktu Yesus bangkit dari kematian Lukas mau menjelaskan juga bahwa Yesus itu betul-betul nubuatan dari perjanjian lama tetapi lebih ke arah relasi dengan dua murid yang sudah putus asa.

Dan Injil Lukas juga menjelaskan satu-satunya—yang begitu eksplisit—menyebutkan kenaikan Yesus ke Surga di dalam bagian akhir Injilnya. Sehingga kalau nanti, ya, memperingati kenaikan Yesus ke Surga biasanya bolak-balik dari Injil Lukas atau Kisah Para Rasul, kaya gitu, ya. Nggak ada bagian lain yang menceritakan tentang kenaikan Yesus ke Surga, selain Lukas menceritakannya, ya.

Kalau memang Yesus bisa naik ke Surga berarti Yesus sudah bangkit dari kematian. Itu maksudnya Lukas. Kenapa naik ke Surga? Karena Yesus berasal dari Surga. Ini melawan mitologi-mitologi Yunani yang mereka percaya bahwa dewa-dewa itu di Surga, bisa turun ke bumi. Ini beda. Tuhan yang sejati itu Dia turun dari Surga ke bumi jadi manusia, kemudian dari manusia itu Dia juga kembali ke Surga. Ya, ini penjelasan Injil Lukas.

Dan terakhir Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya, Injil Yohanes yaitu menceritakan kebangkitan Kristus sifatnya itu relasi intim dengan orang yang percaya. Ya. suatu iman yang sendiri dan ada perubahan hidup ketika seseorang itu sungguh-sungguh mengalami kuasa kebangkitan Kristus. Sehingga Yohanes, ya, sebagai rasul yang termuda diantara para rasul yang lainnya, dia fokus kepada Maria Magdalena di dalam saksi kebangkitan Yesus Kristus. Ya, dikatakan bahwa Maria Magdalena adalah orang yang pertama melihat Yesus bangkit dan waktu melihat Yesus bangkit itu bukan cuma lihat, tapi ada percakapan yang cukup intim dengan Yesus Kristus.

1.33.31 – 1.40.51

, dia fokus kepada Maria Magdalena di dalam saksi kebangkitan Yesus Kristus. Dikatakan bahwa Maria Magdalena adalah orang yang pertama melihat Yesus bangkit. Dan ketika melihat Yesus bangkit, itu bukan cuma lihat, tapi ada percakapan yang cukup intim dengan Yesus Kristus. Itu Maria Magdalena. Dia saksi pertama kebangkitan, dia pagi-pagi benar ke kubur Yesus, menemukan batu telah digulingkan. Kemudian melihat Yesus itu bangkit di matanya sendiri, meskipun awalnya dia mengira itu penjaga taman. Dia lihat Yesus, lihat dengan matanya sendiri. Dia pikir penjaga taman, kemudian dia menyaksikan bahwa, wah, ternyata memang itu betul-betul Yesus Kristus. Dan kemudian Maria Magdalena pergi kepada para murid dan mengatakan, “Aku sudah melihat Tuhan! Aku betul-betul melihat Yesus bangkit dari kematian.” Maria Magdalena adalah seorang murid Kristus yang setia. Meskipun dia perempuan, dan orang-orang Yahudi konteks pada waktu itu, budaya pada waktu itu, tidak menganggap perempuan itu sebagai seseorang yang cukup penting. Tetapi kita lihat bahwa Maria Magdalena sejak sebelum melihat kebangkitan Yesus Kristus pun, imannya begitu besar. Dia ikut Yesus. Dia ikut Yesus setelah diusir setan-setan di dalam dirinya, Yesus tolong dia kemudian dia ikut Yesus sampai penyaliban Yesus Kristus di atas kayu salib, di tengah para rasul yang lain itu lari. Ada Maria Magdalena, ada mama dari Tuhan Yesus, ada rasul Yohanes mendampingi sampai ke penyaliban Yesus Kristus. Dan Maria Magdalena menjadi seseorang yang disoroti oleh Yohanes. Karena ini kan yang menulis rasul Yohanes, Injil Yohanes. Dia lihat kok Maria Magdalena hidupnya seperti apa. Dia bersama-sama dengan Maria Magdalena sampai penyaliban Yesus Kristus. Dan di dalam kebangkitan pun ada lagi Maria Magdalena. Maka Yohanes menyoroti pribadi yang diubahkan oleh Yesus Kristus bahkan di dalam kebangkitan Yesus Kristus juga. Lalu Yesus memerintahkan kepada Maria Magdalena untuk beritakan bahwa Yesus telah bangkit.

Maka ada istilah ya Bapak, Ibu sekalian, Maria Magdalena ini disebut sebagai rasul kepada para rasul. Rasul kepada para rasul kenapa? Karena dia saksi pertama kebangkitan, dia beritakan kebangkitan itu kepada rasul yang lain. Ini adalah satu privilege bahwa kita bertemu Yesus itu suatu hak istimewa. Percaya kepada Yesus Kristus bukan sekedar urusan ikut orang tua, ikut pendeta, ikut gereja, tapi percaya kepada Yesus Kristus bicara soal pribadi kita sungguh-sungguh mengenal Yesus Kristus. Kita lah saksi Kristus yang pertama berelasi dengan Kristus. Sehingga kita semua, Bapak, Ibu sekalian, kita bisa dikatakan saksi pertama itu kita. Kita betul-betul melihat Yesus, betul-betul mengalami keselamatan dari Yesus Kristus. Kita betul-betul menerima perkataan dari Yesus Kristus. Kita adalah saksi Kristus, maka kita belajar hidup bersaksi bagi Kristus. Maka dari itu bersyukur kah kita akan Injil Bapak, Ibu sekalian? Kita punya Alkitab, kita punya firman Tuhan, kita kagum nggak ya terhadap Alkitab ini? Ini karya Tuhan, masterpiece nya Tuhan. Kalau manusia punya masterpiece dalam lukisan, dalam buat lagu, dan kemudian orang banyak melihat bahkan membeli masterpiece itu dengan harga yang begitu mahal. Milyaran pun dibeli. Alkitab 100 ribu, tapi apakah kalah dibandingkan dengan karya manusia yang terbagus lainnya? Nggak kalah! Karena Alkitab adalah pengarang utamanya adalah Roh Kudus sendiri. Meskipun harganya relatif murah, tetapi kita bisa dapatkan firman Tuhan, seluruh kehendak Tuhan, seluruh perintah Tuhan, seluruh pimpinan Tuhan. Seluruh hal-hal yang baik yang dari Tuhan itu semua sudah diberikan di dalam Alkitab, Kejadian sampai Wahyu. Maka bertobatlah yang tidak mau baca Alkitab, yang tidak mau menyelesaikan Alkitab. Itu kita harus malu. Kita nggak mau ya menjadi orang Kristen itu kamu dihakimi Tuhan.

Di akhir zaman, itu penghakiman bagi semua orang. Dan kita akan dihakimi juga. Ibarat menakut-nakuti ya; “Kamu sudah Kristen berapa tahun sih? Berapa lama sih?” Nanti Tuhan hakimi. “Belum pernah baca Alkitab? Tunggu dulu di teras, baca semua Alkitab baru masuk surga!” Ibaratnya gitu ya. Tunggu dulu! Kamu masih hidup, masih bisa baca Alkitab kok nggak baca Alkitab. Pengennya surga aja, surga aja gitu. Penghakiman itu ada. Setiap kata-kata kita dihakimi di akhir zaman, setiap pikiran kita itu dihakimi di akhir zaman. Allah itu adil. Tuhan Mahatahu. Sekarang ada kesempatan melayani Tuhan, ada kesempatan kita membaca Alkitab, ada kesempatan kita berbuat baik kepada sesama, ada kesempatan kita untuk beribadah, mendengarkan firman, kita nggak lakuka pendeta nggak rugi juga. Orang lain nggak rugi juga kok kalau Bapak, Ibu nggak lakukan firman. Paling kita jengkel-jengkel aja. “Ini kok bohongin kita, menyakiti kita” misalkan. Tapi yang rugi kita sendiri. Yang melakukan firman Tuhan yang untung kita sendiri. Yang tidak melakukan firman Tuhan yang rugi, paling rugi diri kita sendiri kok karena kita berhadapan dengan Tuhan sendiri. Penghakiman itu dengan Tuhan sendiri.

Maka dari itu, mari kita meresponi kebangkitan Kristus. Ini masih masa-masa memperingati Paskah ya, mungkin kita masih melihat bahwa kuasa kebangkitan Kristus itu begitu nyata. Maka waktu kita melihat kebangkitan Kristus, kita mau agar kerajaan Allah itu datang. Itu adalah aplikasi dari meresponi atau memaknai kebangkitan Kristus. “Datanglah kerajaan-Mu!” berarti apa? Already Yesus sudah datang dalam hati kita kan, dan not yet, bagaimana kita mengerjakan perintah-perintah atau hukum-hukum dari kerajaan Allah.

Salah satu tradisi yang baik dari GRII, dari pendiri GRII, salah satu tradisinya adalah meskipun kita ini gereja yang Protestan, gereja yang lagu-lagunya himne, gereja yang bisa dikatakan melawan arus zaman, di mana gereja itu terima musik-musik yang sederhana, yang easy listening, yang musik-musik yang mungkin tidak terlalu bagus bagi para musikus, misalkan ya, tetapi kita tetap berpegang pada yang terbaik untuk Tuhan itu yang mana. Kita gunakan musik, kita gunakan cara ibadah yang terbaik.

Yang easy listening, musik-musik yang, yah, mungkin tidak terlalu bagus bagi para musikus misalkan, ya. Tetapi, kita tetap berpegang pada yang terbaik untuk Tuhan itu yang mana? Kita gunakan musik. Kita gunakan cara ibadah yang terbaik, ya, kurang lebih seperti ini, ya, GRII.

Dan ada salah satu tradisi yang dimiliki oleh GRII yang mungkin juga tidak dimiliki oleh gereja lain, yaitu apa? Pdt. Stephen Tong ajarkan kita itu harus punya fighting spirit. Fighting spirit berarti apa? Kita berhadapan dengan arus zaman. Zaman mengajarkan bahwa, “Ayo, ibadah itu kayak diskotik! Ibadah itu kayak konser musik itu, lho, yang di lapangan-lapangan, alun-alun itu! Ibadah itu kayak itu aja! Kenapa kita ibadah itu kayak upacara bendera? Upacara bendera nggak ada yang mau! Upacara, coba, ya.” Tetapi, upacara bendera itu lebih menghormati daripada entertainment yang lainnya. Dan ibadah harus melebihi upacara bendera. Upacara menghormati para pahlawan, negara, gitu, ya. Kita sedang menghormati Tuhan! Harus lebih hormat, harus lebih bagus, yang the best, dan ini menjadi sebuah hal yang pada akhirnya kita sulit, ya. Kok, ini gereja antik gitu, ya. Kok nggak mau ngikutin arus zaman yang mudah. Yang mudah saja, ya, latihannya dan lain-lain. Maka, tradisi gereja ini, ayo, punya semangat berperang! Tapi, bukan menyakiti hari orang, ya. Bukan akhirnya memerangi saudara seiman atau cari-cari masalah, gitu, ya. Tetapi, maksudnya kita mau berperang bagi kerajaan Tuhan, kita mau menghadapi setiap kesulitan asal betul-betul Tuhan disenangkan.

Ya, bukan saja itu. Kita punya tradisi juga yaitu squeezism. Squeezism berarti memeras. Dan ini para ibu-ibu rumah tangga yang memahami prinsip ini, ya, Bapak, Ibu sekalian, ya. Memeras baju yang penuh dengan air. Peras. Wah, tenaganya kuat, ya! Harus kuat. Harus betul-betul membersihkan semua air yang menyerap di pakaian. 2 hal ini, 2 tradisi ini sebenarnya, ya, ketika saya pikir-pikirkan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya, ini adalah aplikasi dari menyatakan kuasa kebangkitan Kristus. Yesus mengalami maut. Alkitab mengatakan maut adalah musuh terakhir. Musuh terakhir, Yesus mati, tapi bukan karena dosanya sendiri, ya. Yesus tidak berdosa, melainkan menanggung hukuman dosa kita. Sekarang ini, arus zaman ini mematikan. Mematikan, mematikan. Sekarang, kita fighting spirit, bangkit, lawan! Itu memaknai kuasa kebangkitan Yesus Kristus adalah kita punya dorongan yang besar untuk melakukan firman. Kita mau memeras diri kita. Hidup kita sudah dipenuhi dengan firman Tuhan. Maka, waktu ada pemerasan, ada penderitaan, kesulitan, yang keluar adalah firman Tuhan. Kalau pakaian, ya, ditenggelamkan, kemudian banyak air, diperas, itu air. Nah, rohani kita, kalau betul-betul banyak firman Tuhan, yang diperas itu adalah yang keluar firman Tuhan ketika kita menghadapi segala kesulitan.

Saya ambil contoh, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya. Sabtu yang lalu, minggu lalu, saya diajak pengurus gereja GRII Solo, ya. Dapat kesempatan. “Ayo!” Sekarang kan lagi lumayan ramai, ya, tentang lari-lari. Itu ada event “Mangkunegaran Run.” Ya, jadi Kerajaan Mangkunegaran itu ngadain event, lah. Ada 5.000 peserta ikut lari. Ada jemaat juga komentar, “Ngapain bayar-bayar untuk lari?” gitu, ya. Memang ada biaya pendaftaran, ya. 5km. 10km, sama half marathon, kayak gitu, ya. Terus kemudian, diajak pengurus gereja, jemaat, ada 10 jemaat GRII ikut lari, gitu, ya, Sabtu lalu. Nah, karena saya bukan pelari, saya ini jadinya pembicara gitu, ya, sering berbicara, terus kemudian, saya pikir yang paling kecil saja pendaftarannya, ya. 5km saja lah, nggak usah jauh-jauh karena belum pernah lari sebelumnya, ya. Andai pun pernah lari, itu lari di lapangan basket, itu pun 2km sampai 3km gitu, ya. Nggak sampai banyak. Tetapi, karena saya coba diajak, ya, sebagai gembala yang baik kan harus menemani jemaatnya gitu, ya, kemana pun. Tapi, saya tidak bisa mengalahkan Yesus Kristus lah, ya. Yesus Kristus sudah gembala yang terbaik. Kita semua punya gembala yang terbaik, tapi saya juga, ya, pikir untuk kesehatan. Ya, ini pikirannya, ya. Terus, untuk kebersamaan. Toh, bisa waktunya. Terus, ditawari juga. Ada kesempatan, ya. Terus kemudian, saya pikir, olahraga lari itu adalah olahraga yang Alkitabiah juga kan, ya. Di dalam 1 Korintus itu dikatakan, “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan, semua peserta turut berlari, tetapi hanya 1 orang saja yang mendapat hadiah. Karena itu, larilah begitu rupa sehingga kamu memperolehnya.” Ini ilustrasi Paulus.

Perjalanan iman Kristen kita itu seperti kita berlari. Makanya, kita dikatakan perseverance of the saints. Kalau perseverance itu santai-santai, tidur-tidur, itu bukan perseverance, kan, ya? Perseverance itu ada tenaga yang dikeluarkan dengan tekun, tapi sampai garis finish. 1 finish. Paulus kasih ilustrasi bahwa ini semua orang berlari, hanya 1 yang menang, meskipun ada juara 2, juara 3. Nah, demikian juga, di dalam kerohanian kita. Larilah begitu rupa supaya kamu memperolehnya. Memperoleh apa? Memperoleh perkenanan Tuhan; Memperoleh hati Tuhan yang senang; Memperoleh upah. Upahmu besar di surga. Kalau di surga itu ada penghakimannya sendiri. Ada upah kecil, upah besar. Kita pengen upah besar, nggak, Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Atau upah kecil sajalah. Toh, sama-sama masuk surga gitu, ya. Enggak! Kita itu punya semangat seperti itu, ya. Berlari, bertekun di dalam iman. Lalu kemudian, ternyata yang 5km itu sudah full, ya. Akhirnya, saya pikir udahlah nggak jadi larilah. Udah, tenang. Bisa Paskah Sekolah Minggu dengan tenang karena itu sebelum Paskah Sekolah Minggu, ya. Subuh-subuh. Larinya kan subuh-subuh, jam 5-an, setengah enam. Eh, ternyata ada kesempatan lagi, ya. Jadinya, “10km nih ada! Mau nggak?” Ya, bolehlah coba. Akhirnya, coba. Terus kemudian, nggak ada latihan. Biasa saja, lari-lari. Terus, mulai lari

lari 10 menit pertama, ya, saya pake jam ya, saya melawan tradisi hamba-hamba Tuhan reform ya yang jamnya klasik sukanya ya, ini jamnya yang olahraga, terus saya coba, di titgitu yaa, start, e…. lari outdoor. Teruskan di situ terpantau ya detak jantung per menitnya berapa. Nah, ada lima tingkatan detak jantung, ya, beatsper menit yaitu ringan, yang sangat ringan tuh paling 70 detak per menit. Ya terus kemudian ada yang ringan juga, ya mungkin sekitar 90, ya, sekarang berapa nih? Tegang, 100-an gitu ya, terus aerobik sedang menengah, sedang menengah, itu ya kurang lebih 150, ee… 140 sorry ya, 120, 140 per detik, ya, detak jantung per detik, terus yang berat yang hard aerobikya, anaerobiksorry yang tadi sedang itu aerobik, yang berat itu anaerobik itu mungkin sekitar 160 detak per menit, ya. Terus yang ke-5 tingkatan paling besar bagi jantung adalah maksimum effort katanya ya. Maksimum effortitu 180-190 per menit. Bayangin ya, hitung jangung kita satu menit detaknya 180-190, wah cepet berkejanya ya. Nah saya lari baru 10 menit udah maksimum effort terus ya. Baru 10 menit udah jantung, jantung ini kenapa ya? Oh ternyata ada tingkatannya saya baru tahu ya, tingakatan tertinggi gitu ya. Baru tahu ketika lari itu ya. Biasanya lari di tempat kecil kita ya jadi orang kecil. Ya, tapi itu lari di Slamet Riyadi, ya, bolak-balik lagi, di tempat yang besar kita jadi wah ingin memacu diri menjadi besar juga. Teruskalau memang biasanya 2-3 km beres, saya pikir targetnya adalah ya 5 km aja lah, masa saya kalah dengan perempuan-perempuan ya lari-lari 5 km finish gitu ya. Akhirnya tahan, terus, terus saya belajar, ingat, oh ya, fightingspirit ya, ayo coba ya, fighting spirit terus tahan, terus selesai, ternyata 1 jam 40 menit itu terus dengan maksimum effort, ya. Udah mau mati kayaknya ya itu jantungnya, ya.  Nah maksudnya dari ilustrasi ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya, ternyata kita tidak terlalu mengenal diri kita itu seperti apa, tubuh kita seperti apa pun kita nggak akan bisa mengenal secara sempurna sampai kita mati, apalagi roh kita, apalagi Tuhan. Kita nggak bisa mengenal Tuhan lebih dalam lagi sampai kita mengalami atau melakukan firman Tuhan. Maka, waktu diperintahkan Tuhan mengabarkan Injil, coba kabarkan Injil. Kita bisa kok. Saya aja pikir nggak mampu kok lari, ya, ya dicoba aja pelan-pelan, alon-alon asal kelakonkan, ya ternyata bisa juga kok. Ya, kita nggak tahu Roh Kudus yang ada di dalam hati kita itu bisa bekerja sedemikian rupa membuat kita menjadi orang kristen yang berkenan dihadapan Tuhan. Ya, siapa yang pikir saya bisa menjadi seorang pendeta sekarang ya? Pdt. Nggak ada. Saya pun nggak mikir bisa jadi Pdt kok. Orang tua nggak ada, saudara-saudara nggak ada, teman-teman nggak ada. Tapi Tuhan tuh mampu itu membawa kita untuk terus hidup kudus, hidup berkenan di hadapan Tuhan. Kuasa kebangkitan membuat kita itu berharap menghadapi setiap persoalan dalam hidup kita. Mampu kok. Kita bisa menghadapi godaan dosa meskipun tidak sempurna, kita bisa jatuh dalam dosa tetapi kita bisa menang terhadap dosa juga. Kita punya fighting spirit, kita punya squeezism dan itu itu didasari karena kebangkitan Kristus. Apakah Bapak, Ibu, Saudara sekalian punya ya kenalan yang LGBT? Atau mungkin diantara kita tuh ada yang bergunul tentang LGBT ya? Kita bisa mengalahkannya. Nah, ini orang Kristen ya. Banyak orang mengatakan enggak kalau sudah gaygay seumur hidup. Bagi orang kristen nggak. Bisa. Dengan apa? Kuasa kebangkitan Kristus.  Pecandu narkoba, ya, kemudian orang-orang yang, apa, bandar narkoba, perampok, pemerkosa, orang-orang cabul, pezinah gitu ya, dapat bertobat dan meninggalkan kehidupan lamanya kemudian dipakai Tuhan? Bisa dengan jawaban kebangkitan Kristus. Kalau di luar kebangkitan Kristus itu hanya sementara, jatuh lagi, mungkin lebih parah jatuhnya. Tapi kebangkitan Kristus itu membuat kita mampu mengalahkan musuh kita, yang betul-betul musuh ya, bukan teman ya. Kita bisa mampu karena Tuhan Yesus. Karena Tuhan memberikan teladan-Nya dalam kehidupa-Nya. Meskipun tidak sempurna tapi lewat kuasa kebangkitan Kristus kita dapat bertekun dalam iman seperti berlari sampai menuju garis finish. Bukan kita yang kuat untuk bertekun untuk berlari, tetapi Tuhanlah yang  bertekun pada kita. Tuhan yang senantiasa mendorong kita untuk mencapai garis finish. Kiranya Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya, kita semakin hidup berkenan di hadapan Tuhan. Mari kita sama-sama berdoa. Kami bersyukur ya Bapa surgawi untuk kebangkitan Kristus dari kematian yang adalah dasar iman kami. Kebangkitan Yesus adalah dasar pengharapan kami. Kebangkitan Yesus adalah kekuatan bagi kami untuk melakukan pekerjaan Tuhan dan menang atas dosa. Tanpa kebangkitan Kristus iman kami sia-sia. Tanpa kebangkitan Kristus kami terhilang, tesesat dan lemah tanpa pengharapan. Namun di dalam kebangkitan Kristus kami punya pengharapan yang kokoh bahkan di tengah-tengah setiap penderitaan dan kesulitan kami. Bahkan di tengah-tengah kegagalan maupun kematian kami memiliki pengharapan di dalam Kristus. Paskah bukanlah peristiwa yang terjadi di masa lalu, tetapi merupakan peristiwa yang memiliki kuasa pada kehidupan kami saat ini. Meskipun kami tahu bahwa hidup kami pun tidak bisa, tidak mungkin atau tidak pasti menjadi lebih sempurna dibandingkan saat ini, tetapi kami mau meresponi segala sesuatu berdasarkan kehendak Tuhan dan rancangan Tuhan. Kami mau menghindari setiap perbuatan dosa. Kami mau berharap di dalam Kristus, kami mau menaruh damai sejahtera kami hanya di dalam kuasa Tuhan saja. Kiranya Tuhan boleh memelihara hidup kami. Jadikanlah kami Tuhan saksi Kristus yang baik dan setia dan kami pun mau hidup di dalam kuasa kebangkitan Yesus Kristus. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami sudah berdoa dan mengucap syukur. Amin

(HS)