Menjadi Orang Kristen Dewasa Secara Rohani Menurut Mazmur 33
Mazmur 33
Vik. Lukman S.
Bapak, Ibu, Saudara sekalian, pada hari ini adalah di dalam kalender gereja itu merupakan peringatan akan belas kasihan Tuhan. Di dalam istilah latinnya Misericordia Domini Sunday. Salah satu ayat yang juga dipakai untuk merenungkan belas kasihan Tuhan yaitu Mazmur 33. Pada hari ini, kita akan merenungkan dari Mazmur 33, apa artinya menjadi orang Kristen dewasa rohani dan bagaimana kita menjadi orang Kristen dewasa secara rohani.
Apa artinya menjadi orang Kristen dewasa secara rohani? Pertama, Memuji Tuhan. Mazmur 33:1 berkata “Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur.” Mazmur 33 dikategorikan sebagai Mazmur pujian, Hymn of Praise, yang dipakai di dalam ibadah umum. Dan jelas di dalam ayat yang pertama, yang kedua dan ketiga merupakan panggilan dari pemazmur untuk kita bersorak-sorai bagi Tuhan, untuk kita bernyanyi bagi Tuhan, untuk kita memuji Tuhan. Ini satu anjuran dari pemazmur. Pemazmur mengajak seluruh umat Tuhan bersoraklah bagi Tuhan, pujilah Tuhan, bersyukurlah kepada Tuhan, nyanyikanlah nyanyian baru.
Saudara sekalian, ketika kita melihat pujian yang ditulis di dalam Mazmur 33 ini, kita melihat bagaimana hampir setiap ayatnya atau setiap baitnya, itu menyatakan tentang Tuhan. Ada Tuhan di sana, berfokus kepada Tuhan. Saudara sekalian, apa artinya menjadi orang dewasa rohani? Secara sederhana kita bisa melihat di sini. Orang yang sungguh-sungguh adalah orang dikatakan orang benar dalam Tuhan, orang jujur dalam Tuhan, orang yang dewasa rohaninya, umat Tuhan adalah orang yang memuji Tuhan.
Bagaimana di sini digambarkan orang yang memuji Tuhan itu? Yang pertama kita bisa melihat dinyatakan memuji Tuhan itu bersifat komunal, banyak orang. Pemazmur memuji Tuhan tapi pemazmur yang satu orang itu mengajak banyak orang memuji Tuhan. Ketika beribadah kita menyanyikan pujian kepada Tuhan bersama-sama dengan umat Tuhan. Itu menyatakan bahwa kita terikat di dalam satu komunitas. Kita bukan individu yang terlepas dari satu bagian yang lebih besar atau kita bukan individu yang independen, yang berdiri sendiri, yang nyaman dengan sendiri. Kita bukan individu yang seharusnya memuji Tuhan sendiri, tetapi pemazmur mengatakan kita seharusnya menjadi individu yang merupakan bagian dari komunitas dan bagian dari komunitas yang adalah komunitas umat Tuhan.
Yang kedua, Pemazmur mengatakan tentang memuji Tuhan di ayat satu sampai dengan tiga yaitu pujian adalah ungkapan sukacita. Ungkapan kita bersukacita di dalam Tuhan, luapan kegirangan. Di dalam istilah aslinya, Saudara sekalian, itu luapan kegirangan yang melimpah-limpah yang disamakan dengan teriakan peperangan. Satu luapan kegirangan, luapan sukacita yang disamakan dengan perayaan sukacita yang begitu besar. Bukan nyanyi seperti malu-malu, ini bukan ekspresi memuji Tuhan. Saudara sekalian saya nggak tahu ya setiap kita kapan kita sungguh-sungguh mengalami itu sukacita yang meluap sampai kita itu suaranya begitu lepas. Saya nggak tahu ya, mungkin pasangan suami istri ketika menerima anugerah untuk bisa dapat anak yang pertama atau kedua, ada anak di dalam kehidupan keluarga mungkin ada ungkapan sukacita yang besar yang bisa berteriak yang sungguh-sungguh meluap spontan. Ini luapan yang begitu limpah, memuji Tuhan itu adalah ungkapan sukacita diluapkan secara spontan seperti teriakan peperangan, perayaan yang sukacita besar.
Kita melihat di dalam ayat 1, ajakan memuji Tuhan itu oleh pemazmur, tetapi John Goldingay mengatakan begini “Memuji Tuhan itu adalah panggilan Tuhan atas umatnya”. John Goldingay menerjemahkan bagian “memuji-muji itu layak” seperti ini “Praise is to be desired”, Memuji itu diinginkan oleh Tuhan. Aneh ya Saudara sekalian. Dan bukankah Mzm. 33 ini adalah wahyu Allah sendiri. Allah mewahyukan diri-Nya, mewahyukan isi hati-Nya, kehendak-Nya kepada pemazmur. Dan ketika Allah menyatakan wahyu-Nya, kehendak-Nya kepada pemazmur, apa yang Dia wahyukan? Dia wahyukan melalui mulut pemazmur, melalui tulisan pemazmur, “Bersoraklah bagi Allah”. Tuhan sendiri memerintahkan, firman Tuhan memerintahkan memuji Tuhan. Mazmur adalah firman Allah yang mengajak kita memuji Allah. Seolah-olah Allah itu berkata, “Aku inginkan dari manusia, manusia itu mengatakan Aku benar, mengatakan Aku baik, mengatakan Aku adil, mengatakan Aku perkasa, mengatakan Aku Mahakuasa. Yang Aku inginkan dari manusia yaitu manusia memuji-Ku.” Apakah artinya Allah narsis? Apa artinya Allah egois? Atau mungkin Allah kita adalah Allah yang minder, perlu validasi, pengakuan gitu? Kalau kita lihat orang selalu minta dipuji kan nggak enak. Apa maksudnya Tuhan itu menginginkan dari manusia memuji Dia.
Allah jelas tidak narsis dan tidak egois. Di dalam teologi reformed itu ada istilah aseitas Allah, aseity of God. Allah yang cukup pada diri-Nya, Dia nggak perlu pujian manusia. Pujian manusia itu nggak menambah apa pun dari diri-Nya. Dia ada terlepas kita ada atau nggak, Dia ada terlepas kita puji Dia atau nggak, Dia ada dan tetap ada walaupun kita menyangkal Dia. Tapi sekarang pertanyaannya kalau Allah ya pasti bukan Allah yang narsis, Allah bukan egois, Allah pasti juga bukan Allah yang minder perlu validasi, perlu pengakuan dari manusia bahwa Dia Allah yang hebat. Lalu kenapa kita memuji Tuhan?
Di dalam bukunya Reflection on the Psalm, C. S. Lewis memikirkan tentang ini. C. S. Lewis memikirkan mengapa Allah itu memerintahkan kita memuji Dia? Dia mulai dengan merenungkan mengapa kita memuji sesuatu. Mengapa kita manusia memuji sesuatu. Lewis mengatakan “Saya pikir kita senang memuji apa yang kita nikmati karena pujian tidak hanya mengekspresikan, tetapi melengkapi sukacita. Pujian adalah penyempurnaan kenikmatan.”
Saudara sekalian mungkin kita tidak terlalu sadar akan hal ini. Tapi pengalaman saya pribadi, kalau makan enak pasti kita otomatis memuji. Kalau kita makan enak ini ya, tapi diam, ini kurang sukacitanya. Bahkan kita promosiin ke yang lain, rumah makannya ini, chef-nya mana, kita kasih tahu makanan ini enaknya di mananya.
Pujian adalah penyempurna kenikmatan. Kalau kita saling mencintai, ada orang yang mengasihi kita, kita mengasihi dia, pasti ada pujian. Pujian itu meningkatkan sukacita kita bersama orang itu. Saudara sekalian, ketika kita mendengar lagu yang indah, nyanyian yang indah, pasti kita bilang ini bagus. Demikian pula memuji Tuhan, itu mengungkapkan, menyempurnakan, melengkapi sukacita kita. Ada yang kurang kalau kita nggak memuji. Saudara sekalian, ketika kita diperintahkan memuji Tuhan, apa sih artinya? Kenapa sih Tuhan memerintahkan kita memuji Dia? Karena Tuhan mengundang kita untuk menikmati Dia, menikmati sukacita yang limpah di dalam Dia. Sederhananya Saudara sekalian, yang untung itu adalah kita, bukan Tuhan. Tuhan nggak perlu pujian kita. Pujian kita bisa dikatakan tidak mempengaruhi keberadaan Dia. Dia hebat dan tetap hebat, sekalipun tidak ada yang memuji Dia. Bahkan sekalipun kita menyangkal keberadaan Dia. Memuji Tuhan itu baik untuk kita, karena melengkapi sukacita kita di dalam Tuhan.
C. S. Lewis mengatakan, “dengan memerintahkan kita memuliakan Dia, Tuhan mengundang kita menikmati Dia.” Bruce Waltke seorang ahli biblika yang khususnya Perjanjian Lama, mengatakan begini, “when we praise I am (atau Tuhan, Yahweh), we become more fully alive.” Kita menjadi semakin hidup. Hidup kita semakin limpah.
Saudara sekalian, coba kita renungkan, kita percaya Kristus, tapi mengapa kita seperti hidup itu kering? Mengapa kita seperti nggak ada pertumbuhan? Mengapa kita jadi orang Kristen yang seperti penuh beban, belenggu? Kita menghadirkan kekristenan berwajah murung. Kristen itu adalah Kristen yang menanggung salib, mukanya murung terus. Habis ibadah, pulang terima berkat dari hamba Tuhan, pulangnya jadi serius semua. Beban berat rasanya. Mengapa Saudara sekalian? Salah satunya mungkin karena kita kurang memuji Tuhan. Saudara sekalian, memuji Tuhan itu bukan hanya di dalam nyanyian, juga di dalam kalimat keseharian kita. Ketika kita sharing kepada orang, “kita mau bersyukur kepada Tuhan.” kata-kata seperti itu. “Puji Tuhan tadi, ya”, kata-kata seperti itu, memuji Tuhan yang sederhana. Lalu juga bisa di dalam doa, “Bersyukur kepada Tuhan yang sudah mencipta, bersyukur kepada Tuhan.” Ada pujian kepada Tuhan.
Saudara sekalian berapa banyak di dalam doa kita memuji Tuhan? Saya pribadi ketika merenungkan doa-doa, saya melihat betapa sering doanya itu keluhan, doanya itu permohonan. Dan saya baru sadar selama STT, dari sekolah teologi pun kurang diajarkan ini. Waktu saya baca buku Tim Keller berjudul Doa (Prayer), buku yang sangat baik sekali. Lalu memaparkan di situ ada doa pujian. Dan doa pujian menjadi satu latihan rohani bagi orang-orang Kristen di sepanjang sejarah. Banyak tokoh-tokoh iman dalam sejarah Gereja, doanya memuji Tuhan. Saudara sekalian, ketika kita berdoa memuji Tuhan artinya fokus kita kepada Tuhan, bukan kepada permohonan kita.
Saudara sekalian ketika saya juga di dalam selama pelayanan, di dalam gereja-gereja yang dihadiri, ada doa-doa yang dipanjatkan, saya lihat begitu banyak doa permohonan daripada doa pujian. Doa pujian hanya doa bersyukur sebentar saja. Thomas Cranmer memberi contoh doa pujian di dalam Book of Common Prayer. Doanya seperti ini, “Allah Yang Maha Kuasa kepada siapa segala hati terbuka, segala keinginan terketahui, dan dari siapa tidak ada rahasia yang tersembunyi, basuhlah pikiran hatiku oleh inspirasi Roh Kudus-Mu supaya kami dapat mengasihi-Mu dengan sempurna dan layak untuk mengagungkan nama-Mu yang kudus melalui Yesus Kristus Tuhan kami, Amin.” Saudara sekalian, “Allah Yang Maha Kuasa, kepada siapa segala hati terbuka, kepada siapa segala keinginan terketahui, dan dari siapa tidak ada rahasia yang tersembunyi.” Pujian. Bukankah Mazmur adalah sekaligus doa dan sekaligus pujian, dan sekaligus nyanyian? Mazmur dari Mazmur 1 sampai Mazmur 150 adalah doa adalah nyanyian adalah pujian.
Mazmur 150, Saudara sekalian, nyanyian benar, tapi sekaligus doa, kita lihat Mazmur 150 diawali apa? Haleluya, dan diakhiri Haleluya, terpujilah Engkau Tuhan, terpujilah Engkau Tuhan! Saudara sekalian ini latihan rohani yang baik, coba sekali-kali kita berdoa, Puji Tuhan. Tanpa permohonan. Sekali-sekali. Saya pernah mencoba Saudara-saudara sekalian, tanpa permohonan, dan itu nggak mudah, karena kita kurang kreatif dalam memuji Tuhan. Kita memuji Tuhan ujung-ujungnya, “Terima kasih Tuhan, kami bersyukur atas anugerah Tuhan, lalu bersyukur atas berkat Tuhan”. Kata-katanya sama begitu saja. Dari Mazmur kita belajar begitu kreatif pemazmur, lihat Mazmur 33, “Lihat sebab firman itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang keadilan dan hukum, oleh firman Tuhan langit dijadikan” dan seterusnya dan seterusnya. Semua pujian, sampai terakhir respons terhadap pujian.
C. S. Lewis mengatakan, “orang yang rendah hati adalah orang yang paling banyak memuji, sementara orang yang janggal, kikuk dan tak puas adalah orang yang paling sedikit memberi pujian. Kritikus yang baik menemukan sesuatu yang dapat dipuji dalam karya yang tak sempurna. Kritikus yang buruk terus mempersempit daftar buku yang boleh kita baca. Orang yang sehat secara rohani dapat memberi pujian kepada hidangan yang paling sederhana, orang yang muram dan suka membanggakan diri dan menemukan kesalahan pada segala sesuatu. Pujian hampir selalu adalah kesehatan batin yang diperdengarkan.”
Kurang memuji Tuhan artinya kita kurang hidup dalam realitas. Kita kurang menikmati hidup secara limpah. Memuji Tuhan membantu kita menikmati hidup lebih limpah. Kita nggak bisa nggak memuji Tuhan. Kita nggak bisa hanya sekedar percaya Allah itu baik, Allah itu benar dalam pikiran saja. Nggak bisa. Kita harus memuji Tuhan dan memujinya di hadapan banyak orang. Kalau kita ingin sungguh-sungguh mengalami kehidupan rohani yang limpah, yang dewasa.
Kedua, Memuji Tuhan melalui ekspresi artistik. Saudara sekalian, sekali lagi saya tekankan, memuji Tuhan tidak dipersempitkan hanya pada hal musik atau nyanyian tapi dari doa, dari kata-kata kita. Memang khusus di dalam Mazmur 33 itu diekspresikan dalam keindahan seni dan khususnya musik. Saudara sekalian kita bisa lihat di sini di dalam ayat 2 dan ayat 3, ada alat musik dan nyanyian atau kalau kita kategorikan, ada musik vokal dan musik instrumental. Ini artinya memuji Tuhan kita ekspresikan secara kreatif. Mengapa? Karena keagungan Tuhan, kelimpahan Tuhan, tidak bisa disempitkan terhadap statement-statement kaku sistematis.
Maka saudara sekalian, Alkitab kita berbagai macam genrenya. Alkitab kita bukan hanya jenisnya surat, tetapi ada kitab Mazmur, kitab puisi, untuk apa? Untuk kita memuji Tuhan dengan limpah secara kreatif. Ekspresikan kekaguman kita secara kreatif. Saudara sekalian di dalam musik instrumental di sini mewakili ada gambus dan kecapi. Lalu ada nyanyian baru, musik vokal. Bukan hanya alat musik dan vokal suara manusia, tetapi ditekankan di sini petiklah kecapi baik-baik. Kalau bahasa aslinya play skillfuly, dengan baik-baik, dengan sungguh-sungguh dikerjakannya.
Nyanyian baru artinya apa? Banyak penafsiran tentang hal ini, nyanyian baru bukan hanya satu-satunya istilah dipakai dalam Mazmur 33, ada di Mazmur yang lain, Mazmur 40:4, Mazmur 144:9, nyanyian baru artinya nyanyian mengungkapkan syukur kita kepada Tuhan atas karya Tuhan yang baru di dalam hidup kita. Itu disebut nyanyian baru. Di dalam Mazmur 96:1, Mazmur 98:1, Mazmur 149:1, nyanyian baru artinya kesadaran baru dari kita, melihat karya Tuhan itu. Kita melihat karya Tuhan itu kita sadar itu adalah hal yang baru bagi kita secara pribadi. Nyanyian yang baru bisa juga berarti nyanyian yang baru dinyanyikan atau dimainkan saat itu. Nyanyian baru juga bisa berarti nyanyian yang dinyanyikan atau dimainkan oleh orang yang sudah diperbaharui oleh Tuhan. Penekanan di sini adalah ekspresi kreatif kita memuji Tuhan ketika kita meresponi karya Allah yang selalu baru di dalam hidup kita.
Kita bisa lihat Mazmur 33:4 dan seterusnya: ada pengenalan Allah yang benar di sana. Siapa Allah? Para penafsir meringkas doktrin-doktrin apa saja yang dinyatakan di dalam Mazmur 33: tentang penciptaan, tentang sejarah, tentang covenant, dan tentang respons ibadah manusia kepada Allah. Di dalam Mazmur 33:4–19 diajarkan Allah lah yang mencipta segala sesuatu. Dan Allah yang mencipta bukan Allah yang terlepas dari ciptaan. Allah yang terikat, mengikat diri-Nya dengan ciptaan yang kita sebut dengan doktrin covenant. Dan bukan hanya itu, Allah juga bekerja secara individu, kepada, khusus kepada manusia secara individu. Dia mengenal siapa kita, Dia mengerti, Dia peduli, dan Dia berotoritas penuh di dalam sejarah manusia. Saudara sekalian, ada teologi yang benar: memuji Tuhan secara kreatif, baik di dalam hal ekspresi seni maupun secara doktrinal. Bukan hanya sekadar ekspresi seni saja. Maka, Saudara sekalian, di dalam GRII sangat menekankan “singing with understanding”: menyanyi dengan mengerti apa yang dinyanyikan. Ketika kita menyanyi di dalam ibadah kita, coba direnungkan kata-katanya. Dihayati kata-katanya. Bukan hanya sekadar nyanyi karena senang saja: lagunya enak atau nggak. Tapi, kata-katanya benar atau nggak?
Mengapa memuji Tuhan itu dapat mempertumbuhkan iman kita? Karena ada doktrin yang benar di dalam pujian Kristen. Ada doktrinnya. Maka pujian, nyanyian itu memengaruhi iman kita. Saudara sekalian nggak bisa sembarangan kita menyanyikan satu pujian! Nggak bisa kita sembarangan menyanyikan lagu Kristen! Karena lagu Kristen ada doktrin di dalamnya yang bisa mempengaruhi iman, pertumbuhan iman kita.
Richard Mouw mengatakan begini tentang lagu-lagu Kristen: “Lagu-lagu Kristen adalah compact theology.” Teologi yang dipadatkan. Ada pengenalan Allah di sana. Kita kenal siapa kita. Kita sadar Allah luar biasa. Allah suci, kudus dan kita adalah manusia berdosa yang tidak layak. Ketika kita menyanyikan lagu Kristen dengan doktrin yang salah, iman kita semakin nggak bertumbuh.
Saudara sekalian, ini kalau kita nyanyi lagu yang kebanyakan adalah pusatnya diri, iman kita nggak bertumbuh. Kita nggak menjadi dewasa secara rohani. Maka, ada kesusahan kita langsung jatuh imannya. Kita langsung galau cari-cari gereja. Kita langsung, “Ya Tuhan.” Doanya permohonan terus: “Tolong aku, Tuhan” karena, ya lagunya seperti ini, self centered. Saudara sekalian, coba lihat Mazmur 33. Self centered nggak? God centered! Berpusat kepada Tuhan semuanya! Ketika kita menyanyikan pujian kepada Tuhan yang membawa kita memuji Tuhan, keluar dari diri kita, iman kita fokusnya Tuhan. Kita semakin bertumbuh di dalam iman kita.
James K. A. Smith dan Don Saliers mengatakan begini, “Isi dari himne Kristen itu adalah inkubator bagi iman Kristen.” Saudara sekalian, tahu inkubator, ya? Seperti perangkat tertutup untuk mengoptimalkan atau memaksimalkan atau mendukung pertumbuhan suatu organisme. Maka seharusnya kita bisa melihat Himne Kristen adalah inkubator bagi iman Kristen. Artinya, Himne Kristen adalah perangkat tertutup yang dapat mengoptimalkan pertumbuhan iman kita. Memuji Tuhan dengan ekspresi yang kreatif, dengan doktrin yang benar, mempertumbuhkan iman kita.
Saudara sekalian secara fenomenologis, kita melihat bernyanyi dan bermusik itu melibatkan seluruh diri kita. Ketika kita misalnya bermain musik, ada bagian tubuh kita yang bergerak. Misalnya kalau violin atau piano, jari kita yang bergerak. Bukan hanya jari kita bergerak, ada hati kita yang terlibat. Kalau baca not balok gitu, pikiran kita, konsentrasi kita, semuanya. Kalau menghafal, pikirannya sungguh-sungguh harus konsentrasi untuk menghafal. Waktu kita bernyanyi, bisa dikatakan seluruh diri kita itu terlibat. Semua otot-otot kita, mulai dari mata kita yang melihat kertas pujian, dari suara kita, pita suara itu otot, paru-paru kita bekerja, lidah kita, bahkan ada beberapa saya perhatikan tubuh kita bergoyang, saya pun bergoyang. Ada yang mungkin diajak bertepuk tangan, kita bertepuk tangan. Bukan hanya ekspresi biologis atau tubuh saja—jasmani—tapi hati kita, iman kita, pikiran kita, perasaan kita. Seluruh diri kita terlibat. Maka Saudara sekalian, ketika kita memuji Tuhan, saat itulah Tuhan bisa bekerja secara efektif, membarui kita secara internal.
Bagaimana kita awal-awal pertobatan? Waktu saya bertobat, saya ke gereja pertama kali, itu kira-kira kelas 4 SD. Waktu itu diajak oleh paman saya, yang sekarang hamba Tuhan di salah satu gereja. Paman saya mengajak ke gereja Injili di Banjarmasin. Dari kecil, dari kelas 4 SD ikut sekolah minggu. Sampai suatu kali, saya bertobat waktu kelas 3 SMA. Hampir setiap minggu, hamba Tuhan berkhotbah berkhotbah di gereja itu, saya diingatkan akan pengorbanan Kristus, akan Kristus yang mati berkorban bagi manusia yang berdosa. Terus digerakkan, saya terus diingatkan. Setiap minggu, sepanjang tahun di kelas 3 SMA, saya sungguh-sungguh digerakkan untuk bisa lebih lagi percaya kepada Kristus. Dan ada satu momen, Saudara sekalian. Ketika saya pulang dari gereja, saya sungguh-sungguh mengalami teguran Tuhan. “Tuhan saya ini manusia berdosa, tapi Tuhan berbelas kasih di dalam Tuhan Yesus Kristus. Mati bagi saya, berkorban bagi saya untuk menebus saya.” Saudara sekalian, saya mengingat satu lagu Hymn, ‘Sangat Besar Anugerah-Mu.’ Pujian berhenti. Khotbah berhenti. Lagu-lagu yang lain saya tidak terlalu ingat. Tapi lagu ini saya ingat. Waktu di rumah dengan gitar yang sederhana, dengan gaya main yang sederhana, saya terus bernyanyi, “Sangat besar anugerah-Mu. Memberi aku selamat.” Ingatan akan anugerah Tuhan melalui lagu itu, terus menegur saya, menggerakkan saya sampai sekarang.
Saudara sekalian, lagu yang sederhana, itu bisa menggerakkan kita, mengubahkan iman kita, menggugah kita. Ketika calling, Pdt. Stephen Tong dan hamba-hamba Tuhan lain di dalam KKR Regional. Ketika khotbah, ada orang mungkin waktu khotbah, lihat biasa apakah hamba Tuhan ini ngomong apa, gitu ya. Tapi sudah calling selesai, lalu nyanyikan, “Salib-Nya … Salib-Nya” Berapa banyak orang menangis, tersentuh. Firman Tuhan itu masuk ke dalam hati, melalui nyanyian. Menggerakkan kita, mengubah kita secara internal. Mengapa? Karena ketika kita bernyanyi, seluruh diri kita terlibat. Waktu kita mendengar firman Tuhan, ada yang tidak terlibat. Telinga terlibat, mulut diam. Tubuh cenderung diam. Maka, Saudara sekalian, ketika semua bagian tubuh terlibat, proteksi kita mungkin menjadi lentur, lalu firman Tuhan itu masuk.
Seorang misionaris bernama Edward P. Scott, misionaris Inggris. Suatu kali dia diutus ke India, namanya ke Assam dalam tahun 1800-an. Dia baru datang, langsung dicegat banyak orang. Orang-orang suku itu, yang dia sendiri tidak terlalu mengerti bahasanya. Dan orang suku itu juga tidak terlalu mengerti orang ini. Ini asing! Orang suku itu mengepung E. P. Scott dengan tombak, dengan senjata, untuk melukai misionaris E. P. Scott ini. Apa yang misionaris ini lakukan? Misionaris ini bawa biola. Lalu dia ambil biolanya, dia mainkan biolanya. Dia mainkan lagu ‘All Hail the Power of Jesus Name’. Terpujilah nama Yesus. Dia mainkan biolanya, dia nyanyikan dengan bahasa Inggris, Saudara sekalian. Dalam bahasa Indonesia, sampai pada bagian, “Bangsa-bangsa di dunia berhimpun bersujud. Anugerah-Nya selamatkan ku, ‘bri hormat pada-Nya.” Saat pujian pada bagian bait itu dinyanyikan, tombak turun, orang-orang suku itu tergerak, tersentuh. Dan mereka menerima E. P. Scott. Musik dipakai Tuhan menggerakkan sekelompok orang ini untuk terbuka bagi Injil. Lalu Injil pun diberitakan.
Saudara sekalian, ketika kita memuji Tuhan, jangan anggap remeh. Seluruh diri kita terlibat, Tuhan bekerja secara internal, masuk ke dalam hati kita, mengubah kita. Bernyanyi, bermusik, ketika kita mengekspresikan secara kreatif pujian kepada Tuhan, menggerakkan imajinasi kita, menggugah emosi kita, mencerahkan pikiran kita, membawa kita mengenal Allah, siapa Allah, siapa diri kita.
Dalam Kol. 3:16, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” “Perkataan Kristus tinggal dengan limpahnya di dalam kita” dihubungkan dengan Mazmur, puji-pujian, nyanyian rohani!
Di Ef. 5:18-19, “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.” “Bernyanyi dihubungkan dengan penuh dengan Roh Kudus” Orang yang penuh dengan Roh Kudus pastilah orang yang mengekspresikan pujian kepada Tuhan.
Ketiga, pujian yang benar dan indah akan menambah iman kita, mempertumbuhkan iman kita, mempertumbuhkan harapan kita, memperbaharui kita secara internal. Mari kita lihat ayat 20, 21 dan 22. Apa yang terjadi setelah pemazmur memuji Tuhan dengan pujian yang kreatif dan dengan doktrin yang benar? “Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan. Dialah penolong kita dan perisai kita! Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya. Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.” Apa artinya? Pemazmur semakin dikuatkan lagi imannya, semakin percaya lagi kepada Tuhan, dan semakin berharap lagi kepada Tuhan. Bahkan dikatakan di ayat 22, “Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.”
Loh, ini bukannya kebalik? Berarti kasih setia Tuhan itu “mengimitasi”, penyertaan Tuhan kepada manusia itu “mengimitasi” harapan manusia kepada Tuhan. Bagaimana pemazmur bisa mengatakan, “Tuhan sertai kami seperti kami berharap kepada-Mu”? harusnya kan “Tuhan, ajar aku mengasihi Engkau seperti Engkau mengasihi aku.” Meniru Tuhan. Karena kasih Tuhan kekal. Harapan saya, manusia berharap kepada Tuhan on-off. Tapi bagaimana di sini dikatakan penyertaan Tuhan seperti penyertaan saya kepada Engkau ya Tuhan? Artinya harapan pemazmur bertumbuh. Harapan pemazmur limpah. Harapan pemazmur itu bisa dikatakan selaras dengan penyertaan Tuhan kepada pemazmur.
Saudara sekalian, memuji Tuhan dengan doktrin yang benar, dengan kreativitas itu membuat iman kita bertumbuh. Kita bisa melihat di sini, kita dibawa untuk mengenal siapa Allah. Allah yang mencipta. Allah yang nggak pernah gagal, yang rancangan-Nya begitu agung. Allah Yang Mahatahu. Allah yang berdaulat, berkuasa. Saudara sekalian bisa lihat di ayat 4 sampai 9, 10 sampai 12, 13 sampai 15, 16 sampai 19.
John Goldingay, Saudara sekalian, itu menyatakan secara menggambarkan itu secara menarik, Saudara sekalian. Dia mengatakan begini: “Ketika kita membaca Mazmur 33, kita nggak melihat, ya, motivasi dan tujuan pujian itu seperti lebih penting daripada sarana.” Maksudnya apa? Motivasi dan sarana, tujuan itu semua bersatu di dalam pujian. Saudara sekalian, ada motivasi penyembah. Lalu kemudian, ada sarana yaitu alat musik atau musik itu sendiri. Ketika kita dengan motivasi atau dengan sarana itu memuji Tuhan, kita bersatu dan fokusnya bukan lagi musiknya, bukan lagi motivasinya. Fokusnya adalah Tuhan. John Goldingay mengatakan, ”Kita mengubah diri kita menjadi orkestra. Instrumen seluruhnya memuji Tuhan. Fokusnya kepada Tuhan. Kita nggak lagi fokus kepada diri. Kita nggak lagi menjadi self-centered.” Pujian adalah penawar yang ampuh untuk kita tidak lagi berfokus kepada diri.
Saudara sekalian, lihat ayat 16-19. “Seorang raja tidak akan selamat oleh besarnya pasukan. Seorang pejuang tidak akan diluputkan oleh besarnya kekuatan. Kuda adalah harapan sia-sia untuk mencapai kemenangan. Bagaimanapun tangkasnya kuda itu tidak membuat orang luput.” Saudara sekalian, mengapa? Karena fokusnya kepada Tuhan! Manusia itu lemah. Kita terbatas.
Tapi, sekarang, pertanyaan terakhir: Apa yang menjamin bahwa yang kita kerjakan, memuji Tuhan itu akan mempertumbuhkan iman kita? Apa yang menjamin bahwa memuji Tuhan itu baik? Apa yang menjaminnya, Saudara sekalian? Yesus Kristus.
Minggu ini adalah minggu memperingati belas kasihan Tuhan. Puncak dari belas kasih Tuhan, kasih setia Tuhan yang dinyatakan kepada manusia, yaitu Yesus yang datang ke dunia ini, rela mati dan bangkit. Kita diingatkan lagi, betapa besarnya belas kasihan Tuhan. Bukan hanya soal berkat jasmani, bukan hanya soal memberikan saya kesehatan, bukan hanya memberikan saya komunitas yang baik, bukan hanya membuat saya untuk bisa memuji Tuhan, tetapi memberikan diri-Nya sendiri, yaitu Yesus Kristus sendiri yang di dalam Ibrani 10:19-25: “… oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir yaitu diri-Nya sendiri, … . Janganlah ktia menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Marilah kita datang dengan berani kepada Tuhan. Dengan giat menasehati satu seorang dengan puji-pujian, dengan nyanyian Mazmur, dengan kidung puji-pujian, memuji Tuhan kita.
Kiranya, Saudara sekalian, cinta kasih Kristus ini yang mau mati dan bangkit untuk menebus kita berdosa memberikan kita terus semangat, ketekunan untuk beribadah kepada Tuhan, memuji Tuhan dengan mengungkapkan isi hati kita, syukur kita kepada Tuhan dengan berlimpah-limpah, dan dengan sungguh-sungguh berharap, dan sungguh-sungguh dengan penuh kepastian, iman kita akan bertumbuh di dalam ibadah rutin kita setiap minggunya di dalam Kristus. Mari kita berdoa.
Bapa di surga, kami bersyukur, ya, Tuhan, di dalam kesempatan kami datang ke hadapan Tuhan, Engkau kembali terus mengingatkan kami belas kasihan-Mu, ya, Tuhan. Engkau Allah yang penuh kasih kepada kami yang berdosa, kami yang tidak layak. Engkau mengutus Anak-Mu yang tunggal, Tuhan kami, Yesus Kristus untuk membuka Ruang Mahakudus itu, ya, Tuhan, sehingga kami datang ke hadapan Tuhan. Kami dimampukan memuji Tuhan sehingga iman kami bertumbuh. Iman kami menjadi orang dewasa secara rohani. Iman kami sungguh-sungguh juga difokuskan kepada Tuhan, bukan kepada diri kami. Kiranya Engkau berkenan atas segala pujian kami. Kiranya Engkau dimuliakan atas segala ibadah kami. Kiranya Engkau ditinggikan melalui setiap doa dan renungan hati kami. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin. (HS)
