Mama Maria
Luk. 2:41-52
Pdt. Dawis Waiman, M. Div
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kisah mengenai Maria itu ada di dalam beberapa perikop yang nanti kita akan lihat, tetapi didahului di dalam perikop ini. Ini adalah satu-satunya kisah yang menceritakan Yesus pada usia antara 8 hari sampai 30 tahun, sebelum Dia melayani Tuhan. Nah, Alkitab sendiri tidak memberikan kepada kita kisah yang lain berkaitan dengan Yesus Kristus, tetapi ada 1 hal yang mungkin kita bisa ketahui pada waktu kita ingin tahu, apa yang dikerjakan oleh Yesus selama masa antara 12 tahun sampai dengan 30 tahun tersebut; yaitu kira-kira Dia tetap tinggal di Nazaret, Dia menjadi seorang tukang kayu yang ada di sana, yang bekerja untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhan keluarga-Nya. Baru di usia 30 tahun, Yesus kemudian pergi bertemu dengan Yohanes Pembaptis, dibaptis, dicobai, dan kemudian baru masuk ke dalam pelayanan. Tetapi, sebelum itu atau di antara itu, apakah Kitab Suci nyatakan secara lebih detail? Alkitab tidak menyatakan hal itu. Alkitab hanya menyatakan hal yang detail berkaitan dengan Yesus, yaitu ketika Dia berusia 12 tahun dan seperti biasanya, orang tua-Nya akan pergi ke Yerusalem dan kali ini, mereka membawa Yesus Kristus untuk pergi ke Yerusalem. Tujuannya untuk apa? Pertama adalah mereka setiap tahun di dalam budaya orang Yahudi, ada satu perintah untuk pergi ke Yerusalem untuk beribadah kepada Tuhan di Bait Allah. Nah, berbicara mengenai siapa yang pergi ke Bait Allah ini. Ini adalah sesuatu yang diperuntukkan dan diperintahkan bagi seluruh umat Israel di mana pun mereka tersebar, mereka setiap tahun harus pergi menuju ke Yerusalem dan menempuh berhari-hari perjalanan itu tetap harus dijalankan.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kesalahan orang Israel bagian Utara itu adalah salah satunya, pada waktu Tuhan memerintahkan di Yerusalemlah umat Tuhan beribadah kepada Tuhan, ketika kerajaan terpecah, Raja Israel Utara membentuk bait tempat ibadah yang lain di Utara dan Selatan. Tujuannya untuk apa? Selatan adalah perbatasan Israel Utara dengan Selatan atau kerajaan Yehuda. Supaya orang Israel Utara tidak ke Yerusalem, tidak beribadah kepada Tuhan, tetapi mereka pergi ke tempat yang sudah disiapkan untuk beribadah. Apakah Tuhan berkenan? Tuhan tidak berkenan, tetapi Tuhan justru murka dan akhirnya membuang Israel Utara. Kalau Bapak, Ibu perhatikan, mulai dari raja pertama, Yerobeam, sampai dengan raja terakhir, di Israel Utara tidak ada satu pun dari raja dan umat Israel yang takut akan Tuhan. Mereka semua berdosa dan salah satu bentuknya adalah mengabaikan ibadah di Yerusalem itu.
Tetapi, di zaman Yesus Kristus ada hal menarik. Pembagian Israel itu adalah terbagi, mungkin bisa dikatakan 3 wilayah. Bawah adalah orang Yahudi yang taat kepada Tuhan, tengah adalah orang Samaria, tetapi di atas Galilea itu ada orang Yahudi yang taat kepada Tuhan juga. Nah, pada waktu Paskah, siapa yang pergi ke Yerusalem tersebut untuk beribadah? Bukan hanya orang-orang Yahudi wilayah Selatan saja, tetapi keluarga-keluarga yang takut Tuhan di wilayah Utara itu harus menempuh perjalanan sampai ke bawah untuk bisa beribadah kepada Tuhan. Berapa lama perjalanan? Kalau jalan kaki bisa berhari-hari demi untuk beribadah kepada Tuhan. Orang tua dari Yesus tinggal di Utara, di kota bernama Nazaret. Dan tiap tahun, mereka tidak pernah lalai untuk menjalankan ibadah di Yerusalem. Karena apa? Perintah Tuhan. Mereka adalah orang yang takut akan Tuhan. Saya percaya, kalau kita adalah orang yang takut akan Tuhan, kalau kita tahu di satu tempat ada firman Tuhan, kita tidak akan melihat jarak sebagai satu batasan kita untuk beribadah, tetapi justru kita akan mencari firman yang tepat, yang benar, sesuai dengan kehendak Tuhan atau gereja yang sungguh-sungguh mengajarkan firman dan ibadah yang benar di dalam hidup kita seperti orang tua dari Yesus Kristus ini.
Nah, selain dari peristiwa itu, Paskah menjadi satu hari mereka harus pergi ke Yerusalem untuk beribadah kepada Tuhan. Tetapi, pada usia Yesus yang ke-12, ini adalah satu peristiwa yang penting sekali karena pada waktu Yesus dibawa ke Bait Allah pada waktu itu, Dia sedang mempersiapkan diri untuk menjadi anak Taurat, yaitu kira-kira pada usia 13 tahun. Jadi, perjalanan Yesus ke Bait Allah, satu sisi mungkin kita bisa katakan seperti perjalanan dari anak-anak Yahudi yang lain untuk dididik di sana, untuk diuji di sana mengenai pengetahuan firman yang mereka miliki. Tetapi, menariknya adalah pada waktu Yesus Kristus pergi ke sana, maka yang terjadi adalah percakapan antara Yesus dengan tokoh-tokoh agama di sana yang membuat tokoh-tokoh agama di sana terheran-heran akan pengertian Yesus yang begitu mendalam akan firman Tuhan. Dan singkat cerita, setelah peristiwa ibadah di sana selesai, maka keluarga dari Yesus Kristus ini pulang kembali ke Nazaret menuju ke Utara tersebut.
Nah, Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, di sini dikatakan, pada waktu mereka sudah berjalan satu hari, maka mereka kemudian baru mencari anaknya, Yesus, ada di mana. Dan pada waktu mereka mencari di antara sanak saudara yang ada, maka mereka tidak menemukan Yesus ada di antara mereka sehingga membuat mereka pulang kembali ke Yerusalem mencari Yesus Kristus. Nah, kalau kita berbicara seperti ini, apa yang kita pikirkan berkaitan dengan tindakan Yesus ini? Mungkin kita akan berkata, Yesus anak yang nakal. Kenapa Dia sudah pergi ke Yerusalem, keluarga-Nya pulang, Dia tidak ikut pulang bersama dengan keluarga-Nya dan Dia tinggal di Yerusalem? Mungkin yang kedua adalah Yesus mungkin begitu tertariknya dengan apa yang menjadi hal yang begitu ada di dalam hati-Nya, akhirnya Dia seperti seorang anak kecil kalau kita bawa pergi ke tempat dunia bermain atau dunia fantasi atau ke mall, dia bisa jalan pergi sendiri nggak noleh ke belakang lagi, nggak tahu papa, mamanya di mana. Pokoknya dia pergi mencari apa yang dia inginkan dan akhirnya orang tuanya kehilangan diri dia.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, sehingga ini membuat kita mungkin mengaplikasikan khususnya kepada anak-anak, “Ingat ya jangan ke mana-mana nanti kamu hilang, seperti Yesus yang hilang itu.” Saya kira ini bukan aplikasi daripada firman ini. Kenapa? Karena ada beberapa hal yang Bapak, Ibu bisa perhatikan. Pertama, waktu Yesus tinggal di Bait Allah, Dia bukan anak kecil lagi, Dia sudah 12 tahun. Kalaupun 12 tahun mungkin kita bisa katakan baru lulus SD seperti itu, tetapi paling tidak dia sudah cukup dewasa. Yang kedua adalah, kita juga bisa perhatikan dari ayat 49. Pada waktu mamanya tanya berkaitan dengan keadaan Dia di situ, lalu pada waktu kemudian Dia sudah menjawab, kita nggak akan bahas itu dulu. Lalu di ayat 51 dikatakan, ketika orang tuanya menghendaki Dia pulang ke Nazaret, Dia taat. Dia mengikuti kehendak dari orang tuanya untuk kembali ke Nazaret dan meninggalkan Bait Allah tersebut. Jadi pada waktu kita melihat pada peristiwa ini, maka kita akan mengetahui bahwa Yesus bukan seorang yang berdosa, Yesus bukan seorang yang nakal seperti itu, Yesus bukan seorang yang tidak memikirkan kondisi orang tuanya tapi Dia adalah seorang anak yang dari kecil bertumbuh dewasa dan di dalam ayat 52 dikatakan, Dia adalah orang yang dikasihi Allah dan dikasihi oleh manusia.
Nah, ini menjadi unsur yang penting ya. Pada waktu kita melihat peristiwa di dalam Lukas pasal 2, kita harus melihat dari kacamata yang berbeda, bukan dari kacamata seorang anak yang nakal yang punya passion terhadap sesuatu, melupakan orang tuanya, dia pergi menjalankan apa yang dia inginkan sendiri, tetapi Dia mengerti hal perintah yang kelima, harus menghormati orang tua dan Dia menjalankan perintah itu sampai dia berusia 30 tahun. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ada yang mengatakan kenapa 30 tahun? Satu sisi ada yang berkata seperti ini, karena orang Yahudi ketika ingin menjalankan pelayanan sebagai imam, maka dia harus usia 30 tahun terlebih dahulu. Saya sangat setuju dengan tafsiran ini, karena usia 30 tahun dianggap sebagai usia yang dewasa dan bertanggung jawab untuk menjadi seorang imam yang melayani. Tetapi di sisi lain ada yang menafsirkan seperti ini juga dan saya juga setuju, pada waktu Yesus menunggu sampai 30 tahun, kenapa 30 tahun? Dia berkata, coba perhatikan di dalam empat Injil. Bapak, Ibu baca tentang cerita Yusuf itu di mana? Cerita Yusuf hanya muncul pada waktu Maria hamil sebelum mereka menikah bukan? Lalu cerita Yusuf muncul di mana? Ketika mereka pergi menuju ke Yerusalem untuk mendaftarkan nama mereka di situ, karena Yusuf adalah keturunan Daud, asal mulanya adalah di daerah Bethlehem, maka dia harus pergi ke daerah Bethlehem di Israel Selatan dekat Yerusalem itu untuk bisa mendaftarkan keluarganya dan diri dia di sana. Lalu pada waktu Yesus lahir ke dalam dunia, Dia mencari rumah tetapi tidak ada rumah yang menerima akhirnya mereka harus melahirkan anak mereka di kandang domba seperti itu. Setelah peristiwa itu ada nggak dicatat mengenai Yusuf? Nggak ada. Kenapa nggak ada? Nah di sini penafsir mengatakan, kemungkinan besar Yusuf sudah meninggal karena dia tidak memiliki peran apa pun di dalam kehidupan dari Yesus dan keluarganya pada waktu itu.
Nah ini membuat penafsir ini mengatakan kenapa 30 tahun? Kemungkinan adalah Yesus bekerja untuk menjadi tulang punggung dalam keluarga, menolong ibunya membesarkan adik- adiknya yang lahir dari ibunya Maria dan memiliki ayah Yusuf. Sampai kapan? Sampai adik-adiknya itu bisa mandiri, bekerja, menopang kehidupan ibunya, baru Yesus pergi dan melayani Tuhan. Saya juga setuju dengan tafsiran ini dan dibandingkan dengan ayat yang lain di mana Yesus adalah orang yang mengasihi orang tuanya, memperhatikan, menghormati orang tuanya, maka Dia lakukan hal itu.
Tetapi yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, kalau Yesus adalah seorang yang mengasihi mama-Nya, mengasihi orang tua-Nya, yang memikirkan mereka seperti itu, tapi kenapa ketika pergi ke Yerusalem untuk beribadah Dia tinggal di situ? Lalu ketika Dia tinggal di situ itu membuat mama-Nya khawatir sekali akhirnya mereka sebagai orang tua pergi menuju ke Yerusalem untuk mencari anaknya ini ada di mana. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kekawatiran Maria dan Yusuf wajar tidak? Saya yakin itu adalah kewajaran dari seorang tua yang mengkhawatirkan keberadaan dari anaknya. Tetapi pada waktu mereka bertemu dengan Yesus Kristus mereka mendapatkan satu hal yang mungkin sangat mengagetkan sekali dalam hidup mereka, yaitu pada waktu mereka mengatakan “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Jawab-Nya kepada mereka, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di rumah Bapa-Ku?” Artinya apa? Artinya kalau kita mau bicara Yesus punya panggilan yang lain. Orang tuanya berpikir Yesus harus berada di dalam rumah orang tuanya, tetapi Yesus mengerti bahwa tugas Dia datang ke dalam dunia bukan hanya mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawabnya sebagai anak kepada Maria, tetapi tugasnya adalah yang lebih penting yaitu untuk bisa mengerjakan apa yang menjadi tugas Bapa-Nya yang di surga kepada diri Yesus Kristus. Itu sebabnya Dia harus tinggal di dalam rumah Bapa-Nya untuk mengerjakan apa yang menjadi pekerjaan Bapa-Nya di dalam dunia ini. Yaitu apa? Kalau Bapak, Ibu bandingkan dengan bagian yang lain, maka kita akan menemukan Bapa-Nya menugaskan Yesus Kristus untuk menjadi Juruselamat, Bapa-Nya menugaskan Yesus Kristus untuk menjadi pewarta dari Injil kerajaan Allah, Bapa-Nya menugaskannya Yesus Kristus untuk menjadi seorang menebus dosa manusia dan dipersatukan dengan Allah yang sejati. Itu yang menjadi tugas dari Yesus Kristus. Dan di sini Yesus mau berkata kepada Maria, “Aku memiliki tugas yang lain, Aku harus mengerjakan pekerjaan dari Bapa-Ku yang di surga itu.” Dan saya percaya ini juga menjadi satu penggenapan nubuat yang dikatakan oleh Simeon kepada Maria pada waktu dia membawa bayi Yesus ke hadapan Tuhan di Bait Allah ketika ia berusia delapan hari, yaitu “akan ada pedang yang menusuk ke dalam hatimu Maria.”
Jadi hal pertama adalah kita bisa melihat di dalam pertumbuhan dari Yesus Kristus, bagaimana Maria bersikap kepada Yesus di dalam hal Yesus yang tinggal di Bait Allah di usia 12 tahun itu. Tapi yang kedua kita bisa lihat Yesus bukan berdosa kepada orang tuanya, Dia tetap taat kepada orang tuanya walaupun Dia mengerti ada prioritas lain dalam hidup-Nya untuk mengerjakan kehendak Bapa dan Dia memberitahu itu kepada mama-Nya, Maria, kalau Dia harus mengerjakan kehendak Bapa dan tinggal di rumah Bapa di dalam mengerjakan hal itu.
Yang kedua adalah kita bisa lihat di dalam Yohanes pasal yang kedua. Di dalam Yohanes kedua ini adalah cerita yang sangat terkenal sekali saya yakin Bapak, Ibu yang pernah sekolah minggu tahu peristiwa ini, yaitu berkaitan dengan perkawinan di Kana. Di dalam perkawinan di Kana kita mendapatkan cerita bahwa saudara dari Maria itu mengadakan perjamuan, lalu Maria terlibat di dalam kepanitiaan mungkin pada waktu itu dan salah satu tanggung jawabnya adalah memastikan makanan dan minuman tetap tersedia dengan baik. Lalu pada waktu acara di jalankan mulai satu hari demi satu hari berlalu seperti itu, tiba-tiba dapat kabar anggur mereka itu habis. Dan anggur adalah satu minuman yang penting di dalam pesta perjamuan kawin. Kalau anggur sampai habis, maka itu adalah sesuatu yang memalukan sekali, mungkin kalau di zaman kita adalah kita datang ke pesta perkawinan atau ke dalam resepsi pernikahan dan ketika kita ngantri makan ternyata setengah dari antrian nggak dapat makanan karena makanan sudah habis. Saya yakin itu adalah hal yang sangat memalukan keluarga mempelai yang menyediakan makanan dan memberikan undangan tersebut.
Nah begitu juga pada waktu itu, anggur yang tersedia itu habis dan di dalam kebiasaan orang Yahudi yang lain mereka biasanya akan mengeluarkan anggur-anggur yang kualitasnya baik terlebih dahulu baru kemudian anggur yang kualitasnya kurang baik ketika orang sudah puas minum. Tetapi pada waktu peristiwa ini anggur betul-betul tidak tersedia, bahkan yang kualitasnya kurang baik pun tidak tersedia sama sekali. Lalu pada waktu itu Maria kemudian mencari Yesus Kristus dan meminta Yesus menyelesaikan masalah ini. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa sebab Maria mencari Yesus Kristus? Tadi saya di awal berkata kelihatannya Yusuf sudah mati, kalau Yusuf sudah mati siapa yang Maria bisa andalkan dalam hidupnya? Ya kemungkinan besar adalah anak tertua dia yaitu Yesus Kristus. Tetapi pada waktu kita bicara Maria mencari Yesus untuk bisa menyelesaikan masalah itu, maka Maria kemudian berkata “pokoknya apa yang Dia minta, lakukan itu.” Apakah di dalam pengertian Maria, bahwa Maria tahu Yesus itu bisa melakukan mukjizat.
Dalam hal ini saya tidak setuju tafsiran kalo Yesus pernah melakukan mukjizat dalam hidupnya sebelum peristiwa mukjizat di Kana mengubah air menjadi anggur. Karena apa? Karena di dalam pasal dua ini Yohanes berkata ini adalah mukjizat pertama yang dilakukan oleh Yesus Kristus, mengubah air menjadi anggur. Jadi sebelum dari peristiwa itu tidak pernah ada mukjizat terjadi dalam kehidupan Yesus atau melalui Yesus Kristus. Dan selama itu Maria tidak pernah tahu kalau Yesus memiliki kuasa untuk melakukan mukjizat itu. Jadi pada waktu Maria datang kepada Yesus Kristus dan meminta kepada Yesus Kristus untuk menyelesaikan masalah itu, dalam pikiran Maria sama sekali tidak ada konsep mukjizat dan tidak ada harapan Yesus bisa mengubah air menjadi anggur. Intinya adalah ya apa pun itu pokoknya mama mau tahu anggur harus ada, jadi lakukan saja semua yang Dia minta kepada engkau atau kepada pelayan-pelayan itu.
Nah Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, pada waktu Yesus mendapatkan perkataan itu permintaan itu, nah di sini lah yang jadi masalah sering kali. Yesus mengatakan seperti ini, “Wanita apa yang engkau kehendaki dari Aku.” Itu di ayat berapa? Yohanes pasal yang ke dua. Kalau di ayat empat itu agak halus ya, dikatakan, “Mau apakah engkau daripada-Ku ibu?” Tapi sebenarnya istilah yang lebih jelas adalah, “Mau apakah engkau daripada-Ku wanita?” Begitu. Nah ini sering kali membuat orang-orang merasa kok Yesus kurang ajar ya, masa manggil ibu-Nya itu “wanita”. Atau kalau zaman kita mungkin kayak gini, mama kita bicara kepada kita “Dawis tolong lakukan ini dan itu ya” Lalu saya ngomong kayak gini “Anda mau apa dari saya?” Kalau saya ngomong kayak gini kesannya kayak kurang ajar kan? Masa pada mama yang dekat sama kita, seperti itu? Apakah Yesus sedang kurang ajar? Ingat poin yang pertama tadi ya. Yesus adalah orang yang mengasih mama-Nya, mengasih orang tua-Nya. Dia bukan orang yang berdosa, Dia adalah orang yang menghormati orang tua-Nya. Dia adalah orang yang mendengarkan perkataan orang tua-Nya. Tetapi kenapa pada waktu mama-Nya meminta Dia untuk mengerjakan tugas ini, Dia berkata “mau apakah engkau daripada-Ku, wanita?”
Nah Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hal ini membuat saya menyelidiki maksudnya apa. Karena ini menjadi sesuatu yang cukup kontroversial di antara orang-orang Kristen sendiri juga. Waktu saya membaca tafsiran, saya mendapatkanya seperti ini. ‘Wanita’ sebenarnya bukan satu ucapan yang terlalu kasar, kepada mama Yesus Kristus. Karena di dalam budaya Yahudi, ada contoh-contoh orang dan paska dari budaya orang Yahudi, bahkan orang Yunani dan Agustinus sekalipun ketika berbicara mengenai mamanya, dia juga menggunakan cara yang sama seperti Yesus berbicara kepada mama-Nya. Jadi pada waktu bicara, “Wanita, apa yang engkau kehendaki dari-Ku?” itu bukan hal yang kurang ajar, tetapi itu masih bisa diterima dan itu adalah satu panggilan hormat kepada mama-Nya tersebut atau bukan merendahkan, seperti itu.
Tetapi ketika saya menyelidiki lebih jauh, saya mendapatkan satu hal. Mungkin satu sisi “wanita” adalah panggilan yang terhormat, dan ini adalah sesuatu yang tidak membuat atau tidak kurang ajar kepada mama-Nya sendiri. Tetapi ini adalah satu kesempatan yang Yesus gunakan untuk memberi tahu kepada Maria, mulai dari hari ini urusan yang Aku kerjakan tidak ada hubungannya sama yang engkau inginkan. Saya kira itu adalah hal yang benar ketika saya mempelajari hal ini. Karena apa? Maria ketika berelasi dengan Yesus Kristus, Maria tahu kalau Yesus adalah anaknya. Maria tahu kalau Yesus itu adalah Mesias atau Anak Allah. Maria tahu bahwa di tangan Anak ini banyak kerajaan yang akan dihancurkan dan banyak kerajaan yang akan dibangkitkan, seperti itu. Dia memiliki kuasa untuk itu semua. Maria tahu dia adalah orang yang berdosa.
Bapak, Ibu bisa baca di dalam nyanyian Magnificat, pada waktu Maria itu bertemu dengan Elizabeth. Di situ Maria mengucapkan pujian kepada Tuhan dan di dalam pujian yang dia naikkan tersebut, ada kalimat di ayat 46, “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku.” Maria tahu bahwa dia adalah orang berdosa. Maria tahu dia adalah orang yang membutuhkan seorang penebus dalam kehidupan dia. Tetapi pada waktu kita berbicara mengenai relasi Maria dengan Yesus Kristus, Maria tahu tidak apa yang akan dikerjakan Allah melalui anaknya Yesus Kristus itu? Saya yakin tidak, contohnya bagaimana? Contohnya adalah, misalnya, pada waktu Yesus mengajar, ada begitu banyak orang datang, beribu-ribu orang datang untuk menghampiri Yesus Kristus. Bahkan Alkitab berkata tidak ada kesempatan bagi Yesus untuk beristirahat bersama murid-murid-Nya dan makan, karena orang tidak berhenti datang kepada diri Dia, ingin dilayani oleh Yesus Kristus. Lalu apa yang dilakukan Yesus? Dia tetap lakukan itu, Dia tidak istirahat, Dia terus melayani, mengajar, melayani dan orang tuanya datang bersama saudara-saudara-Nya. Lalu ngomong apa? Sudah gila, karena anaknya kerja begitu giat sampai tidak bisa ngurus diri. Kita harus bawa Dia pulang. Nggak boleh diteruskan seperti itu.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Maria lihat Yesus sebagai siapa? Anak. Maria mengasihi Yesus sebagai siapa? Anak. Tapi Maria tahu nggak, program yang Allah rancangkan, yang Allah Bapa Yesus sudah rancangkan dalam kekekalan, untuk dikerjakan oleh Yesus Kristus itu apa dan timing-nya itu kapan? Jawabannya tidak. Nah, di dalam kesempatan ini, itu seperti ketika Maria bertemu dengan Yesus Kristus dan berkata, “tolong sampaikan kepada Yesus, mama-Mu dan saudara-Mu ada di luar.” Tapi pada waktu itu Yesus berkata, “Siapa yang adalah ibu-Ku? Siapa itu saudara-saudara-Ku? Mereka yang melakukan kehendak Bapa-Ku, itu adalah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah salah satu contoh kalau Bapak, Ibu bisa menafsirkan bagian ini, Bapak, Ibu juga bisa menafsirkan perkataan yang Yesus katakan di dalam perkawinan di Kana. Di dalam bagian di mana Yesus berkata, “Ini adalah saudara-Ku, ini adalah ibu-Ku.” Ibu-Ku itu bukan hanya yang, mungkin kita mikirnya kayak gitu. Ibu-Ku itu bukan Maria, ibu-Ku itu bukan saudara-saudara yang lahir dari Maria tapi semua yang melakukan kehendak Bapa-Ku, ini adalah ibu-Ku.
Mohon tanya, Maria lakukan kehendak Bapa nggak? Kalau Maria lakukan kehendak Bapa, dia ibunya Yesus bukan? Saya yakin dia juga adalah ibu Yesus. Kalau begitu, apakah kalimat Yesus itu mengatakan “mulai hari ini, saya tidak lagi mengakui Maria adalah ibu-Ku”? Saya yakin tidak. Karena apa? Pada waktu Yesus naik ke atas paku salib, di kayu salib. Di bawah kayu salib itu ada Maria dan Yohanes. Yesus tetap mengasihi Maria dengan berkata, “Maria, dia adalah anakmu. Yohanes dia adalah ibumu.” Jadi sampai sebelum Yesus mati pun, Dia sangat memperhatikan ibu-Nya, Maria itu. Jadi pada waktu Yesus bicara, “inilah ibu-Ku, inilah saudara-Ku,” Saya yakin sekali bukan tujuannya adalah untuk tidak mengakui Maria lagi dan saudara-saudara dan memutuskan hubungan dengan mereka. Tetapi maksudnya apa? Ini adalah kesempatan yang Yesus gunakan untuk mengajar kepada murid-murid-Nya, siapa itu saudara Yesus dan siapa itu ibu dari orang-orang yang percaya.
Dan Bapak, Ibu, bisa lihat prinsip ini ada di dalam Perjanjian Baru, Kisah Para Rasul. Agak jauh sedikit tetapi mungkin bisa menolong ya. Contohnya adalah kayak gini, pada waktu Petrus dan Yohanes pergi ke Bait Allah, bagaimana caranya mereka mengabarkan Injil kepada orang-orang yang ada di Bait Allah itu? Apakah mereka cuma sekedar datang ke sana lalu teriak-teriak? “Bertobatlah! Harus percaya kepada Yesus Kristus.” Alkitab nggak berkata mereka mulai dengan begitu, tetapi Alkitab mulai dengan satu cerita Petrus dan Yohanes pergi ke Bait Allah, lalu ketika dia ingin masuk ke dalam pintu Bait Allah itu, ada orang lumpuh di sana yang duduk dan tidak pernah disembuhkan sebelumnya dan sudah puluhan tahun hidup di dalam kelumpuhan. Lalu orang lumpuh itu menatap Petrus dan Yohanes. Petrus menatap orang lumpuh itu. Lalu orang lumpuh ketika menatap Petrus dan dia berharap Petrus bisa memberikan uang kepada dirinya, lalu ketika Petrus melihat pengemis yang berusaha meminta uang kepada dirinya, dia berkata, “Padaku tidak ada emas dan perak, tetapi apa yang ada padaku yaitu kehendak Tuhan untuk engkau bangkit dan berjalan. Itu yang aku berikan.” Lalu disuruh untuk bangkit dan berjalan. Ketika orang ini bangkit dan berjalan, terjadi kehebohan di Bait Allah, lalu orang berkumpul, dan pada waktu itulah Petrus mengabarkan Injil Kristus.
Jadi kita bisa lihat peristiwa ini seperti pada waktu orang tuanya datang, itu kesempatan Yesus mendidik siapa yang menjadi Ibu dan saudara kita. Pada waktu Maria meminta kepada Yesus untuk menyelesaikan masalah cawan atau anggur tersebut, itu menjadi kesempatan Yesus untuk memberi tahu Maria, “sekarang Aku akan memulai pekerjaan Bapa-Ku, dan pekerjaan dari Allah Bapa-Ku, tidak ada hubungannya dengan engkau dan permintaanmu Ibu-Ku, dan waktumu, tetapi Aku akan melakukan apa yang menjadi waktu dan kehendak dari Bapa-Ku yang ada di surga.” Dan hal itu menyatakan Yesus memulai pelayanan Dia untuk menyatakan kebenaran kerajaan Allah, memanggil umat Allah dan diakhiri dengan penebusan yang Yesus lakukan di atas kayu salib.
Dan peristiwa ini tidak dicatat bagaimana Maria menanggapi perkataan Yesus itu, tetapi ada satu hal yang menarik, pada waktu Maria mendengar itu, Maria kayaknya waktu kesan pertama saya baca ya, kok kayaknya nggak peduli ya, mungkin terlalu sibuk kayak gitu, “ini anakku ngomong apa sih. Pokoknya apa yang Dia ngomong ikuti saja kayak gitu.” Akhirnya Yesus membuat mukjizat itu. Tapi Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, itu kalimat saya baru sadar, ada yang menafsirkan kayak gini, ini sangat menarik dan benar bagi saya. Yaitu apa? Perkataan Maria itu adalah satu sikap yang harusnya ditunjukkan Maria kepada Yesus Kristus. Perkataan Maria atau hamba-hamba pelayan itu, apa pun yang Dia minta, kerjakan saja, nggak usah banyak tanya, itu seharusnya dikerjakan oleh Maria juga, walaupun dia adalah Ibu dari Yesus Kristus. Jadi penundukan diri, ketaatan kepada perkataan Yesus Kristus, itu adalah satu yang penting bagi kehidupan dari orang percaya, dan bagi Ibu-ibu yang memiliki anak-anak dan suami di dalam kehidupan kita di tengah kehidupan dunia ini.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, yang ketiga adalah, kita bisa melihat itu dari peristiwa Yesus yang dipakukan di atas kayu salib, yang tadi saya katakan ya. Yohanes pasal yang ke-19. Yoh.19:2. Kita boleh baca dari ayat yang ke-24 ya. “Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: “Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya.” Demikianlah hendaknya supaya genaplahyang ada tertulis dalam Kitab Suci: “Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku.” Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu. Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nyadan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nyadan murid yang dikasihi-Nyadi sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya percaya ini menjadi suatu peristiwa yang dikatakan Simeon berkaitan dengan Maria yang lain lagi ya, yaitu “pedang yang ditusukkan ke dalam hatimu.” Siapa Ibu yang tidak sangat sedih sekali ketika melihat anaknya yang lebih muda dari dia, yang seharusnya memiliki usia yang lebih panjang dari dia, mati di hadapan matanya? Saya yakin itu sangat menusuk hati dari Maria karena dia melihat begitu menderitanya anaknya di hadapan dia. Makanya dia datang ke bawah salib itu, dan dia menangis ke bawah salib itu.
Tetapi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita melihat peristiwa ini, Bapak, Ibu harus melihat dari sisi kacamata Tuhan. Dari sisi kacamata Tuhan, kalau Yesus karena memikirkan mama-Nya, Dia tidak jadi naik ke atas kayu salib, saya yakin sekali –seperti yang Maria katakan– mamanya itu nggak punya Juruselamat dan kemungkinan untuk diselamatkan. Jadi, pada waktu Yesus naik ke atas kayu salib, kadang-kadang saya merasa orang berkata, “Kasihan, ya Yesus itu, ya. Kok Dia difitnah? Dia orang benar. Dia harusnya dihormati. Dia harusnya mendapatkan posisi yang penting. Tetapi kenapa dia disalah mengerti? Ditolak? Akhirnya dipakukan ke atas kayu salib? Kasihan banget, ya.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mungkin kita harus ubah cara pikir kita: yang perlu dikasihani itu kita, bukan Yesus Kristus! Kalau kita mengasihi Yesus lalu berkata Dia seharusnya tidak disalibkan, maka kita yang disalibkan, mati, dan binasa! Jadi, peristiwa penyaliban Yesus Kristus itu adalah hal yang memang harus dilakukan oleh Yesus dan dialami dan dijalani oleh Yesus Kristus. Supaya apa? Supaya setiap orang yang bertekuk lutut di bawah kaki salib dari Yesus ada pengharapan, ada hidup yang kekal. Ini adalah sikap seorang murid.
Nah, pada waktu Maria –bersama dengan Maria istri Kleopas, Maria Magdalena– berdiri di bawah salib itu, atau dekat salib itu, menyaksikan Yesus Kristus yang tersalibkan itu, saya percaya ini adalah satu sikap dari seorang murid yang mengikuti Yesus Kristus: berdiri di hadapan salib dan memandang Yesus yang tersalibkan itu. Tetapi, selain dari peristiwa ini, Yesus berbicara kepada Maria hal yang sangat penting sekali. Dan saya yakin sekali ini adalah hal yang kita harus pegang baik-baik sebagai orang-orang percaya, yaitu apa? Pada waktu Maria berdiri di situ, Yesus berkata kepada Maria, “Maria, ini anakmu. Anak, ini adalah ibumu.” Begitu, kan? Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, waktu kita bicara ini, tafsirannya apa, pengertiannya? Saya semula berpikir ini adalah tanggung jawab seorang anak kepada ibu-Nya. Yesus sudah disalib. Dia tidak bisa lagi memenuhi kewajiban-Nya sebagai seorang anak. Dan Dia care kepada mama-Nya. Makanya Dia memberikan mama-Nya ada di bawah tanggungan dari murid-Nya: Yohanes. Dan Mama-Nya hidup bersama Yohanes sampai mati.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tapi saya rasa ada hal yang lebih penting daripada itu. Tetapi kalimat, yaitu kalimat Yesus di sini adalah untuk mengantisipasi gereja sangat meninggikan Maria. Maksudnya begini: –saya singgung nama, ya– di Katolik, Maria itu adalah satu tokoh yang sangat penting sebagai seorang yang dianggap “penyedia” dan “pemelihara” dari umat Tuhan. Jadi, orang Katolik kenapa berdoa kepada –ya, mereka nggak mau mengakui ini, ya– tetapi mereka ngomong berdoa kepada Tuhan Yesus melalui Maria, kayak gitu. Tetapi realitanya ada doa “Salam Maria”. Ada doa kepada Maria. Seperti itu. Dan di dalam doa itu berbicara mengenai Maria adalah pemelihara, Maria adalah pemimpin. Mungkin Maria adalah penyedia, seperti itu. Nah, kenapa saya kaitkan itu di dalam bagian ini? Karena pada waktu Yesus mau mati, Yesus ndak ngomong kayak gini, “Ibu, mulai hari ini Yohanes adalah anakmu dan Gereja adalah anakmu.” Sama sekali nggak ngomong seperti itu. Tetapi yang Yesus katakan, “Mulai hari ini Yohanes adalah anakmu dan engkau adalah ibunya.” Artinya Yesus secara spesifik berkata, “Mulai hari ini, Yohanes, perhatiin Maria. Tapi, Maria, engkau bukan ibu dari Gereja: penyedia.”
Sehingga pada waktu kita berbicara mengenai keberadaan Maria: siapa Maria? Maria adalah orang yang penting, orang yang terhormat, orang yang begitu beriman kepada Tuhan, orang yang bisa menjadi teladan dalam hidup kita dalam mengikuti Tuhan. Tetapi, di sisi lain, kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, tidak bisa menganggap Maria itu memiliki posisi yang lebih tinggi daripada kita. Atau bahkan lebih tinggi dari Yesus Kristus sehingga dia yang menjadi penuntun hidup kita, dia yang berdoa bagi kita, dia menolong kita untuk berbicara kepada Yesus Kristus supaya apa yang menjadi permohonan kita didengarkan oleh Yesus Kristus. Karena dia sendiri adalah orang yang berdiri di hadapan salib Kristus seperti kita yang berdiri di hadapan salib Kristus sebagai orang yang berdosa dan membutuhkan penebusan Yesus itu dalam hidup kita.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya harap ini menjadi satu kebenaran yang kita pegang, ya. Kenapa kita bisa meninggikan Maria? Kemungkinan karena kita tidak teliti di dalam membaca firman Tuhan. Saya kaitkan sedikit dengan peristiwa perjalanan murid ke Emaus. Pada waktu itu kenapa mereka pulang ke Emaus? Salah satu murid itu adalah Kleopas. Dan satu lagi itu siapa? Ada yang menafsirkan Maria. Kenapa tahu Maria itu istrinya? Karena di dalam ayat 25 dikatakan Maria adalah istri Kleopas. Mengapa mereka pulang? Alkitab berkata karena mereka kecewa. Kecewa kenapa? Karena kecewa Mesias yang mereka harapkan untuk menjadi pemimpin yang bisa membebaskan Israel dari perbudakan Roma ternyata sudah mati. Dan walaupun hari ketiga telah berlalu, mereka tetap berjalan menuju ke Emaus karena apa? Mereka tidak mengharapkan Yesus bangkit dari kematian walaupun ada berita Yesus tidak ada di dalam kubur dan Yesus bangkit dari kematian.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pertanyaannya adalah seperti ini: kenapa mereka bisa menolak Yesus bangkit dari kematian? Kenapa mereka tidak percaya perkataan Yesus bahwa Dia akan disalibkan, mati dan dikuburkan, hari ketiga Dia bangkit dari kematian? Saya lihat ada dua sebab, ya. Pertama adalah biar mereka punya pikiran yang kaku terhadap suatu kebenaran dan mereka tidak membuka diri dengan satu kerendahan hati untuk mengakui pengajaran lain dalam hidup mereka yang bertolak belakang dengan pemahaman mereka. Mereka pikir Mesias itu tidak boleh mati. Mesias harus mengalahkan Roma. Mesias harus menjadi raja di atas segala raja di dalam dunia ini. Betul tidak? Betul, Alkitab ada berbicara itu. Tetapi pada waktu mereka mengerti itu, mereka pegang itu erat-erat dan mereka mengabaikan bagian yang lain dari firman Tuhan yang berbicara mengenai Mesias, yaitu Mesias harus menderita, harus mati seperti domba yang dibelenggu mulutnya, dibawa ke dalam pembantaian. Tapi kemudian Dia akan bangkit dan ada di dalam kemuliaan. Itu semua karena mereka tidak mengerti, mereka buang semua, mereka hanya pegang, “Mesias tidak boleh binasa, Mesias harus memerintah dan karena Dia mati, kami kehilangan pengharapan kami.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasih Tuhan, jadi orang Kristen, hati-hati dua hal. Pertama adalah, kalau kita adalah orang Kristen yang dari kecil sampai besar dalam satu budaya atau tradisi gereja tertentu—ketika kita dibenturkan dengan satu pengajaran lain yang bertolak belakang dengan apa yang kita mengerti, jangan cepat-cepat men-cap yang beda itu bidat. Yang beda itu salah. Uji dulu, mungkin kita yang salah. Kleopas dan istrinya atau temannya itu. Mereka justru yang salah. Nah, kenapa mereka salah? Yang kedua tadi, karena ketika mereka belajar firman Tuhan, mereka tidak komprehensif. Ada ayat-ayat yang mereka abaikan. Itu yang membuat mereka tidak bisa mengerti Tuhan sepenuhnya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah, akibat tidak bisa mengerti kebenaran itu apa? Tolong jawab. Kalau kita tidak mengerti kebenaran seperti yang Alkitab katakan, akibatnya apa? Akibatnya apa? Bapak, Ibu sadar nggak kita jadi pelawan Tuhan? Kita jadi orang yang tidak menggenapkan kehendak Tuhan. Kita jadi orang yang menolak Tuhan. Kita jadi orang yang tidak beriman dan berpengharapan di dalam Tuhan. Itu terjadi pada Kleopas. Itu terjadi pada Petrus. Itu terjadi pada Maria Magdalena. Itu terjadi pada murid-murid yang lain yang lari dan hadapan Tuhan. Tapi, pada waktu Yesus bertemu dengan pertanyaan ini. Jawaban Yesus bagaimana? Yesus ngomong kayak gini, nggak, “Eh, bodoh lu. Ini Aku, lho. Yesus yang berdiri di depanmu.”? Dia ngomong kayak gitu, nggak? Nggak, kan? Tapi, yang dilakukan oleh Yesus apa? Bapak, Ibu, apa? Kelas pemahaman Alkitab. Ulangi ya. Apa yang dilakukan oleh Yesus? Kelas pemahaman Alkitab. Tahu dari mana? Di Lukas 24 bicara, Yesus mulai menjelaskan kembali mengenai diri Dia, diawali dari Kitab Musa—Kejadian—dan seluruh Kitab para Nabi, sampai Maleakhi. PA. Kalau Bapak, Ibu ingin bertumbuh dalam iman, jangan cuma mengejar firman yang praktikal. Kalau Bapak, Ibu, Saudara ingin bertumbuh di dalam pengenalan akan Tuhan, jangan cuma ingin yang pragmatis. Oh, pokoknya gini. Ngapain sih, rumit-rumit belajar firman? Dengar khotbah minggu. Ada yang pernah berkata, “GRII khotbahnya panjang sekali satu jam. Saya nggak tahan, saya pengen cari yang gampang aja didengar dan sederhana, kayak gitu.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya takut terus terang dengar orang itu ngomong seperti itu. Karena begitu dia berpikir seperti itu, saya yakin sekali ada banyak hal dari pengertian firman yang dia tidak pahami. Kalau dia tidak pahami bagaimana dia bisa hidup bayar harga, sangkal diri, pikul salib demi Yesus Kristus? Bahkan berdiri untuk bersaksi bagi nama Tuhan. Itu nggak mungkin.
Petrus nggak ngerti kebenaran Alkitab. Dua belas murid tidak mengerti apa yang terjadi. Satu menjual Yesus, yang sebelah lain lari meninggalkan Yesus Kristus. Nggak ada yang stay, lho. Kapan mereka berani stay demi nama Yesus? Kapan mereka berani berdiri teguh untuk memberitakan mengenai Yesus yang adalah Tuhan dan Juruselamat? Ketika mereka mengerti Yesus memang harus mengalami kematian dan kebangkitan dan Dia hari ini hidup. Di situ mereka bisa berdiri menghadapi orang-orang yang menentang mereka dan bahkan mengancam nyawa mereka.
Jadi, pada waktu kita berbicara mengenai iman Kristen, jangan cuma pikir, “Oh, saya bertanya, tolong kasih jawaban yang singkat.” Memang ada bagian itu. Tetapi Saudara juga perlu mengerti fondasi yang kuat. Itu sebabnya Yesus mengadakan PA. Nah, ini yang saya mau ingin dorong, Saudara. Kalau Saudara cuma pikir datang kebaktian minggu—maaf, saya ngomong agak keras, ya—mohon tanya, Saudara mengenal Yesus berapa jam? Padahal gereja kita menyediakan begitu banyak fasilitas dan sarana untuk kita bisa belajar lebih mendalam mengenai Yesus Kristus. Setiap kali kita merasa malas, ingat ya. Ingat dalam hati kita, ‘Murid-murid menyangkal Yesus, murid-murid meninggalkan Yesus Kristus.’ Kalau mereka lakukan hal itu, kita bagaimana? Apakah kita bisa lebih baik dari Yesus walaupun kita tidak belajar seperti murid?Saya jawab, “Nggak mungkin.” Ada orang yang berkata, “Pokoknya saya percaya sampai mati walaupun saya nggak mau belajar firman, nggak mau pergi ke gereja, tidak mau ikut pemahaman Alkitab. Saya orang Kristen dari lahir.”Ya, saya cuma aminkan dia Kristen. Tapi betul nggak mengikut Yesus?
Nah ini saya ajak masuk ke dalam poin yang terakhir. Pada waktu poin terakhir itu berbicara mengenai ibu Yesus dan saudara Yesus yang datang kepada Yesus, lalu ketika mereka datang berkata, “Tolong panggilkan anakku.” Yesus berkata, “Siapa ibu-Ku, siapa saudara-Ku? Mereka yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, menjadi pengikut Yesus itu bukan bicara masalah administrasi, menjadi pengikut Yesus itu bukan berbicara mengenai seorang yang dibaptis, tetapi menjadi pengikut Yesus adalah orang yang memang harus dibaptis dan menerima baptisan atau perlu menerima baptisan. Tetapi yang menjadi hal yang lebih esensi adalah kita yang menjalankan kehendak Bapa kita yang di surga. Itu adalah murid Yesus.
Saudara boleh bicara, “Saya orang Kristen. Saya sudah dilahirbarukan.” Saudara boleh bicara tanda-tanda karunia Roh yang ada pada diri Saudara, tapi kalau Saudara tidak menjalankan kehendak Bapa, ingat Mat. 7:21-23 Yesus berkata, “Enyahlah engkau daripada hadapan-Ku hai pembuat kejahatan!” walaupun mereka melakukan mukjizat demi nama Yesus, mengusir setan demi nama Yesus dan menyembuhkan orang sakit demi nama Yesus Kristus. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan.
Dan yang ketiga adalah melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan itu jauh lebih berharga dan lebih penting dari relasi persaudaraan. Setiap orang Kristen yang datang kepada Kristus atau masuk ke Reformed, misalnya, pernah nggak mengalami perkataan orang tua, “Ngapain sih rajin-rajin ke gereja? Kamu punya tanggung jawab yang lain, pekerjaan yang lain. Kerjakan itu! Jadi orang Kristen jangan terlalu rohani! Biasa-biasa saja. Orang akan menganggap kita seperti orang gila dan aneh!” Yang gila dan aneh itu siapa sebenarnya? Yang ikut Tuhan mati-matian atau yang ngomong biasa-biasa saja? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Yesus berkata, “Yang mengikut Aku, yang sungguh-sungguh adalah yang mengikut kehendak Bapa, yang sangkal diri, pikul salib, ikut Aku.”
Tapi ada satu lagi, di dalam Mat. 10, kita baca bersama-sama ya, Mat. 10:37-42, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” Mana yang lebih penting, menjalankan kehendak Tuhan atau orang tua atau mama? Tolong jawab. Mana yang lebih penting? Kalau mama dan papa nggak setuju jadi hamba Tuhan, Saudara jadi hamba Tuhan nggak? Mana yang lebih penting?
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Yesus berkata kalau kita selalu mendahulukan relasi keluarga daripada Tuhan, Tuhan mengatakan, “Engkau tidak layak menjadi pengikut-Ku”. Ini adalah kebenaran dari Kitab Suci sendiri. Karena apa? Orang tua kita bukan Tuhan. Ibu kita di bawah kakinya nggak ada surga. Untuk ibu kita masuk surga, dia butuh Yesus Kristus, seperti kita yang butuh Yesus Kristus. Amin? Tuhan kiranya memberkati kita ya. Ibu-ibu kiranya boleh menjadi orang tua yang sungguh-sungguh memperhatikan firman, mendidik anak di dalam takut akan Tuhan tapi jangan menjadikan diri Tuhan dan berhala dalam hidup anakmu. Biarlah Yesus yang menjadi Tuhan dalam hidupmu dan kita. Mari kita berdoa.
Bapa di surga kami sungguh bersyukur untuk firman yang boleh Engkau berikan bagi kami. Tolong berkati kami ya Tuhan, ketika kami menjalani hidup kami sebagai anak-anak Tuhan, khususnya para ibu yang Kau percayakan anak-anak di dalam keluarga mereka, tapi bagi mereka yang belum memiliki anak atau Engkau tidak karuniakan anak, di dalam Timotius dikatakan gereja di mana kami berada, di mana terdapat anak-anak yang kecil dan ibu-ibu muda, perempuan-perempuan muda, mereka adalah termasuk anak-anak kita. Karena Yesus juga berkata siapa yang melakukan kehendak Allah, dia adalah ibu-Ku, dia adalah saudara-Ku, dan boleh ditambah dia adalah anak-anak-Ku. Tolong kami ya Tuhan, jika kami menjalani hidup apa yang dialami oleh Maria, apa yang diteladankan oleh Maria, apa yang Kau pakai melalui kehidupan Maria untuk menyatakan kebenaran bagi kami itu sungguh-sungguh kami terima dan kami hidupi. Sekali lagi kami mohon belas kasih-Mu, biarlah Engkau boleh berkati ibu-ibu di dalam gereja-Mu ini. Pertumbuhkan iman mereka, bawa mereka untuk hidup di dalam takut akan Tuhan dan pakai mereka untuk menjadi orang-orang yang memulihkan hati dari anak-anak karena di dalam mulut mereka, di dalam hidup mereka, anak-anak mereka boleh melihat ada Kristus yang dikabarkan dan hidup dalam kehidupan mereka. Kami sekali lagi berdoa di dalam nama Tuhan Yesus. Amin. (HS)
