Khotbah Yesus di Bukit (3)
Mat. 5:4
Pdt. Nathanael Marvin, M. Th
Ini adalah perkataan bahagia yang kedua, yang Yesus sampaikan di dalam khotbah-Nya di Bukit kepada banyak orang di Galilea. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, setiap kita pasti tahu pengalaman kesusahan, kesakitan, dan penderitaan. Tidak ada manusia di dalam dunia ini yang tidak mengalaminya. Apalagi kita tahu bahwa kehidupan di dunia ini dan diri kita sendiri sudah jatuh ke dalam dosa, natur kita berdosa. Kita hidup di dalam dunia yang penuh dengan dosa dan efek dosa adalah sakit. Efek dosa adalah penderitaan. Efek dosa adalah maut. Itu sudah Alkitab jelaskan.
Bahkan kalau kita renungkan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, sebelum adanya dosa apakah sudah ada pergumulan, ada kesusahan yang dialami oleh Adam dan Hawa ketika dia atau mereka di Taman Eden? Di Taman Eden yang begitu indah, Tuhan izinkan iblis atau setan itu masuk dalam rupa ular dan di situ lah Adam dan Hawa kemudian bergumul. Bagaimana untuk menaati Tuhan atau malah melanggar firman Tuhan. Menaati atau melawan Tuhan? Di situ ada pergumulan. Di situ ada kesusahan bahkan di dalam dunia yang belum jatuh dalam dosa, sedangkan setan sudah jatuh dalam dosa dan akhirnya menggoda Adam dan Hawa. Apalagi kita hidup di dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Apalagi kita sendiri tahu bahwa natur kita itu berdosa di hadapan Tuhan. Ini adalah peperangan bagaimana kita mengikuti keinginan Roh Kudus ataukah kita itu akhirnya mengikuti keinginan daging. Itu pun adalah penderitaan. Itu pun adalah kesulitan. Itu pun bisa menjadi kesedihan yang kita alami dalam kehidupan kita.
Realitas penderitaan, dukacita maupun juga kesusahan ini adalah suatu realitas yang umum, yang dialami oleh semua orang. Pertanyaannya adalah saat kita menghadapi dukacita, saat kita menghadapi kesusahan, penderitaan, sudahkah kita siap? Sudahkah kita memiliki pengertian yang benar, bagaimana sih kita meresponi segala efek dari dosa yang muncul di dalam dunia ini? Bagaimana kita merenungkan dengan tepat tentang emosi sedih kita, emosi berdukacita kita. Bukankah kita lihat di dalam Alkitab bahwa ada dukacita yang kudus? Bukankah kita juga bisa melihat bahwa ada dukacita yang tidak kudus? Kita bisa berduka terhadap hal-hal yang tidak penting. Tetapi kita bisa berduka terhadap hal-hal yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Nah, biasanya Bapak, Ibu, Saudara sekalian, sifat kita sebagai manusia meskipun kita sudah jatuh dalam dosa tentu kita tidak ingin mendapatkan efek dari dosa tersebut. Sehingga kita hindari penyakit, kita hindari penderitaan, kita juga tidak mau mengalami perendahan, penghinaan, atau luka secara fisik maupun secara emosional. Tentu kita menghindar dari segala perbuatan yang jahat ataupun hal-hal yang menyakitkan. Ini hal-hal yang wajar. Ini adalah hal yang normal, ya, yang terjadi dalam kehidupan kita.
Tetapi kita juga bukan menjadi orang yang seperti orang yang masokis, ya. Masokis dalam arti apa? Mencari-cari kesusahan, mencari-cari penderitaan. Kita menghindar, betul, baik. Tetapi kita juga bukan menjadi orang yang mencari-cari kesedihan, mencari-cari penderitaan, kesusahan. Kita cari dan kita nikmati kesusahan itu. “Nggak apa-apa saya menderita” ya, terus kemudian nikmati penderitaan itu. Kita tidak menjadi orang yang demikian. Kita bukan menjadi orang yang sampai menjauhi seluruh penderitaan, sampai menjadi orang yang hedonis, orang yang inginnya menikmati kenyamanan hidup dan akhirnya tidak mau menerima penderitaan sama sekali. Tetapi kita juga bukan menjadi orang yang masokis, yang mencari penderitaan, ingin agar hidupnya itu terluka, sakit itu bagi dia adalah hal yang puas, ya. Kita bukan seperti itu. Kita bukan orang masokis, kita bukan orang hedonis. Kita adalah orang-orang Kristen yang memahami seluruh hal yang terjadi dalam dunia ini dari cara pandang Alkitab. Cara pandang Kristus memandang dunia ini.
Yesus ketika hadir dalam dunia ini saja, Dia bukannya 100% menghindar dari penderitaan maupun kesusahan. Dia justru rela menderita. Rela sakit. Bahkan rela mati, untuk apa? Untuk taat kepada Allah. Untuk menyelamatkan kita yang berdosa ini. Padahal Yesus tidak berdosa. Yesus manusia yang 100% suci, benar. Tetapi Dia rela menanggung. Tetapi Dia tidak mencari-cari. Dia tidak mencari-cari untuk disalibkan. Dia tidak mencari-cari untuk sakit, untuk capek. Nggak! Yesus itu betul-betul menjalani kehidupan ini dengan hati yang mau taat kepada Tuhan meskipun harus melalui kehidupan yang berdosa di dunia ini. Ada kesusahan, ada penderitaan, ada sakit, bahkan mati.
Saya sedikit sharing kan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya. Ada beberapa pengalaman, tiga saja, ya, pengalaman yang menurut saya menyedihkan, ya. Nggak usah banyak-banyak, ya, nanti bisa berurai air mata, seperti itu, ya. Saya sedih itu karena apa, sih? Ada hal-hal yang saya ingat ketika sedih itu adalah misalkan, ya—ini pergumulan anak muda juga, ya, yang dialami kita semua—ketika cintanya ditolak. Ya, cinta ditolak, putus cinta, ya. Gagal dalam relasi lawan jenis, ya—percintaan. Sedih? Sedih. Terus dukacita? Dukacita. Berat? Berat. Sedih, berat, ya. Tetapi kita tahu bahwa bersyukurnya kita sebagai orang Kristen kita bisa membawa kesedihan kepada Tuhan. Sehingga kesedihan itu bukan menjadi hal yang menggerogoti hidup kita sampai akhirnya kita hilang arah, menjadi orang Kristen yang tidak Kristen karena kesedihan yang terjadi atau penderitaan yang terjadi. Tetapi kita bisa menyerahkan segala kesedihan kita kepada Tuhan dan Tuhan memelihara hidup kita.
Ya, sudah berusaha, gagal. Sedih? Sedih. Ditolak cintanya. Ditolak. Tetapi kemudian ada yang berespon bahwa, “Sudah saya tidak mau cari pacar yang Kristen lagi. Ya, sudah nggak usah cari di gereja, misalkan gitu, ya.” Kalau ada orang-orang seperti itu berarti apa? Ketika dia sedih jadi marah. Marahnya adalah marah yang tidak benar. Marah ke Tuhan. Jadi nyalahin gereja. Lho yang salah itu hidup kita, kan. Atau hidup orang itulah yang menolak kita mungkin, ya. Tapi kita bisa nyalahin Tuhan, sudah nggak mau ke gereja lagi, nggak mau cari pacar lagi di gereja. Itu salah. Maka Pdt. Stephen Tong kasih nasihat ya, “Kalau kita putus cinta, jangan gila. Ya, jangan gila, tapi lagi.” Jadi diputer aja, ya. “Gila” jadi “lagi” aja sudah. Kita jalani kesedihan kita. Ya, sejarah hidup kita itu dengan penerimaan dari Tuhan dan kemudian kita mencari lagi yang memang sudah Tuhan sediakan.
Atau pengalaman, ya, yang saya pernah alami kesedihan, berat hati. Misalkan difitnah, disalah mengerti oleh orang ataupun bahkan direndahkan. Ya, mungkin Bapak, Ibu, Saudara sekalian berpikir bahwa hamba Tuhan, ya, hamba Tuhan itu adalah orang yang baik, yang nggak mungkin ada musuhnya, seperti itu, ya. Nggak mungkin-lah difitnah. Nggak mungkin direndahkan, seperti itu, ya. Tetapi itu dialami. Satu sisi saya punya pemikiran bahwa saya inginnya berdamai dengan semua orang. Nggak pengen cari-cari masalah. Nggak pengen cari-cari gara-gara. Tapi buktinya tetap saja, ya, efek dosa di dalam dunia ini membuat saya pun akhirnya mengalami dukacita. Ya, bagaimana akhirnya di salah mengerti, bagaimana akhirnya apa? Direndahkan juga. Itu hamba Tuhan. Dan itu harus siap, ya. Kita semua harus siap mengalami hal tersebut karena kita manusia yang berdosa.
Maka, adanya Tuhan Yesus itu sangat menguatkan kehidupan kita. Yesus tidak pernah salah. Yesus tidak pernah berdosa. Yesus itu adalah orang yang paling baik, paling benar, paling mulia, sama-sama mengalami penderitaan. Dia difitnah. Dia direndahkan. Bahkan, sampai mau dibunuh orang. Sepertinya, saya nggak pernah ada orang yang mau bunuh saya. Kelihatannya kayak gitu, ya. Nggak pernah mengalami orang yang mau bunuh saya seperti apa. Nggak pernah. Tetapi, Yesus mengalaminya. Bayangkan, ya. Tuhan kita, ya, mengalami semua dukacita dan penderitaan yang sebenarnya nggak harus Dia alami. Karena apa? Di dunia yang berdosa ini, kita boleh hidup.
Lalu kemudian, penderitaan yang ketiga yaitu ketika mengalami pengalaman yang baru, ya. Ketika baru menikah 2 bulan, kemudian bulan kedua hamil, istri, ya. Kemudian, 2 bulan kemudian ternyata pas cek kontrol ke dokter biasa itu ternyata janinnya memang tidak berkembang, tidak ada detak jantung. Sedih. Kaget? Kaget. Tidak ada yang mempersiapkan. ”Hati-hati, ya, kalau nikah itu bisa keguguran.” Nggak ada persiapan seperti itu, ya. Itu semua dialami, dilewati dengan hati yang sedih, dengan hati yang berat, dengan hati yang betul-betul kita tahu bahwa dunia ini penuh dengan dukacita dan penderitaan.
Penderitaan dan kesedihan saya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya, mungkin tidak seberat yang dialami oleh Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Kalau kita ingat juga, ya, tokoh puritan yaitu John Owen, ya, kita tahu juga kalau kita lihat sejarah sekitar ratusan tahun yang lalu di mana zaman itu sangat sulit, kesehatan sangat minim, medis juga sangat kurang. Kemudian, bahkan mungkin zaman itu belum ada listrik sekalipun. Orang hamil, ya, istri John Owen hamil, terus kemudian bayinya hidup, kemudian meninggal sampai 12 anak. Hanya 1 anak yang berhasil dewasa. Itu pun meninggal lebih dulu daripada John Owen. Ya, seorang hamba Tuhan itu mengalami kesedihannya bagaimana, ya? 1 anak meninggal, 2 anak meninggal, 3 anak meninggal. Masih bayi sampai 12. Hanya 1 anak yang sampai remaja, meninggal juga. Itu bagaimana, ya, kesedihannya 12 kali lipat daripada yang dialami.
Akan tetapi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita punya Tuhan yang sama. Tuhan yang baik. Allah itu tetap baik. Sekalipun banyak penderitaan di bumi ini, Allah tetap baik karena penderitaan itu bukan berasal dari Tuhan. Dosa itu bukan berasal dari Tuhan. Dosa itu, maupun penderitaan asalnya adalah karena kita melawan Tuhan. Manusia berdosa, malaikat berdosa, sehingga banyak sekali penderitaan di dalam dunia ini. Nah, itu adalah kita justru melihat bahwa kalau kita saat dukacita, saat lemah, di sini, kita barulah mengerti bahwa kuasa Tuhan dan kekuatan Tuhan itu begitu besar. Bagaimana saya yang mengalami penderitaan, dukacita tetap bisa melalui kehidupan ini bersama dengan Tuhan. Tetapi, kalau kita tidak pernah mengalami kesusahan dan penderitaan, kita pikir, kita sudah baik-baik saja dan merasa diri kuat. Nah, jadi kita bisa lihat bahwa suatu hal yang dari hal yang buruk, Tuhan pun bisa menyatakan diri-Nya dengan kuasa yang begitu besar.
Nah, salah satu hikmat dari orang puritan agar kuat menghadapi setiap kesedihan, kesusahan, penderitaan secara emosional, khususnya adalah dari John Bunyan. Coba kita lihat slide-nya, ya. Nah, dia mengatakan bahwa, “He that is down needs fear no fall. He that is low, no pride; He that is humble ever shall have God to be his guide.” Ini adalah satu puisi karangan John Bunyan. Kemudian, dibuat himne juga. Ada himnenya juga dari puisi ini yang menyatakan bahwa kalau kita sadar kalau kita itu manusia berdosa dan pada akhirnya kita itu hanya layak untuk masuk neraka, maka kalau bisa hidup saja sudah puji Tuhan, sudah puas di dalam Tuhan. Single pun, puji Tuhan. Ya, karena layaknya apa, sih, kita? Mati! Masuk neraka. Itu adalah layaknya bagi orang berdosa, kok. Memangnya kita layak menghirup napas setiap detik saat ini? Nggak layak! Upah dosa, maut. Memangnya kita layak punya pekerjaan? Memangnya kita layak bisa punya orang tua, punya keluarga, gitu? Nggak bisa! Kita itu layaknya adalah masuk neraka. Adam dan Hawa ketika jatuh dalam dosa harusnya apa? Masuk neraka. Nggak perlu, kok, menikmati kehidupan di bumi ini.
Maka, kalau kita tahu bahwa kalau kita itu dalam titik terendah kehidupan kita, ini salah satu kerohanian, ya, kita itu rendah hati. Bahkan, berhadapan dengan Tuhan itu kita sangat rendah sekali. Kita nggak akan takut jatuh. Jatuh pun, ya, bukan berarti kita masokis, ya. “Ya, nggak papa saya jatuh!” Bukan! Jatuh pun, kita kuat berpegang pada Tuhan. Kita sudah rendah, mana mungkin bisa sombong. Kita sudah rendah, kok. Orang merendahkan kita, ya, menghina kita, kita sudah rendah, kok! Di hadapan Tuhan tentunya, ya. Tetapi, bukan berarti kita juga tidak menyatakan kebenaran dan keadilan kepada orang yang memfitnah atau merendahkan kita. Kita sudah rendah, kok! Bisa sombong apa? Kalau kita betul-betul rendah hati di dalam Tuhan, maka kita punya Tuhan sebagai penuntun hidup kita. Kita akan kuat menghadapi efek dosa karena kita punya Tuhan. Ini adalah suatu kunci rahasia bagaimana kita itu bisa tetap kuat menghadapi setiap penderitaan, yaitu ketika kita mengerti identitas kita sebagai manusia yang berdosa di hadapan Tuhan. Kita akan kuat menghadapi kesedihan dan penderitaan karena adanya Tuhan sehingga dukacita kita itu bisa Tuhan pakai untuk mempertobatkan kita dan juga menguatkan kerohanian kita.
Di dalam puisi ini, John Bunyan mencerminkan apa? Mencerminkan kerendahan hati dan suatu keamanan rohani. Security. Security itu sangat penting. Kita secure karena apa? Punya Tuhan Yesus. Banyak orang tidak secure karena apa? Tidak punya pacar, susah, lama menikah misalkan, ya, susah bekerja dan lain-lain, susah dapat pekerjaan, nggak punya banyak uang. Nggak secure hatinya. Tetapi, asal punya Yesus, punya Tuhan yang melebihi semuanya itu, hal-hal dunia, kita secure, tenang. Nggak usah minder, tetapi nggak sombong juga karena kita memiliki Tuhan yang begitu besar.
Nah, ucapan bahagia yang kedua itu berkata bahwa, “Berbahagialah orang yang berdukacita karena mereka akan dihibur.” Ya, ada beberapa perenungan yang akan kita renungkan pada hari ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Ini yang pertama adalah ini maksudnya apa? Yaitu Tuhan memberikan berkat yang tersembunyi. Ini yang pertama, ya, atau istilahnya adalah hidden blessing of God. Orang Kristen biasanya mencari blessing of God, tetapi lupa yang hidden-nya. Ya, ada yang tersembunyi. Berkat Tuhan yang tersembunyi di balik seluruh penderitaan, maupun dukacita kita. Kelemahan kita, kesusahan kita itu ternyata Tuhan bisa memakainya untuk menguatkan kita, menjadi dorongan supaya kita menjadi pribadi yang lebih berkenan di hadapan Tuhan. Berkat Allah bukan hanya yang langsung dan langsung nyata di depan kita, tetapi berkat Allah juga ada yang tidak langsung, yang tersembunyi. Nah, ini membutuhkan hikmat Tuhan untuk bisa melihat ada berkat Tuhan yang tersembunyi di balik seluruh hal yang kelihatannya hancur, kacau, buruk, yang tidak sesuai dengan harapan kita. Ada berkat Allah yang tersembunyi.
Nah, ada bahagia yang tersembunyi di tengah kesulitan, kecelakaan dan malapetaka. Ambil contoh ya Bapak, Ibu, Saudara sekalian, minggu lalu kita baru merayakan Hari Ibu Internasional ya, bulan Mei. Kalau hari ibu di Indonesia itu bulan Desember, biasanya ketutup sama Natal, seperti itu ya. Tapi di bulan Mei ini Hari Ibu Internasional, kemudian ketika Pdt. Agus Marjanto dari Sydney juga ya, sempat cerita ketika akhirnya kan merayakan Hari Ibu Internasional itu dia katakan, bahwa di Australia itu ya hari ibu itu sangat Kristen. Seolah-olah hari ibu, peringatan Hari Ibu Internasional itu milik orang Kristen. Makanya hampir seluruh gereja di Australia itu merayakan hari ibu. Kalau di Indonesia kan nggak mesti ya. Nggak mesti kita rayakan hari ibu di bulan Mei tersebut ya. Nah, kemudian ketika saya baca-baca ada artikel tentang keluarga Pdt. Stephen Tong ya, nah, ini dia berasal dari keluarga yang sangat sulit, banyak duka cita. Bukan banyak suka cita ya, bukan banyak kenyamanan, bukan. Kalau saya lihat kemudian sejarah dari keluarga Pdt. Stephen Tong itu sangat-sangat sulit. Ibunya, ibunya Pak Tong bernama Tan Cien Nio, kelahiran Yogyakarta. Ya harap kelahiran di Yogyakarta tidak membuat kita sulit ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya. Kelahiran Yogyakarta, mamanya Pak Tong ya 1909, itu lahir dia di Yogyakarta. Terus kemudian kesulitannya adalah, dia menikah tapi dijodohkan. Ada 3 cowok tiba-tiba datang di rumahnya, dia cuman menuangkan teh, ya ceritanya kan cuman menuangkan teh. Eh ternyata langsung dijodohkan pada umur yang ke berapa? Pada umur ke-16 tahun. Dia dijodohkan, kemudian pada umur 17 tahun langsung nikah gitu ya. Sudah ketemu ya salah satu pria di situ, di rumahnya, kemudian dijodohkan dengan seorang pria pengusaha di Semarang. Usianya berapa? Ya, mamanya pak Tong waktu itu 16 tahun, si pria itu usianya adalah 35 tahun. Nah, menikah umur 17 tahun, si pria itu menikahnya dengan mama Pak Tong itu 36 tahun. Jadi, bedanya berapa umurnya? Hampir 20 tahun ya. Pria itu bernama Tong Pai Hu asal Xiamen ya, pengusaha. Terus kemudian dari Yogyakarta kemudian mereka pindah ke Semarang. Pindah ke Semarang 2 tahun menikah ya, menjalani pernikahan dengan perbedaan umur yang sangat besar 19 tahun ya, kemudian akhirnya pindah lagi ke Xiamen ya, ke China. Nah, di China akhirnya mama Pak Tong itu ya, dia melahirkan 7 orang putra. Sehingga ada salah satu buku yang menceritakan tentang anak-anak dari orang tua Pdt. Stephen Tong ya, tentang saudara-saudara Pak Tong itu, Sons for The Master, Tujuh Anak untuk Tuan di Surga seperti itu ya.
Nah, pada waktu menikah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, mereka belum Kristen. Orang tuanya Pak Tong itu belum Kristen. Dua-duanya tidak mengenal Tuhan. Tapi waktu pindah ke Xiamen, bersyukurnya ada ibu-ibu yang suka penginjilan. Ya, ibu-ibu itu datang kepada mamanya Pak Tong, menginjili. Akhirnya mamanya Pak Tong itu merasa bahwa doanya orang Kristen itu tulus ya. Dari doa itu saya mendapatkan ketenangan, ketulusan hati, kebaikan dan lain-lain. Akhirnya dia mau jadi orang Kristen. Dan akhirnya dari seorang yang bukan Kristen, ketika melahirkan anak-anak itu, dia mendidik anak-anaknya di dalam takut akan Tuhan. Ya, menjadi Kristen semua anaknya. Suami meninggal karena sakit keras saat si mamanya Pak Tong itu berumur 32 tahun. Ya, menikah umur 17 terus pada waktu umur 32 tahun, suaminya meninggal, meninggalkan tujuh orang anak laki-laki. Sehingga beban semuanya, beban hidup itu ditanggung oleh mamanya Pak Tong. Susah? Susah. Ya, seorang janda, ya, ditinggalkan oleh suaminya karena sakit keras, membesarkan 7 anak, yang sulung berumur 14 tahun, yang paling kecil itu umur 1.5 tahun.
Lalu di Xiamen bagaimana? Di China bagaimana? Dia berusaha membuka toko jahit ya, toko jahit, jahit pakaian untuk menghidupi dan menyekolahkan anak. Dan akhirnya di dalam pergumulannya selama beberapa tahun menjadi seorang janda, ngurusin 7 anak laki-laki ya, akhirnya dia bergumul pindah ke Indonesia. Itu pun pindah pergumulan yang berat ya. Pindah negara lho ya, bukan pindah rumah dari kota yang sama, itu berat. Akhirnya buka toko jahit di Surabaya. Terus kemudian dia menjahit terus demi 7 anaknya dengan bekerja keras, kaki, kaki dan tangannya sakit.
Nah, Bapak, Ibu sekalian, itu sekilas keluarga yang mengalami kesulitan ya. Mengalami kesulitan hidup. Tapi ada berkat Tuhan nggak yang pada akhirnya Tuhan berikan kepada keluarga yang sangat sulit ini? Ya, Pdt. Stephen Tong juga pernah jelaskan bahwa, saya nggak punya papa umur 3 tahun. Ya, salah satu unsur dia minder, tapi dia keminderannya itu diserahkankepada Tuhan. Ya, karena hidupnya masa kecil sulit, dia bisa bergantung pada Tuhan ya, yang boleh memelihara kehidupannya. Berkat tersembunyi apa Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Berkat tersembunyi adalah ketangguhan dari sang ibu maupun juga anak-anaknya boleh dipakai Tuhan. Kebergantungan pada Kristus. Sang ibu itu mengatakan bahwa, kalau anak saya saja bisa bergantung percaya kepada orang tuanya sepenuhnya, anak itu kan nggak banyak kekhawatiran ya. Anak kecil anak kecil itu sudah bergantung percaya sama mamanya, kenapa kita nggak bisa bergantung sepenuhnya kepada Tuhan? Meskipun menjalani kehidupan yang penuh dengan duka cita. Ada ketangguhan di balik setiap penderitaan. Ada kesabaran juga di dalam mendidik, mendidik banyak anak ya. Seperti seorang anak yang percaya dan bergantung pada orang tuanya, demikian mereka menjadi keluarga yang bergantung pada Tuhan. Semua putra-putra nya tangguh, karena menghadapi kesulitan itu. Bukan berarti dari keluarga yang kaya, nyaman, cukup itu tidak bisa tangguh ya. Bisa saja. Tapi perlu effort yang lebih besar, perlu pertolongan Roh Kudus yang lebih besar di dalam membuat kerohanian itu menjadi kerohanian yang dewasa ya. Kebanyakan orang yang agung, orang yang tangguh itu menjalani masa kecil dengan penuh duka cita. Ini mayoritas orang ya. Kalau orang itu ketika besar itu tangguh, biasanya kecilnya itu karena dibentuk dengan cara yang sulit ya. Kondisi miskin, terbatas dan lain-lain itu membuat seseorang itu pada akhirnya kalau dia menyerahkan seluruh kesedihan dan penderitaannya kepada Tuhan itu, dia akan menjadi orang yang tangguh, yang kokoh, yang kuat di dalam Tuhan.
Jadi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian yang sedang mengalami duka cita, yang sedang mengalami ketidak lancaran, yang sedang mengalami kesusahan dalam hal ekonomi, khususnya di Indonesia ini kemiskinan, jangan putus asa. Tetap ada berkat Allah yang tersembunyi. Hidden blessing of God di dalam setiap kesusahan dan penderitaan kita. Ya, asal apa? Asal kita menyerahkannya kepada Tuhan. Kesusahan kita, kalau banyak mahasiswa di sini ya, membuat skripsi, membuat tugas akhir, mengerjakan tugas-tugas baca, presentasi, kerja kelompok. Itu susah-susah, justru memang universitas itu untuk menyusahkan kita, gitu ya. Tapi berkat dari kesusahan itu apa? Kita menjadi orang yang siap bekerja, siap masuk di masyarakat untuk jadi berkat bagi masyarakat bukan penjahat masyarakat, bukan merusak komunitas yang ada di dunia ini ya. Maka bisa serahkan kepada Tuhan dan salah satu ayat yang paling menghibur dari Kejadian sampai Wahyu adalah Rom. 8:28, harus kita hafal ya. Sebagai orang Kristen harus kita hafal Rom.8:28 yang mengatakan “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Jadi hati kita Bapak, Ibu, Saudara, ketika kita menderita, dukacita, kita perlu evaluasi apakah meskipun saya miskin, susah, menderita, apakah hati saya itu tetap mengasihi Tuhan atau nggak atau marah sama Tuhan. Biasanya orang-orang yang marah sama Tuhan itu karena dukacitanya tidak diserahkan kepada Tuhan. Dia dukacita “saya kok begini, hidup saya banyak masalah, dikekang orang tua, saya nggak mau lagi ke gereja” Loh kok marahnya Tuhan, Tuhan yang jadi salah. Nggak ya. Yang salah itu adalah kita yang berdosa dan orang lain yang berdosa, lawan dosa, marah terhadap dosa, bukan marah kepada Allah yang suci itu.
Ayat yang kedua Bapak, Ibu, Saudara, di dalam perenungan kita, berbahagialah orang yang berduka cita karena mereka akan dihibur. Kita harus memikirkan bahwa dukacita yang kudus maksudnya, bukan dukacita yang dari dunia. Holy Sorrow, Holy Sorrow bahkan Tuhan menginginkan hal itu. Jangan pikir Tuhan itu pengennya kita sukacita, happy terus ya, nyaman, diberkati, kaya raya, nggak sakit, sehat semuanya, berkat Tuhan yang sering kita doakan pada Tuhan itu demikian. Nggak, kita itu sebagai orang Kristen itu boleh berdoa Tuhan berikan saya itu dukacita yang kudus. Ketika saya berdosa saya dukacita, bukankah itu dukacita yang kudus? Ketika melihat ketidakadilan yang terjadi saya sedih, saya tidak ingin ada ketidakadilan terjadi, misalkan demikian ya. Itu adalah Holy Sorrow yang adalah dukacita yang kudus dari Tuhan juga. Memangnya Tuhan yang sempurna, Tuhan yang Maha Besar itu tidak pernah berduka cita? Dia sedih kok melihat manusia banyak yang berdosa, menderita, apalagi saat ini banyak peperangan terjadi ya, ada tiga pasang negara yang sedang berperang. Tuhan sedih nggak? Sedih. Terus bagaimana kita mengikuti Tuhan? Katanya kita pengikut Yesus Kristus, sedangkan Tuhan bersedih kita tidak bersedih. Itu kan hal yang aneh, itu kan hal yang salah. Tuhan tidak sedih kita malah sedih, itu berarti kita tidak mengikuti teladan Yesus Kristus.
Nah dari ayat ini kita belajar bahwa punya emosi itu hati-hati. Emosi sering kali bisa menggerakkan kita akhirnya melayani Tuhan atau malah melawan Tuhan. Jadi kita bisa melihat ada dua jenis dukacita, ada dukacita yang kudus lawan dukacita yang tidak kudus, dukacita yang membawa kepada kematian ya. Nah, mari kita baca 2 Kor. 7: 9-10, ini Paulus juga menjelaskan tentang dukacita ya. Kita baca, buka suara bersama-sama, 2 Kor. 7:9-10, “Namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikit pun tidak dirugikan oleh karena kami. Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.“ Jadi Paulus bersukacita kalau ada yang berdukacita. Nah ini kadang-kadang kita bisa berpikir kalau Loh bukankah Paulus pernah mengatakan bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, berdukacitalah dengan orang yang berdukacita. Sekarang Paulus katakan kepada jemaat Korintus aku bersukacita karena kamu berdukacita. Apakah Paulus ini seorang yang masokis? “Rasain kamu sedih-sedih, nangis terus.” Nggak! Paulus melihat bahwa kesedihan atau dukacita yang dialami jemaat Korintus itu membawa kepada pertobatan. Berarti kesedihannya itu kudus. Kalau terjadi kesedihan yang kudus, dukacita yang kudus, kita ada sukacitanya juga, unik ya. Berarti waktu kita sedih, marah karena dosa, kita harus bersukacita juga. Jadi dukacita dan sukacita bisa terjadi bersama-sama di dalam hati kita yang penuh dengan perasaan ini. Saat kita berdukacita karena dosa, saat kita berdukacita karena kekudusan Allah, ada sukacita. Bersyukur saya memiliki perasaan seperti perasaan Tuhan, padahal sedang berdukacita.
Nah ini yang Paulu jelaskan ya, dukacita menurut dunia pada akhirnya akan membawa kepada kematian. Jadi kalau kita berdukacita, kemudian respons yang selanjutnya adalah marah ke Tuhan kemudian tidak mau cari Tuhan, kemudian cari solusi untuk menyelesaikan kesedihan saya adalah saya harus meninggalkan dunia ini. Maka pada akhirnya kesedihan itu menjadi bunuh diri, kesedihan itu akan mematikan diri sendiri. Banyak para pemuda yang berduka cita kemudian menyalahkan gereja, saya nggak mau ke gereja lagi. Justru kehidupannya akan semakin hancur. Ketika berdukacita justru harus datang kepada Tuhan. Itu kan perintah atau undangan Yesus Kristus ya “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat. Marilah semua kepada-Ku yang sedang berdukacita, datanglah kepada-Ku, Aku akan memberikan rest, aku akan memberikan kelegaan.”
Jadi waktu kita berdukacita, bukan off ke gereja, bukan. Justru semakin rajin ke gereja, dalam arti apa? Mau menyembah Tuhan bukan mau mengisi waktu kosong. Banyak juga orang ke gereja datangnya ya udah karena waktu kosong daripada nggak ngapa-ngapain, bukan. Kita datang kepada Tuhan, menyembah Tuhan disitu kita memperoleh kekuatan dari Tuhan. Dukacita yang kudus adalah dukacita yang seturut kehendak Tuhan yang pada akhirnya membawa kepada pertobatan yang sejati, akhirnya kita mau taat kepada Tuhan bukannya malah mau melanggar firman Tuhan. Dukacita yang kudus adalah dukacita yang dengan penyertaan Tuhan. Maka di dalam emosi kita, kita harus tahu emosi ini harus disertai dengan Tuhan, harus disertai oleh Tuhan. Waktu kita marah Bapak, Ibu, Saudara, pikir dulu kemarahan itu kemarahan yang kudus atau bukan. Waktu kita sedih kita pikir dulu sedihnya karena apa, karena keegoisan saya, karena dunia atau karena kebenaran Tuhan. Waktu kita bersukacita juga kita bisa memikirkan bahwa kesukacitaan kita itu atas penyertaan Tuhan atau bukan.
Dalam Lukas 6:21, ini suatu paralel dari khotbah Yesus di bukit, ya. Di situ dikatakan Lukas 6:21, “Berbahagialah hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagia lah hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.” Ini lebih jelas ya, perkataannya, kamu sekarang nangis, nanti akan ketawa. Lebih ekspresif dibandingkan di dalam Injil Matius. Kemudian ketika Martin Lloyd Jones mengatakan, ya. Membaca ayat ini, dia katakan bahwa, ayat di dalam Lukas 6:21 ini mengatakan bahwaayat ini itu mengutuk ketawa keceriaan kebahagiaan dunia, sehingga kalau kita tertawa karena dunia, sukacita karena dunia, pasti celaka. Misalnya kita happy-happy mungkin dugem, happy-happy pergaulan yang buruk, happy-happy di dalam hal yang berdosa. Ok, senang, melakukan dosa, berbohong, berzina, terus kemudian mencuri, senang. Pada akhirnya malapetaka menanti.
Tetapi juga, ayat ini menjelaskan bahwa menjadikan berkat dan kebahagiaan, kegembiraan, kedamaian bagi mereka yang berduka. Ini menjanjikan berkat. Kita berdukacita dengan kudus di hadapan Tuhan atau minimal kita serahkanlah dukacita itu kepada Tuhan. Cerita ke Tuhan, ya. “Saya sedang berduka ini, ini, ini, ini, Tuhan.” Di situ Tuhan akan memberikan rest. Kebahagiaan, justru. Ini adalah suatu ayat yang begitu indah yang kita bisa renungkan, ya, kata bahagia yang kedua ini. Jadi dukacita yang kudus adalah dukacita karena kendak Tuhan, dukacita karena kejahatan, karena dosa dan hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Itu adalah dukacita yang kudus.
John Stott, ya, seorang pendeta di London, pernah mengadakan survei kepada jemaatnya, Bapak Ibu Saudara sekalian. “Kenapa sih, kamu jadi orang Kristen?” Coba kita bisa pikirkan, ya. Kenapa kita mau percaya Yesus dan menjadi orang Kristen dan datang ke gereja? Kemudian dia kasih survei angket, seperti itu, ya. Ketika ditemukan hasilnya, John Stott itu kaget. Karena apa? Mayoritas faktor yang membuat manusia itu percaya kepada Tuhan Yesus Kristus atau menjadi orang Kristen adalah putus asa. Putus asa, perasaan sedih, perasaan lemah dan perasaan yang kayak “hidup ini untuk apa lagi?” Jadi unik ya, Tuhan bisa pakai kesedihan kita itu, membawa kepada pertobatan.
Jadi ada waktunya nggak kita bersedih? Ada. Kitab pengkhotbah mengatakan demikian, “ada waktu untuk bersukacita, ada waktu bersedih.” Bersedih dengan kudus, ya. Bersukacita dengan bersukacita yang kudus juga. Dukacita yang kudus dapat membuat seseorang itu bertobat, kalau betul-betul dia mengalami jamahan atau kuasa dari Roh Kudus. Dan kemudian, bahkan dukacita yang kudus, membuat seorang pastor yang ada di Jerman, bernama Martin Luther, sampai mereformasi gereja yang pada waktu itu kacau balau, baik ajaran maupun prakteknya. Karena apa? Dukacita yang kudus. “Saya tidak suka melihat ketidakadilan, melihat kepalsuan di gereja, melihat gereja itu fungsinya bukan sebagaimana gereja.”
Dukacita yang kudus juga membuat seorang Inggris jauh-jauh pergi ke India, yang menjadi seorang yang disebut sebagai bapak misionaris modern, bernama William Carey. Ketika sedih, orang-orang India itu tidak ada yang kenal Kristus, menyembah berhala semuanya, itu menggerakkan dia itu menjadi misionaris. Itu begitu besar. Begitu besar kuasa yang dipakai oleh Tuhan karena dukacita yang kudus ini. Ada orang yang mau mati dulu, ya. Mau mati dulu baru bertobat ke Tuhan. Ada yang mau sampai hampir mati, baru dia menjawab panggilan Tuhan sebagai hamba Tuhan. Baru mau mati dulu, baru respon, “Oh iya, saya harus taat kepada Tuhan, ya.” Coba bayangin kalau hidupnya santai-santai, baik-baik semua, kayaknya enggak ada masalah, apakah dia meresponi panggilan Tuhan? Bisa jadi nggak. Tapi faktanya adalah orang yang betul-betul sedih, akhirnya bisa bersandar kepada Tuhan, ya. Inilah dukacita yang kudus.
Tapi kalau dukacita yang tidak kudus, akhirnya apa? Ujung-ujungnya adalah berdosa lagi, berdosa lagi, berdosa lagi, berdosa lagi dan tenggelam dalam kematian. Maka hati-hati juga, ya, kita melihat kalau orang bersedih, terlalu bersedih. Paulus katakan, jangan berlarut-larut. Bukan berarti tidak boleh bersedih, berdukacita. Tetapi jangan berlarut-larut karena itu bisa membawa kepada kematian. Kamu lupa sukacita yang Tuhan berikan di dalam dukacita kita, ya.
Dan yang ketiga, Bapak Ibu Saudara sekalian, ya. Makna dari ayat ini apa? Yaitu dukacita itu mendahului penghiburan atau sorrow precedes comfort, ya. Comfort itu di belakang, dukacita di depan. Penghiburan datang setelah dukacita. Apakah orang Kristen dengan demikian ya, boleh mencari penghiburan di luar Tuhan? Kita kan bisa cari hiburan atau penghiburan, ya? Tetapi kalau pertanyaannya jelas seperti ini, Bapak Ibu Saudara sekalian. Boleh nggak kita lagi sedih, nih, terus cari penghiburan di luar Tuhan, dari dunia ini? Jelas jawabannya tidak. Tetapi kalau pertanyaannya ini lebih susah lagi, “orang Kristen lagi berdukacita, bolehkah mencari hiburan, ya? Bolehkah mencari hiburan, kita sebagai orang Kristen? Jawabannya tidak mudah. Hiburan itu bisa dari dunia, tetapi hiburan itu juga bisa dari Tuhan, ya. Jadi jawabannya “apakah kita boleh cari hiburan waktu kita sedang berdukacita?” boleh. Dengan syarat kekudusan Allah. Balik lagi, ada pagarnya, ya. Asal tidak jadi berhala atau melemahkan kehidupan rohani kita. Pada waktu kita stress, bolehkah cari hiburan? Dalam arti seperti apa? Tidur? Ya boleh sejenak, ya. Jangan tidur kelamaan, ya. Kelamaan terus jadi berhala. Pokoknya saya lari dari masalah. Bukan! Tidur sejenak, istirahat dulu supaya tenang, bisa. Tutup mata sejenak, juga, berdoa kepada Tuhan, ya. Ini adalah hiburan yang tentu Tuhan sediakan bagi kita, ya.
Tetapi ketika kita cari hiburan, hati-hati. Ini lebih beresiko, karena apa? Karena syaratnya adalah kekudusan Allah dan kita bisa mencari hiburan di luar Tuhan. Ini kita lebih mudah, kan? Zaman sekarang, “aduh, saya lagi kena mental, nih.” Hiburannya apa? Ngafe. Terus ngafe, habis uang terus, ya. Terus akhirnya pada waktu ngafe nggak ngapa-ngapain juga, ya. Bukannya datang kepada Tuhan, akhirnya cuma lihat dunia, seperti itu ya. Dalam konteks ayat ini kita belajar bahwa ketika kita berdukacita, jangan cari hiburan, melainkan lebih fokus cari penghiburan dari Tuhan atau menunggu penghiburan dari Tuhan. Karena apa? Ini sifatnya pasif. “Berbahagialah mereka yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Bukan akan menghibur diri, ya. Akan mencari dan mendapatkan penghiburan, bukan. Waktu kita berdukacita, penghiburan dari Tuhan itu akan datang, kita dihibur. Kita dihibur berarti kita kan pasif kan, bukan kita yang cari-cari hiburan. Ada waktunya, ada tempatnya, kita akan cari hiburan dari Tuhan, yaitu waktu datang ke gereja, ketika kita taat kepada Tuhan. Tetapi waktu kita sedih, berdukacita, Tuhan janjikan apa? Kamu itu pasti dihibur. Nggak mungkin kamu ditinggalkan sendirian, nggak mungkin nggak ada penghiburan dari Tuhan. Asal apa? Asal taat pada Tuhan, bukan lari dari Tuhan. Ketika kamu taat pada Tuhan, toh nanti hari Minggu akan datang. Kalau hari Minggu akan datang, kita dipanggil untuk menguduskan dan mengingat hari Sabat. Kita datang kepada Tuhan, setelah seminggu lewat, kita akan dihibur oleh Tuhan. Ya kan? Bukan kita cari-cari penghiburan. Ada waktunya Tuhan, Tuhan menyatakan diri-Nya ketika kita sedang berdukacita.
Pdt. Stephen Tong menjelaskan bahwa bedanya hiburan dengan dihibur, itu harus kita bedakan. Kalau kita sedang sedih, ya, ya kita harus menunggu juga kesedihan itu berlalu. Waktu itu menyembuhkan juga, waktu itu menguji kita juga. Ketika kita sedih, waktu kan berjalan, tetap berjalan, di situlah penghiburan dari Tuhan juga. Solusi dukacita kita adalah penghiburan dari Tuhan, bukan penghiburan dari dunia ya.
Ada pepatah Tionghoa mengatakan, obat pahit akan menyembuhkan penyakit. Ya. Obat pahit itu akan menyembuhkan penyakit. Ada hal-hal yang pada akhirnya kita berdukacita tetapi pada akhirnya kita tahu bahwa, oh itu dipakai Tuhan untuk membuat kita semakin sehat rohaninya. Makin kuat, makin bergantung pada Tuhan. Bisa jadi Bapak, Ibu, Saudara, sakit hati, kesusahan, akibat teguran dari orang di sekitar kita itu, sebagai obat pahit yang akan menumbuhkan kita menyehatkan kita. Kita satu sisi, Bapak, Ibu sekalian, bisa melihat bahwa Tuhan bekerja juga lewat hal-hal yang membuat kita itu bisa sakit ya.
Ada pepatah Arab, ya Bapak, Ibu, Saudara sekalian, pepatah Arab jadi unik ya, dia mengatakan, kalau hidup kita penuh dengan sukacita itu seperti sunshine, seperti matahari bersinar terang. Kalau sorrow, suatu kesedihan, dukacita itu, ibaratnya kan malam yang gelap, tetapi kalau terus sunshine maka akan jadi padang gurun, bukan saja padang gurun, menjadi padang gurun yang tandus. Kalau hidup kita happy terus, nggak ada masalah, nyaman, jadinya padang gurun, kita nggak dibentuk untuk bisa menjadi dewasa. Tetapi justru karena ada malam hari, ya, padang itu nggak jadi padang gurun, terus kemudian ada hujan, ada tanah yang begitu banyak, terus kemudian ada teduhnya, itu membuat padang itu menjadi padang yang indah seperti itu ya.
Jadi maksudnya bila hidup kita inginnya terus tanpa kesusahan, ingin terus menghindari kesusahan, menjadi orang yang hedonis tadi ya, mencari kenikmatan, nggak akan dibentuk, tapi orang yang dewasa yang kuat adalah nggak papa ada kesusahan, saya akan hadapi bersama Tuhan. Bukan cari-cari kesusahan, bukan cari-cari penderitaan, tetapi tahu dalam kesusahan di dalam kehidupan kita yang berdosa ini pasti ada kesedihan, pasti ada kesusahan. Kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Dan dengan siapa? Kekuatan siapa kita bisa melewati penderitaan itu? Hanya dengan kekuatan dari Tuhan saja. Maka penderitaan silih berganti itu hal yang biasa, Paulus katakan, pencobaan-pencobaan yang kamu alami itu adalah pencobaan yang umum yang dialami semua orang. Tetapi kita bisa mendapatkan jalan keluar ketika kita bersandar pada Tuhan.
Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ketika kita melatih tubuh kita supaya semakin kuat, ya, itu biasakan kita latih otot. Dengan cara apa? Sakit kan, ototnya harus dipaksa kerja jadi kesakitan, jadi kesedihan gitu ya, sehingga setelah otot itu dilatih, tubuh kita semakin kuat. Nah itu adalah cara kerja Tuhan. Cara kerja Tuhan sudah dinyatakan di tubuh kita sendiri bahwa kalau kita latihan, tidak ada dukacita, tidak ada penderitaan, kita nggak bisa kuat, nggak bisa melihat kuasa Tuhan. Justru kalau otot kita tidak dilatih, kita jalan saja tidak mau, hanya berbaring di tempat tidur seperti orang tua-orang tua yang sudah lemah nggak bisa apa-apa, dia terbaring, maka justru akan lemah kan. Ototnya nggak ada, dia akan lemah, nggak bisa apa-apa, mati juga, meninggal dunia, tetapi orang yang aktif bergerak, ototnya akan makin kuat, tetap bisa digunakan ya.
Maria Magdalena, seseorang yang mengalami dukacita juga, bagaimana dia menjadi seorang pelacur paling dihina orang, didiskriminasi, dikucilkan dalam masyarakat, tapi akhirnya ada waktunya Tuhan hibur dia. Ya. Ada waktunya Tuhan pakai segala kesedihannya itu untuk memberitakan Injil. Yaitu ketika Yesus panggil dia, jadikan dia murid-Nya, ubah hidupnya, jadilah dia orang yang memberitakan kebangkitan Yesus Kristus pertama kali. Penghiburan Kristus ini yang kita minta, kita nantikan di dalam kehidupan kita, dukacita terdalam manusia berdosa, kita harus bisa lihat dosa dan upahnya. Nah inilah yang membuat Yesus juga mau turun ke dalam dunia, kenapa? Dukacita yang kudus. Kalau Tuhan Yesus itu nggak berdukacita karena manusia berdosa dan akhirnya masuk ke neraka, untuk mendapatkan upoah dosa, Yesus nggak akan datang ke dunia. Yesus berdukacita, Yesus ingin menyelamatkan sebagian ornag yang sudah ditentukan oleh Bapa, sudah dipilih oleh Bapa, untuk pada akhirnya menerima kasih karunia dan memperoleh surga, maka Yesus mau jalankan kehendak Bapa itu sendiri, karena apa? Melihat bahwa dunia itu sudah mencapai kehancuran yang total sehingga manusia berdosa itu binasa.
Jadi Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ada janji yang pasti di dalam Kristus, kita selalu punya penghiburan dari Kristus. Setelah ada Roh Kudus, kita ada sukacita yang menetap. Ada janji pengharapan akan hidup yang kekal, ada keselamatan, ada Roh Kudus, ada sukacita yang tak terkatakan karena dari hukuman neraka itu, hukuman neraka boleh dihapuskan dan kita boleh memperoleh surga. Sehingga orang Kristen itu meskipun ada penderitaan, dia tetap ada sukacita yang bertahan secara kekal. Kita tetap bisa bersukacita karena perbuatan Yesus Kristus. Penderitaan di dunia ini akan berakhir ketika kita masuk ke Surga. Ini juga adalah pengharapan yang akhirnya menguatkan kita.
Nah lawan dari ucapan bahagia yang kedua Bapak, Ibu, Saudara sekalian, apa? Nah kalau kita lihat kan berbahagialah orang yang berdukacita karena mereka akan dihibur, lawannya apa? Celakalah orang yang bersukacita tanpa Allah. Harus celaka. Jangan pikir kita selalu cari sukacita, sukacita, sukacita, padahal sukacitanya itu di luar Tuhan. Banyak orang Kristen mengatakan bersukacita di dalam Tuhan tetapi itu sukacitanya kedagingan. Sukacita yang materi, nggak boleh bersukacita karena hal yang dari dunia, tetapi juga kita bisa lihat, orang yang bersukacita tanpa Allah, dia tidak akan dihibur. Ini saya coba, apa, melihat perspektif yang lainnya, ya. Kalau bersukacita tanpa Allah, ya dapat penghiburan dari mana? Justru dapatnya apa? Teguran, kan? Hukuman dari Tuhan.
Di dalam kitab Mazmur, ada seorang raja, ya –Raja Daud– ini sangat penuh dengan emosi dan dia juga banyak sekali menuliskan Mazmur pujian kepada Tuhan, ya. Dia sedang menggambarkan kesedihan yang begitu berat dalam hidupnya ketika harus dikejar-kejar, mau dibunuh oleh Saul, ya. Dia gambarkan kekecewaan dan kepahitan hidupnya di hadapan Tuhan. Terus kemudian dia berdoa kepada Tuhan dan minta tolong kepada Tuhan, ya. “Tuhan, tolonglah saya melewati kesusahan ini. Saya nggak suka dikejar-kejar. Saya enggak suka jadi buronan.” Padahal nggak harus jadi buronan, kok. Dia bukan buronan kerajaan juga, ya. Lalu dari kekelaman itu, keterpurukannya, Tuhan berbicara lewat alam, ya. Bukan saja lewat firman, ya, tapi Tuhan juga bisa berbicara lewat alam. Apalagi Daud sedang dalam pelarian, ya, bagaimana mau cari firman Tuhan? Maka, ketika dia melihat langit ciptaan Tuhan, terus kemudian ada burung merpati lewat, ya. Burung merpati lewat, terus lihat di atas. “Andai saja saya tuh punya sayap. Saya pengen punya sayap seperti burung merpati dan bebas dari seluruh pengejaran Saul, ya. Bebas dari pelarian ini! Ya, aku akan bebas dan akan menjadi solusi buat kesusahan yang dialami.”
Ya ini adalah suatu harapan tentunya, ya. Waktu kita menderita, ya, kita berharap suatu hari nanti akan bebas dari belenggu tersebut. Semua ada waktunya: penderitaan itu, ya. Ada waktu untuk berkabung karena orang yang kita kasihi meninggal. Ada waktunya. Tapi setelah waktunya beres, sudah. Tidak usah berlarut-larut dalam dukacita. Ini adalah harapan bahwa kita itu bisa melewati seluruh kesedihan dan penderitaan yang kita alami. Ada waktunya, kok. Nggak mungkin kita mengalami pergumulan terus yang begitu berat yang membuat kita akhirnya bisa melawan Tuhan.
Ini adalah harapan Raja Daud yaitu memiliki sayap. Ini diucapkan oleh seseorang yang betul-betul mendambakan kenyamanan, kekuatan untuk bisa melewati seluruh frustasinya, depresinya, ya, segala kesusahannya dalam pencobaan itu. Raja Daud berseru kepada Allah. Bukan berarti dia ingin lari dari masalah, lari dari semua hal yang membuat dia menderita. Bukan. Tetapi maksudnya adalah dia berharap kepada ujung penderitaan yang akan dia lalui, ya. “Saya akan hadapi penderitaan ini bersama dengan Tuhan. Tapi saya menginginkan selesainya atau garis finish penderitaan tersebut.” Jadi, Daud berharap kepada Tuhan, berdoa kepada Tuhan, dan Daud menganggap bahwa Allah itu solusi dari semua masalah. Allah itu solusi dari segala hal masalah di dalam dunia ini. Jangan berharap kepada manusia tetapi hanya berharap kepada Tuhan. Ini penting sekali, ya: kita memiliki permohonan doa yang demikian. Jalan keluar dari penderitaan itu, dan dukacita, bukan ada di samping kita, sekitar kita, tapi harus lihat ke atas. Di mana di langit Itu ada burung merpati yang memiliki sayap. Tetapi di atas langit itu sendiri ada Tuhan yang berdaulat memelihara seluruh dunia ini. Maka dari itu Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita harus berharap kepada Tuhan, ya, bukan kepada manusia.
Mari kita baca bersama-sama Mazmur 55: 1–8. Ini adalah doa harapan Daud. Mari kita sambil bangkit berdiri Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya. Mazmur 55: 1–8, kita baca bersama-sama, ya. Dari “Berilah telinga”, ya. Bisa juga di slide, ya, dilihat. Judul perikopnya adalah “Doa minta tolong terhadap musuh”, ya. ‘Berilah telinga, ya Allah, kepada doaku, janganlah bersembunyi terhadap permohonanku! Perhatikanlah aku dan jawablah aku! Aku mengembara dan menangis karena cemas, karena teriakan musuh, karena aniaya orang fasik; sebab mereka menimpakan kemalangan kepadaku, dan dengan geramnya mereka memusuhi aku. Hatiku gelisah, kengerian maut telah menimpa aku. Aku dirundung takut dan gentar, perasaan seram meliputi aku. Pikirku: ”Sekiranya aku diberi sayap seperti merpati, aku akan terbang dan mencari tempat yang tenang, bahkan aku akan lari jauh-jauh dan bermalam di padang gurun. Aku akan segera mencari tempat perlindungan terhadap angin ribut dan badai.”
Ini bayangan raja Daud ketika menghadapi penderitaan: “Sekiranya aku diberi sayap seperti merpati, aku akan terbang dan mencari tempat yang tenang, bahkan aku akan lari jauh-jauh dan bermalam di padang gurun. Aku akan segera mencari tempat perlindungan terhadap angin ribut dan badai.” Nah, kiranya Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita bisa lihat bahwa ketika kita berdukacita, ketika kita mengalami penderitaan dan kesusahan, jangan lupa berharap kepada Tuhan. Kita memiliki hati yang, memiliki dukacita yang kudus yaitu hati yang remuk di hadapan Tuhan. Kita memiliki dukacita yang kudus yang menyesal atas dosa-dosa kita dan kita mau bertobat. Dan kita percaya, dan menunggu, dan akan menerima penghiburan dari Tuhan sendiri. Mari kita sama-sama berdoa.
Bapa kami yang ada di surga, kami sungguh mengucap syukur, Tuhan, untuk ucapan bahagia, untuk khotbah Yesus Kristus yang sudah Yesus nyatakan dua ribu tahun yang lalu kepada banyak orang. “Berbahagialah orang yang berdukacita, sebab mereka akan dihibur.” Terima kasih, Tuhan untuk janji penghiburan yang dari Tuhan sendiri ketika kami menghadapi setiap kesusahan, kesedihan, penderitaan di dalam dunia ini. Kami mau, Tuhan, mencari dan menunggu penghiburan dari Tuhan sendiri, bukan dari dunia. Ampuni kami, Tuhan, jikalau kami sedang mengalami kesedihan, kami pada akhirnya marah kepada Tuhan. Padahal Tuhan sendiri tidak pernah salah. Tuhan sendiri adalah Allah yang baik yang mengasihi kami. Kami mau, Tuhan, marah kepada dosa. Marah kepada diri kami yang senantiasa seringkali melakukan kesalahan dan dosa di hadapan Tuhan. Ajari kami, Tuhan, untuk senantiasa bergantung kepada Tuhan, berharap kepada Tuhan di tengah-tengah segala penderitaan dan dukacita yang kami alami. Kami mau, Tuhan, memiliki emosi duka cita yang kudus. Ajari kami, Tuhan, untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi sehingga kami mengenal perasaan-perasaan Tuhan yang boleh Tuhan nyatakan dalam kehidupan kami. Ampunilah dosa-dosa kami. Tuhan. Kiranya Kami boleh mempersembahkan hidup kami untuk kemuliaan nama Tuhan saja. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup, kami sudah berdoa dan mengucap syukur. Amin. (HS)
