Doa Permohonan dari Mazmur 6
Vik. Lukman Sabtiyadi
Minggu ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, adalah minggu ke-5 setelah Paskah sekaligus juga menyiapkan kita untuk memasuki kenaikan Tuhan Yesus. Minggu ke-5 setelah Paskah dalam kalender gereja itu dikenal sebagai “Minggu Rogare”. Di dalam istilah Latinnya, rogare itu artinya meminta atau to ask. Dalam Yoh. 16:24, Tuhan Yesus berkata, “Mintalah, maka kamu akan menerima supaya penuhlah sukacitamu.” Meminta atau memohon merupakan salah satu kehidupan Kristen yang sangat penting. Bahkan dikatakan di dalam Yohanes 16 tadi, kita diajarkan Tuhan Yesus untuk meminta supaya sukacita kita penuh. Artinya: kita meminta dengan sungguh-sungguh dengan sangat menginginkan. Dan ketika Tuhan menyatakan apa yang kita minta itu, sukacita kita menjadi penuh.
Saudara sekalian, sering kali hal meminta ini, secara praktis, kita bawa di dalam doa kita. Kita berdoa ke hadapan Tuhan. Dan ini merupakan hal yang biasa yaitu doa permohonan. Doa yang biasa kita lakukan, sering kita lakukan. Jadi, sepertinya sering kali kita beranggapan, “Tidak perlu lah kita diajarkan lagi tentang meminta. Siapa yang tidak bisa meminta? Siapa yang tidak bisa memohon kepada Tuhan?” Tapi, Saudara sekalian, mari kita buka Yak. 4:2b–3: “Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” Artinya apa, Saudara sekalian? Yakobus memperingatkan kita: hal yang mungkin kita anggap biasa –yaitu doa permohonan– mungkin salah kita lakukan. Kita mungkin salah berdoa karena kita salah meminta. Doa kita tidak didengar Tuhan bukan karena Tuhan itu nggak peduli dengan kita; bukan telinga-Nya tidak mendengar doa kita– tapi karena kita salah meminta! Doa permohonan yang pasti salah dan pasti akan menghancurkan iman kita yaitu ketika kita berdoa, menggunakan doa kita sebagai sarana untuk kita mengatakan kepada Tuhan, “Jadilah kehendakku!”, bukan kehendak Tuhan!
Saudara sekalian, ada contoh yang pernah saya baca, contoh doa yang lucu tapi sekaligus menyinggung, ya. Saya harap ini kita tidak doakan, ya, apalagi muda-mudi di sini. Ada saya baca doa seperti ini, “Tuhan, kalau dia adalah jodohku, dekatkanlah! Kalau dia bukan jodohku, Tuhan, jadikanlah kami berjodoh! Kalau dia memang tidak bisa berjodoh dengan aku, jangan dia dapat jodoh seperti aku. Suatu kali nanti dia sadar akulah jodohnya! Amin.” Ini maksa, Saudara. Ya, kita mungkin nggak berdoa seperti itu, ya. Tapi mungkin kita kadang-kadang polanya mirip seperti itu. “Tuhan, sembuhkan aku! Kalau sulit dokter ini, tolong ketemukan dokter yang lain aku bisa sembuh. Kalau sudah sangat sulit, tolong aku, ya Tuhan, kasih tahu caranya supaya sembuh!” Kita maksa terus. “Jadilah kehendakku, bukan kehendak-Mu!”
Banyak dari doa kita, polanya itu mirip-mirip seperti itu tapi dengan kalimat yang berbeda, dengan kasus yang berbeda. Kita manusia berdosa cenderung kita memuaskan keinginan kita. Kita bahkan memberi tahu Tuhan, “Caranya seperti ini!” Kita sudah menentukan. Waktu kita kesusahan di dalam ekonomi, kita berdoa kepada Tuhan, kita mohon Tuhan untuk kita dilancarkan secara ekonomi. Langsung kita tahu caranya seperti apa. Saudara sekalian, ingat doa orang kaya yang dikatakan Tuhan Yesus? Orang kaya dan orang Lazarus. Mereka kemudian mati. Lalu Tuhan Yesus katakan: orang kaya itu –bisa kita sebut saja itu adalah di neraka– lalu orang kaya itu berdoa kepada Bapa Abraham, “Kasihanilah aku, Tuhan!” Sudah bagus, ya. Tapi lanjutannya: dia kasih tahu caranya, “kasih tahu Lazarus supaya meneteskan air kepadaku.” Dia kasih tahu caranya. Ini doa yang salah!
Hari ini, Saudara sekalian, saya mau mengajak kita merenungkan doa permohonan: bagaimana kita meminta kepada Tuhan; apa yang kita minta kepada Tuhan dari Mazmur 6. LAI memberikan judul “Doa dalam pergumulan”. “Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Menurut lagu: Yang kedelapan. Mazmur Daud. Ya TUHAN, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu. Kasihanilah aku, TUHAN, sebab aku merana, sembuhkanlah aku, TUHAN, sebab tulang-tulangku gemetar, dan jiwaku pun sangat terkejut; tetapi Engkau, TUHAN, berapa lama lagi? Kembalilah, TUHAN, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu.” Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati? Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku. Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku. Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab Tuhan telah mendengar tangisku; Tuhan telah mendengar permohonanku, Tuhan menerima doaku. Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata.”
Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita bisa melihat di sini. Di dalam ayat 9 sampai dengan 10 dengan jelas dikatakan, “Tuhan telah mendengar tangisku. Tuhan telah mendengar permohonanku. Tuhan mendengar doaku.” Pemazmur dikatakan doanya didengar oleh Tuhan. Tuhan telah mendengar artinya sesuatu yang sudah lampau. “Tuhan sudah menggenapi apa yang sudah aku doakan di masa lalu.” Dan dikatakan kemudian, “Tuhan pun menerima doaku.” Dalam istilah aslinya, “Dia akan menerima doaku. Dia akan melakukan sesuatu selanjutnya atau di masa depan.” Saudara sekalian, jelas sekali di sini dinyatakan bahwa pemazmur doanya didengar oleh Tuhan. Bukan semoga-moga. Bukan mudah-mudahan. Tapi jelas sekali pemazmur diterima doanya oleh Tuhan. Maka itu, Saudara sekalian, mari kita merenungkan dari Mazmur 6 ini. Doa permohonan seperti apa yang didengar dan diterima oleh Tuhan.
Pertama, pemazmur berdoa meminta belas kasih dari Allah. Pemazmur meminta belas kasih dari Allah, ayat 2 sampai dengan ke-4. Saudara sekalian, di dalam tradisi gereja, Mazmur 6 ini dikategorikan sebagai doa pertobatan. Termasuk Mazmur 32, 38, 51, 102, 130, 143, semua dikategorikan sebagai doa pertobatan. Ciri khas dari doa pertobatan adalah minta belas kasihan Tuhan. Biasanya ada ungkap-ungkapan seperti yang ada di Mazmur ini juga. “Jangan menghukum aku ya, Tuhan. Jangan sembunyikan wajah-Mu. Kasihanilah aku ya, Tuhan.” Ini pola doa pertobatan. Ini formula di mana ada pengakuan dosa, lalu ada mohon ampun minta belas kasihan Tuhan. Tapi Saudara sekalian, kita melihat Mazmur 6 kira-kira adakah tentang dosa disebutkan? Nggak ada. Maka Saudara sekalian, banyak penafsir mengatakan secara inti pesannya ini bukanlah tentang dosa, lalu datang minta pertobatan kepada Tuhan. Tapi banyak penafsir menegaskan bahwa inti dari Mazmur 6 itu adalah doa pergumulan.
Makanya Saudara sekalian, LAI ini tepat sekali memberikan judul, “Doa dalam Pergumulan.” Saudara sekalian, ada pergumulan yang memang karena dosa kita. Kita berdosa lalu Tuhan menyatakan keadilan-Nya, menyatakan teguran-Nya, hukuman-Nya untuk kita bisa bertobat. Karena dosa kita, maka Tuhan memimpin kita di dalam pergumulan dan kita harus bertobat. Tetapi pemazmur ini bukan tentang dosa. Dia datang kepada Tuhan, minta belas kasihan Tuhan. Pertanyaannya sekarang, “Jadi masalah pemazmur apa? Pergumulannya apa? Apa yang dia hadapi sehingga dia datang kepada Tuhan dan minta belas kasihan Tuhan? Tentu ada dong masalahnya sehingga dia datang kepada Tuhan minta belas kasihan Tuhan.”
Mungkin kita berpikir, “Oh, mungkin karena dia sakit. Mungkin karena pemazmur itu ada musuhnya. Karena memang ada di sini dikatakan ada musuhnya. Dia mau keselamatan secara jasmani dan rohani.” Ya mungkin saja secara kata-katanya kelihatannya seperti itu. Saudara sekalian, seorang teolog bernama Clinton McCann menafsirkannya secara sangat mengejutkan saya. Dia mengatakan begini, “Musuh bukanlah masalah utama pemazmur, sebaliknya masalah sebenarnya adalah Tuhan.” McCann tidak berhenti di situ. Dia mengatakan, “Namun jika Tuhan adalah masalahnya, maka Tuhan juga adalah solusinya.”
Saudara sekalian, coba perhatikan di ayat kedua dan ketiga. Ada kata kerja di situ. Ayat kedua, “Janganlah menghukum aku. Janganlah menghajar aku.” Ini artinya Tuhan-lah masalahnya. Siapa yang menghukum dan menghajar pemazmur? Tuhan. Ayat ketiga dikatakan apa? “Kasihanilah aku. Sembuhkanlah aku.” Artinya apa? Tuhan-lah solusinya. Saudara sekalian, di dalam istilah aslinya menghukum dan menghajar, menghukum itu artinya seorang punya otoritas untuk mengoreksi, untuk menghakimi. Menghajar di dalam istilah Ibraninya, yāšar, itu bukan artinya hajaran sebenarnya, tapi ajaran. Ajaran, bukan hajaran, artinya instruktif. Maka, yang dimaksud di dalam ayat ke-2, menghukum dan menghajar itu adalah didikan Tuhan. Tuhan mendidik umat-Nya dan di dalam Perjanjian Lama, seperti Amsal 3:11-12, lalu Ibrani 12:5-6 dinyatakan bahwa didikan Allah itu adalah berkat bagi kita. Bahkan, di dalam Ayub 5:17 dikatakan, “Berbahagialah orang yang mendapat didikan Allah.”
Ajaran, didikan, teguran dari Tuhan itu perlu supaya kita dibentuk lagi dewasa di dalam Tuhan. Tapi, Saudara sekalian, sering kali ajaran dan didikan Tuhan, teguran Tuhan itu begitu keras. Begitu keras, sulit untuk diterima, sulit untuk dijalani. Ini digambarkan oleh pemazmur di ayat ketiga. Dia menggambarkan, ”Sebab aku merana. Sebab tulang-tulangku gemetar. Jiwaku pun sangat terkejut.” “Merana” di dalam istilah aslinya, Goldingay menjelaskan ini seperti seorang wanita yang begitu sakit, begitu sengsara karena diperkosa orang dan dia berdoa ke hadapan Tuhan dengan keadaan yang begitu menyedihkan. “Aku merana, Tuhan. Tulang-tulangku gemetar. Jiwaku sangat terkejut.” Artinya apa? Secara lahiriah dan batiniah, dia sudah nggak sanggup menanggungnya. Sengsaranya itu masuk ke dalam dirinya sampai ke tulang-tulangnya, sampai jiwanya. Dia merana. Saudara sekalian, dan bahkan dikatakan ketika di dalam kesusahannya, dia sampai bertanya kepada Tuhan: “Berapa lama lagi?” Saudara sekalian, ketika kita sakit, waktu itu rasanya lama. Ketika kita sedang berduka, waktu itu rasanya panjang. Sebaliknya, ketika kita sukacita, rasanya waktu begitu cepat.
Pemazmur datang kepada Tuhan, minta belas kasihan Tuhan, kemurahan hati Tuhan. Ayat ke-3 dikatakan, ”Kasihanilah aku.” Karena dia tahu masalahnya adalah Tuhan yang memberikan kesusahan ini. Tuhan yang mengizinkannya dan hanya Tuhan yang bisa mengambilnya. Hanya Tuhan solusinya.
Saudara sekalian, pemazmur mengatakan, “Kasihanilah aku. Sembuhkanlah aku.” Pemazmur mengingatkan Tuhan akan kemurahan hati Tuhan, belas kasih-Nya. Saudara sekalian bisa melihat ini kata-kata, ungkapan kepada Tuhan yang begitu sering diulang. Di Keluaran 34:6-7, di Mazmur 86:15, Mazmur 103:8, di Keluaran 15:26, Saudara sekalian. Bahkan dikatakan, Tuhan itu sangat menginginkan kesembuhan, sangat menginginkan umat-Nya itu tidak mengalami kesusahan. Tuhan adalah Allah yang murah hati, yang penuh belas kasihan. Tuhan rindu menyatakan belas kasihan-Nya kepada umat-Nya. Pemazmur tidak mengatakan dia layak menerima belas kasihan. Tidak! Maka itu, dia datang kepada Tuhan. Dia memohon kepada Tuhan. Dia perlu belas kasihan Tuhan di dalam sengsaranya, di dalam kesusahannya. Dia menyadari bahwa Tuhan berdaulat mengizinkannya masuk ke dalam kesusahan. Tuhan juga yang berdaulat mengizinkannya untuk keluar dari kesusahannya. Tuhanlah solusinya.
Saudara sekalian, kadang-kadang kalau kita mengalami kesusahan, kita sakit, sering kali kita minta apa? Kita langsung menyimpulkan kalau kita sakit, doanya adalah, “Tuhan, sembuhkan saya!” Kita menyimpulkan solusinya yaitu sembuh. Kalau kita lagi susah di dalam ekonomi kita, kita langsung doa sama Tuhan, “Tuhan, lepaskan aku dari kesusahan ekonomi. Cukupkan aku. Berikan aku uang yang cukup.” Kita langsung menyimpulkan bahwa uanglah jawabannya Tuhan. Kalau kita lagi bergumul mencari pasangan hidup, kita berdoa, “Tuhan, aku kesepian. Tolong aku. Temukan dengan orang yang mencintaiku dan aku cintai.” Pasanganlah solusinya. Ketika pemazmur berdoa kepada Tuhan, dia bergumul. Dia dengan tepat mengerti apa yang dia perlukan. Belas kasihan Tuhan.
Bayangkan, Saudara sekalian, kita susah ekonomi lalu, kita doa kepada Tuhan. “Tuhan, saya susah ekonomi. Tolong berikan aku uang yang cukup.” Lalu, waktunya tiba, uang cukup, tetapi Tuhan tidak menyertai kita. Apakah artinya kita baik-baik saja? Kita berdoa bangun gereja lagi susah. Kita doa, ”Tuhan, berikan kami kecukupan, kemampuan membangun gereja.” Gedung jadi, Tuhan tidak hadir. Kita pikir baik-baik saja? Kita berdoa kita sakit, Tuhan sembuhkan aku, kita sembuh dari sakit, Tuhan nggak hadir dalam hidup kita. Apakah kita baik-baik aja? Saudara sekalian apa maksudnya di sini? Pemazmur dengan tepat, dia menghadapi pergumulannya yang dia lihat, masalahnya bukan sakit, masalahnya bukan uang, masalahnya bukan pasangan, masalahnya adalah Tuhan dan solusinya pastilah Tuhan.
Saudara sekalian ingat doa pemungut cukai yang Tuhan Yesus katakan? Apa yang pemungut cukai minta? Pemungut cukai datang kepada Tuhan lalu dia meminta “ya Allah kasihanilah aku orang berdosa ini.” Lalu Tuhan Yesus katakan, doa pemungut cukai dijawab Tuhan, dia pulang sebagai orang yang dibenarkan. Dia tahu masalahnya apa, aku berdosa dan aku belas kasihan Tuhan. Saudara sekalian cuma kalimat itu yang diminta tanpa banyak kata-kata dia datang kepada Tuhan “Kasihanilah aku ya Tuhan.” Ini artinya miskin di hadapan Allah yang di tengah pergumulan pemazmur dia melihat yang dia butuhkan paling dalam adalah Tuhan. Aku menginginkan Tuhan lebih dari apa pun, bukan tentang kalau sakit sembuh. Bukan tentang kalau kaya menjadi cukup. Bukan kalau studiku selesai lalu jadi selesai. Tapi aku ingin Tuhan.
Saudara sekalian, Martin Luther meninggal pada tanggal 18 Februari 1546. Orang-orang yang kemudian membereskan jenazah Martin Luther itu menemukan secarik kertas di dalam kantongnya, ada tulisan yang pendek, singkat, di dalam bahasa Jerman, diterjemahkan ke dalam Inggris: “We are beggars.” Kita adalah pengemis. Apa artinya, saudara sekalian? Orang Kristen sejati adalah pengemis kasih karunia Allah. Orang Kristen sejati adalah pengemis yang hanya bisa menadahkan tangannya memohon belas kasih Tuhan. Tuhan, kasihanilah kami, kasihanilah kami. Pemazmur mengenali masalahnya dan pemazmur mengenali solusinya. Bukan aku yang harusnya mendikte Tuhan, Tuhan tahu kok solusi yang terbaik, karena Tuhanlah solusinya.
Saudara sekalian, ketika kita di dalam pergumulan kita, marilah kita sungguh-sungguh bisa mengenali apa sih masalah kita, apa sih yang sebenarnya kita gumulkan. Mari kita sungguh-sungguh datang ke hadapan Tuhan, kita sungguh-sungguh mengenali persoalan hidup kita dan melihat bahwa Tuhanlah sebenarnya kebutuhan kita yang paling dalam. Bukan soal kita mendapatkan uang ketika kita miskin, bukan kita menjadi sembuh ketika kita sakit, bukan hal yang kita pikir solusinya adalah dari kita, tapi solusinya adalah Tuhan. Pemazmur di tengah pergumulannya datang ke hadapan Tuhan dan minta belas kasihan Tuhan. “Kasihanilah aku, ya Tuhan.”
Kedua, pemazmur meminta keselamatan dari Allah, demi Allah. Mari kita lihat kembali ayat 5 sampai 8. Saya membacakannya: “Kembalilah Tuhan, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu.” Saudara sekalian, di sini dikatakan “kembalilah Tuhan.” Di dalam istilah aslinya, ini seperti istilah pertobatan. Kalau bahasa gamblangnya, bertobatlah Tuhan, berbaliklah Tuhan 180 derajat daripada sekarang ini yang sudah mungkin mengabaikanku, yang sudah mungkin tidak memandangkan wajah-Mu kepadaku, berbaliklah Tuhan, kembalilah. Pemazmur meminta Allah mengubah arah memandang dia, memulihkan keadaannya sebagaimana Tuhan sudah menyelamatkannya di masa lalu, Dia kiranya menyelamatkan juga pemazmur di masa ini.
Saudara sekalian, apa urgensinya keselamatan dari Allah ini? Demi apa Allah menyelamatkan pemazmur? Yang pertama, Mazmur mengatakan: “Karena aku sudah mendekati kematian, mataku kabur, rabun, tempat tidurku aku banjiri dengan air mata.” Saudara sekalian, kalaudi dalam istilah Perjanjian Lama mata itu identik dengan tolak ukur kesehatan. Saudara sekalian bisa lihat di Ulangan 34:7, Musa umur 120 tahun, tapi dikatakan matanya tidak kabur dan kekuatannya belum hilang. Artinya apa? Artinya secara jasmani dan rohani Musa itu sehat. Tapi pemazmur mengatakan matanya rabun, mungkin saja dia karena kurang tidur. Salah satu penafsir mengatakan demikian. Begitu susahnya sampai waktu malam hari itu begitu sulit.
Saudara sekalian ketika kita bergumul sering kali kebanyakan dari kita semakin susah semakin sengsara ketika masuk ke dalam malam hari. Pergumulan berat lalu malam hari tiba, pikiran kita nggak bisa tenang, mata kita berat rasanya tapi sulit tidur, mungkin bahkan kita menangis. Malam hari yang gelap itu, kita tersendiri nggak ada teman-teman, nggak ada orang lain di sekitar kita. Pemazmur bukan hanya di situ, dia bahkan mengatakan, “Aku ini susah aku ini sudah mau mati”. Dia lanjutkan, “selamatkanlah aku oleh karna kasih setia-Mu.” Dan dikatakan sebelum dia sudah mau mati di ayat 6 dia mengatakan “siapakah akan memuji Engkau di dunia orang mati? Demi Engkau ya Tuhan”, Selamatkan aku, pertama, demi kasih karunia-Mu, yang kedua selamatkan aku karena siapakah yang akan menyembah Tuhan yang akan memuji Tuhan kalau aku mati. Demi Engkau ya Tuhan.
Saudara sekalian, di dalam konteks Perjanjian Lama itu kematian atau alam maut itu adalah the land of no return, tanah di mana orang nggak bisa lagi kembali pulang. Alam maut itu perjalanan satu arah. Alam maut identik artinya terputus dari hadapan Allah, dari perbuatan-perbuatan Allah yang besar dan dikatakan tidak ada lagi ingatan akan Allah di sana. Pemazmur menyatakan selamatkanlah aku demi siapa? Bukan demi aku, demi Engkau ya Allah. Karena di dalam hidup aku lebih lagi bisa memuliakan Allah, karena dalam hidup aku bisa datang beribadah memuji Tuhan, demi Engkau ya Tuhan.
Saudara sekalian kadang-kadang kita menghadapi pergumulan yang begitu berat sampai pada titik hidup atau mati. Pergumulan yang begitu berat sampai rasanya kita mungkin sulit untuk hidup lagi. Di dalam asosiasi pencegahan bunuh diri di Indonesia, saya membaca begitu menyedihkan. Empat daerah tertinggi angka kematian karena bunuh diri: Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Maluku Utara, Kepulauan Riau. Dan penyebabnya apa? Tekanan akademis, tekanan sosial, ekspektasi yang tinggi berprestasi dalam akademis, perubahan hormon, emosi, permasalahan keluarga, bullying, cyber bullying, kesehatan mental, kesepian, penyakit menahun dan lain-lain. Begitu menyedihkan Saudara sekalian. Ketika kita di tengah-tengah pergumulan yang berat, datanglah kepada Tuhan dan pilihlah hidup bagi Allah.
Mazmur mengatakan dia meminta Tuhan berikan aku hidup bukan supaya aku hidupnya itu tenang, nggak susah lagi, bukan. Berilah aku hidup supaya aku bisa memuji Tuhan, aku memuliakan nama Tuhan, aku hidup bagi Allah. Pemazmur menegaskan bahwa hidup bagi Allah itu layak untuk diperjuangkan, hidup bagi Allah itu layak diminta dari Tuhan. Ketika kita mengalami susah pergumulan, mintalah kepada Tuhan berikan aku kesempatan hidup lagi bagi Allah. Karena di dalam hidup aku bisa mengalami tindakan-tindakan Allah yang luar biasa, aku bisa melihat karya-karya Allah yang luar biasa, di dalam hidup aku bisa mendapatkan kelimpahan kasih karunia Allah dan aku mau memuji Engkau ya Tuhan, aku mau datang beribadah kepada-Mu ya Tuhan, aku mau bekerja bagi Tuhan, aku mau memuliakan Tuhan demi Engkau ya Tuhan. Saudara sekalian, pemazmur meminta keselamatan dari Allah demi Allah, supaya ada orang yang mengingat Tuhan dan beribadah kepada Tuhan.
Mari kita lihat contoh doa Abraham dan doa Musa. Mari kita buka Kej. 18:25. Saudara sekalian konteks saat itu adalah di mana Tuhan mau menyatakan murkanya kepada Sodom dan Gomora, lalu Tuhan berdiskusi dengan Abraham, bisa kita katakan berdoa. Abraham berdialog dengan Tuhan. Abraham mengatakan di Kej. 18:25 “Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” Maksudnya apa Saudara sekalian? Abraham mengingatkan “Allah bukankah Engkau hakim yang adil? Masakkan Engkau yang adil menghukum secara tidak adil? Engkau yang adil, masakkan menghabisi Sodom dan Gomora di mana di dalam Sodom dan Gomora ada orang berdosa, ada juga orang benar.” Abraham mengingatkan, “Demi Engkau yang adil ya Tuhan, janganlah menghakimi Sodom dan Gomora demikian.”
Mari kita lihat Kel. 32:11-13. Israel berdosa di hadapan Tuhan, menyembah lembu emas. Tuhan murka. Lalu Musa itu meminta kepada Tuhan, mau mencoba melunakkan hati Tuhan. Meminta belas kasihan Tuhan dan meminta keselamatan dari Allah demi Allah sendiri. Musa mengatakan di Kel. 32:11-13, “Mengapakah Tuhan murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu yang telah kau bawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan besar dan dengan tangan yang kuat? Mengapakah orang Mesir akan berkata, Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang menyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kau datangkan kepada umat-Mu. Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel hamba-hambaMu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi dirimu sendiri.” Saudara sekalian Musa mengingatkan “demi diri-Mu, ya Tuhan”, “demi sumpah-Mu”, “demi janji-Mu kepada bapa-bapa, Abraham, Ishak dan Yakub hamba-hambaMu itu”, “menyesallah, berbaliklah Tuhan dari murka-Mu itu”. Saudara sekalian, Musa meminta keselamatan dari Allah, demi Allah. Saudara sekalian ketika kita mengalami pergumulan, apa yang kita minta? Sudahkah kita meminta keselamatan dari Allah, demi kasih karunia Allah sendiri, demi nama Allah sendiri, demi kemuliaan Allah sendiri?
Saudara sekalian kitab Amsal, Pengkotbah, Ayub merupakan kitab hikmat yang mengajarkan kita bagaimana kita bergumul di dalam penderitaan. Ketiganya ini saling melengkapi. Kalau kita lihat di Amsal, seolah-olah, ada kecenderungan bahwa pergumulan, penderitaan, kesusahan yang kita dapat, itu adalah buah dari dosa atau hukum tabur tuai. Yang malas pastilah kesusahan dalam ekonomi. Yang nggak bisa menjaga kata-katanya atau berkata-kata kotor, mengatakan hal yang tidak baik, pastilah tidak mempunyai teman dan tidak diperkenankan Tuhan.
Kitab Pengkhotbah dan Ayub mengajarkan kepada kita, kebanyakan ajarannya yaitu adalah ada penderitaan dan pergumulan tidak terkait langsung dengan dosa. Kalau kita sungguh-sungguh bergumul karena dosa kita, bertobatlah, minta belas kasihan Tuhan. Ada pergumulan yang bukan karena dosa. Pengkhotbah mengatakan, dia bingung karena ternyata memang benar ada orang yang takut Tuhan, ada orang yang berhikmat, yang dipuji dan kita harus menjadi orang berhikmat. Dan orang yang fasik, yang tidak berkenan Tuhan, kita jangan mengikuti itu. Tapi ternyata orang berhikmat, orang bodoh, orang benar, orang fasik juga sama pada akhirnya mengalami kematian. Dan juga dua-duanya mengalami kesusahan. Ayub mengajarkan kepada kita ada ketersembunyian maksud Allah atas hidup kita di dalam penderitaan, di dalam pergumulan. Bahkan ironisnya, Ayub bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa aku mengalami itu semua?” Apa jawaban Tuhan? Jawaban Tuhan secara sederhananya begini, Tuhan malah balik bertanya kepada Ayub, “Ayub apakah engkau layak bertanya seperti itu?” Sampai akhir kitab Ayub, Ayub nggak tahu.
Penafsir mengatakan, ada beberapa penafsir mengatakan, apa yang dialami oleh Mazmur 6 bisa dibandingkan dengan kisah Ayub. Ayub dikatakan di awal orang saleh, orang yang takut Tuhan. Tapi Saudara sekalian kita pembaca tahu apa yang terjadi di balik itu. Ada dialog di dalam alam yang lain. Bahwa Tuhan itu mengizinkan Iblis. Tapi Saudara sekalian, kita baca baik-baik, ternyata siapa yang sebenarnya juga akhirnya “membuat masalah”? Tuhan. Iya, kan? Tuhan sendiri juga, di dalam kedaulatan-Nya mengizinkan. Dan Ayub tidak pernah tahu hal ini. Tetapi Ayub bergumul tetap datang kepada Tuhan. Dia belajar tetap menaati Allah, mencoba mengenal Allah di dalam pergumulannya, tanpa mengharapkan sesuatu. Sampai di akhir kitab Ayub, Saudara sekalian baca baik-baik, tidak ada Ayub meminta pulihkan keadaanku ya Tuhan. Nggak. Ayub ketemu Tuhan lalu menyatakan “Dari kata orang saja aku mengenal Engkau, tetapi barulah aku tahu dengan mataku aku sungguh-sungguh mengenal Engkau dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Begitu aja. Sembuhkan aku ya Tuhan dari sakitku, pulihkan keadaanku ya Tuhan, nggak ada, tapi Tuhan memberi solusi.
Saudara sekalian, ketika kita bergumul di dalam keadaan sulit, mampukah kita melihat, sebenarnya Tuhanlah yang mengizinkan kita. Dan mampukah kita sungguh-sungguh menyadari, sebenarnya Tuhanlah yang paling kita perlukan. Dan mampukah kita sungguh-sungguh meminta, Tuhan selamatkan aku, belas kasihlah kepadaku demi nama-Mu sendiri ya Tuhan.
Saudara sekalian, Mazmur 6 mengajarkan kita memohon kepada Tuhan, meminta belas kasihan Tuhan di tengah pergumulan kita, minta keselamatan dari Tuhan, demi Tuhan, di tengah-tengah pergumulan kita. Tetapi Mazmur 6 bukan hanya mengajarkan itu saja. Mazmur 6:5 “Kembalilah pula, TUHAN, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu.” Saudara sekalian sadar, ini kalimat pernah diucapkan, atau kembali diucapkan lagi, di dalam Perjanjian Baru, oleh siapa? Tuhan Yesus mengucapkan kembali doa ini dengan cara yang berbeda. Yohanes 12:27, “Sekarang jiwa-Ku terharudan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.” Saudara sekalian, lihat Mazmur 6:9, “Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab TUHAN telah mendengar tangisku TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku.” Tuhan Yesus mengutip kembali ayat ini di dalam Matius 7:23, Lukas 13:27, “Pada waktu itu aku akan berterus terang kepadamu, Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” Apa artinya Saudara sekalian? artinya Mazmur 6 bukan hanya doa pergumulan dari pemazmur, itu arti yang pertama. Kedua, Mazmur 6 memang bisa menjadi doa dan pergumulan dari setiap orang percaya. Ketiga, Mazmur 6 adalah doa Tuhan Yesus Kristus sendiri.
Saudara sekalian, Dialah Pribadi yang bergumul. Dia dikatakan di dalam Ibrani 5:7-10, “di dalam hidupnya Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan air mata kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, karena kesalehanNya Ia telah didengarkan.” Saudara sekalian, kepada orang yang tidak takut Tuhan, kepada orang-orang yang berdosa, kepada orang-orang fasik, kepada orang-orang yang Tuhan Yesus tidak berkenan, Tuhan Yesus mengatakan “enyahlah kalian pembuat kejahatan”. Kepada orang-orang yang memohon belas kasihan Tuhan, yang sungguh-sungguh takut Tuhan, yang berkenan kepada Tuhan, yang memperoleh kasih karunia Tuhan, Tuhan Yesus mengatakan, “Tuhan telah mendengar permohonan-Ku, Tuhan telah menerima doa-Ku.” Tuhan Yesus menjadi pokok keselamatan dan Imam Besar bagi kita yang percaya kepada-Nya.
Maka itu Saudara sekalian, di dalam Yohanes 14:12-14, demikian Firman Tuhan: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percayakepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besardari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu mintadalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” Ketika kita di dalam pergumulan yang begitu berat, mintalah belas kasihan Tuhan, mintalah keselamatan dari Tuhan demi Tuhan, mintalah hal-hal yang berkenan dari Allah di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, dan Ia akan melakukannya. Amin. Mari kita berdoa.
Bapa di Surga, terpujilah Engkau ya Tuhan, yang sudah mengutus anak-Mu yang tunggal Tuhan kami datang menjadi manusia, hidup kudus berkenan kepada Allah, yang sudah berulang kali mengajukan permohonan ratap tangis, doa-doa kepada Engkau, dan mati kemudian bangkit, yang di Surga di sebelah kanan Allah, Tuhan Yesus bersyafaat bagi kami. Kiranya Engkau menolong kami di tengah pergumulan kami, berbelas kasihlah kepada kami. Selamatkanlah kami demi kasih karunia-Mu, demi nama-Mu yang kudus, demi Kristus yang sudah berkorban menebus kami, jadilah sesuai kehendak-Mu ya Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, Amin.
