Khotbah di Bukit (4)
Mat. 5:5
Pdt. Nathanael Marvin, M. Th
Mari kita buka Alkitab Mat. 5:5, kita melanjutkan eksposisi dari kotbah Yesus di bukit, kita baca bersama-sama, Mat. 5:5. Kita melanjutkan ucapan bahagia yang ketiga dari khotbah Yesus di bukit. Mari kita baca firman Tuhan ini bersama-sama. Mat. 5:5, “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi”. Bahasa Inggrisnya adalah, “Blessed are the meek, for they shall inherit the earth.” Ayat paralelnya adalah Mzm. 37:11, di situ dikatakan, “Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah.” Ini adalah khotbah Yesus di bukit yang bicara tentang bagaimana seseorang manusia dapat berbahagia di hadapan Tuhan dan bagaimana seorang manusia memiliki emosi sukacita atas perbuatan yang berkenan di hadapan Tuhan. Jika kita taat firman Tuhan, kita layak berbahagia. Jika Tuhan katakan kita layak bersukacita dan berbahagialah diberkatilah Engkau, maka kita selayaknya belajar bersukacita di hadapan Tuhan.
Di Mzm. 37:11 ini menjadi juga ayat paralel bagaimana Yesus menyatakan khotbah Yesus di bukit ini, “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi”. Dan ini sudah diucapkan juga oleh seseorang yang menuliskan atau menyatakan juga Mazmur 37 ini, yaitu oleh Raja Daud. Dan Mazmur pujian kepada Allah ini bersifat hikmat Tuhan, bagaimana kita mengenal siapakah Tuhan dan bagaimana kita bersikap di hadapan Tuhan di dalam keseharian kita di bumi ini. Itulah hikmat dari Tuhan. Dan hikmat sangat dekat dengan Yesus Kristus. Alkitab mengatakan, hikmat Allah adalah Yesus Kristus sendiri itu adalah suatu wisdom of God.
Orang-orang yang lemah lembut, dalam bahasa Ibraninya itu berarti adalah orang yang rendah hati, tertindas, atau berserah kepada Allah. Ketika Raja Daud mengatakan bahwa orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan akan memperoleh kesejahteraan yang berlimpah-limpah, Daud mengatakan bahwa, orang yang tertindas, orang yang berserah kepada Allah, orang yang lemah lembut, akan menerima hal yang begitu indah. Begitu kita harapkan. Bukan seperti orang-orang yang memahami teologia kemakmuran, atau teologia kesuksesan, tetapi memahami bagaimana perintah Allah ini dilakukan, meskipun kita tidak sukses secara materi, tetapi kita beroleh sukacita yang besar dari Tuhan sendiri. Orang-orang yang lemah lembut, orang-orang yang rendah hati, orang-orang yang tertindas dalam arti ya, tertindas bukan karena dosa dan kesalahan dia, melainkan tertindas karena dosa orang lain, karena situasi dan kondisi yang berdosa, dia tertindas, dia terhimpit, dia rendah dan orang ini berserah kepada Allah. Itu adalah orang yang lemah lembut.
Dan ketika Daud menuliskan hal ini, kita bisa lihat juga bahwa, refleksi kerendahan hati orang itu muncul juga di dalam kehidupan Raja Daud sendiri. Kita sudah sering mendengarkan kisah bahwa Raja Saul, menggunakan wewenangnya otoritasnya dengan sembarangan di hadapan Tuhan, dengan menindas Daud. Daud nggak salah. Daud nggak mau memberontak Raja Saul. Daud itu baik-baik, taat melawan Goliat, melawan musuh, tetapi akhirnya Daud dipuji oleh orang. Dia sudah kerjakan sekuat mungkin perintah dari Tuhan, dia jalankan tugasnya sebagai rakyat untuk membela tuannya, tetapi akhirnya ada orang yang tetap membenci Daud. Dan itu muncul dari orang yang selevel dengan Daud melainkan muncul dari orang nomor satu dalam kerajaan Israel. Raja Saul iri hati kepada Daud yang baik hati. Daud dijadikan posisi yang sangat rendah oleh Saul, tertindas, dan akhirnya puji Tuhan muncul sikap Daud yaitu apa? Lemah lembut. Dia rendah hati, dia tertindas, dan dia pada akhirnya berserah kepada Allah. Sehingga kehidupan Saul melawan Daud, menindas Daud itu Tuhan mau memberikan contoh kelemahlembutan itu kurang lebih seperti Daud. Memang kelemahlembutan yang paling sejati itu ada di dalam diri Tuhan Yesus Kristus, yang adalah Allah yang menjadi Manusia tetapi tidak pernah berdosa. Kelemahlembutan Yesus Kristus itu sempurna di dalam dunia ini.
Tetapi ada satu tokoh teladan di dalam Perjanjian Lama kita belajar lemah lembut, dan dia meresponi segala situasi yang buruk itu dengan sabar, dengan berserah kepada Tuhan, dengan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Ada di internet ya Bapak, Ibu, sekalian, ada seorang pemimpin yang kemudian akhirnya bawahannya ini kelihatan lebih bersinar terang, bawahannya ini kelihatan lebih unggul, dipuji-puji. Daud membunuh musuh mengalahkan musuh puluhan ribu, si pemimpinnya Saul, hanya mengalahkan musuh beribu-ribu doang. Nah kemudian di internet itu dijelaskan, oh itu adalah Saul syndrome. Ketika ada seorang pemimpin di atas, kemudian bawahnya ini kelihatan bersinar, akhirnya menekan bawahannya, menindas, menahan orang tersebut supaya tidak naik, supaya tidak menjadi pemimpin menggantikan dia. Nah itu dikatakan sebagai penyakit, atau sindrom dari Saul.
Tetapi uniknya Bapak, Ibu, Saudara sekalian, sekalipun banyak orang yang menahan Daud, Daud itu bisa menang lho. Tetap jadi raja, tetap dia dikatakan seorang yang berkenan di hadapan Tuhan sekalipun dia itu ditindas oleh pimpinan tertinggi kerajaan Israel tersebut. Saul iri hati kepada Daud karena pikir bahwa Daud itu akan mengambil tahta Saul. Respon Daud apa Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Apa ada caci maki dari mulutnya? Apakah ada perkataan buruk terhadap Saul? Ketika para prajuritnya saja ingin bunuh Saul, Daud itu tetap, “kamu tidak boleh melukai atau melawan orang yang diurapi Tuhan. Sudahlah. Kita doakan kita buktikan, kita kalahkan kejahatan dengan kebaikan.” Itu Daud. Kita sudah lihat ceritanya berapa kali itu Daud itu bisa saja membunuh Saul. Dan itu adalah hak Daud secara manusiawi. “Orang mau bunuh saya kok. Saya dikejar-kejar. Saya di dalam terror. Saya di dalam kesedihan. Saya di dalam ancaman. Wajar, kok, saya hilangkan ancaman itu, teror itu, supaya saya bisa dengan tenang hidup!” Tetapi Daud tidak demikian. Daud potong punca atau ujung jubah Saul ketika Saul lagi buang air besar di gua En-Gedi itu. Potong saja, buktikan bahwa, “Saya bisa bunuh kamu, tapi saya tidak bunuh.”
Daud itu penuh dengan kelemahlembutan. Yang dilakukan Daud kepada Saul –yang bengis, yang jahat kepada dia itu– adalah kelemahlembutan. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan melainkan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Yang dilakukan Daud adalah berbelas kasih kepada Saul. Saul tidak taat kepada Tuhan. Saul dilarang Tuhan membunuh, tapi Saul ingin bunuh. Daud bukannya benci, Daud kasihan. “Kok, ada Raja Israel yang pada akhirnya melawan Taurat Tuhan?” Daud berbelas kasihan kepada Saul. Daud juga berdoa menyerahkan semua keadilan pembalasan kepada Tuhan sendiri. Dia nggak bisa apa-apa. Dia bukan seorang pemimpin besar. Dia dianggap sebagai seorang pemberontak, sebagai buronan yang dikejar-kejar oleh raja Saul dan pasukan Israel. Tetapi Daud hanya bisa berdoa, berserah kepada Tuhan, “Nyatakan keadilan Tuhan dan nyatakan juga pembalasan Tuhan sesuai dengan waktu Tuhan dan cara Tuhan kepada raja Saul.” Tuhan sendiri yang akan menghakimi dan memberikan keadilan.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kehidupan Daud versus Saul ini adalah kehidupan yang, satu: kelemahlembutan, yang satu: lawannya kelemahlembutan, yaitu apa? Keras kepala; sombong, ya. Keras kepala dan tidak mau mengasihi orang lain. Dalam Mazmur Daud, ya, Daud sendiri melanjutkan bahwa berkat yang diperoleh oleh orang yang lemah lembut dan rendah hati ini adalah mewarisi negeri. Dan ini adalah istilah yang mengekspresikan berkat dan janji Allah. Mewarisi negeri itu bukan saja secara literal –kita dapat mengerti– melainkan secara rohani: kalau kita taat kepada Tuhan, kita sudah memiliki Kerajaan Tuhan.
Ketika Yesus bertemu dengan Nikodemus, Nikodemus juga –dikatakan oleh Yesus– bahwa, “Kalau kamu mau masuk atau melihat Kerajaan Allah, kamu lahir kembali dulu!” Harus lahir kembali. Ketika seseorang sudah lahir kembali, dia sudah mewarisi negeri. Negeri apa? Kerajaan Allah itu sendiri atau Kerajaan Surga. Dalam konteks Israel, memang mewarisi negeri yaitu merujuk kepada tanah perjanjian, ya. Tetapi perjanjian yang Tuhan berikan bukan hanya tanah Kanaan yang secara fisik, secara literal, tetapi juga janji Tuhan kepada umat-Nya adalah Kerajaan Surga, ya. Negeri yang kekal, berkat yang kekal. Daud akhirnya tetap menjabat sebagai raja Israel. Daud akhirnya tetap mewarisi tanah perjanjian. Dia jadi raja. Dia memimpin bangsa Israel. Dan dia juga membesarkan kerajaan Israel. Firman Tuhan itu adalah kebenaran, ya. Tidak ada yang salah dari Firman Tuhan. Orang yang lemah lembut, orang yang rendah hati, orang yang berserah kepada Tuhan akan mewarisi negeri. Suatu Kerajaan Surga itu pasti, ataupun Tuhan memberikan kecukupan di dalam bumi ini.
Nah, dalam kehidupan Daud pun ada sukacita dalam melayani Tuhan. Itulah yang menolong dia itu kuat meskipun banyak orang yang mengganggu dia untuk taat kepada Tuhan. Dikatakan: berkat kedua dari seorang yang rendah hati adalah bergembira karena kesejahteraan yang melimpah. Orang yang rendah hati –kita pernah bahas, ya– John Bunyan katakan, “Orang yang sudah rendah hati itu dia sudah di bawah”, kok. Orang lain mau menghina dia, nggak ada sesuatu hal yang membuat dia itu insecure. Saya sudah di bawah di hadapan Tuhan. Saya sudah menyerahkan hidup bagi Tuhan. Saya tidak layak di hadapan Tuhan. Kalau ada orang menghina dia, dia nggak akan terganggu terlalu besar, kecuali karena dosa orang atau ketidakadilan yang terjadi. Kita ini sudah, di hadapan Tuhan itu sudah sangat rendah, kok, ya.
Maka dari itu, Daud dapat bersukacita meskipun kondisinya rendah, kondisinya dalam pelarian. Dia tetap dapat sukacita dalam melayani Tuhan meskipun, tentu, Daud pun tidak sempurna, ya. Dia tetap manusia yang berdosa. Meskipun ada sukacita dalam melayani Tuhan, dia kadang-kadang juga mengeluh. Kadang-kadang juga berdoa: mengeluh, berkata-kata kepada Tuhan, berseru kepada Tuhan. Dan kita juga bisa lihat bahwa dia meskipun lemah lembut kepada musuhnya, tetapi Daud pun kepada anak-anaknya itu malah kurang keras. Ini susah, ya, karena kita harus lemah lembut kadang harus juga tegas lah, ya mendidik dalam kebenaran Firman Tuhan. Daud pun pada akhirnya anak-anaknya pun tidak hidup dengan baik.
Tetapi, ya, berkat dari kelemahlembutan itu nyata dalam kehidupan Daud maupun di dalam kehidupan Yesus Kristus sendiri meskipun Yesus banyak menderita. Jadi, ayat dalam Mazmur ini merupakan seruan kita berserah di dalam penderitaan kita. Kita sabar di dalam hal yang kita pikir itu tidak pasti. Kita beriman di dalam ketidakpastian dan kita juga berharap kepada janji Allah yang belum kita lihat. Ini adalah suatu Mazmur yang menguatkan kita untuk bertahan melalui segala kesulitan yang ada yaitu dengan cara apa? Suatu perbuatan yang lahir dari hikmat Allah yaitu adalah kelemahlembutan.
Dalam Perjanjian Baru, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, banyak sekali hal yang menekankan juga kelemahlembutan selain di Perjanjian Lama, ya. Di situ dikatakan Kol. 3:12, saya akan bacakan, “Kenakanlah—sebagai orang-orang pilihan Allah yang sudah dikuduskan dan dikasih-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” Berarti ada saatnya kita mengenakan atau fokus kepada perbuatan ini. Ada saatnya mungkin tidak fokus kepada kelemahlembutan, tapi ada saatnya kita pakai kelemahlembutan. Khususnya apa? Ketika menghadapi sesuatu hal yang tidak sesuai dengan harapan kita atau menghadapi musuh kita. Daud berhadapan dengan Saul, ancang-ancang hatinya bukan keberanian untuk melawan Saul atau membunuh Saul, bukan. Ancang-ancang dalam hatinya adalah, “Saya harus lemah lembut. Saya dimusuhi Saul, saya harus berdoa untuk dia. Saya harus mengasihi musuh saya.” Wah, itu lemah lembut. Dari kitab Kolose mengatakan, “Pakai itu.” Suatu hari nanti kita ketemu musuh, orang yang kita benci, orang yang sudah melukai kita, kondisi yang tidak sesuai yang kita harapkan, kita belajar lemah lembut.
Lemah lembut itu digambarkan, ya, oleh banyak hamba Tuhan itu seperti karet yang elastis. Jika ada yang keras, dia tahan, redam kekerasan itu. Tapi kalau keras, keras lagi, hancur. Kalau Saul sudah keras, Daud keras, bertengkar. Bunuh-bunuhan. Kalau satu keras, harus satu lembut. Supaya tetap di dalam koridor Tuhan. Yang waras lemah lembut, gitu ya. Kan ada istilah, yang waras ngalah, ya. Yang waras itu lemah lembut. Yang nggak waras, keras-lah kaya Saul, kurang lebih kayak gitu, ya. Tapi kita yang sudah memiliki kelemahlembutan Kristus, kita harus kenakan. Kelemahlembutan dipakai di kondisi-kondisi yang sangat sulit, yang membuat kita ingin marah, kok. “Saya punya hak untuk marah, untuk melukai dia.” Tetapi kita nggak bisa berdosa di hadapan Tuhan. Kita nggak boleh seperti itu, ya.
Biasanya dalam pertengkaran, ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, yang sering saya lihat juga adalah kalau orang yang sudah bertengkar, sudah benci, ya, ketika orang musuhnya itu tambah kesalahan lagi, nah ini kesempatan dia untuk nyalah-nyalahin lagi. Harusnya orang yang lemah lembut itu, ya, dia sudah salah, tambah salah lagi, ya didoakan supaya tidak makin salah. Bukan menghakimi lagi, “Kamu salah memang wajar, mati saja kamu, ya.” Dihakimi dengan kekejaman dan kebencian. Itu tidak baik, ya. Sebagai orang Kristen, belajar lemah lembut. Nanti yang berkat itu kita terima sendiri, kok. Orang yang keras tidak akan diberkati, gitu ya.
Lalu Titus 3:2 dikatakan, “jangan memfitnah, jangan suka bertengkar, hendaklah ramah dan selalu lemah lembut terhadap semua orang.” Lemah lembut terhadap semua orang. Jadi bukan hanya dikenakan ketika berhadapan dengan musuh yang adalah lawan kita, yang kita sebal, yang kita benci, tetapi kita juga lakukan kepada semua orang. Yang bukan musuh kita, kita lemah lembut, kita memahami. Kita tidak langsung menghakimi. Orang telat karena apa? Wah, karena semua bangun tidur siang misalkan, ya. Telat datang ibadah, itu karena semua bangun tidur siang. Rohaninya nggak bagus. Padahal bisa karena ban bocor, bisa karena mungkin mengabarkan Injil kepada orang di jalan, itu kan bisa saja, ya. Kita nggak bisa lemah lembut itu kepada sebagian orang. Semua orang. Secara umum kita pahami, kita mengerti konteks dia, dan kita juga bahkan kalau mau bicara, tetap kita mengasihi dan memperhatikan. Kenapa datang telat ibadah misalkan kayak gitu, ya. Tentu standar itu harus kita jaga. Kita nggak boleh kompromi kepada kebenaran, tetapi kita bisa lemah lembut kepada orang yang bersalah. Kita bisa mendoakan, membangun dia, supaya bisa bertumbuh, ya.
Yakobus 3:13 juga dikatakan, “hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.” Hikmat Allah melahirkan kelemahlembutan. Kelemahlembutan sendiri, ya, dapat melahirkan hikmat. Ini suatu hal yang berkesinambungan satu dengan yang lainnya. Yesus Kristus mengajarkan kelemahlembutan, kita terima Kristus, kita punya kemampuan untuk lemah lembut kepada banyak orang. Tapi di Yakobus 3:13 dikatakan, “hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.” Semakin kita lemah lembut, kita akan semakin bijaksana. Tahu waktunya Tuhan, tahu caranya Tuhan, tahu bagaimana kita bersikap di hadapan Tuhan dan melayani Tuhan. Itu adalah berkat dari kelemahlembutan.
Dan 2 Timotius 2:24-25, ini nasihat khususnya untuk hamba Tuhan, ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Ternyata Paulus ketika membimbing Timotius yang adalah juniornya, Paulus itu kasih pesan yang unik sekali. “Kamu itu hamba Tuhan.” Ya, hamba Tuhan di dalam 2 Timotius 2:24-25 ini, adalah doulos, theo. Kata Yunaninya demikian, ya. “Kamu ini budaknya Tuhan.” Lebih provokatif. “Kamu itu budak Tuhan. Ya, kamu harus taat sepenuhnya kepada Tuhan.” Bahkan tanpa perlu reason-nya pun, taat. Nggak harus mengerti, taat, lakukan. Itu budak, ya. Nah, “Timotius kamu itu budaknya Tuhan. Kamu hamba Tuhan.” Nah, hamba Tuhan nggak boleh apa? Nggak boleh bertengkar. Karena apa? Kalau bertengkar itu biasanya keras dan keras. Tapi kalau orang lain keras, dia lembut, nggak akan bertengkar. Ya, yang satu keras, yang satu lembut, nggak ada gesekan. Yang satu seperti mainan malam itu, ya. Seperti yang dimainkan anak-anak. Yang satu malamnya begitu besar, terus kemudian ada batu yang keras, akan menutupi keras itu. Oh, itu kehebatan dari elastisitas rohani kita, ya. Nggak akan bertengkar.
“Hamba Tuhan tidak boleh bertengkar dan harus ramah terhadap semua orang, cakap mengajar, sabar, dan dengan lemah lembut, harus ia menuntun orang yang suka melawan.” Jadi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, sebagai hamba Tuhan, kalau ada yang suka melawan, itu melatih kelemahlembutan hamba Tuhan itu. Suka lawan. Misalkan, kebijakan tertentu dilawan, perintah dilawan, omongan dilawan, kayak gitu, ya. Itu sebetulnya melatih hamba Tuhan supaya lemah lembut. Tetapi, dilawannya atas dasar apa dulu, ya. Ada yang membangun, kan? Dalam arti, pendapatnya beda, tetapi bisa hal yang membangun lebih baik gereja Tuhan, itu seharusnya bisa diterima dengan baik. Tetapi, kalau pada akhirnya dijelaskan ternyata bukanlah membangun, ya, jangan juga. Di sini, Paulus katakan: “Kamu sebagai hamba Tuhan muda memimpin satu jemaat. Kamu harus lemah lembut menuntun orang.” Menuntun orang bisa dengan kekerasan, betul. Orang bisa tunduk sama kita dengan kekerasan, dengan ancaman, teror, tetapi itu tidak tulus, tidak akan membangun dia. Tetapi, dikatakan, ya, lemah lembut menuntun orang yang suka melawan. Nah, itu butuh sekali kelemahlembutan di dalam pelayanan para pemimpin gereja.
Ambil contoh, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, salah satu orang yang lemah lembut yang saya pernah kenal adalah mama saya sendiri. Kenapa? Karena dia memang mengasihi anak-anaknya, terus membela anak-anaknya. Kalau anaknya dihina orang, biasa rada emosi langsung, ya. Meskipun tidak sempurna, ya, mama saya, tetapi dia berusaha di pihak anak, membela dan juga menolong. Bukan terlalu protektif. Ya, kalau salah, ya, salah. Di hadapan orang pun, kalau saya salah, ya, nggak apa apa salah, ditegur, tetapi kalau memang hal itu tidak adil, tidak baik, dia akan membela. Dia akan melindungi, mengarahkan. Dan kelemahlembutannya di mana? Dia bisa mendengar pendapat anak-anaknya. Itu orang tua yang baik, ya. Dengar pendapat anak, bahkan dengar nasehat anak, bahkan minta maaf ketika mamanya salah. Mungkin juga bisa minta maaf untuk anaknya. “Maaf, ya,” ke orang tua lain, ya. Ketika orang tua lain disakiti atau diperbuat salah oleh anaknya, “Maaf, ya, anak saya.”
Itu suatu teladan yang lemah lembut, elastis, ketika orang tua salah, bisa minta maaf, lho. Wah, ini kan biasa orang-orang tua yang begitu keras itu nggak pernah terima kasih ke anak, nggak pernah minta maaf ke anak. Keras. Anaknya jadi keras juga. Tetapi, kalau orang tua lembut, terus juga ada kerasnya, mendidik, anaknya juga lembut. Maka, apa yang terjadi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Saya dimiliki oleh mama saya. Bukan saja status anak, tetapi hati saya pun dimiliki oleh mama saya. Mama memiliki saya. Saya menghormati mama. Menghormati papa juga. Karena apa? Kelemahlembutan. Tetapi kalau kita keras, anak sih tunduk sama kita, tetapi karena ketakutan. Selama masih ada orang tua, masih hidup, karena kekerasan dia, dia akan taat, tetapi begitu sudah tidak ada orang tua, sudah di luar kota, ya, sudah. Ya, jadi keras juga seperti orang tuanya. Ya, itu kurang lebih seperti itu, ya.
Di dalam Alkitab, kelemahlembutan juga bukan berarti dia itu pasif. Memang elastis itu kesannya kayak lemah, pasif. Tetapi, sikap yang rendah hati tidak kasar, dan juga terbuka terhadap didikan Tuhan, maupun terhadap orang lain. Itu kelemahlembutan di dalam kata Yunaninya, ya. Orang yang lemah lembut mampu mengendalikan diri, tidak cepat marah, dan juga sabar menghadapi penolakan dan konflik. Kelemahlembutan berarti lawan dari kekerasan atau kekakuan atau kesombongan, maupun juga keras kepala. Jadi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, obat penawar bagi orang-orang keras kepala itu apa, sih? Lemah lembut itu, ya. Tetap mengerti, mengasihi. Kita tahu, ya, sebagai orang tua itu mendidik anak kan memang berbeda-beda. Apalagi anaknya banyak. Ada anak yang kalau dikerasin sudah tunduk, terus kemudian mengampuni orang tua dan belajar untuk taat kepada orang tua dan juga taat kepada firman. Itu dikerasin efektif. Tetapi, kalau ada anak itu yang sudah keras, dikerasin, malah mental. Malah nggak mau ikut nasehat orang tuanya. Harus dilembutkan. Itu sulitnya menjadi orang tua dan kita butuh hikmat Tuhan bagaimana kita bersikap dengan tepat.
Nah, obat penawar bagi orang-orang yang keras kepala, kesombongan, dan kaku adalah ucapan bahagia Yesus Kristus ini. Bukan kelembutan dari orang lain yang mengubah dia, melainkan dia belajar kelembutan dari Yesus Kristus sendiri. Sudah kaku, nih. Keras. Ya, jadi nggak enak, penuh dengan pertengkaran dan pertikaian. Orang lain lembutin juga, belum tentu dia berubah. Tetapi, kalau dia mengerti firman ini, terus berusaha, ”Ayo, belajar lemah lembut kepada orang lain, pelan-pelan dia pun akan memiliki kelemahlembutan.
Dan 3 hal ini, baik keras kepala, kesombongan, dan kaku ini, itu ciri bangsa siapa, Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Bangsa pilihan Tuhan di Perjanjian Lama itu adalah bangsa Israel. Bangsa Israel itu tegar tengkuk. Susah untuk tunduk. Dia keras kepala. Bebal. Dan selama 40 tahun ini, Mazmur Daud juga berlaku atas bangsa Israel. Generasi pertama tidak mewarisi negeri Kanaan. Karena apa? Nggak lemah lembut. Semua keras kepala. Sudah dapat manna dari surga, sudah dapat mukjizat dari Tuhan, sudah dapat firman Tuhan dari Musa yang Musa sampaikan, ya, dari Tuhan. Generasi pertama itu keras semua. Orang yang keras tidak mewarisi negeri. Orang yang keras tidak mewarisi bahagia, sukacita. Generasi pertama mati di padang gurun semua, tetapi generasi yang selanjutnya, bangsa Israel, dipimpin oleh Yosua semua sudah belajar kelemahlembutan Tuhan ketika memimpin umatnya dari padang gurun 40 tahun. Generasi yang kedua, bangsa Israel masuk semua ke negeri Kanaan. Mereka dapat sukacita yang besar dari Tuhan. Karena apa? Mereka sudah belajar lemah lembut. Ya, mereka sudah mengerti kelembutan Tuhan.
Dan juga kita tahu bahwa Musa adalah seorang yang paling lemah lembut di antara semua orang yang dikatakan di dalam Alkitab. Ya, Musa ini orang paling lemah lembut, pemimpin bangsa Israel yang mengeluarkan bangsa Israel dari Mesir menuju tanah Kanaan, adalah pemimpin yang lemah lembut. Tapi sayang sekali, pemimpin yang lemah lembut pun ada kerasnya. Dan ini hukuman Tuhan yang lebih berat bagi para pemimpin ketika dia tidak taat, dia menjadi teladan yang tidak taat juga bagi orang Israel, pada akhirnya tidak mewarisi negeri Kanaan. Apakah firman Tuhan ini salah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Tidak. Tetap Musa mewarisi negeri kekal. Musa ada di surga sekarang, ya, dan pernah juga waktu saat Yesus transfigurasi, roh Musa itu muncul juga. Ada Musa, ada Elia ketika Yesus berubah wujud menjadi begitu terang. Nah, itu Musa. Ya, tetap dia mewarisi negeri. Bahkan sempat ketika sudah di surga pun dia datang lagi ke bumi saat Yesus transfigurasi. Karena apa? Lemah lembut. Karena Musa lemah lembut memimpin bangsa Israel.
Nah, di dalam konteks ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya, memiliki bumi itu tidak terbatas pada tanah geografis, melainkan masuk ke realitas yang lebih luas yaitu memiliki kerajaan Allah. Yesus selama pelayanan sebagai Mesias, dia pun nggak ada tempat tinggal yang menetap, kok. “Serigala punya liang ya, binatang-binatang lain punya tempat untuk tidur, tapi Yesus, Anak Manusia ini, tidak memiliki tempat untuk membaringkan kepala.” Tetapi Yesus punya kerajaan Allah dan dia bertugas untuk mengembangkan kerajaan Allah di bumi ini. Jadi konteks “barang siapa yang lemah lembut, berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka akan memiliki bumi“, itu bukan konteks geografis saja. Jadi jangan kecewa kalau kita sudah lemah lembut tapi kok nggak punya wilayah di bumi ini. Tapi kita masih punya bumi, kan? Kita punya bumi. Ya, bumi ini untuk hidup manusia. Tidak ada manusia yang tidak punya bumi. Kita dipercaya Allah untuk kita boleh hidup dan mengelola alam.
Janji rohani yang Allah berikan kepada orang yang lemah lembut adalah mewarisi kerajaan Allah. Yesus mengajarkan bahwa memiliki bumi juga ini bagian dari pemulihan akhir langit dan bumi yang baru. Nanti kita sudah masuk ke akhir zaman, satu titik itu ya, akhir zaman. Kita akan mewarisi negeri di bumi ini, di mana semua akan diperbaharui tanpa ada dosa dan efek dosa. Kita akan menerima warisan dari Tuhan Yesus Kristus sendiri, ya negeri yang kekal. Orang yang lemah lembut akan menjadi ahli waris kerajaan Allah. Dan bukan saja pengertian rohani sekarang, tetapi juga di masa depan.
Jadi, Bapak Ibu Saudara sekalian, ini sangat penting kita memiliki kelemahlembutan. Ya, ketika kita menderita, ketika kita sedang dalam kondisi yang susah, ternyata solusinya itu lemah lembut. Ya, bukan saja sabar, sabar, sabar, sabar trus kemudian kita pendam lalu kita tidak serahkan kepada Tuhan. Nanti bisa meledak sendiri ya. Hasil dari kelemahlembutan juga ternyata kontra terhadap budaya sekuler maupun toelogia kesuksesan atau kemakmuran ya. Yesus menyatakan bahwa bukan orang kuat, orang kaya, orang berpengaruh yang memiliki bumi, tanda kutip ya definisinya ya. Orang kaya, orang kuat, orang berpengaruh memang bisa memiliki banyak aset di dunia ini. Tetapi Yesus justru mengubah definisi itu, justru orang yang lemah lembutlah yang memiliki bumi. Orang lemah lembut membalas kejahatan dengan kebaikan. Orang yang lemah lembut menyatakan keadilan dengan cara tidak kekerasan. Orang yang lemah lembut menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan dan membiarkan Dia dipakai untuk menjadi seorang yang berpengaruh baik di dalam komunitasnya. Itu orang yang lemah lembut ya. Dia tidak mendapatkan kekuasaan juga dengan kekerasan, dia tidak melukai orang yang melukai dia. Dan ini adalah suatu hal yang sangat baru ya, bagaimana kita memahami orang yang kuat bukan orang yang kaya, orang yang kuat bukan orang yang punya kuasa, orang yang kuat bukan orang yang punya pengaruh yang besar tetapi orang yang kuat adalah orang yang lemah lembut. Dan orang yang lemah lembut akan diberikan pengaruh juga bisa mempengaruhi yang lainnya.
Seperti hukum taurat kelima, Bapak, Ibu Saudara sekalian, ya, sadar tidak sadar di sini kita banyak pemuda yang kuliah ya, dalam 1 tahun saja banyak mahasiswa ya, mungkin ribuan orang ke Yogyakarta. Jadi penduduk Yogyakarta memang banyak yang nambah penduduk baru, tapi setelah kuliah banyak juga yang pergi dari Yogyakarta. Sadar atau tidak sadar ya, sebagai seorang anak kita diajarkan untuk lemah lembut. Karena apa? Menghormati orang tua. Supaya apa? Supaya lanjut usiamu di tanah yang Tuhan berikan kepadamu. Wah ini paralel semua — orang yang lemah lembut mewarisi negeri. Orang yang lemah lembut akan sejahtera, bersukacita. Orang yang menghormati orang tua dijanjikan juga di dalam hukum Taurat: kamu akan panjang umur, kamu akan menerima berkat yang begitu besar. Ya meskipun tidak panjang umur secara literal ya. Banyak juga orang yang menghormati orang tua mati muda, tetapi maksudnya nanti kita hidup di bumi ini secara kekal. Kita akan memasuki Yerusalem yang baru. Jadi kita harus lihat bahwa anak yang belajar menghormati orang tua itu anak yang kuat, yang akan bertahan menghadapi segala sesuatu di bumi ini.
Lemah lembut bukan lemah, tapi lentur. Tidak mudah patah tapi juga mudah dibentuk. Unik ya. Bukan berarti dia itu seperti orang yang berubah-ubah seperti bunglon yang berubah-ubah, berubah-ubah. tapi bukan seperti itu. Tapi dia beradaptasi dengan situasi dan kondisi, pada akhirnya juga untuk memuliakan Tuhan, untuk melakukan firman Tuhan di posisi yang tidak ideal. Seperti permainan malam itu ya. Seperti mainan itu kuat sekaligus lentur ya.
Ada yang membandingkan ya, seorang filsuf dari China, Lao Tzu, ya, dia katakan bahwa gigi ini keras, tetapi nanti semua gigi kita kalau sudah tua sudah lemah tubuh ini, semua akan ompong ya – tinggal gigi palsu sih, bisa ya ada gigi palsu – tapi tinggal lidah. Lidah ini lentur, lidah dihina-hina oleh gigi, digigit terus, kegigit ya, kadang-kadang kita ngomong salah kegigit, makan salah kegigit dan lain-lain. Lidah ini tertindas terus tapi bisa sembuh loh, nggak pernah ada lidah yang busuk kan? Kecuali memang ada bakteri atau penyakit. Tapi gigi ini mudah sekali bolong, busuk, nyangkut makanan. Justru lidah membersihkan apa yang ada kotoran di gigi dengan tenaganya ya. Kadang kita dorong-dorong makanan juga dengan lidah ya, itu kuat sekali. Lidah kuat tapi lentur. Dikatakan demikian suatu hari nanti yang bertahan di dalam waktu itu bukan gigi, bukan yang keras, tapi yang lembut. Ini menggambarkan tentang kelemahlembutan. Orang non-Kristen pun belajar bahwa kelemahlembutan itu suatu hal yang indah, suatu hal yang unik, suatu keahlian yang hebat sekali.
Orang yang paling lemah lembut selain Yesus Kristus tadi dikatakan ya. Kita coba lihat Bil. 12 : 3. Kita baca bersama-sama Bil. 12 : 3, itu pujian kepada Musa. Memang penulis Pentateuk—Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan—kan memang Musa. Tapi khusus bagian ini kayaknya nggak boleh Musa yang nulis, gitu ya. Karena Musa pun tidak menuliskan ini, ya. Ada orang yang menuliskan tentang Musa. Kita baca bersama-sama Bil. 12:3 ya, “Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.” Itu konteks tadi ya, Perjanjian Lama di zaman itu, di antara seluruh manusia, Musa ini sangat lembut, ya. Ketika orang Israel melihat Musa, ketika memandang dengan cara yang benar, ya, Musa itu betul-betul sangat lembut dan ayat ini muncul dalam konteks apa? Ketika Musa dikritik oleh kakak-kakaknya, Harun dan Miryam mengkritik Musa: “Kenapa kamu, Musa itu ambil cewek dari negeri lain?” gitu ya. Perempuan Kus. Menikahi perempuan Kus. Musa tidak bela diri. Musa tidak menyerang balik. Dia menyimpan semuanya dalam hatinya dan akhirnya Tuhan sendiri yang membela Musa dan menghukum Miryam dengan kusta, menegur Harun juga kakaknya, karena menyerang Musa.
Nah Bapak, Ibu, Saudara sekalian, satu sisi kita bisa lihat dari kisah ini, anggap ada orang yang melukai kita, melawan kita, mengkritik kita, menghina kita. Kita nggak usah bela pun kalau Tuhan mau bela tuh terbela sendiri kita. Maka kebenaran itu tidak perlu dibela. Kalau kita tahu kita sudah benar, sudah hati takut akan Tuhan, ada orang yang menyerang kita nggak usah takut Tuhan sendiri bisa bela kita, nggak perlu kita membela diri. Meskipun kita tetap punya tanggung jawab untuk menyatakan keadilan, kebenaran, tapi kita tidak mau mengambil hak Tuhan untuk membalaskan ketidakadilan. Pembalasan adalah hak Tuhan.
Lemah lembut berarti apa? Kita berdoa kepada Tuhan. Lemah lembut berarti penuh kasih, penuh pengampunan kepada orang yang lain di sekitar kita. Musa memimpin dengan lembut, dan doa Musa itu seringkali adalah doa untuk kepentingan umatnya. Meskipun umatnya bikin dia marah, jengkel, dan emosi terus ya. Ketika bangsa Israel membuat anak lembu emas, Musa berdoa. Ketika Tuhan hendak membinasakan bangsa Israel karena ketidakpercayaan mereka itu, Musa juga berdoa. Nah, saya sedikit bacakan ya salah satu kelemahlembutan Musa lagi di dalam Bil. 14:11-20. Saya akan bacakan, ini ketika Tuhan tuh sudah emosi sama bangsa Israel terus mau membinasakanlah, tapi justru muncul Musa yang menenangkan hati Tuhan yang sedang murka ya. Bil. 14:11-20 saya akan bacakan ya “Tuhan berfirman kepada Musa: ”Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! Aku akan memukul mereka dengan penyakit sampar dan melenyapkan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari pada mereka.” Lalu berkatalah Musa kepada Tuhan: ”Jikalau hal itu kedengaran kepada orang Mesir, padahal Engkau telah menuntun bangsa ini dengan kekuatan-Mu dari tengah-tengah mereka, mereka akan berceritera kepada penduduk negeri ini, yang telah mendengar bahwa Engkau, Tuhan, ada di tengah-tengah bangsa ini, dan bahwa Engkau, Tuhan, menampakkan diri-Mu kepada mereka dengan berhadapan muka, waktu awan-Mu berdiri di atas mereka dan waktu Engkau berjalan mendahului mereka di dalam tiang awan pada waktu siang dan di dalam tiang api pada waktu malam. Jadi jikalau Engkau membunuh bangsa ini sampai habis, maka bangsa-bangsa yang mendengar kabar tentang Engkau itu nanti berkata: Oleh karena Tuhan tidak berkuasa membawa bangsa ini masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah kepada mereka, maka Ia menyembelih mereka di padang gurun. Jadi sekarang, biarlah kiranya kekuatan Tuhan itu nyata kebesarannya, seperti yang Kaufirmankan: Tuhan itu berpanjangan sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, bahkan Ia membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat. Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari.” Berfirmanlah Tuhan: ”Aku mengampuninya sesuai dengan permintaanmu.””
“Aku mengabulkan doa orang yang lemah lembut.”Padahal Tuhan sudah emosi, sudah saja ingin membinasakan seluruh bangsa Israel. Itu betul-betul Tuhan ingin. Meskipun kita tahu bahwa di dalam kedaulatan Tuhan, Tuhan pun akan mengampuni bangsa Israel.Tetapi itu dipakai dengan cara Musa yang berdoa kepada Allah. Mungkin Tuhan berpikir, Musa saja bisa kayak gitu, ya. Musa saja bisa mengampuni bangsa Israel.Tuhan harus memberi teladan kelemahlembutan yang lebih lagi dan memang diampuni. Tanpa doa Musa, kalau dalam konteks kacamata kedaulatan Allah, ya. Tanpa doa Musa pun Tuhan pasti mengampuni, kok. Tetapi cara Tuhan mengampuni di dalam prakteknya adalah mendengarkan doa orang yang paling lemah lembut.Yaitu Musa. Musa sangat mirip dengan Yesus Kristus. Musa sangat intim berelasi dengan Allah dan menjadi teladan besar bagi semua pemimpin rohani maupun umat Tuhan.
Dan Yesus Kristus juga, di hadapan para musuh-Nya, di mana di hadapan orang-orang yang berdosa, yang layak dihukum, diadili di hadapan Tuhan. Dan Dia di tengah-tengah segala kesulitan-Nya yang sakit, ya, di atas kayu salib, dengan menahan seluruh rasa sakit dari atas kepala sampai kakiNya, Yesus dengan elastisitas rohaniNya, dia tetap berdoa, “Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
Di antara seluruh manusia yang paling lemah lembut adalah yang pernah mengajarkan, “berbahagialah orang yang lemah lembut karena mereka akan memiliki bumi.”Yesus berdoa minta pengampunan untuk orang yang berdosa. Inilah kelemahlembutan. Di atas kayu salib, semua orang yang di atas kayu salib itu minimal berkata-kata kasar, memaki orang, marah sama Tuhan, kecewa sama Tuhan.Yesus tidak ada kata-kata kasar, Yesus tidak kecewa, Yesus tidak menguasai diri, Dia menguasai diri, Dia bahkan berdoa minta pengampunan.
Senjata orang Kristen, Bapak-Ibu saudara sekalian, adalah kelemahlembutan. Di tengah kondisi yang buruk, di tengah kondisi negara yang mungkin tidak stabil, kelemahlembutan ini perlu supaya kita bisa bertahan di setiap kondisi. Orang yang lembut itu elastis, dalam arti bukan berubah-rubah, bukan plin-plan. Tetapi dia bisa berubah semakin efektif lagi bagi kerajaan Allah. Dia bisa dengar masukan dari siapapun. Dia rendah hati, dia siap dibentuk oleh Roh Kudus.
Maka, suatu tindakan yang melatih kita untuk bisa lemah lembut apa Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Coba introspeksi, evaluasi setiap pekerjaan kita. Introspeksi di hadapan Tuhan, “sudah berkenan belum di hadapan Tuhan?” Evaluasi di hadapan Tuhan, terus merefleksikan diri, juga mengoreksi diri dan pada akhirnya kita menjadi seseorang yang semakin memiliki bumi. Kita bisa menjadi berkat bagi orang lain, karena kita meneladani Yesus Kristus yang lemah lembut.
Mari Bapak-Ibu Saudara kalian, kita belajar kelemahlembutan Kristus. Kita sungguh-sungguh mau supaya kita itu bisa dipakai Tuhan untuk mengabarkan Injil bagi orang-orang yang belum kenal Kristus. Tetapi juga bagi orang-orang yang adalah umat Tuhan, kita bisa mempertumbuhkan iman mereka. Kita ingin sama-sama bertumbuh di dalam sarana-sarana anugerah yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Mari kita sama-sama berdoa.
Bapa kami yang di surga, kami bersyukur pada hari ini Tuhan boleh menyatakan kasih Tuhan dalam kehidupan kami, dan kami juga boleh merenungkan ucapan bahagia yang ketiga, yang Yesus sudah kotbahkan 2000 tahun yang lalu. Bagaimana kami didorong, dianjurkan, diperintahkan oleh Tuhan sendiri untuk memiliki hati yang lemah lembut. Lemah lembut bukan berarti lemah, bukan berarti tidak punya prinsip, bukan berarti bisa berubah-rubah tanpa dasar yang jelas, tetapi lemah lembut berarti kami kuat di dalam Tuhan dalam menjalankan prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan di tengah-tengah dunia yang penuh dengan dosa ini. Ajar kami Tuhan untuk mengampuni sesama kami. Ajar kami Tuhan untuk berdoa, minta pengampunan atas orang-orang yang berdosa di hadapan Tuhan, maupun keluarga kami juga yang sedang dalam dosa di hadapan Tuhan. Kami mau berdoa supaya hidup kami ini boleh meneladani Yesus Kristus yang lemah lembut. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
