Mengetahui, Memiliki, Menjadi, Melakukan
Kis. 1:1-11
Pdt. Michael Densmoor
Saya mau ajak Bapak-Ibu membaca bersama dengan saya dari Kisah Para Rasul 1:1-11. Hari ini adalah hari Pentakosta. Hari Pentakosta adalah hari yang penting sekali bagi kita di gereja. Sepertinya kita melihat puncaknya pada Jumat Agung. Namanya Agung kan, berarti itu yang kita menyoroti, kita fokus kepada Jumat yang Agung ini sehingga kebaktian besar dibuat di Jakarta, kita semua relay untuk nonton di sana. Kemudian Paskah, kita merayakan Kristus yang sudah bangkit, ya. Kemenangan di atas maut, kemenangan di atas dosa. Akhirnya kita merayakan bersama satu kemenangan besar yang kita raih. Mungkin setelah itu kita sepertinya lelah, capek ada upacara di gereja, saya tidak tahu. Karena justru masih ada hari penting di dalam kalender gereja yaitu hari Pentakosta. Hari Pentakosta di mana ada satu perubahan yang besar yang terjadi, yaitu Roh Kudus datang untuk diam di dalam kita. Hampir semua zaman berpikir, “kapan janji ini digenapi?” Janji ini ada di kitab Yehezkiel, janji ini ada di kitab Yoel, di mana orang akan bernubuat, mereka akan berbahasa lidah. Akhirnya orang menanti-nantikan “kapan hari ini akan digenapi?” Justru itu hari ini. Kita setiap kali terima Yesus, Roh Kudus sekarang ada di dalam diri kita. Tetapi kita tidak sadar seperti apa pengalaman sebelum ada Roh Kudus, mengikut Kristus seperti para rasul, kemudian turunnya Roh Kudus dan setelah itu jadi seperti apa.
Hari ini kita mau lihat dari hari Pentakosta, apa yang menjadi tugas dan janji yang Allah berikan kepada kita jemaat-Nya di dalam Kisah Para Rasul pasal yang pertama. Saya akan membaca ayat yang ganjil, saya minta jemaat membaca ayat yang genap. Kisah Para Rasul pasal yang pertama, mulai dengan ayat pertama:
“Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang mulai dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya oleh Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya. Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang – demikian kata-Nya – ”telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: ”Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Jawab-Nya: ”Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: ”Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”
Waktu Lukas menulis Kisah Para Rasul, dia menulis Kisah Para Rasul, sebagai jilid yang kedua. Jilid yang pertama dia juga menulis kepada Teofilus ini, yang mungkin pada saat itu belum percaya kepada Injil. Setelah dia baca Lukas pertama, kelihatan dia beriman dan sekarang Lukas menulis jilid yang kedua, yaitu Kisah Para Rasul ini. Dan jilid yang kedua ini, mulai dengan hari Pentakosta ini. Di mana kita pada hari Pentakosta, akan punya tugas yang baru untuk membawa berita kebangkitan ke seluruh dunia. Sehingga di dalam ayat yang pertama, waktu dibaca sebenarnya terjemahan bahasa Indonesia kurang baik di sini, “Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang ‘mulai’ dikerjakan dan diajarkan Yesus.” Sebenarnya jilid yang pertama hanya permulaan dari pelayanan Yesus. Sekarang jilid yang kedua ini adalah kelanjutan dari pekerjaan Yesus. Makanya jilid yang kedua. Dan sekarang di zaman kita, kita sedang menulis jilid yang ketiga. Pekerjaan Tuhan Yesus yang diteruskan oleh jemaat di jaman kita.
Maka di sini kita lihat, bahwa Yesus dia datang dan dia berkata kepada kita, “Aku akan membangun kerajaan-Ku, Aku akan menghadirkan gereja-Ku di zaman ini, dan Saya akan lakukan ini melalui jemaat-jemaat yang berkumpul di tempat ini.” Maka Kisah Para Rasul adalah apa yang Yesus sudah mulai kerjakan, sekarang dilanjutkan melalui Bapak, Ibu semua di sini. Oleh sebab itu kita perlu memikirkan bagaimana hal itu bisa terjadi. Karena tidak mudah kita menjalankan misi Yesus di dunia ini. Tidak mudah, seperti para rasul, sebelas orang, penuh dengan kecemasan, ketakutan, sering membuat kesalahan, sering gagal di dalam pelayanan mereka. Akhirnya mereka akan diutus oleh Yesus untuk lakukan sesuatu besar bagi Dia.
Kadang-kadang kita berpikir, siapakah kita? Apa yang saya bisa lakukan sebenarnya? Karena saya bukan siapa-siapa, saya tidak bisa kerjakan sesuatu, saya bukan orang yang pintar, saya bukan orang yang kaya, saya tidak terampil bicara di depan, apa yang saya bisa lakukan? Tetapi Yesus melihat jemaat-Nya dan Dia berkata, “semua punya bagian untuk melanjutkan pekerjaan-Ku di dunia ini.” Maka hari ini dari nats ini, saya mau kita merenungkan empat hal. Pertama, Yesus berkata, ada sesuatu yang Anda perlu mengetahui. Yang kedua, ada sesuatu yang saya ingin Anda miliki. Yang ketiga, ada sesuatu yang saya ingin Anda menjadi. Dan yang keempat, ada sesuatu yang saya ingin Anda lakukan. Yang Anda mengetahui, Anda memiliki, Anda menjadi dan Anda akan melakukan.
Di sini yang pertama kita lihat, Yesus berkata, ada sesuatu dan saya ingin Anda mengetahui Yesus waktu Dia bangkit ke Surga, selama 40 hari Dia tidak langsung naik ke Surga. Dia bangkit dari antara orang mati, dan kemudian Dia masih berada di dunia ini selama 40 hari. Menarik. Harusnya Yesus yang sudah bangkit, sudah selesai misinya, langsung pergi ke Surga, sudah selesai dan Dia tidak perlu pusing lagi akan dunia ini, Dia kembali dengan takhta Allah di Surga duduk di sana di atas takhta-Nya. Tetapi apa yang terjadi? Yesus masih melihat ada sesuatu yang harus Dia kerjakan selama berminggu-minggu di dunia ini sebelum Dia angkat, sebelum Dia pergi. Apa yang begitu penting yang harus dikerjakan oleh Yesus sehingga Dia tidak bisa langsung pulang ke Surga? Dia melihat ada banyak hal yang belum dimengerti oleh para murid.
Selama pelayanan Yesus di dunia ini, para murid selalu tidak mengerti, semua ditutupi dari mata mereka. Yesus bicara begini, “marilah kita pergi ke Yerusalem, Aku akan disalibkan, Aku akan mati di situ.” Para murid masih berpikir, “Oh aku nanti jadi Raja ya. Mesias akan menggulingkan pemerintahan Roma.” Mereka sama sekali tidak memahami apa yang menjadi tujuan apa yang menjadi misinya Yesus walaupun dengan blak-blakan Yesus sudah beri tahu. Dan sekarang, waktu Yesus mati, mereka penuh dengan kekecewaan, mereka penuh dengan kecemasan, mereka berpikir sudah gagal, 3 tahun lebih saya meninggalkan keluarga, saya meninggalkan bisnis saya, saya mengikut Yesus, saya dipakai luar biasa, pengalaman rohani saya luar biasa, tetapi sia-sia. Kristus sudah mati.
Hal yang pertama yang Kristus ingin dipahami oleh para murid Dia, selama empat puluh hari ini, Dia mengajar bahwa kematian Kristus bukan hal tragis tetapi menjadi kemenangan. Dia harus mengulangi lagi kepada mereka mengapa Kristus harus mati, karena justru itu pokok Injil. Kalau para murid atau rasul ini tidak memahami pokok Injil kematian Kristus, semua hanya lihat “Wah sayang ya, orangnya baik, Dia berkati begitu banyak orang, menyembuhkan orang buta, membuka mata orang buta, yang bisa bangkitkan orang mati. Wah Dia menolong begitu banyak orang dan pengajaran Dia begitu menarik, sayang sekali Dia harus mati.” Banyak orang sampai hari ini masih tidak mengerti maksud dari kedatangan Kristus bahwa Dia datang menjadi korban, Dia justru datang untuk mati. Untuk hal itu anak manusia lahir, untuk hal itu anak manusia datang. Sehingga Kristus selama 40 hari mengulang-ulang kepada mereka, korban, mengapa Kristus harus datang.
Seperti waktu di jalan ke Emaus, Kristus berjalan dengan dua orang murid, kemudian waktu berjalan di Emaus dikatakan bahwa Yesus membuka Kitab Suci dan menjelaskan dari Kitab Suci mengapa Mesias harus mati. Murid-murid belum bisa menangkap dosa dari semua pelajaran dari Perjanjian Lama, Adam, Kain dan Habel, Nuh, Abraham, juga Musa, semua cerita ini korban, korban, korban, sampai datang Yesus Kristus, mereka tidak bisa memahami maksud dari cerita bahwa harus ada korban agar ada penebusan. Maka hal pertama yang Kristus harus ulang adalah kematian Dia.
Hal yang kedua yang diajar oleh Yesus adalah kebangkitan. Di dalam kebangkitan, Yesus memberitahu kepada mereka, bahwa cerita bahwa Yesus bangkit bukan dongeng. Tetapi bukti. Banyak orang di zaman kita masih merasakan kebangkitan Yesus Kristus itu dongeng. Pada zaman Kristus juga hal yang sama, banyak orang dengar cerita, “Wah Kristus mati. Mati, semua tahu. Kami menyaksikan. Setiap orang yang disalibkan pasti mati tidak pernah ada orang yang turun dari kayu salib. Pasti mengakhiri dengan kematian.” Tetapi setelah Kristus mati, ada cerita lain di sini, sekarang kuburnya kosong, Kristus hidup. Nah waktu Kristus hidup, semua murid Dia mulai membeberkan berita ini ke sini, ke sana. Dan waktu mereka beritahukan kepada orang, bahwa yang disalibkan sekarang hidup kembali, wah itu dianggap bohong. Dianggap dongeng. Apalagi direkayasa oleh pemimpin agama Yahudi supaya orang tidak percaya hal ini.
Akhirnya Kristus waktu bangkit, melakukan sesuatu dengan murid Dia. Selama 40 hari Kristus lakukan apa? Dia memberi banyak bukti bahwa Dia hidup. Menarik kan? Menarik. Bahwa Kristus harus mengajar memberi bukti-bukti kepada murid Dia, lihat, masuk jarimu di lobang tangan-Ku. Coba memberi saya ikan supaya saya bisa makan. Kristus menampakkan di sini, menampakkan di sana, di mana mereka kumpul, tiba-tiba Yesus bisa muncul, dan di situlah mereka lihat fakta bahwa Kristus tidak lagi ada di kubur, tetapi Dia sungguh hidup. Mereka perlu yakin akan kebangkitan. Kalau tidak yakin, mereka tidak akan jalankan tugasnya.
Kemudian juga Yesus memberi tahu kepada mereka tentang maksud Dia. Bahwa Dia akan tinggalkan di sini, pergi ke Surga supaya Roh Kudus turun. Mereka perlu diajar bahwa Kristus bukan pada saat ini akan mendirikan kerajaan. Jadi para murid berpikir, “oh asyik sekarang Kristus sudah bangkit, sekarang kami bisa menikmati hidup bersama dengan Dia, sekarang Dia akan jalankan misi-Nya untuk menegakkan kerajaan di sini dan kami akan menjadi pemimpin.” Maka Kristus harus beri tahu sejak Dia bangkit Dia berkata kepada Maria “Jangan pegang Saya. Saya tidak akan lama di sini, Saya akan pergi karena jauh lebih baik kalau Saya pergi. Karena kalau Saya pergi, Roh Kudus akan turun dan akan ada di setiap sudut, setiap tempat di dunia ini.” Yesus mengajar tentang kematian, Yesus mengajar tentang kebangkitan, Yesus mengajar mengenai keangkatan ke Surga dan juga Yesus mengajar tentang kerajaan Dia. Yesus beritahu kepada mereka bahwa kerajaan ini berbeda sekali dengan apa yang dibayangkan selama ini.
Selama ini para murid dengar Kristus datang, dari kalimat pertama di dalam pelayanan Yesus, Yesus datang memberitakan tentang apa? Kerajaan! Kemudian waktu para murid ajak Yesus, “Tolong ajari kami bagaimana untuk berdoa!” Kalimat pertama? “Bapaku yang ada di surga, dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu.” Wah, Yesus beritakan tentang kerajaan. Kami mendoakan supaya kerajaan hadir. Kami berpikir gagal, ternyata tidak. Kristus bangkit, inilah saatnya! Wah, sukacita! Ini yang ditunggu-tunggu! Sekarang, Kerajaan akan hadir! Apa yang kami doakan selama ini akan nyata!” Dan Kristus datang. Dia mengajar, Dia beritahu. Padahal, waktu hidup, Kristus beritahu banyak perumpamaan tentang kerajaan. Mereka masih tidak mengerti. Akhirnya, mereka berpikir, “Ini adalah saatnya!” Sehingga Yesus, Ia harus datang mengajar kuliah padat kepada murid Dia. Murid sama sekali tidak mengerti: tugas, rencana Allah, misi ini, sehingga Tuhan memberi mereka kuliah padat. Selama 40 hari mereka diajar.
Kadang-kadang saya seperti ini: karena mahasiswa di STT, mereka luar biasa. Cuma kalau saya kasih ujian, saya kesal sekali. Baru ketahuan saya bukan dosen yang baik karena mereka tidak bisa jawab, ya. Padahal menurut saya, saya dosen lumayan, ya. Saya mengajar mereka, saya beritahu semua, tetapi pada saat ujian tiba-tiba orang yang baik, yang dipakai Tuhan luar biasa, akhirnya disuruh menjawab sesuatu: kosong!
Itu yang terjadi di sini. Yesus selama tiga tahun kuliah S1 dengan murid Dia. Dia dosen. Dia hidup sama mereka. Diasramakan dengan pemimpin asrama itu: Yesus sendiri. Dia menjadi dosen tunggal untuk mereka. Semua kuliah diajar oleh Yesus. Dan apa yang terjadi? Pada saat Kristus mati –itu ujian akhir program S1 mereka– semua gagal! Nggak satu pun yang lulus! Jadi, Yesus melihat: “Gimana, ya? Sudah tiga tahun nggak ada yang lulus.” Nggak mungkin, kan? Namanya sekolah pasti ada yang lulus. Jadi, akhirnya Yesus memberi kuliah padat selama 40 hari. 40 hari ajar ulang: kematian, kebangkitan, naik ke surga, kemudian diajar mengenai kerajaan. Akhirnya semua diajar, diajar, diajar. Dan, apa yang terjadi? Yesus memberi ujian terakhir: satu pertanyaan, “Apa itu kerajaan?” Apa misi saya? Memberitakan tentang kerajaan Allah.
Terus, apa yang kita lihat di dalam hal ini? Para murid bertanya kepada Dia, “Tuhan, apakah pada masa ini Engkau akan memulihkan kerajaan bagi Israel? Ayat yang keenam: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Satu pertanyaan: apa itu kerajaan Allah? Terus jawaban dari semua murid –ini open book, boleh pakai catatan, kerja bersama, duduk bersama, merenungkan bersama, pilih jawaban bersama, dan akhirnya pertanyaan mereka cuma satu– “Tuhan, apakah pada masa ini Engkau akan memulihkan kerajaan bagi kami, orang Israel?”
Pertanyaan ini termasuk pertanyaan paling tidak mengerti maksud hati Allah. Kata benda itu salah, kata kerja itu salah, kata keterangan itu salah. Mereka berpikir bahwa Tuhan akan memulihkan, mau kembali kepada kejayaan Daud di mana Israel bisa menguasai semua dan orang kafir ini semua akan diusir keluar. Bagi orang Israel, mereka berpikir bahwa: “Kerajaan Allah, berkat Allah, keselamatan Allah, kematian dan kebangkitan Kristus, hanya bagi kami orang Yahudi!” Dan mereka berpikir akan terjadi sekarang juga. Saat ini. Kata benda salah, kata kerja sama, kata keterangan salah. Mereka sama sekali tidak mengerti. Diajar selama 40 hari. Karena kalau belum turun Roh Kudus, tidak mungkin orang bisa mengerti tentang misinya Allah. Tidak bisa mengerti tentang rahasia Allah untuk menyelamatkan manusia.
Maka, di sini kita melihat bagaimana mereka harus tahu, diajar oleh Yesus, tetapi masih belum bisa mengerti karena belum datang Roh Kudus untuk memenuhi hati mereka. Yesus berkata, “Ada sesuatu yang Saya ingin anda ketahui.” Yesus juga berkata, “Ada sesuatu yang Saya ingin anda miliki.” Yesus berkata, “Agar apa yang Saya ajar bisa dimengerti.” Tidak perlu lagi ulangan, tidak perlu lagi les privat, tidak perlu lagi ada guru, yang perlu adalah Roh Kudus. Sehingga Dia berkata, “Jangan pergi dari tempat ini sebelum datang Roh Kudus.” Menarik bagi saya. Sangat menarik bagi saya, menurut saya. Di dalam amanat agung, Yesus berkata, “Segala kuasa telah diberikan kepada-Ku. Pergi, jadikanlah semua bangsa murid-Ku!” Yesus berkata, “Saya sudah memberi segala otoritas Saya kepadamu untuk menjadi saksi.” Ini sesuatu yang sudah dilakukan. Yesus menerima otoritas ini. Setelah kebangkitan, Yesus berkata, “Sekarang Saya akan menyertaimu sampai ke ujung bumi. Saya akan selalu bersama denganmu.” Tetapi mereka belum siap untuk menjadi saksi. Kenapa? Walaupun otoritas diberikan kepada kita, kuasa itu belum diberikan kepada kita. Maka di sini kita lihat, Kristus berkata, “Sebelum Anda bisa pergi menjalankan misimu, harus anda memiliki dulu sesuatu yaitu Roh Kudus. Otoritas sudah saya berikan. Sekarang menunggu di sini sampai hari Pentakosta, di mana akan Aku berikan lagi sesuatu. Sesuatu yang tanpa ini Anda tidak mungkin berhasil yaitu kuasa dari Roh Kudus.”
Di dalam istilah Roh Kudus ini, ada istilah bahasa Yunani untuk “dunamis”. “Dunamis” itu agak mirip dengan kita punya istilah dinamik, ya. “Dunamis” artinya power, kuasa. Waktu Nobel menciptakan satu batang yang bisa diledakkan sehingga satu gunung bisa runtuh daripada dipahat dengan tangan: begitu banyak orang. Sekarang orang dengan satu batang ini, dinyalain dengan api, akhirnya itu “sssss…” (suara sumbu dinyalakan) sampai ke batang “boom!”, meledak. Dia mau cari nama. Bahasa Yunani nama untuk ini adalah apa? Dinamit. Itulah istilah yang dipakai oleh Lukas untuk menjelaskan kuasa yang diberikan kepada kita oleh Roh Kudus. Sekarang, kita pada hari Pentakosta, ada satu transformasi terjadi di dalam hidup kita. Sehingga apa yang biasa, sekarang memiliki kuasa untuk melakukan yang luar biasa.
Saya datang ke Indonesia, saya lihat ada satu perumpamaan yang diajar dari ujung-ujung Indonesia mengenai kuasa Roh Kudus. Itu namanya Supradyn. Pernah ambil itu, ada air biasa. Air ini nggak memiliki banyak zat yang penting. Itu cuma air belaka. Tetapi kalau saya ambil Supradyn, saya drop satu tablet di dalam air, tiba-tiba ada gas yang keluar dan warnanya berubah jadi orange, dan itu sekarang penuh dengan vitamin, penuh dengan hal-hal yang menyehatkan tubuh. Di sini saya lihat, kuasa Roh Kudus seperti itu di dalam hidup kita. Kita orang biasa. Siapa kita untuk menjalankan misi Allah di dunia ini? Bagaimana mungkin saya berhasil? Tidak ada satu nilai plus di dalam diri saya sehingga saya bisa menarik orang untuk meninggalkan dosa mereka, mengikut Tuhan, dan hidup berbakti kepada Dia. Siapakah saya? Tetapi justru pada saat Roh Kudus datang, saya mengalami transformasi. Seperti Supradyn yang masuk di dalam gelas, air biasa menjadi air yang menyehatkan orang. Juga hal yang sama, saya yang biasa bisa dipakai untuk melakukan hal yang luar biasa. Coba anda lihat yang duduk kiri kananmu berkata, “Kamu orang biasa yang bisa lakukan hal yang luar biasa.” Coba ngomong sekarang semuanya. Kamu orang biasa yang bisa lakukan hal yang luar biasa.
Mungkin anda bangun tadi pagi berpikir, “Aku hari ini akan lakukan sesuatu yang luar biasa untuk Tuhan.” Pernah anda, tadi pagi bangun lihat diri di kaca, “Aku hari ini akan lakukan yang luar biasa untuk Tuhan.” Kemungkinan besar anda seperti saya lihat di kaca dan, “Wah, kelihatan makin tua saya.” Selama ini saya selalu anggap dirinya usia 30 tahun. Karena saya nggak pernah ngaca. Kalau saya nggak ngaca selama 30 tahun, saya masih fikir, saya masih muda. Baru waktu saya mulai lihat di kaca, wah, kelihatan tua. Bukan tua lagi, tuo saya, ya. Apalagi sekarang saya mau berkhotbah terus ada layar besar dengan muka saya di situ, semua rambut ubanan saya kelihatan, ya. Ya, istri saya selalu bilang, “Eh, kamu banyak ubanan.” Saya bilang, “Yang penting masih ada rambut, warnanya tidak penting.” Ya, kira-kira begitu, ya.
Saya bangun pagi, saya lihat dirinya, “Aduh, siapakah saya? Apa yang saya bisa lakukan? Saya belajar banyak, saya baca buku banyak. Tetapi kalau saya menceritakan Injil kepada orang lain, hasilnya itu-itu saja. Keluarga saya, saya tidak bisa mempengaruhi percaya. Tetangga saya tidak bisa mempengaruhi. Akhirnya apa dampak dari hidup saya?” Tetapi Tuhan berkata, “Orang biasa, kalau dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus, akan lakukan hal yang luar biasa bagi Tuhan.” Maka, kalau saya lihat jemaat di sini, hati saya penuh dengan sukacita pada hari Pentakosta. Kenapa? Karena kalian orang biasa yang hari ini ingat Roh Kudus sekarang diam di hatimu. Anda punya dinamis, kuasa menjadi dinamik. Sehingga pada saat ada batu-batu keras di dalam hati orang yang melawan Injil, pada saat engkau beritakan firman ini kepada mereka, sesuatu terjadi. Bukan karena firmanmu, bukan karena kalimat yang keluar dari mulutmu, tapi karena kuasa Roh Kudus bekerja di situ untuk memecahkan dan menghancurkan semua batu keras di hati dia, sehingga dia berlutut dan terima Yesus. Itu adalah kuasa yang ada di dalam dirimu. Jangan dengar suara dari dunia. Jangan dengar suara dari Iblis yang berkata, “Ya, kamu nggak bisa. Kamu nggak mungkin.” Seluruh cerita Kisah Para Rasul adalah orang seperti anda yang hanya menyerahkan diri untuk dipakai oleh Tuhan dan Tuhan pakai dengan cara yang sedemikian rupa.
Maka, kita lihat bagaimana Paulus sering dia bicara mengenai kuasa Roh Kudus. Misalnya di dalam 1 Tesalonika, Paulus berkata bahwa, “Injil kita datang bukan hanya dengan kata saja, tetapi dengan Roh dan dengan penuh kepastian yang kokoh.” Juga kita baca di dalam Kisah Para Rasul bahwa Injil diberitakan oleh Roh dan keberanian. Dan juga waktu Stephen mau dimartir. Stephen, waktu dia mau dilempar batu. Akhirnya Stephen, waktu dia mengajar mereka—dia mengajar dengan Roh dan hikmat. Maka, apa yang kita lihat? Waktu kita memiliki Roh Kudus, sekarang kita punya kuasa untuk memberitakan Injil dengan apa? Kepastian yang kokoh. Keberanian. Hikmat.
Maka, waktu saya keluar, saya bertemu dengan orang, saya tidak lagi ragu-ragu. Benarkah Injil ini satu-satunya jalan keselamatan? Saya berpikir gereja di zaman ini terus terlalu banyak mendengar suara dari dunia ini. Apalagi di Jawa. Saya lihat di Jawa, banyak orang berpikir asal percaya sudah cukup. Yang saya paling sering dengar di pulau Jawa, di antara suku Jawa di sini adalah kalimat, “Semua itu sungai yang berbeda yang menuju ke laut yang sama.” Benar? Pernah dengar itu? Semua ini sungai yang berbeda menuju ke laut yang sama. Saya cuma bingung. Orang belum pernah ke ujung sungai, bagaimana dia tahu itu laut-laut yang sama dengan saya? Ya, kan? Dia masih di dalam sungai. Nanti dia sampai ke laut, daripada penuh air itu penuh api. Semua manusia hanya wishful thinking di sini. Mudah-mudahan. Yang penting tulus. Yang penting beriman. Tetapi waktu Roh Kudus datang, Paulus beritakan Injil dengan apa? Kepastian yang kokoh.
Jangan pulang dari gereja pada hari Pentakosta tanpa keyakinan di dalam hatimu, bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Selama 40 hari Yesus mengajar kebangkitan, kematian, kenaikan ke surga. Yesus mengajar Injil ulang kepada murid Dia. Kenapa? Karena mereka nggak yakin. Salah satu ayat di Alkitab yang paling mengagetkan saya adalah sebelum amanat agung di Matius 28, dikatakan bahwa, “Orang keluar dari Yerusalem bersama dengan Yesus. Mereka menyembah Dia dan ada orang yang ragu-ragu.” Loh, Kristus sudah bangkit. Sudah memberi bukti-bukti, kan? Akhirnya, mereka bersama dengan Yesus, tetapi walaupun mereka bisa bersama dengan Dia dan beribadah kepada Kristus, masih ada yang ragu-ragu. Itu membuat saya kaget luar biasa. Kalau anda ragu-ragu, OK, anda belum melihat Kristus yang bangkit. Mereka berdiri di depan Kristus, masih ragu-ragu, lho! Kenapa? Roh Kudus belum turun.
Kita orang Kristen yang ragu-ragu mungkin belum percaya kepada Injil. Kalau kita orang Kristen yang masih penuh dengan keraguan, mungkin kita hanya menjadi Kristen KTP saja. Kenapa? Karena waktu kita miliki Roh Kudus, kita punya kepastian yang kokoh. Berani. Berani memakai hidup, berani mati bagi Injil ini, berani memberi kekayaan kita untuk menyebarkan berita ini, berani percaya segala yang dikatakan Yesus. Kenapa? Karena Roh Kudus memberi saya kepastian yang kokoh. Yakinkah hari ini, Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan? Dunia ini berkata, “Asal baik, asal banyak berbuat baik, asal amal saya lebih dari dosa saya, akhirnya Tuhan akan terima saya.” Itu omong kosong semua.
Adam di Firdaus. Dia bukan di Firdaus cuma satu hari, lho! Adam di Firdaus lama sekali. Setiap hal yang dia lakukan itu amal. Jadi, amal dia makin banyak, makin banyak, makin banyak. Hanya satu kali, Adam berbuat dosa, langsung timbangan dia begini (jatuh ke bawah-red). Jangan berpikir, “Aku lebih baik daripada jahat. Itu sudah cukup.” Perbuatan manusia tidak bisa menyelamatkan dia. Tidak ada banyak sungai menuju ke laut yang sama. Hanya ada satu jalan keselamatan, yaitu Yesus Kristus. Maka, Roh Kudus datang untuk memberi kepastian yang kokoh supaya kita punya keberanian untuk keluar memberitakan ini kepada orang lain dan kita menjalankan misi ini. Kenapa? Karena saya yakin Tuhan akan pakai berita ini untuk menarik orang percaya kepada Dia. Maka, saya berani. Saya nggak takut.
Saya datang ke Indonesia. Saya lihat orang di sini mungkin orang paling nekat seluruh dunia. Saya nggak pernah lihat bangsa senekat orang Indonesia. Kita naik motor, nggak pakai helm, nggak pakai rem, cuma brrrmm..brrrmm.. jalan. Saya heran. Kok, kenapa motor nggak pernah pakai rem. Akhirnya saya ke Solo. Saya lihat, semua anak pakai sepeda, ya. Mereka juga dari kecil pakai sepeda nggak pernah rem. Jadi, jelas waktu sudah dewasa, naik motor juga nggak pakai rem. Karena roda dua, berarti sepeda nggak pakai rem, naik sepeda motor juga nggak pakai rem. Nekat! Tidak ada helm. Tidak ada badan mobil yang kelilingi mereka. Cuma ada dirinya dengan motor. Brrrmmm… jalan. Padahal, jalannya penuh dengan lubang. Jalan penuh dengan bahaya, tetapi mereka jalan terus. Masih mendingan kalau dia brrrmmm.. dalam nama Yesus, kan? Tetapi tidak ada dalam nama Yesus pun. Nekat! Berani! Tetapi, kalau kita sekarang mau bersaksi bagi Kristus, takut. Takut! Maka, Yesus berkata, perlu ada Roh Kudus karena tanpa Roh Kudus tidak ada keberanian, tidak ada kepastian, dan tidak ada hikmat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pada saat kita membuka mulut.
Yesus berkata, Roh Kudus akan menolongmu karena anda hanya seorang biasa. Saya sudah tahu dan saya tahu, orang biasa, saya tidak mungkin lakukan hal yang luar biasa, yaitu merebut jiwa dari kerajaan iblis, kecuali ada kuasa dari atas. Maka, Tuhan berikan itu kepadamu pada hari Pentakosta. Yesus berkata, harus dengan Roh Kudus. Ada sesuatu yang anda harus mengetahui. Ada sesuatu yang anda harus miliki. Yesus juga berkata, ada sesuatu yang anda harus menjadi. Kenapa Yesus lakukan ini semua? Dia berkata di dalam ayat ke-8: “Tetapi kamu akan menerima kuasa,kalau Roh Kudus turun ke atas kamu dan kamu akan menjadi-” apa? Saksi. Menjadi saksi. Bukan anda akan menjadi ahli teologia. Jangan salah! Belajar teologia itu baik. Gereja kita banyak kesempatan untuk menambah ilmu tentang Alkitab. Ada sekolah Alkitab malam, ada STT, ada banyak seminar. Banyak kita menambah pengetahuan tentang teologia, tentang iman, doktrin kita, tetapi anda tidak dipanggil menjadi ahi teologi.
Banyak sekali saya bicara sama orang Kristen dan jawaban mereka selalu begini. “Kenapa kamu tidak beritakan Injil?” “Karena saya tidak tahu cukup untuk beritakan Injil.” Wah, saya sedih sekali dengar kalimat itu. Kita merasa, ”Aku belum cukup pengetahuan untuk menjadi saksi.” Padahal, seorang saksi tidak harus lulus sekolah baru jadi saksi. Apa definisi seorang saksi? Seorang saksi mengulangi apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, apa yang dia alami. Itu diceritakan saja kepada orang lain. Tidak harus mengerti semua latar belakang peristiwa ini. Hanya perlu ceritakan apa yang dia lihat, apa yang dia alami, apa yang dia rasakan, itu diberitahu kepada orang. Itu namanya saksi. Tetapi, kita berpikir sekarang, kalau tidak memenuhi satu standar dulu, saya tidak mungkin ceritakan Injil kepada orang lain.
Saya ada pelayanan orang Afghanistan di Jakarta. Dulu, ada yang datang ke gereja saya. Dia pilih gereja saya karena paling jauh dari asrama mereka. Ada seribu yang tinggal di asrama ini. Dia pilih yang paling jauh. Dia datang, tiap minggu dia datang ke gereja. Setelah sebulan, dia bawa 2 teman lagi. Setelah itu, mulai COVID, saya mulai ke tempat mereka, mengajar karena saya nggak bisa pergi pelayanan. Akhirnya, 3 menjadi 5, jadi 9. Sekarang, ada 50 orang Afghan yang saya baptis di Jakarta. Semua hasil kesaksian mereka kepada diri mereka. Aku tidak pernah pergi pintu ke pintu, ketok di pintu. Saya cuma ambil orang ini. Orang ini tidak sekolah tinggi. Bahkan, kadang-kadang saya ngajar, saya cerita ini saya coba, “Eh Alidos coba cerita ulang.” Dia nggak bisa cerita. Setelah saya ajar 2 jam kepada mereka, ujung dari pelajaran, baru dia bisa cerita ulang perikop dari kehidupan Yesus. Begitu sederhana dia punya pemikiran.
Tetapi bulan lalu mereka bawa kepada saya orang dari Somalia, Somalia tahu? Negara yang satu negara yang paling keras, paling militan Islamnya. Orang Afgan membawa kepada saya orang Somalia dan berkata, “Dia mau percaya kepada Yesus, tolong ajarkan Injil kepada dia.” Siapa, bayangkan orang dari Afganistan bisa menginjil orang dari Afrika paling keras, Somalia, tetapi itu kenyataan. Kenapa? Roh Kudus membuat orang jadi saksi dan akhirnya mereka dengan apa yang mereka dapat di khotbah hari Minggu, apa yang mereka dapat hari Jumat di PA, mereka teruskan ke Iran, mereka teruskan ke Pakistan, mereka teruskan ke Afganistan, dan Injil mulai disebarluaskan bukan oleh saya, oleh mereka. Mereka jadi saksi, bukan ahli teologia.
Jangan kita pakai alasan untuk menunda kita punya tugas, karena jelas Roh Kudus hari Pentakosta turun untuk satu hal: menjadi saksi. Kristus berkata ada sesuatu yang Anda harus menjadi, menjadi saksi. Banyak orang berfikir aku tidak cukup tahu, tetapi ada juga orang lain yang berfikir saya tahu semua. Bahkan aku bisa menjadi peramal, nabi, saya bisa beritahu masa depan seseorang. Mereka mendekat kayak saksi Yehova. Saksi Yehova satu ajaran bidat yang sama sekali tidak diterima oleh kita. Coba, berkali-kali saksi Yehova berkata bahwa Yesus akan kembali lagi tahun 1918, tahun 1925, 75, 1989. Sudah lima kali saksi Yehova bernubuat Kristus akan datang kembali, Kristus akan datang kembali, sampai hari ini belum datang. Banyak orang Kristen hampir seperti orang saksi Yehova berfikir “Aku mendoakan seseorang, saya bisa menolong dia supaya dia akan mengerti masa depan dia.” Tetapi Kristus tidak memanggil kita untuk menjadi peramal. Kristus memanggil kita untuk bersaksi tentang satu peristiwa bersejarah yang sudah terjadi 2000 tahun yang lalu tetapi yang mengubah hidupmu pada hari ini.
Ada sesuatu yang Anda harus lakukan yaitu menjadi saksi. Yang menarik di dalam istilah saksi dalam bahasa Yunani adalah kata dasar itu adalah apa? Martir. Saksi terjemahan dalam bahasa Yunani martir, artinya apa? Begitu banyak orang yang berani bersaksi, berani hidup untuk Injil ini, semakin banyak mereka berani, semakin banyak mereka beritakan, mereka ditangkap, mereka disiksa, mereka dibunuh, mereka jadi martir, sehingga istilah saksi menjadi identik dengan kemartiran.
Di zaman kita hampir nggak ada martir di Indonesia. Jarang sekali di sini ada orang yang martir. Tahun lalu di pelayanan saya, lebih dari 47.000 orang Islam yang kita injili dari suku yang paling keras di Indonesia, Aceh, Minang, Madura, Sunda. Bukan orang Jawa yang kami injili. 47.000 belum ada orang dipenjarakan, belum ada orang dibunuh. Indonesia relatif aman untuk menginjili. Tetapi kita dipanggil menjadi saksi bukan untuk mungkin kita tidak akan mati sebagai martir, tetapi kita harus mati kepada perasaan diri kita sendiri. Saya mau hidup sepenuhnya kepada Tuhan, saya mau menjalankan kehendak-Nya di dalam dunia ini, saya mau supaya nama Kristus dipermuliakan di mana pun aku diutus, kenapa? Karena Kristus layak disembah sujud oleh semua bangsa.
Jadi aku harus mengetahui tentang Injil, aku harus menerima Roh Kudus supaya saya punya kuasa. Saya akan menjadi saksi-Mu, saya akan hidup untuk memperkenalkan Kristus kepada orang lain, dan kemudian Yesus berkata, “Ada sesuatu yang saya ingin Anda lakukan, pergi ke Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi.” Apa itu Yerusalem kita? Di mana Yerusalem? Di mana Allah mengutus Anda ke dalamnya. Yerusalem adalah tempat yang dekat kepada kita, yang orang-orang yang mengenal kegagalan saya. Petrus, waktu dia menyangkal Kristus tiga kali, itu di kota Yerusalem. Sekarang semua murid Kristus tahu kegagalan Petrus, seluruh kota Yerusalem tahu kegagalan Petrus. Sekarang Petrus terima Roh Kudus hari Pentakosta, berdiri di mana? Di Bait Suci, itu ada di mana? Di kota Yerusalem. Warga kota Yerusalem, sekarang hadir di situ dan melihat, “Oh ini orang yang menyangkal Kristus ya? Ini orang yang mempermalukan Tuhannya. Apa yang dia bisa katakan yang penting di sini?”
Hal yang pertama yang dilakukan oleh Yesus adalah mengutus kita kembali kepada tempat kegagalan kita. Mungkin selama ini Anda merasa saya tidak punya kesaksian yang baik di keluarga. Mungkin anakmu tidak mengikut Tuhan karena kita mendidik terlalu keras di rumah. Satu kalimat yang paling sulit dikeluarkan dari mulut orang Indonesia adalah “I’m sorry, maaf, aku bersalah” titik. Seringkali orang berkata, “Aku bersalah karena kamu begini, gini, gini, gini.” Itu bukan minta maaf. Tetapi kalau kita orang Kristen yang mengerti, percaya pengampunan Kristus bahwa Allah mengampuni saya dari kesalahan jauh lebih besar, saya tidak masalah lagi merendahkan diri di depan anak pun dan minta maaf kepada dia. Kenapa? Karena ada kuasa kesaksian Injil pada saat saya mencerminkan pengampunan Allah di dalam hubungan yang paling inti dengan saya.
Di mana engkau gagal, di mana tempat kegagalanmu, di mana Anda perlu pergi kepada mereka dan menghadirkan Injil kembali kepada mereka. Petrus bisa berdiri di Yerusalem, di depan seluruh kota, dan dia bisa bersaksi tentang Kristus kenapa? Sekarang dia milik Roh Kudus. Sekarang hari Pentakosta dan dia bisa pergi menjadi saksi
Kemudian kita diutus ke Yudea. Yudea adalah orang sesuku dengan kita tetapi tinggalnya lebih jauh dari kita. Kalau kita orang Chinese, berarti kita melayani orang Chinese di Jogja, di Semarang, di Solo. Kalau kita orang Jawa, berarti kita pergi dari sini ke desa-desa, ke Kaliurang atau ke Bantul, ke tempat lain, dan kita bersaksi juga kepada mereka dan tidak ada hambatan Injil. Saya tanya kepada Vikaris Lukman kemarin, “Sudah lancar bahasa Jawa belum?” Ya, katanya boten, ya belum. Mengapa? Bahasa Jawa itu sulit, Bahasa Indonesia gampang, sulit menginjili orang Jawa kecuali kita pakai bahasa Jawa. Maka di sini hadir orang Jawa. Orang Jawa ada di gereja ini supaya apa? Supaya melalui Bahasa Jawa, Injil akan mengalir secara alamiah. Injil melalui budaya, suku, akan terus dipakai oleh Tuhan untuk menyebarkan kabar baik kepada orang lain, pergi ke Yudea-mu. Bagaimana kita ke sekolah-sekolah Kristen untuk KKR siswa, untuk KPIN dan sebagainya, menjangkau Yudea sekeliling kita.
Tetapi di sini juga Yesus mengutus mereka ke Samaria. Samaria adalah orang yang dekat, tetapi punya iman yang berbeda dengan kita. Orang Samaria mirip sekali, punya agama dengan orang Yahudi, sama-sama punya bait suci, sama-sama punya mezbah dan kurban, sama-sama percaya kepada kitab Taurat, sama-sama punya imam besar. Mirip sekali tetapi satu punya Injil, satu punya perbuatan baik. Tidak beda jauh dengan agama mayoritas sekeliling kita dan Tuhan juga mengutus kita untuk membawa cerita ini kepada orang Islam sekeliling kita supaya juga Injil diberitakan kepada mereka.
Dan bukan hanya di situ, sampai ke ujung bumi, sampai ke ujung-ujung dari dunia ini. Dan syukurlah di dalam Lukas jilid 2 ini, Injil sudah dibawa sampai ke ujung bumi sehingga di kota Yogyakarta ada berita Injil, ada juga gereja yang berdiri, ada orang yang percaya dan diselamatkan. Kenapa ? Jilid kedua ini sudah digenapi.
Bagaimana jilid ketiga kita? Masih banyak desa-desa sekeliling kita, masih banyak daerah yang belum dijangkau dengan berita Injil. Waktu Yesus selesai mengajar ini empat puluh hari, Dia berkata Roh Kudus akan kuberikan, misi ini yang harus Anda lakukan, sekarang Yesus pergi. Kalau Anda perhatikan di ayat 10 & 11 ada sesuatu yang menarik sekali yang terjadi. Coba hitung berapa kali istilah langit atau surga ada di situ. “Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka dan berkata kepada mereka “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti melihat Dia naik ke surga.”
Empat kali ada istilah langit, langit, langit, surga. Pertama kali Yesus mengajar mereka, mereka berkata, “Apakah Engkau pada masa ini akan mendirikan kerajaan bagi Israel?” Mereka pertama terlalu melihat ke dunia ini, sekarang mereka bertobat. Kan namanya manusia, kalau itu salah saya akan yang lain, jadi karena ini salah, sekarang saya beda. Sekarang saya hanya akan lihat ke atas, langit, langit, langit, surga, sampai waktu Yesus angkat, kemudian ditutup dengan awan. Mereka masih lihat ke atas sampai lehernya pegal sekali. Mereka lihat, “Wah, Dia sudah naik berarti sebentar lagi kembali ya.” Pertama mereka terlalu duniawi sekarang mereka terlalu surgawi sampai Allah harus kirim dua orang dan Lukas selalu kalau itu malaikat Lukas selalu bilang malaikat. Jadi dua orang ini kemungkinan besar itu Musa sama Elias. Dikirim kembali, “Hei coba kasih tahu rasul Saya, Aku baru ajarkan akan menjadi saksi-Ku kenapa mereka terus lihat ke surga? Karena aktivitas lagi tidak ada di surga, aktivitas sekarang ada di bumi ini.”
Sebelumnya murid terlalu duniawi memikirkan dirinya, posisi, status, kekayaan, ambisi, sekarang jadi terlalu rohani juga tidak berguna bagi dunia ini. Jangan kita menjadi orang Reformed Injili sok benar, sok yakin akan teologia kita, sok bangga tentang gereja kita sehingga kita tidak berguna untuk kerajaan Allah di dunia ini. Bukan surga yang menjadi sorotan hari ini untuk kita, hari Pentakosta ingatkan kita bahwa dunia ini, bumi ini menjadi sorotan kita karena misi kita menjadi saksi ke keluarga, kepada desa-desa sekeliling di sini, kepada gang-gang di kota ini, kepada bangsa-bangsa lain belum digenapi oleh kita.
Marilah semangat Pentekosta dipenuhi oleh kita. Jilid pertama ditulis oleh Yesus, jilid kedua ditulis oleh Kisah Para Rasul dan sekarang jilid ketiga pekerjaan jemaat GRII Jogja untuk menghadirkan Kristus dan Injil di Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Marilah kita berdoa.
Tuhan terima kasih Engkau telah memberi kepada kami segala sesuatu yang kami butuhkan. Kami tidak kekurangan apapun untuk memenuhi kota ini dengan berita Injil. Kami tidak kekurangan apapun untuk melihat orang bertobat dan dibaptis. Kami berdoa Tuhan kiranya dalam sisa tahun ini setiap jemaat ini bisa menjangkau satu jiwa baru dan menarik mereka percaya kepada Yesus. Kenapa? Karena kami punya kepastian yang kokoh dan keberanian dari Roh Kudus. Oh Tuhan kiranya kami akan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Engkau, berilah kuasa kepada kami, pakailah hidup kami, biar kami menjadi saksi-Mu untuk menjalankan tugas membebarkan berita ini kepada dunia sekeliling kami. Oleh sebab itu Tuhan, kami mohon kiranya Engkau akan memakai kami pada hari Pentakosta ini, supaya kami semakin bangkit untuk jalankan misi-Mu di dunia ini. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, Amin.
