Paulus Menerima Penglihatan dan Penyataan, 15 Juni 2025

Paulus Menerima Penglihatan dan Penyataan

2 Kor. 12:1-10

Pdt. Dawis Waiman, M. Div

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita membaca 2 Kor. 12 ini, mungkin ada satu kalimat yang penting untuk kita bisa pegang dan mengerti di dalam 2 Kor. 12 ini. Dan kalimat ini bertolak belakang sekali dengan apa yang orang dunia ajarkan kepada kita. Di dunia kita melihat bahwa kehidupan itu sangat-sangat penting kalau disertai dengan kemampuan, dengan satu keberanian untuk mengungkapkan siapa diri kita, apa yang menjadi kemampuan kita, apa yang menjadi prestasi yang kita miliki di dalam kehidupan kita. Tetapi pada waktu kita kembali pada Kitab Suci, kita mendapatkan satu prinsip yang sangat bertolak belakang sekali. Saya bukan berkata bahwa memiliki kemampuan dan juga bisa mengatakan kemampuan kita itu sesuatu yang tidak diperbolehkan. Tetapi paling tidak ketika kita kembali pada Kitab Suci, kita mengerti sekali bahwa Alkitab mengajarkan bahwa orang-orang yang lemah, orang-orang yang memiliki keterbatasan, orang-orang yang cacat, orang-orang yang dicap dunia sebagai orang yang tidak mampu, orang yang harus disingkirkan, orang yang tidak layak untuk berada di kehidupan kita atau di dalam komunitas tertentu di dalam kehidupan kita, itu adalah orang-orang yang justru bisa dipakai oleh Tuhan untuk melayani Tuhan.

Saya ulangi kembali ya, pada waktu kita berbicara mengenai satu keterbatasan kita, pada waktu kita berbicara mengenai satu kecacatan kita atau kekurangan kita yang menurut orang dunia itu adalah hal yang merugikan kehidupan kita, dan saya percaya kita juga berpikir seperti itu sering kali dalam kehidupan kita, tetapi justru melalui Kitab Suci ini adalah yang menjadi dasar kunci Tuhan memakai kita di dalam pelayanan. Jadi bukan ketika kita sombong, bukan ketika kita mampu, bukan karena kita merasa hebat justru Tuhan baru memakai diri kita, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya.

Nah ketika kita membahas ini, saya membandingkan sedikit dengan apa yang kita bahas pada waktu Yesus Kristus mau disalibkan dan mati. Pada waktu kita membaca di dalam penyaliban Yesus Kristus, saat itu Yesus memberikan kepada kita peringatan bahwa atau memberikan peringatan kepada Petrus bahwa, “Sebelum ayam berkokok engkau akan menyangkali Aku tiga kali.” Dari pandangan ini atau pengajaran ini, kita mengerti pada waktu kita menghidupi kehidupan Kristen kita, pada waktu kita mengikuti Kristus ada sisi di mana mungkin kita bisa bersikap seperti Petrus, kita menyangkali Tuhan Yesus secara pengakuan dari mulut kita ataupun dari tindakan yang kita lakukan di dalam kehidupan kita atau ketidak-percayaan yang kita lakukan dalam hidup kita terhadap perkataan Tuhan Yesus. Tetapi dalam sisi ini atau pada bagian ini saya mau mengajak Bapak, Ibu melihat bukan dalam bentuk penyangkalan yang membuat kita mungkin tidak dipakai Tuhan atau bisa menjadi satu wujud kerendahan hati kita untuk Tuhan mulai memproses dan memakai kita juga seperti halnya Petrus. Tetapi di dalam bagian ini yang kita mau lihat adalah tidak sampai mungkin kita menyangkali Yesus dalam hidup kita, tetapi pada waktu kita melihat “Oh saya ternyata orang yang lahir di dalam kehidupan yang kurang baik. Oh saya adalah orang yang mungkin terlahir sebagai orang yang kurang fasih dalam berbicara. Saya adalah orang yang terlahir sebagai orang yang punya kelemahan di dalam tubuh saya. Saya saat ini secara ekonomi kurang baik. Andai kata Tuhan boleh memberikan kondisi-kondisi yang lebih baik dalam hidup saya maka saya akan bisa melayani Tuhan dengan lebih baik dan lebih memuliakan nama Tuhan.” Jadi pada waktu kita membaca bagian ini, Paulus mau mengajak kita melihat nggak harus sampai kita menyangkali Yesus untuk baru bisa diproses oleh Tuhan. Tetapi dalam hal-hal yang kita alami sehari-hari dalam hidup kita, hal-hal yang kita anggap merupakan kekurangan seandainya itu disingkirkan dari hidup kita, kita bisa melayani Tuhan lebih baik lagi dalam hidup kita, itu yang ingin disorot oleh Paulus di dalam bagian ini.

Menarik, di dalam pembahasan seminar kemarin oleh Vik. Mercy di Solo, Vik. Mercy ada bilang kayak gini “Kadang-kadang kita berpikir bahwa kalau saya mau melayani Tuhan, bukan sekarang waktunya. Tetapi ketika saya sudah disembuhkan baru saya mau melayani Tuhan. Kalau saya mau melayani Tuhan, bukan sekarang waktunya karena apa? Saat ini saya belum memiliki pekerjaan yang tetap atau saya belum memiliki pekerjaan. Itu sebabnya saya berdoa dulu kepada Tuhan supaya saya diberikan pekerjaan. Kalau pekerjaan itu sudah saya terima di dalam hidup saya baru saya akan melayani Tuhan.” Tapi pada waktu Vik. Mercy menggunakan kalimat-kalimat ini, yang saya juga sering kali temukan di dalam pelayanan dan pembicaraan dengan orang-orang, maka Vik. Mercy berkata seperti ini “Yang benar adalah justru pada waktu engkau sehat dan pada waktu engkau mendapat pekerjaan, engkau tidak akan memiliki waktu untuk melayani Tuhan. Karena saat itu engkau akan berkata bahwa kau terlalu sibuk sehingga kau tidak punya waktu untuk melayani Tuhan.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Alkitab menyatakan kepada kita pada waktu kita hidup di dalam dunia ini, kita memiliki kondisi-kondisi yang sering kali kita anggap itu adalah hal yang menghambat kita untuk melayani Tuhan. Tetapi menariknya di sini, Paulus mengajak kita melihat kondisi-kondisi yang membuat kita berpikir itu adalah masalah di dalam hidup kita mengikut Tuhan, masalah untuk memuliakan Tuhan, masalah untuk bisa bekerja lebih banyak untuk Tuhan, justru merupakan kunci kita bisa melayani Tuhan, melayani Kristus secara lebih baik lagi. Nah di dalam hal ini ada satu hal yang kita perlu soroti, yaitu apa yang membuat kita berpikir seperti ini? Tentunya di dalam satu sisi kita bisa berkata karena kita dibesarkan di dalam dunia ini menurut perspektif dari orang-orang dunia, di mana orang-orang dunia merasa  bahwa kemampuan, potensi, kekuatan dan daya yang dimiliki atau talenta yang dimiliki itu merupakan prestasi yang harus dimiliki untuk menilai derajat atau tingkatan atau pengakuan diri seseorang. Tetapi di balik dari semua itu saya juga percaya apa yang Alkitab katakan, di balik dari peristiwa di mana kita hidup di dalam dunia, di mana orang-orang dunia melihat kemampuan dan kebanggaan diri, memuji diri itu sebagai sesuatu yang penting, tetapi Alkitab mengajarkan kita melihat di balik semua itu ada peperangan, ada pekerjaan iblis yang berusaha untuk membuat kita mempertanyakan kebaikan yang Tuhan berikan atau kerjakan di dalam kehidupan kita.

Bapak, Ibu bisa bandingkan itu dengan Efesus 6. Di dalam Efesus 6, Paulus mendorong kita untuk mengenakan senjata rohani. Lalu apa yang menjadi tujuan kita, atau manfaat apa, atau kenapa kita harus mengenakan senjata rohani itu? Karena di dalam ayat yang ke-11 dikatakan, “peperangan kita itu bukan melawan dunia ini saja. Tetapi peperangan kita adalah melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat yang ada di udara.” Jadi di balik dari semua hal yang Tuhan izinkan terjadi di dalam kehidupan kita, ada pekerjaan iblis yang bekerja di dalam kehidupan dari orang-orang Kristen dan di dalam kehidupan dari orang-orang dunia, untuk membuat kita mulai mempertanyakan kebaikan-kebaikan yang Tuhan berikan di dalam kehidupan kita atau yang Tuhan izinkan terjadi di dalam kehidupan kita.  

Tadi ada pujian Mazmur 23, itu adalah satu pujian yang sangat indah sekali. Mazmur 23 juga sangat indah sekali karena mencatat, pada waktu kita berjalan, Tuhan selalu menuntun hidup kita. Apakah itu di dalam kondisi yang baik ataupun di dalam kondisi yang tidak baik. Dan kata yang digunakan itu jelas sekali. Tuhan yang menuntun kita masuk ke dalam segala situasi yang kita alami dalam kehidupan kita. Dan menariknya lagi, kalau Bapak Ibu bandingkan di dalam bahasa Inggrisnya, maka ayat atau kata yang digunakan untuk menggambarkan kondisi yang baik dan relasi dengan Tuhan itu adalah I and You. Tetapi pada waktu masuk ke dalam lembah kekelaman kata yang digunakan adalah I and Thou. Ada satu relasi yang lebih mendalam, yang Tuhan bangun melalui kehidupan kita, yang ada di dalam pergumulan itu, pada waktu kita masuk di dalam hal-hal yang kita anggap buruk ini.

Nah kenapa hal itu bisa terjadi? Karena ada iblis yang berusaha untuk membuat kita mempertanyakan semua kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Tetapi di balik dari pekerjaan iblis yang berusaha untuk menjauhkan kita dari Tuhan, meragukan kebaikan Tuhan dalam kehidupan kita, Alkitab mau mencatat, di balik itu tangan Tuhan, kuasa Tuhan itu tidak pernah bisa dikalahkan oleh iblis. Saya percaya ini adalah hal yang penting ketika kita berbicara mengenai kelemahan yang kita miliki dalam diri kita, dan ujian atau pencobaan yang iblis lakukan dalam kehidupan kita, atau peperangan dan usaha yang iblis berusaha lakukan untuk menggagalkan kesaksian hidup kita dan ketaatan kita di hadapan Tuhan dan untuk melayani Tuhan.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang membuat, tadi kita bicara, Paulus di sini mengatakan bahwa limitasi atau keterbatasan kita itu menjadi satu kunci untuk kita dipakai oleh Tuhan? Kalau kita bicara seperti ini, ada baiknya kita mundur ke dalam beberapa pasal yang sebelumnya. Kalau kita perhatikan dari sikap Paulus sendiri mungkin kita akan berpikir, “Oh, Paulus adalah orang yang hebat. Orang yang kuat, orang yang tidak pernah menyerah di dalam pelayanannya. Orang yang ketika dirajam hampir mati bangkit kembali dengan segala keyakinan dan kekuatan untuk melayani Tuhan kembali.” Sehingga kita berpikir bahwa Paulus adalah orang yang begitu luar biasa sekali. Kalau saya ingin melayani Tuhan, kriterianya adalah seperti Paulus, yang begitu pemberani, pantang menyerah, tidak takut bahaya, tidak takut musibah, tidak takut ancaman terhadap nyawanya. Tetapi kalau Bapak, Ibu perhatikan dari perspektif Paulus punya kehidupan yang lain, yang dikatakan oleh bagian ini, dalam bentuk yang kita bisa mengerti tetapi dalam bahasa yang ditulis secara sarkastik, seperti itu, maka kita mendapatkan ternyata pandangan kita terhadap Paulus itu tidak sepenuhnya dimengerti oleh orang-orang Kristen yang ada di Korintus.

Misalnya kalau Bapak, Ibu baca di dalam 2 Kor. 10:1, “Aku Paulus seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu. Tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan. Aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah.” Apa yang Paulus mau mengatakan atau katakan di sini? Apa yang menjadi pandangan orang-orang terhadap diri Paulus pada waktu itu? Kalau kita baca dari kebalikannya yang ketika membuat Paulus menyatakan ini, berarti orang-orang Korintus itu menuduh Paulus adalah orang yang penakut, pengecut, bukan? Dan saya percaya ini tidak beda dengan apa yang Paulus kemudian katakan di dalam 2 Kor. 11: 31, 32 dan 33. Pada waktu Paulus melayani, dia bilang, “aku tidak berdusta” di dalam ayat 31. Tidak berdusta mengenai hal apa? Mengenai ketika dia pergi ke Damsik dan di wilayah Damsik wali negeri Raja Aretas itu. Maka Raja Aretas, ketika menyuruh orang untuk mengawal kota dan menangkap diri Paulus, apa yang Paulus lakukan? Dia katakan di ayat 33, “tanpa rasa malu, tanpa segan, tetapi dalam sebuah keranjang, aku diturunkan dari sebuah tingkap luar tembok kota dan dengan demikian aku terluput dari tangannya.” Artinya apa? Ketika Paulus menghadapi bahaya, Paulus adalah orang pengecut. Dia melarikan diri, dia tidak berani berdiri menghadapi bahaya itu demi nama Yesus dan mati demi nama Yesus Kristus. Tapi dia pergi meninggalkan kota itu dan bersembunyi dari raja wilayah tersebut.

Lalu kalau kita baca di dalam ayat yang kedua, di dalam pasal yang ke 10, dikatakan “aku meminta kepada kamu, jangan kamu memaksa aku untuk menunjukkan keberanianku dari dekat. Sebagaimana aku berniat bertindak keras terhadap orang-orang tertentu yang menyangka bahwa kami hidup secara duniawi.” Maksudnya adalah, “Paulus, kami meragukan engkau adalah orang yang rohani.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, menarik, ya? Kenapa orang-orang Korintus menuduh Paulus tidak rohani? Mungkin salah satu sebabnya adalah Paulus mengajarkan boleh makan segala macam makanan; apakah itu yang dipersembahkan kepada berhala, ataukah itu yang tidak dipersembahkan kepada berhala. Karena kita tahu itu hanya ada satu Tuhan saja, dan itu membuat kita boleh memakan itu semua. Tetapi jangan lupa, ada orang-orang Kristen Yahudi, yang bersumber dari Yerusalem yang sangat tidak setuju dengan hal ini, mereka menganggap tindakan itu mencemarkan hukum Musa. Nah saya kira, itu yang membuat orang-orang di Korintus termakan untuk berkata bahwa dia bukan orang yang rohani, dia adalah orang yang duniawi. Apalagi kalau kita lihat Titus, Titus tidak pernah Paulus suruh sunat ketika melayani. Jadi apa yang diajarkan Tuhan melalui hukum Musa, sepertinya itu menjadi hal yang dilanggar oleh Paulus.

Kemudian kalau Bapak, Ibu baca ayat yang-7, di situ ada hal lain lagi yang dicatat atau dituduhkan kepada Paulus. Ayat yang ke-7, “Tengoklah yang nyata di depan mata kamu! Kalau ada seorang benar-benar yakin, bahwa ia adalah milik Kristus, hendaklah ia berpikir di dalam hatinya, bahwa kami juga adalah milik Kristus sama seperti dia.” Maksudnya bagaimana? Hal yang ketiga adalah, jangan-jangan Paulus bukan seorang yang percaya kepada Kristus, dia bukan orang yang ada di dalam anggota tubuh Kristus. Jadi pertama, mereka mencap Paulus seorang penakut, yang kedua mereka mencap Paulus seorang duniawi, yang ketiga mereka mencap jangan-jangan Paulus adalah orang bukan Kristen.

Tapi kalau ada yang lebih naik lagi berkata, dia mungkin orang Kristen tetapi level dia itu di bawah orang Kristen yang rohani, orang Kristen yang super itu. Di mana ini dikatakan? Di ayat yang ke-12. “Memang kami tidak berani menggolongkan diri kepada atau membandingkan diri dengan orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri.” Jadi Paulus berkata, secara rohani mungkin kami adalah orang Kristen, tetapi orang-orang Korintus berkata, “Engkau adalah orang Kristen tingkat kedua atau engkau adalah hamba Tuhan atau rasul tingkat yang kedua. Kalau dibandingkan dengan para rasul yang lain atau orang-orang Kristen yang lain tersebut, yang melayani di Korintus ini.”

Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika Paulus menghadapi semua tuduhan ini, apa yang Paulus kemudian katakan, sangat menarik sekali. Pada waktu Paulus mendapatkan tuduhan itu, dia ada sedikit memberikan pembelaan diri. Tetapi pada waktu dia memberikan pembelaan diri, dia menggunakan ada dua cara atau mungkin satu cara untuk mengatakannya, atau mungkin bisa dikatakan dua cara, tetapi kemudian dia menarik satu kesimpulan yang sangat penting sekali. Caranya bagaimana? Pertama adalah Paulus berkata, “kamu meninggikan dirimu sebagai orang yang berkata, engkau adalah orang yang rohani, engkau adalah orang yang baik, engkau adalah orang yang memiliki iman, engkau adalah orang yang memiliki hal-hal yang luar biasa bukan?” Tetapi di dalam pasal yang ke-11, Paulus berkata, “kalau Engkau ingin membanggakan hal-hal dunia itu, maka aku bisa membanggakan hal itu juga. Tetapi aku mau katakan, ini bukan sesuatu yang diajarkan Tuhan Yesus.”

Kita bisa baca itu di dalam pasal yang ke-11, mulai dari ayat 16 saja ya. 2 Kor. 11:16, “Kuulangi lagi: jangan hendaknya ada orang yang menganggap aku bodoh. Dan jika kamu juga menganggap demikian, terimalah aku sebagai orang bodoh supaya aku pun boleh bermegah sedikit. Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah. Karena banyak orang yang bermegah secara duniawi, aku mau bermegah juga. Sebab kamu suka sabar terhadap orang bodoh, karena kamu begitu bijaksana: karena kamu sabar, jika orang memperhambakan kamu, jika orang menghisap kamu, jika orang menguasai kamu, jika orang berlaku angkuh terhadap kamu, jika orang menampar kamu. Dengan sangat malu aku harus mengakui, bahwa dalam hal semacam itu kami terlalu lemah. Tetapi jika orang-orang lain berani membanggakan sesuatu, maka aku pun – aku berkata dalam kebodohan – berani juga!” Lalu apa yang Paulus katakan? Di ayat 22, Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani! Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel. Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham! Apakah mereka pelayan Kristus? – aku berkata seperti orang gila – aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.” Dan seterusnya Bapak, Ibu, bisa baca bagaimana Paulus mengalami penderitaan-penderitaan dan kesulitan-kesulitan di dalam pelayanan yang dia alami tersebut.

Tetapi menariknya ketika Paulus menggunakan cara yang sama ini untuk mengatakan bahwa dia tidak kalah hebat dibandingkan orang-orang yang mengatakan diri mereka hebat itu, berani itu, punya kuasa itu, Paulus kemudian membalik situasi kembali. “Aku adalah orang yang bodoh. Aku adalah orang yang lemah. Aku adalah orang yang melarikan diri juga dari penangkapan yang terjadi.” Kenapa Paulus berbicara seperti ini? Karena Paulus mengerti satu prinsip yang dipegang di dalam ayat yang ke-12 pasal 10. Di dalam pasal 10, ayat 12, bagian yang kedua, Paulus berkata, “mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka.” Artinya adalah, pada waktu kita ingin menyombongkan diri, Paulus berkata kita mau menyombongkan diri atas standar apa? Menggunakan nilai dari mana? Siapa yang menentukannya? Kalau kita menggunakan nilai diri kita sendiri, standar diri kita sendiri, untuk menilai siapa diri kita, bagi Paulus itu adalah hal yang bodoh. Makanya Paulus nggak mau menggunakan cara ini untuk menilai diri dia, lalu apa yang menjadi cara yang Paulus gunakan? Paulus menggunakan cara nilai yang Tuhan berikan kepada dirinya. Maksudnya adalah selama saudara menilai diri penting, belum tentu saudara adalah penting. Mungkin di hadapan manusia kita adalah orang yang penting, tetapi di hadapan Tuhan kita bukan orang yang penting. Tetapi, selama Tuhan menilai diri kita sebagai orang yang penting, orang yang bekerja untuk pekerjaan Tuhan, maka Tuhan akan atau maka penilaian itu adalah satu penilaian yang tidak berdusta. Itu adalah penilaian yang benar dan tepat yang bersumber dari Tuhan sendiri.

Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita melayani Tuhan –saya lihat Paulus mau mengajar kita prinsip yang penting, ya– kita, kadang-kadang, kenapa ada suatu friksi dalam pelayanan? Mungkin karena kita merasa diri lebih hebat daripada yang lain. Tetapi yang Paulus mau ajak kita melihat: kita masing-masing bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Kalau kita masing-masing bertanggung jawab di hadapan Tuhan, itu berarti pada waktu kita melayani, memang kita melayani orang Kristen. Tapi pada waktu kita melayani orang Kristen, Alkitab berkata kalau kita bertanggung jawab di hadapan Tuhan, itu berarti kita melayani Tuhan melalui melayani orang Kristen. Nah, pada waktu kita melayani Tuhan melalui orang Kristen, yang penting itu bukan bagaimana mereka menilai tentang diri kita. Tetapi yang penting adalah bagaimana Tuan kita menilai diri kita. Apakah itu kesetiaan kita, apakah itu kemampuan kita, apakah itu hal-hal lain yang mungkin Tuhan lihat sebagai hal yang penting di dalam pelayanan yang kita lakukan tersebut, ya. Jadi, bukan hal yang kita katakan mengenai diri, itu yang penting, tetapi apa yang Tuhan katakan mengenai diri kita, itu yang penting. Dan saya lihat, dalam hal ini, itu bisa dilihat dari konfirmasi pelayanan yang kita kerjakan juga. Ada orang belum apa-apa meninggikan diri. Tapi ada orang yang melayani dengan diam, dengan tenang, dengan tidak meninggikan diri, tetapi pelayanan yang mereka kerjakan betul-betul diberkati oleh Tuhannya.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, selain dari prinsip ini, maka Paulus juga mau ajak kita lihat: bahwa kelemahan yang ada, memang satu sisi adalah aset dalam hidup kita. Tetapi hati-hati juga kepada bagian yang kedua yaitu berkaitan dengan kebanggaan terhadap hal-hal yang rohani yang kita miliki dalam hidup kita. Nah, ini dikatakan oleh Paulus di dalam bagian yang tadi kita baca di pasal 12:1 dan seterusnya. Di sini Paulus mengajak kita melihat bahwa pada waktu kita melayani, ada kemungkinan kita bisa jatuh ke dalam kesombongan rohani. Dan kesombongan rohani ini bukan sesuatu yang hanya berbicara mengenai apa yang Tuhan karuniakan kepada diri kita yang kita kemudian banggakan, seperti itu. Tapi mungkin juga kebanggaan kita karena kita adalah orang yang rendah hati di dalam hal yang rohani. Tapi, di sini Paulus mau mengajak kita melihat dari perspektif karunia yang Tuhan berikan kepada diri dia dan juga dibandingkan dengan orang-orang Kristen yang menentang dirinya itu, ya. Nah, dalam hal yang rohani ini berbicara mengenai apa? Di sini dikatakan ada seorang yang dilihat oleh Paulus. Diangkat ke tingkat ketiga di surga. Lalu dia melihat hal-hal yang tidak terkatakan di situ. Sesuatu yang mungkin bisa dikatakan hal yang sangat mulia sekali. Dia melihat Firdaus itu sendiri. Tetapi menariknya adalah: pada waktu Paulus menggunakan atau mengatakan hal ini, sebenarnya dia sedang berbicara mengenai siapa? Banyak penafsir yang mengatakan Dia sedang berbicara mengenai diri dia sendiri.

Coba buka tadi, ya, kembali, ya, pasal 12:2–3, “Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau – entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu. Allah yang mengetahuinya – orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. Aku juga tahu tentang orang itu, – entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya – ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.” Lalu, ayat 5: “Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku.

Nah, waktu kita baca ayat 2 sampai ayat 4 ini, ada satu pertanyaan yang muncul yang membuat para penafsir itu mengatakan, “Ini pasti Paulus sendiri yang diangkat.” Tahu dari mana? Karena Paulus sendiri melihat orang itu! Dia melihat orang itu di mana? Di tingkat ketiga surga. Di Firdaus. Kalau Paulus bisa melihat orang itu ada di Firdaus, berarti dia juga ada di Firdaus. Itu sebabnya banyak orang berkata, “Ini bicara tentang Paulus sendiri, tapi kenapa Paulus itu menggunakan kata ganti orang ketiga di situ? Kenapa dia tidak mau mengatakan bahwa itu aku sendiri yang diangkat oleh Tuhan ke surga?” Karena dia mengerti cara Tuhan bukan seperti itu. Cara Tuhan bukan dengan membuat diri kita meninggikan diri kita, lalu membanggakan apa yang Tuhan kerjakan: berkat-berkat rohani yang kita miliki di dalam kehidupan kita.

Saya kira prinsip ini adalah prinsip inkarnasi Kristus. Waktu Yesus datang ke dalam dunia, Dia menanggalkan segala kemuliaan-Nya. Walaupun Dia memiliki karunia yang begitu luar biasa sekali sebagai seorang manusia. Walaupun Dia bisa buktikan bahwa Allah menyertai Dia, tetapi Dia begitu rendah hati sekali di dalam melayani di tengah-tengah dunia ini. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Paulus juga menjalankan prinsip ini, ya. Dia tidak menyombongkan diri. Dia merendahkan diri. Dia tidak mau membanggakan karunia yang dia terima itu padahal bukankah itu sesuatu yang sangat-sangat suka dibanggakan orang?

Bapak, Ibu tahu kan, belum berapa lama ada orang yang suka pergi ke neraka? Itu langsung disebarkan ke media sosial. Bapak, Ibu pernah dulu, sebelum orang pergi ke neraka, orang suka pergi ke surga. Itu pun disebarkan ke semua literatur yang ada. Kalau kita ngalami hal-hal rohani, itu hal yang membanggakan. Saya yakin itu sesuatu yang bisa memberi kekuatan bagi diri kita. Tapi, aneh sekali, Paulus ndak membanggakan itu. Bahkan dia menggunakan orang ketiga supaya diri dia itu tidak disanjung-sanjung seperti itu. Kenapa? Karena yang namanya karunia itu karunia! Yang namanya karunia, itu pemberian. Yang namanya karunia, itu sesuatu yang dianugerahkan tanpa syarat yang kita tunjukkan dalam hidup kita!

Bapak, Ibu bisa bertumbuh di dalam kerohanian yang lebih baik daripada yang lain, itu bukan karena kita lebih rajin belajar. Ada orang yang belajarnya sampai S3 tetap nggak ngerti hal rohani. Kita punya kemampuan yang lain untuk melayani. Bukan hanya pengetahuan firman, tetapi bijaksana, mungkin hikmat, satu kepekaan dan karunia yang lebih daripada orang lain. Bahkan mungkin lebih banyak daripada orang lain, sehingga kita bisa melayani lebih banyak daripada orang lain, tetapi tetap itu adalah pemberian yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kemampuan diri dan kelayakan diri kita. Tuhan yang memberi itu semua. Kalau Tuhan yang memberi itu, apa yang kita bisa sombongkan? Saya yakin, tidak ada yang kita bisa sombongkan karena itu bukan sesuatu yang menjadi milik kita dari diri kita sendiri. Saya kira, walaupun bahkan seseorang itu terlahir dengan begitu besar bakat yang dimiliki, tetap yang namanya bakat itu bukan karena dia hebat, karena banyak orang yang berbakat, keluarganya nggak berbakat sama sekali. Kalau itu bukan pemberian Tuhan, itu dari mana? Jadi, Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, hal yang rohani itu bisa menjadi sesuatu kesombongan dalam hidup kita, tetapi kita harus mengerti bahwa ini bukan prinsip Kitab Suci. Prinsip Kitab Suci adalah kita harus mengerti bahwa hal yang rohani, hal yang lebih unggul dari saudara kita yang lain itu merupakan karunia yang Tuhan berikan di dalam kehidupan kita.

Nah, kenapa Tuhan ingin kita mengerti hal ini? Kenapa Tuhan tidak ingin kita hidup seperti orang dunia yang begitu meninggikan diri dan menganggap kemampuan diri, pencapaian diri itu hal yang penting? Atau prestasi kita di dalam pelayanan itu sesuatu yang penting? Jawabnya ada 2. Pertama adalah pada waktu kita menyombongkan diri, menganggap diri kita hebat, di situ, mata kita tidak tertuju lagi kepada salib Kristus. Yang kedua adalah pada waktu kita merasa lebih mampu dari orang lain, saat itu kita tidak lagi bergantung kepada Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, salib Kristus menandakan kelemahan bagi dunia, tetapi salib Kristus menandakan apa? Kekuatan Allah. Salib Kristus menandakan kebodohan dari dunia, tetapi salib Kristus menandakan kuasa Tuhan yang menyelamatkan hidup kita. Dan Paulus ingin kita melihat ketika kita merasa diri kita mampu, kuat, itu otomatis membuat kita merasa tidak membutuhkan salib. Pada waktu kita bisa mengerjakan segala sesuatu, pada waktu itu kita mungkin tidak bergantung kepada Tuhan lagi. Maka, ini 2 hal yang penting untuk kita bisa pahami dari 2 Korintus pasal yang ke-12 ini.

Nah, untuk membuat Paulus rendah hati setelah dia mendapatkan satu penglihatan yang begitu luar biasa bagaimana? Di sini, Paulus katakan, Tuhan mengutus iblis. Kalau saya ngomong kayak gini, mungkin ada yang kaget, ya. Tuhan mengutus iblis. Tetapi, di sini bicara, “utusan iblis untuk menggocok aku.” Kenapa saya bilang, Tuhan mengutus iblis? Karena iblis nggak mungkin bisa mengganggu kita kalau Tuhan nggak izinkan. Itu terjadi di dalam kitab Ayub. Iblis harus meminta persetujuan Tuhan terlebih dahulu, baru iblis bisa mencobai Ayub. Selama Tuhan memasang pagar yang menjaga Ayub, ndak ada satu pun kuasa iblis yang bisa menerobos pagar itu untuk mencobai Ayub. Dan di dalam Tawarikh ataupun di dalam kitab Raja-raja, ada kalimat juga: Daud dicobai oleh iblis, tetapi ada juga kalimat: Daud diuji, atau saya pakai istilah dicobai oleh Tuhan juga.

Jadi, pada waktu kita mengalami hal-hal ini, seperti halnya Paulus di sini, Paulus mengerti sekali prinsip kalau apa yang dia alami itu pasti bersumber dari iblis, tetapi menariknya, ketika Saudara bandingkan dengan ayat 9 dan seterusnya, Saudara tahu, Paulus walaupun mengetahui bahwa apa yang dia alami itu bersumber dari iblis, tetapi yang berkuasa tetap adalah Tuhan, bukan iblis itu. Nah, di sini dikatakan, “utusan iblis itu yang datang untuk menggocok aku.” Maksudnya apa, utusan iblis ini? Bapak, ibu mungkin bisa baca commentary. Ada banyak sekali tafsiran di situ. Ada yang mengatakan mungkin ini bicara tentang Paulus yang sakit tubuhnya. Ada yang mengatakan Paulus yang mengalami cacat. Ada yang mengatakan mata Paulus kurang baik seperti itu. Tetapi, kalau Bapak, Ibu baca dari pasal 10 tadi, utusan iblis itu tidak harus dimengerti cacat fisik, tetapi utusan iblis mungkin bisa dimengerti sebagai satu labeling yang orang-orang Kristen berikan kepada diri Paulus. Ketidaksempurnaan dia, ketidaklayakan dia sebagai orang yang dikatakan untuk memimpin orang Kristen. Sesuatu labeling dia adalah pengecut. Satu labeling dia kurang rohani. Satu labeling yang mengatakan dia adalah orang yang mungkin level rohaninya di bawah, kurang dewasa di dalam rohani dibandingkan yang lain. Dan itu sesuatu yang mungkin tiap kali Paulus bangun dari tidurnya, dia terlintas pemikiran-pemikiran seperti ini yang kemudian dipakai oleh iblis untuk kemudian mencobai Paulus. Kalau pakai bahasa Ibu Mercy kemarin, namanya toxic relation.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, bisa nggak? Sangat bisa sekali. Mungkin kita adalah orang yang menyebarkan toxic itu, tetapi mungkin kita adalah orang yang terus memikirkan toxic itu dalam hidup kita. Berdasarkan apa? Labeling-labeling yang orang Kristen lain berikan dalam kehidupan kita.  Dalam hal ini, apa yang Paulus lakukan? Alkitab bilang Paulus berdoa meminta hal itu disingkirkan dari hidup dia. Tetapi, apa yang terjadi? Tidak ada yang disingkirkan. Berapa lama Paulus berdoa? Sangat kontras mungkin dengan doa kita. Pada waktu kita misalnya ngalami sakit, pada waktu kita ngalami pencobaan, pada waktu kita mengalami ujian apa atau pada waktu kita mengalami hal-hal yang mengecewakan dalam hidup kita dan seterusnya, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, umumnya orang Kristen berdoanya makin ngotot atau tidak ngotot?

Saya pernah sharing ya, di dulu waktu saya isi radio tiap pagi, di Petra, biasanya ada orang yang minta doa dan selalu rutin ada orang yang sama, selalu minta doa kesembuhan. Tiap pagi, sangat-sangat persisten sekali. Tetapi pada waktu Paulus ngalami hal itu, yang menarik adalah Paulus nggak se-persisten itu loh. Dia nggak makin ngotot tiap hari doa supaya Tuhan menjawab doanya, duri dalam daging itu disingkirkan dari hidup dia, tetapi Paulus membatasi dirinya cukup sampai tiga kali dia berdoa. Nah, kenapa tiga kali? Ada yang menafsirkan karena Yesus di taman Getsemani itu berdoa sampai tiga kali saja. Saya kira mungkin ada kok bisa dikomparasi seperti itu, tetapi dibalik dari komparasi itu atau meneladani Yesus Kristus ada hal yang penting, setelah Yesus berdoa tiga kali apa yang Dia lakukan? Dia mempercayakan hidup Dia dan apa yang akan dialami ke dalam tangan Bapa-Nya.

Nah, Paulus juga pada waktu dia sudah berdoa tiga kali, apa pun yang terjadi dia juga sadar satu hal, saya harus serahkan ke dalam tangan Tuhan. Kalau Tuhan ingin bebaskan, akan bebaskan. Kalau Tuhan tidak akan bebaskan dia akan tetap ngalami itu dalam hidup dia. Yang terjadi pada Paulus apa? Tuhan bebaskan tidak? Tidak, karena Tuhan tidak bebaskan artinya apa? Ada perubahan tidak? Iya dan tidak. Perubahannya, apa yang tidak dialami? Dia tidak lepas dari pada duri dalam daging itu. Sampai kapan? Mungkin sampai dia mati. Ada yang berubah tidak? Ada. Yaitu apa? Perspektif dia. Cara pandang dia, itu berubah. Mulai hari itu dia tidak merasa atau dia tidak melihat disingkirnya duri dalam daging itu hal yang penting, mulai hari itu dia tidak melihat bahwa kekuatan fisik itu hal yang utama di dalam melayani Tuhan, tapi mulai hari itu dia melihat di dalam kelemahanlah justru nama Tuhan itu ditinggikan dan justru baru Tuhan bisa menyatakan kuasanya secara sempurna di dalam kehidupan dari rasul Paulus.

Nah ini yang saya katakan sangat menguatkan sekali, karena di dalam kita menjalani pelayanan dan hidup, saya yakin sekali nggak ada orang yang sempurna. Di dalam kita menjalani pelayanan kalau kita sungguh-sungguh murni untuk Tuhan, nggak ada orang yang setuju 100% dengan apa yang kita lakukan. Dan itu membuat ada pro dan kontra, ada yang positif, ada yang negatif terjadi dalam hidup kita. Dan pada waktu kita mengalami itu, apa yang utama? Kita sering kali berpikir kalau andai kata tidak ada cacat dalam hidupku, kalau andaikata saya tidak mengalami masa lalu seperti ini dalam hidupku, kalau andai kata saya menjadi orang seperti dia dalam hidupku, maka saya bisa lebih memuliakan Tuhan. Tuhan ngomong, “Tidak! Justru engkau tidak memuliakan Aku tapi engkau mungkin meninggikan dirimu sendiri.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, dalam kelemahan justru di situ kemuliaan Tuhan makin dinyatakan. Tapi iblis suka memakai apa yang Tuhan berikan dalam hidup kita untuk menjadi satu cobaan supaya kita meragukan kasih Tuhan, kesetiaan Tuhan, kebaikan Tuhan, bijaksana Tuhan, pemeliharaan Tuhan, kuasa Tuhan dan seterusnya. Itu yang dilakukan iblis, ya.  Saya mungkin tutup dengan satu kisah dari seorang yang bernama Gladys. Seorang Inggris yang pendek, kecil, rambut hitam, ikal, namanya Gladys Aylward. Dia ketika ingin menjadi seorang misionaris, dia pergi ke satu lembaga misionaris, lalu ketika dia datang kesitu dia katakan, kamu nggak layak untuk menjadi misionaris di tempat kami. Karena apa? Kamu terlalu pendek, terlalu jelek, terlalu kurang pendidikan dan yang lain-lain, engkau nggak mungkin bisa melayani. Tapi dia tetap dengan satu konsistensi untuk mau melayani Tuhan dengan panggilan yang jelas. Akhirnya dia pergi ke China. Pada waktu dia pergi ke China di situ dia kemudian menemukan ternyata banyak sekali perempuan-perempuan yang mirip dia, yang pendek, yang ikal, yang dianggap jelek itu.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, akhirnya dia menjadi berkat di sana. Mungkin kita pikir, kita nggak seperti orang itu, tapi belajarlah untuk melihat DNA yang Tuhan taruh di dalam diri kita, itu nggak akan salah. Bagaimana saya terlahir itu adalah yang terbaik yang Tuhan berikan kepada diri kita, apa pun yang menjadi kemampuan kita. Mau Saudara prestasinya tinggi, mau Saudara orang biasa atau lemah, itu yang terbaik Tuhan berikan kepada diri kita. Apa pun pergumulan yang kita alami. Makanya tadi saya bilang Mazmur 23 sangat indah sekali karena apa pun keadaan kita, Tuhan bekerja, Tuhan memimpin diri kita bahkan di dalam kelemahan justru di situ kuasa Tuhan makin nyata. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita ya. Mari kita masuk di dalam doa. 

Kembali bersyukur Bapa, untuk Firman-Mu, untuk kebenaran-Mu, untuk kuasa-Mu, untuk membalikkan segala keadaan dari hal-hal yang merugikan kami, dari hal-hal yang mungkin tidak memuliakan nama Tuhan. Ketika kami mau menundukkan diri kami untuk dipimpin oleh Tuhan dan bergantung kepada Tuhan maka Tuhan bisa menjadikan itu hal yang membawa kemuliaan Tuhan dalam kehidupan kami. Tolong berkati kami ya Tuhan setiap dari anak-anakmu ini, ketika kami melayani, kami boleh makin diteguhkan, dikuatkan, bukan karena kami memang kuat dan teguh tapi karena kami memiliki Tuhan yang berkuasa dan teguh dan setia. Sekali lagi kami bersyukur hanya di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.