Khotbah di Bukit (5)
Mat. 5:6
Pdt. Nathanael Marvin, M. Th
Belakangan ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, saya sedang mempelajari tentang doktrin keselamatan dan juga kaitannya dengan praktik hidup orang Kristen. Nah, ketika kita merenungkan doktrin keselamatan, teolog-teolog Reformed mengatakan bahwa sebenarnya kita boleh diselamatkan itu tentu bukan dari perbuatan kita; bukan karena usaha kita, bukan karena kebaikan kita, bukan karena kelebihan kita, melainkan semata-mata adalah karya Roh Kudus 100% di dalam kehidupan kita yang memberikan iman dan juga melahir-kembalikan kita di dalam Yesus Kristus. Tetapi juga ada pandangan lain bahwa dasar keselamatan adalah persatuan dengan Kristus atau union with Christ. Jadi, ini digambarkan di dalam relasi dengan Yesus Kristus, ketika Yesus Kristus mau menikahi kita secara rohani. Kalau Allah menikahi kita secara rohani, tidak ada yang bisa menceraikan relasi tersebut. Maka di dalam dasar keselamatan orang Kristen, apa yang Alkitab jelaskan, keselamatan kita itu tidak mungkin hilang. Tidak mungkin gagal, karena apa? Yang menyelamatkan kita adalah Kristus. Yang menikah dengan kita bukanlah manusia berdosa, yang kita bisa cerai. Orang Kristen banyak yang cerai, banyak melakukan dosa. Itu berarti kita lemah. Tetapi yang menikah dengan kita adalah Yesus Kristus secara rohani. Dia mempelai pria, gereja adalah mempelai wanita. Karena Yesus menikah dengan kita, maka kita selamat. Karena kita adalah mempelai wanita Yesus Kristus, maka kita boleh masuk surga. Karena Yesus Kristus adalah kepala hidup kita, maka kita menerima segala berkat yang diberikan Yesus Kristus kepada kita yang diizinkan oleh Bapa juga. Bapa memberikan berkat, segala berkat kasih karunia di dalam Yesus Kristus dan di dalam Yesus Kristus kita pun menerima segala berkat yang dari Allah Bapa sendiri. Dan keselamatan tidak berhenti di dalam keselamatan saja, akhirnya memasuki dalam kehidupan yang kudus.
Maka dari itu ketika ada hamba Tuhan mengatakan, “Harus begini, harus begitu,” memang ini adalah suatu tuntutan Allah yang sempurna. Suatu kewajiban. Tetapi ketika kita melakukannya, kita tidak melakukan hanya karena dasar, kita harus begini, harus begitu tanpa ada relasi dengan Allah sendiri. Saya tahu yang benar itu ini, tapi kita lakukan untuk diri kita sendiri. Bukan relasi dengan Allah sendiri. Maka di dalam ketika kita menaati firman Tuhan, kita bukan saja menaati karena harus, tetapi karena rela juga. “Karena saya bersyukur sudah diselamatkan, Yesus mati buat saya, saya masa sih nggak mau taat kepada Tuhan Yesus.” Bahkan para martir mengatakan, “Masa saya tidak mau mati juga bagi Tuhan Yesus, kalau Yesus sudah mati buat saya.” Itulah iman Kristen yang sejati. Rela mati bagi Kristus. Bukan saja rela hidup bagi Kristus, tetapi rela juga sampai mati tetap mengikut Yesus Kristus. Ini adalah bentuk bagian dari pengudusan. Setelah kita diselamatkan, kita dikuduskan.
Pengakuan iman Westminster mengatakan bahwa, “Mereka yang dipersatukan dengan Yesus Kristus, itu dihidupkan dan diperbaharui oleh Roh Kudus, sehingga mereka mampu menghasilkan buah kebenaran yang sesungguhnya.” Kemampuan untuk menghasilkan buah roh, itu sudah kita miliki. Di Galatia 5:22 itu Paulus sudah jelaskan dan di dalam surat Galatia juga, Paulus mengatakan bahwa, “Jangan menggunakan kemerdekaanmu secara sembarangan. Kamu sudah bisa taat kepada Tuhan. Kamu sudah bisa mengampuni sesama. Kamu sudah bisa mengasihi sesama. Kamu sudah bisa berbuat baik kepada sesama. Kamu sudah bisa mendoakan sesama, menghargai sesama. Jangan menggunakan kebebasan kamu itu menjadi melakukan dosa. Kamu sudah mampu melakukan apa yang sudah diberikan oleh Roh Kudus.” Tapi kalau kita tidak menggunakan kebebasan itu, malah kita sebagai orang Kristen mengatakan, “karena sekali selamat, pasti selamat” maka saya lakukan dosa. Itu bukan menunjukkan orang Kristen itu sungguh-sungguh Kristen kalau pada akhirnya mendua hati. Yesus katakan bahwa, “Kita tidak bisa menyembah Allah sekaligus mamon.” Kalau kita menyembah Allah sekaligus mamon, berarti kita bukan sembah Allah, kita sembah mamon. Tetapi ketika kita menyembah Allah, fokus hidup kita kepada kemuliaan Yesus Kristus. Kita mau senantiasa hidup kudus karena Yesus Kristus, karena kasih-Nya dalam hidup kita.
Khotbah Yesus di bukit ini menyampaikan karakter Kristen, bagaimana sebagai orang Kristen yang tahu harus begini dan harus rela begitu, kita akan menghasilkan sukacita. Yang untung ketika kita taat kepada Tuhan, sebenarnya lebih untung itu kita. Waktu kita menyenangkan Tuhan dengan menaati firman Tuhan, Tuhan sukacita, Tuhan senang. Tuhan itu bukan Roh yang tidak ada perasaan. Kalau kita berdosa, Tuhan tenang aja. Kalau kita menaati perintah Tuhan, kita datang beribadah, Tuhan diam saja. Tidak ada emosi. Tidak! Tuhan itu bisa marah ketika kita melakukan dosa. Ketika ada hal yang tidak benar terjadi, tidak adil terjadi, Tuhan marah, Tuhan tidak suka. Tetapi Tuhan juga suka terhadap kita yang senantiasa merenungkan firman Tuhan dan melakukannya di dalam kehidupan kita dan ketika kita melakukan firman, Tuhan bersukacita dan ketika kita melakukan ketaatan kepada Tuhan, Tuhan memberikan kita sukacita yang sejati. Sukacita Allah adalah kebenaran sesuai dengan firman Tuhan dan itulah yang kita lakukan.
Di dalam khotbah Yesus di bukit ini, karakter-karakter Kristen itu dituntut oleh Tuhan sendiri dan Tuhan janjikan begitu banyak upah, upahnya sederhana. Tetapi sangat powerful yaitu apa? Kamu punya sukacita. Sukacita yang tidak akan pernah bisa direnggut oleh siapa pun, yaitu berbahagialah. Kemudian saya bandingkan dengan hukum Taurat yang diberikan Musa, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, dari sepuluh hukum Taurat kita tahu, ya, hanya ada satu hukum yang menjanjikan upah. Secara eksplisit. Meskipun kita tahu bahwa hukum Tuhan itu memberkati kita dan memberikan upah juga. Karena Tuhan itu adil, ya. Kita menabur banyak, menuai banyak. Kita menabur sedikit, menuai sedikit. Kita tidak berzinah, ada berkat dari kita menaati hukum Taurat tersebut. Kita jangan membunuh, kita ada berkatnya sendiri, kita tidak membunuh sesama. Tetapi ada satu hukum yang secara eksplisit Tuhan janjikan bagi kita di dalam sepuluh hukum Taurat, yaitu apa? “Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya lanjut usia di tanah yang Tuhan berikan kepadamu.” Ada berkat menghormati orang tua. Dikasih lagi eksplisit. Itu menjadi dorongan lagi, kita sungguh-sungguh harus menyayangi, menghargai, menghormati orang tua kita di mana pun mereka berada, kita doakan, kita mau mengasih mereka, kita pikirkan kebutuhan mereka. Tuhan katakan panjang usia. Tuhan katakan “Aku menyertai kamu.”
Sekarang Yesus khotbahkan suatu firman kebenaran di atas bukit di Galilea dan mengatakan bahwa kalau kamu begini, begitu berbahagia, semua ada upahnya ya. Mulai dari apa? Ada yang mengatakan delapan karakter Kristen atau delapan ucapan bahagia, orang yang miskin di hadapan Allah menyadari ketidakmampuan dia untuk melakukan sesuatu bagi Allah, keberdosaannya, kekosongan rohaninya di hadapan Allah, berbahagia. Orang yang berdukacita berbahagia. Orang yang lemah lembut berbahagia. Orang yang lapar dan haus akan kebenaran berbahagia. Orang yang murah hatinya berbahagia. Orang yang suci hatinya berbahagia. Orang yang membawa damai berbahagia. Orang yang dianiaya karena kebenaran berbahagia. Orang yang dicela dan dianiaya karena Yesus Kristus berbahagia. Satu sisi kita betul ya, harus mendoakan gereja-gereja yang dianiaya, disiksa, dicela, tetapi ketika mereka dianiaya, ada kebahagiaan loh di dalam hati mereka. Itu yang membuat mereka tidak putus asa. Saya setia kepada Kristus, ada aniaya, ada larangan untuk beribadah, ada hinaan, ada luka, tetapi ada sukacita yang Tuhan janjikan ketika kita sungguh-sungguh memiliki karakter Kristen yang sejati ini. Tuhan janjikan berbahagialah asal kita bersikap benar. Nah, ini hukum tabur tuai, hukum keadilan Tuhan. Kamu menabur apa, kamu tuai apa, pasti. Tuhan itu tidak tidak adil. Tuhan selalu adil di dalam kehidupan kita.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, setiap hari kita tahu yang namanya lapar dan haus, waktu bangun tidur pasti lapar dan haus. Makanya dalam bahasa Inggris kita breakfast, waktu kita tidur tuh pasti puasa, dan waktu kita bangun langsung ya, kalau ada yang suka hobi makan, cari makanan ya, cemilan. Tapi kalau tahu bahwa wah kelihatannya kalau bangun pagi itu bagus kalau minum air putih segelas, air hangat untuk bisa menyegarkan organ-organ di dalam tubuh kita, kita minum juga. Setiap hari, kita tahu apa yang namanya lapar dan haus. Ini menjadi bagian dalam kehidupan kita sebagai manusia. Ya belakangan saya sering berpuasa atau diet lah, diet sebagian, intermittent fasting seperti itu ya, yaitu tidak makan pagi. Tujuannya apa sih? Tujuannya tentu saya pikir bukan mengkhotbahkan khotbah ini ya, tujuannya supaya khotbahnya lebih jelas bukan ya, tapi tujuannya adalah supaya saya bisa mengendalikan diri, saya juga bisa lebih menjaga kesehatan tubuh, saya tahu bahwa hidup bukan dari roti saja, tetapi hidup itu dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Dan pada akhirnya ketika intermittent fasting itu sudah lapar, bisa lapar sekali sampai siang hari jam makan siang, kemudian makan. Sering sekali intermiten, tapi saya pikir kok nggak kurus-kurus juga ya? Ada jemaat juga pikir, “Pak Marvin masih puasa, masih intermittent fasting?” Masih. Kok nggak kurus-kurus ya? Tujuannya bukan kurus ya kalau tujuannya kurus nggak makan berhari-hari itu pasti kurus ya. Makan jadi lebih menikmati dan juga lebih berhikmat karena apa? Karena kita memikirkan hal tersebut dengan sungguh-sungguh. Kita atur pola makan dan pada akhirnya kita tahan terus waktu makan akan lebih bersyukur kan, puji Tuhan bisa makan, menerima kekuatan, juga tubuh bisa mencerna dan menyerap makanan bagi tubuh. Jadi betul-betul ya, kita waktu berpuasa intermittent fasting itu ada poinnya, ada hal baik yang terjadi. Dan inilah yang menjadi gambaran kita ketika kita lapar akan kebenaran. Rasanya ada yang kurang dari hidup kita, ada yang tidak enak, mengganggu aktivitas kita, lapar, dan kalau kita pada akhirnya mendapatkan kebenaran, kita belajar kebenaran, kita akan merasa puas. Ini gambaran Yesus yang sangat sederhana di dalam khotbah-Nya, yaitu lapar ketika dipuaskan atau mendapat makanan akan merasa lega, nyaman. Lalu kemudian kita ingin mendapatkan kebenaran-kebenaran, terus kemudian Tuhan memberikannya, maka kita pun akan mendapatkan kepuasan.
Di dalam kehidupan kita, kita sebenarnya sangat suka juga terhadap kebenaran, Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya. Kalau kita transaksi jual beli ya, hitungannya itu harus benar kan, kalau kembaliannya salah, ya kita bisa menegur, bisa ada emosi, bisa merasa diperlakukan tidak adil. Karena apa? Nggak benar, salah kok. Kita juga tidak mau disalahmengerti oleh orang lain, dicap “Oh orang ini pembohong.” Meskipun kita adalah orang yang berdosa, yang pernah berbohong, tapi kita tidak suka dicap pembohong. Itu salah, apalagi kita berusaha terus untuk hidup jujur di hadapan banyak orang, seperti itu ya. Nah, kita juga tidak suka sih disalahmengerti. Saya ini benarnya gini, kamu kok salah pikir tentang saya, nggak adil. Tetapi kadang-kadang di dalam dunia yang berdosa ini kita bisa disalahmengerti oleh banyak orang dan kita harus tahan, kuat ya. Yang kebenaran itu harus tetap belajar melihat segala sesuatu dalam kedaulatan Allah. Meskipun kita sering kali disalah-salahin, Yesus Kristus itu sering kali disalah-salahin, sering kali diperlakukan dengan salah dan lain-lain, Dia tahan itu semua. Tapi Dia mau menyatakan terus kebenaran. Kita sendiri sebenarnya mau hidup benar sesuai dengan hukum-hukum pemerintahan agar apa? Kita tidak dirugikan. Ya, ada keadilan dilaksanakan, maka kebenaran itu sangat bermanfaat dan sangat baik dalam kehidupan kita. Maka Yesus katakan, “Laparlah kepada kebenaran, kamu pasti dipuaskan.” Dan Tuhan berarti apa? Kalau mau memuaskan orang yang lapar kepada kebenaran, Tuhan akan memberikan kebenaran itu sendiri, menyatakan kebenaran.
Nah sekarang Bapak, Ibu, Saudara sekalian, sekarang haus ya, haus. Orang di padang gurun, orang yang kekurangan air sangat mengerti makna kehausan ya. Kalau kita olahraga begitu berat, lari begitu lama, begitu jauh, kita akan mengeluarkan semua cairan yang di mana orang manusia itu kan terdiri mayoritas dari cairan ya. Dan ketika kita haus kita ingin segera minum air yang banyak. Meskipun ada emas gitu ya, anggap di padang gurun kita sedang kehausan, terus di sini ada sebongkah emas ya, kemudian ditawarkan juga ada segalon air. Kalau kita betul-betul haus, kita akan mencari apa yang kita butuh kan, kita nggak akan cari emas. Kalau dua jalan berbeda itu, kita carinya air yang akan melegakan dahaga kita dan kebutuhan kita akan air. Nah, kita akan merasa lebih bersyukur juga kalau pada akhirnya kita lapar, haus, dan mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan atau kita butuh kan, baik makanan maupun minuman.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ada yang pernah belajar atau mungkin dokter-dokter di sini pernah tahu bahwa tubuh manusia itu kuat tanpa makanan dan minuman bagaimana, berapa lama? Kemudian saya coba belajar-belajar, ya. Kalau tanpa makanan berapa lama? Ternyata orang itu kalau tanpa makanan dengan minum air, ya. Tetap dia minum air, itu memang bervariasi sesuai dengan kondisi fisik seseorang, sesuai dengan umurnya atau situasi kondisi lapangan. Tetapi pada umumnya dalam kondisi sehat, kita hanya minum air dan tidak makan, ya, itu bisa tiga minggu, 21 hari sampai 70 hari. Satu bulan setengah lah, dua bulan, ya. Dua bulan lebih, ya. Dua bulan lebih tidak makan, lho, hanya minum air saja. Ada yang mau coba? Jangan ya, jangan coba-coba ya, jangan mencobai diri sendiri ya. Itu bisa, dalam kasus apa 70 hari tidak makan? Dua bulan itu tidak makan, ya? Dalam kasus, mereka kasus mogok makan. Mungkin protes ke pemerintah, sampai kurus sekali, tapi hanya minum, seperti itu ya. Tetapi kalau tiga minggu saja sudah tidak makan, itu sudah banyak organ yang akan lemah dan rusak.
Nah, sekarang kalau tanpa air tubuh manusia kuat berapa lama? Tidak minum air tapi makan, makan yang banyak, makan sampai kenyang sekali tapi tidak minum air. Itu kita tahu bahwa tiga sampai tujuh hari saja. Ada rekor tanpa air, katanya tujuh sampai sepuluh hari pada kasus tertentu. Ya ada, saya pernah lihat cerita di internet, ya. Ada pasangan itu jalan-jalan, suami istri. Terus meninggalkan anak bayinya, entah umur berapa tahun di box bayi, ya. Mungkin sudah umurnya setahun gitu, bayinya. Terus ditinggal saja, dengan alasan orang tua pengen jalan-jalan. Terus kemudian jalan-jalan lupain anak sepuluh hari. Kemudian di hari sepuluh anak itu baru mati, ya. Kotorannya di mana-mana, di situ. Dan akhirnya, wah, itu menjadi suatu hal yang mengerikan di dalam dunia ini. Meninggalkan anak kecil sepuluh hari demi jalan-jalan orang tuanya. Dan anak-anak itu bertahan, anak itu sendirian, makan dari kotorannya sendiri, coba minum, mati. Sepuluh hari itu tidak makan tidak minum. Begitu kejam ya, orang-orang yang berdosa itu, ya.
Nah sekarang, kalau tanpa makan tanpa minum bisa berapa hari? Tiga sampai tujuh hari, tidak makan tidak minum, mati. Sangat mudah untuk mati, Bapak Ibu Saudara sekalian. Nggak usah capek-capek bunuh diri dengan cara ekstrim, nggak makan nggak minum, tiga hari empat hari, mati. Manusia itu sangat lemah. Maka dari satu sisi, kita bisa lihat bahwa kita itu butuh makanan dan butuh minuman. Dan itulah yang menggambarkan kerohanian kita, kita butuh kebenaran. Kalau tanpa kebenaran, kita mati, seperti tidak makan dan tidak minum. Kita butuh kebenaran supaya hidup kita dipuaskan. Dan pada akhirnya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita pikir “bagaimana Yesus berpuasa?” Saya kemudian berpikir, Yesus kan pernah tidak makan 40 hari. Alkitab tidak catat bahwa Yesus tidak minum dan Alkitab juga tidak catat Yesus itu haus. Yang Alkitab catat adalah Yesus kemudian lapar dan akhirnya makan. Di sini menyatakan bahwa kemungkinan besar puasa Yesus Kristus itu normal, 40 hari nggak makan. Tapi Dia minum di padang gurun yang ada oasisnya, yang ada airnya, ya. Dia berusaha bertahan terus selama 40 hari dengan minum.
Dan puasa orang Yahudi biasanya juga hanya meniadakan makanan, tidak makan saja. Biasanya puasa orang Yahudi demikian dan kelihatannya memang Yesus bukan puasa seperti Musa. Musa itu puasa 40 hari 40 malam di Gunung Sinai itu, tanpa makan dan tanpa minum. Itu mukjizat. Tapi puasanya Yesus, Alkitab ceritakan hanya tidak makan dan lapar. Tidak eksplisit menyatakan bahwa Yesus itu tidak minum juga. Karena kalau tidak minum, ya jelas lah, kalau masih bertahan sampai 40 hari itu mukjizat seperti Musa, ya. Dan di sini menyatakan bahwa Yesus itu juga menyerahkan hidup-Nya mau untuk bisa melayani Tuhan dengan seluruh keberadaan hidup-Nya. Maka Dia berpuasa. Dia belajar mengendalikan tubuh-Nya untuk kemuliaan Tuhan.
Maka waktu kita berpuasa, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, sebenarnya itu bukan untuk kesehatan, utamanya, melainkan kesehatan rohani. Ada masa-masa tertentu kita sedih sekali, kita rasa Tuhan tidak ada, kita rasa putus asa, di situ lah waktu kita berpuasa. Puasanya orang Kristen tidak ada waktu tertentu, khusus gitu ya, kita bersama-sama berpuasa. Meskipun ada gereja tertentu yang mengatakan, “ayo, kita sedang mau KKR Regional, KPIN,” ya sudah berpuasa bersama-sama. Tetapi puasanya orang Kristen itu tergantung relasi kita dengan Tuhan. Ada waktu berpuasa, ada waktu tidak. Kalau mau berpuasa, silakan. Demi apa? Demi kerohanian kita, supaya semakin sehat. Dan seorang teolog mengatakan, ya, bahwa makanan bagi jiwa kita adalah kebenaran, Firman Tuhan. Dan kemudian doa adalah olahraganya. Inilah yang menjaga kehidupan rohani kita bisa sehat, yaitu kita berdoa, kita juga mencari kebenaran Firman Tuhan.
Bapak, Ibu, Saudara sekalian, berkaitan dengan ucapan bahagia ini, Yesus mengatakan bahwa jiwa kita itu perlu kebenaran. Kalau kita dikasih kepalsuan, kita ditipu orang, kita nggak suka kan? Kita benci sekali sama orang yang menipu kita. Kenapa? Bukan kebenaran. Meskipun kita tahu bahwa kita harus mengampuni sesama kita, kita harus menaruh bara api di atas kepala orang tersebut, tapi kalau orang tersebut terus berbohong, terus menipu, terus melakukan kejahatan, kesalahan, kita nggak suka, tetap. Kita mengampuni, betul. Kita belajar terus berhasil dengan orang penipu tersebut, tetapi itu tidak mudah. Karena apa? Bukan kebenaran. Yang ditawarkan oleh seorang penipu adalah kepalsuan. Dan itulah yang ditawarkan oleh setan, Iblis. Iblis adalah bapak segala pendusta. Yang ditawarkan setan adalah kepalsuan, kesalahan. Anehnya manusia malah suka bisikan setan, suka ajaran setan, suka perilaku setan. Maka ini adalah kontras, bagaimana sebenarnya kita butuh kebenaran dari Yesus Kristus.
Bapak, Ibu, Saudara sekalian, apa sih makna kebenaran yang kita miliki? Kalau bahasa Indonesia itu kebenaran, ya kebenaran. Tetapi uniknya dalam bahasa Yunani, membedakan dua jenis kebenaran, dari ‘kata’ nya ya. Dalam bahasa Yunani kata kebenaran itu ada dua jenis, yang pertama adalah aletheia. Makanya ada gereja Kristen yang menyebut dirinya Aletheia. Yaitu apa? Truth, kebenaran yang berdasarkan teori manusia, rasio manusia. Ini secara umum. Terus kemudian yang kedua adalah dikaiosune, yaitu apa? Righteousness, kebenaran dan keadilan. Bicara soal praktik kebenaran, itu memberikan juga keadilan. Praktik yang adil itu juga berkaitan dengan hal yang benar, seperti itu ya. Dan dua hal ini kita lihat ya, saling berkaitan dengan satu dengan yang lainnya.
Kalau kita mengerti secara umum, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, orang di luar Kristen ada kebenaran nggak? Kalau berkaitan secara kebenaran umum ya, rasio. Ada mereka bisa hitung 1+1, 2. Mereka bisa mengerti perkataan saya, meskipun saya pendeta, saya orang Kristen, orang non-Kristen datang di sini, dia tahu, “Oh Pengkotbah ini sedang khotbahkan dari Matius 5:6.” “Oh, Pendeta ini sedang bicarakan khotbah Yesus Kristus, “berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran maka mereka akan dipuaskan.”” Tahu. Mereka bisa tahu kognitif itu tahu. Kita aja sering melihat di internet, kita bisa dengarkan pengkhotbah yang non-Kristen. Kita bisa dengarkan, kita bisa mengerti pemikiran mereka bahwa keselamatan itu hanya karena kita berbuat sesuatu, katakanlah, kita berdoa berpuasa maka keselamatan itu kita terima. Kita ngerti, ya. Kebenaran rasio itu semua orang bisa mengertinya. Maka ada seorang teolog mengatakan, “all truth is God’s truth.” Semua kebenaran itu ya adalah kebenaran Allah. Orang yang tidak kenal Kristus, belajar matematika pintar sampai Doktor, kimia, fisika, matematika, bisa. Kebenaran ya kebenaran.
Tetapi kemudian kita juga berpikir bahwa tentang righteousness tadi ya, ada orang yang adil, tapi bukan Kristen. Ada orang yang sikapnya baik, benar, tidak menyakiti orang, tidak memfitnah orang, tidak mengadu domba orang, dia tahu cara kerja yang benar seperti apa, tapi kenal Kristus? Nggak. Secara umum, untuk memikirkan yang benar, dan juga berperilaku benar, bahkan itu pun bisa diberikan Tuhan secara umum. Tentu kita tahu itu anugerah Tuhan ya, Tuhan bisa memberikan wahyunya secara umum, anugerahnya secara umum, kepada orang Kristen maupun non-Kristen. Itulah mengapa kita rasa kita mirip kan dengan orang non-Kristen, 1+1 ya 2 lah. Ya sama semua setuju, karena ada yang umum. Anugerah Tuhan diberikan secara umum. Tapi sekarang kita belajar untuk melihat kebenaran itu ada dalam perspektif Alkitab. Truth itu apa sih? Pilatus pernah tanya apa itu kebenaran? Kamu dulu juga bicara dari kebenaran yang umum, tetapi Yesus mau mengatakan kebenaran yang khusus, maka Yesus mau mengatakan, “Akulah kebenaran.” Itu kebenaran Allah.
Kebenaran yang khusus adalah mengatakan bahwa Yesus itu benar, perbuatan dosa itu salah. Jangan dibalik. Perbuatan dosa itu benar, Yesus itu salah. Itu bukan truth dari Allah. Yesus katakan, “Akulah jalan, Akulah kebenaran, Akulah hidup. Tidak ada yang bisa datang kepada Bapa kecuali melalui Aku.” Berarti kebenaran cuman satu, yaitu Yesus Kristus, dan kebenaran dari Allah sendiri itu adalah kebenaran yang menyelamatkan. Bukan kebenaran yang salah, yang membinasakan orang, yang mencelakakan orang. Maka waktu kita ketemukan satu kebenaran, hanya ada satu Allah sejati, hanya ada satu Allah yang benar, maka yang dikatakan Allah yang lain itu adalah salah semua. Jika kita mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan kita, yang lain itu bukan Tuhan kita. Yang lain itu salah semua. Tapi apakah kita ketika mengatakan kebenaran ini, kemudian kita menjadi seorang yang sombong? Seorang yang sok benar? Nggak. Kita cuman mengatakan apa yang dinyatakan Allah benar, dan mengatakan siapa Allah yang sejati tersebut.
Nah dari situ lah kebenaran yang menyelamatkan akan berkaitan dengan apa? Righteousness. Maka tadi saya katakan union with Christ berkaitan dengan sanctification. Keselamatan berkaitan dengan pengudusan. Maka kebenaran di dalam Kristus, berkaitan dengan sikap perilaku yang benar dan adil. Righteousness. Orang yang bisa berperilaku benar dan adil di hadapan Allah, itu hanya karena Yesus Kristus sudah menolong dia. Maka Yesus Kristus katakan, bahwa “di luar Aku kamu tidak bisa apa-apa. Aku ini pokoknya, kamu itu ranting-rantingnya. Aku ini sumbernya. Kamu ini cabang-cabangnya. Aku ini pusat, kamu ini pengikut-pengikut-Ku.” Itu Yesus katakan pada kita semua, dan Yesus katakan, “di luar Aku, kamu tidak bisa apa-apa. Kamu mendapatkan kebenaran yang satu itu, yang menyelamatkan, dan kamu juga tidak bisa hidup benar dan adil seperti yang Allah tuntut dalam kehidupan manusia semuanya.”
Maka dari itu Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ini adalah kebenaran. Tidak mudah untuk memahami kebenaran. Yang benar itu apa sih yang benar? Tetapi di dalam Kristus, kita akan semakin diperbaharui bahwa kita akan menuju truth, God’s truth, dan kita akan menuju God’s righteousness. Makanya Roh Kudus itu ya, bukan hanya disebut sebagai, ini namanya kan ya, Pribadi Roh Kudus adalah Allah Roh Kudus namanya, Holy Spirit, tetapi juga Dia menyatakan diri sebagai Roh Kebenaran. Roh Kasih Karunia. Itu Roh Kudus. Maka Roh Kudus akan memimpin kita kepada seluruh kebenaran yang sejati dari Allah.
Berarti Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau kita katakan lapar dan haus akan kebenaran, ini kata yang digunakan apa, aletheia atau dikaiosune? Tidak bisa dikatakan dua-duanya. Nggak. Penulisan yang dikatakan Rasul Matius dalam Injil Matius ini, ya Matius menuliskan yang dikatakan Yesus di khotbah di bukit adalah dikaiosune. Praktik kan karakter Kristen. Kita lapar dan haus akan apa? Akan moralitas tinggi. Moralitas yang tinggi itu bagaimana sih? Tahu yang benar dan yang salah mana, terus kita pilih yang benar. Kalau cuma tahu yang benar dan yang salah lalu kita pilih yang salah, itu bukan moralitas yang baik, itu otak yang baik. Tahu yang baik dan buruk yang mana, lalu kita pilihnya yang baik. Bukan cuman tahu doang lalu pilih yang buruk. Tahu yang adil dan yang tidak adil yang mana lalu pilih yang adil. Itu moralitas yang baik. Moralitas itu standar norma-norma umum yang dianggap baik oleh masyarakat pada waktu itu, atau zaman sekarang. Tetapi yang paling jelas seharusnya adalah moralitas dari Allah sendiri, standar hukum-hukum Allah. Kita belajar taati. Maka hukum 1-10 itu kita berusaha terus mengikuti dan taat kepada 10 hukum tersebut. Kalau hukum tersebut mengatakan kita harus mengasihi Allah dengan segenap hati, mengasihi sesama segenap hati seperti diri kita sendiri ya, maka kita mau melakukannya. Maka moralitas yang benar adalah hidup sesuai dengan hukum-hukum Allah. Nah inilah, saya mau hidup sesuai hukum Allah, ini kita lapar dan haus akan kebenaran. Saya mau menaati firman Tuhan, saya nggak mau terjebak dalam dosa, pergaulan yang buruk, ajaran yang salah. Saya mau.
Lalu, juga bisa dikaitkan dengan relasional di hadapan Tuhan, ya. Bukan saja menjalankan hukum-hukum yang benar dari Allah, tapi juga berelasi secara tepat dengan Allah. Hikmat Allah. Maka, ya, sering kali kan kritikan kepada orang-orang yang belajar doktrin banyak adalah dia tahu banyak doktrin tapi tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan yang diajarkan oleh doktrin tersebut. Jadi, hanya sekadar tahu: yang benar begini, menilai, mengkritik, menganalisa, tapi nggak ada perbuatannya. Nah, ini adalah sikap yang salah terhadap Allah, ya. Kita tahu yang Allah yang benar bagaimana, tahu Allah Maha tahu, tahu Allah itu Maha berdaulat, berkuasa, tapi hidup kita seolah-olah tidak ada Allah. Maka, relasi kita di hadapan Allah itu, kita tidak takut akan Tuhan. Kita itu mencela nama Tuhan. Maka, kita mau berelasi secara tepat dengan Allah, ya: posisi kita di mana.
Lalu juga pada akhirnya, ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, lapar dan haus akan kebenaran. Kita mengharapkan kehidupan di dunia yang akan datang yang hanya ada kebenaran saja, yaitu di surga, ya. Orang-orang Kristen dijanjikan hidup yang kekal, maka kita berharap juga suatu hari nanti di surga nanti semuanya tuh indah, nggak ada yang salah, nggak ada iblis di surga, nggak ada dosa, nggak ada sakit, penderitaan karena dosa, ya. Semua itu akan digantikan dengan kebenaran. Nah, inilah orang-orang yang lapar dan haus akan kebenaran: mau hidupnya tuh sesuai dengan Allah dan bersikap secara tepat di hadapan Allah dan juga memiliki kerinduan atau menanti-nantikan dunia yang akan datang. Tapi bukan berarti pada akhirnya dia tidak mensyukuri dunia yang saat ini. Tetap dunia yang saat ini harus kita hargai, harus kita syukuri dan kita kembangkan untuk Kerajaan Allah.
Pendeta Stephen Tong menjelaskan ciri-ciri orang yang benar itu seperti apa sih? Orang-orang yang punya kelaparan dan kehausan akan kebenaran ada ciri-cirinya! Seperti kita lapar dan haus, ya. Begitu kita lapar, ya, kita cari makan, dong! Ada usaha: jalan, ya, siapin makanan, masak, terus kemudian kita makan. Terus kemudian kita haus juga kita cari minum, beli minum, dan lain-lain. Ada ciri-cirinya: menuju ke mana, mencari apa, ya. Dan beliau menjelaskan bahwa orang yang hidup benar itu yang pertama adalah dia orang yang lurus. Dia itu tidak ada agenda pribadi, agenda yang palsu, agenda yang busuk, ya. Dia merencanakan segala sesuatu itu semua demi kemuliaan Tuhan, bukan demi kepentingan diri. Dia tidak licik, dia jujur, konsisten, dia hatinya tidak bengkok, dia tidak plin-plan, dia tidak munafik. Ini orang yang benar. Jujur, apa adanya, ya. Kalau bisa, tidak ada yang ditutup-tutupi. Kalau bisa, dia akan terus terang. Ya meskipun ada waktunya, ya, kita itu menutupi sesuatu. Dalam hal apa? Ya, ambil contoh paling sederhana, ya. Kalau pada waktu zaman peperangan –sekarang juga kelihatannya sudah mulai peperangan– apakah kita berhak memberikan kebenaran kepada orang yang tidak layak menerima kebenaran? “Ini ada orang Yahudi nih! Di rumah saya sedang sembunyi. Kamu mau bunuh orang Yahudi, kan? Saya kasih tahu, nih, banyak, silakan, bunuh!” Gitu? Nggak, kan? Kita kan diam saja, ya. Tentara Nazi pada waktu pemerintahan Hitler itu mencari semua orang Yahudi: ingin dibinasakan. Lalu, kita mengatakan, “Silakan bunuh”? Kita tidak boleh membunuh, kok! Itu berarti juga kita harus mempertahankan kehidupan seseorang. Nah, akhirnya kita belajar taat. Akhirnya apa? Menutupi! Orang, itu nggak layak kok terima kebenaran ini. Dia pasti akan membunuh. Dia akan menghina, menghancurkan.
Kita, pada akhirnya, hidup di dunia yang berdosa ini tidak bisa selalu mengatakan kebenaran. Dan itu juga adalah hal yang salah. Ini sulitnya, ya: orang yang lurus, mau hidup lurus, tapi bergumul, nih, soal pekerjaan. Kalau terlalu lurus, nggak ada pelanggan, nggak ada yang beli produk saya, gitu, ya. Tapi, balik lagi, kita bergumul di hadapan Tuhan, ya. Bagaimana kita menjalankan perintah Tuhan ini: untuk lapar dan haus akan kebenaran, ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian.
Lalu, orang yang hidup benar itu bukan saja lurus jalannya, ya, tapi bersikap adil. Dia kalau sama orang karena dia cocok sama saya, “Wah, saya pegang! Saya langsung suruh dia ini itu. Saya percaya. Saya sharing.” Tapi begitu yang tidak disukai, “Saya buang! Udah! Bukan kalangan saya, ya. Kalangan saya itu orang yang pintar, yang kaya, yang punya banyak kemampuan. Orang yang miskin, nggak punya apa-apa, nggak usah, ya!” Itu bukan orang yang adil: membeda-bedakan. “Oh, kalau orang kaya duduk di depan. Orang terhormat harus duduk di depan.” Gitu, ya. Terus kemudian kepada orang miskin nggak dipeduliin. Maunya salaman sama orang yang terkenal. Misalkan kayak gitu, ya. Semua dipandang buluk berdasarkan kepentingan diri. Itu salah. Itu namanya tidak adil. Alkitab mengatakan, “Jangan pandang bulu! Hargai semua orang! Mau kaya, miskin, sehat, sakit, cacat, tidak cacat, banyak dosanya, atau sedikit dosanya –menurut kita, ya, yang kelihatan– semua dihargai. Semua sama. Itu benar. Itu adil, ya. Bagaimana kita hidup itu tidak menjadi orang yang seperti penjilat, ya. Kita betul-betul lurus aja, udah, ya. Kebenarannya ini saya mau lakukan.
Lalu, yang ketiga adalah berdiri teguh di atas prinsip kebenaran. Nah, kita punya prinsip kebenaran. Sebagai orang-orang reformed mengatakan bahwa, “Kita itu sola scriptura.” Maka sumber kebenaran hanya di dalam Alkitab. Ini pegangan kita. Apa yang kita lakukan itu adalah dasarnya Alkitab meskipun pada praktiknya dan aplikasi kadang-kadang itu yang membedakan kita, ya. “Bagaimana, nih praktiknya? Ada orang berpikiran, “Wah, harus melibatkan banyak pelayan Tuhan.” Terus kemudian, “Eh, tunggu dulu! Jangan dulu! Nanti kalau kita melibatkan, nanti yang melayani malah rusak semua kalau tidak diseleksi.” Maka kita ada berbagai pendapat aplikasi: bagaimana sih untuk mengembangkan Kerajaan Allah? Standar-standarnya bagaimana dalam melayani Tuhan? Nah, itu yang digumulkan sampai menemukan keputusan yang terbaik, ya.
Misalkan, ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau kita kan masih satu gembala, ya. Jogja, Solo, itu satu gembala. Terus, kalau di Solo itu kebaktiannya dua kali: pagi dan pagi, jadwalnya. Kalau di Jogja, pagi dan sore. Saya kalau di Solo ditanya jemaat, “Kenapa nggak sore juga, Pak?” Gitu, ya. Waduh, nanti mungkin Bapak, Ibu, tanya juga: kenapa ibadahnya nggak pagi dan pagi? Itu semua, ya, kita coba pikirkan, rapatkan. Ini kan aplikasi, ya. Prinsip kebenaran: kita mau mengadakan ibadah, lebih banyak orang yang melayani. Lebih banyak juga menjangkau orang. Prinsipnya sederhana. Itu kita pegang. Itu benar. Itu baik. Tapi pada aplikasinya bisa plus minus. Bisa ada kekurangan. Bisa ada kelebihan. Nah, itu, ya, bagaimana kita pada akhirnya tetap berdiri teguh di atas Firman. Tapi aplikasi itu mengikuti prinsip Firman: yang terbaik apa? Ya, kita doakan. Kita bisa tidak setuju terhadap apa yang dilakukan oleh orang lain, kan? Sering kali kita tidak setuju juga apa yang dilakukan pasangan. Ya, kita nyatakan, tetapi prinsip kebenarannya apa? Firman Tuhannya apa? Aplikasi itu akan mengikuti. Itulah yang akhirnya memimpin hidup kita, ya. Roh Kudus itu yang memimpin kepada Yesus dan firman.
Lalu, orang yang benar itu memiliki karakter apa selain hidup lurus, bersikap adil, punya prinsip, ya? Yang ke-4 adalah membenci kejahatan. Membenci kejahatan dan menjauhi kejahatan. Begitu ada orang ngomong kasar, aduh, nggak enak. Kalau bisa tegur, tegur, deh. Nggak usah ngomong kasar. Begitu ada orang yang tidak menghormati Tuhan di dalam ibadah, misalkan dalam firman, ya. Kita kan di dalam kebaktian Gereja Reformed fokusnya adalah, pusatnya adalah firman Tuhan. Begitu ada yang ngantuk, aduh, jengkel, nih! Gimana, kapan bangunnya ini orang? Nanti ketika “Amin” kali, ya? Terus, ketika ibadah harusnya bagaimana idealnya? Tidak telat. Tetapi, banyak yang telat. Bagaimana? Gelisah mungkin hatinya. Aduh, bagaimana? Membenci sesuatu hal yang kurang ideal di mata Tuhan. Kita mau supaya itu lebih baik, lebih benar. Kita mengerti semua kelemahan, ya. Ada orang yang mungkin keterbatasan sesuatu, harus ngerjain ini dan itu sehingga dalam pelayanan tidak maksimal, tetapi kita mau agar dibimbing supaya orang itu semakin maksimal untuk kemuliaan nama Tuhan. Itu namanya pengudusan. Karena apa? Sudah diselamatkan, kok. Sudah mampu, ya. Masalah apa lagi? Mau atau tidak mau. Orang Kristen itu, kita itu sudah mampu. Buah Roh Kudus sudah ada. Kasih, sukacita, damai, dan lain-lain, itu, ya, semua 9 rasa dari buah Roh Kudus itu sudah ada. Bisa lakukan? Bisa. Masalahnya, mau nggak? Tetapi, kalau orang yang belum ada Roh Kudus, mereka mau pun tidak bisa. Mau pun tidak bisa juga. Baik mampu ataupun mau tidak bisa, kok, untuk mendapatkan kebenaran dari Yesus Kristus.
Lalu, yang selanjutnya ciri dari Pak Tong, ya, ke-5 adalah memiliki karakter Ilahi. Jadi, maksudnya karakter Ilahi adalah sifat-sifat Allah, ya. Ada tulus hatinya, ada buah Roh Kudus tadi, ya, yang sudah kita renungkan. Jadi, inilah kebenaran yang kita harus inginkan, rindukan. Lalu, mereka akan dipuaskan. Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, dalam hati kita itu sebenarnya ada yang terus kita ingin puaskan. Keinginan, kebutuhan kita, tetapi sering kali kita tidak menyadari kebutuhan kita. Kita lebih ke arah keinginan kita. Kalau keinginan kita dipuaskan, saya puas. Padahal, waktu sudah diberikan pun belum tentu puas. Karena apa? Kita bisa salah terhadap keinginan maupun kebutuhan kita. Nah, kepuasan yang Yesus berikan adalah kepuasan rohani yang berarti di dalam hatinya itu akan mendapatkan ketenangan yang dari Tuhan. Hatinya senang.
Blaise Pascal menjelaskan gagasan God shaped vacuum. Vacuum itu kosong, ruang kosong dan ada bentuk Allah. Nah, ruang kosong itu di dalam jiwa kita itu ada ruang kosong setiap manusia yang hanya bisa diisi oleh Allah puzzle-nya itu. Ada puzzle Yesus Kristus di dalam setiap hati orang dan ketika sudah jatuh di dalam dosa, puzzle itu lepas. Kita bolong. Lalu, karena kita mencari kepuasan itu, kita cari dengan uang, nggak pas puzzle-nya. Dengan seks, dengan hawa nafsu, dengan jabatan, dengan kuasa, dengan apa pun yang kita anggap itu cocok dengan ruang kosong tersebut. Nggak cocok semua. Artinya, kepuasan itu sementara. Dapat uang, puas. Tetapi, kok kurang banyak, ya, uangnya? Gitu. Dapat pacar, senang? Tetapi, kok pacarnya kurang ini, kurang itu. Semua dikeluhkan gitu, ya. Sudah dapat, dikeluhkan. Sudah dapat dikeluhkan. Maka, pencarian orang itu akan berhenti, ya. Di dalam siapa? Di dalam Yesus Kristus.
Bapak, Ibu, Saudara sekalian, waktu puzzle Yesus Kristus itu datang di dalam hati kita, yang menempelkan itu bukan kita karena kita mati, kok. Tetapi, yang menempelkan itu adalah Yesus Kristus. Maka, Yesus Kristus mengatakan bahwa manusia itu dicari oleh Tuhan. “Aku datang untuk mencari yang terhilang.” Yang terhilang itu manusia, bukan Tuhan. Dan Allahlah yang mencari dan menemukan manusia tersebut. Nah, inilah dasar keselamatan orang Kristen. Kita ditemukan oleh Allah. Kita dicari oleh Allah dan kita menyerahkan diri karena anugerah Allah. Ruang kosong itu diisi oleh Allah dan itu hanya bisa diisi oleh Kristus. Berarti sebagai seorang Kristen, kita sudah tenang sebenarnya. Kalau pada akhirnya kita rasa, kok, kurang ini, kurang itu, kurang uang, kurang sesuatu, jangan-jangan kita belum menerima Kristus, lho. Kalau kita sudah menerima Kristus itu adalah kasih karunia terbesar, kok. Harusnya ada sukacita yang besar dari Tuhan sendiri. Sekalipun apa? Sekalipun penderitaan, sekalipun kemiskinan, sekalipun sakit kita alami, tetapi ada Kristus.
Maka, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya, di dalam menghadapi dunia yang penuh dengan peperangan, negara-negara besar sudah mau ikut berperang. Negara-negara besar juga adalah negara yang punya nuklir. Sekali nuklir diluncurkan, sudah pasti perang. Perang dunia. Sudah nggak ada ini mungkin ibadah-ibadah dengan tenang lagi. Tetapi, kalau kita punya Kristus di dalam hati kita, kita bisa tenang, sekali pun di dalam dunia yang kacau balau, peperangan dan penderitaan terjadi. Maka, kalau Tuhan izinkan sesuatu terjadi, sebenarnya Tuhan sudah menguatkan umat-Nya terlebih dahulu. Yang bahaya adalah kalau ada orang-orang yang tidak punya Kristus dan mengalami setiap penderitaan itu. Sudah kosong hatinya, terus tidak dapat apa-apa. Itulah kecelakaan dari keberdosaan manusia.
Agustinus mengatakan bahwa Tuhan menciptakan kita bagi diri-Nya dan hati kita sebagai manusia akan terus gelisah sampai kita beristirahat dalam Tuhan. Sampai kita menemukan Tuhan. Yohanes 6:35, Yesus berkata: “Akulah roti hidup. Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Ini yang ditawarkan oleh Yesus. Berbahagialah yang lapar dan haus akan kebenaran. Maka, mereka akan dipuaskan. Seseorang yang sungguh-sungguh sudah ditolong Tuhan untuk bisa mengenal Kristus, kita tidak akan lapar dan haus lagi akan Kristus karena kita sudah menerima Dia, tetapi kita tetap lapar dan haus akan perilaku-perilaku yang meneladani Yesus Kristus. Kita akan dipuaskan. Kalau kita bisa taat, itu anugerah Tuhan. Kalau saya bisa dipakai oleh Tuhan, itu kebaikan Tuhan. Kalau saya bisa melakukan kebaikan, itu pun adalah kebaikan Tuhan. Yesus pernah memberikan air hidup juga kepada perempuan Samaria yang sedang bergumul dalam kehidupannya, keputusasaannya dan Yesus menawarkan air hidup di mana kamu tidak akan haus lagi. Itu adalah kunci keselamatan di dalam Yesus Kristus.
Di dalam kebenaran Yesus Kristus kita memperoleh kepuasan, kelegaan, dan dapat mengucap syukur dalam segala sesuatu. Kebutuhan kita untuk menghadapi masa depan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, bukan dari persiapan matang kita tentang masa depan, tetapi dari Yesus Kristus sendiri. Kita mau menjadi pengikut Yesus, kita orang Kristen, kita adalah orang-orang yang bergantung kepada Kristus, maka dari itu, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, marilah kita memiliki semangat, ya spirit untuk hidup selaras dengan hukum-hukum Tuhan. Ini namanya adalah spirit of righteousness. Kita mau datang dengan baik, dengan benar, dengan adil, ya, Tuhan kiranya menolong kita.
Filipi 4:8 mengatakan, “Jadi akhirnya Saudara-saudara semua yang benar,” ya balik lagi ya Paulus mengatakan, “Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Tapi bagaimana kalau pada akhirnya kita kok jadi pikiran buruk terus ke orang? Ya kita harus doakan. Kebenaran itu kebenaran, orang itu buruk ya buruk, kita jangan sampai “nggak lah orang itu baik kok.” Nggak buruk, buruk kok, kita harus adil terhadap penilaian yang benar juga ya, tapi kemudian pada akhirnya respons kita apa? Apakah perbuatan kita jadi jahat sama dia? Apakah jadi salah? Nggak kan. Kalau kita tahu dia buruk, jahat, berdosa, justru respons kita harus benar, yaitu mendoakan, tetap mengasihi, menegur, bahkan mengampuni orang tersebut. Menjadi orang Kristen itu bukanlah hal yang mudah, sudah dituntut untuk hidup benar, berespons secara benar juga. Ini kalau tidak karena Kristus, kita tidak bisa melakukannya.
Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa. Waktu kita lakukan firman, cari kebenaran, itu akan melegakan jiwa kita. Laparlah dan hauslah akan kebenaran, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, jangan lapar dan haus akan uang, ya kuasa, atau tiga ta, itu ya. Tiga ta itu ya, tahta, wanita, harta ya. Wanita ini agak, agak ini ya, tidak adil ya, harusnya pria juga ada di situ ya. Nanti pikirnya wanita itu lesbi lagi ya, lapar dan haus akan wanita? Saya wanita gitu ya, disuruh lesbi gitu ya? Tapi kita mau untuk supaya lapar dan haus akan kebenaran.
Ada yang ayat yang unik, Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya, kita tahu Matius 6:33, sudah hafal juga ya, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Kerajaan Allah dan kebenarannya. Kerajaan Allah kurang lebih kita tahu ya, hukum-hukum Allah, pemerintahan Allah. Semuanya ditambahkan kepadamu, ini semuanya mengacu kepada apa? Yesus sedang bicara soal kekhawatiran hidup, soal tempat tinggal, pakaian, makanan. Semuanya akan dicukupkan oleh Tuhan kalau kita cari Kerajaan Allah dan kebenarannya. Sekarang kebenarannya ini apa? Ya, kebenarannya ini maksudnya kebenaran Kerajaan Allah atau apa sih? Kebenaran apa ini? Nah, maka waktu kita lihat kata aslinya ternyata memakai apa, Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Ternyata pakai “dikaiosune.” Dikaiosune berarti apa? Righteousness. Terus kemudian saya bacakan, kemudian saya bacakan kitab terjemahan ESV ya, English Standard Version, mengatakan “But seek first the Kingdom of God,” and apa? “And its truth and its righteousness,” bukan ya tetapi “and His righteousness.” Ya dan kebenarannya itu kebenaran siapa? Kebenaran Allah. Carilah Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, His righteousness, kebenaran Kristus, maka all these things will be added to you. All these things itu apa? Tempat tinggal cukup, makanan, pakaian, bukan berlebihan, ya ini Tuhan tambahkan kepada kita. Dan juga yang paling penting adalah berkat rohani akan diberikan kepada kita juga, akan Tuhan tambahkan terus-menerus.
Kita akan dipuaskan bila kita hidup di dalam kebenaran Allah, dan kiranya kita boleh menjadi seseorang yang mencari kebenaran. Ya, di mana ada kebenaran, itulah yang menuntun hidup kita. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, waktu kita memilih sesuatu nah dasarnya adalah kebenaran. Saya yakin juga banyak yang memilih beribadah di gereja ini itu karena apa sih? Apa karena salah gitu ya, apa karena nyaman, apa karena dekat rumah, apa karena kita mau coba gitu ya? Seharusnya alasan kita adalah karena di sini ada kebenaran. Ada gereja di Bandung, kakak dari Pendeta Stephen Tong yang sudah almarhum ya berapa tahun yang lalu, dia mendirikan gereja. Saudara-saudara Pak Tong tuh mendirikan gereja unik ya di Jawa Barat, di Jawa Timur juga ada. Ada pendeta Caleb Tong, ada pendeta Joseph Tong ya. Caleb Tong, Stephen Tong di Jawa Barat, Joseph Tong di Jawa Timur, kita kejepit di tengah ya. Itu semua mendirikan gereja. Hebat sekali. Ya, terus pendeta Caleb Tong mengatakan karena dia orang Chinese, dia ada kebaktian Mandarin. Dia katakan ini gerejanya adalah kurang R dari kita. Gereja Injil Indonesia, tapi bahasa Mandarinnya adalah Hok Im Tong. Tempat apa? Tempat Injil. Ini adalah rumah Injil, rumah kebenaran. Nah, di mana ada kebenaran, orang yang cinta akan kebenaran akan datang. Nggak usah disuruh-suruh ya. Maka tugas kita adalah menyatakan kebenaran, menyatakan Injil. Nanti orang yang Tuhan pimpin pun akan datang ke rumah yang benar. Ya, gereja yang benar, gereja yang memberitakan Injil yang sejati. Kiranya kita boleh menjadi pencari-pencari kebenaran. Mari kita sama-sama berdoa.
Bapa kami yang ada di surga, kami bersyukur Tuhan untuk kebenaran-kebenaran yang Tuhan berikan kepada setiap kami, kebenaran yang sejati di dalam Yesus Kristus maupun juga kebenaran bagaimana kami berperilaku di dalam dunia ini. Terima kasih untuk hukum-hukum Tuhan, terima kasih untuk ajaran-ajaran Tuhan. Kiranya kami boleh senantiasa mengawasi diri kami dan ajaran kami supaya kami tidak terjebak terhadap ajaran-ajaran yang palsu atau kehidupan yang berdosa, yang penuh penipuan. Kami mau Tuhan, hidup kami ini lurus di hadapan Tuhan. Kami tidak mau menjadi orang yang munafik, kami tidak mau menjadi penipu-penipu. Tapi kami mau sungguh-sungguh hidup benar di hadapan Tuhan. Ampunilah kami Tuhan jikalau sering kali kami tidak Memikirkan kebenaran Tuhan, kami sering kali mengikuti apa yang menurut kami benar padahal di mata Tuhan itu adalah hal yang salah. Kami mau, Tuhan, hidup kami ini dipimpin oleh Roh Kudus yang adalah Roh Kebenaran. Kiranya Tuhan dipermuliakan di dalam kehidupan kami, dalam nama Tuhan Yesus, Penebus dan Juru Selamat kami yang hidup. Kami sudah berdoa dan mengucap syukur. Amin.
