Sesungguh-sungguhnya (5)
Yoh. 6:1-15, 53
Pdt. Dawis Waiman, M. Div.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pasal 6 ini adalah pasal yang bisa dikatakan terpanjang di dalam Injil Yohanes. Kenapa saya tadi tidak membawa kita membaca keseluruhan dari bagian ini? Karena memang sangat panjang sekali dan juga bisa dikatakan yang terpanjang di dalam seluruh Perjanjian Baru dan karena kita fokusnya ke dalam ayat 53 yang berkata bahwa “Aku berkata kepadamu sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup dalam dirimu sendiri.” Untuk bisa mengerti bagian ini, sebenarnya kita harus bisa mengerti apa yang dikatakan di dalam keseluruhan dari pasal yang ke-6 ini. Itu sebabnya tadi saya membawa kita membaca dari pasal 6 ayat 1 sampai ayat 15 supaya kita mengerti apa yang menjadi konteks dari pembicaraan yang sedang Yesus bicarakan dengan orang-orang Yahudi pada waktu itu.
Nah, di dalam bagian ini saya nggak akan terlalu berpanjang lebar kembali berkaitan dengan pengertian truly, truly, tetapi ada satu hal yang saya ingin tekankan terlebih dahulu sebelum kita masuk ke dalam pasal yang ke-enam ini adalah, setiap kali kita berbicara mengenai mukjizat yang dilakukan oleh Yesus Kristus atau tanda-tanda yang dilakukan oleh Yesus Kristus seperti mengubah roti menjadi begitu banyak dan bisa memberi makan 5.000 orang pada waktu itu atau membuat air berubah menjadi anggur seperti itu atau membuat orang yang buta matanya bisa melihat dan yang lainnya, maka semua itu memiliki satu tujuan yang penting ketika hal itu dicatat dan hal itu dilakukan. Dan secara khusus di dalam Injil Yohanes hal itu dilakukan guna supaya kita mengerti bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah dan dengan pengertian itu kita menjadi percaya kepada Yesus yang adalah Mesias dan Anak Allah, dan oleh iman kita kepada Yesus Kristus maka kita boleh memperoleh hidup. Ini menjadi unsur yang penting pada waktu kita membahas mengenai truly, truly ini.
Dan pada waktu kita masuk ke dalam pasal 6 ini tidak beda dengan prinsip ini. Jadi pada waktu Bapak, Ibu membaca peristiwa di mana Yesus mengubah roti dengan begitu banyak untuk bisa men-supply 5.000 orang itu, lalu Bapak, Ibu bisa membaca percakapan selanjutnya di mana Yesus berbicara mengenai roti hidup itu, di sini Yesus mau menunjukkan bahwa Dia adalah roti hidup itu sendiri. Tetapi sebelum kita masuk ke dalam bagian ini untuk melihat apa yang dimaksud oleh Yesus Kristus, saya mau ajak kita untuk melihat kembali dari pembicaraan atau peristiwa yang terjadi di dalam ayat 1 sampai ayat yang ke-15 ini. Dan mungkin kita akan detail atau perinci satu per satu terlebih dahulu, baru kita kemudian masuk ke dalam perkataan Yesus mengenai sesungguh-sungguhnya ini ya.
Nah, hal pertama yang kita perlu perhatikan adalah pada waktu peristiwa mukjizat ini terjadi, maka ada hal yang kita boleh catat di sini yaitu di mana tempat ini terjadi. Nah kalau Bapak, Ibu perhatikan di dalam peta, saya ada tunjukkan di depan, peristiwa ini adalah terjadi di daerah Golan, ketinggian Golan. Dan ketinggian Golan ini dilihat dari mana? Bapak, Ibu bisa melihat dari sisi yang sebelah, kalau saya adalah sebelah kanan saya, itu ada peta, di tengah-tengah itu ada danau, Danau Galilea. Lalu di sebelah timur dari Danau Galilea di situ ada daerah yang diarsir dengan warna yang agak berbeda daripada semua wilayah yang lain. Itu adalah daerah ketinggian Golan, di mana peristiwa ini terjadi pada waktu Yesus memberi makan ini. Nah, ini adalah satu tempat di mana Yesus sebelumnya menyeberang menuju daerah itu setelah Dia menyembuhkan orang yang sakit di Betesda.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, setelah peristiwa itu, Alkitab mencatat ada begitu banyak orang yang datang untuk menghampiri Yesus Kristus. Nah, apa yang mendorong mereka untuk datang menghampiri Yesus Kristus? Kalau kita kembali ke dalam pasal yang ke-5 atau pasal yang ke-6 dan membandingkan dengan pasal yang ke-6 ayat yang ke-26, maka di situ kita mendapatkan satu pengertian bahwa pada waktu mereka datang ke sana, tujuannya adalah bukan karena mereka melihat tanda yang dilakukan oleh Yesus Kristus, tetapi karena mereka telah makan roti dan kamu menjadi kenyang. Atau Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tujuan mereka datang ke sana adalah karena mereka ingin mendapatkan satu berkat dari Yesus Kristus. Tetapi kenapa ketika mereka datang mereka bisa datang dengan begitu banyak dan mereka ingin mendapatkan berkat itu juga? Maka kalau Bapak, Ibu bandingkan dengan Yohanes pasal 5, di situ Bapak, Ibu akan melihat bahwa mereka sebenarnya datang karena mereka melihat ada orang yang sudah disembuhkan dengan begitu banyak, dan terutama yang secara khusus adalah mereka yang sudah atau seorang yang sudah mengalami kelumpuhan selama 38 tahun di dalam kehidupannya.
Jadi kalau saya urutkan kembali seperti ini, ya, pada waktu Yesus pergi menuju ke tanah Golan itu atau ketinggian Golan di situ Dia melihat, atau orang-orang banyak datang berbondong-bondong untuk bertemu dengan Yesus Kristus. Lalu apa yang membuat mereka datang berbondong-bondong menemui Yesus Kristus? Karena mereka melihat Yesus punya kuasa, Yesus memiliki kekuatan untuk bisa menyembuhkan orang dari sakit. Ada orang yang telah lumpuh 38 tahun dalam hidupnya itu bisa sembuh tanpa perlu masuk ke dalam kolam Betesda tersebut. Dan ini membuat orang-orang ingin mencari Yesus Kristus, dan mereka datang dan pergi ke mana pun Yesus pergi. Tetapi pada waktu mereka pergi untuk bertemu dengan Yesus Kristus, Alkitab mencatat di dalam Yohanes pasal 6 ini, mereka bukan datang karena mereka melihat tanda yang dilakukan oleh Yesus, tetapi mereka datang karena mereka menginginkan pemenuhan dari apa yang menjadi kebutuhan fisik mereka itu sendiri. Jadi kalau kita lihat, di mana Yesus mengadakan mukjizat ini? Yaitu di dataran tinggi Golan. Lalu, apa yang mendorong mereka datang ke dalam dataran tinggi Golan itu? Karena mereka melihat Yesus memiliki kuasa, Yesus memiliki mukjizat dan apa yang Yesus sudah lakukan kepada orang yang telah lumpuh selama 38 tahun tersebut.
Lalu, pada waktu orang banyak itu datang, Yesus kemudian berbicara kepada murid-murid-Nya; secara khusus kepada Filipus. Dan apa yang dikatakan oleh Yesus kepada Filipus? Yaitu, “Ada orang yang begitu banyak datang. Kita harus memberi makan kepada orang banyak ini.” Lalu, di sini terjadilah percakapan antara Yesus dengan Filipus, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi? Bahkan uang seharga 200 dinar pun tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun mereka masing-masing mendapat sekotong kecil saja.” Ada yang mengatakan atau menafsirkan seperti ini, “Walaupun kita sudah spend uang sebanyak 200 dinar untuk beli roti yang begitu banyak. Walaupun mereka masing-masing cuma gigit satu gigitan saja, kita nggak mungkin bisa memberi begitu banyak orang makan.” Berapa banyak orang itu? Memang di dalam bagian ini dikatakan 5.000 orang. Tetapi ada yang menafsirkan seperti ini, 5.000 orang sebenarnya bukan berbicara 5.000 orang. Tetapi ini adalah 5.000 laki-laki yang hadir di dalam pertemuan dengan Yesus Kristus, yang mewakili keluarga mereka. Dan kalau hal itu mewakili keluarga mereka, berarti kira-kira ada berapa banyak orang yang hadir pada waktu itu? Ada yang menafsirkan kira-kira 15.000 sampai 20.000 orang yang hadir pada waktu itu. Jadi, pada waktu Yesus bertanya kepada Filipus, “Kita harus memberi mereka makan. Kita harus menyediakan mereka makan.” Maka, Filipus ketika mendengar hal itu dan menjawab, “Bagaimana kita bisa memenuhi mereka makan? Uang 200 dinar itu nggak akan cukup.” Itu adalah hal yang sangat-sangat tepat sekali. Karena, mereka nggak mungkin bisa memberi makan begitu banyak orang.
Tetapi menariknya di sini adalah ada dua hal yang Yesus katakan. Pertama adalah kenapa Yesus menyatakan hal ini kepada Filipus dan bukan kepada murid-murid yang lain pada waktu itu? Nah, kalau kita melihat peta itu kembali. Maka, Bapak, Ibu akan mendapatkan jawabannya. Kenapa Yesus bertanya kepada Filipus? Kenapa bukan kepada Petrus? Bukan kepada Andreas? Bukan kepada Yohanes? Bukan kepada Yakobus dan yang lain? Karena Filipus di dalam pasal 1 Yohanes itu dikatakan berasal dari Betesda — atau maafkan, Betsaida. Betsaida itu di mana? Kalau Bapak, Ibu lihat di dalam peta yang sebelah kiri, di situ ada tulis Galilea. Lalu, di sebelah Timur-nya ada Danau Galilea di situ yang warna biru. Di Utara-nya sedikit, di situ lah kota Betsaida di mana Filipus berada atau berasal dari situ. Nah, kalau Bapak, Ibu bandingkan dengan peta yang di sebelah kanan; tanah Ketinggian Golan, di situ Bapak, Ibu bisa melihat bahwa Tanah Ketinggian Golan itu adalah tanah di mana Betsaida itu berada. Bagian Utara situ, ya.
Jadi, pada waktu Yesus bertanya kepada Filipus berkaitan dengan, “Kita harus—atau di mana kita bisa mendapatkan roti untuk memberi mereka makan” atau Yesus berkata, “Filipus kita harus menyediakan 5.000 orang ini makan roti tersebut.” Maka, sebenarnya Yesus sangat mengerti sekali kalau Filipus berasal dari daerah itu dan kalau Filipus berasal dari daerah itu Filipus harusnya mengerti di mana dia bisa mendapatkan roti. Atau misalnya kayak gini, ya. Setiap kali orang ke Jogja biasanya orang akan bertanya kepada saya terlebih dahulu khususnya kalau teman-teman atau mungkin teman-teman Bapak, Ibu kalau datang ke Jogja biasanya akan menghubungi terlebih dahulu. Lalu, apa yang mereka tanyakan? Pertama adalah kira-kira di mana kami bisa mendapatkan makanan yang enak-enak di Jogja ini. Ada rekomendasi tempat makanan tidak? Lalu, biasanya kayak gini pada waktu mereka datang tentunya di situ mereka juga tidak dengan keluarga saja tetapi dengan teman-teman lalu ketika mereka datang dengan teman, ada teman yang akan ngomong kayak gini, “Ini, loh, makanan yang enak tempatnya di A, di B, di C.” Lalu, teman yang kenal dengan saya mungkin tanya kayak gini, “Pak Dawis, di mana kita bisa makan? Ada rekomendasi nggak?” Teman yang satunya akan ngomong, “Ini, loh, tempat yang baik.” Tapi waktu dia tanya kepada saya mungkin ada sebagian yang saya konfirmasi, ada yang sebagian saya berkata, “Tempat itu boleh saja pergi tetapi ada tempat lain yang lebih enak dan harganya lebih murah daripada tempat yang disarankan itu.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mengapa dia tanya seperti itu untuk mengkonfirmasi? Karena kita berasal dari tempat ini. Kalau orang datang ke tempat ini, lalu ingin mendapatkan sesuatu yang lebih tepat, yang lebih murah mungkin, yang lebih enak seperti itu tentunya harus berbicara dengan orang yang tinggal di daerah tersebut. Nah, ini yang terjadi dengan Filipus, pada waktu Yesus bertanya kenapa nggak tanya kepada Petrus, yang lain? Karena mereka mungkin bukan berasal dari Betsaida, tetapi kalau bertanya kepada Filipus, dia berasal dari daerah itu atau dari daerah Ketinggian Golan, sehingga dia bisa memberitahu secara tepat. Dan pada waktu dia memberitahu ada masalah mungkin, yaitu apa? Pertama, mungkin walaupun mereka bisa mendapatkan roti yang sebanyak itu tetapi pasti satu hal yang mereka tidak mungkin bisa penuhi adalah uang untuk membeli roti tersebut. Itu sebabnya Filipus berkata, “Uang 200 dinar, bagaimana bisa memenuhi apa yang menjadi kebutuhan dari hampir 20 ribu orang yang hadir di tempat tersebut?”
Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu Yesus mendapatkan pertanyaan ini, menariknya adalah Yesus atau di sini dikatakan oleh Yohanes, Yesus mengetahui apa yang Dia tanyakan kepada Filipus. Dan tujuan Dia bertanya itu adalah untuk menguji Filipus. Jadi di sini bukan sesuatu yang naif yang Yesus katakan kepada Filipus, tetapi Dia betul-betul mengerti apa yang akan Dia lakukan, tetapi sebelum Dia melakukan hal itu, yaitu memberi 5.000 orang makan atau 20.000 orang makan itu, Yesus ingin menguji Filipus terlebih dahulu. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini yang terjadi pada waktu itu.
Lalu setelah mendapatkan jawaban dari Filipus yang saya kira ada yang menafsirkan cukup sarkastik kayak gitu ya. Karena mungkin bagi Filipus ini Gurunya gimana ya, orang 5.000 atau 20.000 hadir lalu kita harus memberi makan dengan uang yang kas ini atau yang sedikit ini, bagaimana mungkin? Lalu Filipus menjawab dengan cukup jutek kayak gitu “Gimana Guru? Kita nggak mungkin bisa memberi 5.000 makan itu.” Yesus tidak peduli. Lalu Yesus kemudian memberitahu Filipus, suruh mereka dan murid-muridnya yang lain mengumpulkan mereka dalam kelompok-kelompok untuk duduk di situ. Saya kira ini juga bukan sesuatu yang gampang untuk dilakukan, tetapi Yesus memerintahkan hal ini untuk mereka lakukan, tujuannya untuk apa? Mungkin tujuannya untuk mempermudah pembagian dari roti ini. Tetapi ya apa pun itu, Yesus kumpulkan mereka dan suruh mereka duduk berkelompok.
Nah ada satu hal yang menarik lagi, pada waktu mereka sedang melakukan hal itu ada seorang anak yang memiliki lima roti dan dua ikan. Lalu anak ini memberikan roti itu kepada Andreas untuk Andreas kemudian berikan kepada Yesus Kristus dan Yesus kemudian menggunakan lima roti dan dua ikan ini untuk memberikan makan kepada ribuan orang itu. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya tahu mungkin kita mengerti cerita ini, tetapi ada hal-hal yang ingin saya tekankan di dalam cerita ini makannya saya agak sedikit mengulang ini terlebih dahulu ya. Pada waktu Yesus melakukan mukjizat ini, lima roti, dua ikan untuk diberikan kepada orang banyak, hal apa yang perlu kita perhatikan di sini? Yaitu ini bukan satu tindakan yang berguna untuk menggerakkan orang untuk mengeluarkan makanannya supaya bisa memenuhi kebutuhan makan dari banyak orang. Tetapi ini adalah satu tindakan mukjizat yang dilakukan oleh Yesus Kristus, dengan cara bagaimana? Memultiplikasi lima roti, dua ikan itu sehingga bisa memenuhi kebutuhan dari 20.000 orang tersebut.
Jadi, pada waktu kita melihat mukjizat di dalam pasal 6 ini, mukjizat ini sedikit berbeda dengan mukjizat yang Yesus lakukan di perkawinan Kana. Kalau di dalam perkawinan Kana, kita melihat mereka kekurangan anggur. Lalu pada waktu mereka kekurangan anggur, apa yang dilakukan Yesus? Yesus meminta para pembantu itu untuk mengisi itu guci-guci atau tempat air yang ada di depan rumah. Lalu ketika guci itu diisi dan mereka mencedok ulang air itu, air itu sudah berubah menjadi anggur yang terbaik pada waktu itu. Tetapi pada waktu Yesus memberi makan 5.000 orang, Yesus menggunakan roti yang sudah ada, ikan yang sudah ada, dan ketika Dia memegang roti dan ikan yang ada di dalam tangan-Nya itu, mengucap syukur kepada Tuhan, kemudian Dia memecah-mecahnya, lalu membagi ke dalam kelompok yang ada, mereka kemudian dapat makan sampai kenyang dan mereka bahkan bisa mengumpulkan 12 bakul sisa daripada makanan itu.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara, yang dikasihi Tuhan, ini bicara mengenai apa? Ada banyak orang yang menafsirkan mengenai 12 bakul itu apa dan kuasa mukjizat Yesus di dalam memecah roti dan bisa menyediakan makanan itu. Saya nggak akan bahas ke arah situ, tetapi yang saya mau ajak Bapak, Ibu lihat seperti ini, pada waktu Yesus memecah roti itu, bagaimana caranya Yesus memultipikasi roti itu dan ikan itu? Ada orang yang berpikir Yesus mungkin pecah satu-satu, lalu Yesus bagi kepada murid, murid kemudian bagi kepada semua orang. Jadi Yesus pecah sampai 20.000 roti itu. Apakah begitu? Ada yang mengatakan nggak, kayaknya nggak mungkin seperti itu. Tetapi yang mungkin terjadi adalah mungkin Yesus memecah roti itu, lalu membagi kepada kelompok satu, Yesus memecah lagi, bagi ke kelompok kedua, Yesus memecah bagi ke kelompok tiga, lalu dari kelompok satu itu pecah lagi bagi ke yang lain, kelompok dua pecah lagi bagi ke yang lain lagi, akhirnya semuanya mendapatkan makanan. Maksudnya adalah ketika Yesus melakukan mukjizat itu, Yesus melakukan dengan sesuatu yang natural, membagi itu, memecah itu. Tetapi pada waktu roti itu terbagi dan terpecah secara natural, ternyata ada kejadian supranatural yang terjadi di dalamnya untuk bisa memenuhi semua orang dan mengenyangkan semua perut yang kelaparan pada waktu itu.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara, yang dikasihi Tuhan, ini hal yang penting ya. Artinya apa? Artinya Tuhan kita adalah Tuhan yang sanggup mengerjakan sesuatu hal yang supranatural melalui hal yang natural di dalam kehidupan kita. Kita sering kali berpikir bahwa pada waktu Tuhan bekerja dalam hidup kita, maka cara Tuhan bekerja adalah kalau itu bersumber dari Tuhan harus merupakan hal-hal yang supranatural atau sesuatu yang di luar daripada pemikiran kita atau sesuatu yang di luar dari logika kita atau sesuatu yang di luar daripada perhitungan kita. Jadi, pada waktu kita ingin melihat Tuhan bekerja, kita berdoa mati-matian minta Tuhan bekerja, yang kita harapkan dalam pikiran kita dan hati kita adalah “Tuhan, kalau bekerja, lakukanlah sesuatu yang luar biasa, sehingga saya betul-betul bisa melihat pekerjaan Tuhan yang luar biasa itu.” Tetapi pada waktu kita melihat Yesus memberi makan 5.000 orang ini, memang ada Hal yang luar biasa sih itu terjadi dari lima roti dan dua ikan bisa memenuhi 20.000 orang punya perut seperti itu. Tetapi peristiwa itu terjadi bagaimana? Dengan hal yang biasa, Yesus memecahkan roti membagikan orang lalu kemudian menerima pecahan itu, membagikan lagi, dan membagikan lagi pecahan itu, dan di situlah terjadi kuasa supernatural yang ada di Betsaida atau di Ketinggian Golan tersebut.
Nah saya kira ini adalah hal yang perlu kita perhatikan ya, khususnya berkaitan dengan apa? Apa yang dikatakan Paulus di dalam Roma 8:28. Dalam ayat ini dikatakan, “Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang dikasihi oleh Tuhan.” Lalu ada ayat yang lain, mungkin kalau Bapak, Ibu, masih ingat di dalam Yakobus 1:2. Di dalam Yakobus 1:2 dikatakan, “Anggaplah sebagai satu kebahagiaan apabila Engkau jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.” Mengapa ini menjadi ayat yang saya sorot? Karena di dalam ayat ini, kita sering kali kurang memperhatikan bagian di mana dikatakan “Tuhan turut bekerja di dalam segala sesuatu.” Yang kedua adalah “Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan kalau kita jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.” Kenapa begitu? Karena kalau kita baca, “anggaplah sebagai suatu kebahagiaan kalau engkau jatuh dalam berbagai pencobaan” dan “Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia”, maka hal itu baru bisa menjadi kebaikan bagi kita, hal itu baru bisa menjadi sesuatu yang mendatangkan kebahagiaan bagi diri kita, kalau kita bisa mendapatkan suatu kepastian di balik peristiwa pencobaan itu, di balik peristiwa yang tidak menyenangkan itu, di balik peristiwa dalam kehidupan kita sehari-hari itu ada tangan Tuhan, kuasa Tuhan yang mengatur segala sesuatunya.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, jadi kalau kita perhatikan, saya sakit, mungkin saya nggak jaga makan, mungkin saya tidak olahraga dengan baik. Tetapi ketika Bapak Ibu sedang jatuh sakit karena tidak jaga makan, tidak olahraga dengan baik, atau ada faktor genetika, atau ada faktor kejahatan orang yang terjadi dalam kehidupan kita, Bapak, Ibu bisa sadar, meskipun itu hal yang natural di dalam kehidupan kita, tetapi di balik itu ada kuasa supranatural Tuhan yang tetap menjaga dan memelihara kehidupan kita. Pada waktu Bapak, Ibu, mengalami kesulitan di dalam usaha, satu sisi mungkin kita berjuang setengah mati di dalam kehidupan kita dan seolah-olah itu adalah sesuatu yang kita usahakan dalam kehidupan kita sendiri, tetapi Bapak, Ibu harus mengerti, di balik kesulitan Bapak, Ibu sendiri, di balik satu usaha yang akhirnya berhasil di dalam melewati kesulitan itu atau di balik kegagalan yang Bapak, Ibu lakukan dalam hidupmu, di situ ada kuasa Tuhan yang menyertai, dan Tuhan sanggup menjaga kuasa supranatural untuk menjaga Bapak, Ibu, Saudara di dalam melewati kondisi itu.
Ini adalah hal yang kita bisa dapatkan di sini ya. Jadi pada waktu Yesus mengubah roti menjadi makanan untuk 20.000 orang itu, pada waktu Yesus mengubah 2 ekor ikan itu untuk bisa memberi lebih banyak perut untuk terisi dengan penuh, di situ kita mungkin melihat ini nggak mungkin, tetapi di dalam tangan Tuhan, Tuhan sanggup mengubah hal yang biasa itu, melalui memecah itu, yang tidak mungkin, untuk melakukan atau menjadikan apa yang Dia kehendaki terjadi di dalam dunia ini ataupun dalam kehidupan dalam diri kita.
Nah Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini berbicara mengenai apa yang terjadi di dalam peristiwa Yesus memberi makan 5.000 orang tersebut. Sekarang saya mau masuk ke dalam aspek yang berkaitan dengan tujuan dari mukjizat ini dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus. Tadi di awal saya menyebutkan berdasarkan apa yang dikatakan oleh Yohanes di dalam pasal yang ke-20, pada waktu kita melihat mukjizat yang dilakukan oleh Yesus, salah satu yang kita harus lihat dari pentingnya mukjizat itu, bukan dari mukjizat itu sendiri. Tetapi mukjizat yang dilakukan oleh Yesus itu memiliki satu tujuan, yaitu untuk menyatakan siapakah diri dari si pelaku mukjizat itu sendiri. Itu sebabnya pada waktu kita membaca Yohanes 20, Yohanes berkata pada waktu kita melihat tanda-tanda yang dilakukan oleh Yesus, tanda-tanda itu ditulis, tujuannya untuk apa? Untuk kita bisa percaya kepada Yesus Kristus dan memperoleh hidup dengan iman yang percaya kepada Yesus Kristus. Maksud dari Yesus Kristus melakukan mukjizat bukan supaya kita melihat, “oh Yesus punya kuasa hebat!” Lalu kuasa hebat itu tujuannya untuk apa? Tujuannya adalah untuk memenuhi apa yang menjadi kepentingan kita sendiri, seperti yang terjadi pada orang lumpuh ini, atau seperti yang terjadi pada 5.000 orang ini yang ketika mencari Yesus, mereka mencari apa yang mereka butuhkan untuk kebutuhan perut mereka sendiri, yang ketika mencari Yesus, mereka adalah orang-orang yang ketika melihat mukjizat, gagal untuk melihat siapa Pribadi yang melakukan mukjizat itu.
Ada yang mengilustrasikan seperti ini, kalau Bapak, Ibu misalnya ingin pergi ke suatu tempat tertentu, atau wisata tertentu, misalnya Gua Pindul misalnya, di Gunung Kidul. Itu adalah tempat kita bisa naik ke atas apa itu namanya, ban, lalu duduk di atas ban, lalu kita kemudian ditarik masuk ke dalam gua, untuk menyusuri sungai di dalam gua itu sampai ke ujung satu lagi. Lalu Bapak, Ibu, pengen pergi ke sana, dalam gua itu. Lalu Bapak, Ibu pergi naik kendaraan. Lalu di tengah jalan Bapak, Ibu lihat “Gua Pindul”, lalu Gua Pindul itu ada petunjuk pergi ke daerah Gunung Kidul, di daerah tertentu di Gunung Kidul itu. Lalu ketika Bapak, Ibu mengikuti petunjuk itu lalu Bapak, Ibu, lihat ada satu gambar besar, orang lagi naik ban, di dalam gua itu, atau di dalam sungai itu. Lalu mereka kemudian kelihatan senang sekali melihat gua yang ada stalaktit, ada stalakmit di situ. Lalu kemudian Bapak, Ibu berhenti di situ, lalu Bapak, Ibu ngomong, “Yah anak-anak, temen-temen, kita kita sudah sampai di Gua Pindul.” Lalu mulai menggelar tikar, lalu kemudian menikmati suasana yang ada di situ. Apakah itu berarti kita sudah sampai di Gua Pindul itu? Apakah kita sudah menikmati Gua Pindul itu? Jawabannya tidak, kan? Kita hanya datang ke tempat itu. Kita mengikuti petunjuk di situ. Kita pikir petunjuk itu adalah Gua Pindul itu sendiri, padahal petunjuk itu hanya mau menunjukin di daerah situ ada Gua Pindul. Kita belum sampai. Kita harus membaca informasi lain untuk bisa menuju kepada Gua Pindul itu.
Jadi, pada waktu kita melihat orang-orang banyak yang datang kepada Yesus, mereka pikir mukjizat itulah tujuan Yesus di dalam melayani dan kita perlu mendapatkan mukjizat itu sendiri. Jadi, itu sebabnya pada waktu Yesus sudah melakukan mukjizat 5.000 roti itu atau memberi makan 5.000 orang itu, di situ mereka pikir, “Wah, kalau kita punya raja seperti ini: Dia punya kuasa untuk melakukan mukjizat itu. Kita jadikan Dia raja, maka kita pasti akan kenyang, kita pasti tidak akan mengalami kesulitan masalah makanan. Apalagi Dia punya kuasa untuk bisa menyembuhkan orang juga. Jadi, kalau kita punya raja seperti itu, hidup kita akan nyaman sekali dalam dunia ini karena makanan sudah tercukupi, kesehatan kita ndak perlu kuatirkan lagi.”
Mereka lupa: tujuan Yesus melakukan mukjizat itu bukan untuk memberi mereka makan tok. Dan bukan hanya untuk menyembuhkan mereka tok. Tetapi untuk membuat mereka mengerti siapa Yesus Kristus itu, yaitu siapa? Kalau Bapak, Ibu perhatikan di dalam Kitab Suci, kalau kita kembali dalam Injil Yohanes, pasal 1 misalnya, ayat 1–3. Di situ Yohanes sudah memberi tahu kepada kita tujuan Yesus datang atau siapa yang menjadi Pribadi Yesus itu. Dia bukan hanya seorang guru biasa, Dia bukan hanya seorang yang manusia yang pernah ada di dalam dunia lalu kemudian tidak ada lagi di dalam dunia ini, tetapi Dia adalah Allah sendiri yang inkarnasi ke dalam dunia untuk menjadi sama seperti kita demi untuk menebus dosa kita, demi untuk memberikan hidup yang kekal bagi diri kita.
Jadi, pada waktu Yesus mengadakan mukjizat memberi 5.000 orang makan roti itu, sebenarnya di balik dari peristiwa mukjizat itu, murid-murid dan orang banyak itu harus bisa melihat: ini bicara mengenai apa? Bicara mengenai Yesus adalah Penyedia hidup yang kekal karena ketika kita makan tubuh-Nya, maka kita akan memperoleh hidup yang kekal itu. Nah, bicara makan tubuh-Nya ini bukan bicara makan tubuh fisik atau kanibalisme. Tetapi kalau Bapak, Ibu baca di dalam Yohanes 6, di situ bicara mengenai: kalau kita percaya kepada Yesus Kristus maka kita akan memperoleh hidup. Jadi bukan makan daging-Nya sungguh-sungguh dan bukan minum darah-Nya sungguh-sungguh pada waktu itu.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Yesus ketika melakukan mukjizat ini, Yesus ingin memberitahu bahwa Dia adalah sungguh-sungguh pemberi hidup yang kekal bagi mereka yang percaya kepada diri Dia. Nah, kalau ini menjadi dasar, kenapa Yesus menggunakan makanan? Kenapa Yesus menggunakan manna itu? Dan mengatakan tubuh-Nya adalah sungguh-sungguh roti itu. Kalau ini menjadi pertanyaan, kita boleh balik sedikit ke dalam pasal 6:4. Di dalam pasal 6:4 di situ: “Dan Paskah hari raya orang Yahudi sudah dekat.” Maksudnya bagaimana? Pada waktu Yesus memberi 5.000 orang makan, ini terjadi di dalam konteks orang Yahudi akan merayakan hari Paskah. Dan kalau kita bicara mengenai konteks orang Yahudi mau merayakan hari Paskah, apa yang terjadi di situ? Orang Yahudi akan langsung memiliki pemahaman bahwa Paskah itu adalah hari di mana Musa memerintahkan kepada orang Israel untuk mengambil seekor domba. Lalu domba itu kemudian disembelih, darahnya ditampung, dan darahnya itu dioleskan di ambang pintu dari rumah masing-masing sehingga ketika malaikat Tuhan lewat –maut itu–, dia tidak masuk ke dalam rumah orang Yahudi. Tapi dia masuk ke dalam rumah orang-orang yang tidak ada darah di ambang pintunya, lalu membunuh semua anak sulung yang ada di situ. Lalu setelah peristiwa itu, orang Israel keluar dari Mesir. Lalu kemudian ketika mereka ada di dalam padang gurun itu, mereka kemudian diberikan makanan manna oleh Tuhan di padang gurun selama 40 tahun itu.
Jadi, maksudnya adalah pada waktu Yesus berbicara mengenai diri-Nya adalah roti itu: tubuh-Nya betul-betul bisa dimakan, darah-Nya betul-betul bisa diminum, seperti itu. Bapak, Ibu harus melihat dari konteks ini. Dan di dalam konteks ini, orang Yahudi sangat mengerti sekali bahwa ini adalah satu peristiwa di mana Tuhan memberi mereka makan. Dan untuk bisa memberi mereka makan, mereka harus terlebih dahulu keluar dari tanah Mesir. Dan, untuk bisa keluar dari tanah Mesir di situ, ada domba yang harus disembelih terlebih dahulu.
Nah, ini yang berusaha diceritakan oleh Yesus Kristus dan juga oleh Rasul Yohanes di sini. Misalnya, –kalau Bapak, Ibu perhatikan, ya– di dalam Yohanes 1, di awal, Yesus pernah ditunjuk Yohanes Pembaptis dan mengatakan, “Inilah Anak Domba Allah penghapus dosa dunia.” Jadi, dari awal, Yohanes sudah mengindikasikan, “Orang ini adalah domba Paskah.” Lalu, pada waktu peristiwa Paskah itu – di pasal 6, Yesus memberi makan 5.000 orang itu– itu menjadi sarana yang penting untuk menolong orang mengerti bahwa ada Pribadi yang memberi makan. Dan Pribadi itu lebih besar daripada Musa di waktu orang Israel keluar dari padang gurun atau dari perbudakan di Mesir itu dan berada di padang gurun itu. Dan Pribadi itu siapa? Pribadi itu bukan Musa, tetapi Dia adalah Allah yang telah memberi makan kepada orang Israel itu. Dan siapa Allah itu? Di dalam pasal 6, Yesus mau berkata: “Bapa-Ku yang memberi orang itu makan.” Tetapi, selain dari Bapa-Ku yang memberi orang itu makan, Yesus juga mau berkata: “Aku yang memberi engkau makan dari roti itu yang tersedia itu.” Jadi, di sini, Yesus mau bicara, Dia lebih besar dari Musa. Dia adalah Allah yang bisa memberi makan kepada umat-Nya dan ini adalah tujuan dari mukjizat yang Yesus lakukan. Tetapi, makan di sini, sekali lagi bukan bicara makan tubuh Yesus yang sesungguhnya, tetapi ini menjadi satu sarana untuk menjelaskan kepada orang-orang Yahudi supaya mereka mengerti bahwa Dia adalah roti hidup. Dia pemberi hidup yang kekal bagi setiap orang yang percaya kepada diri-Nya.
Lalu, yang terakhir, saya mau tekankan seperti ini. Pada waktu Yesus memberi makan 5.000 orang itu dan hal itu terjadi, kita akan melihat kepada perkataan yang Yesus katakan kepada Filipus berkaitan dengan pemberian makan itu, yaitu Yesus berbicara untuk menguji Filipus. Nah, maksudnya bagaimana? Maksudnya begini. Pada waktu kita melihat Yesus memberi makan 5.000 orang itu dan ini adalah tawaran hidup kekal yang Yesus berikan kepada orang-orang yang hadir pada waktu itu. Kita mungkin bisa berpikir seperti ini: “Oh, kalau Yesus memberikan tawaran itu mengenai hidup kekal, maka peristiwa 5.000 orang yang diberi makan ini adalah tujuannya untuk orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus atau belum mengenal Yesus Kristus, sehingga pada waktu mereka melihat kepada Yesus Kristus, mereka harus melihat bahwa Yesus adalah roti hidup itu. Yesus bisa memberikan hidup yang kekal itu kepada diri mereka.
Tetapi, bagi kita bagaimana? Nah, di sini ada yang menafsirkan seperti ini: Bagi kita, hal ini juga menjadi hal yang penting. Dalam pengertian apa? Ini menjadi sesuatu penguji bagi diri kita. Pada waktu Tuhan menebus kita, Tuhan ingin kita menjadi saksi bagi Dia di dalam dunia ini mengenai hidup kekal yang ada di dalam diri Yesus Kristus. Maka, di situ, Dia berkata seperti ini: Sebelum kita menawarkan hidup yang kekal itu atau memberitakan tentang Yesus, kita terlebih dahulu harus sudah mengerti dan menerima Yesus dan makan roti itu terlebih dahulu dalam hidup kita. Tetapi, pada waktu kita sudah menerima makan roti itu atau hidup yang kekal itu sudah menjadi milik dari diri kita, maka hal berikutnya yang kita perlu juga pergumulkan atau kita uji dalam diri kita adalah seperti ini: Di dunia ada banyak tawaran, di dunia mungkin ada banyak jalan, seperti itu, dda banyak daya tarik untuk seseorang bisa datang. Kita sendiri, ketika ingin mengabarkan atau ingin menarik mereka datang, makanan apa yang kita supply kepada diri mereka? Apakah kita men-supply atau memberikan tawaran, yaitu roti hidup itu secara khusus kepada diri mereka dan membawa mereka untuk melihat bahwa di dalam Yesus ada hidup yang kekal itu atau kita berpikir ada jalan lain, cara lain yang lebih menarik daripada menawarkan Yesus sebagai roti hidup itu bagi diri mereka.
Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, di sini, pada waktu kita melihat kepada mukjizat Yesus dan Yesus melakukan mukjizat itu, maka di situ kita bisa melihat Dia memang adalah Allah itu sendiri. Dia punya kuasa untuk menyatakan itu dan kita harus melihat bahwa Dia memang Pribadi itu dan Dia adalah satu-satunya yang kita harus sebagai gereja Tuhan harus tawarkan kepada dunia karena Dia memang adalah hidup yang kekal itu, diri Dia itu, kalau kita percaya kepada diri Dia. Jadi ini mungkin sedikit yang saya bisa bagikan kepada Bapak, Ibu berkaitan dengan peristiwa Yesus memberi makan 5.000 orang ini. Mari, kita masuk ke dalam doa.
Bapa di surga, kami sungguh bersyukur, di dalam kasih-Mu, Engkau boleh memimpin kami untuk mengerti firman. Bahwa Engkau memiliki kuasa untuk memelihara hidup kami. Engkau memiliki kuasa bukan hanya untuk memelihara hidup kami, tetapi Engkau memiliki kuasa untuk memberikan hidup yang kekal bagi kami. Karena ketika kami percaya kepada Engkau, Engkau sungguh-sungguh adalah jalan satu-satunya itu untuk kami boleh ditebus dari dosa kami dan mendapatkan hidup di dalam Engkau. Karena itu, ya, Bapa, biarlah ketika kami berjalan, ketika kami mengikut Tuhan, kami boleh mengerti ini adalah hal yang paling penting dalam hidup kami, bahwa iman yang percaya kepada Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamat bukan sesuatu yang boleh digantikan atau dikompromikan lebih dari segala sesuatu yang lain karena hanya di dalam Engkau saja, ada kemenangan terhadap dosa. Ada hidup yang kekal itu. Tolong kami, ya, Tuhan. Pimpin setiap kami dan biarlah kami di dalam setiap hidup kami sungguh boleh menyatakan kalau Yesus sungguh-sungguh adalah roti hidup itu di dalam kehidupan kami. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.
