Yesus Berjalan Di Atas Air
Yoh. 6:16-21
Pdt. Dawis Waiman, M. Div.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, peristiwa Yesus berjalan di atas air ini adalah satu peristiwa yang terjadi paska Yesus memberi 5.000 orang makan dengan 5 roti dan 2 ikan. Dan pada waktu hal itu terjadi, Alkitab di dalam Injil Yohanes ini mengatakan, terjadi ketika murid-murid memutuskan untuk pergi menyeberangi Danau Galilea dari Kota Betsaida menuju ke Kapernaum. Bapak, Ibu bisa lihat di dalam peta yang tadi ditampilkan. Betsaida adalah 1 kota yang terletak di Dataran Golan, yaitu agak ke Utara, sisi sebelah Timur. Di situ ada Kota Betsaida. Dan di atas Kota Betsaida itu adalah tulisan Golan Heights. Di sana adalah tempat di mana Yesus mengadakan mukjizat memberi makan 5.000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan.
Lalu, setelah peristiwa itu, di dalam Yohanes 6:16 dikatakan bahwa murid kemudian menaiki perahu, menyeberang menuju ke Kapernaum. Kapernaum adalah kota di sisi Barat dari Betsaida, sehingga mereka kemudian menaiki perahu menuju kepada Kapernaum tersebut. Nah, pada waktu kita melihat kepada peristiwa ini, kita mungkin bertanya, apa yang membuat murid memutuskan untuk pergi menuju ke Kapernaum menggunakan perahu pada waktu itu? Apakah perahu menjadi satu-satunya alat transportasi yang bisa digunakan untuk menuju Kapernaum dari Betsaida itu? Tetapi, kalau Bapak, Ibu membaca dari pasal yang ke-6 sebelumnya, maka kita bisa menemukan pada waktu Yesus bersama murid-murid pergi menuju kepada Betsaida di mana mukjizat mengubah roti yang 5 itu dan 2 ekor ikan untuk memberi makan 5.000 orang, maka orang banyak yang mengetahui bahwa Yesus tidak ada lagi di seberang dari danau itu, mengambil inisiatif untuk berjalan menuju ke Betsaida menggunakan kaki mereka. Jadi, dari sini, kita bisa mengetahui bahwa alat transportasi untuk menuju ke Betsaida dari Kapernaum atau dari Betsaida menuju Kapernaum itu bukan hanya 1 jalur saja, tetapi ada 2 jalur yang digunakan. Bisa melalui darat atau bisa melalui air.
Lalu, yang kedua adalah pada waktu kita melihat bahwa murid-murid memutuskan sepertinya untuk menuju ke Kapernaum melalui air, maka pertanyaan yang kita bisa tanyakan berikutnya adalah: Apakah ini adalah pilihan yang tepat bagi mereka atau tidak? Kenapa saya berbicara seperti ini? Karena pada waktu mereka berada di dalam perjalanan itu, baru ketika mereka mendayung kira-kira 2-3 mil jauhnya menyeberangi Danau Galilea, yaitu kira-kira 3,2 km sampai 4,8 km, maka di sini dicatat bahwa langit gelap dan pada waktu itu tiba-tiba ada angin kencang yang menerpa mereka, sehingga murid-murid mengalami kesulitan untuk mendayung perahunya menuju kepada Kapernaum tersebut. Kalau kita melihat hal ini, mungkin kita akan bertanya: Apakah ini adalah satu keputusan yang benar? Bukankah ada metode kedua untuk menuju ke Kapernaum, yaitu melalui perjalanan darat, seperti itu? Tetapi, saat ini, saya nggak tahu siapa yang menjadi inisiatornya. Kalau dari Injil Yohanes, karena pada waktu itu hanya dikatakan bahwa ketika hari mulai gelap, maka murid-murid Yesus kemudian naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum pada waktu itu. Mungkin kita bisa berpikir: Ini mungkin adalah pimpinan dari Petrus. Kalau ini adalah pimpinan dari Petrus, berarti Petrus sudah mengambil suatu keputusan yang salah bagi kita untuk memutuskan menggunakan perahu menuju ke Kapernaum. Nah, akibatnya apa? Kami mengalami kesulitan; Kami mengalami bahaya; Kami mengalami kondisi yang mengancam nyawa kami ketika kami berada dalam perjalanan tersebut. Coba kalau kita mengambil jalan darat menuju ke Kapernaum itu, maka kita tidak akan mengalami masalah ini di dalam perjalanan ini dan mungkin kita sudah sampai di Kapernaum tanpa mengalami musibah yang begitu mengancam jiwa ini.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, akan tetapi, kalau Bapak, Ibu bandingkan dengan Markus pasal 6, kita akan menemukan bahwa ternyata keputusan untuk pergi menuju Kapernaum menggunakan perahu itu bukan keputusan dari Petrus. Itu bukan keputusan atau inisiatif daripada murid-murid itu sendiri, tetapi ini adalah perintah langsung dari Yesus Kristus sendiri. Bapak, Ibu bisa lihat di dalam ayat 45, paska dari Yesus memberi makan 5.000 orang itu, maka dikatakan, “Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida-” Di sini dibilang ke Betsaida, tetapi dari Betsaida sebenarnya di ayat ke-7, menuju kepada Kapernaum. “-sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.” Jadi, pada waktu murid-murid naik perahu, pertanyaannya adalah: ini adalah keputusan dari siapa? Ini adalah kehendak dari siapa? Maka, di dalam Injil Markus yang mendapatkan pengertian ini tentunya dari Petrus sendiri, dikatakan bahwa ini sebenarnya bukan keputusan dari Petrus, ini bukan keputusan dari murid-murid yang lain, tetapi ini adalah keputusan dari Yesus Kristus sendiri.
Nah, mengapa ini menjadi satu hal yang saya tekankan di sini? Karena pada waktu kita berjalan mengikut Yesus Kristus, sering kali dalam pemikiran kita, perjalanan mengikut Yesus itu adalah hal yang baik. Kalau terjadi hal yang tidak baik di dalam perjalanan kita atau hal yang mengakibatkan kerugian atau hal yang mengakibatkan kita ada di dalam satu bencana tertentu atau hal yang mengakibatkan keburukan-keburukan yang terjadi dalam hidup kita, kadang-kadang orang Kristen berkata, “Itu bukan bersumber dari Tuhan, tetapi itu bersumber dari iblis.”
Pernah suatu hari ketika saya memimpin KTB, ada satu orang yang berbicara kepada saya bertanya, “Dari mana asal ada penyakit?” misalnya, “Dari mana asal” – yang lebih ekstrem – “kematian di dalam hidup manusia?” Kenapa manusia bisa mengalami kematian seperti itu? Pada waktu saya berkata, Alkitab mengatakan, kematian manusia itu ada di dalam tangan Tuhan, tidak ada satu pun manusia yang bisa mati di luar daripada kehendak Allah termasuk di dalam penyakit, maka dia ndak bisa terima sama sekali, karena di dalam konsep dia bahwa kematian itu bukan bersumber dari Tuhan, karena kematian itu adalah sesuatu yang jahat. Lalu kalau Saudara perhatikan di dalam kitab Ayub juga, sebelumnya, jangan kutip kitab Ayub lah ya, tapi saya juga pernah berbicara dengan orang lain, lalu orang lain itu berkata seperti ini, “Pak, pokoknya ya Tuhan selalu memberi pemberian yang baik bagi kita, tetapi Tuhan tidak pernah memberi satu pemberian yang jahat bagi kita.” Saya percaya ini adalah perkataan yang benar, karena kalau Saudara baca di dalam surat Yakobus, di situ ada katakan Tuhan segala pemberian yang baik itu bersumber dari Tuhan sendiri.
Berarti pada waktu kita menerima apa yang baik dalam kehidupan kita itu bersumber dari siapa? Ya dari Tuhan. Apakah Tuhan pernah memberikan sesuatu yang buruk dalam kehidupan kita? Jawabnya nggak pernah. Betul nggak? Susah ya? Maksud saya adalah seperti ini, pada waktu kita melihat baik dan buruk, kita melihat dari kacamata siapa dulu? Kalau kita melihat dari kacamata manusia, mungkin kita akan berkata, “Ada hal buruk yang terjadi di dalam hidup kita.” Misalnya, “Saya sakit, kenapasaya sakit?” Mungkin karena kita ndak jaga kesehatan, tetapi juga mungkin karena iblis membawa kita dalam penyakit seperti dalam Ayub. Tetapi mungkin juga sakit itu bisa bersumber dari seizin Tuhan. Maksudnya adalah pada waktu kita mengalami sakit, sakit itu bukan sesuatu yang baik dalam hidup kita, sakit itu betul-betul menderita, membuat kita tidak nyaman, tidak enak dalam hidup ini. Tetapi pada waktu kita melihat hal yang buruk itu, maka Alkitab selalu mau mengajak kita melihat dari kacamata Tuhan, hal yang buruk itu sebenarnya adalah sesuatu yang buruk tidak? Kalau kita hanya melihat dari kacamata manusia, lalu dari kacamata iblis, maka kita akan mengatakan hal yang atau penyakit itu adalah sesuatu yang buruk, sesuatu yang tidak baik dalam hidup kita, sehingga kita akan merasa bahwa Tuhan tidak mungkin memberikan hal yang buruk itu dalam kehidupan kita. Tetapi kalau kita melihat dari kacamata Alkitab atau dari kacamata Tuhan, maka Alkitab mengajarkan tidak ada satu pun yang terjadi di dalam dunia ini yang bisa terjadi di luar dari kehendak Allah. Dan kalau itu bersumber dari Allah, maka hal yang buruk yang kita alami dalam hidup kita, kita bisa katakan sebagai hal yang baik karena itu ada di dalam tangan pimpinan Tuhan sendiri.
Nah, dari kacamata ini, Saudara, saya mau ajak kita melihat pada peristiwa di dalam Yohanes pasal 6 ini. Pada waktu murid-murid menyeberangi Danau Galilea itu, dari Betsaida menuju kepada Kapernaum, mereka mengalami musibah di tengah perjalanan itu. Mereka mengalami bencana. Apa yang menjadi penyebab bencana itu? Mungkin ada orang berkata, “Oh, itu adalah ulah iblis.” Kalau Bapak, Ibu melihat di dalam Markus pasal yang ke-6, perikop berikutnya, setelah peristiwa itu mereka menuju ke Genesaret. Lalu di Genesaret mereka kemudian bertemu dengan orang yang kerasukan iblis dan mungkin iblis sedang menahan mereka untuk tidak menuju kepada Genesaret itu. Tapi kalau Bapak, Ibu baca di dalam Yohanes pasal 6, maka kita ndak menemukan peristiwa itu paska dari Yesus berjalan di atas air. Tapi yang terjadi adalah setelah Yesus menyeberangi, keesokan harinya orang banyak mencari Yesus kembali.
Jadi pada waktu kita melihat pada peristiwa di dalam Yohanes 6, mungkin kita bisa berkata seperti ini, adanya badai itu, adanya angin besar itu, ini bukan dikarenakan ulah iblis, tetapi ini adalah akibat dari alam atau peristiwa alam yang terjadi pada waktu itu. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apa yang membuat murid-murid harus menghadapi peristiwa alam tersebut? Yaitu perintah dari Yesus Kristus sendiri. Nah, di sini pertanyaan yang mungkin kita tanyakan adalah begini, Yesus tahu tidak kalau murid-murid akan mengalami badai atau Yesus tidak tahu kalau murid-murid akan mengalami badai sehingga Dia menyuruh murid-murid melewati Danau Galilea? Kalau Dia tahu murid-murid akan mengalami badai, maka Dia menyuruh murid-murid untuk melewati tanah atau perjalanan kaki menuju kepada Kapernaum. Kira-kira yang mana, Bapak, Ibu? Kalau kita baca kelanjutan dari perikop ini atau ayat yang kita baca, maka saya dapat dengan tegas menyatakan Yesus tahu persis kalau murid-murid akan mengalami badai dan Yesus tetap memerintahkan murid untuk berjalan melewati Danau Galilea menggunakan perahu. Celaka nggak? Kita akan berkata, “Kok begitu ya Tuhan kita? Kenapa Tuhan kita izinkan hal itu terjadi dalam hidup kita? Bukankah mengikut Tuhan seharusnya Tuhan selalu memberi yang baik dalam kehidupan kita? Bukankah mengikut Tuhan seharusnya kita ada di dalam berkat Tuhan?” Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ada satu prinsip yang penting di sini. Pada waktu kita mengikut Yesus, ingat baik-baik, Yesus memimpin Saudara bukan untuk berjalan di dalam kenyamanan, tetapi Yesus memimpin Saudara untuk berjalan di dalam kondisi yang makin membuat saudara serupa dengan Kristus. Dan untuk Saudara bisa makin serupa dengan Kristus, hal berikutnya yang Saudara harus memahami adalah siapakah Kristus itu dan apa yang menjadi karakter Kristus dan kuasa Kristus di dalam kehidupan kita. Maka, itu sebabnya pada waktu murid-murid berjalan di dalam perahu itu menuju ke Kapernaum, Tuhan Yesus tahu nggak? Tuhan Yesus tahu. Kenapa Tuhan perintahkan itu? Sebabnya adalah karena Tuhan ingin menyatakan siapa diri Dia kepada murid-murid. Nah, ini dinyatakan dari apa? Kalimat yang Yesus kemudian katakan, “Aku ini. Jangan takut.”
Dan setelah peristiwa itu atau perkataan itu diucapkan, di dalam Injil Yohanes nggak dikatakan apa-apa, kecuali dikatakan bahwa saat mereka menaikkan Yesus ke dalam perahu, maka seketika itu juga perahu itu sampai ke pantai. Artinya adalah pada waktu mereka menaikkan Yesus ke perahu, tiba-tiba mereka tidak lagi perlu menghadapi badai itu karena mereka sudah sampai ke tujuan. Ada yang mengatakan ini adalah mukjizat yang terjadi. Ada yang membayangkan kapal itu meluncur langsung terbang di udara sampai ke lokasi tujuan mereka. Ada yang nggak mengatakan seperti itu, cuma mengatakan bahwa kapal itu tiba-tiba tiba di tujuan mereka sehingga mereka tidak perlu mengalami badai itu.
Tapi kalau Bapak, Ibu baca di dalam Injil Markus, maka di situ kita mendapatkan pada waktu mereka menaikkan Yesus ke dalam perahu itu, ada satu peristiwa lagi yang terjadi pada waktu itu. Di ayat 51, “Maka angin pun redalah, sehingga membuat mereka tercengang-cengang pada waktu itu.” Jadi, ini adalah satu peristiwa yang Tuhan izinkan murid-murid masuk ke dalamnya. Tujuannya untuk apa? Tujuannya untuk bertanya, siapakah orang ini yang berdiri di hadapan kami ini? Dan ketika Yesus berkata, “Aku ini. Jangan takut.” Maka, di situ sebenarnya bukan satu jawaban yang Yesus katakan hanya untuk memberitahu identitas diri-Nya, “Aku Yesus gurumu. Jangan takut.” Tetapi di situ Yesus mau mengatakan, “Aku adalah Tuhan yang berkuasa atas alam semesta ini. Aku bukan hanya Tuhan yang berkuasa atas penyakit. Aku bukan hanya Tuhan yang berkuasa atas iblis. Aku bukan hanya Tuhan yang berkuasa atas pemerintah dan penguasa yang ada dalam dunia ini. Tetapi Aku juga adalah Tuhan yang berkuasa atas alam semesta ini dan berdaulat atas alam semesta ini.”
Nah, mengapa ini menjadi satu hal yang kita perlu perhatikan dan dari mana prinsip ini didapatkan? Maka, Bapak, Ibu bisa melihat dalam dua bagian Kitab Suci berkaitan dengan ini. Pertama adalah kata ego emi sendiri. Kata ego emi memang di dalam Kitab Suci bisa digunakan dalam pengertian bahwa dia berbicara mengenai orang atau menyatakan siapa diri orang itu. Misalnya, kalau Bapak, Ibu membaca di dalam kitab Kejadian, maka di situ ada cerita mengenai Yusuf. Dan di dalam cerita mengenai Yusuf yang berhadapan dengan saudara-saudaranya pada waktu itu—saya singkat aja—di dalam peristiwa itu akhirnya Yusuf kemudian ingin memperkenalkan diri dia kepada saudara-saudaranya yang sudah menjual dia ke Mesir pada waktu itu. Dan pada waktu dia memperkenalkan diri, Yusuf berkata, “Ini aku.” Memang dalam bahasa Ibrani. Tapi di dalam bahasa Yunaninya diterjemahkan ego emi. “Ini aku. Aku adalah Yusuf. Saudaramu itu.”
Tapi kalau Saudara baca di dalam Keluaran 3:14, ternyata Tuhan juga menggunakan kata yang sama untuk mengidentifikasikan diri Dia. Misalnya, pada waktu Musa diutus oleh Tuhan menuju ke Mesir untuk membebaskan orang Israel dari perbudakan di Mesir. Pada waktu Musa bertemu dengan Tuhan di semak yang berduri, yang ada apinya tetapi tidak terbakar itu. Maka Musa bertanya kepada Dia, “Kalau andai kata orang-orang Israel bertanya siapa nama-Mu atau siapa yang mengutus aku, aku harus jawab bagaimana?” Di situ Tuhan berkata kepada Musa, “Aku adalah Aku yang telah mengutus kamu—atau telah mengutus aku kepadamu.” Istilah ‘Aku adalah Aku’ itu adalah perkataan ego emi di dalam bahasa Yunaninya. Jadi, pada waktu kita berbicara mengenai ego emi, ego emi punya dua pengertian. Satu berbicara mengenai, “Ya, ini Saya.” Tapi yang kedua adalah mau berbicara mengenai Tuhan menyatakan diri-Nya. Itu adalah nama Tuhan sendiri atau identitas Tuhan sendiri pada waktu itu.
Nah, di dalam peristiwa dari Yesus Kristus, ego emi yang mana? Saya melihat dalam peristiwa Yesus berjalan di atas air, ini mau menyatakan ego emi yang kedua. Bukan hanya berbicara mengenai, “Ini adalah Aku. Aku adalah Yesus Kristus.” Tapi, Yesus mau menyatakan Dia adalah Tuhan yang berkuasa atas alam semesta, kepada murid-murid-Nya pada waktu itu. Nah, melalui peristiwa apa? Tadi saya ajak lihat pada waktu Yesus naik ke atas perahu, murid-murid tercengang karena angin mendadak menjadi reda dan kapal mereka langsung tiba di tujuan. Tetapi ada aspek yang kedua, yang kalau Bapak, Ibu lihat itu dari dalam kitab Mazmur sendiri dan ini adalah sesuatu yang kalau bagi kita mungkin adalah hal yang kita tidak pahami, apakah karena kita kurang membaca Alkitab atau kurang menghafal ayat Alkitab, tetapi bagi orang Yahudi pada waktu berbicara mengenai kitab Taurat, ini adalah satu kitab yang mereka harus kuasai sejak mereka masih berumur belasan tahun. Mereka membacanya, mereka menghafalnya, mereka berusaha untuk mengertinya dan di dalam kitab Mazmur ini membawa kita untuk melihat bahwa hanya ada satu Pribadi yang memiliki kuasa untuk bisa menaklukkan lautan. Bukan hanya menaklukkan alam ini atau dunia, tetapi memiliki kuasa untuk menaklukkan laut atau menaklukkan satu keberadaan yang mungkin bisa digambarkan sebagai satu keberadaan yang begitu menakutkan, penuh dengan kegelapan, penuh dengan kegelisahan atau penuh dengan kekosongan dan penuh dengan kebingungan ini.
Saya mau ajak Bapak, Ibu melihat di dalam Maz. 77 terlebih dahulu. Silakan buka Maz. 77, kita akan membaca ayat yang ke-17. Mzm. 77:17, bersama-sama. “Air telah melihat Engkau, ya Allah,air telah melihat Engkau, lalu menjadi gentar,bahkan samudera raya gemetar.” Lalu kemudian kita mengutip dari Mzm. 107. Mzm. 107, kalau Bapak, Ibu baca dari ayat yang awal, kita bisa melihat Tuhan punya kuasa untuk memimpin umatnya. Contohnya misalnya kalau Bapak, Ibu baca dari ayat 4, “Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan;” Lalu ayat 6, “Maka berseru-serulah mereka kepada Tuhan dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.” Lalu misalnya ayat 10, “Ada orang-orang yang duduk di dalam gelap dan kelam terkurung dalam sengsara dan besi. Karena mereka memberontak terhadap perintah-perintah Allah dan menista nasihat yang Maha Tinggi. Maka ditundukkannya hati mereka ke dalam kesusahan, mereka tergelincir dan tidak ada yang menolong. Maka berseru-serulah mereka kepada Tuhan dalam kesesakan mereka dan diselamatkannyalah mereka dari kecemasan mereka.”
Kalau kita baca ayat 4 dan ayat 10 itu hal yang biasa. Orang berjalan di dalam jalan, ada masalah berteriak kepada Tuhan minta tolong. Kita hidup di dalam daratan, kita merasa itu adalah hal yang umum di dalam pergumulan. Ada orang yang berjalan di dalam kegelapan, lalu ketika mereka ada di dalam kegelapan, mereka berseru kepada Tuhan, Tuhan juga punya kuasa untuk menolong mereka keluar daripada peristiwa itu. Waktu saya membaca bagian ini, saya tersadar satu hal. Kita di dalam memikirkan mengenai hidup ini kadang-kadang apa yang kita pikirkan, jangkauan kedalaman dan keluasan apa yang kita pikirkan itu tergantung dari banyaknya pengetahuan dan pengalaman yang kita alami dan konteks dari hidup kita. Kalau kita hidup di dalam daratan, mungkin yang kita pikirkan hanya bergumul di dalam daratan saja. Semua masalah-masalah daratan. Kita nggak berpikir mengenai orang yang hidupnya di gunung. Kita nggak berpikir orang yang hidupnya mungkin di hutan atau di padang gurun. Kita nggak berpikir orang yang hidupnya di kepulauan atau orang yang hidupnya berlayar di dalam lautan, yang kita pikir masalah kita sendiri, konsep kita sendiri. Tapi pada waktu saya membaca bagian ini, saya tersadar satu hal. Ternyata Alkitab kita bukan hanya bicara scope hidup kita di dalam konteks kita saat ini saja, untuk diri kita saja. Tetapi ternyata Alkitab kita itu begitu luas di dalam pengajarannya, begitu tertuju kepada setiap orang di dalam setiap aspek hidupnya. Ini bicara tentang orang berdosa, ini berbicara mengenai orang yang ada di dalam perjalanan.
Tapi Saudara bisa lihat juga kalau ketika saudara membaca ayat yang misalnya ke-23 “Ada orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal, yang melakukan perdagangan di lautan luas; mereka melihat pekerjaan-pekerjaan Tuhan, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam. Ia berfirman, maka dibangkitkan-Nya angin badai yang meninggikan gelombang-gelombangnya. Mereka naik sampai ke langit dan turun ke samudera raya, jiwa mereka hancur karena celaka; mereka pusing dan terhuyung-huyung seperti orang mabuk, dan kehilangan akal. Maka berseru-serulah mereka kepada Tuhan dalam kesesakan mereka, dan dikeluarkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang. Mereka bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ternyata firman Tuhan kita juga ditujukan kepada orang yang di luar dari scope kita, yang ada di dalam pergumulan mereka dan konteks hidup mereka juga.
Nah di dalam konteks hidup itu saya mau soroti ternyata, oh, bukan hanya orang darat yang mengerti Tuhan berkuasa. Tuhan yang berkuasa di darat, atau kata lain ya, Tuhan yang berkuasa di darat bukan hanya Tuhan yang ada di darat. Tuhan yang berkuasa di dalam dunia kegelapan bukan hanya Tuhan yang ada di dalam lingkup dunia kegelapan. Tuhan yang berkuasa atas orang-orang yang hidup dalam pegunungan, bukan hanya Tuhan yang berkuasa di dalam pegunungan itu. Tuhan yang berkuasa di dalam lautan itu bukan hanya Tuhan yang ada di dalam lautan itu. Tetapi Alkitab mau menyatakan Tuhan yang berkuasa di daratan, di dunia orang yang kelam, di atas gunung, di mungkin di tempat-tempat yang lain di belahan dunia termasuk di laut yang memiliki kuasa yang begitu besar adalah Tuhan yang sama, yaitu Tuhan Allah kita. Tuhan yang satu itu. Nah, ini yang Tuhan ingin didik dari murid-murid-Nya. Murid-murid pada waktu melihat peristiwa di mana angin badai itu menjadi reda. Lalu ketika kapal itu langsung tiba di tujuan, Tuhan ingin mengatakan kepada mereka satu hal. “Aku Yesus itu adalah Allah yang menopang alam semesta ini, Aku bukan hanya seorang nabi saja, tetapi alam semesta harus tunduk di bawah kedaulatan dari diri-Ku dan kuasa dari diri-Ku.”
Nah pertanyaannya begini, kapan hal itu baru dilihat secara jelas? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita mengetahui dengan pikiran kita kalau Allah itu adalah Allah yang berkuasa amin? Kita mengetahui dalam pemikiran kita kalau Allah itu adalah Allah yang Mahatahu. Betul nggak? Betul kan? Kita mengetahui bahwa Allah itu adalah Allah yang berkuasa untuk menyembuhkan penyakit, betul? Kita mengetahui bahwa Allah itu, Allah yang berkuasa untuk memelihara hidup ini, amin? Pertanyaannya adalah, Bapak, Ibu, tahunya dari mana? Tahu dari mana? Ada orang amin karena cuma baca, menghafal, dan mengetahui, tetapi ada orang yang mengamini karena dia bukan hanya membaca, menghafal, mengetahui, tapi dia mengalami. Dia mengalami kuasa Tuhan dalam hidup dia, dia betul-betul memahami apa yang dikatakan Kitab Suci itu adalah sesuatu kebenaran karena dia mengenal Allahnya di dalam aspek yang tadi dikatakan dan dia mengamini Kitab Suci itu adalah kebenaran.
Nah dalam hal ini, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya mau kembali ke dalam poin yang tadi, kenapa murid-muri itu perlu mengalami badai? Supaya apa? Apakah mereka bisa mengenali Tuhan yang Mahakuasa itu tanpa melalui badai? Menarik sekali pada waktu Musa dipanggil oleh Tuhan keluar dari Mesir, di situ ada satu kalimat, Abraham atau Israel itu mengenal Tuhan Allah sebagai Allah yang mungkin bisa dikatakan setia, akan Allah yang berjanji, tetapi mereka belum mengenal Tuhan yang memiliki kuasa atas Firaun, atas alam ini, atau atas Dewa-dewa. Untuk itu, bagaimana Tuhan mau menyatakan dirinya bahwa Dialah Allah yang berkuasa atas dewa-dewa? Tuhan mulai menaruh tulah kepada orang-orang Mesir tersebut, sehingga mereka belajar, Firaun belajar, Mesir belajar bahwa Allah orang Israel, Allah Abraham, Ishak dan Yakub itu adalah Allah yang lebih berkuasa dari dewa-dewa yang ada di Mesir pada waktu itu. Dikatakan dewa yang paling berkuasa di antara seluruh Dewa yang lain atau seluruh allah yang lain.
Jadi pada waktu kita berbicara mengenai pengenalan akan Tuhan, kita perlu nggak mengalami peristiwa-peristiwa supaya kita bisa mengenal Tuhan dan kuasa-Nya secara pribadi? Saya yakin kita perlu. Caranya bagaimana? Caranya cuma satu, Tuhan hanya akan mendidik kita, Tuhan akan memberitakan kebenaran-Nya kepada kita. Tetapi itu tidak cukup! Dia akan memberikan kita mungkin ketidaknyamanan, mungkin kita harus hadapi hal-hal yang kita takuti dalam hidup ini yang membuat kita mungkin tidak ada pegangan dalam hidup ini, siapa yang selama ini menjadi berhala dalam hidup kita, Tuhan singkirkan dari hidup kita, supaya kita merasa dalam hidup ini tidak ada yang bisa diharapkan lagi kecuali saya berharap kepada Tuhan dan melalui peristiwa itu saya mengenal Tuhan itu.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah peristiwa Yesus berjalan di atas air, Yesus memiliki kuasa atas alam itu. Tapi ada hal yang lain yang kita perlu lihat juga, pada waktu hal itu terjadi, bagaimana dengan respons murid-murid? Mereka ketakutan. Mereka kemudian mungkin dikatakan bingung, siapa orang ini? Kenapa peristiwa yang begitu hebat karena orang ini? Mereka bingung. Mereka tercengang. Lalu pertanyaannya adalah, apa yang membuat mereka bingung dan tercengang? Nah menarik pada waktu pertanyaan ini diajukan, kalau misalnya saya tanya kepada Bapak, Ibu, Bapak, Ibu pernah mengalami kekawatiran nggak? Bapak, Ibu pernah mengalami suatu situasi yang seolah-olah tidak ingin menghadapi hari esok nggak? Bapak, Ibu pernah mengalami stres berat nggak? Ketika menghadapi ujian mungkin, atau berhutang dengan seseorang yang tidak tahu membayarnya pada waktu itu misalnya. Atau mendadak menghadapi satu penyakit yang divonis dokter nggak ada obatnya. Atau ada obatnya tetapi untuk pengobatan itu harus butuh uang yang begitu besar, yang kita secara perhitungan gaji nggak mungkin bisa membayarnya. Mungkin kita akan mengalami hal-hal itu, lali mungkin itu membuat kita panik, membuat kita takut, membuat kita kuatir. Lalu saya mau tanya, Bapak, Ibu, Saudara, apa yang membuat Bapak, Ibu, Saudara kuatir dan takut? Jawabannya apa? Halo? Jawabannya apa? Karena saya nggak punya uang, betul nggak? Karena saya sakit, karena saya harus menghadapi ujian, karena apa lagi? Ya Bapak Ibu bisa sambung semua itu ya. Kalau murid-murid ketika ditanya, kenapa engkau takut? Kenapa engkau panik? Mereka bisa berkata karena angin badai itu. Karena kami melihat hantu. Itu membuat kami panik. Ketakutan. Tapi Petrus memberi tahu Markus, jawabannya bukan itu.
Silakan baca di dalam ayat 52. Saya baca ayat 51, Markus Pasal 6:52 kita baca bersama-sama, ya. 51: “Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung,” bersama-sama: “sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.” Maksudnya apa? Mereka takut apakah karena badai? Markus bilang: bukan. Mereka takut apakah karena lihat hantu? Ada, sih, tapi itu bukan dasarnya. Lalu, apa yang menjadi dasar mereka takut? Karena mereka ndak ngerti peristiwa roti. Lho, apa hubungannya peristiwa roti dengan rasa takut? Bapak, Ibu baca di dalam Yohanes 6, saya singkat aja, ya. Peristiwa roti: Yesus memberi makan 5.000 orang dengan lima roti dan dua ikan. Itu mau mengajarkan kepada orang-orang Israel kalau Dia adalah roti hidup itu. Nah, pada waktu Yesus mengajarkan bahwa Dia adalah roti hidup itu, maka Yesus mau mengatakan: bukan orang untuk makan tubuh fisik-Nya dan minum darah-Nya yang fisik itu. Tetapi yang dimaksud adalah, “Aku adalah roti hidup dan tubuh-Ku adalah betul-betul makanan, daging-Ku adalah benar-benar makanan –ayat 55– dan darah-Ku benar-benar adalah minuman.” Tujuannya untuk apa? Untuk mau mendidik, –bukan untuk menjadikan Yesus atau orang Kristen kanibalisme– tetapi untuk menyatakan bahwa kita harus percaya kepada Yesus Kristus. Tubuh Yesus yang dikorbankan betul-betul adalah makanan rohani bagi diri kita yang kalau kita memakannya –yang berarti kita percaya kepada diri Dia– maka di situ kita memperoleh hidup. Ini yang menjadi jawaban.
Jadi, apa yang membuat kita kuatir dan takut? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya tanya lagi, ya: apa yang membuat kita kuatir dan takut? Karena masalah? Atau karena kita kurang percaya? Yang mana yang benar? “Pak Dawis ini gimana sih, Alkitab kan bilang Yesus datang untuk mati di atas kayu salib guna menebus dosa kita, kan?” Kalau Yesus mati di atas kayu salib untuk menebus dosa kita, solusi yang ditawarkan oleh Yesus itu masalah fisik atau masalah rohani? Harusnya masalah rohani, kan? Bukan masalah fisik, kan? Tapi kalau Bapak, Ibu cuma jawab sampai di situ, Bapak, Ibu kurang memperhatikan Yohanes 6, Markus 6, dan ayat-ayat lain di dalam Kitab Suci yang menyatakan bahwa Yesus bukan hanya menyelesaikan masalah rohani. Tapi Yesus adalah satu Pribadi yang bisa menyelesaikan masalah fisikmu. Yesus bisa menolong engkau keluar dari masalah yang engkau gumulkan! Bukan dalam pengertian menyelesaikan masalah itu saja, tetapi Yesus bisa menolong engkau kuat di dalam melewati masalah itu. Dan ketika masalah itu tidak berlalu, bukan karena Yesus tidak berkuasa untuk melewatkan masalah itu dalam hidup kita. Tetapi karena Yesus ingin mendidik kita untuk mengenal diri Dia secara lebih benar dan lebih tepat.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, masalah ketidakpercayaan itu diatasi bukan dengan menyingkirkan problema hidup, tetapi dengan belajar percaya. Masalah kekuatiran yang kita alami bukan dengan cara –diselesaikan– memberikan jawaban atas kekuatiran kita, tetapi dengan belajar percaya akan kehadiran Tuhan di tengah-tengah masalah yang kita alami dalam hidup kita. Ini solusinya! Karena Dia adalah Allah yang menopang segala sesuatu. Ketika Bapak, Ibu mengalami sakit, Bapak, Ibu sadar nggak, dan percaya nggak sakit itu ada di dalam kendali Tuhan? Hidup mati kita ada di dalam kendali Tuhan. Pengobatan yang kita alami ada di dalam kendali Tuhan. Keuangan yang kita perlukan ada di dalam kendali Tuhan. Ini yang saya percaya lebih penting! Karena hidup kita bukan cuma untuk di dalam dunia ini saja. Tetapi hidup kita adalah satu kehidupan yang ada di dalam kekekalan. Tetapi di dalam pemikiran kita sering kali, “Inilah hidup kita karena inilah dunia kita!” Sehingga apa pun yang kita inginkan solusi: yaitu berkaitan dengan kelangsungan hidup di dalam dunia ini sampai selama-lamanya. Tapi rencana Tuhan nggak seperti itu. Rencana Tuhan adalah bukan di dalam dunia ini secara fisik, tetapi di dalam langit dan bumi baru dengan tubuh yang baru yang dipersatukan dengan roh kita yang sudah diperbarui dan ditebus oleh Yesus Kristus. Ini menjadi poin yang penting, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan. Dan masalah iman itu adalah unsur yang penting di dalam mengikut Tuhan.
Saya akan tutup dengan kalimat ini: seorang yang mengenal Yesus, seorang yang mengucapkan perkataan percaya kepada Yesus, apakah dia memiliki iman yang sejati? Jawabnya: belum tentu. Siapa yang sungguh-sungguh memiliki iman yang sejati? Yaitu mereka yang bukan hanya mengucapkan, “Saya percaya pada Yesus.” Bukan hanya orang yang bisa menjelaskan Yesus itu siapa saja. Tetapi orang yang bertobat dari dosa. Orang yang bertobat dari satu kehidupan yang melawan Tuhan dan perintah Tuhan dalam hidup dia. Dan orang yang belajar berjalan dengan mempercayakan hidup dia ke dalam tangan Tuhan Yesus. Itu adalah orang yang beriman.
Dan Tuhan ingin mendidik kita seperti ini melalui peristiwa di mana Tuhan memimpin murid-murid-Nya melewati Danau Galilea. Tuhan mengizinkan ada badai yang terjadi dan Tuhan berjalan di atas air untuk menyatakan diri Dia kepada murid-murid-Nya. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita melalui Firman pada malam hari ini ya.
