Khotbah di Bukit (6), 13 Juli 2025

Khotbah di Bukit (6)

Mat. 5:7

Pdt. Nathanael Marvin, M. Th.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ada kata-kata yang berkaitan dengan tema kemurahan hati yang kita bahas hari ini adalah: ada orang yang miskin tetapi hatinya kaya, tetapi ada orang kaya tetapi hatinya miskin. Nah, dari kalimat sederhana ini, kita bisa mengerti bahwa yang dimaksudkan dari kalimat ini adalah bicara soal hal yang berbeda. Satu sisi, itu bicara soal kekayaan ataupun kemiskinan secara materi. Tetapi satu sisi juga bicara soal kekayaan atau kemiskinan secara rohani atau secara hati, secara perbuatan baik, gitu, ya. Bila hati seseorang itu kaya, luas, besar, ya, orang itu, meskipun miskin, dia dapat berbagi kasih, berbagi kebenaran kepada sesama atau bermurah hati. Tetapi juga, sedangkan, ya, bila hati seseorang itu miskin, kecil, sempit, ya, maka orang itu, meskipun dia kaya raya secara materi, dia bisa tidak mau berbagi, tidak mau membagikan kasih Tuhan ataupun bermurah hati kepada sesamanya manusia.

Jadi kita bisa lihat bahwa ketaatan pada firman Tuhan: kemurahan hati yang Yesus anjurkan, yang Yesus nasihatkan, yang Yesus ajarkan kepada kita semua itu, tidak tergantung situasi dan kondisi kehidupan kita yang secara eksternal. Bahkan, kalau kita bisa lihat, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, dari awal Kejadian sampai Wahyu, seluruh firman Tuhan itu tidak tergantung situasi kondisi kita: kalau kita cukup, kalau kita mampu, kalau kita sehat, kalau kita punya keluarga yang baik, baru kita bisa melakukan firman Tuhan. Tidak tergantung situasi eksternal tetapi itu tergantung anugerah Tuhan dan juga kerinduan kita, usaha kita untuk bisa melayani Tuhan. Jadi, sekalipun kita miskin, sekalipun kita sakit, kita tetap bisa bermurah hati, kita tetap bisa melakukan firman Tuhan karena apa? Karena Roh Kudus yang menguatkan dan kita juga mau taat kepada firman Tuhan.

Alkitab terjemahan ESV mengatakan, “Blessed are the merciful for they shall receive mercy.” Ada unsur tabur tuai yang diajarkan Yesus di dalam ucapan bahagia ini, ya, ucapan bahagia yang kelima ini. “Kalau kamu murah hati, Tuhan akan bermurah hati kepada kamu.” Bahwa ini adalah suatu janji Tuhan, suatu hukum Tuhan, suatu teori dari Tuhan sendiri: kalau kamu bermurah hati kepada sesama Tuhan pun akan bermurah hati kepada kita. Kita tabur kemurahan hati, kita menuai kemurahan hati. Bila kita tidak tabur kemurahan hati, kita juga tidak menuai kemurahan hati. Dari sini kita bisa belajar melihat bahwa Allah itu adalah Allah yang adil, ya. Bila kita memiliki kemurahan hati, belas kasihan kepada sesama, kita pun mendapatkan kemurahan hati, belas kasihan dari Tuhan sendiri.

Bahasa Yunani dari mercy atau kemurahan hati adalah eleos yaitu kata dasar untuk kemurahan atau belas kasihan. Jadi, berdasarkan definisi katanya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita bisa melihat ada kaitan yang erat antara belas kasihan dengan kemurahan hati karena seseorang yang berbelas kasihan –yang dari hatinya– dia akan menyatakan kemurahan hati yang secara eksternal. Jadi, orang yang bermurah hati itu harus dasarnya adalah karena kasih, karena belas kasihan yang Tuhan berikan, yang Tuhan tanamkan, yang Tuhan gerakkan dalam hati kita sehingga pada akhirnya kita bermurah hati. Tetapi bermurah hati bukan secara sembarangan juga, bermurah hati kepada mereka yang membutuhkan. Nah, itu adalah kemurahan hati atau mercy, ya. Ada belas kasihan di dalam hati kemudian dinyatakan dengan kemurahan hati secara yang kelihatan secara nyata. Dorongan yang benar ketika seseorang bermurah hati adalah karena belas kasihan atau kasih dari Allah sendiri.

Ada orang-orang Kristen yang memiliki belas kasihan yang begitu besar sampai dia bermurah hati untuk mengatur keuangan, untuk diakonia, untuk pelayanan, untuk menolong orang-orang yang tertindas, orang-orang yang susah, betul-betul butuh, ya. Dia alokasikan dananya untuk mereka: membagi keuangan untuk yayasan sosial, untuk panti asuhan, panti jompo. Ada orang-orang Kristen yang demikian. Jika ada orang yang kesusahan, dia juga rela membantu. Nah, itu adalah hal yang bicara soal kemurahan hati.

Saya pun juga belajar kemurahan hati, ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Selain, ya khususnya dalam, ya khususnya dalam hal uang lah. Kita juga mengatur keuangan demi, di hadapan Tuhan, ya, demi kemuliaan Tuhan juga. Selain untuk persembahan, selain untuk perpuluhan, selain, juga saya, ya ada juga alokasi untuk menghormati orang tua, ya, menghormati orang tua, ada juga sebagian uang yang Tuhan percayakan saya coba alokasikan untuk tujuan kemurahan hati. Karena apa? Karena melihat orang itu butuh kasih, ya. Karena belas kasihan yang Tuhan berikan: memberi kepada orang yang kesulitan.

Di lampu lalu lintas juga, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita biasanya imannya diuji, ya. Ketika ada orang yang meminta-minta –nah, itu balik lagi, ya, Tuhan gerakkan kita nggak?– bukan serta-merta semua yang datang meminta ke kendaraan kita itu kita harus kasih, kan? Ya, bukan juga kita tolak semuanya. Nah, ini bicara soal hikmat, bicara soal pimpinan Roh Kudus: bagaimana pada akhirnya Tuhan menggerakkan hati kita, terus kita nyatakan kemurahan hati kepada orang yang kelihatannya susah betul yang betul-betul butuh pertolongan dari Tuhan sendiri.

Maka, satu sisi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau saya salah memberikan atau salah menolak lah, ya, tapi lebih ke arah salah memberikan. Karena apa? Karena kalau memberikan bisa salah, bisa benar. Tapi kalau menolak juga bisa salah, bisa benar. Tapi waktu ketika memberikan, ketika saya salah lah: saya pikir demi kepentingan saya sendiri atau nggak pikir panjang atau bukan digerakkan oleh belas kasihan. Lebih ke arah mungkin, “Sudah lah, kasih aja orang tersebut”, ya. Ketika meminta-minta di lampu lalu lintas, ya, maka saya selalu sediakan suatu renungan: renungan, tulisan saya sendiri untuk mereka baca. Itu belas kasihan juga. Jadi, belas kasihan itu bukan bicara soal materi, materi, materi melulu, ya. Bicara soal mengasihani kerohanian dia yang belum mengenal siapakah Tuhan Yesus Kristus Sang Juru Selamat umat yang berdosa. Maka saya berikan traktat juga sehingga sekiranya kalau saya salah memberikan uang –padahal dia sehat, kuat, bisa kerja yang lain– setidaknya dia juga dapat firman Tuhan yang dia bisa baca, seperti itu, ya.

Pernah suatu kali, ketika naik mobil, saya bilang pada istri saya itu, “Itu orang kasihan, ya.” Kenapa orang kasihan? Karena dia tidak punya kaki. Dia yang nggak ada kaki. Dia di pinggir jalan. Terus, ketika lampu merah, dia minta-minta dan itu adalah hal yang sulit juga bagi dia karena meminta dengan tanpa ada kaki. Meminta kepada orang yang berkendaraan motor, ataupun kendaraan mobil lebih sulit juga, ya. Karena orang yang naik mobil pun belum tentu kelihatan, ya, dia yang meminta-minta seperti itu, ya. Lalu, kemudian, sebelumnya pernah lewat di situ terus nggak ada kesempatan untuk memberi kepada dia. Lalu, ketika ada kesempatan, saya bilang, “Itu kasihan, ya.” Terus kemudian, “Ya udah, kita kasih aja.” Kasih uang, buka jendela mobil, kemudian dia malah mintanya ke yang pengendara motor, gitu, ya. Terus, saya bilang istri saya, “Ayo cepat! Teriak aja mau kasih!” Ya, langsung kasih barangnya. Kita kasih uang, tetapi kita juga kasih traktat. Terus saya kasih tahu ke istri saya, ya,” Kita sebagai orang Kristen, ya, kita harus menyatakan iman kita juga, ya.” Maka bilang, “Tuhan Yesus berkati.” Ya, maka ketika kasih, “Ini ada uang, Pak. Ada renungan juga.” Terus, “Tuhan Yesus memberkati.”

Nah, hal seperti itu, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, itu apa sih? Itu kemurahan hati. Bicara soal: “Ok, kebutuhan dia. Dia butuh uang betul-betul.” Entah juga, ya, ada pengemis pun yang kaya raya, ya, yang melebihi orang lain, ya. Tetapi, di satu sisi, ya, bagaimana kehidupannya tuh sulit, ya. Nah, kita berbelas kasih: kita memberikan uang. Tetapi kita berikan hal yang kita imani juga. Nah, itu adalah bicara soal bagaimana relasi kita dengan Tuhan, ya.

Baru-baru ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, saya dapat satu artikel tentang orang yang disabilitas, difabel, seperti itu ya. Seorang pemulung, tetapi punya hati yang luar biasa murah hati. Namanya adalah Hu Lei. Ini dari koran Kompas. Koran Kompas di Indonesia. Dia kelahiran tahun ‘93. Umurnya 32 tahun dan asal Cina, ya. Dia seorang yang lumpuh kaki dan sulit bicara. Karena apa? Karena sejak kecil itu dia kena sakit polio. Kena sakit polio umur 6 tahun sulit sekali untuk jalan, lumpuh, dan sulit bicara. Terus, ketika dia masih kecil juga, ayahnya itu ketika mau mengobati Hu Lei ini, dia itu mau pergi ke suatu tempat untuk mengobati, tetapi ternyata ayahnya ini malah kecelakaan. Kecelakaan karena mau merawat Hu Lei yang masih kecil, masih bayi mungkin, ya, masih anak-anak. Akhirnya meninggal dunia, ayahnya. Jadi, sudah sakit polio, kehilangan papa. Mamanya gimana? Hati seorang ibu bagaimana? Bayangan kita, ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, hati seorang ibu itu tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, ya. Tetapi, dalam kasus dunia yang berdosa ini, manusia yang berdosa, si ibu itu kehilangan suami, kehilangan pemasukan, penghasilan, anaknya sakit polio, akhirnya bagaimana? Si ibu ini meninggalkan anaknya, terus kemudian menikah dengan seorang yang lainnya, sehingga Hu Lei ini diasuh oleh kakek, neneknya dalam kondisi yang terbatas. Yatim piatu karena satu meninggal, satu meninggalkan dia. Ini 2 hal yang berbeda, ya, meninggal dengan meninggalkan itu.

Jadi, sejak kecil, dia sakit, miskin, terbatas, tetapi uniknya, ya, dia menjadi salah satu contoh orang paling murah hati, mungkin secara umum, ya, di zaman sekarang. Tentu, kita tahu bahwa Tuhan Yesus Kristus ketika Allah menjadi manusia, Dia adalah orang yang paling murah hati. Tidak ada yang bisa mengalahkan kemurahan hati Yesus Kristus karena Yesus Kristus pun tidak berdosa, tetapi mau menanggung hukuman kita yang seharusnya kita tanggung, hukuman dosa kita. Itu, kan, murah hati sekali. Saya berdosa, Yesus yang dihukum. Saya yang harusnya mendapatkan maut, Yesus mendapatkan maut di atas kayu salib. Tetapi, satu contoh ini anugerah umum, ya. Kita nggak tahu, dia orang Kristen atau bukan. Kita tahu juga, orang-orang Tiongkok itu kebanyakan ateis, tidak percaya kepada Tuhan dan lain-lain. Uniknya, dia menjadi salah satu contoh orang yang murah hati. Masuk koran Kompas Indonesia. Menjadi viral kenapa? Karena menyumbang 5 ton beras untuk korban banjir di Cina. Korban banjir di 1 daerah di Cina itu bisa ratusan ribu pemukiman hanyut karena banjir. Kemudian, dia sumbangkan 500 boks Indomie, 500 boks air mineral, 100 senter, 2.000 pasang sarung tangan, sehingga total kurang lebih yang dia sumbangkan untuk orang yang membutuhkan itu Rp.130.000.000,00. Dia tergerak, padahal dia pemulung, bukan orang yang kaya, sampai rekening di saldonya itu habis.

Nah, sekarang, firman Tuhan ini benar nggak terjadi? “Barangsiapa yang bermurah hati akan memperoleh kemurahan.” Dan langsung, ketika ada orang yang mengetahui, terus dia cukup juga uangnya, dia juga memberikan sumbangan kepada Hu Lei lagi. Ya, sekitar Rp.40.000.000,00, tetapi dia juga sumbangkan lagi. Nah, ini adalah kemurahan hati. Itu sangat berdampak kepada orang-orang yang membutuhkan. Selama beberapa tahun, hidupnya hanya untuk kemurahan hati-kemurahan hati yang kita nggak tahu juga, ya, apakah dasarnya karena dia itu mengenal Kristus atau tidak, tetapi manusia itu punya kapasitas untuk bermurah hati kepada orang-orang yang mengalami penderitaan; gempa bumi, korban banjir, dan lain-lain. Dia juga menyekolahkan 500 anak miskin. Sejak umur 15 tahun, dia coba untuk bermurah hati kepada orang-orang kalau ada bencana alam, sehingga publik mengakui dia adalah sebagai seorang kneeling giant. Seorang raksasa yang berlutut. Bahkan, sulit untuk berjalan. Seorang raksasa yang merangkak. Hanya merangkak, tetapi mau menolong sesama. Itu di umur yang muda. Wah, ini adalah suatu hal yang unik.

Di dunia ini, bahkan banyak contoh dari orang yang bermurah hati. Tetapi, satu sisi juga, kita bisa melihat bahwa ada orang-orang yang tidak berbelas kasihan sama sekali. Dia tidak mau menolong sesama yang menderita ataupun kekurangan. Hidupnya hanya berfokus kepada diri, bukannya berfokus kepada firman Tuhan. Bagaimana hidup kita boleh bermakna bagi sesama manusia. Bagaimana juga orang Kristen akhirnya meneladani Yesus Kristus yang miskin juga, Yesus Kristus, tetapi hati-Nya besar untuk banyak orang. Dia memberitakan firman kebenaran dan ini adalah suatu pelajaran bagi kita sebagai orang Kristen, kalau kita punya belas kasih, punya kasih, punya kemurahan hati. Harusnya sebagai seorang Kristen, justru kita memberikan teladan dari Yesus Kristus bahwa Yesus Kristus bermurah hati kepada sesama. Teladan yang paling besar dalam menyatakan kemurahan hati adalah Yesus Kristus sendiri. Maka, sebenarnya kita pun adalah orang yang mau bermurah hati kepada sesama kita yang menderita, khususnya, ya, bukan kepada penipu.

Nah, kita akan melihat peristiwa Yesus menyatakan belas kasih-Nya. Mari kita buka Alkitab dari Matius 14:13-21. Mat.14:13-21, kita baca bersama-sama, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. “Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada merekadan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima rotidan dua ikan.” Yesus berkata: “Bawalah ke mari kepada-Ku.” Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.”

Di sini, Yesus menyatakan belas kasihan dan di sini digerakkanlah hati Yesus karena belas kasihan melihat manusia, melihat kebutuhan orang yang Dia lihat pada saat itu. Kemudian, kalau kita lihat perikop sebelumnya, di situ dijelaskan bahwa Yohanes Pembaptis itu adalah sepupunya Tuhan Yesus, dibunuh oleh Raja Herodes. Sebagai seorang sepupu, sepupunya dibunuh oleh raja, itu sedih, kan. Saat itu, Yesus menyingkir. Dia berdoa, berkabung, mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi ternyata banyak orang itu mengikuti Dia dari jalan darat, padahal Yesus naik ke tempat yang sunyi itu lewat perahu, tetapi orang-orang itu berbondong-bondong ingin melihat siapakah Yesus, ingin belajar siapa Yesus. Kok, bisa, sih, Yesus itu punya wibawa yang begitu besar, punya mukjizat yang dari Allah sendiri yang memberikan kebaikan kepada sesama manusia? Dan kemudian ketika Yesus melihat banyak orang itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka. Dan yang Yesus lakukan apa? Pertama-tama, sebelum mukjizat 5 roti dan 2 ikan, Yesus melakukan mukjizat juga dengan menyembuhkan mereka yang sedang sakit. Ini adalah belas kasihan kepada siapa? Kepada yang sedang sakit.

Ini perlu kita perhatian, ya. Ada gerakan yang besar dari Yesus dan aktif, Yesus aktif untuk melakukan perbuatan baik kepada mereka yang sedang sakit. Yesus menggunakan kuasa-Nya untuk menyembuhkan mereka. Nah, selanjutnya barulah kita tahu Yesus pun melihat banyak orang sudah kelaparan. Ribuan orang kelaparan, mereka mau melihat siapa Yesus dan akhirnya sulit untuk mendapatkan makanan. Sudah malam butuh makan, Yesus pun berbelas kasihan menyatakan kasih-Nya kepada mereka, tetapi mau mendidik para murid-Nya. “Cari roti dulu, cari makanan. Kamu harus berikan makanan.” Padahal Yesus tahu bahwa Yesus bisa saja melakukan mukjizat kan dengan apa yang ada. Tapi Yesus mendidik, mendidik para murid dengan cara apa? Dengan cara memberikan mereka tugas. Ya, tugas apa? Tugas untuk memberikan makanan. Lalu pada akhirnya Yesus yang memberikan makanan itu sendiri ya. Nah, dari kisah ini kita belajar tentang belas kasihan Kristus kepada orang-orang yang sakit atau mengalami kelemahan tubuh. Orang yang membutuhkan makanan juga ya kita bisa perhatikan, kita kalau memang orang itu betul dalam konteks tertentu, kita juga bisa memikirkan kemurahan hati dari Allah sendiri ya. Jangan sampai dia sakit ataupun kelaparan.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ini ada satu juga ya contoh ya dokter, seorang dokter yang penuh belas kasihan dalam pekerjaannya. Namanya Paul Edward Farmer asal Amerika. Dia seorang dokter dari Harvard Medical School ya dan dia juga dapat PhD-nya dalam antropologi medis di Harvard University juga. Jadi, dia seorang ahli kesehatan secara global, secara umum. Dia juga pendiri organisasi nirlaba yang berfokus pada kesehatan masyarakat miskin di seluruh dunia. Nah, dia buat organisasi, dia juga seorang dokter dan pada awalnya tuh dia berfokus untuk menyembuhkan penyakit tuberkulosis dan HIV AIDS di Haiti ya. Nah, dia dikenal sebagai The Man who Cure the World. Nah, tahun 2020 ya dia disebut sebagai salah satu orang yang paling berpengaruh di dunia oleh Time Magazine ya. Ya, ini suatu majalah Time gitu ya.

Nah, dia terkenal dengan dedikasinya memerangi penyakit di berbagai negara miskin di Haiti, di Rwanda, di Peru dan dia punya teori hukum untuk keadilan kesehatan bagi masyarakat. Dia mengusahakan terus agar hak setiap orang adalah mendapatkan kesehatan ya. Nah, ketika dia akhirnya terus berjuang, tetapi ketika ditanya ya dia tuh tidak terlalu peduli soal agama. Dia tertutup. Dia tidak secara eksplisit menyatakan seorang Kristen yang aktif dalam gereja tertentu, tetapi secara praktik dia melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan, yaitu bagaimana bermurah hati kepada orang yang sedang sakit juga ya. Nah, orang-orang ketika melihat si Farmer ini ya, dia mengatakan bahwa kayaknya Farmer ini punya pemikiran bahwa “if you say you are Christian but you are not serving the poor, you are not really following Christ.” Jadi dia background Kristen tapi nggak terlalu menekankan kekristenannya, yang penting dia lakukan perbuatan baik menolong orang-orang yang sakit di negara-negara yang miskin. Tapi dia punya pandangan bahwa sebagai orang Kristen tuh kita harus bermurah hati dong. Ya, bukankah Tuhan kita itu bermurah hati?

Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, biasanya ya, kalau di Indonesia ya, kalau sudah sekolah dokter inginnya apa? Inginnya balik modal ya kan? Sudah sekolah mahal-mahal, sudah sekolah lama sekali dokter, inginnya apa? Bukan mengobati orang lagi, ya. Mungkin pada mulanya motivasinya baik mengobati manusia yang lain yang sedang menderita, tapi lama-kelamaan manusia dijadikan keuntungan bagi dia. Dia berdoa supaya banyak yang sakit, supaya saya banyak dapat uang gitu ya, terus supaya balik modal dan lain-lain. Nah, ini apakah masih bisa murah hati? Sulit ya sebagai dokter itu sulit bermurah hati. Sebagai apa pun kita ya pekerjaan kita itu pun ada tantangan kita juga bagaimana kita harus bermurah hati. Kita sebagai orang Kristen yang berprofesi apa pun ternyata Tuhan menginginkan kita itu untuk menunjukkan belas kasihan kita ya. Bagaimana kita bermurah hati kepada sesama manusia.

Nah di penjelasan Yesus tentang penghakiman akhir itu bicara soal apa, Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Ketika di akhir ini ada gambaran ya, bagaimana Yesus itu melihat perbuatan kita semua dan bicara soal apa? Bicara soal belas kasihan dan kemurahan hati ya terhadap orang-orang yang menderita. Waktu itu Yesus tanya  bilamana kah, ya kan ini ada orang yang tanya, bilamana kah kamu melihat Kristus atau melayani Kristus? Yaitu waktu ketika seseorang manusia itu mengasihi dan bermurah hati kepada orang yang sedang lapar, yang haus, yang sakit, yang telanjang, yang dipenjara. Waktu kita melayani mereka, bermurah hati kepada mereka, berbelas kasihan kepada orang yang memang tertindas, yang butuh pertolongan, nah di situlah kita melayani Yesus Kristus juga. Bermurah hati kepada sesama adalah pelayanan kepada Yesus Kristus.

Nah, lanjut lagi ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Matius 9:35-38. Mari kita buka Alkitab kita. Matius 9:35-38. Mari kita baca firman Tuhan ini. Ini belas kasihan Yesus Kristus ya. “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa. Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil kerajaan surga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka katanya kepada murid-muridnya, ‘Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.’” Jadi Yesus adalah orang yang mengelilingi desa maupun kota juga dan karena Dia adalah utusan Tuhan, Dia adalah Tuhan itu sendiri dan Dia juga punya tugas untuk menyatakan diri-Nya adalah Mesias, seorang utusan Allah, maka Dia mau mengasihi sesama dengan cara apa? Dengan cara yang memang harus dilakukan Yesus Kristus dengan cara melakukan mukjizat, menyembuhkan yang sedang sakit, melenyapkan segala penyakit dan kelemahan dan Yesus juga memberitakan Injil kerajaan surga.

Nah, setelah Dia layani dengan setia, mengabarkan Injil, menolong yang kesulitan, kelemahan, di situ juga setelah itu justru belas kasihannya terakhir muncul. Nah, ini ada penekanan ya. Kita percaya bahwa waktu Yesus pergi ke desa dan kota memberitakan Injil dan menyembuhkan orang yang sedang sakit itu, itu karena belas kasihan dongNggak mungkin kan ya karena cari uang, ya, cari kepentingan diri, Yesus nggak pernah berdosa dalam motivasi hati-Nya. Maka waktu Dia datang ke desa dan kota bertemu banyak orang itu karena belas kasihan Tuhan. Tetapi setelah melayani terus Dia mau meninggalkan mereka, Dia ada muncul belas kasihan lagi, yaitu apa? “Kasihan ya orang ini karena Saya harus melayani pindah-pindah tempat lain, maka orang ini tidak ada yang memberitakan Injil lagi. Tidak ada yang mendampingi ketika mereka sedang sakit, sedang penderitaan.” Maka Yesus menyatakan belas kasihan yaitu mengutus para murid-Nya. Ya, berdoa supaya banyak orang yang melayani orang yang sedang menderita dalam pekabaran Injil, memberitakan firman, kebenaran, maupun juga menolong mereka yang sedang sakit dan mengalami penderitaan. Yesus betul-betul melihat bahwa orang-orang tuh butuh penggembala yang baik ya, setelah Yesus menyatakan belas kasihan-Nya, Yesus lihat bahwa oh tidak ada yang menggembalakan.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya, di dalam ESV itu dijelaskan, “When he saw the crowds, he had compassion for them, because they were harassed and helpless, like sheep without a shepherd.” Kalau di ESV itu lebih ke arah harassed (dianiaya), dan juga helpless (tak berdaya). Ya, dianiaya oleh tentu ya, godaan dosa, lingkungan yang buruk, pergaulan yang buruk, kita pun diserang terus oleh dunia yang berdosa untuk melakukan berdosa. Nah, itu penganiayaan juga, ya. Terus kemudian helpless, tidak berdaya. Tidak berdaya kalau di dalam terjemahan LAI, ya, itu adalah terlantar. Dibiarkan terlantar, dan juga ada terjemahan lain itu bingung. Orang-orang itu sudah dengar firman, masih bingung. Orang-orang itu sudah dengar kesaksian, mukjizat dari Tuhan Yesus Kristus, masih juga rasa tidak memiliki iman yang kuat, seperti itu, ya. Maka Yesus betul-betul memikirkan tentang kelanjutan ke depannya hidup mereka. Nah, itu yang Yesus pikirkan. Bukan masa ini saja, tetapi berpikir jauh ke depan. Bagaimana orang itu bisa semakin kuat di dalam Tuhan, semakin memiliki kerohanian yang kuat.

Nah, baru-baru ini saya sempat lihat suatu video, ya, ada kandang domba yang pakai tembokenggak terlalu tinggi. Terus kemudian ada juga kandang itu tuh ada kanopinya, ya, untuk mereka berteduh. Nah, kemudian di video tersebut diperlihatkan bahwa domba-domba ini tiba-tiba lari begitu banyak, berkumpul di satu pojok dari tembok tersebut. Oh, ternyata ada apa? Ternyata ada angin besar. Ya, angin topan lumayan besar, tapi nggak terlalu menghancurkan juga, ya. Angin topan itu datang kemudian menghancurkan kanopi itu, ya. Atap itu sampai terbang. Tapi, kemudian angin itu sudah lewat, tapi domba-dombanya aman, ya karena dia berkumpul di satu tempat dilindungi oleh tembok meskipun hanya sebagian sudutnya saja dan itulah gambaran dari fungsi penggembalaan sebenarnya. Bagaimana Yesus datang sebagai Gembala itu melindungi mereka dari ajaran yang salah, ajaran yang sesat dan juga menolong mereka untuk melalui berbagai penderitaan yang muncul di dalam kehidupan manusia.

Jadi, Yesus dikatakan di dalam Mazmur 104, ya, disebut sebagai Penebus yang berbelas kasihan. Yesus adalah penebus yang berbelas kasihan. Dia menyelamatkan kita dari upah dosa yaitu maut. Yesus melindungi kita dari hukuman dosa yang begitu mengerikan. Dia memproteksi kita. Maka, waktu kita lihat Yesus mati di atas kayu salib, Dia bukan hanya Juru selamat kita, ya, tetapi Dia juga adalah Gembala Agung kita yang melindungi kita, karena Dia melindungi kita dari segala yang jahat bagi manusia. Yesus menunjukkan belas kasihan secara rohani, dan Dia memberitakan Injil, memanggil para murid untuk menggembalakan umat-Nya.

Jadi kita bisa lihat, bandingkan Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya. Pertama-tama Yesus berbelas kasihan kepada (hal) materi, ya. Orang yang sedang sakit, orang yang sedang kelaparan, yang membutuhkan kebutuhan jasmani, Tuhan berbelas kasihan. Tetapi dalam bagian ini, Tuhan Yesus berbelas kasihan lebih jauh lagi, yaitu memperhatikan jiwa manusia. Kalau tadi kita sudah melihat tayangan dari LAI, bagaimana LAI punya program untuk membagikan firman Tuhan ke berbagai daerah, khususnya juga gereja-gereja yang ada di Indonesia, yang ternyata sulit mendapatkan firman Tuhan secara tertulis, kita bisa lihat hatinya untuk apa sih? Ya, apakah kita bisa dipuaskan perut kita itu lewat Alkitab? Ya, nggak bisa kan? Yang kita bisa dipuaskan lewat Alkitab yang adalah firman Tuhan adalah jiwa kita, yang membutuhkan firman Tuhan. Maka tayangan tadi itu menunjukkan teladan dari Yesus Kristus, bagaimana kita mau membagikan firman kepada banyak orang. Karena firman Tuhan adalah penuntun dan pembimbing kehidupan kita.

Di siniYesus menyatakan tugas penggembalaan kepada para murid-Nya, dan ini adalah tugas yang tidak mudah ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Tugas penggembalaan itu tidak mudah karena harus mikirin rohaninya, maupun juga bahkan jasmaninya. Dan kadang-kadang orang bisa tersentuh itu karena jasmaninya dulu. Ya, ini kelemahan manusia berdosa, ya. Kelemahan manusia berdosa, “Saya ingin fisik saya ini dikasihi, lah.” Ya, dicukupkan dari kebutuhannya, diperlakukan dengan baik, misalkan fisiknya, ya, secara fisik itu. Terus kemudian dicukupkan, dan akhirnya baru bisa melihat hal-hal yang baik dalam kerohanian. Ini adalah tugas yang tidak mudah karena apa? Butuh simpati. Butuh menempatkan diri di posisi orang lain. Menempatkan kaki kita di sepatu orang lain. Nah, itu butuh juga di dalam belas kasihan atau kemurahan hati.

Nah pertanyaannya adalah apakah hanya pendeta saja, vikaris saja yang harus menjalankan tugas penggembalaan Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Jawabannya adalah hamba Tuhan memang memiliki kapasitas yang lebih besar dan bertanggung jawab lebih besar juga untuk menggembalakan umat Tuhan, karena memang dianggap sebagai pemimpin gereja, ya, untuk menggembalakan umat Tuhan. Tetapi faktanya adalah bukan saja hamba Tuhan yang memiliki tugas penggembalaan, melainkan setiap orang Kristen. Kenapa? Karena ayat ini, “Berbahagialah orang yang murah hatinya karena dia akan memperoleh kemurahan.” Dan Tuhan juga ingin agar kita bermurah hati. Buah Roh Kudus juga ada apa? Kemurahan. Kalau kita ada Roh Kudus dalam hati kita ada kemurahan, ada belas kasihan, ada kemurahan hati. Berarti tugas penggembalaan itu bukan hanya hamba Tuhan. Tapi semua yang punya Roh Kudus. Semua orang Kristen. Ya, itu kita punya tugas menggembalakan, saling menggembalakan, saling memperhatikan, saling menasihati, saling menguatkan, saling membangun di dalam Kristus.

Ayatnya di mana? Di Galatia 6:1-2. Ya, di situ dikatakan, “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut…” Berarti penggembalaan ini bukan saja tugasnya kayak baik-baik saja, ya. Ya, memahami, mengerti, menyediakan, tetapi kalau kedapatan pelanggaran. Kedapatan pelanggaran itu apa? Misalkan kamu sudah Kristen, orang Kristen, tapi kok males-malesan ibadah minggu di gereja misalkan. Itu kan pelanggaran kan? Wah, itu pelanggaran, salah. Karena Tuhan mengatakan, “Ingatlah dan kuduskanlah hari sabat.” Itu hukum Taurat. Pelanggaran terhadap hukum Taurat. Nah, kemudian kita yang punya belas kasihan itu, “Kasihan ya, orang itu kok nggak mau ibadah, sulit untuk beribadah.” Pernah suatu kali waktu saya ngobrol dengan seorang pemuda yang memang jarang ibadah juga. Akhirnya saya ajak ketemu, ngobrol, terus tanya dan dia juga cerita, entah ya kalau ke gereja itu bisa mikir dulu ya, bangun pagi minggu itu, “Iya nggak ya ke gereja? Iya nggak ya ke gereja?” Akhirnya sudah telat gitu, ya. Kebanyakan pikir-pikir gitu. Saya bilang, “udah enggak usah dipikir, langsung jalan aja.” Nah, itu sudah perintah Tuhan, kok. Itu dan Tuhan sudah mampukan kita loh sebagai orang Kristen, pasti mampu ibadah minggu di gereja itu sudah pasti. Tuhan sediakan waktu, Tuhan kasih berkat, kecukupan. Nah, akhirnya ketika melanggar, berarti ada yang salah. Akhirnya, ya, kita diskusi dengan pemuda tersebut, justru kita harus komitmen, kita harus betul-betul menganggap itu hal yang penting dan berkenan di hadapan Tuhan, maka kita pasti lakukan. Kalau nggak penting, nggak berkenan itu ya kita nggak akan lakukan. Karena itu ketika lakukan pun kita bisa melihat kuasa Roh Kudus bekerja dalam hati kita. Oh, Roh Kudus-lah yang menolong saya untuk bisa menaati hukum-hukum Tuhan.

Terus, “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Saling menolong. Terus kalau ada yang melanggar, dikasih tahu dengan lemah-lembut, loh ya. Bukan dengan penghakiman yang menghina, yang keras, yang nggak jelas, ya, yang tidak mengerti pergumulannya. Tapi Roh yang lemah-lembut berarti apa? Kita bisa mengatakan hal-hal yang tepat dan menolong dia. Ibrani 10:24-25 di situ juga dikatakan bahwa, “Marilah kita saling memperhatikan, supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” Yuk saling memperhatikan, “janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, tetapi marilah saling menasihati dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Jadi menjelang hari Tuhan, Yesus Kristus datang kedua kalinya suatu hari nanti, Tuhan menginginkan kita itu saling menasihati, saling menolong, saling menggembalakan satu dengan yang lainnya. Bagaimana kita menghabiskan waktu di dalam dunia ini? Tuhan ingin yaitu kita saling mengasihi, saling menolonglah. Nggak usah bertengkar, nggak usah saling membenci, ya. Kita mau justru saling membangun satu dengan yang lain.

Bagaimanakah kita menggembalakan umat Tuhan? Bagaimanakah cara kita saling menggembalakan? Pertama-tama kita harus memiliki belas kasihan ini. Milikilah kemurahan hati dari Tuhan sendiri. Yang pertama, kita berdoa ya supaya kita memiliki empati yang aktif. Ya, kita tahu ya simpati sama empati bedanya apa sih? Katanya ada yang menjelaskan bahwa empati itu lebih dalam, karena bisa betul-betul menunjukkan tindakan nyata seperti itu. Kalau simpati itu masih dalam rangka sim kan sama pati atau dari patos ya itu berarti perasaan. Oh, kamu lagi perasaan sedih kita merasa merasa sedih juga mengerti gitu ya. Tapi kalau empati pada akhirnya bisa sampai melakukan suatu tindakan yang akhirnya bisa menolong dia seperti itu ya. Nah, kita belajar memiliki simpati ini, perasaan dulu ya. Dia rasanya apa sih? Apa sih yang dia rasakan? Pasangan kita rasakan apa? Anak kita rasakan apa? Jangan pikirin perasaan diri dulu ya, tapi pikirin perasaan orang lain. Lalu bagaimana kita menolong dia supaya pada akhirnya berdiri di jalur yang benar ya, menaati hukum Tuhan. Nah, itu bersimpati, memiliki empati yang aktif, tidak cuek terhadap penderitaan jemaat. Dari sini kita bisa meneladani Yesus Kristus juga ya. Kita belajar ya, oh kalau ada teman kita, keluarga kita yang sedang sakit, itu menjadi kesempatan kita mengunjungi mereka kan ya. Menyatakan belas kasihan Kristus, mendoakan dan lain-lain. Lalu mendampingi yang berduka dan menguatkan yang lemah. Nah minimal satu cara itu ya, kita doa, kita minta belas kasihan Tuhan supaya kita bisa menyatakan kemurahan hati Tuhan.

Yang kedua adalah kita belajar mengampuni dan tidak menyimpan dendam. Kalau kita sudah dibelas kasihani oleh Tuhan, kita juga sudah diampuni oleh Tuhan, kita mau menyatakan belas kasihan kepada sesama maupun juga pengampunan kepada sesama juga. Di dalam Lukas itu dikatakan, “Ia yang banyak mengampuni, ia banyak mengasihi.” Ia yang banyak mengampuni banyak kemurahan hati juga dan orang yang bermurah hati akan memperoleh kemurahan dari Allah, ini adalah janji Tuhan. Kemurahan hati adalah buah dari anugerah Allah yang Tuhan berikan kepada kita. Ini sebuah respons terhadap kabar baik. Maka kita memberitakan kabar baik kepada mereka juga. Dan ini adalah suatu yang berdasarkan dari kasih Kristus sendiri. Nah, puncaknya adalah salib Kristus ya.

Maka waktu kita bergumul gimana ya saya supaya lebih memperhatikan orang lain melakukan firman Tuhan yang Tuhan berikan kepada kita semua adalah bagaimana kita merenungkan salib Kristus. Salib Kristus itu semua rasa dari buah Roh Kudus itu ada di semua di dalam salib Kristus. Waktu kita merenungkan salib Kristus, ada kasih, ada sukacita, damai sejahtera, ada kebaikan, kesetiaan, kemurahan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Itu buah Roh Kudus nyata semua di dalam salib Kristus. Nah itu adalah suatu hal yang akhirnya mengubah kehidupan kita. Kita nggak bisa diubah dengan usaha kita sendiri, ya. Ya, saya harus bermurah hati, terus coba latihan tanpa memiliki motivasi yang dari Kristus sendiri. Ya nggak bisa. Kita butuh mengerti belas kasihan Allah di dalam salib Kristus. Itulah yang menolong kita agar bisa bermurah hati. Satu, kita coba mengerti perasaan orang, jangan mikirin diri sendiri terus ya perasaan diri terus, tapi pikirin perasaan orang. Hati-hati terhadap orang lain, ya, terhadap perasaan mereka, hati mereka, pikiran mereka. Kita nggak mau juga kan jadi batu sandungan. Kita sudah lakukan yang benar, tapi orang lain berpikir secara salah gitu ya. Sering kali terjadi seperti itu sehingga banyak miskomunikasi yang akhirnya menjadi pertengkaran. Akhirnya tidak ada kasih, tidak ada belas kasihan dan kemurahan hati.

Nah, kita berdoa juga supaya Tuhan boleh menyadarkan kita tentang pengampunan yang begitu besar sehingga hati kita itu tidak menyimpan dendam. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau kita punya dendam kepada seseorang saja, kita nggak mungkin berbelas kasihan kepada orang tersebut. Maka ini kesempatan kita ya. Oh, Tuhan katakan, “Berbahagialah orang yang murah hatinya sebab mereka akan memperoleh kemurahan.” Kita bisa renungkan, kita punya dendam nggak, Bapak, Ibu sekalian ya? Kepada satu orang saja. Coba pikir ya. Kita ada kekesalan, dendam yang kita ingin balaskan. Tetapi Tuhan juga sudah kasih solusi di dalam hati kita yang memiliki dendam ya, yaitu apa? Pembalasan adalah hak Tuhan. Kita betul punya tanggung jawab menyatakan kebenaran, keadilan, kekudusan Allah. Tapi ketika kita sudah nyatakan kebenaran, keadilan, kekudusan Allah, bagaimana kalau pada akhirnya orang tersebut pun ya tidak berubah? Ya, kita bisa serahkan kepada Tuhan. Pembalasan adalah hak Tuhan.

Maka dalam hati kita sebagai orang Kristen ya, kita harus punya hati kita tidak menyimpan dendam kepada siapa pun. Kita nggak benci, tapi kita belajar mengasihi. Tentu kita tidak bisa dekat dengan semua orang. Ada batasannya ya, ada jaraknya juga. Tetapi hati kita untuk semua orang bisa. Kita dekat sama semua orang nggak bisa. Tapi hati kita untuk semua orang itu bisa. Dalam arti apa? Karena kita punya kasih Kristus itu yang mengatakan, “Kasihilah sesamamu manusia seperti diri kamu sendiri.” Dan ada pada akhirnya juga kita terbatas sehingga ada circle-circle tertentu kan di dalam kehidupan kita. Ada keluarga, ada keluarga kita sendiri yang sudah menikah ya, ada keluarga asal kita, orang tua kita, terus ada sahabat kita, ada pertemanan kita. Kita terbatas kok. Kita nggak bisa dekat sama semua orang karena kita terbatas. Tetapi kasih kita bisa kepada semua orang, yaitu dengan menghargai mereka sebagai manusia yang sudah Tuhan ciptakan, sudah Tuhan pelihara sebagai gambar dan rupa Allah. Maka bagaimana kita menunjukkan kasih kita kepada Tuhan? Caranya adalah dengan kasih kita kepada sesama. Maka kalau ada orang yang membenci sesama sebenarnya dia membenci Tuhan. Orang yang mengasihi sesama, sungguh-sungguh mengasihi sesama itu mengasihi Tuhan juga. Ini adalah kehidupan kerohanian kita. Sekali lagi, bagaimana kita bisa bermurah hati? Ya, sadarlah belas kasihan Allah yang begitu besar.

1 Yoh. 4:10 dikatakan, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.”  Allah sudah mengasihi kita terlebih dahulu, Allah juga sudah menebus kita. Maka kita pun mau mengasihi Allah dan juga sesama. Jonathan Edwards mengatakan, “Belas kasihan Kristen sejati adalah kasih yang berasal dari pengertian akan anugerah yang telah kita terima.” Jadi, kalau kita mengerti anugerah Tuhan, hidup kita akan penuh dengan kasih. Belas kasihan Tuhan. Sola gratia ya. Hidup Kristen kita itu dimulai dengan hanya karena anugerah Tuhan. Kita bisa jadi orang Kristen, kita bisa percaya Kristus itu karena anugerah iman yang Tuhan berikan, bukan karena kita mampu percaya kepada Kristus. Hidup kekristenan kita dimulai dengan anugerah Tuhan. Nah, mari kita nyatakan anugerah Tuhan juga. Salah satunya dengan cara apa? Dengan menyatakan belas kasihan Kristus. Lalu kemudian kita sudah mengerti belas kasihan dan kemurahan hati. Maka dalam doa pribadi kita, kita bisa ingat ya, teman-teman atau jemaat yang sedang mengalami penderitaan. Siapa yang sedang sakit, siapa yang sedang dalam pergumulan kita coba ingat, kita doakan. Dan akhirnya belas kasihan itu bukan saja perasaan iba ya, atau sedih, lalu tidak ada tindakannya. Tetapi juga bisa menyangkut tindakan yang nyata, baik secara fisik maupun secara spiritual ya, secara kerohanian.

Kemurahan hati melibatkan kerelaan mengampuni, menolong yang menderita, dan juga membebaskan yang tertindas. Nah dalam tradisi Yahudi ya Bapak, Ibu, sekalian ya, dan pengajaran Yesus, kemurahan hati itu mencerminkan juga ajaran dari Allah sendiri. Allah itu murah hati. Dia murah hati kepada orang yang berdosa. Nah mari kita ingat orang-orang yang sedang menderita dan tertindas. Bukan saja secara fisik ya, kita tahu bahwa dunia ini sedang mengalami peperangan, dan peperangan menimbulkan banyak penderitaan, tapi itu dari berita saja. Tapi kalau kita bisa betul-betul merenungkan dan betul-betul bisa menghadapi orang yang sedang menderita, di situ kita tahu bahwa orang-orang yang sedang menderita, sedang kebutuhan itu betul-betul membutuhkan belas kasihan atau kemurahan hati dari Tuhan sendiri. Kita bisa doakan ya Bapak, Ibu sekalian ya, saya mau bermurah hati itu seperti apa sih kepada sesama saya dan kepada orang lain, dan yang lain-lain ya.

John Calvin pernah berkata bahwa harta adalah titipan Tuhan, kita hanya menjadi penatalayan dari berkat-berkat itu. Jadi uang yang kita miliki ini bukan milik kita sendiri tetapi milik Tuhan dan digunakan untuk kemurahan hati, bukan untuk kepentingan diri atau pun bahkan dosa. Segala yang kita miliki, harta kekayaan, itu adalah titipan Tuhan. Ini Tuhan titipkan kepada kita. Dan kemudian kita sebagai penatalayan, kita mengembangkannya untuk kerajaan Allah menyatakan belas kasihan Tuhan. Alkitab memuji orang yang murah hati.

Nah mari kita sama-sama membuka Alkitab Bapak, Ibu, sekalian. Ini salah satu ayat yang unik ya. Amsal 19:17, sampai-sampai kurang lebih ya, akhirnya menempatkan Tuhan itu seolah-olah di bawah kita. Padahal kita nggak mungkin lah berada di atas Tuhan kan. Kita baca sama-sama Amsal 19:17, “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan yang akan membalas perbuatannya itu.” Ya, seolah-olah kita itu kasih utang ke Tuhan. Bayangkan ya. Jadi kita, nggak mungkin lah Tuhan berhutang kepada kita, karena Tuhan pemilik segalanya, Dia pemilik hidup kita, apa yang kita miliki juga milik Tuhan juga, segala yang baik ya, yang bukan dosa. Tuhan membenci dosa, Tuhan tidak ingin kita berdosa, melakukan kejahatan ya. Tetapi uniknya ketika kita menaruh belas kasihan, Tuhan itu kayak ada hutang. Kalau kita mengasihi sesama, memberi, kepada orang yang lemah khususnya lho, yang betul-betul lemah, yang bukan kita pada akhirnya kalau menyuap bribing itu kan kepada orang yang tidak lemah. Tetapi kepada orang yang rakus yang kikir kita kasih uang lagi. Tapi ada orang-orang yang betul-betul lemah, di sekitar kita, Tuhan kasih kesempatan kita, iman kita diuji. Apakah kita berbelaskasihan atau tidak. Memang harus hati-hati. Harus hati-hati karena kita bisa dimanfaatkan juga. Ada penipu, ada penjahat, ada orang yang mau memanfaatkan seorang dengan yang lainnya. Tetapi kalau kita tahu ada yang betul-betul membutuhkan pertolongan tapi kita tidak kita tolong, ya maka ini bukan sikap yang benar. Tapi kalau betul-betul orang itu lemah, menderita, sakit, teraniaya, terus kita nyatakan belas kasihan, Tuhan itu ingin mengasihi kita, Tuhan itu ingin memberikan belas kasihan-Nya ke kita, yang belajar memberi belas kasihan kita kepada sesama yang lemah.

Maka janji Tuhan ini sangat clear nyata, waktu kita bermurah hati, Tuhan pasti kasih kemurahan hati juga. Banyak Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya, yang kita terima, itu sebenarnya mungkin kita sudah bermurah hati, tapi kita nggak sadar kan. Orang baik sama kita, ketika kita menderita ya, ketika kita sedang sakit, sulit, bergumul, tiba-tiba ada orang yang baik sama kita. Bisa itu karena anugerah Tuhan, tetapi bisa karena kita sebelumnya sudah bermurah hati. Ada di jemaat Solo ya, yang rajin sekali ikut pelayanan rumah sakit, dia prinsipnya apa, lebih baik saya mendoakan daripada didoakan. Saya sehat kan. Kalau sehat bisa mendoakan. Kalau sakit ya bisa sih mendoakan juga dari tempat tidur, tapi di satu sisi kita bisa lihat bahwa kita bisa sehat, bisa kuat melayani Tuhan itu pun karena anugerah Tuhan.

Jadi ya, kiranya sebagai orang Kristen, kita punya belas kasihan ya, itu hal yang indah dan Tuhan pun bisa bekerja. Maka kalau dilihat di video-video kan, kayak ada karma. Ya kita nggak percaya karma, kita nggak percaya takdir, kenapa? Karena karma dan takdir itu seolah-olah nggak ada Pribadi yang bekerja. Kita percaya tabur tuai, percaya, tapi itu karena Tuhan yang bekerja, keadilan Tuhan yang bekerja. Tapi kalau karma, takdir, tiba-tiba begini, tiba-tiba begitu, kita nggak percaya ya, karena nggak ada person-nya. Tuhan bekerja dalam segala sesuatu. Kemudian ada video ya “karma”, kalau kita berbuat baik ke ini, lalu perbuatan baiknya ke sana lagi, ke sana lagi, terus beruntun, perbuatan baik itu terus ada, itu adalah suatu hal yang indah. Itu bagaimana Tuhan menggambarkan belas kasihan dan kemurahan hati itu seperti kehidupan nanti di surga. Kita semuanya saling berbuat baik nggak ada saling membenci, nggak ada perbuatan dosa. Nah itu adalah hal yang indah.

Kiranya kita sebagai orang Kristen dapat melakukan apa yang dikatakan Tuhan Yesus Kristus dalam Lukas. Ya. Yesus juga mengatakan, “hendaklah kamu murah hati seperti Bapamu adalah murah hati.” Mari kita Lukas 6:36 bersama-sama. Mari kita sambil bangkit berdiri Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita baca Lukas 6:36, kita membaca ini bersama-sama, “hendaklah kamu murah hati, seperti Bapamu adalah murah hati.” Mari kita sama-sama berdoa.

Bapa kami yang di Surga, kami bersyukur, untuk belas kasihan yang sudah Tuhan berikan kepada setiap kami. Kami yang seharusnya mati karena dosa-dosa kami, kami yang seharusnya menjadi domba-domba yang tersesat terhilang, tetapi Engkau mau bermurah hati, mau berbelas kasihan kepada setiap kami, sehingga kami yang tersesat dan terhilang ini boleh ditangkap, boleh dipelihara oleh Gembala Agung kami yaitu Tuhan Yesus Kristus. Terima kasih untuk Tuhan Yesus Kristus yang menyatakan belas kasihan yang begitu besar dengan kematian Yesus Kristus di atas kayu salib, yang menjadi korban yang sempurna, korban yang menebus setiap hukuman dosa kami baik di kehidupan kami di masa lalu, masa sekarang, bahkan masa yang akan datang, Tuhan Yesus sudah tanggung semuanya di atas kayu salib, dan itu adalah belas kasihan terbesar, sehingga kami boleh memasuki surga yang mulia hanya karena belas kasihan Tuhan saja, bukan karena perbuatan baik kami. Kami bersyukur Tuhan atas kemurahan hati Tuhan yang begitu besar ini, kiranya kami sebagai orang Kristen boleh sungguh-sungguh menyatakan belas kasihan Tuhan, boleh sungguh-sungguh menyatakan kemurahan hati Tuhan, kepada sesama kami yang sedang menderita, sedang sakit, sedang lemah, sedang tertindas. Kami mau ya Tuhan, Engkau yang sudah memberikan kekuatan kepada kami, kami pun bisa menguatkan Saudara kami yang mengalami kelemahan. Kami berdoa supaya Tuhan sendiri boleh memimpin hidup kami, dan Roh Kudus menguatkan kami untuk taat kepada kehendak Tuhan saja. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Tuhan dan Juru selamat kami yang hidup, kami sudah berdoa dan bersyukur. Amin.