Yesus Diurapi Oleh Perempuan Berdosa, 20 Juli 2025

Yesus Diurapi Oleh Perempuan Berdosa

Luk. 7:36-50

Pdt. Solomon Yo, M. Div.

Nats yang kita renungkan ini, yang tadi kita baca, berbicara tentang Yesus diurapi oleh perempuan berdosa. Dan kisah semacam ini dicatat juga di dalam paralelnya, yaitu kalau Anda membaca di Alkitab terjemahan LAI, maka di situ ada miripnya di dalam Markus 14:3-9 dan juga Yohanes 12:1-8, Yesus Diurapi. Tapi ada bedanya. Yang saya sebut di Markus dan Yohanes, itu terjadi di Betania, wilayah Yudea, di akhir pelayanan Tuhan Yesus. Sedangkan kisah yang dicatat di dalam Lukas yang tadi kita baca, kejadiannya itu terjadi di Galilea. Kisah itu berbeda dengan yang di Markus dan juga Yohanes. Dalam kisah yang dicatat dalam Markus, pengurapan yang diberikan kepada Yesus, itu disebutkan oleh Yesus sebagai persiapan penguburan-Nya. Sedangkan yang di dalam Lukas adalah ungkapan kasih dan pertobatan. Peristiwa yang berbeda.

Ayat yang ke 36 sampai dengan 37, kita melihat dua orang diperkenalkan dan dikontraskan. Seorang Farisi undang Yesus makan ke rumahnya. Ini satu bentuk hospitality dan penghormatan kepada Yesus. Dia lakukan apa yang baik. Lalu datanglah seorang perempuan, perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Dia adalah bukan tuan rumah, tapi adalah tamu, dan tamu yang tidak diundang. Bahkan tidak diharapkan. Bahkan sebaiknya jangan datang. Dan dia melakukan sesuatu untuk Tuhan Yesus, yaitu membawa minyak wangi, untuk dipersembahkan kepada Tuhan Yesus. Simon, tuan rumah itu, adalah seorang yang memiliki sikap positif sama Tuhan Yesus. Dia undang, dia sebut Rabi. Dan dia berkata kalau Dia Nabi, berarti pikiran tentang Yesus Nabi itu ada. Tapi seberapa dia mengakui Yesus Nabi? Itu bisa berderajat, seperti ada orang mengatakan Tuhan Yesus, dia berdoa, dia orang Kristen, tapi ada yang ikut Tuhan sebagai Tuhan, “kalau Tuhan adalah Tuhanku kuikut tuntas.” Ada yang ikut Tuhan, “kalau Tuhan lah kepala keluarga, Tuhanlah pemilik rumah ini”, maksudnya adalah Tuhan yang melindungi kalau ada mara bahaya. Tapi kalau bertengkar, Tuhan singkir. Kalau ada ribut, dia jalan, Tuhan nggak usah campur, Tuhan nggak ada. Jadi bagaimana orang menyebut Yesus sebagai rabi, sebagai tuan, sebagai nabi, sebagai Tuhan bisa memiliki derajat yang berbeda.

Nah sedangkan perempuan yang berdosa ini itu dia datang dengan kondisi yang sebenarnya sangat tidak enak. Ada orang kalau diundang dalam acara resepsi pernikahan, kadang ada yang ketika dapat undangan itu ada yang sulit karena dia itu tidak ada baju bagus, apalagi kalau perempuan, kalau cowok pakai batik cukup. Kalau perempuan ya, itu agak repot, apalagi kalau ada relasi kekeluargaan. Ndak boleh pakainya seperti biasa. Sebagaian harus pergi cari baju. Lalu bisa membayangkan keluarga ini, keluarga itu, keluarga itu, itu sudah bajunya keren bagus, dan dia kalau keluarkan uang, dia akan berat. Dan seberat-beratnya mungkin masih kurang bagus. Dan setelah itu, ngasihnya apa? Orang juga ngasih, kadang itu berat. Kalau terlalu banyak undangan, orang yang miskin itu kurang banyak uang, yang terbatas itu, kadang itu jadi beban, ya, sehingga kadang ada yang mengatakan jangan ngasih, jangan membebani, atau tidak terima ini dan itu. Kadang orang ke tempat-tempat pertemuan umum itu mempunyai kesulitan. Dan inilah kondisi orang yang ada di dalam kondisi di bawah. Laki-laki kumpul diundang oleh Simon orang yang kaya, orang yang punya status, yang diundang pasti orang yang terhormat. Dan ada seorang perempuan datang ke tempat itu, mudah nggak? Itu adalah kesulitan. Bayangkan, dia bukan saja perempuan, bahkan famous, sudah jadi bahan gunjingan terkenal, ke sana itu siap untuk diusir dan dilempar tapi dia tetap datang, why? Inilah the inner beauty kalau kita mau lihat.

Saudara, ayat 38 dikatakan, “sambil menangis Ia berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya lalu membasahi kaki-Nya dengan air mata lalu menyekanya dengan rambutnya kemudian dia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi.” Siapa yang lebih penting dari dua orang ini? Simon? Atau perempuan ini? Simon di masyarakat kita lihat orang penting, tuan besar. Tapi Alkitab mencatat tentang perempuan ini lebih banyak. Apa yang dilakukan oleh Simon? Very good hospitality, perjamuan, penghormatan, rabi, a prophet, a respected person, tetapi seorang yang nggak layak, pengacau, penyerobot, penyusup, intruder datang dan meresikokan diri. Mukanya aduh, setebal badak. Harus datang. Orang akan melihat dan siap untuk lempar, tapi dia datang. Dia datang.

Dua tindakan ini dikontraskan. Seorang tuan rumah yang penuh ramah, hospitality, dan penghormatan, dan seorang yang tidak layak tetapi justru dia menunjukkan sesuatu yang sangat indah luar biasa, dan ketika perempuan ini datang, dia tidak datang untuk minta penyembuhan, minta dibela kasusnya, minta sesuatu hal. Banyak orang datang ke gereja, waktu kita muda baru pertama, cari teman cari pacar cari pekerjaan, cari bolo, cari sesuatu, minta sembuh. But, in this case nggak happen pada perempuan ini. Dia datang siap untuk dirajam dengan tatapan mata, “tatapan matamu”, waduh mengerikan, “lirikan matamu”, waduh menyakitkan. Ada orang tertentu PD banget karena dia tahu dia akan respect orang. Ada orang datang dengan sebelum dia ngapa-ngapa dia sudah merasa nggak nyaman. Rasa sudah minder, rasa terkenal karena dia ada kasus di masyarakat. Perempuan ini datang bukan dalam kondisi yang nggak masalah. Ada masalah tapi dia datang bukan untuk minta, tapi Yesus menyembuhkan bukan untuk masalahnya, dia datang untuk berjumpa Yesus. Saya terharu sama kisah ini. Saya terharu kisah ini.

Kita datang seorang hamba Tuhan datang ke sini untuk apa? Untuk apa? Motivasi kita? Kita datang ke rumah Tuhan untuk apa? Kita adalah tuan-tuan, atau pengemis yang tak tahu diri, yang minta sesuatu, minta kebanggaan, kita datang untuk betapa hebatnya dan pentingnya dan sebagaimana. Tapi gereja-gereja yang beken kalangan atas, kadang tidak punya kesulitan demikian. Dalam gereja-gereja di mana kalangan bawah kadang kita punya kesulitan yang lain, but whatever kondisi kita, kita belajar dari perempuan ini. Dia datang untuk berjumpa Yesus. Ada satu kalimat di mimbar, di satu tempat dan saya baca itu saya nggak bisa akan lupa. Selalu ditulis biar pendetanya membaca, saya nggak tahu siapa yang nempelin, itu ayat dari Yohanes, “Sir we want to see Jesus.” “Pak Pendeta kita mau lihat Yesus bukan lihat kamu dan kita datang siapa ya pengkotbahnya. Ada orang yang sering tiap Minggu tanya ke sekitarnya, yang khotbah siapa minggu ini? Jengkel sekali.

Meski dijawab Yesus yang khotbah, melalui wajah Pendeta yang paling goblok, yang paling nggak pintar, whatever. Kita senang kalau yang khotbah itu baik, dipakai Tuhan tetapi tidak membuat orang berjumbuh karena jiwa nggak bener. Charles Spurgeon bertobat ketika yang khotbah adalah penatua yang ketiban rejeki karena Pendeta nggak bisa datang. Lalu nggak masalah, terpaksalah penatua ini khotbah karena salju yang membuat Charles Spurgeon nggak ada rencana ke gereja, numpang ke gereja karena saljunya tebal. Lalu penatua itu kotbahnya sangat berhasil menidurkan banyak jemaat. Tapi membangunkan Charles Spurgeon. Saya nggak mau mengatakan bahwa silahkan bodoh-bodoh aja karena yang bekerja Tuhan, nggak usah persiapan. Kita harus mempersiapkan diri. Kita ingat bahwa sebelum masuk sekolah theologia saya melihat orang membeda-bedakan Pendeta. Saya masih ingat saya duduk di bangku dan harus belajar, harus terus tumbuh, harus terus gali, kalau nggak orang nggak akan hargai, tapi di sisi lain  secara paradoks kita harus ketika dengarkan firman, bahkan oleh pendeta yang terbaik, bukan untuk kita, not about me, not for me, yes kita mau diberkati, Tuhan mau memberkati kita, tetapi Tuhan ada satu hormat yang tulus dan bagi saya perempuan ini luar biasa. Simon melakukan sesuatu yang baik, perempuan ini melakukan apa yang sungguh-sungguh jauh lebih baik. Dan Simon ternyata harus banyak belajar.

Kita harus memiliki motivasi yang benar waktu datang kepada Tuhan. Perempuan ini datang, dia memberikan minyak wangi, bukan hanya minyak wangi, dia memberikan the tears, her hair, proud, dan kesiapan dicecar dengan mata yang menakutkan. Dan lihatlah, Simon sudah ngomong, tahu nggak siapa perempuan ini? Tikaman. But dia datang. Dia datang. Saya sangat tergerak dengan kisah ini. Inilah indahnya Alkitab yang tidak ada di dalam kita nonton Marvel, nonton drama, yang setelah selesai ini apa sih artinya. Tapi Alkitab penuh dengan makna yang begitu mendalam.

Dia menangis, dia pergi, berdiri di belakang Yesus, dekat kaki-Nya. Dia menangis, menyesal atas dosanya. Dia datang bukan dengan proud –dengan kebanggaan– “Aku telah jadi ketua, aku telah jadi, ini aku telah lakukan ini.” Ya, setiap orang membanggakan diri, pendeta membanggakan hebatnya dia, keberhasilannya, ketua panitia membanggakan hebatnya dia, setiap orang membanggakan diri. Sampai satu saat saya melihat sesuatu yang aneh atau menggelikan dalam hidup manusia: orang yang kita ketemu mau kasihan sama dia, ternyata dia sombong! Orang yang bahkan di dalam kekeliruan dan keremehannya: sombong! Itulah manusia yang sombong.

Maka ada satu lagu, pernah sangat terkenal sekali khususnya dalam pelayanan KKR-nya Billy Graham. “Just as i am without one plea.” Aku datang apa adanya, bukan karena hebat tapi sebagai seorang yang penuh dengan keremehan. Siapakah kita, yang paling hebat? Di mata Tuhan itu minus, remeh. Kita sama-sama. Yang punya nilai 2 dari dari angka skala 10, bangga? “Ha, ha, teman saya nol, aku dua! Keren! Aku yang terhebat!” Kata Tuhan, “Sama, ndak lulus!” Tapi yang mendapat kemurahan Tuhan dan dan anugerah Tuhan itulah yang diberkati. Maka orang yang berdosa, yang rendah hati, itulah yang diberkati. Karena no one is righteous di hadapan Tuhan. Tapi yang merendahkan diri, yang diberkati.

“Ia datang sebagai orang yang hancur hati, menyadari kepapaan jiwanya, mengakui kebergantungannya kepada Tuhan.” Dan itulah yang seharusnya kita sadari. Setiap orang datang dan melihat jiwa yang bersyukur dan rendah hati. Lalu dia membasahi kaki Yesus dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.

Saudara, kadang Alkitab dianggap sebagai barang kuno. Orang pintar menertawakan dan meramalkan 100 tahun lagi Alkitab ini akan ditaruh di museum dan dilupakan. Tapi, setelah kejadian itu, 100 tahun tepat di mana dia ngoceh, dia menyombongkan, justru dibeli oleh Lembaga Alkitab lalu mencetak Alkitab. Tuhan itu humoris, ya, untuk menertawakan, ya. Kadang kita belajar banyak: belajar psikologi, belajar filsafat, belajar macam-macam. Kita bangga banyak pengetahuan. Neuroscience, AI, macam-macam. Dan inilah old story, old bible. Dan sesungguhnya, kita kalau mendalami di tempat yang kering kerontang ternyata ada banyak yang memberikan kekayaan. Pada saat Timur Tengah yang kering kerontang dan orang miskin ndak punya apa-apa, menjadi hebat karena ada emas hitam. Apa? Ada apa? Oil. Dan macam-macam orang yang sangat, menjadi sangat kaya.

Alkitab, ada sesuatu keindahan yang luar biasa. Saya ndak pernah menemukan satu literatur di mana ada orang dengan air mata mencuci kaki. Mana you pernah? Siapa sastrawan, belajar sastra Inggris, sastra Rusia, sastra Cina? Ada banyak hal keindahan yang kadang merupakan karya seni tinggi dalam apa? Dalam painting, dalam keramik, di dalam novel, kisah-kisah, ya, yang diwariskan. Alkitab itu ada hal-hal yang, ya, apa, hidden treasures, ada sesuatu yang begitu luar biasa. Seorang wanita yang dengan air mata mencuci kaki Yesus, Tuhan yang mulia yang dengan kakinya jalan di Palestina 2000 tahun lalu. Dia diberkati. Tanpa sadar dia telah menemukan harta di mana dialah yang mencuci kaki yang berjalan di tanah Palestina yang kotor padahal dialah Raja Sorga.

Orang-orang yang tulus berjalan bukan dengan otak dan pintar. Dengan hati, tahu-tahu mereka sangat diberkati. Wah, saya merasa kalimat itu kalimat yang baik sekali, ya. Bukan dengan otak dan pintar tapi dengan tulus. Sebagian orang biasa telah melakukan sesuatu yang sangat mulia dan memberi kekayaan yang tanpa mereka sadari. Saudara-saudara, kalimat itu bisa jadi semacam peribahasa yang mendalam. Seperti itulah orang-orang luar biasa –yang blessed itu– melakukan hal-hal yang tanpa mereka sadar –kalau pakai bahasa Alkitab: tanpa sadar mereka telah melayani malaikat– mereka menjamu malaikatnya. Itu kata-kata dahsyat. Tanpa sadar Maria telah mengurapi kaki Yesus, persiapan penguburan-Nya. Orang berdosa ini telah mengurapi Yesus dan namanya dicatat sampai orang-orang hebat-hebat kalah. Tapi perempuan ini tidak cari menang! Tidak cari prestise! Tidak mencari suatu pencapaian seperti yang semua ingin melakukan: “Aku mau menjadi orang terkaya, terpintar, hadian Nobel, cita-cita.”

Tapi orang-orang yang tulus adalah simple heart: they come to Jesus, they do from their heart. Dan mereka nggak mengharap apa-apa. Anak-anak yang paling tulus yang nggak ingin harta orang tua, yang mengabdi ketika semua saudara mereka rebutan. Dia mengatakan, “Ambil semua, aku cuma mau ngerawat papa. Ambil semua!” Tapi dialah yang paling diberkati. Amin, Saudara? Anda mengerti bahasa-bahasa begini. Orang tua yang mau selidiki anak, maka, ”Inilah anakku! Yang tidak menginginkan apapun, yang  kehilangan apapun adalah yang menjadi paling kaya.”

Ndak ada saya temukan literatur mana pun. Saya telah baca Alkitab ini lama, tapi suatu hari saya sadar: nggak ada literatur mana pun ada kisah begitu indah. Tapi Alkitab diberikan bagi kita bukan suatu karya-karya besar seperti The Brothers Karamazov atau Victor Hugo punya Les Miserables yang panjang ribuan halaman. Hanya satu perikop! Kalau setiap kisah itu dikisahkan panjang, kita bawa Alkitab maka terlalu berat, terlalu lama baca. Tapi kita mesti menggali dan mendalami dan kadang perlu beberapa puluh tahun. Saya menyadari dan saya makin tersentuh.

Luar biasa! Ada suatu perasaan yang begitu mendalam: perempuan yang menyeka dengan rambutnya. Ada kreativitas: apa yang dia bisa lakukan ini? Ya, orang menyulam sesuatu: sediakan kain yang baik untuk orang yang dia hormati. Tapi, orang ini dengan rambutnya, kreatifnya. Kasihilah Tuhan, dan Roh Tuhan akan memimpin karena tanpa sadar kita lakukan apa yang tidak pernah diajarkan. Kalau ada sesuatu yang luar biasa –dan ini nggak bisa diulang. Kalau ngulang, ini contoh. Njiplak. Nggak ada dari hati. Nangkap, ya?– ketika sesuatu hal luar biasa telah terjadi, you kepingin berkat, dan you niru, ndak sama. Tiruan itu ndak sama, ndak ada original. Sesuatu yang muncul dari hati. Dan ini adalah sesuatu hal luar biasa, perempuan ini. padahal dia datang nggak mau minta apa-apa, lho. Dia datang cuman mau berdiri di belakang Yesus, bukan di depan mimbar untuk pamer! Bukan untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. From a humble heart. Saya lihat inilah sikap orang yang datang ke rumah Tuhan, datang pada Tuhan dengan baik.

Kemudian, ia mencium kaki-Nya. Yang mencium kaki itu cuma mama kepada baby, ya. Baby, baby dicium kakinya.Yes, it’s nice. Baby yang lembut dan harum. Tapi jangan cium kaki orang gede. Itu bisa pingsan. Dan yang pingsan bisa bangun, ya. Apalagi kaki saya itu, saking bersihnya, saya dulu nggak ngerti sampai kuku-kukunya makin dalam. Itu menjadi tempat indekos-nya kotoran dan enggak mungkin tiap hari kita cium. Dan kadang itu bau sekali, harus dibersihkan, ya. Orang gede kakinya itu bau, apalagi yang anak-anak sekolah yang enggak mau pakai kaus kaki lalu tidak pernah dicuci setahun, itu mengerikan sekali, ya. Dan kalau dicium benar-benar bisa pingsan.

Tapi perempuan itu mencium, mengungkapkan kerendahan hati dan penghormatan, syukur, dan penaklukan diri. Ekspresi-ekspresi ibadah kadang kala luar biasa. Orang berseru karya, kasih, act of love, act of love. Act of love. Hal tertentu yang tahu-tahu orang yang tulus hati dan jiwa mulia melakukan sesuatu yang ndak pernah terjadi. Kita harus menyiapkan. Bukan dengan strategi: kita musti gini ini, latihan apa, belajar teknik-teknik pintar, hebat, untuk bisa mengagumkan orang. Ndak! Bagi saya pelajaran itu bukan level tertinggi. Pelajaran terbaik adalah mempersiapkan hati. Pada waktunya, momennya, yang ndak jujur akan tersingkir karena you mikir untung rugi. Tapi yang tulus hati, saat itulah, gift, dan tanpa mereka sadari they receive. Seperti kata daripada doa St. Fransiskus, ya: dengan memberi, bukan menerima. Dengan mengampuni. Doa yang tak akan pernah bisa diulang lagi dan harus dicontoh saja: doa Fransis Asisi. Siapkan hati.

Lalu dia meminyakinya dengan minyak wangi. Dan setelah itu, dia buka cek, “Tolong, dong, minta, Tuhan.” Ndak ada! Dia akan pergi sebagai orang yang, “Aku telah dihina, tapi nggak apa-apa. I just want to love, appreciate, respect Jesus.” Menyatakan, “Thank you, khotbahmu telah membuat aku sadar. I do not ask fo anything. I just come.” Dia diberkati.

Jangan pergi ke gereja tamak, hati ndak beres. Aku nggak ngajarin anda untuk, “Pergilah! Cari pengkhotbah yang paling bodoh, paling sesat, ke gereja yang nggak tanggung jawab.” But, hati yang tulus. Itulah yang menjadi syarat. Karena ada saat di mana pendeta terbaik pun ndak memberkati engkau, kalau ndak baik. That’s my point! That’s my point! Tuhan akan memakai pendeta yang efektif: sangat bekerja. Pendeta yang kurang efektif, kadang kurang. Tetapi yang paling memberkati adalah hati. Amin? Jagalah hatimu dengan sebaik-baiknya. Kalau sudah keras, Yesus khotbah sama kita pun kita ndak diberkati. Berapa banyak orang yang dengarkan Yesus, melihat mukjizat Yesus, mereka nggak diberkati?

Ketika kita datang, periksalah hati kita: Allah di sorga, kita di bumi, jangan banyak ngomong, jangan banyak ngawur, rendahkanlah hati. Orang melihat kita melalui baju dan handphone, kita punya apa? Tentengan maupun kita pakai mobil apa, rumah di mana, alamat di mana, itu orang lihat. Tapi Tuhan melihat hati. Dan saya suka hal itu.

Saya masih ingat: ada seorang, istri orang super kaya di Indonesia sambil dengarkan, mencatat. Sambil dengarkan, mencatat. Saya punya kepala, hati itu suka nempelin yang gini-ginian. Hal-hal yang indah itu, I like to store in my heart, in my mind, in my memory the good things, beautiful thing and for me, ibu itu yang saya tahu-saya nggak mau sebut nama-di dalam ibadah, dia mencatat, mencatat pakai buku. Saya melihat hal yang baik dari orang-orang sederhana. Itulah yang Tuhan sedang cari. Adakah hati seperti perempuan ini di sini. Amin, Saudara? Nggak ada Amin. Amin, Saudara? Amin. Disuruh, ya? Karena memang kira nggak biasa. Ok. Baik, kita teruskan.

“Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia nabi, tentu Ia tahu siapakah orang, apakah perempuan yang menjamah-Nya ini. Tentu Ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa.”” Ini orang yang punya pengertian, punya logika, dan dia punya logika. Kalau Yesus nabi, lihatlah perempuan ini. Perempuan ini orang berdosa. Kok, seorang nabi membiarkan badan-Nya nyentuh orang berdosa? Aku jadi ingat, ya. Dulu, waktu kecil kalau orang musuhan kalau kesenggol, langsung hah, hah, hah (mengibaskan bagian badan yang tersenggol). Zaman dulu. Sekarang kayaknya enggak. Orang Yahudi kalau tersentuh mayat itu najis. Perempuan yang lagi datang mens pun tidak sembarang mereka bersentuhan. Kalau semua orang berdosa jadi najis, kalau Yesus nabi, Dia tahu siapa perempuan ini. Kedua, kenapa membiarkan disentuh? Orang saleh, orang suci tidak bersentuhan. Ini adalah pikirannya dia.

Maka, dalam pandangan Simon tindakan perempuan itu adalah tidak pantas, menjijikkan, dan mengganggu. Seorang datang ke tempat pertemuan. Dia tuan rumah. Ini pertemuan orang suci, orang saleh. Menguraikan rambut, hanya perempuan nakal yang melakukan itu di zaman itu. Mencium kaki, apa-apaan itu? Njijikin! Itu yang dia lihat. Simon sangat tidak suka perempuan ini karena mengganggu. Kalau nggak ada Tuhan Yesus karena sopan saja, saya mungkin sudah suruh orang usir. Nah, sekarang, kekesalannya kepada perempuan ini dialihkan kepada Tuhan Yesus. Kalau ada anak nakal, kita jengkel. Lama-lama kita jengkel sama mamanya. Kok, dibiarkan, sih? Kira-kira begitu logikanya. Dia nggak masalah dengan Yesus. Yang dia masalahkan dari perempuan ini, tetapi perempuan ini kayak anak. Nah, Yesus yang mengontrol. Kenapa? Sekarang problemnya itu kepada Yesus. Maka, dia keluarkan 2 macam asumsi. Yesus tidak tahu, Dia bukan nabi. Kalau nabi, Dia tahu, tidak membiarkan diri-Nya disentuh. Jadi dua asumsi ini mau dijawab oleh Tuhan Yesus dan dua asumsinya ini salah. Pertama, dia anggap rendah perempuan ini dan melihat tindakannya itu menjijikkan. Ini adalah apa yang dia lihat ya. Nanti sore kita akan saya akan bahas to see and to be. To see, lihat, lihat, lihat, lihat. Kata melihat itu punya makna yang ke mana-mana ya.

Dia melihat perempuan ini menjijikkan, dia sangat merendahkan, dan yang dia lakukan pada Yesus merendahkan Yesus dan membuat Yesus terdiskredit ya menjadi tidak layak seorang yang dihormati sebagai seorang hamba Tuhan atau seorang rabi atau seorang nabi bahkan. Tetapi apa yang dia ndak bisa lihat adalah bahwa yang dia jijik dan rendahkan adalah yang dihargai Yesus. Cara melihat yang berbeda. Hati-hati ya melihat tu dari hati. Hati yang limpah melihat dunia berbeda. Hati yang sempit kalau you punya teman kalau hidupmu itu sempit, everything you see is bad, nothing’s good, tak ada yang baik. Dan di mata orang yang sempit, jahat, kamu cilaka. Dalam hati orang yang baik, limpah, kaya, wawasan luas, penuh empati, dalam kelemahan orang lain pun dia tetap akan membantu. Dalam jiwa yang kurang baik, kelebihan orang jealous, kekurangan orang lain dihajar. Ndak ada sesuatu yang baik yang bisa keluar. Simon orang biasa. Dia lihat perempuan ini menjijikkan, Kekesalannya pada perempuan ini transfer kepada Yesus dan dia disregard Jesus yang dia hormati menjadi kurang dihormati. Tetapi di mata Yesus, perempuan ini melakukan yang lebih indah, lebih menyenangkan Yesus daripada hospitality, makanan enak yang disediakan. Ini satu hal yang perlu kita renungkan dengan mendalam.

Yang kedua, dia punya pikiran tentang Yesus, judgement tentang Yesus dan itu adalah salah, dan Yesus mau mengkoreksi dia. Pandangannya tentang perempuan itu salah. Nanti Dia akan memberi ilustrasi dengan perumpamaan. Ini nggak pernah dipikirkan oleh siapapun. Dan pandangannya tentang Yesus juga salah. Dan kalau bagi kita, kita akan tahu siapakah Yesus yang bisa mengampuni dosa, yang bagi Simon itu dimasalahkan, ya. Jadi problem makin lama, makin besar. Perempuan ini menyentuh aja sudah masalah, belum lagi kalimat terakhir muncul dan mungkin kita nggak akan banyak waktu untuk membahas siapa Yesus yang bisa punya kuasa mengampuni dosa. Jadi bagi kita penting ini adalah penyingkapan siapa Yesus yang punya kuasa untuk mengampuni dosa. Kristologi. Yesus membuat perumpamaan dan bertanya sama Simon. Simpel aja perumpamaannya. Ada dua orang berhutang. Satunya 500 dinar, satu 50 dinar. Ini mudah dinar dengan dinar ya. Bukan 100 dolar sama 100.000 ya rupiah ya. Oh mesti buka apa tuh Google. Kursnya berapa ya hari ini ya? 16 sekian berapa sekian mesti dikalikan. Oh yang 100 ternyata lebih gede ya. Nggak usah, nggak usah pusing. 500 dinar, 50 dinar. Lalu kemudian dua-duanya diampuni. Lalu kemudian ditanya, “Siapa yang paling banyak dapat berkat dan akan respon seyogyanya lebih respek, lebih terima kasih, lebih cinta?” Mudah, yang paling banyak dihapuskan hutang lebih mengasihi. Itu simpel. Benar jawabanmu. Tapi ini adalah introduksi.

Now, masuk kepada yang berikutnya. Lalu kemudian Tuhan Yesus ngomong, “Simon, ada yang hendak kukatakan kepadamu” Listen, “Katakanlah guru.” Oh, sekarang saya masuk kepada ayat berikutnya, ya. Ayat yang ke-44, ya. Setelah perumpamaan tentang hutang dibebaskan, maka satu hal yang Alkitab mencatat apa yang Yesus lakukan. Yesus berpaling kepada perempuan itu, tapi berkata kepada Simon, perempuan itu pasif. Ya, saya nggak mau terlalu cerewet nanti terlalu dalam ke mana-mana. Fokusnya pelan-pelan aja. Yesus berbicara kepada Simon, bertatapan dengan Simon, sekarang Yesus memandang perempuan itu. Tapi ngomongnya sama Simon karena Simon yang perlu dibereskan, perempuan nggak bisa dibereskan. Perempuan ini just do the act of love. Dan itu ada satu kontak relasi ibadah dengan Tuhan Yesus. Lalu kemudian Yesus berkata, “Engkau lihat perempuan ini, aku masuk ke rumahmu engkau tidak memberikan aku air untuk membasuh kakiku. Tapi dia membasuhi kakiku dengan air dan menyekannya dengan rambutnya.” Lalu ayat berikutnya, “Engkau tidak mencium aku, tetapi sejak aku masuk, ia tiada henti-hentinya mencium kakiku. Engkau tidak meminyaki kepalaku dengan minyak, tetapi ia meminyaki kakiku dengan minyak wangi.”

Nah, tiga hal lapis Tuhan Yesus memberitahukan apa yang Tuhan mau lakukan, menegur Simon yang menghina perempuan ini lebih rendah dan mencemari. Yesus mau mengatakan, “You see this woman? Lihat perempuan ini?” Lalu kemudian Yesus mengatakan, menunjukkan, “Aku masuk rumahmu, engkau nggak kasih air untuk cuci, dia cuci dengan air matanya.” Simon mencuci kaki, itu tak dilakukan oleh orang Yahudi. Dalam PL dilakukan. Mungkinkah Abraham yang mencuci kaki, ya, dari orang? Itu di dalam kisah leluhur ya. Tetapi untuk seorang budak disuruh untuk mencuci kaki Yesus saja Simon itu ndak lakukan. “Tapi perempuan ini membasahi kakiku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.”

Yang kedua, “engkau tidak mencium Aku.” Kalau orang di Timur Tengah tuh ya apa namanya? Cipika cipiki gitu ya. Cowok juga lakukan karena ini adalah semacam budaya atau apa, = salam. Kalau kita kan sudah jadi orang bule. Tapi kalau kadang-kadang kita juga begini, ini lebih ringkas, ini cara-cara ya. Atau pakai yang cara gini, orang Jepang atau siapa ya, pakai cara gini, apa ini pakai salaman, ya gitu. Orang tertentu itu pakai cium ya laki dengan laki, perempuan dengan perempuan ya. Kadang dalam tradisi tertentu laki perempuan bisa, tergantung jangan sembarangan orang, nanti masalah ya. Semua itu ada perasaan-perasaan Allah, respect and love and terima, ya, dia menghormati Yesus mengundang tetapi masih ada batasan. Dia tidak menyalami dengan ketulusan dan kedalaman. Tapi perempuan ini mencium Yesus tapi tidak mencium pipi bahkan tidak mencium tangan. Ya, ada orang mencium, kalau budaya Indonesia kepada sebagian orang itu cium tangan ya. Dalam KKR KKR regional, anak-anak yang bukan dari reformed itu cium, taruh di kepala, ya gini. Hal yang ndak ada di GRII karena GRII kan lain ya budayanya. Cium, apa, apa, salaman ya. Nah, perempuan itu mencium kaki Yesus tidak hentu-hentinya. Satu penghormatan dan cinta.

Engkau tidak meminyaki kepalaku dengan minyak tetapi dia meminyaki kakiku dengan minyak wangi.” Jadi, apa yang dianggap sebagi hal yang buruk, dan menjijikkan dan mengganggu yang dilakukan perempuan ini, justru Yesus membukakan kepada Simon, dia telah lakukan apa yang sangat indah kepada-Ku dan Aku berkenan. “Engkau menghina perempuan ini dan dia mencemarkan Saya, dan engkau justru mendeskreditkan Saya”, tapi Aku kasih tahu, dia telah lakukan apa yang baik dan Engkau ndak boleh menghina dia. Engkau kasih saya makan tapi aku dapatkan sesuatu dari dia. Pak Tong pernah berapa kali sharing, dia pelayanan, habis pelayanan diajak makan. Lalu dia tanya sama…, “Kamu, aku nggak lihat kamu duduk di mana tadi? Oh, saya tadi sibuk mempersiapkan makan supaya jamu yang terbaik. Aku nggak mau lagi datang ke rumahnya. Aku datang bukan untuk makan. Aku datang untuk khotbah supaya ada jiwa yang kembali pada Tuhan. Itu yang bikin aku seneng. Ya, kalo makan ya, saya syukur.” Pak Tong kan kuat makan, nafsu makannya banyak, berarti khotbahnya, energinya sudah tua, sudah capek, setengah mati. Begitu di mimbar, total, sehingga dia perlu makan untuk menguatkan dia. “Tapi itu bukan yang membuat aku seneng, justru aku sedih, ya. Aku mau kamu datang, dengar, lalu jiwa dipersembahkan pada Tuhan.”

Simon melakukan apa yang baik, dan ternyata menjadi sangat, amat kurang baik, tapi perempuan ini justru telah memberikan seluruh yang terbaik, memberikan hatinya, memberikan kasihnya, penghormatannya, imannya. Bagi Simon perempuan inilah seorang berdosa, bagi Tuhan Yesus kamu juga orang berdosa. You nggak bertobat, perempuan ini bertobat. You lihat perempuan ini dengan penghinaan, cara Tuhan berbeda. Perempuan itu memiliki pengenalan akan Yesus yang lebih baik dari Simon. Simon mempunyai pengetahuan tentang Yesus hanya sebagai rabi. Rabi, tapi meragukan. Kalau Dia seorang nabi masak membiarkan, teologianya nggak bener. Tapi perempuan ini, saya nggak yakin dia punya pengertian sama dengan kita. Kita sudah belajar dari sejarah, teologia. Tahu Kristologi, Allah Tritunggal, Yesus inkarnasi. Perempuan di masa itu, ndak tahu nantinya setelah Yesus naik ke surga, mungkin dia akan berubah karena ada pencerahan dan pengajaran, tapi at that time dia belum punya doktrin yang terbaik tetapi punya pengenalan inti yang benar, bahwa dia itu mengenal Yesus sebagai seorang yang dia harus percaya dan hormati. Bedanya maksudnya begini, Abraham dibanding sama kita, teologia kita lebih baik, kita sudah belajar doktrin Allah dan macam-macam, tetapi di dalam kesederhanaan penyingkapan yang masih awal kepada Bapak Abraham yang belum lahir namanya Ishak dan yang berikutnya. Dia begitu mendapat penyingkapan Tuhan, dia langsung beriman, dengan dia adalah Bapak Iman.

Nah ininya dalam kesederhanaan penyingkapan, tapi benar, tapi bukan keluasan, bukan banyak keluasan pengetahuan yang banyak yang beribu-ribu halaman buku tapi simpel, tapi punya kedalaman yang kita terlalu dangkal dibandingkan sama Abraham, yang total berserah pada Tuhan. Perempuan ini mempunyai satu respon, bisa kita yang setelah belajar teologia mendalam, kalah dalam dari dia. Dia punya pengenalan dalam kesederhanaan. Ada anak-anak yang kadang tuh simpel, tapi dalam kesederhanaannya dia punya hati yang lebih baik, lebih mendalam daripada anak-anak gede yang sudah diajari tata krama, moral, hormat orang tua tapi masih penuh, penuh perhitungan. Jiwanya berbeda. Dan jiwa perempuan inilah yang Tuhan lihat.

Kadang orang tua, kadang seorang moyang, seorang kakek, seorang grandfather, kepala keluarga, melihat anak, mantu, kerabat, anak angkat, cucu, cicit, dia ngamatin satu per satu yang hatinya benar-benar tulus, baik untuk nanti jadi orang penting yang mana. Ngerti ya Saudara ya? Kalau orang-orang, kadang saya memperhatikan, dari anak cucu, mantu, yang banyak dan cucu dan cicit kadang dia mau tahu, siapa yang paling baik dalam cara pikir, hati, sikap, kecerdasan yang nanti bisa diandalkan untuk jadi berkat. Kalau bisa dia akan menyerahkan pada dia. Kadang Dia menguji. Tuhan melihat dari surga, dari hati kita yang tutup, dari yang datang kita yang melayani. Di mana yang paling tulus dan kadang itu bukan orang yang, maafkan ya, paling sibuk. Kesibukan, ketenaran mencemarkan kita jadi kikuk dan nggak wajar, karena di dalam kesederhanaan tak terlihat ada intan-intan, jiwa yang luar biasa. Ada saat di mana kita itu nggak dianggap, diabaikan, tidak dipuji. Melakukan yang baik kok orang lain mengabaikan saya, nggak memuji saya, nggak liatin saya. Jangan anggap itu hal yang buruk. Itulah mungkin saat di mana yang paling lihat kita adalah Tuhan. Amin. Bukan dilihat oleh orang. Kalau orang lihat kadang kita itu sudah jadi kurang wajar ya. Terlalu banyak pujian, terlalu banyak hadiah, terlalu banyak imbalan, kita jadi kurang tulus, ya. Tapi berbahagialah ketika nggak ada yang lihat, dalam kondisi seperti di bawah, terabaikan. Sudah berbuat baik masih rugi. Satulah, Tuhan mau menguji di mana ketulusan. Tuhan sedang memperhatikan dan perempuan itu mengingatkan saya.

Tuhan sedang searching in our heart, siapa yang paling tulus dan mencintai Dia? Kalau itu ada, ini please God, menyenangkan Dia, dan Tuhan tidak membiarkan Simon menghina dia. Perempuan itu beriman kepada Yesus, Simon tidak. Seberapa dia beriman pada Yesus sebagai Mesias kah? Alkitab tidak mencatat. Kalau terlalu mencatat nanti terlalu detil. Tapi kisah kita akan terus lanjut untuk melalui semua itu mengajar kita. Alkitab ini adalah untuk mengajar kita, bukan untuk mengajar dia ya. Untuk semua akumulasi penyingkapan satu, satu, satu, satu untuk mengajar bagi kita. Dia itu beriman, kita perlu belajar dari dia. Dan perempuan itu menunjukkan kasih yang sangat besar kepada Yesus. Ia datang dengan suatu dorongan yang besar. Datang ke rumah orang Farisi bukan untuk senang, tapi dengan kesadaran akan dapat perlakuan yang buruk. Ketika Anda akan tahu sedikit apa ada resiko kesulitan, Anda tetap melakukan. Anda tahu nggak dapat imbalan tapi Anda lakukan yang benar. Demi Tuhan, Tuhan melihat di situlah kasih. Mari kita lihat kepada Tuhan yang melihat dari surga sehingga kita tidak merasa apa ya, loose heart, kecewa dan menjadi “sudahlah ngapain,” tapi mari kita lakukan untuk Tuhan. Dia datang untuk Tuhan. Yang mendorong dia mau datanglah untuk Tuhan ya dan dia siap untuk mendapatkan salah mengerti. Bayangkan kalau Tuhan Yesus tidak membukakan, jadinya apa? Tapi bahkan ketika Tuhan Yesus diam, orang yang tulus tetap pergi dengan tenang. Nggak peduli, aku lakukan yang baik. Terlalu cepat mendapat pengakuan dan sesuatu apa ya pengakuan lalu dinyatakan dia lakukan yang baik, kita langsung dapat satu pahala dan afirmasi. Tapi ketika sekian lama seperti terabaikan, terbuang, berbuat baik, cinta Tuhan, masih-masih hanya orang-orang yang super Tuhan lakukan luar biasa untuk angkat lebih tinggi yang Tuhan izinkan tidak cepat-cepat dimuliakan, tapi diuji karena intan permata itu perlu ditekan, disakiti luar biasa. Bukan Tuhan kejam, tapi dalam hal tertentu pendidikan, pembentukan orang yang paling unggul kadang terasa sangat kejam. Ada konfirmasinya. Kepada sesuatu yang paling berkualitas, pendidikan kepada anak, murid yang paling unggul, istimewa, tiada duanya di sepanjang masa, seringkali terlalu kejam, diabaikan, dicuekin, dibuat menderita, macam-macam. Dan di situlah teruji ketulusan yang paling mendalam.

Simon menghormati Yesus dangkal, tetapi perempuan ini lain. Maka Dia mengatakan, “Sebab itu aku berkata kepadamu, dosanya yang banyak itu telah diampuni. Sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga berbuat kasih.” Ini masih merupakan satu bagian daripada perumpamaan untuk Tuhan Yesus menegaskan. Logikanya jelas. Perempuan ini telah menerima satu berkat dari apa yang telah dia lakukan. Dia telah diampuni, dia telah membuat Aku berkenan. Lalu Dia berkata pada perempuan ini. Nah, sekarang Dia dari tadi ndak pernah ngomong apa-apa sama perempuan. Dari tadi cuman dengan Simon. Sekarang Dia ngomong sama perempuan ini, “Dosamu telah diampuni.” Selesai. Dan perempuan ini mungkin kaget dan pergi dengan lega.

Ada orang berdosa kadang itu merasa, apakah Tuhan mengasihi saya? Ada orang itu mau dibaptis dan dia ngomong sama saya, “Pak, kalau aku dirasa tidak layak, aku ndak usah dibaptis, nggak apa apa. Aku sudah tua, aku sudah pernah kawin empat kali, itu nggak cocok sama iman Kristen. Tapi aku ini benar-benar mau tobat ya. Aku dah tua ya dari latar belakang agama lain ya. Saya bergumul kalau saya baptis dan saya sering dikecewakan dengan setelah baptis itu orang tak jelas ya. Mereka cuma mau dapat surat baptis tapi setelah itu sering tak jelas. Tadi mana? Aku mau belajar. Izinkan saya belajar. Setelah selesai saya nggak dibaptis nggak apa apa. Nah saya kalau nggak baptis dia, dia sudah bilang nggak apa apa lho. Saya gumul, gumul, gumul, gumul, gumul, akhirnya saya baptis dan saya merasa bahwa apa yang saya lakukan itu benar. Dan saya terharu.

Ada orang itu ngetrik-ngetrik hamba Tuhan, lagi maunya rajin-rajin. Yang mau kawin rajin-rajin ikut katekisasi, ikut konseling. Begitu selesai kadang masih sopan, hadir dua tiga kali setelah itu menghilang. Ada yang langsung hilang. Ada yang mengetrik-ngetrik hamba Tuhan ya, ada yang ngetrik-ngetrik gereja. Ada yang perlu bantuan-bantuan apa. Mau masuk sekolah Katolik yang baik, dia akan kadang ibadah di mana. Setelah itu yang penting tujuannya tercapai. Ada orang mengatakan, “Whatever you will decide, aku terima. Gua nggak ngarep apa-apa.” Tetapi Tuhan Yesus mengatakan, “Dosamu diampuni.” Ini more than what I expect” ya. Kalau orang tua memberikan apa yang anak ndak harapkan, kadang orang diberikan sesuatu yang orang ndak harapkan dan inilah yang Tuhan berikan pada kita dan kita harus percaya karena ada firman Tuhan mengatakan bahwa lebih dari apa yang kita pikirkan dan sanggup doakan, Tuhan menyiapkan bagi kita. Pegang ayat itu dan percayalah kepada Tuhan.

Orang tua yang baik seringkali merencanakan sesuatu yang lebih besar daripada permintaan anak. Benar nggak? Anak sering mintanya cuman sepeda, orang tua kasih perusahaan. Anak cuma minta ini dan itu. Orang tua pikirkan sesuatu yang panjang. Orang tua aja begitu, apalagi Tuhan yang memberikan yang terbaik. Percaya.dan kalau diizinkan untuk masuk penjara seperti Yusuf setelah digoda sama Nyonya Potifar, percaya Tuhan nggak membuang kita. Tapi itulah saat turun ke bawah untuk membung lebih tinggi. Tapi kalau misalnya aku harus mati, if I peris, let I perish. Kami percaya Tuhan sanggup menolong kami dari api ini. Tapi kalau Dia tidak menolong, kami tidak akan menyembah patungmu, kalau aku mesti mati. Kata Esther “Let me die. I could do the right thing.” Nggak ada jikalau Tuhan begini, tapi apapun Tuhan sangat senang.

Tapi yang pakai syarat-syarat sering kurang tulus. Ada satu orang berkata dan saya jadi terkesan dengan kalimat yang saya baca di dalam buku John Stott yang diterbitkan momentum, Salib Kristus. Ya, Salib Kristus. Di sana dikatakan seorang itu mengucapkan kalimatnya, “Apa yang aku iri dari kalian orang Kristen adalah kalian memiliki someone who forgive you. Saya gak ada orang yang mengampuni saya.” Saya bingung sama kalimat. Orang Kristen itu percaya Tuhan Yesus begitu terima pengampunan. Walaupun saya kadang kalau ada orang terlalu cepat percaya, aku kaget. Aku pernah menahan orang yang mau doa terima Tuhan Yesus. Ya, saya ketakutan. Mulanya kita takut kalau orang nggak mau percaya Tuhan Yesus. Wah, kita senangnya kalau orang angkat tangan mau didoakan terima Tuhan Yesus, senang. Tapi begitu dia mau terima Tuhan Yesus, saya justru yang mundur. Saya tanya kalau nanti kamu percaya Tuhan dan kondisi ekonomi kamu nggak lebih baik, kamu gimana? Dia agak sedikit kaget. Motivasinya tak bongkar. Tapi setelah ngomong-ngomong dia percaya. Sayang, setelah itu saya nggak pernah ketemu karena saya ada di kantin di satu rumah sakit, dia bukan jemaat saya hanya ketemu. Lalu dia pikir aku ini bos kali ya, dia mau minta kerja kali ya. Lalu kemudian saya ngomong-ngomong dan setelah itu dia tetap mau percaya. Saya hanya jadi kenangan. Pernah ketemu lagi atau tidak nggak tahu.

Nah, Saudara, betapa berharganya ketika seorang bersungguh-sungguh dan diampuni. Pak Tong pernah cerita ketika dia naik pesawat dan di pesawat dia ketemu sama orang Yahudi dan dia cerita cerita orang Yahudi itu orang pinter-pinter dan mereka bicara filsafat, bicara macam-macam, bicara seni, bicara mengenai musik ya, orang-orang Yahudi itu kalau pemusik-pemusik banyak konduktor-konduktor yang hebat-hebat. Banyak orang-orang hebat, orang Yahudi. Tapi Pak Tong mengajukan satu pertanyaan yang agak sulit, agak sulit untuk dia jawab. Kenapa orang Yahudi itu hebat-hebat, jenis-jenus dalam hal termasuk musik? Banyak konduktor-konduktor, dirijen-dirjen yang hebat-hebat, kelas paling atas, tapi tidak ada yang jadi komponis penggubah lagu yang terdalam. Dan kalau ada itu Kristen, Felix Memdelssohn.

Wah, kayaknya ini teka-teki ini agak sulit dia jawab. Jadi orang pintar ternyata nggak bisa jawab. Lalu mereka sampai apa ya jawabannya? Orang Kristen mempunyai pengalaman, pertobatan dan pengampunan yang membuat mereka itu penuh sukacita dari hati. Ini yang tidak dimiliki oleh orang Yahudi. Kecerdasan memiliki batasan. Pengalaman zaman Tuhan yang mengubah itu mengalirkan sesuatu aliran kelimpahan yang nggak bisa dari manusia. Sehingga orang-orang biasa akan bisa menghasilkan sesuatu yang begitu luar biasa. Sekarang saya pakai contoh saya. Saya nggak pernah ikut Sekolah Minggu. Saya masuk ke gereja itu, saya pertama kali injak kaki beribadah ke gereja lah saat saya dibaptis. Pasti bukan GRII, kalau GRII nggak mungkin. Hari pertama saya masuk ke gereja itu beribadahlah hari saya dibaptis. Itu di satu gereja lain di daerah saya. Tapi sebelumnya saya ada katekisasi tiga kali. Kalau kita mesti berkali-kali ada ujian danan macam-macam ya.

Ok, hampir lupa, artinya saya dari kecil itu nggak ke gereja, nggak tahu. Dan ketika aku masuk ke gereja, saya kalau nyanyi itu suara saya tuh suara enam. Ya, jadi mungkin di antara sini yang suara paling jelek aku tetap juara ya. Karena aku nggak pernah nyanyi, nggak pernah nyanyi. Nggak bisa nyanyi. Cuman akhirnya lumayan cepat juga. Karena apa? Aku banyak pengiring. Sini bas, sini bas, sini tenor orang-orang Batak. Jadi aku jalannya cepat sekali kembali ke jalan yang lurus, ke jalan yang benar, sehingga hari ini lumayan bisa nyanyi. Jadi saya itu nggak pintar nyanyi, nggak belajar apa-apa. Ini yang saya mau ngomong. Tapi setelah saya percaya Tuhan, waktu saya masih SMA, I made a song. Saya bikin lagu dan lagunya masih ada, cuman untuk kalangan sendiri, kalangan saya. Lagunya kayak gini loh, Pak Lukman yang bidang musik. Seorang Kristen yang baru, anak SMA bikin lagu model gini, “Ku diberi nyanyian baru, Yesus tebus dosaku. Ku jadi anak Allah, hati penuh sukacita. Kan kunyanyikan berita kesukaan. Yesus mengasihku, dia mati gantiku” dan seterusnya. Eh nggak terlalu bagus tapi lumayanlah ya, oke ya. Apapun ya, mengalir dari dalam sesuatu.

Maka orang mengatakan what I jealous dari kalian orang Kristen adalah I have nobody to forgive me. Tahukah Anda, engkau sangat diberkati? Yang nggak membuat engkau diberkati lagi nggak punya hati, kau nggak punya jiwa. Kalau you membuka jiwa, apapun kondisimu bahkan kau di tempat yang paling rendah. Tapi kadang tempat yang paling rendah adalah sesuatu berkat. Karena situlah kesombonganmu itu dihancurkan dan kebergantungan, kemutlakan Anda butuh Tuhan itu dimetraikan. Terlalu hebat, terlalu cukupnya Anda itulah yang menghalangi Anda lihat betapa istimewanya Yesus. Dan ketika engkau menjadi I’m nothing, engkau baru dapat melihat Yesus yang everything. Diberkatilah orang dalam kerendahan, dan setelah itu mereka melihat Jesus is everything the most praises, more than my life, more than my name, more than my apa? Belonging, harta dan semuanya. semua nothing. Karena Yesuslah segala-galanya, nyawaku, sehatku, deritaku tak ada artinya. I just want Jesus no more, tak ada yang lain. Tuhan sangat senang kalau jiwa itu muncul.

Bagus kita kasih persembahan, bisa bikin gereja bagus. Bagus kita melayani kasih dan itu. Bagus kita menjamu, bagus kita begini. Tuhan suka, tapi tak lebih suka daripada keep our heart broken dengan kerendahan hati dan memberikan kasih yang kita berikan kepada Tuhan. Jangan pernah kita memberikan kepada Tuhan dengan hambar. Jangan seorang istri atau suami mengasihi istri dengan atau suaminya dengan hambar. Kasihilah dengan kehangatan dan ketulusan. Kalau Anda memberikan hadiah ke orang, lalu Anda lemparkan, jangan pernah ngasih. Jangan memberi ketika tidak diberikan dengan respek dan kasih. Jangan ngasih suatu hadiah yang ketika orang memakan rotinya berjamur. Jangan ngasih sesuatu yang Anda mau buang kasih ke orang, buang ke tong sampah. Don’t give, don’t give. Jangan memberi pada Tuhan sebagai sesuatu yang receh-receh dan penghinaan. Jangan pernah kirim ke istana Pak Prabowo sesuatu buah yang busuk, kamu bisa mati. Jangan kasih persembahan pada Tuhan dari sesuatu yang nggak tulus. Tenang, pertama-tama give your heart, give your respect, have the love and then give. Demikian juga kasih yang pura-pura dan hambar dari pasangan menyakitkan pasangannya. Anak kepada orang tua karena orang tua begitu limpah-limpah sayang anak. Anak yang sayang orang tua itu nggak ada hitungan, kasih membuat timbangan dibuang. Nggak ada timbangan, hitung-hitung ribut-ribut. Untuk orang tua apapun dilakukan, untuk anak apapun dilakukan. Tuhan mencintai kita dengan menggebu-gebu. Kita mencinta dengan dingin, cilaka kita, patut diusir ke neraka. Kita memberikan hati kita. Saya mestinya sudah selesai khotbah ini karena saya telah menyampaikan hati saya yang kiranya menjadi khotbah untuk diri saya dan untuk Anda. Walaupun masih ada ayat berikutnya yang belum disampaikan ya. Kita akan berhenti sampai di sini, mari kita berdoa.

Allah Bapa di dalam surga, setelah kami renungkan, kami membahas, sekaranglah respon kami. Kiranya kami belajar dari perempuan yang berdosa ini. Bagi dunia tidak layak dan harus dihina, dijauhi. Tapi ketemu dengan Tuhan perspektifnya lain. Kami adalah dari dunia, tapi kami dipanggil jadi anak-Mu. Kami adalah gereja-Mu, kami akan belajar melihat seperti Tuhan melihat dan bagaimana kami beribadah, kami hidup pun mau belajar apa yang Tuhan berkenan. Kami tidak memuji dosa perempuan berdosa ini, kami memuji pertobatannya. Kami nggak lebih baik dari dia dan kami mau belajar dengan tulus. Tuhan kata-kata doa hamba-Mu pun hamba-Mu akan berhenti karena kata-kata tidak bisa mengungkapkan apa yang kami mau sampaikan. Sekarang kami mau berkata-kata dari hati kami kepada Tuhan. Kami mau berkata-kata di dalam Dia dan Tuhanlah yang dengan Roh-Mu yang kudus mengajak, mengajar, menolong kami berdoa kepada Tuhan di mana kami mau menyerukan, I love you Lord. Kami respect Engkau Tuhan. Kami melihat kemuliaan-Mu. Ampuni kami atas setiap kelemahan dan dosa kami. Tuhan begitu baik, kami mau belajar untuk merespon yang baik. Berkatilah umat-Mu, berkatilah gereja ini, berkatilah ibadah ini. Dengar doa kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami telah berdoa. Semua mengatakan, Amin.