Khotbah di Bukit (7), 27 Juli 2025

Khotbah di Bukit (7)

Mat. 5:8

Pdt. Nathanael Marvin, M. Th.

Ini adalah bagian dari khotbah Yesus di bukit. Dan khotbah Yesus adalah salah satu khotbah terbaik di sepanjang zaman. Dan kita bisa katakana bahwa khotbah Yesus di bukit adalah khotbah yang terbaik yang boleh dikhotbahkan oleh seseorang manusia. Meskipun kita tahu bahwa Yesus adalah Allah menjelma jadi manusia, tetapi Yesus betul-betul 100% Allah dan juga 100% manusia. Dan ketika Dia memulai pelayanan-Nya, Dia mengkhotbahkan suatu tema yang sangat indah, sangat baik dengan bagaimana kita berbahagia di dalam Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang menginginkan kita untuk bersukacita, berbahagia. Tetapi bukan bersukacita dan berbahagia karena dunia, karena dosa, karena kejahatan, melainkan bersukacita dan berbahagia karena Tuhan sendiri, karena kebenaran Tuhan, karena segala pemberian Tuhan dalam kehidupan kita. Dan ketika kita melaksanakan firman Tuhan itu seharusnya membuat kita tuh bersukacita.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita datang ke rumah Tuhan ini, ke gereja Tuhan ini, kita sedang melakukan firman Tuhan. Apakah kita berbahagia? Apakah kita bersukacita? Harusnya bersukacita. Harusnya hati kita penuh ucapan syukur. Harusnya kita betul-betul berterima kasih kepada Tuhan dan kita menyadari hidup kita ini tidak sendirian, tetapi ditopang oleh Tuhan sendiri. Sehingga khotbah Yesus di bukit ini adalah suatu khotbah yang sangat indah. Kita bisa mempelajarinya. Bahkan saya pun bisa mengkhotbahkan satu ucapan bahagia di dalam khotbah minggu yang 1 jam. Satu kalimat dari Tuhan Yesus kita bisa olah sepanjang 1 jam, bahkan seumur hidup kita, kita bisa renungkan kenapa kita harus berbahagia. Dan pada bagian ini dikatakan bahwa kita harus berbahagia karena kita memiliki hati yang suci. Dan pada akhirnya karena kita memiliki hati yang suci, kita akan bisa melihat Allah. English Standard Version mengatakan, “Blessed are the pure in heart for they shall see God.”

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ada lagu yang kita kenal tentang kesucian Allah dan bukan saja kesucian allah yang lain-lain atau allah yang tidak kita kenal, melainkan kesucian Allah Tritunggal. Kita tahu lagu “kudus, kudus, kudus Allah Maha Kuasa, pada dini hari kami memuji-Mu. Kudus, kudus, kudus, kuasa dan rahmani Allah Tritunggal agung mulia Hu.” Di dalam sejarah lagu gereja himne kita bisa melihat ada satu sifat Allah yang dikhususkan. Kita nggak mendengar sifat Allah kasih, kasih, kasih, nggak. Kita nggak melihat sifat Allah adil, adil, adil, baik, baik-baik. Meskipun ada lagu-lagu himne yang mengatakan demikian. Tetapi kita bisa lihat dalam sejarah Kristen ada lagu yang begitu indah ditulis oleh pendeta Anglikan di Inggris pada abad 18 bernama Reginald Heber. Dia seorang Kristen yang dididik di dalam takut akan Tuhan. Dia diajarkan harus baca Alkitab karena cinta Tuhan, harus beribadah karena rela mau mendekat kepada Tuhan. Dan dia juga belajar untuk jujur, murah hati, dan takut akan Tuhan. Sejak umur 7 tahun, Heber sudah banyak belajar mengenai Alkitab dan juga filsafat Yunani; bagaimana menggunakan kapasitas rasio pikiran kita untuk pada akhirnya memikirkan tentang Allah maupun juga kebenaran firman Tuhan. Ketika akhirnya dia menjadi pendeta, dia ikut papanya. Papanya seorang pendeta, sekarang dia pun mengikuti jejak papanya, dia menjadi pendeta di gereja Anglikan. Dan pada waktu itu, di abad 18, liturginya itu hampir serupa dengan gereja Katolik yang menyanyi hanya dengan mazmur dan juga tata ibadah yang kaku. Ini kan permulaan dari reformasi Protestan ya. Kita tahu di Inggris pun mengalami reformasi dan akhirnya ada gereja Katolik kemudian gereja Anglikan. Tapi gereja Anglikan ini tidak sepenuhnya reformed, tidak sepenuhnya direformasi. Masih mengikuti gaya cara ibadah Katolik. Dan di situ dia tumbuh dan melayani Tuhan.

Nah, ketika Heber melihat bahwa gereja kok hanya menyanyikan lagu Mazmur, gereja Calvinis, John Calvin itu memang menekankan kita harus nyanyi dari ayat-ayat Alkitab, yaitu kitab Mazmur saja. Sudah ada Mazmur dari Mazmur 1 sampai 150 kok tidak ada kita nyanyikan di dalam ibadah. Nah kalau gereja itu betul-betul Calvinis, kita tidak boleh nyanyi puji-pujian seperti ini, kontemporer, nggak boleh. Kalau kita betul-betul gereja Calvinis, sepenuhnya Calvinis, 100% Calvinis, kita hanya menyanyikan lagi lagu dari kitab Mazmur. Kata-katanya harus dari firman Tuhan sendiri. Karena Calvin sangat menekankan pujian yang berdasarkan firman Tuhan. Dan firman Tuhan sudah terbaik, kalimat terbaik, ngapain lagi kita menggunakan kalimat bahasa kita untuk memuji Tuhan.

Tetapi, kenapa gereja ini reformed Calvinis katanya, tetapi juga menggunakan musik-musik kontemporer? Nah karena secara musik gereja, kita ini Lutheran. Kita setuju dengan Martin Luther yang menggubah musik, membuat musik gereja berdasarkan pengalaman dan pengertiannya, tetapi dengan teologi yang benar dan sejati. Dan akhirnya si Heber ini, dia membuat lagu-lagu kontemporer, himne, tetapi berdasarkan teologi yang benar. Dia melihat gereja kok nyanyinya Mazmur saja, tata liturginya begitu kaku. Dia kurang setuju dengan gerejanya sendiri. Heber pendeta, tapi dia tidak setuju dengan gerejanya sendiri. Nah bagaimana respons dia? Akhirnya dia mengusulkan ya, “Saya akan membuat lagu.” Dia tulis satu buku berisi 70 kidung pujian yang dia buat sendiri. Dia memiliki talenta musik juga, selain dia pendeta, dia memiliki talenta musik juga. Dia tulis lagu-lagu pujian sampai 70 buah dibukukan satu buku. Dan salah satu lagunya adalah “Kudus, Kudus, Kudus”. Ini adalah suatu lagu yang dia buat. Dan kemudian dia memberikan masukan kepada gerejanya ya, gerejanya, pimpinannya bahwa saya ingin meningkatkan kualitas musik, kualitas pujian, dan mendidik jemaat supaya memiliki hati yang memuji Tuhan dengan bahasa yang kita familiar saat ini, di zaman ini. Maka saya usulkan 70 kidung pujian ini kepada gereja.

Lalu bagaimana respons gereja pada waktu itu? Gereja tidak setuju dengan usulan pendeta ini. Karena itu di luar tradisi, itu beda. Kita biasanya menyanyi dari Mazmur saja, kata-kata firman Tuhan. Dan pada waktu itu gereja Anglikan belum siap menerima masukan tersebut. Nah, baiknya dari Heber dia bukannya menolak atau dia resign dari gereja tersebut ya, tetapi dia tetap taat melayani Tuhan di gereja tersebut. Dia terus setia terus mengajarkan musik semampu dia dalam pengertian dia. Dan sampai akhirnya Tuhan panggil dia juga menjadi seorang misionaris di India. Lalu menjadi misionaris di India dan dia meninggal di sana mengabarkan Injil kepada orang-orang India. Lalu buku himnenya bagaimana, yang 70 buah lagu tersebut? Ya sudah hilang beberapa waktu lamanya. Heber sudah meninggal, lagu “Kudus, Kudus, Kudus” ini bisa tidak ada dalam sejarah.

Tetapi uniknya ada saudara, kerabat, jemaat Kristen lainnya akhirnya menemukan buku himne tulisannya dan gereja Anglikan itu sadar ternyata dari buku ini banyak lagu-lagu himne yang berkualitas baik. Dan akhirnya gereja Anglikan pun mengadopsi lagu “Kudus, Kudus, Kudus” untuk dinyanyikan di dalam ibadah. Padahal gereja tersebut cukup kaku, sangat kaku bahkan, tidak mau terima masukan karena di luar tradisi seperti itu ya. Tetapi akhirnya lagu ini berkembang dan akhirnya digubah oleh seorang juga bernama John Dikes ya, seorang pendeta dan musisi gereja Anglikan. Ada orang menemukan, ada orang yang membuat lagu pujian. Dia tidak bisa melihat karyanya, tidak bisa mendengar karyanya untuk kebaikan banyak orang. Terus ada orang yang akhirnya menemukan buku pujian tersebut. Terus ada orang juga yang menggubah lagunya sehingga lagu ini diberi nada Nisea ya. Kalau kita belajar sejarah gereja kita ingat Konsili Nisea. Konsili Nisea ini tahun 325. Lagunya itu disesuaikan dengan mengacu pada konsili Nikea karena apa? Itu tempat pengakuan pertama iman Kristen tentang Allah Tritunggal. Gereja yang sejati percaya Alkitab 100% adalah firman Tuhan dan di konsili di Nikea itu Allah Tritunggal ditegakkan. Allah yang sejati yang sesuai kebenaran Alkitab adalah Allah Tritunggal. Dan lagu ini disesuaikan dan akhirnya juga lagu “Kudus, Kudus, Kudus” ini berdasarkan kitab Yesaya, lalu tafsirannya muncul. Kenapa kudusnya tiga kali? Karena mengagungkan Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Allah kita itu kudus. Allah kita itu satu tapi tiga Pribadi. Maka kita sebut tiga Pribadi yang berbeda. Bapa kudus, Anak yaitu Yesus Kristus kudus, Roh Kudus ya jelas pasti kudus. Oh ini suatu lagu pujian yang begitu indah.

Di Yes. 6:1-3 di bagian itu dijelaskan seorang raja Israel raja Uzia meninggal. Tahta itu kosong. Tetapi Nabi Yesaya mendapatkan penglihatan, yaitu tentang Tuhan Allah yang kudus itu duduk di satu takhta yang tinggi dan menjulang. Terus ujung jubah-Nya itu mengenai atau memenuhi bait suci. Raja dunia mati, tetapi Yesaya mendapatkan penglihatan Raja alam semesta, Raja di atas segala raja sedang duduk di atas takhta dengan jubah-Nya sampai bait suci. Lalu kemudian Yesaya melihat ada Tuhan, sosok Tuhan yang duduk dengan kepemimpinan dan wibawa yang begitu besar. Lalu di atas-Nya Raja tersebut, di atas Tuhan itu ada para serafim sedang terbang di sana. Ada malaikat-malaikat yang siap memuji Tuhan, mengagungkan kekudusan Tuhan, sedang berada di dekat Allah, di atas-Nya, kemudian sedang memuji Allah tritunggal. Allah yang duduk di atas takhta ini. Dan memang malaikat serafim adalah malaikat yang memuji keagungan dan kekudusan Allah. Kenapa kita bisa tahu demikian? Karena perkataan kudus, kudus, kudus ini bukan perkataan dari manusia. Ini perkataan dari malaikat yang disebut sebagai serafim. Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam.

Para serafim ini digambarkan memiliki enam sayap. Dua sayap di atas adalah sayap untuk menutupi muka. Kita nggak boleh melihat Allah yang kudus. Itu terlalu mulia, terlalu kudus. Ditutupilah muka mereka, mata mereka. Lalu sayap yang di tengahnya itu untuk melayang-layang, terbang seperti itu ya. Lalu sayap yang di bawah, dua sayap lagi untuk menutupi kaki yang biasanya dilambangkan sebagai wujud kekotoran. Kaki kita kotor, bau ya, kena debu. Maka ditutupilah untuk menunjukkan kita datang kepada Tuhan tuh nggak bisa lihat Tuhan secara langsung. Nggak boleh juga dengan kekotoran, nggak boleh dengan dosa kita. Maka seringkali Musa dikatakan, “Kamu sedang ada di gunung Tuhan. Tanggalkan kasutmu.” Lalu Yosua sedang berhadapan dengan panglima bala tentara Allah, Yesus ya digambarkan sebagai Kristofani atau Yesus yang menampakkan diri, lalu digambarkan sebagai dikatakan, “Tanggalkanlah kasutmu, sebab ini tempat kudus.” Kita nggak boleh sembarangan datang kepada Tuhan dengan hati yang tidak hormat. Kita harus hormat kepada Tuhan. Kita nggak bisa lihat Tuhan, kita nggak bisa dengan kekuatan kita datang kepada Tuhan, hanya dengan pertolongan Tuhan saja. Lalu, para serafim ini jumlahnya cukup banyak, berseru-seru, “Kudus Kudus Kudus. Kuduslah Tuhan semesta alam seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya.” Mereka yang menyanyikan pujian teragung. Mereka yang menyanyikan pujian tentang kekudusan Allah, disebutkan dalam Perjanjian Lama lewat penglihatan Nabi Yesaya.

Uniknya, ketika saya merenungkan tentang Firman Tuhan tentang kesucian Allah ini ya Bapak, Ibu sekalian, saya menemukan juga bahwa di dalam Kitab Wahyu, ada Rasul juga yang mendapatkan penglihatan, dan akhirnya mendapatkan penglihatan juga seperti Nabi Yesaya tentang kekudusan Allah. Ya di dalam Wahyu yang diterima oleh Rasul Yohanes, dia juga dapat penglihatan tentang malaikat serafim. Ada 6 sayap, 2 sayap menutupi wajahnya, 2 sayap untuk melayang-layang, lalu juga 2 sayap menutupi yang di bawahnya untuk menutupi kakinya. Tidak henti-hentinya, dikatakan di dalam Kitab Wahyu itu, tidak henti-hentinya malaikat serafim ini siang dan malam mengatakan “Kudus, kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah semesta alam yang Maha Kuasa, yang sudah ada, dan yang ada, dan yang akan datang”, Alfa dan Omega. Kudus, kudus, kuduslah Tuhan. Jadi kita bisa melihat keindahan firman Tuhan bahwa ini adalah menegaskan satu sifat Allah yang kudus, Allah yang suci ditekankan dalam penglihatan Nabi Yesaya, ditekankan juga oleh Rasul Yohanes di Kitab Wahyu. Sama-sama juga memandang pujian kudus, kudus, kudus, kuduslah Tuhan.

Kekudusan Allah adalah suatu sifat yang sangat penting, unik, dan agung, sehingga kita bisa belajar mengenai sifat Allah yang kudus ini. Penekanan mengenai sifat Allah yang kudus ini sampai diulang sebanyak tiga kali. Dan kita tahu ya, dari tradisi Alkitab Ibrani, pengulangan tiga kali itu mengekspresikan suatu tingkatan yang paling tinggi. “Jangan berisik ya.” Satu kali. “Jangan berisik ya.” Dua kali. “Jangan berisik ya!” Tiga kali. Wah itu suatu penekanan yang sangat keras. Harus menghormati Tuhan, harus melihat kekudusan Tuhan. Ya itu adalah Allah itu Allah yang paling kudus. Kalau ada benda di dalam dunia ini kudus, bait suci, Allah jauh lebih suci. Kalau ada manusia yang kita katakan “ini manusia suci, tanpa salah, tanpa cacat maupun kejahatan”, tidak ada yang bisa menyaingi Allah. Allah adalah The Holy Other. Allah yang sepenuhnya suci, berbeda dengan kita manusia yang sudah jatuh dalam dosa atau ciptaan yang lainnya. Jadi malaikat serafim yang tidak berdosa juga, tapi kekudusan dari malaikat serafim berbeda dengan kekudusan Allah. The Holy Other sepenuhnya berbeda dengan seluruh ciptaan. Itu Allah kita. Itu Allah kita adalah Pribadi yang begitu kudus.

Nah sekarang Yesus berkhotbah, “berbahagialah orang yang suci hati-nya karena dia akan melihat Allah.” Suci. Murni. Kudus. Itu ya. Yesus mengatakan bahwa semua orang harus memiliki hati yang suci, hati yang murni, dengan demikian orang bisa melihat Allah. Allah yang kudus juga, yang murni juga, yang suci juga. Yesus mengajarkan apa di bagian khotbah yang tentang ucapan bahagia yang keenam ini? Yesus ajarkan tentang pengudusan hidup kepada setiap orang. Orang-orang semuanya dipanggil untuk hidup kudus. Jangan sampai kita tidak hidup kudus. Dan siapa yang bisa menguduskan kita? Hanya Allah. Hanya Kristus. Allah yang bisa memurnikan hati kita yang sudah penuh dengan dosa. Lalu akhirnya kita bisa berjalan dalam pengudusan hidup. Yesus ajarkan bahwa manusia bisa meneladani Allah yang suci itu di dalam panggilannya sendiri, di dalam batasannya sendiri, kita hidup kudus nggak mungkin menyamakan diri dengan Allah yang kudus. Kita ini lemah. Kita nggak mungkin bisa menyamai kekudusan Tuhan. Allah itu sudah yang paling kudus. Kudus, kudus, kudus, nggak ada yang seperti Dia. Allah itu tidak ada dosa. Tetapi ketika Allah yang kudus itu mencelikkan hati kita, menguduskan hati kita, kita bisa melihat Allah. Itulah yang kita renungkan ya di dalam bagian ini. Tapi setidaknya kita bisa melihat bahwa tuntutan Allah adalah hidup dalam kesucian, hidup dalam kekudusan.

Nah kita lihat dari Christian worldview, ada 4 tahapan kehidupan Kristen, seharusnya orang-orang Reformed sudah tidak asing lah, sudah hafal ya, 4 tahapan kehidupan Kristen. Kalau orang Kristen akan memasuki 4 tahapan ini, kalau orang non-Kristen hanya 2 tahapan saja. Yaitu Creation, Fall Redemption, Consummation. Ini 4 tahapan cara pandang Kristen yang dijelaskan di dalam Alkitab. Semua manusia diciptakan oleh Tuhan. Bagian pertama ini kita bisa lihat Adam dan Hawa belum jatuh ke dalam dosa, mereka hidup kudus suci, hatinya murni. Ya Allah tuntut kamu hidup suci sebab Aku juga kudus. Lalu kesucian hidup berarti apa? Bagaimana Adam dan Hawa mempertahankan kesuciannya? Yaitu dengan cara bergantung pada Tuhan dan juga melakukan firman Tuhan, yang kudus itu sendiri. Ora et la bora, berdoa dan juga bekerja, seperti itu ya. Ini adalah mempertahankan kekudusan, tidak boleh cela, tidak boleh cacat, dan tanpa kesalahan. Ibarat ya Bapak, Ibu sekalian kalau kita bandingkan seperti benda atau hewan, kalau barang atau benda kita sukanya yang bersih atau kotor? Bersih ya. Kalau restoran, kalau kita masuk ke restoran, kita nilai itu kebersihan juga. Kita suka yang bersih. Masuk rumah sakit inginnya yang bersih. Masak rumah sakit kotor, banyak penyakit. Bahkan kandang binatang pun kita ingin bersih, sampai ada taman safari, kebun binatang ya. Nah sekarang, Tuhan mau hidup kita bersih lho. Wajar nggak? Sangat wajar. Kita manusia berdosa ingin hidup yang bersih, ingin ketemu orang yang baik. Siapa di sini yang ingin ketemu penipu, pembohong, pelaku kejahatan? Nggak ada. Kita pun yang jahat nggak ingin ketemu orang yang jahat. Kita senangnya ketemu orang yang baik juga.

Nah adalah hal yang wajar Allah meminta Adam dan Hawa, “kamu hidup kudus ya. Aku sudah kudus, Aku baik, Aku beri kemampuan kepada kamu untuk hidup kudus.” Ibarat hewan, kalau kudus itu berarti tidak ada cacat, tidak ada luka, tidak ada patah tulang. Pokoknya sempurna, baik. Nah Allah menuntut Adam dan Hawa itu 100% sempurna dengan cara apa? Dengan cara menilai ketaatan mereka kepada firman Tuhan. 100% sempurna taat. Kalau berdosa atau cacat satu kali saja, itu sangat serius, yaitu harus dihukum mati. Berdosa berarti apa? Sudah tidak suci lagi, tidak kudus lagi, upah dosa adalah maut.

Nah sekarang kita bisa melihat di tahapan pertama ini, tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk hidup kudus. Hidup suci berarti bagaimana? Hidup taat kepada Tuhan. Dan ini menyenangkan Tuhan. Kalau kita senang lihat keluarga kita bersih, suami, istri kita bersih, nggak kotor-kotoran. Wajar lah kalau keringetan satu hari. Tapi kalau sudah 3 hari kita jengkel ya, kok nggak mandi-mandi? Mandi pakai sabun, wangi gitu ya. Nah sekarang kita berdosa terus, kita sudah diberi kemampuan kemerdekaan sebagai orang Kristen untuk taat, kita berdosa terus, berdosa terus, nanti ada satu waktu Tuhan tegur keras, Tuhan pukul kita, supaya apa? Supaya kita kembali taat kepada Tuhan. Dinasihati secara lembut nggak nurut, makin lama makin keras, seperti tadi ya seperti gaya bahasa superlatif, satu kali nggak nurut, dua kali, tiga kali. Bam! Tuhan tegur kita dan akhirnya kita harus menerima kesulitan, dan akhirnya Tuhan juga mendorong kita untuk taat kepada Tuhan. Nah itu tahapan pertama.

Tetapi di tahapan kedua manusia sudah gagal. Adam dan Hawa sudah makan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, sudah jatuh ke dalam dosa, berarti apa? Hidupnya sudah jelas tidak suci, tidak kudus, tidak murni, sudah tidak taat kepada Tuhan. Mereka ketika makan, sadar, melawan firman Tuhan, melihat ternyata badan mereka telanjang, berarti ada perubahan perspektif. Sebelumnya melihat sesama telanjang itu nggak masalah, bisa saling hormati. Tapi karena sudah jatuh ke dalam dosa, mata mereka melihat sesama itu negatif. Gendut, kurus, tidak ideal, menghina, telanjang kamu, sudah kita pakai daun. Nah ini kerusakan ekologi yang pertama ya. Kerusakan lingkungan yang pertama yaitu mereka menyemat daun pohon ara, dibuatlah untuk menutupi bagian pribadinya yang berbeda dengan pasangannya, yang membuat pasangan itu bisa saling menghina. Kamu berbeda dengan saya, saya hina kamu. Mereka malu karena apa? Sudah berdosa. Dosa itu sudah ada, sehingga apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan, kehendaki, semuanya adalah cenderung melawan kebenaran firman Tuhan.

Dan gambar dan rupa Allah yang tadinya sempurna, sekarang rusak, sudah ada coretan, sudah ada retakan, sudah rusak. Bukan hilang ya. Orang yang berdosa tetap manusia yang diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, bukan hilang ketika berdosa, tetapi rusak aja. Kita bisa lihat sifat-sifat Allah dalam diri orang yang berdosa, tapi sudah rusak. Nah kita dalam teologi reformed kita belajar dosa ada dua jenis ya Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Pertama adalah original sin, atau dosa yang secara natur kita. Berarti bayi yang dikandung, bayi yang lahir itu, sudah diturunkan natur dosanya. Tidak ada manusia berdosa kemudian melahirkan manusia yang tidak berdosa. Tidak ada. Manusia berdosa kemudian melahirkan manusia berdosa. Seperti orang Indonesia dengan orang Indonesia menikah melahirkan orang Indonesia. Orang Amerika menikah dengan orang Amerika, melahirkan orang Amerika. Suku Chinese dengan suku Chinese menikah, melahirkan anak dengan suku Chinese. Manusia berdosa menikah dengan manusia berdosa melahirkan anak pasti berdosa. Karena Allah yang mengatakannya. Firman Tuhan yang mengatakan Adam itu adalah wakil semua manusia, representasi manusia. Kalau wakilnya saja berdosa, maka semua itu pasti berdosa.

Kalau kita jadi Adam, kita pikir kita lebih hebat dari Adam, kita pun pasti jatuh dalam dosa. Tidak ada manusia yang kuat di dalam diri mereka sendiri tanpa pertolongan Tuhan. Maka dari itu kondisi rohani kita, semua manusia itu sudah mati di dalam dosa kita. Maka Raja Daud mengatakan dalam Mazmur ya, “sesungguhnya dalam kesalahan aku dilahirkan, dalam dosa aku dikandung Ibuku.” Nah mari kita baca Mazmur 51:5. Ini yang menjadi salah satu dasar doktrin original sin ya. Kalau di dalam Alkitab digital itu Mazmur 51:5, tetapi kalau dalam Alkitab buku itu Mazmur 51:7 ya. Saya bacakan Mazmur 51:5-6, “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.” Jadi kita semua sudah jatuh di dalam dosa. Tidak ada manusia yang suci. Tidak ada manusia yang kudus. Semua orang yang dilahirkan itu berdosa.

Nah, sekarang, jenis dosa yang kedua –kita tahu– bukan saja original sin atau natur, tapi juga actual sin yang dilakukan oleh kita di dalam sejarah. Nah, dosa yang kita lakukan dalam perkataan, perbuatan, pikiran, perasaan, kehendak, yang jelas-jelas melanggar hukum Tuhan. Itu kita lakukan, itu, kenapa ada actual sin? Karena sudah ada original sin. Nah, kenapa Adam dan Hawa berani ambil buah pengetahuan baik dan jahat? Sebenarnya, dia itu –mereka itu– sudah berdosa dulu, kok. Karena apa? Sudah tidak percaya firman Tuhan, percaya firman Iblis. Sudah tidak percaya perkataan Tuhan, dia lebih percaya perkataan Iblis dan kedagingan. Sebenarnya sudah berdosa, cuman tindakannya, actual-nya adalah tidak taat terhadap firman Tuhan.

Ada dosa yang tidak kelihatan, ada yang dosa yang kelihatan. Nah, ini adalah jenis-jenis dosa. Bahkan, tahu berbuat baik tapi tidak lakukan, itu pun dosa. “Tahu nih, kita harus ibadah hari Minggu. Kita harus tenang. Di dalam melayani Tuhan, kita harus takut akan Tuhan dan harus baik.” Tapi tidak lakukan, itu pun adalah dosa. Nah, bagaimana membedakan dosa asal dan dosa aktual? Itu ibarat pohon dan buahnya. Kalau pohonnya baik –Yesus katakan, ya– buahnya baik. Kalau pohonnya buruk, buahnya pun buruk. Kurang lebih gambarannya seperti itu, ya, perumpamaannya.

Nah, di dalam tahapan kedua ini, kita semua sudah berdosa. Kita tidak percaya pemikiran filsuf bernama John Locke yang mengatakan bahwa manusia itu lahir ke dalam dunia itu dengan blank state: seperti kertas kosong putih yang baru ditulis. Nggak. Manusia yang lahir ke dalam dunia itu sudah black state, ya. Sudah tercemar oleh dosa. Tidak seperti kertas putih, ya. Maka, dosa itu diturunkan.

Nah, apakah di dalam tahapan kedua ini –Bapak, Ibu, Saudara sekalian– manusia dapat hidup kudus? Seperti tuntutan Tuhan? Sudah nggak bisa lagi. Kalau waktu creation, Adam dan Hawa bisa kudus, bisa tidak kudus. Tapi posisi mereka sudah suci, ya. Belum, tanpa dosa, belum berdosa. Tapi mereka memilih untuk taat, taat terus. Bisa. Tapi, di dalam kondisi yang kedua: kejatuhan manusia dalam dosa, ini terus melakukan kekotoran, terus melakukan dosa, terus melakukan kejahatan. Tanpa Tuhan, kita hanya bisa hidup kotor bukan hidup kudus.

Lalu, barulah masuk ke dalam tahapan yang ketiga yaitu penebusan Yesus Kristus. Di sinilah kita diberikan kembali kemampuan seperti di penciptaan –tahapan pertama, ya: yaitu bisa kudus, bisa tidak kudus– karena siapa? Karena ada Roh Kudus dalam hati orang Kristen, orang percaya. Dan buah Roh Kudus ada di dalam kehidupan orang percaya –sembilan rasa tersebut, ya– dari buah Roh Kudus. Roh Kudus pertama-tama mau menguduskan orang tersebut. Semua orang sudah berdosa, anggap hitam, seperti itu, ya. Terus, kemudian Roh Kudus mau memilih sebagian orang untuk akhirnya bisa hidup kudus. Diambillah sebagian orang dan orang-orang ini adalah orang yang percaya kepada Yesus Kristus.

Tapi, apakah menjadi putih langsung? Nggak. Roh Kudus itu putih, tanpa cacat cela. Manusia berdosa: anggap hitam lah, ya. Terus ketika Roh Kudus bercampur, bersatu dengan manusia yang berdosa, nah, ini adalah satu kesatuan yang tidak bisa kita pahami. Bagaimana dalam diri kita –manusia berdosa secara natur, secara actual juga– tapi ada Roh Kudus dalam diri kita juga, yang hidup dalam diri kita: yang tidak tercemar oleh dosa? Maka itulah kenapa Yesus ada di dalam kandungan Maria. Itu membuktikan bahwa ada bayi di dalam kandungan –karena diliputi oleh Roh Kudus– meskipun tubuh mama-Nya itu menyalurkan seluruh makanan ke bayi tersebut, seluruh gen-nya, tapi bayi itu enggak berdosa. Itu hebatnya Roh Kudus. Roh Kudus ada dalam diri kita: tidak tercemar oleh dosa, bahkan bisa membuat kita itu hidup lebih baik, lebih kudus di hadapan Tuhan. Maka, orang Kristen itu, hidup dalam pergumulan ini, yaitu kita mau hidup kudus tapi kedagingan kita itu maunya jatuh dalam dosa. Bukan menikmati dosa, ya. Kita maunya jatuh, bukan suka dosa, bukan menikmati dosa. Kita jatuh. Kita sukanya apa? Sukanya kekudusan tapi bisa jatuh dalam dosa. Itu orang Kristen yang sejati. Kita sudah ada Roh Kudus, kita suka kekudusan Allah, kita suka taat Allah, kita suka taat Firman, tetapi kita lemah secara kedagingan. Maka kita belajar terus menaati firman Tuhan untuk hidup kudus di hadapan Tuhan. Jadi, di dalam Yesus Kristus kita adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, tetapi yang baru sudah datang, yaitu siapa? Kehidupan Roh Kudus itu ada di dalam hati kita. Maka kita bisa pilih lagi: pilih taat–pilih tidak taat; pilih taat atau tidak taat; pilih hidup kudus atau tidak kudus. Itu bisa kita lakukan.

Maka kurang ajar kalau orang Kristen tuh sudah bisa hidup taat, hidup kudus tapi pilihnya tuh tidak kudus. Itu kurang ajar! Kalau orang non-Kristen itu nggak kurang ajar, ya memang nggak bisa hidup kudus, kok. Memang terus lakukan dosa. Tapi, orang Kristen itu, ya: bisa hidup taat, bisa datang ke gereja, bisa baca firman, bisa berdoa, tapi pilih untuk tidak datang ke gereja, pilih untuk tidak baca firman, itu kurang ajar! Kurang ajar sama Tuhan! Maka kita waktu datang ke penghakiman di akhir zaman, tuh, kita dulu yang dihakimi, betul! Meskipun kita sudah ada jaminan masuk hidup kekal, tapi kita ditegur dulu dosa kita di hadapan Tuhan. Diadili dulu: Allah kan adil, ya. Ok, kita tidak sembarangan dalam hidup kita. “Ya, saya sudah pasti masuk surga.” Melakukan dosa, tidak taat, tidak kudus. Justru kalau orang itu merasa diri yakin masuk surga tapi hidupnya tidak kudus, itu belum menunjukkan hidupnya itu di dalam Kristus. Hati-hati, ya.

Maka, Tuhan betul-betul menyatakan kekudusan dengan cara yang demikian. Dan di tahapan ketiga, barulah kehidupan –keempat, ya, yang ketiga redemption of Christ. Keempat ada consummation– orang-orang Kristen yang sudah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus, hidup dalam Kristus, meskipun tidak sempurna, suatu hari nanti pasti masuk surga. Dan di dalam surga tidak ada ketidakkudusan, tidak ada ketidaktaatan, dan kita akan senantiasa taat kepada Allah. Dan di surga nanti kita akan melihat Yesus Kristus, muka dengan muka.

Ada seorang Kristen yang baik, seorang musikus juga bernama Fanny Crosby. Dia buta sejak kecil karena kesalahan obat dari dokter, ketika dia sakit, dioleskan ke matanya. Lalu matanya jadi perih, terus luka. Akhirnya sejak bayi itu buta. Padahal lahir tuh normal, baik, seperti itu, ya. Tapi karena kesalahan dokter, Fanny Crosby itu hidup dengan kebutaan. Terus dia mendengar nasihat dari neneknya, dari orang-orang sekitarnya. Dia menggunakan telinga dengan maksimal. Dia coba baca firman Tuhan juga dengan meraba-raba –tangannya, ya, dengan buku yang bisa dibaca, seperti itu, dengan tangan– dan akhirnya, di dalam kerohaniannya, dia malah mulai belajar bersyukur meskipun kondisi tidak sempurna. Bersyukur meskipun buta. Kenapa? Karena pada akhirnya dia bisa hidup kudus. Hidup kudus tentu karena Kristus: diberikan anugerah keselamatan. Tetapi, dengan tidak melihat, bagi dia, “Saya bisa menggubah lagu pujian..” Itu 10.000 pujian. Bahkan, dia bisa lupa itu lagu buatannya sendiri, ya, karena dia sudah terlalu banyak membuat pujian kepada Tuhan. Dan dia bersyukur. Memang, buta ini karena dosa: suatu hal kecacatan dan kelemahan, tetapi dia katakan bahwa, “Dengan demikian saya tidak melihat godaan-godaan untuk melakukan dosa.” Tidak melihat kejahatan, tidak melihat keburukan yang bisa membawa dia kepada kecemaran, kekotoran hidup.

Nah, akhirnya dia mengatakan bahwa ada yang menginterviu, “Kenapa kamu tidak kecewa? Bagaimana perasaan kamu ketika kamu buta?” Dia katakan, “Ya, aku bersyukur justru aku tidak bisa melihat di dalam dunia ini karena kalau nanti masuk surga..” Sudah tahapan consummation, nanti, ya: kita semua di akhir zaman, consummation, kita semua akan diberikan tubuh yang baru. Berarti mata yang baru, yang sempurna. Dan itu akan, kita bisa melihat Yesus Kristus. Nah, Fanny Crosby nggak bisa lihat apa pun. Pertama kali dia melihat dengan matanya –di dalam surga nanti– dia akan disambut oleh Tuhan Yesus. Wah, indah ya? Bisa, ya orang itu mikir kayak gitu? Saya buta, nggak masalah. Nanti saya masuk surga saya melihat. Pertama kali lihat adalah wajah Yesus, bukan wajah orang lain.

Mungkin kita juga, ya, Saudara sekalian, nanti masuk surga kita lihat wajah siapa pertama kali? Ada yang mengatakan, “Wajah yang dulunya suami saya, dong. Mana suami saya? Saya mau cari!” Kita tahu, ya, di surga nggak ada suami istri, nggak ada relasi itu karena semua saudara, ya. Pernikahan dibutuhkan di dalam dunia ini untuk beranak cucu, bertambah banyak. Tapi di surga nggak mungkin beranak cucu, bertambah banyak. Jadi, di surga kita akan melihat semua dengan tubuh yang baru: tubuh kemuliaan yang tidak bisa berdosa. Yang tadinya bayi ketika meninggal tetapi dia dipilih Tuhan untuk masuk surga, percaya kepada Kristus, nanti dia akan dewasa juga, ya. Umurnya –ya, kita tidak tahu berapa– intinya dalam kedewasaan yang sempurna, kita akan senantiasa taat kepada Tuhan. Inilah kesucian. Kalau kita tidak suka hidup suci di dalam dunia, mungkin kita memang bukan penghuni surga. Kalau kita seringnya tidak taat, kita penghuni neraka! Di neraka itu nggak taat: sudah dihukum juga, tetap tidak taat. Ya, manusia berdosa kok, ya.

Maka, dari sini kita belajar bahwa kekudusan itu sangat penting. Itu ada di dalam setiap fase kehidupan, yang kita lihat secara Kristen, ya, Christian worldview. Setiap orang Kristen suatu hari nanti akan melihat Tuhan. Pasti! Muka dengan muka, kita akan bertemu dengan Yesus di Surga. Pasti! Dan ini suatu pencapaian yang begitu tinggi dan menyenangkan. Ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ada yang pernah ketemu Bapak Presiden atau melihat Bapak Presiden? Wah, pasti senang, ya? Kita ingin melihat, deket-deket, kalau bisa selfie. Kemarin, di sebelah GRII Solo ada warung makan soto. Terus rame-rame, banyak orang. “Ada apa ini, ya?” Terus, ada yang katakan, “Itu, ada wakil Presiden! Ada Pak Gibran!” Pasti semua orang lihat. Terus saya lihat juga. Saya lagi makan soto, lihat, “Gimana sih orangnya? Oh, itu, ya. Sama seperti di tv-tv.” Kita lihat orang terkenal tuh pengen, kan? “Oh, itu! Yang sering diomongin orang itu, lho. Yang punya kuasa. Oh, itu Gibran. Itu ada istrinya, ada anaknya.” Terus, kemudian ada pasukan pengawal Presiden. Wah, semua kekar-kekar, kayak gitu, ya.

Itu orang di dunia saja kita pengen lihat, kok. Sekarang Tuhan, kita nggak pengen lihat? Kita masih senang di dunia? Sebagai orang Kristen, tentu kita tidak boleh cepat-cepat mau pergi dari dunia ini. Nggak boleh cepat-cepat mau meninggal. Nggak boleh cepat-cepat mau mati karena hidup mati di tangan Tuhan: kita harus belajar taat kehendak Tuhan. Tapi, yang seharusnya kita miliki dalam hati kecil kita adalah, “Saya ingin bertemu Yesus! Cepat-cepat kalau bisa!” Nah, begitu si Pak Gibran ini bangkit berdiri, sudah selesai kan makannya, langsung lah ibu-ibu nyerobot, ya, dari meja lain. “Foto, foto, foto!” Terus, saya pikir, “Apa foto juga, ya saya, ya? Terus saya diskusi, ya, sama istri, “Gimana? Mau foto nggak? Fotoin, fotoin. Terus ragu-ragu, “Ah, udah deh, enggak usah.” Kita pengen, ya, ketemu orang penting, foto dengan dia. Kita mau nggak ketemu Tuhan Yesus, ya? Kayaknya nggak pengen kita, ya? Kayaknya pengen terus di dunia gitu, ya, lihat yang lain dan lain-lain. Nggak, dalam hati kecil itu kita ingin ketemu Yesus, tetapi kalau belum waktunya, jangan buru-buru, jangan melakukan tindakan yang berdosa.

Jadi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kesucian hati itu apa? Seorang profesor mengatakan, orang yang suci hatinya itu orang yang murni hatinya. Berarti, nggak ada apa? Nggak ada kebusukan. Nggak ada agenda ganda. Hatinya murni itu berarti cuma 1 saja, yaitu untuk Tuhan, bukan untuk yang lain. Bukan kepentingan diri, kepentingan yang lain. Hanya 1 untuk sesuatu itu dan tentu harusnya kepada Tuhan, ya. Saya, hidup saya dari Tuhan. Saya hidup untuk Tuhan. Itu murni hatinya. Itu suci hatinya.

Di dalam Mzm. 24:3-4, mari kita baca bersama-sama. Mzm. 24:3-4 ini merupakan paralel dari ucapan bahagia dari Tuhan Yesus Kristus, ya. Kita baca bersama-sama Mzm. 24:3-4. “Siapakah yang boleh naik ke atas gunungTUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan,dan yang tidak bersumpah palsu.” Kita ingat siapa yang naik ke gunung Tuhan, sedang menggembalakan domba. Hatinya adalah fokus. “Saya jadi gembala yang baik. Saya memuliakan Tuhan dengan menggembalakan kambing, domba dari mertua saya. Sesudah tua, 40 tahun setia menjadi gembala kambing, domba.” Sudah. Murni hatinya. “Hidup saya untuk Tuhan. Tuhan sudah selamatkan saya. 40 tahun lalu, saya pernah bunuh seorang Mesir. Saya pangeran Mesir. Saya bunuh karena pertengkaran antara orang Mesir dengan orang Ibrani, orang Israel. Saya bunuh orang Mesir. Dosa itu saya bawa puluhan tahun dalam hidup saya. Tangan saya ini berdarah. Saya pernah bunuh orang. Saya tidak layak melayani Tuhan. Saya tidak mau dipakai Tuhan. Saya tidak layak.” Terus, ketika dia kabur dari kejaran orang-orang Israel yang membenci dia, orang Mesir juga, dia berkumpul  di tengah-tengah orang Midian yang bukan umat Tuhan juga. Bukan orang Ibrani, bukan orang Mesir, ya. Orang Midian. Terus kemudian, dia ketemu seorang perempuan. Dia menikah dengannya. Hatinya kepada Tuhan. Tetapi, dalam kondisi demikian, ya, dia harus menikah dengan orang yang bukan seiman, tetapi karena tidak ada yang seiman. “Saya mau cari yang seiman tidak ada.” Ini tidak membenarkan kita, ya, berarti kita boleh cari yang tidak seiman. Musa pada akhirnya terpaksa menikah dengan perempuan yang tidak seiman. Bukan orang Ibrani, orang Israel. Mertuanya, seorang imam penyembah berhala di Midian. “Sudah, saya penuh dengan dosa. Saya sudah bunuh. Saya menikah dengan orang yang tidak seiman. Mertua saya imam. Suruh ngajak-ngajak dia untuk menyembah berhala. Saya kerja sebagai penggembala domba saja. Sudah.” 40 tahun, dia menggembalakan domba. “Saya tidak layak hatinya.” Sampai ketika dia ke Gunung Horeb, dia melihat semak belukar menyala, tetapi tidak terbakar habis, semak belukar, semak duri tersebut. Lalu, dari situ, Yesus berbicara, ”Musa, datanglah kepada-Ku.”

Nah, dari sini, kita bisa lihat, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, orang yang murni hatinya itu bisa ketemu Tuhan. Dia sudah sadar, kok, penuh dengan dosa. Dia sudah hancur hatinya. Musa, ya. Dan di sini dikatakan, ”Siapakah yang boleh berdiri di tempatnya yang kudus itu? Hanya orang yang bersih tangannya dan murni hatinya.” Berarti, seberapa besar dosa kita, semerah kirmizi, dapat Tuhan murnikan untuk kembali melayani Tuhan. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita jangan takut melayani Tuhan karena dosa-dosa kita. Kita berdosa. Betul, tetapi kita harus bertobat dari dosa kita. Nah, Tuhan menyucikan kita dan melayakkan kita untuk melayani Tuhan. Orang yang suci hatinya berarti apa? Murni hatinya. Tidak ada kepalsuan. Hatinya sungguh-sungguh tulus. Bahkan sampai ketika Tuhan berbicara kepada Musa, “Musa, tanggalkan kasutmu. Lalu, Aku akan memanggil kamu untuk memimpin bangsa yang  besar, akan mengeluarkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir.” Musa pun merasa nggak layak. “Saya nggak bisa ngomong. Saya sudah kelamaan ngomong sama kambing, domba. Gimana mau ngomong sama orang sekarang? Nggak layak lagi.” Tuhan sabar. Kita menolak panggilan Tuhan, Tuhan sabar. Panggilan yang kedua. Tuhan panggil lagi. “Aku akan sediakan segala sesuatu untuk kamu untuk bisa melayani.” Tolak lagi. Tetapi, kalau kita tolak lagi yang ketiga, Tuhan marah. Tuhan marah dan akhirnya Musa pun tunduk kepada Tuhan.

Nah, sering kali, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di zaman ini, di zaman media sosial juga, kita suka nggak murni, ya. Kita sering pakai topeng. Di media sosial kita, wajah kita A, tiba-tiba jadi A++. Jadi ganteng, lebih cantik, lebih baik, lebih seolah-olah wanita suci begitu, ya, atau laki-laki yang bertanggung jawab. Itu di media sosial, di Instagram, di Facebook. Kita menampilkan kehebatan kita, kelebihan kita, kesucian hidup kita, tetapi kita pakai topeng. Harusnya, kita menampilkan jangan sampai membodohi orang, menipu orang, tetapi tampilkan fakta yang ada, nggak masalah. Tampilkan kebenaran firman Tuhan atau kesaksian hidup, seperti itu, ya. Tetapi, sering kali di zaman sekarang, kita pakai topeng, kita bohong putih, membenarkan kebohongan kita, tidak tulus hatinya, mencapai segala cara dengan apa pun cara itu yang penting tujuannya berhasil. Kita bohong demi kebaikan, bohong putih itu nggak benar. Itu nggak suci hati. Nggak lurus gitu, ya. 1 Yoh. 3:3 mengatakan, “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan dirisama seperti Dia yang adalah suci.” Maka, sebagai orang Kristen, bagaimana supaya bisa hidup suci? Harus lihat Kristus. Pandanglah pada Kristus. Bergantung pada Kristus yang menyatakan diri-Nya adalah Allah yang suci, Allah yang baik. Itu adalah kehidupan kesucian yang Tuhan harapkan.

Nah, sekarang, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, “berbahagialah orang yang suci hatinya.” Nah, hati ini apa, sih? Definisi hati itu bagaimana? Nah, di dalam Alkitab, kita bisa jelas, ya. Kita sudah mengerti juga. Nah, sekarang kita lihat beberapa definisi hati dari kitab Roma. Roma 1:21. Di sini dijelaskan, hati itu adalah pikiran. Nah, tahu dari mana? Kita lihat, ya. Roma 1:21. “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Diasebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia-” OK, ini pikiran dan pengulangan, ya “-hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” Orang yang bodoh itu maksudnya bodoh apa? Pikirannya. Nggak mikir. Nggak nyampe. Pernah ada seorang pemuda, ya, cerita, ya. Dia kuliah itu agak telat. Kok, masuk kuliah tahun segini? Tetapi, kan, saya cuma nanya aja biasa. “Kamu waktu kuliah tahun berapa?” “Oh, tahun ini.” “Sekarang semester berapa?” Ada jenjang. Terus, dia katakan bahwa, ”Oh, iya. Saya memang otaknya agak lemot. Lemah otak. Agak loading-nya susah.” Jadi, dia homeschool, tetapi dia nggak bisa mengikuti progress homeschool dengan cepat sesuai dengan waktu yang biasa. Terus, saya katakan, “Nggak papa. Nggak masalah.” Nggak masalah, kita terhambat dalam pemikiran kita, yang penting hati kita itu takut akan Tuhan. Itu jauh lebih penting daripada kita pintar, tetapi tidak takut akan Tuhan. Nah, di sini, hati itu bicara soal pikiran, ya. Pikiran yang bodoh. Jadi, dari definisi kitab Roma, ya. Kitab Roma ini sangat indah. Kita bisa melihat hati, berarti apa? Pikirannya. Berarti, suci hatinya berarti apa? Suci pikirannya. Nah, ini yang diharapkan Yesus Kristus.

Lalu, yang definisi kedua, Roma 2:5. Ini definisi hati itu apa? “Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murkadan hukumanAllah yang adil akan dinyatakan.” Hati kok keras? Berarti apa ini? Hati yang keras. Sifat, ya. Sifat ini berarti apa? Ini didefinisikan, diartikan sebagai kehendak. Kehendak. Hatinya itu nggak mau gerak. “Nggak mau! Nggak mau taat! Nggak mau nasehat orang tua!” Padahal, nasehatnya baik, misalkan, ya. “Pengennya kehendak saya sendiri!” Berarti, definisi dalam Roma 2:5, hati ini berarti apa? Kehendak. Keras. Nggak mau bertobat. Nggak mau percaya Tuhan. Nggak mau taat Tuhan. Keras sekali. Berarti, kita bisa definisikan hati itu kehendak. Berarti, waktu Yesus katakan, “Berbahagialah orang yang suci kehendaknya. Dia akan melihat Allah.”

Definisi yang ketiga dari hati, Roma 5:5. “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasihAllah telah dicurahkan di dalam hati kitaoleh Roh Kudusyang telah Ia berikan kepada kita.” Kasih Allah dicurahkan kepada kita. Kita dapat cintanya Tuhan. Kita dapat perasaan cintanya Tuhan. Berarti hati ini bicara soal apa definisinya? Perasaan. “Berbahagialah  orang yang suci perasaannya karena dia akan melihat Allah.”

Orang yang suci hatinya, orang yang suci pikiran, kehendak, dan perasaannya, dia akan semakin melihat Allah. Hati itu adalah pusat kehidupan kita. Sentral dari kehidupan kita itu, kita sebut sebagai hati, yaitu adalah mewakili pribadi kita. “Hati kamu gimana, sih? Apakah hati kamu sungguh-sungguh untuk Tuhan atau tidak?” Seperti itu, ya. Dan Yeremia mengatakan, hati itu licik, berkeras, berbatu, seperti batu. Yesus juga berkata bahwa, “Karena yang diucapkan mulut  meluap dari hati.” Ini asal jujur lho, ya. Asal jujur itu kita mulutnya baik, hatinya baik, harusnya. Mulutnya jahat, hatinya jahat. Asal jujur lho, ya. Tetapi, kalau manusia itu kan sukanya munafik, pakai topeng. Mulutnya baik, sih. Hatinya jahat. Tetapi, kalau mulutnya jahat, hatinya baik? Itu mungkin keberuntungan, ya. Hatinya jahat, terus kemudian ngomongnya baik seperti itu. Keberuntungan. Itu juga menipu juga. Bisa juga menipu, ya. Munafik. Hatinya jahat, mulutnya baik atau mulutnya jahat, hatinya baik. Hatinya baik, mulutnya jahat. Wah, kecelakaan juga itu. Nah, ini adalah kehidupan kita, ya.

Pusat kita itu dari hati. Kita ditentukan juga dari hati kita bagaimana berespons terhadap Allah. Maka, siapakah yang bisa memurnikan hati kita, Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Tuhan. Karena Tuhan itu kudus. Tuhan memurnikan hati kita. Maka, doa pemazmur mengatakan: “Jadikanlah dalam diriku itu hati yang suci, hati yang tahir, ya, Allah dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh.” Ini menjadi sebuah doa kita. Saya itu mau pikiran saya itu baik sama orang, nggak selalu negatif, nggak selalu punya dendam, nggak selalu berprasangka buruk gitu, ya, sama orang, nggak prejudice, nggak negative thinking. Saya mau itu baik seperti nasehat Yesus Kristus. Lihat positifnya. Tetapi, begitu ketahuan jelek, berdosa di hadapan Tuhan, saya pun mau lurus hati saya, saya mau tegur dia supaya lebih baik lagi hidupnya. Itu adalah hati yang lurus dan kita mendapatkan kesucian hati itu dari pertolongan Yesus Kristus saja dan hati yang suci betul-betul ditemukan di dalam Kristus.

Nah, sekarang, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, perenungan kita adalah kita harus bersukacita karena kita hatinya suci. Kalau kita sudah memiliki Kristus, kita juga mau hidup kudus, ya. Kita bersukacita. Nah, sekarang, reward-nya-Yesus kasih reward “karena mereka akan melihat Allah.” Maksudnya melihat Allah apa? Di dalam Keluaran 33:20, di situ dengan jelas dikatakan, “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandangAku dapat hidup.” Tidak ada yang bisa melihat Allah dan tetap hidup. Karena apa? Manusia sudah jatuh dalam dosa. Tetapi, Yesus katakan, “Kalau kamu suci hatinya, kamu bisa lihat Allah.” Maksudnya apa? Ada nggak orang berdosa melihat Allah? Maksudnya definisi melihat Allah itu apa? Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, manusia itu hanya bisa melihat penampakan tentang Allah. Ya, kita kenal sebagai kristofani atau teofani atau inkarnasi. Kristofani atau teofani itu di Perjanjian Lama. Sebelum Yesus Kristus jadi manusia, Yesus menampakkan diri-Nya. Jadi Allah. Belum ada natur manusia lho, ya. Ini menampakkan diri, yaitu Allah. Musa melihat Tuhan dalam semak yang menyala. Itu Yesus. Adam dan Hawa ketika jatuh dalam dosa, ada suara jejak kaki Allah berjalan di taman yang sejuk, terus bertanya: “Adam, di manakah engkau?” Itu bukan Bapa, bukan Roh Kudus. Itu semua Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menampakkan diri itu kristofani. Dia Allah menampakkan diri seperti manusia, tetapi Dia adalah Allah.

Kemudian, Yesaya melihat Tuhan di bait-Nya. Kalau bisa terlihat sesosok itu, Tuhan Yesus. Yakub melihat Tuhan saat bergulat di Sungai Yabok. Itu Yesus yang menampakkan diri seperti manusia, tetapi Allah. Bergumul, bergulat, sampai tulang pahanya terpelecok. Allah melukai Yakub supaya Yakub juga bisa menjadi seorang yang lebih baik. Menegur. Itu Yesus. Semua Yesus. Kita nggak pernah lihat Bapa, nggak pernah dengar suara Bapa, nggak pernah dengar suara Roh Kudus, lihat Roh Kudus. Yang kita lihat adalah Pengantara, yaitu Yesus Kristus satu-satunya. Maka, Allah menampakkan diri itu semuanya dalam Yesus Kristus. Kita bisa lihat Yesus. Ini uniknya, ya. Baiknya Tuhan itu seperti itu. Pribadi yang kedua. Rasul-rasul melihat Yesus Kristus. Para nabi mempercayai Yesus yang akan datang. Kita percaya Yesus yang sudah naik ke surga. Kita melihat Yesus secara iman, seperti itu, ya, dan ada juga yang secara fisik. Maka dari itu, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, berarti apa? Waktu kita melihat Allah, kita akan semakin beriman percaya kepada-Nya. Memang sih ada istilah seeing is believing. Kalau kita lihat, baru percaya. Memang, kalau kita bisa lihat itu, kita akan semakin beriman, tetapi  Allah itu nggak bisa dilihat. Dia roh dan Dia begitu suci. Kita nggak bisa lihat Bapa, nggak bisa lihat Roh Kudus. Roh Kudus, kudus, ya. Bapa begitu suci. Kita bisa lihat Yesus yang mau merendahkan diri, menampakkan diri seperti manusia, maupun bahkan menjadi manusia. Itu hanya Yesus Kristus.

Nah, sekarang, kita bisa lihat Allah secara apa? Yang pasti adalah sebagai seorang Kristen, kita bisa melihat Allah secara rohani. Pasti bisa. Maksudnya apa, melihat Allah secara rohani? Yaitu orang yang percaya melihat Tuhan melalui mata iman, ya. Orang percaya, kita itu bisa melihat Tuhan melalui mata iman, bukan mata jasmani. Sekarang, Allah ada nggak dalam gereja ini? Kalau orang yang tidak beriman, orang yang tidak hormat pada Tuhan,”Nggak, nggak lihat Tuhan! Ini manusia semua.” Tetapi, kalau orang yang beriman, kita lihat Tuhan secara iman, secara rohani. “Oo, Tuhan berfirman kepada saya. Saya mau pegang firman Tuhan. Ini menjadi penghiburan, kekuatan. Saya bisa menyanyi, bersyukur. Saya bisa melihat, bersyukur. Saya masih sehat, meskipun ada sakit-sakitnya, tetapi masih bisa duduk dalam ibadah, anugerah Tuhan.” Ini kan lihat Tuhan kan? Semua hanya karena anugerah-Nya. Kita ada yang melayani, kita melayani Tuhan. Kalau kita nggak lihat Tuhan, kita melayani siapa di tempat ini? Kita sedang melayani dan melihat Tuhan. Ini adalah suatu kepekaan rohani, kesadaran secara rohani bahwa Tuhan itu ada. Tuhan Mahahadir dan Dia Mahakudus dan Dia mengawasi kita. Nah, itu berarti apa? Kita melihat Tuhan. Karena suci hatinya. “Saya mau datang ke rumah Tuhan. Saya mau datang dengan sungguh-sungguh, mau bertemu dengan Tuhan.” Kita bisa merasakan Tuhan ada. Kita bahkan bisa melihat Tuhan ada. Hidup dalam hubungan yang dekat dengan Allah. Mengalami kebaikan, itu kebaikan Tuhan, bukan kehebatan kita, ya. Kita bisa mengerti kehendak-Nya. Jadi, melihat ini adalah dalam arti melihat secara rohani. Kalau secara fisik itu hanya kita bisa lihat dari dalam diri Yesus Kristus. Sekarang, Yesus Kristus pun sudah di surga. Kita nggak tentu juga Tuhan Yesus mau menampakkan diri kepada kita. Nggak tahu, ya, tetapi kita nggak bisa lihat Allah pada dasarnya secara kasat mata, ya. Kita hanya bisa melihat Pribadi Pengantara kita kepada Allah yang adalah Allah sendiri yaitu Yesus Kristus.

Dan yang terakhir, ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita akan melihat siapa? Secara apa? Yaitu melihat di dalam kekekalan. Nah, ini secara kasat mata dengan tubuh kemuliaan yang baru. Jadi, melihat Tuhan bisa 3 jenis. Melihat Tuhan secara fisik dengan kasat mata, tetapi itu pun yang dilihat adalah Pribadi kedua, bukan Allah Tritunggal sepenuhnya, ya. Hanya Pribadi Yesus. Kemudian, melihat secara rohani. Secara iman, kita semua orang Kristen bisa. Ya, bisa melihat Kristus bekerja dalam hidup kita dan suatu hari nanti, kita melihat Yesus di surga. Ini 3 jenis penglihatan yang berbeda-beda dan ada konteksnya sendiri. Kita akan melihat Allah di dalam kekekalan suatu hari nanti di surga. Maka, melihat itu suatu pencapaian yang tertinggi. Kita bisa melihat Tuhan. Bapak, Ibu sekalian, Bapak, ibu sekalian juga pasti pernah merasakan suatu hal yang agung ketika hanya melihat. Tahu dari mana? Melihat orang yang kita cintai yang mau kita jadikan pasangan hidup. Lihat saja sudah senang. Suatu pencapaian yang besar bisa lihat, apalagi jarak dekat, apalagi yang sudah tunangan, apalagi yang sudah menikah. Bisa lihat, wah, indah.

Saya baru pengalaman, ini pengalaman pertama, ya, tentunya. Terus kemudian mau menggendong bayi, ya. Lihat bayi. Wah, indah, ya. Terkagum-kagum. Kok ada sih seperti ini? Makhluk yang aneh yang adalah diri saya dulu. Indah, ya. Nanti, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, orang tua kalau wisuda anak, lihat saja sudah senang. Anak saya lulus SD, SMP, SMA. Terus kemudian, kita lihat orang tua kita. Wah, sudah lansia, umur 70, umur 80 tahun. Senang. Lihat itu senang. Ini adalah suatu hal yang begitu agung, kita bisa lihat. Dan sekarang, Yesus berikan reward kepada orang yang suci hatinya adalah apa? Melihat Tuhan. Kita bisa menyadari keberadaan Tuhan, Tuhan mengasihi kita, Tuhan memberikan kemurahan, kebaikan, cinta kasih, keadilan-Nya, kebenaran-Nya, kekudusan-Nya kepada kita.

Maka dari itu, sebagai seorang Kristen yang sudah menikmati anugerah  Tuhan dan juga menikmati, kita melihat Tuhan bekerja dalam hidup kita, maka sama-sama, Bapak, ibu sekalian, mari kita berjalan dalam kekudusan. Jangan sering tidak taat, tetapi seringlah taat karena sering kali juga kita jatuh dalam dosa. Kita lemah. Milikilah hati yang murni, bebas dari kemunafikan. Jangan munafik. Kalau memang kita salah, akui kesalahan. “Saya salah. Saya rela ditegur. Saya mau bertobat. Saya mau belajar.” Kita jangan membenci sesama. Kita jangan pakai topeng. Kita itu mau jujurlah seperti kehidupan di surga yang hanya taat, kudus sama Tuhan. Kita kan membawa surga ke tempat ini. Dunia yang penuh dengan dosa. Datanglah kerajaan Tuhan. Saya mau seperti hidup di surga kok. Meskipun kita lemah. Ada kalanya kita salah dan berdosa, tetapi kita mau lurus hatinya. 1 untuk Tuhan, tidak untuk mamon, tidak untuk berhala, tidak untuk idol seperti itu, ya.

Ibrani 12:10 mengatakan “Allah menghajar kita untuk kebaikan kita supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” Ibrani 12:10. Ini ayat yang bagus juga. Ya, menjadi Bible reading juga GRII Yogyakarta, ya. Itu mengatakan bahwa kalau kita mau berjalan dalam kekudusan Allah itu sulit. Karena apa? Dihajar Tuhan. Dibentuk Tuhan. Dididik oleh Tuhan. Barulah kita berbagian dalam kekudusan-Nya. Allah menghajar kita. Allah mendidik kita, membentuk kita supaya kita beroleh dalam bagian kekudusan-Nya. Di manakah Allah menegur kita, mendidik kita? Gereja. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, mungkin pantatnya sekarang sudah panas, ya? Sudah capek nih dengar khotbah terus, ya? 1 jam. Itu Allah sedang mendidik kita. Supaya apa? Beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Kita belajar diam, mengendalikan diri. Ini kan pengendalian diri, ya? Sedikit atau banyak itu sebenarnya di dalam khotbah, kita sedang mengendalikan diri kita. Pikiran harus fokus ke pembicara, bukan ngomong sendiri, bukan ngantuk-ngantuk, misalkan, ya. Kita benar-benar mengendalikan diri 1 jam untuk Tuhan, fokus mengubah pola pikir kita, seperti itu, ya. Nah, itu adalah suatu didikan Tuhan. Sulit? Sulit, tetapi beroleh bagian dalam kekudusan. Nah, ini penting sekali.

Lalu, Ibrani 12:14 ini juga bagian dari Bible reading, ya. Mari kita baca bersama-sama sambil bangkit berdiri. Ibrani 12:14. Ini juga ayat yang sangat cocok dengan khotbah kita hari ini, ya. Ibrani 12:14, kita baca bersama-sama seluruhnya. “Berusahalah hidup damai dengan semua orangdan kejarlah kekudusan,sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” Mari kita sama-sama berdoa.

Bapa kami yang ada di surga, terima kasih, kami boleh merenungkan kembali ucapan bahagia yang keenam dari khotbah Yesus di bukit. Sungguh khotbah yang begitu indah. Sungguh khotbah yang begitu mulia dan agung. Kami boleh diajarkan tentang bagaimana kami berbahagia. Kami boleh diajarkan bagaimana kami seharusnya memiliki karakter Kristen dan kami juga boleh berbahagia karena Tuhan pun menjanjikan upah kepada kami yang taat kepada Tuhan dan hari ini kami belajar untuk menyucikan hati kami melalui pertolongan dari Roh Kudus karena hanya Engkau saja yang bisa memurnikan hati kami, menyucikan hidup kami dan juga menolong kami untuk berjalan di dalam kekudusan Engkau. Kami berdoa, Tuhan, supaya kami boleh semakin melihat Tuhan dalam kehidupan kami. Mulai kami bangun pagi, kami bisa bernafas, itu karena Tuhan. Mulai kami bisa bangkit berdiri, berjalan, beraktivitas, bahkan datang ke rumah Tuhan dan juga melanjutkan aktivitas sepanjang hari ini, itu karena anugerah dan kebaikan Tuhan, bukan karena kami itu layak. Kami adalah manusia yang berdosa. Kiranya Tuhan boleh sucikan hati kami dan kuduskanlah hidup kami sampai kami boleh bertemu dengan Tuhan Yesus di surga nanti. Peliharalah iman kami, Tuhan. Tolonglah kami. Sucikan hati kami. Dalam nama Tuhan Yesus, penebus dan Juruselamat kami yang hidup, kami sudah berdoa dan mengucap syukur. Amin.