Perumpamaan Tentang Bapa yang Murah Hati
Luk. 15:11-32
Vik. Lukman Sabtiyadi, S.Th., M.Fil.
Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di dalam banyak kesempatan ketika Tuhan Yesus mengajar, Tuhan Yesus banyak sekali mengajar menggunakan perumpamaan di dalam bentuk cerita. Perumpamaan adalah satu bentuk menyampaikan kebenaran secara tidak langsung di dalam satu cerita kiasan. Di dalam beberapa penelitian menyatakan bahwa ternyata satu bentuk kebenaran disampaikan dalam bentuk cerita itu adalah satu bentuk yang lebih efektif, lebih bisa masuk kepada pendengar. Maka seperti misalnya TED Talks, kalau kita mengikuti TED Talks di YouTube atau platform lainnya, ada yang mencoba menghitung 75% yang berbicara itu bentuknya cerita, 25% baru bentuknya data. Saudara sekalian, ini satu hal yang sungguh begitu luar biasa, bagaimana Tuhan Yesus di dalam hikmat Allah yang luar biasa menyampaikan kebenaran dalam bentuk perumpamaan.
Dan salah satu perumpamaan yang akan kita renungkan hari ini yaitu di dalam Lukas 15, Saudara sekalian. Lukas 15 kita bisa kategorikan menjadi satu seri perumpamaan lost and found atau hilang dan ditemukan. Perumpamaan lost and found dalam Lukas 15 itu ada perumpamaan tentang domba yang hilang, lalu dirham yang hilang dan tentang anak yang hilang. Perumpamaan-perumpamaan ini sangat kontekstual dengan kehidupan orang saat itu. Sehingga ketika Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan dalam konteks saat itu, Tuhan Yesus tidak terlalu banyak lagi menjelaskan tentang konteksnya, karena orang saat itu sangat mengerti konteksnya. Tetapi bagi kita pembaca yang sudah jauh tahunnya dan bahkan tempatnya juga berbeda, sosial budayanya berbeda, cara berpikirnya berbeda, kita perlu untuk dijelaskan lebih lanjut terlebih dahulu konteksnya di dalam setiap perumpamaan ini. Domba yang hilang misalnya, kita sekarang sudah jarang sekali jadi peternak, bukan menjadi satu profesi yang populer bagi anak muda sekarang menjadi peternak. Lalu dirham yang hilang, kita nggak ngerti itu dirham. Kita ngertinya rupiah. Lalu anak yang hilang. Kita mungkin ngerti tentang anak yang hilang. Ada keluarga-keluarga yang anaknya hilang sampai sekarang, ada kisah seperti itu. Tetapi anak yang hilang ini kenapa? Ini kita perlu lebih lanjut mengerti konteks ini. Dan bukan hanya Tuhan Yesus pandai menyesuaikan konteks dari perumpamaan, tapi Tuhan Yesus juga pandai memberikan kejutan-kejutan di dalam kisah-kisahnya. Banyak plot twist-nya (kejutan-kejutannya). Itu membuat kita alert, membuat kita semakin memberikan perhatian. Demikian Tuhan Yesus ketika memberikan perumpamaan-Nya dalam khususnya di dalam Lukas 15 ini banyak sekali plot twist nya.
Dan dalam kesempatan kali ini kita akan merenungkan Luk. 15:11-32. Kita bisa melihat di sini bagaimana Tuhan Yesus menggunakan konteks yang sangat mudah, orang itu bisa mengidentifikasi dirinya dengan mudah dari kisah Luk. 15:11-32. Kita bisa melihat bahwa kita itu kemungkinan pilihannya antara si bungsu atau si sulung. Atau mungkin kita bisa sekaligus dua-duanya. Kita si bungsu sekaligus si sulung. Tapi ada konteks yang perlu kita pahami di sini yaitu konteks di sini kita membayangkan itu adalah desa yang kecil di mana desa itu tidak ada rahasia antara satu keluarga dengan keluarga yang lain. Di mana desa itu penduduknya itu dekat saling kenal satu sama lain. Kemudian kita bisa perlu juga memahami bahwa konteks desa kehidupan sosial dari perumpamaan anak yang hilang ini yaitu sangat mengutamakan tata krama, sopan santun.
Tuhan Yesus membuka kisah ini bukan dengan “Pada suatu ketika”. Tapi Dia langsung saja, Tuhan Yesus membukanya dengan “Seseorang mempunyai dua anak laki-laki”, ini umum sekali. Waktu itu ada seseorang pria atau pasangan suami istri mempunyai anak laki-laki, ini umum sekali. Membuka dengan satu latar yang umum yang orang bisa mengidentifikasikan. Lalu ayat 12, “kata bungsu itu kemudian kepada bapanya, “Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku.”” Nah, ini kejutan yang pertama, Saudara sekalian. Ada salah satu anaknya, bukan anak yang tertua tapi anak yang bungsu, yang kecil, kemudian datang kepada bapanya dan mengatakan kepada bapanya, “Aku mau minta hartaku.” Wah ini kejutan, mengapa? Saudara sekalian ini nggak sopan. Ini permintaan yang sungguh di luar perkiraan. Mana ada anak yang berani seperti ini. Permintaan ini mengatakan, ini seperti mengatakan, “Ayah, aku tuh nggak sabar lagi menunggu ayah itu mati. Bapa, aku nggak sabar lagi menunggu Bapa mati, supaya waktu itu aku mendapatkan harta warisanku. Maka aku minta harta warisanku sekarang ini.” Ini nggak sopan sekali. Ini sesuatu permintaan di luar pada umumnya anak-anak saat itu.
Dan di dalam kebudayaan Yahudi, di banyak ajarannya misalnya salah satunya di kitab Sirak dan Saudara sekalian nanti bisa melihat di Bilangan 27, Ulangan 21, tentang warisan. Di Sirakh 33:19-33 disarankan bahkan diperintahkan janganlah memberikan hartamu kepada orang lain, sehingga engkau akhirnya jadi memintanya kembali, engkau akan bergantung kepada orang itu. Ada satu perintah untuk seseorang, khususnya orang tua bahwa itu jangan sembarangan memberikan hartanya kepada anaknya, supaya orang tua kalau sudah memberikan hartanya, nanti orang tua berarti nggak punya lagi, anaknya bisa memperlakukan seenaknya, sembarangan orang tua. Satu hal yang bukan dianjurkan bahkan dilarang. Tetapi anak ini kemudian memintanya kepada bapanya.
Dan plot twist nya lagi Saudara, kejutannya, kejutannya, “Lalu ayahnya membagi-bagikan hartanya itu di antara mereka.” Bukan hanya ayahnya ini membagikan kepada yang kecil, tapi juga bahkan kepada yang besar, kakaknya yang tua. Ayah ini memberikannya. Bayangkan ketika Tuhan Yesus menceritakan ini, seorang bapak mempunyai dua anak, ok, biasa, lalu kejutan pertama Tuhan Yesus munculkan, ada salah seorang anaknya itu yang kecil, meminta harta dari bapaknya, padahal bapaknya masih hidup. Saya membayangkan pendengar waktu itu gimana pikiran mereka? Mereka berpikir, “Wah, ini kurang ajar ini. Bapaknya pasti marahin anak ini. Bapaknya pasti usir anak ini dari rumah.” Bapaknya pasti mengatakan, “Kurang ajar! Pergi dari rumah! Engkau meminta sesuatu yang tidak seharusnya engkau minta sekarang. Engkau menginginkan aku mati sekarang? Engkau gila, engkau kurang ajar!” Pendengar menantikan seperti itu. Tapi ternyata, Tuhan Yesus mungkin diam sejenak gitu ya. Pendengar memikir-mikir seperti itu. Lalu Tuhan Yesus katakan, “Lalu bapanya memberikan.” Wah, pendengar langsung, “Waduh, apa ini? Ini bapak seperti apa begini?” Kira-kira kalau bapak orang Yunani kira-kira gini juga nggak? Ya, kita nggak tahu, tapi menurut penafsiran, menurut studi, bapak orang Yunani juga nggak seperti ini. Saya kira bapak orang Jawa juga nggak seperti ini. Bapak orang Indonesia juga nggak seperti ini. Ini aneh Saudara sekalian.
Setelah bapak ini memberikan harta ini bukan hanya kepada si bungsu tapi juga kepada si sulung. Si bungsu itu kemudian menjual hartanya karena kemungkinan harta yang diberikan itu tidak semuanya bentuknya uang. Mungkin ada domba diberikan, ada lembu diberikan, mungkin ada tanah diberikan, untuk pakaian mungkin, ada perhiasan, lalu dia jual supaya dia bisa pakai uang itu, hasil dari penjualan harta itu untuk dia bisa melakukan hal yang dia inginkan. Dia bersenang-senang melakukan hal yang dia inginkan dan dia habiskan hartanya itu. Di ayat 15-16 ada kesusahan tiba di negeri itu dan kesusahan juga dia alami. Ini juga pasti pendengar juga biasa. Mengapa? Karena ada hukum tabur tuai, engkau kurang ajar sama orang tuamu, pasti engkau hidup susah. Jadi akhirnya si bungsu ini mengalami hidup susah dan kemudian dia sadar dan ini juga pasti biasa Saudara sekalian. Orang seringkali baru sadar kesalahannya ketika diberikan kesusahan. Ini umum dan ini terjadi pada si bungsu. Dia sadar dia sudah berdosa dan dia sudah bersalah ketika dia mengalami kesusahan dan dia berjanji di dalam hatinya, “Aku mau datang kepada bapa. Aku mau mengaku salahku. Aku mau mengatakan kepada bapa, aku mau diterima lagi sekalipun aku hanya menjadi karyawannya saja.” Lalu dia datang kepada bapa dengan keadaannya begitu susah, dia datang kepada bapa.
Kejutan yang kedua dari kisah ini ketika anak yang bungsu ini datang dari kejauhan, ternyata sang bapak sudah menunggu di depan, sudah menunggu anak yang kurang ajar ini dan bukan hanya menunggu tetapi dikatakan bapa itu berlari mendekati si bungsu. Ini kejutan kedua. Saudara sekalian kalau kita berjumpa dengan orang yang kurang ajar sama kita, kita nggak mau berjumpa. Jadi orang itu kurang ajar kita lewatin saja. Orang yang sudah nggak suka sama kita, nggak sopan sama kita, kita nggak lihat wajahnya, kita lewat saja. Apalagi ini kurang ajarnya ke orang tua. Tetapi di dalam kisah ini, orang tua ini, bapak ini menanti anaknya di depan rumah bahkan berlari. Ini luar biasa sekali ya.
Mengapa? Saudara sekalian dalam konteks dulu itu orang itu memakai jubah. Jadi ada pakaian di dalam lalu pakai jubah, yang jubahnya itu menunjukkan kehormatan orang itu. Semakin orang itu terhormat jubahnya bukan hanya mahal dan warna tertentu, misalnya warna ungu, kainnya juga digulungkan di badannya itu begitu panjang, sampai menutupi kakinya. Jadi menutupi seluruh badannya ini, mereka itu hanya bisa kelihatan itu kepalanya saja. Ini menyatakan kehormatan, kesopanan. Maka semakin terhormat seseorang, dia pasti menutup badannya seluruhnya dengan jubah yang begitu indah, yang begitu bagus. Maka artinya ketika dia berlari saudara sekalian, dia melepas jubahnya. Dia nggak mungkin berlari dengan jubah yang begitu berat. Dia pasti mengangkat juga dan artinya dia pasti memperlihatkan bagian tubuhnya yang tidak harus dia perlihatkan misalnya bagian kaki. Wah, ini memalukan sekali apalagi dilakukan oleh orang tua ini.
Dalam lukisan Rembrandt berjudul prodigal son, lukisan yang bagus sekali. Ada terang-gelap, tipikal baroque. Di situ lukisannya begitu indah, tapi ada yang kurang, bapanya nggak berlari. Bapanya hanya diam, anaknya yang datang lalu anaknya berlutut. Bapanya berdiri menerima anaknya dengan tangan memeluk anaknya. Tapi dalam perumpamaan Tuhan Yesus ini Saudara sekalian, bapaknya melepas jubahnya yang indah, mengangkat jubahnya itu, lalu dia berlari mempermalukan dirinya sendiri, dan dia memeluk anaknya. Ketika orang-orang pendengar waktu itu melihat Tuhan Yesus bercerita seperti ini, saya kira mungkin mereka akan berpikir, “Ini bapa macam apa ya? Sudah dari awal nggak marahin anaknya yang kurang ajar. Lalu anaknya yang kurang ajar itu datang kepada dia, bapanya yang menyambut anaknya. Bukan suruh karyawannya kah, bukan biarkan anaknya datang kepada dia kah, bahkan dia melepas jubahnya dan mengangkat mempermalukan dirinya. Ini kejutan yang kedua.
Kejutan ketiga, Ayahnya tidak sama sekali membahas kesalahan anaknya. Ketika sudah menyambut anaknya itu, lalu dikatakan anaknya sudah punya rencana, sudah menyusun kata-kata, kalau ketemu ayahnya, “Saya sudah bersalah, saya sudah nyusun kata-kata. Saya akan minta ampun sama bapak dan saya akan mau bilang kepada bapa, “Bapa terima aku. Sekalipun jadi upahan saja, jadi karyawan saja, nggak apa-apa.”” Sungguh-sungguh sudah siapkan kata-kata ini ya. Kalau kita tahu kita sudah bersalah, mau datang kepada orang yang kita sudah menyakitinya, kita sudah menyiapkan kata-kata gitu ya. Sudah nyiapkan kata-kata yang terbaik, yang tulus, yang sungguh-sungguh jujur dari hati yang paling dalam. Kejutan ketiganya saudara sekalian, di ayat 22. Anak itu tidak sempat berkata-kata apa pun, ayahnya sudah mengatakan lebih dulu. Apa yang dikatakan ayahnya? “Namun ayah itu berkata kepada hamba-hambanya, “Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik. Pakaikanlah itu kepadanya. Kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.”” Ayahnya tidak sama sekali membahas kesalahan anaknya.
Saudara sekalian, ini bapa yang seperti apa? Kalau kita lihat orang nggak dengerin nasihat kitalalu orang itu jadi mengalami kesusahan. Biasanya kita akan, “Tuh kan nggak dengerin sih ya.” Kalau anak kita lari-lari jatuh, “Tuh kan sudah dibilang jangan lari maka itu kamu jatuh.” Tetapi bapa ini tidak bahas sedikit pun dosa anaknya, bahkan tidak perlu dengar kata-kata penyesalan dari anaknya. Bapa ini langsung saja memerintahkan hambanya, ambil jubah yang terbaik, cincin, sepatu, dan adakan perayaan besar. Ini artinya apa? Penerimaan tanpa syarat Saudara sekalian, bahkan sebelum anaknya meminta pengampunan. Ini pemulihan kehormatan anaknya.
Kejutaan yang terakhir, Bapa ini membujuk si sulung yang tidak setuju dengannya. Ketika anak yang kurang ajar ini datang, pasti ada orang-orang sekitar itu baik tetangga, hamba-hambanya, apalagi si sulung sudah nggak sejahtera melihat perlakuan Bapa kepada si bungsu. Dia lihat anak sudah kurang ajar, pasti sangat keberatan anak ini datang lagi ke sini. Jerram Barrs mengatakan, “Mengapa bapanya itu berlari, perlu berlari mendatangi anaknya ini? Karena kemungkinan besar ada tetangga-tetangga melihat anak kurang ajar ini, tetangga-tetangga ini akan melarang anak ini datang ke kampung itu.” Saudara sekalian, sikap si sulung menurut saya wajar. Anak bungsu kurang ajar seperti ini diadakan pesta lalu si sulung mendengar pesta perayaan. Si sulung marah.
Saya kira waktu Tuhan Yesus menceritakan ini, banyak orang saat itu pasti marah kepada si bungsu seperti si sulung. Dan saya pun membayangkan kalau saya di sana, saya pun pasti marah. Kadang-kadang kalau kita lihat orang, ada orang kurang ajar tapi masih saja mendapat kebaikan. Kita marah, Saudara sekalian coba lihat misalnya Mazmur 73, ada anak Tuhan, umat Tuhan lihat dia sudah melakukan kebaikan, tetapi ada orang yang melakukan banyak kejahatan, banyak dosa masak malah hidupnya lancar, hidupnya baik-baik saja. Marah. Kejutan yang ke-4, yang sangat-sangat nggak biasa, bukan hanya si Bapa ini menerima si bungsu, tetapi ketika si sulung itu marah dan nggak mau masuk ruangan, dia keluar, Bapa ini memohon juga kepada si sulung. Bapa ini keluar dan datangi si sulung ini dan membujuk dia.
Saudara sekalian, ada 4 kejutan yang Tuhan masukkan di dalam perumpamaan ini. Di dalam perumpamaan yang seperti biasa, kejutan-kejutan ini Tuhan masukkan untuk menyatakan apa Saudara sekalian? Untuk menyatakan apa? Perumpamaan ini sering disebut anak yang hilang, Prodigal Son, LAI memberikan judul perumpamaan tentang anak yang hilang tetapi Darrell L. Bock mengatakan, “Perumpamaan ini tentang reaksi yang berbeda-beda terhadap anak yang hilang. Dan reaksi kuncinya adalah reaksi sang Bapa yang gembira menyambut kembali putranya. Jadi nama yang tepat untuk perumpamaan ini adalah Bapa Sang Pengampun (The Forgiving Father) atau Bapa yang murah hati (The Gracious Father).”
Apa yang Tuhan Yesus ajarkan melalui kejutan-kejutan ini Saudara sekalian? Tuhan Yesus mau mengajak kita melihat nggak ada Bapak yang seperti kisah ini yang ada di dunia, karena bapak-bapak di dunia tidak akan melakukannya seperti ini. Bapak-bapak dunia, kecenderungan adalah bapak-bapak yang mungkin strong, yang kuat. Apalagi ada beberapa pemahaman, bapak itu menyatakan ketegasan, keadilan, kebenaran, sedangkan ibu itu menyatakan kasih, kelembutan, penerimaan. Bagi pemahaman seperti ini, nggak bisa diterima bapak seperti yang Tuhan Yesus kisahkan. Bapak yang dalam perumpamaan anak yang hilang ini adalah bapak yang lemah Saudara sekalian bagi dunia. Bapak yang sepertinya ya memang nggak ada di dunia ini, karena Tuhan Yesus mau mengajarkan, memang bapak yang ada dalam kisah ini bukan bapak yang ada di dunia ini, tapi Bapa di surga.
Dalam konteks Yahudi, bapak itu dipandang terhormat, harus ditaati, dan berhak menyatakan penghukuman. Dalam konteks Yunani Romawi, bapak itu bahkan ditekankan bisa bersikap otoriter, pemegang hukum. Ini sangat berlawanan dari perumpamaan Tuhan Yesus, kita dapat dengan mudah bisa melihat hal ini. Pastilah pendengaran kita semua bisa melihat, ini pasti bukan bapak di dunia ini, tapi Bapa surgawi.
Saudara sekalian, dalam ilustrasi ini kita bisa melihat bagaimana Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita konsep Allah yang berbeda. Sering kali pengenalan Allah kita itu salah. Saudara sekalian, berapa banyak dari kita yang memahami Allah itu adalah Allah di dalam konsep kekuasaan yang penuh. Maka tidak heran begitu banyak pergumulan kehidupan kita, selalu berhadapan dengan Allah berkuasa atau tidak. Ketika kita mengalami penderitaan, persoalannya apa? Allah itu berkuasa nggak sih membebaskan saya dari pencobaan? Lalu kita nggak lepas dari penderitaan, kita semakin susah, kita mulai mempertanyakan Allah itu nggak Mahakuasa.
Seorang filsuf Perancis, bernama Jean Paul Sartre, dia seorang ateis, dia seorang yang tidak percaya Tuhan, pergumulannya apa? Pergumulannya adalah dia melihat bahwa keberadaan Allah itu menghentikan kebebasan manusia. Allah yang ada, maka Allah yang ada itu pastilah Allah yang berkuasa. Maka Allah yang ada Allah yang berkuasa itu, pastilah manusia berarti nggak bebas. Demikian Saudara sekalian, ketika kita mengalami kesusahan, penderitaan, kita mempertanyakan kuasa Allah, di dalam sejarah perkembangan doktrin Allah, begitu banyak perkembangan doktrin Allah itu dasarnya adalah kuasa Allah. Allah yang berkuasa, Allah yang omnipotent, Allah yang bisa mengubah segala sesuatunya, Allah yang berdaulat. Saudara sekalian nggak salah karena memang Alkitab menekankan hal itu.
Tetapi Tuhan Yesus mau mengajak kita, pengenalan Allah yang berbeda. Sisi yang lain lagi, yang sering kali kita lupakan karena kita menyempitkan Allah kepada Allah yang hanya berdaulat saja. Seperti apa sisi yang lain ini? Yaitu Bapa murah hati. Allah yang murah hati. Di dalam perumpamaan Lost and Found ini Saudara sekalian, mengapa sih Tuhan Yesus memunculkan ini? Persoalannya ada pada Lukas 15:1-2, “Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”” Ini hal yang berat, mereka bersungut-sungut. Mengapa? Kalau memang Tuhan Yesus ini Guru yang benar, Orang yang agung, Orang yang terhormat, nggak mungkin Dia mau makan bersama-sama orang berdosa. Maka Saudara sekalian, demikian juga mengapa sih, pemungut cukai, orang berdosa diterima oleh Tuhan Yesus? Dan mengapa orang-orang Farisi dan ahli Taurat bersungut-sungut tentang hal itu? Mengapa? Karena pengenalan Allah yang berbeda. Like Father like Son, Saudara-saudara. Mengapa sikap kita sekarang seperti ini? itu terkait dengan pengenalan akan Allah kita, siapa Allah yang kita percaya.
Saudara sekalian, kalau misalnya ya, di gereja kita datang seorang penjahat koruptor, atau kemudian misalnya pemerkosa, pembunuh, pencuri yang sangat-sangat dikenal, lalu baru bebas dari penjara, datang ke gereja kita, bagaimana sikap kita? Kemungkinan yang kita lakukan, “Aduh nanti orang terpengaruh nih ya, kita harus jaga komunitas kita. Nanti orang nggak nyaman ini.” Saudara sekalian, sikap kita itu ditentukan bagaimana pengenalan kita akan Allah. Seperti apa pengenalan kita akan Allah. Sikap orang Yahudi, khususnya orang Farisi dan ahli Taurat, terkait dengan pengenalan Allah mereka, ada yang mengenal Allah itu Allah yang adil, Allah yang benar, pastilah Dia mengatakan keadilan kepada orang berdosa. Maka ketika orang berdosa diterima oleh Tuhan, berat sekali rasanya. Ada yang mengatakan bahwa punya pengenalan Allah yang kasih (tanpa kebenaran), yang menerima segala macam orang termasuk orang yang menerima LGBTQ+, dan seterusnya. Orang-orang berdosa yang dikenal semuanya, diterima semuanya. Siapapun boleh datang kepada Tuhan. Itu terkait dengan siapa Allah bagi mereka, siapa Allah bagi kita. Like Father like Son.
Saudara sekalian dalam Yohanes 1:44, orang-orang Yahudi datang kepada Tuhan Yesus lalu Tuhan Yesus mengatakan ini, “Bapamu adalah iblis.” Mengapa? Karena engkau adalah pendusta, seperti bapamu adalah pendusta. Like Father like Son. Di dalam 1 Yohanes 3:10, Tuhan Yesus mengatakan, melalui Rasul Yohanes, “karena Bapamu kasih, maka kita harusnya menyatakan kasih kepada sesama kita di dalam kebenaran.”
Saudara sekalian, di dalam perumpamaan Bapak yang murah hati ini, digambarkan: Allah adalah Allah yang aktif merendahkan diri; Allah yang sangat menantikan pertobatan orang berdosa. Apakah ini hanya ada di dalam Perjanjian Baru? Nggak! Sejak dalam Perjanjian Lama, Allah yang seperti ini sudah ada, Saudara sekalian. Kel. 34:6 dikatakan, “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan kesetiaan-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran, dan dosa tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapak kepada anak-anaknya dan cucunya, sampai kepada keturunan ketiga dan keempat.“ Mzm. 145: 8–9, “TUHAN itu pengasih, penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.” Yer. 3:12–13, “..Muka-Ku tidak akan muram terhadap kamu, sebab Aku murah hati; Aku tidak akan murka untuk selama-lamanya.. Hanya saja, akuilah kesalahanmu, bahwa engkau telah memberontak terhadap TUHAN, Allahmu.” Masih banyak ayat-ayat Alkitab di dalam Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, menyatakan: Allah adalah Allah yang murah hati.
Saudara sekalian, saya di sini menegaskan bukan berarti Allah itu nggak adil. Allah pastilah adalah Allah yang adil, yang menghukum manusia berdosa. Itu pasti. Ada yang mengatakan keadilan Allah itu esensial: Allah tidak bisa kita permainkan. Keadilan Allah itu esensial dari Allah. Di sisi yang lain, di dalam Ams. 19:11, firman Tuhan juga mengatakan, “..kemuliaan seseorang adalah memaafkan pelanggaran.” Mzm. 130:4, “Tetapi, pada-Mu, Tuhan, ada pengampunan supaya Engkau ditakuti orang.” Saudara sekalian, ada kemurahan hati Allah. Allah yang adil juga adalah Allah yang murah hati. John Piper menjelaskan ini, “Jika keadilan Allah itu esensial dari kemuliaan Allah, maka kemurahan hati Allah itu adalah puncak dari kemuliaan-Nya.” Dan puncak dari kemurahan hati Allah itu adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri, Saudara sekalian.
Sering kali, ketika kita memahami Allah yang adil, maka kita cenderung sangat takut akan hukuman Allah. Dan sering kali ini yang mungkin menggerakkan kita: kita tidak mau berdosa karena kita tidak mau dihukum Allah; kita bertobat datang kepada Tuhan karena kita takut akan hukuman Allah, takut akan keadilan Allah. Tetapi Alkitab menyatakan: pertobatan sejati seharusnya bukan karena takut hukuman Allah. Agama-agama lain mengajarkan: “Jangan berbuat dosa, jangan melawan Tuhan, karena Tuhan akan hukum yang berdosa! Akan ada neraka! Akan ada hukuman Tuhan!” Agama lain mengajarkan seperti itu. Kalau kita takut –kita itu berbuat baik, tidak mau melawan Tuhan karena kita takut dihukum Tuhan– apa bedanya orang Kristen dengan agama lain?
Alkitab, kekristenan, bukan hanya mengajarkan itu. Alkitab mengajarkan juga: Allah adalah Allah yang murah hati. Justru kemurahan hati-Nya lah yang harusnya mendorong kita untuk tidak jatuh dalam dosa. Mengapa kita datang kepada Tuhan? Bertobat kepada Tuhan? Apakah karena kita takut hukuman Tuhan? Atau karena kita menghormati, menghargai kemurahan hati-Nya? Tidak ada seorang pun dari kita yang bisa menyatakan diri kita sempurna. Kita mungkin tidak membenci Allah, tapi kita mungkin sering kali suam-suam kuku di dalam kasih kepada Tuhan. Allah, di dalam kemurahan hati-Nya, tetap menunjukkan kasih-Nya kepada kita. Saudara sekalian, sedari awal penciptaan, dan di dalam manusia jatuh dalam dosa, sampai penebusan, sampai nantinya kita berjumpa dengan Tuhan, setiap hal ini Tuhan menyatakan kemurahan hati-Nya. Tidak ada seorang pun yang tidak mengalami kemurahan hati Allah.
Saudara sekalian, di dalam penciptaan, jelas kita bisa lihat: Allah mencipta kita karena kemurahan hati-Nya. Dia mau mencipta kita yang tidak perlu ada, “tidak harus ada”. Dia mengikat diri-Nya dengan kita dan menciptakan kita seolah-olah supaya Dia ada tanggung jawab, ada kewajiban untuk memperhatikan kita. Itu wujud kemurahan hati Allah! Di dalam dosa, manusia terus berdosa, mengecewakan Tuhan. Kita, sampai sekarang masih bergumul di dalam dosa kita dan terus mengecewakan Tuhan. Tetapi Tuhan terus memberikan kita kesempatan. Kesabaran-Nya begitu luar biasa. Memberikan kita kesempatan datang kembali ke hadapan Tuhan, bertobat kepada Tuhan: wujud kemurahan hati Allah. Tuhan Yesus hadir di tengah-tengah dunia ini, menebus kita. Apa tujuan inkarnasi? Menyatakan kemurahan hati Allah sebagai puncak kemuliaan Allah! Dan sampai kita berjumpa dengan Tuhan, setiap langkah sejarah –setiap langkah sejarah umum maupun sejarah hidup kita pribadi– adalah wujud kemurahan hati Allah.
Apa yang menggerakkan kita datang ke hadapan Tuhan, bertobat, dan percaya kepada Kristus? Allah yang murah hati? Atau karena kita takut hukuman Allah? Saudara sekalian, sering kali kita datang kepada Tuhan hanya ketika Tuhan menyatakan penghukuman-Nya. Sayang sekali. Marilah kita sungguh-sungguh hidup penuh syukur karena Tuhan menyatakan kemurahan-Nya kepada kita.
Seorang teolog bernama Jürgen Moltmann adalah seorang teolog yang –salah satu teolog– yang juga dipakai menjadi berkat bagi banyak orang. Khususnya ketika dia menyatakan tentang salib Kristus dan kasih serta pengharapan di dalam Kristus. Tapi, Saudara sekalian –kalau kita mempelajari bagaimana dia bertobat– Jürgen Moltmann pada umur 19 tahun ikut perang dunia kedua, menjadi salah satu tentara Nazi, tentara Jerman yang waktu itu di bawah pemerintahan Hitler. Waktu perang dunia kedua berakhir, banyak tentara Jerman itu ditangkap, dipenjarakan, termasuk dia salah satunya. Dia dengan teman-temannya dipenjarakan di Skotlandia. Berbulan-bulan dia dipenjarakan. Lalu tibalah saat di mana kemudian salah satu dari program penjara itu: supaya membuat orang-orang –tentara ini– menyesal dan itu sebagai wujud juga penghukuman bagi mereka. Pada September 1945, mereka dibawa ke satu ruangan di mana di ruangan itu dipajang foto-foto siksaan yang dilakukan oleh tentara Jerman, Nazi, khususnya terhadap orang-orang korban perang dan khususnya orang-orang Yahudi seperti di Auschwitz.
Dia dengan teman-temannya menyaksikan itu. Dan Dia menyatakan bahwa ini hukuman yang mengerikan. Mereka semua terdiam. Mengapa? Karena mereka selama ini nggak sadar apa yang mereka perjuangkan. Mereka pikir, mereka perjuangkan itu adalah cinta negara, bela negara, nasionalisme. Ketika Moltmann dan teman-temannya melihat ini, mereka mulai mempertanyakan, “Inikah yang kami perjuangkan selama ini?” Moltmann ketika melihat itu, dia menjadi sangat-sangat terhukum, depresi, malu. Itu mencekik dan menghantui dia.
Sampai suatu ketika ada pendeta masuk ke penjara ini, pelayanan penjara. Pendeta ini membagi-bagikan Alkitab kepada tentara-tentara yang Jerman ini, yang dipenjara. Lalu pendeta ini membawakan satu renungan tentang di dalam Mazmur 22. Dia membacakan Mazmur 22, kemudian dia menceritakan tentang Tuhan Yesus Kristus. Dia –pendeta ini– menceritakan: Tuhan Yesus Kristus mati di kayu salib menanggung dosa kita. Dia adalah Allah yang sempurna, Allah yang suci, yang mulia. Kemudian dia rela menjadi hina, menanggung dosa kita. Bahkan, pada titik disalib, Dia mengatakan, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Dan ketika Moltmann mendengar kisah ini, dia tergerak, dia tersentuh. Mengapa? Karena ternyata ada Pribadi yang juga terhina karena dosanya! Bukan hanya dia saja yang hina atas dosanya, tetapi ada Pribadi yang rela menanggung dosanya, menjadi hina dan bahkan ditinggalkan Allah, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Lalu, dia bertobat saat itu. Dia percaya kepada Kristus.
Setelah ia bebas dari penjara, pada suatu ketika dalam tahun 1947, Moltmann dengan teman-temannya itu mengikuti suatu konferensi Kristen. Di konferensi Kristen itu, ada orang-orang kelompok Kristen Belanda yang meminta satu permintaan yang aneh, yaitu meminta bertemu dengan tentara-tentara Jerman yang sudah menjadi Kristen. Wah, ini satu hal yang mengejutkan! Moltmann nggak siap dan tentara teman-temannya juga nggak siap. “Kita ini orang yang bersalah. Sudah diampuni Kristus, tetapi juga bukan hanya itu. Ada orang Belanda yang mau bertemu kita, padahal waktu itu, kita bertempur salah satunya dengan orang Belanda juga, berperang dengan orang Belanda juga saat itu.” Dia malu. Dia nggak berani melihat orang-orang Belanda itu dan ketika mereka bertemu, kemudian orang Belanda itu nggak sedikit pun membicarakan dosa dari tentara-tentara Jerman ini. Orang-orang Belanda itu menerima tentara-tentara Jerman yang sudah menjadi Kristen ini. Tidak sedikit pun membalas dendam. Tidak mengatakan,”Rasain, lu! Tuh kan, kamu salah dulu! Bertobat lho!” Nggak menuduh, nggak mempersalahkan, nggak membuat bercanda kesalahan dosa-dosa orang Jerman. Mereka berjumpa, menerima, mengampuni, dan membahas tentang Kristus lagi. Bagaimana kasih Kristus itu begitu nyata. Dan Moltmann mengatakan ini: “Ketika aku melihat orang-orang Belanda yang menyatakan kasih, pengampunan, penerimaan kepada kami, aku melihat wajah Kristus nyata memandang kami. Tuhan memandang kami.”
Saudara sekalian, Moltmann bertobat. Dan bukan hanya itu, dia menjadi hamba Tuhan, menjadi teolog yang sampai sekarang, karya-karyanya dipakai Tuhan. Dan dia meninggal pada 2024. Dia mengatakan ini di dalam satu tulisannya yang berjudul “The Source of Life.”: “But, the ultimate reason for our hope is not to be found at all in what we want, wish for, and wait for; the ultimate reason is that we are wanted and wished for and waited for.” Alasan tertinggi bagi harapan kita bukan pada apa yang kita inginkan, kita harapkan, kita tunggu. Alasan tertinggi dari harapan kita adalah bahwa kita diharapkan, kita ditunggu, kita diinginkan. “There is someone who is waiting for you, who is hoping for you, who believes in you.” Ada Pribadi yang selalu menanti engkau, mengharapkan engkau, percaya kepada engkau. Kita ditunggu seperti anak yang hilang ditunggu oleh sang bapa. Kita diterima oleh Bapa. Saudara sekalian, kasih Allah, kemurahan hati Allah menerima kita. Apa yang menggerakkan kita bertobat dan percaya kepada Kristus? Kemurahan hati Allah atau karena takut hukuman Allah?
Yang terakhir Saudara sekalian, ketika kita merenungkan perumpamaan “bapa yang murah hati,” Saudara sekalian, like father, like son. Sudahkah kita menyatakan kemurahan hati Allah di dalam hidup kita? Saudara sekalian, saya bersyukur kepada Tuhan. Beberapa waktu yang lalu, saya dan istri mempunyai anak perempuan. Dan bersyukur juga, terima kasih kepada Bapak, Ibu, Saudara sekalian yang mendoakan, mendukung, mengucapkan, dan memberikan juga dukungan kepada kami. Dan salah satu hal yang biasanya memang-khususnya karena anak pertama- yang selalu membuat penasaran para orang tua adalah: anak ini mirip siapa sih? Orang tua dengan anaknya ada kemiripan yang pasti nggak bisa disangkali. Entah nanti berkembangnya mirip ayahnya atau mirip ibunya. Tetapi, ada satu kemiripan yang pasti itu adalah mirip saya, yaitu lesung pipinya. Like father, like son. Like father, like daughter. Like mother, like daughter. Siapa Bapa kita Itu dinyatakan bagaimana hidup kita. Sudahkah kita menyatakan kemurahan hati Allah?
Tom Holland, seorang sejarahwan bukan Kristen, dia menulis satu buku berjudul “Dominion: How the Christian Revolution Remade the World” (Bagaimana revolusi Kristen itu menata ulang/kembali dunia) di tahun 2019. Pergumulan dia bagaimana bisa suatu aliran yang diawali, yang terinspirasikan, yang digerakkan oleh seorang penjahat yang di kayu salib, oleh kekaisaran Romawi di zaman kuno bisa memberikan pengaruh begitu besar sampai sekarang? Lalu, dia mencoba mempelajari pengaruh-pengaruh kekristenan. Bagaimana, ya, kekristenan itu mempunyai dampak, pengaruh yang sangat transformatif, bukan hanya satu negara tertentu, tetapi katanya, dunia sampai sekarang. Dalam salah satu list-nya, dia katakan: charity (kemurahan hati). Tom Holland mencatat, di dalam masa pemerintahan Kaisar Julian, itu tahun 362, keponakan dari Konstantin, the first emperor of Rome yang menyatukan Roma, pada waktu itu di Galatia ada kuil-kuil dewa-dewi yang di situ yang harusnya disembah, yang harusnya diperhatikan itu ternyata terbengkalai. Terbengkalai, nggak diperhatikan. Mengapa? Karena banyak orang tidak lagi percaya kepada dewa-dewi di Galatia, Mengapa mereka nggak percaya lagi kepada dewa-dewi? Karena dewa-dewi mereka adalah dewa-dewi yang selalu menuntut, menuntut, menuntut. Ada muncul aliran di Galatia saat itu, yaitu kekristenan yang menyajikan yang berbeda. Orang-orang Kristen di Galatia menunjukkan kemurahan hati, menolong orang yang susah, menolong orang yang kelaparan, menolong para janda, menolong para yatim. Dan bahkan dicatat, bapa gereja menganjurkan-Basil dan Gregoria, ini bapa gereja Kapadokia yang terkenal sekali- mendorong jemaat, orang-orang Kristen itu menyatakan kasih kepada orang-orang yang susah, dengan aktif mendorong. Bahkan waktu itu, waktu kelaparan besar, kesusahan besar, mereka membangun gedung khusus untuk menampung orang-orang yang susah. Dan perbuatan kasih ini, kemurahan hati ini, Saudara-saudara sekalian, menggerakkan banyak orang di Galatia sehingga mereka meninggalkan kuil-kuil dewa-dewi mereka. Mereka percaya kepada Kristen. Dan Julian akhirnya mengatakan begini kepada pengikut-pengikutnya, kepada orang-orang yang masih bertahan percaya kepada dewa-dewi: “Para imam dan para pengikut, marilah bermurah hati satu sama lain. Ikuti itu orang-orang Kristen yang menyatakan kemurahan hati.” Kemurahan hati itu sangat mengakar dan ciri khas dari orang Kristen. Mengapa? Karena kita punya Bapa yang murah hati. Dan puncak kemurahhatian Allah adalah Yesus Kristus.
Dalam Roma 8:32, “Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua. Bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama Dia?” Kita ini siapa? Kita ini musuh Allah, tetapi mendapat kemurahan hati Allah. Kita yang harusnya dihukum. Kita ini anak yang kurang ajar. Bahkan, kita musuhnya yang mengecewakan Dia, tetapi kita menerima kemurahan hati Allah. Dan apa yang Allah perintahkan kepada kita? Bukan hanya “Kasihilah sesamamu.” Bukan hanya “Kasihilah Allah,” tetapi Dia juga perintahkan, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu karena dengan demikian kamu menjadi anak-anak Bapamu di surga.” Like father, like son. Mari kita berdoa.
Bapa kami di surga, kami bersyukur kepada Tuhan atas kemurahan hati-Mu yang begitu besar menerima kami yang berdosa yang tidak layak ini, Tuhan. Ampuni kami yang terus mengecewakan Engkau. Ampuni kami yang terus mengeluh, mengeluh, dan bersungut-sungut kepada hal-hal yang kecil dan kami tidak melihat betapa besar kasih setia Tuhan, kemurahan hati-Mu, ya, Tuhan kepada setiap kami. Ampuni kami, ya, Tuhan karena kami hanya datang bertobat kepada Tuhan dan kami disadarkan hanya sering kali hanya ketika Engkau menegur kami, menghukum kami dan kami mendapat kesusahan. Ajar kami untuk kami datang kepada Tuhan, bertobat, sungguh-sungguh mencintai Tuhan karena Engkau adalah Allah yang murah hati dan kami tidak main-main dengan hal itu, tidak mempermainkan Tuhan karena Engkau Allah yang murah hati. Tolong kami, ya, Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.
