Sida-sida dari Tanah Etiopia
Kis. 8: 26-40
Pdt. Dawis Waiman, M. Div
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hari ini, kita akan lebih fokus kepada satu pertanyaan yang sida-sida itu ajukan kepada Filipus dan pertanyaan itu adalah: “Lihat, di situ ada air. Apakah halangannya jika aku dibaptis?” Jadi, melalui pertanyaan ini, ada satu keinginan dari sida-sida Etiopia itu untuk menerima baptisan pada hari itu dan saat itu juga. Siapa yang menjadi sida-sida Etiopia ini? Tentunya, kalau Bapak, Ibu tanya ini, kita ada sedikit diberikan pengertian tentang siapa dia, yaitu yang pasti dia adalah orang yang sangat penting di dalam kerajaan Ratu Kandake tersebut. Dan ini membuat dia adalah orang yang ketika datang ke Yerusalem untuk mengikuti ibadah, dia adalah orang yang kita juga bisa kenal sebagai orang yang percaya kepada Tuhan di dalam kehidupannya. Walaupun mungkin mereka adalah orang yang dari bangsa yang berbeda, mereka adalah orang yang memiliki Allah yang berbeda dengan orang-orang Israel, tetapi kelihatannya sida-sida ini memiliki iman seperti yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Itu sebabnya, dia menempuh perjalanan begitu jauh untuk menuju ke Yerusalem demi untuk beribadah kepada Tuhan setiap tahunnya seperti itu.
Nah, di dalam perjalanan itu, Alkitab mencatat bahwa dia ada satu pergumulan yang terjadi. Di dalam perjalanan itu, apa yang menjadi pergumulan? Dia ternyata memegang sebuah kitab. Sebenarnya, itu bukan kitab, tetapi itu adalah sebuah gulungan. Kita sekarang adalah kitab, tetapi pada waktu itu, mereka adalah gulungan-gulungan seperti itu. Dan gulungan yang ia pegang adalah potongan dari kitab Yesaya. Dan pada waktu dia dalam perjalanan pulang dari Yerusalem ke tempatnya berasal, dia kemudian membaca 1 nas yang ditulis di dalam kitab ini. “Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. Dalam kehinaan-Nya, berlangsunglah hukuman-Nya. Siapakah yang akan menceriterakan asal usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi.” Nah, Bapak, Ibu, ketika membaca bagian ini, Alkitab mau memberi tahu kita, ada beberapa prinsip di sini. Pertama adalah dia membaca kitab, dia tidak mengerti. Tetapi, pada waktu kita diberi tahu, dia membaca kitab, dia tidak mengerti mengenai perkataan dari Nabi Yesaya ini, itu tidak menjadikan dia sebagai orang yang tidak beribadah kepada Tuhan. Jadi, yang pertama adalah siapa sida-sida ini? Orang yang beribadah kepada Tuhan dalam hidup mereka. Tetapi, yang kedua adalah dia adalah orang yang juga rajin di dalam mempelajari firman atau membaca firman Tuhan, tetapi pada waktu dia membaca firman, dia tidak mengerti apa yang dinyatakan oleh firman itu kepada diri dia. Tetapi, ada aspek yang ketiga. Ketika dia di dalam kondisi yang tidak mengerti itu, ada satu kerinduan dan keinginan dalam hati dia untuk mau mencari tahu apa yang menjadi makna daripada firman itu dalam hidup mereka atau hidup diri dia.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah 3 hal yang kita perlu lihat dalam kehidupan kita. Kenapa ini menjadi sesuatu yang kita perlu lihat? Karena walaupun kisah ini dicatat 2.000 tahun yang lalu, walaupun kisah mengenai seorang yang akan disembelih itu adalah satu kisah yang diberitakan 2.700 tahun yang lalu, tetapi kehidupan dari orang-orang yang beribadah kepada Tuhan di saat itu kelihatannya tidak terlalu jauh berbeda dari kehidupan ibadah dari kita yang adalah orang-orang Kristen. Maksudnya adalah pertama, orang ini adalah orang yang begitu rajin beribadah. Dia berani menempuh jalan yang beratus-ratus kilometer, mungkin beribu kilometer untuk pergi dari tempatnya menuju ke Yerusalem dan ketika dia tiba di situ, yang terjadi apa? Dia menjalankan ritual agama yang dituntut oleh orang-orang Yahudi atau Tuhan di dalam kehidupan umat Yahudi tersebut. Tetapi, anehnya adalah ketika dia menjalankan ritual itu, dia tidak mengerti esensi dari ibadah yang ia lakukan.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini pentingnya di mana? Kita sebagai orang Kristen pada zaman ini, seringkali hanya memperhatikan apa yang sebenarnya tidak terlalu esensi. Maksudnya adalah kita tahu, tiap minggu, saya harus berbakti kepada Tuhan. Kita tahu, tempat berbakti itu ada di dalam gereja seperti itu, gedung gereja. Dan pada waktu kita tanya, ”Di mana saya harus berbakti kepada Tuhan?” Yang kita tahu kadang kala adalah, “Tempat di mana saya biasa pergi ke situ,” atau tempat yang memiliki gedung yang bagus di situ, atau tempat yang cukup merepresentasikan orang Kristen di dalam beribadah kepada Tuhan. Tetapi, pada waktu kita pergi ke situ dan menjalankan segala ritual yang ada di dalam ibadah Minggu itu, kita pulang mungkin dengan kekosongan, kita pulang dengan satu kebingungan, kita pulang dengan satu pemikiran, “Sebenarnya, pendetanya ngomong apa sih hari ini?” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita berpikir,menjadi orang Kristen adalah orang yang datang beribadah dan di tempat tertentu kita beribadah, tetapi sebenarnya pengajaran firman yang ada di dalam gereja melalui khotbah yang disampaikan oleh hamba Tuhan di dalam gereja itu tidak menjadi sesuatu yang kita fokus dan kita kejar untuk mengerti kebenaran itu.
Lalu, yang kedua adalah pada waktu kita melihat di dalam kondisi ini, apa yang Tuhan lakukan kepada sida-sida dari Etiopia ini? Di sini dikatakan, pada waktu dia ada di dalam kebingungan itu, dia belajar firman itu, dia membaca firman itu, Tuhan utus seorang untuk datang di dalam hidup dia untuk mengintervensi kebingungan yang dia alami itu dan orang tersebut adalah Filipus. Filipus ini siapa? Bukan pendeta. Dia bukan para rasul atau 12 orang rasul itu, tetapi kalau Saudara baca di dalam Kisah Rasul pasal 6, di situ, dia adalah salah satu dari diaken yang ditunjuk untuk melayani meja karena pada waktu itu ada perselisihan antara janda dari orang-orang Yahudi dengan janda Kristen dari orang-orang bukan Yahudi. Saat itu, para rasul mengalami kewalahan untuk melayani mereka sehingga ditunjuklah para diaken untuk membantu pelayanan itu dan Filipus adalah salah satu dari diaken itu. Lalu, Tuhan memanggil Filipus untuk pergi ke jalanan itu untuk bertemu dengan seorang yang merupakan sida-sida dari Etiopia ini.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa makna dari sini? Maknanya adalah satu hal, walaupun mungkin di sini, Filipus bukan bagian dari 12 rasul, tetapi kita mengerti satu hal, pada waktu Tuhan memilih kita, waktu Tuhan menebus kita dan menjadikan kita umat-Nya di dalam Kristus Yesus, kita harus mengerti, ada orang-orang tertentu yang Tuhan akan panggil dan tempatkan di dalam gereja-Nya untuk memperhatikan iman Saudara, untuk mendidik Saudara di dalam kebenaran, untuk membantu Saudara untuk mengerti firman Tuhan di dalam hidup Saudara. Saya percaya, ini adalah hal yang penting karena sering kali di dalam zaman sekarang dengan satu media yang begitu luas atau begitu berkembang dengan pesat sekali, kita berpikir bahwa kita dengan diri kita sendiri, kemampuan diri kita sendiri, pengertian kita sendiri, bijaksana kita sendiri, kita bisa belajar sendiri firman Tuhan. Saya nggak menampik ini adalah kalimat yang benar karena Alkitab ada berbicara seperti ini. Pada waktu Roh Kudus diberikan kepada diri kita, ketika kita percaya kepada Tuhan, maka pada waktu itu Roh Kudus akan menolong kita untuk mengerti kebenaran-kebenaran Tuhan dalam hidup kita.
Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita tidak pernah boleh mengabaikan ada bagian lain dari firman Tuhan yang Tuhan nyatakan kepada diri kita juga, yaitu apa? Kalau Bapak Ibu buka dari Efesus pasal 4 ayat 11 dan seterusnya, di situ Tuhan berkata, “Tuhan memanggil orang-orang dan menempatkan orang itu di dalam gereja.” Lalu siapa orang-orang yang Tuhan panggil dan tempatkan mereka di dalam gereja itu? Mereka adalah para rasul, mereka adalah para nabi, mereka adalah pemberita-pemberita Injil, mereka juga adalah gembala-gembala dan pengajar-pengajar. Nah, di dalam tradisi gereja kita, kita mengerti bahwa nabi dan rasul sudah tidak ada lagi ketika Kitab Suci kita sudah diselesaikan di dalam pewahyuannya. Lalu yang ada tersisa di dalam gereja, mulai dari gereja mula-mula sampai Yesus Kristus datang kedua kali adalah para penginjil, para gembala, para pengajar yang Tuhan terus panggil dari zaman ke zaman dan Tuhan tempatkan di dalam gereja. Lalu pada waktu Tuhan memanggil mereka, apa yang menjadi tujuan Tuhan memanggil mereka? Kalau Bapak Ibu baca di dalam ayat yang berikutnya adalah di dalam ayat 12, itu untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Kalau diteruskan intinya adalah kita tidak menjadi anak-anak lagi, kita tidak diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran dan permainan palsu manusia, tapi kita bisa berpegang teguh kepada kebenaran, di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala arah menuju kepada Dia.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ayat ini mau mengatakan, satu sisi semua orang Kristen memiliki Roh Kudus, satu sisi semua orang yang memiliki Roh Kudus diberikan satu anugerah untuk bisa mengerti firman karena ada Roh Kudus yang akan memimpin mereka untuk mengerti firman. Tetapi di sisi lain Tuhan juga memberikan kepada kita orang-orang tertentu di dalam gereja, orang-orang yang diperlengkapi dengan pengertian firman untuk melayani Tuhan dan untuk mendidik di dalam kebenaran. Nah, pertanyaannya adalah kenapa ada dua hal ini? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya lihat tujuannya adalah supaya kita di dalam gereja mengerti kebenaran, dan untuk bisa mengerti kebenaran kita perlu belajar mengikuti otoritas yang Tuhan panggil dan tempatkan di dalam gereja Tuhan. Tetapi pada waktu kita mengikuti otoritas dari orang-orang yang ditempatkan di dalam gereja Tuhan yang sungguh-sungguh belajar firman Tuhan, Alkitab juga berkata ada Roh Kudus yang diberikan di dalam diri kita untuk membawa kita mengerti kebenaran. Artinya apa? Pertama adalah, tanpa pekerjaan dari Roh Kudus kita ndak mungkin bisa mengerti kebenaran. Tetapi yang kedua adalah pada waktu kita mendengar firman yang disampaikan oleh pendeta, itu berarti kita juga memiliki satu tanggung jawab untuk menguji, untuk melihat, untuk mendalami apakah yang disampaikan oleh pendeta itu adalah kebenaran yang bersumber dari Tuhan atau tidak.
Saya pernah bicara nggak di sini atau di tempat lain saya bicara ya, pada waktu kita mendengar firman, ada pengkhotbah yang berkata, “Kita bukan orang-orang yang hanya menerima perkataan karena ada otoritas orang yang berjubah yang berdiri di depan dengan gelar pendeta atau vikaris ketika menyampaikan firman. Tetapi ketika kita mendengar firman, kita bukan hanya mendengar apa yang disampaikan saja oleh pendeta itu, tapi kita juga perlu mengerti bagaimana pendeta itu membaca firman itu atau menafsirkan firman itu atau membedah kitab suci. Nah, ini menjadi satu contoh yang diberikan oleh jemaat yang ada di Berea. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu Paulus berjalan menginjili di dalam misi penginjilan yang dia lakukan, maka dia pernah mampir di Tesalonika. Lalu setelah dari Tesalonika dia mampir di Berea. Dan pada waktu dia mampir di Berea, Alkitab mengatakan Paulus memberitakan tentang Mesias. Tetapi pada waktu Paulus memberitakan tentang Mesias, semua jemaat yang ada di Berea memegang Kitab Suci Perjanjian Lama lalu membuka satu per satu ayat yang dikatakan oleh Paulus dan menguji apakah yang diajarkan oleh Paulus itu adalah kebenaran atau bukan. Kalau itu adalah satu kebenaran, mereka akan terima, mereka akan berpegang, mereka akan percaya pada pengajaran itu. Tapi kalau bukan, mereka akan menolaknya. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini harus menjadi sikap dari kita sebagai orang Kristen. Makanya pada waktu kita berbicara mengenai iman, pengertian firman, satu sisi ada pendeta, ada pemimpin, ada guru, ada pengajar yang akan mendidik firman. Tetapi tanggung jawab untuk mengerti firman dan memahami apakah yang kita terima itu benar atau tidak itu bukan hanya di tangan dari pemimpin gereja, tapi juga di dalam tangan Bapak, Ibu semua yang mendengarkan firman. Itu sebabnya membaca Alkitab adalah hal yang penting.
Kemarin di dalam persiapan ketua OSG ada pembahasan seperti ini, apa signifikansi mengerti doktrin dan bagaimana kita bisa mengerti doktrin itu adalah suatu kebenaran atau tidak? Yaitu dengan membaca Alkitab. Lalu di dalam pembahasan itu ada satu hal yang saya ungkapkan: semua orang Kristen yang hanya mendengar khotbah dari pendetanya di gereja tetapi tidak pernah menyelesaikan pembacaan Alkitab dan meneliti Alkitab secara baik, dia adalah orang yang tidak pernah akan punya keyakinan 100% kalau Alkitab firman Tuhan dan dia akan tetap mungkin di dalam kebingungan untuk mengerti kehendak Tuhan di dalam hidupnya. Silakan Bapak, Ibu uji kalimat saya ini benar atau tidak, karena otoritas yang Bapak, Ibu gunakan untuk mengatakan ini benar, ini salah selalu adalah otoritas pendeta, bukan Alkitab yang adalah firman Tuhan. Itu sebabnya pada waktu kita bertumbuh di dalam iman, tadi saudara kita yang dibaptis ada satu pertanyaan: Kita akui tidak kalau Alkitab itu adalah firman Tuhan? Kenapa ini menjadi pertanyaan pertama yang penting? Karena melalui Kitab Suci ada orang Kristen. Orang Kristen ada itu bukan karena pendeta, tapi karena pendeta yang mengajarkan Injil dan mengajarkan firman Tuhan sesuai dengan Kitab Suci dan berusaha tetap setia dan taat kepada pengajaran Tuhan. Bahkan di situlah orang Kristen muncul. Dan tentunya ada pekerjaan Roh Kudus di dalamnya yang memperteguh kebenaran yang disampaikan itu. Jadi kalau kita ndak pernah datang ke first source-nya, kita ndak pernah menggalinya, kita ndak pernah membacanya, maka saya yakin sekali kita nggak akan pernah punya satu kepastian bahwa ini adalah otoritas yang benar. Karena yang kita temukan adalah pendeta A ngomongnya A, pendeta B ngomongnya B, pendeta C ngomongnya C, lalu saya harus ikut yang mana?
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini yang membuat tadi saya bicara, di dalam zaman kita ada begitu banyak media yang kita bisa gunakan untuk mendengar firman, tapi kalau kita tidak pernah mau menggabungkan diri kita di dalam satu gereja lokal tertentu, Bapak, Ibu akan memilih-milih firman yang didengar, memilih-milih pengkhotbah yang menyampaikan firman atau menyampaikan pengajaran itu, memilih-milih mana yang cocok dengan saya, mana yang tidak cocok dengan saya. Kira-kira ada kebenaran tidak? Kebenarannya bukan Alkitab tetapi kebenarannya adalah diri saya punya pemikiran, punya pertimbangan, punya pendapat, itu adalah kebenarannya dan itu bukan kebenaran. Jadi ada satu bahaya di dalam zaman kita, kita pikir kapan kita mau denger firman saya bisa dan kita pikir dengan begitu saya nggak perlu mengikatkan diri saya di dalam satu komunitas gereja lokal tertentu, tidak perlu menundukan diri saya di bawah otoritas dari gereja tertentu yang sungguh-sungguh mendidik kebenaran, itu akan membuat kita ada di dalam bahaya yang sangat besar.
Nah aspek ketiga yang kita bisa lihat juga di dalam bagian ini bukan hanya Dia adalah orang yang beribadah tanpa pengertian, bukan hanya bicara tentang Tuhan telah mengutus orang-orang tertentu dan memanggil orang tertentu untuk memperlengkapi kita di dalam segala kebenaran yang Tuhan nyatakan bagi diri kita. Tetapi ada aspek ketiga ini, yaitu ketika kita percaya kepada Kristus, ketika kita dipilih oleh Tuhan, ditebus di dalam Kristus, maka ada satu kerinduan di dalam hati kita. Yang pertama adalah kita ingin tahu kebenaran, yang kedua adalah kita ingin diri kita dibaptis. Tadi saya bicara ada dua ya, ingin tahu kebenaran dan ingin diri kita dibaptis. Nah, mengapa ingin tahu kebenaran? Apakah ini adalah satu keharusan atau tidak di dalam hidup orang Kristen? Kenapa saya tanya ini? Karena banyak orang Kristen berpikir dalam hidupnya, jadi orang Kristen itu nggak perlu terlalu fanatik, jadi orang Kristen tidak perlu terlalu dalam mengerti Alkitab, jadi orang Kristen tidak usah sekolah teologi karena sekolah teologi adalah untuk pendeta dan penginjil atau vikaris, saya adalah orang Kristen biasa, saya cukup dengar khotbah tiap minggu sekali-sekali atau tiap pagi membaca Alkitab saja, itu sudah cukup bagi diri saya. Menjadi orang Kristen adalah orang yang tidak perlu terlalu dalam untuk mengerti Kitab Suci. Betulkah? Atau bahkan yang lebih parah adalah menjadi orang Kristen saya cukup tahu Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, selain itu Allah Tritunggal, selain Allah Tritunggal dan Yesus Juruselamat, apa lagi? Kebaktian di hari Minggu, lalu apa lagi? Nggak tahu.
Bapak, Ibu, Saudara yang kasih Tuhan, ini opsi bukan? Saya bilang bukan. Kenapa bukan? Kalau Bapak, Ibu lihat di dalam Kitab Suci, misalnya Mat. 5, khotbah di bukit, apa yang Tuhan Yesus katakan berkaitan dengan orang yang percaya dan kebenaran? Salah satu ucapan bahagia yang Yesus katakan adalah berbahagialah orang yang apa? Lapar dan haus akan kebenaran. Lalu yang kedua adalah Bapak, Ibu bisa lihat Rom. 12:1-2. Di dalam Rom. 12:1-2 bicara tentang apa? Pasal 1 sampai 11 bicara mengenai dasar iman kita kenapa kita perlu percaya kepada Kristus dan seterusnya begitu. Tapi di dalam ayat pasal 12 dikatakan, “Karena itu, Saudara-saudara, demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.” Bagaimana kita bisa tahu yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna itu? Paulus berkata, “Pertama-tama kita harus mengalami pembaharuan budi.” Pengertian firman kita harus bertumbuh baru bisa ada pengertian mana yang benar, mana yang salah, mana yang berkenan kepada Allah dan mana yang tidak berkenan kepada Allah. Tapi ada satu ayat lagi yang tentunya banyak ayat yang lain, tapi saya ajak Saudara lihat satu lagi dalam Kol. 3:10. Di dalam Kol. 3:10 Paulus juga kembali menekankan kepada kita kalau kita adalah orang yang percaya kepada Kristus, maka ada pekerjaan Roh Kudus yang akan Roh Kudus kerjakan dalam hidup kita, yaitu “dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.” Artinya adalah pada waktu kita sudah diperbaharui kita menjadi milik Allah di dalam Kristus, kita adalah orang yang percaya kepada Kristus, maka Roh Kudus yang Tuhan berikan di dalam diri kita akan membuat kita terus diperbaharui di dalam kebenaran atau di dalam pengetahuan yang benar akan firman Tuhan.
Jadi kondisinya kayak gini, saya dulu benci firman, saya dulu tidak peduli dengan hal-hal yang rohani, saya dulu adalah orang yang hidupnya mengutamakan hal-hal dunia dan segala kesenangan dunia, urusan Tuhan saya anggap tidak penting dalam hidup saya. Tapi suatu hari Roh Kudus bekerja di dalam diri saya membawa saya melihat kepada salib Kristus, membuat saya mengenal kasih Tuhan melalui salib itu, saya menjadi orang percaya, memberikan saya hati yang baru dalam diri saya. Hati yang baru itu apa? Hati yang mengasihi Tuhan dari tidak mengasihi menjadi mengasihi Tuhan, dari tidak mengutamakan Tuhan menjadi mengutamakan Tuhan, dari orang yang tidak mempedulikan kehendak Tuhan dan kebenaran Tuhan sekarang bekerja untuk membawa kita mengerti kebenaran dan ingin mengenal Tuhan Allah melalui pengetahuan yang benar. Ini paham ya? Pertanyaan saya adalah kalau saudara dikasih hati yang rindu firman, mungkin tidak hidup suam-suam kuku? Kalau saudara diberi hati yang sungguh-sungguh merindukan dan mengerti orang yang berbahagia adalah orang yang lapar dan haus akan firman, mungkin tidak merasa cukup hanya dengan dengar khotbah minggu? Atau saudara berkata, “Saya cukup mengenal Yesus saja. Saya cukup mengenal Allah Tritunggal saja, yang lain tidak terlalu penting.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, nggak mungkin. Semua orang Kristen pasti ingin belajar. Kalau dia tidak mengerti, pasti ingin cari tahu pengertian itu dalam hidup mereka.
Dan ada satu hal yang menarik adalah saya lupa namanya siapa, dia ngomong kayak gini, “Sebenarnya masalah kebingungan di dalam kehidupan dari orang yang mengatakan diri Kristen akan firman Tuhan itu adalah sesuatu yang tidak akan terjadi di dalam hidup orang Kristen yang sungguh-sungguh sejati. Kebingungan akan pengajaran yang ada di dalam gereja itu hanya bagi orang Kristen yang tidak peduli dan tidak mau mencari kebenaran.” Saya ulangi ya, ini aplikasi dari 2 Pet 3:16. Pada waktu itu Petrus bicara kepada jemaatnya, “Di antara kamu ada guru-guru palsu, orang-orang yang menyimpangkan pengajaran Paulus.” Lalu Petrus bilang, “Memang saya tahu pengajaran Paulus itu tidak gampang. Ada banyak hal yang sulit di situ. Dan karena itu, orang-orang tertentu kemudian mulai menafsir secara sembarangan, lalu kemudian mengajarkan secara sembarangan sehingga mengakibatkan kebinasaan.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, siapa orang yang bingung itu? Khotbah ini bilang orang yang tidak sungguh-sungguh belajar firman Tuhan. Tapi kalau dia adalah orang sungguh-sungguh belajar firman karena dia sudah percaya kepada Tuhan dan dilahirbarukan dalam Roh Kudus, maka dia akan tahu bahwa ada hal yang sulit dari firman Tuhan, tetapi dia tidak akan dibingungkan oleh berbagai pengajaran dan dia tahu yang benar itu seperti apa. Jadi, ada aspek ketiga ini ya, pada waktu kita ditebus oleh Kristus, Roh Kudus akan memberikan rasa ingin tahu, rasa haus di dalam diri kita akan firman Tuhan.
Dan yang kedua adalah, saya akan memberi diri saya, secara pasti untuk dibaptis. Nah mengapa dibaptis? Hal pertama adalah karena baptisan itu adalah mandat dari Tuhan kita Yesus Kristus. Saudara bisa lihat itu dari Mat. 28:19-20. Sebelum Yesus Kristus terangkat ke Surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa, di hadapan 500 lebih dari orang Kristen pada waktu itu, maka di situ, Yesus bicara, “Pergi jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptiskanlah mereka di dalam nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus.” Jadi pada waktu murid-murid ditinggalkan oleh Yesus Kristus, mereka mendapatkan satu perintah dari Yesus Kristus, yaitu perintah yang sangat agung sekali, yaitu mereka pertama harus pergi dan mengabarkan tentang Injil, memberitakan pengajaran Yesus kepada dunia ini. Tetapi yang kedua adalah, mereka tidak cukup hanya mengajar saja tetapi mereka harus membaptis orang-orang ini di dalam nama Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus ketika mereka menjadi percaya kepada Kristus.
Jadi saya secara singkat mau bicara, kalau kita adalah orang-orang, yang mengatakan percaya kepada Yesus Kristus, kalau kita adalah orang-orang yang sudah diselamatkan dari perbudakan dosa, kalau kita sudah diselamatkan dari perbudakan dosa, sekarang hidup kita ada di dalam tangan siapa? Tangan siapa? Halo? Tangan siapa? Saya tanya ini di pemuda kemarin, semuanya diam, kita sering kali pikir kalau kita sudah dibebaskan dari dosa, semula saya dibelenggu, diperbudak, itu seperti orang Israel yang diperbudak di Mesir, lalu Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir untuk menuju tanah perjanjian, sekarang mereka jadi orang yang merdeka kan? Pertanyaan adalah kalau dulu mereka harus tunduk di dalam tanah kuasa Firaun, di dalam tanah perjanjian, di dalam rumah mereka sendiri, di tanah yang Tuhan berikan kepada mereka, hukum siapa yang harus dijalankan? Kayak Indonesia. 17 Agustus merdeka, lalu setelah itu Indonesia mulai membuat undang-undang dasar sendiri, lalu kemudian Indonesia mau membuat apa itu, peraturan-peraturan dan cara kerja, fungsi dari negara, dan peraturan pemerintahan sendiri, Indonesia membuat kebijakan ekonomi sendiri, seperti itu? Apakah begitu? Maksudnya adalah kalau dulu saya sudah diselamatkan dari perbudakan dosa, sekarang saya sudah dibebaskan dari perbudakan dosa, maka Yesus punya tujuan hanya memberi hidup kekal, tapi hidup saya di dunia adalah urusan saya.
Bapak, Ibu, yang dikasihi Tuhan, Alkitab bilang ndak seperti itu. Ingat sebelum tiba di tanah perjanjian, mereka mampir di gunung Sinai. Di gunung Sinai mereka menerima 10 Perintah Allah, mereka menerima peraturan di dalam beribadah kepada Tuhan. Di dalam Gunung Sinai ketika mereka menerima itu, salah satunya untuk apa? Yang utama, Tuhan berkata melalui Musa, supaya di tanah perjanjian nanti, mereka tidak hidup menurut orang-orang Kanaan, dan orang-orang yang ada di sana, tapi mereka hidup kepada Tuhan dan caranya dengan melakukan apa yang Tuhan perintahkan kepada diri mereka. Artinya apa? Begitu Bapak, Ibu, lepas dari dosa di mana iblis menjadi kepala kita, dan dosa membelenggu diri kita, di dalam Kristus maka Yesus menjadi Allah kita, atau istilah lainnya kita diperbudak oleh Yesus. Orang Kristen adalah orang yang diperbudak oleh Yesus, bukan orang yang merdeka untuk melakukan segala sesuatu yang dia inginkan. Tetapi orang yang merdeka untuk melakukan yang semua Yesus ingin kita lakukan, itu namanya diperbudak oleh Yesus. Nah kalau kita seperti ini, dan Yesus bilang, “Baptis. Baptis mereka di dalam nama Allah Tritunggal.” Kita sebagai orang yang diperbudak Yesus bagaimana? Karena Tuan saya minta saya baptis, maka saya harus memberi diri untuk dibaptis. Ini prinsip pertama ya.
Yang kedua adalah karena Gereja Tuhan dan tradisi gereja mulai dari awal, sudah menjalankan baptisan. Bapak Ibu bisa lihat salah satunya di dalam Pasal 8 yang kita baca, tapi tentunya Bapak Ibu bisa komparasikan dengan Kisah Rasul Pasal 2, dan pasal yang lain. Di situ Para Rasul ketika orang-orang bertanya apa yang harus kami lakukan? Mereka katakan bertobat dari dosa, percaya kepada Yesus Kristus, dan beri dirimu dibaptis. Dan itu menjadi satu praktek yang dijalankan oleh gereja sampai hari ini. Jadi, itu sebabnya kalau kita melihat baptisan, baptisan itu adalah suatu tradisi yang Yesus sendiri ajarkan pada kita, perintahkan pada kita, dan murid-murid Yesus yang sangat mengerti sekali, dan mengalami Kristus secara muka dengan muka dalam kehidupan dunia ini, sangat mengerti sekali, mereka harus baptis dan menjalankan prinsip baptisan itu.
Lalu ketiga adalah, sarananya apa? Di kita air. Kenapa air? Karena air adalah lambang dari Pembersihan atau Pembasuhan atau pemurnian. Saya stop di poin yang keempat ini ya. Kalau kita tanya modenya apa? Atau mungkin sebelum mode, saya bicara sedikit formulanya apa? Tadi saya singgung sedikit di awal, modenya apa? Di dalam gereja ada beberapa mode: pertama ada yang diselam, yang kedua ada yang dipercik, yang ketiga ada yang dituang. Apa beda tuang dan percik? Bedanya Cuma jumlah air yang digunakan, satu lebih dikit dan satu lebih banyak. Kalau tadi saya ambil lebih banyak, supaya yang dibaptis mungkin lebih terasa saya dimandikan seperti itu. Tetapi, Bapak, Ibu yang dikasihi Tuhan, kalau kita tanya, kenapa ada beda mode ini? Mode mana yang lebih tepat seperti itu? Orang Reformed biasanya akan mengatakan, nggak penting. Mau diselam kah? Silahkan. Mau dipercik? Silahkan. Tapi kalau orang-orang mau mulai memutlakkan, “kayaknya yang bener baptis selam deh Pak, yang sah itu hanya baptis selam saja”, maka biasanya akan saya ajak duduk, ayo kita lihat sebenarnya baptisan itu adalah mode yang mana. Ya walaupun mayoritas gereja, mayoritas nggak ya? Bisa bicara kayak gitu baptis selam mayoritas. Tapi kalau Bapak Ibu melihat secara teologis, sebenarnya yang lebih Alkitabiah itu adalah baptis percik atau baptis tuang, daripada baptis selam.
Kenapa tuang atau percik lebih Alkitabiah? Bukankah baptis selam itu adalah baptisan yang menggambarkan Yesus yang mati bagi dosa dan bangkit? Bukankah baptisan selam itu dari kata “bapto” atau “baptizo” itu mau bicara tentang sesuatu yang direndam yang dimasukkan ke dalam cairan, seperti itu? Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, memang kata itu bisa merujuk ke situ. Memang Alkitab ada bicara mengenai kematian dan kebangkitan bersama dengan Kristus. Memang Alkitab bilang ada momen-momen di mana orang itu –seperti sida-sida dari Etopia itu– keluar dari air seolah-olah air itu begitu dalam dan dia direndamkan di dalam air itu, lalu keluar dari air itu sebagai satu mode dari baptisan. Tetapi, Bapak, Ibu, kalau lebih teliti membaca Kitab Suci, setiap kali Alkitab berbicara, “Kita mati dan bangkit bersama dengan Kristus” dan di dalam konteks baptisan, esensi dari kalimat itu bukan hanya berhenti di simbolisme: saya mati dan bangkit bersama Kristus saja. Tetapi semua ayat yang berbicara mengenai dibaptis, mati, dan bangkit bersama dengan Kristus itu punya esensi satu hal: semua orang yang percaya dalam Kristus dan dibaptis di dalam Kristus mulai hari itu adalah orang-orang yang sudah dimurnikan melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus! Kita punya dosa sudah dibersihkan! Hati kita sudah disucikan melalui pengorbanan yang Yesus kerjakan dalam hidup kita di atas kayu salib. Nah, ini membuat air yang digunakan menjadi simbol dari pembersihan atau pembasuhan itu. Itu yang pertama.
Yang kedua adalah pada waktu kita berbicara mengenai pembasuhan: prinsip dari pemurnian itu atau baptisan itu. Bapak, Ibu harus tanya begini, “Siapa yang pertama-tama menjalankan baptisan?” Yohanes pembaptis, kan? Lalu, selain dari Yohanes Pembaptis, pertama-tama yang menjalankan baptisan –Bapak, Ibu juga harus tanya lagi di zaman Perjanjian Baru– Yohanes Pembaptis itu keturunan siapa? Keturunan siapa? Lewi, kan? Lalu, kalau Bapak, Ibu tahu dia adalah keturunan Lewi, pertanyaan ketiga yang Bapak, Ibu harus tanyakan adalah: kira-kira Lewi –ketika menjalankan prinsip pembasuhan di dalam zaman sebelum Yohanes Pembaptis– pembasuhannya itu seperti apa? Misalnya: saya ingin menyucikan gelas ini atau cawan ini, maka cara saya bersihkan cawan ini bagaimana? Kalau perbendaharaan di dalam bait Allah, itu harus menggunakan darah. Kalau saya menggunakan darah, membersihkan cawan ini, bagaimana caranya saya membersihkannya? Mungkin dalam pikiran kita adalah, “Saya bawa baskom darah domba atau darah lembu. Masuk ke dalam kemah suci. Lalu saya ambil cawan ini, saya cemplungkan ke dalam darah itu. Saya keluarkan, maka dia sudah saya basuh.” Begitu? Betul, nggak? Jawabannya: tidak. Yang benar adalah Imam akan ambil hisop. Hisop itu dicelupkan ke dalam darah. Lalu hisop itu dipercikkan ke benda-benda yang mau disucikan. Itu caranya. Jadi, bicara tentang pembasuhan dalam Perjanjian Lama, bicaranya adalah menggunakan darah. Tetapi bukan barang dimasukkan ke dalam darah, tetapi darah yang diambil untuk dipercikkan kepada benda-benda yang disucikan. Nah, ini adalah hal yang kira-kira Yohanes Pembaptis paham, tidak? Kalau Yohanes Pembaptis paham, kira-kira dia akan menerapkan prinsip percik atau selam?
Lalu, hal yang keempat adalah pada waktu kita bicara tentang pembaptisan dengan menggunakan air, maka –ada kalimat yang tadi saya sebutkan, Bapak, Ibu ingat nggak?– saya membaptis engkau dengan air, dalam nama Allah Tritunggal dengan menggunakan air, sebagai apa? Tanda atau simbol dari atau melambangkan Roh Kudus turun ke atasmu. Bapak, Ibu, kalau, kalau kita bicara baptisan selam itu menggambarkan Yesus yang mati dan bangkit dari kematian, mohon tanya: menggambarkan Yesus yang, atau Roh Kudus yang membaptis, tidak? Saya kok ngerasa yang lebih tepat menggambarkan Roh Kudus yang membaptis itu adalah yang percik. Kenapa percik? Karena ketika Roh Kudus turun –seperti pada waktu Yesus selesai dibaptis– Dia turun dari atas ke bawah. Pengurapan itu adalah dari atas ke bawah, kalau orang menggunakan minyak.
Jadi, itu sebabnya –tadi kalau Bapak, Ibu tanya– mode baptisan itu seperti apa? Satu sisi orang Reformed mengatakan, “Ndak apa-apa, mau selam mau percik.” Bukan di situ esensinya. Esensinya adalah di dalam formula Allah Tritunggal. Tetapi, kalau Bapak, Ibu mau bicara ngotot-ngototan secara teologis, kita sangat mengerti sekali prinsip teologis dalam Kitab Suci ada sinkronitas dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, yang namanya pemurnian, pembersihan, pembasuhan adalah darah dibawa kepada benda dengan cara memercikkannya atau air dibawa kepada pribadi yang akan dibasuh dengan pemercikan atau tuang. Itu yang menjadi prinsip kita. Makanya, di dalam gereja kita, kita menjalankan prinsip baptisan melalui tuang atau melalui percik. Tapi, sekali lagi saya harus tekankan, bukan mode-nya yang penting, tetapi yang lebih penting adalah formula di dalam nama siapa kita di baptiskan. Itu yang jauh lebih utama.
Nah, saya kembali ke dalam bagian ini. Kalau sida-sida dari Ethiopia itu bertanya bahwa, “Lihat, di situ ada air, apakah halangannya jika aku dibaptis?” Ini seharusnya menjadi pertanyaan siapa? Saya lihat kalau kita betul-betul mengerti kita adalah milik Tuhan, maka itu harusnya menjadi pertanyaan kita: “Saya sudah dibaptis atau belum? Adakah halangan yang seharusnya menghalangi saya untuk dibaptis?” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, orang Kristen seringkali terlalu banyak pertimbangan. Kalau Bapak, Ibu baca surat Petrus. Surat Petrus adalah surat yang sangat lugas sekali untuk kita lakukan. Misalnya –maksudnya gimana? maksudnya– kalau saya mau diselamatkan gimana? Percaya Yesus! Kita kadang suka tanya, “Percaya Yesus itu maksudnya apa? Lalu bagaimana saya bisa percaya Yesus?” Dan segala macam. Intinya adalah: kalau mau diselamatkan, percaya Yesus! Kalau –misalnya, contoh lain– “Saya sudah percaya Yesus, lalu apa yang harus dilakukan?” “Baptis!” Kita suka lagi tanya lagi, kayak gini, “Baptisan di gereja apa, ya? Modenya apa, ya? Apakah harus selam? Harus percik? Saya mulai pikir. Pertimbangin segala macam, kayak gitu.
Orang Kristen harusnya kayak gini, “Kalau Yesus perintahkan saya dibaptis, saya harus baptis!” Itu namanya, “Saya mendengar perintah Tuhan yang lugas dan saya tahu sebagai orang Kristen saya harus menjalankannya.” Karena apa? Itu adalah perintah Tuhan! Nggak usah terlalu banyak pertimbangan, Bapak, Ibu. Begitu Tuhan bicara sesuatu –ikuti saya saya, ya. Saya ngomong dulu baru Ibu, Bapak ikuti saya– begitu Tuhan bicara, pasti benar! Ulangi, ya! Satu, dua, tiga: begitu Tuhan bicara, pasti benar! Kalau itu pasti benar, yang ketiga apa? Pasti harus saya lakukan. Itu tuntutan Tuhan! Kiranya Firman ini boleh menjadi berkat bagi kita. Sebenarnya masih banyak yang saya mau bicarakan, tapi waktu kita yang terbatas. Kita harus stop di sini.
