Merdeka Dari Penjajahan Dosa
Pdt. Nathanael Marvin, M. Th
Pada hari ini Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita akan membahas satu tema yaitu adalah merdeka dari penjajahan dosa. Ya, ini adalah suatu khotbah tematik, ya, dan kita akan membahasnya pada hari ini. Dan kalau kita ingat Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di dalam sejarah negara Indonesia. Negara Indonesia adalah salah satu negara yang dijajah bangsa lain itu sangat lama. Ada lagi negara yang paling lama dijajah oleh bangsa lain melebihi negara Indonesia, ya. Mungkin bisa ratusan tahun bahkan ribuan tahun, ada. Tetapi 350 tahun bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa lain itu sangat-sangat lama, ya. Dan itu dijajah oleh negara Belanda di mana negara Belanda juga dipengaruhi oleh teologi Reformed, ya. Belanda itu orang-orang Reformed, orang-orang Kristen, tetapi juga pada akhirnya menjelajah dunia dan akhirnya menentukan satu tempat di mana mereka mau mengambil keuntungan dari sumber daya alam di Indonesia ini untuk kepentingan mereka. Negara yang kecil tetapi bisa menguasai negara Indonesia yang begitu besar dan dalam ratusan tahun.
Meskipun kita tahu banyak kerugian yang terjadi, yang dialami oleh negara Indonesia, tetapi bukti bahwa negara Indonesia sendiri begitu dijajah, begitu lama, berarti ada unsur bagaimana negara Belanda sendiri belajar untuk memperhatikan rakyat yang dijajahnya. Kalau satu tahun saja sudah disiksa begitu rupa, pasti rakyat itu berontak. Rakyat Indonesia tidak akan bertahan selama 350 tahun. Itu berarti dari kakek, nenek, terus orang tua, anaknya ya. Terus anaknya anaknya, cicit dan lain-lain, itu hidup di dalam penjajahan negara Belanda. Bayangkan 350 tahun dijajah negara Belanda, kemudian tiga setengah tahun dijajah negara Jepang. Dari satu sisi kita bisa lihat begitu banyak sumber daya manusia dan sumber daya alam Indonesia begitu dikuras habis untuk kepentingan bangsa yang lain dan rakyat akhirnya menderita. Betul. Penjajahan itu membuat rakyat menderita, tidak bebas, dan diatur oleh bangsa lain. Tidak memiliki kedaulatannya sendiri. Tapi di satu sisi, Tuhan mengizinkan tersebut, sejarah Indonesia ada, itu pasti ada rancangan yang baik bagi orang-orang yang mengasihi Dia, bagi umat Allah.
Kita –bagaimanapun, ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian– meskipun hidup setelah penjajahan, tetapi dari penjajahan Belanda tersebut ada gereja-gereja yang muncul di Indonesia yang sebenarnya mayoritas gereja di Indonesia itu adalah aliran Reformed, aliran Calvinis. Aliran karismatik baru muncul itu tahun 1800 sampai 1900. Reformed muncul 1500 –tahun 1500-an ya– lebih dulu Reformed daripada Karismatik atau Pentakosta. Tapi sehingga kita bisa bertumbuh, bisa ada gereja di Indonesia, itu sedikit banyak juga ada peran dari orang-orang Kristen yang menjadi misionaris di negara Indonesia yang dijajah oleh mereka sendiri atau pun oleh misionaris-misionaris dari negara-negara Barat. Seperti itu, ya.
Di tengah-tengah penjajahan tersebut, akhirnya di waktu Tuhan, atas penentuan Tuhan, setelah 350 tahun kurang lebih, muncullah pahlawan-pahlawan Indonesia yang memperjuangkan hak nasional bangsa negara. Berbagai peperangan pun terjadi di wilayah Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan. Mereka sudah mengerti konsep merdeka. Mereka mengerti bahwa bangsa mereka adalah bangsa yang bisa memimpin bangsa mereka sendiri –yaitu bangsa Indonesia– sehingga banyak orang memperjuangkan kebebasan dari penjajahan bangsa lain dengan harapan dapat menjadi bangsa yang mandiri yang bisa mengatur rakyatnya sendiri dan juga mengelola sumber daya alam sendiri demi kepentingan negara, demi kebaikan bersama. Sehingga ada pergerakan nasional di berbagai daerah, tempat, di Indonesia. Sehingga ada persatuan. Terus, kemudian mereka membuat strategi bagaimana mengusir penjajah.
Ada usaha yang keras sampai akhirnya mendapatkan kemerdekaan bangsa. Puncaknya di dalam –pada tanggal, ya– 17 Agustus 1945 di mana Presiden pertama yaitu Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dan sekarang Indonesia sudah merdeka selama 80 tahun bebas dari bangsa lain. Kita punya kedaulatan sendiri, pemerintahan sendiri, dan bangsa sendiri. Meskipun berbeda-beda suku, tetapi satu bahasa. Meskipun berbeda-beda agama, tapi kita katakan, “Saya orang Indonesia.” Orang Islam mengatakan, “Saya orang Indonesia.” Orang Hindu mengatakan, “Saya orang Indonesia.” Orang Kristen mengatakan, “Saya orang Indonesia.” Dan inilah yang menyatukan kita: yaitu negara Indonesia.
Meskipun sudah 80 tahun Indonesia merdeka dari bangsa lain, tetapi musuh itu tetap ada. Musuh dari bangsa dan negara Indonesia yang kita hadapi bersama-sama tetap ada, yaitu apa, Bapak, Ibu sekalian? Musuh atau penjajah itu muncul dalam bentuk yang berbeda, yaitu kejahatan manusia. Ya, ini yang kita lawan. Kejahatan manusia di mata Allah adalah dosa, ya. Pelanggaran terhadap Allah dan juga menyakiti sesama manusia. Melawan perintah mengasihi Allah segenap hati, melawan perintah mengasihi sesama manusia, yaitu adalah perbuatan kejahatan. Ini yang kita lawan sebenarnya. Sebagai manusia yang sudah Tuhan ciptakan, kita punya kesamaan, punya anugerah umum bahwa standar hukum Taurat, standar hati nurani yang ada dalam hati kita itu menjadi suatu standar yang menyamakan kita bahwa kita harus memberantas kejahatan, memberantas atau menghindari dosa. Dan Indonesia masih hidup dalam permasalahan negara, yaitu seperti korupsi, kejahatan, ketidakadilan, maupun kekacauan yang terjadi.
Menjelang kemerdekaan Indonesia –Bapak, Ibu, Saudara sekalian– ada orang-orang di Jawa Tengah, sekumpulan orang –seratus ribu orang berkumpul– untuk menyerang kantor bupati di daerah Pati. Karena apa? Karena Bupati Pati mengatakan bahwa, “Naikkan PBB 250%! Kita kurang pendapatan untuk membangun daerah kita, kota kita.” Kota Pati, ya. Dan akhirnya 100.000 orang memberontak dan sampai akhirnya Bupati dari Pati, ya –Kota Pati tersebut– diturunkan karena apa? Nggak masuk akal. Menaikkan pajak 250%. Merugikan atau membuat rakyat Pati menderita. Masalah-masalah seperti itu pasti ada di dalam negara, ya. Ada ketidakadilan, ada peraturan yang semena-mena, tidak memikirkan kepentingan bersama, ada juga pemberontakan. Itu bagaimana 100.000 orang bisa berkumpul, satu hati, tidak setuju PBB naik 250%. Dan, itulah yang akan menjadi pergolakan seumur hidup di dalam suatu negara agar dapat menyejahterakan rakyatnya.
Dan sebagai orang Kristen –Bapak, Ibu, Saudara sekalian– kita pun diminta, Firman Tuhan– diminta Alkitab untuk, “Doakanlah bagi kesejahteraan di mana kamu berada.” Di kota kamu tinggal, di mana kamu ditempatkan oleh Tuhan. Kamu tinggal di Yogyakarta: jadi berkat di Yogyakarta. Jadi garam dan terang di sana. Gereja sebagai pusat cahaya itu memancar. Gereja mau menjadi berkat bagi sesama. Mendukung kebijakan negara yang baik yang untuk kepentingan bersama. Kita punya tanggung jawab sebagai warga negara menjadi warga negara yang baik.
Dan dari peringatan akan kemerdekaan Indonesia ini –setahun sekali kita pasti memperingatinya, bahkan pada tahun ini jatuh di hari Minggu. Ini anak-anak, semua, ya, –kalau ngobrol dengan jemaat Solo– itu anak-anak tuh upacara bendera dulu jam 06.30 pagi gitu, ya, baru mereka nanti bisa ibadah. Mereka upacara loh, ya hari Minggu upacara memperingati negara ini merdeka 80 tahun; memperingati perjuangan yang tidak mudah mencapai kemerdekaan bangsa.
Dan, sebenarnya kalau kita setiap tahun memperingati kemerdekaan bangsa, kita juga mengingat bahwa sebagai orang Kristen, sebagai orang yang sudah jatuh dalam dosa, kita pun sebenarnya sudah dibelenggu oleh dosa dan dijajah oleh dosa. Maka kita sebagai manusia itu harus mengingat bahwa tanpa Tuhan kita senantiasa dijajah oleh perbuatan-perbuatan dosa atau disebut sebagai Dosa. D-nya besar. Dosa itu apa sih? Kok bisa disebut sebagai “D”-nya besar? Dosa, ya perbuatan jahat, perbuatan yang melawan hukum Tuhan, ya. Perbuatan yang menyakiti sesama, perbuatan yang melanggar 10 hukum Taurat. Ya, relasi vertikal kepada Tuhan kita lawan secara tidak tepat. Relasi horizontal kepada sesama kita lawan juga secara tidak tepat. Tetapi, kenapa para teolog, ya, para teolog Kristen mengatakan, “Kita harus lawan Dosa!” D besar, ya, bukan D kecil, ya, tetapi D besar. Itu berarti apa? Ini suatu –seperti metaforanya adalah– seperti person, pribadi, dosa itu. Kenapa? Karena dia hidup. Dia bergerak. Dia akan menggerogoti kita. Kalau kita tidak melawannya, kita yang mati, kita yang akan terus dijajah oleh hawa nafsu dosa. Maka dari itu, sebagai orang Kristen yang sudah ditebus dengan darah Kristus, kita pun masih terus berjuang untuk melawan perbudakan dosa. Meskipun kuasanya itu sudah dimatikan oleh Tuhan.
Seperti, ya ibarat kalau dosa itu masih ada dalam hati kita, masih terus menjajah hati kita, belum ada Kristus, yang ada adalah dosa, ya. Diri. Yaitu kita dibelenggu oleh rantai besi yang begitu keras. Kita nggak bisa bebas. Nah, siapa yang bisa melepaskan belenggu besi itu? Yang begitu kokoh, begitu kuat itu? Hanya Kristus. Belenggunya dilepaskan oleh Kristus. Hati kita milik Kristus. Tetapi dosa itu terus menggoda kita untuk melakukan dosa.
Ya, iblis menggoda kita. Dunia yang berdosa menggoda kita untuk melakukan dosa. Kedagingan kita. Kita masih hidup di dalam daging pun kita bisa jatuh dalam dosa. Cuma kuasanya sudah Tuhan Yesus patahkan. Maka sebagai orang Kristen kita bisa katakan, “Kita sudah merdeka. Merdeka di dalam Kristus. Merdeka dari penjajahan dosa. Meskipun kita terus akan melakukan peperangan melawan dosa tersebut. Sama seperti negara Indonesia merdeka dari bangsa lain, tetapi ada musuh yang terus dihadapi oleh negara ini agar negara ini tetap bisa berjalan dan maju dengan baik, ya.
Dosa itu apa –Bapak, Ibu, Saudara sekalian–? Yaitu melawan perintah-perintah Allah. Hukum Allah adalah hukum yang baik. Dan ketika dilanggar, hal itu akan berdampak buruk bagi kehidupan kita. Maka, orang yang berdosa sebenarnya orang itu bukan saja melawan Tuhan, tapi melukai diri sendiri maupun orang lain. Maka, Alkitab mengatakan, “Adalah orang bodoh kalau mau terus melakukan dosa.” Pikirnya melakukan dosa itu senang, kenikmatan sementara, kedagingan. Tapi, itu akan merusak hidup kita dan menjauhkan kita terus dari Tuhan sendiri, Ya. Ada dosa berarti ada konsekuensi dosa dan hukumannya. Maka manusia yang berdosa akan selalu ada hukuman dosa yang terus menghantui kehidupan mereka.
Sebelum dalam Kristus itu, kita dibelenggu dosa. Kita selalu memiliki mimpi buruk dalam kehidupan kita. Hanya saja pada akhirnya, manusia berdosa mengabaikan mimpi buruk, mengabaikan belenggu dosa. Kita pikir itu, “Kita sudah bebas kok! Tanpa Kristus, kami bisa hidup. Tanpa hukum-hukum Tuhan, kami bisa memiliki mimpi-mimpi yang baik. Mimpi buruk nggak ada dalam hidup saya. Belenggu dosa, penjajahan dari dosa nggak ada. Saya bisa bebas sesuai dengan kemauan saya.” Padahal, kita tahu, ya, sebelum di dalam Kristus, kita tuh hanya bebas hanya melakukan dosa. Karena apa? Kita diperbudak oleh dosa. Di dalam Kristus, baru kita ada 2 pilihan, bisa taat melawan dosa atau jatuh ke dalam dosa, bisa tidak taat juga.
Kemerdekaan suatu negara dari penjajahan negara lain sebenarnya menggambarkan bahwa manusia juga butuh kemerdekaan dari penjajahan dosa. Jadi, ini sebuah hal di mana kita bisa mengingatkan atau menjadi jalan juga, kita bisa mengabarkan Injil kepada orang lain bahwa kita itu sebenarnya dibelenggu dosa. Kalau dibelenggu dosa, pasti ada hukuman dosa. Hukuman dosa adalah apa? Upah dosa adalah maut. Nah, bagaimana kita bisa bebas dari upah dosa, hukuman dosa, yaitu kematian yang kekal di neraka? Hanya bisa di dalam Yesus Kristus sebagai pahlawan iman kita, sebagai pahlawan yang mengalahkan penjajahan dosa.
Bangsa yang dijajah berarti apa? Kehilangan kedaulatan, kebebasan, dan martabatnya. Demikian juga manusia berdosa. Manusia berdosa dijajah dosa, maka kehilangan kedaulatannya. Kita nggak berdaulat dalam hidup kita. Ketika kita di dalam dosa, kita hanya bisa lakukan dosa. Kita juga nggak bebas. Kita dibelenggu oleh ikatan dosa dan kita juga bukan menjadi manusia yang bermartabat. Kita adalah manusia yang hina. Gambar dan rupa Allah itu sudah rusak dalam hidup kita dan kita menjadi manusia yang hina, tetapi banyak orang berpikir, ya-manusia berdosa- semakin berdosa, semakin mulia. Semakin berdosa, semakin dipuji orang. Itu semua adalah pemahaman yang salah.
Manusia yang berdosa dijajah oleh hati yang berdosa sehingga seluruh pikiran, hati, dan juga kehendak itu akan terus melakukan dosa. Maka, di dalam teologi reformed, kita mengenal total depravity (kerusakan total), tetapi bukan rusak total seperti setan yang tidak ada kebaikan sama sekali, tidak ada anugerah umum Tuhan sama sekali, tetapi manusia yang berdosa itu rusak seluruh hidupnya dan kecenderungan hidup kita akan terus maunya melakukan dosa, meskipun Tuhan kasih gambar dan rupa Allah. Masih ada sifat-sifat Allah secara anugerah umum atau wahyu umum di mana kita bisa berbuat baik kepada sesama manusia. Tetapi, manusia berdosa tidak bisa berbuat baik atau taat kepada Tuhan karena untuk bisa taat kepada Tuhan, untuk bisa mengenal Tuhan yang sejati hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus yang adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Di luar Yesus Kristus, kita tidak bisa apa-apa. Dalam arti apa? Melakukan hal yang baik di mata Tuhan. Tetapi di luar Kristus, kita bisa melakukan hal yang baik di mata manusia. Kita menolong sesama, tetapi sebenarnya untuk diri. Dosa, ya. Kadang-kadang begitu melawan Tuhan. Kita nggak kenal Tuhan kok. Bagaimana kita bisa berbuat sesuatu untuk Tuhan? Itu manusia yang berdosa. Tetapi, untuk kepada sesama, Tuhan kasih anugerah umum supaya kita bisa melakukan kebaikan di mata sesama. Tetapi di mata Tuhan, kita adalah orang yang divonis hukuman neraka. Di luar Kristus, vonis hukuman neraka itu ada. Itulah yang membebani kita. Untuk bisa merdeka dari hukuman neraka, hanya karena anugerah dari Tuhan Yesus, hanya bagaimana kita bisa percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
Nah, bagaimana agar manusia berdosa tidak dijajah lagi oleh dosa? Dosa itu kuasanya sangat besar. Para teolog mengatakan dosa itu seperti person yang terus menggerogoti kita. Maka, solusi dari dosa adalah Allah Yang Mahasuci. Allah Yang Mahasuci, di mana ada Allah di situ ada kemerdekaan dari dosa. Di mana ada Roh Allah bekerja, di situ ada kesucian Allah. Maka, kalau kita mau mengalahkan dosa, kita harus dekat dengan Tuhan, kita harus bergantung hanya kepada Tuhan saja. Hanya di dalam Yesus Kristuslah kita boleh merdeka dan bebas dari penjajahan dosa. Yesus Kristus memberikan kemerdekaan yang sejati pada orang-orang yang berdosa. Yesus adalah pahlawan kemerdekaan kita. Di luar Yesus, manusia tidak dapat memperoleh kemerdekaan yang sejati. Maka, di sini lah kebanggaan orang Kristen. Bukan kesombongan. Itu suatu hal yang menakjubkan kita. Kita ini merdeka. Bukan hanya secara bangsa, kita merdeka, tetapi hidup kita pun merdeka. Kita bebas dari belenggu dosa. Kita bisa memilih ketaatan kepada Allah, tetapi kita juga bisa jatuh ke dalam dosa. Kita bisa pilih yang salah juga karena keberdosaan kita ini, ya.
Alkitab mengatakan, Yesus datang untuk memerdekakan kita dari kuasa dosa dan kuasa maut. Ini adalah sukacita yang begitu besar. Tuhan angkat semua beban penjajahan itu dari hidup kita. Kita ringan. Kita lepas. Tetapi, setelah Tuhan angkat beban dosa itu, hukuman mati itu Tuhan angkat, Tuhan tanggung di dalam kematian Yesus di atas kayu salib, Tuhan kasih beban yang lain, yaitu apa? Salib. Salib kita sendiri. Di dalam kehidupan kita, kita sudah belajar, ya, di dalam kehidupan rohani orang Kristen itu ada 2 salib, yang 1 salib Kristus, yang 1 adalah salib kita, salib pengudusan.
Kalau hukuman mati itu sudah dilepas oleh Tuhan, sekarang kita dapat kuk. Kuk apa? Kuk yang enak. Kuk yang ringan. Yaitu apa? Taat. Taat itu enak. Taat itu ringan. Karena apa? Karena ada Roh Kudus dalam hidup kita. Maka, sadar atau tidak sadar, Bapak, Ibu, saudara sekalian, kalau kita sungguh-sungguh mau taat kepada Tuhan, itu tuh enak. Kita melakukan tugas yang seharusnya dilakukan oeh manusia. Kita taat, “Ingat dan kuduskanlah hari Sabat.” Tuhan kasih berkat. Tuhan kasih sukacita. Tetapi, badan capek. Apalagi, guru-guru sekolah Minggu, ya. Sebelum mengajar, mereka harus kelas persiapan dulu dengan hamba Tuhan. Mereka juga harus persiapkan aktivitasnya. Mereka harus baca firman Tuhan. Mereka harus siapkan pernak-pernik kalau kelas kecil, ya. Tambah alat peraga-alat peraga. Capek! Butuh waktu, butuh biaya, butuh dana, butuh pemikiran. Tetapi, apa? Enak! Sukacita Tuhan akan Tuhan berikan kepada kita. Karena apa? Karena kita taat. Itulah yang digantikan oleh Yesus Kristus. “Sekarang, hukuman mati di kematian kekal di neraka itu sudah Kutanggung. Sekarang, Kuberikan kuk yang enak. Hanya taat, pasti masuk surga di dalam Yesus Kristus dan keselamatan itu tidak akan hilang.” Yesus menjanjikan demikian. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya barangsiapa percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Kamu sudah dapat hidup yang kekal kok! Kurang apa lagi sih yang bisa Tuhan berikan untuk kamu? Kamu sudah pernah merasakan sukacita terbesar. Merdeka dari penjajahan dosa. Merdeka di dalam Kristus. Apa lagi sih yang kurang dari Tuhan sehingga kita masih terus mengeluh, meminta, marah, kecewa sama Tuhan? Hidup kekal saja sudah Tuhan berikan! Sekarang, Tuhan boleh dong tidak memberikan sesuatu yang kita inginkan, meskipun itu baik. Boleh nggak? Boleh! Namanya Tuhan berdaulat kok! Tuhan itu bebas. Tuhan merdeka dari segala sesuatu. “Tetapi kan yang saya minta baik, Tuhan?” Tetapi, kalau bukan kehendak Tuhan, kita harus nurut kan? Kita belajar untuk tunduk di hadapan Tuhan. Maka dari itu, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, sudahkah kita mengerti, ya, kemerdekaan yang Yesus berikan ini?
Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di Alkitab, ada seorang rasul yang sangat mengerti tentang kemerdekaan. Dia sangat mengerti, apa sih yang Yesus berikan kepada orang yang berdosa kepada umat pilihan-Nya, yaitu kemerdekaan dan kebebasan. Dan siapakah rasul itu? Dia adalah Rasul Paulus. Rasul Paulus disebut oleh orang-orang lain sebagai rasul untuk orang-orang non-Yahudi. Dia bebas melayani bukan hanya orang-orang Yahudi saja, tetapi bahkan fokusnya adalah kepada orang-orang non-Yahudi. Tetapi, dia juga disebut sebagai apostle of liberty (rasul kemerdekaan/ rasul kebebasan). Nah, kenapa demikian? Karena di dalam surat-surat Paulus sering kali menggunakan kata freedom atau liberty, bebas, membebaskan, atau memerdekakan. Mari kita lihat firman Tuhan dari Gal. 5:1. Kita baca bersama-sama, ya, salah satu tulisan dari Rasul Paulus, ya, tentang kemerdekaan Kristen. Gal. 5:1, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakankita. Karena itu berdirilah teguhdan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Di sini, Paulus katakan, ”supaya kita sungguh-sungguh merdeka.” Bukan merdeka yang kita rasa saja. ”O, saya sudah menjadi bangsa yang merdeka.” “O, saya merdeka kok tanpa Kristus! Saya bisa kok melakukan kehendak bebas. Saya punya free will. Mau ke kota mana, saya bebas. Saya mau lakukan apa, saya bebas.” Tetapi, supaya kamu merasa sungguh-sungguh merdeka, padahal apa? Kalau kamu merasa merdeka yang dari luar saja, di luar Tuhan, itu sebenarnya kamu belum sungguh-sungguh merdeka. Yang sungguh-sungguh merdeka adalah ketika Kristus datang untuk memerdekakan kita dari segala dosa. Nah, di sini Paulus menjelaskan bahwa keselamatan dalam Yesus Kristus itu bukan karena perbuatan baik kita, bukan karena usaha manusia, melainkan karena anugerah iman dari Tuhan Yesus Kristus, melainkan karena perbuatan Kristus.
Kita diselamatkan bukan karena doa kita, perbuatan baik kita, bukan karena kita jalankan hukum Taurat, bukan karena tradisi dari komunitas kita yang kita lakukan, tetapi kemerdekaan, keselamatan orang Kristen itu bebas dari semua perbuatan manusia yang berdosa. Kenapa? Karena kemerdekaan Kristen atau keselamatan Kristen itu adalah dari perbuatan Yesus Kristus di atas kayu salib. Kita diselamatkan karena anugerah, betul? Tetapi, anugerah itu bukan murahan, bukan tanpa ada logikanya, bukan tanpa ada jasanya, melainkan anugerah itu harus dibayar Yesus Kristus begitu mahal dan tidak bisa orang lain membayarnya, hanya Yesus Kristus saja yang bisa membayar atau memberikan anugerah tersebut. Maka itulah penebusan Kristus. Yesus menebus kita dari segala hukuman dosa kita. Yesus membayar upah dosa maut kepada Bapa.
Ini pernah juga ya menjadi suatu pemikiran atau diskusi. Kalau kita ditebus ya, kalau kita menebus barang di pegadaian, kan kita punya barang nih, ini milik kita, kita serahkan ke rumah gadai, trus barang itu akhirnya dimiliki oleh rumah gadai. Trus kalau kita punya uang, kita mau menebus barang tersebut kan? Nih saya bayarkan uang sejumlah perjanjian ke rumah gadai, barang itu jadi milik saya lagi. Nah, sekarang manusia berdosa itu sudah tertawan oleh dosa, ya tertawan oleh dosa, Yesus mati di atas salib menebus kita dari hukuman dosa kita. Yesus bayar ke siapa? Ada orang-orang Kristen mengatakan, “Yesus bayarnya ke setan dong.” Berarti setan itu berkuasa, setan itu punya apa, punya kuasa terhadap nyawa seseorang gitu ya? Dan bahkan Yesus kurang lebih, lebih rendah daripada setan, sehingga “Saya bayar ya setan, supaya manusia ini jadi milik-Ku.” Sebenarnya nggak ya. Setan itu milik siapa? Milik Tuhan. Manusia berdosa milik Tuhan, alam ciptaan milik Tuhan. Maka waktu Yesus mau menebus kita dari hukuman dosa, Yesus bayar ke siapa? Ya bayar kepada pemilik segala sesuatunya, yaitu kepada Bapa. Bapa murka terhadap manusia berdosa, sekarang Yesus mau menebus. Karena Bapa murka, semua manusia berdosa harus tertawan menjadi tawanan dosa, dan hukuman dosa yaitu upah dosa adalah maut, harus masuk neraka, sekarang Yesus bayar. “Saya akan tebus dosa, tebus umat pilihan, Saya akan menanggung neraka, Saya bayar upah dosa adalah maut kepada Bapa.” Itu adalah pembebasan yang Yesus berikan kepada kita.
Kita tuh bukan milik dari yang lain. Memang gambarannya ya, orang-orang yang belum dalam Kristus itu milik setan kan? Satu anak-anak Allah, satu anak-anak iblis, makanya Allah mengatakan anak-anak Allah nggak boleh menikah dengan anak-anak iblis. Nanti kalau disatukan jadi anak apa itu? Tetap beda, satu anak Allah, satu anak iblis. Tapi anak iblis di sini bukan berarti dia itu iblis memiliki hak hidup dari orang-orang yang berdosa, bukan. Anak-anak iblis berarti dia ngikutin jalan iblis. Ya, dia bukan sepenuhnya milik iblis, sehingga Allah nggak berkuasa untuk mengatur kehidupan orang-orang yang belum dalam Kristus. Allah itu berdaulat kok, Allah itu Mahakuasa. Nah dari sini kita bisa lihat bahwa Tuhan memberikan anugerah keselamatan begitu besar di dalam Kristus, itu adalah suatu anugerah yang membebaskan kita.
Paulus juga menjelaskan bahwa kita di dalam Kristus itu bebas atau merdeka dari perbudakan dosa. Jadi, kita sudah bebas dari penjajahan dosa. Dulu kita semua adalah hamba dosa, sekarang kita adalah hamba kebenaran. Tapi hamba kebenaran bisa melakukan dosa nggak? Tetap. Masih hidup dalam natur yang berdosa, tubuh kita berdosa, jiwa kita berdosa, tetapi kita juga memiliki kehidupan yang benar di dalam Tuhan. Kita bukan hamba dunia, kita bukan hamba hawa nafsu, tetapi kita adalah hamba Yesus Kristus, dan kita dimampukan oleh Roh Kudus untuk taat kepada Tuhan. Ini namanya orang merdeka. Orang merdeka berarti bisa melakukan firman Tuhan, ini ya merdeka dalam Kristus.
Bapak, Ibu sekalian, firman Tuhan apa yang paling kita sulit kita lakukan dalam hidup kita? Kalau dalam hati kita, kita katakan bahwa saya sudah sungguh-sungguh percaya Tuhan Yesus Kristus. Yesus juga saya sudah kasihi, saya sudah kenal, saya mau terus membaca firman dan berdoa, mengasihi Dia, maka tidak ada firman Tuhan yang tidak bisa kita lakukan. Semua itu bisa kita lakukan. Ya, terbatas tindakannya itu, efektif atau nggak ya. Efektif, efisien atau tidak. Semua firman Tuhan yang Tuhan perintahkan kepada kita, karena kita sudah menjadi orang yang merdeka, karena Roh Kudus juga memampukan kita, maka tidak ada firman Tuhan yang tidak bisa dilakukan oleh orang Kristen. Lalu kita pikir, apa yang paling sulit untuk kita lakukan di dalam ketaatan kita kepada Tuhan? Apakah ibadah minggu? Nggak. Orang non-kristen pun seminggu sekali bisa ibadah di tempat mereka beribadah, bahkan lebih, ya seminggu bisa tiga kali, mereka bisa persembahan begitu banyak, itu bisa kita lakukan. Ibadah minggu setiap minggu mudah, tidak susah. Baca firman setiap hari, mudah, nggak susah. Berdoa setiap hari, mudah, nggak susah, bisa kita lakukan. Karena apa? Kita bergantung pada Roh Kudus dan kita menyadari bahwa saya sudah merdeka kok, saya bisa taat kepada Tuhan karena apa? Pertolongan Roh Kudus bukan karena perbuatan kita ya, bukan karena kita mampu ya, tapi karena pertolongan Roh Kudus.
Nah, sekarang di dalam seluruh pertanyaan kekristenan, apa yang paling sulit kita lakukan bagi Tuhan? Adalah penginjilan, adalah perintah terakhir, wasiat terakhir, titah terakhir dari Tuhan Yesus Kristus yang adalah Raja atas segala raja, ketika di atas gunung Dia menitahkan kita untuk amanat agung: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Baptislah mereka dalam nama Allah Tritunggal dan ajarkanlah mereka segala sesuatu yang sudah Kuaajarkan kepadamu. Ingat, Aku akan menyertai kamu sampai akhir zaman.” Bisa lakukan? Bisa. Tapi bukan karena kehebatan kita, tapi karena penyertaan dari Yesus. Nah, penyertaan Yesus itu di mana? Yesus ada di surga kok. Bagaimana firman amanat agung itu ter-aplikasi di dalam kehidupan kita sekarang? Yesus sudah di surga, bagaimana Yesus mendampingi kita? Maka Yesus utus Roh Kudus untuk mendampingi kita, menyertai kita sepanjang zaman untuk bisa terus mengabarkan Injil. Jadi, bagi orang Kristen ketika diajak, “Ayo kita mengabarkan Injil, ayo humas, humas acara-acara gereja, ayo kita beritakan firman,” jangan bilang nggak bisa. Bilangnya adalah nggak biasa, ya kita nggak biasa maka perlu latihan. Bisa nggak? Bisa, tapi nggak biasa.
Kita lihat orang-orang yang bertobat ya, perempuan sundal, perempuan Samaria ya, yang suka selingkuh, yang hidup dengan laki-laki, banyak laki-laki. Dia ketika bertemu air hidup tuh, langsung ngapain? Langsung melakukan perintah Tuhan yang tersulit dalam kehidupan orang Kristen, kabarkan Injil. Kasih tahu apa yang Yesus lakukan kepadaku, Dia tahu semuanya tentang aku, Dia memberikan aku keselamatan. Perempuan Samaria itu kabarkan kepada orang-orang di kotanya, “Aku bertemu dengan Tuhan, Dia Juruselamatku.” Jadi, ketika kita katakan bisa nggak ke gereja hari ini? Pasti bisa. Pasti hari Minggu pasti bisalah. Kalau hari lain, ok lah ya, bisa ada toleransi ya, hari Rabu, hari Selasa ada acara dan lain-lain. Kalau hari Minggu pasti bisa nggak? Bisa. Apalagi gereja sudah di mana-mana. Andai pun, saya sering gambarkan ya, apakah firman Tuhan ini tidak berlaku bagi orang-orang yang ada tugas di militer, di hutan, di lautan gitu ya? Harus ingat dan kuduskanlah hari Sabat, bagaimana? Setidaknya andai sendirian ya, andai sendirian betul-betul sendirian, tapi kalau ada orang Kristen yang lain, ya kita sama-sama datang. Kita gereja. Gereja itu bukan gedungnya. Gereja itu adalah umat Kristen. Ayo kita doa sama-sama, kita kuduskan hari Sabat, kita ada baca firman, kita ada doa, kita ada memuji Tuhan, bisa. Sendirian pun kita bisa baca firman, kita bisa memuji Tuhan, kita bisa doa, bisa. Bukan nggak bisa. Semua itu bisa kita lakukan di dalam kekuatan Roh Kudus, karena apa? Kita sudah merdeka. Jadi jangan bilang lagi ya, nggak bisa, bisa, cuman nggak biasa. Bisa nggak jadi guru sekolah minggu? Bisa. Tapi masalahnya bukan panggilan Tuhan, itu aja. Saya bisa sebenarnya, tapi kalau Tuhan mengarahkan saya untuk melayani di bidang lain, selesai. Jangan pikir nggak bisa, nggak bisa gitu ya.
Bisa nggak semua orang jadi pendeta? Sebenarnya bisa, tapi beda panggilan kan? Beda panggilan lah. Kalau saya tidak dipanggil menjadi pendeta, ya jangan jadi pendeta. Kalau saya tidak dipanggil menjadi paduan suara, jangan jadi paduan suara. Tapi bisa nggak? Bisa. Roh Kudus memampukan kita, buah Roh itu ada di dalam kehidupan kita. Kita ini sama-sama orang Kristen sama-sama Roh Kudusnya, memang Roh Kudus yang sama itu beda gitu di dalam kehidupan kita dan orang lain? Sama kan? Maka firman Tuhan apa yang kita tidak bisa lakukan? Nggak ada, karena Roh Kudus sudah memerdekakan kita. Kita bebas melayani Tuhan, kita bebas untuk mengasihi Tuhan dengan cara kita ya dan dengan sesuai dengan panggilan dari kita sendiri.
Martin Luther di dalam tulisannya The Freedom of a Christian, dikatakan ya, orang Kristen adalah tuan yang merdeka atas segala sesuatu dan tidak takluk pada siapapun sekaligus hamba yang taat pada semua orang. Di satu sisi, kita merdeka, kita mau melayani Tuhan, kita giat mengerjakan pekerjaan Tuhan, tapi kita juga adalah pelayan yang melayani sesama kita. Maka di dalam kekristenan, meskipun kita bisa taat firman Tuhan, berbagai hal bisa kita lakukan, tetapi ada aturannya. Ya, kemarin ada satu seminar dari salah satu cabang GRII. Itu temanya adalah Love and Authority. Kalau hanya ada love tidak ada authority ya, tidak ada otoritas, maka kacau balau. Pokoknya semua mau melayani, ya kita kan mengasihi kan, nggak dilatih dulu, nggak terbiasa dulu melayani, langsung boleh melayani, semua nyanyi yuk semua. Nggak ada yang nonton ya. Ya tadi paduan suara, semuanya paduan suara yuk semua, kita kan mau melayani. Ya kalau cumacinta, nggak ada otoritas tuh nggak akan ada keteraturan. Tapi kalau hanya ada otoritas, otoritas, otoritas, maka nggak ada suatu hal yang penuh dengan kasih dan perhatian. Kita jadi orang yang otoriter, jadi kaku, semua kaku, nggak ada kasihnya gitu ya. Yang melayani berarti apa? Harus pianis yang mampu, terkenal. Pengkhotbah juga harus yang sekelas Pdt. Stephen Tong, nggak boleh yang junior gini ya, harus perfect. Nggak bisa lah. Kita ini manusia yang diciptakan sebagai anggota tubuh Kristus. Kita adalah orang-orang Kristen yang melayani sesuai panggilan Tuhan. Yang penting apa? Kita mau taat dan Tuhan yang memampukan.
Zaman dulu Bapak, Ibu, Saudara sekalian, saya juga menyadari ya ketika saya jadi orang Kristen sungguh-sungguh terus kemudian mau meresponi panggilan sebagai hamba Tuhan, saya bebas. Saya katakan kepada Tuhan “Saya bebas. Tuhan mau Tuhan pakai sebagai apapun saya bebas. Saya merdeka. Saya orang yang terserah Tuhan lah.” Terserah Tuhan ini merdeka ya, kalau terserah kita ini baru tidak merdeka. Terserah Tuhan bebas ya, kalau mau jadi hamba Tuhan silakan, kalau bukan juga nggak masalah. Yang penting apa? Saya mau taat Tuhan. Saya mau membalas cinta kasih Tuhan yang sudah Tuhan berikan di dalam Yesus Kristus yang mati buat hidup saya. Saya mau jadi apa pun bebas, nggak jadi apa pun juga nggak masalah kalau memang itu kehendak Tuhan. Tapi kalau di dalam pergumulan predestinasi itu ya gimana kalau kita sekarang percaya Yesus tapi ternyata kita ditetapkan masuk neraka gitu ya. Itu kan suatu pikiran yang tidak bebas sebenarnya. Kalau kita saat ini percaya pada Kristus kita pasti ditetapkan masuk surga, nggak mungkin masuk neraka. Jadi kita ketika kita sadar kita bebas, kita percaya Yesus, sudah, mati-matian untuk taat kepada Tuhan ya. Bukan dilihat manusia ya. Balik lagi kita ini relasi pribadi kita dengan Tuhan lah. Kita mau melayani Tuhan, kita mau mengasihi Tuhan dan itu akan tercermin dalam kehidupan kita kepada banyak orang kayak gitu ya. Maka ini ya hidup orang Kristen itu betul-betul bebas tapi ada cinta dan otoritas, supaya apa? Supaya pelayanan kepada Tuhan tuh teratur. Masa yang oke kalau saya, saya pintar ngomong, saya dosen S3 di kampus saya mau khotbah nggak bisa lah. Siapa ya, sudah terbiasa belum melayani, udah belajar belum sekolah teologi gitu ya. Saya bisa khotbah kok, bisa ngomong di depan banyak orang tapi bukan pendeta. Ya nggak bisa lah kan bukan panggilannya. Tapi bisa taat kepada Tuhan nggak? Bisa. Bisa memberitakan firman nggak? Tetap bisa. Ada prinsip umum yang bisa kita lakukan tetapi ada panggilan khusus yang Tuhan berikan kepada kita.
Nah, Westminster Convention of Faith menjelaskan bahwa ketika seseorang sudah merdeka dari penjajahan dosa atau perbudakan dosa, maka Tuhanlah jadi penguasa hati nurani kita. Tuhan jadi penguasa hati nurani kita. Tuhan jadi penguasa hidup kita dan akhirnya hati kita menuju kepada Kristus. Nah, inilah yang terjadi kepada orang-orang yang tadinya dibelenggu oleh dosa dan kemudian dibebaskan di dalam Yesus Kristus. Perempuan Samaria itu dosanya apa, Bapak, Ibu sekalian? Seperti dosa perumpamaan anak bungsu ya, yaitu antinomianisme atau anti aturan. Perempuan Samaria merasa bebas ketika dia anti aturan, tapi hidupnya juga penuh dengan kegalauan, kelemahan, kesalahan, guilty feeling ya, karena apa? Dia tinggal dengan cowok lain, tinggal lagi dengan cowok yang lain, tinggal lagi dengan cowok yang lain, berzinah. Tetapi ketika bertemu dengan Kristus, perempuan Samaria ini menjadi seorang yang merdeka dari hawa nafsu, dari sikap yang melawan hukum.
Kemudian Saulus menjadi Paulus itu dosanya apa, Bapak, Ibu sekalian? Saulus menjadi Paulus itu ya dalam arti panggilan Romawi ya. Saulus ini panggilan Ibrani, Paulus ini panggilan bangsa Romawi atau Yunani ya. Dia adalah seorang yang terjebak, terbelenggu di dalam dosa legalisme, “Kalau saya taat itu keselamatan saya terima, kebenaran saya terima. Saya dibenarkan dan diselamatkan karena perbuatan saya yang baik ini, bukan karena perbuatan baik Tuhan.” Dia sangat ketat menjaga hukum. Dia betul-betul bisa puasa, bisa doa. Ini di luar Kristus ya. Orang yang di luar Kristus tuh bisa puasa, bisa doa, bisa hafal banyak ayat, terus bisa juga giat bagi prinsipnya. Tetapi dia sebenarnya terbelenggu. Dia legalisme, bagi dia, seluruh hidupnya ini adalah berdasarkan jasa dia dan akhirnya Tuhan ubahkan juga.
Itu dari perempuan Samaria yang antinomianisme, Paulus yang legalisme ya, yang seperti anak sulung. Tapi ada juga seorang yang kita lihat merdeka dari dosa, yaitu adalah Zakeus. Zakeus ini saya pernah pikirkan ya ketika mempersiapkan khotbah ini, kira-kira Zakeus ini antinomianisme atau legalisme? Dia legal, legal kok. Dia kerja baik-baik, dia nggak bukan yang orang bebas nggak taat hukum ya, dia taat hukum tapi dia juga curi-curi uang gitu ya. Nah jawabannya adalah Zakeus itu materialisme. Kita orang-orang berdosa ya di luar Kristus tu ada isme-ismenya sendiri. Entah antinomianisme, legalisme, materialisme, ya, terus juga idealisme dan lain-lain. Tetapi di dalam Kristus kita dimerdekakan untuk bisa melihat dunia dengan cara pandang dari Tuhan sendiri. Akhirnya ketika Zakeus mengutamakan diri dan kekayaan, ketika bertemu dengan Kristus, dia tidak mengutamakan diri dan kekayaan, dia mau melayani yang lain.
Jadi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kemerdekaan Kristen itu membebaskan kita dari dosa dan membebaskan kita juga untuk melayani Tuhan dengan giat. Hanya ingat ya, ada hikmat, ada cinta, dan ada otoritas. Nggak bisa melayani Tuhan tuh sebebas-bebasnya kita. Misalkan ya, saya ini kerja di bank, saya seorang bendahara. Sekarang saya mau melayani Tuhan di gereja, saya jadi bendahara, ikut hitung uang persembahan, tahu semua keuangan misalnya. Ya nggak bisa lah. Ya kan katanya bisa melayani. Tunggu dulu ya, melayani Tuhan itu betul ya, Tuhan bebaskan kita untuk melayani. Cuman ada aturannya, ada keteraturan, ada kebenarannya, nggak bisa sembarangan orang ya. Biasanya kalau bendahara gereja ya itu kalau bisa seumur hidup, seumur hidup bendahara gereja dia ya. Diuji untuk bisa mengatur keuangan yang mengetahui keuangan itu seumur hidup nggak boleh ganti-ganti. Pendeta juga pokoknya kalau sudah betul melayani dengan setia ya sudah seumur hidup. Nanti kalau sistem dari gereja sudah mulai lebih berkembang nanti ada penatua, penatua awam ya bukan hanya penatua pendeta, tapi penatua awam, itu juga seumur hidup jadi penatua, penatua ya. Tapi bisa masa jabatannya ada penatua tidak aktif, ada penatua aktif itu terus bergulir ya.
Nah yang seperti itu Bapak, Ibu, Saudara sekalian itu semua diatur di dalam firman Tuhan. Firman Tuhan itu mengatur seluruh kehidupan kita supaya semuanya berjalan dengan tertib. Meskipun apa? Merdeka. Meskipun kita bebas melayani Tuhan, tapi ada aturannya. Harus tunduk pada otoritas misalkan ya. Otoritas dari Tuhan Yesus Kristus. Terus juga harus mengasihi sesama manusia.
Nah sekarang kita bebas ya di dalam ajaran atau perintah yang bahkan bertentangan dengan firman-Nya. Sekarang kan banyak kepercayaan-kepercayaan kita juga dipengaruhi ya. Pokoknya ada mitos-mitoslah, tradisi-tradisi yang harus orang Kristen lakukan. Padahal nggak ada, tidak diperintahkan Alkitab ya. Dan di dalam kehidupan di Alkitab itu juga dijelaskan misalkan ya yang pertama, “engkau bisa selamat asal disunat.” Ini kan suatu ajaran yang bertentangan dengan firman Tuhan. Tetapi dialami oleh para rasul maupun orang-orang Kristen pada waktu itu ketika mengabarkan Injil kepada orang yang bukan Yahudi. Eh percaya, Cornelius percaya dia bukan orang Yahudi, kamu harus disunat dulu misalkan, ya baru kamu bisa diselamatkan. Kamu menjadi orang Kristen yang sejati kalau disunat. Nah ini menjadi perdebatan yang sempat didiskusikan oleh konsili di Yerusalem pada waktu itu untuk membicarakan apakah orang-orang non-Yahudi yang percaya kepada Yesus Kristus perlu disunat atau tidak. Mana hukum yang memerdekakan yang sejati yang dari firman Tuhan? Nah ini sudah ditentukan bahwa syarat keselamatan orang percaya kepada Kristus itu nggak peduli sudah disunat atau tidak disunat ya. Keselamatan tidak tergantung sunat atau tidak sunat dan orang-orang non-Yahudi dibebaskan dan mengalami kemerdekaan, dibebaskan dari kewajiban hukum Musa sebagai syarat keselamatan. Karena banyak pada waktu itu orang-orang yang non-Yahudi tuh “Wah saya mau selamat, mau jadi orang Kristen tapi nggak selamat kalau belum disunat” gitu ya. Jadi ragu-ragu gitu kayak ada belenggu. Saya mau beriman pada Yesus, tapi harus syaratnya ini. Ada suatu hal yang membelenggu mereka. Tapi ketika dijelaskan oleh gereja dan juga sudah didiskusikan sudah nggak masalah. Mereka tuh lega, bebas. Itulah merdeka ya, dari suatu belenggu terus kemudian bebas. Maka Injil tambah perbuatan baik atau tambah tradisi itu bukanlah kemerdekaan. Kalau Injil tambah perbuatan baik kita ini dan itu, terus tambah lagi tradisi, itu bukan Injil yang sejati. Injil yang sejati adalah keselamatan hanya karena anugerah di dalam Yesus Kristus. “Barang siapa percaya kepada anaknya yang tunggal, dia akan selamat mendapatkan hidup kekal dan tidak binasa.”
Lalu juga yang kedua ada bicara soal makanan haram dan tidak haram Bapak, lbu sekalian ya. Ya mereka berpikir bahwa hanya orang Yahudi saja yang diselamatkan orang yang non-Yahudi tidak diselamatkan. Tapi pada akhirnya ketika Petrus mendapatkan penglihatan tentang makanan ya di Kisah Para Rasul, Petrus itu berdoa di atap rumah Simon penyamak kulit di Yope. Petrus merasa lapar, lalu ketika lapar di atas atap berdoa ya. Terus Tuhan kasih penglihatan, kain yang di situ adalah ada binatang-binatang yang dianggap haram oleh orang-orang Yahudi dan berkali-kali sampai tiga kali Allah mengatakan “bangunlah Petrus, sembelihlah dan makanlah.” Sampai tiga kali lalu kain itu terangkat kembali ke langit. Nah di sini kita bisa lihat bahwa Petrus disadarkan bahwa sudah lagi tidak ada yang haram dan tidak haram. Semua makanan itu baik dan Injil sudah disebarkan kepada seluruh bangsa. Ini namanya progressive revelation. Dulu Tuhan larang, sekarang Tuhan tidak larang, ikut yang mana? Dulu Tuhan larang, sekarang Tuhan tidak larang, ikut yang mana? Yang sekarang, yang lebih baru, yang lebih sudah jelas dinyatakan oleh Tuhan sendiri.
Maka di dalam hukum Perjanjian Lama itu yang dilarang dulu, yang sekarang sudah tidak dilarang, ada prinsipnya. Tuhan tuh nggak sembarangan ya, dulu boleh sekarang tidak. Dulu tidak boleh sekarang boleh, seenak-enaknya sendiri, bukan ya. Tuhan itu ada prinsip yang dulu dilarang sekarang boleh, itu apa? Itu bicara soal hukum-hukum yang sifatnya upacara. Hukum-hukum yang sifatnya upacara, hukum-hukum yang menunjukkan bahwa kamu tuh memiliki identitas sebagai bangsa pilihan secara lahiriah. Nah sekarang kan Injil sudah disebarkan kepada seluruh bangsa. Bangsa pilihan itu bukan hanya orang Yahudi, orang Israel, semua bangsa itu ada umat pilihan-Nya, ya bebaslah. Kita nggak akan menjadi seorang yang terkelompok lagi seperti zaman Perjanjian Lama seperti itu ya. Apa yang dikatakan halal oleh Allah tidak boleh dianggap najis, itu membebaskan lagi. Orang Kristen boleh ya makan segala sesuatu, boleh. Apakah itu membangun atau tidak, sehat atau tidak, memuliakan Tuhan atau tidak. Kita bebas ya dari mitos atau hukum tradisi ya. Dari tradisi kita bebas, dari makan-makanan kita bebas juga.
Yang ketiga adalah mitos atau takhayul. Dalam sistem penanggalan Jawa, kita tahu ya Bapak, Ibu, Saudara, ada hari baik dan ada hari tidak baik. Kalau menurut Tuhan semua hari baik, menurut Alkitab. Ada hari yang membawa pada celaka, atau musibah, ada hari yang membawa pada kesuksesan. Ini membebaskan atau mengikat sebenarnya? Oh ini hari baik misalnya, kita melakukan sesuatu di hari itu. Oh ini hari tidak baik, ya udah kita nggak boleh ni lakukan ini. Kalau hari ini hari tidak baik, tanggal 17 Agustus di hari Minggu misalkan, nggak boleh ke gereja, harinya tidak baik. Nah Bapa, Ibu, Saudara sekalian, ini kan mengikat ya. Sekali lagi ini mengikat.
Nah Bapak, Ibu, Saudara, kurang lebih seminggu lalu, saya sunatkan anak saya ya, umur 2 minggu, saya sunatkan. Ya tidak terlalu seperti Tuhan Yesus ya, Tuhan Yesus kan disunat umur 8 hari. Orang Yahudi itu rata-rata umur 8 hari ya ketika bayi itu nggak terlalu bisa merespons ya, sehingga tindakan sunat itu dilakukan dengan lebih mudah. Tetapi kalau semakin besar, bisa anaknya nggak mau, semakin besar juga semakin geraknya aktif, susah disunat. Apalagi zaman dahulu ya, orang Yahudi itu sunatnya bisa pakai pisau gitu ya, kayak motong daging ya. Dan itu kan menakutkan ya. Sekarang zamannya kita dengan operasi, gunting dulu, nanti diikat, nanti dijahit, seperti itu ya. Terus saya tanya ke petugasnya, hari ini yang jadwal sunat berapa bayi? Lalu dikatakan ada dua, tapi yang satu itu mengundurkan diri karena apa? Karena menurut penanggalan itu hari itu hari buruk. Wah berarti anak saya hari buruk dong, bisa celaka dan yang lain-lain. Akhirnya dia ubah jadwal begitu ya.
Sebagai orang Kristen kita nggak ada pantangan apa pun ya. Coba bayangkan ya, kita itu begitu bebas. Yang penting prinsipnya memuliakan Tuhan, segala sesuatu diperbolehkan apakah itu membangun atau tidak, memuliakan Tuhan atau tidak, kehendak Tuhan atau nggak ya. Jadinya kita bisa bebas. Jadinya sebagai orang Kristen, bukan berarti bebas itu merdeka itu boleh melakukan dosa. Bukan. Tidak. Justru bebas itu adalah kita diikat oleh sesuatu yang benar. Dan itu tidak mengikat kita. Kita diatur oleh sesuatu kebenaran firman Tuhan, yaitu Sola Scriptura; hidup kita ditentukan oleh perkataan Tuhan. Nah inilah yang menolong kita pada akhirnya bisa sungguh-sungguh menyadari kemerdekaan kita.
Kita tidak boleh menempatkan tradisi, mitos, takhayul, budaya, di atas Alkitab. Alkitab menjadi sumber kebenaran kita. Semakin kita terikat pada Alkitab, semakin kita terasa bebas. Tapi ketika semakin kita jauh dari Alkitab, kita semakin ada belenggu beban. Karena apa? Semakin kita terikat dengan firman Tuhan, Yesus katakan, “kuk yang Kupasang itu ringan, bebanKu pun ringan dan enak Aku berikan kepadamu.” Jadi kemerdekaan Kristen, kita betul-betul dilepaskan dari musuh-musuh, agar kita kita melayani Tuhan. Kemerdekaan Kristen membuat kita berpusat pada Yesus Kristus, berpusat pada kebenaran firman Tuhan. Kemerdekaan Kristen membuat kita memilih selalu yang lebih baik untuk Tuhan. Pilih terus yang baik, pilih terus yang benar, jangan pilih yang salah. Itu namanya kemerdekaan Kristen.
Dan kita lihat Bapak, Ibu, Saudara sekalian dalam Yoh. 8:34-36, kita baca bersama-sama firman Tuhan ini, “Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.”” Ini adalah perkataan Yesus sendiri ketika Yesus mau memerdekakan kita dari perbudakan dosa, kita sungguh-sungguh merdeka. Kita menjadi seorang yang mau dan rela, taat kepada firman tuhan. Dan ini menjadi satu hal peringatan bagi kita untuk bicara boleh tidak boleh. Dalam 1 Kor. 10:23-24, itu dikatakan oleh Paulus, “segala sesuatu diperbolehkan.” Wah ini menyenangkan kita ya. Oh boleh. Semuanya itu boleh. Tapi ada syaratnya. Berarti apa? Tidak segala sesuatu boleh juga. Jadi boleh dan tidak boleh bukan berarti kita itu merdeka atau tidak ya. Ketika kita merdeka, ada yang boleh, ada yang tidak. Dan kita pilih yang boleh sesuai kehendak Tuhan. Yaitu apa? Melayani Kristus sebagai kepala, sebagai pemimpin.
Ingat Bapak, Ibu, sekalian, kita adalah anggota tubuh Kristus. Kita berbeda-beda panggilan. Ada yang dipanggil secara khusus sebagai hamba Tuhan, sebagai bendahara, dan yang lain-lain, tetapi kita sama-sama sebagai umat Tuhan yang dipanggil untuk taat. Berarti kita bisa taat, hanya dipanggil dengan cara yang berbeda. Ada yang dipanggil sebagai tangan, ada yang dipanggil sebagai kaki, ada yang dipanggil sebagai mata, ada yang dipanggil sebagai telinga dan yang lain-lain tetapi kita sama-sama memiliki kemerdekaan untuk menyenangkan kepala kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus pemimpin kita.
Maka di dalam Kekristenan, kita bukan bicara soal mengikuti pemimpin yang otoriter, bukan ya. Kita mengikuti pemimpin yang sudah memberikan teladan yang begitu indah di dalam kehidupan kita yaitu melayani kita terlebih dahulu. Yesus datang untuk manusia yang berdosa. Yesus datang untuk melayani kita dan mengasihi kita. Nah maka dari itu, kita pun mau melayani dan mengasihi Kristus. Sekarang kita yang di dalam Kristus, kita sudah dibebaskan dari tradisi, kuasa-kuasa setan, godaan dosa, kedagingan, dan bahkan kematian kekal. Kita sudah lepas belenggu dosa, maka dari itu, kita mau menggunakan kemerdekaan kita bukan pada akhirnya memilih dosa, tetapi memilih Kristius, menaati Kristus.
John Owen menuliskan tentang Mortification of Sin ya. Dia katakan, “Be killing sin, or sin will be killing you.” “Bunuhlah, matikanlah dosa, atau dosa itu mematikan kamu.” Dosa akan melemahkan kita. Nah sebagai orang Kristen, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, tadi gambarannya adalah, kita dibelenggu oleh rantai besi dosa. Kita sudah dilepaskan kan, karena Kristus ya. Rantai besi itu sudah dilepaskan oleh Kristus. Nah pertanyaannya, rantai besi itu bisa lagi nggak mengikat kita, membelenggu kita? Ya? Bisa nggak? Kalau dalam konteks keselamatan ya. Di dalam konteks keselamatan itu rantai besi itu mengikat kita, kita belum selamat ya. Tapi setelah dilepaskan kita selamat. Itu bisa lagi nggak dirantaikan pada kita? Nggak bisa kan. Kita harus jawab nggak bisa dong, Apalagi kita belajar teologi Reformed, nggak bisa. Nah lalu waktu kita sudah terbebas begini, kalau pada akhirnya orang-orang Kristen itu hidup melawan Tuhan terus, itu namanya apa? Ya itu namanya apa? Itu berarti apa? Kita itu berarti menggunakan kemerdekaan kita untuk melawan Tuhan malah. Itu lebih jahat dibandingkan dengan orang yang masih terbelenggu dari dosa. Yang dibelenggu dosa itu masih belum bisa taat kepada Kristus, belum ada Kristus di hatinya. Nah sekarang kita sudah lepas, kita gunakan kebebasan kita ini untuk apa? Melawan Tuhan. Disuruh ibadah hari Minggu, nggak mau. Disuruh baca firman, nggak mau. Lalu kita dibiarkan terus menerus seperti itu, pada akhirnya Tuhan yang akan menghajar kita. Karena kita sudah umat pilihan ya. Tapi kalau akhirnya terus menerus sampai mati, itu berarti apa? Itu berarti sebenarnya belum dimerdekakan dari belenggu dosa.
Suatu hari nanti kalau kita terus menggunakan kemerdekaan untuk terus melawan Tuhan, terus berontak kepada Tuhan, Bapa yang baik itu menghajar anak-Nya untuk bertobat. Sekarang sudah bebas kok, gunakan kebebasan untuk lawan terus Tuhan, lawan terus orang tua, suatu hari nanti baru Tuhan tegur, tapi bertobatnya sudah telat. Ya sudah hidupnya penuh dengan pemberontakan, bukan penuh dengan kemerdekaan gitu ya. Maka dari itu balik lagi Bapak, Ibu, Saudara sekalian, sebagai orang Kristen, kita harus terus memperjuangkan untuk melawan godaan dosa. Dosa itu sudah diusir dari kehidupan kita. Penjajah dosa itu sudah kita usir, tapi penjajah itu masih mau terus menyerang kehidupan kita. Kita lawan, kita hindari, dan itu mencerminkan kehidupan kita yang merdeka di dalam Kristus. Kiranya Tuhan menolong kita untuk semakin menyadari kemerdekaan yang sudah Tuhan Yesus berikan kepada kita dan pada akhirnya kita mau melayani Tuhan, sesuai dengan panggilan Tuhan. Kita bebas melayani kok. Jangan keraskan hati kita, jangan buat aturan-aturan, pada akhirnya kita nggak melayani Tuhan ya. Pada akhirnya kita mau dipimpin oleh Tuhan sendiri, karena kita adalah orang yang merdeka di dalam Kristus. Mari kita sama-sama berdoa ya.
Bapa kami yang ada di Surga, ampunilah kami Tuhan atas segala dosa-dosa kami, jikalau kami sebagai orang Kristen tapi sering kali kami tidak menyadari kebebasan kami di dalam Kristus, kami tidak menyadari kemerdekaan kami yang sudah Tuhan Yesus berikan yang seharusnya kami gunakan untuk senantiasa lebih taat kepada Tuhan, lebih mengasihi Tuhan, lebih menaati Tuhan. Pimpin hidup kami supaya sebagai orang Kristen kami bisa terus kagum terhadap karya Kristus. Dan sebagai orang Kristen kami bukan sebagai orang yang sombong, tapi menjadi orang yang semakin rendah hati, mau melayani Tuhan dengan seluruh keterbatasan hidup kami. Tapi itu juga bukan berarti kami tidak mau hidup kami semakin melayani Tuhan dan berkembang lagi bagi kemuliaan Tuhan, ajar kami juga Tuhan untuk bisa terus bertumbuh, ajar kami Tuhan untuk bisa terus memiliki keinginan kerinduan untuk semakin dipakai Tuhan, dan pimpinlah hidup kami untuk dipakai melayani Tuhan dengan cara Tuhan sendiri. Kami mau menyembah Tuhan bukan dengan cara yang sembarangan, tetapi dengan cara-cara yang tepat sesuai dengan aturan Tuhan sendiri. Kiranya Tuhan terus pelihara iman kami, dan hidup kami sehingga terus bisa memuliakan nama Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup, kami sudah berdoa dan mengucap syukur. Amin.
