Teladan Paulus, 24 Agustus 2025

Teladan Paulus

Fil. 3:17-4:1

Pdt. Yakub Kartawidjaja

Puji Tuhan. Saudara-saudara sekalian ini adalah ayat sambungan dari seluruh pasal 3. Kalau Saudara melihat sebelumnya ya bagaimana Paulus itu menganggap segala yang ia pikir keuntungan dulu itu Saudara, kebanggaan dia sebagai Farisi yang sudah melakukan Taurat lebih dari orang-orang lain ya Saudara-saudara, dan dia juga bangga keturunan dari suku Benyamin orang Ibrani, asli segala macam Saudara-saudara. Itu semua dia anggap rugi karena pengenalan akan Kristus yang dia anggap jauh lebih mulia dari semuanya itu. Lalu dia bilang Saudara-saudara, ini ayat yang begitu luar biasa di ayat 13 “Aku melupakan apa yang telah di belakangku, dan aku berlari-lari mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku untuk memperoleh hadiah yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Nah barulah dia menasihati ini, bagian yang kita baca ya. Jadi orang Kristen itu tidak boleh diikat masa lalu, kita semua punya memori ya Saudara, memori yang baik, yang buruk, tetapi firman Tuhan melalui Rasul Paulus kamu harus maju terus Saudara. Orang Kristen pikirkan apa kehendak Tuhan bagimu, jalan terus Saudara-saudara, maju mengikuti Kristus, layani sesamamu itu. Ini nasihat nya.

Bagaimana supaya kita bisa maju mengikut Tuhan? Yang pertama Saudara-saudara kita melihat di sini, sebelum dia memberikan nasihatnya ini perhatikan di sini. Karena di dunia ini, itu yang Paulus tuliskan kita baca tadi, di dunia ini banyak hidup dia bilang, yang hidup sebagai musuh Kristus ya kan. Pikiran mereka itu sangat duniawi dan mereka semua pasti binasa. Itu Paulus sudah tuliskan begitu, jangan ikut teladan orang-orang ini ya kan. Menangkan mereka bagi Kristus ya, kalau di ayat-ayat yang lain pasti itu Saudara ya kan, tapi kamu jangan ikut teladan mereka tapi ikut teladan Paulus. Itu yang saya mau khotbahkan pagi ini, apa sih teladan dia? Karakter dia itu apa untuk kita menjadi orang Kristen yang sejati ya kan.

Sebab kita semua, dia bilang, adalah warga surga ya kan. Meskipun kita semua adalah orang Indonesia tapi jangan lupa kita itu punya dua kewarganegaraan. Kita harus lebih taat kepada surga Saudara-saudara, yang rajanya adalah Kristus Yesus, kita adalah anggota kerajaan Dia, warga surga. Dan kita ini, dia bilang, Saudara di bagian yang kita baca, sebagai warga surga itu kita sedang menantikan Kristus datang kembali ya kan. Di mana nanti satu hari tubuh kita yang lemah ini, dia katakan, akan dirubah serupa dengan tubuh Kristus yang mulia itu. Itu sebabnya, dia bilang, atas semua ini setelah kamu ikut teladanku jangan ikut mereka yang tidak mengenal Tuhan, nantikan Kristus datang dan nanti tubuh kita akan diubah seperti tubuh Kristus, itu sebabnya kamu harus berdiri teguh. Saudara, itu nasehat tidak pisah dari yang lain. Lupakan yang sudah di belakang kamu berdiri teguh, maju terus mengikut Tuhan.

Saya mengajak Saudara merenungkan tiga karakter Kristen yang sejati yang dinasihatkan oleh Rasul Paulus di sini. Siapa itu orang Kristen yang sejati dia bilang? “Ikutlah teladanku“, kita harus mempunyai karakter yang mengikut teladan Paulus yang sudah mengikut Kristus. Itu poinnya Saudara. Jadi dia bilang di ayat 17, “Saudara-saudara semua”, dia bilang kepada kita orang-orang Kristen “Ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka juga yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladan”. Jadi dia tidak sombong Saudara. “Cuma ikut saya”. Tidak! Tapi juga teman-teman seperjuanganku yang pada waktu itu adalah Timotius, Epafroditus ya, sama. Semua orang yang mengikuti Kristus, ikutilah teladan mereka. Ya, jadi luar biasa Paulus, ya. Tapi kita berfokus kepada teladan dia ya Saudara.

Di dalam bahasa aslinya, “ikutilah teladanku” ini secara harafiah artinya Saudara, “jadilah rekan peniru dengan saya”. Jadi setiap orang itu Saudara, membutuhkan seseorang untuk menjadi contoh di dalam hidupnya ya. Kita melihat panutan untuk menjadikan kita teladan hidup kita. Manusia memang dicipta seperti itu. Manusia dicipta dengan kapasitas untuk meniru. Sehingga kita belajar dengan meniru Saudara. Mengobservasi ya, kita belajar di situ. Kita adalah makhluk peniru. Dan di sini Paulus menasihati jemaat Filipi dan kita semua sekarang untuk meniru cara hidup dia. Ikuti teladan, tiru cara hidup saya.

Ini mendorong kita untuk meneladani dua hal paling tidak yang bisa saya angkat dari teladan hidup Paulus. Yang pertama, di dalam poin 1 ini ya, ikut teladan dia, yaitu fokus hidupnya kepada Kristus. Itu luar biasa Saudara. Orang Kristen, Saudara, harus didominasi pikirannya untuk berpikir siapa Kristus. Itu di dalam surat-surat dia Saudara, banyak sekali. Dan di sini Paulus mendesak kita untuk membaktikan segala aspek dalam hidup kita kepada Kristus. Karena Dia yang telah menyelamatkan kita. Saudara sekali lagi, setiap minggu kita berkumpul di ruang ibadah ini ngapain Saudara? Untuk kita mengingat Kristus. Dia yang sudah menyerahkan Diri-Nya dan bagaimana kita bekerja di dalam hidup kita seumur hidup untuk dedikasikan hidup kita? Hanya satu, Kristus Yesus. Jangan lupa fokus kita Saudara. Kita tidak diperintahkan untuk meniru pola hidup sehat dari Paulus. Tidak Saudara-saudara. Atau bagaimana cara bicara Paulus kita tiru? Tidak juga. Atau bagaimana cara jalan Paulus? Tidak. Tetapi kita dinasihatkan untuk meniru bagaimana nilai-nilai Injil yang sudah merubah hidup dia Saudara. Nanti pulang ke rumah baca lagi pasal 3 yang sebelumnya ini. Paulus berkata “Hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus.” Orang Kristen tidak bisa hidup di luar Injil Kristus, kamu harus berpadanan. Ini bukan hanya berubah luarnya saja kelakuannya. Bukan. Tapi juga yang paling penting adalah mindset dia, konsep pikir dia, semua nilai-nilainya berubah. Seperti yang sudah saya singgung tadi, apa yang dulu saya pikir untung, sekarang saya anggap rugi. Karena apa Saudara? Perbandingan satu, karena pengenalan akan Kristus. Selalu fokusnya dibawa ke situ. Itu jauh lebih mulia daripada semua itu.

Apa fokus kita Saudara dalam hidup? Pikiran kita, hati kita, jiwa kita harus meniru Paulus yang fokusnya cuma satu yaitu Kristus Yesus. Dia mendorong kita untuk berfokus kepada Kristus. Yaitu Paulus sendiri yang sudah bertobat dan dirubahkan oleh Tuhan Yesus. Dia ingin kita mengikuti teladan dia yang sudah mengikut Kristus, itu luar biasa. Dia menuliskan di dalam banyak suratnya. Saya ambil hanya beberapa contoh saja. Misalnya di dalam Fil. 1:21. Ini dalam surat Filipi saja yang kita renungkan. Dia berkata apa? Satu kalimat yang begitu terkenal Saudara, ingat di dalam pikiran kita “Hidup adalah Kristus.” Hidup adalah apa Saudara? Kristus. Mati adalah keuntungan. Kita kalau mau mati tenang Saudara, hidup untuk Kristus di dunia ini. Ya kan Saudara-saudara? Hidup itu adalah Kristus, bukan hidup saya untuk Kristus. Bukan. Saya hidup, saya menampilkan Dia di dalam hidup saya. Karena Dia yang hidup di dalam diri kita. Ya jadi banyak surat Paulus menjelaskan itu, tapi hidup adalah Kristus. Karena saya bisa hidup because of Him Saudara. Saya bisa hidup karena Dia mati untuk saya dan sebagainya Saudara. Hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan.

Di dalam Fil. 3:7-8. Dia berkata begini, saya kutip kalimat dia. “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Aduh luar biasa. Apa hal di dunia ini Saudara dibandingkan dengan pengenalan kepada Yesus Kristus, dianggap sampah semua. Supaya aku mendapat Kristus. Jadi pikirannya itu dia mau isi terus makin mengenal Kristus, sehingga pekerjaannya makin maju dalam dunia. Fil. 3:10. “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya

Jadi hidup Paulus ini, yang tadinya begitu pentingkan duniawi, hal-hal lahiriah, sekarang sudah berubah 180 derajat. Yang tadinya fokusnya kepada diri, kebanggaan diri, sekarang fokus kepada Kristus dan komitmen dia tertuju kepada pertumbuhan rohani Jemaat Filipi. Itu Saudara hebatnya. Orang yang fokus kepada Kristus, dia mementingkan orang lain. Karena Kristus juga begitu Saudara. Jadi Saudara, kalau kita fokus kepada diri, kita pentingkan apa yang menjadi keuntungan diri. Tapi kalau kita hidupnya fokus kepada Kristus, kita mau melayani orang lain. Itu Paulus benar-benar memberikan contoh. Dia bilang Saudara, di pasal sebelumnya “Sekalipun aku ingin pergi dan menetap dengan Kristus, itu jauh lebih baik.” Jadi dia, Saudara, sebagai orang yang berfokus kepada Kristus, ingin cepat mati, ketemu dengan Kristus, itu jauh lebih baik. Tetapi, dia bilang, lebih penting saya tinggal di dunia ini, itu lebih perlu bagi saya. Tapi kita harus tahu Saudara, kenapa dia mau tinggal di dunia? Demi kamu. Coba lihat Saudara, orang yang fokusnya kepada Kristus mau hidup di dunia ini demi kamu, Jemaat Filipi. Supaya kamu makin maju dan bertumbuh dalam imanmu. Itu sebabnya saya ingin tetap hidup di dalam dunia.

Saudara tanya saja kepada dirimu. Coba introspeksi diri, kalau saya hidup di dunia sudah tidak jadi berkat buat orang lain, apakah tidak lebih baik mati saja? Saudara siapa berani berkata begitu kepada Tuhan? Betul tidak? Paulus tetap ingin hidup di dunia ini. Dia memang fokusnya kepada Kristus. Tapi dia ingin hidup itu berguna gitu. Untuk apa dia hidup? Dia bilang, supaya kamu, demi kamu, supaya kamu makin maju, bertumbuh di dalam imanmu, saya mau tetap hidup. Meskipun saya ingin cepat bersama Kristus. Dua itu desak terus hati dia. Itu orang rohani Saudara, orang yang saleh, orang yang fokus kepada Kristus. Ini orang Saudara, luar biasa. Apa pun yang dia kerjakan selalu demi keuntungan Kristus, kita mau meniru dia di dalam aspek ini Saudara. Fokus kepada Kristus.

Dan kedua di dalam poin pertama ini Saudara, ikut teladan Paulus di dalam perjuangan dia di dalam mengejar Kristus. Itu luar biasa Saudara. Paulus mengaku sendiri setelah ngomong “aku melupakan yang di belakang”, segala macam Saudara, “aku lari ke depan”, “aku juga bukan orang sempurna”, dia kasih kita Saudara semua faktanya. Tetapi dia Saudara, berjuang untuk melupakan apa yang telah di belakang dan fokus kepada apa yang di hadapan. Yaitu apa Saudara? Panggilan surgawi di dalam Kristus. Jadi kalau kita menjadi orang yang selalu ingat jasa, selalu pentingkan jasa Saudara, ingin berbuat apa pun ingin dilihat orang, ingin diingat orang, ingin dipuji orang, salah Saudara. Jadi kita menjadi orang yang selalu ingat jasa pasti susah hidup menjadi teladan. Saya sudah melayani Tuhan begitu giat, kenapa saya masih diizinkan sakit? Saya sudah jasa, Tuhan ingat dong jasa saya, melayani Tuhan sudah begini giat, jangan kasih saya penyakit, kasih saya kelancaran, kesehatan. Saya rasa Saudara, tidak ada pelayan Tuhan segiat Paulus.

Tadi kita sudah bacakan bertanggapan, ya “tapi aku kerja untuk Tuhan seperti orang gila. Tidak ada bandingannya.” Itu bukan dia menyombongkan diri Saudara, soalnya faktanya memang demikian. Itu sebabnya saya berani berkata Saudara, tidak ada pelayan Tuhan segiat Paulus. Luar biasa! Kapal karam, didera, dicambuk, jalan terus demi Injil, Saudara-saudara. Dia melayani Tuhan itu tidak ada hitung untung rugi sendiri. Rela korban itu seperti Kristus yang dia fokuskan hidupnya itu, Saudara. Bahkan nyawanya sendiri dia rela berikan.

Tapi, ketika Paulus berdoa sungguh-sungguh supaya durinya diangkat, Saudara, Tuhan tidak kabulkan. Kemungkinan besar duri itu adalah penyakit dia, Saudara. Kita tidak jelas penyakit apa. Mungkin punggungnya, mungkin matanya, Saudara-saudara. Tapi dia berdoa, “Tuhan, tolong sembuhkan saya supaya saya bisa lebih giat melayani-Mu.” ”Salah”, Tuhan bilang. “Kalau saya ambil penyakitmu, kamu akan jadi sombong.” Itu, Saudara. Makanya Tuhan tidak kabulkan. Tuhan bilang, ”Cukup kasih karunia-Ku bagimu.” Itu kalimat yang luar biasa. Menghibur kita semua, Saudara, khususnya yang di dalam kelemahan tubuh, ya, Saudara, di dalam kesulitan, di dalam kekhawatiran. Tuhan berkata kepada kita semua, ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu. Justru di dalam kelemahanmu lah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Tuhan tahu, “Justru dengan penyakitmu itu, Paulus, kamu bisa melupakan apa yang di belakang dan fokus hidupmu maju ke depan untuk terus setia melayani”. Itu semua berkaitan dengan ketahanannya, Saudara, di dalam penderitaan yang dialami di dalam melayani Tuhan.

Orang yang berjuang maju akan melupakan dirinya. Saudara, ingat kalimat Yohanes pembaptis: “Biarlah Kristus makin besar dan aku makin kecil.” Jangan lupa, Saudara, kalimat keduanya. Jangan cuma membesarkan Kristus tapi kita nebeng besar juga, Saudara. Tidak, Saudara! “Besarkan Kristus tapi saya lupakan diri saya.” Itu attitude yang benar, Saudara. Karakter luar biasa dari rasul. Jadi, Saudara, dia berjuang maju, melupakan diri yaitu Kristus yang dia kejar. Dia tidak ingat jasanya. Asal Kristus dipuji, asal Kristus dimuliakan, asal Kristus dikenal oleh orang lain, dia tidak hitung untung rugi sendiri, dia tidak hitung jasanya dia. Lupakan yang sudah di belakang itu, Saudara. Dia tidak mengasihani diri karena dia tahu Kristus sudah memberi belas kasihan kepada dia waktu dia masih berdosa dengan Kristus mati di kayu salib. Itu sudah cukup. Sekarang dia mau mengejar apa yang Tuhan pimpin di hadapannya. Itu sebabnya, Saudara, ini berhubungan dengan daya tahan Paulus terhadap penderitaan-penderitaan yang luar biasa terjadi dalam hidupnya. Dia tidak terus mengingat apa yang sudah dia kerjakan tapi apa yang sudah Kristus kerjakan untuk dia. Paulus berkata, “Lupakan apa yang di belakang, fokus ke depan.”

Meskipun demikian, Saudara, kita tahu dia bukan orang sempurna. Dia sendiri yang mengatakannya kepada kita. Paulus sama seperti kita. Sesama pengembara di jalan menuju kesempurnaan rohani yang luar biasa, Saudara. Dan dengan demikian menjadi teladan bagi semua orang percaya untuk diikuti. Tiga puluh tahun setelah pertobatannya, dia masih menganggap dirinya sebagai orang paling berdosa. Itu dicatat di dalam 1 Tim. 1:15. Seandainya Paulus sempurna, dia tidak akan bisa menjadi contoh yang bisa diikuti oleh setiap orang percaya. Kita perlu mengikuti seseorang yang tidak sempurna sehingga kita bisa melihat bagaimana mengatasi ketidaksempurnaan kita. itu sebabnya setiap kelemahan daripada rasul itu dicatat. Bukan supaya kita sombong, Saudara. Mau Petrus, juga sama: menyangkal Tuhan tiga kali. Tapi supaya kita bisa belajar bagaimana berani menyangkal diri ikut Tuhan. Sama seperti Paulus, dicatat banyak kelemahannya, Saudara.

Kita bisa mengikuti seseorang yang dapat menunjukkan kepada kita bagaimana menangani pergumulan hidup, menangani kekecewaan kita, pencobaan, kekhawatiran di dalam hidup kita. Kita ingin meneladani seseorang yang bisa menunjukkan kepada kita bagaimana menangani kesombongan, bagaimana menangani godaan, bagaimana mematikan dosa dan hidup suci bagi Kristus. Setiap kita butuh contoh rohani untuk menjadi teladan untuk mengikut Kristus, baik itu orang tua, baik itu teman-teman kita, guru-guru sekolah minggu, penatua, pendeta, Saudara. Kita bisa membaca biografi tokoh-tokoh rohani di dalam hidup rohani mereka. Bukan tanpa kelemahan, Saudara, tapi bagaimana mereka berjuang setia di dalam iman. Tetap setia melayani Tuhan sampai seumur hidupnya.

Firman Tuhan mengajarkan: kita butuh mencontoh orang lain yang mengikut Kristus untuk menjadi teladan kita, yang hidupnya saleh serupa Kristus. Kita butuh orang seperti ini di dalam Kekristenan. Meskipun tidak sempurna –firman Tuhan mengatakan begitu– tapi punya sesuatu nilai di dalam hidupnya. Seperti Kristus, Saudara. Tiru sifat yang mirip Kristus itu di dalam diri orang lain. Apakah ada yang kita ikuti, Saudara, di dalam hidup Saudara? Adakah teladan hidup bagi Saudara? Apakah ada jejak yang kita tinggalkan juga untuk orang lain ikuti? Kita butuh Paulus yang mewariskan kepada kita nilai-nilai kerohanian. Dan kita juga butuh seseorang seperti Timotius, seperti Epafroditus, Saudara. Pengorbanannya, kesetiaannya mengikut Tuhan, mereka semua mewariskan kepada kita. Yang pertama, Saudara:  fokus mereka hidup kepada Kristus Yesus tidak tertandingi. Jiwa pengorbanan untuk kepentingan orang lain tidak tertandingi. Kesetiaan mereka, Saudara, meskipun ikut Kristus harus sangkal diri, pikul salib, tetap setia.

Kiranya Tuhan menolong kita mendapatkan karakter Kristen yang sejati yang pertama ini, Saudara, dengan meniru teladan hidup orang-orang rohani. Mereka mungkin masih hidup atau yang sudah meninggal, Saudara, Tetapi menjadi contoh yang menguatkan kita untuk terus maju mengikut Kristus, mewariskan nilai-nilai Injil yang kita terima kepada generasi selanjutnya di dalam penantian kita akan kedatangan Kristus. Itu yang pertama, Saudara, “Ikutilah teladanku!”

Karakter Kristen sejati yang kedua, Saudara, yang ingin kita bahas dari Surat Paulus yaitu hati-hati terhadap kesesatan. Di ayat 18: “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus.”  Di sini nasihat Paulus yang kedua sebagai karakter Kristen yang sejati: waspada terhadap kesesatan, Saudara. Kita segera melihat kenapa Paulus begitu mendesak untuk jemaat Filipi melihat dirinya itu sebagai teladan: “Karena banyak di antara kamu yang hidup sebagai musuh salib Kristus!” Saya tidak tahu, ya, Saudara, bagaimana teman-teman di kantor, di pergaulan Saudara? Waspada terhadap kesesatan! Di medsos, segala macam, Saudara-saudara. Tetapi di sini, banyak hidup sebagai musuh salib. “Itu sebab tetap ikut teladan saya!”, Paulus bilang begitu.

Mereka mungkin adalah misionaris, Saudara. Mereka mengaku Kristen. Mungkin mereka adalah mantan daripada anggota Filipi. Mantan, Saudara, anggota gereja Filipi. Filipi itu adalah tempat yang kecil, ya. Kemungkinan besar orang-orang ini terus kontak dengan sebagian besar jemaat Filipi, Saudara. Tetapi pengaruh apa yang mereka dapatkan? Kalau pengaruh baik, itu bagus, Saudara. Tetapi kalau mereka pengaruhi yang jahat, itu bahaya sekali. Mereka punya karakter yang berlainan dengan Paulus. Mereka malah tidak mau orang percaya itu bertobat, Saudara.

Paulus berkata, “Dengan air mata aku berkata kepadamu, banyak orang hidup sebagai musuh salib!” Jadi, Paulus itu merasa dirinya dirugikan, Saudara, Jikalau kita ikut teladan Paulus, kita pasti merasakan yang sama seperti Paulus. Secara letter leterlijk, Saudara, Paulus tuh berkata begini, “Aku bicara tuh sambil nangis, mencucur air mata.” Berarti ada air matanya saat dia mendiktekan surat ini. Kenapa orang-orang yang pernah mengaku bertobat sekarang jadi musuh salib? Itu konteksnya, Saudara. Ini kelihatan dari gaya hidup mereka. Mereka menolak semua penderitaan yang berpusat kepada salib. Ingat, Saudara, di dalam Fil. 1:29, “Kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, tetapi juga untuk menderita bagi Kristus.” Jangan lupa, kita semua dipanggil untuk pikul salib, Saudara. Tapi mereka tidak mau. Bagi mereka itu semua kebodohan, Saudara.

Dan Paulus menggambarkan karakter musuh salib ini dengan ekspresi singkat yang mengerikan. Di ayat 19, “Kesudahan mereka ialah kebinasaan.” Lalu lebih detail lagi, Saudara, “Tuhan mereka ialah perut mereka.” Jadi ini bukan orang yang doyan makan, dia terus-menerus makan saja, Saudara. Tapi ini juga dengan nafsu: seksual, segala macam, Saudara, tapi sangat lahiriah. Kemuliaan mereka ialah aib mereka. Pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. Jadi, musuh-musuh salib ini punya akhir apa –Paulus katakan– Saudara? Kebinasaan sedang menanti mereka! Orang-orang ini mungkin wajah dan nama-nama yang akrab dan bahkan mungkin dicintai oleh jemaat Filipi. Tapi pada hari penghakiman itu mereka akan dilempar ke dalam api yang kekal. Binasa.

Berapa banyak orang-orang yang bersentuhan dengan kita setiap hari memiliki nasib seperti ini?  Coba, Saudara tuh bisa introspeksi diri. Saudara ditempatkan Tuhan di mana –saya tidak tahu– berapa banyak orang di sekeliling Saudara punya nasib binasa? Saya mengajak kita merenungkan: apa gambaran ini ada di dalam diri kita, Saudara? Yang pertama: perut mereka itu adalah Tuhan. ini satu nafsu, satu hasrat yang besar, yang secara anatomis mengacu kepada perut, Saudara. Memang. Ini menggambarkan semua keinginan sensual, kedagingan, tubuh yang tidak terkendali, nafsu itu, Saudara. Guru-guru palsu itu dikecam karena mereka tidak menyembah Tuhan, tetapi tunduk kepada dorongan-dorongan sensual yang tidak terkendali ini.

Yudas menggambarkan orang-orang seperti ini sebagai: “Orang-orang tertentu telah menyusup di antara kamu, yang sudah ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang fasik yang menyalahgunakan kasih karunia Allah.” Berarti bukan, tidak mengaku tidak percaya, mereka mengaku percaya kepada Allah, Saudara. Tapi mereka menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka dan menyangkal satu-satunya penguasa dan Tuhan kita Yesus Kristus.

Saudara, kita harus menguji diri: adakah kita termasuk di dalam kategori orang semacam ini? Ngaku percaya tapi hidupnya tidak ada Yesus, di dalam pikiran kita, di dalam hati kita. Mengaku Kristus, mengaku Kristen, Saudara-saudara, tapi tidak suka mencari Tuhan dan kebenaran-Nya, tidak ada rasa lapar dan haus kepada Firman. Tapi kebutuhan fisik, ambisi, nafsu, sensual terus dikejar dalam hidup. Kita harus waspada.

Yang kedua, Saudara, Paulus meneruskan cirinya, yaitu, “Kemuliaan mereka ialah aib mereka.” Jadi, contohnya di sini memang konteksnya guru-guru palsu itu, Saudara. Dia bilang, mereka membual dalam hal-hal yang membuat mereka malu. Jadi, bikin dosa, tetapi malah bangga begitu. Kira-kira begitu, Saudara. Bikin dosa yang paling keji, yang paling hina, yang paling menjijikkan, tetapi mereka bangga dengan kebanggaan yang paling tinggi. Kira-kira begitu, Saudara. Jadi, hal-hal yang Paulus anggap sampah, mereka justru, Saudara, bangga. Itu menjadi kebanggaan mereka yang terbesar, Saudara. Itu seperti terjadi di Korintus. Di dalam jemaat Korintus, Paulus berkata: “Ada percabulan di antara jemaat,” Saudara-saudara. Hal yang tidak ada di bangsa yang tidak kenal Allah pun, kenapa di dalam gereja ini ada, Saudara-saudara? Lalu, Paulus menyuruh orang itu dikucilkan, yaitu orang yang hidup dengan istri ayahnya. Itu sebabnya, Saudara, menuhankan perut ini, khususnya terjadi di dalam praktek-praktek seksual dari kehidupan sebelum menjadi Kristen. Dia terus bawa setelah menjadi Kristen.

Ketiga, Paulus berkata, “Pikiran mereka tertuju kepada hal-hal duniawi.” Jadi, pikiran-pikiran orang yang mengaku Kristen, tetapi sebetulnya tidak ada Kristus di hatinya ini, didominasi oleh hanya hal-hal duniawi semuanya. Dan di dalam Yak. 4:4, dituliskan begini, Saudara: “Siapa yang ingin menjadi sahabat dunia ini, dia menjadikan dirinya musuh Allah.” Dan ini, Saudara, membuktikan bahwa guru-guru palsu ini bukan orang yang diselamatkan. Seluruh pikirannya dikuasai oleh dunia. Cara pikir dia, gaya hidup dia, moralitas dia. Mereka sudah mengganti Tuhan di dalam pikirannya dengan materi di dalam dunia ini yang kian hari, kian mempengaruhi dan menarik mereka menuju kebinasaan.

Kalau ketiga hal ini ada di dalam hidup seseorang, Saudara-saudara, maka dia sudah menjadi Tuhan bagi dirinya. Bukan Yesus Tuhannya. Dirinya sendiri. Perutnya. KTP-nya bisa Kristen, tetapi Kristus tidak ada di dalam pikiran dia, di dalam hati dia. Hidupnya sangat duniawi dan mungkin ini adalah orang yang pernah menjadi Kristen, tetapi sekarang dia sudah menjadi milik dunia. Paulus berkata kepada Timotius, semacam orang seperti ini, Saudara, “Demas,”-Demas yang tadinya menjadi orang Kristen, Saudara-“sekarang sudah mencintai dunia ini.” Dia telah meninggalkan Tuhan. Dia pernah menjadi Kristen, tetapi itu sudah lewat di dalam hidup dia. Ini mengerikan sekali, Saudara.

Dunia sudah menyerang banyak pengikut Kristus. Kalau dengan cara yang keras seperti aniaya itu sudah gagal, maka dia memakai cara-cara lain, metode yang lain, yang halus, Saudara. Kenyamanan, cinta uang, kemakmuran, kedudukan, semua pameran kekayaan, Saudara-saudara, nafsu kedagingan, keinginan mata, kesombongan di dalam hati. Kemakmuran itu bisa sangat berbahaya bagi jiwa kita, Saudara, bagi kerohanian kita dan dunia memakai alat ini justru untuk menipu banyak anak-anak Tuhan. Saudara ingat, ya, kita bekerja itu, Saudara, untuk kemuliaan Tuhan. Semua harus kita tarik ke atas. Itu kalau orang itu fokusnya Kristus, dia kerja apa pun bisa, tetapi fokusnya Kristus. Arsitek kah, dia? Businessman-kah, dia? Ahli hukum kah, dia? Pengacara? Jaksa? Polisi? Tentara? Apa pun pekerjaan, banyak di dunia ini, Saudara, tetapi fokus dia Kristus, bukan uang, uang, uang, Saudara-saudara. “Tidak, karena Tuhan saya adalah Kristus. Saya ingin kerja untuk kemuliaan Dia.”

Saudara-saudara, jangan tertarik gaya hidup dunia. Bahaya sekali, Saudara. Dunia menarik kita dengan pelan. Kenyamanan, kemakmuran itu seperti serigala memakai jubah domba. Itu Tuhan sudah katakan, Saudara. Menarik kita itu artinya dengan rayuan, seperti benar, tetapi ada salah di situ. Menidurkan kita di dalam kenyamanan, tetapi ada salah di situ. Menidurkan kita di dalam kenyamanan. Membawa kita makin hari, makin jauh dari Tuhan. Hari ini tidak ikut kebaktian? “O, nggak ada masalah. It’s OK. It’s OK.” Ada kedua kali, Saudara. “O, nggak papalah. Nanti saya bisa.” Akhirnya hilang, Saudara. Hati-hati. Marilah kita datang kembali kepada Tuhan. Jangan kita menyombongkan diri. Kita harus memeriksa diri kita, semua kesukaan kita, selera kita, kegembiraan kita menjadi ukuran apakah kita Kristen atau pernah menjadi Kristen. Kita harus berhati-hati terhadap distraksi-distraksi di dalam dunia ini. Paulus berkata, ”Banyak di sekitarmu, musuh salib Kristus. Waspadalah terhadap kesesatan.” Ikut teladan Paulus, maka kita pasti ingin terus berfokus kepada Kristus, mengenal Dia, makin hidup cinta Tuhan, ingin melayani Dia. Itu tanda orang Kristen yang sejati. Dia  terus ingin bertumbuh. Selalu waspada terhadap kesesatan.

Yang ketiga, Saudara, yang terakhir, Paulus berkata: “Nantikanlah Kristus.” Wah, ini orang Kristen sejati. Tetapi saya merasa, orang Kristen banyak yang sudah tidak menanti Kristus datang. Coba, di antara Saudara ada nggak yang menanti terus tiap hari, ”Datanglah, Tuhan!” Itu kalimat terakhir dalam Wahyu. “Datanglah, Tuhan!” “Ya, Aku datang segera.” Karena orang yang selalu menantikan Kristus pasti hidupnya hati-hati di dalam dunia ini. Dia akan hidup baik-baik sebagai orang yang menerima anugerah Tuhan. Saudara-saudara, setelah memperingatkan orang-orang Filipi tentang orang-orang yang menjadi musuh salib Kristus di antara mereka, Paulus berkata di ayat 20: ”Karena kewargaan kita adalah di dalam surga.” “Hei, orang-orang Kristen! Ingat, kamu bukan saja warga negara Roma! Iya, kan? Yang tunduk-tunduk kepada Kaisar, teman-teman kamu itu! Tetapi, kamu juga warga surga. Jangan ikut-ikut mereka!” Kita punya warga negara Indonesia, tetapi kita harus lebih takut Tuhan. “Dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.” Maksudnya, Tuhan Yesus akan datang dari surga, turun ke dalam dunia. Akan datang kedua kalinya. “yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.” Saudara-saudara, jadi pikiran kita itu coba saling menghibur, ya, Saudara. Menghibur diri kita satu dengan yang lain dengan firman Tuhan seperti ini. Kita sedang menantikan Tuhan yang akan mengubah tubuh kita. Itu pengharapan yang besar sekali, Saudara. Ya, khususnya kita yang ada sakit, kita yang lemah tubuh. Coba, Saudara, nantikan Tuhan itu dan apa janji firman Tuhan itu? “yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini serupa dengan tubuh-Nya yang mulia menurut kuasa-Nya yang begitu besar yang menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.”

Jadi, di zaman kita ini, Saudara, kepercayaan akan Yesus Kristus yang akan datang kembali sudah hampir tidak ada relevansi dengan banyak gereja. Kita jarang sekali memikirkan tentang kedatangan Kristus karena kita hidup lebih bergantung kepada apa yang kelihatan, Saudara. Itu manusia. Memang kita orang-orang lemah, Saudara. Kita sibuk dengan aktivitas sehari-hari yang menghabiskan waktu untuk diri. Itu sebabnya hari ini, Saudara, pada pagi ini, kita sekali lagi disadarkan bahwa Paulus berkata, kita adalah warga surga. “Hai, orang-orang Kristen, kamu adalah warga surga.” Jadi, Kitab Suci mengajarkan prinsip apa artinya menjadi orang Kristen. Kewargaan kita adalah di surga. Berarti kita adalah tamu saja di dunia ini, Saudara. Kita adalah pengembara, musafir yang hanya melewati dunia ini. Kewargaan kita ada di surga. Orang bukan Kristen, kewargaannya hanya di dunia ini saja. Rumah kita ada di sana, Saudara. Sudah disiapkan oleh Tuhan Yesus dan kita sedang menunggu Kristus datang kembali. Jadi, kita punya warga 2, Saudara.  1 di Indonesia, 1  di surga. Wah, luar biasa! Itu yang di surga jauh lebih tinggi, Raja di atas segala raja. Warga surga itu adalah orang yang sudah dilahirkan kembali di dunia ini. Artinya, Saudara, warga surga itu memang dia sudah orang yang dilahirkan di dunia ini melalui perut ibu, tetapi kemudian dia dilahirkan kembali di dunia itu (di surga). Orang-orang yang menunggu Kristus datang itu spesial. Hanya untuk orang-orang Kristen.

Kita itu seharusnya itu antusias, Saudara, menunggu Tuhan datang kembali. Dia akan datang di angkasa. Coba Saudara nanti baca, 1 Tesalonika. Dengar suara sangkakala, bunyi malaikat penghulu itu, Saudara, itu yang akan terjadi. Kalau kita mendengar Yesus datang kembali, lalu kita malah hidup santai-santai, Saudara tidak peduli, iya kan? Ini ada yang tidak beres di dalam kerohanian kita. Tetapi, yang Paulus inginkan, “Hai, kamu orang Kristen, kamu adalah warga surga.” Kita itu artinya harus menanti dengan sukacita karena itulah yang seharusnya menjadi pengharapan kita, Saudara-saudara. Ada harapan besar untuk penantian semacam ini, yaitu melihat Tuhan Yesus, kekasih jiwa kita, Juruselamat kita. Kenapa kita harus begitu sukacita mendengar berita ini dari surga, Saudara? Kita harus menanti ini karena Yesus Kristus hidup di surga. Karena nama kita terdaftar di surga. Ada rumah kita yang kekal, ada di surga, Saudara. Karena Kristus ada di sana. Kenapa kita tidak berharap untuk pergi ke situ? Paulus berkata di dalam Filipi 1:23: “Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan tinggal bersama Kristusitu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu tinggal di dunia ini karena kamu, supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman.” Jadi, keinginan untuk tinggal, pergi bersama Kristus itu harus ada, tetapi keinginan untuk hidup di dunia juga harus ada. Bukan untuk hidup egois, terus memperkaya diri, tetapi karena hidup kita mau menjadi berkat bagi orang lain. Jangan lupa, Saudara, buat orang lain itu makin maju mengikut Tuhan, melayani sesamanya. Itu panggilan kita semua. Jadi saksi-saksi Kristus yang baik.

Melihat surga itu bukan sebagai tujuan kita saja sehingga kita santai-santai di dunia, yang penting mati masuk surga. No, Saudara! Sebagai motivasi kita, justru. Paulus berkata, namamu terdaftar di surga. Itu sebabnya, Saudara, kita harus termotivasi untuk hidup suci. Hidup suci itu mematikan dosa dan mematikan dosa itu memang Saudara, kita harus memaksa diri kita di dalam anugerah Tuhan. Saudara-saudara, Yohanes di dalam 1 Yoh. 3:3: “Setiap orang yang menaruh pengharapan Kristus datang kembali, menyucikan diri, sama seperti Dia adalah suci.” Kita itu semua orang Kristen dipanggil bukan untuk yang cemar, tetapi untuk yang suci. Selalu itu di dalam konteks kedatangan Tuhan. Hai, kamu orang Kristen, berjaga-jaga. Saudara, kalau kita sungguh-sungguh menanti dengan antusias kedatangan Tuhan yang sudah 2.000 tahun yang lalu tidak datang-datang, Saudara-saudara, “Aku datang segera.” Memang itu konteksnya. Kita harus ada antusiasme menanti Dia datang, sehingga hidup kita berjaga-jaga, mau hidup suci. Bukan seperti gereja Laodikia, Saudara, yang tidak mengenal diri, malah dia berkata begini, “Aku kaya.” Wah, ini luar biasa, Saudara. Ini orang tidak kenal diri. Dia bilang, Aku kaya, padahal Tuhan berkata, dia miskin dan telanjang. Berarti kayanya itu di dalam materi, Saudara, bukan kaya di dalam iman, di dalam rohani. “Aku telah memperkaya diri, dan aku tidak kekurangan apa-apa.” Benar, kamu banyak duit memang. Kamu tidak kekurangan apa-apa tapi Tuhan berkata, jiwamu kosong! Saudara, karena Yesus ketuk pintu hati dia, tapi dia tidak mau dengar.

Itu sebabnya pada akhir zaman ini, Saudara, kita harus sadar, orang yang menantikan Tuhan itu hidupnya tidak boleh suam-suam. Jelas! Hatinya harus panas untuk Tuhan tidak boleh dingin, gitu, Saudara, males, gitu kan. Setengah-setengah, dunia mau, Yesus mau, Saudara. Tidak bisa seperti itu. Kita harus panas, Saudara, tidak boleh suam-suam di dalam kita ingin mengenal Tuhan dan melayani Dia. Tapi panggilan-Nya, Saudara, hidup suci. Kita harus seperti gereja Smirna, Saudara. Memang, memang dikatakan, Saudara, memang miskin, tidak ada kekuatan politiknya tetapi Tuhan berkata kepada mereka, “Aku tahu kesusahanmu. Aku tahu kemiskinanmu.” Tetapi Yesus berkata, “Kamu kaya.” Karena mereka punya Yesus Kristus yang telah bangkit dari kematian. Itu sebabnya mereka bisa setia sampai mati, tidak menyangkali iman mereka. Inilah sikap orang-orang yang menantikan Tuhan datang kembali.

Apakah ketika hidup kita di dalam kekhawatiran, kita berpikir tentang Yesus dan kuasa kebangkitannya? Dia itu hidup, Saudara, dan Dia akan datang kembali. Ataukah kita terus dikuasai kekhawatiran kita? Dia sudah mengalahkan kematian. Kalau Tuhan mengizinkan kesulitan tiba di dalam hidup kita, orang-orang yang dikasihi Dia, Saudara, untuk menyadarkan bahwa Yesus sudah pernah menderita lebih dulu, untuk menyadarkan bahwa Dia pernah mati, disalibkan dan Dia sudah bangkit kembali dan naik ke surga dan Dia akan datang kembali. Di dalam 1 Tes. 5, Saudara, kita memang orang-orang Kristen, Saudara, anak-anak Tuhan, tetapi anak-anak Tuhan banyak yang tidur, Saudara. Maka nasihat Rasul Paulus itu kita tidak boleh tertidur. Kita harus berjaga-jaga. Berjaga-jaga itu apa, Saudara? Di situ ada 3, Paulus ngomong itu. Bersuka cita, tetap berdoa, mengucap syukur. Itu orang yang berjaga-jaga, Saudara. Dia itu mengucap syukur, bukan ngeluh, bersungut-sungut. Tidak, Saudara. Dia mengucap syukur kepada Tuhan karena dia tahu anugerah, dia terus berdoa orangnya dan bersuka cita di dalam iman. Mengerjakan semua pelayanan-pelayanan dia.

Saudara-saudara, Tuhan Yesus berkata kepada kita, “Aku tahu kesusahanmu. Jangan takut terhadap apa yang kau harus derita. Aku telah mengalahkan kematian, Aku hidup selamanya. Setialah sampai mati. Maka Aku akan mengaruniakan mahkota kehidupan.” Amin, Tuhan. Paulus berkata, “Kami menantikan Tuhan Yesus sebagai Juruselamat yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia.” Saya ingin bahas ini sedikit ya Saudara. Betapa menakjubkannya tubuh kemuliaan yang akan kita terima. Seperti tubuh Kristus yang sudah bangkit, Saudara. Tubuh kita akan dirubah menjadi seperti itu. Orang-orang kafir Yunani pikir tubuh ini dipenjara, Saudara, di mana saat kematian jiwa kita terbebas, gitu kan, tubuh ini jahat. Tapi Paulus tidak mengatakan itu, Saudara. Tubuh ini adalah bait Roh Kudus. Tubuh ini sudah ditebus oleh Kristus, tidak jahat, Saudara. Maka karena dosa, tubuh ini menjadi hidup. Karena dosa, maka kita bisa menjadi hina. Karena dosa maka kita bisa menjadi lemah, Saudara. Bisa sakit dan mati. Tetapi Saudara, saat kedatangan Kristus nanti, kita akan diubahkan serupa dengan tubuh Kristus yang sudah bangkit. Jadi artinya kita nanti yang sudah mati duluan, kalau Kristus belum datang, Saudara, nanti tubuh kita akan dibangkitkan. Yang dikremasi dibangkitkan, yang dikubur dibangkitkan sama-sama Saudara, dengan kuasa-Nya yang begitu besar dan diberikan tubuh yang baru, tubuh kemuliaan itu. Bagi mereka yang dibunuh oleh singa di jaman Paulus, dibakar oleh api, tubuhnya rusak, Saudara. Kita tidak bisa mengerti dengan pikiran kita yang sudah berdosa ini tetapi faktanya bahwa Allah yang berkuasa sanggup mengubah tubuh kita yang hina ini menjadi serupa dengan tubuh Kristus yang mulia, itu luar biasa.

Jadi nanti kita akan bertemu lagi di surga. Saudara lihat saya itu, ada samanya, tapi ada bedanya sedikit. Yah, bedanya apa saya nggak tahu, ya Saudara-saudara ya. Seperti Kristus juga ada, ada perbedaannya sedikit, ya bedanya apa. Tapi Saudara jangan pura-pura nggak kenal ya Saudara. Harus panggil “Eh, pak.” Kita sering tanya-tanya, serupa dengan orang-orang Korintus di dalam 1 Kor. 15:35. Bagaimana orang mati dibangkitkan? Dengan tubuh apa mereka akan datang kembali? Kita tidak bisa mengerti dengan sempurna ya Saudara. Jadi apa anak yang meninggal itu mengharapkan untuk punya tubuh anak juga pada saat kebangkitan? Atau akankah semua tubuh dibangkitkan di dalam bentuk dewasa? Ya katanya ada yang bilang tubuhnya umur 30-an semua, ya kan? Seperti Tuhan Yesus gitu kan. Akankah ada perbedaan antara jenis kelamin, Saudara? Yang akan tetap terlihat? Apakah perkataan Yesus kita akan menjadi seperti malaikat di surga? Itu menyiratkan bahwa tidak hanya fungsi organ seksual yang akan berhenti, tetapi juga organ-organ itu sendiri akan hilang. Bagaimana dengan perut kita? Bagaimana dengan makanan, Saudara? Banyak hal yang tidak bisa kita mengerti sepenuhnya. Alkitab tidak membukakan kepada kita. Kitab Suci hanya membukakan bahwa tubuh kemuliaan itu terbebas dari kerusakan. Terbebas dari kebusukan. Terbebas dari kecemaran, kebinasaan. Terbebas dari benih kematian dan tidak bisa mati lagi. Wah luar biasa, Saudara.

Bayangkan punya tubuh seperti ini yang tidak pernah keriput lagi, Saudara. Yang tidak pernah letih, tidak pernah sakit. Puji Tuhan, Saudara. Tubuh kemuliaan ada persamaan dan perbedaannya dengan tubuh kita yang sekarang. Semua kelemahan dan ketidaksempurnaan di dalam tubuh ini akan dibuang dan saat Kristus datang kembali, Paulus berkata di Tesalonika bagi orang Kristen yang sudah meninggal, akan dibangkitkan lebih dulu, dan menerima tubuh kemuliaan itu dan kita yang tertinggal di bumi akan dirubahkan sekejap mata dengan tubuh rohaniah itu dan sama-sama diangkat menyongsong Tuhan di angkasa dan hidup bersama-sama dengan Dia di surga. Tapi yang pasti, Saudara, jawaban sederhananya adalah tubuh kita nanti pasti jauh lebih baik dari tubuh yang sekarang. Jauh lebih baik kita akan mendapat tubuh yang lebih daripada apa yang selalu kita impikan, Saudara. Kita akan diubahkan.

Kalau kita ada kesempatan merubah diri kita, apa yang saudara minta? Kebanyakan akan minta yang berkaitan dengan tubuh, bukan? Saya mau lebih tinggi, saya mau hidung lebih mancung, ya kan? Saya mau mata lebih bersinar, dan sebagainya. Tapi Tuhan menjanjikan kepada kita semua lewat Rasul Paulus pagi ini, satu hari nanti tubuh kita akan diganti dengan tubuh kemuliaan yang serupa dengan tubuh Kristus, jauh lebih baik dari operasi plastik mana pun, Saudara. Dari krim kulit apa pun, dari cara diet bagaimanapun, Tuhan akan mengubah tubuh kita yang hina ini dengan kuasa-Nya sendiri. Tubuh ini hina, betapa cantik dan gantengnya kita, Saudara, betapa bagusnya perawakan kita, itu semua hina. Waktu yang akan membuktikannya. Paulus berkata Tuhan akan mengubah tubuh yang hina ini menjadi serupa dengan tubuh Kristus yang mulia. Itu sebabnya kita harus maju di dalam iman menantikan Kristus yang akan mengubah kita.

Akhirnya, Paulus berkata, “Berdirilah teguh di dalam Tuhan.” Sama dengan yang dia katakan kepada jemaat di Korintus. Saya kutip kalimat dia, Saudara, di pasal 15 ayat 58,  “Saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah.” Apa sih artinya berdirilah teguh, jangan goyah? Ini dia lanjutkan, Saudara, “Giat selalu dalam pekerjaan Tuhan, jangan kendor, Saudara. Selalu giat dalam pekerjaan Tuhan. Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia.” Intinya, Saudara, pekerjaan yang dikerjakan karena komitmen kita kepada Yesus Kristus, khususnya yang berat, yang sulit, Saudara, yang meletihkan, yang tidak akan kita lakukan kalau bukan karena iman kepada Kristus. Kalau bukan itu, Saudara, Paulus berkata, kalau kita hanya dalam hidup ini saja, menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang paling malang dari segala manusia. Itu karena kita rela terlibat dalam pekerjaan yang sulit, Saudara dan bahaya, itu demi Kristus, yang kita tidak mau melakukannya jikalau bukan karena iman kita kepada Kristus yang akan membangkitkan kita.

Itu sebabnya nasihat Paulus ini, berdirilah teguh, jangan goyah terhadap gaya-gaya hidup dunia. Jangan ikut teladan dunia. Ikut teladanku. Teladani orang-orang kudus yang sudah pernah hidup di dalam sejarah. Hidup suci, giat di dalam pekerjaan Tuhan, menjadi saksi-saksi Injil Kristus, bertumbuh terus dan saling mengasihi satu dengan yang lain. Mungkin hari ini adalah hari yang besar itu Tuhan datang kembali, kita tidak tahu. Mungkin besok. Tetapi di mana kita paling tidak sangka, itulah hari, bisa menjadi hari di mana Tuhan datang kembali atau kita harus meninggal dunia, bertemu dengan Tuhan. Kita harus setia mengerjakan pekerjaan Tuhan, Saudara. Sampai di sini kiranya Tuhan menolong kita semua. Amin. Mari kita berdoa.

Bapa di dalam surga kami bersyukur, berterima kasih. Firman-Mu pada hari ini mengingatkan kami untuk mengikuti teladan daripada rasul-Mu yang setia, Rasul Paulus. Yang hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan. Yang berkata, bagimu betul-betul hidupnya itu berfokus kepada-Mu, ya Tuhan. Biarlah kami mendapatkan kekuatan yang baru untuk kami boleh mengikut Tuhan. Jauhkan kami, ya Tuhan, dari bahaya-bahaya kesesatan di dalam dunia ini yang hendak menghancurkan kerohanian kami. Tapi kami ingin sekali lagi disegarkan, ditarik kembali kepada Kristus, satu-satunya fokus dalam hidup kami. Oh Tuhan, tolong kami, mempunyai hati yang merindukan Tuhan. Tuhan datang kembali kedua kali, menjemput kami. Terima kasih, ya Tuhan. Biarlah kami terus digiatkan di dalam pekerjaan, pekerjaan Injil-Mu di dalam dunia ini. Berkatilah jemaat-Mu, ya Tuhan, yang hadir pada pagi hari ini. Biarlah mereka boleh berdiri teguh di dalam Tuhan. Biarlah Kristus selalu menjadi pengharapan dalam hidup mereka. Dalam nama-Mu, Yesus Kristus, Tuhan, dan Juruselamat kami yang hidup, kami berdoa. Amin.