Khotbah di Bukit (8), 31 Agustus 2025

Khotbah di Bukit (8)

Mat. 5:9

Pdt. Nathanael Marvin, M. Th

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ketika kita merenungkan soal kedamaian atau damai sejahtera, tentu pemikiran kita yang pertama seharusnya adalah bukan damai yang ada di dalam dunia ini, melainkan damai yang diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus. Nah ketika saya merenungkan soal kedamaian ini, tentu kita harus memprioritaskan pikiran, dan perasaan kita, dan juga hati kita hanya kepada Yesus Kristus yang adalah Allah damai sejahtera, yang adalah Sang sumber damai sejahtera. Dan kita juga sudah belajar bahwa Yesus adalah Raja Damai, Prince of Peace, Pangeran Kedamaian. Di mana di dalam Yesus ada kedamaian yang sejati yang bisa dirasakan oleh manusia berdosa. Yaitu apa? Ketika manusia berdosa sudah jatuh ke dalam dosa sudah melawan hukum-hukum Tuhan itu ada perasaan bersalah, ada perasaan malu, ada perasaan takut dihukum, dan juga ada kengerian karena sudah mendapatkan upah dosa yaitu maut.

Bagaimana seseorang yang sudah dilepaskan dari vonis hukuman kekal di neraka itu dibebaskan dari hukuman tersebut? Itu adalah suatu kedamaian yang sejati yang Yesus berikan bagi orang-orang yang mau percaya kepada-Nya. Maka sebagai orang Kristen, kedamaian kita itu jauh melebihi orang-orang yang tidak di dalam Yesus Kristus. Hati kita itu tenang melebihi semua orang yang di luar Yesus Kristus. Mereka yang tidak mengenal Yesus Kristus, punya damai, damai sejahtera umum dari Tuhan sendiri, tetapi tidak memiliki damai yang pasti di dalam Kristus. Bagaimana Roh Kudus, Roh Kedamaian itu ada di dalam hati kita, memimpin kita di dalam ketenangan menjalani kehidupan di dunia ini. Kalau Tuhan saja sudah menyelamatkan kita dari segala hukuman dosa neraka, mana mungkin sih Tuhan tidak memelihara hidup kita? Ini adalah kedamaian orang Kristen. Kalau Tuhan mengizinkan sesuatu hal buruk terjadi dalam hidup kita, kita punya ayat penghiburan, bagaimana di dalam ayat Roma 8:28 mengatakan bahwa kita tahu Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, dalam penderitaan, dalam demo, dalam apa pun kesakitan, kelemahan tubuh kita, Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia. Bukankah itu kedamaian?

Ketika Yesus sudah bangkit dari kematian, Yesus datang dari para murid yang sedang ketakutan, sedang kegentaran, sedang menghadapi keputusasaan, bahkan mungkin kekecewaan. “Yesus yang saya ikuti kok mati di atas kayu salib?” Yesus datang dan mengatakan, “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” Yesus sudah memberikan damai sejahtera dalam kehidupan kita, dan itulah suatu hal yang menenangkan kita untuk bisa meresponi segala sesuatu ketidakdamaian yang ada di dalam dunia ini.

Ketika kita merenungkan tentang kedamaian, saya merenungkan kedamaian, yang muncul dalam hati kita sebagai orang Kristen adalah Pribadi Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juru selamat kita. Tetapi setelah Yesus Kristus, saya ingat satu kisah seseorang yang ironis soal kedamaian juga, dia bukan orang Kristen, dia orang Yahudi ya. Pada saat dia seorang Yahudi, orang Israel mengkampanyekan kedamaian, lalu di situ ada sebagai satu acara peace rally, aksi damai berkumpul dengan banyak orang. Terus dia menyanyikan satu lagu nyanyian kedamaian Song For Peace. Tetapi di situlah dia justru dibunuh orang. Orang yang mengatakan mari damai, antara Israel dan Palestina, nggak usah bertempur lagi, nggak usah bertengkar lagi, udah lah saling mengampuni, jangan merugikan masyarakat. Kampanyelah dia. Dan kemudian saat dia beres kampanye, dia malah ditembak mati oleh orang Yahudi sendiri, yang tidak suka berdamai dengan orang Palestina.

Nah orang itu adalah Perdana Menteri bernama Yitzhak Rabin, dia dulunya adalah Jenderal Militer, tetapi dia dikenal sebagai seorang tokoh perdamaian. Dia berusaha mendorong perdamaian antara Israel dan Palestina. Dia mengkampanyekan tentang kedamaian itu di Kings of Israel Square. Suatu alun-alun yang ketika, pada akhirnya, dia ditembak mati oleh orang Yahudi sendiri, oleh seorang pemuda ya, akhirnya square tersebut dijadikan namanya adalah Rabin Square. Saat Yitzhak Rabin turun dari panggung dan berjalan ke panggung resminya, ia ditembak 3x dari jarak dekat oleh seorang ekstremis Yahudi yang menolak kedamaian. Setelah Yitzhak Rabin ini ditembak, kemudian dia dibawa ke rumah sakit, tetapi setelah di rumah sakit, nyawanya tidak tertolong. Dan kemudian ketika orang mengecek barang-barang bawaannya, di jaketnya, di bajunya, di jasnya, yang berlumuran darah tersebut, seorang tersebut mendapatkan satu kertas yang merupakan lirik lagu yaitu adalah Song for Peace atau Shir LaShalom. Song for Peace dan lagu itu baru dinyanyikan bersama di acara tersebut. Dan itulah satu hal yang ironis, di mana di tengah-tengah mengkampanyekan kedamaian justru terjadi kerusuhan, kekacaua. Bukan kedamaian yang terjadi.

Nah Bapak, Ibu, Saudara sekalian, sudah seharusnya kita bukan hanya orang-orang Kristen saja atau non-Kristen saja, yang harus memperjuangkan kedamaian, tetapi kita sendiri sebagai orang Kristen sudah diperintahkan oleh Yesus Kristus, jauh lebih dulu, 2000 tahun yang lalu, di dalam khotbah Yesus kepada ribuan orang. Seminar Yesus Kristus, yang diajarkan Yesus kepada ribuan orang di bukit Galilea tersebut, Yesus mengajarkan bahwa “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut Anak-anak Allah.” Seorang anak-anak Allah justru adalah seseorang yang memperjuangkan kedamaian. Kita boleh nggak berdemo Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Boleh. Asal damai. Maka dikatakan aksi unjuk rasa, unjuk rasa itu menunjukkan rasa mereka itu, boleh saja menyatakan perasaan, tetapi harus dengan cara damai. Maka selain aksi unjuk rasa, ada juga yang dinamakan aksi damai. Ya meskipun kita banyak berkumpul, tapi kami itu mau menjunjung tinggi kedamaian di dalam seluruh kehidupan masyarakat. Ini yang menjadi ciri-ciri khas orang Kristen bahwa kita tidak dipanggil untuk membuat kekacauan, membuat keonaran, tetapi dipanggil untuk mengerjakan keteraturan atau kedamaian. Membawa orang-orang untuk datang ke dalam kerajaan Allah yang penuh dengan kedamaian.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ini adalah suatu rancangan Tuhan pada mulanya ketika manusia diciptakan, pada mulanya Adam dan Hawa ditempatkan di Taman Eden, Tuhan menginginkan apa sih? Kedamaian yang dimiliki Adam dan Hawa. Keteraturan. Bagaimana supaya Adam dan Hawa bisa hidup damai di Taman Damai tersebut? Eden kan berarti sukacita. Kalau sukacita berarti ada kedamaian ya. Nah bagaimana Adam dan Hawa bisa hidup di Taman Sukacita tersebut? Ya untuk bisa menggenapkan rencana Allah di dalam damai sejahtera yang Allah inginkan di dalam dunia ini, yaitu bagaimana mereka bebas untuk melakukan apa yang dikatakan Tuhan bebas, tetapi tidak boleh melakukan yang dikatakan Tuhan tidak boleh melakukan. Itu namanya kedamaian yang sejati. Ada hukum Allah, ada free will manusia. Ada kebebasan manusia memakan buah di pohon di Taman Eden, tetapi juga ada hal yang Tuhan larang tidak boleh memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat.

Ini adalah taman yang Tuhan rancangkan, damai sejahtera, yaitu tidak ada dosa, tidak ada efek dosa. Tetapi kondisi yang damai, bukan berarti tidak ada peperangan rohani. Nah ini paradoks ya, kalau memang di Taman Eden belum ada dosa, belum ada efek dosa, yang membuat ketidakdamaian tersebut, bukan berarti di Taman Eden, di dunia yang Tuhan ciptakan dengan sempurna ini, tidak ada peperangan rohani. Meskipun kondisinya semua damai, tetap ada satu hal yang bertentangan di antara kehidupan Adam dan Hawa. Mulai dari setan yang Tuhan izinkan, iblis yang menjelma jadi ular untuk mencobai Adam dan Hawa, Tuhan izinkan ular ada di Taman Eden. Apakah berarti ketika ada ular, damai sejahtera dari Tuhan itu hilang? Tidak ada lagi di dunia ini? Tidak! Tetap di dunia ini meskipun ada ular, ada iblis, tidak atau belum jatuh dosa. Tetap sempurna, kudus. Belum jatuh dalam dosa. Sekalipun ada roh jahat, sekalipun ada iblis yang datang ke dalam dunia ini.

Dan ini adalah pertentangan atau peperangan rohani yang dihadapi oleh Adam dan Hawa, yaitu mendengar suara-suara pertentangan, bisikan yang jahat, yang akhirnya membuat ketidakdamaian. Tetapi bukan saja, dari unsur eksternal, kita tahu Bapak, Ibu sekalian, bukan saja godaan dari iblis, bisikan-bisikan, godaan-godaan yang jahat yang bertentangan dengan firman Tuhan, tapi dalam hati Adam dan Hawa pun ada pergolakan, aku mau taat atau tidak taat? Taat itu baik, diberkati Tuhan, tidak taat itu akan mendapatkan hukuman, akan mendapatkan kutukan dari Tuhan. Di dalam hati nurani Adam dan Hawa, ada free will yang mengatakan sebenarnya taat itu baik, tapi tidak taat juga menarik. Karena apa? Mereka melihat buah tersebut, mereka juga mendengar bisikan iblis. Dan mereka memutuskan untuk melawan firman Tuhan. Di situlah pertama kali, ketidakdamaian atau kekacauan chaos itu terjadi di dalam dunia, yaitu ketika Adam dan Hawa melawan Tuhan, melawan firman Tuhan dan melakukan dosa. Tetapi sebelum ada dosa, itu semua shalom ya. Itu ada suatu pujian kedamaian yang muncul.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Indonesia sudah merdeka selama 80 tahun dari penjajahan negara lain. Saya sudah jelaskan juga di dalam khotbah sebelumnya bahwa tetap negara yang merdeka dari penjajahan bangsa lain bukan berarti sudah selesai dan tidak ada perjuangan lagi, tidak ada peperangan lagi. Kita tidak lepas dari peperangan. Ini ada juga demo dan kekacauan di mana-mana. Ada korban meninggal, ada penjarahan, ada pengerusakan fasilitas, ada perampokan, ada pencurian. Begitu banyak hal yang mengacaukan terjadi di dalam negara ini. Tentu tidak damai, kondisi yang membuat tidak damai adalah kondisi yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah sendiri. Maka dari itu sebagai orang Kristen kita adalah pembawa damai. Kita bukan saja menerima tugas, “Ayo kamu lalah anak-anak Allah, kamu berbahagia kalau membawa damai.” Bukan, bukan hanya menerima tugas untuk membawa damai, tetapi kita sendiri adalah pembawa damai memang. Kenapa? Karena ada Roh Kudus, Roh kedamaian itu di dalam hati kita. Ada Allah di dalam hati kita, masa kita tidak damai, ada Allah lho ya. Roh Allah ada di dalam hati kita.

Nah kita bisa memohon kedamaian dari Allah sendiri di tengah kondisi yang tidak damai ini, kita bisa mendoakan ya. Banyak sekali ya ketika orang-orang melihat situasi yang kacau, respons terbaik adalah apa? Adalah berdoa. Ada kemudian link-link doa secara online bermunculan dari berbagai gereja dan meskipun secara online tetapi dihadiri oleh banyak orang juga. Karena apa? Sebagai orang Kristen kita tahu bahwa ketika ada keletihan, kelesuan, beban berat, Yesus sudah ajarkan, “Ketika kamu mengalami letih lesu dan berbeban berat, datanglah kepada Yesus, Aku memberikan kelegaan”. Hanya Yesus sebagai sumber damai sejahtera kita, maka kita tahu bagaimana kita berdoa. Ajarlah kami berdoa, salah satunya adalah ketika menghadapi kondisi yang tidak damai, di situlah kita berdoa kepada Tuhan Sang sumber damai sejahtera.

Ketidakdamaian yang saat ini ada di negara Indonesia sebenarnya memberikan pesan bahwa manusia memang sudah jatuh dalam dosa ya. Sebenarnya sudah kehilangan damai yang sejati. Tanpa Tuhan kita celaka, kita chaos, dosa membawa kepada kehancuran, keruntuhan, kemalangan. Kita justru menunjukkan diri kita bahwa ternyata manusia berdosa itu bisa sebegitunya ketika kita melihat realita yang terjadi, itu menjadi refleksi buat kerohanian kita. Bagaimana kita memandang diri kita di luar Yesus Kristus, kita pun chaos seperti mereka. Kita bisa menjadi pembawa kekacauan, bukan pembawa kedamaian. Maka kita minta dengan rendah hati kepada Tuhan, jangan sampai saya ini pembawa kekacauan. Kita ingin supaya di sekitar kita ada kedamaian, kita ingin supaya keadilan boleh terjadi juga.

Maka di dalam Mazmur ya, ini kan sedang ramai juga bagaimana ada Mazmur kutukan seperti itu ya. Apakah boleh orang Kristen berdoa mengutuk orang lain? Sedangkan di dalam Paulus mengatakan, “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan. Janganlah mengutuk orang lain. Berkatilah mereka.” Lalu bagaimana orang Kristen bersikap terhadap dua perintah ini? Satu contoh doa kutukan, satu nasihat untuk jangan mengutuk, ini menjadi pertentangan. Sampai ditanyakan juga ada seseorang jemaat ya bertanya kepada saya, “Ini maksudnya gimana, Pak? mengenai doa di Mazmur tersebut.” Maka kalau kita lihat konteksnya, ya kita perhatikan konteksnya, kelihatannya Alkitab tuh ada yang seolah-olah bertentangan, tapi kalau kita lihat konteksnya ternyata sejalan. Kalau di kitab Roma, Paulus mengatakan bahwa kita waktu dijahatin orang ya kita boleh membela diri. Ini prinsip Alkitab ya, boleh membela diri. Tetapi setelah beres kejahatan itu kita jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, jangan balas dendam. Tetapi kita bersikap secara tepat, ada jarak nggak masalah, tapi kemudian juga ada kesempatan menolong dia, kita kasihi, kita doakan. Itu kan mendoakan berarti sebenarnya bukan mengutuk ya. Mendoakan berarti memberkati kan. Itu adalah hal yang lumrah. Yesus katakan bahwa kalau kita dijahatin orang, kita buat baik sama dia, kita mendoakan dan berbuat baik sama dia, itu seperti menaruh bara api di atas kepala orang tersebut. Ini tradisi Yahudi ya, tradisi Yahudi. Wah, kepanasan ya, dia sadar bahwa dirinya tuh salah. Ada hal yang menyakitkanlah kayak gitu ya.

Tapi bagaimana dengan doa di Mazmur yang mengutuk orang lain? Nah di sini kita bisa lihat konteksnya bagaimana sebenarnya di dalam pemazmur itu mengatakan bahwa ketika ada kondisi yang tidak adil, ketidakadilan terjadi di dalam komunitas atau masyarakat, kita berdoa supaya keadilan Tuhan tuh nyata. Dan bagaimana nyatanya? Ketika orang itu dihukum oleh Tuhan sendiri, bukan dihukum oleh kita. Siapa kita berani menghukum orang lain? Ya, dihukum oleh Tuhan sendiri. Biarlah Tuhan bekerja memberi keadilan, memberikan hukuman supaya apa? Orang itu bertobat, bukan orang itu celaka ya. Kalau kita kan inginnya kamu jahat sama saya, celakalah mati aja sekalian ya. Tapi waktu kita berdoa Mazmur kutukan kepada Tuhan, Tuhan kutuklah orang itu supaya dia bertobat. Bukankah itu kasih? Bukanlah itu doa berkat sebenarnya? Doanya seperti kutukan, tetapi di belakangnya ada berkat. Karena apa? Mengikuti sifat Tuhan. Tuhan itu adil, tolong hukum. Dan ketika Tuhan menghukum, tujuannya bukan membenci orang tersebut, melainkan mempertobatkan dan menolong yang tertindas. Maka nasihat Paulus maupun doa dari pemazmur adalah suatu hal yang sinkron, bukan bertentangan ya.

Maka hati-hati juga ya waktu kita mengungkapkan kejelekan orang, kebencian kita kepada orang. Mungkin dalam hati kita, kita hanya berdoa mazmur kutukan, tetapi waktu kita ungkapkan kebencian, orang itu malah membenci orang yang lain. Maka di sinilah bahaya dari gosip, bahaya dari curhat kejelekan orang, kitanya normal gitu ya, kitanya mazmur kutukan lah, tetapi orang itu malah jadi mengutuk beneran, bukan berdoa kutukan ya. Maka dari sini kita bisa melihat bijaksana ya. Kita nggak serta-merta mengumandangkan kan di dalam doa-doa kita pokoknya ujaran kebencian kepada orang-orang yang jahat, tidak. Kita tetap berdoa supaya mereka dihukum seadil- adilnya oleh Tuhan. Balik lagi ya, karena pengadilan manusia sering kali tidak adil lagi. Maka kita berdoa pada Tuhan yang Maha Kuasa.

Maka dalam hati kita sebagai orang Kristen damai nggak? Ada orang memperkosa, ada orang menjarah, ada orang merampok. Kita sebagai orang Kristen apakah balas memperkosa, balas menjarah, balas merampok? Tidak! Kita hanya bisa berdoa agar kedamaian terjadi dalam hidup kita dan orang lain dan kemudian kita berdoa supaya Tuhan sendiri yang menghakimi dia dengan adil. Bukankah itu tenang? Kalau kita tidak punya Tuhan, kita pada akhirnya ingin balas, ingin balas. Ada kesempatan mau balas, akhirnya ada beban terus untuk balas dendam. Balas terus. itu bukan hal kedamaian. Itu bukan damai sejahtera yang Tuhan berikan.

Nah sekarang kita akan merenungkan Bapak, Ibu, Saudara sekalian tiga hal tentang kedamaian yang sudah sempat kita bahas juga bahwa yang pertama sumber kedamaian sejati adalah dari Allah sendiri, yaitu Yesus Kristus sendiri. Maka dari itu salah kalau kita cari kedamaian di dalam dunia ini. Orang mencari kedamaian mungkin ya ada orang-orang yang demo itu supaya dia damai hatinya. Tapi damai dari apa? Dari hasil jarahan, dari hasil curian, dari hasil dia melampiaskan, menghancurkan fasilitas umum? Ok, lega sih, tapi itu bukan damai dari Tuhan, karena itu damai dari keduniawian ya, damai dari balas dendam. Melampiaskan keinginan dia untuk menyakiti musuhnya itu bukan damai dari Tuhan. Damai yang diberikan dari uang meskipun kita semua butuh uang, tapi kalau kita menaruh kedamaian kita hanya kepada uang dan yang utamanya adalah uang, kita tidak damai. Damai ketika di dalam kesehatan, kalau kita sakit berarti tidak damai. Hati kita langsung galau, langsung putus asa. Orang Kristen adalah orang yang betul- betul dianugerahkan kedamaian oleh Tuhan sendiri. Karena apa? Kita memegang Tuhan sebagai sumber damai sejahtera. Kalau Tuhan sudah kita miliki, maka sumber kedamaian yang lain kita bukan hal yang utama, bukan menjadi suatu hal yang kebutuhan. Meskipun kita ada kebutuhan ya, tetapi sekalipun kebutuhan kita tidak terpenuhi, kita bisa damai. Wah ini hebat sekali.

Tadi ayat yang kita barusan baca tadi, ayat bertanggapan, Paulus mengatakan sekalipun utusan iblis yang kita tidak tahu apa ya, bisa penyakit, bisa kelemahan tubuh dia, bisa mungkin bayangan sekarang mungkin demo-demo ini ya, para pendemo ini bisa jadi utusan iblis yang anarkis, tapi Paulus mengatakan bahwa di dalam kelemahanku lah kuasa Tuhan menjadi nyata. Aku tetap damai, di dalam kelemahan aku kuat. Wah ini adalah damai yang melampaui logika manusia yang ada di dunia ini. Orang Kristen bisa berdamai sekalipun kondisi sulit ya, tapi bukan berarti menjadikan orang Kristen itu seorang yang manja, yang pasif, yang nggak ngapa-ngapain, nggak inisiatif. Terus, ketika dipukul orang, kita pasrah, gitu, ya, tidak membela diri. Terus –menafsirkan seperti di dalam khotbah Yesus Kristus– kalau kita ditampar pipi –Oh, cara nampar Yahudi gini, ya– tampar pipi kanan, berikan pipi kiri, gitu, ya? Apakah seperti itu: kita jadi orang bodoh, tidak berhikmat, tidak punya harga diri di dalam kemanusiaan yang sudah Tuhan ciptakan –manusia ini, ya– tubuh dan jiwa kita yang ada gambar dan rupa Allah? Nggak! Kita tahu bersikap membela diri. Kita tahu bersikap tenang. Kita tahu bersikap menghadapi segala situasi dengan hikmat dari Tuhan. Oh, ini adalah suatu damai sejahtera dari Allah sendiri.

Dan kita tahu kedamaian itu bukan bicara soal hubungan kita dengan Allah saja, tetapi ternyata terefleksi dengan hubungan kita dengan segala sesuatunya. Dengan alam: kalau kita mengerti posisi yang tepat dan damai, kita akan menaklukkan alam, bukan dikuasai alam. Dengan sesama manusia: kita juga berdamai berarti kita mengerti bagaimana harus bersikap sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri: berdamai dengan seseorang. Meskipun tidak mudah, ya. Ada kalanya kita bisa konflik dengan orang lain tetapi hati kita tuh mau berdamai, bukan konflik. Terus, kemudian juga kita bisa berdamai dengan diri kita sendiri. Banyak masalah kejiwaan yang disebut orang dengan sakit jiwa –yang tentu yang tidak mempengaruhi tubuh, ya, medis– tapi hanya sebatas pemikiran, perasaan yang tidak bisa dikendalikan. Ujung-ujungnya solusinya apa, sih? Kedamaian dari Tuhan.

Kedamaian dari Tuhan membuat kita berdamai dengan Tuhan dan juga berdamai dengan diri sendiri, tidak memusuhi diri lagi. “Kok kamu gini, sih?” Tidak menghakimi diri lagi. Tidak marah terhadap diri lagi. “Kok kamu begini, sih? Bodoh banget, nggak bisa apa-apa.” Misalkan gitu, ya. Tuduhan-tuduhan yang merendahkan diri, bukan tuduhan yang mempertobatkan kita. Nah, itu semua dibereskan dengan apa? Berdamai dengan diri! Dan berdamai dengan diri solusinya dari siapa? Dari berdamai dengan Tuhan sendiri. Maka Tuhan lah menjadi sumber kedamaian kita, ya. Kita telah dibenarkan karena iman, maka kita hidup juga dalam damai sejahtera dengan Allah. Kita tidak bisa menjadi pembawa damai jika kita sendiri belum diperdamaikan dengan Allah sendiri.

Mungkin –Bapak, Ibu, Saudara sekalian– meskipun kita sudah berdamai dengan Allah, dalam hati kecil kita, kita berkata, “Saya percaya Yesus. Yesus itu Tuhan saya. Yesus itu Juruselamat saya. Saya sangat mengasihi Dia dan saya tahu bahwa Yesus mengasihi saya.” Tapi ketika pada akhirnya kita berelasi dengan orang lain, kita nggak sempurna. Kita malas berelasi dengan orang lain. Kita minder berelasi dengan orang lain. Atau, bahkan kita sombong di hadapan orang lain. Kenapa? Karena kita belum sempurna dan kita juga belum berjuang untuk bisa berdamai dengan orang lain dengan kuasa Tuhan. Kita berdamai dengan Tuhan sudah puji Tuhan, bersyukur. Tetapi tahapan selanjutnya adalah kita berdamai dengan diri maupun sesama maupun alam yang sudah Tuhan ciptakan ini.

Tetapi, ketika kita berdamai dengan segala sesuatu yang baik, yang Tuhan ciptakan, kita juga harus bermusuhan dengan iblis dan roh-roh jahat. Alkitab mengatakan bahwa persahabatan dengan duniawi, keduniawian, maupun juga iblis maupun roh-roh jahat adalah permusuhan dengan Allah. Persahabatan dengan Allah berarti permusuhan dengan iblis. Kedamaian dengan Allah berarti kekacauan dengan iblis, ya. Kita perlu melawan terus godaan-godaan iblis.

Luther –Martin Luther– pernah mengatakan, “Sebelum Injil menguasai hati manusia, hati manusia itu ibarat lautan yang bergelora dengan ombak yang begitu besar, hujan badai yang begitu deras. Itu hati manusia sebelum ada Injil.” Injil, maka kita bisa sebut juga sebagai kabar damai sejahtera. Makanya orang-orang yang sedang mengalami kekacauan begitu besar, mereka sangat membutuhkan Injil. Berapa banyak orang yang mudah terima Tuhan Yesus atau mudah mengerti Injil ketika mereka sakit? Berapa banyak orang mudah terima Injil, mudah mau didoakan ketika mereka terpuruk, miskin, bangkrut? Berapa banyak orang juga ketika mereka menderita, sakit, dan dipenjara, mereka akhirnya mau bertobat? Itu karena apa? Karena kuasa Tuhan yang mempersiapkan hati orang tersebut sehingga pada akhirnya mau menerima kabar damai sejahtera, kabar baik tersebut, ya. Sedangkan kita bisa lihat kalau Luther menggambarkan demikian: hati manusia yang belum dapat Injil itu seperti lautan yang bergelora, nah, demikian juga kita bisa gambarkan hati kita –sebagai orang-orang Kristen yang sudah terima Injil– itu seperti lautan yang sangat tenang. Ya, sangat tenang meskipun besar, luas, tapi tidak bergelora. Itu semua ada ketenangan. Wah, itu indah sekali. Maka dari itu, kedamaian yang paling penting yang perlu kita minta adalah: kita berdamai dengan Allah.

Saya pernah, saya dulu tuh pernah senang koleksi traktat-traktat Injil, ya. Saya kumpulin begitu banyak. Terus ada salah satu traktat berjudul “Damai Sejahtera dari Yesus Kristus”. Wah, ini adalah suatu hal yang betul-betul dibutuhkan oleh manusia yang berdosa yang hatinya bergelora seperti lautan bergelora, ya. Maka dari itu kita bisa tanya kepada Tuhan, ya, sungguhkah kita sudah mengenal Yesus Kristus? Sungguhkah kita sudah percaya kepada-Nya? Maka waktu, suatu hari nanti ketika kita menghadapi konflik, kita bisa tahu bagaimana kita bergantung: yaitu kepada Allah Sang Sumber Damai Sejahtera.

Lalu yang kedua, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, selain kita memahami bahwa Allah itu sumber damai sejahtera –di dalam Allah ada ketenangan yang sejati di tengah dunia yang penuh dengan gejolak ini–, yang kedua ternyata setelah Yesus memeluk kita, setelah Yesus mengundang kita dan menerima kita datang di hadirat-Nya, Yesus menepuk punggung kita, memeluk kita, memberikan damai sejahtera yang sejati, Yesus kemudian menghadapkan diri-Nya kepada kita dan berkata, “Aku memanggil kamu untuk menjadi pembawa damai.” Ini step-step nya, ya. Kita damai dulu dengan Allah baru kita bisa berdamai dengan dunia.

Dan ini adalah orang yang memberikan contoh sebagai orang yang disebut sebagai tipe Kristus juga atau tipologi dari Yesus Kristus di dalam Perjanjian Lama adalah Yusuf. Kita tahu, ya, Yusuf, di dalam kelemahannya dia sombong. Dia mengatakan, “Aku ini ada mimpi-mimpi dari Tuhan yang mengatakan bahwa kakak-kakak aku akan tunduk kepadaku. Bahkan orang tuaku pun akan tunduk kepadaku. Aku pemimpin kalian semua sekeluarga. Aku juga diberikan jubah yang indah. Aku pakai, aku pamerkan kepada kakak-kakak, kepada orang-orang.” Yusuf pun ada kelemahan meskipun dalam hatinya sebenarnya tidak mau untuk bermusuhan dengan orang lain. Tapi karena kepolosan, kelemahan dia, dia akhirnya dimusuhi oleh kakak-kakaknya. Dijahatin, ya. Kakak yang harusnya menjadi pelindung adik malah menjadi pencelaka adik. Kakak akhirnya melukai dia, memfitnah dia, dan juga memasukkan adiknya itu kepada sumur, ya, ke dalam sumur. Akhirnya dijuallah adiknya itu sebagai budak. Yusuf –kalau sebagai manusia yang berdosa, ya– pasti ingin membalas dendam, ya, pengen balas dendam. Tapi balas dendam itu tidak ada di dalam kehidupan Yusuf. Sekali pun. Yusuf hanya berhati-hati dan menguji kakaknya sudah berubah belum setelah berapa tahun itu, ya.

Nah, di sini Yusuf menjadi tipologi Kristus dalam soal hal apa? Dalam soal kedamaian. Dalam hatinya ada damai Kristus. “Aku sendirian dibuang kakak-kakakku. Aku tidak lagi dirawat orang tua. Aku hanya sendiri di negeri orang, orang-orang yang menyembah berhala dan mengajak aku juga untuk menyembah berhala.” Tapi Yusuf setia. Dia menolak dengan hikmat Tuhan. Hidupnya ada kedamaian terus. Dia kerja dengan baik meskipun di negeri orang. Dia berdamai dengan semua orang. Dia berusaha berdamai dengan semua orang dan Tuhan pun menyertai Yusuf. Bagaimana Yusuf disertai Tuhan? Salah satunya adalah kedamaian dalam hatinya. Kita sebagai orang Kristen tahu berkat Tuhan terbesar adalah penyertaan Tuhan dan penyertaan Tuhan itu seperti apa? Kita tahu Roh Kudus sudah ada dalam hati kita. Roh Kudus ketika sudah sekali dalam hati kita nggak mungkin meninggalkan kita. Roh Kudus berduka. Betul. Tapi Allah yang menyertai kita itu seperti apa? Ya, salah satunya adalah memberikan kedamaian. Yusuf bekerja dengan baik. Dia dipercaya oleh Potifar. Itu pun ada kesusahan. Itu pun ada pertengkaran dengan istri Potifar yang menggoda dia. Dan akhirnya Yusuf bisa menjadi perdana menteri Kristen di negeri Mesir. Wah, itu suatu hal yang besar sekali, karena apa? Karena Dia memiliki kedamaian. Dia bisa berelasi dengan atasan dengan tepat, Firaun. Dia berelasi dengan bawahan dengan tepat. Dia berelasi dengan keluarga secara tepat. Kenapa? Shalom itu. Shalom memberikan dia hikmat yang besar.

Dan sama seperti Yusuf, ya, Roh Kudus ada dalam hati kita. Kita ini adalah instrumen kedamaian Allah. Itu berarti apa? Kita belajar menjadi pembawa damai, ya. Memang sangat sulit ya. Kalau kita mau berdamai dengan orang lain, kita nya sudah mau damai, orang lain belum tentu damai, mau sama kita. Ya, sudah. Yang penting, bolanya di siapa? Bolanya di siapa yang kita mainkan. Kita yang penting tidak bersalah di hadapan Tuhan. Maksudnya, kita minta maaf, kita mau berdamai dengan orang tersebut, mau memulai rekonsiliasi, memulai tahapan yang baru, ya, dengan orang tersebut kita mulai lagi. Itu sikap kita. Tetapi, kalau orang itu tidak mau, menghindar, ya, sudah. Ya, kita nggak bisa apa-apa, kan? Yang penting, kita tahu bolanya di siapa. Ini kan sama, ya, seperti demo kemarin. Bolanya di siapa? OK, ada DPR, ada rakyat. Siapa dulu yang membikin masalah, ya? Tentu sebenarnya, pemimpin lebih punya tanggung jawab lebih besar karena dia memimpin, kok. Di atas, kan? Pemimpin bikin masalah, terus rakyat bikin masalah. Terus kemudian, pemimpin bikin masalah lagi. Ya, kan? Polisi akhirnya melakukan kesalahan. Jadi, bolanya di siapa? Kita bisa lihat, ya.

Tetapi, balik lagi, ya. Kedamaian yang dari Allah itu sebenarnya tidak tergantung dari situasi dan kondisi. Nah, ini pentingnya kita belajar pengampunan. Sekalipun kita nggak bertemu dengan orang itu, sekalipun dia tidak minta maaf sama kita, sekalipun tidak ada solusi yang terjadi, tetap orang Kristen itu bisa mengampuni. Oh, ini hebatnya orang Kristen. Hebatnya Tuhan, lah. Tuhan yang ada di dalam hati kita. Sekalipun nggak ada solusi yang sebenarnya, senormalnya, tetapi kasih Tuhan, kedamaian dari Tuhan itu memampukan kita. Kita mengampuni. Sekalipun dia tidak minta maaf, tidak berbuat baik, tidak adil terjadi. Karena apa? Karena saya sudah diampuni oleh Allah terlebih dahulu. Wah, ini luar biasa, ya! Kalau kita merenungkan soal pengampunan itu tidak tergantung situasi dan kondisi yang ada dulu. “Ayo, ketemu dulu! Ngobrol dulu, dong, masalahnya apa. Minta maaf dulu!” Biasa kan gitu, kan? Tetapi orang Kristen, sekalipun, ya, memang kita boleh menuntut supaya dia bertobat, minta maaf, dan lain-lain, boleh menuntut kejelasan, tetapi sekalipun nggak ada kesempatan itu, kita belajar mengampuni. Ini pertolongan dari Roh Kudus sendiri, ya.

Nah, John Calvin menekankan bahwa orang percaya bukan dipanggil untuk pasif atau kompromi terhadap dosa, melainkan aktif membangun damai di dalam kebenaran. Damai yang sejati bukan berarti mengabaikan keadilan. Ia tetap, meskipun kita ada konflik, ada masalah, kita mau yang adil seperti apa. Ada tuntutan yang ideal. Kita mau ketemu, ngobrolin masalahnya. Kita cari solusinya, yang adil juga, tapi. Jangan solusi yang tidak masuk akal atau solusi yang tidak benar. Nah, ini ada unsur keadilan. Maka, ada penghakiman, kan. Di dalam negara, ada penghakiman. Bahkan kalau kita lihat konteks agama Yahudi, mereka pun ada lembaga mahkamah agama Yahudi, mengadili di situ, yang adil seperti apa. Bukan berarti kalau kita, OK, kita mengampuni, mengampuni. Nggak ada keadilannya. Bukan. Tetap keadilan terus dijalankan, tetapi ada sikap yang mau rekonsiliasi, mau melepaskan dendam, maksudnya tidak pegang dendam tersebut, tetapi lepaskan saja. Kita tidak mau mendendam kepada dia, ya.

Maka, Paulus menegaskan juga bahwa panggilan pembawa damai ini bukan hal yang mudah, meskipun kita tahu kita dipanggil untuk membawa damai. Paulus mengatakan, ya, di dalam Roma 12:18. Mari kita baca sama-sama, Bapak, Ibu sekalian. Roma 12:18. Mari kita baca bersama-sama firman Tuhan ini. “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”Sampai Paulus pun mengatakan, kalau bisa. Kalau bisa, nih. Kalau bisa, kita itu bisa berdamai dengan semua orang. Tetapi, kita tahu bahwa Yesus datang membawa pedang, kok. Kita yang benar saja, Yusuf yang hidup damai sejahtera, benar pun dimusuhi istri Potifar, kok. Ada peperangan, ada konflik. Nah, “sedapat-dapatnya” berarti apa? Bukan kita yang biang keroknya. Bukan kita yang penyebab masalah itu. Sedapat-dapatnya, kita itu nggak bikinkekacauan, tetapi kalau kekacauan itu harus terjadi, ya, kita hadapi bersama dengan Tuhan dengan keadilan dan kedamaian dari Tuhan sendiri. Nah, kita diutus untuk menjadi utusan kedamaian, ya, baik dalam keluarga, gereja, maupun masyarakat, bukan pembawa kekacauan.

Lalu yang ketiga, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita juga ini memiliki ciri khas dari anak-anak Allah. Ini adalah salah satu ciri khas yang Tuhan Yesus berikan di dalam khotbah di bukit bahwa kalau kita orang Kristen, kalau kita anak-anak Allah, maka kita ini cinta akan kedamaian. Jadi, cinta damai adalah ciri anak-anak Allah. Dalam budaya Yahudi, anak itu disebut serupa dengan bapaknya. Kalau kita punya anak, miripnya bisa orang tua, kan? Bisa papa, bisa mama, ya. Tetapi, dalam budaya tertentu itu ada juga yang pada akhirnya kalau mirip bapaknya-ini budaya, ya, budaya yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan-berarti anak ini hoki, gitu, ya. Anak ini mujur. Anak ini diberkati, lah. Padahal, semua anak diberkati, kan oleh Tuhan, ya? karena mirip bapaknya. Nah, ini kan budaya. Nah kita lihat bahwa kalau dalam budaya Yahudi juga ada sama seperti itu, ya. Anak itu serupanya sama bapak. Ini akhirnya gambaran di dalam pribadi Allah Tritunggal sendiri. Allah Bapa disebutnya namanya “Bapa.” Bapa. Terus, Anak Tunggal Allah, ya, “Anak” (Son). Yesus Kristus akhirnya ketika menjadi manusia, Ia menjadi Son, kan? Anak laki-laki.

Jadi, ketika kita lihat kalau kita anak-anak Allah, kita mau mencerminkan sifat Allah, kita ini diutus oleh Allah, ya, membawa damai. Kita cinta damai. Memang kita tidak memberhalakan kedamaian. Ya, kan? Tetapi, kita cinta damai. Kita cinta ketenangan, kebaikan karena Allah itu adalah Allah damai sejahtera. Nah, ketika menjadi anak-anak Allah, Allah mengakui kita sebagai milik-Nya dan kita bisa merefleksikan sifat-sifat Allah sendiri yang kita bisa lihat di dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah teladan kita yang sempurna, Gembala kita yang pertama. Dia adalah Guru Agung kita dan Dia mengajarkan damai sejahtera, tetapi kita tahu pun di dalam kehidupan-Nya tidak selalu berdamai dengan orang. Yesus biasanya konflik. Konflik dengan orang yang bagaimana? Dengan orang yang merasa diri benar, padahal salah. Legalisme. Yesus kenapa harus konflik dengan orang tersebut? Karena cara biasa, cara belas kasihan saja tidak mampu atau tidak mempan lah secara umum, ya. Maka, Yesus sering kali  menegur dengan keras orang-orang Farisi, ahli Taurat, ”Kamu itu keturunan ular beludak! Kamu itu adalah serigala berbulu domba!” dan lain-lain lah. Itu berarti apa? Ya, Yesus bersikap secara tepat.

Kristus sendiri disebut sebagai Raja Damai dan kita juga adalah pengikut dari Raja Damai tersebut, ya. Maka dari itu, kita belajar, ya, bersikap damai itu bagaimana. Sulit lah, ya, Bapak, ibu sekalian untuk cinta damai. Kita seringnya cinta diri. Jadi, kita ingin bersikap, berperilaku, berkata-kata sesuai kemauan kita. Padahal, kalau kita berkata-kata sesuai keinginan kita, keinginan kita adalah keinginan yang berdosa, maka ketika dosa itu muncul bisa konflik, bisa menimbulkan kekacauan. Terus, ketika kita sadar bahwa, ”Oh, orang itu marah-marah sama saya!” -misalkan, ya-“karena perkataan saya. Saya tidak rasa salah.” Akhirnya, menyalahkan orang lain. Bolanya di orang lain, padahal di kita karena kita yang hatinya itu penuh dengan dosa. Nah, ini perlu hikmat Tuhan, bagaimana pada akhirnya bisa mengaplikasikan kedamaian. Sulit. Maka, Yesus katakan bahwa kalau kita bisa membawa damai itu, wah, kamu itu anak-anak Allah. Anak-anak-Ku. Anak-anak Bapa di surga karena Bapa itu terus senantiasa menyatakan kedamaian, belas kasihan dan pengampunan kepada orang-orang yang berdosa.

Maka, pemahaman kita, Bapak, Ibu, Saudara sekalian tentang Allah, ya, kita harus bijaksana, hati-hati. Hati-hati juga sampai ke pemahaman, ya. Sering kali, gereja Tuhan itu menekankan kasihnya Allah. Ya, kan? Kasihnya Allah terus kasih, kasih, kasih, lupa keadilan-Nya. Tetapi, ada gereja-gereja tertentu menekankan keadilan Allah, hukuman Allah, tuntutan Allah untuk bertobat. Tuntut, tuntut sehingga lupa kasih-Nya.

Nah, sebagai orang Kristen, kita mengenal Allah harus secara seimbang, komprehensif. Allah kasih? Allah kasih. Allah adil? Allah adil. Dan orang Kristen adalah orang yang paling mengerti sifat Allah seperti ini. Karena apa? Karena Tuhan menyatakan di dalam salib Kristus ini. Kalau kita lihat salib, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita harus ingat 2 sifat Allah. Harus. Lalu, ingat apa lagi? Salib. Salib itu ingat 10 perintah Allah juga. Bagaimana kasih secara vertikal kepada Allah, hukum 1 sampai 4, lalu juga kasih secara horizontal, hukum 5 sampai 10. Terus, ada sifat kasih, sifat keadilan. Di situlah Yesus tergantung di atas kayu salib. Hukuman berarti apa? Pasti terjadi. Itu ketenangan kita. Hukuman bagi para penjahat pasti akan terlaksana. Tetapi kasih Tuhan pun akan nyata bagi orang-orang. Dan Tuhan itu adil ya. Dia memberikan upah kepada semua orang itu juga berdasarkan perbuatannya, selain anugerah-Nya yang begitu besar kepada kita umat pilihan-Nya.

Jadi dari sini kita bisa melihat Bapak, Ibu, Saudara sekalian tiga poin yang kita renungkan, yang kita coba ingat bahwa damai sejahtera itu yang sejati berasal dari Kristus, dari Allah dan kita juga dipanggil untuk menjadi pembawa damai meskipun susah. Dan kita juga harus menumbuhkan sifat cinta akan kedamaian karena itu menunjukkan Allah itu sendiri siapa. Ini kesaksian hidup kita ya. Kalau kesaksian hidup orang Kristen sukanya bertengkar, konflik, anak setan atau anak Allah yang sukanya marah, sedikit-sedikit, tersinggung, sedikit-sedikit, “oh orang nggak sesuai dengan saya. Singkirkan” gitu ya. Sedikit-sedikit marah, komplain, mengeluh. Kita itu pembawa damai atau pembawa masalah gitu ya. Nah, mari kita kampanyekan kedamaian.

Yitzhak Rabin bukan orang Kristen. Dia orang Yahudi biasa. Dia pemimpin negara, ya. Orang non-Kristen mengampanyekan kedamaian, orang Kristen mengampanyekan peperangan gitu ya. Nggak lah. Kita juga mengampanyekan kedamaian dimulai dari diri kita sendiri, dimulai dari keluarga kita, sekolah kita, gereja kita, masyarakat bahkan negara. Ada seorang teolog menjelaskan, Ya, Bapak Ibu sekalian, penyesuaian harus dilakukan oleh dua orang lajang yang mau menikah. Dia katakan bahwa pernikahan antara laki-laki dan perempuan itu ibarat dua planet ya mengelilingi matahari dengan kecepatan dan orbit yang berbeda, ya. Jadi ada matahari terus planet mengelilingi, gitu ya dengan kecepatan dan orbit yang berbeda gitu ya. Terus kemudian dia katakan bahwa pernikahan harus dijalankan dengan kecepatan dan orbit yang sama. Ya harus orbitnya sama, kecepatan sama. Kalau menempuh jalur yang sama tapi kecepatan berbeda, maka akan terjadi tabrakan. Si laki-laki ngebut, si perempuan, istri pelan nanti tabrakan karena si suami menyusul istri dan tabrakan lah ya. Nah, tabrakan dihindari dengan cara apa? Ya, teolog tersebut mengatakan dengan cara kedamaian. Kedamaian berarti apa? Kalau dalam ilustrasi ini suatu visi dan misi yang sama. Nah, ini penting di dalam pernikahan. Kenapa pernikahan akhirnya menjadi bukan pernikahan ya, akhirnya jadi peperangan? Karena nggak ada damai, nggak ada visi misi yang sama yang ngikutin bersama-sama orbitnya, mataharinya adalah tentu Yesus Kristus ya, pusatnya kita mengikuti pimpinan Roh Kudus. Dan kedamaian dalam pernikahan dicapai dengan apa? Dengan bagaimana suami mengasihi istri, istri pun menghormati suami. Dan ini akan menjadi suatu kedamaian yang bisa timbul di dalam keluarga. Kenapa pada akhirnya ya banyak pernikahan juga yang berakhir di dalam perceraian atau kedinginan dan akhirnya konflik, ya, mati rasa lagi, ya? Karena ya tidak ada kedamaian tersebut, ya.

Nah, sekali lagi Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kunci perdamaian adalah bagaimana kita mengenal Allah dan menaati perintah-perintah Allah. Ini iman kita. Kalau kita percaya kepada Allah, lalu kita taati firman Allah, kedamaian itu pasti terjadi, ya, pasti terjadi dalam hidup kita, dalam setiap bidang kita. Meskipun ada kalanya tentu tidak damai, entah karena faktor eksternal, entah karena kejatuhan kita sendiri, kelemahan kita sendiri. Tapi kalau kita sungguh-sungguh bergantung kepada Tuhan, masa sih raja damai itu tidak bisa memberikan damai? Masa Prince of peace itu, Penguasa damai itu tidak memberikan damai kepada rakyat-Nya. Maka dari itu kita harus bergantung kepada Yesus Kristus. Yesus yang mampu membawa kita untuk berdamai dengan Allah, Yesus yang mampu memberikan kedamaian di dalam hati kita, Yesus yang mampu mendamaikan kita dengan orang lain, Yesus akan membawa damai yang sempurna nanti di surga ketika Yesus datang kembali kedua kalinya di bumi. Nanti kita akan menikmati damai sejahtera, shalom yang begitu indah di surga nanti. Itu pengharapan kita.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, dalam SPIK gereja yang kemarin ada satu khotbah yang saya sangat jarang sekali dengar dari salah satu pembicara, yaitu bagaimana gereja Kristen atau kita orang-orang Kristen itu didorong untuk merintis gereja. Yaitu dibawakan oleh pendeta Amos, ya. Dia jelaskan dengan perumpamaan yang sederhana, ya. Ya, pasangan yang normal, yang sehat, bukan ada pengecualian ya, pasangan yang normal, yang sehat itu pasti inginnya punya anak yang sehat juga. Kadang-kadang meskipun, ya, kita tahu kita ingin punya anak, tapi kan ada risiko anak kita cacat, berkebutuhan khusus atau tidak sehat atau tidak sempurna lah layaknya orang tuanya misalkan ya. Tapi pasangan yang sehat ingin melahirkan anak, meneruskan keturunan, coba pengalaman punya anak itu seperti apa kayak gitu ya. Maka dari itu kalau gereja yang sehat, dia katakan gereja yang sehat seharusnya bagaimana? Melahirkan anak juga, melahirkan gereja. Maka yang kita sebutkan kalau orang-orang Jawa kan sebutnya pepantan. Kalau orang Indonesia pada umumnya ya cabanglah, gitu ya. Cabang, pepantan atau pos PI atau persekutuan atau satelit, gitu ya. Itu sebutan-sebutan kita bahwa gereja punya cabanglah intinya ya, punya perintisan dan lain-lain.

Nah, unik ya. Kita dipanggil kalau bisa buat gereja silakan buat gereja. Tapi harus gereja yang baik ya, yang benar, yang pembawa kedamaian ya. Nah, dengan semakin banyak gereja yang sehat berarti apa? Semakin banyak kedamaian. Orang yang sehat kan tenang ya, damai. Kalau yang sakit, wah ya ada kedamaian dari Tuhan, tapi ada juga kekhawatiran sembuhnya kapan. Kemarin baru saja PI rumah sakit ya di Solo. Ada seorang pasien saya kunjungi. Ketika mengunjungi itu si ibu ini sudah seminggu, kadang-kadang demam muncul, kadang sehat, jadi bingung. Terus ketika saya tanya, penyakitnya apa gitu, dia bilang belum tahu, masih observasi. Jadi sudah seminggu di rumah sakit terbaring tapi nggak tahu penyakitnya apa. Terus bagaimana bisa damai dari dunia? Nggak bisa. Damai sejahtera itu datangnya dari Allah saja. Bahwa Allah turut bekerja di dalam kedaulatan-Nya. ya.

Nah, maka waktu kita gerejanya sehat, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita melahirkan gereja yang lain dan perintisan gereja adalah sesuai dengan tema khotbah pada hari ini. Kalau gereja yang sehat bisa melahirkan gereja yang lain, berarti apa? Gereja yang penuh dengan kedamaian Kristus, karena Kepala gereja adalah Raja damai. Maka kedamaian yang lain itu muncul di daerah yang lain. Ada daerah lain, ada gereja, berarti ada kedamaian yang lain di daerah tersebut. Ada Injil, ada kabar baik. Semakin Injil disebarluaskan, berarti semakin damai sejahtera Allah itu juga disebarluaskan. Nah, ini tanggung jawab gereja. Kita pembawa damai. Kita sebagai orang Kristen bukan mau membawa kekacauan, tapi kita belajar terus untuk membawa damai di dalam seluruh bidang kehidupan kita. Maka dari itu, Bapak, lbu, Saudara sekalian, ya, jadilah pembawa damai. Kita di gereja ini dilatih juga untuk memiliki damai sejahtera dalam Kristus. Jadilah pembawa damai di keluarga kita, di sekolah, di jalanan, ya, di negara, maupun di mana pun kita berada. Karena kita punya Kristus Sang Raja damai. Mari kita sama-sama berdoa.

Ya Tuhan Allah Bapa kami yang di surga, sumber damai sejahtera, kami bersyukur untuk damai sejahtera yang Kau berikan di dalam Yesus Kristus, Sang Raja Damai, Sang Penguasa Kedamaian. Kami bersyukur Tuhan, kami yang sudah seharusnya dihukum dalam dosa-dosa kami dan dibinasakan di dalam keadilan Tuhan, kami boleh diselamatkan hanya karena anugerah dan kami boleh memiliki damai sejahtera dari Kristus. Kami tahu sebagai manusia, kami bukanlah manusia yang sempurna yang bisa selalu menunjukkan kedamaian Tuhan dalam hidup kami. Tapi kami mau belajar Tuhan setahap demi setahap untuk mengerti damai yang sudah Yesus berikan kepada kami dan juga untuk menyalurkan kedamaian kepada hidup kami, maupun keluarga kami, maupun orang-orang di sekitar kami. Tolonglah kami Tuhan menjadi pembawa damai karena kami menyadari bahwa kami adalah anak-anak Tuhan yang sudah diadopsi, yang sudah diselamatkan, dibenarkan, dan juga memasuki tahapan pengudusan di dalam Tuhan sendiri. Kami berdoa Tuhan untuk situasi kondisi yang tidak damai yang boleh terjadi baik di dalam kehidupan kami, di dalam keluarga kami, di dalam negara kami. Kiranya anugerah Tuhan boleh tercurah atas setiap kami semua supaya kami bisa mengenal kedamaian dari Tuhan sendiri. Di dalam nama Tuhan Yesus, Penebus dan Juruselamat kami yang hidup, kami sudah berdoa dan mengucap syukur. Amin.