Ucapan Bahagia (9)
Mat. 5:10
Pdt. Nathanael Marvin, M. Th
Bapak, Ibu, Saudara sekalian, hari-hari ini Indonesia sedang menghadapi juga yang dinamakan sebagai penganiayaan. Penganiayaan itu apa sih secara umum? Ya, definisi secara umum itu adalah sebuah tindakan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Bagaimana manusia dengan manusia yang lainnya menganiaya atau saling menganiaya. Ini adalah sebuah tindakan dosa, kenapa? Karena ini adalah tindakan jahat kepada sesama, tindakan untuk menyakiti sesama; menyakiti secara fisik maupun secara mental, mencelakakan seseorang. Ya, menyesatkan seseorang itu juga sebuah penganiayaan sebenarnya. Penganiayaan berarti menindas sesama juga, terutama orang-orang yang kuat, orang-orang yang memiliki kuasa, kemampuan yang lebih, kemudian menipu orang-orang yang lemah, orang-orang yang miskin, orang-orang yang tertindas, sehingga mereka mengalami suatu hal yang buruk dalam kehidupan mereka. Itu penganiayaan. Penganiayaan juga adalah suatu tindakan, hal yang merugikan orang lain secara fisik, secara psikologis, maupun secara sosial. Bahkan nama baik pun ya kalau kita jelek-jelekkan orang, kita sedang menganiaya orang yang kita jelek-jelekkan.
Ya, berarti ada unsur apa? Menjelekkan nama seseorang. Itu pun sebuah penganiayaan.
Nah, di masa demo terhadap kinerja DPR di Indonesia ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, begitu banyak penganiayaan yang terjadi. Kita tahu ada pembakaran gedung DPRD atau gedung-gedung di sekitarnya. Kita juga ada pembakaran kita tahu ya, ada pembakaran kantor polisi dan juga berbagai kendaraan ya. Itu kan adalah sebuah tindakan yang menyakiti. Barang kita dibakar orang. Coba ya bayangkan ya. Hak kepemilikan kita, handphone kita itu dibakar oleh orang lain. Ada unsur kita sedih, kesal, rugi, dan disakiti. Perusakan fasilitas umum juga ya itu juga menjadi suatu hal yang bentuk bagaimana penganiayaan ini terjadi. Dan ketika saya sempat beli koran ya di pinggir jalan, beli koran sebenarnya saya tidak terlalu memerlukan koran ya apalagi di zaman media sosial tapi saya cenderung ya beli saja karena orang jualan ya, berusaha ya. Saya sekedar beli sekalian kasih berkat, kasih traktat juga kepada dia. Begitu saya ambil korannya, lihat di depan adalah berita bicara soal penganiayaan. Bagaimana 10 korban meninggal di berbagai kota di Indonesia. Akibat apa? Akibat demo ataupun orang-orang yang memang anarkis ya, yang pengen membuat kekacauan. Entah itu karena tertabrak kendaraan taktis polisi ya, lalu juga ada pegawai-pegawai DPR yang ketika dibakar gedungnya mereka terjebak di gedung kantor DPR dan harus meninggal terbakar karena dibakar ya. Ada yang terpapar gas air mata, pemukulan. Dan juga kalau di Yogyakarta ada satu mahasiswa yang meninggal ya. Di Solo juga ada tukang becak yang meninggal. Karena apa? Karena demo yang kacau ya, yang anarkis, yang dimasuki orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang pengen membuat kekacauan di dalam masyarakat.
Bukan saja saat demonstrasi di Indonesia, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya, sebenarnya berbagai macam tindakan penganiayaan itu terjadi di mana-mana. Bukan saja saat demo, saat tidak ada demo pun penganiayaan itu bisa terjadi di mana-mana dan selalu terjadi di mana-mana. Bagaimana orang berdosa pada akhirnya melakukan kejahatan kepada sesamanya. Entah itu memperkosa, entah itu merampok, membunuh, melukai, dan lain-lain ya. Terlepas dari demo atau tidak, orang-orang dapat saling menganiayai. Ya, karena apa? Karena dosa. Karena kita semua manusia berdosa dan kita juga memberhalakan, seringkali ya, memberhalakan ego kita sehingga kita tidak mau taat pada hukum Tuhan dan akhirnya membuat dampak yang menyakitkan kepada lingkungan kita. Atas setiap penganiayaan yang terjadi, Bapak, lbu, Saudara sekalian, ya kita patut bersedih, kita juga patut berduka, kita patut berdoa juga agar Tuhan tidak membiarkan penganiayaan terus terjadi di dalam dunia ini. Kita mendoakan supaya penegak hukum, orang-orang yang bertugas dalam keamanan juga bisa menjalankan tugas dengan baik.
Nah, untuk bisa melihat penganiayaan dengan cara yang lebih tajam lagi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita bisa melihat penganiayaan itu timbul dari apa. Di sinilah Yesus berkhotbah dengan cara yang berbeda dari dunia. Ketika dunia melihat bahwa ada penganiayaan, ya dunia melihat karena manusia egois, karena manusia sudah jatuh dalam dosa, karena manusia ada kepentingan diri sendiri dan ingin melukai sesama. Ya, di situ kita bisa lihat bahwa manusia melihat penganiayaan terjadi itu karena manusia itu sendiri. Tetapi di dalam khotbah Yesus di bukit ini, kita bisa melihat sumber penganiayaan yang lain, yaitu apa? Bukan karena manusia itu melakukan sebuah dosa, kejahatan, tetapi justru melakukan kebenaran dan kebaikan. Orang bisa tetap teraniaya. Dan di situ Yesus katakan, “Kalau kamu mengerti kenapa kamu teraniaya, oleh sebab apa, kamu berbahagia?” Yesus kasih rumus bahwa oleh sebab kebenaran kamu teraniaya, berbahagialah karena engkau itu adalah orang yang memiliki kerajaan surga. Bukti kamu memiliki kerajaan surga adalah kamu berhadapan dengan kerajaan dunia dan kamu mengalami aniaya oleh sebab kebenaran. Karena kita berbuat baik, kita teraniaya. Karena kita berbuat hal yang penuh kasih, kita teraniaya. Di situ Yesus katakan tetap kamu berbahagia. Itu adalah suatu hal yang baik untuk kamu sehingga kamu juga imannya diuji untuk setia kepada Kristus.
Nah, kebenaran apa yang dimaksudkan oleh Yesus di dalam khotbahnya di bukit ini? Itu adalah kebenaran Injil. Ketika kamu mengabarkan Injil, kamu dihina orang, ditolak orang, dimusuhi orang, Yesus katakan, “Berbahagialah karena kamu memiliki bukti bahwa kamu itu betul-betul sudah memiliki kerajaan surga.” Jadi, penganiayaan tidak timbul selalu karena dosa manusia dan kesalahan manusia, tetapi justru bisa terjadi karena kebenaran Tuhan sendiri dinyatakan. Lalu respon dari manusia yang berdosa yang tidak suka akan kebenaran Tuhan sehingga timbul penganiayaan. Memangnya Yesus melakukan kejahatan? Kesalahan? Dosa? Yesus tidak pernah lakukan kejahatan, tidak pernah lakukan dosa dan kesalahan. Tetapi Yesus pun adalah orang yang paling teraniaya. Hamba yang paling teraniaya oleh banyak orang yang Dia kasihi, dan Yesus adalah orang yang paling berbahagia karena Dia menyatakan kerajaan surga di dalam kehidupan-Nya.
Kita ingat Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Stefanus. Stefanus adalah seseorang yang dipanggil Tuhan untuk melayani sebagai diaken. Dia disebut sebagai seorang yang penuh iman dan penuh Roh Kudus. Orang yang beriman sungguh-sungguh. Ada tindakan nyata di dalam kehidupannya yang menunjukkan imannya kepada Kristus, kepada firman-Nya. Dia tekun beribadah, dia tekun berbuat baik, dia tekun melayani Tuhan. Dia memiliki bijaksana Tuhan dalam menyatakan imannya kepada orang-orang yang bukan Kristen. Bahkan dia juga mengikuti pelayanan diakonia. Dia giat menolong, mengatur pelayanan kepada janda-janda dan orang-orang miskin dan kemudian dia justru melayani para rasul juga, karena apa? Karena dengan pada akhirnya Stefanus itu melayani kebutuhan orang-orang yang membutuhkan di zamannya, orang-orang janda maupun orang-orang miskin, para rasul itu terbantu. Karena apa? Para rasul bisa fokus untuk merenungkan firman, menyatakan firman, maupun juga para rasul bisa berdoa kepada Tuhan dengan cara yang baik, yang benar, dan juga bisa mempengaruhi orang untuk bisa mempelajari kehidupan dalam doa maupun kehidupan di dalam firman Tuhan ya.
Stefanus sungguh-sungguh mengerti panggilannya sebagai orang Kristen. Kalau dia dipanggil sebagai diaken, dia layani Tuhan sebagai diaken di dalam gerejanya ya. Kesaksian Stefanus pun begitu memberkati banyak orang. Tetapi kehidupan yang terus berjuang untuk hidup baik, hidup benar pun bukan berarti tidak ada tantangan dan bahaya. Ya, banyak sekali bahaya dan tantangan yang dihadapi oleh Stefanus. Orang-orang itu bisa tidak suka sama kita yang rajin ke gereja. Orang-orang itu bisa iri hati, tidak suka ketika kita bisa dipakai Tuhan, melayani Tuhan, ya. Dan orang-orang itu juga tidak suka karena apa? Ada unsur keegoisannya, unsur kepentingan diri sendiri, yaitu rang-orang Farisi maupun ahli Taurat iri hati kepada Stefanus. Kok saya yang jadinya tidak banyak pengikutnya? Kok agama Yahudi kok tidak lebih baik daripada agama Kristen, pengikut Kristus ya. Ada unsur keegoisan yang pada akhirnya orang-orang tidak suka kepada Stetanus bahkan membenci Stefanus bahkan itu membuahkan suatu tindakan yang kasar dan menganiaya Stefanus.
Orang-orang Yahudi dan para pemimpin agama Yahudi memfitnah Stefanus sudah mengajarkan hal yang sesat. Padahal ajarannya benar. Bukankah ini penganiayaan akan kebenaran? Sudah khotbah baik-baik, sudah khotbahkan firman Tuhan, sudah layani Tuhan, orang-orang yang berkekurangan, orang-orang yang tertindas, tapi dianggap kamu itu ngajarin hal yang sesat gitu ya. Ini adalah penganiayaan. Stefanus juga dituduh menghina Musa maupun Allah. Padahal Stefanus justru menghormati Musa dan menyembah Allah. Ini juga sebuah pemfitnahan. Ini juga adalah penganiayaan. Karena apa? Karena kebenaran yang dilakukan oleh Stefanus. Akhirnya Stefanus ditangkap dan dibawa ke mahkamah agama Yahudi untuk diadili. Dan para saksi yang disuruh oleh pemimpin agama Yahudi bersaksi tentang Stefanus juga sudah disuap, sudah disogok dengan sejumlah harta, sejumlah uang sehingga menyatakan statement yang palsu terhadap Stefanus, sampai Stefanus pun tidak bisa lari dari penghukuman orang-orang Yahudi ya.
Stefanus harus dihukum dan ini juga adalah penganiayaan. Dia dihukum padahal tidak salah. Dengan penuh keberanian dan cinta kasih di dalam pengadilan tersebut, Stefanus diberikan kesempatan untuk membela perkaranya. Maka Stefanus menggunakan waktu yang ada dengan berani, ya. Dia mengkhotbahkan tentang kebenaran mulai dari Perjanjian Lama sampai kepada Yesus Kristus, dan akhirnya apa? Sebuah teguran pun sampai kepada orang-orang Farisi, pemimpin agama Yahudi, sehingga itu membuat hati mereka makin panas lagi karena ditegur oleh kebenaran, ditegur oleh Stefanus yang menyatakan Injil Tuhan dan fakta maupun realita yang terjadi. Padahal Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau kita ditegur, ditegur oleh Tuhan dengan juga ditegur oleh manusia oleh karena kebenaran, sebenarnya itu adalah suatu pertolongan Tuhan supaya kita tidak semakin tersesat, supaya kita tidak salah arah ya.
Kita bisa bertobat karena apa? Menyadari kesalahan, menyadari dosa karena diberitahu oleh orang lain. Maka saya pernah dikasih tahuoleh jemaat ya, “Pak Marvin, saya sudah menganalisa ya, bagaimana supaya khotbah atau pengkhotbah itu menjadi seorang pengkhotbah yang baik.” Dia kasih tahu salah satunya apa. Saya juga kan bingung-bingung ya, apa ya? Bagaimana supaya menjadi pengkhotbah yang lebih baik lagi, yang lebih bertumbuh lagi sesuai dengan kehendak Tuhan. Terus dia katakan bahwa, salah satu ciri pengkhotbah yang baik di dalam Alkitab adalah, khotbahnya itu menegur dosa. Menegur orang tersebut. Ya menegur, menyentuh hatinya, sehingga orang tersebut bisa tahu salahnya apa. Sehingga karena dikasih tahu, itu adalah blind spot-nya dia, titik butanya dia, dia pada akhirnya dia bisa bertobat. Mengubah hidupnya. Dan ketika saya pikirkan betul ya. Memang di dalam sejarah Alkitab, para hamba-hamba Tuhan, nabi dulu, kemudian rasul, sekarang nabi dan rasul sudah tidak ada jabatannya, yang ada adalah penginjil, pengajar, penggembala ya, itu semua bertindak memberitakan firman Tuhan, kebenaran, tetapi sesuai konteks pergumulan dari dosa-dosa bangsa Israel. Kalau bangsa Israel berdosa di dalam hal penyembahan berhala, ditegurlah dosa penyembahan berhala tersebut. Kalau dosa Israel cinta akan uang, ditegurlah soal cinta akan uang. Maka yang dikhotbahkan nabi terakhir, yaitu Yohanes Pembaptis ya, sebelum Nabi Yang Terakhir yaitu Nabi di atas segala nabi yaitu Yesus Kristus datang. Itu nabi yang terakhir adalah Yohanes Pembaptis, nabi yang mempersiapkan jalan bagi Sang Nabi ini, Yohanes Pembaptis memberitakan pertobatan. Yang mabuk-mabukan jangan mabuk-mabukan lagi. Yang berdosa, jangan berdosa lagi, yang egois jangan egois lagi, yang mencuri berhenti mencuri, yang membunuh jangan membunuh. Bertobat. Seruan orang-orang yang dipanggil sebagai hamba Tuhan adalah seruan bertobat.
Nah di sinilah Stefanus bukan saja menjelaskan penjelasan tentang firman Tuhan, penutupnya adalah teguran yang keras kepada orang-orang Yahudi, pemimpin-pemimpin agama ditegur, bahwa, “Kamu ini tidak mengerti firman dan kamu ini sudah menyalibkan utusan Tuhan, Mesias, yaitu Yesus Kristus. Kamu menolak nabi-nabi Allah, kamu menolak Mesias bahkan membunuh Mesias itu sendiri.” Wah, mereka sangat ditegur dan marah. Padahal itu kebenaran. Stefanus berani menyatakan kebenaran kepada orang-orang yang berdosa. Dan teguran yang dikatakan Stefanus akhirnya menimbulkan kemarahan bagi orang-orang Yahudi yang mendengarnya, sampai akhirnya orang-orang Yahudi itu yang katanya harus sopan santun baik, rela menyeret Stefanus dengan kasar ke luar kota dan melakukan penganiayaan di publik, dan mengambil batu-batu dan merajam Stefanus. Dilempar dari jarak dekat, dilempar dengan keras. Stefanus dilukai, disakiti, tubuhnya berdarah-darah. Dan di dalam kematiannya, di sinilah perkataan Yesus itu betul-betul terjadi, “Berbahagialah orang yang dianiaya, oleh sebab kebenaran. Karena merekalah yang punya kerajaan Sorga.” Di tengah-tengah kelemahan tubuhnya, kesadaran yang semakin menghilang, darahnya yang tercucur, Stefanus itu melihat langit terbuka, dan kemudian Yesus berdiri di sebelah kanan Allah seolah-olah menyambut Stefanus datang ke kerajaan Surga.
Orang-orang yang dianiaya oleh karena kebenaran itu dihormati oleh Yesus Kristus. Jarang sekali, kita melihat bagaimana Yesus Kristus itu berdiri menyambut seseorang. Yesus berkhotbah di atas bukit ini saja gayanya duduk ya, kalau menurut gambar-gambar. Dia duduk memang. Di dalam Alkitab diceritakan Dia duduk dengan tenang. Sebagai seorang profesor di atas segala profesor, mengadakan seminar di atas segala seminar, dan Yesus menyatakan kebenaran. Karena Dia sebagai posisi Raja ya. Tapi Sang Raja ini berdiri menyambut serdadu-Nya. Kenapa? Kenapa Yesus berdiri sebagai Raja menyambut serdadu-Nya yaitu Stefanus yang setia? Karena Stefanus dianiaya oleh sebab kebenaran. Stefanus disambut oleh Yesus Kristus dan inilah janji Tuhan. Ucapan bahagia Yesus Kristus itu pasti terjadi. Itu iman kita, sekalipun seolah-olah kita tidak merasa melihat penggenapan dari ucapan dari Yesus Kristus. Tetapi namanya firman Tuhan dari Tuhan sendiri ya pasti terjadi. Maka ketika kita menyadari, sudah sampai delapan ucapan bahagia – ada yang menggabung ya, teolog itu menggabung ucapan bahagia yang ke-8 ini dengan ayat ke-11, “Berbahagialah jika karena Aku kamu dicela dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” Ada yang menggabung dengan ayat bawahnya, jadi ucapan bahagia totalnya 8, tetapi ada juga yang memisahkan. “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh kebenaran dan juga berbahagialah kamu jika karena Yesus kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” Itu dipisah menjadi ucapan bahagia yang ke-9. Nah ketika saya berkhotbah lagi di Yogjakarta, kita akan bahas ya ucapan bahagia yang ke-9 ya.
Nah sekarang kita lihat, apa sih maksud Yesus bicara soal kata penganiayaan. Apakah penganiayaan itu yang dimaksud bisa dijelaskan secara umum, sesama menyakiti sesamanya? Tetapi kalau kita lihat arti kata dalam bahasa Yunaninya, penganiayaan ini sebuah definisi yang lebih tajam lagi yaitu adalah perburuan, pengejaran. Itu penganiayaan yang dijelaskan di dalam ucapan bahagia Yesus Kristus. Jadi bukan karena dianiaya kena bom, kena asap, terluka, nggak sengaja. Bukan nggak sengaja ya, tapi penganiayaan yang dijelaskan oleh Yesus Kristus adalah sebuah penganiayaan yang betul-betul dengan sengaja. Diburu. Orang-orang Kristen diburu; Stefanus. Orang-orang Kristen karena imannya, dikejar ditangkap oleh Saulus. Ini adalah satu hal penganiayaan yang dijelaskan di dalam ayat ini.
Bentuk penderitaan dan penganiayaan ini bisa berupa perburuan, pengejaran yang betul-betul mau menjatuhkan orang-orang Kristen karena imannya. Misalkan diejek secara sistematis, itu beda kan, dengan diejek secara tidak sengaja. Pengucilan secara sistematis, beda dengan memang dikucilkan karena relasi satu dengan yang lainnya. Tetapi kalau secara sistematis berarti teratur, ada organisasinya, ada kelompoknya, yang berusaha untuk menekan dia. Nah ini bahaya sekali. Kalau fitnah memang lebih kejam dari pembunuhan ya, tapi fitnah yang sistematis itu lebih kejam daripada fitnah. Ini betul-betul penganiayaan, perburuan, pengejaran, penindasan terhadap orang percaya karena iman mereka kepada Allah dan Yesus Kristus.
Puji Tuhan ya, kalau kita di saat sekarang, kita sebagai orang Kristen pada zaman ini, kelihatannya sangat jarang atau mungkin kita tidak pernah mengalami perburuan seperti itu. Mungkin ada yang pernah mengalami, tapi itu bicara soal ras. Soal rasisme, soal suku, ada soal agama mungkin dialami. Tetapi ada juga orang-orang Kristen di Indonesia yang tidak mengalami hal tersebut. Tidak terlalu kental ya. Meskipun kita tahu tetap ada penganiayaan yang secara sungguh-sungguh, secara perburuan, pengejaran, gitu ya.
Nah inilah yang sudah Yesus persiapkan bagi kita sebagai murid-murid Kristus. Sebagai murid-murid Kristus itu ada penganiayaan yang bisa terjadi, seperti itu, dengan sengaja. Maka Yesus mengatakan dalam Matius 16:24, di situ dikatakan ada 3 syarat untuk bisa mengikut Yesus Kristus. Dikatakan ya, “Lalu Yesus katakan pada murid-muridNya, setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.” Menyangkal diri itu suatu bentuk apa? Kita menolak ego kita yang berdosa ya. Kita menolak godaan dari kedagingan kita yang menjerumuskan kita ke dalam dosa. Kita tolak. Itu suatu hal yang berat. Berat menolak diri sendiri yang berdosa ya. Kemudian memikul salibnya. Salib di sini bukan memikul salib Yesus Kristus ya. Tetapi salib dirinya sendiri, yaitu salib apa? Salib penderitaannya sendiri. Kesulitannya, penganiayaan oleh sebab kebenaran. Lalu ikutlah Yesus. Jadi sebagai murid Kristus kita tahu bahwa ikut Yesus itu tidak mudah. Maka kalau ada orang Kristen mengatakan bahwa ikut Yesus itu mudah, pasti lancar, pasti bahagia, pasti diberkati, ya secara materi tanpa ada kesulitan sama sekali, itu adalah pemahaman yang salah tentang mengikut Yesus. Itu bukan pemahaman yang benar. Tapi justru mengikut Yesus pasti ada kesulitan, ada tanggung jawab yang besar, ada penderitaan, ada penganiayaan. Nah barulah kemudian kita lihat, Tuhan akan menolong kita, untuk melalui segala kesulitan tersebut, nah itu adalah mengikut Yesus ya.
Lalu kita lihat dalam 2 Timotius 3:12 saya bacakan ya, “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.” Orang yang menyembah Kristus akan menderita aniaya. Akan ada orang yang tidak suka secara sengaja. Saya nggak suka orang Kristen. Nah buktinya adalah ketika pada akhirnya orang-orang Kristen itu mengambil salah jalan misalkan ya, dia akhirnya berpacaran, atau menikah dengan orang yang bukan Kristen, orang yang bukan Kristen ini ada yang betul-betul menolak orang Kristen karena imannya. Ini bicara soal imannya. Ada orang-orang yang dari non-kristen yang mau mengambil iman Kristen, mau percaya kepada Yesus Kristus pun, pada akhirnya kalau kamu mau menjadi orang Kristen, keluar dari keluarga ini, diusir. Banyak terjadi seperti itu di dalam negara Indonesia pun. Berarti apa? Pengikut Yesus itu menderita. Akan mendapatkan penganiayaan. Sudah pasti. Sudah dinubuatkan oleh Yesus Kristus. Sudah dicatatkan Alkitab. Maka kita bisa agak takut, agak minder, kalau kita rasa-rasa kok tidak ada yang menganiaya kita ya. Sebagai orang Kristen. Karena sebagai orang Kristen yang mau beribadah kepada Kristus, Paulus mengatakan akan menderita aniaya.
Bukan berarti kita cari-cari penderitaan dan aniaya ya. Wah kayaknya saya salah nih, sebagai orang Kristen kok nggak pernah dianiaya orang. Akhirnya kemudian cari-cari supaya membuktikan diri orang Kristen ya. Cari-cari penganiayaan. Bukan ya. Penganiayaan itu ada masanya sendiri. Ada situasi dan kondisinya sendiri yang akan datang ya. ESV, terjemahan ESV dalam 2 Timotius 3:12 ini dikatakan ya, “Indeed, all who desire to live a godly life in Christ Jesus will be persecuted, will be presecuted.” Betul-betul kita yang punya hasrat hidup bagi Kristus akan ada penganiayaan. Akan ada kesulitan. Akan ada penderitaan. Ini pasti. Jadi sebagai orang Kristen kita harus bersiap ketika penganiayaan oleh sebab kebenaran oleh sebab Yesus Kristus. Minimal dari siapa sih Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Ada perburuan, ada pengejaran untuk mencelakakan orang Kristen. Kita lihat taman Eden saja langsung. Siapa yang memburu orang Kristen? Siapa yang mengejar orang Kristen agar hidup dalam dosa? Setan itu sendiri yang sudah jatuh dalam dosa. Ular memburu manusia, tapi dalam arti simbolis sebagaimana setan mengejar, mencelakakan orang Kristen. Andai kita tidak pernah mengalami penganiayaan mungkin seperti orang-orang di Indonesia yang tinggal di kota-kota atau daerah-daerah kantong-kantong Kristen. Justru orang Kristennya malah suka menganiaya orang non-kristen yang lainnya ya, karena tinggal di kantong-kantong Kristen. Andai mereka tidak dianiaya oleh sesama, ada kalanya, tetapi pasti mereka dianiaya oleh iblis, oleh setan. Setan itu memburu kita, mengejar kita supaya kita jatuh. Maka waktu kita mengalami penganiayaan, kita jangan kaget. Ya memang orang Kristen banyak tantangan kok di dalam pelayanan, di dalam kehidupan rohani kita secara pribadi, membaca Alkitab, berdoa. Ada kalanya kita sangat sulit untuk membaca Alkitab, sangat sulit untuk berdoa. Karena apa? Karena ada musuh yang memburu kita untuk terus jatuh ke dalam dosa.
Dan kita harus berdoa juga agar jangan sampai kita mendapatkan penganiayaan oleh sebab yang lain selain kebenaran. Kalau orang Kristen sudah otomatis karena dia setia ada Kristus menjadi musuh bagi iblis, musuh bagi dunia, musuh bagi daging sendiri, maka kita akan mengalami kesulitan dan penderitaan. Tetapi kita harus mengerti bahwa ada penganiayaan yang dari dosa itu sendiri. Nah itulah yang harus kita hindari karena dosa kita, kesalahan kita, kebodohan kita. Ya kalau kita sebagai orang Kristen akhirnya sukanya menghina orang lain, menghina iman Kristen. Kemudian orang-orang lain pun ya orang-orang lain pun akhirnya mengejar kita karena kita menghina iman orang-orang yang non-kristen itu, ya itu kan salah kita sendiri ya, bukan karena kita menyatakan dengan baik, dengan sikap yang tegas ya, dengan kebenaran, tapi karena kita memang membenci orang-orang yang bukan Kristen, terus menghina mereka, menyakiti mereka, menindas mereka. Nah itu terus kemudian orang tersebut menganiaya kita, yaitu dianiaya oleh sebab kesalahan kita, kebodohan kita, dosa kita ya.
Dan kita juga tidak mau agar hal yang terjadi itu karena kita jadi batu sandungan untuk orang lain. Seringkali penderitaan yang terjadi yang dialami orang Kristen itu bukan penderitaan atau penganiayaan oleh sebab kebenaran, tetapi karena kita yang bodoh, kita yang kurang hikmat, kita yang menjerumuskan diri kita ketika orang lain pada akhirnya bisa memikirkan hal buruk tentang kita sehingga salah pandang, salah komunikasi dengan kita, maka inilah yang harus kita hindari. Ketika kita tahu bahwa berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, maka kita harus berdukacita kalau kita dianiaya oleh sebab dosa kita, kesalahan kita, kebodohan kita, atau kita yang jadi batu sandungan untuk orang lain sehingga teraniaya, harus tambah lagi berdukaita, supaya apa? Bertobat dan kita minta hikmat Tuhan.
Ada ilustrasi yang saya ingat dari seorang Kristen waktu dulu ya, waktu saya masih kuliah S1 pemuda ya. Waktu itu ada bapak-bapak kasih tahu ya, kita bisa menderita dan dianiaya, ya betul itu karena melayani Kristus, tetapi juga hati-hati ya jangan sampai kita merasa bahwa kita sudah menderita bagi Kristus, padahal kita menderita itu karena mencuri ayamnya orang lain. Terus kita katakan, “lya, sebagai orang Kristen harus menderita, harus tanggung salib. Ya dihina orang, ya dimusuhin orang.” Padahal karena kesalahannya sendiri mencuri ayam orang lain ya, nggak benar hidupnya sehingga orang lain menghina atau menyakiti kita. Itu adalah hal yang kita hindari. Ada dua sebab penderitaan. Ada dua sebab penganiayaan, oleh sebab kebenaran atau oleh sebab kesalahan ya. Nah, hati-hati jangan sampai kita moralitas Kristen tuh buruk supaya kita tidak jadi batu sandungan untuk orang lain ataupun orang lain malah menganiaya kita karena moralitas kita yang buruk. Itu sangat disayangkan sekali. Tetapi biarlah orang lain menganiaya kita oleh sebab kebenaran kita. Ya sudah, ya terima bahkan berbahagia, karena kita di jalan yang benar, berarti kita di posisinya Kristus. Maka saya tadi katakan bahwa kita harus khawatir kalau kita tidak rasa ada penganiayaan dalam hidup kita ya sebagai orang Kristen setidaknya dari iblislah. Karena berarti kalau tidak ada penganiayaan oleh sebab kebenaran berarti kita sudah seperti dunia, sudah seperti setan ya karena tidak merasa dianiaya oleh sebab kebenaran.
Berapa banyak orang Kristen akhirnya disepelekan, dianggap jahat, disalah mengerti karena sikap orang-orang Kristen itu sendiri. Ya kita nggak ada respect-nya kok, kita nggak mengasihi orang lain sehingga orang lain pun kok memandang rendah kita seperti itu. Ya itu karena kelemahan kita juga ya, bukan karena orang lain salah sama kita ya. Selalu orang lain yang salah, bukan kita yang salah. Nah sebagai orang Kristen kita harus introspeksi terus di hadapan Tuhan. Tetapi kita juga perlu tahu, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, bahwa individu Kristen pun sebenarnya tidak mewakili ajaran Kristus maupun Yesus Kristus. Kita adalah wakil Kristus, tetapi kita pun sadar ya kalau kita itu bukan sepenuhnya mewakili Kristus dan ajaran-Nya. Nah di sinilah keberanian kita untuk mengabarkan Injil. Kita tahu kita lemah, kita punya masa lalu yang buruk, kita tahu kita berdosa, tapi kita mau mengabarkan Injil kepada orang-orang yang belum kenal Kristus. Maka ketika kita kabarkan Injil, kita ada keberanian. Karena apa? Yesus itu tidak diwakili sepenuhnya oleh kita. Ajaran Yesus itu tidak diwakili oleh individu kita kan. Maka kita ajak orang tersebut itu melihat kepada Kristus, bukan melihat kepada kita ya.
Berapa banyak kan kisah-kisah orang-orang tidak mau ke gereja ya. Banyak sekali orang-orang Kristen tidak mau ke gereja karena apa? Karena si anak-anaknya melihat kehidupan orang tua yang katanya Kristen. Katanya Kristen kok cinta uang, katanya Kristen kok terus aja ada kebencian, katanya Kristen kok cerai dan lain-lain. Anak-anak pada akhirnya tidak mau ke gereja, karena apa? Orang Kristen tuh jahat-jahat semua, itu munafik semua. Nah di sini kita bisa beritahu bahwa tetap pada akhirnya orang Kristen manusia berdosa juga. Cuma kita bisa jelaskan bahwa ada orang Kristen yang baik nggak? Ada. Ada orang Kristen yang buruk? Ada juga. Ada orang non-kristen yang baik? Ada. Ada orang non-kristen yang buruk? Ada juga. Jadi mau apa? Mau pilih-pilih orang. Tapi yang kita lihat adalah Tuhannya siapa? Yesus Kristus dan ajaran-Nya. Itulah yang kita bawa kepada orang lain. Bukan bawa orang lain kepada kita. Kita ini bisa mengecewakan dan sangat mungkin mengecewakan orang lain, tetapi Kristus dan firman-Nya tidak pernah mengecewakan kita.
Maka itu dari perenungan firman Tuhan pada hari ini, Bapak, lbu, Saudara sekalian ya, kita diajak untuk melihat bagaimana seharusnya bersikap terhadap penganiayaan akan kebenaran, oleh sebab kebenaran. Ya bagaimana? Pertama, kita melihat penganiayaan oleh sebab kebenaran adalah salib yang harus orang Kristen pikul. Ini salib kita ya. Matius 16:24 tadi sudah kita baca sebagai orang Kristen ya, saya pernah khotbahkan juga ya, bahwa kita tuh punya berapa salib? Salib itu apa sih sebenarnya ya? Kalau kita mengerti tentang kekristenan dijelaskan tentang salib. Padahal kan salib itu adalah lambang hukuman dari orang Romawi, hukuman paling hina, paling menyakitkan, dan paling jeleklah, memalukan. Tetapi lambang yang paling buruk pun dapat Tuhan ubah menjadi suatu hal yang memberkati dan menyelamatkan kita. Jadi salib itu adalah hukuman. Tapi bagi orang Kristen salib itu adalah suatu jalan untuk keselamatan. Karena apa? Karena dosa kita, hukuman dosa kita sudah ditanggung oleh salib Yesus Kristus.
Lalu ketika kita sudah mengikut Yesus, kenapa kita masih ada salib? Nah di sini kita bisa tahu bahwa kita itu punya dua salib. Yang pertama adalah salib Kristus. Itu salib yang menyelamatkan, menebus kita dari segala hukuman dosa. Salib Kristus itu tunggal, satu, unik ya tidak ada yang lain dan hanya melalui salib Kristus kita boleh diselamatkan karena dosa kita semua ditanggungkan di dalam penyaliban Yesus Kristus. Dan kehidupan kita sebagai orang Kristen, kalau kita punya salib Kristus, itulah yang menjadi pusat kehidupan kita. Maka sangat penting ya suatu hal di mana kita tuh menyatakan diri bahwa kita tuh pusatnya adalah salib Kristus. Maka di dalam gereja Tuhan ya GRII terutama meskipun kita tidak memberhalakan benda yang namanya salib, tapi kita mau memberikan pesan yang jelas kepada banyak orang bahwa kita tuh di gereja ini sedang memberitakan salib Kristus. Maka kita coba memberitakan salib Kristus dengan tanpa kata-kata tapi dengan gedung ya. Baik di dalam gedung ibadah ada salibnya ya, yang bisa kita lihat semuanya. Baik di luar gedungnya juga ya kita tinggikan salib Kristus, yang paling tinggi adalah salib. Meskipun di atas salib biasanya ada itu ya, penahan petir, gitu ya. Tapi salib Kristus menjadi sebuah pusat kehidupan orang Kristen. Kita diselamatkan oleh salib Kristus, kita harus bergantung atau berpusat kepada salib Kristus untuk menjalani kehidupan kita, ini salib pertama yang harus kita pegang. Salib itu menyelamatkan, tapi kita pun hatinya berpusat pada salib Kristus. Maka orang-orang yang berpusat pada salib Kristus, dia akan menjaga kehidupannya dengan baik. Dia akan bersikap dengan bijaksana. Sekalipun kita bermusuhan dengan dunia, Tuhan Yesus menyertai dan menguatkan kita melewati segala sesuatunya karena ada salib Kristus. Ini yang kita perlu ingat. Salib rohani ya, salib Kristus yang pertama.
Lalu yang kedua adalah salib nama kita masing-masing. Nah ini salibnya orang Kristen. Ada salib Kristus, lalu ada salibnya Marvin, ini dua salib yang kita akan bawa seumur hidup kita sebagai orang Kristen. Nah salib kedua ya adalah salib kita masing-masing secara umum maupun secara khusus. Nah salib yang secara umum apa? Yaitu salib iman Kristen. Kita semua akan memiliki pengalaman yang mirip atau sama karena kita sama-sama orang Kristen. Kita sama-sama bisa dibenci oleh orang yang beragama lain, kita juga bergumul dalam penyangkalan diri kita. Gimana ya melayani Tuhan? Bagaimana menyangkal diri yang berdosa ini? Kita juga bergumul ini salib kita ya. Lalu kita bagaimana pada akhirnya sebagai orang Kristen menjaga seluruh perkataan, perbuatan, gaya hidup kita, pakaian kita ya, penggunaan uang kita dan lain-lain. Terus kita juga bisa mengalami salib di mana kita sebagai orang Kristen ada kesulitan akses-akses tertentu di dalam pekerjaan atau di dalam bantuan-bantuan yang lain misalnya ya. Itu adalah iman Kristen, ini salib yang umum bagi orang-orang Kristen yang bisa dialami oleh banyak orang Kristen.
Tetapi ada juga salib yang khusus ya. Jadi salib yang kedua ini berkaitan dengan orang-orang Kristen yang umum yang bisa kita alami semuanya bisa bersamaan. Tetapi juga ada yang khusus di mana itu berkaitan dengan salib panggilan dari Tuhan sendiri. Yaitu ambil contoh misalkan saya ya sebagai seorang hamba Tuhan kan salibnya beda dengan Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Seluruh kehidupan hamba Tuhan ya ini biasanya ya dinasihati di sekolah Alkitab semua dinilai dari ujung rambut sampai telapak kaki. Dinilai semuanya. Kalau ada yang jelek saja, dikomentari, gitu, ya. Nah, misalkan dasinya miring sana, orang fokusnya liatin dasi terus, ya, nggak liatin khotbah, “Wah, ini salah.” Terus, kemarin aja, ya, ada hamba Tuhan sharing di masterclass. Terus background-nya ngaco aja, ya. Pak Tong tegur, ya. Wah, tegur. Orang jadinya lihatin background-nya, bukan dengerin khotbahnya, ya. Semua bisa dikritik, ya, hidupnya. Dan itu adalah salibnya hamba Tuhan. Akhirnya, salibnya apa? Harus rela hidup sederhana untuk pekerjaan Tuhan.
Banyak orang-orang Kristen lain pun, kan iri hati sama hamba Tuhan, ya. “Wah, hamba Tuhan. Sayaenggak mau ke gereja, nggak mau kasih persembahan. Hamba Tuhannya naik pesawat jet, –misalkan, ya– punya mobil mewah, dan lain-lain.” Itu jadi batu sandungan. Tapi, Bapak, Ibu sekalian mau pakai mobil mewah, bukan hamba Tuhan, nggak masalah, ya. Justru, wah, dihormati. Secara umum, ya, manusia, ya. Tapi, hamba Tuhan naik mobil mewah dikomentari. Naik mobil yang tidak bagus, misalkan, dikomentari juga, ya. Mobilnya bersih, misalkan, “Wah, ini sering ke tempat cuci mobil.” Mobilnya kotor, “Wah, nih malas bersihin mobil, gitu, ya. Semua dikomentari: mau apa salah, mau ini salah. Ada juga sampai hamba Tuhan mau ke mall aja salah, gitu, ya. Mau ke mall pikir-pikir lagi, berulang kali. Kita kalau bukan hamba Tuhan ke mall kan nggak masalah, ya. Tapi kalau hamba Tuhan, “Iya, ya. Kita tuh harus rela hidup sederhana.” Lalu, kalau uangnya banyak, gimana hamba Tuhan? Semuanya untuk pekerjaan Tuhan. Harusnya kan gitu. Harusnya betul begitu. Tapi bukan berarti tidak boleh menikmati Tuhan di dalam setiap berkat-Nya ya. Tapi itu salibnya hamba Tuhan: harus betul-betul menjaga agar jangan sampai jadi batu sandungan untuk orang lain. Ada jemaat yang mobil pun tidak punya, ya. Betul harus jalan setiap hari. Terus dia naik mobil mewah. Itu pun sudah kesenjangan sosial di dalam komunitasnya. Itu pun bisa jadi masalah, ya. Itu pun perlu hati-hati jangan sampai jadi batu sandungan. Kalau jatuh dalam dosa: berzinah. Wah, langsung Kekristenan dihina orang, ya, gerejanya bermasalah. Langsung orang nggak mau ke gereja situlagi, ya, misalkan demikian. Hamba Tuhan yang jatuh ke dalam perzinahan, perselingkuhan, atau perceraian. Tapi, kalau jemaat –perzinahan, perselingkuhan, perceraian– hamba Tuhannya lagi disuruh. “Ayo, beresin masalahnya, ya.” Suruh damaikan, “Ayo cari solusi!” Wah, kok ini hamba Tuhan semua, gitu, ya? Itu kan masalah keluarga sendiri. Tapi, pada akhirnya kan kita perlu kasih, ya. Harus mengasihi –menolong sebatasnya, ya, semampunya, sebijaksananya– dengan cara bagaimana, ya. Nah, itu salibnya hamba Tuhan. Kita semua harus menjaga hidup secara sederhana dengan baik. Jangan jadi batu sandungan tapi betul-betul juga memuliakan Tuhan dengan seluruh persembahan hidup kita.
Nah, sekarang salib kita sebagai orang Kristen apa? Salib kita sebagai pengurus lebih berat, ya. Pengurus sebagai diaken, sebagai penatua, ya, harus menjadi pemimpin bagi jemaatnya. Kita sebagai guru. Apakah kita jadi guru itu hanya di sekolah saja? Hanya di kampus saja? Dosen maupun guru. Terus di luar kita nggak pernah bersikap sebagai guru, ya, dan yang lain-lain, ya. Atau bisnis, bagaimana? Itu semua ada salibnya sendiri. Itu semua harus dalam konteks kesulitan masing-masing dan dalam konteks kita mau menyaksikan salib Kristus. Salib kita itu kita kerjakan supaya apa? Orang bisa melihat salib Kristus. Karena waktu kita kerjakan salib kita, itu bisa kita kerjakan karena salib Kristus, ya. Kita bisa melakukan tugas atau pun segala kesulitan itu kita lewati demi salib Kristus, ya.
Yesus sudah menubuatkan di dalam Matius 10:22: “Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.” “Kamu, orang-orang Kristen, siap-siap dibenci orang.” Oleh karena apa? Nama Yesus. Oleh karena kebenaran. Di sini kenapa Yesus mengatakan kalimat tersebut, Bapak, Ibu sekalian? Ini ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk melayani. Jadi, waktu diutus melayani, biasanya saya –Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya– akan memberikan penghiburan, kan? “Sudah, pelayanan itu nggak susah, kok. Tenang, ini bisa dikerjakan dengan baik asal setia, tekun. Udah, yuk melayani! Sebagai pengkhotbah KKR Regional ada pelatihannya. Nggak sulit. Jangan takut!” Tapi Yesus justru mengatakan, “Kamu mau melayani? Siap-siap, ya, nanti dibenci orang. Kamu pelayanan sebagai liturgis, sebagai pemusik, sebagai song leader, sebagai apa pun, siap-siap dibenci oleh orang.” Siapa yang mau melayani kalau gitu?
Ini persiapan Yesus bukan berarti Yesus itu tidak memberikan dorongan, kekuatan, penghiburan. Bukan, ya. Tetapi Yesus memberikan hal yang realistis dalam kehidupan orang Kristen. Kalau orang Kristen itu akan ada orang yang benci dia. Akan ada kesulitan. Akan ada penganiayaan. Ini gambaran yang realistis. Akan ada penolakan. Ada gambaran kesulitan yang muncul di dalam setiap pelayanan. Tetapi kalimat “dibenci semua orang” Bapak, Ibu, Saudara sekalian, itu bukan berarti juga secara literal, ya. Ada orang-orang Kristen itu yang suka membaca Alkitab literal semuanya, ya. Akhirnya kontradiksi pun dengan fakta, realita, tetap literal. “Ini, kan? Yesus yang menubuatkan, kan? Kalau kita melayani Tuhan, kita akan dibenci semua orang!” Berarti orang harus membenci dia? Akhirnya dia mau agar orang membenci dia. Kacau, kan? Ini tafsiran yang literal, yang salah. Dibenci semua orang itu bukan berarti semua orang membenci dia, melainkan ini gambaran dunia yang melawan Kristus. Persahabatan dengan dunia berarti permusuhan dengan Kristus, ya. Persahabatan dengan Kristus berarti permusuhan dengan dunia. Yesus sedang menubuatkan bahwa ada kebencian, ada penolakan, ada penganiayaan sebagai konsekuensi alami dari kita yang mengikut Dia. Tapi Yesus pun katakan, ya, di ayat selanjutnya, “Tenang, Aku akan menguatkan kamu. Aku akan memberikan kamu penyertaan untuk bisa melewati semuanya. Karena kamu sudah memiliki kehidupan yang kekal dan kamu juga sudah memiliki iman yang sejati dari Kristus sendiri.
Maka, sebagai orang-orang yang sungguh-sungguh melayani Tuhan, bersiaplah hal-hal aneh itu muncul waktu kita melayani. Harus siap! Ada orang yang sulit, ya, kita mengerti, misalkan, ya. Ada yang akhirnya orang itu menggoda kita terus untuk benci dia, bukan mengasihi dia. Ya, itu muncul karena kita sedang melayani Tuhan. Dan di situ Yesus katakan, “Berbahagialah!” Berarti kita di jalan yang benar! Kalau pada akhirnya semua orang kita sukai, orang juga menyukai kita, nggak ada masalah, nggak ada penganiayaan karena kebenaran, ya, di situ kita khawatir: jangan-jangan kita pengikut dunia, bukan pengikut Yesus Kristus. Ya, itu yang pertama, kita bisa melihat bahwa salib yang harus kita pikul itu adalah sebagian dari penganiayaan, ya.
Lalu yang kedua juga bahwa penganiayaan atau penderitaan itu sebagai bagian juga dari kita sebagai mempelai Yesus Kristus. Jadi, ada bagian, ya, penganiayaan itu sebagai salib: salib kita, ya. Terus yang kedua adalah bagian kita sebagai pasangannya Yesus Kristus secara rohani, ya. Kita persatuan dengan Kristus berarti kan pernikahan dengan Kristus, ya. Kita sudah diadopsi sebagai anak-anak Allah, kita milik Kristus. Tapi di dalam relasi dengan Kristus, gambaran yang paling intim adalah suami–istri. Dan Yesus mempelai pria, kita gereja-Nya adalah wanita. Maka, kalau Kristus menderita, kita pun akan mengalami penderitaan seperti Kristus. Karena Kristus, ya. Kita berada di jejak yang sama dengan Yesus Kristus. Nah, di sini kita bisa mulai tenang, ya. “Oh, kalau kita mengalami kesulitan, penderitaan, penganiayaan, ya ketenangannya adalah kita di jalan yang sama seperti Yesus Kristus.”
Nah, waktu kita menikah –Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya– ada dua hal yang terjadi dalam kehidupan seseorang tersebut. Ada dua kabar, ya. Satu adalah kabar baik, dua adalah kabar buruk. Nah, kenapa demikian, ya? Kabar baik dulu lah, ya, kita bahas kabar baik dulu. Karena waktu menikah itu, apa yang dimiliki suami itu menjadi milik istri. Apa yang dimiliki istri menjadi milik suami. Itu namanya satu. Satu lho. Pernikahan itu kan berarti persatuan, ya, bahasa lainnya, ya, persatuan. Maka, waktu digambarkan, ya, kalau ada suami yang kaya raya terus istri yang miskin menikah, yang untung siapa? “Oh, istri dong! Langsung kaya.” Ya, langsung tiba-tiba kaya dalam satu hari, misalnya, ya, sudah menikah. Si suami gimana? Untung juga nggak? Ya, nggak terlalu untung secara ekonomi karena kan si istrinya nggak bisa kasih apa-apa. Tetapi mereka berdua untung nggak? Secara relasi untung karena memiliki –saling pribadi, ya– satu pribadi, satu pribadi yang lainnya.
Nah, pernikahan itu dengan Kristus, ya –Bapak, Ibu, Saudara sekalian– itu juga ada kabar baik kabar buruknya. Kabar baiknya adalah waktu kita menikah dengan Kristus, segala kekayaan Kristus –secara rohani itu– dimiliki oleh kita. Kita nggak punya apa-apa, lho untuk kita bisa berikan kepada Kristus. Jadi, inilah maksud di mana dikatakan “Yesus rela jadi miskin demi kita supaya jadi kaya”. Ini secara rohani. Pernikahan paling rugi adalah Yesus menikah dengan kita. Paling rugi. Bagi Yesus, ya. Dari sudut pandang kita juga. Kita nggak ada apa-apa, kok. Kita nggak ada yang bisa kita berikan untuk Kristus. Kristus kaya, Pemilik segala sesuatu, Dia juga banyak berkat rohani tapi itu yang kita terima karena kita menikah dengan Kristus. Nah, ini kabar baiknya.
Tetapi, waktu kita menikah dengan Kristus –menerima segala warisan, segala hal yang baik dari Kristus– ada kabar buruk, yang kedua, yaitu apa? Yaitu kita menerima juga penganiayaan di dalam dunia yang berdosa ini karena kita istrinya Tuhan Yesus, kok. Kita ini istrinya Tuhan Yesus. Yesus punya musuh berarti itu musuh kita. Ini kekompakan suami istri, ya. Harus ada kesatuan hati: satu visi satu misi. Kalau beda visi beda misi itu pernikahan yang seolah-olah satu tapi pecah di dalamnya. Maka kalau kita sadar bahwa kita ini milik Kristus –suami atau pemimpin hidup kita adalah Kristus– kita akan mengikuti Yesus terus. Yang menjadi musuh Kristus akan menjadi musuh kita juga. Waktu kita memiliki musuh Kristus, kita juga akan siap-siap mengalami penganiayaan.
Yesus juga pernah mengatakan bahwa seorang hamba tidak lebih dari tuannya. “Kamu tuh hamba-Ku juga.” Oke, satu sisi kita berelasi dengan Kristus itu seperti suami istri –ada relasi demikian– tapi kita ini hamba-Nya juga. Majikan di depan kita, kita di belakang Dia. Karena kita hamba, Majikan menderita, ya kita kena juga, ya. Kita mengalami penganiayaan juga. Di dalam mengikut Yesus tentu tidak mudah tetapi itulah suatu privilige kita: menderita bersama dengan Kristus atau mengalami penderitaan Kristus,ya. Ini bisa lihat penganiayaan dengan cara demikian, ya. Ini suatu bagian dari mempelai Yesus Kristus.
Dan yang ketiga –Bapak, Ibu, Saudara sekalian– kita bisa melihat penganiayaan itu dengan cara apa? Dengan cara bahwa setiap penderitaan atau penganiayaan oleh sebab kebenaran itu ada upah. Upah rohani, upah yang kekal yang Tuhan sediakan bagi kita. Maka, Yesus katakan, “Berbahagialah,” karena kamu sadar, kamu di jalan yang benar. “Berbahagialah kamu dianiaya oleh sebab kebenaran.” Karena berarti apa? Kamu dapat upah. Ada upah bagi setiap pekerjaan yang baik. Ada upah juga bagi setiap aniaya oleh sebab kebenaran. 1 Korintus 15:58, dikatakan: “persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” Waktu kita menderita oleh sebab kebenaran, kita sebenarnya sedang bersekutu dengan penderitaan Kristus. Maka, nggak ada yang sia-sia. Waktu kita dihina orang oleh sebab kebenaran, iman kita, Tuhan akan memberikan upah, sebab Allah bukan tidak adil sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu maupun kasihmu. Dia itu adil. Ibrani 6:10, Ibrani 10:35, “Janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu karena besar upah yang menantinya.” Ada upah yang besar yang kita akan terima ketika kita setia kepada Kristus melewati setiap penganiayaan. Lalu, di dalam Wahyu 22:12, ini hal yang unik, ya, Bapak, Ibu sekalian, “Sesungguhnya Aku datang segeradan Aku membawa upah-Kuuntuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.” Jadi, Yesus sendiri akan memberikan upah kepada kita.
John Calvin mengatakan, upah surgawi itu bukan karena jasa kita, melainkan karena kemurahan Allah yang membalas karya-Nya sendiri di dalam kita. Jadi, waktu kita bekerja keras, boss yang baik, ya, atau orang yang baik, ya, pemimpin yang baik akan bisa menghargai setiap pekerjaan keras kita. Dia akan memberi penghargaan. Bisa dengan cara menaikkan gaji atau memberikan apresiasi, dan lain-lain, ya. Itu pemimpin di dunia. Nah, sekarang, kita orang Kristen, kalau kita sungguh-sungguh bekerja keras dengan baik, kita setia, kita betul-betul lewati semua penganiayaan itu oleh sebab kebenaran, masa sih, Tuhan nggak kasih upah yang besar? Dia adil kok! Masa, orang Kristen yang dianiaya oleh sebab kebenaran, terus setia, ya, tetapi ada orang yang dianiaya oleh kesalahan dan dosa. Terus begitu dikumpulkan, terus sama sajalah semua. Ya sudah, sama upahnya. Nggak lah. Itu berbeda.
Di dalam kitab Wahyu sendiri, ya, di dalam Alkitab yang terakhir, ini unik, ya. Ini kadang-kadang saya memikirkan juga. Betul nggak, ya, seperti ini di dalam realitas surga nanti? Di situ dikatakan bahwa kematian seorang martir Kristus itu lebih dihargai daripada kematian yang terjadi bukan karena secara martir. Martir itu berarti bersaksi, ya. Seperti Stefanus. Stefanus diceritakan sebagai martir pertama dari gereja karena gereja baru berdiri kan, secara gereja, institusi, meskipun Yesus sudah mati, nabi-nabi sudah mati, Yohanes Pembaptis sudah mati, orang-orang Kristen yang taat Tuhan sudah mati, ya. Tetapi, Stefanus itu dikatakan sebagai martir pertama gereja karena gereja baru berdiri, kemudian Stefanus mati karena dirajam batu. Nah, kematian seperti ini, itu tuh berbeda dengan kematian orang yang lanjut usianya. Orang Kristen juga. Orang yang lanjut usianya, karena sakit terus mati. Beda. Kitab Wahyu mengatakan bahwa yang lebih dihargai adalah orang yang mati martir. Kalau orang yang mati nggak martir itu biasa aja. Pujiannya, ya. Ini bicara upah di surga itu bicara soal penghormatan Tuhan atau pujian kepada orang tersebut, ya.
Kematian semua orang Kristen tentu sama, pasti memperoleh hidup yang kekal, tetapi kematian orang Kristen juga tentu berbeda karena ada yang setia, ada yang tidak setia, ada yang malas-malasan, ada yang rajin. Pasti bedalah. Allah itu adil kok. Upahnya beda, tetapi hidup kekalnya sama. Kita mati. Bapak, Ibu, Saudara sekalian mati, semua mati. Kita yang percaya kepada Kristus akan memperoleh hidup yang kekal, tetapi upahnya itu beda. Wahyu 6:9-11 digambarkan, ya. Jiwa-jiwa para martir itu di bawah mezbah yang berseru kepada Tuhan. Terus, mereka yang mati martir itu diberikan jubah putih sebagai lambang kemenangan. Dikasih jubah putih. Berarti, orang yang tidak mati sebagai martir dikasih jubah putih nggak? Nggak! Yang mati, mati sajalah. Nggak dikasih jubah seperti itu karena matinya tidak martir. Wahyu 20:4, di situ juga dikatakan mereka yang dipenggal karena kesaksian tentang Yesus dan mereka hidup kembali serta memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus. Mereka posisinya itu dekat dengan Kristus.
Makanya, kalau kita sering dengar Pdt. Stephen Tong atau ada orang-orang yang kayaknya pengen mati saat melayani Tuhan-Ada orang juga, ya, yang sebagai pemimpin di CIT juga, karena KKR regional, dia itu kecelakaan parah sekali. Dan dia kalau nggak salah wakil dekan atau gimana, ya, saya lupa. Kecelakaan, padahal mau KKR regional, ya. Baru hari pertama. Karena daerahnya sangat sulit sekali, pegunungan, naik motor, jatuh kecelakaan, terus parah sekali, tidak sadarkan diri. Ketika dia akhirnya pulih, ternyata belum waktunya untuk mati, ya. Bisa dipulihkan luka-luka tangannya, terus kepalanya. Dia katakan, “Wah, saya pengen sih kalau meninggal itu karena pas melayani Tuhan. -kok ada, ya, keinginan seperti itu, ya? Apalagi kalau kita sering dengar dari khotbah Pak Tong, ya. Khotbah Pak Tong, Pak Tong pengen ayolah, pas lagi khotbah, ada yang bunuhlah. Ya, gitu, ya. Jadi, mati martir kan? Mati saat khotbah, saat melayani Tuhan, tetapi karena dianiaya oleh orang atau dibunuh oleh orang, seperti itu, ya.
Ada satu kerinduan bagi orang-orang yang dekat dengan Tuhan supaya mati martir. Supaya apa? Supaya dapat upah yang lebih besar, yaitu lebih dihargai oleh Tuhan, dipuji oleh Tuhan. Ini adalah hal yang lumrah dalam kehidupan kita. Kita ingin dihargai oleh atasan kita kan? Masa kita tidak ingin lebih dihargai oleh Tuhan kita? Tetapi jangan cari-cari cara supaya jadi mati martir, ya, Bapak, Ibu sekalian. Itu sudah kedaulatan Tuhan lah ujung-ujungnya, ya. Jangan pada akhirnya terlalu gegabah. Akhirnya, mati karena dosa dan kesalahan kita, bukan karena kebenaran, ya.
Nah, ini menunjukkan bahwa kematian martir itu dipandang istimewa oleh Tuhan. Stefanus ini luar biasa. Namanya “mahkota” kan? Artinya itu mahkota dan dia betul-betul dapat mahkota kehidupan yang jauh lebih berharga. Minimal sebelum dia menghembuskan napas terakhir, sebelum dia meninggal dunia, dia melihat Yesus berdiri. Nggak adalah orang yang melihat Yesus berdiri menghormati dia. Ini karena apa? Karena Stefanus mati martir. Kematian martir, John Calvin katakan ini sebuah materai kesaksian yang Allah pakai untuk mempermalukan dunia dan untuk meninggikan Injil. Kenapa mati martir itu spesial, lebih dihargai Tuhan, diberi jubah putih? Karena mempermalukan dunia, meninggikan Injil. Itu upahnya besar kan? Nah, kesaksian para martir mendapat kehormatan dan teladan khusus bagi gereja. Maka, ini harus kita mengerti, ya, Bapak, Ibu sekalian. Yang penting prinsipnya apa? Kita tetap berjuang melayani Kristus di tengah-tengah setiap penganiayaan kita. Kita perlu berdoa agar penganiayaan segera berhenti dan penganiayaan itu bisa terjadi oleh sebab kebenaran ataupun dosa-dosa manusia, ya. Kita ingat, kita ini pembawa damai. Ini minggu lalu, saya khotbahkan, ya. Kita ini pembawa damai. Yang kita harapkan adalah bukan penganiayaan terjadi, tetapi kedamaian. Hanya, kalau ada penganiayaan terjadi, ya, kita harus siap saja.
Pdt. Stephen Tong sempat ditanya, ya, di dalam konferensi hamba-hamba Tuhan. Ini menimbulkan jawaban yang berbeda juga, padahal sama-sama hamba Tuhan. Di konferensi itu ditanyakan, “Penganiayaan itu apakah suatu keharusan bagi orang Kristen atau tidak?” Ada yang mengatakan, “Nggaklah! Orang Kristen nggak harus mengalami penganiayaan, ya.” Itu karena hamba Tuhan itu kayaknya belum dengar khotbah ini, Bapak, ibu sekalian. Tetapi, Pak Tong katakan, “Iya. For me, persecution is an absolute neccessity.” Pak Tong katakan demikian. Hamba Tuhan lain,”Nggaklah! Kita nggak harus dianiaya.” Tidak harus mengalami penganiayaan. Tetapi kata Pak Tong, justru orang Kristen itu, kekristenan itu menghadapi penganiayaan. Penganiayaan itu suatu keharusan yang absolut. Wow, ini suatu statement yang besar sekali, ya!
Penganiayaan adalah suatu keharusan yang mutlak terjadi di dalam orang-orang Kristen. Ini hal yang tak terhindarkan. Karena apa? Alkitab memang menceritakannya, menyatakannya. Bukan berarti Tuhan jahat, bukan berarti penganiayaan itu baik, tetapi penganiayaan itu Tuhan pakai sebagai bentuk ujian dari Tuhan sendiri. Sebuah metode untuk menguji iman kita. Maka, ada penganiayaan. Mutlak? Mutlak. Maka, kita lihat bukan secara penganiayaan seperti zaman rasul saja, tetapi, ya, penganiayaan seperti tadi saya sudah jelaskan. Penganiayaan oleh iblis sendiri, penganiayaan oleh sekitar kita, begitu, ya. Dan sejarah gereja membuktikan bahwa penganiayaan sering terjadi dan menjadi jalan pertumbuhan bagi iman dan kesaksian kita yang semakin kuat. Maka, kita bisa mengatakan seperti pemazmur mengatakan bahwa sekalipun gunung-gunung bergoncang, tetapi Allah tetaplah Allah dan kita pun bisa kuat di dalam Tuhan. Kiranya kita bisa siap ketika penganiayaan itu harus terjadi dan kita juga bisa tetap setia untuk melayani Tuhan dan hidup dalam kebenaran Tuhan. Mari kita sama-sama berdoa.
Bapa kami yang ada di surga, kami sungguh menyadari bahwa ketika kami mengambil keputusan untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, itu adalah keputusan yang serius, keputusan yang sangat penting dan itu juga adalah keputusan yang tidak mudah karena itu berarti kami harus berperang dengan musuh-musuh dari Tuhan Yesus Kristus sendiri, entah itu dengan setan, roh-roh jahat, entah itu juga dengan keduniawian yang ada di dalam dunia ini, entah dengan orang-orang yang berdosa, dan juga kedagingan kami sendiri. Kami mau Tuhan supaya hidup kami ini berjalan di jalan Tuhan. Sekalipun penganiayaan ada, itu tidak melemahkan iman kami, tetapi kami semakin bertumbuh, semakin melihat bahwa Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kami yang mengasihi Tuhan. Ajar kami Tuhan, menjadi orang Kristen yang berani untuk taat, berani untuk memberitakan firman, dan berani juga untuk melayani Tuhan. Kami mau Tuhan, hidup kami dipakai Tuhan. Kiranya Tuhan boleh sertai hidup kami, Tuhan. Ampunilah segala dosa-dosa kami dan tolonglah kami untuk bisa terus setia dan kami juga ketika melihat kehidupan kami, ajar kami supaya boleh berjalan di jalan Tuhan. Kiranya Tuhan boleh menolong kami. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami yang hidup, kami sudah berdoa dan mengucap syukur. Amin.
