Orang-orang Gibeon dan Keluarga Saul
2 Sam. 21:1-14
Pdt. Dawis Waiman, M. Div
Pada waktu kita membaca bagian ini, mungkin ada satu pemikiran yang timbul di dalam hati kita atau pikiran kita. Bagaimana mungkin, Alkitab yang adalah firman Allah mencatat hal-hal yang begitu menakutkan, begitu kejam sekali, begitu penuh dengan catatan berdarah ini. Walaupun kalau Saudara membaca di dalam kisah kerajaan dari orang Israel, khususnya di dalam kerajaan Daud, ada hal-hal yang berbeda dari raja-raja dunia di dalam menegakkan pemerintahan dan prinsip-prinsip yang digunakan di dalam kerajaan dunia. Tetapi, paling tidak pada waktu kita membaca bagian ini, kita berpikir, kenapa Alkitab yang suci, Alkitab yang merupakan firman Allah bisa mencatat hal-hal yang penuh dengan dosa, penuh dengan kekejian dan kekejaman seperti yang baru saja kita baca ini.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hal ini menjadi sesuatu yang mungkin tidak terlalu bermasalah kepada orang-orang yang tidak percaya keberadaan Tuhan. Karena kalau mereka tidak percaya keberadaan Tuhan, mereka akan berkata, dunia dan segala sesuatu yang terjadi itu adalah hal yang tidak ada pribadi yang mengaturnya. Mungkin itu adalah sesuatu yang terjadi karena suatu perjuangan. Siapa yang kuat, siapa yang bisa beradaptasi dengan lingkungan, itu yang akan bertahan dan akan terus ada di tengah-tengah dunia ini. Tetapi, pada waktu kita melihat kepada kisah di dalam Samuel, asumsi yang Alkitab katakan atau presuposisi yang Tuhan berikan kepada diri kita adalah bukan tidak ada Allah, tetapi Allah ada di dalam dunia ini. Kalau Allah ada di dalam dunia ini, Alkitab juga berkata: Apa yang menjadi pekerjaan-Nya? Alkitab berkata, Allah bukan hanya mencipta dunia ini saja, tetapi Allah juga memimpin dan mengatur serta menopang segala sesuatu yang terjadi di dalam dunia ini. Nah, ini yang menjadi suatu problem yang besar sekali di dalam kehidupan dari orang-orang Kristen atau orang-orang yang berusaha mengerti dari iman Kristen ini. Kalau misalnya kita berkata, “Tidak ada Allah!” Ada kejahatan. Ada sesuatu perang kekuasaan. Ada pembunuhan. Supaya seperti kalimat yang Kitab Suci katakan di ayat yang ke-2, ya. Untuk apa Saul membasmi orang Gibeon? Yaitu untuk kepentingan orang Israel dan Yehuda. Saya kira, itu adalah hal yang kita terima. Karena apa? Yang kalah akan ditindas, yang menang akan berkuasa dan akan memerintah dan akan ada seperti ketenangan atau kedamaian karena nggak ada satu kuasa pun yang bisa menandingi Dia dan membahayakan kehidupan dari orang-orang Israel.
Tetapi, masalahnya adalah Alkitab berkata: Di dalam dunia ini ada Allah. Allah itu bukan Allah yang kejam, bukan Allah yang jahat, tetapi justru Allah yang adil dan penuh dengan cinta kasih. Kalau Dia adalah Allah yang adil dan penuh dengan cinta kasih, Dia adalah Allah yang menopang dunia ini. Menopang itu adalah kalau Allah tidak dengan kuasa dan firman-Nya menjaga dunia ini, memeliharanya untuk tetap ada, maka dunia kita tidak bisa bertahan satu detik pun. Kita nggak percaya seperti deisme berkata bahwa Allah ketika mencipta dunia, Dia kemudian membiarkan dunia berjalan dengan hukum alamnya sendiri, tanpa adanya intervensi Tuhan sama sekali. Tetapi, Alkitab berkata dengan adanya mukjizat yang terjadi, dengan adanya Israel yang dipimpin keluar dari Mesir, dengan adanya hal-hal yang merupakan pemeliharaan Tuhan yang diberikan oleh Tuhan kepada kaum Israel dan juga umat Allah yang dicatat dalam Kitab Suci, itu berarti dunia tidak pernah ditinggalkan oleh Allah setelah Allah mencipta dunia ini. Dunia ditopang oleh Allah, tetapi bukan hanya ditopang, dunia juga dipimpin oleh Allah. Allah yang bagaimana? Yang penuh dengan cinta kasih dan keadilan tersebut.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, lalu masalahnya di mana? Masalahnya adalah kalau Allah memimpin semuanya, kalau Allah menopang semuanya, kalau tidak ada sesuatu pun yang terjadi di dalam dunia ini di luar sepengetahuan dari Tuhan Allah dan tidak ada sesuatu pun yang bisa terjadi di luar dari kuasa Tuhan yang mengizinkan hal itu terjadi di dalam kehidupan dunia, bagaimana Tuhan bisa membiarkan kejahatan demi kejahatan ada dan kejahatan demi kejahatan tercatat di dalam Kitab Suci? Dari kelompok saudara kita yang lain sering kali mengatakan adanya perzinahan yang dicatat di dalam Kitab Suci, adanya pembunuhan yang dicatat di dalam Kitab Suci, bukan hal-hal yang baik saja yang dicatat di dalam Kitab Suci. Mau mengatakan apa? Kitab Suci kita pasti bukan dari Tuhan. Kalau Tuhan itu baik, Dia harusnya mencatat hal-hal yang baik. Kalau Tuhan itu penuh dengan cinta kasih, Dia harusnya mencatat hal-hal yang penuh dengan cinta kasih. Kenapa ada pembunuhan? Kenapa ada kejahatan? Kenapa ada perebutan istri orang? Kenapa ada perzinahan? Kenapa ada hal-hal yang begitu keji yang dicatat di dalam Kitab Suci yang dicatat dan termasuk pemberontakan manusia kepada Tuhan?
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kenapa? Nah, di sini, Alkitab memberikan kita beberapa prinsip yang penting bagi kita. Pertama adalah pada waktu Allah mencatat semua ini, Allah mau memberi tahu kepada kita bahwa tidak ada satu hal pun yang terjadi di dalam dunia ini yang bisa lepas dari tatapan mata Tuhan. Kenapa semua kejahatan dicatat? Karena mau memberi tahu manusia hal-hal yang tersembunyi yang dilakukan oleh manusia yang tidak diketahui oleh orang lain, seperti rancangan kejahatan yang ada di dalam hati Daud terhadap Uria itu pun diketahui oleh Tuhan. Itu sebabnya, pada waktu seluruh anak buah Daud tidak ada yang berani membantah Daud ketika merebut istri Uria, lalu merancangkan kematian Uria di medan pertempuran, ketika itu, semuanya diam, maka, pada waktu Daud sudah melaksanakan tugasnya, tiba-tiba ada seorang nabi yang muncul di depan dia dan berkata: “Engkau sudah berdosa kepada Tuhan.”
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini mau menunjukkan bahwa pada waktu kita menghadapi keadaan yang ada yang terjadi, Alkitab mau mengatakan, apa pun yang kita kerjakan, mau di muka umum, mau tidak di muka umum, mau di tempat yang tersendiri, bahkan diri kita ketika kita sendirian pun, Tuhan tahu segala hal yang kita lakukan dalam hidup kita. Nah, ini menjadi satu hal kalau Saudara mengerti Tuhan itu ada, maka apa yang dilakukan oleh manusia dan pertanggungjawaban yang harus diberikan manusia di hadapan Tuhan, saya kira itu menjadi sesuatu yang sangat, sangat menakutkan sekali. Karena apa? Coba lihat, Bapak, Ibu, kisah Daud, kisah pembunuhan Uria, kisah kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa, kisah pembunuhan Kain terhadap Habel, dan kisah kejahatan lain yang dicatat di dalam Kitab Suci. Mohon tanya, sampai hari ini tercatat tidak? Maksudnya apa? Saya kadang-kadang berpikir, kenapa Tuhan berikan itu? Apakah itu hanya mau berbicara mengenai sejarah saja? Catatan-catatan yang terjadi di dalam dunia ini? Bukan! Itu berarti segala hal yang terjadi, mulai dari permulaan zaman ini, sejak dari kejatuhan manusia pertama itu tidak pernah dilupakan Tuhan sama sekali dan Tuhan itu adalah Tuhan Yang Mahatahu. Itu yang membuat hal ini menjadi sangat menakutkan sekali.
Tetapi, ada aspek yang lain selain daripada Tuhan Mahatahu ini. Kalau Bapak, Ibu baca di dalam 1 Kor. 10:11, satu sisi kalau kita hanya mengerti kebenaran tadi tanpa 1 Kor. 10:11, maka kita akan merasa, Oh, hidup ini sepertinya menjadi hal yang begitu mengerikan, begitu menakutkan, tidak ada pengharapan bagi kita untuk bisa terlepas dari penghakiman Tuhan dalam hidup kita. Tetapi, kalau Bapak, Ibu melihat di dalam 1 Kor. 10:11, di situ Paulus ada memberi satu catatan bagi diri kita. Pada waktu hal-hal itu dicatatkan, maka tujuannya adalah untuk memberikan peringatan kepada diri kita. Boleh baca bersama-sama, ya. Ayat yang kita biasa baca, biasanya 1 Kor. 10:13. “Pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa.” Tetapi, ayat yang ke-11 juga tidak kalah penting di situ. Kita baca bersama-sama, ya. 1 Kor.10:11. “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kitayang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” Bapak, Ibu kalau baca apa yang dimaksud oleh Paulus mengenai contoh itu, maka Bapak, Ibu kalau baca dari ayat 1, di situ dikatakan mengenai kehidupan Israel yang di padang gurun yang bersungut-sungut, yang mendukakan dan membuat Allah marah, percabulan yang terjadi dalam hidup mereka sehingga pada 1 hari tewas 23.000 orang di hadapan Tuhan. Itu semua yang dimaksud oleh Paulus. Dan kenapa semua itu dicatat oleh Kitab Suci? Untuk menjadi peringatan bagi kita. Supaya apa? Ya, paling dekat adalah kita tidak melakukannya. Kita tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh umat Allah sebelum diri kita. Nah, ini artinya apa? Pada waktu kita membaca Kitab Suci dan hal-hal ini dicatat, walaupun itu merupakan hal-hal yang berkaitan dengan kekejaman, kejahatan yang manusia lakukan, tetapi ketika dicatat, maka hal itu pasti berguna.
Tidak ada sesuatu pun yang dicatat di dalam Kitab Suci yang tidak berguna bagi kehidupan manusia. Makanya, di dalam 2 Tim. 3:16-ini ayat yang kita sering kali kutip dan orang reformed sering kali kutip-bahwa segala tulisan diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang di dalam kebenaran. Berarti, apa pun yang dicatat oleh Tuhan bagi kita, nggak ada sesuatu pun yang sia-sia. Mungkin kalau saya mau pakai istilah yang lebih detail dan teliti, bahkan sampai titik, koma, dan kata penghubung, serta full stop atau titik itu menjadi hal yang penting bagi kita karena Tuhan mewahyukan kebenaran-Nya dan setiap kata bersumber dari Tuhan untuk dinyatakan kepada diri kita.
Jadi, pada waktu kita bicara, oh, Allah Mahatahu. OK, betul. Kenapa Allah Yang Mahatahu itu menuangkan semua itu dalam Kitab Suci? Supaya kita tahu bahwa tidak ada sesuatu pun yang lalu dari mata Tuhan, tetapi juga memberi kita pengertian bahwa hal-hal itu dicatat untuk menjadi peringatan, untuk mendidik kita, dan bermanfaat untuk kita mengerti kehendak Tuhan dan segala hal yang Tuhan tidak kehendaki atau tidak sukai. Tetapi, di antara 2 hal ini, ada 1 aspek lagi. Kenapa ada kejahatan dalam dunia ini yang Tuhan catat bagi diri kita? Untuk memberi pengharapan kepada kita. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pengharapan kok bisa menjadi bagian ketiga. Karena pada waktu Tuhan memberi peringatan akan hal itu, tujuannya untuk ара? Memberitahu dosa tidak bisa berkenan di hadapan Allah. Jangan lakukan itu dalam hidupmu. Tapi pada waktu kita juga membaca sebagai peringatan, apa dasar Tuhan memberi peringatan? Yaitu hukum Tuhan. Kalau kita tahu diri kita berdosa bukan karena standar manusia, tapi ada hukum Tuhan yang menjadi standar untuk mengatakan semua manusia yang dalam dunia ini adalah manusia yang berdosa. Nah, itu sebabnya ketika manusia tahu mereka berdosa dan Tuhan memberikan hukum dan peringatan kepada manusia, tujuannya bukan untuk kebinasaan manusia, tetapi untuk sesuatu yang berkaitan dengan keselamatan, kebaikan, hidup yang kekal yang Tuhan ingin manusia miliki atau terima di dalam Kristus Yesus. Ini adalah hal yang kita bisa pelajari di dalam kitab suci ini, ya.
Nah, atas dasar ini kita kemudian masuk ke dalam 2 Samuel 21 ini yaitu bercerita tentang orang-orang Gibeon dan keluarga Saul ini. Nah, ini adalah satu catatan yang sangat menarik dan ada prinsip-prinsip yang saya lihat baik untuk kita ketahui. Pertama adalah kapan hal ini terjadi? Yaitu pada zaman Daud. Nah, pada waktu kita bicara pada zaman Daud, Kitab Suci tidak memberitahu kepada kita kapan zaman Daud itu. Yang pasti adalah bukan ketika Daud dikejar-kejar oleh Saul, bukan juga pada waktu mungkin Daud ada di dalam kondisi sebagai anak buah Saul. Tetapi yang pasti ketika Daud ada sebagai seorang raja. Alkitab tidak memberitahu kita tanggalnya kapan, berapa lama Daud sudah memerintah pada waktu itu baru hal ini terjadi, tetapi yang pasti adalah penulis Kitab Suci hanya mau memberitahu ini terjadi pada zaman Daud. Artinya bahwa ketika peristiwa ini dicatat, tujuan peristiwa ini dicatat bukan untuk memberikan peristiwa kronologis kepada kita, tetapi ada poin yang menjadi prinsip yang penting yang kita bisa tarik daripada peristiwa ini.
Nah, apa yang terjadi pada waktu Daud memerintah saat itu? Kelaparan. Nah, kalau Bapak Ibu lihat peristiwa kelaparan yang dicatat di dalam Kitab Suci, sebenarnya kelaparan itu merupakan hal yang biasa tidak terjadi di tanah Kanaan? Mungkin kalau Bapak, Ibu mundur ke dalam kitab Kejadian, Bapak, Ibu bisa menemukan sebenarnya kelaparan bukan sesuatu yang jarang atau sesuatu yang tidak pernah terjadi, tetapi ada kasus-kasus di mana kelaparan terjadi. Misalnya pada waktu Abraham ada di Tanah Kanaan, dicatat ada kelaparan terjadi di situ. Sehingga Abraham harus mengungsi ke wilayah yang lain karena kelaparan itu begitu hebat. Lalu pada waktu si Yusuf itu memerintah sebagai orang kedua di Mesir, Alkitab juga mencatat ada kelaparan yang begitu hebat yang terjadi di antara bangsa- bangsa sehingga membuat orang Israel mengalami kesulitan dan juga orang-orang yang lain mengalami kesulitan sehingga mereka harus pergi ke Mesir, bertemu dengan Yusuf untuk mendapatkan pemeliharaan atau makanan yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh Yusuf melalui peringatan yang Tuhan berikan kepada Raja Firaun pada waktu itu.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kelaparan adalah sesuatu yang sepertinya biasa terjadi. Nah, kalau kita tanya kenapa hal itu terjadi dan mengapa hal itu mungkin terjadi? Karena kalau kita kembali ke dalam Kejadian pasal 3, kita akan menemukan itu adalah upah dari dosa memang. Itu adalah akibat dari Adam dan Hawa memberontak melawan Tuhan. Tetapi Alkitab juga ketika mencatat mengenai peristiwa kelaparan di zaman Abraham dan peristiwa kelaparan di zaman Yusuf, kelihatannya itu tidak dicatat karena ada dosa langsung yang dilakukan oleh orang-orang itu ataupun oleh bangsa yang ada di dalam dunia ini. Cuma sekedar dicatat ini adalah peristiwa kelaparan seperti itu.
Dan pada waktu zaman Daud terjadi peristiwa seperti ini juga. Tapi apa yang membuat Daud kemudian merasa bahwa ini bukan hal yang biasa? Karena di dalam bagian ini dikatakan kelaparan itu terjadi selama 3 tahun. Dan 3 tahun itu berturut-turut. Jadi sepanjang tahun ini sepertinya nggak ada hujan, nggak ada air. Tahun depan sama nggak ada sesuatu yang baik. Tahun ke depan lagi semua tanaman mungkin sudah mengalami kematian dan kekeringan seperti itu, karena sumber air dari atas tidak ada. Mungkin juga sungai-sungai dan persediaan mata air itu menjadi berkurang. Akibatnya terjadi kelaparan yang hebat di tengah-tengah Israel. Nah, pada waktu Daud mengalami hal ini secara berturut-turut, dia kemudian memiliki satu kesadaran bahwa apa yang terjadi pasti bukan sesuatu
yang merupakan peristiwa alam yang biasa. Itu sebabnya pada waktu Daud mengalami hal ini, dia kemudian bertanya kepada Tuhan, apa yang menjadi penyebab kelaparan itu terjadi di tengah-tengah orang Israel.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini hal yang penting karena pada waktu kita menghadapi keadaan-keadaan yang di dalam dunia ini, kita kadang-kadang berpikir dengan logika kita. Hal yang terjadi kalau terjadi A pasti penyebabnya adalah B. Secara pasti seperti itu. Ambil contoh misalnya, kenapakemarin di Jakarta terjadi demo besar-besaran? Kita akan ngomong karena wakil rakyat tidak beres. Sudah tahu rakyat ada di dalam kesulitan, tetapi mereka menunjukkan kalau mereka dapat gaji, kenaikan gaji dan pamer, nari-nari dan bergembira yang menunjukkan bahwa mereka tidak mengerti kesulitan dari orang-orang yang ada di bawah. Lalu ada korban di situ sehingga mengakibatkan terjadinya kerusuhan tersebut. Kita langsung berasumsi seperti itu kan? Salah nggak? Nggak juga sih. Bisa dianalisa, bisa diteliti seperti itu. Lalu kita mungkin bertanya lagi, kenapa Charlie Kirk itu mati? Mungkin karena dia mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan ideologi dari orang-orang tertentu. Sehingga itu menimbulkan kebencian dan kemudian terjadi penembakan. Yang salah siapa? Yang menembak itu? Dia jahat. Ada orang yang baik yang berusaha membawa pembaharuan perubahan kepada Amerika tapi justru disingkirkan.
Dan kebiasaan kita adalah seperti ini. Setiap kali kita mengalami peristiwa dalam hidup kita, kita selalu mungkin seringkali berpikir ini adalah akibat si anu, orang itu, keadaan, kondisi ekonomi, dan hal-hal lain yang terjadi menurut pandangan manusia. Tetapi Daud di dalam bagian ini berkata, “Pada waktu terjadi kelaparan di tengah-tengah Israel, maka kelaparan itu bukan karena tidak ada hujan saja, kelaparan itu bukan karena air sungai menjadi surut saja tetapi Daud kemudian bertanya kepada Tuhan, apa sebab kelaparan itu terjadi.” Artinya bahwa di balik peristiwa-peristiwa natural yang terjadi di dalam hidup manusia, Bapak, Ibu jangan lupa ada kuasa supranatural yang berperan di dalamnya. Ada kuasa Tuhan yang turut terlibat secara aktif di dalam peristiwa- peristiwa yang terjadi di dalam dunia ini. Makanya pada waktu Daud mengalami ini, dia bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, apa sebab hal ini terjadi?” Dan Tuhan memberitahu kepada Daud kalau sebabnya adalah karena dosa Saul dan dosa keturunannya. Dan itu membuat bahwa Tuhan menjatuhkan sebenarnya hukuman bagi orang Israel dengan kelaparan itu. Dan dosanya apa? Pembunuhan terhadap Gibeon.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mungkin di sini kita juga perlu melihat Gibeon ini siapa. Nah, hal ini membuat kita harus kembali ke dalam kitab Yosua. Di dalam kitab Yosua dicatat bahwa Yosua kemudian masuk ke dalam tanah perjanjian untuk menaklukkan orang-orang Kanaan
pada waktu itu. Dan pada waktu hal itu terjadi, Tuhan memberikan perintah kepada Yosua dan Israel, tidak boleh ada satu pun daripada orang Kanaan yang dibiarkan hidup. Ada kota-kota tertentu di mana bukan manusianya saja yang tidak dibiarkan hidup, tetapi juga seluruh kekayaan, harta, binatang harus dimusnahkan semua. Nah, bicara hal seperti ini kadang-kadang orang menuduh Allah orang Kristen itu begitu kejam. Kadang-kadang orang Kristen sendiri kesulitan untuk menerima hal ini, kok seolah-olah orang Israel dan umat Allah diizinkan dan diperbolehkan untuk membunuh orang lain dan bangsa lain. Dan hal itu seolah-olah menjadi satu kekejian yang membuat mereka antipati terhadap kekristenan seperti itu.
Bapak, lbu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Kristen mengajarkan pembunuhan tidak? Semua orang Kristen yang berpikir boleh membunuh orang lain itu pasti tidak setia kepada ajaran Alkitab. Tetapi kenapadi bagian ini Tuhan memerintahkan Israel untuk membantai orang-orang Kanaan seperti itu? Genocide lagi yang Tuhan perintahkan. Nah, dalam hal ini kita harus mengerti ada perbedaan antara pemerintahan dunia saat ini dengan pemerintahan yang dilakukan Allah kepada Israel. Di zaman ini raja-raja, presiden memerintah bukan sebagai negara teokrasi. Bahkan Roma sendiri pemerintahan di bawah Paus itu bukan pemerintahan teokrasi. Maksud teokrasi itu adalah pemerintahan yang langsung dipimpin oleh Tuhan Allah sendiri yang adalah rajanya dan masyarakat atau pemimpin di dalam dunia ini hanya menjadi pelaksana daripada apa yang menjadi kehendak Tuhan selain dari menegakkan keadilan dan kebenaran seperti itu. Di zaman dari Yosua, di zaman dari Musa, Tuhan sendiri yang menjadi pemimpin, Tuhan sendiri yang menjadi raja atas Israel. Makanya kalau Bapak Ibu baca di dalam peristiwa Musa, di peristiwa raja-raja, sebenarnya dikatakan Tuhan tidak berkehendak ada raja. Makanya pada waktu Israel meminta ada seorang raja di tengah-tengah mereka, maka ketika Samuel merasa kesal, jengkel terhadap peristiwa itu, Tuhan berkata, “Samuel, kamu jangan jengkel atau marah. Yang mereka tolak itu bukan engkau, tetapi yang mereka tolak itu adalah Aku.” Ini bicara mengenai negara teokrasi pada waktu itu.
Dan pada zaman dari Israel, Tuhan menggunakan Israel menjadi penyambung tangan Tuhan untuk menegakkan keadilan bagi dunia, bagi orang Kanaan yang jahat di mata Tuhan. Contohnya apa? Maksudnya mungkin bantu Bapak, Ibu bisa lebih mengerti sedikit ya. Bapak, Ibu terima nggak kalau manusia mati karena gunung Merapi meletus? Sedih sih, tapi terima kan? Rela kan orang-orang itu meninggal karena awan panas, karena lahar dingin seperti itu? Bapak, Ibu terima nggak kalau terjadi gempa yang hebat, rumah runtuh lalu ada puluhan orang mati? Atau bahkan di Palu sempat terjadi tanah terbelah, satu desa atau kampung masuk lalu tertutup kembali. Dalam pikiran kita apa? Mungkin nggak mikir apa-apa, kecuali kita pikir maksud Tuhan itu apa? Mungkin kita pikir oh ini adalah penghakiman dari Tuhan mungkin seperti itu, atau yang lain-lainnya. Lalu kita berdoa minta belas kasih dan pengampunan dan kemurahan bagi orang-orang itu.
Nah Bapak, Ibu, harus melihat ketika Israel datang ke tanah Kanaan, itu menjadi sarana lain Tuhan untuk menegakkan keadilan. Menggantikan apa? Gunung Merapi, gempa bumi, angin puting beliung, ataupun yang lainnya. Dan kenapa mereka harus lakukan itu? Karena orang Kanaan sangat jahat sekali, mereka mengadakan ibadah kepada Tuhan tapi dengan mengorbankan anak mereka, mereka beribadah kepada Tuhan dan berpikir kekudusan dan berkat itu didapatkan melalui pelacuran bakti dengan imam-imam perempuan yang ada di kuil-kuil. Dan Tuhan Allah Israel adalah Tuhan yang berbeda, Dia adalah Tuhan yang terpisah, atau yang kudus dari allah-allah palsu itu, allah-allah yang kejam yang menjadi sesuatu penyembahan yang dilakukan oleh atau terwujud dari penyembahan yang dilakukan oleh orang-orang Kanaan ini. Itu sebabnya ketika Israel masuk ke dalam tanah Kanaan, kenapa Tuhan suruh mereka binasakan? Supaya kejahatan Kanaan tidak terjadi di dalam kehidupan Israel. Tetapi bukan hanya itu, supaya Kanaan dihukum oleh Tuhan karena waktunya sudah tiba. Ini Bapak, Ibu, bisa baca di dalam Kejadian pada waktu Tuhan berjanji kepada Abraham, Tuhan ngomong bukan kau yang akan memiliki tanah itu, tetapi generasi ke-4 yang akan memiliki tanah itu. Kenapa saat itu terjadi? Karena pada waktu itu, kejahatan orang Amori sudah mencapai puncaknya. Ini yang menjadi dasar.
Nah di dalam peristiwa ini, ketika Yosua membawa orang Israel masuk ke sana, maka ada sekelompok suku yang bernama suku Gibeon ini, kemudian mendengar peristiwa yang dilakukan oleh orang-orang Israel kepada Mesir, mungkin kepada Yerikho, dan juga kepada Ai. Lalu di dalam kondisi seperti itu mereka ada di dalam kondisi yang begitu gentar, dan mereka tahu bahwa mereka pasti binasa, karena bangsa yang begitu besar saja kalah dengan Allahnya orang Israel. Nah akibat dari hal itu mereka kemudian berinisiatif untuk menyamar seperti orang yang berasal dari daerah yang sangat jauh, lalu kemudian dengan cara bagaimana? Membuat pakaian mereka compang-camping atau rusak, lalu membuat tas mereka atau barang mereka bawa itu sudah rapuh karena menempuh perjalanan yang jauh dan panjang itu. Dan ketika mereka berhadapan dengan Yosua, mereka berkata, tolong biarkan kami hidup, jangan bunuh kami, singkatnya begitu, dan mereka mengikat perjanjian di hadapan Tuhan untuk tidak membunuh orang Gibeon ini. Dan itu dilakukan tanpa bertanya sama Tuhan sama sekali.
Lalu setelah tiga hari kemudian, mereka masuk lebih jauh, mereka baru sadar, Gibeon ternyata bukan dari luar Kanaan, Gibeon ada di dalam tanah Kanaan. Waktu itu bangsa Israel marah dengan pemimpin mereka dan ingin membunuh orang Gibeon itu, lalu Yosua berkata apa? Yosua berkata apa? Nggak boleh. Kenapa nggak boleh? Karena kita sudah berjanji di hadapan Tuhan untuk membiarkan Gibeon hidup. Walaupun saat itu mereka tidak bertanya kepada Tuhan, tetapi karena mereka sudah berjanji atas nama Tuhan, maka Gibeon harus hidup. Maka Gibeon dibiarkan hidup. Tetapi walaupun mereka ada di tengah-tengah Israel, mereka dijadikan tukang belah kayu, tukang timba air, atau menjadi budak dari Israel. Dan mereka rela melakukannya asal nyawa mereka tidak dibunuh oleh Israel.
Nah Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kenapa begitu? Karena Allah kita adalah Allah yang mengidentikan diri-Nya dengan umat-Nya. Dia mau kita menjaga kemuliaan nama-Nya melalui tindakan penjagaan nama Tuhan yang dilakukan umat-Nya. Makanya kalau Bapak, Ibu, lihat di dalam 10 perintah Allah, ada kalimat “Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan”, karena apa? Karena ketika kita hidup di tengah-tengah dunia ini, satu-satunya kelompok manusia di antara semua manusia yang disebut dengan gambar Allah yang menjadi wakil dari Tuhan Allah di tengah dunia ini, yaitu umat Tuhan, yang secara khusus dipanggil keluar, ditebus di dalam Kristus, supaya di dalam kehidupan dari umat Allah nama Tuhan dinyatakan kepada dunia ini. Dan kalau umat Allah sudah memegang satu janji, janji itu menjadi satu hal yang Tuhan juga akan pegang. Kenapa? Tahu nggak kenapa? Karena Allah kita adalah Allah yang setia kepada janji-Nya. Allah kita adalah Allah yang tidak pernah ingkar janji. Bapak, Ibu bisa lihat itu, ketika Dia berjanji kepada Adam, seorang anak laki-laki akan menghancurkan kuasa iblis, hal itu dilakukan di dalam Kristus. Ketika Tuhan berjanji bahwa Abraham dan keturunannya akan memiliki tanah perjanjian, walaupun Abraham sudah mati dan dia mati hanya dengan memiliki satu petak tanah untuk menguburkan diri dia, tetapi setelah 400 tahun berlalu Tuhan tetap setia kepada janji-Nya kepada Abraham dengan Israel menjadi tanah yang Tuhan berikan kepada keturunan Abraham. Karena janji-Nya bahwa anak Abraham akan terus ada, maka sampai hari ini walaupun orang berusaha membinasakan Israel, Israel nggak bisa dibinasakan. Karena apa? Karena janji-Nya kepada orang Israel.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Allah kita adalah Allah yang setia kepada perjanjian. Itu sebabnya Dia tidak izinkan ketika sudah berjanji di hadapan Tuhan, itu mengecewakan dengan cara ingkar janji. Nah bicara janji, ini bicara apa? Pokoknya semua janji. Mau yang berupa nazar, mau janji kepada orang lain yang tidak berupa nazar, bahkan yang mungkin lebih serius adalah, janji di dalam pernikahan. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, manusia adalah makhluk yang saya kira ya, bahkan anak Tuhan itu sangat celaka sekali, karena kita nggak pernah berpikir dari perspektif ini. Bapak, Ibu, tahu tidak ketika bicara perjanjian yang Allah buat dengan manusia, ada satu peristiwa yang Allah pernah tunjukkan di dalam peristiwa Abraham. Pada waktu Allah mengikat perjanjian dengan Abraham, maka Allah kemudian meminta Abraham untuk membelah binatang menjadi dua. Lalu setelah binatang itu dibelah menjadi dua, maka, Allah kemudian berjalan di tengah-tengah binatang itu, di tengah malam yang begitu gelap, Alkitab mencatat ada api yang menyala yang berjalan di tengah potongan binatang itu. Siapa itu? Allah. Tapi apakah ini adalah sesuatu yang normal? Tidak. Yang normal itu adalah setiap kali orang berjanji pada zaman Mezopotamia itu, maka yang harus berjalan di tengah-tengah potongan binatang itu adalah kedua orang yang berjanji, kalau mereka adalah kedua orang yang setara kedudukannya. Tapi kalau kedua orang yang berjanji ini adalah orang yang tidak setara di dalam kedudukannya, maka yang berjalan melewati potongan binatang itu adalah orang yang lebih rendah kedudukannya daripada orang yang lebih tinggi itu. Artinya adalah, ada tanggung jawab, ada konsekuensi dari ketidaksetiaan kepada perjanjian. Dan tanggung jawab dan konsekuensi itu adalah setiap orang yang berani berjanji maka dia haruslah menjadi orang yang memegang janji, kalau tidak tubuhnya haruslah dibelah dua seperti binatang tersebut. Ini keseriusannya.
Kalau di zaman kita mungkin ke notaris, kita mau beli tanah atau mau melakukan sesuatu, konsekuensinya adalah harus bayar denda berpuluh-puluh kali lipat dari harga, misalnya tanah. Saya pernah dengan Pak Susilo, sama kalau tidak salah dengan Pak Taufik atau Pak Patria ya, waktu kita ke notaris untuk beli tanah ini, lalu di situ ada klausa yang ditulis atau pasal-pasal. Salah satu pasalnya adalah kalau salah satu pihak membatalkan penjualan tanah ini, maka dia harus ganti rugi kalau tidak salah 2x lipat atau berapa. Saya ngomong, “kok begini, boleh nggak dikurangi?” “Oh jangan. Jangan dikurangi, ini untuk menjaga kalian supaya penjualnya nggak sembarangan. Bahkan kalau perlu dinaikkan lebih tinggi lagi. Makin tinggi makin bagus. Supaya apa? Supaya perjanjian itu aman.” Kalau waktu itu bukan uang, tetapi nyawa. Tetapi pada waktu Tuhan mengikat perjanjian dengan Abram, menariknya adalah bukan Abram yang disuruh lewat, tetapi Tuhan yang lewat. Karena apa? Tuhan tahu Abraham pasti nggak bisa pegang janji. Jadi siapa yang pegang janji? Tuhan yang pegang janji. Tuhan yang menjamin Abraham dan keturunannya akan selalu ada di hadapan Tuhan. Apa yang Tuhan janjikan kepada Abraham, pasti tergenapi, bukan karena Abraham setia, bukan karena Abraham lebih baik dan lebih hebat dari manusia yang lain, tetapi karena dia memiliki Allah yang setia kepada janji dan berkuasa untuk menggenapi janji itu maka hal itu terjadi.
Nah ini diminta dari kita, sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, untuk pegang janji itu. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tapi sayang sekali ya, kadang-kadang kita bahkan lupa akan janji kita. Dan salah satu yang lebih fatal lagi adalah kita lupa dengan janji kita di hadapan Tuhan terhadap pasangan kita. Sehingga kita walaupun kita menjadi orang Kristen, kita memilih bercerai daripada setia di dalam perjanjian itu. Padahal yang dijanjikan apa? Kenapa bisa dikatakan lupa? Mungkin Bapak, Ibu nggak setuju ya kalau saya bilang lupa. “Kami nggak lupa kok, kami ingat janji nikah di gereja kami, walaupun sudah puluhan tahun berlalu kami masih ingat.” Saya bilang lupa. Lupanya apa? Janji nikah apa Bapak, Ibu? Tuh kan lupa kan. Janji nikah apa? Halo?
Kita uji aja, Ko Edo masih ingat nggak? Intinya aja. Teman pewaris kasih karunia, janji pernikahan. Benar nggak? Benar nggak Bapak, Ibu? Yang sudah nikah benar nggak? Benar ya. Saya bilang salah. Ada benarnya sih, tapi salah urutan. Urutannya apa? Dalam senang dan susah, dalam sehat dan sakit, dalam hal kaya dan miskin, bukan susah dan senang, miskin dan kaya, sakit dan sehat. Sama atau beda? Sama? Beda. Bedanya apa? Kalau kaya miskin, senang susah, sehat sakit, itu mau bicara perjanjian nikah itu bukan hanya di dalam posisi yang sehat, kaya, dan senang, tetapi semua pernikahan pasti menuju kepada hal yang lebih buruk, bukan lebih baik. Contoh Bapak, lbu, yang dulu menikah sudah 20-30 tahun yang lalu, coba lihat pasangannya lebih cantik atau lebih ganteng atau lebih buruk? Ah jangan lebih buruk, lebih jelek atau lebih keriput begitu. Dulu sehat nggak perlu ke mana-mana nggak perlu dituntun kayak gitu. Tapi sekarang harus dituntun, harus ditunggu. Kemarin saya waktu ajak istri mau belanja sesuatu di Jogja City Mall, saya lewat dengan istri jalan kayak gitu. Lalu ada satu bapak yang cukup senior mungkin kena stroke, dia pegang satu tongkat. Eh nggak pegang tongkat, eh pakai tongkat nggak ya? Saya lupa. Tapi dia jalannya pelan sekali di pinggir kayak gini, lalu istrinya gagah di sebelahnya jalan, mau cepat nggak bisa cepat. Tapi yang pasti istrinya di depan suaminya kayak gitu, sambil lihatin suaminya jalan satu langkah sudah lebih jauh dari suaminya, dia satu langkah suaminya harus tiga, empat langkah kayak gitu. Lalu dia lihat jalan sedikit lalu dia jalan lagi. Kemudian mendadak dia waktu lihat suaminya dia tertawa sama suaminya karena suaminya itu harus ngejar dia dari belakang. Untung suaminya sabar kayak gitu ya.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan ini realita ya. Kita bukan hidup makin baik, makin sehat, makin kuat, makin ya mungkin orang kalau sudah kerja lebih jauh, hartanya mungkin bisa dikumpul lebih banyak seperti itu daripada anak muda yang baru merintis seperti itu. Tetapi ada kemungkinan kita makin menua, makin sakit-sakitan, makin kurang fit dalam hidup kita, termasuk jika ada kemungkinan harta kita yang semulanya ada akibat sakit-sakitan kita harus keluarkan untuk mengobati. Itu realita pernikahan, janjinya apa? Bukan hanya dalam kondisi baik tapi juga dalam kondisi yang makin buruk. Jadi kalau Bapak, Ibu, datang misalnya ribut, ini saya canda sebenarnya. Ada yang nanya, “Pak, lagi ribut ya sama istrinya?” Nggak sih saya bilang, cuma saya kepikiran aja lucu. Saya ngomong kayak gini, waktu kita persiapan Sekolah Minggu di situ ada bilang, “Akibat manusia berdosa, maka ada tiga relasi yang rusak. Satu relasi dengan Allah, satu relasi dengan apa? Manusia, sesama dan satunya relasi dengan alam. Dan saya ambil poin kedua ini, waktu relasi dengan manusia rusak, mohon tanya keributan suami istri itu bagian dari kerusakan relasi dengan sesama manusia bukan ya? Karena saya tanyanya bercanda, walaupun serius, jawabnya juga bercanda walaupun saya nggak tahu serius juga atau nggak kayak gitu.
Tapi ini realita, Bapak, Ibu, di dalam pernikahan dan relasi pasti ada friksi, ada hal-hal yang tidak baik yang terjadi. Dan kalau kita datang, “Pak, saya nggak menyangka pasangan saya itu suami atau istri yang saya nikahi dulu, yang saya pikir baik dan sempurna, itu jadi kayak gini.” Kalau kayak gitu ingat apa? Relasi pernikahan pasti ada friksinya, hubungan pasti ada tidak enaknya atau sakit hatinya, tapi kita sudah kadung janji. Boleh ulangi sama-sama, saya sudah kadung janji. Jadi terimalah. Ini cerminan dari kesetiaan kita kepada Tuhan. Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, apapun yang kita lakukan kalau Bapak, lbu mau tanya ya, apa tanda kita anak Tuhan? Bagaimana kita menyatakan diri sebagai anak Tuhan yang betul-betul anak Tuhan? Jawabannya adalah memang di dalam Yohanes bilang kasih, betul kasih. Tetapi ada yang kedua, setia kepada janji, karena Allah adalah Allah yang setia kepada janji. Nggak tahu waktu kita terasa cepat sekali. Masih baru setengah khotbah masih ada yang lain.
Saya lanjut aja ya, nggak apa-apa ya. Nah, saat itu Saul nggak lakukan itu. Saul tidak setia kepada janji walaupun ketika dia melakukan tindakan membantai orang Gibeon atau membunuh mereka. Tetapi dan itu tujuannya adalah untuk kebaikan dari orang Israel dan Yehuda bukan kepentingan diri dia sendiri. Tetapi Tuhan tetap melihat itu adalah pelanggaran terhadap janji Tuhan dan kalau itu adalah pelanggaran terhadap janji Tuhan, maka dia harus menerima hukuman. Tapi menariknya adalah di sini juga sebagai pemimpin ketika berdosa, maka Israel turut mengalami penghukuman dari Tuhan itu. Nah, hal ini dikontraskan dengan Daud, pada waktu Daud melihat kondisi itu, di sini dicatat saat itu ketika orang Gibeon meminta tujuh anak dari Saul untuk dibunuh atau menggantikan hukuman itu, maka di sini Daud kemudian melewatkan Mefiboset yang merupakan anak Yonatan. Dan dia mengambil Mefiboset dari anak atau dari cucu Saul atau anak Saul yang kemudian menggantikan Mefiboset ini dan diserahkan kepada Gibeon untuk digantung di bukit Tuhan. Jadi satu sisi Saul dikatakan tidak setia, tetapi di sisi lain dikontraskan Daud kelihatannya adalah orang yang setia kepada Tuhan atau setia kepada janjinya kepada Yosafat dan dia tidak izinkan anaknya itu binasa. Ada kontras seperti ini ya.
Tetapi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ada hal lain yang cukup menarik yang mungkin bisa dikatakan prihatin, yaitu ketika Daud mengambil keputusan untuk menyerahkan tujuh dari anak Saul atau keluarga Saul ini kepada Gibeon. Nah kenapa hal ini menjadi sesuatu yang prihatin? Walaupun di dalam tafsiran komentari ada dua pandangan akan hal ini. Ada yang setuju dengan tindakan Daud, ada yang tidak setuju dengan tindakan Daud untuk menyerahkan ini. Yang setuju bagaimana? Yang setuju adalah yang berkata di ayat yang pertama, waktu Daud bertanya kepada Tuhan, maka Tuhan menjawab, “Pada Saul dan keluarganya melekat hutang darah.” Hutang darah itu kenapa menjadi hal yang penting? Kalau Bapak, Ibu lihat di dalam Bil. 35:32,34 di situ dikatakan orang yang membunuh, orang yang berhutang darah dia harus dihukum dengan nyawanya juga. Jadi ada nyawa mengganti nyawa. Sehingga kalau Saul dan keturunannya itu berhutang darah, berarti mereka harus menerima hukuman itu. Dan di sini dinyatakan Saul dan keluarganya, maka dengan begitu anak-anaknya juga turut diserahkan seperti itu.
Tapi ada yang berbeda, ada yang tidak setuju. Kenapa tidak setuju? Ada beberapa prinsip yang Bapak, Ibu bisa pegang. Pertama adalah ketika Daud bertanya kepada Tuhan, Tuhan memberitahu Saul dan keluarganya memiliki hutang darah. Tetapi Tuhan tidak pernah memberitahu solusinya apa. Tetapi ketika Tuhan tidak pernah memberitahu solusinya apa, Daud mengambil inisiatif sendiri untuk solusinya. Dengan cara apa? Tanya kepada Gibeon, “Kamu mau apa?” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Daud siapa? Seorang raja. Seorang raja kenapa tanya ke Gibeon yang merupakan musuhnya untuk solusi masalah itu? Seharusnya dia bisa memutuskan dan kondisi ini memang tidak diberitahu berapa lama berlangsung. Tetapi kondisi ini juga mengatakan bahwa kemungkinan besar Gibeon nggak tahu kekeringan 3 tahun itu adalah karena hutang darah Saul dan keturunannya. Jadi kalau yang benar itu bagaimana? Seharusnya pada waktu Daud tahu Saul dan keturunannya berhutang darah, dia bukan panggil Gibeon untuk tanya bagaimana melunaskan hutang itu, tetapi dia seharusnya bertanya kepada Tuhan bagaimana caranya untuk menyelesaikan masalah ini? Itu yang pertama. Yang kedua adalah ketika dia mendengarkan Gibeon memberi svarat ini bukan sesuatu yang bisa diganti dengan uang gitu. Ini bukan sesuatu yang bisa diganti dengan peperangan balik, tapi ini adalah sesuatu yang harus diganti dengan nyawa anaknya Saul seperti itu, Daud setuju. Padahal Alkitab mengajarkan apa? Bapak, Ibu boleh buka Ul. 24:16 ya. Ul. 24:16. kita baca bersama-sama ya, sudah? Ul. 24:16 “Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri.” Mohon tanya Daud berdosa tidak? Daud melanggar hukum Tuhan tidak? Saya hati-hati bicara kayak gini karena Daud orang yang hebat. Daud adalah orang yang dikatakan oleh Tuhan memiliki hati seperti hati Tuhan dan kita tidak boleh sembarangan menjatuhkan penghakiman dan tuduhan kepada orang. Masing-masing orang punya pergumulannya sendiri di hadapan Tuhan. Masing-masing orang itu bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Maka kita perlu hati-hati di dalam hal ini.
Tetapi pada waktu kita melihat tindakan Daud di sini, kita nggak bisa melewatkan satu pemahaman: kelihatannya Daud telah melawan Tuhan. Tahu dari mana? Coba Bapak, Ibu baca –misalnya salah satu hal, ya– ayat yang ke-8. Kalau misalnya anak Daud yang lain, kita bisa ngomong, “Mungkin waktu itu mereka ikut berperang dengan Saul –anak Saul– berperang dengan Saul melawan Gibeon itu. Tapi kalau Bapak, Ibu baca ayat yang ke-8 di sini, ya: “Lalu raja mengambil kedua anak laki-laki Rizpa binti Aya, yang dilahirkannya bagi Saul, –-ini anak Saul langsung– yakni Armoni dan Mefiboset, dan kelima anak laki-laki Merab.” Merab ini siapa? Anak Saul. Dan berapa anak Saul yang diambil atau cucu Saul yang diambil? Lima orang! Yaitu Adriel, Barzilai, orang Mehola, dan yang lainnya. Kemudian diserahkan kepada Gibeon. Cucu mungkin belum ada, mungkin ada waktu Saul bantai Gibeon, tapi mungkin masih kecil karena Saul matinya nggak terlalu tua.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, artinya apa? Daud melanggar Ulangan 24:16. Dia berkata bahwa dosa Saul harus ditanggung oleh anak dan cucu Saul. Padahal Tuhan berkata, “Dosa ayah hanya ditanggung ayah, dosa anak ditanggung anak, nggak boleh yang lain.” Ini hal yang cukup memprihatinkan, ya. Tapi di sini ada pengertian, kalau Bapak, Ibu menerima pengajaran mengenai dosa turunan yang menimpa Saudara hari ini, itu bukan ajaran Alkitab, ya. Kalau saya berdosa, Tuhan akan hukum saya, tidak menimpakan akibat dosa saya itu kepada anak saya. Kalau anak saya dihukum, Alkitab mengajarkan: karena dia turut aktif di dalam dosa yang saya lakukan. Makanya dia dihukum. Tapi kalau dia nggak aktif, dia sekali-sekali nggak akan menerima hukuman yang saya terima dalam hidup saya. Atau bahkan saya nggak nerima hukuman, dia yang menanggung hukuman menggantikan saya. Tuhan nggak pernah berpikir seperti itu. Maka doa pelepasan dari hukuman keturunan –dosa keturunan– saya anggap itu tidak alkitabiah.
Saya kembali, ya. Jadi, pertama: Daud tidak bertanya kepada Tuhan. Kedua: Daud melanggar hukum di dalam Ulangan 24:16. Ketiga: Daud melanggar prinsip penebusan yang Tuhan berikan kepada kita, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dan prinsip penebusannya apa? Kalau kita berdosa di hadapan Tuhan, beri korban nggak? Korban kan? Korbannya manusia atau binatang? Binatang. Alkitab nggak pernah mengajarkan umat Tuhan boleh memberi korban manusia untuk menebus dosa! Setiap kali Alkitab bicara –misalnya anak sulung itu milik Tuhan– dan anak sulung kalau hewan itu harus dipatahkan lehernya. Tapi anak sulung manusia nggak boleh dipatahkan lehernya, tapi harus ada binatang lain yang dikorbankan menggantikan anak sulung itu. Ada prinsip lain tidak? Pada waktu kita berdosa, ada korban persembahan yang diberikan berupa hewan. Tetapi di sisi lain, ada prinsip apa? Pengampunan dosa. Pertobatan yang kita harus tunjukkan. Dan substitusi dengan hewan itu merujuk kepada Kristus yang akan datang untuk mengganti dosa manusia.
Itu sebabnya, di dalam Perjanjian Lama, nggak pernah ada manusia yang boleh meminta pengampunan dosa dengan memberikan korban manusia. Dan di dalam Perjanjian Baru, tidak ada lagi korban persembahan yang diperlukan karena Kristus sudah menggenapi semua korban penebusan itu bagi kita. Dan kita hanya perlu meminta pengampunan, bertobat dari dosa, meninggalkan dosa, dan beriman kepada Yesus Kristus.
Nah, Daud di dalam Perjanjian Lama mengerti hal ini nggak? Saya percaya dia sangat mengerti. Dari mana? Bapak, Ibu boleh baca doa Daud di dalam Mazmur ketika dia berdosa kepada Batsyeba. Dia tahu bahwa pengampunan dosa, Tuhan melupakan dosanya, hisop yang membersihkan dirinya dengan darah itu adalah yang paling penting. Bukan dengan korban persembahan yang diberikan. Bukan dengan tindakan yang dilakukan. Tetapi pengampunan yang didasarkan kasih karunia atau anugerah dari Tuhan. Itu yang menjadi pengajaran di dalam kitab suci Perjanjian Lama juga.
Tapi di dalam bagian ini, Daud mikir bahwa ketika ada Saul dan anak-anaknya itu berhutang darah, maka yang paling baik adalah menyerahkan mereka kepada Gibeon dan meminta Gibeon untuk menggantung mereka dan solusinya akan selesai. Selesai, tidak? Kayaknya nggak. Karena di dalam bagian yang berikutnya –di dalam ayat berikutnya– di situ dikatakan ketika Daud mendengar hal itu dan memberikan atau ketika Daud menyerahkan anak itu, kelaparan belum selesai. Dan ketika dia melihat atau mendengar bahwa ibu dari anak-anak yang diserahkan untuk jadi korban itu menjaga siang dan malam tubuh dari anaknya supaya tidak direbut oleh burung ataupun binatang buas –saya nggak tahu ya, Alkitab nggak ngomong– tapi mungkin Daud merasa bersalah. Dengan cara apa? Dia dengan prajuritnya pergi mengambil tulang Saul dan Yonatan. Lalu, setelah itu dia mengambil tulang dari tujuh anak dan cucu Yonatan, dipersatukan dan dikuburkan. Setelah peristiwa itu baru turun hujan atau kelaparan itu diselesaikan.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya lihat di sini –saya pribadi lihat– kemungkinan besar walaupun Daud adalah seorang raja baik, yang memiliki hati seperti hati Tuhan, tapi ingat, dia juga manusia. Dia juga bukan raja yang dijanjikan itu. Raja itu adalah Kristus sendiri yang akan datang. Tetapi ada satu poin yang Bapak, Ibu boleh lihat ini, ya. Ketika Daud mengambil keputusan untuk menyerahkan anak Saul, dia mengambil tindakan keadilan dia sendiri di hadapan siapa? Allah yang Maha Tahu, ya. Saya ulangi, ya. Daud, ketika mengambil keputusan untuk menyerahkan tujuh keturunan Saul kepada si Gibeon, dia mengambil keputusan itu sendiri di hadapan Allah yang Maha Tahu dan Allah yang Maha Adil. Sebenarnya ada poin yang keempat yang tadi saya lewatkan, ya. Daud, sebenarnya, ketika menyerahkan keturunan Daud, dia juga melanggar janjinya kepada Saul bahwa dia akan menjaga keturunan Saul. Bukan hanya Yonatan punya anak saja, tapi seluruh anak yang lain. Bapak, Ibu bisa lihat itu di dalam 1 Samuel. Dia ambil keputusan itu sendiri di hadapan Allah yang Maha Tahu.
Ini sangat-sangat relevan dengan hidup kita, ya. Maksud saya adalah begini: Kita semua pasti pernah mengalami hal yang dirugikan, ditipu, disakiti, dikecewakan, dan yang lainnya. Mungkin nggak sampai korban jiwa, mungkin ada juga yang korban jiwa. Tetapi ketika Bapak, Ibu mengalami itu, ingat: tindakan apa yang harusnya Bapak, Ibu, Saudara lakukan. Semua yang Bapak, Ibu akan, Saudara lakukan, keputusan yang Bapak, Ibu, Saudara lakukan, ingat satu hal: itu diambil di hadapan Allah yang Maha Tahu dan Maha Adil dan Maha Kuasa. Oke? Dengan begitu, maksudnya apa? Ada dua pilihan. Satu, tanya ke Tuhan dan serahkan itu kepada Tuhan karena Tuhan tahu yang terbaik. Atau dua, Saudara ambil keputusan sendiri. Bijaksana sendiri.
Tapi, kalau saudara ambil keputusan sendiri dan bijaksana sendiri, ingat: Daud bagaimana? Adil kah? Benar kah? Atau melawan hukum Tuhan kah? Mengorbankan orang lain kah, atas nama keadilan? Mungkin nggak untuk diri kita, tetapi keadilan dan kebaikan dari bangsa, tapi yang kita lakukan adalah mengorbankan yang lain. Prinsip Alkitab adalah ketika Tuhan ingin menyelamatkan kita yang melawan Tuhan dan musuh kita yang melawan diri kita, Dia tidak mengorbankan musuh kita, tapi Dia mengorbankan anak tunggal-Nya Yesus Kristus bagi kita. Ini prinsip Alkitab.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, makanya pada waktu kita ingin hidup sebagai anak Tuhan, saya kira pertama, kita harus berpegang pada perkataan Tuhan. Yang kedua, kita harus berpegang pada janji kita selain dari hidup dalam kasih. Atau yang ketiga, kita harus hidup dalam kasih. Apa yang membuat kita bisa hidup dalam kasih? Karena apa pun yang kita lakukan dan orang lain lakukan kepada kita, itu adalah tindakan yang tidak pernah lepas dari mata Tuhan yang adil dan penuh dengan kebenaran itu.
Bapak, Ibu lebih lega serahkan ke dalam tangan Tuhan atau ambil hakim sendiri? Saya kira ini prinsip yang penting untuk kita bisa pegang sebagai anak Tuhan, ya. Kalau kita ambil jalan sendiri, ingat pelajaran Daud. Mungkin seumur hidup dia nggak pernah lupakan persoalan: dia pernah mengorbankan nyawa orang lain. Dia pernah berzinah dengan Batsyeba karena itu adalah sesuatu dosa. Karena dia pikir dia lebih bijaksana daripada dia menyerahkan bijaksana itu ke dalam tangan Tuhan untuk menyelesaikan masalah. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita. Mari kita masuk dalam doa.
Kami sungguh bersyukur Bapa, di dalam kasih-Mu Engkau boleh nyatakan kebenaran-Mu bagi kami. Tolong kami, ya Tuhan untuk belajar hidup di dalam kebenaran-Mu, hidup di dalam setia kepada janji, hidup di dalam kasih Tuhan antara satu dengan yang lain, dan menyerahkan segala hal yang terjadi dalam hidup kami di dalam tangan Tuhan. Tolong kami yang begitu lemah dan penuh dengan kekurangan ini karena kami tahu bahwa Engkau adalah Allah yang telah memampukan kami. Maka, kami datang kepada Engkau untuk mengharapkan pertolongan dan kekuatan ini. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
