Dikenal dan Dikasihi, 28 September 2025

Dikenal dan Dikasihi

Mzm. 139

Vik. Valentino Sitorus

Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, tema kita pada pagi hari ini adalah dikenal dan dikasihi. Dikenal dan dikasihi. Saudara, secara naluriah, manusia itu mendambakan untuk dikenal dan dikasihi. Kenapa demikian? Karena kita membaca di dalam Alkitab: Kejadian 2:18 dikatakan di sana, “Tidak baik manusia itu seorang diri saja.” Manusia itu memang diciptakan untuk berelasi. Dan hal ini pun dikonfirmasi oleh seorang psikolog dan sosiolog yang sangat terkenal yang bernama Abraham Maslow. Maslow merumuskan suatu konsep yang dinamakan dengan hierarki kebutuhan. Maslow berkata, “Setelah kebutuhan dasar seperti makanan, pangan, dan kemudian rumah dan sebagainya, manusia itu mencari love and belonging: persahabatan, intimasi, dan penerimaan. Itulah naluri manusia.” Dan kalau kita membaca jurnal-jurnal daripada psikologi sosial, kita menemukan bahwa isolasi dan penolakan sosial bahkan lebih bahaya –kadang-kadang– daripada penyakit fisik. Orang yang terisolasi dan orang yang ditolak di dalam sosialnya bisa merusak mentalnya. Dan kadang-kadang kerusakan mental tersebut lebih bahaya daripada penyakit fisik.

Dan kalau kita bisa berkata, ya, orang bisa saja pura-pura nggak butuh. Orang bisa saja, “Ah, aku nggak butuh dikenal, aku nggak butuh dikasihi.” Tetapi kalau kita mau trace, kalau kita mau cari tahu kenapa dia punya pergumulan itu, seringkali itu karena adanya trauma. Dan bahkan orang yang tidak mau bergaul dengan orang lain –tanda kutip introvert yang sangat ekstrem– itu pun bukan dia menghindar dari orang lain karena dia tidak butuh dikenal dan dikasihi. Bukan. Tapi, itu sebenarnya dia lakukan untuk seringkali melindungi dirinya supaya dia tidak dihakimi dan sebagainya.

Jadi –Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian– deep down di dalam hati manusia ada kerinduan ini! Makanya, ya, kalau kita lihat di dalam budaya kita sekarang: lagu-lagu, film, novel, semuanya bercerita tentang apa? Bercerita tentang tema cinta, kesepian, dan penerimaan, ya? Itu menyingkapkan bahwa kerinduan, dikenal, dan dikasih ini adalah kerinduan universal. Semua umat manusia memiliki kerinduan ini.

Nah, Saudara, karena naluri manusia yang ingin dikenal dan dikasih ini, banyak orang yang rela tampil palsu di media sosial. Wah, dia menunjukkan dirinya seperti apa di media sosial supaya orang bisa mengenal dia baik, supaya orang bisa mengasihi dia dengan baik. Tetapi ada ironi juga, Saudara sekalian: pada saat yang sama mereka juga tidak siap diterima sepenuhnya. Jadi, di satu sisi, media sosial dipakai untuk sebagai sarana supaya orang-orang menerima dia, supaya orang-orang bisa “mengasihi” dia. Tapi, pada saat yang sama, media sosial juga dipakai sebagai pencitraan karena dia tidak siap untuk diterima sepenuhnya. Seringkali kita, manusia –Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian– itu takut kalau orang sungguh-sungguh kenal kita apa adanya, dengan segala kelemahan kita, dengan segala luka-luka yang kita punya, dengan segala dosa-dosa dan pergumulan kita. Seringkali, “Ah, kalau orang ini mengenal saya sepenuhnya, nanti dia nggak mau mengasihi saya lagi.”

Nah, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, Mazmur 139 yang kita baca tadi mengajarkan suatu paradoks yang indah. Di satu sisi, Allah itu mengenal kita sepenuhnya bahkan sisi yang paling gelap. Tetapi, di sisi lain, Dia mengasihi dan memiliki rancangan atas hidup kita. Dan itu dijawab oleh Mazmur ini. Inilah kebutuhan terdalam manusia, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Bukan hanya to be known and to be loved, tapi to be fully known and to be fully loved. Dikenal sepenuhnya dan dikasihi sepenuhnya. Itulah yang akan menjadi pembahasan kita di dalam khotbah ini.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, sebelum kita masuk ke dalam teks 139 tadi, mari kita pahami sekilas tentang kitab Mazmur. Mazmur ini adalah buku doa, buku puji-pujian. Dan seorang bapak reformator yang bernama Luther berkata, “Mazmur ini seperti miniatur Alkitab”, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Kenapa? Karena isinya mencakup seluruh tema Alkitab. Ya, jadi kalau kayak Yogyakarta, Yogyakarta kita bisa katakan miniatur Indonesia juga, ya, karena ada orang dari Sabang sampai Merauke studi di tempat ini. Nah, kata Bapak Luther, sama. Kalau kita membaca kitab Mazmur, kita akan seperti membaca miniatur Alkitab. Semua tema-tema besar di dalam Alkitab ada di sana. Ini kata Bapak Luther.

Tetapi, seorang bapak reformasi yang lain, yang bernama Calvin, merumuskan lebih jauh. Bagi Calvin, kitab Mazmur ini bukan hanya miniatur Alkitab tetapi juga cermin jiwa. Kata Calvin, “Semua pergumulan dan pergejolakan tentang emosi jiwa manusia ada ditulis di dalam kitab Mazmur ini.” Kata Calvin. Jadi, kalau Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian mau menemukan pergejolakan emosi jiwa manusia, itu ada di dalam kitab Mazmur. Jadi, Mazmur bukan hanya sekadar kumpulan puisi atau lagu pujian atau doa. Bukan. Kalau menurut Bapak Luther dan Bapak Calvin, Mazmur ini adalah kitab yang merangkum seluruh kisah iman dan sekaligus memantulkan segala gejolak hati manusia. Saya ulang: Mazmur ini adalah sebuah kitab yang merangkum seluruh kisah iman dan sekaligus memantulkan segala gejolak hati manusia.

Nah, dari gambaran umum tentang Mazmur ini, Saudara-saudara sekalian, kita bisa melihat Mazmur 139 yang kita baca tadi adalah salah satu contoh yang sangat indah. Kenapa? Karena di dalamnya Daud menuliskan pengalaman batin yang sangat personal. Pengalaman batin yang sangat personal. Kita menemukan di sana: Allah mengenalnya sejak dalam kandungan, di tengah ancaman musuh, hingga dia berdoa supaya hatinya diselidiki. Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, konteks historis kitab Mazmur ini, ketika Daud menuliskan surat ini apakah keadaannya baik-baik saja? Nggak, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Walaupun kita tidak mengetahui secara persis siapa yang mengejar Daud pada saat itu, tetapi ketika Daud menuliskan Mazmur ini, waktu itu Daud lagi dikejar-kejar musuh. Entah itu Absalom, entah itu waktu itu Saul, entah itu musuh-musuhnya yang lain. Jadi dia lagi kepepet, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, ya.

Jadi ayat yang seringkali dikutip orang itu, ya, “Engkau mengenalku sejak dari dalam kandungan. Engkau mengetahui aku,” dan sebagainya, Itu ditulis waktu Daud lagi terjepit. Itu ditulis waktu Daud mau dibunuh, mau dikepung. Tidak ada jalan keluar, kekurangan prajurit. Tetapi, di sini kita melihat seorang raja seperti Daud –dari kitab yang kita baca tadi– bisa merasa rapuh ketika dia dikepung musuh dan dia bisa rapuh juga ketika dia ada di dalam ketidakpastian di dalam hidup ini. Nah, kalau Daud saja bisa ada di dalam titik seperti itu, apalagi kita.

Tetapi, kalau kita membaca di dalam kitab Mazmur 139 tadi, kita melihat di titik itulah Daud menoleh kepada Allah yang apa? Yang mengenalnya sepenuhnya. Allah yang tahu ketika dia duduk dan bangun, dan bahkan sebelum dia mengucapkan kata-kata, dan bahkan isi hatinya yang terdalam. Inilah poin khotbah kita yang pertama, –Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian– bahwa Allah itu mengenal kita sepenuhnya. Itu ada di dalam Mazmur 139:1-6. Kalau kita membaca ayat yang pertama sampai keenam di dalam Mazmur 139, kita bisa menyimpulkan bahwa Allah itu mengenal kita sepenuhnya. Mazmur ini dibuka dengan satu pengakuan Daud yang sangat agung bahwa Allah telah menyelidiki dan mengenal dia sepenuhnya. Bahkan Allah tahu segala aktivitasnya, dari duduk sampai bangun, pergi sampai berbaring.

Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, saya mau tanya di sini, ada nggak dari kita, yang kita hitung, mulai dari kita umur 10 tahun deh, berapa kali kita duduk sehari? Ada nggak? Ada nggak dari kita yang hitung? Mulai kita[1] , nggak usah 10 tahun lah, 1 tahun ini deh, berapa kali kita tidur, kita hitung. Berapa kali kita duduk, kita hitung. Berapa kali kita berjalan, kita hitung. Dan ayat ini juga mengingatkan kita kepada perkataan Tuhan Yesus bahwa satu rambut kita jatuh, Bapa di surga tahu. Wah, itu luar biasa sekali, loh! Saya mau tanya ya, bagi Ibu-ibu atau perempuan yang mungkin rambutnya sering rontok. Ada nggak dari Ibu-ibu sekalian atau perempuan di tempat ini, –atau laki-laki juga nggak apa-apa lah, ya– waktu rambutnya rontok di kamar mandi, jatuh, hitung satu-satu. “Aduh Tuhan, rambutku rontok.” Hitung: satu, dua. Nggak ada ya? Wah, kalau ada luar biasa, ya. Nanti saya kasih hadiah kalau ada. Dihitung semua rambutnya, ya.

Nah, dari sini kita bisa melihat, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, Allah itu lebih peduli kepada kita justru dibandingkan diri kita sendiri! Saya ulang, ya. Allah itu lebih peduli kepada kita dibanding diri kita sendiri, loh. Kenapa? Karena hal-hal yang kita menganggap masa bodoh; berapa kali kita duduk kita nggak hitung, berapa kali kita berbaring kita nggak hitung, berapa kali kita berjalan kita nggak hitung, berapa rambut yang jatuh kita nggak hitung, kata Alkitab Allah tahu! Wah, ini luar biasa sekali. Inilah yang menjadi pengharapan Daud, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Waktu dia bergumul, waktu dia ada di dalam penderitaan, waktu dia ada di dalam kesulitan, waktu dia ada di dalam ketidakpastian hidup, waktu dia menghadapi realitas yang tidak sesuai dengan apa yang dia mau, dia mengingat bahwa ada Allah yang mengenal dia. Karena Allah itu mengenal dia, maka Allah itu peduli kepada dia.

Tapi, saya menemukan, Saudara-saudara sekalian, orang Kristen tuh kebalikannya kebanyakan. Waktu orang Kristen bergumul, burn out, apa pun itu lah: menderita, bentuk penderitaannya. Waktu orang Kristen menghadapi realita yang tidak sesuai dengan ekspektasinya, seringkali responnya apa? “Ah, jangan-jangan Tuhan ini – ini perkataan yang salah, ya — jangan-jangan Tuhan tidak peduli kepada saya. Ngapain saya berdoa lagi sama Tuhan? Nggak ada gunanya!” Ini salah sekali, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Alkitab berkata sebaliknya. Banyak orang Kristen yang justru ketika menderita, ketika bergumul, justru jauh dari Tuhan. “Ah, Tuhan nggak peduli sama saya. Buktinya saya kayak gini, saya kayak gini, saya kayak gini, saya kayak gini.” Pakai aja itu semua excuse-excuse-nya, pakai aja itu semua alasan-alasannya, dan kemudian menyalahkan Tuhan. Ini pemikiran yang salah.

Dan bagi saya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, cara setan yang paling jitu untuk menjatuhkan atau membuat kita jatuh di dalam dosa dan jauh dari Tuhan adalah dengan menghancurkan cara pikir kita. Lho, kenapa begini? Kalau Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian baca di dalam kitab Kejadian pasal yang ketiga, setan datang dalam bentuk ular, dengan bentuk yang sangat menyejukkan, ya. Nggak seperti gambaran-gambaran setan sekarang. Betul, ya? Mungkin ada yang di sini nonton Conjuring atau apa, gitu, ya. Mungkin kalau kita ketemu setan yang bentuknya kayak Conjuring atau pocong atau kuntilanak, ya, gambaran sekarang, kita kabur to? Kita kabur gitu. Itu bagi saya itu pembodohan.  Bagi saya, setan yang digambarkan di dalam Alkitab itu lebih berbahaya lho; yang membuat kita tenang, nyaman, gitu kan, tetapi secara peran bisa membuat kita jatuh di dalam dosa. Precisely seperti Kejadian pasal yang ketiga. Itu ular datang ngomong sama Hawa bersahabat kan? Hawa kan nggak kaget to?  Coba kalau kita baca Kejadian 3. Emangnya Hawa kaget ketemu ular? “Ular! Kabur, ada ular!” Nggak to? Hawa menyambut dia. Mereka ngobrol baik-baik lho di situ.

Lalu, coba perhatikan, apa yang setan tawarkan kepada Hawa yang kemudian membuat manusia jatuh ke dalam dosa? Pikirannya dirusak. “Hawa, bukankah Tuhan berkata-” Nah, dibalik sama dia firman Tuhan! “-semua buah dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Pikirannya dikacaukan. Lalu kemudian Hawa bilang apa? Hawa bilang “Oh, nggak!” Hawa masih ingat firman Tuhan pada saat itu. ”Kata Tuhan, kami boleh makan, tetapi yang satu tidak boleh.” Terus, ular bilang apa? Iblis dalam bentuk ular bilang apa? “Oh, nggak!” Pikirannya dikacaukan lho. Iblis menawarkan ada sesuatu yang lebih baik selain daripada janji Tuhan. Pikirannya dikacaukan. “Oh, nggak. Kalau kamu makan buah itu, nanti kamu jadi sama seperti Allah, tahu yang baik dan jahat.” Pikirannya dikacaukan. Akhirnya, Hawa ketika mendengar itu, wah, kemudian kata Alkitab apa, di dalam Kejadian pasal yang ketiga? Dia melihat. Kelihatannya itu sedap dan baik dan memberikan pengertian. Pikirannya dikacaukan. Maka, setan yang lebih berbahaya bentuknya adalah setan yang seperti itu.

Kalau di dalam zaman sekarang apa, Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Uang. Misalnya ini ada orang kalau lihat uang kabur gitu? Ada uang lima miliar. Kabur! Nggak kan? Tetapi, uang itu bisa dipakai harusnya setan-ini contoh saja, ya-untuk bikin orang itu korupsi. Otaknya itu dirusak tuh. Wah, kalau kamu korupsi ini, ya, nanti kamu bisa beli A, beli B, beli C, kebutuhannya bisa itu, ini. Betul nggak? Makanya, bagi saya, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, cara setan yang paling jitu untuk membuat kita jatuh dalam dosa, otak kita dikacaukan. Makanya, orang Kristen kalau menderita, otaknya kacau. Makanya, ada kesimpulan seperti tadi. ”Wah, Tuhan nggak peduli sama aku. Ngapain aku berdoa lagi sama Tuhan?” Otaknya dikacaukan. Ingat kata Alkitab, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Bahkan Tuhan itu lebih mengerti, lebih peduli sama kita dibanding diri kita sendiri. Kita harus counter dengan itu.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau mungkin ada sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasi kita, kita bergumul, kita menderita, kita kesulitan, atau mungkin kita merasa tidak ada orang yang mengerti kepada kita, ingatlah satu hal, ada Allah yang peduli, ada Allah yang tidak pernah meninggalkan, dan ada Allah yang lebih peduli kepada kita dibanding diri kita sendiri. Ingatlah hal tersebut

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, lalu kita melihat juga di dalam ayat yang kelima. Daud menggunakan kata “mengepung” di sana. Ada kata “mengepung” kembali kita ke Mazmur 139. Bapak, Ibu, Saudara-saudara, kata “mengepung” ini di dalam bahasa Ibraninya itu bisa negatif, juga bisa positif. Kata yang dipakai itu “sur.” “Sur” ini bisa negatif, bisa positif. Inilah kekayaan bahasa Ibrani. Kalau Inggris itu kan grammar-nya somehow lebih gampang gitu, ya, tetapi kalau Ibrani itu banyak banget grammar-nyadan 1 kata bisa bermakna 2 hal. Kata “mengepung” di sini bisa negatif, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Itu bisa seperti seorang-kalau di dalam konteks Perjanjian Lama, ya, makanya Daud pakai kata itu bisa seperti waktu misalnya mereka-dikepung oleh musuh, tetapi itu juga bisa ditafsirkan secara positif bahwa ada Allah yang menjaga dan kemudian ada Allah yang menopang. Jadi, kita melihat di sini, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Daud ini, ketika dia tahu Allah mengenal dia sepenuhnya, peduli kepada dia, Daud berada di antara kekaguman yang penuh syukur dan ketakutan yang penuh hormat.

Nah, Saudara-saudara sekalian, ini bisa menjadi 2 hal bagi kita. Allah Yang Mahatahu dan peduli itu di satu sisi bisa menjadi penghiburan, tetapi di sisi yang lain bisa menjadi teguran. Di satu sisi, itu bisa menjadi penghiburan bagi kita. Kenapa? Seperti yang saya katakan tadi, Allah mengetahui setiap seluk-beluk kehidupan kita, Dia peduli kepada kita, bahkan lebih daripada diri kita sendiri. Tetapi itu bisa menjadi teguran juga bahwa apa, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian? Bahwa di hadapan Tuhan tidak ada yang tersembunyi. Di hadapan Tuhan tidak ada 1 dosa pun yang tertutupi. Kita bisa menipu orang lain, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Kita bisa menipu orang banyak, tetapi Tuhan tidak bisa kita tipu. Jadi, ini juga membawa suatu teguran bagi kita, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian kalau ada dosa-dosa tertentu, kalau ada kebiasaan-kebiasaan hidup tertentu yang mungkin orang lain nggak tahu, tetapi Tuhan tahu. Itu adalah panggilan untuk membawa kita bertobat dan tinggalkan dosa-dosa tersebut.

Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, di dalam reformed theology yang dirumuskan orang puritan, ada satu istilah yang sangat menarik. Coram Deo. Coram Deo itu adalah suatu kesadaran yang menganggap bahwa Allah itu hadir dan melihat setiap detik-detik yang kita lakukan. Kalau saya mau pakai kalimat saya sendiri, Tuhan lebih peduli kepada kita ketika kita sendirian, ketika kita di kamar, ketika kita berelasi dengan suami dan dengan istri, ketika kita berelasi dengan anak dibandingkan dengan topeng-topeng yang kita munculkan kepada banyak orang. Tuhan tidak tertarik dengan topeng-topeng itu. Tuhan tidak tertarik dengan sesuatu yang kita munculkan di depan orang lain yang kelihatannya baik, yang kita sembunyikan, tetapi Alkitab berkata Tuhan tahu, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Tuhan tahu. Maka, mari Bapak, Ibu, Saudara, kita meninggalkan hal tersebut.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, tetapi Daud berkata bukan hanya Allah itu mengetahui dan mengenal dia, Daud juga melanjutkan argumentasinya di dalam Mazmur ini. Allah itu bukan hanya tahu, tetapi juga Allah itu adalah Allah yang hadir di setiap tempat. Dia menyadari bahwa ke mana pun dia pergi, dia nggak bisa lari dari hadapan Tuhan. Inilah poin yang kedua. Bukan cuma Allah Yang Mahatahu, tetapi juga Allah Yang Mahahadir. Itu ada di dalam Mazmur 139:7-12. Kalau kita membaca seperti yang kita baca tadi di dalam ayat 7-12, setelah Daud itu merenungkan pengetahuan tentang Allah, Daud memberikan 1 pertanyaan retorik yang nggak perlu dijawab. Apa kata Daud? “Ke manakah aku dapat pergi menjauhi Roh-Mu? Ke manakah aku dapat lari dari hadapan-Mu?” Pertanyaan retoris ini menegaskan bahwa tidak ada tempat yang kita bisa sembunyi, yang tidak bisa dilihat oleh Tuhan. Bahkan, Daud memakai merism di sana. Kalau dalam puisi, merism itu menggambarkan adanya 2 kutub yang kemudian menggambarkan keseluruhannya. Yang Daud pakai langit sampai sheol. Yang tertinggi sampai terdalam. Sayap saja sampai ujung  laut. Jadi, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, bukan cuma Allah yang mengenal, tetapi juga Allah Yang Mahahadir.

Nah, saya mau tanya, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Bisa nggak kita seperti Daud ini? Ketika digempur dengan pergumulan-pergumulan hidup, ketika digempur dengan penderitaan dan kesulitan, ketika digempur dengan realita yang tidak sesuai ekspektasi, kita bisa dengan tenang berkata, “Saya baik-baik saja. Saya tenang. Kenapa? Bukan karena saya kuat, tetapi karena Allah hadir.” Inilah yang menjadi penghiburan Daud. Waktu itu, dia dikejar-kejar. Nggak tahu waktu itu dikejar sama Absalom kah?  Anak kandungnya sendiri mau kudeta dia. Nggak tahu waktu itu dikejar sama Saul kah? Orang yang dia hormati itu, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Nggak tahu apakah dia dikejar oleh musuh-musuhnya orang Filistin? Kita nggak tahu. Yang pasti, waktu Daud menulis Mazmur ini, dia sangat terdesak dan terjepit. Tetapi, apa yang membuat Daud tenang? Bukan kekuatannya! Bukan kehebatannya! Bukan pula karena dia tahu akan ada jalan keluar! Bukan, bukan! Yang membuat Daud itu tenang dan kuat karena ada Allah yang hadir. Saya nggak tahu, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, sejauh mana kita mensyukuri kehadiran Allah dalam hidup kita.

Satu kali, karena saya di CIT melayani anak-anak remaja, anak-anak mahasiswa, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian dan saya konselor juga di sana, satu kali ada orang dan kemudian datang konseling kepada saya. Namanya juga anak muda. By the way, saya juga masih muda sih, tetapi, ya, nggak muda-muda banget, ya. 30 tahun. Muda menuju ke tua lah, ya. Saya bilang dia muda bukan karena saya menganggap sudah tua, ya, Bapak, Ibu. Nggak, nggak. Tetapi, kan dia masih umur 18 tahun pada saat itu. Dia bilang gini: “Pak Valen, bagi saya, mana mungkin Tuhan itu baik.” “Lho, kenapa?” Saya kaget sekali. Kenapa? “Mana kebaikannya? Buktinya, saya ini, saya itu. Saya ini, saya itu. Saya ini, saya itu. Nggak ada tuh anugerah yang dikasih sama saya.” Lalu, saya bilang sama dia: “Kamu lupa satu hal. Waktu kamu percaya Yesus, kamu dikasih apa?” Dia diam. “Hah, maksudnya, Pak?” “Kamu kan dikasih Roh Kudus?” Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, orang Kristen banyak lupa ini. Coba, ya, saya tanya kita, ya. Siapa dari kita di sini yang setiap hari bersyukur, berdoanya kayak gini sama Tuhan, “Tuhan terima kasih karena Engkau memberikan saya Roh Kudus.” Ada, tapi mungkin jarang ya. Kita lebih sering suka bersyukur, “Tuhan makasih anakku kuliahnya bagus.” Ya, which is nggak apa apa sih, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Saya nggak melarang juga kita bersyukur anak kita orangnya kuliahnya bagus, otaknya pintar. Mungkin kita juga bisa saja nggak apa apa . Tapi yang saya mau tekankan di sini, seringkali orang Kristen itu lupa bahwa karunia yang terbesar itu sudah dikasih sama Dia. Apa itu? Roh Kudus. Ya, kurang apalagi? Kurang apalagi, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian? Allah sendiri memberikan Diri-Nya di dalam hati kita. Inilah yang menjadi penghiburan dan kekuatan kita waktu kita bergumul, waktu kita menderita. Allah itu hadir. Mungkin kita nggak bisa lihat langsung kehadiran-Nya dalam bentuk apa secara konkrit, tetapi Alkitab berkata, “Ada Roh Kudus.” Cukup Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Tidak kurang itu Roh Kudus itu.

Kita harus membiasakan diri, Bapak, lbu, Saudara-saudara sekalian, bersyukur setiap harinya kita berdoa, “Makasih ya Tuhan, Kau berikan kepada kami Roh Kudus.” Karena itu karunia terbesar.  Sekarang Bapak, Ibu, Saudara sekalian, banyak gereja ngomongin karunia Roh Kudus, betul ya? Karunia itu, karunia ini, karunia itu. Ya, baik aja sih, tapi lupa membicarakan Roh Kudus itu sendiri karunia. Saya ulang ya. Sekarang banyak gereja suka ngomongin karunia Roh Kudus, karunia itu, karunia ini, karunia ini. Ya, which is betul juga. Tapi seringkali lupa membicarakan Roh Kudus itu sendiri karunia. Dan itu adalah tanda Allah yang hadir di dalam hidup kita; baik di dalam kesulitan, baik di dalam pergumulan, baik mungkin kita tidak mengerti ada orang yang tidak mengerti rencana Tuhan, baik mungkin kita tidak tahu apa yang menjadi jalan Tuhan. Mungkin, mungkin juga kita merasa semua orang menolak kita. Mungkin juga kita merasa, merasa tidak ada orang yang mengerti kita. Mungkin juga kita merasa tidak ada satu orang pun yang dapat menolong kita. Tapi jangan lupa, Alkitab berkata Dia Allah sudah memberikan Roh Kudus bagi kita. Itulah yang menjadi kekuatan bagi kita bahwa Allah hadir Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian.

Nah, tetapi Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, sama seperti Allah yang Maha Tahu tadi, kalau kita melihat di dalam Mazmur 139, kehadiran Allah itu juga memiliki dua arti di dalam teks yang kita baca tadi. Bisa positif dan bisa negatif. Loh, kok gitu? Maksudnya gimana kehadiran Allah yang negatif? Pernah baca kisah Yunus nggak? Bagi Yunus, kehadiran Allah itu terasa menekan dia. Kenapa? Karena dia mau lari dari jalan Tuhan. Akhirnya Tuhan tarik dia kembali lalu kemudian berkhotbah di Niniwe, dan itu salah satu khotbah yang paling, khotbah yang paling pendek kayaknya, tapi kemudian membawa banyak orang bertobat itu. Bagi seorang Yunus waktu itu ya, at that moment, waktu dia bergumul, kehadiran Allah itu menekan. Makanya dia mau lari kan? Paham nggak Bapak, Ibu sekalian? Makanya dia mau lari karena bagi dia itu menekan karena dia mau melakukan sesuatu yang
tidak sesuai dengan apa yang Tuhan mau.

Ya, mungkin kita juga bisa seperti itu, Bapak, lbu, Saudara-saudara sekalian. Roh Kudus yang ada di dalam hati kita yang sudah diberikan oleh Allah, ya mungkin juga bisa “to some extent” itu juga bisa menekan kita kalau apa? Kalau kita hidup sesuai dengan apa yang kita mau, kalau kita hidup terus di dalam dosa, kalau kita hidup jauh daripada Tuhan, itu bisa menekan itu. Itu bisa menekan. Tetapi itu juga bisa menghibur. Kenapa, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian? Karena bahkan di tempat paling gelap pun Allah itu tetap ada bagi kita. Bagi kita yang sedang menderita, kehadiran Allah yang adalah Roh Kudus di dalam konteks kita sekarang, itu memberikan kita rasa aman yang membuat kita tahu bahwa kita tidak pernah sendirian bahkan di dalam tempat yang paling gelap sekalipun. Makanya Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, kalau kita suka bergumul, masih suka bergumul dengan dosa dan mungkin kita menangisi dosa tersebut dan kemudian kita berkomitmen untuk kembali kepada Tuhan dan kita ulang lagi siklus itu dan seterusnya dan seterusnya, itu bisa menjadi dua hal. Satu hal itu menekan kita, karena apa? Karena ada Roh Kudus yang ada di dalam diri kita dan kita hidup tidak sesuai dengan apa yang Tuhan mau. Tetapi jangan lupa, ini yang orang banyak lupa, itu juga menghibur karena itu tanda bahwa kita diterima Tuhan bukan berdasarkan apa yang kita perbuat.

Kalau kita belajar di dalam teologi reformed, Sistematik Teologi, ada yang namanya pengudusan. Pengudusan itu kan berproses, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Secara status ya kita orang-orang kudus, waktu kita percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, kita orang kudus, mutlak, tidak ada yang dapat mengganggu gugat. Makanya dia pakai istilah apa? Justifikasi. Itu kan Luther pakai itu bahasa hukum. Karena kalau di dalam hukum itu deklarasi status itu penting.
Ketika hakim mengangkatkan palu; tok, tok, tok orang ini orang benar atau orang salah. Ya kalau sudah dinamain orang benar ya dia lolos dalam bahasa hukum. Kalau dia orang salah ya dia orang salah. Nah, seperti itu yang bahasa yang Luther pakai kan waktu pakai kata justification itu. Jadi, kita
memang status kita di hadapan Tuhan sudah diketuk ketika kita percaya Yesus ya kita orang kudus tidak ada yang dapat mengganggu itu. Tapi secara praktik kita masih bergumul dengan dosa-dosa. Cuman ada bedanya Bapak, lbu, Saudara-saudara sekalian. Kalau kita melihat di dalam proses pengudusan, katakanlah ini saya, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Ini adalah titik di mana saya baru percaya Tuhan Yesus. Ini adalah jalan Tuhan. Ini titiknya, ini jalan Tuhan. Kita yang di dalam Kristus kita bisa naik. Ok kita percaya kepada Tuhan, dikuatkan imannya. Iman kita naik. Oh, tapi mungkin ada pergumulan, ada dosa-dosa tertentu dan sebagainya kita turun. Tapi ketika Tuhan tarik kita kembali, kita tambah naik loh, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Itulah kata kitab Roma tuh tambah naik. Kita semakin hari semakin serupa dengan Kristus. Tapi orang yang di luar Kristus dari pertama dia sudah di sini. Jadi mau apa pun yang dia buat itu, itu nggak peduli Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, orang dari awal dia sudah di luar kok. Loh, terus ada orang bilang, “Oh, berarti maksudnya kalau kita sudah di dalam nggak ada yang dapat mengganggu gugat kita, kita bisa bebas berbuat dosa.” Ya nggak. Ingat poin tadi, kehadiran Allah itu bisa menekan. Roh Kudus yang ada di dalam diri kita itu adalah Roh Suci. Nggak mungkin orang yang sudah percaya Yesus ada Roh Kudus di dalamnya bersukacita melakukan dosa. Itu nggak mungkin. Terang dan gelap nggak bisa bersatu, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Makanya nggak bisa orang bilang, “Oh, saya sudah selamat sekali saya selamat, sudah saya mau ngapa-ngapain aja.”  Nggaknggak. Kehadiran Allah itu bisa menekan, Roh Kudus itu akan terus mempertobatkan kita, membawa kita kembali. Tapi jangan lupa kehadiran Allah itu bisa menghibur kita juga.

Dan Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, tetapi Daud bukan hanya tahu dan merumuskan, menuliskan di dalam Mazmur ini bahwa Allah mengenal dia dan Allah juga hadir dalam hidup dia, bukan, tapi bagi Daud, kehadiran Allah yang meliputi segalanya ini berakar pada satu hal, yaitu kuasa Allah sebagai Pencipta. Daud sadar bahwa dirinya bisa dikenal dan disertai begitu rupa karena Allah sendirilah yang membentuk dia sejak dalam kandungan. Itulah sebabnya Mazmur ini tadi kita baca di dalam ayat yang berikutnya. Kalau Bapak, Ibu, Saudara-saudara baca ayat 13 sampai 18, beralih kepada Allah sang Pencipta. Pencipta yang ajaib. Inilah poin kita yang ketiga. Jadi bukan cuman Allah yang Mahatahu, bukan cuma Allah yang Mahahadir, tetapi yang ketiga Allah yang membentuk kita dengan penuh kasih. Itu ada di dalam Mazmur 139:13-18. Kalau kita baca di sana ayat 13 sampai 18, setelah Daud merenungkan pengetahuan dan kehadiran Allah, Daud beralih kepada kuasa penciptaan Allah. Daud mulai melihat, di dalam ayat 13 sampai 18, segala sesuatu dengan perspektif yang lebih positif. Daud merenungkan bagaimana Allah terlibat di dalam pembentukannya, bahkan sejak dari dalam kandungan. Daud berkata di dalam ayat tersebut, “Aku terbuat dengan dahsyat dan ajaib.” Jadi ini adalah satu deklarasi Daud yang berkata bahwa Allah itu bukan hanya Pencipta yang non jauh di sana, tapi dia juga adalah Allah yang intim dan memiliki relasi yang personal dengan kita. Bahkan dia sudah melihat tubuh yang belum terbentuk dan menetapkan hari-hari hidupnya dan hidup kita yang akan datang.

Maka Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, ini juga menjadi sebuah penghiburan bagi kita ketika kita bergumul, ketika kita menderita, ketika kita kesulitan, kita ingat bahwa hidup kita itu bukan suatu hidup yang kebetulan. Bukan. Hidup kita itu bukan suatu yang kebetulan. Kita itu karya Allah yang unik, yang berharga, yang dikasihi. Inilah yang menjadi suatu kekuatan yang memberikan rasa aman bagi kita, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Tapi saya sering menemukan ketika orang bergumul, ketika orang mengalami kesulitan, ketika orang mengalami hidup yang tidak sesuai dengan ekspektasinya, seringkali dia cuma melihat dari perspektifnya sendiri. Dia tidak melihat dari perspektifnya Tuhan, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian.

Saya pribadi pernah menjadi ateis, Bapak, Ibu, Saudara-saudara, 7 tahun lamanya. Kenapa? Karena waktu itu ketika saya kelas 4 SD, abang saya yang paling saya kasihi meninggal dunia. Waktu itu saya yang saya tahu Tuhan itu Tuhan yang baik. Kau Tuhan yang baik memberikan atau mengizinkan abang saya yang paling saya kasih ini meninggal dunia. Akhirnya saya pakai perspektif saya sendiri. Saya nggak lihat dari perspektifnya Tuhan. Saya hidup berdasarkan apa yang saya mau. Eh, tetapi belakangan setelah saya bertobat, setelah saya percaya Yesus, kalau saya lihat benang merahnya, saya lihat garis utama yang menghubungkannya, oh, iya, bahkan abang saya yang dipanggil Tuhan tahun 2004, momen itu justru adalah momen yang dipakai Tuhan yang kemudian mendorong saya untuk menjadi hamba Tuhan. Saya nggak pernah mau jadi hamba Tuhan, Bapak, lbu, Saudara-saudara sekalian. Dari dulu saya mau sekolah hukum dan saya sudah mendapatkan beasiswa waktu itu ke salah satu universitas yang bagus juga di luar negeri. Nggak mau saya sekolah teologi. Tapi gara-gara abang saya meninggal dunia, saya menjadi ateis dan gara-gara momen pertobatan itu, saya menjadi hamba Tuhan. Inilah yang perlu kita tahu. Bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita ini kebetulan, nggak. Semuanya itu ada dalam rencana Tuhan. Bukan berarti saya menggampangkan penderitaan Bapak, Ibu, Saudara sekalian, nggak. Mungkin pergumulan kita itu susah, kehidupan kita itu susah, ada sesuatu yang mungkin membuat kita itu menjerit di hadapan Tuhan. Ya memang. Tapi inilah keindahan yang dikatakan oleh Alkitab. Jangan kita lihat dari perspektif kita. Mungkin sekarang kita nggak bisa mengerti, tapi saya percaya, kalau kita mau fight, kalau kita mau terus kembali kepada Tuhan, kalau kita mau terus mengandalkan Tuhan, kita akan mengerti. Mungkin nggak sekarang, mungkin nanti satu tahun lagi, mungkin nanti dua tahun lagi.

Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, di sini kita bisa melihat, bahwa Allah yang membentuk kita ini adalah Allah yang kemudian akan menjaga hidup kita, dan inilah yang kemudian akan memberikan kita rasa aman. Tetapi Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, Daud bukan hanya bicara tentang Allah yang mengenal dia di dalam Mazmur ini, Daud bukan hanya bicara tentang Allah yang Mahahadir, Daud bukan hanya bicara tentang Allah yang membentuk dia dengan penuh kasih. Setelah Daud merenungkan pengetahuan akan Allah, kehadiran Allah, kuasa Allah, Daud di dalam ayat 19 sampai 24, dia tidak berhenti sama kekaguman itu, tetapi dia berdoa, “selidikilah aku ya Allah, kenallah hatiku.” Jadi Daud juga memberikan ruang, bukan cuma kagum sama Tuhan, tapi Daud juga memberikan ruang bagi Allah untuk menyelidiki hatinya.

Coba ya kita mikir sejenak, kalau kita baca Mazmur 19 – 24, ada yang beda nggak? Beda ya. Lucu ya. Kok kontras ya? Kok ayat 1-18 indah sekali gitu ya, “Engkau mengetahui kalau aku duduk, kalau aku berbaring”, indah sekali, “Engkau membentuk Aku dalam kandungan.” Indah sekali ya. Tapi ayat 19-32, isinya doa kutukan terhadap musuh lho. Kontras ya. Ini dilema. Saya waktu mempersiapkan khotbah ini, ini kenapa seperti ini? Tetapi, ini adalah ekspresi atau emosi yang wajar. Karena kembali tadi sudah saya ceritakan, konteks Daud ke dalam Mazmur 139, yaitu karena dia lagi dikepung, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita gini ya, jangan kita kalau baca Alkitab terus kita nggak ngerti ya konteksnya, kita pikir-pikir sendiri “oh konteksnya kayak gini,” ya kita yang salah gitu kan ya. Karena semua yang ditulis di dalam Alkitab itu penting lho. Coba ya saya tanya, waktu Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, dicatat nggak tinggi badan Adam berapa? Maka Tuhan menciptakan Adam tingginya 150 cm. Nggak ada lho kalimat itu. Maka Tuhan menciptakan Hawa, warna rambutnya hijau toska misalnya. Nggak ada kan. Maka Tuhan menciptakan Adam, hidungnya mancung, matanya sipit, pipinya tirus. Nggak ada lho. Nggak ada lho. Kenapa nggak ditulis? Ya karena nggak penting. Karena nggak penting itu. Maka semua yang ditulis di dalam Alkitab ini itu penting, itu penuh dengan intensi. Termasuk ini. Dan kalau mau mengerti konteks ini ya harus mengerti konteks historisnya. Waktu itu Daud lagi dikepung dan sebagainya. Makanya setelah dia menyatakan kekagumannya kepada Tuhan, dia nggak lupa bahwa dia pun bisa memiliki bias terhadap musuh-musuhnya. Itu sebabnya, ketika Daud mengekspresikan musuh-musuhnya, walaupun bagi saya, di dalam tafsiran saya, ini adalah ekspresi emosi yang wajar, karena Daud sedang marah kepada apa, kepada musuh-musuh Allah. Daud sedang marah kepada orang-orang yang melawan jalan-jalan Tuhan. Dan dia nggak ambil jalannya sendiri, dia pakai jalannya Tuhan. Ini yang dinamakan dengan katarsis kalau dalam istilah psikologi. Pelepasan emosi supaya hatinya terasa lega. Normal Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Tetapi jangan lupa, ketika Daud mengekspresikan emosinya itu, Daud memberikan ruang bahwa dia bisa saja salah. Bahwa dia bisa saja bias terhadap musuhnya. Makanya kata Daud, “selidikilah aku ya Allah, kenallah hatiku.” Tetapi banyak orang kutip ayat ini di luar konteks betul ya.

Saya pernah ngobrol beberapa orang apa artinya ayat ini, dikutip di luar konteksnya. Bahwa konteksnya itu, Daud emosi sama orang-orang pada yang melawan Tuhan pada jalan Tuhan. Dan dia berdoa, “Tuhan, nyatakan keadilanmu kepada mereka”. Tetapi ketika dia berdoa seperti itu, Daud memberikan ruang, “selidikilah aku ya Allah, kenallah hatiku, mungkin saja ini salah, mungkin saja aku bisa bias.” Dan inilah yang sering kali orang Kristen banyak lupakan. Kenapa? Karena mungkin banyak orang Kristen menggunakan topeng spiritual untuk membenarkan dendam pribadi. Saya ulang ya. Mungkin seringkali banyak orang Kristen, atau kita bisa saja terjebak menggunakan topeng spiritual kita untuk membenarkan dendam pribadi, dengan mengklaim musuhku adalah musuh Allah. Padahal sebenarnya kita dendam kok sama dia. Makanya doanya kayak gimana? “Tuhan dia adalah musuh-Mu Tuhan, maka aku mau dia matinya dengan cara yang kayak ini, harinya kayak gini.” Loh itu bukan minta keadilan itu. Maksudnya bagaimana? Maksudnya kita nggak boleh kalau misalnya ada orang yang melawan jalan Tuhan, ada orang yang mungkin memang benar-benar nggak sesuai sama jalan Tuhan, salah nggak kita berdoa, “Tuhan nyatakanlah keadilan-Mu” seperti Daud tadi? Ya nggak salah. Tapi yang salah adalah kalau kita bias dan memakai topeng spiritual ini, padahal sebenarnya kita itu lagi dendam kita sama orang ini. Makanya saya pernah mendengarkan orang berdoa. Saya juga pernah dalam keadaan seperti ini sih bukan hanya saya mendengar. “Tuhan, dia, “bertindak sesuka hati” di hadapan-Mu, bengis dia Tuhan, maka nyatakanlah keadilan-Mu, hukum dia, buat dia kakinya pincang”, waduh, “kalau nggak tahun ini, tahun depan. Kalau nggak tahun depan, dua tahun lagi.” Itu yang salah.

Kalau memang hati kita murni minta keadilan Tuhan, kita nggak minta dengan cara kita dan dengan waktu kita. Itu salah satu koreksinya. Kalau kita memang benar-benar mau doa minta keadilan Tuhan, kita nggak minta dengan cara kita dan bukan dengan waktu kita. Mungkin belakangan sering kita dengarkan, ada orang-orang yang kemudian berdoa mengutuki pemerintah dan sebagainya dan seterusnya, tapi nggak jarang juga akhirnya orang bisa jatuh dalam ekstrem yang berikutnya. “Ya itu, anggota itu korupsi itu, anggota DPR, maka saya doakan biar aja rumahnya dibakar saja nggap apa-apa. Itu keadilan Tuhan.” Waduh. Hati-hati lho. Jangan-jangan kita lagi pakai topeng spiritual untuk membenarkan dendam-dendam kita. Kalau memang kita murni di hadapan Tuhan, kita minta keadilan, kita nggak minta dengan cara kita cara Tuhan menyatakan keadilan-Nya, dan kita nggak minta dengan waktunya kita. Nggak! Kita cukup berdoa, “Tuhan nyatakan keadilan-Mu. Sesuai dengan apa yang Engkau mau, dan sesuai dengan waktu-Mu.” Itu yang benar.

Tapi sering kali kan doa dipakai untuk? Ya untuk membenarkan dendam pribadinya. Itu sebabnya Saudara, Daud menyadari bahaya itu, makanya waktu Daud sudah mengekspresikan emosinya, di dalam Mazmur tadi, kemarahannya, dia menutup dengan introspeksi. “Selidiki aku ya Allah. Dan kenallah hatiku. Ujilah aku dan kenallah pikiranku.” Dia memberikan ruang kalau memang doa ini salah. Berikan aku pertobatan. Ya saya nggak tahu, mungkin kita juga pernah ya kesel sama orang. Saya sih pernah, kesel sama orang sampai-sampai kita bawa ke dalam doa, dan kita pakai nama Tuhan untuk membereskan dendam pribadi kita itu. Itu Daud ini luar biasa, dia menunjukkan kerendahan hatinya dan self awareness nya. Dan inilah Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian yang penting, Daud itu sadar, bahwa bahaya terbesar bukan hanya datang dari musuhnya yang di luar itu, yang tadi saya kasih tahu itu. Entah Absalom kah, entah Saul kah, entah orang Filistin. Daud sadar bahwa bukan mereka yang bahaya. Tapi juga hatinya sendiri.

Ketika kita ada di dalam kesulitan, kita ada di dalam pergumulan, yang bahaya itu bukan cuma pergumulannya, tetapi hati kita juga bisa sangat bahaya itu. Meresponi pergumulannya kayak gimana. Mungkin kita bisa kelaparan dan sebagainya. By the way ini ada satu pandangan yang menarik ya, walaupun bisa kita kritik ya, tapi di dalam konsep orang stoic, penderitaan itu lebih berat, bukan karena penderitaan itu saja, tetapi karena bagaimana cara orang merespons penderitaan. Jadi bagi orang stoic, penderitaan itu bisa jadi lebih berat kalau dia meresponnya dengan salah. Contoh, saya ceritakan saja ya. Saya umur 18 tahun pernah menyukai seorang wanita, dan apa yang terjadi Bapak, Ibu, Saudara sekalian? Saya ditolak. Wah waktu itu belum percaya Tuhan kan. Itu kan menderita. Apa aku kurang ganteng, apa aku kurang baik? Tetapi yang bikin saya tambah menderita, bukan cuma karena penolakannya, tapi karena cara saya berespons terhadap penolakan itu. Akhirnya saya pakai cara saya, akhirnya saya overthinking, “aduh jangan-jangan saya kurang ganteng”. Ok, kalau begitu aku harus lebih ini. Oh, jangan-jangan aku kurang baik, aku lebih ini. Cara saya meresponnya itulah yang membikin saya tambah menderita. Saya overthinking, jangan-jangan saya itu. Jadi, ngerti ya? Tapi ketika saya sudah di dalam Yesus ya waktu itu umur 23 tahun pernah juga saya patah hati tapi ada bedanya nggak? Ada. Ketika saya umur 18 saya mengalami patah hati ditolak oleh wanita, respons saya tuh kacau. Itulah yang membuat saya tambah menderita. Umur 23 ketika saya sudah kenal Tuhan saya ditolak oleh wanita juga. Bukan ditolak lah, “diselingkuhin”. Beda responnya, ya sudah, memang ini kehendak Tuhan. Ya sudah, memang bukan dia perempuan yang terbaik buat saya, gitu loh, Bapak, Ibu, Saudara sekalian.

Jadi, penderitaan itu sering kesulitan hidup, pergumulan itu sering kali lebih berat bukan karena penderitaannya. Contoh ya, kalau kita nggak punya uang, ini contoh aja. Saya pernah mahasiswa ya. Nggak tahu nih Bapak, Ibu, Saudara sekalian pernah jadi mahasiswa nggak? Pasti pernah lah ya. Ya, mungkin ada yang nggak kuliah juga. Saya itu mahasiswa kan pernah saya kehabisan uang. Yang buat saya menderita itu bukan kehabisan uangnya. Ya, itu benar. Tapi yang memperparah penderitaan itu cara saya berespons terhadap uang yang habis ini. Khawatir saya kan ke mana-mana. Aduh, nggak ada uang nih, jangan-jangan nggak bisa makan, jangan-jangan itu itu loh. Ini kata orang stoic to some extent ini benar loh, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Tapi ya kita bisa kritik ya, orang stoic pada akhirnya menyelesaikan itu dengan kekuatannya sendiri. Kalau kata Alkitab nggak. Kalau kata Alkitab cuma Tuhan yang bisa menyelesaikan musuh di dalam diri kita.

Maka jangan lupa Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, kalau kita bergumul, kalau kita punya satu penderitaan kesulitan hidup atau mungkin ada sesuatu yang tidak realita yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita, ingatlah musuhnya yang paling berat bukan cuman itu, itu cuma faktor-faktor eksternalnya saja. Kata Alkitab ada yang lebih bahaya. Ini loh faktor internal hati kita ini loh. Hati kita ini. Makanya banyak orang yang kemudian apa? Melakukan dosa, mengambil jalan pintas ketika dia menderita. Betul nggak? Kalau saya belajar kriminologi ya, kalau nggak tahu Bapak, Ibu sekalian. Kalau kita belajar kriminologi ya orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan kriminal itu kenapa sih? Ya, banyak faktornya lah. Tapi salah satu faktornya karena cara mereka merespons kesulitan hidup itu salah. Misalnya ada orang kelilit utang pusing kan? Kelilit utang itu ya pergumulan tentu pergumulan, penderitaan nggak itu? Iya. Nggak tahu entah karena kesalahan dia atau bagaimana atau mungkin dia nggak bisa mengatur uang. Tapi cara dia merespons itu, kalau kita belajar kriminologi ya, akhirnya merampok toko untuk bayar utang. Ngerti nggak? Hatinya loh. Hatinya yang meresponi ini loh. Banyak juga kasus-kasus yang saya baca gara-gara kelilit utang bunuh pacarnya sendiri. Ada, ada loh. Jadi dari sini kita melihat Alkitab menegaskannya kembali Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Yang paling bahaya itu bukan faktor-faktor eksternalnya, tapi juga internalnya. Makanya kita harus terus meminta Tuhan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Tuhan periksa hatiku, apakah jalanku serong? Apakah kita punya motif yang salah? Apakah kita punya kebencian dan sebagainya. Kita harus terus belajar rendah hati dan menyerahkan penilaian akhir kepada Allah. Kita harus terus mengoreksi hati kita yang jahat dan licik kata Yeremia. Karena itu bahaya sekali, kalau kita salah meresponi. Bahaya sekali, Bapak, lbu, Saudara-saudara sekalian.

Dan sebagai penutup, pertanyaannya, bagaimana kita dapat melihat Kristus dari kitab Mazmur ini? Bisa Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian. Kalau kita lihat di dalam Mazmur 139, benang merah dari Mazmur ini adalah ketegangan antara perasaan “dikepung oleh Allah” dan rasa dikasihi. Di satu sisi pengetahuan Tuhan itu bisa menakutkan karena tidak ada lagi tempat tersembunyi. Tapi di sisi lain, pengetahuan akan dan kehadiran Tuhan bisa menjadi penghiburan. Lalu bagaimana itu bisa diatasi ketegangan itu? Bagaimana kita bisa tahu bahwa Allah yang Mahatahu, Mahahadir, dan Mahakuasa itu bukanlah musuh yang mengincar kejatuhan kita? Bagaimana Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian? Jawabannya bukan di dalam diri kita sendiri. Jawabannya ada di kayu salib. Kita melihat bahwa segala kerinduan terdalam Daud untuk dikenal, untuk disertai, dan untuk dijaga oleh Allah, hanya bisa mendapatkan kepenuhannya di dalam Kristus. Dari kayu salib kita melihat wujud nyata Allah yang Mahatahu, Allah yang Mahahadir, Allah yang Mahakuasa yang bukan hanya mengenal kita, tapi juga mengasihi kita sampai mati di kayu salib. Sama seperti Daud yang menemukan perlindungan di dalam Allah yang Mahatahu, Mahahadir, dan Mahakuasa. Di dalam kitab Roma kita membaca kalimat tadi, Paulus menegaskan bahwa jika Allah di pihak kita, siapakah lawan kita? Sama-sama menderita, jemaat Roma pun menderita.

Salah satu catatan sejarah ketika Paulus menuliskan surat Roma, keluarga mereka yang orang percaya dikasih makan singa hidup-hidup. Coba kalau kita jadi orang Kristen pada zaman itu, anak kita, suami kita, kerabat kita, kita lihat dengan mata kepala kita dimakan singa hidup-hidup. Masih mau percaya Tuhan nggak? Itu keadaan orang Roma. Jadi mirip sama Daud, sama-sama menderita, sama-sama bergumul dan Paulus menegaskan, jika Allah di pihak kita, siapa lawan kita? Allah yang mengenal, Allah yang hadir, dan Allah yang membentuk kita telah memberikan bukti kasih-Nya yang tertinggi melalui Yesus Kristus.

Saudara, seperti kata Calvin, Calvin menyebut Mazmur itu sebagai cermin jiwa karena dia memperlihatkan semua gejolak batin, ketakutan, kegembiraan, kemarahan, dan kerinduan. Mazmur 139 pun memperlihatkan cermin yang paling jujur. Cermin yang menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Allah. Kita mungkin bisa menipu orang lain, bahkan menipu diri kita sendiri. Kita bisa memakai topeng spiritual berpura berbaik-baik, berpura baik-baik saja di depan teman atau menyembunyikan dosa-dosa kita di hadapan orang. Tapi di hadapan cermin Mazmur 139, semua topeng itu runtuh. Di hadapan Tuhan, kita sepenuhnya telanjang dan terbuka. Namun di manakah kabar baiknya? Kabar baiknya adalah cermin yang menunjukkan betapa rapuhnya dan betapa telanjangnya kita di hadapan Tuhan dan betapa berdosanya kita di hadapan Tuhan, pada saat yang sama di dalam bagian lain kita menemukan Roma 8, cermin itu menunjukkan kasih Allah. Alih-alih Allah membuang kita, melainkan Bapa itu mengirimkan Putra-Nya Yesus yang tidak hanya melihat kotoran kita. Bukan cuma lihat tapi membersihkannya. Yesus yang tidak hanya melihat dosa-dosa kita, tapi juga mengambilnya. Karena Kristus kita sekarang dipulihkan. Oleh sebab itu kita bisa berkata ketika kita melihat diri kita di hadapan Tuhan, kita tidak lagi melihat wajah kita yang penuh aib di hadapan Allah, tetapi wajah yang ditebus dan dikasihi. Kita tidak lagi melihat diri yang terancam, tetapi diri yang aman di dalam Kristus. Jadi, mari kita katakan, selidiki aku ya Allah karena aku percaya di dalam Kristus. Aku sudah aman dan dikasihi sepenuhnya karena tidak ada yang dapat memisahkan aku daripada kasih Kristus. Mari kita berdoa.

Bapa di surga, kami bersyukur kepada-Mu. Ada firman Tuhan yang mengoreksi hati kami yang paling dalam, tetapi juga yang menghibur kami, tetapi juga yang memimpin kami di dalam kebenaran. Biarlah kiranya Tuhan berbelas kasihan senantiasa kepada kami supaya kami terus bertumbuh di dalam Engkau. Supaya kami semakin hari semakin kagum akan Allah yang mengenal kami sepenuhnya. Semakin kagum akan Allah yang hadir bagi hidup kami. Semakin kagum akan Allah yang membentuk kami dengan kasih dan semakin kagum akan Allah yang terus mengoreksi hati kami. Dan semakin kagum kepada salib Kristus yang menjadi framework-nya, yang menjadi pengharapannya, yang menjadi pengharapan yang membuat kami bisa dengan tenang dan aman berkata, “Aku milik Kristus. Kristus sudah mati bagiku. Tolong kami ya Bapa di dalam pergejolakan iman kami yang naik turun. Karena Alkitab berkata, “Engkau adalah Allah yang setia.” Alkitab berkata, “Engkau adalah Allah yang peduli. Yang berkata, “Satu rambut kami jatuh Engkau tahu.” Yang berkata, “Burung-burung di udara engkau pelihara, apalagi hidup kami. Yang mengetahui berapa kali kami duduk, berapa kali kami berbaring, bahkan mengetahui setiap perkataan yang akan kami keluarkan. Ajar kami hari lepas hari untuk semakin bergantung kepada Tuhan yang besar itu. Untuk semakin bergantung kepada kuasa Allah yang besar itu. Untuk semakin bergantung kepada Allah yang sumber pertolongan itu. Kalau kalau ada di antara kami yang saat ini mungkin merasa ingin meninggalkan Tuhan, mungkin merasa jauh, tarik kami kembali dan biarlah Tuhan sendiri yang beranugerah kepada kami masing-masing di tempat ini. Inilah doa kami ya Bapa. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.


57:38-57:39 kata tidak jelas