Buah Roh (Kemurahan), 5 Oktober 2025

Buah Roh (Kemurahan)

Gal. 5:22-23

Pdt. Dawis Waiman, M. Div

Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, pada waktu kita bicara mengenai buah Roh, maka ada beberapa aspek penting yang kita perlu perhatikan berkaitan dengan buah Roh ini. Pertama adalah buah Roh merupakan satu bukti kalau seseorang itu didiami oleh Roh Kudus dan berdiam di dalam Kristus atau istilah lainnya adalah dia adalah seorang yang betul-betul merupakan orang Kristen yang sejati di dalam hidup dia. Jadi pada waktu kita berbicara mengenai apa yang menjadi ciri seseorang itu disebut sebagai orang Kristen, orang yang sudah dilahirbarukan, orang yang sudah diselamatkan di dalam Kristus, orang yang kewarganegaraan adalah kewarganegaraan surga seperti itu, maka hal pertama yang kita perlu lihat adalah dia memiliki buah Roh atau tidak. Kalau dia memiliki buah Roh, maka itu tanda bahwa dia adalah milik Kristus. Nah, ini adalah sesuatu yang dicatat di dalam Yohanes pasal 15. Kalau Bapak, Ibu buka dalam Yohanes 15 ini berbicara mengenai pokok anggur yang benar. Di dalam pokok anggur yang benar, Yesus berkata, “Akulah pokok anggur itu dan gereja adalah carang-carang atau cabang yang dicangkokkan pada pokok anggur itu.” Maksudnya adalah Yesus berkata, setiap cabang yang melekat pada pokok anggur, batang utamanya, dia pasti berbuah. Kalau dia tidak melekat pada batang utamanya, maka dia tidak mungkin berbuah. Dia adalah cabang yang mati dan cabang yang harus dibuang seperti itu. Tetapi kelihatannya melekat pada pokok anggur itu. Jadi di sini Yesus mau berkata, apa yang menjadi ciri seseorang itu adalah orang yang sudah diselamatkan? Lihat buahnya. Buahnya seperti apa? Kalau dia memiliki buah Roh dalam hidup dia, berarti dia adalah orang yang tercangkok pada Yesus atau berada di dalam Yesus Kristus. Kalau dia tidak memiliki buah itu berarti dia bukan milik Yesus walaupun dia kelihatan seperti orang Kristen yang baik, orang Kristen yang rajin, orang Kristen yang melayani Tuhan, dan orang Kristen yang sepertinya sudah dilahirbarukan.

Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, ini adalah hal yang penting ya. Tetapi pada waktu kita berbicara mengenai buah Roh menjadi tanda bahwa kita adalah milik Kristus, hati-hati satu hal, satu sisi ini adalah sesuatu yang merupakan ciri atau tanda orang itu adalah lahir baru atau tidak. Tetapi kita juga harus hati-hati, maksudnya adalah kita tidak bisa menjadi orang yang menghakimi orang lain dengan begitu gampang berdasarkan buah Roh yang ada atau tidak ada pada diri orang tersebut. Maksud saya adalah memang Alkitab mengajarkan bahwa buah Roh menjadi ciri, tidak memiliki buah Roh itu juga sebagai satu tanda bahwa dia bukan milik Kristus. Tetapi Bapak Ibu harus mengingat satu hal, setiap orang dengan latar belakang yang berbeda, pendidikan yang berbeda, keluarga yang berbeda, karakter yang berbeda dalam hidup dia dan panggilan Tuhan di dalam kehidupannya yang satu dengan yang lain mungkin ada perbedaan. Nggak semuanya sama begitu. Dan ini membuat ketika kita berada di dalam hidup kita, maka kita harus menggumulkan apa yang menjadi panggilan Tuhan dalam kehidupan kita sebagai yang utama untuk kita jalankan. Lalu ketika kita melihat panggilan Tuhan dalam hidup kita dalam semua bidang yang ada, maka mulai kita melihat hal apa yang Tuhan akan bentuk dalam diri kita untuk menggenapi panggilan Tuhan itu dalam kehidupan kita. Hal apa yang kurang dalam hidup kita yang masih perlu dipoles lebih lanjut supaya kita makin menjadi serupa dengan Kristus.

Nah ini mungkin kita tidak lihat yang satu dengan yang lain dan ini adalah hal yang pasti Yesus ketahui dan pasti Yesus lihat dalam kehidupan dari setiap kita. Dan itu sebabnya pada waktu kita berjalan memenuhi panggilan Tuhan dalam hidup ini, jalan orang yang satu dengan jalan orang Kristen yang lain, dengan jalan orang Kristen yang lain mungkin bisa sangat berbeda sekali. Walaupun ada mungkin kesamaan-kesamaan di dalamnya, tetapi yang utama adalah pada waktu kita melihat perbedaan itu, kita nggak bisa mematok, “Oh  jalan saya karena saya mengalami hal ini, maka itu berarti saya yang dipimpin Tuhan, saya milik Kristus, saya sudah diselamatkan. Tetapi orang itu yang tidak menempuh jalan saya itu belum diselamatkan.” Atau saya memiliki kesabaran, saya memiliki kasih menurut versi yang saya rasa itu adalah satu kebenaran. Tetapi orang itu kelihatannya nggak memiliki itu. Tidak memiliki penguasaan diri misalnya, tidak memiliki sukacita atau damai sejahtera atau kesabaran yang menurut siapa? Menurut apa yang kita lihat dengan mata kita sendiri. Maka kita langsung mengecap orang itu pasti bukan orang Kristen karena dia tidak memiliki Roh Kudus atau buah Roh dalam kehidupan dia.

Nah Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, hati-hati, kita nggak pernah bisa tahu orang itu sepenuhnya. Kecuali Bapak, Ibu mungkin hidup 24 jam setiap hari bersama dengan orang itu, Bapak, Ibu tahu latar belakang keluarganya seperti apa, Bapak, Ibu tahu pergumulan yang dia lalui dalam kehidupannya seperti apa, kesulitan yang dia hadapi, karakter dia seperti apa dan apa yang menjadi panggilan Tuhan dalam hidup dia dan apa yang ada di dalam isi hatinya. Hal itu membuat kita harus hati-hati karena kita nggak bisa baca hati orang, hanya Tuhan yang bisa membaca hati seseorang. Dan kita nggak tahu berapa besar perjuangan dia untuk bisa belajar mengikut Tuhan dan menyangkal diri dia kecuali Tuhan dan diri dia yang tahu akan hal itu. Jadi pada waktu kita berbicara mengenai buah Roh, saya lihat hal yang terutama adalah uji diri sendiri. Apakah kita memiliki buah Roh atau tidak dalam kehidupan kita? Apakah buah itu sesuatu yang merupakan estetika yang kita tampilkan di luar yang nggak ada hubungannya sama sekali dengan Kristus? Atau sebenarnya buah itu adalah sesuatu yang kita buahkan karena kita adalah orang-orang yang ada di dalam Kristus, kita adalah orang yang berdiam di dalam Kristus ketika kita menghasilkan buah Roh itu. Jadi hal pertama adalah buah Roh menjadi satu bukti kalau seseorang itu berdiam di dalam Kristus dan itu dicatat di dalam Yohanes pasal 15.

Yang kedua adalah buah Roh merupakan satu produk dari pelayanan Roh Kudus di dalam kehidupan orang yang percaya. Maksudnya apa? Ketika kita bicara buah Roh adalah produk dari pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan kita, itu berarti buah Roh adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dihasilkan dari usaha kita sendiri. Buah Roh itu adalah sesuatu yang dimunculkan oleh satu kelahiran baru yang Roh Kudus kerjakan dalam diri kita dan satu pertumbuhan yang Roh Kudus buat dalam kehidupan kita. Atau istilahnya adalah satu kehidupan rohani yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam kehidupan kita, itu yang membuat kita akan menghasilkan buah Roh. Jadi, tanpa itu kita hanya menampilkan buah yang semu. Tanpa itu kita hanya mengerjakan sesuatu yang kelihatannya pekerjaan Roh Kudus tetapi tidak mungkin bisa bertahan dan setia dan bertekun sampai kepada akhirnya.

Dan bahkan ada ciri-ciri yang sebenarnya menandakan ini kerjaan Roh Kudus dan bukan manusia yang kita tidak bisa bedakan dan kita tidak bisa tampilkan. Dan bagian ini nanti kita jabarkan lebih lanjut ya. Tetapi Bapak, Ibu boleh terima terlebih dahulu, kalau Roh Kudus yang bekerja, buah Roh dalam diri Bapak, Ibu makin lama makin akan diteguhkan, makin lama akan makin dinyatakan dan itu akan terus ada di dalam proses hidup kita sampai kepada akhirnya. Tetapi kalau bukan Roh Kudus yang bekerja, suatu hari pasti Bapak, Ibu akan menyerah karena berusaha untuk mempertahankan dan memiliki atau menyatakan buah itu dari usaha dan kekuatan diri sendiri. Jadi itu aspek kedua, buah Roh merupakan sesuatu yang merupakan pekerjaan dari Roh Kudus dan bukan hasil usaha dari diri kita sendiri.

Lalu aspek ketiga adalah pada waktu kita bicara mengenai buah Roh, buah Roh ini jangan dilihat sebagai suatu yang memiliki sembilan buah. Artinya adalah sembilan hal di sini, kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Ini bukan merupakan sembilan buah, tetapi merupakan satu buah yang memiliki sembilan rasa. Bayangannya kayak gini, kalau Bapak, Ibu beli misalnya jeruk di supermarket kayak gitu, kita kan belinya berdasarkan kiloan. Tapi bayangkan ini Bapak, Ibu bisa beli berdasarkan butiran kayak gitu. Bapak, Ibu ambil jeruk yang pertama lalu ngomong kasih. Lalu ambil jeruk yang kedua lalu ngomong apa? Sukacita. Ambil jeruk yang ketiga, damai sejahtera. Ambil jeruk yang keempat, bicara mengenai penguasaan diri dan seterusnya seperti itu. Sampai jeruk yang kesembilan. Apakah ini yang dimaksud buah Roh? Jawabnya bukan. Kalau Bapak, Ibu bicara jeruk pertama kasih, jeruk kedua sukacita, jeruk ketiga damai sejahtera misalnya, jeruk keempat kesabaran dan seterusnya, Bapak, lbu akan punya pemikiran kayak gini, “Oh, saya adalah orang yang memiliki jeruk kasih, tapi saya nggak punya jeruk damai sejahtera. Karena itu, jeruk damai sejahtera itu ada pada siapa? Mungkin pada orang lain. Dia punya damai sejahtera, tapi dia mungkin tidak punya jeruk yang namanya kesabaran. Kesabaran itu milik siapa? Orang lain lagi” seperti itu. Buah Roh nggak seperti itu. Buah Roh adalah sesuatu yang merupakan satu jeruk yang kita beli. Lalu ketika kita beli satu jeruk itu kita bagi sembilan dan itulah yang namanya satu buah Roh yang memiliki sembilan rasa, ya. Jadi yang pertama itu bersumber dari jeruk yang sama, yang kedua bersumber dari jeruk yang sama, ketiga bersumber dari jeruk yang sama sampai yang kesembilan itu.

Nah maksudnya apa ketika kita berbicara seperti ini? Maksudnya adalah pada waktu kita berbicara mengenai buah Roh, buah Roh itu adalah sesuatu yang kita nggak bisa pilih-pilih mana yang kita miliki, mana yang kita perlu pertumbuhkan, mana yang kita boleh lewatkan. Semua aspek dari buah Roh itu harus ada pada satu pribadi orang bukan pada sembilan pribadi orang. Ini berbeda sekali dengan kalau kita baca mengenai perbuatan daging. Kalau Bapak, Ibu baca perbuatan daging misalnya penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percederaan, roh pemecah, kedengkian, dan yang lainnya. Mungkin Bapak, Ibu bisa ngomong kayak gini, “Oh, amarah dan kepentingan diri sendiri mungkin semua lain miliki kayak gitu. Tapi bagaimana dengan roh pemecah? Bagaimana dengan perzinahan? Bagaimana dengan percederaan? Kayaknya aku –misalnya– punya kepentingan diri. Aku egois.” Seperti itu. “Apa-apa aku ukur daripada diriku sendiri. Tapi kayaknya aku bukan orang yang suka memecah orang. Kayaknya aku bukan orang yang berzinah. Aku setia dengan pasangan hidupku, kok.” Berarti pada waktu kita bicara mengenai perbuatan daging, kita bisa berpikir bahwa, “Oh, perbuatan daging itu sesuatu yang ada pada seseorang. Yang satu ada pada orang A, yang satu lagi ada pada orang B. Tetapi apa yang ada pada B belum tentu ada pada A. Yang ada pada A belum tentu ada pada B.” Lalu kita punya pikiran, “Oh, buah Roh juga seperti itu.” Jawabannya berbeda sekali!

Bicara mengenai buah kedagingan, mungkin yang satu dengan yang lain bisa ada perbedaan. Tapi bicara mengenai buah Roh, semua anak Tuhan harus memiliki sembilan rasa ini! Karena apa? Karena Kristus memiliki sembilan-sembilannya. Dan semua orang yang menjadi orang Kristen, kita adalah orang yang Alkitab katakan akan dipimpin untuk makin menjadi serupa dengan Kristus. Kalau Kristus memiliki sembilan rasa buah ini atau sembilan aspek buah ini, itu berarti kita juga pasti memiliki sembilan rasa ini dalam hidup kita. Kalau kita nggak mau, roh pasti akan membuat kita memiliki sembilan aspek ini karena kita adalah orang yang sudah dilahirbarukan dan memiliki Roh Kudus di dalam hidup kita.

Nah, hari ini kita akan lebih spesifik berbicara mengenai kemurahan. Tetapi pada waktu kita berbicara mengenai kemurahan, sekali lagi mungkin Bapak, Ibu, Saudara akan bertanya, “Kayaknya ini bukan sesuatu yang hanya dimiliki oleh orang Kristen, deh.” Apa yang tadi saya katakan di awal sepertinya bukan sesuatu yang berlaku pada aspek kemurahan ini. Kalau aspek kasih, mungkin kita akan ngomong, “Oh, kasih itu adalah sesuatu yang berbeda antara Kristen dengan bukan Kristen.” Kalau bukan Kristen, mereka mengasihi orang yang mengasihi diri mereka. Mereka mengasihi orang yang memiliki keuntungan bagi diri mereka. Tapi, orang Kristen adalah orang yang selain mengasihi orang yang baik sama mereka, seorang yang mengasihi orang yang mungkin memperlakukan mereka dengan satu keuntungan, seperti itu, tetapi juga ada aspek kasih yang lain. Kasihnya adalah saya mengasihi orang yang tidak baik sama saya, bahkan orang yang membenci diri saya.

Tapi kalau kemurahan bagaimana? Kemurahan itu –kita bisa lihat– bukan hanya dimiliki oleh orang Kristen saja, tapi orang-orang bukan Kristen sangat-sangat memiliki kemurahan juga. Ambil contoh misalnya. Saya kadang dikirim oleh salah satu dari anggota — bukan anggota tetap, ya — tapi salah satu dari jemaat kita. Ketika dia ada di Magelang, dia suka kirim, “Pak Dawis, coba lihat, Ini adalah satu aksi kemurahan yang kita lakukan untuk orang-orang yang sudah tua atau orang-orang yang mungkin miskin.” Seperti itu. Mereka buat makanan lalu kemudian dibagikan ke semua orang. Dan banyak sekali yang terlibat di dalam hal itu. Dan, mereka bahkan mengumpulkan dana, rela mengeluarkan uang untuk secara rutin menolong orang lain yang dalam kesulitan. Dan mereka nggak harus Kristen. Kalau Saudara juga lihat pada Buddha Tzu Chi, ya? Gimana ngomongnya? Ya, itulah, ya, cari sendiri, ya. Mereka adalah orang-orang yang betul-betul sangat-sangat sosial sekali: membantu orang dan menyiapkan dana yang begitu besar untuk menolong orang-orang yang ada di dalam sakit atau kesulitan, seperti itu.

Nah, kalau berbicara mengenai hal ini, apakah itu berarti Kristen hanya mengklaim seolah-olah ini adalah eksklusif milik dari orang Kristen yang tidak dimiliki oleh orang lain, tapi ternyata orang lain juga memiliki hal itu dan seolah-olah Kristen itu sedang menipu diri? Sepertinya orang dunia bisa mengusahakan. Tapi orang Kristen dengan egoisnya dan dengan sombongnya mengatakan, “Nggak! Ini hanya buah milik orang Kristen saja dan orang dunia nggak mungkin bisa lakukan!” Padahal kita sudah lihat orang dunia pun bisa lakukan hal itu.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, yang saya mau katakan adalah berbeda dengan itu, ya. Bukan apa yang menjadi kemurahan yang bisa dilakukan oleh orang dunia. Tadi ingat di awal, ya: orang dunia bisa mengusahakan, sepertinya bisa memperjuangkan hal itu. Tapi tetap ini adalah eksklusif menjadi milik orang Kristen. “Loh, kok bisa begitu?” Ambil contoh kayak gini: Bapak, Ibu, memberi kemurahan kepada orang yang engkau cintai mudah nggak? Kalau tanya, ya, kemurahan apa? Dari tadi saya ngomong kemurahan-kemurahan tapi definisinya itu apa? Saya kasih tahu: kemurahan itu adalah kasih dalam perbuatan. Itu definisi kemurahan, ya. Nanti kita jabarin lebih lanjut. Tapi, mohon tanya, kalau kita lakukan itu kepada orang yang kita kasihi, gampang nggak? Gampang. Saya kok rasa nggak terlalu gampang, ya. Apalagi makin dekat relasinya, makin ada hal-hal yang mungkin berupa gesekan yang terjadi di dalam kehidupan dua orang yang saling berelasi. Dan di dalam kondisi kayak gitu, mau memberikan kemurahan kepada orang itu mungkin adalah hal yang ndak terlalu gampang. Walaupun mungkin kita akan berusaha memperjuangkan itu karena ada kasih di dalamnya.

Setuju nggak? Kalau nggak setuju, tolong yang sudah nikah sama yang belum nikah. Yang sudah nikah lihat cerminan pasangan sendiri, yang belum nikah lihat orang tuanya, ya. Kalau lagi ribut, yang terjadi adalah diam-diaman, suruh kerjain sendiri, atau tetap belajar sangkal diri untuk melayani satu dengan yang lain? Mungkin satu waktu dieman dulu, tapi akhirnya mikir, “Daripada saya dieman terus kayak gini nggak baik,” akhirnya mulai melakukan sesuatu. Nggak mudah walaupun bisa dilakukan. Tapi, coba yang nyakiti itu, yang merugikan kita, yang tidak membalas kebaikan kita itu adalah orang yang nggak ada hubungannya sama sekali dengan diri kita. Mau lakukan? Saya yakin nggak mau. Makanya saya bilang, ada perbedaan di dalamnya, ya. Nanti kita akan bicara mengenai kemurahan seperti apa yang Tuhan Yesus ajarkan untuk kita lakukan ini.

Nah, sebelum kita masuk lebih jauh ke arah situ, pada waktu kita berbicara mengenai kemurahan, ada tiga hal lagi yang kita perlu lihat, ya. Mengapa kemurahan ini menjadi buah Roh dalam kehidupan dari orang percaya? Pertama adalah karena kemurahan merupakan karakter dari Tuhan Allah kita sendiri. Jadi, karena kemurahan itu adalah karakter dari Tuhan Allah kita, maka setiap orang –bahkan semua manusia yang dicipta oleh Tuhan– adalah orang yang pasti mencerminkan kemurahan dalam hidup dia. Maksudnya adalah: kalau Bapak, Ibu perhatikan misalnya di dalam Mzm. 19:2. Alkitab bicara bahwa “langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya”. Lalu, Saudara ketika melihat di dalam Kejadian 1:26 di situ dikatakan, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” Maka, dari ayat Alkitab ini kita mengetahui satu hal: ketika kita melihat pada seluruh ciptaan ini –baik dari ciptaan yang paling rendah sampai ciptaan yang paling tinggi yaitu manusia– maka ada satu hal yang kita bisa perhatikan: di dalam semua ciptaan ada cermin dari karakter Allah di situ. Alam mencerminkan kemuliaan Tuhan: pekerjaan tangan-Nya. Manusia mencerminkan gambar Allah. Jadi, pada waktu kita melihat pada semua ciptaan, di situ ada cerminan daripada gambar Allah di dalamnya.

Tetapi, walaupun begitu, Bapak, Ibu bisa melihat –kalau studi lebih lanjut di dalam pelajaran sistematika atau doktrin Allah– mereka kadang membagi di dalam dua aspek: atribut Allah atau karakter Allah itu ada yang dikomunikasikan, ada yang tidak dikomunikasikan. Yang tidak dikomunikasikan itu adalah karakter Allah yang lebih dominan pada diri Allah, yang sedikit ada pada kita atau bisa dikatakan tidak ada pada diri kita –untuk mempermudah– seperti itu. Seperti apa? Ketidakberubahan Allah, kemahahadiran Allah, keberadaan Allah yang ada pada diri-Nya sendiri. Itu adalah contoh dari Allah dan karakter Allah yang tidak ada pada ciptaan. Tetapi, pada waktu kita berbicara mengenai bijaksana, hikmat, kebaikan, kemurahan, itu adalah ciri dari karakter Allah yang ada pada manusia yang Tuhan cipta segambar dan serupa dengan diri Allah.

Nah, itu sebabnya pada waktu kita berbicara mengenai buah Roh: kenapa kita harus mengerti mengenai karakter Allah? Karena dengan kita mengerti karakter Allah, maka kita akan lebih mengerti apa maksud dari Tuhan ketika berbicara: kita harus menjadi serupa dengan Allah atau menjadi serupa dengan Kristus yang adalah Allah. Mungkin kalau Bapak, Ibu bicara ini: tujuan hidup manusia memuliakan Allah, seperti itu, dan menikmati Allah sampai selama-lamanya. Tujuan manusia atau ditebus oleh Kristus itu adalah untuk menjadi serupa dengan Kristus, seperti itu. Mungkin kita akan, ketika dengar ini, oh, kita ngomong, “Amin, amin, benar, itu adalah sesuatu yang Alkitab ajarkan.” Tapi kalau saya kejar lagi, ya, maksudnya apa sih memuliakan Allah? Maksudnya apa sih menjadi serupa dengan Kristus? Dalam hal apa?

Nah, salah satu aspek adalah memiliki buah Roh, memiliki karakter Kristus pada diri kita walaupun kita tidak mungkin bisa menjadi sama total dengan Kristus atau dengan Allah. Tetapi kita mencerminkan itu di dalam kehidupan kita. Makanya, mengerti karakter Tuhan itu penting! Merefleksikan sifat-sifat Tuhan dalam hidup kita berdasarkan apa yang dinyatakan Kitab Suci itu adalah satu keharusan! Karena tujuan hidup kita adalah menyatakan Kristus atau menyatakan Allah di dalam hidup kita. Kalau kita nggak pernah mengerti apa yang menjadi karakter Allah, bagaimana kita bisa menyatakan Allah dalam kehidupan kita? Bagaimana kita bisa melakukan hal-hal yang memuliakan Allah dalam hidup ini? Dan bagaimana kita bisa makin menjadi serupa dengan Kristus? Itu omong kosong!

Jadi, merenungkan tentang Allah dan sifat-Nya yang Tuhan berikan kepada kita di dalam satu konteks cerita di dalam Kitab Suci itu membuat kita bisa memahami: saya harus seperti apa ketika saya ditempatkan Tuhan di tengah-tengah dunia ini. Nah, salah satunya adalah kemurahan. Bapak, Ibu bisa lihat aspek ini di dalam misalnya Roma pasal 1 terlebih dahulu. Biasanya kita cuma menyinggung bagian awal dari Roma ini dari ayat 18 dan seterusnya, tetapi kali ini, saya mau ajak kita melihat dari ayat yang ke-28 dan seterusnya. Sebagai intro mungkin supaya kita mengerti konteks, di sini, ada orang yang sudah dicipta oleh Tuhan dengan gambar Allah dan pemahaman tentang Allah di dalam dirinya, tetapi karena dia menolak kebenaran itu karena berdosa, maka mereka kemudian mengganti gambar Allah itu dengan ciptaan atau berhala. Ketika mereka tetap tidak mau bertobat, maka Allah menyerahkan mereka ke dalam berbagai hubungan seksual yang tidak benar, laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, laki-laki mungkin dengan beberapa istri seperti itu, istri dengan beberapa suami seperti itu. Tetapi karena mereka tetap tidak mau bertobat, maka Allah kemudian menyerahkan mereka kembali.

Nah, ketika Allah menyerahkan mereka, menyerahkan kepada apa? Ayat 28, ya. “Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkanmereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Mereka adalah pengumpat,pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua,tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang,tidak mengenal belas kasihan. Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setujudengan mereka yang melakukannya.” Amin? Bapak, Ibu lakukan nggak?

Kalau Bapak, Ibu mau bicara, “Saya orang baik,” seperti itu, ya. “Saya orang benar.” Coba, pertimbangkan ini, ya. Adakah pikiran kita seperti yang Alkitab nyatakan? Kalau ada, itu bicara kita bukan orang baik, lho. Kita adalah orang berdosa, cuma kita nggak mau mengakui saja. Dan di dalam kondisi kayak gini, mohon tanya, Alkitab mengatakan, bagaimana sikap Allah? Ada konsekuensi tidak dari dosa yang dilakukan oleh manusia? Ada, kan? Apa buktinya? Konsekuensinya? Roma 6:23. Bicara apa? “Sebab upah dosa ialah maut;tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekaldalam Kristus Yesus.”

Jadi, ada konsekuensi dari orang yang berdosa yaitu hukuman mati. Makanya, kalau Bapak, Ibu baca di dalam Roma 5, walaupun di situ tidak ada Taurat yang diberikan sebelumnya, tetapi dari Adam sampai zaman Musa, ada kematian demi kematian yang dialami oleh manusia yang membuktikan kalau mereka adalah orang berdosa. Nah, kalau mereka merasa bahwa ini adalah sesuatu yang tidak benar, coba uji hati kita. Adakah hal-hal yang dicatat seperti ini? Saya yakin, semua kita akan mengatakan iya dan itu harusnya membuat kita punya kerendahan hati untuk mengakui, “Saya harusnya ada di bawah murka Allah dan saya seharusnya dihukum oleh Tuhan Allah dan dibinasakan, bukan mendapatkan kebaikan dan belas kasih dari Tuhan Allah.”

Tetapi kalau Bapak, Ibu baca di dalam Roma 2:4, ada hal yang menarik yang kemudian Kitab Suci nyatakan bagi kita, ya. Saya baca dari ayat 1-3. Lalu, ayat 4 kita bersama-sama, ya. “Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah.Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian. Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga,” Itu pengulangan dari ayat yang ke-32- “adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah?” Ini yang benar. Tetapi, coba baca ayat 4 bersama-sama. “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya,kesabaran-Nyadan kelapangan hati-Nya?Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” Maksudnya bagaimana? Yaitu begini, semua orang yang berdosa, yang sudah terbukti berdasarkan firman Tuhan, hukum Tuhan kita berdosa, nggak mungkin bisa luput dari murka Allah atau hukuman Allah dalam hidup kita.

Tetapi, waktu kita melihat ayat ini, kita komparasi dengan hidup kita, mohon tanya, siapa di sini yang walaupun berdosa, masih diberkati oleh Tuhan? Coba lihat orang dunia yang tidak percaya kepada Yesus. Walaupun mereka jahat, tidak percaya Yesus, menolak Yesus dalam hidup mereka, hidup mereka baik-baik dan keluarga mereka baik-baik dan terpelihara tidak? Itu menyatakan apa? Berkat kan? Usaha mereka yang mereka kerjakan, walaupun mereka bukan anak Tuhan, bisa lebih baik daripada anak Tuhan tidak? Bisa. Berkat bukan? Iya. Lalu, tanya lagi. Kenapa mereka mengalami itu? Kenapa kita yang berdosa juga tidak langsung dihukum oleh Tuhan? Kenapa kita masih bisa menerima segala kemurahan dan kebaikan yang terjadi di dalam kehidupan kita? Jawabannya apa? Karena Tuhan gagal untuk menyatakan kemarahan dan hukuman-Nya? Bukan, tetapi Tuhan sabar dan tetap memberikan kemurahan kepada kita supaya kita bertobat. Itu tujuannya. Jadi, jangan pikir Tuhan lupa. Jangan pikir Tuhan tidak lihat. Jangan pikir Tuhan lalai di dalam menegakkan keadilan atau tidak berkuasa untuk menegakkan keadilan. Tetapi yang benar adalah Tuhan ingin menyatakan kemurahan-Nya dan memberi kesempatan bagi kita demi kesempatan, demi kesempatan untuk bertobat. Tetapi kalau kita tidak pernah mau, suatu hari, ingat, ada hukuman Allah yang pasti kita terima. Makanya, Alkitab bicara, ada penghakiman Kristus ketika Dia datang kedua kali. Makanya, Alkitab bicara, ”Aku datang yang pertama itu bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menebus dosa manusia.” Itu menyatakan kemurahan Allah. Tetapi, jangan mempermainkan Allah karena ada finalitas yang nanti suatu hari akan hal itu.

Allah bagaimana? Apakah Allah itu sembarangan? Apakah Allah itu menerima semua manusia karena kita bisa melihat ada begitu banyak kepercayaan yang ada di tengah-tengah dunia ini. Walaupun ada orang yang berdosa, tetapi memperjuangkan sepertinya suatu kebaikan, tetapi tetap tidak bisa memenuhi standar Allah, apakah itu menunjukkan ada kebenaran di dalamnya? Bukan. Yang benar adalah karena Allah memiliki karakter kemurahan dan Dia ingin mereka bertobat, maka Ia bersabar untuk menantikan mereka untuk bertobat dan menyadari dosa mereka. Tetapi suatu hari, saya ingatkan, ada finalitas atau ada hal yang menjadi konsekuensi yang harus dihadapi oleh orang yang tetap berdosa dan tanpa pertobatan.

Lalu, yang kedua, Bapak, Ibu bisa lihat di dalam Lukas 6, ya. Nanti, Lukas 6 ini tetap dikasih tanda saja, ya. Nanti, kita akan balik lagi ke sini, ya. Lukas 6, kita boleh baca dari ayat 32-36. Mungkin nggak usah baca langsung, tetapi saya bicara. Nanti, kita akan baca lagi satu per satu. Saya bicara singkat saja. Lalu, kita baca ayat yang ke-36, ya. 32 bicara mengenai harus mengasihi orang yang mengasihi kamu. Itu tidak ada jasanya, tetapi kita harus mengasihi orang yang tidak berbuat baik kepada diri kita. Lalu, meminjamkan sesuatu kepada orang lain, walaupun orang itu tidak berjasa kepada kita atau bahkan melakukan hal yang jahat kepada diri kita. Lalu, di ayat 36 diberi tahu kenapa hal itu kita harus lakukan. Bersama-sama, ya. “Hendaklah kamu murah hati,sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Jadi, apa dasar kita harus melakukan kemurahan? Karena Bapa kita adalah Allah yang murah hati. Ini juga bicara mengenai karakter Tuhan bagi kita, ya.

Lalu, ada hal yang ketiga. Ini Bapak, Ibu bisa lihat di dalam Matius 11:29-30. Mat. 11:29-30: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku,karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamuakan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Bapak, Ibu, kalau kita baca ini mungkin kita akan tanya, “Apa hubungannya dengan kemurahan Allah?” Tetapi kalau Bapak, Ibu, Saudara membaca bahasa Yunaninya, kata “enak” di situ, bahasa Yunaninya adalah chrēstos dan chrēstos berasal dari kata benda chrēstotēs dan chrēstotēs itu artinya “kemurahan”. Jadi, kalau mau diterjemahkan secara parafrase, mungkin kita bisa berkata seperti ini: “Sebab kuk yang Kupasang itu penuh kemurahan dan beban-Ku pun ringan.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kuk itu apa? Kuk itu mungkin kita bisa bicara mengenai ujian yang Tuhan berikan. Kuk juga mungkin kita bisa bicarakan mengenai satu tuntutan hukum moral yang kita harus nyatakan dalam hidup kita. Kuk itu bisa menyatakan mengenai hukum kasih yang kita harus nyatakan dalam kehidupan kita. Pada waktu kita memikul semua itu, orang Kristen kan suka ngomong, “Aduh, berat sekali, ya, mengikuti Tuhan!” Tetapi Tuhan berkata kuk itu ringan lho dan ketika kita memikulnya itu penuh dengan kemurahan. Maksudnya bagaimana? Coba Bapak, Ibu perhatikan. Ketika Bapak, Ibu, Saudara gagal di dalam menaati Tuhan,-tadi, kita kembali ke Roma itu, ya-apakah langsung menghadapi hukuman Tuhan? Pada waktu Bapak, Ibu gagal di dalam menghadapi ujian yang bersumber dari Tuhan, apakah itu menyatakan Tuhan itu begitu jahat di dalam kehidupan Bapak, Ibu? Kalau Bapak, Ibu bilang iya, Bapak, Ibu sudah termakan hasutan iblis untuk mencurigai kebaikan dan kemurahan Tuhan.

Makanya, kalau kita melihat, ya, di dalam Injil, setiap orang yang ada di dalam pencobaan atau ujian, Alkitab selalu bilang, coba lihat sekitar, bagaimana pemeliharaan Tuhan ada. Coba lihat lebih jeli jalan keluar yang Tuhan sediakan itu sudah ada terlebih dahulu. Kenapa begitu? Itu mau menunjukkan bahwa di tengah-tengah kita, hidup yang kita rasa sepertinya jalan buntu, tidak ada pengharapan, sebenarnya ada begitu banyak kemurahan Allah di dalam hidup kita. Tapi kita punya mata seringkali menyorot kepada hal yang kita anggap penting dan mengeliminasi semua kebaikan dan kemurahan yang Allah nyatakan dalam hidup kita. Itu masalah. Sekali lagi, itu bukan ajaran Tuhan, itu ajaran iblis. Ketika iblis bekerja, dia akan mencobai kita. Mencobainya dengan cara apa? Membuat bukan hanya membawa kita hidup di dalam dosa dan melihat dosa itu sesuatu yang enak dan menarik seperti itu, tetapi kita juga akan melihat bahwa Allah punya perkataan itu belum tentu benar. Kita perlu mencurigai keabsahan dan kebenaran perkataan Tuhan dan janji Tuhan dalam kehidupan kita. Tapi Alkitab bilang nggak ya. Allah kita penuh dengan kemurahan, Allah kita penuh dengan kebaikan, Allah kita tidak pernah berubah di dalam janji kasih setia-Nya kepada diri kita, Allah kita selalu mempunyai kuasa untuk menolong diri kita dan seterusnya.

Jadi, kemurahan itu sifat siapa? Sifat Allah. AIkitab sudah menyatakan itu dalam firman-Nya dan saya juga percaya itu sudah dinyatakan dalam kehidupan kita, ya. Nah, ini membuat kita masuk ke dalam aspek kedua, yaitu pada waktu kita bicara mengenai kemurahan, karena itu adalah sifat Allah, maka kemurahan itu adalah sesuatu yang merupakan keharusan dari setiap manusia yang dicipta segambar dengan serupa Allah dan terkhusus bagi mereka yang sudah ditebus di dalam Kristus. Karena orang-orang dunia yang melawan Tuhan dan hidup dalam dosa, mereka tidak memiliki kekuatan untuk menjalani kemurahan sepenuhnya seperti yang Tuhan kehendaki. Dan kemurahan seperti apa yang Tuhan kehendaki? Kalau Bapak Ibu lihat di dalam Lukas pasal 6, saya kira sudah cukup jelas di situ, nanti kita akan kembali ke situ. Tetapi ada satu aspek, kemurahan itu bukan kepada orang yang baik saja, tetapi kemurahan itu adalah bagi orang yang tidak baik. Jadi, ini adalah keharusan terkhusus bagi orang yang sudah ditebus di dalam Kristus Yesus.

Nah, ketika kita bicara ini adalah satu keharusan yang harus ada dalam kehidupan kita yang sudah ditebus oleh Kristus, maka ini membuat kita bisa berkata kemurahan bukan sesuatu barang langka di dalam hidup orang Kristen. Atau kemurahan itu bukan sesuatu yang mustahil dilakukan oleh orang Kristen. Boleh buka Kolose 3 ayat 1 sampai 2, ya. Saya ajak buka beberapa ayat hari ini supaya kita bisa lebih jelas ya. Kolose 3 ayat 12. Kolose 3 ayat 12 kita baca bersama-sama ya, “Karena itu sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.” Arti ayat ini apa? Karena itu mungkin Bapak Ibu bisa baca di ayat sebelumnya itu bicara mengenai apa? Kalau mau cepat buka LAI itu ada apa itu, judul perikop itu, “Manusia Baru”. Dan manusia baru harus bagaimana? Harus hidup dengan sesuai dengan suatu standar yang ditentukan Tuhan; belas kasih, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Tuhan meminta kita melakukan itu. Ketika Tuhan meminta kita melakukan itu, artinya kita pasti bisa melakukan hal itu.

Kemarin waktu di Palembang, saya ada makan di satu tempat. Lalu dia taruh satu cangkir, ya, tapi cangkir itu ditaruh di atas sebuah tatakan yang dari karet. Waktu saya makan sama jemaat waktu
itu, lalu ketika pelayan itu taruh cangkir itu di atas tatakan itu, dia berusaha geser ke saya. Tapi ketika dia berusaha geser ke saya, karena orang suka taruh di tempat yang seberangan kayak gitu, itu cangkir nggak gerak-gerak loh. Dia berusaha geser tapi nggak bisa jalan. Waktu saya lihat kayak gitu, saya sadar satu hal, ternyata tatakannya itu kayak karet yang langsung melekat di atas meja. Karena mejanya basah sehingga terjadi vakum di situ dan kalau kita geserkan tatakan itu nggak mungkin bisa kerja.

Nah, banyak orang Kristen itu berpikir kemurahan yang Tuhan tuntut dari kita, buah Roh yang Tuhan tuntut dari kita itu adalah seperti kita disuruh untuk menggerakkan cangkir itu, tatakan itu, tapi kita nggak punya kemampuan untuk hal itu. Saya yakin sekali kita memang tidak punya kemampuan untuk melakukan hal itu, kecuali apa? Akhirnya saya angkat cangkirnya, saya angkat tatakannya, lalu pindahkan, taruh lagi dan taruh cangkir di atasnya, baru bisa gerak. Maksudnya adalah begini ya, kalau Tuhan tidak kerja dalam hidup kita, maka kemurahan nggak mungkin kita bisa lakukan. Tapi karena Tuhan sudah bekerja dalam hidup kita, menjadikan kita manusia baru dan bahkan ada Roh Kudus sendiri yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita, maka kemurahan bukan menjadi barang langka atau bahkan sesuatu yang mustahil. Kemurahan menjadi satu hal yang kita bisa lakukan. Itu sebabnya Paulus di dalam Kolose 3 ayat 12 berkata bahwa kita harus mengenakan kemurahan itu. Ini
adalah satu kewajiban, satu obligasi yang harus dimiliki oleh semua orang Kristen.

Nah, saya ajak kita kembali ke Lukas 6 ayat 32 tadi ya. Pertanyaannya adalah kemurahan yang dituntut oleh Tuhan itu bagi siapa? Adakah batasannya di situ? Adakah satu kelompok tertentu saja yang layak untuk menerima kemurahan itu, tetapi kelompok yang lain tidak layak? Jawabannya apa? Cakupannya siapa? Jangan lihat saya, lihat Alkitab. Cakupannya siapa? Siapa? Ayat 32 sampai 36, orang yang mengasihi kita saja? Bukan kan? Saya baca ayat 32 ya. “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian.” Jadi kalau Bapak, Ibu mau tanya, kemurahan itu seperti apa yang Tuhan tuntut dari diri kita dan apakah kita mampu melakukannya? Jawabannya adalah pasti mampu. Lalu mampu melakukan kemurahan seperti apa? Kepada semua orang tanpa kecuali. Dan tanpa kecuali itu bukan hanya orang-orang yang baik saja, tapi orang yang tidak baik kepada diri kita juga. Itu namanya kemurahan. Karena apa? Karena Allah sendiri memiliki sifat ini. Dia baik kepada kita bukan ketika kita sudah menjadi percaya kepada Dia, tapi Dia baik kepada kita sebelum kita bertobat dan percaya kepada Dia. Apalagi kalau kita sudah bertobat dan percaya kepada Dia.

Nah, hal ini juga kalau Bapak Ibu lihat di dalam cerita mengenai anak yang terhilang. Ini menjadi satu cerita yang begitu indah sekali. Anak ini adalah seorang yang menuntut harta warisan dari ayahnya sebelum ayahnya mati. Lalu ketika dia dapatkan semua harta itu, dia foya- foyakan sampai akhirnya dia sendiri melarat dan nggak ada uang sama sekali. Nah, pada waktu dia dalam kondisi yang begitu miskin, bahkan makan makanan babi pun dia nggak diperbolehkan oleh tuannya. Padahal makanan babi kalau Bapak, Ibu lihat orang pelihara babi itu adalah makanan yang sangat busuk sekali,
benar-benar jijik sekali. Tahu, kayak gitu, ampas tahu yang bau, tanaman yang diambil mungkin kangkung dari rawa dan segala macamnya nggak tahu ada lintad atau apa di situ, cacing atau di situ dikasihkan kepada babi. Dia mau makan pun tidak boleh. Akhirnya di situ dia kemudian sadar satu hal, dia menengok ke atas, lalu dia mengerti bahwa di rumah bapaknya penuh dengan karyawan yang jauh lebih kaya daripada tuannya. Tapi semua karyawannya terpelihara dengan baik karena bapaknya begitu baik kepada mereka. Dan dia menyadari dia sudah berdosa besar. Akhirnya dia mulai mengarang satu perkataan cerita untuk berbicara kepada papanya supaya papanya menerima dia.

Nah, ini ini salah satu aspek penting ya. Ketika Saudara dapat masalah, jangan cuma sekedar ceplas ceplos ngomong sama orang. Pikirkan dulu, susunkan dulu kalimatnya seperti apa. Baru bicara
dengan orang itu. Ada orang yang asal ngomong bukan menyelesaikan masalah, tapi justru memperumit masalah. Ada orang yang ingin menyelesaikan masalah karena dia ceplas ceplosn ggak pikir urutan dampaknya seperti apa. Akibatnya makin memecah relasi seseorang. Pikirkan baik-baik. Itu bukan hal yang salah. Anak ini mikirkan dia harus bicara apa dengan bapaknya, minta belas kasihan dari bapaknya. Ketika dia sudah pikirkan itu semua, dia pulang, baru sampai di ujung jalan rumahnya mungkin, papanya ternyata sudah tiap hari nunggu dia mengharapkan dia pulang. Dan begitu dia lihat sosok anaknya, dia nggak tunggu anaknya itu sampai di depan dia, dia langsung lari kejar anak itu lalu panggil anak buahnya untuk menyediakan segala sesuatu yang diperlukan anak ini. Waktu anak ini mulai khotbah dan berkata, “Papa, saya nggak layak, saya sudah berdosa, saya mau jadi karyawanmu saja, bukan anakmu lagi.”  Papanya ngomong, “Stop! Nggak usah teruskan. Sekarang kenakan dia sandal, pakaikan dia jubah, kasih dia cincin, potong lembu untuk kita pesta hari itu.” Itu namanya kemurahan. Sesuatu kebaikan atau kasih yang kita tunjukkan kepada orang yang tidak layak untuk menerimanya atau satu kemurahan atau kasih tindakan yang atau kasih yang kita nyatakan di dalam tindakan kita. Dan kakaknya ketika mendengar hal itu marah, kakaknya juga dikhotbahin oleh papanya dengan cara apa? Ada yang menafsirkan, dia datangi kakaknya yang tersesat di dalam gereja, kasih tahu kakaknya tindakannya itu salah dan dia tetap menyatakan kemurahan kepada kakaknya.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah aspek dari kemurahannya yang Alkitab nyatakan dan Tuhan ingin kita menjadi orang seperti itu. Sekali lagi saya ngomong, mudah tidak? Kepada orang yang kita kasihi saja nggak terlalu mudah, apalagi kepada orang yang walaupun kita ngomong saudara seiman, kewarganegaraan surga, sama-sama dengan kita yang akan kita temui juga di dalam kekekalan nanti. Tapi di dalam setiap masalah seringkali kita ngomong dia bukan siapa-siapa saya, dia bukan keluarga saya, dia bukan orang yang saya kasihi. Ditandai dari apa? Ketika dituntut kemurahan, itu sesuatu yang susah untuk dilakukan bahkan mustahil. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tapi ingat, kemurahan adalah buah Roh yang bukan muluk-muluk, tapi itu adalah sesuatu yang harus kita nyatakan karena kita memang sudah diberikan Roh Kudus dan kuasa untuk menyatakan itu. Yang mungkin kita perlu bertanya adalah, selama ini kita tercocok kepada pokok anggur Yesus atau tidak? Yang selama ini kita perlu tanyakan adalah, Kristus berdiam tidak di dalam diri kita? Itu aspek kedua.

Aspek ketiga, tadi saya mau katakan, kemurahan adalah kasih dalam tindakan. Maksudnya apa, kasih dalam tindakan? Salah satu aspek yang Saudara bisa lihat dari Yakobus pasal yang kedua, di situ Yakobus bicara mengenai iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati, tetapi saya tidak bicara mengenai hal itu, saya mau bicara ambil contoh yang Yakobus katakan, iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati. Yakobus bilang kayak gini, “kalau kau mempunyai iman, coba buktikan imanmu dengan perkataanmu. Tapi saya akan membuktikan iman saya dengan perbuatan”, lalu apa yang dikatakan oleh Yakobus? Ambil contoh kayak gini, bagaimana kalau seorang datang kepadamu, dia ngomong, saya lapar saya nggak punya uang, saya butuh bantuan, saya kedinginan, nggak punya pakaian hangat seperti itu, tolong bantu saya. Lalu Saudara ngomong, “silahkan pulang, saya doakan Saudara.” Itu tindakan kemurahan yang menyatakan iman bukan? Yakobus bilang bukan. Orang yang beriman, yang menyatakan kemurahan adalah orang yang memberi dia pakaian memberi dia makanan dan tumpangan untuk diri dia. Itu adalah orang yang berkemurahan.

Jadi pada waktu kita bicara mengenai kehidupan orang Kristen, orang Kristen adalah orang yang harus menyatakan kasih Allah, tapi sering kali kita berpikir, kasih itu adalah suatu slogan yang selalu harus diucapkan, tetapi kita nggak pernah menyatakan kasih itu di dalam tindakan, yang dalam bahasa Yakobus itu adalah iman yang mati, di dalam bahasa buah Roh, itu berarti kita tidak punya kasih. Nah pertanyaannya adalah, hal apa saja dalam hidup ini, yang kita bisa katakan sebagai tindakan yang penuh dengan kemurahan? Saya kira Lukas 6 itu bisa menjadi satu contoh penguji yang baik, untuk menguji diri kita, selama ini punya kemurahan atau tidak. Nah kali ini saya mau ajak Bapak, Ibu, Saudara untuk baca dari ayat 27 lalu di-list ya, catat ya, satu kemurahan artinya apa, dua kemurahan buat kita lakukan apa, saya baca, Bapak, Ibu list ya:

Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.

Pertanyaan, 1, kemurahan itu akan membuat kita melakukan apa? Halo? Ngomong yang kuat. Kemurahan akan membuat kita melakukan apa? Kasih. Abstrak. Kasih yang seperti apa? Kasih yang bagaimana? Kok lihat saya. Cepet aja ya, ayat 27, kasih yang gimana? Kasih yang membuat kita baik kepada orang yang membenci kita, sudah lakukan? Kalau belum artinya belum murah hati. 2, kemurahan itu membuat kita bagaimana? Ayat 28, berdoa bagi orang yang jahat dan mencaci kita. Apa yang didoakan? Terkutuklah dia Tuhan. Bukan. Tuhan dia sudah tidak adil bagi saya, tolong tegakkan keadilan bagi saya, bukan. Doakan untuk kebaikan orang itu, nyatakan apa yang kita harapkan orang lakukan kepada diri kita, kita lakukan itu kepada dia. Nanti ya, itu ada muncul, tapi di dalam doa. Yang ketiga, ayat 9-20 kemurahan berarti apa? Berjalan bersama dengan orang yang sudah dilakukan kebaikan tetapi tetap gigit lagi kita. Yang keempat, apa? Ayat 31, melakukan kebaikan kepada orang seperti apa yang orang ingin lakukan kepada kita, itu murah hati. Yang kelima, ayat 37 menahan diri dari menghakimi orang lain. Itu kemurahan.

Jadi kalau Bapak, Ibu, mau tanya sikap kemurahan seperti apa yang harus dilakukan dalam hidup saya, coba lakukan kelima poin ini, pertama apa? Berbuat baik kepada orang yang membenci kita, kedua doakan mereka, ketiga berjalan bersama mereka yang menggigit mereka, keempat lakukan kepada mereka seperti apa yang kita ingin orang lakukan kepada diri kita. Kelima apa? Jangan menghakimi, atau menahan diri untuk menghakimi orang. Itu yang perlu kita lakukan.

Tetapi ada satu hal lagi yang mungkin perlu dipikirkan ya, atau kita renungkan juga, ini bicara mengenai tindakan semua. Tapi kalau andaikata, bukan andaikata ya, ini merupakan tindakan semua, tapi ada satu hal yang sering kali kita suka abaikan, yaitu menguasai mulut kita untuk berbicara kepada orang, Bapak, Ibu, Yakobus bilang orang yang bisa menguasai lidah, itu orang yang sempurna. Dia bisa menguasai seluruh tubuhnya. Dan salah satu dosa yang dia bisa orang lakukan adalah, dia tidak bisa menahan perkataannya, dan berbicara kemarahannya kepada orang lain. Saya lihat itu adalah satu dosa yang kita juga perlu perhatikan ya. Karena kedagingan sering kali membuat kita mengumpat, memaki, memfitnah, menggosipkan orang dan yang lain-lain. Saya kira itu bukan aspek dari kemurahan. Jadi jaga sikap perilaku, tapi juga jaga mulut dan hati kita ketika kita berhadapan dengan orang.

Ada satu contoh terakhir ya, Bapak, Ibu, pernah alami seperti ini nggak, ada teman, kita lakukan kebaikan kepada mereka; kita traktir dia makan, kita pergi ada oleh-oleh kita kasih kepada mereka. Tetapi, ketika kita sudah lalukan itu, orang itu suatu hari pergi, dia pulang, dia nggak bawa apa-apa sama kita. Dia ada apa sesuatu dia nggak ingat kita, tapi dia ingat orang lain. Di dalam hati Bapak, Ibu, ngomong apa? Pernah nggak terbesit, “ini orang ya kok begitu ya? Saya lakukan kebaikan kepada dia, tapi dia kok nggak ingat saya.” Pernah? Mau tanya, itu kemurahan bukan? Itu bukan kemurahan. Pada waktu kita berkata kenapa dia tidak lakukan itu kepada saya, saat itu kemurahan sudah tidak ada. Karena kemurahan bukan sesuatu yang kita lakukan demi untuk mendapatkan balasan dari orang. Tapi yang namanya kemurahan adalah kebaikan yang kita berikan kepada orang, bahkan ke orang yang membenci kita, artinya apa? Kita tidak mengharapkan balasan dari orang itu. Ini yang Alkitab ajarkan ya. Sekali lagi saya mau bicara begini, mungkinkah kita melakukan kemurahan pada hidup kita? Mungkinkah semua orang bisa melakukan kemurahan yang dituntut oleh Kitab Suci? Kalau itu bukan pekerjaan Tuhan, nggak ada satu orang pun yang bisa menyatakan itu dalam hidup mereka. Tapi kita adalah orang-orang yang sudah ditebus, sudah dikaruniakan Roh Kudus, sudah dilahirbarukan atau diciptabarukan untuk menjalankan hal ini. Dan itu adalah bukti dari kita adalah orang pilihan Tuhan, kita orang yang sudah disatukan dengan pokok anggur Yesus Kristus sendiri. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita ya. Mari kita masuk ke dalam doa.

Kami kembali bersyukur Bapa untuk malam ini, firman-Mu, kiranya Engkau boleh tolong kami yang penuh dengan kelemahan, kekurangan, kekerasan hati sering kali, rasa pedih dan sakit ya Tuhan, karena perlakuan-perlakuan yang tidak baik yang kami alami, tetapi kami mohon kiranya di dalam kasih-Mu, seperti apa yang telah kami dengar, biarlah kemurahan yang Engkau miliki sendiri, yang menjadi sikap-Mu, karakter-Mu, itu boleh tercermin di dalam kehidupan kami sebagai anak-anakMu. Ketika kami berelasi dengan orang lain, biarlah sikap dan kemurahan-Mu boleh dinyatakan dalam hidup kami ya Tuhan, sehingga masing-masing kami boleh melihat ada Kristus dan kemurahan Kristus pada dalam diri saudara seiman kami yang ada di dalam gereja-Mu ini. Tolong sertai ya Tuhan, beri belas kasih, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.