Ucapan Bahagia (10), 12 Oktober 2025

Ucapan Bahagia (10)

Mat. 5:11-12

Pdt. Nathanael Marvin, M. Th

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Allah kita adalah Allah yang menginginkan kita itu hidup dengan bersukacita, hidup di dalam pemberian-Nya, hidup di dalam berkat-Nya, baik berkat secara jasmani maupun berkat secara rohani. Maka kita bisa mengenal Allah itu sebagai Allah yang penuh dengan sukacita, Allah pemberi sukacita, Allah sumber segala sukacita. Allah yang sejati yang kita kenal di dalam Allah Tritunggal, dan melalui Yesus Kristus adalah Allah yang bukan anti dengan sukacita. Allah yang senang dengan kekacauan, kebencian, dan dukacita, bukan! Allah kita adalah Allah yang menginginkan ciptaan-Nya itu, khususnya manusia ya, mengalami suatu damai sejahtera dan sukacita dari Tuhan. Allah kita bukanlah Allah yang menginginkan orang-orang itu hidup secara asketis. Menyiksa diri, demi supaya lebih baik lebih rohani lebih benar seperti itu ya. Melukai diri, menyiksa diri, mencari-cari penderitaan, mencari-cari masalah, supaya pada akhirnya orang itu lebih baik lagi. Bukan. Kalau bisa tidak ada penderitaan dan tidak ada masalah kemudian kita boleh bertumbuh semakin mengenal Tuhan semakin baik lagi, Tuhan pakai cara itu.

Tetapi di tengah-tengah dunia yang berdosa ini, Tuhan sering kali pakai cara yang negatif, penderitaan, masalah supaya hati kita yang berdosa ini, boleh bertobat kembali kepada Tuhan. Tetapi Tuhan sebenarnya tidak menginginkan setiap manusia itu mengalami penderitaan. Tuhan menginginkan manusia itu bersukacita, taat karena sukacita, melayani karena sukacita, hidup dengan penuh sukacita. Makanya Tuhan katakan, di dalam menciptakan Adam dan Hawa, waktu Tuhan menempatkan mereka di taman sukacita. Taman Eden. Dan Tuhan juga mengarahkan kehidupan mereka bahwa suatu hari nanti ketika andai mereka taat, ini berandai-andai ya, andai mereka taat dan tidak jatuh ke dalam dosa, mereka pun akan menikmati suatu kondisi yang penuh dengan sukacita dan tidak ada penderitaan, tidak ada dukacita sama sekali, yaitu kehidupan di surga bersama Allah.

Allah bukanlah Allah yang menciptakan dunia atau manusia yang menginginkan adanya dosa, dan akhirnya manusia binasa karena dosa-dosanya. Allah kita adalah Allah yang baik. Ya God is good. Lalu dari manakah penderitaan? Dari manakah masalah? Dari manakah kesedihan, dukacita, segala hal yang melukai, menyakitkan? Itu datangnya bukan dari Allah tetapi dari kita sendiri manusia berdosa maupun juga iblis yang sudah melawan Tuhan. Yohanes 10:10 mengatakan, “pencuri itu datang untuk mencuri, untuk membunuh, untuk membinasakan. Tetapi Yesus datang, supaya orang-orang itu memiliki hidup, dan bukan saja memiliki hidup yang dari Tuhan sendiri melainkan hidup dengan segala kelimpahan.” Kita harus akui, kita harus ingat, kita harus percaya bahwa Allah kita adalah Allah sumber sukacita dan damai sejahtera. Bukan sumber kekacauan, bukan sumber masalah. Yesus juga mengatakan satu undangan yang begitu menghibur kita Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di tengah-tengah kelesuan dan keletihan kita, “marilah kepada-Ku. Mari datang kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan. Aku akan memberikan rest, istirahat”. Dan di situ ada sukacita dari Tuhan semua. Ya Tuhan mau memberikan kita kelegaan, kenyamanan, dan sukacita.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, waktu kita berelasi dengan orang, berelasi dengan keluarga kita, pasangan kita, anak-anak kita, kalau kita punya kasih kepada mereka, apa sih yang kita harapkan dalam kehidupan mereka terjadi? Happy kan? Sukacita. Ini adalah suatu hal yang wajar. Ketika kita mau mengasihi sesama, kita mengasihi pribadi yang lain, kita mau mereka itu dalam kondisi yang tenang, baik, kalau bisa sukacita, sukacita. Kalau kita bisa memberikan kesenangan itu, kita berikan yang dia inginkan dan itu hal yang baik, seperti itu ya. Apalagi Tuhan. Ya apakah kita masih punya prasangka buruk seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah? Atau orang-orang yang tidak mau mengakui Allah ada. Bahwa Allah itu ada, Allah itu jahat, Allah itu semena-mena menggunakan kuasa-Nya, Allah itu sumber dosa? Allah itu pelaku dosa. Kalau Tuhan Maha kasih, Maha baik, kenapa Tuhan membiarkan kejahatan seolah-olah Allah itu betul-betul membiarkan kejahatan dan menyukai kejahatan? Kita tidak bisa berprasangka buruk terhadap Allah, ya, karena Allah tidak berdosa. Kita harus mempunyai pikiran dalam hati, dalam pikiran kita, bahwa Allah itu Allah yang baik.

Dan ketika kita melihat dunia itu penuh dengan dosa, kekacauan, kesakitan, penderitaan, apakah kemudian Allah diam saja? Kita saja ketika mengasihi sesama, ada orang jatuh di depan kita saja, kita pun mau tolong. Itu manusia yang bahkan kita mungkin tidak penuh kasih. Kita hanya sebatas melihat ada orang jatuh di depan kita, lalu kita mau tolong. Tidak diam. Kecuali orang yang sudah sangat berdosa, sudah psikopat, tidak ada emosi, tidak ada perasaan, sudah penuh kebencian hidupnya, orang yang jatuh di depannya dibiarkan. Nggak peduli. Orang yang kejam seperti itu. Allah itu adalah Allah yang penuh kasih. Allah adalah kasih bahkan, digambarkan oleh Alkitab demikian.

Maka ketika ada orang yang melakukan dosa, mau bunuh diri, mau memperkosa orang, Allah itu tidak diam. Allah itu sudah merancangkan supaya orang itu tidak melakukan dosa. Dengan cara-cara Allah sendiri yang tidak semena-mena terhadap kebebasan kita sebagai manusia. Allah punya kedaulatan, Allah tidak menggunakan kedaulatan dan kekuasaan-Nya untuk menekan memaksa kita menjadikan kita sebagai robot. Ya, Tuhan itu betul-betul menghargai kedaulatan Dia yang sudah Tuhan berikan juga kepada manusia. Maka kalau kita lihat kejahatan, jangan salahkan Tuhan, jangan marah kepada Tuhan. Dia mengusahakan kebaikan dengan tepat, dengan adil, tidak semena-mena, itu Allah kita. Yang tidak terlihat yang kadang-kadang kita rasa Tuhan diam saja. Padahal tidak ya. Allah menginginkan kita justru sebagai gereja-Nya, sebagai umat Tuhan, yang mengenal Tuhan baik itu, justru ketika kita melihat kejahatan dan dosa yang ada yang muncul di sekitar kita, kita memperjuangkan keadilan, memperjuangkan kebaikan dan membuat orang itu jangan sampai ada orang terluka atau menderita atau mengalami kejahatan dan juga melakukan dosa. Itu tugas gereja.

Ketika Tuhan diam, Tuhan itu bukan diam. Tuhan itu mengutus kita sebagai umat-Nya untuk memperjuangkan hal yang baik dan membawa kabar sukacita kepada banyak orang. Itulah Injil. Jadi ketika kita memiliki tugas untuk mengabarkan Injil, dan membawa kabar sukacita, dan membawa kabar baik, kita mau supaya orang itu bertobat dari segala dosanya, dan menjauhi segala perbuatan yang jahat yang mencelakakan mereka sendiri.

Dan di dalam ucapan bahagia ini, Yesus tawarkan kebahagiaan sejati. Ayo bersukacitalah. Bersukacitalah. Bersukacitalah. Bersukacitalah. Ucapan bahagia sampai sembilan ucapan bahagia Yesus katakan berbahagialah. Berbahagialah karena alasan yang tepat. Alasan yang berdasarkan kehendak Tuhan. Alasan yang dari Tuhan sendiri. Tuhan tidak tawarkan kebahagiaan bersukacita yang semu yang berasal dari dunia, yang berasal dari kedagingan, dari dosa, ataupun hawa nafsu kita. Melainkan Tuhan tawarkan kamu bisa berbahagia, dan Aku pasti memberikan bahagia, kalau kamu hidup sesuai dengan kehendak-Ku. Tuhan berikan kebahagiaan yang sejati di tengah kehidupan yang berdosa ini. Bagaimana kita bisa memiliki kebahagiaan yang sejati yang sesuai dengan emosinya Allah, sukacitanya Allah? Maka Yesus di sini, dalam ucapan bahagia dikatakan, kehendak Allah, melakukan kehendak Allah. Kalau kamu bisa melakukan kehendak Allah, bersukacitalah. Kalau kamu bisa mengingat dan menguduskan hari Sabat, bersukacitalah. Jangan sedih. Jangan capek. Malas ke gereja. Kamu itu mendapatkan berkat Tuhan dan itu adalah suatu hal perintah lho ya. Atau anjuran Tuhan. Bersukacitalah. Berarti Tuhan minta kita supaya memiliki emosi yang dari Tuhan sendiri. Kita minta anugerah Tuhan. Tuhan berikan saya sukacita ketika saya melakukan kehendak Tuhan. Tuhan Yesus ajarkan kehendak-Nya, kehendak Allah.

Tuhan Yesus ajarkan perintah-perintah-Nya segala perintah Tuhan itu baik, dan ketika kita mendapatkan kebaikan kita pun akan mendapatkan sukacita. Yesus mengajarkan bahwa Allah adalah Allah yang adil dalam seluruh ucapan bahagia ini, kalau kamu lakukan A, maka dapatkan B dari Tuhan sendiri. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena dia lah yang punya kerajaan Allah. Tuhan ajarkan keadilan. Kamu lakukan yang baik, pasti ada upah. Ini adalah hukum tabur tuai yang Allah sendiri, berikan kepada kita sebagai manusia. Ketika kita jalankan ini, maka janji Tuhan itu nyata. Ya. Ketika kita taat, kita diberkati, ketika kita taat, kita diberikan upah. Tapi kita taat ini bukan karena kita ingin diberkati atau mendapatkan upah saja, yang utama kenapa kita taat, karena kita memang milik Allah, dan kita sudah dikasihi Allah, bahkan kita sudah diselamatkan dari segala hukuman dosa kita. Kalau taat, cuman demi berkat, cuman demi upah, itu orang-orang yang tidak mengenal Allah pun tahu. Oh kita harus rajin, rajin pangkal kaya, kurang lebih gitu ya. Tapi belum tentu kaya, kalau Tuhan tidak berkehendak kita untuk jadi orang yang kaya. Tapi rajin pasti diberkati Tuhan nggak? Pasti diberkati Tuhan. Dan itu pun orang yang tidak kenal Allah di dalam Kristus, mereka pun tahu kok, “oh ada hukum logika Tuhan.” Kita kalau kerja ya kita dapatkan uang. Kita harus kerja yang baik. Tapi kalau melakukan kejahatan, nanti dihukum. Ada pemerintah, ada penjara, ada hukuman mati, ada rasa bersalah yang ditimbulkan dari hati nurani. Itu hukum tabur tuai Allah yang adil itu berlaku di dalam kehidupan kita.

Dan di dalam penutup ucapan bahagia ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian ini uniknya. Justru Yesus tekankan lagi berbahagialah sampai 3 kali. Berbahagialah kamu, bersukacitalah kamu, berbahagialah kamu. Terhadap apa? Terhadap apa yang sebenarnya membuat kita menderita. Bersukacita karena apa? Kalau kita dicela, ya dicela, dihina orang, dianiaya, difitnahkan segala yang jahat, tetapi karena Yesus Kristus. Inilah yang membuat orang Kristen sangat agung. Karena di tengah-tengah penderitaan karena Yesus Kristus karena kebenaran, kita bisa bersukacita. Ini yang membuat orang Kristen nilainya semakin berharga di hadapan Tuhan, karena dia dicela karena Kristus. Dianiaya karena Kristus. Difitnahkan segala kejahatan karena Yesus Kristus. Dan di situ Yesus katakan bersukacitalah, karena upahmu besar di surga seperti para nabi yang dia memberitakan firman dihina. Nggak ada yang mendengarkan firmannya. Nabi Yeremia, nabi Yesaya, mereka dihina nggak usah dengar khotbahmu. Wah itu kan sangat emosi ya. Kita tahu apalagi kita yang bekerja menjalani panggilan sebagai guru atau sebagai dosen, kita lagi ngajar di kelas semua ribut ya. Semua ribut pengennya apa? Marah kan? Didengar dong ya. Siapa yang saat ini mau belajar? Siapa yang butuh siapa? Kurang lebih kayak gitu ya. Guru bisa berargumen demikian dan di sinilah nabi-nabi itu banyak seringkali itu dicela bahkan dianiaya, ya dimasukkan ke tempat-tempat yang buruk, dilukai orang bahkan difitnah bahwa memberitakan kabar yang palsu.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, orang-orang yang setia pada Tuhan sebenarnya bukan hanya memperoleh sukacita dari Tuhan, tetapi juga kita di tengah-tengah dunia yang berdosa ini kita bisa memperoleh sukacita akibat penderitaan karena Kristus. Jadi, double alasan kita bersukacita bukan hanya karena berkat Tuhan, tapi karena menderita untuk kebenaran ataupun untuk Yesus Kristus. Kita bersukacita meskipun di dalam dunia ini kita penderitaannya double, orang Kristen ya, penderitaan karena dunia yang berdosa, penderitaan karena kita setia pada Kristus, tapi Tuhan tuh adil ya. Sukacita kita pun double. Karena ketika kita di dalam Kristus, kita ada sukacita, ada keselamatan, tetapi juga ada penyertaan Tuhan. Bahkan ketika kita menderita pun Alkitab memberikan definisi yang begitu unik di dalam kehidupan Kristen itu adalah panggilan kamu untuk menderita bagi Kristus, bukan untuk menderita ya. Panggilan orang Kristen bukanlah panggilan untuk menderita, tetapi panggilan untuk menderita bagi Yesus Kristus.

Mari kita baca Filipi 1:29, Bapak, Ibu sekalian. Filipi 1:29 itu sangat jelas, Rasul Paulus mengatakan kepada jemaat Filipi, kepada orang-orang Kristen bahwa kita itu punya panggilan dikaruniakan, kasih karunia untuk menderita bagi Yesus Kristus. Fil. 1:29-30 kita baca bersama-sama. “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.” Inilah panggilan orang Kristen, bukan hanya percaya kepada Kristus. Kalau kita sudah percaya kepada Kristus, ya sudah kita sudah menjadi orang Kristen, sudah dilahir kembalikan oleh Roh Kudus. Tetapi kemudian selanjutnya adalah Tuhan kasih karunia, kasih panggilan itu sendiri. Ketika kamu menjalankan firman-Ku, banyak orang membenci kamu. Karena apa? Firman-Ku itu bukan berasal dari dunia yang berdosa ya, firman-Ku ini berasal dari surga dan orang-orang yang berdosa keduniawian ini bertentangan dengan Tuhan sendiri. Maka ketika kita jalankan firman Tuhan, ada orang-orang yang membenci kita. Ada orang-orang yang akan melukai kita, akan ada orang-orang yang mencela kita, memfitnah kita, dan juga menganiaya kita, bahkan membunuh kita. Itulah yang dialami oleh para nabi, para rasul, martir pertama Stefanus dan martir-martir yang lain yang kita lihat dalam sepanjang sejarah gereja ya.

Orang-orang Kristen ada yang sungguh-sungguh memberitakan kebenaran, tapi dianiaya, dihina, dimusuhi ya, bahkan diasasinasi, dibunuh. Itu iman Kristen. Tetapi Alkitab mengatakan, “Berbahagialah kamu karena upahmu besar di surga.” Sebagai umat Tuhan, kita harus ingat panggilan ini. Kita bukan serta-merta yang penting percaya Kristus sudah. Jauhkan semua penderitaan, karena Kristus dan karena kebenaran. Saya anti penderitaan. Padahal Alkitab mengatakan, “Kamu jadi Kristen, kamu akan menghadapi penderitaan karena kebenaran, penderitaan karena firman Tuhan dan penderitaan karena Yesus Kristus yang kamu percayai dan sembah itu.” Maka sebagai orang Kristen kita sudah dipersiapkan untuk memiliki ketahanan rohani dalam kehidupan kita. Kita harus melawan setiap godaan iblis yang mengganggu kita untuk melakukan dosa di hadapan Tuhan.

Hari ini kita akan merenungkan tiga hal penyebab penderitaan yang membuat kita itu memiliki upah yang besar di surga ya. Ada suatu harga atau penghargaan yang Tuhan berikan yang membuat seseorang menjadi agung dan besar di mata Tuhan itu bukan karena penderitaannya, tetapi karena alasan dia menderita, yaitu menderita karena Kristus. Ya kalau orang banyak penderitaan karena kesalahannya, karena kebodohannya, karena dosanya, itu tidak membuat dia itu lebih agung, lebih hebat, nggak. Tapi yang membuat orang itu lebih agung di hadapan Tuhan, lebih besar di hadapan Tuhan adalah ketika dia menderita tapi karena alasan yang benar, yaitu karena Yesus Kristus; dicela karena Kristus, dianiaya, karena Kristus, difitnah, karena Yesus Kristus.

Nah, pertama-tama kita renungkan tentang celaan ya, ini adalah suatu hal yang dilakukan manusia berdosa dan kita pun sering kali melakukan celaan kepada orang-orang yang mungkin kita kasihi dan itu sering kali tidak sadar. Kita mencela, menghina, merendahkan pasangan kita, anak-anak kita, kita sombong. Ketika orang yang mencela orang lain, menghina ya, mengejek, mengolok-olok secara verbal ya, ini adalah celaan, kita berarti sudah menganggap diri kita itu jauh lebih benar, lebih baik, dan layak untuk menghina orang lain yang lebih buruk daripada kita. Ini adalah penderitaan karena kata-kata orang lain yang begitu jahat, begitu penuh kebencian, dan menyakitkan. Ini adalah juga bisa berarti sebuah penipuan karena menuduh orang yang tidak sebenarnya dan ini terjadi bukan hanya di dalam sekolah-sekolah ya, ini bisa terjadi dalam segala lingkungan kita. Yang kita sering dengar adalah pem-bully-an yang dilakukan oleh siswa-siswi. Pertama-tama lewat mulut dulu ya, orang itu lewat mulut nggak ada bukti kan, kecuali direkam gitu ya. Tapi lewat mulut sangat mudah, mulutmu harimaumu, lidah ini bisa mencelakakan orang, mematikan orang, maupun menghidupkan orang ya. Lidah ini ketika digunakan dengan secara salah terus-menerus, akhirnya orang yang di-bully itu bisa bunuh diri, bisa nggak tahan. Kalau pada akhirnya dia mau melawan, dia pun bertengkar dengan teman-temannya. Banyak kejadian seperti ini di sekolah. Karena apa? Celaan, hinaan. Kita bisa nggak tahan ya kalau dihina terus, dikata-katai ya, diomongi apalagi berdasarkan fisik kita gitu ya. Wah fisik kan sulit diubah ya. Itu akhirnya kita menerima hinaan dan bisa membalas kejahatan dengan kejahatan. Ya dicela orang itu tidak enak ya. Kita disalah-salahin orang, direndahkan, dianggap bodoh, dianggap tidak bisa.

Dan saya rasa Bapak, lbu, Saudara sekalian, kita pernah mengalaminya semuanya celaan itu. Apalagi kita masih kecil ya, apalagi kita masih muda, terutama di dalam budaya timur yang di mana orang tua tuh sangat superior, dalam arti sampai tidak bisa yang muda itu menegur orang tua seperti itu ya. Kecuali dengan firman Tuhan kan boleh ya, kita boleh saja menegur setiap orang asal otoritasnya dengan firman Tuhan. Kita ditekan, dihina ya tidak bisa melakukan apa-apa. Apalagi juga kita sebagai orang yang berdosa sebenarnya memang banyak kesalahan dan kelemahan. Jadi kalau mau menghina orang sangat mudah. Ingat kesalahannya, ingat dosanya, ingat masa lalu yang buruk itu bisa langsung menjadi hinaan seumur hidup. Itu adalah suatu dosa yang besar sekali ya dan itu tidak enak ya. Kita pernah mengalaminya, saya pun pernah mengalaminya. Ketika direndahkan tuh rasanya pengen wah membalas gitu ya, pengen menunjukkan kita lebih hebat. Tapi salah, respons itu adalah respons manusia yang berdosa. Kita harus meresponi celaan, hinaan itu dengan teladan Yesus Kristus sendiri. Justru kita harus mendoakan supaya orang itu bertobat. Tapi yang sering kita doakan adalah supaya orang itu celaka gitu ya. Supaya mati saja dia lah ya sudah kehidupannya buruk. Itu adalah suatu respons yang salah terhadap celaan-celaan.

Nah, Bapak Ibu sekalian, Yesus direndahkan oleh banyak orang. Yesus itu dibenci banyak orang bukan karena Dia salah, bukan karena Dia berdosa, tetapi karena orang-orang memang tidak suka terhadap Yesus Kristus. Dan siapakah yang mengolok-olok Yesus Kristus? Yang mengolok-olok, yang menghina, mengejek, mem-bully adalah orang yang dikatakan sebagai pemimpin-pemimpin agama pada waktu itu. Ya orang-orang Yahudi, imam-imam kepala, orang Farisi, orang Yahudi. Ketika pada akhirnya Yesus sudah terdesak, sudah tergantung di atas kayu salib, imam-imam kepala itu mengatakan bahwa orang lain Ia selamatkan, orang lain yang buta Dia sembuhkan, yang lumpuh Dia sembuhkan, yang tuli Dia sembuhkan. Sekarang Dia tergantung di atas kayu salib, Dia nggak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Siapa Dia? Orang rendah, orang yang tidak berkuasa, orang lain Dia selamatkan tetapi diri-Nya tidak diselamatkan. Siapa Yesus itu? Katanya raja, katanya Mesias ya, biarlah Dia turun dari salib dan kami akan percaya kepada Yesus Kristus. Turun dulu, gitu ya. Wah, itu betul-betul celaan yang di mana Yesus sudah mengalami kesakitan tubuh, sudah kurang tidur, sudah penuh dengan kecapean, kelelahan, dan akhirnya mendengar celaan itu di atas kayu salib. Ya ini adalah suatu hal yang betul Yesus itu harus sabar sekali. Ya jangan sampai Yesus pada akhirnya menyatakan penghakiman ketika Dia di atas kayu salib.

Bukan hanya itu, Bapak, Ibu, Saudara, dicatat ya di dalam Alkitab, bukan hanya para pemimpin agama Yahudi yang mengolok-olok Yesus Kristus, tapi ternyata di kanan dan kiri Yesus pun para penjahat itu, para penyamun, perampok itu pun mencela Yesus dengan kata-katanya. Sudah tergantung di atas kayu salib tidak membuat orang bertobat kok ya. Hukuman yang begitu besar atas dosa-dosa, atas perbuatan jahat mereka pun tidak membuat mereka itu tidak berdosa ya. Karena untuk bisa tidak berdosa itu hanya karena pertolongan dari Roh Kudus saja dan ketika penjahat itu melihat Yesus dari dekat, dua penjahat ini, respons yang sama adalah menghina, mengolok-olok. “Kamu ini ya dianggap orang benar tapi ternyata disalib juga. Jangan-jangan kamu merampok, jangan kamu memperkosa juga. Yang di atas kayu salib yang dihukum di tempat ini adalah penjahat-penjahat kelas kakap kok, kamu kok bisa sih? Katanya orang baik, katanya guru”, kayak gitu ya. Dihina, dihina, dicela di telinga kanan dan kiri. Yesus harus mendengar celaan dari bawah juga mencela. Kalau Yesus betul-betul tidak sabar, tidak memiliki kekuatan dari Allah sendiri, Yesus pun akan berespons secara salah ya. Alkitab menjelaskan bahwa Yesus menanggung banyak cela, banyak hinaan, verbal bullying ya dan ini adalah suatu penderitaan yang dialami oleh Yesus Kristus.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, waktu kita dicela oleh orang ya, kita ketika kita di disalah mengerti oleh orang, dianggap orang yang mungkin aneh, dianggap orang yang wah sudah lah nggak layak jadi teman seperti itu ya, atau punya kelemahan, terus kemudian kita juga akhirnya di-bully atau dicela orang. Pada awalnya respons kita harusnya bagaimana sih, Bapak, Ibu sekalian? Pertama-tama ya tentu sebagai orang Kristen kita introspeksi apakah tuduhan, celaan, hinaan dari orang lain itu betul. Kalau betul setidaknya kita dapat teguran untuk kita perbaiki. Tapi kalau dari niat yang jahat, kita juga bisa tahu bahwa dia sedang melakukan dosa. Dia berdosa di hadapan Tuhan karena mencela ciptaan Tuhan. Mencela atau menghina sesama manusia. Tetapi kalau kita tahu bahwa kita dicela bukan karena dosa kesalahan kita, tetapi karena kita melakukan kebenaran, di situ kita boleh bersyukur, bersukacita. “Aku dicela seperti ini, aku berarti mengalami panggilan untuk menderita karena Kristus.” Dicela karena Kristus, maka kita bersukacita.

Seperti apa, sih dicela karena Kristus –Bapak, Ibu sekalian– ya? Di sini pernah merenungkan hal tersebut? Ketika pada akhirnya kita mungkin diejek karena kita sering ke gereja, ya. Terlalu giat melayani itu pun bisa menjadi celaan. “Kamu giat melayani.” Tapi kemudian disodorkan kelemahan-kelemahan kita: di rumah kita atau di dalam pekerjaan kita, itu bisa menjadi celaan. Justru sebenarnya ketika kita mau melayani Tuhan di dalam gereja dengan segala keterbatasan maupun kelemahan kita, itu menunjukkan kita tuh sebenarnya kita mau bertobat bukannya tidak mau bertobat. Tapi kita ada kelemahan, kita mau memperbaiki kelemahan kita sendiri. Ada orang yang dicela karena rajin ibadah minggu, rajin pelayanan. Rajin baca Alkitab pun ada orang menghina. Rajin berdoa pun orang tidak respek, ya, malah menghina, “Apa sih doa-doa? Yang penting kerja dong! Nggak usah banyak doa!” Seperti itu, ya.

Di situ karena hidup bagi Kristus kita dicela orang, dianggap orang yang lemah dan bahkan kita pun bisa dicela karena penginjilan. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di dalam konvensi Injil Internasional minggu lalu, ya, bersyukur, ya lima hari setiap peserta terus dengar khotbah tanpa henti meskipun dengan perjuangan, ya, kesulitan: orang-orang ketika lemah tubuhnya, kecapaian, ngantuk, dan lain-lain tapi berjuang terus mendengarkan Injil. Dan, di situ ada orang-orang yang pada akhirnya, ya ketika mereka jam istirahat, jam makan, bisa kasih traktat kepada orang-orang yang di sekitar kompleks gereja. Wah, kasih traktat. Semangat. Ada semangat menginjili yang muncul ketika orang-orang betul-betul merenungkan tentang Injil, ya. Dan itu semua karena dorongan dari Roh Kudus, ya. Dan saya yakin penjualan traktat STEMI itu meningkat pada waktu Konvensi Injil Internasional. STEMI punya beberapa traktat. Ada yang Mandarin, ada yang bahasa Indonesia, ya. Selama tidak ada Konvensi Injil itu sepi, ya. Tapi kemudian setelah ada Konvensi Injil, orang-orang diajarkan, “Ayo kita mengabarkan Injil dengan seluruh kehidupan kita, ya! Dengan bersemangat! Jangan takut kesulitan, penderitaan. Apa sih kesulitan penderitaan yang kita bisa alami? Kita belum mengucurkan darah seperti Yesus, kok! Kita hanya menerima celaan, bullying.”

Kemudian –Bapak, Ibu sekalian– memang, ya bersyukur kepada Tuhan, ya, ketika pada akhirnya saya sendiri mengikuti suatu pelatihan penginjilan, di situlah mulai hati saya dibakar oleh semangat penginjilan, ya. Kemudian, punyalah gaya hidup membagikan traktat. Sampai berapa tahun, ya saya beli traktat kemudian akhirnya membuat traktat sendiri, tulisan sendiri. Sampai pernah suatu waktu karena saya tidak bawa traktat, ya, saya ambil saya secarik kertas terus tulis pesan saya sendiri terus kasih ke, apa, yang menjaga tempat makanan, ya. Untuk apa? Untuk membagikan Injil. Karena saya tahu bahwa ini pertemuan hanya sekali. Kita bisa feeling kok, “Kapan saya bertemu dengan orang ini? Satu kali atau berulang kali?” Itu bisa, ya. Sebagai manusia yang Tuhan berikan hikmat itu, kita tahu ini cuma sekali. Apa sih yang kita bisa berikan kepada orang untuk mewujudkan kita mengasihi mereka? Injil! Ya, bukan cuman uang, bukan cuman tips, bukan cuman perhatian, tapi Injil itu jauh lebih penting.

Nah, kemudian –Bapak, Ibu sekalian– setelah konvensi itu iman saya diuji juga, ya. Seperti biasa, padahal saya cuma bagikan traktat. Waktu itu naik mobil bersama dengan istri saya. Kemudian ada –di lampu merah– ada penjual sesuatu –nggak usah lah, ya, nggak usah kasih tahu penjual apa– saya panggil, saya mau beli, saya kasih tips, gitu, ya. Saya kasih tips terus saya kasih traktat. Seperti biasa. Terus, si penjual itu duduk di sebelah, di pembatas jalan, di situ. Terus dia lihat. Buka-buka juga, ya. Berapa kali saya lihat orang yang saya berikan, terutama kota besar, terutama kota besar itu dia langsung penasaran, “Apa sih?” Gitu, ya. Langsung dia baca, “Oh, Yesus Kristus.” Kadang ada yang sebut juga, “Oh, Yesus Kristus.” Dan lain-lain biasanya membaca. Dan ketika pada waktu itu di Solo. Di Solo biasanya saya nggak pernah lihat orang itu membaca traktat. Seperti itu, ya. Cuman diberi terus sudah. Tapi karena masih lampu merah –Bapak Ibu sekalian, ya– saya lihat dia duduk terus dia lihat: baca-baca. Terus saya bilang istri saya, “Wah, tuh lihat, ya, traktatnya dibaca.” Kurang lebih, ya. Terus setelah itu dia itu nggak tahu lah, mungkin dia emosi atau marah kayak gitu, ya. Gerak-gerakin badannya. Terus kan sudah lampu hijau, “Oh, lampu hijau.” Terus saya jalan lewatin dia. Saya lihat bahwa traktatnya tuh dilempar ke bawah, jalan tersebut, ya. “Oh, itu traktat saya!” Saya emosi, kan? Pengin klakson dia, ya. Klakson. Udah dikasih loh, ya. Udah dikasih. Maksudnya kalau menolak pun, ya sembunyi-sembunyi buangnya. Gitu, ya, jangan di depan saya, gitu. Terus kemudian saya klakson: tut! (suara klakson) terus pergi. Wah, kayak gitu saja bisa emosi loh. Ini, ya, saya, ya.

Orang tidak terima traktat. Anak remaja pernah di Solo itu kita ajarkan, kasih traktat. Dirobek di depan anak remaja tersebut, ya. Untung anak remajanya tenang-tenang saja, ya. Tapi kita ini, kita sudah kasih uang, kasih tips, kasih perhatian. Saya nggak butuh produknya dia. Saya panggil dia. Saya mau mengasihi dia. Saya kasih traktat. Eh, dibuang traktatnya, ya. Dibuang traktatnya. Saya pikir, “Wah.” Terus muncullah kalimat: orang tuh mau ambil uang, tapi nggak mau ambil Yesusnya. Orang tuh pikir maunya tuh uang. Uang jauh lebih penting daripada Tuhan Yesus Kristus. Ambil uang, buang Yesus Kristus. Itu manusia berdosa. Lalu sebagai Kristen kita harusnya menerima Yesus Kristus sekalipun nggak ada uang. Kita terima Yesus Kristus. Jangan kita akhirnya cinta akan uang. Seperti itu, ya.

Nah, di sini kita bisa lihat bahwa kita tuh bisa dicela karena Kristus. Karena kita mengabarkan Injil dengan baik, hati yang baik, ya. Tapi kemudian tidak mendapatkan respons yang menurut kita adilnya tuh seperti apa sih? Kita sudah baikin orang, orang baikin kita, dong. Tapi ternyata tidak. Kita bisa baikin orang, kita bisa kabarkan injil kepada orang, orang ludahi kita, orang benci sama kita. Karena apa? Karena dosa, ya, karena berdosa di hadapan Tuhan. Ini adalah celaan, ya. Dari mulut saja kita bisa marah. Dan kalau kita tidak menjaga hati kita, kita bisa melakukan dosa ketika kita dicela karena melakukan firman Tuhan, ya.

Harusnya responnya seperti Yesus, ya. Udah beritakan firman, ditolak, Yesus tuh nggak marah gitu, ya, enggak mengutuk, ya. Yesus menegur, Yesus sabar, dan Yesus tepat menegur kepada orang itu secara tepat. Yesus seringkali mengatakan kalimat-kalimat tajam, kalimat-kalimat yang sebenarnya menyakitkan, yaitu mengatakan orang Farisi, ahli Taurat, pemimpin agama Yahudi itu seperti ular beludak, “Ular kamu itu!” Yesus pernah mengatakan kepada Petrus itu, “Enyahlah iblis!” Yesus mencela apa? Apakah Yesus tuh mencela karena Dia melakukan kebenaran? Bukan. Yesus mencela juga. Ada mencela karena apa? Karena kebenaran, ya. Menegur dosa, ya. Yesus mencela dosa orang. Yesus menegur dengan keras supaya orang itu bisa kembali bertobat kepada Tuhan. Jadi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ini tidak mudah, ya. Kita merenungkan soal celaan demi celaan.

Dan yang kedua, di sini Yesus menyatakan lebih parah lagi. Kalau bicara soal mulut saja kita bisa perang mulut, gitu, ya. Tetapi ini dikatakan penganiayaan. Kita sudah membahas di pertemuan ucapan bahagia sebelumnya bahwa penganiayaan itu adalah bicara soal bagaimana seseorang itu mengejar, menangkap, menindas, mengusir. Itu namanya penganiayaan –dalam bahasa Alkitab, ya, bahasa Yunaninya– itu berarti apa? Suatu penderitaan fisik. Kalau sudah pukul, itu menganiaya. Tanpa kata-kata. Ini secara fisik. Kejahatan secara fisik Yesus pun mengalaminya. Yesus dianiaya secara fisik, bukan secara kecelaan, ya, hinaan kata-kata. Yesus pun sering diusir karena iman-Nya kepada Tuhan, ya. Bahkan para pengikut Kristus pun banyak yang mati martir. Seperti Stefanus sebagai martir pertama dari gereja Tuhan. Juga banyak sekali orang-orang Kristen, yang karena menyatakan kebenaran karena menyatakan firman Tuhan, akhirnya orang benci dan membunuh orang Kristen tersebut. Meskipun tidak secara fisik, tetapi secara relasi: “Sudah, diputus aja! Sudah nggak mau dengar lagi, nggak mau kontak sama dia lagi”, karena imannya.

Dan kita juga baru-baru ini dengar orang Kristen pun dibunuh, ya lewat tembakan di Amerika. Begitu banyak orang-orang yang dibunuh karena imannya, karena menyatakan kebenaran. Dan banyak juga kisah-kisah di Indonesia bagaimana orang-orang non-Kristen pada akhirnya apa? Pada akhirnya menjadi Kristen tapi harus diusir oleh keluarganya. Langsung diusir oleh papa mamanya, ya. Seringkali terjadi demikian. Ada juga yang ketika menjadi Kristen, “Udah, nggak usah dikasih uang lagi!” Nggak akan mendapat bagian warisan dari keluarga yang non-Kristen. Itu banyak sekali terjadi dan itu betul-betul dialami oleh kita. Di Indonesia, ya. Kita alami sendiri. Di kota kita sendiri. Banyak penganiayaan yang terjadi karena Kristus, karena kebenaran.

Dan Yesus pun mengalami penganiayaan bahkan sejak bayi, ya. Sejak bayi pun Yesus mengalami penganiayaan. Yesus lahir di Betlehem, Raja Herodes mau membunuh Yesus Kristus, ya. Raja Herodes benci dengan Yesus Kristus. Itu bayi, loh. Bayi aja langsung dibenci. Itu Yesus Kristus, ya. Langsung mau dibunuh. Sampai Herodes memerintahkan pembunuhan semua anak laki-laki berusia di bawah dua tahun di Betlehem demi membunuh Yesus. Yang dianiaya bukan hanya Yesus, bayi-bayi lain pun, keluarga lain pun, di kota Betlehem itu, banyak yang mengalami penganiayaan, banyak yang mengalami kesedihan, ya. Yusuf dan Maria harus melarikan diri ke Mesir untuk menyelamatkan bayi Yesus. Sejak bayi Yesus dianiaya, dibenci, bahkan harus diusir dari kota kelahiran-Nya. Dari Betlehem ke Mesir dulu, ya, kemudian nanti di Nazaret, ya.

Yesus dikhianati oleh murid sendiri yaitu Yudas. Itu pengkhianatan yang berdasarkan ciuman, ya. Ciuman menyatakan kasih, kesetiaan, tapi ciuman Yudas ini menyatakan penganiayaan yang menunjukkan bahwa, “Inilah Orang yang kamu harus tangkap, para penjaga!” Ya, Yudas mencium Yesus, mengkhianati Yesus. Yesus dijual dengan harga 30 keping perak. Yesus ditangkap secara paksa di Taman Getsemani. Dipukuli, diludahi, ya, ditampar, disesah, dicambuk dengan kejam, dan juga dikenakan mahkota duri sampai luka dan berdarah. Dipaksa memikul salib dan Yesus pun disalibkan. Penganiayaan apa sih yang Yesus tidak pernah alami, ya, untuk keselamatan hidup kita? Ketika kita merenungkan salib –Bapak, Ibu, Saudara sekalian– itu adalah, salib itu mengingatkan kita bahwa Yesus itu dianiaya, Yesus dicela, Yesus difitnahkan segala yang jahat sehingga Yesus tergantung di atas kayu salib. Tetapi kita bisa tahu bahwa salib itu juga merupakan suatu lambang mulia karena Tuhan pakai salib tersebut sebagai sumber jalan keselamatan bagi kita semua. Yesus sungguh-sungguh dianiaya.

 Bapak, Ibu sekalian, saya merenungkan, ya, kalau Yesus Kristus yang diikuti oleh banyak orang,- kita bisa sebutkan Yesus juga bisa dikatakan pemimpin agama lah, meskipun Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat-siapa pemimpin agama yang dianiaya seperti Yesus Kristus? Ya, saya pikirkan. Lalu, dengan cara mudah, saya tanya chat GPT saja. Tanya, ya, chat GPT. “Chat GPT, siapa sih, pemimpin agama yang pernah mengalami penganiayaan dan penderitaan seperti Yesus Kristus?” Jawabannya: “Nggak ada.” Siddhartha Gautama? Tidak. Muhammad? Tidak. Kong Hu Cu? Tidak. Musa pun, pemimpin agama orang Yahudi tidak pernah dianiaya seperti Yesus Kristus. Paling banter, mereka mengalami verbal bullying. Ya, dihina, dikatakan salah, tetapi yang dianiaya seperti Yesus, pemimpin agama nggak ada. Nggak ada yang pemimpin agama dihina, dianiaya, difitnah, dicela, sampai mati di atas kayu salib. Kemudian, kita ikuti jalan-jalan Dia.

Kalau kita ikuti jalan Yesus Kristus, berarti kita pun sebenarnya, ya, beriman bahwa kita itu harus siap menderita seperti Yesus, sekalipun kita tahu bahwa penderitaan kita tidak akan melebihi penderitaan Yesus Kristus. Maka, kalau kita mau mengikut orang, Bapak, Ibu sekalian, harusnya kita ikut orang itu yang sehat-sehat, bahagia, tanpa dosa, tanpa aniaya, tanpa cela kan? Yang mayoritas saja agamanya. Yang mayoritas, aman, pemimpin agamanya mati tua, bukan karena dihukum, disalibkan. Tetapi, ketika kita percaya kepada Yesus saja, itu suatu hal yang mukjizat. Kita mengikuti pemimpin agama yang seperti itu. Dicela, dianiaya, disalib, difitnah.

Yesus mengalami penganiayaan yang begitu besar, maka kalau Yesus bukan Allah, bukan Juruselamat, siapa yang mau ikut Dia? Kalau Yesus bukan Allah, bukan Juruselamat, siapa yang mau mengikut Dia untuk sampai harus mengalami aniaya yang begitu besar? Maka, kita lihat, ketika Yesus dianiaya, para murid Yesus pun banyak mengalami aniaya dan mereka berbahagia. Paulus berbahagia. Petrus berbahagia. Yohanes berbahagia. Mereka setia karena yang mereka percayai adalah Allah yang sejati yang menyelamatkan mereka semua. Stefanus dipukuli batu, dia tahan. Dia nggak menyangkali Yesus. Pukuli batu, dia kuat. Dia ada sukacita yang besar dari Kristus bahwa apa yang dia percayai itu tidak salah. Ini Yesus Kristus, ya, luar biasa.

Polikarpus dari Smirna, murid Rasul Yohanes, uskup Smirna, ya. Dikatakan, dia dituduh menghina kaisar karena menolak untuk menyembah kaisar. Nanti, andai, ya, mungkin pemimpin negara kita meminta kita menyembah dia. Bagaimana respons kita sebagai orang Kristen, ya? Apakah tunduk menyembah kepada patung presiden atau presiden itu sendiri? Kita harus siap-siap. Kita nggak boleh sujud menyembah kepada manusia. Polikarpus menolak untuk menyembah kaisar. Polikarpus mengerti bahwa, “Berikanlah yang seharusnya menjadi milik kaisar.” Dia berikan. Dia berikan pajak. Dia taat pemerintah, tetapi ketika pemerintah menjadikan dirinya adalah Allah, dia nggak mau taat. Apa hasilnya, Bapak, Ibu sekalian? “Ya, kamu sujud menyembah!” Akhirnya, dibakar. Harus menanggung api. Dibakar hidup-hidup. Sebelum dia mati, dia berkata: “86 tahun, aku melayani Kristus. Ia tidak pernah buat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku menghujat Rajaku yang telah menyelamatkan aku? Aku rela dibakar demi Kristus.” Rela dianiaya karena Kristus. Upahnya besar di surga.

Di dalam bulan Oktober, kita mengingat reformasi gereja. Reformasi gereja juga penuh dengan darah, penuh dengan pengorbanan orang-orang yang dicela, dianiaya, difitnah karena kebenaran, karena Kristus. Martin Luther dan John Calvin pun sama, mengalami celaan, mengalami penganiayaan, mengalami fitnahan, diusir, mau ditangkap, bahkan mau dibunuh. Ini adalah salib kita sebagai orang-orang Kristen. Siap-siap. Yesus mengatakan, ya, di dalam ucapan bahagia ini. Siap-siap. Ini suatu ujian iman yang terberat. Bagaimana kita dicela, dianiaya, difitnah karena Kristus.

Dan yang ketiga, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita merenungkan fitnahan. Fitnahan berarti sebuah tuduhan, sebuah perkataan yang tidak benar, yang ditujukan kepada orang dengan maksud untuk membunuh, menjatuhkan, mencemarkan nama baik, atau juga menyesatkan orang lain, ya. Ini adalah fitnahan. Fitnahan kembali dengan kata-kata, tetapi ujung-ujungnya adalah untuk fisiknya juga, melukai secara fisik, menjatuhkan sampai mati, sampai membunuh orang tersebut. Yesus pun sama, Bapak, Ibu sekalian, ya. Yesus pun banyak mengalami fitnahan di dalam kehidupan-Nya.

Orang Farisi dan ahli Taurat memfitnah Yesus sebagai anak haram dan sebagai seorang keturunan dari pezinah, orang yang berzinah. Yesus betul-betul dihina. “Ini anak haram. Nggak usah dengerin! Orang tua-Nya saja salah, bagaimana orang tua mendidik anaknya? Orang tua-Nya saja berzinah, sangat mungkin anaknya berzinah. Sudah, jangan dengarkan Dia! Dia ini keturunan orang berdosa! Keluarga tercemar. Broken home.” Yesus difitnah demikian, padahal Yesus tidak demikian. Tiga setengah tahun, Yesus mendapatkan label tersebut, celaan tersebut, fitnahan tersebut. Yesus juga dituduh sebagai nabi palsu karena orang Farisi dengan kepintarannya, ya, membuat teori bahwa, “Apakah ada nabi yang datang dari Provinsi Galilea? Nggak ada! Nabi-nabi itu muncul dari Provinsi Yudea. Orang-orang pintar. Orang-orang yang takut akan Tuhan. Orang-orang yang dekat dengan Bait Suci. Ini Yesus lahir di utara Provinsi Galilea yang jauh dari Bait Suci. Mana ada nabi di sana?” Yesus dituduh sebagai nabi palsu.

Yesus bukan hanya dituduh seperti itu. Yesus juga dianggap sebagai orang yang rakus, pelahap, peminum, orang yang cinta akan uang. Sahabat pemungut cukai berarti Yesus cinta akan uang juga karena kebanyakan pemungut cukai rela menjadi pemungut cukai, padahal dia orang Yahudi demi mendapatkan uang. Dianggap sebagai orang yang cinta akan uang. Dan juga dekat dengan pelacur. Yesus itu dianggap sebagai orang berdosa juga. Banyak kedagingan. Waktu Yesus melakukan mukjizat pun, Bapak, Ibu sekalian, Yesus pun dianggap sebagai orang yang menggunakan kuasa setan, penghulu setan. Dia minta kuasanya untuk pada akhirnya mengusir setan dan melakukan mukjizat di hadapan Tuhan. Semua pelayanan  yang Yesus lakukan dianggap salah oleh orang Farisi. Begitu banyak, ya, fitnahan demi fitnahan yang Yesus terima. “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab ia tidak memelihara hari Sabat.” Yesus pun dianggap sebagai pelanggar hukum Taurat. Yesus berbuat baik di hari Sabat. Wah, salah! Yesus menyatakan kasih di hari Sabat, salah. Dianggap salah, dianggap bodoh. Tetapi, apa respons Yesus, Bapak, Ibu sekalian? Kalau kita lihat 3.5 tahun pelayanan publik-Nya dicela, dianiaya, difitnah, Yesus itu banyak diam, banyak sabar. Dia sungguh-sungguh menahan murka-Nya dan Dia bisa mengendalikan diri-Nya. Dia tidak bela diri juga. Dia tidak bela diri untuk menunjukkan Dia itu benar seperti ini. Nggak. Dia sudah sebutkan sekali, ya, sudah. Dia jelaskan kepada orang-orang. Dia jelaskan kebenaran-Nya.

Bapak, Ibu sekalian, pernahkan kita difitnah karena Kristus? Difitnah karena kita melayani Dia? Ya, mungkin kita sering kali bisa difitnah juga. Kita melayani, tetapi, “Oh, dia melayani bukan karena ketulusan, tetapi karena ingin sesuatu. Nama, penghormatan, ingin uang,” misalkan seperti itu, ya. Kita bisa difitnah, dihina karena motivasi kita yang dianggap salah oleh orang lain, padahal tidak, ya. Nah, kalau konteks sekarang, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ya,- di zaman Yesus Kristus kalau ada seorang hamba Tuhan yang difitnah bahwa, “Oh, mamanya adalah seorang pelacur!” misalkan, ya. Kan itu bayangannya demikian, ya. Yesus difitnah bahwa Maria itu pelacur, pezinah. -Sekarang, di zaman sekarang, ada seorang pendeta yang orang tuanya difitnah. “Oh, mama kamu itu pelacur. Kamu nggak layak melayani Tuhan!” Bisa demikian, ya. Kita bisa alami pemfitnahan-pemfitnahan demikian. Dituduh fanatik lah, ya, orang-orang reformed sering kali dituduh demikian. Orang reformed itu dingin-dingin, sombong-sombong. Bukan sombong-sombong, kita itu justru hati-hati kepada orang. Kita memperlakukan orang dengan baik, dengan sopan, dengan tepat. Tidak sembarangan sok, tidak SKSD, ya, Sok Kenal Sok Dekat. Kita mau ramah? Mau. Tetapi, apakah keramahan kita ditentukan 1x pertemuan? Yesus kalau ditentukan 1x pertemuan, ketika orang mendengar Dia sedang menegur orang Farisi, “Kamu ular beludak!” Ya, Yesus dianggap orang yang dingin, kejam, jahat dong kalau hanya mengenal orang itu dari 1x pertemuan. Kita nggak boleh cepat menghakimi. Kita nggak boleh menghakimi dengan sembarangan, tetapi yang namanya manusia, ya, menilai orang dari yang kelihatan. Langsung dinilai. Maka, itu sulitnya orang Kristen. Kita nggak boleh jadi batu sandungan. Kita juga tidak boleh menimbulkan pemikiran dari orang lain yang negatif tentang perbuatan kita. Maka, Yakobus mengatakan, “Kamu itu hati-hati dalam hidupmu seperti kamu di depan pengadilan. Seperti di depan hakim.  Nggak boleh salah ngomong, nggak boleh salah bersikap, nggak boleh salah berperilaku. Nanti, orang tuduh, hakimi, bagaimana?” Ya, tetapi  kita mau supaya hidup kita betul-betul menyatakan cinta kasih Kristus. Kita bukan orang yang sombong. Kita ini mau mengasihi orang dengan tepat. Kita mau di dalam konteks gereja, ya, kita serius beribadah kepada Tuhan. Kita sedang berhadapan dengan Tuhan. Kita nggak bisa sembarangan. Kita mau untuk saling mengasihi sesuai dengan kasih dari Tuhan sendiri, ya.

Fitnahan demi fitnahan muncul juga kepada orang-orang Kristen. Ada salah satu orang yang sebelum reformator dari Prancis atau Jerman itu muncul, yaitu reformator dari Bohemia atau Republik Ceko. Itu tahun 1415. Itu namanya Jan Hus, Bapak, Ibu sekalian. Dia adalah seorang reformator yang mendahului Martin Luther maupun Calvin. Dia difitnah menolak ajaran gereja. Jadi, gereja pada waktu itu kan punya kuasa penuh. Ngomong-ngomong jelek soal gereja? Wah, itu hukumannya besar sekali. Itu sama seperti ngomong kejelekan negara komunis. Wah, langsung dihukumlah! Kurang lebih kayak gitu, ya. Nah, pada waktu itu, Jan Hus menyatakan ajaran firman Tuhan yang benar, tetapi difitnah bahwa dia itu menolak ajaran semua gereja. Dianggap juga menghujat sakramen. Nah, karena fitnahan ini, dia juga dibakar. Dibakar, terus hukuman aniaya pada waktu itu dibakar. Dibakar, dibakar, ya. Dan karena apa? Karena dia menolak mencabut kebenaran yang diajarkan. Dan kalimat-kalimat seorang yang betul-betul menderita karena Kristus itu dicatat di sepanjang sejarah gereja, ya. Dia mengatakan bahwa, “Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah disalibkan untukku. Maka, dengan sukacita, aku pun akan mati untuk-Mu.” Yesus mati untukku, dengan sukacita aku pun mati untuk-Mu. Wah, ini adalah suatu iman yang sangat besar. Sekalipun dianiaya, diecela, kita pun tidak bergeming, tidak mundur, tidak putus asa, tidak menyalahkan Tuhan, kita sedia, dan bahkan menganggap bahwa penderitaan yang saya alami karena iman saya ini tidak sebesar pengorbanan Yesus Kristus yang sudah Yesus lakukan bagi saya. Ya, seperti Polikarpus dia mengatakan, ya, “86 tahun saya ikut Yesus, Yesus nggak pernah salah. Masa saya mau mengecewakan Dia? Tuhan Yesus sudah mati untuk saya.” Jan Hus katakan, ya, masa saya tidak mau mati bagi Dia?” Oh, ini adalah suatu respons seseorang yang betul-betul rela melayani dan setia pada Kristus. Seringkali celaan, aniaya, maupun fitnahan, Bapak, Ibu sekalian, itu terjadi saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Orang yang memukul kata-katanya kasar. Orang yang mencela itu betul-betul ingin melukai orang ya. Orang yang memfitnah berkaitan juga dengan fisik, e melukai fisik ya. Nah, bila kita alami semua hal itu karena Kristus ya, maka bersukacitalah sebab upahmu besar di surga. Berarti kita diminta sebagai orang Kristen itu menganalisa penderitaan kita itu karena apa ya? Cela, aniaya, fitnahan itu karena apa? Karena Kristus atau karena kesalahan kita? kebodohan kita, kegagalan kita, kelalaian kita. Kalau
karena Kristus, mari bersukacita. Mari tetap setia. Lakukan saja ya. Jangan berubah setia. Tetap setia kepada Tuhan. Kita harus bertobat kalau memang itu kesalahan kita, ya.

Nah, di bagian penutup ucapan bahagia ini, Yesus berikan pengharapan eskatologis. Ada upah yang menanti bagi yang setia. Nah, Bapak, Ibu sekalian, berarti kita bisa lihat bahwa upahmu besar di surga. Ada perbedaan upah di antara kita semua meskipun sama-sama orang Kristen. Orang yang semakin banyak dicela, dianiaya, difitnah karena Kristus, upahnya semakin banyak. Kok bisa? Karena waktu dia setia menjalankan firman ya, dia sedang menambah harta kekayaan surgawi. Ketaatan kita tuh Tuhan hitung semua. Kalau kita berdasarkan ee bidang ekonomi gitu ya, ada ledger atau ada buku besar itu kita catat penerimaan pemasukan neraca itu, ya neraca pengeluaran biaya dan lain-lain. Yang Tuhan catat itu apa sih dalam kerohanian kita? Yaitu taat kita berapa. Ini taat, ini tidak taat, ini taat, tidak taat, dihitung semua. Semakin banyak taat berarti kita semakin banyak harta surgawi. Semakin banyak taat berarti kita semakin banyak upah di surga.  Kita semua orang Kristen sudah pasti masuk surga, itu penghakiman yang pertama. Barang siapa percaya kepada Yesus tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Itu penghakiman yang pertama. Tetapi penghakiman yang kedua di surga maupun di neraka. Di surga hanya ada upah, hukuman sudah ditanggung oleh Yesus Kristus. Upahnya beda. Ada yang besar, ada yang kecil. Di neraka hanya ada hukuman. Hukumannya pun beda. Karena Tuhan adil ya. Ada hukuman yang besar, ada hukuman yang kecil. Itu penghakiman yang kedua. Ya, penghakiman yang terakhir memang ya itu akhir zaman maksudnya ya. Tapi ada dua jenis penghakiman yang kita bisa renungkan dan Yesus sudah nyatakan di dalam ucapan bahagia ini. “Kalau kamu betul-betul setia, maka upahmu besar di surga.”  Seperti siapa? Nabi-nabi sebelum kamu yang sudah setia melayani Yesus Kristus.

Jadi, Bapak, Ibu sekalian ya upah kita nanti itu betul-betul ditentukan ya oleh perbuatan kita ya. Jangan pikir semua orang masuk surga itu sama ya. Sama-sama selamat. Memang sama-sama selamat tapi upahnya beda. Kemuliaannya berbeda. Mahkota yang Tuhan berikan berbeda. Dan ini bukan secara jasmani atau materi ya, tetapi secara rohani. Maka dari itu, lewat hal ini Yesus mengajarkan pengharapan eskatologis. Jangan putus asa ketika kamu menderita karena Kristus. Jangan mundur imanmu ketika banyak masalah terjadi ataupun sesuatu hal itu tidak sesuai dengan pengharapan kamu. Ya, banyak orang sekali punya banyak orang ya berpengharapan yang bagus-bagus di masa tuanya. Eh, tahunya istri ataupun suaminya meninggal dunia. Yang lebih ada lagi ya ketika saya mengunjungi satu orang sudah umur 50-an, anak-anak mulai besar cari kerja. Eh, istrinya sakit stroke. Sakit stroke sampai nggak bisa apa-apa, sudah seperti bayi lagi. Wah, dia bergumul ya, bergumul. Bagaimana nih? Saya punya harapan-harapan mencukupi anak-anak, menikahkan anak-anak kayak gitu ya. Tapi semua dana akhirnya habis kepada istri pada waktu itu ya. Karena harus ngurusin istri. Tapi dia tetap setia. Dia nggak mau mengabaikan istri, nggak mau selingkuh, nggak mau akhirnya melakukan hal-hal yang jahat. Istrinya stroke seperti bayi lagi. Saya mau bebas kok sudah membesarkan anak, saya mau bebas harus ngurusin lagi bertahun-tahun habis uang. Pekerjaan terbatas. Anak-anak juga jadi mikirin mamanya. Satu sisi kita bisa rasa wah kehidupan itu bukan sesuai harapan kita seperti itu, ya. Tapi Tuhan izinkan hal itu terjadi.

Maka kita perlu ingat bahwa Roma 8 ayat 28 ya. Ya, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia.” Jadi kalau kita mengasihi Dia, apapun yang terjadi, hal buruk yang terjadi dalam kehidupan kita, kalau kita mengasihi Kristus, upah kita tetap besar di surga. Kalau kita betul-betul melayani, taat, setia, jangan lakukan dosa terhadap situasi kondisi yang buruk di dalam kehidupan kita. Di masa depan mungkin sekali banyak hal yang pada akhirnya kita dicela, dianiaya, difitnah karena Kristus, tapi dari bagian firman Tuhan ini kita diajarkan untuk berespons secara tepat dan tetap setia karena ada reward yang Tuhan berikan dan karena kita tahu bahwa kita itu hidup karena Kristus.

Maka dari itu, Bapak Ibu sekalian, respon yang paling tepat terhadap segala penderitaan itu adalah seperti Yesus Kristus. Yesus itu benar Dia mengampuni, Dia tidak balas kejahatan dengan kejahatan, ya. Orang mencela Dia, Dia diam, tidak balas mencela. Orang menganiaya Dia, Dia diam, tidak balas melakukan kekasaran gitu ya. Dia bahkan mendoakan musuh-musuh-Nya, mengampuni mereka yang bersalah. Ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Wah, ini adalah suatu teladan yang sangat sulit kita kerjakan dalam kehidupan kita.

Pendeta Stepen Tong pernah menceritakan kisah tentang aniaya dan mahkota atau upah yang menanti, ya. Kisah ini sangat inspiratif diingat oleh Pak Tong juga. Dia ceritakan bahwa ada 10 orang Kristen yang sedang ditangkap kekaisaran Romawi. Dianiaya karena iman mereka, karena Kristus gitu ya. Terus kemudian itu pada waktu itu di kekaisaran Romawi itu pada waktu itu sedang musim dingin, lalu para penjaga itu pengen mencobai atau ngerjain 10 orang Kristen ini. Dimasukkanlah mereka ke danau yang cukup besar, telaga seperti itu ya. Padahal musim dingin disuruh mereka telanjang. Ayo masuk semuanya ke danau tersebut, maka kalau kalian menyangkal Yesus, maka aku akan janjikan kebebasan. Kalian boleh keluar dari danau tersebut, gitu ya. Waktunya kapan? Tidak ditentukan. Pokoknya kami pengennya kapan kalian terus kalian ada di danau tersebut, untuk para prajurit tersebut ya. Terus kemudian 2 jam berlalu mereka tahan mau setia kepada Kristus, menolak untuk mengambil kenyamanan, membebaskan diri dari telaga tersebut. 10 orang ini hampir mati. Lalu pada akhirnya kita lihat ada satu orang yang mengangkat tangan dan menyerah karena imannya. Sudahlah saya menyangkal Yesus, saya tidak percaya Yesus, saya menolak Yesus, saya mau supaya saya hidup tidak mati pada hari ini. Terus kemudian orang ini beranjak keluar dari danau. Tiba-tiba di samping danau tersebut ada seorang prajurit Romawi itu buka pakaiannya, buka bajunya, kemudian langsung cepat-cepat masuk ke danau tersebut menggantikan orang yang baru keluar dari danau tersebut. Semua orang bingung. Orang-orang Kristen yang sedang di danau itu bingung. Para prajurit Romawi juga bingung dan teman-temannya tuh bingung. Lalu bertanya kepada orang tersebut, ya si prajurit yang sudah di danau. Kenapa sih kamu itu kok malah mau kamu yang masuk ke danau? Ya, bukankah kamu itu prajurit Romawi? Kamu tidak percaya kepada Kristus, kan? Terus ketika ditanya temannya itu, si prajurit Romawi yang sudah telanjang di danau itu dengan berlinang air mata, dia katakan, “Waktu aku lihat orang-orang Kristen dianiaya, aku tidak mengerti kenapa mereka mau dianiaya selama 2 jam ini. Aku tidak tahu mengapa mereka tetap setia kepada Kristus padahal mereka kedinginan dan hampir mati.” Aku nggak bingung. Aku bertanya-tanya, “Kenapa sih mereka itu mau mempertahankan imannya demi Kristus?” Bukankah Kristus itu bukan Allah?  Ya kan? Tidak percaya ya. Terus saya lihat ini orang-orang tua, mereka punya istri, mereka punya anak.
Mereka nggak sayang istri sama anaknya kalau mereka mati demi Kristus itu gitu ya? Kenapa sih mau disiksa untuk pertahankan iman?

Tapi kemudian si prajurit Romawi ini sesaat dia tidak mengerti lalu waktu itu dia melihat ke langit ya, dia melihat ke langit ke atas. Terus ada malaikat yang turun dengan membawa 10 mahkota. Semakin dekat, semakin dekat. Sampai ada teriakan, “Saya tidak mau Yesus. Saya menolak Yesus. Lepaskan saya.” Jadi ketika malaikat itu mau menghadiahkan mahkota itu, malah satu orang Kristen ini loncat keluar. Maka waktu prajurit Romawi melihat itu, dia cepat-cepat ganti dia yang mau dapat mahkota dari surga. Prajurit ini mengerti bahwa berharganya menjadi orang Kristen. Di dunia dianiaya, tetapi di surga mendapatkan mahkota yang begitu mulia. Maka dari itu, dari kisah ini, Bapak, Ibu sekalian, kita belajar untuk jangan mundur terhadap iman kita. Tetap bertahan. Ya, harusnya kita yang benar, yang kuat, yang bertahan. Yang salah, yang tidak bertahan, yang salah yang mundur. Kita yang benar, kita yang dalam Kristus harus bertahan untuk memuliakan Tuhan. Jangan mundur di tengah jalan ketika kita mengalami celaan, aniaya, fitnahan karena iman kita. Kita harus setia terus kepada Kristus. Mari kita terus belajar setia mengabarkan Injil. Coba jalankan amanat agung Tuhan Yesus Kristus. Ketika ada tantangan, jangan mundur. Hadapi bersama dengan Tuhan. Maka kita mengerti panggilan kita untuk menderita karena Kristus. Dan semakin kita pada akhirnya taat kepada Kristus, meskipun banyak celaan dan aniaya, kita memiliki upah yang besar di surga. Amin. 
Mari kita sama-sama berdoa.

Bapa kami yang di surga, kami bersyukur pada pagi hari ini kami boleh diingatkan kembali tentang ucapan bahagia dari Tuhan Yesus Kristus. Bagaimana Yesus Kristus mengajarkan kami untuk setia kepada Engkau meskipun ada celaan, ada aniaya ataupun fitnahan karena iman kami kepada Kristus. Tolonglah kami Tuhan untuk bertahan dalam segala penderitaan dan juga untuk melayani Kristus dengan setia seumur hidup kami. Kami tidak mau mundur di tengah jalan. Kami mau setia melayani Kristus, mengabarkan Injil sampai hari kematian kami, sampai pada akhirnya Yesus datang kedua kalinya ke dalam dunia ini dengan penuh kemuliaan dan hormat. Kami menyerahkan Tuhan hidup kami ke dalam tangan Tuhan. Kiranya kami boleh senantiasa setia, taat, dan mencari, mengejar harta surgawi, bukannya harta duniawi. Kami menyerahkan Tuhan hidup kami ke dalam tangan Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin