Kebangunan Doa, 19 Oktober 2025

Kebangunan Doa

Pdt. Elvis Ratta

Bapak, Ibu, Saudara sekalian yang dikasihi oleh Tuhan, pada bulan ini kita merayakan bulan reformasi. Reformasi tidaklah hadir secara kebetulan. Reformasi hadir karena ada satu kegelisahan yang Tuhan berikan kepada orang-orang yang dipilih-Nya untuk menghadirkan kembali satu perjuangan, untuk kembali kepada Alkitab. Di tengah-tengah pergolakan, pengajaran yang sudah mulai menyimpang pada waktu itu, kita melihat doktrin yang sudah diselewengkan, adanya indulgentia (surat penghapusan dosa), adanya kehidupan moral yang semakin rusak oleh pemimpin-pemimpin agama, dan begitu banyaknya kehancuran yang terjadi pada waktu itu. Dan kita melihat bagaimana Tuhan yang memimpin tokoh-tokoh reformasi untuk dipakai membangunkan kembali satu kebangunan rohani besar-besaran pada waktu itu. Sebelum Martin Luther, tentu kita kenal ada William Tyndale, Jan Hus, Wycliffe, dan seterusnya. Tapi memang di masa Martin Luther lah kita melihat bagaimana Tuhan menghadirkan itu, gaungnya begitu besar, sehingga itu menyebar ke seluruh Eropa dan seterusnya.

Kenapa ada reformasi? Seorang teolog reformed dari Brazil bernama Augustus Lopes pernah berkata, “Reformasi muncul karena adanya deformasi.” Reformasi muncul karena adanya kerusakan yang terjadi. Itu sebabnya ketika di bulan ini kita memperingati kembali sebagai bulan reformasi, tetapi kita tidak hanya berbangga dengan apa yang sudah terjadi di masa lampau. Kita tidak boleh hanya mengingat-ingat apa yang Tuhan sudah lakukan di masa yang lampau. Tapi seperti kata Pdt. Stephen Tong, “Spirit daripada reformasi harus dihidupi, harus diteruskan kepada generasi-generasi selanjutnya.” Itulah sebabnya Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau Saudara berada di gereja ini, berarti Saudara berada di satu gerakan yang memperjuangkan kembali bagaimana perjuangan untuk kembali kepada firman, back to the Bible.

Saudara-saudara sekalian, itu sebabnya pada waktu kita mulai merenungkan akan topik tentang kebangunan doa ini, adalah satu tema yang sangat signifikan ketika kita merenungkan kembali apa yang Tuhan pernah lakukan, yaitu adanya sebuah kebangunan rohani besar-besaran. Tetapi jangan lupa, bahwa kebangunan rohani atau reformasi itu tidak dimulai dari ruang rapat. Reformasi itu tidak dimulai dari rapat-rapat yang dilakukan dari beberapa orang. Tetapi reformasi itu, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita harus ingat kembali adalah dimulai dari lutut-lutut yang berdoa. Itulah sebabnya hari ini, kalau kemudian kita mulai merenungkan kembali apa itu yang namanya “reformasi”, bagaimana semangat reformasi itu dimulai, dan haruskah reformasi itu kembali diperjuangkan hari ini? Saya kira ini tidak menjadi pertanyaan lagi bagi setiap kita. Perjuangan Gerakan Reformed Injili adalah perjuangan yang seharusnya terus diperjuangkan oleh anak-anak Tuhan. Di tengah banyaknya orang-orang yang sudah mulai menyimpang dari ajaran-ajaran yang benar, kita melihat Tuhan mengasihi zaman ini. Tuhan kemudian menghadirkan gerakan reformed untuk berjuang kembali kepada firman. Di tengah-tengah kelesuhan gereja-gereja mengabarkan Injil, kita bersyukur ada api yang Tuhan kembali berikan untuk membangunkan semangat pengabaran injil.

Tetapi Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Gerakan Reformed Injili itu dimulai dari mana? Kita sering kali melihat kendaraan ketika berjalan. Bahan bakar, bensin, atau solar menggerakkan mesin itu. Atau mobil-mobil listrik sekarang digerakkan oleh apa? Daya listrik yang ada di dalam alat yang kemudian menghasilkan gerak daripada mesin itu. Kita mungkin memahami bahwa tidak mungkin kendaraan bisa berjalan tanpa bensin atau tanpa bahan bakar. Kita memahami bahwa tidak mungkin mobil-mobil listrik bisa digerakkan kalau tidak ada arus listriknya di dalam. Tetapi sering kali kita lupa bahwa apa yang menggerakkan daripada kebangunan rohani itu adalah doa. Doa itu adalah bahan bakar. Doa itu adalah sesuatu bahan bakar di dalam menggerakkan daripada kerohanian seseorang. Dan pertanyaannya hari ini adalah, apakah kehidupan doa masih menjadi bagian di dalam kehidupan kerohanian kita? Atau apakah kehidupan doa itu hanya menjadi sebuah rutinitas keagamaan kita saja? Doa, kalau tidak doa, aduh kok rasanya lain, ya? Tetapi apakah doa itu menjadi sebuah bahan bakar yang terus menggairahkan hidup kita?

Saudara, hari ini saya tidak berkhotbah secara eksposisi, tapi berkhotbah secara tematik. Dan kita akan merenungkan nanti beberapa ayat-ayat Alkitab berkaitan dengan kebangunan doa. Dan Bapak, Ibu, Saudara sekalian, hari ini kalau kita melihat, bahkan kenapakah kemudian kehidupan doa itu sudah mulai suram di dalam kehidupan kekristenan? Apakah hari ini gereja-gereja Tuhan telah kehilangan hasrat untuk berdoa? Apakah kehidupan doa jemaat masih menjadi bagian penting dalam kehidupan kita? Di tengah-tengah hiruk-pikuknya kegiatan, pekerjaan, rutinitas hidup kita, dan berbagai macam kepentingan-kepentingan manusia, apakah doa itu masih menjadi bagian penting dalam hidup kita? Apakah gairah berdoa itu bisa berhenti? Apakah gairah itu sekarang masih ada ataukah sudah mulai padam dalam kehidupan kita? Bapak, Ibu, Saudara sekalian, gairah berdoa bisa berhenti bukan karena doa itu kehilangan kuasa, tetapi karena hati manusia kehilangan kepekaan akan kehadiran Allah.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau kita menelusuri kenapa hari ini tidak sedikit pun juga orang Kristen telah kehilangan gairah di dalam berdoa? Kenapa gairah berdoa itu bisa padam? Beberapa alasan yang kita mau uraikan di awal perenungan kita. Pertama, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, doa itu bisa menjadi padam, gairah doa itu bisa menjadi hilang, karena pertama, doa tidak lagi dilihat sebagai relasi dengan Tuhan, tetapi doa itu hanya do and done. Checklist, checklist, checklist, do and done saja. Semacam kewajiban rutinitas saja. Doa hanya sebagai formalitas syarat keagamaan saja, tanpa kesadaran akan kehadiran Tuhan lagi. Itu sebabnya ketika doa hanya menjadi rutinitas rohani, bukan lagi hati yang sungguh-sungguh berpaut kepada Tuhan, maka kita hanya mungkin berdoa sesuai jadwal-jadwal saja. Tetapi doa bisa kehilangan. Doa kehilangan hati. Hati sudah tidak ada. Tapi kebiasaan masih tetap dijalankan. Sama seperti seorang suami istri, masih satu rumah. Fisik mungkin dekat, tapi hatinya sudah jauh satu dengan yang lain. Mengerjakan tugas sebagai suami, mengerjakan tugas sebagai istri, sebagai papa, sebagai mama di rumah, sebagai rutinitas saja. Tidak lagi digerakkan oleh sebuah kasih, gairah kepada orang yang dicintainya. Nah, demikianlah ketika doa itu telah kehilangan hati, doa itu hanya rutinitas saja. Maka doa tanpa kasih dan relasi akan menjadi kebiasaan yang kering. Kering, Bapak, Ibu, Saudara sekalian.

Yang kedua, kenapa doa itu bisa padam dalam kehidupan orang-orang Kristen, Saudara dan saya? Karena mungkin hati yang mulai dingin, karena ada dosa yang tidak diselesaikan dengan Tuhan. Dosa yang dipelihara, akhirnya terus menutupi hubungannya dengan Tuhan. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, mari hari ini kita merenungkan, kenapa saya sudah mulai kehilangan gairah berdoa? Jangan-jangan ada dosa-dosa yang saya pelihara yang belum selesai, saya menyelesaikannya dengan Tuhan. Saya seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang istriku tidak tahu, suamiku tidak tahu, jemaat di GRII Jogja juga mungkin tidak tahu. Orang di luar, di kantorku juga tidak tahu. Tapi saya, saya sedang menyimpan sesuatu. Dan hanya Tuhan yang tahu. Saudara kita mau menyembunyikan apa pun juga, suatu waktu akan ketahuan. Apalagi dosa-dosa yang kita sembunyikan, suatu waktu akan ketahuan. Tetapi Saudara, dampak dari dosa itu membuat kita kehilangan gairah kepada Tuhan.

Yang ketiga, ada orang tidak lagi mau berdoa. Ya, boro-boro berdoa. Ke gereja pun mungkin sudah malas, Saudara. Kenapa? Karena mungkin dia mulai kecewa kepada Tuhan. Ada orang ketika kami tanya sudah lama tidak ke gereja. “Kenapa sudah lama tidak ke gereja?” “Apa itu gereja?” “Masihkah saya harus berharap kepada Tuhan?” Wah, saya bilang, kenapa ini, pernyataan ini muncul? Ada sesuatu sepertinya. “Sudah, nda usah lagi nasehati saya.” Wah, ini sudah parah berarti. Ini sudah stadium berapa kalo di penyakit itu, ya. “Sudah.” Saya bilang kenapa? “Sudah. Nda usah lagi cerita tentang itu.” Bapak, Ibu, tidak sedikit kita menjumpai orang-orang seperti ini kan? Mereka sebetulnya sedang menyimpan kepahitan-kepahitan, kekecewaan-kekecewaan pribadi kepada Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kekecewaan rohani sering muncul bahkan dalam diri orang Kristen. Saudara, apa penyebabnya daripada itu? Karena dia salah menilai Tuhan. Apa itu kecewa? Kalau dalam ilmu sains kan ada A = B + C. Begitu, ya? Atau A = B – C, begitu. Kecewa adalah ketika ekspektasi tidak sama dengan realita. Dan sering kali itulah kita terlalu banyak berekspektasi yang tidak realistis. Akhirnya, ketika realita muncul tidak sama dengan harapan. Loh, kok begini, ya? Akhirnya, tidak sedikit kecewa kepada Tuhan. Karena dia salah menilai Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kekecewaan rohani sering muncul bukan karena Tuhan tidak bekerja, tetapi karena kita ingin Dia bekerja seperti maunya kita. Apalagi kalau seseorang punya doktrin yang sudah menjadikan Tuhan pembantunya Saudara. Waduh. Suatu kali saya berjumpa dengan ada seorang di Balikpapan yang gagal ginjal. Dia sampai ke Cina untuk cuci darah dan cangkok, begitu. Tapi kemudian, dia pulang, gagal lagi dan seterusnya. Kami datang membesuk, menghibur, mendoakan, begitu. Lalu dia mengatakan “Saya kurang apa kepada Tuhan. Kenapa ini penyakit tidak selesai-selesai? Bukankah saya orang Kristen harus punya iman dan saya sudah punya iman harusnya penyakit ini sembuh.” Wah, ini sudah dirasuki teori kemakmuran dia ini. Memang, dia lama di saudara kita di sebelah, gitu. Saya bilang, “Pak, bukan seperti itu. Orang kita beriman itu bukan berarti penyakit itu tidak ada.” Ya, singkat cerita perbincangan terus, tetapi ya, sudah dia sudah ya, istilahnya, sudah terlalu lama diracuni oleh teologi sukses. Akhirnya, dia kecewa sama Tuhan, tinggalkan gereja, karena tidak sembuh-sembuh katanya.

Saudara, ini banyak fakta kita bisa list dalam kehidupan kita, karena kita sering kali bisa menyaksikan itu. Karena adanya pemahaman yang salah kepada Tuhan. Itu sebabnya orang tidak sedikit kecewa kan kepada Tuhan. Akhirnya, masuk di dalam kehidupan doanya pun juga kering, Saudara. Tidak lagi mau berdoa. Kenapa berdoa? Orang hidupku tetap begini aja kok. Nggak ada perubahan. Mau berharap kepada siapa? Tuhan? Orang saya tidak berubah kok, begini aja terus. Penyakit saya tetap ini, orang tuaku tetap stroke dan seterusnya dan seterusnya. Banyak Saudara. Kekecewaan kepada Tuhan, salah satu penyebab orang sudah mulai tidak lagi punya gairah berdoa.

Yang keempat Saudara, ini juga yang sangat dekat dengan kita, adalah barangkali kita ada di dalam sebuah kelelahan rohani dan terlalu banyak dalam kehidupan yang terlalu sibuk. Saudara, Balikpapan itu kota pekerja, Saudara. Kota di mana hiruk pikuknya orang bekerja, bekerja, bekerja. Ya, ini saya kasih contoh karena kami dari Balikpapan. Apalagi di sana kan ada pengembangan kilang ya, RDMP, Refinery Development Master Plan. Jadi, kilang di Balikpapan ditambah 300.000 barel per hari. Wah, itu kalau ada 25 jam mungkin 1 hari 25 jam, Saudara. Orang bekerja shift-shift-an siang dan malam, siang dan bekerja terus, bekerja terus, bekerja terus. Belum lagi industri yang lain, Saudara. Dan itu bisa menyebabkan apa? Akhirnya orang terus seperti sudah kehilangan hasrat-hasrat rohani karena seperti dia dikejar dengan target, target, target, target, dan seterusnya. Akhirnya dia lelah. Bukan saja kehidupan lelah secara fisik, tapi lelah juga secara rohani, Saudara. Itu sebabnya kesibukan bisa menjadi bentuk modern dari pencurian waktu kita berdoa.

Sekali lagi Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kesibukan hidup kita itu bisa menjadi bentuk modern dari pencurian waktu kita berdoa. Saudara, sering kali saya mengingatkan jemaat Tuhan. Kita yang sedang bekerja atau Saudara yang sedang bekerja jangan lupa, hati-hati jangan sampai Saudara menjadi budak korporat, budak perusahaan. Ingat, hidup kita bukanlah untuk menyenangkan manusia. Hidup kita untuk menyenangkan hati Tuhan. Dan berapa banyak waktu kita habiskan untuk perusahaan? Coba pikirkan itu untuk keuntungan siapa? Keuntungan perusahaan kan? Tetapi jangan lupa, Saudara, ketika kita sudah kehilangan waktu dengan Tuhan itu sudah masalah besar. Itu sebabnya Saudara, hal yang mungkin sudah mulai hilang juga dalam kehidupan kita adalah bagaimana kita peka akan hal-hal rohani itu. Dengan kesibukan kerja, kesibukan kerja dan seterusnya.

Yang kelima, barangkali juga dekat dengan kita hari ini, kenapa sudah mulai hilang gairah berdoa adalah karena kita kurang merenungkan Firman Tuhan. Firman Tuhan itu adalah bahan bakar di dalam doa. Jika tidak ada firman, doa akan kehilangan arah dan isi. Itu sebabnya kita semakin dekat dengan Tuhan, gairah akan doa itu juga semakin besar.

Yang keenam, Saudara, kenapa kita bisa kehilangan gairah dalam berdoa? Karena mungkin kita telah kehilangan rasa kagum kepada kasih Kristus. Kita telah melupakan kasih yang mula-mula. Saudara, satu waktu ada jemaat sharing waktu mereka masih pacaran gitu, ya. Bapak tahu kami pacaran seperti apa? Kami telepon-teleponan, Saudara. Kami telepon-teleponan, eh nggak terasa sudah pagi. Eh, sudah pagi, ya! Yuk, mandi, yuk, ke kantor, yuk! Saudara, dari malam sampai pagi mereka ngobrol, telepon, tidak sadar sudah pagi. Kalau ada, kalau mereka lupa bahwa mereka harus ke kantor, mungkin lanjut lagi sampai malam, Saudara. Saking hasrat itu, sukacita itu, sukacita itu sangat-sangat besar ketika dia berbicara dengan pacarnya. Gairah itu kalau perlu jangan, jangan mengganggu, apalagi iklan-iklan jangan mengganggu begitu. Menikmati persekutuan, percakapan dengan sang kekasih jiwanya. Pertanyaannya adalah bagaimana kita dengan Tuhan? Saudara, inilah teguran yang Tuhan Yesus sampaikan kepada jemaat di Efesus. 

Saudara, Efesus itu, kurang apa? Doktrin oke, pelayanan oke, ya, ini GRII banget ya. Tapi apa yang Tuhan tegur? Mereka telah kehilangan kasih yang mula-mula. Apa itu kasih yang mula-mula? Ya, Saudara yang sudah menikah atau pernah pacaran mungkin pernah, ya, saya kira itu tidak, tidak sulit untuk menjelaskan, ya. Ketika kita pertama kali jatuh cinta, ih rasanya dunia milik berdua yang lain ngontrak, Saudara. Pokoknya jangan sampai ada yang mengganggu saya. Wah, hidup itu hanya berdua. Pokoknya nggak ada mengganggu. Hasrat mencintai, hasrat dekat itu begitu sangat besar. Pertanyaannya Saudara, apakah gairah doa itu masih ada yang dilandasi oleh cinta kita kepada Tuhan? Itu sebabnya Saudara, lagu pendeta Stephen Tong itu terus akan mengingatkan kita. Kalau engkau pernah mencintai Yesus, kenapa engkau tidak cinta Dia lagi? Kalau engkau pernah cinta Yesus, mengapa engkau tidak cinta Dia lagi? Kalau kita pernah bergelora pertama kali bertobat, pertama kali terima Yesus, kita sungguh-sungguh bergairah. Kenapa sekarang sudah hilang?

Dan yang ketujuh Saudara, apa penyebab kita bisa kehilangan gairah berdoa? Karena kita ada kesombongan rohani di dalam diri kita. Kesombongan rohani itu berarti bahwa ada seseorang yang tidak mau tunduk kepada otoritas Tuhan. Dan inilah spirit postmodern hari ini. Spirit postmodern hari ini adalah, yaitu tidak mau ada otoritas. Maka hari ini lihat, tidak sedikit orang-orang sudah mulai tidak lagi menghargai dan menghormati otoritas. Padahal Tuhan memberikan kita otoritas-otoritas untuk kita belajar tunduk. Tuhan berikan kita firman untuk kita tunduk kepada firman. Tapi berapa banyak yang masih mau tunduk kepada firman?

Suatu kali dalam penerbangan, Muhammad Ali, ketika ia akan bertanding ke satu negara bagian di Amerika. Di dalam pesawat yang dia naiki itu tiba-tiba turbulensi karena dia masuk awan, Saudara. Pesawat itu goyang, Lalu pramugari mengatakan, “semua tenang, pesawat lagi masuk dalam keadaan cuaca yang kurang baik, silahkan menggunakan sabuk pengaman.” Lalu Saudara, tiba-tiba Muhammad Ali berdiri dari tempatnya di koridor. Dia sambil-sambil begini-begini, lalu pramugarinya berkata, “Duduk! Pakai sabuk pengamanmu.” Lalu Muhammad Ali mengatakan “Superman tidak butuh sabuk pengaman.” Lalu pramugarinya mengatakan, “Ya, Superman juga tidak butuh pesawat.” Duduk, pakai sabuk pengamanmu.

Saudara, kadang-kadang kita hidupi sebuah kesombongan rohani dalam diri kita, dan itulah yang membuat kita kehilangan gairah rohani. Mari kita baca 2 Tawarikh 7:14. Ketika Tuhan menampakkan diri pada Salomo untuk kedua kalinya, dan kemudian Tuhan berkata. Kita baca bersama 2 Tawarikh 7:14. Satu, dua, tiga. “Dan umatKu yang atasnya namaKu disebut merendahkan diri berdoa dan mencari wajahKu, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari surga dan mengampuni dosa mereka serta memulihkan negeri mereka.” Saudara, kebangunan rohani itu hanya bisa dimulai ketika orang-orang itu merendahkan dirinya di hadapan Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian yang dikasihi oleh Tuhan, maka hari ini pada waktu kita merenungkan apa yang sebabnya, apa yang menyebabkan orang tidak lagi punya gairah berdoa? Tetapi barangkali, tidak sedikit orang Kristen pun juga mulai memberikan pembelaan diri, Saudara. Kita mungkin bisa berdalih sesuka hati kita, kita mungkin bisa memberikan begitu banyaknya pembenaran-pembenaran diri kita. Tapi kita tidak bisa pungkiri faktanya, kita tidak mau mengakui dosa-dosa kita dan kita terus aja di dalam kehidupan yang ada, yang sebenarnya telah kehilangan gairah berdoa.

Maka pagi ini Bapak, Ibu, Saudara sekalian, mari kita renungkan beberapa poin. Mengapa kita harus mengambil kembali jam-jam berdoa itu? Mengapa kita harus menghidupi kembali hak istimewa kita itu sebagai gereja Tuhan untuk berdoa? Pertama, karena doa itu adalah pencegah dosa. Saya mengutip dari sebuah tulisan dari pada tokoh Puritan yang bernama William Garner. Mari kita baca dulu, 1 Tesalonika 5:17. Sudah ketemu? Mari kita baca, ini ayat yang pendek, ya. Kita baca, “Tetaplah berdoa.” Bapak, Ibu, Saudara sekalian apa yang dimaksudkan Paulus kepada jemaat di Tesalonika pada waktu itu? Di tengah-tengah pergumulan mereka, Paulus ingatkan mereka untuk tetap berdoa.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian yang dikasihi Tuhan, kenapa kah doa itu harus terus? Bapak, Ibu, kata tetap itu berarti konotasinya apa? Tetap, konsisten, tetap itu berarti tidak berubah, tetap itu berarti terus-menerus dilakukan. Nah itu makna daripada tetap yang terus bisa kita renungkan. Itu berarti ada kesinambungan yang terus, itu berarti ada pergerakan yang terus bergerak, itu berarti ada suatu tindakan yang terus dilakukan, itu berarti ada sesuatu kemajuan yang terus maju, itu ada itu berarti ada sesuatu tindakan yang tidak berubah walaupun keadaan di sekitar mungkin berubah. Dan itulah sebabnya Saudara, berdoa menjadi sesuatu hal di mana itu bisa mencegah kita jatuh dalam dosa. Maka ketika kita berhenti berdoa, kita akan mulai berbuat dosa.

Itulah sebabnya ketika Tuhan Yesus melihat para murid-Nya itu tertidur, di dalam Matius 26:41, Dia mengatakan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Dan itulah sebabnya kita lihat raja Saul berhenti, ketika dia berhenti berdoa kepada Allah, dan kemudian dia menggantinya dengan mencari seorang pelihat arwah. Itulah sebabnya ketika seseorang itu sudah berhenti berdoa, William Garner bahkan mengatakan tidaklah mengherankan jika orang yang menyingkirkan doa, maka kemudian ditemukan terlempar ke dalam dosa yang busuk.

Seorang puritan juga bernama George Swinnock dia mengatakan doa adalah penjaga keamanan benteng hati kita, doa adalah penjaga pintu bibir kita, doa adalah penjaga perisai yang bisa membuat kita itu aman, tangan kita bisa kudus di hadapan Allah. Dan jangan lupa Bapak, Ibu, Saudara sekalian, dosa itu sangat gampang masuk melalui panca indra kita. Apa yang kita lihat, apa yang kita bayangkan, apa yang kita pikirkan, kita rasakan dan seterusnya. Hati, kata Calvin, itu gudangnya berhala. Hati ini gudangnya dosa. Itu sebabnya Amsal 4:23 mengatakan jagalah hatimu dari segala kewaspadaan, karena dari hati terpancar kehidupan. Hati itu di alkitab bukan liver, bukan jantung, bukan pankreas. Tapi hati itu adalah pusat dari seluruh keinginan. Maka jaga hati. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, pikiran kita ini adalah medan peperangan, itu sebabnya hati-hati kita dengan pikiran kita, karena pikiran akan membawa tubuh kita ke sana. Sekali lagi, pikiran akan membawa tubuh kita ke sana. Orang yang selingkuh, tidak langsung serta merta langsung selingkuh, Saudara. Dia pikirkan dulu. Wah nanti ketemu di mana ya. Apa alasanku ke istriku ya. Begitu banyaknya dipikirkan, barulah dosa itu terjadi. Banyak Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita bisa renungkan kenapa kita bisa sangat gampang jatuh ke dalam dosa? Itu sebabnya kita harus pahami, kita ini rapuh, kita ini lemah, kita sangat gampang jatuh di dalam dosa. Itu sebabnya kita harus berdoa memohon kekuatan Tuhan.

Dan berapa banyak kah kita itu menyadari bahwa doa itu begitu penting agar kita tidak jatuh ke dalam dosa? Berapa banyak kah kita itu kemudian meremehkan daripada dosa? Kemarin di pemuda saya katakan, seorang teolog Reformed bernama Anthony Hoekema mengatakan, apa sebabnya orang Kristen itu bisa jatuh ke dalam dosa atau sangat gampang jatuh ke dalam dosa? Dua. Pertama, ia sangat meremehkan dosa, kedua ia tidak menghargai anugerah Tuhan. Dan sering kali kita gampang jatuh karena dua hal ini. Ah nggak papa kok. Mulai dari nggak papa kok dulu ya, akhirnya apa? Mulai, mulai, akhirnya jatuhnya. Ya nggak papa ketemu reuni SMA dulu, nggak papa. Sudah ketemu. Hati-hati Saudara, di handphone kita ini kan minimal 10 grup WhatsApp ya; ada grup alumni SD, alumni SMP, satu kampung, apa lagi? Pecinta ikan koi. Apa lagi? Banyak Saudara, terlalu banyak. Dan perhatikanlah bahaya yang mulai muncul ketika kita tidak waspada dengan handphone kita ini. Mulailah reuni SMA, ketemu, janjian-janjian, akhirnya apa? Waduh teringat lagi ini masa-masa lalu. Akhirnya apa Saudara? Kalau kita tidak jaga hati dan pikiran kita, kita bisa jatuh dalam dosa.

Itu sebabnya C. S. Lewis mengatakan, apa itu integritas? Integritas adalah ketika seseorang itu tetap berbuat benar walaupun sendiri dan tidak dilihat orang. Itu namanya integritas. Dan bagaimana integritas itu bisa muncul? Sedangkan tubuh kita ini lemah, daging kita lemah. Hanyalah dengan kekuatan doa. Paulus mengatakan di dalam Efesus 2:1-3, musuh kita ada 3. Pertama dunia dengan segala tawaran-tawarannya, kedua iblis dan sekutu-sekutunya, dan ketiga, yang paling dekat adalah hawa nafsu kedagingan kita. Kita sangat-sangat rentan itu. Itu sebabnya Kris Lundgaard dalam bukunya, “Musuh dalam Diriku” dia katakan, kenalilah musuhmu. Dan musuh paling dekat dengan kita adalah hawa nafsu kita. Panca indra ini seperti jendela masuknya dosa, apa yang dilihat, apa yang diraba, apa yang dipikirkan. Tetapi sadarkah kita Saudara dan saya, bahwa kita ini lemah. Kita sangat gampang jatuh di dalam dosa. Itu sebabnya kita butuh Tuhan. Berikan saya kekuatan Tuhan. Dan kekuatan itu saya dapatkan dari mana Saudara? Dari doa. Dan berapa banyak kita menyadari itu? Alkitab memberikan kita banyak arahan-arahan dan kebenaran untuk melihat kembali, kita lemah, kita butuh kekuatan Tuhan dan itu melalui doa.

Yang kedua Saudaraku, mengapa kita harus kembali merebut waktu-waktu berdoa di hadapan Tuhan? Karena doa memberikan kita kekuatan. Doa memberikan kekuatan bagi orang yang berseru kepada Tuhan. Mari kita membaca Mazmur 145:18. Mazmur 145:18, kita baca sama-sama, “TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan“. Kita baca lagi 1 Petrus 3:12, “Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.” Saudara perhatikan, “mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong.” Ini adalah firman Tuhan, ini adalah janji Tuhan, ini adalah kebenaran Tuhan, dan inilah pengharapan kita, bahwa orang yang datang kepada Tuhan, Tuhan akan berikan kekuatan. Tuhan akan dengarkan permohonan mereka yang datang minta tolong.

Tapi berapa banyak kemudian ketika kita ada masalah Bapak, Ibu, sekalian, kita justru pakai cara-cara dunia? Apalagi sekarang banyak itu yang bisa menghancurkan kita. Pinjol-pinjol itu. Aduh. Itu yang membuat kita semakin ngeri hari ini melihat. Ada sedikit masalah keuangan, lari ke pinjol; ada sedikit masalah rumah tangga nggak tahu lah lari ke mana. Tapi bukankah Tuhan mengatakan melalui doa kita memperoleh kekuatan? Itu sebabnya kita ada di dalam pergumulan, kita tahu kita harus berlari ke mana, kita tahu kekuatan kita itu dari mana. Calvin mengatakan, ketika orang dekat kepada Tuhan, orang-orang secara benar mempersiapkan diri untuk berdoa, adalah orang-orang yang tergugah oleh keagungan Allah, orang-orang yang merasakan kekuatan Allah. Sehingga apa Saudara? Ia terbebas dari kekawatiran. Ia terbebas daripada afeksi dunia yang palsu. Nah itulah sebabnya kenapa kita sering kali terjatuh ke dalam afeksi-afeksi dunia ini. Tawaran-tawaran kenikmatan dunia ini, padahal menghancurkan. Dan Calvin mengatakan, dengan kita berdoa, kita bisa menikmati keagungan Tuhan dan merasakan kekuatan Tuhan sehingga kita tidak gampang untuk jatuh, dan kita bisa terbebas daripada kekawatiran hidup.

Bapak, Ibu, ketika hari ini ketika kita bicara kesehatan mental, tidak sedikit kita pun juga sedang mungkin mengalami itu. Tetapi lihatlah anak remaja, pemuda, hari ini sangat gampang jatuh. Dan kita semua tentunya tidak kebal, sangat gampang jatuh ke dalam kesehatan mental. Depresi, keputus-asaan, kegelisahan, ketidaktenangan, dan banyak hal lagi Saudara. Dan berapa banyak ketika hal itu terjadi kita berespons dengan  tepat di hadapan Tuhan? Ataukah kita mengikuti caranya A, caranya B, caranya ini, teori ini, akhirnya justru membuat kita itu semakin jauh daripada Tuhan. Dan tidak sedikit Bapak, Ibu, Saudara, orang-orang yang mengikuti cara dunia untuk menyelesaikan masalah, akhirnya hancur. Sekali lagi hati-hati dengan pinjol Saudara, itu menghancurkan. Banyak lagi kita bisa pikirkan itu. Maka kesimpulannya adalah bahwa waktu ada masalah, kita datang kepada Tuhan karena kita tahu melalui doa, memberikan kita kekuatan.

Saudara, Allah mau kita berseru kepada Dia. Kita baca dulu ya, Mazmur 50, ini ayat yang cukup baik sekali untuk perenungan kita juga. Mazmur 50:15. Kita baca Mazmur 50:15, “Berserulahkepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkanengkau, dan engkau akan memuliakanAku.” Saudara, apakah kita menyadari, waktu kita ada masalah, kita seharusnya datang kepada Tuhan? Ketika kita berdoa kita memperoleh kekuatan dan hikmat untuk dapat melakukan kehendak Tuhan bukan melakukan cara-cara dunia. Dan kita bisa melakukan kehendak Tuhan itu kapan Saudara? Ketika Tuhan memberikan kita hikmat, ketika Tuhan berikan kita bijaksana, ketenangan, untuk melakukan kehendak Tuhan. Bukan tergopoh-gopoh, bukan secara spontan melakukan ini, lakukan ini, dan seterusnya, akhirnya menghancurkan kita sendiri.

Bapak, lbu, Saudara-saudara sekalian, kita mesti menyadari bahwa pergumulan kita begitu banyak dan sering kali bagaimana kita berespons ketika ada masalah itu terjadi? Kenapa orang gampang kecewa Saudara? Kenapa orang sulit melihat kehadiran Tuhan dalam hidupnya? Pertama, karena ia terus berpusat kepada masalah itu. Tidak lagi melihat Allah yang besar tapi masalah hidupnya yang dia lihat itu besar daripada Allah. Fokus terus, fokus terus kepada masalah, masalah, masalah. Lupa bahwa ada Allah yang jauh melampaui itu semua. Yang kedua, terus berpusat kepada diri, berpusat kepada diri, berpusat kepada diri. Merasa diri victim, korban. Wah, pokoknya semua dunia harus mengerti saya sedang menderita dan sebagainya. Kalau perlu masukkan ke Facebook Saudara ya, “Saya lagi menderita” gitu ya. Nggak ada  selesai masalah. Masalah tidak akan selesai kalau terus berpusat kepada diri. Dan ketiga Saudara, kenapa kita sulit melihat kehadiran Tuhan? Karena kita sangat gampang melupakan kebaikan Tuhan di masa lampau. Hari ini kita mungkin masih bersyukur, besok bagaimana? Kita mulai ragu lagi sama Tuhan. Padahal Tuhan sudah memimpin kita hari-hari yang lalu. Kita sangat gampang melupakan Tuhan. Kita sangat gampang melupakan kebaikan Tuhan. Tuhan pelihara kita lagi. Besok bagaimana? Ya sudah, Tuhan pasti pelihara hidup kita. Kita bisa merasakan itu karena Tuhan sudah memimpin kita hari-hari yang lalu. Karena Tuhan itu setia, iya selama-lamanya. Tapi kita kadang-kadang melupakan itu. Kadang-kadang kita masih berpikir yang tidak perlu kita pikirkan. Ya ini kan kadang-kadang kita berpikir sesuatu yang tidak perlu dipikirkan Saudara ya, akhirnya kita jatuh kepada kecemasan sendiri, jatuh kepada keputusasaan sendiri dan seterusnya.

Dan bahayanya hari ini adalah ketika orang lebih banyak berfokus kepada keletihan dan sakit fisiknya daripada keletihan dan sakit di dalam kerohaniannya. Saudara, penelitian mengatakan 2030 nanti orang akan lebih banyak sakit mental daripada sakit fisik. Dan itu yang harus kita lihat Saudara. Ini fakta, kesehatan mental, gangguan mental hari ini menjadi isu global. Siapa pun bisa ada di dalam kesehatan mental itu, gangguan mental itu. Lalu bagaimana kita berespons? Satu-satunya cara Saudara, kita datang kepada Tuhan memohon pertolongan Tuhan di dalam doa-doa kita. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, melalui doa memberikan kita kekuatan untuk melangkah lagi, untuk melangkah lagi, mengisi kehidupan kita lagi sesuai dengan kehendak Tuhan. Melalui doa kita tahu bagaimana kita melakukan sesuatu berespons yang benar di hadapan Tuhan. Itu sebabnya ketika ada sesuatu masalah dan orang itu tidak berdoa, lihatlah apa yang terjadi. Tapi bandingkan dengan orang ketika ada masalah dia berdoa, dia bisa merasakan apa yang Tuhan mau ia lakukan.

Mari kita lihat contohnya di Alkitab ya. Kita buka Kej. 25:21. Kita buka, kita bandingkan tiga tokoh yang ada. Kej. 25:21 Saudara. Kisah Abraham, Ishak, dan Yakub ketika istri mereka itu mandul, perhatikan. Kita baca sama-sama Kej. 25:21. “Berdoalah Ishak kepada Tuhan untuk isterinya, sebab isterinya itu mandul; Tuhan mengabulkan doanya, sehingga Ribka, isterinya itu, mengandung.” Saudara perhatikan, bapak-bapak ini ketika mereka ada masalah, apa yang Ishak lakukan? Apa yang Abraham lakukan? Apa yang Yakub lakukan, dan apa yang Ishak lakukan? Abraham kita tahu dia pakai cara dunia, ketika Sarah itu mandul, akhirnya tidur dengan Hagar. Kita tahu Yakub itu juga ada dia meniduri daripada pembantu-pembantu Lea dan juga Rahel. Tetapi apa yang terjadi ketika Ribka istri Ishak itu mandul? la berdoa. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, apa yang Ishak lakukan? Ishak berdoa, ia tidak pakai cara manusia, tapi ia pakai cara Tuhan yang diterimanya dalam berdoa. Ishak berdoa dan inilah contoh yang kita bisa lihat bagaimana orang-orang itu bisa berespons ketika ada masalah. Ishak berdoa kepada Tuhan.

Saudara, ketika kami masih melayani di GRII Kelapa Gading di Jakarta sebelum kami dipindahkan ke Balikpapan, di sana itu ada persekutuan doa dua kali, Jumat malam sama Sabtu pagi. Setiap persekutuan doa itu ada seorang ibu yang terus datang berdoa. Lalu biasa itu ada doa kelompok begitu ya, “Yuk, apa ibu yang kita mau doakan? Apa bapak yang kita mau doakan.” gitu ya. Kita doa, doa masing-masing untuk di sebelah kiri, kanan begitu. Dan ibu itu sering kali mengatakan, “Bapak atau lbu, tolong doakan pernikahan kami supaya diberikan anak oleh Tuhan.” Setiap kali dia datang lagi, “Bapak, lbu, tolong doakan kami supaya Tuhan berbelas kasihan memberikan kami anak dalam pernikahan kami.” Saudara, singkat cerita kami ditugaskan ke Balikpapan dan ketika berkunjung ke Jakarta dan sudah mendengar ibu itu telah melahirkan anak. Saudara, ini contoh yang kita bisa lihat dan banyak lagi pengalaman rohani yang Saudara dan saya mungkin bisa saksikan bagaimana orang-orang yang berserah diri kepada Tuhan, Tuhan itu tidak jawab.

Dan ada satu contoh juga di mana Tuhan tidak jawab, tetapi itulah yang terbaik dari Tuhan. Suatu kali ada seorang ibu yang terus berdoa bersama suaminya. Ini contoh yang lain lagi, berdoa bersama suaminya minta Tuhan berikan anak. Sudah belasan tahun sudah menikah tapi tidak diberikan anak. Dia terus berdoa, dia terus berdoa, dia terus berdoa. Tapi sampai saat itu belum ada diberikan oleh Tuhan. Maka mulai mereka bergumul dan mempertanyakan Tuhan. Tapi kemudian satu kali mereka kemudian pergi ke dokter. Di dokter kandungan kemudian ibu itu diperiksa, setelah belasan tahun mereka menikah begitu ya. Sudah juga berdoa begitu. Lalu kemudian singkat cerita setelah diperiksa lalu dokternya mengatakan, “Ibu dan Bapak boleh duduk dulu saya mau jelaskan sesuatu.” Mereka kemudian dengan sangat penasaran mau mendengar hasil pemeriksaan dokter. Lalu kemudian dokter mengatakan, “Bapak dan Ibu, saya mau mengatakan sesuatu yang setelah penelitian saya menyimpulkan sesuatu. Bahwa di dalam kandungan ibu, di dalam rahim ibu itu ada virus. Dan kalau ada benih itu ada di dalam rahim, ibu dan anak akan mati.” Mereka berdua langsung menangis. “Terima kasih Tuhan. Inilah jawaban doa.” Maka jawaban doa itu tidak selalu apa yang kita inginkan, tapi semua itu baik dalam pandangan Tuhan.

Kadang-kadang kita bertanya, “Tuhan, kenapa ini?” Karena kita itu ekspektasi kita itu seperti maunya kita. Tapi coba bayangkanlah contoh ibu ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Ketika Tuhan misalnya mengizinkan ada benih di dalam rahimnya, menurut penelitian dokter tadi, ibu dan bayi akan mati. Maka itulah jawaban doa yang terkadang tidak seperti apa yang kita mau. Tapi itulah yang kita dapatkan dari Tuhan ketika kita berdoa.

Dan, Saudara-saudara sekalian, di dalam pergumulan kita, ketika kita merenungkan tentang Tuhan, merenungkan tentang bagaimana kita terus beriman kepada Tuhan, ada satu contoh yang sangat indah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Seorang pemimpin panti asuhan bernama George Muller, Saudara. George Muller, kisah George Muller di Bristol, Inggris salah satu contoh yang paling menggetarkan daripada sebuah kuasa doa dan pemeliharaan Tuhan. Saya bacakan beberapa catatan dari kisah hidupnya. Suatu pagi di panti asuhan miliknya tidak ada makanan sama sekali: tidak ada roti, tidak ada susu, bahkan uang untuk membeli bahan pun juga tidak ada. Ia sedang memimpin 10.000 lebih anak-anak panti asuhan. Dan mereka tidak tahu besok mau makan apa. Tapi yang hanya Muller lakukan adalah tiap malam kemudian dia panggil beberapa perwakilan untuk berdoa bersama. Malam hari itu kemudian ia memanggil lebih daripada 300 orang anak-anak itu untuk duduk di meja seperti biasa dan ia berdoa dengan tenang. Dia mengatakan kalimat ini, “Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur kepada-Mu atas makanan yang Engkau akan berikan kepada kami.” Wow, sebuah iman yang bahkan melampaui logika manusia. Bagaimana kemudian mereka bisa beriman: “Terima kasih untuk makanan yang Engkau akan berikan kepada kami”? Wong beras tidak ada di dapur, uang tidak ada, susu tidak ada, roti tidak ada. Besok anak-anak ribuan itu mau makan apa? Nggak tahu. Tapi Muller beriman kepada Tuhan dan dia terus berdoa, “Tuhan, terima kasih untuk makanan yang Engkau akan berikan kepada kami.” Padahal ini makanan tidak ada, Saudara!

Tapi, kemudian –dalam catatan itu– setelah ia berdoa, “Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur kepada-Mu atas makanan yang Engkau akan berikan kepada kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.” Beberapa menit kemudian, setelah kata amin itu sudah diucapkan, pintu diketuk, Saudara. Seorang tukang roti berdiri di depan pintu dan berkata, “Tuan Muller, semalam saya tidak bisa tidur. Saya merasa Tuhan ingin saya membawa roti-roti ini kepada anak-anakmu pagi ini.” Maka anak-anak itu kemudian mendapatkan roti. Lalu beberapa saat kemudian terdengar lagi truk datang ke panti asuhan itu. Sopir truk susu itu datang. Gerobaknya itu rusak tepat di depan panti asuhan itu. Lalu kemudian dia mengatakan, “Daripada susu saya ini basi.” Ia menawarkan semua susu ini kepada anak-anaknya.”

Saudara, inilah cara Tuhan memelihara anak-anak panti asuhan itu. Dan di dalam catatan itu berkata: George Muller tidak pernah meminta sumbangan kepada manusia tetapi hanya kepada Allah dalam doa-doanya. Sepanjang hidupnya ia mengurus lebih daripada 10.000 anak yatim, membangun 117 sekolah, dan kemudian menyediakan pendidikan bagi lebih daripada 120 anak-anak. Semuanya tanpa utang dan tanpa permintaan dana. Hanya melalui lutut yang berdoa dan iman kepada Tuhan. Satu ayat yang menggerakkan Muller di dalam Mazmur 37:5, Alkitab mengatakan, “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.” Itulah yang menggerakkan Muller. Tuhan akan bertindak. Tuhan akan bertindak. Tuhan akan bertindak. Dan itulah penyerahan diri total Muller kepada Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kami di GRII Balikpapan setiap tahun itu pergi KKR Regional di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Lalu, di sana itu ada satu sekolah bernama SMTK SETIA. Ya, ini sekolahnya Pendeta Matheus Mangentang, ya: SETIA. Saya melihat dengan mata sendiri bagaimana ada satu sekolah di mana anak-anak dari kampung, dari pedalaman, dari gunung-gunung, yang yatim piatu, yang anak yatim, anak piatu, anak petani yang tidak ada cukup dana untuk sekolah SMA mereka kemudian kumpulkan untuk sekolah di situ. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, bayangkan sampai dari suku Bonenggaya di ujung sana. Di Donggala antara perbatasan Mamuju Utara dengan Palu itu ada, ada daerah namanya Donggala, ya. Itu, naik ke atas itu, enam jam jalan kaki ke atas itu ada namanya suku Bonenggaya namanya. Itu mereka mandi pun tidak tahu, Saudara. Itu yang dilayani oleh mereka-mereka itu. Lalu orang-orang itu kemudian dibawa turun untuk sekolah di Mamuju. Itu kalau mereka makan, puluhan mereka itu, kalau makan itu seperti ingat waktu masih masa-masa kapal Pelni, ya, kapal Umsini itu. Kalau kita economy class itu kan, ya. Antrian tuh, ambil makan tuh, antrian kayak bebek-bebek tuh, antrian cari makan. Dapat, dikasih makan, jalan lagi, kasih makan. Mereka tuh pagi, siang, malam itu antrian. Ada 80 anak-anak sekolah itu, antrian. Saya lihat, waduh, ini pemandangan indah sekali ini. Saya lihat. Mereka pergi ke hutan cari kayu bakar untuk masak nasi.

Dan apa yang mereka lakukan, Saudara? Mereka tidak tahu hidup besok: masih hidup atau tidak. Kadang-kadang kepala sekolahnya kalau sudah lihat di dapur: beras tinggal satu karung, “Ini masih mau hidupin hampir seratus orang ini. Besok bagaimana Tuhan?” Kadang-kadang dia sudah tidak tahan. Dia masuk ke kamarnya, lalu dia bunyikan lagu-lagu rohani agak sedikit keras. Lalu dia nangis. “Kenapa?” Saya katakan, “Kenapa? Kenapa nyanyi kasih besar-besar itu lagu rohani?” Kan saya dengan dia juga cukup akrab. Dia bilang, “Kakak, saya tidak mau mereka mendengarkan tangisan saya. Biarlah ini pergumulan saya dengan Tuhan. Dan saya terus terapkan kepada mereka untuk berdoa.”

Suatu kali, waktu bulan lalu kami KKR Regional Balikpapan, kami tiba subuh di Mamuju dan kami turun di SMTK itu. Setengah lima, Saudara. Mereka sudah, wah, ribut. Sudah bangun, mandi, apa, segala macam. Jam 05.00 mereka chapel pagi. Sampai jam 06.00 mereka berdoa. Jam 09.00 malam, setiap malam, mereka berdoa karena mereka tidak tahu besok masih hidup atau tidak. Saya mengatakan kepada jemaat di GRII Balikpapan, “Kalau kita mau belajar, mau melihat Tuhan itu hidup, pergi ke Mamuju!” Tuhan betul-betul hidup di situ. Kita lihat. Mereka hanya bergantung dari lutut-lutut yang berdoa. Nggak tahu besok mau makan atau tidak. Ada saja, besok datang lagi kasih beras. Dari Bank Indonesia kasih: bawa dua karung, dari PLN mungkin kasih tiga karung. dari orang-orang yang digerakkan Tuhan kasih lagi telur. Lalu, ada tanah mereka cukup luas di sana, mereka tanam sayur. Saya bilang, “Hei, kenapa kalian tanam sayur?” Dia bilang, “Kakak tahu nggak? Daniel kan hidup dari sayur. Ndak perlu telur, kan? Yang penting sayur ada.” Wah, ini selalu ada biblikalnya dia ngomong. Saudara, saya melihat.

Maka, suatu kali ketika kami datang berkunjung, saya mengatakan kepada jemaat, “Lihatlah mereka! Kita, orang-orang GRII, harus belajar kepada mereka! Bagaimana mereka bergantung setiap hari kepada Tuhan: itu mereka cari kayu di hutan untuk bakar karena mereka tidak ada uang untuk beli gas, apa, segala macam. Jadi, anak-anak itu pergi cari kayu bakar untuk masak nasi dan seterusnya. Tapi, satu hal yang saya bilang kepada kepala sekolahnya, “Ya, kami belajar dari kalian. Ya, kami pun juga belajar untuk terus bergantung kepada Tuhan karena hanya lutut yang berdoa saja yang kami punya. Kami tidak punya apa-apa, tapi kami punya lutut untuk berdoa.”

Makanya, waktu pulang saya gerakkan jemaat-jemaat di GRII Balikpapan, “Ini worth it untuk kita dukung karena ini lahir dari pemikiran Pendeta Stephen Tong.” Ini sekolah lahir dari pemikiran Pendeta Stephen Tong. Dari kalimat, satu kalimat, yang dikeluarkan Pendeta Stephen Tong yang menggerakkan pendeta Dr. Matheus Mangentang untuk membangun sekolah-sekolah. Dan, inilah salah satunya. Waktu KPIN di Mamuju 2023, saya bilang sama anak-anak SMTK, sama kepala sekolahnya: “Target 1.000 jiwa, kalian bawa  ke stadion“ Wah, mereka betul-betul militan, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Pergi ke rumah-rumah, bagi-bagi brosur. Dan hampir 4.000 yang hadir di KPIN Mamuju 2023 yang lalu. Mereka betul-betul bawa 1.000 lebih, Saudara. Mereka militan dan mereka tahu, kita harus dukung STEMI karena mereka tahu, “Pdt. Stephen Tong itu orang tua kami.” Maka, saya katakan itu kepada jemaat di Balikpapan. “Ini kita mesti dukung.” Maka kemudian, saya gerakkan jemaat jadi orang tua asuh. Setiap anak-anak, saya tanya. “Anak-anak, kebutuhan berapa tiap bulan?” Dia bilang, “Saya sekitar 250.000.” Saya bilang, “Reformed tidak ada gratisan. Tetap kalian harus berjuang. Kami 150.000.” OK. Saya sharing-kan itu kepada jemaat. Lalu, jemaat tergerak dan ada puluhan kita menjadi orang tua asuh. Saya pun dengan istri, kami ada 2 anak yang kami jadi orang tua asuh. Setiap bulan kami kirimkan untuk mendukung beli beras. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, tetapi hal yang pasti yang saya ingin sampaikan kepada Bapak, Ibu bahwa Tuhan itu hidup. Tuhan mendengarkan jeritan orang-orang yang berseru kepada Tuhan.

Dan ketiga, Saudara, kenapa doa itu penting? Karena doa adalah ekspresi cinta kita kepada Tuhan. Itulah sebabnya Saudara, bagaimana kita itu menyatakan doa karena kita mengasihi Tuhan. “Jiwaku haus kepada Tuhan, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” Itulah ekspresi pemazmur. Dia datang berdoa karena dia cinta kepada Tuhan. Saudara, bagaimana hari ini kita mencintai Tuhan? Banyak orang Kristen berteriak-teriak. “Aku mengasihi Engkau, Yesus.” Begitu banyak lagu-lagu yang dinyanyikan. Itu memang baik, Saudara. Tetapi, pertanyaannya: Sungguhkah kita mencintai Tuhan? Ya, ketika ada seorang pacar mengatakan, “Aku mencintaimu!” “Betul, engkau mencintaiku? Saya minta engkau ajak saya ke apotek beli obat saja di hujan-hujan, kau tidak mau. Mencintaikukah namanya itu?” Terlalu banyak hitungan. Nah, demikianlah, kita juga mungkin bisa jatuh kepada hal yang sama. Kita katakan mencintai Tuhan, tetapi kita terlalu banyak hitung-hitungan dengan Tuhan. Saudara, mari kita rebut kembali akan waktu-waktu yang indah ini.

Dan terakhir, Saudara. Doa itu adalah dimulainya sebuah kebangunan rohani. Bapak, Ibu, Saudara sekalian, salah satu doa yang ditakuti oleh Ratu Mary di Skotlandia. Dia mengatakan: “Saya paling takut dengan doanya John Knox. Saudara, kita tahu, John Knox adalah murid dari John Calvin. Ketika dia pergi ke Jenewa, belajar teologi Calvin, dia pulang ke kampung halamannya di Skotlandia. Dia memulai gerakan reformasi. Itulah sebabnya, kita mengenal ada gereja-gereja presbiterian. Presbiterian itu adalah model gereja yang dikembangkan dari teologi Calvin yang ditambahkan atau disempurnakan oleh John Knox. Makanya, John Knox itu dikenal sebagai “Bapak Presbiterian.” Presbiterian itu kayak GPIB. Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, apa yang John Knox itu lakukan? Ketika dia pulang dari Jenewa, dia melihat kehancuran dari Skotlandia. Dan dia minta kepada Tuhan, dia berseru kepada Tuhan. “Tuhan, berikanlah aku Skotlandia daripada aku mati! Tuhan berikanlah aku Skotlandia daripada aku mati!” Dia terus berdoa, terus berdoa. Dan kemudian, Tuhan membangunkan kerohanian orang-orang  Skotlandia.

Saudara, John Hyde. John Hyde adalah seorang misionaris di India, Saudara. Dia dikenal sebagai manusia yang berdoa. John Hyde, Saudara. Dia mengatakan di dalam catatannya: “Saya mungkin tidak berfasih lidah untuk berkhotbah. Saya barangkali tidak punya pandai berbicara retorika untuk meyakinkan orang akan berita Injil itu, tetapi saya punya lutut untuk berdoa.” Saudara, apa yang dilakukan oleh John Hyde di India? Dia terus berlutut, berdoa. Berlutut, berdoa sambil berlinang air mata, meneteskan air mata di tanah misi itu. Dia mengatakan, “Tuhan, berikanlah aku 1 jiwa untuk Engkau setiap hari. Tuhan, berikanlah aku 1 jiwa untuk Engkau setiap hari.” Dia hanya berlutut, berdoa, terus berdoa, terus berdoa. Rekan-rekannya melihat, satu per satu orang sudah mulai bertobat. Lalu, dia tambah lagi doanya. Dia mengatakan, “Tuhan, berikanlah aku 2 jiwa hari ini. Tuhan, berikanlah aku 2 jiwa hari ini.” Ditambahkan lagi oleh Tuhan, ditambahkan lagi oleh Tuhan, Saudara. Sampai pada akhirnya, mulailah kebangunan rohani itu terjadi di India.

Saudara, hidup John Hyde sangat sederhana. Di dalam catatannya, dia dikatakan bahkan dia sering kali lupa makan karena terus berdoa. Kesehatannya menurun karena waktu doanya yang begitu panjang. Ketika diperiksa oleh dokter di usia akhir kehidupannya, dokter menemukan jantungnya bergeser ke sisi kanan tubuhnya karena tekanan dan posisi tubuhnya yang sering membungkuk dalam berdoa. Tetapi, dia tidak pernah menyesal. Di akhir hidupnya, dia mengatakan, “Aku tidak pernah menyesal melakukan ini. Itulah panggilan yang Tuhan berikan kepadaku.” Maka dia mengatakan, “Serukanlah kemenangan Yesus! Serukanlah kemenangan Yesus!” Maka, dia meninggal. Tetapi lihatlah, lutut yang berdoa. John Hyde. Misionaris yang terus berdoa. Siang dan malam berdoa untuk kebangunan India, untuk kebangunan India, untuk kebangunan India. Dan Tuhan kemudian menjawab doanya.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, hari ini apakah kita sungguh-sungguh merenungkan kembali betapa indahnya berdoa? Betapa ini menjadi panggilan yang harusnya kita rebut hari ini, Saudara? Tetapi, bagaimana kita diyakinkan akan doa itu diterima oleh Tuhan? Bukankah kita orang berdosa? Bagaimana mungkin kita bisa datang kepada Tuhan? Dan inilah kabar sukacitanya. Karena Kristus Yesus telah datang ke dalam dunia ini. Dia menjadi perantara kita- tidak ada manusia yang layak untuk membawa dirinya kepada Allah dan datang kepada Allah yang kudus-untuk membebaskan kita dari kutuk dosa, keputusasaan.

Di dalam KII kemarin, Pdt. Stephen Tong mengatakan, “Iblis itu di angkasa punya kuasa sehingga bisa menahan doa-doa kita naik ke surga. Tetapi ingatlah, di dalam kebangkitan Kristus mengalahkan 3 kuasa. Kuasa dosa, kuasa iblis, dan kuasa kematian.” Kuasa iblis sudah ditaklukkan di dalam kebangkitan Kristus. Maka, hari ini kita  bersukacita karena doa-doa kita di dalam nama Tuhan Yesus itu diterima oleh Allah Bapa. Itu sebabnya Saudara, kalau kita membaca Ibrani 4:16, kita mengingat kembali ketika Ruang Mahakudus itu sudah dibuka karena Kristus sudah membawa kurban yang sempurna ke Ruang Mahakudus di surga, yaitu diri-Nya sendiri. Tabir Bait Allah terbuka. Akses kita kembali kepada Allah itu dibuka. Kita boleh memanggil Allah, ”Ya Abba, Ya Bapa!” Berseru kepada Tuhan dan doa kita dijamin diterima oleh Tuhan karena Yesus Kristus. Bahkan saat ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, Yesus Kristus di sebelah kanan Allah Bapa berdoa syafaat kepada Allah untuk kita. Dia terus berdoa untuk kita kepada Allah. Itu sebabnya, Saudara-saudara sekalian, Dia pernah menyerukan sesuatu. “Mintalah. Mintalah kepada-Ku.” Itu adalah jaminan yang harus kita pegang. Mintalah. Dan berapa banyak kita meminta itu kepada Tuhan?

Hari ini, Saudara, mari kita merenungkan. Setelah kita sama-sama melihat panggilan ini begitu sangat penting, apa implikasinya dalam hidup kita? Pertama, Saudara, mari kita pulang. Tetapkan doa bersama dengan keluarga kita. Saudara-saudara sekalian, ya, mungkin kita bisa merancang, suami, istri, kita berdoa bersama kapan ya. Suami, istri, pasangan hidup kita itu bukan partner bertengkar, Bapak, Ibu. Pasangan hidup kita itu bukan partner kita itu untuk banyak hal-hal yang tidak penting untuk dibicarakan. Partner hidup kita itu bukanlah  tempat untuk di mana kita terus melampiaskan hawa nafsu kita, marah dan seterusnya, tapi lihatlah pasangan hidup kita itu adalah partner berdoa. Karena itu pertama Bapak, Ibu, Saudara sekalian, saya mengajak kita semua, mari kita mengajak keluarga kita kembali berdoa bersama, membangun family altar, membangun doa bersama-sama. Saudara-saudara sekalian, suami istri ambil waktu berdoa bersama, bertumbuh menjadi pendoa, orang tua yang berdoa untuk anak-anaknya, orang tua yang terus berdoa untuk kehidupan kerohanian keluarganya. Bukan partner saling menyalahkan satu dengan yang lain, bukan partner bertengkar, tapi partner berdoa. Ajak anak-anak berdoa. Kebangunan doa di tengah-tengah keluarga Kristen hari ini harus kita bangunkan.

Dan berapa banyak Saudara dan saya itu minta ampun kepada Tuhan. ”Tuhan ampuni dosa-dosa saya, saya sudah terlalu jauh hanya memikirkan pekerjaan-pekerjaan di luar sana tapi tidak mementingkan kerohanian keluarga saya. Ampuni saya Tuhan.” Mari kita bertumbuh menjadi dewasa di dalam Tuhan, menjadi pasangan rohani yang saling bertumbuh. Jangan sampai kita kehilangan akan anugerah Tuhan dan kita terus hanya memikirkan hal-hal duniawi saja. Mari memperjuangkan ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Saudara akan menjadi suami, istri seperti apa di hadapan Tuhan? Bukan kemudian kita saling menyalahkan, tapi suami istri itu hadir untuk saling jujur, saling mengampuni, saling mendoakan. Dan itulah seharusnya yang kita miliki, kebangunan doa dimulai dari keluarga. Doakan untuk anak-anak kita karena mereka juga punya peperangan rohani sendiri Bapak, Ibu. Doakan agar terjadi pemulihan terjadi dalam rumah tangga kita termasuk di dalam keluarga-keluarga Kristen hari ini yang sangat-sangat rentan jatuh di dalam dosa. Tidak sedikit perceraian muncul, tidak sedikit yang namanya pertikaian-pertikaian terjadi dalam rumah tangga. Mari, mari kita berdoa. Kebangunan doa dalam keluarga harus mulai menjadi bagian dari keluarga yang dimulai dari sekarang. Kita rebut kesempatan itu bersama suami, bersama istri, bersama anak-anak. Kita lutut berdoa.

Sebagai mahasiswa-mahasiswa Kristen, selain Engkau kerjakan tugasmu, kehidupan mahasiswa itu adalah peperangan rohani tersendiri. Dosa sedang mengincar engkau. Dosa sedang mengepung engkau. Tapi apakah engkau punya waktu-waktu tersembunyi di kamar kosmu berdoa? Apakah engkau punya hasrat di dalam kamarmu, di kosmu tersembunyi engkau berdoa kepada Tuhan, “Tuhan tolong saya.” Saudara, berapa banyak mahasiswa-mahasiswa Kristen hari ini yang di ruang-ruang tersembunyi mereka tetap berdoa? Mari saudara sebagai mahasiswa-mahasiswa
Kristen, mari Saudara. Di gereja kita ini ada persekutuan doa, mari jemaat yang sudah lama tidak ikut persekutuan doa, mari ikut persekutuan doa. Kita yang sudah mulai aktif dan rajin ikut persekutuan doa, mari semakin rajin berdoa dan ajak lagi jemaat untuk berdoa. Mari kita menjadi orang-orang yang dipakai Tuhan untuk menjadi saksi-saksi Kristus yang memenangkan jiwa-jiwa. Dan itu dimulai dari lutut-lutut yang berdoa.

Saudara, ada begitu banyak janji-janji Tuhan di Alkitab. Mari kita berdoa dengan penuh iman. Begitu banyak pekerjaan Tuhan yang Tuhan sedang siapkan. KKR regional di tempat ini, KKR Natal Pak Tong. Dan begitu banyak jiwa-jiwa yang harus dimenangkan di Jogja ini. Dan itu dimulai dari lutut yang berdoa. Tuhan pernah mengatakan bahwa Tuhan akan melembutkan hati yang keras itu dan begitu banyaknya orang-orang yang punya hati yang keras saat ini, maka kita minta Tuhan lembutkan. Bapak, lbu, Saudara sekalian, orang tua kami, doakanlah cucu-cucu oma opa, doakanlah anak-anak, doakan pekerjaan mereka, doakan keluarga mereka, doakan kehidupan rohani opa, oma. Saudara-saudara sekalian, mari kita minta kegelisahan yang benar. Mari kita minta dukacita rohani yang benar, bukan ketenangan palsu.

Saudara, kita mungkin hari ini menghidupi yang namanya ketenangan palsu. Tenang setelah dengar firman tapi tidak melakukannya. Tenang ketika dengar firman tapi tidak ada perubahan. Keluar dari gereja ini tapi tetap begitu-begitu saja. Itu adalah ketenangan palsu dan kita harus keluar dari situ dan itu dimulai daripada berdoa. Saudara, doa itu adalah jendela. Jendela di mana kita bergantung kepada Tuhan dan anugerah Tuhan itu datang melalui doa itu. Mari Bapak, Ibu, Saudara sekalian kita rebut kembali jam-jam doa ini. Kita rebut kembali hak istimewa ini. Kita jadikan gereja, kita jadikan kehidupan kita sebagai kehidupan yang terus berdoa. Biarlah nyala api doa itu tidak padam terus menyala sampai pada waktunya Yesus kembali. Dia mengatakan, “Masuklah hai hambaku yang baik dan setia.” Mari kita berdoa.

Tuhan, tidak ada kata-kata yang dapat kami ucapkan pada pagi hari ini, tapi hanyalah kerinduan kami kembali untuk datang kepada Tuhan. Tidak ada yang kami ingini Tuhan dalam dunia ini hanyalah Engkau saja ya Tuhan. Kami mungkin sudah jauh daripada Tuhan. Kami mungkin sudah abai terhadap kehidupan doa, tapi firman-Mu pagi ini Tuhan menggelisahkan hati kami. Betapa sudah lamanya kami tidak berdoa. Betapa sudah seringnya kami mengabaikan waktu-waktu berdoa di rumah, di kampus, di kamar kos, bahkan di gereja ini, kami sudah mungkin telah kehilangan hasrat untuk berdoa. Karena itu Tuhan, biarlah dengan anugerah-Mu, dengan pimpinan Roh Kudus membangunkan kembali kerohanian kami untuk berdoa. Hamba-Mu berdoa Tuhan untuk jemaat GRII Jogja. Berkati mereka di dalam pergumulan-pergumulan yang ada. Kuatkan teguhkan iman mereka. Hamba-Mu berdoa untuk Pendeta Dawis, hamba-Mu yang Kau percayakan di tempat ini bersama Vikaris Lukman, pimpin mereka Tuhan untuk menggembalakan jiwa-jiwa yang Kau percayakan di gereja ini. Berkati mereka bersama dengan pengurus-pengurus yang ada serta seluruh jemaat Tuhan di GRII Jogja ini. Biarlah mereka juga terus bertumbuh, bersatu hati mengerjakan pekerjaan Tuhan. Tuhan, kami rindu melalui GRII Jogja ini banyak jiwa-jiwa boleh dimenangkan.
Karena itu Tuhan, biarlah Engkau sendiri yang menghantar mereka datang ke tempat ini sehingga mereka boleh dicelikkan mata rohani mereka dan mengenal kebenaran Tuhan. Berkati Tuhan GRII Jogja ini. Pakailah terus gereja ini menjadi berkat bagi kota Jogja dan sekitarnya. Meninggikan
Kristus, mengabarkan Injil, memuliakan Allah selama-lamanya. Berkati Tuhan gereja-Mu ini. Hari ini kami telah mendengarkan isi hati Tuhan. Biarlah Roh Kudus mengingatkan kami terus akan firman-Mu. Biarlah Roh Kudus menggelisahkan kami Tuhan ketika kami mulai tenang di dalam kepalsuan-kepalsuan yang ada. Gelisahkan kami Tuhan. ketika kami mungkin sudah mulai jauh daripada Tuhan. Karena kami percaya ketika Engkau menggelisahkan kami karena Engkau mencintai kami. Terima kasih Bapa. Dengarkanlah doa kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.