Perumpamaan Tentang Uang Mina
Luk. 19:11-20
Pdt. Dawis Waiman
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, perumpamaan tentang uang mina ini adalah satu perumpamaan yang berbicara tentang kerajaan Allah. Dan mengapa kita bisa berbicara seperti itu? Karena pada waktu kita baca di dalam ayat 11, di sini dikatakan saat itu Yesus dan murid-murid-Nya sudah dekat dengan Yerusalem. Apa yang membuat Yesus dikatakan sudah dekat dengan Yerusalem? Bukankah ini adalah sesuatu, yang mungkin, secara tahun demi tahun Yesus lakukan? Setiap tahun, Dia pergi ke Bait Allah, setiap tahun, Dia memperingati perayaan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi di Bait Allah atau di Yerusalem tersebut bersama dengan murid-murid-Nya. Atau sebelumnya bersama dengan orang tua-Nya. Tetapi di saat ini dikatakan pada waktu itu, di momen itu, maka Yesus pergi ke Yerusalem sebagai satu catatan yang penting. Lalu pada waktu Dia pergi ke sana, tindakan Yesus pergi ke Yerusalem itu dikaitkan dengan kerajaan Allah yang akan segera kelihatan.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, di dalam hal ini kita harus mengerti satu hal, orang Yahudi punya satu pemikiran bahwa ketika Mesias datang, maka Dia akan mendirikan kerajaan Daud kembali tengah-tengah dunia ini. Dan pada waktu mereka hidup dari tahun demi tahun, mulai mungkin dari zaman Daud, janji itu diberikan secara lebih spesifik sampai akhir daripada kitab Maliaki seperti itu. Mereka menantikan kapan Mesias itu datang. Dan ketika Yesus muncul yang didahului oleh Yohanes Pembaptis, mereka mulai bertanya, “Sungguhkah Dia Mesias ini?” Karena apa yang diajarkan oleh Yesus Kristus itu menggenapi apa yang dikatakan di dalam Perjanjian Lama mengenai Mesias ini. Walaupun dalam pemikiran mereka masih ada hal-hal yang membuat mereka tidak paham atau tidak mengerti. Misalnya berkaitan dengan kapan Yesus akan mendirikan kerajaan Daud di tengah-tengah dunia ini. Apakah ini adalah momen waktunya? Apakah ketika Yesus pergi ke Yerusalem, maka di situ dia akan mengadakan revolusi untuk membuat kerajaan Roma yang selama ini menjajah mereka sekarang dikalahkan dan mereka menjadi satu bangsa dan kerajaan sendiri secara nasional dan politik pada waktu itu.
Dan ini adalah perjalanan menuju Yerusalem yang kalau kita bandingkan dengan kitab atau pasal yang lain dan pasal sesudahnya sebenarnya kontras sekali dengan pemikiran dari bangsa Yahudi. Bapak, Ibu bisa lihat ketika kita baca di dalam pasal 19 ayat 28, Yesus dieluk-elukkan di Yerusalem. Lalu di dalam perikop berikutnya, Yesus menyucikan Bait Allah. Lalu terjadi pertanyaan mengenai kuasa Yesus. Tapi kemudian ada bicara-bicara mengenai hal-hal lain. Lalu kemudian Bapak Ibu akan menemukan kalau Yesus kemudian ditangkap, disalibkan lalu dibunuh pada wakti itu. Jadi, waktu Yesus pergi menuju ke Yerusalem, di dalam pemikiran Yesus dan rencana Allah di dalam Kristus itu berbeda sekali dengan apa yang dipikirkan oleh orang-orang Yahudi. Dan di dalam konteks inilah, maka dikatakan di dalam perikop ini, Yesus memberikan kepada mereka pengertian mengenai kerajaan Allah itu. Dan pada waktu itu Yesus berada di rumah Zakeus yaitu orang yang merupakan peungut cukai dan dia kemudian mengajarkan prinsip ini.
Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, apa yang menjadi penekanan Yesus ketika berbicara mengenai kerajaan Allah? Yang pertama adalah kerajaan Allah itu tidak bersifat nasional atau politis. Bapak, Ibu bisa melihat setelah Yesus datang, setelah Yesus mati di kayu salib, setelah Yesus dibangkitkan pada hari yang ketiga, Israel tidak pernah terbentuk sebuah kerajaan di tengah-tengah dunia ini. Jadi, pada waktu Yesus datang, Yesus mau mengatakan, “Aku datang bukan untuk mendirikan kerajaan yang bersifat politis itu.” Itu yang pertama. Yang kedua adalah kerajaan yang Yesus akan dirikan. Bukan sesuatu kerajaan yang akan segera terwujud di dalam dunia ini. Seperti apa yang diharapkan oleh orang-orang Yahudi. Dia akan datang memang, kerajaan-Nya akan didirikan dan kerajaan-Nya sudah berproses menuju kedatangan tersebut. Suatu hari nanti pasti akan datang. Tetapi kelihatannya bukan hal yang akan segera terjadi. Di dalam pikiran murid itu pasti akan segera terjadi. Kapan hal itu terjadi? Yesus ke Yerusalem. Ketika Yesus di Yerusalem justru mengalami kematian, mereka mungkin berpikir, “Kenapa bisa begitu? Apakah kerajaan Allah gagal atau apakah kerajaan Allah itu tidak akan terwujud? Karena Rajanya yang kita harapkan menjadi raja dalam kerajaan itu ternyata mati. Tapi pada waktu pada hari yang ke-tiga, Yesus bangkit dari kematian dan menyatakan bahwa Dia bangkit kepada ratusan orang yang menjadi murid-murid-Nya. Maka di saat itu mereka mulai berpikir kembali Dia bangkit. Ini adalah pengharapan yang baru. Apakah betul-betul ketika Dia bangkit maka kerajaan itu akan datang dan Yesus sekarang saatnya akan mendirikan kerajaan itu?
Bapak, Ibu bisa lihat di dalam Kisah Rasul pasal 1. Di situ Yesus berkata kepada murid-murid yang bertanya seperti ini dengan satu kalimat, “Itu bukan urusanmu.” Artinya apa? Artinya bahwa kerajaan itu belum akan didirikan, kerajaan itu belum akan datang. Masih berapa lama? Yesus tidak beritahu. Yesus berkata, “Itu urusan Bapa di surga.” Dan di dalam bagian ini itu dikatakan di dalam ayat 12, “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk didobatkan menjadi raja.” Itu menunjukkan satu pengertian. Pada waktu raja ini pergi, maka untuk dinobatkan menjadi raja, perjalanan yang ditempuh itu bukan satu perjalanan yang singkat atau sebentar, tetapi mempunyai konotasi bahwa ini adalah perjalanan yang jauh, yang lama, yang kita tidak pernah tahu mungkin dan kurang bisa diprediksi kapan waktunya untuk raja itu atau bangsawan itu kembali ke tanah kelahiran atau tanah di mana dia berasal. Jadi aspek kedua adalah pada waktu bicara mengenai kapan kerajaan itu datang, maka Yesus berkata, “Kerajaan itu akan datang, pasti datang dan mulai di dalam menuju kepada kedatangannya itu. Tetapi bukan dalam waktu dekat ini.” Setiap orang yang berani menjanjikan waktu kerajaan Yesus datang kembali itu pasti tidak mengerti firman Tuhan. Itu aspek kedua.
Lalu yang ketiga adalah yaitu pada waktu raja itu pergi, maka raja itu memberikan satu tanggungjawab kepada hamba-hambanya yang ditinggal. Dan di dalam bagian ini dikatakan ada 10 hamba yang ditinggalkan oleh bangsawan ini. Lalu ketika hamba ini pergi, dia mempercayakan kepada masing-masing hambanya itu satu mina. Dan itu berarti bahwa 10 orang ada 10 mina dan masing-masing orang satu mina di situ. Untuk apa? Untuk dikelola, untuk diusahakan selama bangsawan ini pergi meninggalkan kotanya untuk dinobatkan menjadi seorang raja. Nanti suatu hari dia akan datang untuk meminta pertanggungjawaban dari hamba-hambanya yang dipercayakan mina itu untuk dikelola.
Nah, di dalam bagian ini ada hal-hal yang kita akan perhatikan lebih detail. Yang pertama adalah pada waktu raja ini atau bangsawan ini pergi untuk meninggalkan kota itu, dan mina itu dipercayakan kepada 10 hambanya ini, sebenarnya ini berbicara mengenai apa? Tentunya kita mungkin bisa berkata, “Oh, kalau bangsawan ini memberikan kepercayaan mina, berarti uang yang dipercayakan kepada orang-orang yang menjadi hambanya itu adalah milik dari raja itu atau milik dari bangsawan itu.” Sehingga pada waktu hamba ini mengelola uang itu, kita punya satu pengertian, bahwa segala sesuatu yang dikelola, dan segala upah yang dihasilkan atau bunga yang dihasilkan dari pengelolaan itu, itu bukan sesuatu yang menjadi milik dari hamba itu tetapi itu adalah sesuatu yang menjadi milik dari raja itu atau bangsawan itu. Nanti kita akan melihat ini lebih jelas lagi.
Tetapi yang kita mau tanya adalah, lebih dahulu, siapa yang menjadi bangsawan itu yang digambarkan oleh Yesus di sini? Nah, waktu kita melihat kepada sejarah, maka ada yang menafsirkan kelihatannya Yesus sedang menafsirkan mengenai seorang yang bernama Arkhelaus. Arkhelaus ini adalah anak dari Raja Herodes Agung, yang ketika ayahnya ini meninggal – Bapak, Ibu tahu ya Herodes Agung ini siapa? Herodes Agung itu adalah raja yang berkuasa pada waktu Yesus Kristus lahir di dalam dunia, lalu ketika mendengar Yesus Kristus lahir, dia mengakibatkan banyak sekali anak-anak yang mati akibat dari dia ingin membunuh Yesus Kristus. Nah Arkhelaus adalah salah satu dari anaknya. Lalu pada waktu bapaknya ini mati, dia kemudian akan dinobatkan untuk menjadi raja, menggantikan bapaknya. Karena ada satu perjanjian di antara raja Roma dengan Herodes berkaitan dengan pemerintahan yang ada di Israel atua di Yerusalem atau di Yudea ini.
Maka raja ini kemudian pergi ke Roma untuk dinobatkan menjadi seorang raja. Tetapi pada waktu dia pergi ke Roma untuk dinobatkan menjadi seorang raja, maka ada orang-orang yang menjadi utusan dari orang-orang Yahudi, yang juga disusulkan untuk pergi ke Roma. Tujuannya untuk apa? Untuk mengadakan satu penolakan terhadap kepemimpinan dari Arkhelaus. Jadi mereka berkata, “Saya (atau kami) tidak mau menerima orang ini menjadi raja atas kami.” Akibat dari tindakan itu, apa yang terjadi? Pertama adalah raja ini tetap dinobatkan, seolah-olah bahwa apa yang menjadi pengajuan keberatan itu tidak diterima. Tetapi juga ada hal yang kedua, kelihatannya raja Roma juga turut mempertimbangkan keberatan itu, sehingga Arkhelaus tidak diberikan kepada dirinya seluruh kekuasaan dari Herodes Agung. Dia hanya diberikan satu wilayah tertentu saja untuk dikuasai seperti itu. Dan orang-orang mengatakan bahwa ini adalah satu cerita yang berbicara mengenai Arkhelaus. Yesus bukan berbicara mengenai diri Dia.
Tetapi kalau kita bicara ini adalah satu perumpamaan, maka ada yang menafsirkan seperti ini juga, sepertinya Yesus sedang menggunakan sesuatu peristiwa sejarah yang sangat dimengerti oleh orang-orang Yahudi pada waktu itu guna untuk membicarakan mengenai diri Dia. Dia adalah raja itu. Dia akan segera pergi ke Yerusalem untuk mati di situ, lalu hari ketiga bangkit dari kematian. Setelah Dia bangkit dari kematian, Dia akan naik ke sorga untuk dinobatkan sebagai Raja yang akan memerintah sampai selama-lamanya. Dan Bapak, Ibu bisa lihat ini dalam Filipi pasal 2. Di Filipi pasal 2 dikatakan Yesus adalah Allah yang setara dengan Bapa, lalu kemudian tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Bapa itu sebagai sesuatu yang layak untuk dipertahankan atau kemuliaan yang dimiliki di hadapan Bapa itu sebagai sesuatu yang layak untuk dipertahankan. Dia inkarnasi menjadi manusia lalu merendahkan diri, bukannya merendahkan diri jadi manusia, tetapi lebih merendahkan diri lagi menjadi seorang hamba untuk kemudian mati di atas kayu salib. Tetapi ketika hari ketiga Dia akan bangkit lalu Dia kemudian naik ke atas sorga dan Dia akan datang sebagai Raja dan Hakim atas semua manusia.
Jadi ini berbicara mengenai Yesus Kristus yang akan pergi meninggalkan umat-Nya, orang-orang yang menjadi murid-murid-Nya di dalam dunia ini. Tapi pada waktu Dia pergi meninggalkan murid-murid-Nya, di sini dikatakan seperti bangsawan ini yang memberikan satu tanggung jawab kepada orang-orang yang merupakan hambanya yang ditinggalkan, yaitu apa? Mina. Masing-masing orang mendapat satu mina. Nah, bicara mengenai mina, apa yang dimaksud dengan mina? Mungkin ada orang yang mengatakan banyak hal, ya. Oh, mina itu adalah uang. Dia diberikan uang untuk dikelola dalam dunia ini. Oh, mina itu menggambarkan mungkin talenta. Mina itu menggambarkan mengenai satu kemampuan dan yang lain-lainnya seperti itu. Tapi saya mau ajak Bapak, Ibu melihat dari perspektif ini, ya. Sebelum Yesus pergi meninggalkan murid-murid-Nya, apa yang Dia percayakan kepada murid-murid-Nya? Apa yang Dia percayakan? Itu lho, di Matius 28:19-20, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka di dalam nama Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus.”
Artinya apa? Pada waktu kita membaca mina ini, masing-masing orang diberikan satu mina, itu berarti masing-masing orang yang menjadi percaya kepada Kristus oleh pelayanan Kristus dan penebusan Kristus dan pemilihan Allah Bapa di dalam kekekalan, kita adalah orang-orang yang dipercayakan berita Injil. Dan karena berita Injil ini adalah seperti satu mina atau uang mina yang satu itu diberikan kepada semua dari hamba itu, berarti tidak ada satu orang Kristen pun yang diberlakukan secara berbeda daripada orang Kristen yang lain. Tidak ada satu orang Kristen pun yang diberi lebih banyak karena memiliki kemampuan yang lebih banyak daripada orang Kristen yang lain. Semua orang Kristen memiliki kemampuan yang sama. Semua orang Kristen dipercayakan berita yang sama untuk dikelola atau diusahakan di dalam dunia ini. Itu yang dimaksud dengan mina ini. Jadi pada waktu Yesus Kristus pergi, sebelum pergi Dia memberikan tugas ini kepada semua orang yang percaya, yang mengikuti Dia di dalam dunia ini.
Nah, di sini yang kita akan lanjut untuk lihat, ya. Pada waktu hal itu sudah dipercayakan kepada diri kita, maka apa yang menjadi respon dari orang-orang yang dipercayakan mina itu, atau Injil itu dalam kehidupannya? Di sini Yesus hanya mengambil tiga orang untuk menjadi contoh. Kalau Bapak, Ibu tanya kenapa tiga? Bukankah sepuluh orang yang diberikan masing-masing satu mina itu? Maka harusnya bicara mengenai sepuluh orang. Intinya adalah bukan pada hal itu. Tetapi Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk memberikan kepada kita satu pengajaran yang sederhana, supaya kita bisa mengingatnya, mengerti apa yang dimaksudkan oleh Yesus Kristus, dan bukan untuk membuat kita bosan mendengarkan pengajaran Dia. Nah, tiga orang ini menjadi wakil yang cukup untuk kita bisa mengerti apa yang menjadi tanggung jawab dan bagaimana respon dari orang-orang yang dipercayakan mina atau kabar Injil ini, ketika berada dalam dunia ini. Dan saya akan ajak kita melihat dari tiga karakter orang ini secara negasi terlebih dahulu, ya.
Pertama adalah bagaimana atau sikap dari seorang yang percaya kepada Kristus, atau seorang Kristen ketika mendapatkan kabar Injil ini, yaitu dari ayat yang ke-14. Kita boleh baca sama-sama, ya. Ayat yang ke-14, “Akan tetapi, orang-orang sebangsanya membenci dia lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami.” Artinya apa? Ada satu sikap pertama dari orang Kristen yang dipercayakan Injil, yaitu saya atau kami tidak mau Yesus menjadi raja atas hidup kami dan kami tidak mau Dia memiliki otoritas di dalam kehidupan kami. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, siapa orang-orang ini? Orang-orang ini bukan orang yang pasif, mungkin. Mereka adalah orang-orang yang mungkin memiliki religiusitas yang sangat baik sekali. Mereka adalah orang yang mungkin rajin beribadah di dalam gereja. Mereka adalah orang yang mungkin rajin untuk melayani Tuhan di dalam gereja dengan tanggung jawab demi tanggung jawab yang diberikan kepada diri dia. Apa yang menjadi urusan gereja, orang ini akan terlibat di dalamnya. Tetapi kenapa mereka, orang-orang kayak ini, dikelompokkan ke dalam orang yang ketika Yesus pergi untuk dinobatkan menjadi raja, mereka berkata, kami tidak mau Dia untuk menjadi raja atas kehidupan kami atau memiliki otoritas dalam hidup kami.
Maksudnya adalah seperti ini. Secara ibadah, secara keagamaan, kita bisa menjadi orang yang begitu rajin sekali melakukan ritual keagamaan dalam kehidupan kita. Melakukan segala bentuk kesibukan yang berkaitan dengan pelayanan-pelayanan yang ada di dalam gereja, termasuk juga kebaktian-kebaktian KKR dalam kehidupan kita, tetapi, ada satu hal yang berbahaya yang kita perlu perhatikan, yaitu ketika Tuhan menghendaki kita mengambil keputusan dalam urusan pribadi kita. Apakah itu berkaitan dengan uang kita, apakah itu berkaitan dengan pasangan hidup kita, apakah itu berkaitan dengan rencana hidup kita di hari depan yang harus kita jalankan, apakah itu berkaitan dengan karir kita, apakah itu berkaitan dengan study kita, saat itu kita mau ngomong, “Tuhan, Engkau cukup menerima persembahanku di gereja saja melalui ibadah yang kuberikan kepada Engkau, tetapi saya tidak izinkan Engkau ikut campur dalam masalah pribadiku.” Artinya apa? Selama saya suka seorang perempuan atau laki-laki, walaupun perempuan atau laki-laki itu tidak takut Tuhan, karena saya suka dia, Tuhan nggak boleh ikut campur. Pokoknya dia harus jadi pasangan hidup saya. Saya mau kerja, saya ingin dapatkan penghasilan, tapi demi untuk mendapatkan penghasilan saya akan terjun dalam suatu wilayah yang mungkin basah. Waktu sangat basah itu, nggak salah sih. Tetapi pada waktu godaan itu datang, kemungkinan-kemungkinan untuk kita diperkaya dengan begitu cepat sekali itu ada di depan mata kita, kita akan ngomong “Tuhan, ini adalah berkat dari Engkau, ya. Pokoknya walaupun itu melanggar perintahMu, aku tetap akan menerima hal itu”–mungkin.
Bapak, Ibu, bisa kaitkan hal itu ke semua aspek. Saya mungkin karena keterbatasan waktu hanya bicara beberapa contoh saja, ya. Intinya adalah setiap kali itu berbicara mengenai urusan pribadi saya, hal yang saya anggap penting dalam hidup saya, di mana saya harus memilih untuk memutuskan ke Tuhan tidak suka, tetapi saya melihat ini menguntungkan diri saya. Mana yang saya ambil? Saya lebih memilih untuk mengambil keuntungan pribadi, bahkan juga mungkin hal-hal yang menjadi berkat Tuhan. Hal-hal yang baik itu, kita atas nama berkat dari Tuhan, kita kejar itu mati-matian. Tetapi sebenarnya tujuan adalah bukan karena kita bisa bersyukur atas kehendak Tuhan dan rencana Tuhan dan berkat Tuhan dalam hidup kita, tetapi kita justru menjadikannya sebagai ambisi pribadi kita sendiri.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hati-hati pada waktu kita bicara mengenai hamba yang menolak Yesus Kristus menjadi raja. Ini mungkin berbicara mengenai diri kita. Kita bisa tampil di hadapan orang sebagai orang yang baik, yang beribadah, orang yang saleh, orang yang sudah diselamatkan, tetapi pada waktu kita lihat detail hidup kita, lihat keluarga kita, lihat anak-anak kita, bagaimana kita membesarkan mereka, bagaimana kita bekerja dalam lingkungan kita, bagaimana kita bergaul, siapa yang menjadi teman kita, apa yang menjadi prioritas dalam hidup kita, siapa yang kita dahulukan dalam hidup kita, maka kita baru tahu sebenarnya orang ini tidak pernah berpikir dan merendahkan diri dan menundukkan diri kepada otoritas Kristus dalam hidup dia.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah hal yang sangat-sangat berbahaya sekali. Tapi kalau kita bicara kalau ini sangat berbahaya, pertanyaan yang berikutnya muncul adalah mungkin begini, “Apa yang membuat mereka melakukan itu?” Ya, mungkin kita bisa berikan 1001 alasan, ya. Mungkin alasan pertama adalah, mereka tidak mengerti Firman Tuhan, makanya mereka tidak mengutamakan Kristus dalam hidup dia. Alasan kedua mungkin, karena mereka belum mengerti Firman Tuhan dan kehendak Tuhan, makanya mereka tidak lakukan hal itu dalam hidup mereka. Ya, mungkin saja. Tetapi, ada aspek ketiga, yang lebih fatal sebenarnya. Semua ketidaktaatan dan penundukan diri kepada Kristus, itu bukan masalah intelektual. Semua penolakan yang kita lakukan kepada Kristus itu bukan masalah ketidakmengertian kita dan kurangnya tanda yang Tuhan berikan ke dalam hidup kita, tetapi masalah moral. Maksudnya adalah begini, Bapak, Ibu, pernah baca dalam Injil, kan. Orang-orang Yahudi, ketika bertemu dengan Yesus, yang diminta apa? Tolong berikan tanda, selalu minta tanda. Yesus sudah lakukan begitu banyak tanda, orang mati dibangkitkan, orang buta disembuhkan, orang kusta ditahirkan, orang lumpuh bisa berjalan. Itu semua tanda yang ada di dalam Kitab Yesaya. Yesus sudah lakukan semua itu di hadapan mereka. Tetapi apa yang mereka lakukan? Mereka masih minta tanda.
Kalau Bapak, Ibu, mau mundur lagi dalam Perjanjian Lama, maka Bapak, Ibu, bisa lihat peristiwa ketika Israel di padang gurun. Pada waktu mereka di padang gurun, apakah mereka kurang tanda? Apa mereka kurang melihat kuasa dan mukjizat yang Tuhan kerjakan dalam hidup mereka? Di Mesir 10 tulah, sekeluar dari mesir Laut Merah terbelah di hadapan mata mereka. Menyeberang, kekurangan air, nggak ada air, minta air dikasih air oleh Tuhan dari gunung batu. Minta daging dikasih Tuhan burung puyuh untuk mereka makan. Berjalan 40 tahun nggak ada satu pakaian dan kasut pun yang hancur atau rusak oleh perjalanan waktu tersebut. Tapi setiap kali ada ujian di situ tiba, ada masalah yang mereka harus gumulkan berkaitan dengan kedagingan dan fisik mereka, di situ selalu mereka komplain dan mengeluh di hadapan Tuhan dan memaki-maki Musa.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, masalah manusia itu apakah karena kurang tanda? Masalah manusia itu apakah karena kurang mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan sehingga kita perlu mendidik mereka, memberi pengertian itu pada mereka? Memang betul untuk bisa beriman dan percaya kepada Tuhan butuh pengenalan akan Tuhan, butuh kebenaran Tuhan dinyatakan kepada kita. Tapi ada hal yang lebih fatal adalah masalah manusia itu adalah masalah moral atau masalah di mana manusia memang tidak mau percaya kepada Tuhan.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, betul nggak? Kalau kita berdosa, kalau kita melakukan hal-hal yang, yang tidak taat kepada perintah Tuhan, dasarnya apa? Bukan kita nggak tahu kok. Kita selalu mengeluh saya kurang iman, saya kurang percaya, atau istilah lainnya adalah karena memang saya tidak percaya Tuhan. Jadi ini yang menjadi satu catatan yang saya lihat untuk penting kita gumulkan berkaitan dengan iman kita pada waktu Tuhan mempercayakan kepada kita satu mina atau Injil dalam hidup kita. Pada waktu itu, ya, mungkin sebelum bicara mengenai ini, Injil itu ya, paling tidak pada waktu kita berbicara mulai ada satu otoritas yang Tuhan berikan dalam hidup kita, maka bagaimana sikap kita untuk menerima atau melihat pada otoritas itu? Nah, pertanyaannya adalah, kalau kita menolak otoritas itu ada konsekuensi tidak? Jawabannya ada. Bapak, Ibu, bisa baca ayat 27 di sini, yaitu “akan tetapi semua seteruku ini yang tidak suka aku menjadi rajanya bawalah mereka kemari dan bunuhlah mereka di depan mataku.” Artinya adalah pada waktu kita terus menerus menolak Kristus dan otoritas Kristus dalam hidup kita maka di situ Tuhan akan memperlakukan kita sebagai orang yang melawan Tuhan. Ada konsekuensi, hukuman di dalam hidup kita.
Nah, dalam hal ini, ada satu hal yang menarik dikatakan oleh T. W. Mensen. T. W. Mensen berkata seperti ini, di dalam gambaran yang menakutkan mengenai penghakiman yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita, adalah satu fakta kalau Tuhan atau Kristus pasti akan datang ke dalam dunia ini. Dan pada waktu Dia datang ke dalam dunia ini, Dia akan datang untuk menuntut atau sebelum Dia datang ya, Dia akan menaruh kepada setiap orang, setiap manusia, satu tanggung jawab dalam hidupnya untuk mengetes dirinya. Dan pada waktu Dia datang, Dia akan memaksa setiap orang untuk mempertanggungjawabkan tes yang Dia berikan dalam hidup dia. Melalui apa? Keputusan-keputusan yang dia ambil dalam hidup dia. Dan ini bukan keputusan yang ringan, ini bukan keputusan sepele, tetapi ini adalah keputusan berkaitan dengan hidup dan mati dari kita.
Jadi, inti dari poin pertama ini pada waktu kita dikatakan jangan menjadi seorang yang seperti hamba yang membenci tuannya ini atau tidak mau mengakui tuannya ini sebagai raja atas hidup dia adalah setiap orang yang menolak raja atau setiap orang yang menolak Kristus sebagai Raja dalam dunia ini maka dia tidak akan mungkin berhasil menolak Kristus sebagai Raja. Filipi 2 mengatakan Dia pasti akan datang sebagai Raja dan semua lutut akan bertekuk di hadapan Dia. Artinya apa? Kalau kita menjadi orang yang memusuhi Raja Yesus Kristus, maka konsekuensinya adalah kita tidak akan memiliki bagian di dalam kerajaan-Nya. Itu adalah pasti. Ya, dan Amin.
Jadi Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kita ada di posisi mana? Mungkin bapak Ibu akan ngomong kayak gini, “Tapi Tuhan kan penuh dengan cinta kasih. Tuhan penuh dengan kebaikan, masa Tuhan akan membuang orang yang melawan diri Dia?” Ambil contoh kayak gini, di dalam zaman Salomo, Bapak, Ibu, ketika baca pewarisan tahta dari Daud ke Salomo, ada baca hal yang agak ganjel nggak? Di situ Daud berpesan, “hati-hati kepada si Yoab itu. Dia semasa hidup di dalam zaman damai, dia bunuh seorang panglima, tentara dari Saul yang aku akan rekrut menjadi panglima. Jangan biarkan dia dengan tenang masuk ke dalam dunia orang mati. Perhatikan si Mei itu, semasa hidupnya, dia pada waktu aku melarikan diri dari Yerusalem, dari kota Allah, dia mengutuki aku, jangan biarkan dia juga hidup dengan tenang, seperti itu.”
Bapak, Ibu, Saudara yang di kasihi Tuhan, itu contoh ya. Kita terganjal nggak dengan kalimat itu? Kok Daud seorang raja yang takut Tuhan memberi pesan itu kepada Salomo anaknya? Saya pada waktu awal berfikir ini kok aneh ya, tapi saya baru sadar satu hal. Semua raja yang memerintah, kalau ada duri dalam daging maka kerajaannya nggak akan kokoh. Semua raja yang memerintah kalau dia izinkan musuh masuk di dalam kerajaannya, maka kerajaannya pasti tidak akan ada damai. Makanya hal itu harus disingkirkan dan kerajaan Kristus juga seperti ini. Pertama, kalau Dia iziinkan orang yang memberontak melawan Dia ada di dalam kerajaan-Nya, kira-kira kerajaan-Nya bagaimana? Dan kalau Dia iziinkan orang yang memberontak melawan Dia ada dalam kerajaan-Nya, kira-kira orang yang berontak itu bisa menikmati nggak pimpinan Tuhan juga dalam hidup dia? Kemungkinan besar adalah dia akan membuat kekacauan dalam kerajaan Tuhan. Itu yang pertama, ya. Jadi pada waktu kita melihat kepada perumpamaan mina ini, ingat baik-baik kita ada dalam posisi hamba yang membenci Raja kita Yesus Kristus, atau hamba yang mengakui dan menerima otoritas dari raja kita Yesus Kristus?
Yang kedua adalah di ayat 22, kita baca bersama-sama, di ayat 22 kita baca bersama-sama, “Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmusendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, waktu kita baca bagian yang kedua ini, kita diajak untuk melihat apakah kita adalah orang yang mengatakan diri saya hamba daripada Kristus tetapi kita adalah orang yang memiliki pikiran-pikiran yang jahat mengenai Kristus dan atau termasuk dalam kelompok hamba yang jahat ini? Dalam pengertian adalah kita tidak menolak uang mina Tuhan, tetapi yang kita lakukan adalah kita akan menyimpannya di sapu tangan kita dan kita tidak melakukan apa-apa terhadap uang atau kepercayaan tugas tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada diri kita. Dan dalam hal ini kita akan mengajak kita melihat dari definisi mina tadi ya. Sekali lagi, mina tidak perlu dipersoalkan mengenai berapa banyak uangnya, atau mina tidak perlu dipersoalkan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan mungkin talenta dan yang lain-lain, tapi yang lebih utama adalah coba lihat mina itu di dalam kaitan mengenai Injil. Pada waktu Tuhan mempercayakan kepada kita Injil, maka apa yang akan dilakukan hamba yang kedua ini? hamba kedua ini mengatakan, dia akan taruh ke dalam sapu tangannya dia simpan di situ. Artinya apa? Pada waktu dia dipercayakan Injil pada diri dia, maka yang dia akan lakukan adalah taruh dan simpan Injil itu baik-baik di dalam hati dia, tetapi dia tidak akan menginvestasikan, dia tidak akan menyebarkan, dia tidak akan membagikan Injil itu kepada orang lain supaya orang lain turut menikmati kabar baik.
Tetapi anehnya adalah pada waktu si jahat atau si hamba yang jahat ini ditanya oleh tuannya, “apa yang kamu sudah lakukan?”, maka dia menjawab tuannya dengan kalimat bahwa, “aku simpan itu. Kenapa? Karena aku tahu itu bahwa engkau keras, engkau mengambil apa yang tidak pernah engkau taruh dan engkau menuai apa yang tidak pernah engkau tabur.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini mau berbicara mengenai hamba ini sebenarnya sudah menerima kebaikan dari Tuhan, kepercayaan dari Tuhan, tetapi dia merasa dia tidak perlu investasi tenaganya di situ, dia tidak perlu memiliki inisiatif untuk membagikan Injil dalam hidup dia, dia tetapi pada waktu lakukan itu, dia bukan merasa bersalah tetapi dia kemudian membenarkan dirinya. Tapi pada waktu dia membenarkan dirinya, alasannya apa, yang jahat itu bukan dia tetapi Tuhannya. Ini kurang ajar sekali ya, dari hamba ini. Bapak, Ibu, nggak usah tafsir macam-macam, maksudnya mungkin dia takut bertemu dengan orang-orang sekitarnya yang jahat-jahat atau kegagalan-kegagalan lain seperti dia mau kayak gitu, tapi akhirnya karena situasi-situasi lain makanya dia tidak bisa membagikan itu. Nggak! Intinya adalah dia tidak menjadi penyalur Injil. Dia tidak mengoper tongkat estafetnya kepada orang lain dalam hidup dia. Tetapi pada waktu itu terjadi dia berkata tuannya yang jahat dan bukan dirinya, atau membenarkan dirinya.
Gambarannya apa? Ini hamba yang picik, ini adalah hamba yang malas, ini adalah hamba yang pasif, tetapi ini adalah sesuatu yang Bapak, Ibu pikir tidak terisolir, jangan berpikir ini adalah sesuatu yang terisolir dari kehidupan kita, ini adalah hal yang sangat rentan sekali terjadi dalam kehidupan kita juga. Mungkin nggak sampai se-ekstrem ini, tapi tadi saya ambil contoh, setiap kali ada kesempatan Tuhan dudukkan kita dengan orang yang belum percaya, di situ mulut kita terkatup, tidak memberikan membagikan Injil. Setiap kali Tuhan memberikan kesempatan ketika orang itu mungkin berbicara mengenai imannya, mulut kita terkatup tidak berani mengatakan mengenai kebenaran yang kita miliki di dalam Kristus. Tapi pada waktu itu sekali lagi, dia bicara yang jahat siapa? Tuannya.
Dan sebelum saya lanjutkan ya, saya mau Bapak, Ibu melihat dari aspek ini ya. Pada waktu hamba ini berkata tuannya yang jahat, tuannya bicara apa? Tuannya bicara kayak gini, “Oke, kamu pikir aku jahat kan, baik, maka aku akan memperlakukan kamu sebagaimana engkau berpikir akan diriku.” Artinya apa Bapak, Ibu? Saya terus terang seram sekali pada waktu merenungkan bagian ini, karena di dalam bagian ini itu menunjukkan paling tidak ada dua hal. Pertama adalah pada waktu hamba ini berbicara mengenai kejahatan Tuhan, maka Bapak, Ibu jangan berpikir seperti ini ya, saya punya asumsi yang salah tentang Tuhan, maka kalau saya punya asumsi yang salah tentang Tuhan, Tuhan memiliki tanggung jawab untuk meluruskan kesalahan asumsi saya akan Diri Dia. Kayak kita kan? Kalau kita bertemu dengan orang, orang itu salah paham dengan kita, yang mau kita lakukan apa? Saya berusaha untuk membuat orang itu mengerti maksud saya itu apa. Pertanyaannya adalah, bisa nggak membuat orang itu mengerti? Ada yang bisa, tapi mayoritas nggak bisa.
Tapi di dalam bagian ini yang pertama yang harus kita lihat lebih dulu adalah pada waktu kita punya kesalahan persepsi tentang Tuhan, kesalahan di dalam pemikiran kita akan pengenalan tentang Tuhan, maka hati-hati ya, Tuhan tidak berkewajiban dan bertanggung jawab untuk meluruskan kesalahan pemikiran Bapak, Ibu. Artinya apa? Saya kira dalam hal ini kita bisa lihat di dalam peristiwa di Perjanjian Lama. Lupa lagi saya, Yeremia kalau nggak salah, yang berkata begini; Yeremia ngomong, “Tuhan, kamu lihat saya, saya kerja mati-matian, saya memberitakan Injil, atau memberitakan kebenaran Tuhan, tapi coba lihat Engkau sama sekali tidak memedulikan apa yang saya lakukan.” Yeremia 23:28. “Engkau sama sekali tidak memperhatikan apa yang aku lakukan, kenapa? Karena nggak ada satu orang pun yang bertobat. Tapi nabi palsu itu, ketika dengar, mengabarkan firman yang tidak bersumber dari Tuhan dan Engkau sendiri mengakui tidak bersumber daripada Engkau, Engkau biarkan dia banyak pengikut, saya tidak ada pengikut Tuhan. Bahkan saya dianiaya oleh berita yang saya kabarkan ini, bagaimana hal ini bisa terjadi?” Lalu Tuhan ngomong apa? Kita bukan kembali Yeremia 23:28, “Nabi yang beroleh mimpi, biarlah menceritakan mimpinya itu, dan nabi yang beroleh firman-Ku, biarlah menceritakan firman-Ku itu dengan benar! Apakah sangkut-paut jerami dengan gandum? demikianlah firman Tuhan.” Artinya apa Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan? Tuhan nggak ada kepentingan untuk membawa mereka – saya ngomong kayak gini kayaknya jahat sekali ya. Tapi Bapak, lbu boleh renungkan Yer. 23:28 itu ya. Tuhan ngomong apa sama Yeremia? Biarkan orang yang mengikuti nabi palsu itu terus ikut nabi palsu itu, yang bagianmu adalah beritakan yang benar. Pokoknya beritakan yang benar, yang palsu bagaimana? Biar yang jadi palsu, terus ikut palsu. Karena nggak ada hubungan antara jerami dengan gandum. Berarti yang namanya jerami akan jerami terus seumur hidup, yang namanya gandum adalah gandum terus.
Nah ini yang menjadi hal yang mengerikan. Pada waktu kita mengikut Yesus, pada waktu kita dipercayakan tugas oleh Yesus, apa yang menjadi pengertian Bapak, Ibu, Saudara tentang kebenaran Kristus? Siapa Yesus yang Saudara ikuti itu menjadi hal yang sangat signifikan dalam hidupmu karena itu menentukan nasibmu. Tetapi penentuan nasibmu satu sisi adalah anugerah Tuhan tapi di sisi lain adalah berdasarkan kemauanmu mau ikut siapa. Kalau kita terus memilih dengan mengeraskan hati, kita tahu yang benar, tapi kita terus mau mengikuti yang salah dengan berpikir, “Oh, ini lebih menyenangkan, ini lebih cocok dengan saya, tapi saya tahu saya tidak terbangun di dalam iman di situ. Saya tidak terbangun di dalam pengetahuan saya akan Tuhan di situ.” Yaitu nasibmu.
Sekali lagi ya, ini adalah hal yang sangat sangat menakutkan sekali dan Tuhan tidak punya kewajiban untuk membuat Saudara bertobat dan meluruskan pikiran Saudara. Makanya di dalam Alkitab ada bilang, “Jangan keraskan hatimu ketika engkau mendengar kebenaran firman atau Injil tentang Kristus.” Itu aspek pertama, ya.
Yang kedua adalah pada waktu itu kenapa Tuhan tidak ubah hatinya atau memperlakukan orang ini seturut dengan pikirannya akan Tuhan? Mungkin kita bisa ngomong Tuhan Maha kuasa sih, maka Dia punya kemampuan untuk lakukan itu, tapi Dia tetap jahat. Kalau saudara ngomong kayak gitu ya, Saudara akan dibiarkan Tuhan berpikiran seperti itu. Tetapi yang di sini saya mau katakan juga ya, apapun yang menjadi pikiran Saudara tentang Tuhan, kalau Saudara sudah berketetapan hati itu seperti orang yang sudah berketetapan hati untuk melihat seseorang dalam hidupnya. Mau ubah bagaimanapun perbaiki nggak mungkin bisa. Saya nggak ngomong ini untuk mengatakan nggak ada pengharapannya. Tapi hati-hati semua orang yang sudah berketetapan hati biasanya saya pakai istilah mungkin jangan sampai ngomong tidak mungkin bisa ya, tapi hampir hampir hampir tidak bisa diubah lagi ketetapan hatinya. Dan manusia punya tanggung jawab dan Tuhan juga menghargai tanggung jawab manusia itu.
William Booth, seorang yang menjadi pendiri dari balai keselamatan, dia pernah berkata seperti ini ketika melihat orang-orang Kristen yang ada di dalam gereja mengatakan kalau mereka adalah orang yang percaya kepada Kristus, mereka adalah orang yang diberkati, mereka adalah orang yang sudah diselamatkan di dalam Kristus tetapi jiwa mereka begitu picik dan mereka memilih untuk berlindung di balik tembok dan lonceng gereja seperti itu dan merasa bahwa mereka sudah melayani Tuhan di dalam tembok gereja seperti itu. Maka dia berkata, “Saya ada akan lakukan hal yang berbeda. Saya akan mendirikan atau membuka toko.” Kalau di kita ada tokoh kelontong, toko apa yang lain-lain. Dia ngomong toko keselamatan atau toko penyelamat yang berjarak 1 yard itu berapa ya? Pokoknya 1 yard dari, dari mana? Pintu neraka. Saya kira ini adalah kalimat yang sangat baik sekali dan mengerti hal ini ya. Maksud William Booth adalah selama dia melihat ada orang menuju ke neraka, dia nggak akan tenang hati. Dia akan dirikan tokonya di situ. Dia akan kabarkan mengenai Injil di situ, di mana jalur orang-orang menuju ke neraka.
Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tapi kita saat ini seringkali berpikir bahwa Injil itu untuk kalangan sendiri. Injil bukan untuk sesuatu orang yang lain. Tapi saya mau tanya kayak gini ya, kalau Bapak, Ibu melihat rumah tetangga Bapak, lbu kebakaran, yang dilakukan Bapak, Ibu apa? Mengumpulkan barang, melarikan diri, mungkin itu hal pertama. Atau yang kedua, cepat-cepat ambil air dan kabarkan kepada pemadam kebakaran untuk memadamkan api itu. Yang mana? Halo. Lari meninggalkan tetangga kita dengan api yang membara dan memakan habis rumahnya atau bantu dia memadamkan? Memadamkan kan. Kenapa harus memadamkan? Karena rumah kita kebakar juga kalau kita nggak padamkan. Motivasinya masih egois sekali ya. Ayo padamkan karena apa? Karena itu yang baik untuk mereka kan. Kalau nggak harta mereka habis semua loh, nggak ada tempat tinggal lagi loh.
Pada waktu Bapak Ibu mengabarkan Injil kepada orang-orang kayak gini ya, yang berjalan menuju ke neraka, Bapak, Ibu harus punya konsep tanpa Kristus nggak ada orang yang bisa berbalik menuju surga. Tujuan mereka sudah tetap dan pasti yaitu masuk ke dalam neraka. Karena nggak ada jalan lain untuk seorang sampai kepada Bapa atau masuk surga tanpa melalui Yesus Kristus dan Tuhan sudah percayakan Injil itu kepada kita. Satu-satunya kemungkinan atau satu-satunya peluang untuk orang berbalik arah menuju ke surga melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa itu bukan melalui perbuatan baik, tapi melalui berita Injil yang dikabarkan. Pekerjaan Tuhan itu yang utama yang dikerjakan bagi manusia berdosa dan nggak ada bagian dari diri kita sekalipun yang bisa membuat kita benar di hadapan Tuhan. Itu Injil. Dan itu yang Tuhan percayakan kepada diri kita. Jadi, kalau kita lihat Saudara kita masuk, satu-satu nyemplung ke dalam neraka, kita bilang, “Saya baik-baik saja. Yang penting saya sudah percaya Yesus. Saya punya keamanan terjamin. Hidup saya di dunia dan akhirat terjamin.” Seperti itu. “Nggak masalah orang itu masuk. Itu kan nasib mereka. Itu keputusan mereka. Itu adalah sesuatu yang menjadi jalan hidup mereka sendiri.” Bapak, Ibu, bagian ini ngomong: Celaka! Celaka sekali!
Bicara kayak gini mungkin kita akan tanya, “Kalau gitu sebenarnya orang ini sudah diselamatkan atau belum?” Karena seolah-olah –kalau kita lihat ini, mungkin kita akan berpikir– mereka juga adalah orang yang menjadi penentang otoritas Kristus kan? Tapi saya saya kira kita nggak akan terlalu jauh masuk ke dalam situ. Tetapi, saya mau tunjukkan di dalam Kitab Suci kelihatannya memberikan dua pemahaman bagi diri kita. Satu. Bapak, Ibu boleh lihat di dalam 1 Kor. 6:19. Kita baca sama-sama: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, –dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” Kalau 20: “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! Lalu satu lagi: Rm. 14:8, “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” Kalau kita milik Tuhan, kita dipercayakan Tuhan Injil, tapi kita menyimpan Injil itu bagi diri kita sendiri, tidak dibagikan, padahal Tuhan menetapkan Injil itu untuk kita bagikan menjadi estafet pada orang lain, seperti itu. Mohon tanya: dari dua bagian ini, kira-kira kita sudah menerima kabar baik itu belum? Kita sudah ditebus oleh Injil itu atau belum? Dari dua bagian ini, ada indikasi: mungkin orang itu belum menerima Injil makanya dia tidak bisa bagikan Injil, ya.
Tapi ada aspek kedua yaitu dari –atau misalnya bagian lain, ya, aspek pertama juga, ya– Lukas 8:16–18. Ini kita baca. Mungkin lebih jelas. Lukas 8:16–18, “Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.” Jadi, kalau kita adalah orang yang sudah menerima terang, kira-kira terang itu bisa disembunyikan? Yesus bilang di bagian ini, “Nggak mungkin!” Tapi kalau dia bisa menyembunyikan terang itu, berarti dia itu terang, bukan? Kelihatannya dia bukan terang, ya. Jadi orang yang dipercayakan Injil, kalau dia sudah menerima Injil, dia nggak mungkin menutup mulutnya untuk menahan Injil itu.
Tapi, ada bagian kedua yang Alkitab juga kayaknya sedikit memberi penghiburan kepada kita, ya. 1 Kor. 3:11–15. Ini bicara tentang apa yang kita gunakan untuk membangun di atas dari fondasi yang Yesus letakkan sendiri. Saya bacakan, ya. “Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api. Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allahdan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” Kita stop di situ. Ayat 15 kita baca bersama, ya. “Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” Ayat ini, satu sisi kita bisa bicara mengenai pengajaran yang diberikan: kita pegang pada pengajaran seperti apa? Tetapi ayat ini juga berbicara mengenai: kalau kita adalah orang yang sudah ditetapkan untuk diselamatkan, walaupun kita mungkin mengerjakan hal-hal yang sepele dalam hidup kita dan bukan hal yang utama, seperti itu. Termasuk mungkin menyimpan Injil itu dalam hati kita untuk diri kita sendiri. Selamat nggak? Kelihatannya masih selamat. Tetapi, ya itu. Ya, ngerti lah, ya.
Perumpamaan ini mau ngomong kayak gini, ya: siapa saja yang memaksimalkan dan menggunakan kesempatan untuk menghasilkan buah dalam pelayanannya, maka dia akan punya selalu punya kesempatan untuk dipakai oleh Tuhan. Kalau mau bicara soal ini, ya. Tapi siapa yang tidak menghasilkan buah dari kesempatan yang diberikan: dia mengabaikannya, maka dia akan menjadi seorang yang miskin dan telanjang, buta di hadapan Tuhan karena ketika Tuhan bicara ini, Dia bukan cuma bicara, “Engkau hamba yang jahat,” tetapi mina yang dipercayakan kepada dia akan diambil dan dipercayakan kepada orang lain yang punya 10 mina.
Dan ada aspek kedua, mungkin Bapak, Ibu bisa melihat. Semua yang Bapak, Ibu kerjakan di dalam dunia ini memiliki nilai kekal kalau itu dikerjakan di dalam Tuhan. Sekarang, renungkan, ya. Apa yang sudah Bapak, Ibu kerjakan adakah hal yang berkaitan dengan kerajaan Tuhan? Adakah jiwa yang Bapak, Ibu menangkan bagi Tuhan? Kalau itu tidak ada, Bapak, Ibu mau bawa apa ke dalam kekekalan? Kalau kita lihat dalam scope sempit. Tetapi kalau mau dalam scope lebih luas adalah pada waktu Bapak, Ibu kerja, kerja untuk siapa? Waktu Bapak, Ibu menikah, menikah untuk apa? Pada waktu Bapak, Ibu, Saudara sekolah, sekolah untuk apa? Pada waktu Bapak, Ibu mungkin rekreasi, rekreasi untuk siapa dan apa? Itu semua menjadi sesuatu yang kita bisa gumulkan. Selama kita tidak ingat Tuhan di dalamnya dan melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan di dalamnya, maka kita bawa apa ke surga? Saya bukan ngomong tentang keselamatannya, tetapi yang saya bicara adalah upah yang Tuhan sediakan bagi kita. Jangan-jangan kita datang ke sana cuma tangan kosong, baju pun nggak ada. Itu ibarat pakai gambaran jasmani, ya, karena kita miskin sekali. Selamat sih, tetapi nggak ada sesuatu yang bisa dibanggakan di situ. Jadi, itu orang yang kedua, yaitu menjadi seperti hamba yang jahat yang menyimpan mina itu bagi diri dia sendiri.
Nah, yang ketiga ini saya singkat saja, ya. Yang ketiga adalah kita diajarkan untuk menjadi orang yang seperti 2 hamba yang pertama. Yang dipercayakan 1 mina, tetapi kemudian menghasilkan 10 mina. Yang dipercayakan-yang kedua-1 mina dan dia menghasilkan 5 mina. Lalu, pada waktu mereka menghasilkan mina itu, maka Yesus berkata di ayat yang ke-17: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Tuhan memberi 1 upah kepada kita yang betul-betul setia dan baik di dalam mengerjakan tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada kita. Tetapi sekali lagi, ingat baik-baik. Ini bukan usaha untuk masuk surga, tetapi ini adalah sesuatu yang menjadi bukti kalau kita sudah menerima surga di dalam hidup kita.
Para reformator itu mengatakan seperti ini: Orang yang diselamatkan itu diselamatkan melalui iman saja, tetapi iman tidaklah sendirian. Boleh buka Efesus 2:8-10, ya, ”Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkanoleh iman;itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu:jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatanAllah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik,yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Ayat ini bicara apa? Keselamatan itu kasih karunia. Anugerah. 100% pemberian dari Tuhan. Nggak ada bagian dari kita. Tetapi semua orang yang sudah diselamatkan, diselamatkan untuk apa? Melakukan pekerjaan baik. Pekerjaan baik itu apa? Itu bukan cuma saya nolongi orang lain yang miskin atau saya pergi ke panti jompo menolong mereka. Bukan saya memberi makan kepada orang-orang atau melakukan aksi sosial. Itu baik sih, tetapi itu ndak pernah bisa membawa jiwa orang yang masuk ke neraka menjadi masuk ke surga. Jadi, Bapak, Ibu kalau melakukan hal itu, Bapak, Ibu hanya membawa mereka untuk bertahan sementara dalam hidup, tetapi ujungnya tetap kekal.
Yang benar apa? Kabarkan Injil. Itu adalah kebaikan yang sungguh-sungguh baik seperti kita menyelamatkan rumah tetangga kita yang kebakaran supaya tidak hancur atau tidak musnah. Bukan dalam pengertian dimusnahkan dalam neraka, ya. Nggak ada lagi, tetapi jiwanya dihukum selama-lamanya di dalam kekekalan. Saya lihat, itu adalah perbuatan baik yang sungguh-sungguh baik. Bukan sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan kita supaya kita masuk surga kayak saksi Yehovah. Tetapi, kita mengabarkan Injil karena kita melihat hal itu adalah untuk kebaikan dari orang yang menuju ke neraka. Mereka nggak lihat itu, makanya wajar mereka marah karena mereka pikir jalan mereka benar. Tetapi kalau Bapak, Ibu bisa memenangkan mereka di dalam anugerah dari Tuhan, Bapak, Ibu sudah melakukan satu pekerjaan baik yang akan dipuji oleh Tuhan sebagai orang yang telah setia dan baik di dalam mengerjakan tugas yang Tuhan berikan.
Sekali lagi, panggilan kita yang utama itu menjadi saksi Kristus, bukan menjadi dokter, bukan menjadi arsitek, bukan menjadi ekonom, bukan menjadi guru, bukan menjadi ibu rumah tangga, bukan menjadi murid sekolah dan yang lain-lainnya, panggilan yang kita miliki yang paling utama adalah: Bagaimana jadi ibu rumah tangga yang memuliakan Kristus? Bagaimana menjadi seorang siswa yang memuliakan Kristus? Bagaimana menjadi seorang dokter atau arsitek, ekonom yang memuliakan Kristus dalam hidup kita? Suami yang memuliakan Kristus. Dengan begitu, orang bisa melihat ada Injil dalam hidup kita dan ada kesempatan untuk mendengarkan berita Injil itu. Ini yang menjadi utama, ya.
Jadi, di dalam moment HUT ke-29 ini, saya mau ajak Bapak, Ibu. Ayo, renungkan kembali tugas yang Tuhan berikan ini yang mulia ini adalah satu tugas yang kita sudah kerjakan atau belum? Kalau kita betul-betul memikirkan ini dan mengerjakannya, Tuhan akan mengatakan kita adalah hamba yang baik dan setia, tetapi kalau tidak, silakan jawab sendiri. Tuhan kiranya berkati kita. Mari kita masuk dalam doa.
Bersyukur kembali, Bapa untuk firman-Mu. Kiranya Engkau boleh pimpin setiap hidup kami untuk terus berjalan di dalam kasih Tuhan, di dalam kebenaran Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa.(Amin).
