Doa Yesus untuk murid-murid-Nya, 2 November 2025

Doa Yesus untuk murid-murid-Nya

Yoh. 17:1-26

Pdt. Nathanael Marvin, M. Th

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, doa ini adalah doa yang diucapkan oleh Yesus Kristus sebelum Dia disalibkan, sebelum Dia memasuki penderitaan yang begitu berat dan setelah Dia selesai perjamuan malam yang terakhir bersama para murid-Nya. Di situ, Yesus mengajar firman Tuhan, bersekutu dengan para murid-Nya dan juga membasuh setiap kaki dari para rasul-Nya, menunjukkan kerendahan hati Yesus dan pelayanan Yesus kepada para murid-Nya. Dan setelah itu, Yesus memperingatkan satu rasul yang berkhianat, yaitu kepada Yudas secara tidak langsung bahwa ada satu orang rasul yang akan mengkhianati Yesus Kristus dan di saat itu juga, Yudas pergi dari rumah di atas loteng tersebut, ya, di lantai 2 tersebut. Yudas sudah pergi. Dan ketika masih bersama para rasul-Nya yang lain, 11 rasul-Nya yang lain, sebelum pada akhirnya Dia memasuki penangkapan-Nya di Taman Getsemani nanti, di sini, Yesus berdoa kepada Bapa di surga. Yesus memiliki relasi yang intim dengan Bapa di surga dan Dia berdoa, memanjatkan doa dengan cara menengadah ke langit di ruangan loteng lantai 2 tersebut di hadapan 11 rasul-Nya.

Doa Yesus di Yoh. 17 di sini adalah doa penutup percakapan Yesus dengan murid-murid-Nya di ruang atas dan doa Yesus ini merupakan isi hati Yesus menjelang sengsara-Nya di atas kayu salib. Penuh dengan pergumulan, tetapi masih bersama dengan 11 rasul-Nya. Di sini, Yesus berdoa di satu rumah. Dia berdoa kepada Bapa di surga. Dan dari Yoh. 17 ini, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita bisa melihat bahwa ini adalah doa yang terdalam bagi para murid yang Yesus kasihi. Ini adalah doa yang terdalam dari Sang Juruselamat kepada para murid-Nya, di mana Dia akan meninggalkan para murid-Nya, akan menderita, mati di atas kayu salib. Dan dari doa Yesus pada Yoh. 17 ini, kita bisa melihat, siapakah Yesus Kristus itu? Apa sih isi hati-Nya ketika Dia bergumul begitu berat menghadapi pencobaan yang begitu besar dan juga penderitaan yang begitu besar? Siapakah Yesus Kristus ini? Apa sih isi hati-Nya dan bagaimana Yesus meresponi setiap kesulitan dan penderitaan yang akan dihadapi di depan? Pergumulan yang begitu berat secara fisik, secara mental, Dia harus menghadapinya. Dan apa yang Dia doakan? Ini adalah doa pergumulan Sang Juruselamat. Di dalam natur manusia-Nya, Yesus berdoa kepada Bapa di surga.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian, sedikit banyak kita itu dapat mengenal pribadi seseorang lewat doanya kepada Tuhan. Maka, ini salah satu kepentingan bahwa kita tidak boleh berdoa hanya sendiri saja. Kalau kita berdoa hanya sendiri saja, bisa jadi, kita doanya ngelantur, sesat, sembarangan, dan salah. Tetapi ketika kita berdoa bersama-sama dengan orang lain, orang lain mendengar doa kita dan orang lain pun jikalau mendengar doa kita ada yang salah, mereka bisa menegur kita, mereka bisa mengoreksi kita. ”Kamu salah berdoa. Doa kamu terlalu mementingkan diri kamu sendiri. Doa kamu itu menginginkan Tuhan nurut sama kamu dan kamu nggak mau nurut sama Tuhan.” Maka, selain keuntungan kita doa bersama itu saling menguatkan, ada persekutuan, tetapi dalam doa bersama kita bisa mengenal pribadi seseorang, mengenal teologinya seperti apa dan kalau ada yang salah, ketika dia bersikap kepada Tuhan, sebagai orang yang mengasihi dia, kita menegur kesalahan mereka. Dari apa? Dari sikapnya kepada Tuhan. Bagaimana kita berdoa, misalkan dengan cara ongkang-ongkang kaki berdoa kepada Tuhan, ya, santai di tempat umum. Ya, kita bisa tegur dia.

Di sini, Yesus menengadah ke langit. Ia berdoa di hadapan para murid-Nya tentang diri-Nya, tentang murid-murid-Nya, maupun juga orang-orang Kristen selanjutnya. Nah, di sinilah hak istimewa kita sebagai orang Kristen, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, bahwa kita bisa mengenal Yesus Kristus bukan hanya dari firman-Nya, perbuatan-Nya, tetapi juga dari ucapan-Nya ketika Dia berdoa kepada Allah Bapa. Dari doa-Nya, kita justru mengenal siapakah Yesus Kristus. Di Alkitab tidak banyak mencatat doa-doa Yesus Kristus, tetapi bagian ini adalah bagian yang paling panjang dan paling lengkap yang pernah ditulis di dalam Alkitab mengenai doa Yesus Kristus. Doa ini paling panjang. Doa Bapa kami tidak lebih panjang ditulis seperti doa Yesus di ruang atas ini. Ada juga, doa Yesus ketika di kuburan Lazarus. Dia berdoa hanya 2 kalimat saja. Singkat. Itu dicatat di dalam Alkitab. Tetapi tidak banyak, baik doa di Taman Getsemani itu juga tidak sepanjang doa Yesus di dalam Yoh. 17 di ruang atas di sebuah rumah.

Martin Luther, seorang reformator berkomentar bahwa tidak ada doa yang Yesus doakan yang lebih indah, lebih mendalam, dan lebih menghangatkan hati daripada Yoh. 17 ini. Tidak ada yang jauh lebih indah dari doa Yesus di Yoh. 17 ini bagi Martin Luther. Bagi seseorang yang mencintai kebenaran, bagi seseorang yang sungguh-sungguh mau mengenal kebenaran dan Yesus Kristus itu siapa, ini adalah doa yang sangat indah, sangat dalam dan begitu menghangatkan hati kita. John Calvin sendiri mengatakan bahwa Yesus membuka harta terdalam dari isi hati-Nya kepada kita lewat doa ini. Jadi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, ini sangat penting bagi kita, bagaimana kita belajar berdoa. Bukan hanya dari doa Bapa kami-Yesus mengajarkan doa itu kepada kita-melainkan dari doa Yesus sendiri terhadap relasi-Nya kepada Bapa yang begitu intim dari doa di ruang atas ini.

Kalau kita mau mengerti isi hati Tuhan Yesus Kristus, kita mengenal Dia lewat doa-doa-Nya juga. Di dalam Yoh. 17 ini disebut juga sebagai doa Imam Besar Agung Yesus Kristus. Di dalam sejarah Perjanjian Lama, ada beberapa jenis imam. Imam yang pada umumnya, lalu imam besar. Tetapi, ada lagi imam yang berbeda dengan imam yang besar, yaitu di dalam Ibrani dikatakan Yesus adalah Great High Priest. Bukan hanya high priest, tetapi Yesus adalah Great High Priest. Cuma satu-satunya.

Dan di sini Yesus melakukan tugas-Nya sebagai doa Imam Besar Agung yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Kenapa disebut sebagai doa Imam Besar? Apa sih fungsi imam? Karena memang kita lihat bahwa fungsi imam atau tugas imam adalah seorang yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia. Kenapa Yesus mendoakan di dalam Yoh. 17 ini doanya disebut doa pengantara? Karena Yesus berdoa untuk para murid-Nya, untuk gereja-Nya. Yesus berdoa untuk tubuh Kristus sendiri. Dan judul perikop LAI menjelaskan bahwa ini adalah doa Yesus untuk murid-murid-Nya.

Nah, kalau kita membahas Yoh. 17:1-26 ini, ternyata para hamba Tuhan, teolog membagi bahwa doa Yesus Kristus ini bisa dibagi ke dalam tiga bagian besar. Yang pertama adalah doa untuk diri-Nya sendiri. Yesus berdoa untuk diri-Nya sendiri, relasi-Nya dengan Bapa di surga. Bagian yang kedua adalah Yesus berdoa untuk murid-murid-Nya yang ada pada saat itu Dia hidup. Yesus berdoa untuk para rasul yang akan ditinggalkan, Yesus berdoa untuk para pengikut-Nya yang di luar sana, yang tercerai-berai, yang sudah percaya kepada Yesus. Yesus berdoa untuk mereka, untuk gereja-Nya yang ada saat itu. Dan yang selanjutnya adalah Yesus berdoa untuk semua orang percaya, tetapi di masa yang akan datang. Ya, di masa yang akan berlanjut, Yesus doakan untuk masa depan, masa depan gereja. Yesus berdoa di dalam relasi-Nya sebagai Anak di hadapan Bapa. Yesus berdoa untuk gereja saat ini, tetapi Yesus berdoa juga gereja masa depan.

Dari sini kita belajar bahwa ternyata Tuhan Yesus tidak mendoakan orang-orang Kristen yang sudah meninggal. Ya, ketika saya merenungkan, kenapa ya, Yesus kan berdoa begitu penting ya, di dalam momen di ruang atas ini setelah perjamuan malam terakhir, kenapa kalau memang betul ajaran, ada ajaran bahwa kita pun harus mendoakan orang-orang Kristen yang sudah meninggal, orang-orang yang sudah mati kita doakan juga. Di sini pada doa ini Yesus tidak mendoakan hal tersebut. Padahal Yesus doakan untuk diri-Nya, Yesus doakan untuk gereja-Nya, gereja masa depan, tapi untuk orang-orang Kristen yang sudah mati, Yesus tidak doakan. Nah, di sini kita bisa belajar memang bahwa mendoakan orang mati itu tidak diizinkan. Tidak boleh ada misa-misa, ibadah-ibadah untuk mendoakan orang yang sudah mati. Itu jelas Alkitab ajarkan. Dan kenapa Yesus tidak doakan? Karena memang tidak ada dasar Alkitab untuk mengajarkan kita mendoakan orang-orang yang sudah mati.

Kenapa kita mau mendoakan orang-orang yang sudah mati? Apakah kita mau kembali ke zaman gereja di zaman Martin Luther, di mana waktu itu ada surat indulgensia. Surat indulgensi berarti apa? Mendoakan orang-orang yang sudah mati supaya hukumannya tidak terlalu lama di api penyucian. Alkitab tidak ajarkan api penyucian. Alkitab tidak ajarkan doa untuk orang mati. Malah dilakukan oleh gereja Tuhan. Ibr. 9:27 menjadi dasar kenapa kita tidak mendoakan orang mati karena di Ibrani tersebut dikatakan, “seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja dan sesudah itu dia dihakimi.” Nah, kalau kita mendoakan orang yang sudah mati berarti penghakiman Tuhan masih bisa berubah. Berarti kita masih menggoyang-goyang ketetapan Tuhan. Kita masih bisa mengabarkan Injil kepada orang yang mati, sudah tidak ada. Kalau sudah mati, sudah mati. Dan setelah itu Tuhan hakimi. Sudah hakimi, masuk surga atau neraka. Tidak ada tempat yang tengah-tengah, api penyucian gitu nggak ada. Itu Alkitab mengajarkannya.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, pada hari ini kita akan merenungkan bagian ayat 1 sampai 2 saja di dalam Yohanes 17 ini  di mana Yesus berdoa untuk dirinya sendiri, dan saya sebutkan lagi bahwa di sini Yesus menengadah ke langit dan berkata, “Вара telah tiba saatnya permuliakanlah anak-Mu.”
Anakmu itu siapa? Yesus Kristus. Berarti Yesus berkata kepada Bapa, “Bapa, muliakanlah Aku,”- berdoa untuk diri sendiri- “Supaya anak-Mu ini,” – Yesus tidak menyebut dirinya Aku, ya, tetapi anak-Mu ini – “Mempermuliakan Engkau juga. Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.” Ya, Yesus memakai cara bicara itu orang yang ketiga. Padahal waktu Dia ngomong kepada Bapa itu, “Permuliakanlah anak-Mu.” Padahal itu Yesus. Karena Engkau sudah memberikan kuasa kepada-Nya, kepada anak-Mu itu, yaitu Yesus. Yesus tidak, meskipun doa untuk diri sendiri, Dia tidak fokus kepada Aku, kepentingan Aku, keinginan-Ku, tetapi Yesus betul-betul menghormati Bapa sendiri. Dia tahu bahwa ketika berdoa itu untuk diri sendiri, Dia tidak boleh fokus kepada diri sendiri, tetapi harus mengaitkan dengan kemuliaan Tuhan. Maka di dalam sini kan mengatakan supaya anak-Mu mempermuliakan Engkau. Inilah dasar kenapa kita doa untuk pribadi kita. Alkitab tidak melarang kita berdoa untuk diri sendiri. Tetapi yang Alkitab larang adalah kita berdoa untuk diri sendiri saja. Hanya kepentingan diri, keinginan diri, dan kebutuhan diri saja. Itu yang salah. Tapi kalau kita lihat dari doa Yesus Kristus, Dia berdoa untuk diri tetapi sadar bahwa diri itu tidak jauh lebih penting daripada Tuhan. Tuhanlah yang harus dimuliakan ketika Aku berdoa untuk diriku sendiri.

Nah, hari ini kita akan merenungkan lima hal tentang doa Bapak, Ibu, Saudara. Yang pertama adalah cara berdoa. Dalam hal ini, Yesus memberikan teladan yang unik, yaitu Yesus menengadah ke langit. Biasanya kita berdoa itu suruh tunduk kepala, hormati Tuhan. Tetapi ada juga doa yang
sungguh-sungguh menengadah ke langit dan ini tidak masalah. Setiap cara berdoa, setiap gestur berdoa itu ada pesannya masing-masing. Kenapa kita lipat tangan? Ini menunjukkan kesiapan kita, keseriusan kita dalam doa. Kenapakita tutup mata? Itu menunjukkan kita fokus hanya kepada Allah yang adalah Roh, tidak kepada dunia yang kita bisa lihat dengan mata kita. Kenapa kita berlutut? Kita mau sujud menyembah kepada Tuhan, menghormati Tuhan. Kenapa akhirnya kita juga bersujud lagi, bukan hanya berlutut ya, tapi bersujud di hadapan Tuhan? Kita merendahkan hati kepada Tuhan. Dan dalam bagian ini Yesus menengadah ke langit seolah-olah, “Tuhan, ini Aku. Utuslah Aku, Aku siap menerima kehendak Tuhan,” dengan hati yang berat, ada pergumulan, tetapi ada penyerahan diri kepada Tuhan juga. Di sini Yesus menengadah ke langit mau memberikan pesan bahwa Allah itu di atas Dia dan Tuhan itu sangat mulia, ya. Allah itu penuh dengan kemuliaan, posisi Allah ada di atas, dan kemuliaan Allah itu begitu melampaui ciptaan (transenden). Ya, maka ketika kita melihat ke atas, kita melihat keagungan Tuhan, Allah yang Maha Besar. Ya, Allah yang sungguh-sungguh jauh dari kita. Ada jarak di antara manusia dengan Pencipta, Allah yang sungguh-sungguh tidak terkira.

Pada bagian ini kita lihat Yesus menengadah ke langit. Dia berdoa untuk diri sendiri, tetapi tidak berhenti di sana, Dia berdoa untuk Allah Tritunggal sendiri, kemuliaan Allah Tritunggal. Doa yang Teosentris. Ini pun kita sudah bahas di dalam Doa Bapa Kami, bahwa Doa Bapa Kami pertama-tama permohonannya adalah, “Dikuduskanlah nama-Mu,” bicara soal kemuliaan Allah (Teosentris). Allah dulu, jangan ngomong kepentingan diri kita dulu. Allah dulu. Tetapi uniknya di dalam doa Yesus ini, Yesus berdoa untuk diri sendiri, tetapi kita tahu ketika Yesus berdoa, itu dasarnya adalah kemuliaan Allah. Jadi pertama-tama, doa yang benar adalah doa yang Teosentris. Semua demi Allah karena kita merajakan atau meng-Allah-kan Allah itu sendiri, maka nomor pertama adalah Allah sendiri. Maka waktu kita berdoa, kenapa kita ingin sehat? Harus semuanya didasari seperti Paulus mengatakan, “Jika aku makan, jika aku minum atau mengerjakan sesuatu yang lain, aku lakukan itu semua demi kemuliaan Allah.” Kita berdoa untuk kesehatan, nggak masalah. Kita berdoa agar ekonomi kita cukup, ya, tidak berkekurangan, nggak masalah. Kita berdoa untuk memiliki keturunan, memiliki anak, nggak masalah. Kita berdoa untuk memiliki kenyamanan di dalam hidup kita, nggak masalah. Kita berdoa untuk anak-anak kita agar masa depannya baik, tidak ada masalah. Semua doa yang pribadi itu tidak ada masalah, tetapi kenapa tidak menjadi masalah? Karena itu semua demi menyenangkan Tuhan, demi kemuliaan Tuhan dan perkembangan kerajaan Allah di bumi ini, maka kita doakan kebutuhan kita. Ya, butuh kesehatan, butuh kecukupan secara ekonomi, tetapi sayang sekali akhirnya namanya manusia berdosa seringkali lupa akan hal yang rohani, bahwa semua itu pertama-tama rohani dulu.

Ketika Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, itu dari satu unsur yang pertama, yaitu adalah unsur materi. Materi itu dibentuk oleh Tuhan dari debu dan tanah. Ini Adam, ya, mau diciptakan sebagai manusia, lalu juga Hawa dari tulang rusuk Adam, lalu bagaimana manusia itu menjadi makhluk yang hidup? Yaitu ketika Tuhan menghembuskan nafas-Nya, memberikan roh-Nya sendiri. Roh-Nya sendiri sudah hidup, ya. Roh-Nya sendiri sudah hidup, kok. Karena Tuhan memberikan kehidupan di dalam roh, lalu digabungkan di dalam unsur yang materi, yaitu Adam dan Hawa. Jadi pertama-tama, manusia itu roh dulu, bukan fisik dulu. Roh dulu, maka pola pikir kita adalah pola pikir rohani dulu, nggak bisa materi dulu, tetapi karena kita lemah, manusia yang berdosa, hidup di dalam materi, di dalam ruang dan waktu ini, kita seringkali melihat yang materi dulu, fenomena dulu. Maka Alkitab sudah seringkali tegur kita semua bahwa manusia itu melihat yang kelihatan, tapi Tuhan itu melihat hati, pikiran, perasaan, kehendak manusia.

Nah, maka jauh lebih penting yang tidak kelihatan dibandingkan dengan yang kelihatan. Yesus berdoa untuk diri sendiri, tetapi dengan prioritas kemuliaan Tuhan. Inilah dasar kenapa kita berdoa untuk diri sendiri, yaitu untuk Tuhan dan kemuliaan-Nya. Berdoa untuk diri sendiri akan menjadi masalah bila kita egois, lalu kita memaksa Tuhan mengabulkan doa kita dan kita sendiri tidak mengenal siapakah Tuhan, lalu pada akhirnya kalau kita berdoa untuk diri sendiri dengan pengertian yang salah, dengan motivasi yang salah, ketika doa itu tidak terkabul, maka yang salah itu bukan kitanya, yang salah itu Tuhan karena kita berdoa untuk diri sendiri demi kepentingan diri sendiri, bukan untuk kemuliaan Tuhan. Kita bisa kecewa, bisa marah kepada Tuhan karena doa kita sendiri yang salah, tapi kalau kita belajar untuk berdoa demi kemuliaan Tuhan, pada dasarnya andaipun doa kita tidak dikabulkan, ya, itu pun demi kemuliaan Tuhan. Doa diri sendiri, ya, ya sudah yang penting kemuliaan Tuhan. Ya, yang penting kemuliaan Tuhan, bukan saya. Saya mau dipakai menjadi alat Tuhan. Doa yang benar adalah ungkapan apa yang ada di hati dan diri kita. Ya, betul, itu doa benar. Jujur, kok. Kita boleh mendoakan segala keluh kesah kita. Kita boleh curhat kepada Tuhan apa pun, tetapi kita harus berfokus juga kepada kemuliaan Tuhan. Kita harus rendah hati di hadapan Tuhan untuk menerima setiap jawaban doa kita.

Nah, inilah yang Yesus ajarkan kepada gereja-Nya, kepada para murid-Nya. Berdoa untuk diri nggak masalah, tetapi jangan lupa doa yang prioritas, utama adalah untuk kemuliaan Tuhan dan untuk kerohanian kita semua. Bila dikabulkan, kita puji Tuhan. Bila tidak dikabulkan, kita pun bisa berkata seperti Ayub, “Terpujilah nama Tuhan!” Bila pada akhirnya doa kita menunggu jawaban dari Tuhan, menunggu itu pun kita harus mengakui Tuhan bahwa, ya, terpujilah Tuhan. Karena apa? Karena hati kita berfokus kepada kemuliaan Tuhan, karena kita tahu bahwa Allah berdaulat dalam segala sesuatu dan dengan hikmat-Nya akan memberikan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia. Nah, inilah ketenangan orang Kristen ketika menunggu jawaban doa dari Tuhan. Dikabulkan, puji Tuhan! Tidak dikabulkan, puji Tuhan! Menunggu jawaban dari Tuhan, puji Tuhan! Tidak tahu jawaban dari Tuhan pun, puji Tuhan! Saya dibentuk untuk pada akhirnya dewasa dan memuliakan nama Tuhan.

Ketika kita merenungkan tentang doa diri sendiri, ya, saya kemudian mengingat satu doa yang juga menjadi kontroversial di gereja-gereja, ya, di Alkitab itu ada doa untuk diri sendiri, yaitu namanya di 1 Tawarikh, yaitu doa Yabes. Nah, Yabes itu betul-betul pakai “aku”, lho, ya. Ada 4 hal yang didoakan oleh Yabes, yaitu “kiranya Allah, Engkau, Engkau memberkati aku berlimpah-limpah.” Ini doa pertama, ya. Sampai ada lagunya, ya. Sampai kita hafal juga, ya mungkin, ya. Yang kedua, “memperluas daerahku.” Lalu, “tangan-Mu menyertai aku dan melindungi aku dari segala bahaya.” Empat poin doa semua ada aku-nya. Demi aku, ya, demi daerahku, tangan-Mu menyertai aku, melindungi aku. Ini adalah doa untuk diri sendiri semua. Tetapi uniknya di ayat tersebut Alkitab mencatat dan Tuhan mengabulkan doa Yabes itu. Yang mengabulkan doa Yabes adalah Tuhan.

Nah, jawabannya kenapa Tuhan mengabulkan doa Yabes? Bukankah itu doa untuk diri sendiri, kepentingan diri, kelihatannya. Ya, kita pikir itu doa yang dipakai orang-orang atau gereja-gereja menjadi dasar teologi kemakmuran. Ya, pokoknya kita harus doa yang penuh dengan kekayaan materi, kesehatan, luas, berkembang, dan lain, ya. Tapi, dasarnya sebenarnya, doa ini kelihatannya egosentris, tetapi sebenarnya ini adalah doa yang berpusat kepada Tuhan. Dan Tuhan izinkan di dalam satu khusus bagian Alkitab tersebut di dalam kisah sejarah manusia bahwa ada doa yang seolah-olahnya egois, tetapi Tuhan kabulkan. Tetapi kalau kita perdalam lagipelajari doa Yabes ini, sebenarnya bukan doa yang egois, melainkan doa yang Tuhan berikan contoh bahwa Tuhan pun mengabulkan doa untuk diri sendiri. Jadi, kalau ada keinginan kita yang terkabul, ya, kita harus memuliakan Tuhan. Jangan pikir saya doa ini saya bisa kabulkan doa saya ini, ya. Padahal itu semua dari Tuhan. Doa itu, doa Yabes adalah doa yang menyatakan prinsip bahwa Tuhan juga mendengar doa pribadi kita. Doa untuk diri sendiri Tuhan dengar, tetapi Tuhan akan mengabulkan doa tersebut asal hatinya seperti Yabes. Yabes itu punya hati yang berpusat pada Allah. Maka waktu permohonan pertama dia katakan, kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah, berkat ini sendiri kan sebenarnya bukan hanya berkat materi kan. Berkat itu bisa didefinisikan berkat jasmani, berkat rohani. Dan Yabes mendoakan berkat, semua berkat dari Tuhan. Berkat rohani maupun jasmani, dia doakan kepada Tuhan. Dan dia bukan hanya memiliki sikap berdoa yang berpusat pada Allah, tetapi dia menyerahkan segala jawaban itu kepada Tuhan. Andai pun dia tidak kaya, andai pun seolah-olah Tuhan tidak melindungi dia dari segala masalah atau bahaya, dia akan tetap beriman kepada Tuhan. Ini seperti imannya Sadrak, Mesak, Abednego.

Ya, Sadrak, Mesak, Abednego, tidak mau sujud menyembah patung Nebukadnezar, tetapi ketika diancam untuk dimasukkan ke dapur api mereka mengatakan, “Sekali pun Tuhan tidak menyelamatkan kami, biarlah kami mati tetapi kami beriman kepada Tuhan. Sekali pun Tuhan tidak mengabulkan doa kami untuk menyelamatkan kami dari hukuman mati, kami akan tetap setia.” Itu namanya iman. Tetapi kalau namanya iman yang setengah itu, kalau Tuhan kabulkan, baru saya setia. Kalau Tuhan tidak kabulkan doa saya, saya nggak setia. Itu bukan iman yang sejati, itu iman yang setengah-setengah, ya. Iman yang tidak sejati di hadapan Tuhan. Yabes mengerti hal ini. Yabes mengerti kemuliaan Tuhan hidup berpusat bagi Allah dan hatinya sinkron dengan Tuhan. Karena dia memiliki relasi aku dan Engkau. Segala berkat yang baik datangnya dari Tuhan. Dan justru ketika dia berdoa, sinkron dengan hati Tuhan bahwa Tuhan memang mau memberikan segala kekayaan, daerah, penyertaan dan perlindungan kepada Yabes, Tuhan mengatakan “kamu berdoa sesuai dengan kehendak-Ku, Aku kabulkan.” Dan di sini Yabes tidak demi kepentingan dirinya sendiri.

Hanya saja, kesalahan gereja-gereja sekarang dalam memahami doa Yabes ini adalah, “ini rumusan ajaib, kita harus doakan seperti ini, supaya Tuhan kabulkan.” Ini kan jadi takhayul, jadi mantra. Kita harus doa seperti doa Bapa Kami, kata-katanya plek sama. Ini kan jadi mantra. Kalau kita berdoa Bapa Kami, doa Yabes, doa Tuhan Yesus, maka semua keinginan kita dikabulkan, ini kan salah lagi. Melupakan Allah yang berdaulat. Tetapi yang kita lihat dari contoh-contoh doa adalah prinsipnya. Tuhan mengabulkan doa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuhan mengabulkan atau mendengarkan doa untuk diri sendiri, tetapi didasari untuk kemuliaan Tuhan, dan segala jawaban doa itu tergantung Tuhan, bukan tergantung kita. Kita tugasnya adalah taat, setia kepada Tuhan.

Kesalahan gereja-gereja saat ini adalah doa Yabes diulang setiap hari dan bahkan jadi sebuah lagu yang bila terus menerus dilakukan atau dinyanyikan, maka kuasa doanya akan semakin encer, gitu, ya. Semakin ajaib, semakin ampuh. Kita doain sampai mati pun, terus doain itu, kalau Tuhan tidak ingin, nggak akan jadi. Nggak akan jadi, kita terus doa Bapa Kami pun, kalau hati kita tidak sungguh-sungguh memuliakan Tuhan, nggak ada efek. Kalau Tuhan tidak beranugerah, tidak bekerja dalam hati kita, kita nggak bisa apa-apa. Akhirnya, doa Yabes juga kalau terus dikumandangkan, ya, ini menjadi orang tuh terjerumus dalam pesan yang salah, yaitu fokus kekayaan, materi, kesuksesan, berkat jasmani, padahal semua itu adalah hal yang rohani. Karena rohani Yabes sudah dekat dengan Tuhan, bahwa Tuhan sendiri mau memberikan berkat jasmani itu, maka Yabes berdoa demikian, dan dia untuk kemuliaan Tuhan. Bayangkan kalau Yabes kaya tanpa doa itu. Ya, Tuhan melindungi dia, Tuhan menyertai dia, Tuhan memperluas daerah dia. Terus, dia juga dapat berkat begitu banyak secara materi, tanpa dia doakan, ada kemungkinan besar Yabes akan jadi orang yang sombong. “Nggak perlu Tuhan, nggak perlu Tuhan saya kaya, nggak perlu Tuhan saya baik-baik saja, sehat-sehat saja, nggak ada celaka”, gitu, ya. Tapi justru Yabes berdoa ini supaya kemuliaan Tuhan nyata bahwa Tuhanlah yang mengabulkan doanya. Ini bagian pertama yang kita bisa lihat Bapak, Ibu, Saudara sekalian bahwa Yesus berdoa untuk diri-Nya sendiri, tetapi tidak berhenti pada diri-Nya sendiri, melainkan Pribadi Allah Tritunggal dan pekerjaan Allah Tritunggal.

Perenungan yang kedua adalah relasi pribadi I and Thou relationship. Kita tahu bahwa Yesus itu saat berdoa, Dia sedang memasuki sengsara salib yang begitu besar, pergumulan yang begitu besar, dan di dalam doa-Nya dengan pergumulan-Nya begitu besar, Yesus sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan untuk diri-Nya sendiri supaya Dia mampu melewati pergumulan yang begitu besar yaitu salib itu sendiri. Nah, seorang filsuf Yahudi dan teolog Yahudi juga bernama Martin Buber, itu menulis buku terkenal Ich und Du, ya, I and Thou. Ini tulisan sudah cukup lama tahun 1923, dia membedakan dua jenis hubungan manusia terhadap yang lainnya. Yang pertama adalah relasi aku dan itu, aku dan objek lain, ini adalah hubungan yang impersonal yang menggunakan sesuatu hubungan itu untuk tujuan tertentu. Nah orang lain dilihat sebagai objek saja yang demi kepentingan dia. Nah sering kali, manusia berdosa melihat orang lain itu seperti I and It. Aku dan itu. Bukan person. Nah, demikian juga manusia apalagi orang yang tidak kenal Kristus, dia menganggap Allah itu “it”. Aku dan it. Karena tidak kenal kok, Allah itu seperti apa? Ya, objek yang dia manfaatkan, ya, cuman menenangkan hati nurani yang menyatakan dia sudah bersalah di hadapan Tuhan, ya. Dia berelasi itu kepada Allah, tetapi “it”, bukan sungguh-sungguh mengenal Pribadi Allah. Hubungan yang impersonal ya, hubungan yang memanfaatkan satu dengan yang lainnya.

Kita kepada sesama pun bisa demikian, kita melakukan hal yang baik untuk supaya dia memberi keuntungan kepada kita. Ya, banyak bisnis-bisnis yang demikian sehingga relasi itu tidak murni, tidak I and Thou, aku dan engkau, tetapi aku dan it. Kita sama-sama cari uang, kamu baik sama saya, saya baik sama kamu demi uang. Ini kan, salah. Aku baik, kamu baik, kita saling mengasihi demi Tuhan harusnya, demi kemuliaan Tuhan bukan demi tujuan tertentu dari komunitas tersebut. Nah sering kali manusia di dalam relasi itu hanya sebatas I and it kepada Tuhan maupun kepada sesama tapi yang penting bagi Martin Buber adalah relasi aku dan engkau. Ya hubungan pribadi, hubungan dialog, maka tidak heran kalau pada akhirnya ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita lebih senang itu ngobrol dengan orang yang betul-betul memanusiakan kita, kita bukan dianggap sebagai objek, pemuas kebutuhan dia, atau pemuas pekerjaan dia, gitu ya. Kita tuh, sama orang ya, orang gitu, person, jiwa yang berharga, ciptaan Tuhan dan kita diminta Tuhan untuk saling mengasihi, kita hormati dia, bukan karena ada untungnya demi kita. Sering kali kita banyak ruginya, kita dituntut Tuhan mengasihi sesama, kita banyak keluhan, masalah, sakit hati, tetapi inilah relasi yang Tuhan harapkan. Ya, manusia mengasihi manusia bukan manusia mengasihi objek yang kelihatannya manusia ini bagi dia untuk memuaskan kebutuhan dia, ya itu salah.

Akhirnya kalau kita berelasi kepada sesama itu sebagai “it” ya, nah inilah yang dinyatakan sebagai toxic relationship. Kamu demi aku memanipulasi orang, mengatur orang demi dirinya sendiri, ini bahaya sekali. Tapi yang diharapkan oleh Tuhan adalah kita relasi aku dan engkau, penghargaan satu dengan yang lainnya, ya tidak ada manipulasi, ya, tetapi kita bisa mengasihi dengan hikmat Tuhan. Inilah yang diharapkan juga kita berelasi kepada Tuhan, aku dan Tuhan. Ya, jangan anggap Tuhan itu “it” yang memuaskan kebutuhan kita, keinginan kita. Kita anggap Tuhan itu Tuhan. Kalau Tuhan tidak mau memuaskan keinginan kita yang seolah-olah ini adalah kebutuhan kita, yang seolah-olah kita rasa penting dan bagus kalau kita terima ya sudah Tuhan adalah Tuhan. Kita harus nurut sama Tuhan.

Relasi aku dan engkau berarti bicara di dalam teologi, ya, manusia berjumpa dengan Allah secara eksistensial, secara pergumulan yang nyata Tuhan hadir, di tengah pergumulan kita, dan betul-betul kita merasakan pergumulan hadir bersama dengan Tuhan, kita berelasi dengan Tuhan dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya sebatas intelektual atau ritual saja, sering kali ya kita berdoa ini, godaan yang besar, pencobaan yang besar adalah untuk kita diajak berdoa oleh liturgis, oleh pengkhotbah, diajak memuji Tuhan itu sebatas intelektual saja. “Oh nyanyinya harus gini, ritualnya begini, nanti lagunya ada 4, kita ikuti semua”, tidak ada relasi dengan Tuhan. Bahwa kita tuh sungguh-sungguh mengucapkan doa kepada Tuhan, kita sungguh-sungguh pikiran kita untuk kemuliaan Tuhan. Itu bahaya sekali. Manakah doa yang sering kita lakukan dan kita perlu gumulkan juga, itu yang kedua, ya. Poin renungan yang kedua.

Yang ketiga, relasi keluarga, yaitu bapak dan anak. Dari khotbah ini bisa kita lihat dari doa ini, ya, doa dari Yesus Kristus ini, dalam relasi kita di dunia Bapak, Ibu Sekalian, relasi orang tua dan anak itu unik, tetapi uniknya, tidak akan juga nyambung ke surga. Sekalipun relasi orang tua dan anak unik, relasi suami dan istri itu unik hanya terjadi di bumi ini tetapi tidak nyambung di surga. Di surga hanya ada relasi brother and sister in Christ. Ya, saudara seiman, tidak ada relasi hubungan biologis, gitu ya. Uniknya di bumi ini ada dua relasi yang unik yang hanya di bumi dan tidak berlanjut ke surga yaitu relasi suami istri, relasi orang tua dan anak. Maka bersyukur, secara tidak sadar ya, bahwa kita diizinkan untuk boleh menikah, boleh memiliki anak, itu juga adalah privilege yang Tuhan berikan supaya kita boleh dibentuk lagi lebih mengenal Tuhan dan dengan mengalaminya. Kalau orang-orang yang tidak, akhirnya tidak menikah karena memilih untuk selibat, untuk pelayanan Tuhan dan akhirnya tidak punya anak juga, itu mereka bisa memahami kebenaran Tuhan tetapi ya memang tidak secara eksistensial, gitu ya, tidak secara mengalaminya. Tapi bukan berarti mereka lebih rendah seperti itu ya. Mereka tetap manusia memiliki panggilan Tuhan. Di dalam relasi orang tua dan anak, itu adalah satu relasi yang muncul itu adalah tanpa syarat. Tanpa syarat nggak? Orang tua saling mengasihi, si istri hamil, terus memiliki anak, nah orang tua mengasihi bayinya ini tanpa syarat. Tanpa pamrih.

Nah, Martin Luther, seorang reformator Jerman ini mengatakan ya, dengan nada penuh kasih kekaguman terhadap bayinya sendiri. Nah ketika dia memutuskan bukan jadi Romo lagi, justru harus menjalankan firman Tuhan, dia sengaja menikah untuk kemuliaan Tuhan. Dan dia juga mau punya anak untuk kemuliaan Tuhan. Ketika dia memandang bayinya, di situ dia berkata dengan penuh kekaguman ya, “You only sleep, only drink and wet yourself, but still I love you dearly.” Gitu ya. Bayi nggak bisa apa-apa, kamu cuman tidur, makan terus buang air kecil, buang air besar, tapi aku tetap mengasihi kamu. Ini kasih apa ya. Bayi nggak bisa apa-apa. Kita semua pernah menjadi bayi, kecuali Adam dan Hawa, dan orang tua itu mengasihi tanpa syarat. Dan uniknya relasi orang tua dengan anak, sekalipun orang tua, “Kamu bukan anak saya lagi!” tetap anak. Sekalipun anak mengatakan, “Kamu bukan orang tua saya, putus hubungan!” orang tua tetap orang tua. Nah di sini kita melihat, bahwa gambaran orang tua dan anak, itu menunjukkan relasi yang selama-lamanya.

Pada waktu Yesus mengatakan “Bapa di Surga, Aku ini Anak-Mu.”, ini relasi yang kekal, relasi Ilahi yang sangat indah, begitu agung. Bapa tidak menciptakan Anak. Kita mengerti ya dalam teologi Reformed. Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus itu ketiganya Esa, ketiganya Pribadi yang berbeda tetapi satu Allah. Dan Bapa, digambarkan di dalam Alkitab itu melahirkan Anak secara kekal. Suatu hubungan asal yang tanpa awal dan tanpa waktu. Maka di dalam teologi Reformed, pernah dijelaskan ya, sedikit dijelaskan bahwa, ini adalah internal generation. Internal generation of Christ, bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus, Anak berasal dari Bapa tapi sehakekat dengan Bapa. Yesus Allah, Bapa Allah. Tetapi untuk menggambarkan bahwa ada ordo, itu digambarkan dengan kelahiran yang kekal, yang kita tidak bisa mengerti ini secara manusia ya, bagaimana di dalam kekekalan belum ada ruang dan waktu, Bapa melahirkan Anak. Dan memang sudah ada sejak awalnya ya, namanya Allah ya, tidak diciptakan. Nah, kenapa pada akhirnya kita melihat bahwa ada relasi Bapa dan Anak? Kalau di dalam bumi ini, relasi Bapa dan Anak sering kali kan hierarki. Atas-bawah. Saya lebih dulu hidup kok. Kamu lebih bawah dari saya. Umur saya lebih panjang, kamu lebih singkat. Sering kali bapa-anak itu atas bawah. Tetapi dalam relasi Allah Tritunggal tidak ada atas bawah, relasi yang ada adalah kiri ke kanan, sama-sama Allah yang setara kemuliaan, lalu yang pertama adalah Bapa. Yang kedua adalah Anak. Yang ketiga adalah Roh Kudus. Allah mewahyukan diri-Nya secara urutan, secara ordo, menunjukkan keteraturan di dalam diri Allah dan pekerjaan Allah yang berbeda satu dengan yang lainnya tetapi harmonis. Ya, satu kehendak dan satu tujuan.

Nah ini adalah relasi yang diingatkan Yesus terhadap manusia yang adalah anak-anak-Nya. Ingat, gereja Tuhan, kita itu punya relasi yang kekal dengan Bapa di Surga, karena siapa? Karena Yesus Kristus. Maka orang Kristen diajarkan oleh Yesus Kristus di dalam doa Bapa Kami, doa ke Tuhan tu jangan cuma ke Tuhan terus, anggaplah kamu mengatakan Tuhan, waktu berdoa, ingat Tuhan itu adalah Bapamu. Ya Dia adalah Allah sumber segala sesuatu, dan kita berasal dari Dia. Dan kita yang sudah ditebus dengan darah Kristus, kita diadopsi menjadi anak-anak Allah. Inilah relasi yang Yesus nyatakan juga dalam doa-Nya, bahwa Yesus ini Anak Tunggal Bapa, tetapi umat-Nya atau gerejanya adalah anak-anak adopsi dari Allah sendiri.

Lalu poin yang keempat dalam perenungan kita yaitu pekerjaan Allah Tritunggal di dalam bagian yang pertama ini ya, Yoh. 17:1, di situ dikatakan, Yesus mengatakan kepada Bapa, “Bapa permuliakanlah Aku supaya Aku juga mempermuliakan Engkau.” Nah ini adalah pekerjaan Allah Tritunggal, bahkan sejak sebelum dunia dijadikan. Sebelum dunia dijadikan, apakah Allah itu diam? Nggak kerja apa-apa, pasif, tidak ada pekerjaan? Lalu lama-lama nggak ada pekerjaan akhirnya jadi bosan, ngapain ya? Terus ciptakan dunia deh. Nggak. Waktu di dalam kekekalan Tuhan itu, Tuhan sudah sempurna, Tuhan sudah cukup dalam diri-Nya sendiri. Allah Tritunggal, Bapa, Anak, Roh Kudus saling mengasihi satu dengan yang lainnya. Mereka sudah saling mempermuliakan satu dengan lainnya. Nah apa pekerjaan yang Tuhan terus lakukan dari kekal sampai kekal? Yaitu adalah mempermuliakan Pribadi yang lainnya. Sebelum dunia dijadikan Allah Tritunggal saling memuliakan, setelah dunia dijadikan, Allah Tritunggal saling memuliakan. Sampai dunia ini akan selesai digantikan dunia yang akan datang, Yerusalem Baru itu, Allah Tritunggal akan terus saling mempermuliakan. Baik adanya surga maupun adanya neraka, Allah tetap saling mempermuliakan di dalam ketiga Pribadi ini.

Nah di sini Yesus menyatakan kehendak Tuhan di dalam mempermuliakan Yesus dalam mengerjakan karya keselamatan di atas kayu salib. Di sini adalah wujud tindakan Allah yang saling mempermuliakan, yaitu Bapa memang merencanakan keselamatan bagi umat-Nya lewat penebusan Yesus Kristus di kayu salib untuk menanggung hukuman dosa umat-Nya. Nah maka pekerjaan keselamatan atau salib Kristus itu adalah pekerjaan Allah Tritunggal. Dan di sini menjadi momen ruang dan waktu kira-kira 2000 tahun yang lalu, Yesus akan menerima sengsara di kayu salib, di sinilah Allah memuliakan, saling mempermuliakan, di dalam ruang dan waktu, di dalam kondisi dunia ini. Di momen yang tepat, waktu yang tepat Allah Anak akan menggenapkan keselamatan. Sehingga kita mengingat pekerjaan keselamatan di dalam Allah Tritunggal adalah Bapa merencanakan keselamatan atau men-design keselamatan seperti apa. Lalu Allah Anak menggenapi rencana atau design dari Allah sendiri, dari Bapa sendiri untuk keselamatan. Lalu Allah Roh Kudus akan menerapkan keselamatan itu kepada umat Allah sendiri yaitu dengan kelahiran kembali. Sehingga karya keselamatan Allah ini betul-betul karya Allah Tritunggal, tidak boleh salah satunya saja.

Dan ketika Allah Tritunggal bekerja sama masing-masing satu dengan yang lainnya, mereka saling mempermuliakan, menunjukkan diri-Nya itu indah karena ada peran masing-masing di dalam karya keselamatan dan salib Kristus ini ya. Bagian ini menyadarkan kesadaran juga bahwa Yesus Kristus sebagai anak Allah yang kekal itu sadar bahwa Dia di bawah kedaulatan Allah. Dan tiba saatnya Yesus disalib, maka Dia berdoa seperti demikian ya. Nah ini adalah pekerjaan dari Allah Tritunggal sendiri, mereka saling menghormati satu dengan yang lainnya. Dan ini menjadi suatu teladan bagi kita, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, di dalam relasi satu dengan yang lainnya ya, mari kita sama-sama belajar untuk menghormati yang lainnya. Ya kita saling menghormati, saling memuji ya, dan saling juga menegur jikalau kita ada salah dan dosa di hadapan Tuhan ya. Kita mau supaya rendah hati dengan relasi sesama ini ya. Nah ini kita teladani dari Allah Tritunggal yaitu saling mempermuliakan, harmonis, saling ada perannya masing-masing dan itu juga kita bisa teladani dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dan yang kelima ya, perenungan yang kita akan renungkan yang terakhir adalah pekerjaan keselamatan ya. Di ayat 2, Yoh. 17:2 di sini Yesus mengukuhkan menjelaskan bahwa, “sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepadanya.” Di sini Bapa memberikan kuasa kepada Yesus Kristus, dan Yesus Kristus mampu juga memberikan hidup kekal pada semua orang yang diberikan Bapa kepada Yesus Kristus. Nah pertanyaannya adalah kok seolah-olah Yesus nggak punya otoritas, nggak punya kuasa sehingga Bapa itu memberikan kuasa kepada Yesus Kristus, memberikan otoritas itu. Nah kalau kita melihat Yesus di dalam natur Allah-nya, ini nggak benar dong, masa Allah pernah tidak punya otoritas. Sehingga dari ayat ini saja kita bisa melihat bahwa waktu Yesus berdoa, doa ini adalah wujud bagaimana Yesus sebagai manusia 100% yang membutuhkan kekuatan dari Bapa di surga untuk menjalani sengsara-Nya di atas kayu salib nantinya. Dan waktu Yesus berdoa kepada Bapa, dia tahu bahwa Bapa memberikan otoritas kepada Yesus Kristus. Karena apa? Karena manusia ini Yesus Kristus itu ditunjuk, diberikan tugas untuk menggenapkan karya keselamatan bukan orang lain. Jadi memang ketika berelasi dengan Bapa di surga di dalam bagian ini, Yesus menunjukkan dirinya ini adalah manusia 100%. Dan manusia 100% ini tidak berdosa. maka dari itu, dia memang bisa memiliki otoritas untuk menyatakan keselamatan bagi banyak orang. Tapi kalau hanya manusia saja berarti hanya bisa tebus satu manusia yang lain, karena Yesus satu. “Saya manusia tidak berdosa, saya mampu menebus dosa satu orang saja dong.”

Nah di sinilah kebutuhan kita akan natur Allah Yesus Kristus. Kalau betul Yesus hanya manusia saja ya, tebusnya hanya satu orang saja untuk bisa diselamatkan dan masuk surga. Tapi karena Dia natur Allah, maka Dia menggunakan ya karya keselamatan ini untuk disebarkan kepada umat pilihan-Nya. sehingga barang siapa percaya kepada Yesus Kristus tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Jadi, Bapa memberikan otoritas kepada Sang Anak Manusia. Ya, Sang Anak Manusia. Kalau Yesus sebagai Allah yang Maha kuasa tidak perlu diberikan otoritas karena memang sudah berotoritas karena dia adalah Allah ya. Tapi di dalam natur manusia-Nya, Yesus dipilih oleh Bapa, direncanakan oleh Bapa, diberikan kuasa oleh Bapa untuk menjadi jalan keselamatan bagi orang yang berdosa.

Dalam rencana keselamatan ini, Anak menjelma jadi manusia lalu menerima otoritas dari Bapa untuk melaksanakan penebusan dan penghakiman. Nah mari kita lihat dua ayat dari Yoh. 5:27, di sini otoritas dari Bapa kepada kemanusiaan Yesus Kristus ya. Mari kita baca bersama-sama, Yoh. 5:27. “Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia.” Jadi, Yesus ketika menghakimi dunia itu adalah sebagai Hakim juga yang adalah manusia. Siapa di antara kita yang boleh menghakimi sesama? Yesus katakan, “Kamu sendiri lihat diri kamu sendiri, kamu saja berdosa kok. Apa hak kita menghakimi sesama kita? Kita pun banyak kelemahan, banyak dosa.” Ya, kita serahkan ke penghakiman itu sepenuhnya kepada Tuhan. Tapi kita sebagai manusia yang punya sense of justice, yang kita punya kebenaran, kita boleh menyatakan kebenaran sesuai dengan cara yang tepat. Maka seorang hakim di pengadilan dia bertugas sebagai hakim. Sebagai manusia, sesama manusia kita waktu menyatakan penghakiman kita tegur yang salah, tegur dosa agar orang boleh kembali kepada Tuhan. Nah itu penghakiman yang tidak sembarangan ya, tidak terburu-buru. Dan itu semua penghakiman yang sejati sempurna itu diberikan kepada Anak Manusia Yesus Kristus.

Yang kedua, Mat. 28:18. Kita lihat lagi, kita baca ya bersama-sama di sini otoritas juga ya yang diberikan oleh Bapa kepada Yesus Kristus. Mat. 28:18, “Yesus mendekati mereka dan berkata: ”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.”” Yesus punya otoritas ini ya untuk menghakimi, untuk menebus ya, untuk menjadi jalan keselamatan dan juga untuk memimpin seluruh dunia karena Dia adalah Anak tunggal Allah. Dan Anak Manusia menggunakan kuasa itu pada akhirnya untuk memberikan hidup yang kekal bagi banyak orang. Yesus menanggung hukuman dosa kita. Hidup kekal itu diberikan kepada umat yang telah Bapa pilih dan telah diserahkan kepada Anak. Jadi kematian Yesus di atas kayu salib ini eksklusif bagi orang-orang yang mau percaya kepada-Nya. Bagi orang-orang yang tidak mau percaya kepada penyaliban Yesus, ya Yesus tidak mati untuk dia. Karena Bapa tidak menyerahkan orang tersebut kepada Yesus. Dan Yesus juga tidak menerima orang-orang itu dari Bapa, maka Yesus tidak mati untuk orang-orang yang tidak menerima Yesus Kristus. Keselamatan manusia berdosa dikerjakan oleh Allah Tritunggal.

Nah, dari lima poin ini Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita bisa belajar, ya, bahwa mari kita sama-sama berdoa dengan cara yang lebih baik lagi, lebih benar lagi. Yang sering kali doa kita menjadi salah adalah sering kali waktu kita berdoa untuk kepentingan diri sendiri atau keluarga. Aku, aku semua itu, ya. Nah, itu bahaya sekali karena akhirnya hidup kita bisa berfokus kepada ego kita. Tetapi, ketika kita melihat teladan Yesus Kristus, ya, kita mau belajar berdoa, yaitu berdoa untuk aku, kepentingan aku, tapi demi kemuliaan Allah. Maka sering kali, ya kalau Pdt. Stephen Tong kasih contoh yang agak ekstrim itu bahwa dia nggak pernah doakan untuk keselamatan dirinya sendiri. Mau naik pesawat, nggak pernah doa. Bukan berarti dia malas berdoa, ya. Mau naik pesawat, nggak berdoa, mau nanti diasasinasi orang nggak masalah gitu. Nggak doakan supaya selamat, jangan mati cepat gitu, ya. Ya, itu menunjukkan apa? Bahwa aku tuh hati-hati terhadap diriku sendiri. Kalau aku terlalu banyak berdoa untuk diri sendiri, akhirnya kita memerintah Tuhan. Bukan Tuhan yang memerintah kita. Hati-hati kita terlalu banyak berdoa untuk kepentingan diri kita, tetapi tidak berdoa untuk kemuliaan Tuhan dan Gereja Tuhan.

Nah, waktu kita berdoa untuk diri sendiri dengan mata untuk memuliakan Allah, di situlah kita bisa menikmati waktu-waktu berdoa sekalipun ada unsur yang berat juga. Maka, orang-orang yang ikut persekutuan doa Rabu, yang dapat kesempatan dan bisa mengikuti, ya, itu betul-betul dilatih tidak mendoakan diri sekalipun ada mendoakan kepentingan umum. ya. Tapi kita berdoa untuk pekerjaan Tuhan. Di situ lama-lama kita bisa mengenal Tuhan itu seperti apa. Kita juga bisa mengikuti teladan Tuhan seperti apa. Hati kita akan semakin nikmat ketika kita berdoa dengan cara yang benar. Tapi kalau kita berdoa dengan cara yang salah, justru doa itu kontraproduktif. Kita doa, makin beban. Doa, makin malas. Doa, bukannya lega, ya, makin sulit karena demi kepentingan kita semua. Tidak memandang kemuliaan Allah Tritunggal. Ya, kita belajar berelasi kepada Tuhan tuhI and Thou relationship”, aku dan Engkau. Engkau yang seperti apa yang aku pahami sekarang. Bukan hanya secara intelektual, lalu doanya langsung fokusnya: Allah, Engkau adalah Allah yang berdaulat terus. Berdaulat terus. Engkau adalah Allah yang seperti apa yang aku pahami saat ini. Itu yang kita ungkapkan kepada Tuhan. Bukan intelektual kita. Kita pengin doa, Tuhan tuh kayak gimana, ya? Oh, Tuhan tuh Mahakuasa, Mahahadir. Bukan. Yang kita rasakan saat ini, yang sesuai kebenaran Firman Tuhan, kita mau berelasi dengan Tuhan: “Tuhan itu seperti apa sih? Saya ingin merasakan Tuhan. Saya ingin mengalami Tuhan. Saya sungguh-sungguh ingin berelasi dengan Tuhan. Bukan cuman ritual. Bukan intelektual saya, bukan pengetahuan saya sebagai orang Kristen. Saya tahu lah: Tuhan Bapa, Anak, Roh Kudus. Saya sudah tahu semua.” Tapi betul-betul mengenal siapa Bapa, siapa Anak, dan siapa Roh Kudus. Maka pembicaraan dengan Tuhan bukanlah pembicaraan yang membosankan. “Ah, udah!” Pengen cepat-cepat doanya, ya. Tiba-tiba speed doanya makin cepat terus makan, gitu, ya. Tapi pembicaraan dengan Tuhan adalah pembicaraan yang penuh dengan hormat, penuh dengan sukacita karena kita berelasi kepada: “Engkau yang hidup saat ini. Yang sedang berada di depanku, yang sedang memelihara aku. Kita belajar mengingat setiap kebaikan Tuhan, keselamatan yang Tuhan berikan, dan juga pekerjaan dari Allah Tritunggal.

Jadi, Bapak, Ibu sekalian, mari kita berdoa dengan mata memandang kemuliaan Tuhan, dengan sungguh-sungguh bicara kepada Tuhan. Bicara kepada Tuhan tuh seperti apa, sih? Dan Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa relasi yang pertama yang harus kamu kasihi adalah ketika kamu menghormati ayah dan ibumu. Itu relasi manusia yang pertama yang Tuhan perintahkan, yaitu kasihilah, hormatilah ayahmu dan ibumu. Nah, bagaimana kita belajar bicara kepada orang tua kita? Kalau kita mengasihi Dia, menghormati mereka, kita ada rasa gentar, hormat, mengasihi kepada orang tua, kepada Tuhan jauh lebih tinggi lagi. Kita nggak bisa bicara sembarangan. Kita nggak berani salah ngomong, tapi kita mau mencurahkan seluruh isi hati kita kepada Tuhan. Kiranya kita boleh bertumbuh di dalam doa-doa kita kepada Tuhan. Mari kita sama-sama berdoa.

Tuhan, Allah Bapa kami yang ada di surga, sungguh indah Engkau Tuhan di dalam hidup kami. Engkau sudah menyatakan kemuliaan Engkau yang begitu besar: lewat penciptaan dunia ini, lewat pemeliharaan Tuhan. Bahkan ketika manusia sudah melawan Tuhan, jatuh dalam dosa, Tuhan juga menyatakan kemuliaan Tuhan lewat penebusan yang dilakukan Yesus Kristus di atas kayu salib. Tuhan, kami mohon supaya Tuhan boleh mengajarkan kami untuk berelasi kepada Tuhan dengan cara yang benar. Kami tidak mau ketika berelasi dengan Tuhan hanya fokus kepada kepentingan diri kami atau membuat Tuhan sebagai objek saja yang memenuhi kepuasan kami atau keinginan kami. Kami mau memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan. Dan ajarlah kami, Tuhan, di dalam relasi kami satu dengan yang lainnya, dengan sesama, kami juga bisa memperlakukan manusia yang lain sebagai layaknya Tuhan memperlakukan mereka. Kami mau mengasihi sesama manusia seperti kami mengasihi diri kami sendiri. Dan terlebih lagi kami mau mengasihi Tuhan dengan segenap hati kami. Terima kasih Tuhan untuk kasih-Mu yang begitu besar, untuk teladan doa dari Yesus Kristus yang boleh kami pelajari. Kiranya kami boleh memiliki hati yang terus tekun berdoa kepada Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.