Persimpangan, 9 November 2025

Persimpangan

Yoh. 6:60-71

Pdt. Dawis Waiman, M. Div

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu kita membaca perikop ini, kita bisa simpulkan satu hal bahwa murid-murid pada waktu itu sampai kepada satu persimpangan jalan. Dan di dalam persimpangan jalan itu, kenapa disebut persimpangan jalan? Karena pada waktu itu murid-murid setelah mendengar pengajaran dari Yesus Kristus, mereka harus mengambil satu keputusan: apakah mereka akan terus mengikuti Yesus atau meninggalkan Yesus Kristus. Dan yang menjadi dasar mereka untuk mengambil keputusan itu adalah berkaitan dengan perikop sebelumnya. Pada waktu itu Yesus Kristus mengajarkan bahwa diri Dia adalah sungguh-sungguh Roti yang datang dari surga bagi umat-Nya. Dan tubuh-Nya sungguh-sungguh adalah makanan dan darah-Nya adalah sungguh-sungguh adalah minuman. Dan barang siapa yang makan Roti itu –atau tubuh Yesus itu– dan meminum darah Yesus, maka dia akan memperoleh atau memiliki hidup yang kekal.

Nah, pada waktu murid-murid mendengarkan hal ini, maka mereka kemudian bergumul di dalam hati mereka. Mereka kemudian –mungkin kita kalau pakai bahasa dari ayat 61– mereka bersungut-sungut tentang hal itu. Karena apa? Karena apa yang dikatakan oleh Yesus Kristus itu adalah bukan perkataan yang mudah untuk diterima, tetapi justru dikatakan adalah perkataan yang keras untuk mereka terima.

Nah, akibatnya adalah saat itu mereka ada di dalam persimpangan untuk memutuskan: apakah kami akan terus mengikuti Yesus Kristus atau justru meninggalkan Yesus Kristus dimulai dari hari itu? Dan pada waktu mereka berkata meninggalkan Yesus Kristus atau mereka memutuskan untuk meninggalkan Yesus Kristus, maka kita mungkin bisa tarik lebih jauh sedikit. Hal itu bukan hanya berbicara mengenai, “Oh, mulai detik itu, kami bukan lagi murid dari Yesus Kristus. Kami bukan lagi menjadi pengikut Dia di dalam dunia semasa Yesus Kristus hidup dan melayani tengah-tengah dunia”, tetapi juga berdampak kepada nasib kekal dari orang-orang tersebut. Sebabnya karena pada waktu Yesus berkata, “Barang siapa makan tubuh-Ku, minum darah-Ku, maka dia akan memiliki hidup yang kekal.” Dan ketika mereka pergi meninggalkan Yesus Kristus, itu berarti bahwa mereka memutuskan untuk tidak makan tubuh Yesus Kristus dan tidak minum darah dari Yesus Kristus. Dan saat itu mereka tidak memiliki hidup yang kekal.

Jadi, itu sebabnya pada waktu kita berbicara mengenai keputusan yang ada di dalam persimpangan jalan, ketika saya harus mengambil satu keputusan atau murid-murid dan orang banyak itu harus mengambil satu keputusan: apakah akan terus mengikut Yesus? Apakah akan menerima perkataan yang Yesus ajarkan sebagai satu kebenaran atau tidak? Ini adalah berbicara mengenai satu hidup dan mati. Kita bukan hanya berbicara mengenai, “Oh, ada orang yang berbicara. Saya nggak percaya pada perkataan-Nya. Nggak ada konsekuensi yang akan saya alami kecuali mungkin orang itu menjadi tersinggung akibat perkataan yang saya katakan: saya tidak percaya kepada Dia”, tetapi nggak ada dampak kekal sama sekali. Yesus berbeda. Perkataan-Nya adalah perkataan yang hidup dan diri Dia adalah satu-satunya sumber yang bisa memberikan hidup dan terang bagi kehidupan manusia berdosa di tengah-tengah dunia ini.

Nah, ini adalah satu pengertian yang dikatakan oleh Yohanes menjadi esensi dari seluruh Injil Yohanes. Kalau Bapak, Ibu masih ingat, kalau mau tanya: apa yang menjadi tujuan Yohanes menuliskan Injil Yohanes? Hal itu dikatakan dalam Yohanes 20:30–31 bahwa Yohanes menulis ini, kitab ini, supaya orang-orang percaya kalau Yesus Kristus adalah Mesias, Anak Allah dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya. Dan apa yang membuat orang bisa percaya kepada Kristus bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah dan sumber dari kehidupan itu? Yaitu dengan memberikan kepada kita bukti-bukti, tanda-tanda yang menjadi sesuatu yang disaksikan oleh murid-murid dengan mata kepala mereka sendiri, dengan indra mereka yang menyatakan bahwa apa yang mereka saksikan itu adalah kebenaran. Makanya kalau Bapak, Ibu membaca dari Injil Yohanes, dimulai dari pasal 1 Injil Yohanes sudah memberikan kepada kita tanda-tanda yang diperlukan untuk kita bisa memahami dan percaya kalau Yesus sungguh adalah Mesias, Anak Allah dan di dalam Dia adalah satu kehidupan yang kekal. Termasuk juga berkaitan dengan pengajaran mengenai Roti hidup itu, tanda di mana Yesus kemudian memberi makan 5.000 orang dengan lima roti dan dua ikan. Sesuatu angka yang sebenarnya jauh lebih besar dari 5.000 orang. Tetapi di sini hanya dicatatkan 5.000 orang karena di dalam budaya orang Yahudi biasanya laki-laki menjadi orang yang kemudian diperhitungkan dan dimasukkan ke dalam satu file atau satu catatan untuk kita ketahui. Dan sehingga pada waktu kita berbicara, “Ada berapa banyak orang yang hadir di situ?” Ya, ada yang mengatakan, “Pasti di atas 5.000! Mungkin sampai 10.000 orang atau mungkin lebih dari jumlah tersebut yang hadir pada waktu Yesus memberi makan dengan lima roti dan dua ikan itu.”

Tetapi walaupun mereka menerima itu, mereka sulit menerima satu hal yaitu berkaitan dengan pengajaran Yesus di sini. Dan pada waktu mereka sulit menerima pengajaran Yesus yang membuat mereka menggerutu tersebut. Mungkin Bapak, Ibu bisa bertanya: apa yang membuat hal itu menjadi hal yang sulit untuk mereka terima? Nah, di sini menarik. Ada yang mengatakan kesulitan itu kemungkinan besar bukan karena mereka tidak mengerti apa yang Yesus ajarkan kepada mereka. Walaupun mungkin ada hal-hal yang membuat mereka tidak mengerti dan ada kesalahpahaman yang mereka terima atau alami ketika mereka mendengarkan pengajaran Yesus Kristus. Contohnya bagaimana? Kalau Bapak, Ibu kembali ke dalam Yoh.3, di situ ada berbicara mengenai Yesus ditemui oleh Nikodemus. Pada waktu Yesus ditemui oleh Nikodemus, Nikodemus berkata kepada Yesus: “Engkau pasti adalah Guru yang diutus oleh Tuhan. Engkau pasti bukan dari kuasa lain datang, tetapi dari Tuhan Allah sendiri.” tetapi, pada waktu Yesus mendengar itu, Yesus kemudian berkata: “Jika engkau tidak dilahirkan kembali, engkau tidak dapat melihat kerajaan Allah.” Lalu, Nikodemus berkata: “Bagaimana mungkin? Saya sudah tua. Saya sangat senior sekali. Rambut saya sudah putih semua. Bagaimana mungkin saya dilahirkan kembali? Apakah saya harus masuk ke dalam kandungan dan rahim dari mama saya kembali?” Mungkin mama juga sudah nggak ada. ”Lalu, bagaimana saya bisa dimungkinkan untuk dilahirkan kembali?” Artinya adalah Nikodemus berpikir kalimat Yesus itu merujuk kepada satu proses kelahiran yang bersifat fisik, padahal Yesus tidak bermaksud untuk mengatakan kelahiran itu adalah satu kelahiran yang bersifat fisik, tetapi satu kelahiran yang bersifat rohani yang dialami oleh orang-orang yang ada di dalam kerajaan Allah atau kerajaan surga.

Lalu, kalau Bapak, Ibu juga melihat di dalam Yoh.4, ketika Yesus bercakap-cakap dengan perempuan Samaria yang adalah seorang berdosa, yang ketika siang hari bolong pergi ke sumur untuk mengambil air, mungkin sebabnya adalah untuk menghindarkan gosip dari perempuan-perempuan yang ada di dalam kampungnya karena dia adalah orang yang berdosa. Pada waktu itu, Yesus berbicara mengenai air hidup kepada perempuan ini, tetapi pada waktu Yesus berbicara mengenai air, “Terimalah air yang Aku berikan kepada engkau. Maka, engkau tidak akan haus lagi dalam hidupmu,” maka perempuan ini ngomong: “Guru, di sini cuma ada 1 sumur. Engkau sendiri tidak memiliki timba untuk mengambil air itu dan minum. Lalu, Engkau berbicara bahwa Engkau bisa memberi aku air. Engkau sendiri membutuhkan air itu. Engkau sendiri meminta kepadaku untuk memberikan air itu kepada Engkau untuk diminum. Bagaimana Engkau bisa berbicara mengenai air hidup itu yang bahkan terus-menerus mengalir dan tidak akan memberikan 1 rasa dahaga dalam kehidupan.”

Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, sekali lagi, perempuan Samaria ini salah di dalam mengerti pengajaran yang Yesus berikan kepada diri dia. Padahal, Yesus berkata, Yesuslah air hidup itu, sumber itu. Kalau dia percaya kepada Kristus, maka ada aliran air hidup yang tidak akan berhenti di dalam hatinya. Lalu, di dalam Yoh.6, hal yang sama juga terjadi. Pada waktu Yesus mengajarkan tentang roti hidup, tubuh-Nya adalah makanan, darah-Nya adalah minuman, prinsipnya adalah bukan mau berbicara bahwa tubuh Yesus sungguh-sungguh adalah makanan dan darah Yesus sungguh-sungguh adalah minuman. Seolah-olah kekristenan atau Yesus Kristus mengajarkan mengenai kanibalisme.

Sempat di dalam kekristenan awal, dicurigai sebagai orang-orang yang kanibal dan bahkan difitnah sebagai seorang kanibal. Tetapi, yang Yesus ajarkan bukan seperti itu. Yang Yesus ajarkan adalah, “Barang siapa percaya kepada Aku, percaya kepada perkataan dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, maka dia akan memperoleh hidup yang kekal.” Bapak, Ibu bisa bandingkan ini di dalam 2 pasal paling tidak di dalam Injil Yohanes. Pertama adalah di dalam Yoh.5:24. Di sini, Yesus memberi kesaksian tentang diri-Nya. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percayakepada Dia yang mengutus Aku,ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” Lalu kemudian, dari Yoh.6:41-43. “Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: “Akulah roti yang telah turun dari sorga.” Kata mereka: “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?” Jawab Yesus kepada mereka: “Jangan kamu bersungut-sungut.” Lalu kemudian, kita melompat kepada ayat yang ke-56 sampai 58. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Akudan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum, ya.

Lalu, Saudara bisa gabungkan dengan Yohanes 5 itu yang mau mengatakan bahwa pada waktu Yesus berbicara mengenai roti dan makanan, Yesus bukan sedang mau mengatakan bahwa Dia sungguh-sungguh adalah makanan yang bersifat fisik, tetapi Yesus mau mengatakan 1 hal yang penting bahwa setiap orang yang mengikuti Yesus, dia adalah orang-orang yang harus menerima apa yang menjadi perkataan Yesus secara pribadi dalam hidup dia. Seperti halnya kalau kita ingin mendapatkan 1 kesehatan dan kekuatan dalam hidup fisik kita, maka kita perlu mengkonsumsi makanan dan makanan yang bergizi dalam hidup ini. Begitu juga ketika kita ingin mendapatkan suatu kesehatan rohani dalam hidup kita atau satu kehidupan secara rohani, maka kita harus mengkonsumsi atau menerima Yesus Kristus, percaya kepada diri Dia secara pribadi di dalam hidup kita.

Nah, pada waktu perkataan ini diajarkan, murid-murid tidak menangkap hal yang rohani ini. Yang mereka tangkap itu adalah hal yang bersifat fisik; harus makan tubuh-Nya, harus minum darah-Nya. Sehingga yang terjadi adalah mereka merasa ini adalah perkataan yang keras. Ini adalah perkataan yang sulit. Apakah karena mereka tidak mengerti apa yang Yesus ajarkan? Mungkin ada pertama kesalahan untuk menangkap Yesus sedang mengajar rohani, tetapi mereka menerima secara fisik, tetapi di sisi lain ada pengertian seperti ini, mungkin mereka mengerti bahwa Yesus mau mengatakan, “Engkau harus percaya kepada-Ku. Engkau harus menerima Aku. Barang siapa yang percaya dan menerima Aku sebagai apa yang Aku katakan, pada dia ada hidup”, seperti itu, maka bagi murid-murid-Nya ini adalah sesuatu yang sulit untuk kita terima.”

Nah, ini adalah hal yang kalau mungkin Bapak, Ibu bingung maksudnya bagaimana? Maksudnya adalah kayak gini, pada waktu kita mendengar khotbah, waktu kita membaca firman Tuhan, Bapak, Ibu biasanya, saya atau kalau kita tanya seperti itu, kadang-kadang saya mendapatkan satu jawaban, apa yang Bapak katakan itu sulit untuk dimengerti atau sulit sekali. Saya terus terang kadang-kadang bertanya di dalam hati, maksud sulit itu apa? Kadang-kadang ketika orang membaca firman, saya tanya bagaimana perkataan firman ini? Mereka berkata, “Sulit, Pak.” Maksud sulit itu apa? Apakah karena tidak mengerti firman itu? Kemungkinan besar bukan tidak mengerti, tapi yang menjadi masalah adalah pada waktu saya mengerti firman, saya mengerti yang benar itu, saya mengerti tuntutan yang Tuhan kehendaki dalam hidupku untuk saya lakukan, saya tidak siap dengan segala konsekuensi tuntutan, dan sikap yang harus saya ubah dalam hidup saya untuk mengikuti apa yang Tuhan katakan. Itu adalah yang dimaksud dengan keras atau sulit.

Nah, ini yang dimaksud oleh murid-murid itu. Jadi, mereka tahu di dalam Yesus ada hidup yang kekal. Kalau mereka mau menerima itu, mereka harus percaya kepada Yesus Kristus dan percaya bahwa Dia adalah Roti yang Tuhan berikan dari surga untuk memberi hidup kepada umat-Nya. Tapi bagi mereka ini adalah terlalu sulit atau implikasinya terlalu sulit untuk diterima. Mengapa begitu? Karena di dalam keikutsertaan orang banyak untuk mengikuti Yesus Kristus, mereka punya satu pemikiran atau pendapat yang namanya Mesias itu harus seperti apa. Mereka bukan tidak mendapatkan manfaat di dalam mengikuti Yesus Kristus. Mereka dapat makan, mereka dapat kesembuhan, mereka dapat berkat-berkat yang mungkin membuat mereka berpikir dia layak untuk menjadi Raja kami. Itu semua mereka dapatkan. Tetapi masalahnya adalah mereka tidak siap untuk menerima Kristus seperti yang Kristus nyatakan mengenai diri mereka. Yang mereka inginkan adalah seorang yang memimpin secara politik. Yang mereka inginkan adalah seorang yang bisa memenuhi kebutuhan perut mereka. Yang mereka inginkan adalah seorang yang mungkin bisa membebaskan mereka dari penjajahan dari para musuh mereka. Tetapi Yesus ketika datang, Yesus tidak menawarkan itu. Yesus justru menawarkan, “Kalau engkau percaya kepada-Ku, maka engkau akan memiliki hidup. Karena kerajaan-Ku bukan bersumber dari dunia ini, tetapi kerajaan-Ku adalah yang kekal, yang bersumber dari Allah Bapa.”

Nah, ini menjadi hal yang membuat murid tidak siap untuk melihat kepada Kristus, untuk percaya kepada Kristus, dan untuk datang kepada Kristus. Makanya di situ dikatakan ini adalah perkataan yang sangat keras sekali. Bapak, lbu, Saudara yang dikasihi Tuhan, dan akibat daripada sikap ini, Yohanes kemudian mengajak kita melihat satu hal yang menarik lagi. Pada waktu murid-murid menggerutu mengikut Yesus dan berkata, “Ini adalah perkataan yang keras.” Maka ada satu hal yang mungkin kita perlu bicarakan juga, yaitu tidak setiap orang yang datang untuk mengikut Yesus dan mengikuti misalnya ibadah kepada Yesus, yang mengikuti pengajaran Yesus Kristus itu adalah sungguh-sungguh murid dari Yesus Kristus. Mengapa bisa berkata seperti itu? Karena pada waktu kita melihat bagian ini, di sini Yohanes berkata, “Yang menjadi orang yang kemudian meninggalkan Yesus itu adalah orang-orang yang mengikut Yesus Kristus.” Dan siapa yang mengikut Yesus Kristus? Mungkin kita bisa bagi menjadi tiga kelompok. Pertama adalah kelompok orang yang banyak itu yang terdiri dari murid inti Yesus Kristus 12 orang, lalu kemudian murid-murid Yesus yang di luar dari 12 orang itu dan juga mungkin para simpatisan yang ketika mendengar pengajaran Yesus dan melihat pelayanan Yesus tertarik untuk mengikuti Yesus Kristus. Dan pada waktu mereka mendengar pengajaran Yesus ini, mereka kemudian berkata, “Ini perkataan terlalu keras.” Yaitu siapa yang dikatakan terlalu keras itu? Atau siapa yang dimaksud dengan orang yang mengatakan terlalu keras? yaitu orang-orang yang menjadi mungkin simpatisan dari Yesus Kristus dan juga ditambah dengan murid-murid yang di luar lari 12 orang ini. Dan itu sebabnya ketika mereka mendengar perkataan itu, mereka kemudian meninggalkan Yesus Kristus.

Lalu ada yang kedua yaitu ketika kita baca ayat yang ke-67, pada waktu setelah Yesus berkata atau melihat mereka pergi meninggalkan Yesus Kristus. Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada murid-Nya, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”  Di ayat 67. Dan pertanyaan ini ditujukan kepada siapa? Yaitu kepada 12 rasul. Dan pada waktu Yesus menunjukkan pertanyaan ini kepada 12 rasul, nanti kita akan lihat memang jawaban Petrus itu benar, tetapi juga ada satu perkataan Yesus yang mungkin mengagetkan kita, yaitu di antara yang 12 ini ada satu orang yang bersumber dari iblis atau yang adalah iblis. Dan yang dimaksudkan oleh Yesus adalah Yudas, anak Simon Iskariot. Dialah yang akan menyerahkan Yesus dengan 30 uang keping perak itu dan kemudian menyalibkan Yesus Kristus. Dia tidak bersumber dari Yesus.

Jadi pada waktu kita berbicara mengenai pengikut Yesus, siapa yang menjadi pengikut Yesus? Siapa yang kemudian akan mengikuti Yesus? Apakah semua orang yang ada di dalam gereja, apakah semua orang yang hidupnya berkata, “Saya percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat” itu adalah orang-orang yang pasti menjadi murid Yesus dan pasti memiliki hidup yang kekal? Di dalam bagian ini kita diperingatkan hati-hati, ada orang-orang yang bahkan mungkin menganggap dirinya sebagai inner circle dari Yesus Kristus, yang sungguh-sungguh mengikuti Yesus dan menerima perkataan Yesus dan seolah-olah perkataan itu adalah satu kebenaran yang mereka hidupi bersama dengan murid-murid yang lain, sebenernya bukan bersumber dari Tuhan, tetapi bersumber dari iblis. Jadi maksud saya adalah pada waktu kita berbicara mengenai keputusan dari murid-murid yang ada di dalam persimpangan jalan untuk meresponi pengajaran dari Yesus Kristus, ini adalah sesuatu tuntutan atau satu respon yang bukan hanya diberikan atau diminta oleh Yesus dari murid-murid-Nya yang hidup sezaman dengan diri Dia, bukan hanya dari dua belas rasul yang menjadi orang yang dipanggil secara khusus oleh Yesus untuk menjadi para rasul dan saksi dari Yesus Kristus saja, tetapi ini adalah satu kebenaran yang Tuhan juga akan tuntut dari diri kita. Pada waktu kita mendengar pengajaran Yesus, bagaimana sikap kita? Apakah kita akan terus mengikuti Yesus, atau justru kita kemudian mengatakan, “Saya lebih baik pergi meninggalkan Yesus karena perkataan Yesus itu adalah perkataan yang terlalu keras bagi diri saya,” ya?

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah respon yang diberikan oleh orang-orang yang mengikuti Yesus. Nah, pada waktu Yesus mendapatkan respon ini, yang mengatakan bahwa ini adalah perkataan keras, menariknya adalah Yesus tidak berusaha membujuk mereka, Yesus tidak berusaha untuk menenangkan mereka untuk kembali kepada diri-Nya. Walaupun Yesus ada memberikan pengajaran sepertinya untuk mengklarifikasi pemahaman mereka, tetapi selain daripada memberikan penjelasan tersebut, kelihatannya Yesus juga ada satu tantangan yang diberikan kepada murid-murid ini, yaitu apa? Pada waktu Yesus mendengar atau mengetahui bahwa murid itu bersungut-sungut, maka Yesus kemudian bertanya kepada mereka, “Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?” Maksud dari pertanyaan Yesus ini adalah mau mengatakan seperti ini, ya, Yesus tahu, sih, bahwa engkau adalah orang yang tergoncang karena apa yang Aku ajarkan kepada engkau, tetapi coba lihat ini baik-baik, sebelumnya Aku berkata di dalam ayat 41 sampai 43, Aku adalah satu Pribadi yang diutus oleh Bapa, yang turun, adalah Roti yang telah turun dari sorga kepada engkau, tetapi pada waktu Aku mengatakan Aku adalah roti yang turun dari sorga kepada engkau, engkau tidak percaya. Engkau bahkan berkata, “Bukankah papa mama-Mu ada bersama dengan kami? Kami tahu papa-Mu adalah Yusuf. Kami tahu mama-Mu adalah Maria. Bagaimana Engkau bisa berkata Aku adalah Pribadi yang turun atau Roti yang diberikan Allah dari sorga bagi engkau?” Nah, itu membuat mereka marah lagi, tetapi Yesus kemudian tambahkan seperti ini, “Betul, engkau mungkin tidak mengenali kalau Aku bersumber dari Bapa.” Saya pake parafrase begitu, ya. “Karena engkau mengatakan engkau mengenal orang tua-Ku, engkau mengenal asal-usul-Ku seperti ini, tetapi bagaimana kalau andaikata engkau melihat dengan matamu sendiri, bahwa Anak Manusia akan terangkat ke sorga?” Tentunya melalui salib terlebih dahulu, lalu kematian, lalu kemudian pada hari yang ke-40 setelah kebangkitan, Yesus diangkat ke sorga. Dan Yesus bertanya kepada mereka, “Bagaimana kalau andaikata engkau sendiri dengan mata kepalamu melihat Aku terangkat ke sorga? Apakah engkau akan percaya kalau Aku adalah Roti hidup itu? Apakah engkau akan percaya bahwa Aku adalah Mesias itu?”

Nah, ini menjadi satu pertanyaan, tantangan yang diberikan Yesus kepada murid-murid yang menggerutu dan bersungut-sungut itu. Maksudnya adalah kelihatannya Yesus mau berkata seperti ini, “Walaupun mungkin engkau dengan kesaksian pertama-Ku, engkau tidak terima bahwa Aku sungguh-sungguh datang dari sorga, tetapi kelihatannya juga, walaupun Aku memberikan kesaksian yang kedua, Aku terangkat di depan matamu sendiri, engkau melihat bahwa Aku betul-betul diangkat ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, engkau juga tidak akan percaya.” Kenapa? Karena ada ayat yang berikutnya, ayat 63, “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup,” artinya adalah pada waktu murid-murid bersungut-sungut dan menggerutu dan kelihatannya Yesus tidak menahan mereka dan bahkan Yesus mengajukan tantangan kepada mereka dan bertanya, “Betulkah engkau bisa percaya kalau bukti-bukti yang diberikan di hadapanmu itu jelas dan engkau mengertinya?” Yesus bilang nggak. Masalahnya apa? Masalahnya adalah yang memberi hidup itu bukan kepintaranmu untuk menganalisa dan mengerti pengajaran-Ku. Yang memberi hidup itu bukan kemampuanmu untuk datang kepada-Ku dan percaya kepada-Ku sebagai Tuhan dan Juruselamat, atau sebagai Tuhan dalam hidupmu. Yang membuat seseorang bisa datang dan memiliki hidup itu adalah pekerjaan dari Roh sendiri. Jadi Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Artinya adalah apapun yang diusahakan oleh manusia secara fisik dan berpikir usaha secara fisik itu bisa menyelesaikan masalah rohani dalam kehidupan mereka itu adalah hal yang sia-sia. Yang bisa memberikan hidup itu sungguh-sungguh adalah pekerjaan dari Roh, tetapi Yesus kemudian berkata, “Perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah Roh dan hidup,” artinya apa? Artinya adalah kalau kita ingin memiliki hidup dan Roh memberi hidup itu, jangan lupa Roh itu juga adalah sesuatu yang mengatakan perkataan Kristus dan perkataan Kristus adalah hidup itu sendiri.

Jadi, Bapak, Ibu, Saudara, yang dikasihi Tuhan, di sini Yesus mau mengajak kita untuk mengerti satu hal, bahwa kalau kita ingin memiliki hidup, maka hidup itu adalah sesuatu yang disandarkan kepada Pribadi Yesus tentunya. Tetapi, pada waktu kita berkata “Apa yang dimaksud dengan sesuatu yang disandarkan kepada Pribadi Yesus?”, yaitu kita berpegang kepada perkataan yang Yesus katakan atau yang Yesus ajarkan dan percaya kepada perkataan itu sebagai kebenaran. Jadi, itu seperti begini, ya. Kalau kita ngomong dengan seseorang. Misalnya, apalah sesuatu itu, lalu kita berkata misalnya, kayak gini. “Nanti, kamu pergi ke satu tempat, misalnya di tempat A. Nanti kalau kamu pergi di situ jam sekian, engkau akan terima, misalnya, uang sekian dari seseorang. Sebutkan password-nya ini,” misalnya kayak gitu. Waktu kita ngomong kayak gini kepada seseorang, lalu orang itu ngomong, “iya”. Lalu kita tanya, “Kamu percaya nggak perkataanku?” Dia bilang “Saya percaya”, tetapi dia nggak muncul di tempat itu, di jam itu. Itu percaya bukan? Itu bukan percaya.

Jadi, pada waktu kita bilang, “Saya percaya pada Yesus”, maka iman kita itu bukan sesuatu yang kosong dengan perkataan yang kita ungkapkan dalam mulut saja. Saya percaya apa yang Yesus katakan, lalu kita nggak buat apa-apa. Pada waktu kita bilangSaya percaya pada Yesus”, itu berarti saya membuktikan bahwa hidup saya atau dengan membuktikan bahwa hidup saya mengikuti segala perkataan yang Yesus katakan. Itu baru namanya saya percaya kepada Yesus Kristus, ya. Dan Yesus mau kita pahami itu. Karena pada waktu kita menjalani perkataan itu, sekali lagi, itu bukan yang membuat kita diselamatkan, tetapi yang pada waktu kita menjalankan perkataan Yesus Kristus, itu adalah sesuatu yang merupakan respon dari apa yang Roh kerjakan di dalam diri kita. Jadi, pada waktu Yesus berkata bahwa, “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah perkataan Roh dan hidup”, itu berarti bahwa Yesus mengatakan bahwa sebenarnya keselamatan seseorang itu tidak pernah bersumber dari diri seseorang. Inisiatif untuk seseorang datang kepada Yesus Kristus dan percaya kepada Yesus Kristus itu tidak pernah bersumber dari hati seseorang yang menyadari kalau dia membutuhkan Kristus dan dia perlu percaya kepada Yesus karena dia melihat pada kebenaran itu. Tetapi, Yesus mau berkata kesadaran itu, inisiatif itu, sesuatu yang bersumber dari luar dari diri kita, bersumber dari Allah sendiri, bersumber dari Roh Kudus Tuhan yang kemudian menarik kita untuk datang kepada Yesus Kristus dan percaya kepada Yesus Kristus. Itu yang menjadi dasar.

Makanya di dalam ayat 44 ada kalimat seperti ini “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” Jadi, siapa yang bisa datang kepada Yesus Kristus? Yesus bilang, nggak ada. Tidak ada itu, maksudnya apa? Ya, tidak ada seorang pun. Semua orang yang terlahir dalam dunia ini adalah orang yang terlahir di dalam neraka, adalah seorang yang terlahir di bawah hukuman Allah, seorang yang ada di bawah kuasa Iblis. Orang-orang seperti ini nggak mungkin bisa datang kepada Yesus berdasarkan kesadaran yang ada di dalam diri dan kemauan yang ada dalam diri dia sendiri. Karena Alkitab berkata dosa itu membelenggu kita dan membuat kita mati. Itu sebabnya Yesus berkata, tidak ada seorang pun.

Lalu, kalau kita melihat di dalam realita ada orang mendengar Injil, lalu kemudian percaya kepada Yesus, lalu kemudian meninggalkan imannya yang lama, lalu menjadi orang yang percaya kepada Kristus dan mengatakan, “saya orang Kristen, saya pengikut Kristus.” Dari mata kita, kita akan ngomong, “Oh, itu adalah keputusan dia.” Dari tantangan yang kita berikan kepada dia, misalnya, “Apakah kau mau percaya kepada Yesus?”, dan dia berkata “Saya mau”, itu seolah-olah tawaran yang kita ungkapkan dan sambutan yang orang itu terima. Kita kadang berpikir, “Oh, berarti bahwa itu tergantung masing-masing orang.” Makanya kalau ada 10 orang mendengar Injil, lalu misalnya ada 3 orang yang menerima, karena 3 orang itu mau menerima, yang 7 orang itu mau menolak, siapa yang membuat 3 orang ini mau menerima? Ya, diri mereka yang mau menerima. Yang membuat mereka menolak siapa? Yaitu, diri mereka yang membuat diri mereka menolak. Tapi, di sini Yesus berkata, “Nggak!” Yang benar adalah kenapa 3 orang itu mau menerima, karena Roh bekerja dalam dirinya, memberi hidup kepada dirinya, membuat mereka menerima perkataan Yesus yang adalah hidup itu. Karena kenapa mereka bisa menerima itu, dan kenapa Roh mau bekerja dalam diri orang itu? Karena Bapa telah memberikan orang itu kepada Yesus Kristus terlebih dahulu.

Jadi, intinya adalah pada waktu kita datang kepada Yesus, Yesus mau mengatakan itu sepenuhnya adalah kasih karunia atau anugerah dari Tuhan. Nggak ada bagian pun dari diri kita yang membuat kita layak di hadapan Yesus, yang membuat Yesus berkata, “Oh, Saya sudah melihat di antara 10 orang ini. Dan Saya melihat 3 dari 10 itu yang lebih baik dari pada yang 7 orang itu. Karena itu, Saya kemudian memutuskan untuk memilih 3 orang ini untuk percaya kepada Diri-Ku.” Ini bukan prinsip anugerah, tetapi itu adalah satu prinsip yang didasarkan pada kebaikan diri. Potensi yang ada di dalam diri sendiri untuk datang dan percaya pada Yesus Kristus. Alkitab bilang, nggak. Dasar pemilihan 3 ini bukan karna ada yang lebih baik, tetapi dasar pemilihan 3 ini karena kedaulatan Allah. “Saya yang memutuskan berdasarkan hak prerogatif Saya. Saya memilih 3 ini, melewatkan yang 7 orang itu untuk diselamatkan dan tidak ada seorang pun yang bisa bertanya dan mempertanyakan keadilan saya di dalam hal ini, karena apa? Karena yang sebenarnya adalah 10 ini harus di binasakan tapi di antara 10 yang dibinasakan ini Saya dengan kedaulatan Saya memilih 3 orang untuk diselamatkan.” Itu yang dimaksudkan oleh Yesus Kristus di sini, ya.

Makanya pada waktu Yesus berkata, apa yang membuat orang-orang itu meninggalkan Saya? Apa yang membuat orang-orang ketika mendapatkan pengajaran Saya, mereka bersungut-sungut? Akhirnya ketika mereka ada di dalam persimpangan untuk memutuskan mau mengikut Yesus atau meninggalkan Yesus, kemudian meninggalkan Yesus, dan Yesus berkata, “mereka meninggalkan Aku karena Roh tidak bekerja dalam diri mereka dan Roh tidak memberi hidup kepada mereka. Tetapi engkau Petrus dan sebelas rasul yang lain kenapa bisa berkata bahwa perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal, ke mana kami bisa pergi?” Itu sebab karena ada Roh yang bekerja dalam diri mereka sehingga mereka menerima perkataan dari Yesus Kristus.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah sepenuhnya anugerah Tuhan. Keselamatan dari setiap orang yang ada di dalam iman kepada Kristus jangan berpikir bahwa itu karena kelayakan kita, kebaikan kita, kepantasan kita, yang membuat mata Allah tertuju kepada kita untuk di selamatkan. Kita bisa diterima karena mata Allah tertuju kepada kita terlebih dahulu yang bukan siapa-siapa ini, yang merupakan debu tanah yang telah memberontak melawan Allah. Itu yang membuat baru kita bisa datang dan percaya kepada Yesus Kristus. Tetapi sekali lagi, hati-hati pada waktu kita berkata  “kalau begitu itu kan hak Allah, kalau begitu bukankah itu berarti bahwa setiap orang kalau Allah yang sudah pilih dia untuk dan berikan kepada Yesus maka dia pasti akan datang kepada Yesus dan percaya kepada Yesus dan diselamatkan di dalam Yesus Kristus, maka itu membuat kita nggak usah buat apa-apa, kenapa kita perlu menginjili? Itu kan pilihan Tuhan, itu kan anugerah sepenuhnya, kenapa saya harus bertobat dari dosa saya? Kenapa saya harus kemudian meninggalkan hidup lama saya? Saya juga tidak perlu kan? Bukan kah keselamatkan itu adalah anugerah dan pilihan Tuhan?” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita bicara seperti itu, kita sudah salah mengerti Firman. Karena Alkitab mengajarkan, walaupun Allah di dalam kedaulatan-Nya memilih orang untuk percaya tetapi ada satu hal yaitu kita yang diberikan anugerah tidak boleh mengeraskan hati. Pada waktu kita mendapatkan tawaran itu dan Roh kudus bekerja dalam diri kita, kita harus mengambil keputusan untuk meninggalkan dosa dan mengikut Yesus dalam hidup kita.

Itu contohnya kayak gini, ya. Anggaplah ada orang, satu laki-laki dan satu perempuan. Perempuan ini tidak pernah melihat laki-laki ini dan juga tidak memikirkan laki-laki ini, sama sekali. Tetapi laki-laki ini melihat perempuan ini lalu ingin mendekati perempuan itu dan ingin menjadikan perempuan itu mungkinnya istrinya, seperti itu. Lalu apa yang dilakukan oleh laki-laki ini, dia kemudian datang menghampiri perempuan ini baru mungkin mengatur waktu supaya terjadilah kebetulan-kebetulan pertemuan dengan perempuan ini lalu dia mulai bicara membuka komunikasi dengan perempuan ini, awal mula mungkin perempuan ini merasa, ya ini sekadar teman biasa, tetapi karena persistensi dari pada laki-laki ini yang datang terus menerus membangun komunikasi dengan perempuan ini pelan-pelan membuka isi hatinya mungkin. Pelan-pelan memberitahu bahwa dia menyukai perempuan ini, akhirnya perempuan ini ketika melihat itu, dia kemudian mengambil keputusan, “Ya, saya ingin dia menjadi pacar saya dan dia menjadi suami saya.” Itu yang dikerjakan oleh Tuhan, jadi pada waktu Tuhan bekerja dalam diri kita, kita adalah orang yang sama sekali tidak melirik Tuhan sebelumnya, tetapi Tuhan melalui Firman-Nya, Tuhan melalui hamba-Nya, Dia datang mengutus mereka untuk mengabarkan Injil kepada kita, lalu dari situ kita mulai merasa bahwa perkataan Tuhan itu adalah satu kebenaran dalam hidup kita, karena ada Roh Kudus yang bekerja di dalam hati kita mendengar firman itu untuk meyakinkan kita bahwa ini adalah kebenaran. Akhirnya bagaimana? Saya kemudian memutuskan saya tidak bisa lagi hidup dalam dosa dan saya tidak mau lagi untuk bergelimang di dalam satu perbuatan yang mendukakan Tuhan. Mulai hari ini saya sadar kehidupan seperti itu adalah kehidupan yang tidak ada manfaatnya sama sekali, itu adalah kehidupan yang ada di bawah murka Allah dan hukuman Allah dalam hidupku, Karena itu saya ingin tinggalkan hidup seperti itu, saya tidak lagi ingin memiliki hidup yang mendukakan Tuhan dan mulai hari ini saya ingin datang kepada Yesus dan percaya kepada Yesus Kristus. Itu adalah keputusan dan satu tindakan langkah yang diambil oleh orang yang mendapatkan kasih karunia dari Tuhan Allah.

Makanya Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tadi saya bilang satu sisi kenapa orang bisa datang kepada Tuhan itu karena kedaulatan Allah, pilihan Allah di dalam kekekalan, tetapi apakahorang yang dipilih Allah bisa berkata, “saya tidak perlu buat apa-apa, saya tidak perlu mengabarkan Injil kepada orang supaya dia percaya kepada Yesus”? Jawabnya tidak. Saya harus meresponi kabar baik itu, pekerjaan penebusan yang Kristus kerjakan bagi diri saya. Itu adalah hal yang kita perlu ambil, ya. Dan ketika kita ngambil keputusan ini, ada satu hal yang kita juga boleh lihat di dalam jawaban Yesus Kristus, ya. Jawab Simon Petrus di dalam ayat yang ke 68, “Tuhan kepada siapa kah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah yang kudus dari Allah.”

Pada waktu kita datang kepada Kristus, maka ada dua hal yang kita perlu perhatikan. Pertama adalah pada waktu kita mendapatkan kasih karunia Kristus, kita akan punya kesadaran bahwa Yesuslah satu-satunya sumber jawaban itu. Di luar dari Yesus Kristus nggak ada kebenaran, tidak ada hidup, tidak ada keselamatan, dan saya betul-betul mau percaya kepada Yesus Kristus, dan mengikuti apa yang Yesus katakan dalam hidup saya. Ini penting ya. Karena pada waktu kita berbicara mengenai iman, maka iman itu jangan pikir bisa berdiri di dalam dua perahu. Iman itu hanya membuat kita berdiri dalam satu perahu. Maksudnya adalah pada waktu kita mendapatkan pertanyaan ini, “Simon apakah kau tidak akan pergi juga?”, Lalu Simon berkata, “Tuhan, ke mana kami bisa pergi?” Maksudnya adalah nggak ada jalan lain. Atau istilah lainnya adalah kayak gini kalau saya nggak mengikut Yesus, saya pasti mengikuti sesuatu yang lain, tapi kalau saya mengikuti Yesus, berarti nggak ada jalan yang lain dalam hidupku. Artinya adalah ada waktu kita mengikut Yesus, Bapak, Ibu, harus sadar satu hal, di dalam dunia ini ada banyak sekali cobaan atau godaan di dalam hidup kita yang akan menuntut kita di dalam persimpangan-persimpangan jalan; saya mau mengikut Yesus, saya mau percaya kepada Yesus atau tidak, apakah saya melihat bahwa Yesus adalah solusi yang terbaik? Satu-satunya jalan, satu-satunya kebenaran yang harus saya pegang, karena saya tahu itu satu-satunya kebenaran yang pasti benar dan amin itu, atau saya terus melirik ke sebelah. Nah ada pilihan Yesus dengan yang lain. Maka saya mau berkata seperti ini, “saya tetap percaya Yesus kok, tetapi kadang -kadang saya merasa ini ada baiknya ini ada benarnya. Saya nggak mau meninggalkan iman kepada Yesus tapi saya juga mau percaya ini sebagai suatu kebenaran.” Yesus bilang, nggak. Begitu Saudara memilih yang lain, Saudara meninggalkan Yesus. Kalau Saudara mengikut Yesus, Saudara pasti meninggalkan sesuatu yang lain. Karena Petrus berkata, “nggak ada jalan yang lain, satu-satunya jalan itu adalah hanya kepada Yesus dan mengikuti yang Yesus katakan.”

Yang kedua adalah, pada waktu kita percaya, bicara mengenai mengikut, mengetahui, dan percaya, maka Bapak, Ibu, harus berpegang pada satu prinsip, orang akan mengenal Yesus pertama mungkin ada faktor Tuhan membukakan pengertian itu kepada kita, tetapi prinsip iman adalah sering kali dan umumnya, dan bisa dikatakan mungkin semuanya adalah melangkah terlebih dahulu baru mengenal. Itu adalah hal yang tidak bisa ditawar ya. Banyak orang berpikir seperti ini, Tuhan, “saya sih percaya dengan perkataan-Mu, dan saya percaya dengan apa yang Engkau katakan, tetapi Tuhan tolong kasih tanda dulu dong, tolong kasih bukti dulu dong, baru setelah saya melihat tanda dan bukti, itu terbukti memang perkataan Tuhan satu kebenaran, seolah-olah nggak ada konsekuensi yang saya hadapi, atau ada konsekuensi yang berarti demi untuk saya punya kekuatan terhadap konsekuensi itu, maka saya perlu mendapatkan tanda terlebih dahulu baru saya mau mengikut Tuhan”, seperti itu. Maafkan saya ngomong ya, itu bukan jalan Alkitab ya. Prinsip Tuhan adalah melangkah dulu, baru Tuhan membukakan pengertian dan menambahkan iman yang lebih besar kepada diri kita.

Jadi iman menjadi langkah awal kita untuk mengikut Tuhan. Contohnya bagaimana? Pada waktu umat umat Israel dibebaskan dari Mesir misalnya, pada waktu itu, mulai dari malam sebelum mereka dibebaskan, Tuhan berkata, “silahkan sembelih domba, oleskan di ambang pintu itu”. Dan siapa yang diperintahkan itu? Bukan hanya orang Yahudi saja, tapi sebenarnya orang Mesir pun harusnya mengerti perintah itu. Kalau mereka lakukan itu, mereka tidak akan kehilangan anak sulung mereka. Tapi kalau mereka tidak lakukan, mereka akan kematian anak sulung di dalam keluarga mereka. Lalu Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ada buktinya tidak? Nggak ada. Sampai kapan bukti itu terjadi? Ketika semua sudah diolesi dan ada yang tidak diolesi, ketika waktunya tiba, orang sudah langsung tahu apa yang mereka alami itu membawa keselamatan atau tidak. Jadi ada langkah iman terlebih dahulu yang mereka harus lakukan seperti itu.

Lalu yang kedua, pada waktu orang Israel larikan diri dari Mesir, Musa membawa atau Tuhan memimpin mereka ke dalam tiang awan dan tiang api sampai kepada tepi sungai, tepi laut Merah, pada waktu itu orang-orang Israel merasa ketakutan karena sudah dikepung oleh orang Mesir. Lalu mereka mulai bersungut-sungut, “Musa kenapa kamu bawa kami ke jalan buntu seperti ini?” Lalu Bapak, Ibu, yang dikasihi Tuhan, kenapa Musa tetap lari ke situ padahal Musa adalah seorang ahli Militer? Saya percaya di situ Tuhan mau mendidik mereka percaya kepada Tuhan, seperti halnya Tuhan punya kuasa untuk menolong mereka keluar dari Mesir, melawan dewa-dewa di sana, maka pada waktu itu Tuhan akan mendidik mereka untuk mengalahkan kuasa Firaun dengan cara apa? Membelah Laut Merah. Tapi mereka tidak melihat itu. Tetapi pada waktu itu Musa juga mungkin tidak mengerti hal itu, tapi dia hanya percaya kepada Tuhan. Tuhan suruh, acungkan tongkatmu ke laut, atau pukulkan tongkatmu ke laut, dia lakukan dan air itu terbelah dua.

Lalu misalnya contoh lain, pada waktu Israel mau masuk ke tanah Israel, yang dipimpin oleh Yosua. Saat itu di depan mereka ada Sungai Yordan yang sedang tergenang atau sedang pasang. Lalu mereka harus menyeberangi sungai itu, mereka nggak punya perahu, nggak punya jembatan, dan nggak punya alat penyeberangan yang lain. Ada anak-anak ada ternak di situ yang mungkin tidak bisa digotong menyeberangi laut atau sungai Yordan di situ. Lalu apa yang Tuhan katakan kepada Yosua? Yang pertama dikatakan kepada Yoshua, “kamu harus menyeberang.: Lalu gimana solusi menyeberangnya? Tuhan nggak kasih tahu. Yang Tuhan katakan adalah “ya seberangin.” Lalu kalau kita jadi Yosua dan Israel apa yang kita lakukan? Bapak, Ibu, menariknya adalah saat itu para imam yang mengangkut tabut perjanjian yang ada di depan, mereka tetap jalan aja ke dalam sungai itu. Begitu kaki mereka masuk ke dalam sungai, sungai langsung terbelah dan mereka bisa menyeberangi sungai itu di dalam di atas tanah yang kering. Ini adalah contoh dari orang-orang yang berjalan dalam iman dan ketika mereka melangkah dalam iman, di situ mereka makin mengenal Tuhan, makin mengetahui kuasa Tuhan, makin belajar untuk bergaul dengan Tuhan dan percaya kepada Tuhan dalam hidup mereka.

Jadi prinsip kitab suci memang ada bagian di mana orang minta tanda; kayak Gideon minta tanda terlebih dahulu untuk membuktikan bahwa Tuhan memanggil dia. Padahal Tuhan sudah beri bicara dan Tuhan sudah menyatakan kebenaran kepada dia tapi dia tidak percaya. Tapi kalau orang yang percaya kepada Tuhan, Tuhan ingin didik. Walaupun kita tidak melihat, tapi kita percaya. Walaupun tidak ada bukti, tapi kita percaya. Tapi tetap hati-hati ya, saya tidak mengajak Bapak, Ibu untuk percaya buta atau lompat di dalam kegelapan. Dasar iman kita selalu disandarkan kepada janji Tuhan dan kebenaran yang Tuhan nyatakan kepada kita dalam Kitab Suci dan juga bukti-bukti dari orang yang belajar bergantung sama Tuhan dan terbukti benar. Jadi pada waktu kita harus mengambil satu keputusan di dalam satu persimpangan jalan yang kita nggak tahu apa yang akan terjadi di depan, kita coba lihat kembali ke belakang apa yang Kitab Suci nyatakan. Ketika kita ada di dalam satu sisi yang penuh dengan kekhawatiran, mungkin ketakutan, penuh dengan satu pergumulan yang membuat kita maju mundur untuk melangkah; saya harus mentaati Tuhan atau saya tidak mentaati Tuhan? Kalau saya tidak mentaati Tuhan, seperti ada solusi. Kalau saya mentaati Tuhan, kayaknya ini penuh banyak pengorbanan yang saya harus alami dalam hidup saya. Mana yang saya harus lakukan? Mungkin kita akan ngomong, “Tuhan tolong berikan tanda. Tuhan tolong kasih tahu langkah apa yang benar.” Sebenarnya Bapak, Ibu sudah tahu. Misalnya yang itu dosa, jangan lakukan walaupun menyenangkan dan bisa memberi solusi yang cepat. Yang ini benar, tapi ada begitu banyak kesulitan yang kita harus alami atau bayaran harga yang harus kita lakukan. Kita sudah tahu, tapi masalahnya mungkin satu hal, kita kurang percaya.

Untuk bisa percaya atau iman itu bukan komoditi ya. Maksudnya adalah kayak gini, kadang-kadang kita suka ngomong kan, “Wah, Josh Müller punya iman luar biasa. Abraham punya iman luar biasa. Andai kata aku punya iman seperti mereka, Tuhan berikan iman itu kepada diri saya, saya pasti bisa hidup seperti mereka.” Kita kalau bicara seperti itu namanya komoditi. Iman itu sesuatu barang yang ada di dalam hati orang yang kalau kita perlukan itu kita minta Tuhan untuk berikan iman itu kepada diri kita, maka kita akan menjadi orang yang beriman. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Alkitab bilang iman itu bukan itu ya. Iman itu apa? Saya bersandar. Saya percaya kepada Tuhan. Saya sepenuhnya menyerahkan totalitas diri saya ke dalam tangan Tuhan. Itu namanya iman. Dan itu nggak bisa dibagi ke orang lain. Jadi kalau kita ingin bertumbuh di dalam pengenalan kita akan Tuhan, kalau kita ingin betul-betul berjalan bersama Tuhan, belajarlah bersandar kepada Tuhan. Belajarlah percaya kepada Tuhan. Sesuatu yang kita harus alami sendiri, gumulkan sendiri dan jalani sendiri dalam kehidupan kita. Nah murid-murid melihat itu, dia tahu bahwa perkataan Yesus itu adalah perkataan kebenaran dan nggak ada jalan lain kecuali harus berjalan mengikuti apa yang Yesus katakan. Nah itu yang membuat mereka menjadi orang yang lain, yang baru, yang akhirnya Tuhan pakai untuk memuliakan Tuhan.

Nah kalau saya mau tutup mungkin kita bisa renungkan seperti ini, pada waktu kita ada di dalam persimpangan, ingat baik-baik Saudara, kita mungkin bukan orang yang sudah diselamatkan walaupun kita ada bersama-sama dengan Kristus. Lalu apa yang membuat kita bisa yakin kalau kita adalah orang yang sudah diselamatkan? Cuma satu. Di dalam setiap persimpangan yang Tuhan tuntut antara iman dengan hal-hal yang bertentangan dengan Tuhan, kita pilih yang mana? Kita belajar pilih bersandar kepada Kristus dan perkataan-Nya sebagai kebenaran atau kita memilih jalan yang lain. Itu yang menjadi dasar bagi kita ya. Dan kalau kita memilih apa yang Tuhan katakan di situ kita akan makin diteguhkan kalau Yesus sungguh-sungguh adalah Anak Allah, Dia adalah Mesias, Dia adalah satu-satunya kebenaran dan Juruselamat bagi kita atau solusi bagi kita yang berdosa ini. Saya tutup di sini, mari kita masuk di dalam doa.

Bapa, kami kembali bersyukur untuk firman, kebenaran yang Tuhan bukakan bagi kami, untuk pengajaran iman yang boleh kami terima. Tolong kami ya Tuhan yang seringkali goyah dan ragu untuk percaya kepada Tuhan dan seringkali kami pikir itu adalah sesuatu, iman itu adalah sesuatu yang Tuhan berikan bagi kami. Sehingga kami seringkali meminta Tuhan karuniakan kami iman sehingga kami bisa lebih percaya kepada Tuhan. Padahal Tuhan ingin kami belajar untuk bersandar kepada perkataan Tuhan, belajar untuk percaya kepada Tuhan berdasarkan apa yang telah Engkau nyatakan bagi kami. Tolong kami ya Tuhan yang ketika kami melangkah, kami boleh belajar untuk melangkah berdasarkan iman dan iman yang didasarkan pada kebenaran dari perkataan-Mu sehingga kami boleh sungguh-sungguh berkata, “Engkaulah Mesias, anak Allah yang hidup dan di luar Engkau tidak ada keselamatan dan tidak ada hidup yang kekal.” Kami sekali lagi berdoa kiranya Engkau boleh bangunkan kami dan pimpin setiap langkah iman kami di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami. Amin.