Pikiran yang Sehat & Pengharapan yang Sempurna
1 Ptr. 1:13b-c
Pdt. Dr. Tumpal H. Hutahaean
Kalau Saudara masih punya catatan tahun lalu ini saya ingatkan saja ya. Tahun lalu say a pernah khotbah di sini. Bagaimana kita men-sabuki pikiran kita berkaitan dengan kualitas tindakan kita. Nah di dalam bagian itu kita melihat bagaimana pikiran kita setelah jatuh dalam dosa itu bisa liar, bisa bias, bisa tidak punya satu batasan dikaitkan dengan kemuliaan Tuhan dan batasannya kadang-kadang kepada diri, sehingga pikiran kita perlu diikat dalam kebenaran Tuhan. Pikiran kita boleh diarahkan kepada kemuliaan Tuhan dan pikiran kita harus berkonten kepada satu kebenaran Tuhan. Sehingga pikiran kita akhirnya menghasilkan pikiran yang lincah untuk Tuhan, pikiran yang fokus kepada kemuliaan Tuhan, pikiran yang dinamis untuk bagaimana kita mau dipakai Tuhan dan bagaimana kita produktif untuk hidup kita boleh terus berbuah bagi Tuhan. Dan hari ini kita akan melihat bagaimana bagian yang kedua ini mengajarkan kepada kita tentang pikiran yang sehat, yaitu pikiran yang sungguh-sungguh tidak mengandung dosa, pikiran yang tidak berpusat kepada diri, tapi bagaimana pikiran itu mengarahkan kepada kemuliaan Tuhan sebagai pusat sehingga bukan emosi yang mempengaruhi kita. Nah di dalam bagian inilah kita akan melihat nanti bagaimana pikiran yang sehat itu harus mengarah kepada Fil. 4:8. Bagaimana nilai pembaruannya selalu terjadi karena ini berkaitan dengan iman.
Kita masuk dalam pendahuluan kita. Kita percaya Saudara, kalau kita sungguh-sungguh sudah lahir baru, kebenaran Kristus sudah memerdekakan cara kita berpikir. Tapi pertanyaan kita, kenapa ada anak Tuhan yang mengaku Kristen pikirannya masih kolot? Kenapa ada pikiran terlalu kekanak-kanakan, childish? Kenapa pikirannya terlalu sangat terikat dengan satu kesenangan, comfort zone? Dan kenapa pikirannya tidak pernah menangkap pikiran Tuhan di dalam membentuk dia. Dan bahkan tidak sedikit, banyak orang mengaku Kristen tapi pikirannya jahat; mengandung satu hal yang bersifat iri, mengandung satu sifat “sedikit porno” dan lain-lain. Jadi, di dalam bagian inilah kita melihat betapa tema ini penting karena menjelaskan kualitas hidup kita di hadapan Tuhan. Dan kita percaya sekali firman yang kita baca setiap hari selalu memerdekakan pikiran kita, dikaitkan dengan pikiran Kristus dan firman yang tiap hari kita baca mengarahkan pikiran kita untuk tidak boleh berkonten dosa melainkan berkonten kebenaran dan kemuliaan Tuhan.
Maka di sini kita bisa melihat dosa sudah merusak cara kita berpikir. Bagaimana dosa akhirnya berpusat cara kita berpikir melihat diri di dalam apa yang kita senang itu dianggap kebenaran. Apa yang membuat kita nyaman itu adalah kebenaran. Jadi dalam bagian itulah Saudara cara berpikir kita terlalu antroposentris, tidak berpikir Teosentris, tidak berpikir Kristosentris. Dan pikiran kita tidak pernah berpikir dari atas ke bawah dalam cara berpikir Tuhan. Dan pikiran kita kadang-kadang bottom top bukan top and bottom. Sehingga pikiran kita adalah pikiran yang terlalu sementara diikat oleh dunia. Kita tidak punya terobosan pikiran dalam nilai kekekalan dan hikmat Tuhan. Jadi di dalam bagian inilah tema ini penting sekali bagaimana mengaitkan pikiran kita menjadi pikiran yang sehat. Maka pertanyaannya, bagaimana kita dapat berpikir yang sehat untuk Tuhan? Dan mengapa tema ini penting berkaitan dengan jemaat di dalam surat Petrus menghadapi pergumulan, menghadapi penderitaan, menghadapi banyak hal, tapi pikiran mereka tidak boleh rusak. Kenapa? Karena iman memimpin akan pikiran mereka yang sudah diikat berkaitan dengan kemuliaan Tuhan.
Kita masuk dalam pembahasan kita. Jikalau kita melihat di dalam terjemahan Bahasa Indonesia, maka banyak hal yang kali ini kurang cocok. Maka kita melihatlah di dalam ESV Bible di situ dikatakan being sober-minded. Jadilah berpikirlah yang waras ya. RSV mengatakan be sober, waraslah. NIV be self controlled. Jadi di sini Saudara, kita diajarkan pikiran yang sudah diikat harus menghasilkan pikiran yang sehat, pikiran yang waras, pikiran yang sungguh-sungguh bisa dimengerti orang lain dan akhirnya orang lain bisa menangkap pikiran kita mengandung kebenaran, pikiran kita mengandung keadilan, pikiran kita mengandung kesucian, pikiran kita mengandung sesuatu yang patut untuk didengar, pikiran kita manis untuk dipikirkan. Dan di dalam bagian itulah baru kita mengerti ternyata di dalam cara kita berpikir ada boundary mind, ada pembatas pikiran. Nah, di sinilah NIV mengatakan be self-controlled. Bagaimana kita menguasai pikiran di dalam boundary mind itu, batasan itu supaya menunjukkan kita sungguh-sungguh anak Tuhan yang di mana pikiran kita sudah dikuduskan oleh Kristus. Sehingga kita dalam hidup ini harus berbuah pikiran yang waras untuk orang lain. Berbuah pikiran yang membawa orang-orang lain akhirnya melihat Tuhan bukan melihat kita.
Satu tantangan yang menarik Saudara, dan saya percaya juga bahwa Saudara ada di Jawa Tengah, Saudara akan ketemu dengan orang-orang yang cara berpikirnya berbeda melihat Tuhan. Seperti saya berhadapan dengan orang-orang di Jawa Timur. Banyak di antara mereka bercampur kepercayaan tentang Tuhan dengan kebatinan, bercampur dengan agama mula-mula daripada Indonesia –folk religion– yaitu apa? Kapitayan. Sehingga Kapitayan induk dari berkaitan dengan kebatinan. Dan kebatinan mengarah lagi kepada Kejawen. Sehingga mereka melihat Tuhan, mereka memahami diri, mereka memahami keselamatan itu beda. Tapi kalau kita menarik, mempelajari ini, Saudara, kita tahu cara dia berpikir tentang “manunggaling kawulo Gusti”. Maksudnya bagaimana manusia diselamatkan untuk mendapatkan pencerahan, bersatu dengan Gusti. Jadi ada manunggaling.
Nah, di dalam bagian itu ada satu proses: bagaimana pikiran mereka harus menjadi pikiran yang soft. Pikiran mereka tidak boleh terikat lagi dengan satu keinginan-keinginan duniawi. Dan itu menarik, Saudara, kalau dikaitkan dengan teori daripada konsep Hindu dengan Budha berikatan dengan moksa: yaitu bagaimana manusia harus menyiksa diri –termasuk menyiksa pikiran– supaya tidak terikat dengan satu kedagingan. Nah, ternyata, Saudara, di dalam kapitayan, kepercayaan daripada kebatinan, mereka melihat ada satu pikiran yang harus diikat. Kalau bahasa Budha, bahasa Hindu, moksa itu harus mengalami penderitaan, penyiksaan sehingga mereka meditasi, meditasi, meditasi. Tapi di dalam agama kapitayan, mereka juga meditasi tapi beda caranya sehingga mereka makin malam makin tenang, makin berdoa di tempat yang tinggi. Itulah kumpul yang namanya aura, energi prana dari penguasa-penguasa alam. Sehingga kalau orang-orang kapitayan kalau berdoa kalau bisa dekat dengan gunung. Makin tinggi makin kumpul roh yang ada di situ. Sehingga pada waktu itu kita mengalami “manunggaling kawulo Gusti”, itu kita bersatu, di situlah kita akan melihat satu keindahan –kata mereka– dalam cara berpikir, kita tidak duniawi lagi.
Nah, itu mirip, Saudara, dengan konsep di Efesus di Alkitab: “Union with Christ”. Tetapi beda kualitas, beda tujuan. Nah di dalam bagian inilah, Saudara, bukan kita yang mau bersatu dengan Allah, tapi Allah yang terlebih dahulu –dalam konsep Kristen– datang ke dunia mencari kita, bersatu dengan kita. Dan ketika kita bersatu, kebenaran Kristus itulah yang selalu memimpin kesatuan itu. Dan di dalam kebenaran itulah kita bisa melihat bagaimana pikiran kita harus berbuah di dalam situasi yang sulit. Pikiran kita harus menjadi kesaksian yang indah untuk orang-orang di sekitar kita.
Maka me-redeem pikiran bagi Kristus: mudah, tidak? Saya tanya: me-redeem pikiran bagi Kristus: mudah tidak? Sulit. Kenapa? Bagian yang pertama ini terlebih dahulu: menguduskan pikiran bagi Kristus: mudah tidak? Tidak mudah. Bagian yang kedua: memperbarui pikiran bagi Kristus dalam konsep Roma: mudah tidak? Lho, berarti tiga-tiganya sulit, ya? Menguduskan pikiran bagi Kristus. Sulit? Ya, jikalau kita tidak tunduk dan taat kepada Firman. Memperbarui pikiran dalam konsep Roma 12:2? Sulit! Jikalau kita tidak punya ketaatan untuk membaca firman setiap hari. Me-redeem pikiran kita, mengembalikan kepada Kristus? Sulit, kalau kita tidak sungguh-sungguh juga tunduk kepada kebenaran firman. Tapi kita harus: perbuatan, cara berpikir yang seperti itu, Saudara. Kenapa? Karena pikiran yang kudus –nanti khotbah sore lanjutin ayat 14, tapi saya tidak membahas bagian ayat 14, 15, 16, hanya konsentrasi ayat 14– karena ketaatan harus menghasilkan kekudusan. Ketaatan harus menghasilkan hati yang takut akan Tuhan. Ketaatan harus menghasilkan satu komitmen sungguh-sungguh hidup kita menjadi hidup yang punya pembeda.
Nah, kembali dalam bagian ini: pikiran yang dikuduskan, pikiran yang terus diperbaharui, pikiran yang terus harus ditebus. Dalam hidup kita menjadi anak Tuhan, ternyata ini panggilan kita untuk menjadi anak Tuhan: berkualitas melalui pikiran! Nah, di dalam bagian inilah kita percaya: ketika kita lahir baru, pikiran kita digarap Tuhan. Mindful kita, righteousness kita, holiness kita diperbaharui oleh Tuhan. Dan dosa yang sudah merusak cara kita berpikir, tapi dalam program Tuhan, pikiran kita diperbarui dalam tiga tahap tadi.
Hari ini kita hanya melihat bagaimana membangun pikiran yang sehat. Di dalam poin yang pertama, pikiran yang sehat: pikiran yang tidak boleh dikuasai oleh emosi. Kenapa tidak boleh emosi? Emosi itu paling tidak stabil. Emosi terikat dengan perasaan. Maka dalam pemikiran kaum Helenistik, pemikiran daripada orang-orang Yunani, orang cerdas: pikiran mengontrol emosi dan tindakan. Orang tidak cerdas: emosi mengontrol pikiran. Orang yang sangat-sangat tidak cerdas: tindakan yang memimpin pikiran dan emosi, berbuat dulu baru sadar. Tetapi kita melihat lebih luar biasa lagi: bagaimana firman dalam kebenarannya membentuk iman kita. Dan iman mengarahkan terus pikiran kita menjadi pikiran yang kudus, pikiran yang terus diperbarui, pikiran yang terus mengalami redeem, sehingga emosi kita tidak boleh menjadi tuan atas pikiran kita. Di dalam bagian inilah tidak sedikit bagaimana perempuan atau laki-laki bisa terjebak dengan hal-hal seperti ini, sehingga pada waktu dia mau merencanakan apa pun juga, berpikirnya senang dulu, berpikirnya gembira dan kalau dalam keadaan hal-hal apa pun, misalnya dalam hal sedikit berkaitan dengan hal yang negatif dalam hidup, sedih, dan marah, semuanya bisa mempengaruhi.
Nah, di dalam bagian itulah, Bapak, Ibu, Saudara jangan kaget. Dunia sekarang berkembang dengan penyakit bipolar. Makin maju teknologi, makin rusak perasaan orang. Dan orang bipolar senang, akhirnya kesenangan. Sedih, kesedihan. Kenapa? Karena tidak ada yang mengontrol. Nah, di dalam bagian inilah, Saudara, dosa sudah merusak cara orang mengelola emosi. Dosa sudah merusak cara seseorang mengelola pikiran. Tetapi, jikalau kita berbicara dosa, saya sedikit lari dari konsep ini. Berkaitan, saya pelihara anjing. Anjing saya 2. Anjing pitbull. Yang 1 itu laki-laki sekali bawaannya. Adiknya itu agak lain. Agak lain dan sedikit bipolar. Bahasa psikologi. Kenapa? Kalau sudah diajak bercanda, kelewatan dia. Kita lagi duduk pun bisa ditemplok sama dia. Kalau sudah dia bercanda, pokoknya ada pintu terbuka, sofa diterjang, tempat tidur diterjang, apa pun diterjang. Maka, kalau ajak dia bercanda, harus kita yang kontrol. Kalau dia yang kontrol, nggak bisa. Dia lost of control. Kalau melakukan kesalahan, contoh, dia melakukan kesalahan gigit sesuatu atau apa. Saya datang pulang sama istri nggak disambut. Berdiam, dia cari posisi yang aman di bawah meja. Di bawah bangku, berdiam. Kita cari-cari. Ke mana? Ya, dia langsung, Saudara, kayak orang introvert. Sementara anjing yang lain menyambut kita, dia sedihnya luar biasa. Kesalahan apa, Saudara? Dia cuma mengambil tisu dari tempat sampah, cuma disobek-sobek, tetapi perasaan bersalahnya sampai kita diemin kadang-kadang 3 menit, 5 menit, 10 menit. Menunggu kita yang menyapa, Saudara. Nanti, kalau kita sudah sapa, dia jalan begini (menunduk), memberikan dirinya minta dikasihani. Setelah itu, dia begini terus (menunduk) untuk kita sentuh. Habis sentuh, dia akan mulai mencium kita. Dia kasih kakinya, Saudara. Jadi, ada satu proses untuk men-encourage dia, Saudara. Jadi, kalau senang, kebablasan. Kalau sedih, kebablasan, maka, saya bilang sama istri, “Menarik juga, ya, mempelajari psikologi anjing.” Ternyata, 1 induk, yang 1 kakaknya laki-lakinya kelaki-lakian. Ya, kan? Yang ini, adiknya ternyata terlalu girang, kegirangan, sedih, kesedihan. Maka, saya bilang sama istri saya, “Ternyata anjing bisa menjadi penghibur kita juga dan melatih kesabaran kita juga.”
Nah, Saudara, kembali lagi dalam bagian ini. “OK, bagaimana anak Tuhan, pak Tumpal, kalau pikiran tidak waras? Bagaimana kalau anak-anak Tuhan terjebak dengan berpikir diri sebagai pusat?” Ya, tadi pagi jam 5, saya baca firman dari Amsal 16:1-4 dan ayat 33. Ini menarik, Saudara. Saya tidak janjian dengan Tuhan, ya, tetapi apa yang saya baca ini adalah bagian dari hal yang berkaitan dari firman yang kita akan bahas. Coba, kita lihat dengan cepat, ya. Misalnya, saya baca, ya. Amsal 16:1-4. “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidahberasal dari pada TUHAN.” Amin? “Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri,tetapi Tuhanlah yang menguji hati. Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu. TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannyamasing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” Tuhan berdaulat untuk waktu kita. Tuhan berdaulat untuk seluruh kehidupan kita. Tidak ada apa pun yang terjadi mengagetkan Tuhan. Maka, yang terakhir, ayat 33. “Undi dibuangdi pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN.”
Saudara bisa lihat, betapa luar biasa firman yang setiap hari kita baca. Kadang-kadang mengingatkan lagi kepada kita, tundukkanlah pikiranmu di bawah pikiran Tuhan yang berdaulat. Tundukkanlah pikiranmu di bawah pikiran Tuhan yang indah yang memimpin akan seluruh tujuan hidup kita. Maka, jangan tuhankan pikiranmu yang hanya diikat apa yang mau kau capai, senang, gembira, sedih, dan yang lain. Jangan kau diikat pikiranmu dalam keadaan marah, dalam keadaan hal-hal yang lain. Tetapi, bagaimana pikiran kita diikat dengan kebenaran Tuhan dalam terang iman. Sehingga pikiran kita adalah pikiran yang sehat karena pikiran yang mengandung kemuliaan Tuhan. Pikiran yang ada nilai keadilan, pikirannya ada nilai kemuliaan, pikirannya adalah satu nilai kesucian, pikiran yang patut untuk dipuji yang sedap didengar, pikirkanlah semuanya itu. Nah, di dalam bagian inilah saya percaya sekali Saudara ada stages knowledge. Dan di dalam stages knowledge ada teori namanya bloom taksonomi. Di dalam bagian itulah kita bisa melihat bagaimana pikiran harus menangkap tentang sesuatu apa itu: What is. Berkembang sampai mengapa itu penting? Why? misalnya, this is, misalnya everything significant. Sampai terus berkembang tentang comparative this is. Di-comparative-in tentang yang lain sampai kita meningkat lagi menjadi analisis, sampai mengeluar sesuatu yang bersifat sintesis. Jadi di dalam teori bloom taksonomi itu berkembang satu teori knowledge. Dan di dalam dunia media sekarang berkembang lagi yaitu bagaimana suatu pengetahuan berkaitan dengan implementasi dan satu pengetahuan berkaitan dengan satu kontribusi atau satu dampak. Nah, di dalam bagian inilah guru-guru pasti engkau tahu akan teori ini. Dan kita dosen-dosen sekarang dituntut bagaimana model daripada best center learning kamu adalah bukan berdasarkan kuliah merdeka, sekarang diganti lagi menjadi inquiry based learning.
Nah, di dalam kita mempelajarian bagian itu, Saudara, kita hanya melihat bagaimana semua diarahkan kepada satu program pemerintah yaitu KKNI. Semua pendidikan harus menghasilkan pengetahuan. Dan pengetahuan harus menghasilkan satu sikap. Sikap harus menghasilkan satu yang namanya keahlian, soft skill dan hard skill. Dan nanti diturunkan lagi bawah, yaitu standar kompetensi di dalam hal pengalaman seperti itu. Nah, kita lihat Saudara, dunia sudah menuntut itu semua dalam kategori meritokrasi. Jadi, orang yang bekerja harus punya kualitas, harus punya satu bobot, harus punya human capital. Nah, di sini kita melihat salahkah Alkitab menuntut lebih daripada meritrokrasi? Salahkah Alkitab menuntut kita untuk punya human capital yang lebih daripada dunia? Tidak salah. Nah, di dalam bagian itulah, Saudara, saya percaya sekali Saudara, Tuhan tidak pernah memprogram kita menjadi orang bodoh. Amin? Dan kita orang tua jangan rela jikalau anakmu tidak ditundukkan oleh kebenaran Tuhan. Anakmu tunduk kepada game, anakmu tunduk kepada dunia. Jangan rela.
Maka dalam bagian inilah Saudara, saya sendiri dengan istri sudah berjuang, sudah membuktikan bagaimana kami membesarkan anak-anak dalam takut akan Tuhan. Bagaimana memprogram anak dari kecil di dalam membangun kemandirian hidup, membangun kemandirian berpikir, bagaimana mengisi pikiran mereka bagi Tuhan, mengarahkan pikiran mereka, menguasai akan pengetahuan umum dalam terang pengetahuan khusus. Maka ketika kita melihat semua yang kita rancang berhasil dalam anugerah Tuhan, dan saya terus pegang Mazmur 127, jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sia. Sia-sialah engkau bangun pagi-pagi. Sia-sialah engkau terus mau berjuang membangun kota karena engkau tidak melibatkan Tuhan. Dan kita harus persiapkan anak kita seperti anak panah yang dikikis akan daripada kayunya, dipersiapkan ujungnya, dikasih hal bersifat kayak logam untuk menembus daripada angin dan di belakangnya harus dikasih arah bulu-bulu. Dan itu yang mengerjakan orang tua. Jadi di dalam bagian inilah jangan biarkan pikiran kita dirusak dosa. Jangan biarkan anak-anak kita dirusak oleh dosa sehingga akhirnya anak kita tidak cerdas berpikir menguasai akan ilmu pengetahuan dalam terang daripada teologi.
Dan hasil investigasi awal peledakan di SMA 72 Jakarta Utara. Hasil investigasi yang belum diumumkan kita dapat ya dari kalangan konselor, anak itu tidak pernah bergaul karena dia punya orang tua kerja dengan seperti, masak memasak begitu ya, dia punya langganan-langganan, tinggal di rumah itu. Jadi kalau dia pulang langsung masuk kamar bermain game. Ternyata ada satu game yang merusak dia punya hati. Dan game itu jangan-jangan anak kita juga mainkan. Saya lupa namanya apa. Bapak, Saudara bisa lihat betapa game bisa merusak cara berpikir, cara tindak sampai dia menyiapkan tujuh bom. Yang diperkirakan baru meledak itu dua, yang tiga di tempat sampah, dia manual. Coba lihat kenapa game bisa merusak akan hati seseorang. Berarti Saudara, game bisa ditunggangi oleh setan. Dan di Jawa Timur ada game yang bisa membangun orang, bisa menjadi keji, anti kekristenan dan di dalam game itu dia bisa merusak negara, membunuh orang dan game itu sekarang dilarang di Jawa Timur.
Bapak, Ibu, Saudara bisa lihat dunia kejam seperti ini, karena itulah Alkitab mengatakan bagaimana kita harus memiliki pikiran yang cerdas, dan pikiran yang cerdas inilah bagian tanggung jawab kita, iman kita. Yang kedua, pikiran yang terikat dengan bijaksana surgawi (the prudent heaven). Kita terikat dengan apa? Pikiran kita kadang-kadang di rumah terikat dengan urusan keluarga. Pikiran kita kadang-kadang terikat dengan apa yang mau kita capai. Pikiran kita di kantor kadang-kadang terikat dengan pencapaian yang ada di kantor. Pikiran kita kadang-kadang terikat pada waktu kita ada di mana. Bapak, Ibu, Saudara yang terkasih dalam nama Tuhan, di mana pun kita berada, boleh, tapi ingat, pikiran Kristus yang sudah memerdekakan cara kita berpikir, pikiran Kristus yang sudah menguduskan pikiran kita, pikiran Kristus yang sudah memperbaharui kita harus punya nilai redeem di mana pun kita berada, Amin? Di situlah baru kita mengerti, Saudara, ya?
Saya selalu dimintakan tiga minggu di Jawa Timur, satu minggu di Jakarta, untuk apa? Mengurus akan setiap bidang saya, tugas saya mengajar prodi semua dan semua, sehingga pada waktu saya mengatur manajemen berpikir saya, ketika saya ada di Jakarta, pikiran saya untuk STT, pikiran saya untuk semua program mengajar, berkaitan hal-hal yang harus diperiksa dengan dikti, dengan lain-lain. Tetapi pada waktu pikiran saya ada di rumah, saya berpikir rumah, tapi rumah dalam hikmat Tuhan. Waktu saya keluar masuk gereja, fokus saya di gereja, full 100% untuk hal pekerjaan Tuhan. Sehingga di dalam bagian itu, Saudara, yang saya ingin katakan, bagaimana pikiran terikat dengan bijaksana surgawi (the prudent heaven) adalah pikiran yang terus mengkaitkan pikiran surgawi dihadirkan di mana pun kita berada, dan ciri- ciri yang hadir itu adalah ketika pikiran kita berbuah pikiran Tuhan, damai Tuhan hadir.
Saya ulangi, ketika kita ada di mana pun, kita berbuah pikiran bagi Tuhan. Waktu kita hadir, damai itu terjadi. Kenapa, Saudara? Tuhan mempunyai program melalui pekerjaan Allah Roh Kudus. Ciri daripada pekerjaan Allah Roh Kudus adalah menggarap pikiran kita, bagaimana kita hadir menyatakan damai Tuhan itu hadir, bagaimana kita hadir, orang bisa bertobat, bagaimana kita hadir, keadilan itu dinyatakan, pekerjaan dosa itu dihancurkan. Jadi di dalam bagian inilah, Saudara, kuasa berpikir kita luar biasa. Pada waktu kita terus mau mengikat dengan pikiran surgawi, kita hadirkan. Jadi yang kita Tuhan-kan adalah bukan pikiran kita yang berpusat kepada kesenangan kita, yang kita Tuhan-kan bukan pikiran hanya berkaitan dengan urusan keluarga, tapi pikiran kita dikaitkan dengan pikiran Tuhan menerangi urusan keluarga, menerangi urusan anak kita mau dibawa ke mana anak kita masa depannya, mau dibawa ke mana urusan karir kita di depan, bagaimana kita melihat akan pergumulan kita di depan. Semuanya membutuhkan yang namanya terang Tuhan.
Jadi di dalam bagian inilah, Saudara, Kol. 3:1- 3 mengajarkan bagian ini, bagaimana pikiran Tuhan itu memimpin akan pikiran kita, Amin? Mudah tidak? Mudah tidak? Tidak mudah, tapi di dalam bagian itulah kita mengerti kenapa Richard Pratt menulis, “Tundukkanlah pikiranmu di bawah pikiran Tuhan,” dan saya percaya ketika John Owen mengeluarkan bukunya, bagaimana kita “Berpola Pikir Rohani”, di situ kita baru tahu, Saudara, menjadi orang Kristen tidak mudah berpola pikir rohani, kecuali kamu terus bergaul dalam terang firman, di situlah kita melihat tulisan John Owen menjadi sesuatu yang penting. Dan buku daripada James Sire, “Semesta Berpikir dalam Kristologi”, dan saya baca buku itu berkali-kali, itu juga penting. Jadi di dalam bagian inilah, Saudara, kita bisa melihat mudahkah kita mengikat pikiran kita terus dengan pikiran Tuhan? Tidak mudah, tapi menjadi mudah ketika kau mau mentundukkan pikiranmu terus di bawah pikiran Tuhan, sehingga pikiran Tuhan menerangi seluruh keberadaanmu dimana pun kau berada, baru Filipi 4 ayat 8 itu bisa terjadi.
Dan pikiran yang sehat yang ketiga yaitu, pikiran yang teguh. Apa arti pikiran yang teguh? Pikiran yang tidak mudah terpengaruh oleh arus kenikmatan dunia dengan segala tawaran pencobaannya dan pikiran yang kuat dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Karakter seorang yang paling penting dalam leadership, pertama yang paling puncak, dia bisa menjadi to chairman’s stress. Di bawahnya dia bisa menjadi problem solver. Dia bisa menjadi pengatas, menyelesaikan setiap masalah yang ada, menekan dia, yang mungkin menyerang dia, dia bisa mengatasi dalam kesendirian dia, dalam hikmat Tuhan sehingga dia level menjadi pemimpin yang bukan dapat tantangan, dapat pencobaan, langsung stres. Bukan, tapi ini diubah akan menjadi suatu kekuatan untuk dia mencari solusi. Nah, tipe pemimpin seperti ini biasanya tingkatnya sudah manajer. Kenapa? Dia dalam tingkat karakter problem solver. Dia tahu bagaimana menyelesaikan setiap masalah di dalam terang Tuhan, di dalam penyertaan Tuhan, sehingga dia pada waktu dia meningkat lagi, dia menjadi orang to chairman’s stress. Apa to chairman? Artinya dia bisa menyelesaikan semua tekanan-tekanan, tantangan-tantangan yang ada menjadi suatu kekuatan produktif untuk dia bisa melayani Tuhan, untuk dia bisa menunjukkan kualitas.
Tapi, pertanyaannya, ketika kita mendidik anak-anak kita ke arah sini membutuhkan proses. Waktu kita mengarahkan diri kita kepada bagian ini membutuhkan waktu. Nah, di sinilah, Saudara menarik sekali, Saudara, kita ternyata jangan cepat puas diri. Jikalau kamu menjadi anak Tuhan, engkau harus tuntut dirimu berbuah pikiran sampai pikiran yang teguh, pikiran yang sungguh bisa menjadi berkat bagi orang lain di tengah kesulitan. Pikiran yang tidak mudah stres ketika ada tekanan, justru engkau menunjukkan siapa Tuhan yang hidup di dalam dirimu. Ini tidak mudah, Saudara. Berapa banyak pikiran kita pernah lemah karena tekanan? Berapa banyak orang yang kita dengar, yang kita layani, pikirannya sampai menghancurkan hatinya mau bunuh diri? Berapa banyak di jemaat sini mungkin sudah berpikir, “Ah, nggak mau lagilah keGRII Jogja.” “Kenapa?” “Pengurusnya kurang ramah” misalnya. “Pelayanannya kurang memuaskan.” Hal yang sepele, Saudara.
Dulu saya melayani di dalam satu cabang, saya kunjungi jemaat 2 minggu nggak gereja. Hal sepele, saya sama istri saya kaget luar biasa setelah di mobil, ya bukan ngomingin di situ. Kenapa, Saudara? Hanya gara-gara bikin makanan bersama ada acara dia bagian bikin gado-gado. Trus, ada ibu-ibu yang mencicipi. “Wah, Bu gado-gadonya enak. Tapi,- ya, kan, bumbunya keasinan.” Ya, wih, gara-gara keasinan, 2 minggu nggak ke gereja. Ya, karena apa? Karena dibilang kata ngomong ini di depan umum. Ya, kalau itu ngomong laki-laki, “Pak, gado-gadonya keasinan.” “Wah, iya keasinan, nih. Ambilin kacang, ulekin, ambil kecap” selesai. Kalau laki-laki kan begitu, berpikirnya langsung sangat lincah, cari solusi, tambah kacang, kasih kecap, selesai. Tapi kalau ibu-ibu, “Waduh, saya udah bangun subuh, nyiapin sayur, nyiapin ini, nyiapin ini, nyiapin ini, nyiapin ini. Eh, sampai di gereja ini dibilang keasinan.” Nggak berpikir solusi, Saudara. Berpikir apa? Makan hati. Dan lebih celaka lagi yang ngomong ini adalah istri pengurus. Dua minggu nggak ke gereja. Ya, memang penyakit hati gara-gara gado-gado, gara-gara keasinan. Dan itu bisa terjadi, Saudara. Karena pikirannya terlalu lemah. Jadi anti, nggak bisa dikasih tahu, nggak bisa dikasih tahu kritikan.
Ya, laki-laki jujur, ya. Kalau saya sama istri selalu akhir tahun itu, kan evaluasi diri berkaitan dengan tugas saya sebagai suami, sebagai bapak, dan selalu pertanyaan saya ketika saya dengan istri belum mau mengakhiri akhir tahun adalah pertanyaannya adalah “Mama silakan kritik Papa. Mama silakan, ya, beritahu hal-hal yang tidak mengenakkan di tahun 2025 ini.” Silakan, gitu. Biasanya dia sudah punya catatan dan solusinya apa. Ini menariknya apa? Ada solusi, begitu, Saudara. Setelah itu saya hanya diam. Sebagai laki-laki nggak boleh ada defence mechanism, nggak boleh langsung bikin hal alasan-alasan begini. Nggak, diam aja, Saudara. Diam, catat, gitu. Oke, terima kasih untuk masukkannya dan terima kasih untuk solusinya. Setelah itu, giliran saya, gitu, kan. Dia 3 poin, kita 6 poin. Wuih, nggak boleh, Saudara. Semua itu baik, kenapa Saudara? Suami istri itu harus menyatukan visi dan menyatukan tujuan. Dan salah satu menyatukan pikiran yang benar-benar tuh baik untuk Tuhan. Dan bagaimana supaya suami istri itu kompak dan mendapatkan berkat yang baru? Jangan mengakhiri akhir tahun 2025 masih ada hati yang disimpan yang pahit. Pada mau masuk 2026 biarlah seluruh hubungan kita suami istri punya pikiran yang baru, komitmen yang baru dalam Tuhan, baru ketemu anak-anak lakukan lagi yang sama. Sehingga keluarga kita mengakhiri akhir tahun mengawali awal tahun dengan apa? Hati yang baru bagi Tuhan dan itu setiap tahun saya lakukan. Maka saya tidak akan habis-habis untuk meminta istri saya siap untuk koreksi saya. Kita laki-laki Saudara, karena kalau nggak terbiasa. Aduh, pedas banget, tajem banget ini, rasanya kita mau bela diri, nggak boleh Saudara, nggak boleh. Di situlah Saudara, kerendahan hati dan cinta menjadi satu hal yang buat kita jadi sabar. Dan apalagi setelah itu kita doa bersama, lipat tangan bersama, kita saling mendoakan, itu lebih indah. Jadi Bapak, Ibu, Saudara terkasih dalam Tuhan, di sinilah kita belajar bangunlah pikiran yang sehat, bangunlah pikiran yang terikat dengan bijaksana surgawi, bangunlah pikiran yang kuat dalam Tuhan.
Sebagai kesimpulan poin yang pertama, ini belum selesai, ya. Pak Tumpal panjang banget. Nanti saya percepat, ok tolong ditampilkan, mari kita baca. “Jadi pikiran yang sehat atau matang tidak mudah terjebak dengan pikiran yang sombong, hedonis, materialis, manja, cemar, malas, dan yang lain-lain.” Jadi selalu punya apa berarti? Pikiran yang breakthrough. Wah ini sulit. Pak Tumpal, pikiran yang dikuduskan saja sulit, pikiran yang terus harus diperbaharui sulit, pikiran yang harus mengalami penebusan sulit. Sekarang dituntut lagi pikiran yang futuris, dituntut lagi pikiran yang punya nilai breakthrough. Saya percaya sekali Kristus datang ke dunia menerobos semua batasan. Kristus menerobos semua dari pada hukum Taurat yang menghilangkan kemuliaan Tuhan-kemuliaan Tuhan. Kristus menerobos seluruh nilai anugerah yang diberikan kepada kita melalui kematian. Jadi kalau kita menyebut Kristus pasti ada nilai breakthrough terus. Tapi terobosan untuk Tuhan itu jadi indah.
Jadi apa implementasi nya Pak Tumpal? Mari kita lihat di dalam bagian ini ayat 13c, itu implementasi. Setelah engkau punya pikiran yang sehat, setelah engkau punya pikiran yang sungguh-sungguh, ada nilai yang cerdas, pikiran yang sungguh-sungguh berkaitan dengan pikiran Tuhan, pikiran yang teguh. Kita diminta bangunlah pengharapan eskatologisme. Jangan hanya membangun pengharapan yang bersifat sementara, itu boleh tapi bagaimana berkaitan dengan pengharapan eskatologis? Yaitu apa? Pengharapan yang diletakkan atas kasih karunia Dia anugerahkan kepadamu. Jadi artinya, Saudara, masing-masing kita sudah mendapatkan kasih karunia Tuhan, yaitu anugerah keselamatan. Masing-masing kita sudah mendapatkan satu kasih karunia Tuhan, penyertaan Tuhan masing-masing. Masing-masing sudah mendapat kasih karunia Tuhan yang di mana Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. Pada waktu kita hidup, pada waktu kita menjalankan tugas kita, maka bangunlah pengharapan melihatnya ke atas, engkau boleh melihat yang di bumi tapi setelah engkau melihatnya ke atas. Maka menarik ESV dengan NIV mengatakan “Set your hope fully” Tetapkanlah pengharapanmu secara penuh. NKJV “Hope to the end” Harapkanlah sesuatu yang punya nilai akhir.
Setiap kita Saudara, pasti bahagia pada waktu melihat anak-anak kita melayani Tuhan. Dan hidup kita pasti bahagia, waktu anak-anak kita hidupnya sungguh-sungguh takut akan Tuhan dan mengutamakan Tuhan, tapi kebahagiaan itu kadang-kadang perlu diterjemahkan, Saudara. Waktu kita memprogram anak-anak kita, janganlah menjadi satu achievement fantasi. Tapi harus diprogram sehingga pengharapan kita itu nanti waktu terlaksana kita senang, kenapa? Karena ternyata kita ini boleh bertanggung jawab menjadi bapak yang baik, istri yang baik dalam mendidik anak-anak secara iman, secara pengetahuan, secara karakter, secara talenta, secara sosial bagi Tuhan. Dan saya selalu mengingatkan kepada anak-anak saya, weekend untuk Tuhan, bukan untuk diri. Hari Minggu Tuhan setelah itu baru keluarga, setelah itu baru dirimu, baru urusan yang lain. Jadi berpikirlah pada waktu hari Jumat ada di gereja, hari Sabtu ada doa, ikut. Maka anak saya muridnya banyak sekali les, kadang-kadang 20, 22 anak, ya. Dan saya ingatkan waktu kamu punya murid banyak, harap hari Sabtu hanya cari satu murid. Setelah kamu doa pagi di GRII Karawaci, kamu les-in orangnya setelah itu kamu persiapkan diri untuk pelayanan pemuda. Setelah itu kamu siapkan lagi pelayanan umum, hari Minggu jangan ambil les. Untuk kamu menikmati tubuh Kristus, untuk kamu menikmati persekutuan dengan keluarga. Kalau kamu mengutamakan Tuhan hari-hari yang lain Tuhan bisa memberkati engkau. Dan anak saya belajar taat dan satu lagi baru pindah kerja, baru pindah kerja, 5 tahun, 5 tahun targetnya. Dan saya selalu ingatkan jangan mengerti kehendak Tuhan berkaitan dengan gaji besar, jangan berkaitkan kehendak Tuhan karena fasilitas-fasilitas yang besar, tidak. Maka di situ saya lihat, kalau engkau dipimpin Tuhan dalam pekerjaan yang baru, berarti tantangan kamu melayani Tuhan itu untuk jadi patokan. Kalau kamu bisa tetap menyaksikan Tuhan di tengah-tengah komunitas kerjamu, itu baru pimpinan Tuhan.
Jadi dalam bagian ini Saudara, mari sejak dini, kita mengarahkan pengharapan kita, kita punya pengharapan eskatologis, Amin? Nah di sinilah kita melihat, bagaimana pengharapan tidak mungkin mengecewakan kita, dan kita bisa melihat contoh ayat pada Ayub 42:2 dikatakan demikian, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Hebat Saudara. Kenapa akhirnya Ayub memiliki iman berkemenangan seperti ini? kehilangan 10 anak, harta benda, konglomerat pada saat itu Saudara, kehilangan kekuatan, kehilangan kesehatan. Tetapi setelah melewati perdebatan dengan teman-temannya akhirnya mendapatkan pencerahan dari pada sahabatnya, yang paling muda Elihu, dan Tuhan mempertontonkan bagaimana Tuhan bisa memakai alam yang keras dengan lembut menyatakan siapa Dirinya, dan akhirnya dia bisa mengoreksi dirinya. Dulu dia tahu Tuhan dan akhirnya sekarang tahu Tuhan dari pengalamanku sendiri. Ternyata penderitaan kesulitan membuat Ayub kenal Tuhan. Dia terjebak karena banyak harta memanjakan anak. Anak justru kalau malam dugem, pesta pora, tidak takut Tuhan seperti dia. Jadi Ayub sukses membangun kesalehannya, gagal membangun kesalehan anaknya. Dia saleh sama Tuhan, gagal membuat istrinya yang tidak saleh. Ketika dia mengalami kesulitan, istrinya meminta dia untuk menghujat Tuhan, maka dia memberi tahu istrinya masakah kita mau menerima yang baik-baik saja dari Tuhan? Menerima yang sulit, tidak mau baik, celakalah kamu, bertobat, isi formulir KKR.
Jadi di dalam bagian itulah kita bisa melihat, dari sini baru Ayub ngomong, “aku tahu Tuhan, Engkau sanggup melakukan segala sesuatu.” Ini imannya luar biasa. Belum dipulihkan. “Tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Belum dipulihkan. Setelah itu lanjut lagi ayat 3 dan 4, dia katakan lagi, “Tuhan aku tahu Engkau dari orang lain, sekarang aku cabut perkataanku, sekarang aku kenal Engkau Tuhan.” Setelah itu langsung dipulihkan. Luar biasa. Jadi kesimpulannya, ini kita baca kita akan akhiri. Bagian pertama kita baca, Iman yang bertumbuh ke arah Kristus akan mengarahkan pikiran dalam bertindak dan iman mengarahkan pikiran kita menjadi cerdas sehat.
Kedua: Jadi sebagai orang Kristen, kita tidak boleh cepat lemah secara iman dalam menghadapi pencobaan atau ujian hidup dan kita tidak boleh mudah meninggalkan pengharapan yang mulia dari pada Kristus, dan sebaliknya harus selalu berharap sampai akhir hidup kita. Ketiga: kita harus selalu membangun pengharapan yang sempurna di dalam kasih karunia yang Tuhan Yesus berikan sampai kepada akhir zaman. Dengan kata lain, pengharapan di dalam Tuhan Yesus Kristus harus kita tingkatkan selalu atau bertumbuh selalu tidak boleh terombang-ambing antara Tuhan dan dunia. Silahkan di rumah baca Ibr. 10:35-39, mengingatkan kita bahwa iman tidak boleh mudah dikalahkan dunia, dan tidak boleh iman mudah dikalahkan oleh kesulitan, dan inilah ayatnya nanti Saudara silahkan baca.
Kata penutup, mari kita baca bersama-sama, keindahan berpikir yang sehat dan pengharapan yang hidup akan selalu bercahaya di dalam kesulitan karena iman memimpin pandangan kita jauh ke depan, melihat kasih karunia yang Tuhan Yesus berikan selalu cukup untuk kita, bahkan sampai Tuhan Yesus datang untuk ke dua kalinya. Amin. Marilah kita berpikir yang kudus, marilah kita berpikir yang terus mau diperbaharui Tuhan, marilah kita berpikir yang terus mau bernilai terobosan futuris untuk Tuhan.
Terima kasih Tuhan sudah mengutus seorang hamba-Mu yang setia di tengah-tengah kami untuk memberitakan berita baik, berita sukacita, dan berita pengharapan kami semua. Terima kasih untuk teguran Tuhan melalui firman-Mu pada pagi ini. Kiranya firman yang sudah diberitakan boleh tertanam di dalam hidup kami, di dalam pikiran kami sehingga kami boleh menjadi anak-anak Tuhan yang dibenarkan oleh Tuhan. Terima kasih untuk hamba-Mu, terima kasih untuk firman Tuhan pada pagi ini. Di dalam nama Tuhan kami Yesus Kristus, Penebus dan Juruselamat kami yang hidup, kami sudah berdoa, bersyukur kepada Engkau. Amin.
