Sesungguh-sungguhnya (5), 23 November 2025

Sesungguh-sungguhnya (5)

Yoh. 8:31-39

Pdt. Dawis Waiman, M. Div

Pada waktu kita masuk ke dalam Yohanes 8, di sini ada satu keadaan di mana Yohanes memberi tahu kita, di pasal 6 sebelumnya banyak murid pergi meninggalkan Yesus Kristus karena perkataan Yesus yang sangat keras sekali berkaitan dengan tubuh-Nya adalah betul-betul daging, dan darah-Nya adalah betul-betul minuman. Tetapi masuk ke dalam pasal 8 ini, kalau Bapak, Ibu, baca dari khususnya di ayat 30 yang tadi kita tidak baca, ternyata masih banyak orang Yahudi yang percaya dan tinggal untuk mengikuti Yesus Kristus. Nah di dalam konteks inilah kita membahas mengenai pasal 8:31-39 yang tadi barusan kita baca, yaitu untuk apa? Untuk melihat kembali bagaimana Tuhan Yesus ketika menghadapi orang-orang yang masih mengikuti Dia yang jumlahnya tidak sedikit itu. Dan pada waktu itu Yesus tidak mengusir mereka kembali tetapi Yesus memberikan mereka suatu pemahaman yang lebih mendalam, apa yang dimaksud dengan murid Yesus yang sejati. Dan pada waktu kita murid Yesus yang sejati, merasa diri murid Yesus yang sejati mengikut Yesus Kristus, mungkinkah ada kendala-kendala yang kita hadapi dalam hidup kita, khususnya dari faktor keagamaan yang kita jalankan dalam hidup ini? Dan nantinya kita akan bahas berkaitan dengan apa yang Yesus kerjakan, untuk memberikan kita kemerdekaan dalam hidup kita yang sangat kita butuhkan sekali ya.

Nah di dalam poin yang pertama ini, kita akan melihat bahwa pada waktu kita mengikut Kristus, seperti orang-orang Yahudi yang mengikut Kristus ini, maka ada satu kalimat yang keluar dari J. C. Riley, yang cukup menarik berkaitan dengan ini. Mereka ini adalah orang-orang yang datang mengikut Yesus, dalam kondisi excitement yang sementara. Excitement yang sementara maksudnya adalah ketika mereka melihat Yesus hadir melakukan mukjizat, melihat apa yang Yesus lakukan, melihat pengajaran yang Yesus berikan, yang penuh dengan otoritas, yang berkuasa, yang tidak seperti para Farisi dan ahli-ahli Taurat atau para Teolog yang ada di tengah-tengah mereka tersebut, maka mereka senang sangat sekali untuk mengikuti Yesus Kristus, mengejar Dia ke mana pun Yesus pergi di dalam pelayanan yang Ia lakukan. Tetapi J. C. Riley berkata itu semua hanya sebuah ungkapan kesenangan atau excitement yang ada di dalam hati, tetapi mereka sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh mempertimbangkan apa yang mereka sedang lakukan itu; kenapa mereka mengikuti Yesus, mungkin, apa yang sebenarnya menjadi bayaran harga yang harus mereka bayar ketika mereka mengikuti Yesus, dan apa makna menjadi seorang pengikut Yesus yang sejati itu. Itu sebabnya pada waktu kita melihat pada peristiwa ini, Yesus mau mengajak mereka kembali untuk menguji iman mereka, menguji pengertian mereka, apakah mereka adalah sungguh-sungguh murid Kristus yang sejati. Terutama ketika ada begitu banyak orang yang datang dan mengikuti Dia pada waktu itu, dan seolah-olah telah lulus dari seleksi pertama yang dilakukan oleh Yesus Kristus ini.

Nah Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, mungkin kalau kita bicara mengenai hal ini, ada hal-hal yang di dalam hidup kita juga serupa. Saya nggak akan masuk ke dalam masalah iman terlebih dahulu ya. Tapi yang saya mau ajak lihat adalah, kadang-kadang kita juga bisa didorong oleh keinginan sesaat kan. Kita lihat ada kan barang tertentu yang bagus seperti itu, yang mungkin kalau kita orang yang suka masak, biasanya kita ingin koleksi segala macam panci yang ada di rumah. Kalau kita orang yang suka tumbuhan begitu, kita begitu melihat tumbuhan rasanya nggak bisa lewatkan kesempatan itu untuk memiliki tumbuhan itu di dalam kehidupan kita, atau yang lain-lain seperti itu. Termasuk mungkin hobi bola, atau hobi basket dan yang lainnya. Pada waktu kita mendapatkan informasi itu, kita bisa mendadak sangat senang sekali, dan kita ingin pergi ke sana untuk menyaksikan hal itu. Tapi ketika kita tiba di tempat itu, mungkin kita juga bingung, saya sebenarnya perlu beli apa nggak ya. Saya perlu nonton apa nggak ya. Saya perlu terlibat di dalam apa yang dikerjakan orang banyak ini  atau tidak ya, dan seterusnya. Itu adalah satu excitement, atau suatu kesenangan sementara, luapan emosi sementara yang muncul di dalam hati kita tetapi kita sebenarnya tidak pernah mempertimbangkan secara matang apa yang harusnya kita lakukan; misalnya ketika kita ada di situ, ketika kita membeli hal itu yang ada di dalam rumah tangga kita, dan yang lainnya seperti itu.

Ini yang kira-kira terjadi pada murid-murid yang mengikuti Yesus Kristus pada waktu itu. Dan kalau kita kaitkan dengan ibadah, itu bisa kita kaitkan dengan seorang yang ketika kita datang ibadah, apalagi misalnya ada khotbah-khotbah tertentu, yang disampaikan oleh pendeta yang sangat mencerahkan pikiran, sangat memberi inspirasi, sangat menegur, sangat cocok dengan kehidupan kita, yang kita gumulkan pada waktu ini, maka itu bisa membuat ada suatu luapan emosi dan rasa tertarik di dalam kita mengikuti ibadah, di dalam kita mendengarkan firman misalnya, atau di dalam kita melayani. Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah betulkah kita sungguh-sungguh mengerti apa yang harus kita lakukan terhadap kebenaran itu di dalam kehidupan kita? Atau apa yang menjadi iman yang harus kita nyatakan di dalam kehidupan kita ketika mendengar semua perkataan dari Kristus yang kita kejar dan kita rasa ini sangat penting dan sangat baik sekali.

Jadi, pada waktu ini, Yesus ingin mengajak murid-murid-Nya, coba lihat kembali, coba gumulkan kembali, coba pikirkan kembali, coba analisa kembali, sebenarnya kenapa engkau mengikut Aku? Dan apa artinya menjadi seorang murid yang sejati tersebut? Karena apa? Karena ada kemungkinan orang yang mengikut Yesus Kristus dengan begitu giat, begitu rajin, begitu penuh dengan luapan emosi tetapi sebenarnya mereka adalah seseorang yang hanya superficial semata. Hanya suatu kondisi yang merupakan luapan emosi sementara waktu, tetapi di dalamnya tidak ada ketekunan, atau tidak ada kesetiaan yang ditunjukkan di dalam kehidupan ini.

Makanya Bapak, Ibu bisa melihat di dalam perkataan Yesus misalnya, kalau di ayat 31 ya, “jikalau kamu tetap di dalam firman-Ku, kamu adalah benar-benar murid-Ku.” Jadi di sini, Yesus mau mengajak mereka untuk melihat kembali. Engkau berkata engkau mau mengikut Aku, OK, baik. Tetapi apa artinya mau mengikut Yesus Kristus? Yesus berkata, “Dengar firman-Ku dan lakukan firman-Ku.”? Nggak cukup sampai di situ, Yesus tidak hanya berkata, “Engkau dengar firman-Ku dan lakukan firman-Ku saja.” Tetapi yang Yesus katakan adalah “jikalau kamu tetap dalam firman-Ku”, nanti kalau Bapak, Ibu mau bandingkan yang lain ada kalimat “sampai pada akhirnya”, maka itulah ciri dari seorang murid yang sejati. Dan ini banyak bentuk yang Yesus ungkapkan di dalam pengajaran yang dia berikan kepada murid-murid-Nya.

Misalnya kalau Bapak, Ibu mau buka di dalam doa Yesus Kristus ketika Dia akan ditangkap di dalam Yoh. 17, maka di dalam ayat yang ke-17 di sini dikatakan bahwa, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” Lalu kalau mau tanya yang mana yang merupakan kalimat yang berkaitan dengan setia terus dan bertahan terus? Eh misalnya kita bisa mundur sedikit di dalam ayat yang ke-14. “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.” Lalu Bapak, Ibu bisa bandingkan juga kembali ke dalam ayat yang ke, nanti sambil jalan kita akan bicarakan ya.

Setiap orang yang mengikut Yesus, Yesus berkata bahwa dia pasti akan dikuduskan. Ada Firman yang menguduskan diri dia. Tetapi pengudusan itu bukan sesuatu yang bersifat sementara waktu. Bukan sesuatu yang diikuti berdasarkan satu luapan emosi yang kita ungkapkan dalam kehidupan kita. Tetapi pengudusan itu adalah sesuatu yang kita harus tunjukkan terus menerus di dalam kehidupan kita. Seperti yang dikatakan di dalam ayat 31, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, maka engkau adalah sungguh-sungguh merupakan murid-Ku.” Nah, kalau kita tanya kembali, apa yang dimaksud dengan “tetap di dalam firman-Ku” itu? Secara sederhana “tetap di dalam firman-Ku” itu dapat dimengerti sebagai satu pemahaman, “Saya selalu berpegang kepada apa yang Yesus katakan di dalam hidupku.” Dan kapan itu saya berpegang di dalam-Nya? Kita seringkali melihat bahwa oh saya berpegang di dalam-Nya itu di kala kita ada di dalam kondisi yang senang, di dalam kondisi yang tidak ada ujian dan pencobaan seperti itu. Di kala kita ada di dalam kondisi yang baik, saya melihat diri saya adalah orang Kristen yang taat. Saya datang ke gereja, saya berdoa di hadapan Tuhan, saya mendengar firman Tuhan, saya memuji Tuhan dalam hidup saya. Itu adalah orang Kristen yang baik dan saya lakukan itu. Maka saya adalah orang Kristen yang baik seperti itu atau murid yang baik.

Tetapi menariknya adalah pada waktu kita berbicara mengenai berpegang seperti ini, tadi saya ajak Bapak, Ibu lihat di dalam Yoh. 17:14 itu, Yesus berkata bahwa sebagai murid Aku telah memberikan firman-Ku kepada engkau dan dunia mengetahuinya lalu respons dunia itu apa? Membenci engkau. Artinya adalah pada waktu kita berbicara mengenai kita berpegang kepada firman, berpegang teguh, berpegang teguhnya kita dengan firman atau bertahannya kita di dalam kebenaran Tuhan itu bukan dalam kondisi baik saja, tetapi justru berada di dalam kondisi ketika dunia mengetahui kita adalah anak Allah, ketika dunia mempertanyakan ketaatan kita, ketika dunia mulai melihat betulkah orang Kristen ini akan terus beriman kepada Tuhan walaupun ada tekanan, ada ancaman dalam hidupnya, ada bahaya yang dia harus alami dalam hidup dia, tetapi dia tetap berpegang teguh di dalam imannya seperti itu. Ini yang dimaksudkan oleh Yesus Kristus ya.

Jadi pada waktu kita bicara seorang yang bertahan dalam iman, berpegang kepada perkataan Allah di dalam keadaan terus-menerus, terus-menerus itu bukan hanya di dalam keadaan yang baik saja, tetapi juga di dalam keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan, keadaan-keadaan yang membuat kita tidak nyaman, keadaan-keadaan yang mungkin membuat kita ingin menyembunyikan diri satu waktu, ingin melarikan diri dari kebanyakan orang atau dari pandangan orang dan sorotan orang dalam hidup kita karena kondisi kita betul-betul tidak menguntungkan sekali seperti itu. Tapi Yesus berkata, “Kita tetap berpegang kepada firman Tuhan di kala hal itu terjadi di dalam hidup kita.”

Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan itu sebab pada waktu Yesus mengerti hal ini, maka Yesus mau mengajak murid-murid-Nya menguji kembali apa yang ada di dalam hati murid-murid ketika mereka mengikut Yesus Kristus. Dan hal ini bukan sesuatu yang merupakan pengajaran yang hanya diberikan oleh Yohanes atau suatu perkataan yang hanya diutarakan seperti itu tanpa ada konfirmasi kebenarannya. Di dalam Yoh. 2, Yesus membuka seluruh yang ada di dalam hati manusia untuk mengerti bahwa Yesus bukan hanya sekedar berbicara. Yesus bukan hanya sekedar memberikan pertanyaan seperti itu atau ujian seperti itu, tetapi Yesus memberi pertanyaan ujian ini karena dia sungguh-sungguh tahu apa yang ada di dalam hati kita. Kalau Bapak Ibu lihat di dalam Yoh. 2, kita beberapa kali pernah lihat konteksnya sama. Ada begitu banyak orang yang mengikuti Yesus Kristus. Ke mana Yesus pergi, mereka pergi mengikuti Yesus Kristus. Di dalam ayat yang ke 23 misalnya, “Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya.” Lalu ayat 24, “Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorang pun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.”

Jadi pada waktu Yesus berkata bahwa kamu adalah murid-Ku dan pengikut-Ku, coba perhatikan hidupmu, adakah firman yang tinggal di dalam dirimu? Adakah firman yang tinggal di dalam dirimu? Senantiasa ada? Kalau itu ada, “engkau sungguh-sungguh murid-Ku.” Karena Yesus tahu tidak semua orang yang mengikut Dia itu sungguh-sungguh adalah murid Dia atau pengikut Dia.

Jadi, hal pertama adalah: kalau Bapak, Ibu ingin tahu apa yang menjadi tanda kalau saya adalah milik Kristus atau bukan, saya kira bukan cuma dari sekadar, “Oh, saya tampilkan diri sebagai orang Kristen. Saya mengenakan segala pernak-pernik yang menyatakan saya adalah orang Kristen. Saya mengikuti kegiatan-kegiatan dalam kehidupan saya yang menyatakan saya adalah orang Kristen yang membedakan dari orang-orang yang beragama yang lain”, seperti itu? Tetapi yang paling utama adalah di kala Tuhan berbicara, ada penundukan diri atau tidak? Ada ketaatan, tidak? Di kala Iblis datang untuk mencobai kita, kondisi tidak menguntungkan diri kita, yang membuat kita harus menguji kembali atau memilih antara ketaatan kepada perkataan Tuhan atau ketidaktaatan kepada perkataan Tuhan, ada tidak, ketaatan pada waktu itu? Dan ini bukan hal yang gampang –saya percaya– ini adalah hal yang sulit untuk kita alami dalam kehidupan, ketika kita alami. Karena hal-hal yang membuat kita sering kali memilih untuk tidak taat itu bukan hanya ancaman, bahaya yang jelas di mata kita, yang kita tahu ini dari musuh. Tetapi hal-hal yang sering kali merupakan kondisi abu-abu yang sepertinya tidak berbahaya, tidak merugikan, tetapi pelan-pelan telah menyeret kita makin lama makin jauh daripada ketaatan kepada Tuhan.

Di dalam pemuda, KTB Pengurus Pemuda kemarin, kita ada berbicara mengenai kasih itu akan membuat kita seperti apa? Pertama adalah kasih itu akan membuat kita meninggalkan dosa. Kita tidak hidup di dalam satu perbuatan yang melawan Tuhan. Yang kedua adalah kasih itu akan membuat kita menyangkal diri kita, memikul salib kita. Dan memikul salib ini dikaitkan dengan hal-hal duniawi atau yang ditawarkan oleh dunia ini. Lalu pada waktu kita berbicara mengenai hal-hal yang ditawarkan oleh dunia ini, apa saja yang meliputi hal-hal yang ditawarkan oleh dunia ini? Satu sisi, mungkin kita bisa bicara tentang perbuatan dosa atau sesuatu yang melawan perkataan Tuhan, hukum Tuhan, seperti itu. Tetapi hal-hal yang ditawarkan oleh dunia itu bisa bersifat filsafat dunia: hal-hal yang menjadi pemikiran dunia yang kita adopsi dalam hidup kita, yang kita lihat bukan hal yang merugikan. Itu juga adalah sesuatu yang baik untuk kita lakukan.

Misalnya apa? Kalau dunia bekerja, saya bekerja dengan, seperti orang dunia bekerja. Itu bukan salah, kan? Itu perintah Tuhan. Tapi kalau dunia mengejar uang dan berusaha untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin dan berpikir bahwa uang bisa memberi kebahagiaan, maka kita juga –karena dibesarkan dalam dunia yang berdosa– kita juga berpikir kebahagiaan itu bersumber dari uang. Maka mulai pada waktu itu saya mengejar itu tapi saya mulai mengesampingkan perkataan Tuhan, khususnya ketika Tuhan menuntut kita, “Stop bekerja saat ini! Waktu ini, datang! Bangun relasi dengan Tuhan!”, misalnya. Kita memiliki anak. Dunia juga berkata memiliki anak itu adalah sesuatu yang baik. Pada waktu kita memiliki anak, dunia mencintai anak, kita juga mencintai anak kita. Tetapi apa yang membedakan dunia di dalam mencintai anak dengan orang Kristen di dalam mencintai anak? Saya percaya ada momen-momen tertentu kita akan berkata ”Stop!” di dalam hal ini kepada anak. “Ini tidak boleh diteruskan lagi karena Tuhan berkata ini tidak boleh!” Kita tidak akan mem-bablas-kan kasih kita, sayang kita kepada anak kita bahkan melebihi kasih kita kepada Tuhan.

Bapak, Ibu bisa tarik ke yang lain: studi dan yang lain-lainnya. Dunia ini punya banyak aspek –apa itu? Lingkup-lingkup, wilayah– di dalam, di mana kita berada. Atau kehidupan kita itu banyak aspek yang harus kita lakukan. Tapi kadang-kadang kita menerjunkan ke dalam satu keadaan tertentu dan kita berpikir itu adalah hal yang paling penting. Bahkan itu merebut kasih kita sehingga kita tidak berpikir bahwa kita sedang menghina Tuhan atau menyangkali Tuhan dalam hidup kita dan meragukan Tuhan dan tidak mentaati Tuhan dalam kehidupan kita lagi. Karena apa? Dunia lakukan itu. Dunia anggap itu sebagai satu kebenaran. Dan saya pikir saya sudah sedang mengejar hal yang benar juga dalam hidup kita.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, hati-hati! Hal-hal seperti ini sering masuk dalam kehidupan kita. Misalnya perceraian juga. Ada keributan dalam rumah tangga. Pada waktu kita melihat keributan dalam rumah tangga, Tuhan ngomong apa? “Tidak boleh bercerai!”, misalnya. Tetapi di dalam realita, dunia bercerai. Lalu kita mulai melihat, “Apa yang menjadi alasan dunia bercerai? Oh, ada KDRT”, misalnya. Ada sesuatu tidak pertanggungjawaban dari pasangan kita untuk memenuhi kehidupan kita. “Saya takut karena dia adalah orang yang meledak-ledak di dalam emosi dan segala sesuatu yang lain –seperti itu–. Maka saya menjadikan itu alasan untuk saya berpisah dari pasangan saya.” Karena apa? “Saya nggak mengalami kebahagiaan. Saya terancam di dalam pernikahan saya”, dan yang lain-lainnya.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu pelan-pelan ditanam: makin lama kebencian itu terus dipupuk di dalam diri kita. Konsep-konsep yang meragukan pasangan kita, itu kita tanam dalam hidup kita. Saya nggak berusaha menyederhanakan ya. Tapi saya hanya mengambil beberapa contoh supaya kita bisa menguji kembali. Sebenarnya pada waktu kita ada di dalam kondisi yang harus memilih: apakah taat kepada Tuhan atau tidak taat kepada Tuhan? Dan tekanan itu bisa dalam berbagai bentuk yang menekan diri kita, yang membuat kita bisa melarikan diri. Ada pilihan-pilihan untuk melarikan diri, menghindarkan diri, ada di dalam satu keadaan yang nyaman: tidak terluka, tidak tersakiti, tidak ada di dalam bahaya. Tetapi hal ini mengesampingkan perkataan Tuhan. Kita milih yang mana?

Bapak, ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, itu adalah hal yang saya kira semua orang Kristen harus belajar menggumulkan dan menghidupi kebenaran ini. Dan hal ini juga –selain dari Yesus katakan di sini– sebenarnya sudah Yesus ajarkan juga di dalam Matius 13. Satu ayat yang beberapa kali saya pernah kutip yaitu mengenai perumpamaan seorang penabur. Pada waktu seorang pergi ke ladang. Dia kemudian menaburkan benihnya, seperti itu. Ada yang jatuh di pinggir jalan, ada yang jatuh di tanah yang berbatu, ada yang jatuh di tanah yang bersemak duri, dan ada yang jatuh di tanah yang subur. Lalu, ketika Yesus berbicara mengenai hal ini, kemudian murid-murid ketika ada kesempatan, mereka datang kepada Yesus Kristus karena mereka tidak mengerti apa yang Yesus ajarkan pada waktu itu. Lalu, mereka bertanya kepada guru mereka, “Guru, apa yang dimaksudkan mengenai perumpamaan ini?” Kita tidak akan bicara semua, tetapi yang saya mau ajak kita lihat adalah perumpamaan yang kedua. Pada waktu benih itu ditaburkan, maka Yesus berkata, sebagian dari benih itu jatuh ke tanah berbatu. Lalu, apa makna dari benih yang jatuh di tanah yang berbatu ini? Yesus berkata, benih itu ketika jatuh, benih itu kemudian tumbuh. Dia tidak kelihatan tidak subur. Dia kelihatan tumbuh dengan baik seperti itu, tetapi ketika matahari menyinari benih itu, baru ketahuan bahwa benih itu tidak dalam kondisi yang baik. Bukan karena benihnya tidak baik, tetapi karena tanahnya tipis sehingga tidak bisa,- mungkin kalau pakai bahasa tanaman-tidak bisa menampung kelembapan di dalam tanah itu sehingga akarnya itu mengalami kekeringan dan akhirnya seluruh tumbuhan itu menjadi layu.

Artinya apa? Di sini Yesus kemudian mau mengatakan bahwa pada waktu kita melihat pada benih itu, itu seperti gambaran dari orang Kristen. Ketika mendengarkan firman, seketika dia menjadi orang yang sepertinya bertumbuh, bersukacita, menjadi orang Kristen yang baik, meluap di dalam emosinya. Tetapi hati-hati, mungkin sebentar lagi dia akan layu. Karena apa? Ujiannya belum datang. Pencobaannya belum tiba. Coba perhatikan, dia kemungkinan besar tidak akan continue di dalam kehidupan imannya di dalam Kristus Yesus. Dia bisa ada sekarang karena apa? Mungkin Tuhan masih beranugerah kepada dia. Tuhan belum mengizinkan dia untuk dicobai dan diuji seperti itu, tetapi ketika hal itu datang, dia langsung meninggalkan iman dan dia pergi dari imannya dan dari gereja, dari persekutuan bersama dengan orang-orang percaya.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, saya tahu, ini adalah sesuatu yang tidak menyenangkan untuk dibahas, ya, tetapi saya percaya, Alkitab mengajarkan ini dan Yesus juga mengajarkan ini tujuannya bukan untuk menghakimi kita sebagai orang yang ada sementara, lalu hilang dari gereja. Ada orang yang saya kelihatannya seperti orang yang setia. Lalu, kemudian saya dicap seperti benih yang jatuh di tanah yang berbatu itu. Bukan. Tetapi untuk menguji kita kembali, untuk meneliti kembali apakah saya adalah orang yang memiliki iman dan murid Kristus yang sejati atau tidak? Kalau saya bukan seperti itu, seperti yang digambarkan oleh Kitab Suci dan saya mengerti ada kebenaran itu, saya mulai berpikir ulang dan mulai mengubah gaya hidup saya, pemikiran saya, dan sikap hati saya untuk seperti yang Tuhan kehendaki.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, benih itu jatuh di tanah yang berbatu. Ada sedikit tanah di situ, tetapi  tanah itu tidak bisa mempertahankan kehidupan bagi benih itu dan ada orang-orang Kristen yang digambarkan seperti ini. Tetapi, kalau kita berbicara seperti ini, ya, mungkin kita bertanya, ”Oh, kalau begitu, orang Kristen adalah orang yang bisa kehilangan keselamatan? Bukankah di dalam Yohanes 6 yang kita pernah lihat sebelumnya, ayat 44 misalnya, “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarikoleh Bapayang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.”  Bukankah di dalam Roma 8 misalnya, Paulus berkata bahwa setiap orang yang dipilih, dia pasti akan dipanggil. Setiap orang yang dipanggil, dia pasti akan apa? Setiap orang yang dipilih, ia akan dipanggil. Setiap orang yang dipanggil, dia akan dibenarkan. Setiap orang yang dibenarkan, dia akan dimuliakan. Artinya bahwa pada waktu pemilihan Tuhan itu tiba, maka tujuannya jelas, akhirnya jelas, yaitu adalah kemuliaan.

Tetapi, bagaimana dengan bagian ini? Yesus berkata bahwa, ”Kalau engkau tidak setia, engkau bukan murid-Ku. Kalau engkau adalah seorang yang benihnya itu jatuh di tanah yang berbatu, meluap sebentar, lalu hilang dari permukaan, hilang dari penampakan di tengah-tengah orang Kristen yang ada, engkau bukan murid-Ku.” Jadi, iman yang sebelumnya bagaimana? Kasih yang sebelumnya seperti apa? Ciri yang dinyatakan sebagai orang Kristen yang muncul di dalam hidup kita itu bagaimana kita pertanggungjawabkan? Maka, di sini banyak orang Kristen berkata, “Oh, keselamatan itu bisa hilang.” Pengajaran yang Yesus ajarkan dan Alkitab ajarkan itu kontradiktif satu dengan yang lain. Satu sisi sepertinya nggak mungkin hilang, tetapi di sisi lain, bahkan di dalam Ibrani pun berkata bahwa ada orang Kristen yang murtad di dalam hidup dia. Ibrani pasal 6. Tetapi, kita bersyukur kepada Tuhan karena di dalam 1 Yoh.2:19, semua ini sudah dijawab, ya. Di dalam 1 Yoh.2:19 dikatakan bahwa kalau ada orang yang menyangkal imannya, meninggalkan Kristus, hidup di dalam satu perlawanan terhadap Kristus, walaupun dia adalah bagian dari antara kita, artinya bahwa adalah dia orang yang sungguh-sungguh kelihatan sebagai orang Kristen sebelumnya, orang yang menjadi pengikut Kristus sebelumnya, tetapi ketika mereka meninggalkan imannya, itu mau mengatakan bahwa mereka sebenarnya bukan termasuk dari kita sejak dari mulanya.

Kita boleh buka kembali di dalam 1 Yoh. 2:19. “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita.” Jadi pada waktu ada orang-orang yang meninggalkan iman yang kemudian akhirnya mungkin menjadi orang dengan kepercayaan yang lain atau bahkan orang yang tidak percaya Tuhan lagi atau meragukan betul-betul iman Kristen sehingga dia tidak pernah mau muncul di dalam gereja lagi dan tidak mau bersekutu, tidak mau beribadah kepada Tuhan, tidak mau mempelajari firman Tuhan lagi dan tidak mau mendengarkan perkataan Tuhan dalam hidupnya, satu hal yang Kitab Suci katakan, betul memang dia semula bersama dengan kita. Betul dia adalah orang Kristen. Kenapa saya pakai istilah orang Kristen? Karena Yesus sendiri mengatakan bahwa di ayat 30 banyak orang percaya kepada-Nya. Tetapi di dalam 1 Yoh. 2:19 dikatakan, percayanya itu bukan percaya yang sejati, tetapi percaya yang pasang surut. Dan orang yang memiliki iman yang percaya pasang surut, itu bukan murid Yesus yang sejati. Karena apa? Karena ketika ujian tiba, pencobaan tiba, dia akan meninggalkan iman. Dan kenapadia meninggalkan iman? Di dalam 1 Yoh. 2:19 dikatakan, “Karena memang sejak semula dia bukan orang yang dipilih oleh Tuhan.” Tapi dia adalah orang yang diberikan anugerah untuk hidup bersama-sama dengan orang Kristen, untuk besar bersama-sama dengan orang Kristen, untuk mencicipi anugerah dan karunia-karunia kebaikan Tuhan dalam hidup dia. Tapi dia sebenarnya adalah orang yang belum diselamatkan di dalam Kristus.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, dua hal ini ada di dalam Kitab Suci. Satu, kebenaran yang menyatakan bahwa di dalam kedaulatan Tuhan, Tuhan
memilih siapa yang Dia mau. Tuhan melewatkan siapa yang Dia tidak pilih untuk diselamatkan. Kalau kita tanya, “Apakah itu adalah ketidakadilan?” Bukan. Itu adalah hak dari Tuhan sebagai Pencipta saudara dan saya. Pencipta dari semua dunia ini. Pencipta dari semua manusia. Pemilik dari semua manusia yang Dia cipta untuk menyembah Dia dan memuliakan Dia. Itu adalah hak Dia. Apalagi ciptaan itu telah memberontak dan melawan Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ada prinsip ini. Kalau Dia tidak punya otoritas itu berarti dia bukan Tuhan, Dia bukan Raja. Tetapi di sisi lain, Alkitab juga mengatakan bahwa ada tanggung jawab manusia. Ada hal yang harus dinyatakan dari orang-orang yang mengikut Yesus. Dan kalau Tuhan sudah bekerja di dalam hati orang itu untuk memperbaharui dia, untuk membuat dia mengasihi Tuhan dari hati yang tidak mengasihi Tuhan, maka hanya ada satu respons yang akan muncul di dalam hidup dari orang itu, yaitu apa? Dia pasti akan terus bertekun di dalam imannya sampai kepada akhirnya, tetapi yang tidak akan satu hari pergi dan meninggalkan Kristus dari kehidupannya. Ini adalah hal yang kita harus bisa pisahkan ya. Tetapi ini juga menjadi satu hal yang bisa memberi satu penghiburan juga dalam kehidupan kita. Kalau kita tanya, “Apa yang menjadi ciri dari imanku adalah iman yang sejati atau tidak?” Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, atau saya sedang mundur di dalam iman seperti itu. Caranya adalah dua hal ini. Ketika saya mundur, ada nggak rasa bersalah? Ada nggak rasa ketidaklayakan? Ada nggak kesedihan dalam hati saya yang membuat saya ingin balik lagi? Saya tahu mengikut Tuhan itu adalah satu kebenaran. Kenapa saya mundur sekarang? Saya berdosa seperti itu, tapi sepertinya saya sudah begitu jauh dari Tuhan. Bagaimana? Apakah karena sudah kadung basah seperti itu, maka saya
meninggalkan Tuhan sama sekali saja? Kalau kita pikir seperti ini, kita adalah bagian dari orang yang tidak dipilih oleh Tuhan. Tapi kalau kita adalah orang yang terus merasa bersalah, saya ingin balik, saya mau balik, saya sudah terlalu jauh dari Tuhan. Tuhan tolong beri kekuatan, saya berusaha balik kembali kepada Tuhan. Walaupun saya saat itu tidak ada bersama dengan persekutuan umat Tuhan, tapi hati itu, perasaan itu selalu ada di dalam diri kita. Mungkin kita sedang mundur di dalam iman, bukan sebagai orang yang tidak diselamatkan, seperti itu.

Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah dua tanda yang mungkin kita bisa uji dari hidup kita. Tetapi hati-hati ya kalau Bapak Ibu terus bablas di dalam hal ini, terus menipu diri dengan perasaan seperti itu sampai akhir dan tidak pernah bertobat dan kembali kepada Tuhan, mungkin itu adalah tipuan dari hati nurani kita yang membohongi diri kita sendiri juga. Jadi ada satu dorongan untuk tetap setia kembali kepada Tuhan menghidupi perkataan Tuhan sampai akhir dari kehidupan kita. Itu adalah ciri dari seorang anak Tuhan.

Nah, tadi saya ada kutip dari KTB kemarin, Pengurus Pemuda. Itu adalah satu KTB yang tetap membahas mengenai Roma 8:28 dari Thomas Watson, God Works for Good, seperti itu di dalam segala sesuatunya. Dan ada satu hal yang saya ingin sampaikan di sini adalah, apa yang membuat orang Kristen itu tetap mau tekun dan setia sampai akhir? Kenapa dia tidak akan rela untuk meninggalkan Tuhan? Jawabannya adalah karena pada waktu Tuhan menebus kita di dalam Kristus, maka yang Tuhan kerjakan adalah memberi kita hati yang baru. Satu hati yang membuat kita bisa memilah; ini adalah hal yang buruk, hal yang jahat. Ini adalah hal yang baik, yang menyenangkan, yang memuliakan Tuhan. Kalau ini adalah sesuatu yang tidak memuliakan Tuhan. Hal ini adalah suatu kebenaran yang kalau saya hidupi, bukan hanya kemuliaan Tuhan saja yang akan dinyatakan dalam kehidupan saya, tapi segala berkat kebaikan yang Tuhan janjikan itu akan saya terima dalam kehidupan saya. Dulu saya tidak menyukainya. Saya adalah orang yang betul-betul buta dalam kehidupan saya, nanti kita akan lihat itu, dan saya merasa bahwa apa yang Tuhan katakan itu tidak nyambung sama sekali dalam kehidupan saya. Tapi ketika Roh Kudus melahirbarukan saya, saya menjadi orang yang mulai mengerti kebenaran Tuhan dan perkataan Tuhan. Saya mulai bisa menikmati apa yang Tuhan katakan sebagai kebenaran itu dalam kehidupan saya. Karena ара? Karena Roh Kudus bekerja dalam diri kita.

Istilahnya adalah, hal yang di dalam itu akan mendorong kita untuk terus bertekun di luar. Ketekunan kita di luar wujudnya apa, itu akan terlihat dari, itu akan memperlihatkan apa yang ada di dalam hati kita. Kalau nggak salah, Luther, ya? Dia gambarkan seperti ini, keinginan manusia itu adalah seperti kekuatan seekor kuda, yang menungganginya itu adalah iblis atau Tuhan. Ke mana kita pergi dengan segala keinginan dan kekuatan kita itu menunjukkan siapa penunggang kita. Saudara, jadi kalau kita terus dihantui dengan kebencian, mungkin bapa kita bukan Kristus. Kalau kita terus dihantui dengan penolakan terhadap perkataan Tuhan, mungkin bapa kita adalah iblis. Kalau kita terus hidup di dalam dosa, perzinahan, perjudian, dan segala sesuatu yang lain, yang Alkitab nyatakan, Yesus pasti bukan penunggang kita atau tuan kita. Jadi, dasarnya apa? Apa yang terlihat, apa yang keluar dari hidup kita, itu mencerminkan siapa yang bertakhta di dalam hati kita. Ini yang dikerjakan oleh Tuhan.

Itu sebabnya di dalam buku itu, saya sangat senang sekali, karena dia menggunakan istilah “kasih”. Kasih membuat kita meninggalkan dosa. Kasih membuat kita belajar memikul salib kita. Kenapa “kasih”? Kok bukan berkata, misalkan “kebenaran Tuhan” membuat kita meninggalkan dosa, “kebenaran Tuhan” membuat kita memikul salib, seperti itu? Itu akan membuat kita melihat hidup Kristen penuh dengan tuntutan dan tuntutan. Tetapi kalau Tuhan mengubah hati kita menjadi hati yang baru, saya yakin, itu membuat apa yang di dalam hati kita, keinginan kita, kecondongan kita, itu juga turut berubah. Makanya di dalam kalimat ini atau buku itu dikatakan, “Kasih itu yang mendorong kita”, artinya apa? Mulai dari detik Roh Kudus bekerja, saya tidak lagi melihat dosa itu sebagai beban atau yang menyenangkan, seperti itu, sesuatu yang baik, dan saya tidak merasa rugi kalau saya meninggalkan dosa itu. Mulai dari ketika Roh Kudus bekerja, saya merasa menyangkal diri saya dan keinginan-keinginan yang tidak berkenan kepada Tuhan dan apa yang menjadi keinginan dunia yang saya anggap sebagai hal yang menyenangkan itu adalah sesuatu wajar, sesuatu yang justru menyenangkan, karena apa? Saya tahu bahwa apa yang dilakukan dunia itu adalah hal yang betul-betul akan membelenggu saya dan tidak akan membuat saya ada di dalam kebahagiaan, karena itu mulai dari ketika Roh Kudus bekerja, saya menyukai hal yang baik, dan melepaskan hal yang duniawi, melepaskan hal yang kedagingan, itu bukan hal yang merugikan.

Saya harap kita sebagai orang Kristen bisa melihat kepada kebenaran ini, ya, karena tanpa ada anugerah dari Tuhan dalam hidup kita, maka kita tidak mungkin bisa melihat kebenaran ini dan bahkan menikmati hal-hal baik yang Tuhan katakan dalam kehidupan kita. Makanya kalau Bapak/Ibu baca di dalam ayat yang ke-34, di situ dikatakan, “Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”” Siapa diri kita? Kalau kita adalah orang yang ada di dalam Kristus, kemerdekaan itu sudah Tuhan kerjakan bagi diri kita, tapi di dalam bagian ini, kalau kita adalah orang yang hidup dalam dosa dan terus berpikir kita bisa ada di dalam dua perahu, seperti itu, Yesus berkata bahwa nggak mungkin. Saya bukan ngomong orang Kristen tidak bisa berdosa lagi, ya. Tetapi yang saya lakukan, yang saya katakan adalah setiap orang yang berpikir, “Saya bisa hidup di dalam dosa dan sekaligus menjadi milik Kristus,” itu adalah hal yang tidak mungkin, karena apa? Karena pada waktu kita terus hidup dan bertekun dalam dosa, itu hanya menyatakan tadi, kepemilikan kita adalah iblis, bapa kita adalah iblis, tetapi juga di sini dinyatakan dengan dosa itu adalah sesuatu yang memperhambakan diri kita. Jadi, artinya adalah kita nggakmungkin bisa lepas, nggak mungkin bisa memerdekakan diri kita.

Dan ilustrasi yang kedua menarik di sini, Yesus gunakan, “tinggal di dalam rumah.” Seorang hamba punya rumah, tidak? Kalau Bapak, Ibu gambarkan, mungkin bisa gambarkan kayak gini, ya. Kita tuan rumah, kita punya anak-anak dalam rumah, tapi kadang kala ada pekerja datang ke rumah kita, beres-beresin rumah kita, atau ada pekerja yang kita gaji tinggal di rumah kita dua puluh empat jam, seperti itu, setiap harinya untuk bekerja beres-beres rumah kita. Mohon tanya, yang menjadi pemilik rumah siapa? Kita kan? Apakah pekerja itu akan terus ada di dalam rumah atau tidak? Walaupun dia tinggal di situ satu waktu, dia suatu hari akan keluar, lalu atas dasar apa dia berusaha untuk terus bisa bertahan di dalam rumah itu? Karena pemiliknya masih menerima, mempekerjakan dia. Tapi ada aspek kedua adalah kinerja dia, usaha dia. Dia akan berusaha untuk terus bekerja dengan sebaik mungkin memenuhi apa yang menjadi keinginan tuannya.

Tetapi, Saudara, ketika dia bekerja untuk memenuhi keinginan tuannya, kira-kira yang muncul di dalam pemikiran dia apa? Satu adalah itu adalah sesuatu yang membebankan, mungkin? Karena ada tuntutan-tuntutan dari tuannya yang berusaha dia harus penuhi untuk menyenangkan tuannya. Tapi ada hal kedua yang juga akan muncul, kemungkinan adalah kebencian. Saya berusaha taat, tapi pemilik saya, tuan saya kelihatannya nggak pernah puas-puas dengan apa yang saya lakukan. Saya terus berusaha menyenangkan dia dengan melakukan apa yang dia minta, tapi kok saya masih dimarahi? Saya masih merasa ada yang kurang yang harus dikerjakan lagi. Akibatnya apa? Kebencian, kemarahan, kecurigaan kepada tuan. Itu yang akan terjadi.

Nah, Saudara, pada waktu kita mengikut Tuhan. Tuhan berkata seperti ini, ada beda antara anak yang ada di dalam Kristus dengan seorang hamba. Seorang hamba itu siapa? Seorang yang berpikir bahwa mengikut Kristus itu adalah dari aspek agama, dari aspek tindakan, dari aspek perbuatan, dari aspek hukum yang harus dilakukan. Tapi yang menjadi anak mereka mengerti satu hal bahwa keberadaan saya sebagai anak Tuhan itu adalah karena kasih karunia. Apa yang Kristus kerjakan dalam hidup saya, bukan sesuatu yang saya bisa usahakan, tetapi karena kasih Allah di dalam Kristus yang Allah berikan bagi diri kita. Jadi, pada waktu kita ada di dalam Kristus apa yang terjadi? Pada waktu itu, maka kita akan disebut sebagai anak Allah. Relasi kita dengan Tuan kita bukan lagi antara relasi Tuan dengan hamba, tetapi antara relasi Bapa dengan anak. Rumah menjadi milik kita karena dikaruniakan atau karena peristiwa kelahiran yang Tuhan kerjakan di dalam hidup kita seperti halnya kita melahirkan anak kita di dalam rumah.

Tetapi, kalau kita tidak menerima kasih karunia ini, kita akan ada di dalam rumah. Bisa saja seperti orang Kristen yang on off. Pada waktu dia di rumah, dia bekerja tidak? Kapan? Kenapa dia muncul? Karena mungkin dia merasakan ada berkat dan kebaikan Tuhan. Kapan dia keluar dari rumah? Ketika dia merasa mungkin kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam kehidupan dia. Dan pada waktu dia keluar rumah, apa yang dia lihat? Mungkin Tuhan itu tidak terlalu baik kepada dia. Tuhan itu perlu dicurigai, dan saya untuk bisa hadir di dalam ibadah lagi, saya harus melakukan hal-hal yang membuat Dia senang terlebih dahulu baru saya layak di hadapan Dia. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini yang saya katakana di dalam aspek kedua tadi, ya. Mungkinkah orang Kristen, ketika mengikut Tuhan dia berpikir bahwa saya adalah murid Yesus, saya adalah pengikut Kristus dari aspek agama. Tetapi ketika dia berada di dalam aspek agama, dia pikir dia baik, dia pikir dia setia mengikut Tuhan, tapi sebenarnya dia hal itu telah menghalangi dia untuk menjadi murid yang sejati. Karena murid yang sejati itu sesuatu yang diterima bukan karena usaha, kemampuan, tetapi itu adalah karena kasih karunia.

Sebabnya apa? Kalau kita berpikir, kita bisa mendekati Tuhan dengan usaha dan perbuatan ingat baik-baik, kita bukan orang suci. Kita adalah orang berdosa. Dan menariknya di sini, Niebuhr itu pernah berkata, “Walaupun semua fakta tentang keberdosaan orang itu dibukakan di mata orang berdosa, dia tetap akan berpikir, ini saya parafrase saja, dia adalah orang benar dan baik.” Contohnya apa? Dunia kurang jahat di mana? Lihat dalam penjara. Lihat orang-orang di sekitar kita. Siapa yang nggak pernah ditipu? Siapa yang nggak pernah dilukai? Siapa yang nggak pernah berusaha dihancurkan oleh orang? Siapa yang tidak pernah bermasalah dalam hidupnya? Siapa yang nggak pernah lihat tokoh-tokoh yang begitu kejam sekali? Kita lihat, kan? Semua itu fakta, kok, yang ada di dalam realita kehidupan ini. Tetapi anehnya, setiap kali kita diperlihatkan kepada semua itu, kita ngomong apa? Manusia itu pada dasarnya baik, yang merusak itu lingkungannya, kondisi ekonominya mungkin seperti itu, atau pendidikannya. Karena itu, kita perlu mendidik yang baik.

Kita nggak bisa melihat hal itu. Apa yang membuat hal-hal yang begitu jelas di mata, termasuk dosa kita dan kelemahan kita dan ketidaklayakan kita di hadapan itu terbuka. Itu semua adalah kasih karunia. Jadi, pada waktu kita ada di dalam kasih karunia, maka Yesus berkata, “Itu membuat kita ada di dalam rumah.” Tetapi kalau kita tidak ada di dalam kasih karunia, kita hanya akan menjadi hamba di dalam rumah itu yang berusaha untuk menuntut diri baik, menuntut diri benar, menuntut Tuhan kita disenangkan. Tapi karena natur kita berdosa, kita nggak mungkin bisa lakukan itu. Tapi, kita nggak lihat itu, kita terus berusaha, berusaha, berusaha. Akhirnya kita menjadi kecewa, kita mungkin menjadi marah dan jengkel kepada Tuhan. Karena saya nggak bisa. Saya sudah lakukan kebaikan, kenapa Tuhan berikan hal-hal yang tidak baik dalam hidup saya? Mau apa Tuhan dalam hidup saya? Lalu kita meninggalkan Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara, yang dikasihi Tuhan, itu hanya menunjukkan kalau kita hamba, bukan anak di dalam rumah Tuhan. Jadi, saya harap ini menjadi satu hal yang membuat kita menguji kembali, ya. Selama ini apa yang kita lakukan? Apa yang membuat kita ada di dalam rumah? Apakah karena kasih karunia yang Tuhan berikan dalam hidup kita atau karena keinginan kita untuk terus berusaha untuk hidup menyenangkan Tuhan dari kekuatan diri kita untuk kepentingan diri kita sendiri. Saya kira itu dua hal yang sangat berbeda sekali.

Tetapi ada satu bahaya yang mungkin kita harus perhatikan adalah pada waktu kita melakukan atau berkata bahwa saya adalah milik Tuhan dan kepemilikan itu adalah berdasarkan kasih karunia, maka apakah itu berarti bahwa hidup kita adalah hidup yang boleh lakukan segala sesuatu dengan kesukaan dan keinginan kita sendiri? Yesus berkata, “Tidak. Orang yang ada di dalam rumah, atau orang yang ada di dalam kasih karunia Tuhan, dia adalah orang yang tetap di dalam Firman-Ku.” Ini penting, ya. Karena banyak orang Kristen berpikir, “Saya bisa ada di dalam rumah dan tetap setia walaupun saya tidak tetap di dalam Firman Tuhan.” Maksudnya adalah saya hidup berdosa. Saya melakukan semua hal yang melawan Tuhan, tapi karena saya memiliki iman dalam Kristus, saya tetap di dalam rumah. Yesus berkata, tidak! Orang yang tetap di dalam rumah, dia akan tetap di dalam firman. Tetapi ketika dia tetap di dalam firman, dia tidak melihat itu sebagai hamba, tapi dia melihat sebagai seorang anak yang telah mendapatkan kasih karunia di dalam Kristus dan kelahiran baru dan pembaharuan yang Roh Kudus kerjakan dalam hidupnya. Itu yang akan terjadi.

Nah, saya masuk sedikit di dalam poin ini, ya. Atau saya kutip satu kalimat Sinclair Ferguson dulu sebelum kita masuk ke dalam poin berikutnya, ya. Sinclair Ferguson itu berkata seperti ini “when rightly understood, the doctrine of election the saving purpose of God never leads to moral carelessness.” Kalau kita mengerti doktrin pemilihan secara benar, kalau kita mengerti tujuan Tuhan menyelamatkan kita secara benar, maka hal itu tidak akan membawa kita ke dalam suatu kehidupan kekacauan moral atau ketidakbenaran moral. Saya harap ini menjadi catatan yang penting dalam kehidupan kita, ya.

Lalu saya mungkin tekankan ini sedikit aja, ya, lalu kita tutup nanti kita sambung ke dalam waktu berikutnya. Apa yang di maksud dengan kebenaran itu yang merdekakan kita? Kalau kita betul-betul merdeka, ya, satu sisi mungkin kita bisa berkata secara lebih luas, itu adalah firman Tuhan. Dan saya yakin firman Tuhan itu memerdekakan. Makanya kalau Bapak, Ibu tadi lihat dalam Yoh. 17, di situ tadi saya ajak kita membaca di dari ayat yang ke 17 “kuduskanlah mereka dalam kebenaran, firman-Mu adalah kebenaran”, jadi kalau kita ingin bertumbuh di dalam pengudusan, kita mengerti bahwa pengudusan itu bukan sesuatu yang kita bisa dapatkan di luar dari firman. Tapi ada kebenaran firman yang harus menuntun kita yang menguduskan kita pertama secara supranatural dalam hidup kita, tetapi juga ada ketekunan untuk menghidupi kebenaran firman itu dalam diri kita.

Tetapi ada aspek yang kedua yaitu yang lebih setia dengan bagian ini adalah, apa yang dimaksud dengan dibenarkan atau firman itu memerdekakan kita, yaitu Injil. Ini konteks lebih dekat, ya. Pada waktu kita bicara kebenaran itu apa? Yaitu kebenaran di dalam Injil. Yaitu berkaitan dengan apa yang telah Kristus kerjakan dalam hidup kita. Apa yang Kristus telah lakukan ketika Dia naik di atas kayu salib. Yaitu menggantikan kita yang terhukum dari dosa dan kematian kekal. Yaitu dari suatu yang merasa membuat kita merasa bersalah, merasa berdosa, sesuatu yang membuat kita terbebani oleh dosa. Sesuatu yang membuat kita terbelenggu oleh dosa. Itu adalah kebenaran-kebenaran yang Yesus kerjakan dalam hidup kita.

Jadi kalau Bapak, Ibu merasa sedih, berduka cita, merasa kenapa saya punya kehidupan sepertinya tidak maju-maju seperti itu. Terus ada di dalam dosa, terus gagal seperti itu. Mohon tanya, ada kebenaran Injil tidak di dalam hidupnya? Atau datanglah kepada kebenaran Injil Kristus. Karena satu-satunya yang bisa memerdekakan kita dari semua rasa bersalah itu tuntutan hukum, rasa takut, belenggu dosa yang kita benci itu hanya Kristus saja, yang mati bagi kita di atas kayu salib. Nggak ada jalan lain untuk hal ini. Tapi ketika Injil ini dikabarkan, ingat baik-baik, selalu ada dua hal respons yang diberikan. Pertama adalah penundukan diri, pengakuan bahwa saya adalah orang yang betul-betul tidak mampu dan saya membutuhkan Injil. Atau yang kedua adalah seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi ini “kami bukan budak, kok. Kami tidak pernah diperhamba sama sekali. Kenapa engkau berkata bahwa kami diperhamba?” Yang benar adalah kita diperhamba, tapi masalahnya adalah orang yang sangat membutuhkan kebenaran dan pembebasan sering kali, bukan, jangan pakai kata sering kali, ya, adalah orang yang terbelenggu dan tidak bebas atau yang jadi budak. Tapi masalahnya adalah, kita sering kali tidak sadar akan hal itu.

Ini yang membuat saya katakan Injil itu penting sekali. Kabar Injil yang Tuhan percayakan pada Bapak, Ibu, Saudara dan saya, itu adalah berita yang paling berharga bagi dunia. Dunia yang bagaimana? Bukan dunia yang sadar, dunia yang tidak sadar akan kebutuhan itu, padahal mereka sangat-sangat-sangat membutuhkan hal ini dalam hidup mereka. Jadi panggilan kita bukan sesuatu yang gampang atau mudah. Tetapi kita dipercayakan berita yang paling berharga yang tidak ada nomor dua yang bisa memberi solusi kepada masalah manusia dan memerdekakan manusia dari belenggu dosa. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita, ya. Mari kita masuk dalam doa.

Kami bersyukur kembali, Bapa untuk firman yang boleh Engkau berikan bagi kami. Kami sungguh bersyukur atas kasih Kristus yang boleh Engkau nyatakan bagi kami. Tolong kami, ya Tuhan, ketika kami telah menerima kasih Kristus, kami boleh menjadi murid yang sungguh-sungguh menguji hati kami, melihat kembali apakah ada ketekunan dalam firman, perkataan Kristus dalam hidup kami, atau tidak atau hanyalah sekedar satu tipuan diri yang Engkau berikan, atau dari diri kami sendiri yang berusaha menghibur diri kami yang berusaha untuk menenangkan kami dan memberikan damai sejahtera yang palsu dalam hati kami, padahal sebenarnya bukan damai sejahtera sama sekali, karena relasi kami dengan Tuhan bukan sebagai relasi antara bapa dan anak, tapi kami adalah hamba-hamba di dalam rumah tuan kami yang membuat kami tidak pernah punya kepastian untuk tetap tinggal di dalam rumah itu. Tolong kami yang Tuhan, sehingga kami boleh menghidupi kehidupan yang ada di dalam kasih karunia, ada di dalam kebenaran, dan kehidupan yang melepaskan diri dari dosa atau kehidupan moral yang tidak berkenan di hadapan Tuhan, sehingga nama Tuhan boleh dimuliakan. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa, Amin.