Sesungguh-sungguhnya (8), 15 Februari 2026

Yoh. 8:53-59

Pdt. Dawis Waiman, M. Div

Yohanes 8 ini berpuncak kepada kalimat “sesungguhnya” yang ada di dalam ayat 57. Kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Nah, ini adalah satu perkataan yang sangat penting sekali dari pasal yang ke-8 ini. Dan kenapa ini menjadi sesuatu yang penting? Karena pada waktu kita membaca pasal 8, sebenarnya sebelum dari pasal 8 juga ada kasus-kasus yang Yesus hadapi di dalam pelayanan atau pengajaran yang Dia berikan, tetapi pada waktu kita masuk pasal 8, kita melihat pergolakan itu, pertentangan itu makin lama makin keras dan makin banyak seperti itu. Dan hal ini kita bisa melihat misalnya pada waktu Yesus mengajar, mereka mempertanyakan siapa yang menjadi identitas Yesus Kristus. “Bapa kami adalah Allah. Bapamu siapa? Bapamu kan adalah tidak diketahui. Engkau adalah seorang anak yang lahir dari seorang ayah yang tidak dikenal, atau Engkau adalah seorang anak yang lahir dari perzinahan antara ibu-Mu dengan lelaki simpanan itu mungkin.” Dan waktu Yesus kemudian berbicara lagi berkaitan dengan identitas Dia, misalnya, “Aku adalah terang dunia. Aku adalah kebenaran dan kebenaran itu memerdekakan engkau.” Dan “Aku adalah” – di bagian ini mungkin – “adalah firman. Dan barang siapa yang melakukan perkataan-Ku, dia tidak akan binasa sampai selama-lamanya.” Bapak, Ibu bisa melihat orang-orang Yahudi yang mendengar itu. Mereka terus terang bertanya-tanya, mereka tidak bisa menerima realita kebenaran yang Yesus katakan kepada mereka. Dan ini membuat mereka mendebat Kristus dan berusaha untuk mempertanyakan, dan bahkan mungkin mengoreksi atau ketika mereka tidak sanggup untuk melawan Yesus, mereka kemudian menyerang identitas Yesus dan akhirnya berujung kepada keinginan untuk membunuh Yesus Kristus.

Nah, apa yang membuat mereka dalam kondisi seperti ini? Tentunya kalau Bapak, Ibu lihat secara eksplisit di dalam perkataan di dalam Yohanes 8, karena Yesus Kristus memberikan pengajaran-pengajaran yang sangat-sangat tidak boleh untuk diajarkan oleh seorang manusia. Ini yang mereka pahami. Jadi menurut logika mereka, apa yang Yesus katakan itu merupakan pelanggaran terhadap perintah pertama: Jangan ada Allah lain di hadapan-Ku. Karena setiap kali Yesus mengajar, misalnya berkata, “Aku adalah terang dunia,” yang menyatakan bahwa kalau manusia tidak ada di dalam Kristus, maka kita ndak mungkin bisa melihat terang. Kita ada di dalam kegelapan. Contoh lain yang tadi saya kutip, ketika Yesus berkata bahwa “kalau engkau menuruti firman-Ku, firman-Ku adalah kebenaran. Kebenaran itu akan memerdekakan kamu”, mereka merasa, kami adalah anak Abraham. Kami adalah anak Abraham. Kalau kami anak Abraham, maka Allah sudah memberikan kemerdekaan bagi diri kami. Kalau Allah yang memberikan kemerdekaan, siapa Engkau, Yesus Kristus, sehingga Engkau mengatakan, “Kalau kami menuruti perkataan-Mu, maka Engkau akan memiliki hidup yang kekal dan perkataan-Ku akan memerdekakan engkau dan tidak akan membuat engkau ada di dalam belenggu dari dosa itu”?

Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, ini adalah statement-statement yang sangat jelas yang Yesus katakan. Dan menarik sekali, setiap kali mereka mempertanyakan Yesus, mereka berusaha mengancam Yesus. Mereka ingin membunuh Yesus Kristus. Apa yang dilakukan oleh Yesus Kristus ketika menghadapi ancaman-ancaman ini? Alkitab memberi kita memang kalimatnya sedikit-sedikit seperti itu dari perkataan Yesus Kristus. Tetapi pada waktu kita membaca, kita bisa mendapatkan satu perasaan seperti ini: ketika mereka mengancam Yesus, Yesus tidak menjadi panik, Yesus tidak menjadi khawatir, dan Yesus tidak menjadi marah. Tetapi pada waktu Yesus berbicara, Dia berbicara dengan satu ketegasan dan kejelasan yang membuat orang-orang tersebut tidak bisa memungkiri kebenaran dari kejelasan yang Yesus ajarkan tersebut.

Nah, waktu kita membaca bagian ini, saya semulanya tidak terlalu memperhatikan maksudnya apa ketika ada yang mengatakan Yesus menjawab dengan satu kejelasan dan ketegasan di situ. Yesus sama sekali tidak mundur dari ancaman yang diberikan oleh orang-orang kepada diri Dia. Dan saya ketika renungkan ini, saya mendapatkan satu hal, itu berarti pertama, pada waktu Yesus mengajarkan, Dia mengajarkan sesuatu yang tidak mungkin bisa diajarkan oleh manusia, Dia sungguh-sungguh mengerti apa yang Dia katakan dan Dia ajarkan tersebut. Bapak, Ibu mungkin kalau mau bandingkan dengan kehidupan kita, ada orang yang njelimet sekali berbicara, ada orang yang ketika bicara, sulit untuk kita pahami logikanya seperti apa, mungkin seperti itu. Dan pada waktu kita mendapatkan perkataan atau pembicaraan tersebut, mungkin kita bisa berpikir, pada waktu dia logikanya atau cara berbicaranya njelimet sekali, seperti itu, satu sisi, mungkin orang ini pemikir yang pikirannya begitu dalam sekali sehingga ketika dia mengungkapkan sesuatu, dia mengungkapkan dengan begitu detail satu per satu, begitu teliti, sehingga kita merasa ini pikirannya kok begitu njelimet sekali. Tetapi mungkin ada orang lain yang ketika berbicara njelimet, seperti itu, atau kurang jelas, memang karena dia tidak mengerti, dia belum tuntas di dalam pemikiran dia, yang ketika dia ungkapkan hal itu, dia kesulitan untuk mengungkapkan kebenaran tersebut. Mungkin bagi Saudara yang mengikuti ujian skripsi dan bagi dosen yang mengajukan pertanyaan ujian skripsi dan thesis paling tidak bisa mengerti aspek ini ya. Bagaimana siswa menjawab itu menunjukkan dia menguasai atau tidak. Walaupun ada cara juga untuk membuat dosen yakin sekali akan apa yang kita sampaikan dengan satu keberanian dan ketegasan, seperti itu. Tapi paling tidak pada waktu seseorang itu berbicara mengenai sesuatu yang jelas, sesuatu yang pasti, sesuatu yang confident, berarti apa yang dia katakan itu adalah hal yang dia sungguh mengerti, dia pahami, dan dia tahu kebenarannya makanya dia menyampaikan hal seperti ini.

Tetapi ada aspek kedua juga, Dia bukan hanya tahu kebenaran itu maka Dia menyampaikan secara jelas. Dia bukan hanya mengetahui saja sehingga Dia memiliki confident untuk menyampaikan kebenaran ini, tetapi Bapak, Ibu bisa melihat seorang yang memiliki identitas yang sama dengan apa yang dia katakan mengenai diri dia misalnya, dia tidak akan panik ketika orang berusaha mengancam dirinya. Kecuali kalau orang itu sedang berbohong. Maka pada waktu ada orang yang mempertanyakan identitasnya, kredibilitas dirinya, maka orang itu akan merasa panik dan mungkin untuk menutupi kepanikan dan ketahuan bahwa dia berbohong, dia balik dengan marah dan melakukan hal-hal yang lain untuk memproteksi dirinya.

Tetapi Yesus Kristus bukan orang seperti ini, setiap kali orang bertanya, Dia jawab dengan satu ketegasan dan kejelasan. “Aku adalah terang dunia, firman-Ku adalah kebenaran. Firman-Ku akan memerdekakan. Firman-Ku akan memberikan hidup yang kekal kepada engkau kalau engkau menuruti perkataan yang Aku sampaikan kepada engkau.” Ini adalah hal-hal yang harusnya pada waktu kita membaca Kitab Suci, kita menaruh fokus kepada kalimat jawaban yang Yesus berikan selain daripada respons dari orang-orang yang meresponi jawaban yang Yesus berikan kepada diri mereka. Karena ini juga penting. Misalnya, pada waktu Yesus berkata, “Aku adalah terang dunia. Firman-Ku adalah kebenaran yang akan memerdekakan dan memberikan hidup yang kekal kepada engkau.” Atau kalimat lain, “Sama seperti Bapa-Ku bekerja sampai hari ini, maka Aku pun akan bekerja sampai hari ini.” Maksudnya apa? Mungkin kita bisa berkata seperti ini, “Oh, Yesus sedang menyampaikan perkataan Tuhan. Maka Dia berkata bahwa ‘Perkataan-Ku adalah terang’ atau ‘Aku adalah terang itu karena Aku menyampaikan kebenaran Firman.’ Oh, karena Firman Tuhan itu memberikan kemerdekaan, memberikan hidup yang kekal, maka ketika Aku berkata, ‘Barang siapa menuruti perkataan-Ku, dia akan memperoleh hidup yang kekal atau kemerdekaan.’” Itu berarti Yesus Kristus sedang menyampaikan Firman.” Lalu, siapa diri Dia? Ya, seorang utusan Tuhan, seorang nabi Tuhan, seperti itu. Makanya Dia menyampaikan hal ini kepada diri kita.

Tetapi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, pada waktu Yesus misalnya berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai hari ini, maka Aku pun bekerja sampai hari ini.” Coba perhatikan respons dari orang-orang yang mendengar perkataan Yesus itu seperti apa. Ini dicatat di dalam Yohanes pasal 5 misalnya. Ketika Yesus menyembuhkan seorang yang lumpuh di kolam Betesda, Dia akhirnya bertemu dengan orang-orang Yahudi yang mempertanyakan kenapa Dia menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Dan pada waktu itu Yesus berkata kepada mereka di ayat yang ke-17, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Lalu ayat 18 itu adalah respons dari orang banyak, “Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya. Bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan Diri-Nya dengan Allah.”

Jadi, pada waktu Yesus berbicara seperti ini, Yesus betul-betul memahami bahwa Dia adalah Allah dan Dia menyampaikan sesuatu kepada orang banyak itu, dan orang banyak betul-betul memahami dan mengerti secara jelas tanpa terselubungi bahwa Yesus sedang mengatakan diri-Nya adalah Allah. Jadi, seperti Allah bekerja atau Bapa bekerja, maksudnya apa? Seperti Bapa yang mungkin memelihara matahari untuk terus terbit di Timur, yang memelihara bulan untuk menerangi waktu malam hari, yang memelihara bintang-bintang yang ada di alam semesta untuk memberi penerangan bagi diri kita, yang memelihara matahari dan bulan supaya kita memiliki petunjuk akan hari dan bulan, seperti itu. Yang memelihara musim yang ada di dalam dunia. Ada wilayah yang dua musim, ada wilayah yang empat musim, seperti itu, dan kita bisa menghidupi kehidupan dengan baik dari hari demi hari yang kita lalui. Maka, “Saya pun melakukan itu setiap hari.” Saya kira ini adalah satu statement yang sangat-sangat jelas dan ini yang membuat orang-orang Yahudi itu merasa Dia telah menghujat Allah karena Dia menyamakan diri-Nya dengan Tuhan.

Nah, ini juga menjadi satu hal yang kita temukan di dalam ayat 50 dan juga ayat yang ke-53 yang tadi kita baca. Kenapa Dia menyamakan diri-Nya dengan Tuhan, seperti itu? Menjadi satu hal yang dimusuhi oleh orang Yahudi. Karena bagi orang Yahudi tidak ada Allah atau manusia yang boleh menyamakan dirinya dengan Allah. Dan Yesus pasti bukan Allah karena Yesus adalah seorang yang lahir dari antara manusia dan Dia adalah anak seorang tukang kayu dan profesi-Nya adalah seorang tukang kayu. Itu sebabnya pada waktu Yesus mengatakan semua ini, bagi mereka itu adalah sesuatu yang selain hujat mungkin juga karena karangan dari Yesus Kristus sendiri. Yesus sedang mengada-ngada. Yesus sedang membicarakan satu kebohongan. Apa pun yang menjadi motifnya mungkin kita nggak tahu, tetapi paling tidak dari percakapan Yesus dengan orang Yahudi kita tahu mereka berpikir Yesus sedang berbohong dan mengarang.

Misalnya, kita baca dalam ayat 50, ya. “Tetapi Aku tidak mencari hormat bagi-Ku. Ada satu yang mencarinya dan Dia juga yang menghakimi.” Tetapi sebelum kalimat ini dikatakan, ayat 48 dikatakan seperti ini. “Orang-orang Yahudi menjawab Yesus, ‘Bukankah benar kalau kami katakan bahwa Engkau orang Samaria dan kerasukan setan?’” Lalu di ayat 54 itu ada pengulangan dari ayat 50, tetapi ayat 53 dikatakan seperti ini, “Adakah Engkau lebih besar daripada Bapa kita Abraham yang telah mati? Nabi-nabi pun telah mati. Dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?”

Jadi, pada waktu mereka bertanya ini, maksudnya apa? Maksudnya, “Yesus, sudahlah, Kamu ngomong besar, ya. Engkau ingin menyamakan diri-Mu dengan siapa? Abraham, seperti itu, Bapa kami itu, tapi ketahuilah perkataan-Mu saja tidak teruji kok kebenarannya.” Kenapa tidak teruji? Karena Bapa kami Abraham itu telah mati, kuburannya ada mungkin. Dan nabi-nabi yang lain yang diutus oleh Tuhan sendiri untuk menyampaikan kebenaran Firman, di mana mereka? Bukankah mereka menyampaikan kebenaran Firman? Kalau mereka menyampaikan Firman, seharusnya mereka hidup. Sekarang masih hidup, tapi di sini ada kuburnya. Mereka juga sudah mati semua. Jadi, Engkau sedang berbicara apa, Yesus Kristus? Apakah Engkau sedang mengada-ngada, seperti itu? Dan itu yang membuat kemudian mereka menyimpulkan satu kalimat yang sungguh-sungguh sebenarnya mungkin sangat keras atau menghina Yesus Kristus, di ayat yang ke-52, ya. “Kata orang-orang Yahudi kepada-Nya, ‘Sekarang kami tahu bahwa Engkau kerasukan setan. Karena apa? Baik Bapa kami Abraham maupun nabi-nabi semuanya sudah mati. Tidak seperti yang Engkau katakan tersebut.’”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, jadi di dalam persoalan ini mereka melihat kepada Kristus, mereka mempertanyakan pengajaran Yesus Kristus, tapi ketika mereka mempertanyakan pengajaran itu dan mereka tidak bisa menghadapi jawaban-jawaban yang Yesus berikan kepada mereka, mungkin karena mereka pikir Yesus pintar sekali menjawab seperti itu, maka mereka kemudian berusaha menyerang pribadi Yesus sendiri. Tetapi saya kira ini adalah satu bagian dari rencana Tuhan, providensi Allah, untuk membuat Yesus bisa mengungkapkan siapa sebenarnya diri-Nya, identitas yang sesungguhnya kepada orang-orang itu.

Jadi, pada waktu mereka bicara, “Engkau pasti kerasukan setan. Apakah Engkau lebih besar dari Bapa kami Abraham?” Di situ Yesus kemudian berkata kepada mereka. Tapi perkataan-Nya adalah tidak langsung menjawab langsung kepada orang-orang ini. Tapi Yesus menggunakan kalimat seperti ini, “Saya tidak mencari hormat bagi diri-Ku sendiri, tetapi Bapa-Ku yang menghormati Aku, sedangkan Engkau tidak menghormati diri-Ku.” Begitu juga dengan ayat 54. “Kalau Aku mencari kemuliaan bagi diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya, Bapa-Kulah yang memuliakan Aku,” dan seterusnya.

Kenapa Yesus berbicara seperti ini? Yesus mau mengatakan kepada orang-orang Israel atau orang-orang Yahudi tersebut, “Kamu bilang Aku berbicara atas kemauan dari diri-Ku sendiri. Tetapi, tahu tidak, apa yang Aku sampaikan itu semuanya bersumber dari Allah dan seperti apa yang Allah ingin sampaikan. Lalu Allah yang menyampaikan itu siapa? Yaitu Allah yang Engkau klaim sebagai Allah-nya Abraham. Aku menyampaikan apa yang Allah Abraham ingin aku sampaikan kepada dirimu dengan kamu adalah orang-orang yang mengatakan dirimu anak Abraham.” Kalau kita mau lanjutkan sedikit di dalam pasal 8:42 Yesus bertanya, “engkau mengatakan dirimu, ayahmu Abraham, Abraham mendengar perkataan-Ku, dia melakukan perkataan-Ku, dia bersukacita karena itu, tapi kenapa engkau memusuhi Aku dan menghendaki kematian-Ku? Padahal apa yang Aku katakan itu adalah sepenuhnya bersumber dari Bapa sendiri, yaitu Allahmu.”

Lalu Bapak, Ibu, boleh bandingkan juga ayat 44 di pasal yang ke-12. Saya bacakan dari ayat 44 sampai 50 ya. Pasal 12:44-50. “Tetapi Yesus berseru katanya, barang siapa percaya kepadaKu ia bukan percaya kepadaKu, tetapi kepada Dia yang mengutus Aku. Dan barangsiapa melihat Aku, Ia melihat Dia yang telah mengutus Aku. Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepadaku jangan tinggal di dalam kegelapan. Dan jikalau seorang mendengar perkataanKu, tetapi tidak melakukannya, aku tidak menjadi hakimnya. Sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya. Barang siapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataanKu, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Ku katakan, itulah yang akan menjadi hakimnya. Pada akhir zaman, sebab Aku berkata-kata bukan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa yang mengutus Aku. Dia lah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan dan Aku tahu perintahNya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada Ku.”

Ayat ini satu sisi berkata Yesus ketika mengajar persis seperti yang Bapa atau Allahnya Abraham ingin sampaikan kepada orang-orang Yahudi atau orang-orang Israel. Tetapi Yesus juga mau mengatakan, “Tahu tidak, kalau Aku adalah seorang yang diutus oleh Bapa. Perkataan-Ku persis seperti apa yang Bapa ingin sampaikan kepada engkau. Maka engkau harus tahu ketika engkau menerima Aku, ketika engkau menyambut Aku seperti itu, ketika engkau mendengarkan perkataan-Ku, sebenarnya engkau sedang menerima Bapa, menyambut Bapa, dan mendengarkan perkataan Bapa. Begitu juga dengan sebaliknya, ketika Bapa berbicara, engkau menerima perkataan Bapa, engkau mengakuinya, dan engkau menyambut Dia, maka itu berarti engkau sedang menerima Aku, menyambut Aku, karena Aku dan Bapa adalah satu.”

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, jadi pada waktu Yesus membicarakan, mengenai siapa diri Dia, otoritas apa yang Dia gunakan atau miliki untuk menyampaikan kebenaran Firman, Yesus berkata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku menyampaikan berdasarkan otoritas dari Allah leluhurmu, Bapa Abraham karena Aku dan Bapa adalah satu. Ini adalah statement yang benar-benar penting sekali. Dan ini juga menjadi satu statement yang kita harus mengerti sebagai orang yang percaya kepada Kristus. Dan ini juga menjadi satu pernyataan yang Bapak, Ibu, harus didik kepada orang-orang yang merupakan orang yang belum percaya kepada Kristus dan keturunan dari Bapak, Ibu semua karena ini yang menjadi tugas Yesus datang ke dalam dunia ini. Yaitu apa? Untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa, Yesus diutus oleh Bapa untuk mengerjakan satu hal yang penting, yaitu menjadi manusia, mati bagi dosa, dengan naik di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia.

Lalu siapa yang mati di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia itu? Dia berkata Aku adalah Allah itu sendiri yang inkarnasi menjadi manusia untuk menebus manusia dari dosa. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini adalah esensi dari Injil Tuhan. Setiap orang Kristen yang bisa datang kepada Kristus, dan mengerti kebenaran ini, dia ada di dalam hidup yang kekal. Dia tidak ada di dalam kebinasaan. Dan kenapa kita bisa yakin sekali dengan perkataan Yesus Kristus? Karena apa yang Ia katakan bersumber dari Allah, dan Dia adalah Allah itu sendiri.

Nah, tetapi pada waktu kita berbicara tentang hal ini, ada satu yang mungkin bisa kita tanyakan. Kenapa ketika Yesus memberikan kebenaran ini, menyatakan Terang ini kepada orang-orang Yahudi, yang terjadi adalah, mereka membenci, mereka memusuhi Yesus Kristus, dan mereka ingin membunuh Yesus Kristus? Di dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya kita sudah melihat. Kondisinya karena mereka ada di dalam kegelapan, mereka dikuasai oleh dosa di dalam kehidupan mereka, mereka di belenggu oleh dosa itu, sehingga mereka tidak bisa melihat pada terang, dan mereka juga menolak terang itu di dalam kehidupan mereka. Bapak, Ibu, Saudara dikasihi Tuhan, jangan pikir ada manusia yang bisa datang kepada Allah, atau kepada Kristus Yesus dari usahanya sendiri. Dan kita tahu dari mana? Pada waktu Yesus pergi ke Kaisarea, Filipi bersama dengan murid-murid-Nya, pada waktu itu Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Menurut orang, siapakah Aku ini?” Lalu murid-murid-Nya berkata kepada Yesus, “Menurut orang, Engkau adalah Yohanes pembaptis, menurut orang Engkau adalah Elia, menurut orang Engkau adalah Yeremia, menurut orang Engkau adalah salah seorang nabi Tuhan.”

Mungkin kalau saya tanya kepada Bapak, Ibu, menurut Bapak, Ibu, Saudara, siapakah Yesus itu? Apa yang dikatakan seorang ekonom berkaitan dengan Yesus? Apa yang dikatakan seorang ahli fisika berkaitan dengan Yesus? Apakah yang dikatakan seorang ahli biologi atau kedokteran berkaitan dengan Yesus? Apakah yang dikatakan seorang arsitek terhadap siapa pribadi Yesus Kristus? Kira-kira apa yang menjadi jawabnya? Ini adalah perkataan atau pertanyaan yang sangat penting sekali karena setiap orang yang berhadapan dengan Kristus, dia harus memberi respons, memberi jawab. Alkitab selalu menunjukkan tidak ada seorang pun yang ketika berbicara kepada Yesus tidak perlu memberikan respons iman kepada perkataan Yesus Kristus. Mereka harus mempertanggungjawabkan semua jawaban mereka di hadapan Yesus. Pada waktu itu Petrus kemudian bangkit dan berkata kepada Yesus. “Guru, Engkau adalah Mesias Anak Allah yang hidup.” Lalu apa yang dikatakan oleh Yesus? Yesus nggak ngomong, “wah Petrus, atau Simon, engkau orang yang hebat ya, pintar sekali. Engkau telah mengerti apa yang Aku ajarkan, dan engkau menerima apa yang Aku ajarkan. Engkau adalah orang yang merupakan murid yang paling cerdas, di dalam kelompok 12 orang ini.” Yesus nggak berbicara seperti itu. Tetapi yang Yesus katakan adalah, “Simon, bersyukurlah karena apa yang engkau katakan itu bukan bersumber dari engkau, tetapi semua itu adalah hal yang dinyatakan Bapaku yang di sorga kepada diri engkau.” Ini adalah hal yang saya kira membuat orang yang percaya dan beriman kepada Kristus tidak mungkin menjadi orang yang sombong, tidak mungkin menjadi orang yang merasa lebih benar, lebih baik dari pada orang lain, lebih mampu untuk mengerti firman dari pada orang lain. Karena di sini Yesus berkata, untuk kita bisa mengenal Pribadi Yesus Kristus, itu bukan karena kemampuan kita tetapi karunia yang Allah berikan kepada diri kita. Untuk kita bisa memahami kebenaran-kebenaran Firman, Yesus juga berkata, itu bukan sesuatu yang karena kita lebih pintar daripada saudara kita, tetapi karena kita dikaruniakan oleh Roh Kudus dalam kehidupan kita.

Kenapa saya bicara Roh Kudus? Karena di dalam Yohanes pasal 3, Yesus berkata, “Ini adalah pekerjaan dari Pribadi ketiga Allah Tritunggal.” Kalau kita bisa datang kepada Kristus, kita ada di dalam kerajaan-Nya, itu karena Roh Kudus sudah melahirbarukan diri kita dan membawa kita kepada Kristus Yesus. Atau istilah lainnya ini adalah kasih karunia semata yang Tuhan karuniakan kepada diri kita. Jadi itu sebabnya Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, tadi saya katakan kalau kita adalah orang-orang yang betul-betul mengerti keselamatan ada di dalam Kristus, kita betul-betul mengerti itu adalah pemberian yang Tuhan berikan bagi diri kita, kita betul-betul mengerti bahwa apa yang dilakukan oleh Roh Kudus itu mempersatukan diri kita dengan Kristus dan tanpa pekerjaan Roh Kudus ini, tidak ada seorang pun yang bisa dipersatukan dengan Kristus, maka saya yakin sekali yang kita akan kerjakan adalah mensyukuri keselamatan itu, menghargai apa yang Tuhan berikan kepada diri kita, melayani Dia karena kita sadar kebenaran itu bukan bersumber dari kita. Dan ada tujuan yang Tuhan ingin kita kerjakan di dalam kehidupan kita dengan mengaruniakan kebenaran ini. Tetapi juga satu hal: kita tidak mungkin sombong. Kita pasti akan rendah hati, karena kita tahu semua itu adalah pemberian Tuhan.

Kalau nggak percaya, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, banyak sekali teolog yang sekolahnya sangat tinggi sampai S3 sekalipun tetap menolak Yesus adalah Allah dan keselamatan hanya ada di dalam Kristus. Ini adalah hal yang saya yakin bukan sesuatu yang mereka bisa usahakan atau manusia bisa usahakan, tetapi ini adalah sesuatu yang karena kasih karunia dari Tuhan. Nah, ini yang membuat saya juga mau berkata kepada Bapak, Ibu, kalau Bapak, Ibu sungguh-sungguh memiliki iman kepada Kristus, hal kedua adalah berpeganglah kepada Alkitab sebagai kebenaran yang bersumber dari Tuhan yang tidak bersalah sama sekali. Karena keberadaan kita sebagai orang Kristen itu bukan karena hasil yang kita rumuskan secara logika, secara rasio kita berkaitan dengan iman Kristen itu seperti apa, Yesus Kristus itu siapa. Tetapi semua yang kita imani, kebenaran yang kita pegang itu bersumber dari perkataan Yesus sendiri atau perkataan yang kita dapatkan dari Kitab Suci. Itu sebabnya setiap orang yang mempertanyakan iman kita, mempertanyakan kebenaran yang Alkitab katakan, meragukan bahwa segala kebenaran yang Alkitab katakan itu adalah kebenaran yang kita bisa pegang sepenuhnya dengan iman kepada perkataan ini, saya katakan nggak usah terlalu takut, nggak usah terlalu didengarkan perkataan mereka karena itu hanya mengatakan mereka tidak mendapatkan kasih karunia dari Tuhan. Saya cukup tegas berbicara seperti ini, karena dasar iman dan kebenaran keselamatan kita itu bukan dari diri kita, bukan dari kita punya gelar yang kita dapatkan di dalam dunia pendidikan. Tapi semua itu adalah kasih karunia dari Tuhan semata.

Nah, atas dasar ini saya mau masuk ke dalam perkataan yang Yesus katakan, di dalam kata “sesungguh-sungguhnya” tersebut, ya di dalam ayat yang ke 57 ketika Yesus berbicara kepada orang-orang Yahudi ini bahwa “Aku tidak memuliakan diri-Ku.” Dan bahkan Yesus berkata bahwa ”Abraham, bapa mereka”, di ayat 56, “bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku, dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” Mereka kemudian berkata dalam 57, “Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham.” Maksudnya apa? Sebelum Yesus kemudian menjawab, “Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Maksudnya adalah, pada waktu Yesus berbicara mengenai otoritas Dia, identitas Dia, dan bahkan Abraham sendiri bersukacita karena melihat siapa? Hari Dia, maka orang-orang Yahudi ini kembali jatuh di dalam satu posisi yang salah mengerti Yesus Kristus. Makanya kalimat yang keluar itu adalah, “Kamu bilang kamu sudah ada sebelum Abraham. Usiamu saja belum sampai lima puluh tahun. Bagaimana Engkau bisa berkata bahwa Engkau ada sebelum Abraham ada dan bahkan hidup pada zaman Abraham?”

Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, saya mau tanya, sebenarnya Yesus bicara nggak kalau Dia ada sebelum Abraham ada? Dia bicara begitu nggak? Saya cepat saja ya. Jawabannya tidak. Yesus tidak bicara “sebelum Abraham ada, Aku ada.” Betul nggak? Mungkin Bapak, Ibu langsung ngomong, “Pak Dawis ini gimana sih? Jelas-jelas tadi ayat 58 Yesus berkata, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Kenapa bilang Yesus tidak bicara seperti itu?” Coba perhatikan kembali ayat 56 dengan baik. Yesus bicara, “Abraham bapamu, bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku, dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.” Apakah Yesus bicara, “Pada waktu Abraham ada, Aku sudah hidup pada zaman Abraham sehingga Abraham tahu Akulah Yesus?” Jawabannya tidak. Yang benar adalah Yesus berkata, “Abraham melihat harinya Yesus dan dia kemudian bersukacita untuk melihat itu.”

Bapak, Ibu, Saudara yang kasihi Tuhan, kenapa saya bilang Yesus tidak pernah mengajarkan kalau Dia ada sebelum Abraham? Ingat, saat itu Yesus bukan sebagai satu pribadi manusia yang hidup sebelum Abraham hidup. Kalau kita mau telusuri asal-usul Yesus Kristus, kita bisa telusuri tiga puluh tahun yang lalu, di mana tiga puluh tahun yang lalu Yesus pernah dikandung oleh seorang perempuan yang namanya Maria. Dan sebelum Dia berusia sembilan bulan, Dia belum lahir ke dalam dunia ini. Dia harus tunggu waktu sampai sembilan bulan kemudian baru Dia lahir ke dalam dunia ini. Jadi kalau kita mau tanya kapan Yesus ada di dalam dunia ini? Ya tiga puluh tahun yang lalu, karena Dia adalah manusia juga. Makanya pada waktu kita membaca bagian ini, ada yang menafsirkan Yesus saat itu bukan sedang berkata bahwa Dia adalah Pribadi yang sudah ada sebagai Yesus Kristus pada waktu Abraham ada, karena Dia baru hidup dan ada, dan usianya belum lima puluh tahun pada waktu itu. Nggak tahu kenapa lima puluh yang digunakan, tapi mungkin berbicara mengenai satu generasi atau paruh baya saja Engkau belum ada. Sedangkan Abraham mungkin sudah ribuan tahun yang lalu, Engkau berani mengklaim seperti itu.

Nah, di dalam mendapatkan permasalahan ini, maka Calvin berkata seperti ini, Pada waktu Yesus berbicara bahwa hari-Nya itu disyukuri oleh Bapa Abraham, sebenarnya Yesus bukan berbicara diri-Nya ada sebagai Yesus pada waktu Abraham ada, tapi Yesus sedang mau mengatakan bahwa pada waktu Abraham melihat ke depan, misalnya melalui peristiwa pertama korban Ishak yang diberikan ketika dia memiliki anak, maka Abraham bisa berkata seperti ini, pada waktu Ishak bertanya kepada dia, “Pa, kita pergi ke Gunung Moria untuk memberikan persembahan. Kita sudah bawa kayu bakar itu, tapi di mana dombanya?” Anaknya nggak ngerti kalau dia akan dikorbankan. Tapi, Abraham pada waktu itu menjawab dengan satu —nggak tahu apakah dia ngarang, kayak gitu atau dia dengan satu confidence— tapi kelihatannya dia confident dan dia mengerti seperti itu, karena di dalam kitab yang lain berbicara mengenai hal itu. Nah, di waktu dia membawa Ishak, dia bicara seperti ini, “Tenang, nanti Tuhan akan menyediakan domba pengganti. Domba untuk dikorbankan kepada Tuhan.” Nah, itu terjadi pada waktu Abraham ingin membunuh Ishak dan korbankan dia kepada Tuhan. Maka Tuhan mencegah dia. Lalu Abraham ketika menoleh ada seekor domba yang tersangkut di semak duri, lalu Abraham ambil dan korbankan untuk Tuhan.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ini berbicara mengenai apa? Ini secara nggak langsung membawa Abraham untuk melihat ke depan kalau suatu hari nanti ada korban Domba Allah yang menggantikan manusia. Dan ketika Dia menggantikan manusia, manusia akan hidup oleh-Nya. Dan ini yang dilihat oleh Abraham. Dia mengimani kebenaran ini. Dan ini yang dikatakan oleh Yesus Kristus bahwa Abraham bersukacita karena dia melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya. Ini yang pertama, ya.

Jadi, pada waktu kita mengerti kalimat ini –sekali lagi–, Yesus bukan berbicara keberadaan diri-Nya sebagai Yesus Kristus sudah ada pada zaman Abraham. Tetapi Yesus mau mengatakan: sejak dari zaman Abraham, dari zaman Perjanjian Lama, mereka adalah orang-orang yang percaya kepada Mesias, orang-orang yang percaya kepada Kristus. Mereka mengimani hari itu: kapan Yesus datang untuk memberikan kemerdekaan, kebebasan, pengampunan dosa bagi diri mereka. Dan hari itu terjadi pada waktu Yesus inkarnasi ke dalam dunia ini. Makanya Dia katakan, “Abraham bersukacita.” Dan ini juga yang membuat saya mau katakan, setiap orang Kristen yang berpikir Perjanjian Lama mengajarkan hal yang berbeda dari Perjanjian Baru, itu adalah pemahaman yang salah. Perjanjian Lama memang mengajarkan tentang Taurat. Ada hukum yang Tuhan berikan. Sepuluh perintah Allah. Ada korban persembahan dan tata cara yang harus dilakukan oleh orang-orang Yahudi untuk beribadah kepada Tuhan. Lalu ada hukum berkaitan dengan raja yang berkuasa atas Israel. Tetapi semua itu, khususnya mengenai korban persembahan, cara ibadah kepada Tuhan, itu bukan berbicara mengenai, “Oh, kalau saya lakukan itu, saya menaati sepuluh perintah Allah, Taurat Tuhan, saya menjadi orang yang benar di hadapan Tuhan.” Karena di dalam Roma 3 dikatakan, “Tidak ada seorang pun yang benar karena melakukan hukum Taurat. Tetapi hukum Taurat lah yang membuat orang sadar akan dosa mereka.” Dan, kalau begitu, apa yang membuat mereka dibenarkan? Bapak, Ibu bisa lihat, baik itu dari Mazmurnya Daud, baik dari pada kisah Nabi Nuh sendiri, di situ dikatakan, “Pengampunan dosa dan kasih karunia Tuhan, itu yang membuat kita dibenarkan dan diterima oleh Tuhan.” Jadi sejak dari dalam Perjanjian Lama, orang-orang Perjanjian Lama itu bukan menghadap Tuhan dengan kebenaran diri, tapi di dalam iman kepada Kristus berdasarkan kasih karunia.

Nah, ini bisa kita lihat dari peristiwa Saul. Pada waktu Saul harus berhadapan dengan orang-orang Filistin. Dia menunggu Samuel datang. Tetapi Samuel tidak kunjung datang. Akhirnya ketika dia melihat orang-orang Israel mulai meninggalkan dia karena takut menghadapi musuh yang memiliki pasukan ribuan atau puluhan ribu itu, maka Saul akhirnya mengambil satu inisiatif untuk menjadi imam menggantikan Samuel, lalu memberikan korban persembahan kepada Tuhan. Dia pikir kalau dia menjalankan korban itu, maka dia menjadi benar di hadapan Tuhan. Orang Israel bisa kemudian datang dan diperkuat untuk melawan orang Filistin. Lalu pada waktu satu hari ketika Tuhan berkata, “Engkau harus bunuh satu bangsa, rajanya Agag, hewan peliharaannya harus dimusnahkan semua bersama dengan bangsa itu. Lalu Saul ketika melawan, dia menang. Tetapi dia kemudian berpikir, “Rajanya jangan dibunuh, domba-dombanya yang gemuk jangan kita musnahkan.” Lalu pada waktu Samuel bertanya, “Itu suara apa?” “Itu domba.” “Untuk apa domba itu masih hidup?” “Supaya kami bisa persembahkan kepada Tuhan, karena kami melihat dombanya sehat, gemuk, dan baik untuk dipersembahkan kepada Tuhan.” Lalu Samuel berkata, “Saul, Saul” –ini parafrase, ya. Saya pakai istilah ini, ya– “Kamu itu bodoh banget, ya.” Kenapa bodoh? Karena, tahu tidak? Tuhan itu lebih suka pendengaran akan firman, ketaatan pada perkataan Tuhan, daripada korban persembahan.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang dipersembahkan manusia dalam Perjanjian Lama, apa yang dilakukan oleh manusia berdasarkan perintah Tuhan dalam Perjanjian Lama, itu tujuannya bukan untuk membenarkan mereka. Tapi tujuannya adalah untuk membuat mereka melihat ke hari depan: hari Kristus datang ke dalam dunia, percaya kepada-Nya, dan dibenarkan berdasarkan kasih karunia. Ini yang diperuntukkan dari Perjanjian Lama. Dan itu yang Yesus katakan di dalam bagian ini, “Bapa Abraham telah melihat hari itu dan dia bersukacita atas hari-Ku itu.”

Tapi ada aspek kedua. Selain dari melihat ke depan, ada kesinambungan dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru berkaitan dengan ini. Calvin juga berkata seperti ini, “Pada waktu Yesus berkata bahwa: ‘Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada’ untuk menanggapi perkataan dari orang Yahudi yang berkata: ‘Umur-Mu belum 50 tahun, masa Engkau sudah ada sebelum Abraham ada?’” Yesus mengatakan –atau Calvin mengatakan– seperti ini, “Yang Yesus mau katakan adalah: Abraham bukan melihat diri-Nya sebagai seorang manusia pada waktu itu.” Tetapi Abraham kemungkinan —saya pakai istilah kemungkinan karena ada orang yang tetap tidak mau menyebut secara terus terang. Tetapi kalau izinkan saya ngomong, saya ngomong kayak gini— karena Abraham di dalam Perjanjian Lama sudah melihat Teofani dari Pribadi Allah yang kedua di dalam Perjanjian Lama. Teofani artinya apa? Allah menampakkan diri seperti manusia. Tetapi Dia bukan manusia.

Dan sejak kapan Abraham melihat Allah yang menampakkan diri dan berbicara kepada Abraham? Kalau Bapak Ibu mau buka, mulai dari Kejadian 12. Di situ berbicara Abraham dipanggil oleh Allah. Lalu dia keluar dari tanah Ur Kasdim tesebut. Lalu kemudian Bapak, Ibu bisa melihat lagi –mungkin kalau mau tarik Melkisedek, ya Kejadian 14, tapi ada yang mengatakan itu bukan Tuhan, tetapi itu adalah anak Nuh yang masih hidup pada waktu itu, mungkin. Tetapi kalau Bapak Ibu lihat di dalam Kejadian pasal 15, maka di situ Allah kemudian berfirman lagi kepada Abraham berkaitan dengan keturunannya. Tapi kalau Bapak, Ibu masih ngerasa, “Oh, bukankah ini Allah berfirman kepada Abraham. Dan perkataan itu bukan berarti Allah, Abraham lihat kepada Allah?” Maka Bapak, Ibu boleh buka Kejadian 18. Kej.18 mulai dari ayat 1. ”Kemudian TUHAN menampakkan diri kepada Abrahamdekat pohon tarbantin di Mamre,sedang ia duduk di pintu kemahnyawaktu hari panas terik. Ketika ia mengangkat mukanya,ia melihat tiga orangberdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka, lalu sujudlah ia sampai ke tanah,serta berkata: “Tuanku, jika aku telah mendapat kasihtuanku, janganlah kiranya lampaui hambamu ini.” Lalu, dia kemudian memberi air untuk membasuh kaki. Dia mengambil lembu, dikorbankan. Lalu, dimasak bagi Orang ini. Dia mengambil roti untuk memberi makan kepada Orang ini.

Nah, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, ketika kita baca ayat 1 dan 2 ini, mungkin kita bisa berkata, “O, Abraham menunjukkan hospitality-nya atau keramahan kepada ketiga orang yang datang ini, sampai sujud menyembah kepada Dia. Tetapi, kalau kita baca ayat 16, di situ terbuka siapa mereka ini. Di ayat 16 berkata, “Lalu berangkatlah orang-orangitu dari situ dan memandang ke arah Sodom; dan Abraham berjalan bersama-sama dengan mereka untuk mengantarkan mereka. Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abrahamapa yang hendak Kulakukanini?” Jadi, ada tiga orang pergi. 2 orang menuju Sodom dan Gomora. Lalu, 1 orang tinggal dan berbicara kepada Abraham. Dan orang yang tinggal dan berbicara kepada Abraham itu berkata: “Kira-kira, Aku mau menyembunyikan kebenaran ini kepada dia atau tidak?” Dan di sini dikatakan, “Berpikirlah Tuhan.” Lalu, kalau Bapak, Ibu lihat di dalam konteksnya, Abraham kemudian bersyafaat kepada Tuhan. Siapa yang diajak bicara? Apakah ada orang di depannya, lalu dia bicara ke atas? Konteksnya bicara, dia bukan bicara ke atas, tetapi dia berbicara kepada orang yang bercakap-cakap dengan dia dan dia tahu, dia sedang berbicara kepada Tuhan.

Nah, ini mau mengatakan siapa yang Abraham lihat pada waktu itu, sebelum Yesus Kristus lahir dalam dunia. Calvin berkata, yang Abraham lihat itu adalah Pribadi Allah kedua yang belum inkarnasi menjadi manusia. Dan hal ini kita bisa temukan banyak sekali di dalam Perjanjian Lama, orang-orang yang melihat Allah. Tetapi, kalau kemudian Bapak, Ibu kemudian bertanya, “Kok bisa yakin itu adalah Pribadi kedua? Kok bukan Pribadi kesatu, bukan Pribadi yang ketiga?” Hal ini dikatakan di dalam Perjanjian Baru, misalnya di dalam Yohanes. Yesus berkata, “tidak ada seorang pun yang pernah melihat Bapa, kecuali Anak Tunggal Bapa yang menyatakan Dia, yang duduk di pangkuan itu.” Lalu, ada kalimat juga: “Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Roh Kudus, tetapi kita yang menerima Kristus, kita tahu Roh Kudus ada dan Roh Kudus itu tinggal dalam diri kita.”

Jadi, sejak di Perjanjian Lama, Allah Pribadi kedua secara konsisten sudah menyatakan diri-Nya kepada umat pilihan Allah, sehingga mereka percaya kepada Dia, mereka mengerti firman Tuhan, dan mereka menantikan hari di mana Anak itu menyatakan diri sebagai Manusia untuk menebus kita dari dosa. Mungkin, ada 1 ayat yang saya suka kutip. Bapak, Ibu boleh buka ini sebagai satu penutup dari kita. 1 Petrus 1:8-12. ”Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia,sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.Keselamatan itulah yang diselidiki dan ditelitioleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu.Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus,yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamudengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamudengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat.”

Jadi, Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, apa yang diberitakan oleh para nabi? Apa yang diselidiki oleh para nabi? Apa yang diharapkan oleh para nabi? Yaitu mereka menyelidiki tentang Kristus. Mereka menyelidiki tentang penderitaan dan kemuliaan yang Kristus akan alami dalam hidup-Nya dan mereka mengharapkan hari di mana Kristus itu lahir dalam dunia untuk menggenapi apa yang mereka nyatakan kepada umat Allah. Jadi, ini yang membuat Yesus berkata tadi, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Bahasa Indonesia agak kurang jelas, tetapi kalau bahasa Inggrisnya berkata,”Before Abraham was, I am.” Before Abraham was berarti sebelum Abraham terlahir dan ada di dalam dunia, di satu waktu tertentu yang lampau, Aku sudah ada sebelum dia ada, Aku ada pada waktu dia ada, dan Aku ada setelah dia ada atau ketika dia sudah tidak ada, Aku tetap ada dan terus-menerus ada. Siapa? Pribadi kedua dari Allah Tritunggal ini.

Jadi, pada waktu itu-kalau saya boleh kutip Calvin lagi, dia ngomong kayak gini-pada waktu Yesus berbicara seperti ini, sebenarnya Dia sedang berbicara kepada diri-Nya sendiri kalau Dia adalah I am  itu. Seperti pada waktu Musa bertanya kepada Tuhan, “Siapa nama-Mu?” Lalu, Tuhan berkata, “Aku adalah Aku.” Jadi, Yesus mau mengatakan, “Aku adalah Pribadi kedua itu. Aku adalah Aku. Aku adalah Yahweh itu yang berdiri di hadapan engkau.” Dan Abraham telah melihat hari itu. Kiranya Tuhan boleh memberkati kita. Mari kita masuk dalam doa.

Kami kembali bersyukur, Bapa untuk segala kebenaran yang boleh Engkau bukakan bagi kami. Tolong kami, ya, Bapa, ketika kami melihat kepada Kristus dan diperhadapkan dengan Kristus, kami boleh mengambil 1 keputusan yang benar karena kasih karunia yang Tuhan telah berikan bagi kami sehingga kami boleh melihat hal-hal yang mungkin manusia dunia tidak lihat, tetapi kami boleh dapatkan kasih karunia untuk boleh mengakui kalau Yesus adalah Tuhan, Juruselamat bagi hidup kami pribadi dan bahkan Dia adalah Allah yang kekal itu yang menjadi manusia melalui inkarnasi. Tolong kami, ya, Bapa. Dan kiranya kebenaran ini boleh menjadi satu kebenaran yang bukan hanya menjadi milik kami pribadi, tetapi kami boleh nyatakan itu kepada keluarga kami, kepada anak-anak kami, kepada teman-teman kami yang belum pernah mendengar kebenaran ini, sehingga mereka pun boleh dibebaskan dari dosa, dimerdekakan untuk hidup bagi Tuhan Yesus, Tuhan Allah yang sejati dan mereka sungguh-sungguh memiliki hidup yang kekal. Jangan biarkan kami terlena dengan berpikir, kami tidak percaya atau mereka tidak percaya dan itu bukan sesuatu yang merupakan masalah, tetapi kami boleh melihat dan mereka juga boleh melihat. Kalau kami tidak memiliki iman, maka itu adalah malapetaka karena dampaknya adalah kematian yang kekal dan hukuman selama-lamanya. Kiranya Engkau sekali lagi boleh berkati, ya, Bapa, setiap kami di dalam kebenaran-Mu ini. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.