Ucapan Syukur di dalam Surat Filipi, 22 Februari 2026

Fil. 1:3-5

Vik. Tommy Suryadi

Bapak, Ibu semuanya, seperti yang saya pernah jelaskan di bulan yang lalu, waktu Paulus menulis surat Filipi ini, Paulus sedang berada di dalam penjara. Kalau kita mengingat di dalam Kisah Para Rasul pasal yang terakhir, Paulus kan memang sudah dikasih tahu sama Tuhan bahwa dia harus memberitakan Injil di Roma. Tetapi saat itu, Paulus kondisinya sangat terdesak. Tetapi, Tuhan tetap kuatkan Paulus. “Kamu pasti ke Roma.” Dan akhirnya, melalui pergumulan yang panjang, dari dia disidang, di Yerusalem, lalu kemudian disidang oleh Feliks, oleh Festus. Lalu kemudian juga, dia harus berlayar dengan kapal sampai kapal itu karam. Wah, banyak sekali lah, ya, pergumulan yang Paulus alami sampai akhirnya dia sampai di Roma. Tetapi kemudian, di Roma, dia juga bukannya bebas, ya, karena statusnya Paulus waktu itu masih tahanan.

Dan di surat Filipi ini, ketika kita nanti melihat bagian-bagian selanjutnya, akan makin jelas bagi kita bahwa Paulus itu memang sedang dipenjara dan dikatakan di dalam bagian lain itu seperti sedang dirantai. Kemungkinan, dirantai tangan atau dirantai kaki. Jadi, jangan bayangkan ini cuma Paulus di rumah bagus, lalu kemudian, ya, cuma nggak boleh keluar rumah gitu, ya, tetapi masih punya entertainment di rumah. Ya, gambarannya nggak seperti itu, Bapak, Ibu, ya. Nggak seperti waktu kita COVID. Ya, sudahlah nggak bisa keluar, ya, tetapi masih ada entertainment di rumah, gitu kan, ya. Masih ada hiburan. Nggak, ya, tetapi Paulus dipenjara saat itu, walaupun memang kemungkinan penjara rumah dan dia dirantai. Ya, ini bukan suatu hal yang mudah juga bagi Paulus. Tetapi Paulus di sini justru memulai suratnya dengan selain setelah salam ayat 1 dan 2, dia melanjutkan dengan ucapan syukur.

Kalau kita melihat surat-surat Paulus, terutama surat-surat Paulus kepada gereja-gereja, rata-rata itu Paulus itu pasti meng-include atau menulis ucapan syukur, ucapan terima kasih kepada Tuhan. Hanya ada 1 surat kepada gereja yang di mana Paulus tidak tulis ucapan syukur, yaitu surat Galatia. Nah, itu pembahasan yang lain, Bapak, Ibu. Ada alasan tersendiri, ya. Bukan karena Paulus nggak ngucap syukur untuk Galatia. Bukan, tetapi ada satu urgensi yang lain, makanya seperti tidak ditulis ucapan syukur. Tetapi, secara overall, secara keseluruhan, Paulus itu selalu mengucap syukur.

Dan kalau kita melihat di sini, ucapan syukurnya Paulus itu unik, Bapak, Ibu. Karena kita bisa melihat, waktu Paulus tulis surat, misalnya kepada jemaat di zaman itu, di kerajaan Romawi, Paulus itu juga beberapa elemen, beberapa bagian meminjam format surat yang sudah normal di dalam zaman itu. Tetapi biasanya zaman itu, setelah bagian salam, biasanya menuliskan tentang, “Saya harap kamu sehat-sehat, baik-baik saja.” Biasanya normalnya begitu, Bapak, Ibu. Contohnya, di surat 3 Yohanes. Saya akan bacakan. Di surat 3 Yohanes, saya akan bacakan dari ayat 1 dan 2, ya. “Dari penatua,” ini format yang sering, ya. Dari siapa, kepada siapa. “Dari penatuakepada Gayus yang kekasih, yang kukasihi dalam kebenaran.” Lalu, ayat yang kedua, “Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” Nah, ini sebenarnya format normal yang dipakai orang Roma kalau tulis surat pada zaman itu. Yohanes mengikuti format ini di surat yang ketiga.

Paulus sedikit meniru, ya, formatnya. Ada bagian salam, lalu kemudian ada bagian ucapan syukur, tetapi sering, Paulus itu mengelaborasi bagian ucapan syukurnya. Dan ucapan syukurnya Paulus di dalam setiap surat yang ada bagian ucapan syukurnya itu bukan cuma basa-basi, Bapak, Ibu. Bukan cuma, ya, karena sudah jadi satu sopan santun gitu, ya, atau bagian dari etika sehari-hari. Oh, makanya saya include ucapan syukur. Nggak, ya. Paulus itu kalau mengucap syukur itu nggak basa-basi, Bapak, Ibu. Malah, dari ucapan syukur yang akan kita renungkan sama-sama, kita bisa mulai melihat, ini arahnya Paulus ke mana sih surat Filipi ini? Nah, nanti kita akan lihat sama-sama, ya. Paulus tidak pernah basa-basi, tetapi waktu dia mengucap syukur, dia sungguh-sungguh mengucap syukur sepenuh hatinya. Di sini, Paulus mengucap syukur kepada Tuhan karena umat Tuhan.

Bapak, Ibu semuanya, kita mungkin pernah mendengar psikologi modern kan? Mungkin dari social media juga sudah menjadi 1 hal yang populer. Mau agama apa pun kamu, bersyukurlah! Positive thinking! Sampai ada yang menyarankan kalau kamu harus punya gratitude journal. Jurnal yang isinya tiap hari, pagi kamu bangun, kamu tulis 3 hal yang kamu syukuri atau kalau nggak, setelah mengakhiri hari, malam-malam, tulis 3 hal yang kamu syukuri hari ini supaya kamu lebih positive thinking, kesehatan mentalnya lebih baik. Ya, saya tidak menyangkal hal tersebut, tetapi Paulus di sini bukan sekedar mau kasih saran psikologi.

Kenapa Paulus menyatakan syukur? Yang pertama-tama, kalau kita melihat keseluruhan Alkitab, ucapan syukur itu sebenarnya, seharusnya menjadi hal yang normal bagi orang percaya. Ucapan syukur itu diperintahkan oleh Tuhan dan kita harusnya memang senantiasa mengucap syukur. Lalu kemudian, alasan yang kedua adalah bukan alasan psikologi tentunya, ya, karena Allah memang layak menerima segala pujian dan ucapan syukur kita. Maka, sudah sepantasnya kita yang mengaku percaya kepada Allah, lalu kita sadar, oh, Allah layak menerima segala pujian dan ucapan syukur. Ya, harusnya kita meluap juga dengan pujian dan ucapan syukur. Lalu, hal yang ketiga, ucapan syukur Kristen itu selalu terkait dengan sukacita. Nanti, kita akan masuk ke dalam bagian ini, Bapak, Ibu. Ucapan syukur Kristen itu selalu terkait dengan sukacita, maka ucapan syukur menjadi 1 hal yang sebenarnya tidak boleh tidak ada dalam doa kita, Bapak, Ibu semua. Dan tadi, saya mengatakan, Paulus ini kan sedang dipenjara, Bapak, Ibu, ya, tetapi di tengah situasi seperti ini pun, Paulus tetap bisa mengucap syukur. Paulus punya nggak sih alasan untuk komplain? Oh, banyak! “Aduh, kalian nggak tahu, ya! Kapal saya karam menuju Roma terus kena badai, kena ini itu, saya dirantai, sekarang saya di penjara. Aduh, malang ya nasib saya ya. Kayaknya rasul lain ada yang lebih enaknya daripada saya gitu ya. Aduh, kalian nggak tahu ya susahnya saya gitu ya. Aduh, saya ini kayaknya orang paling menderita di dunia gitu ya. Seandainya Paulus mau ngomong seperti itu ya, saya rasa jemaat nggak akan komplain atau susah komplain lah, ya memang susah kok lagi dipenjara gitu ya. Ya, di sini siapa yang pernah dipenjara? Ya, saya harap nggak ada sih ya gitu ya.

Tapi kan kita kalau mengingat hidup kita, terkadang hal sepele saja terjadi yang kurang nyaman untuk kita, wahlangsung penuh dengan luapan emosi, bersungut-sungut gitu ya, seolah-olah Tuhan itu nggak pernah kasih sesuatu yang baik kepada kita gitu ya. Ya, itulah dosa kita orang Kristen sih gitu ya. Jangan pikir kalau kita tidak mengucap syukur, oh berarti ya masih ok gitu ya. “Kan saya nggak dosa membunuh, saya nggak dosa berzinah, saya nggak dosa mencuri, tidak melakukan dosa-dosa yang biasanya kita cap fatal sebagai orang Kristen.” Tapi ada seorang teolog yang mengatakan, “Ketika kamu sudah berhenti mengucap syukur, itu pun kamu sudah dosa. Kamu tidak lagi melihat kebaikan Tuhan. Kamu gagal di dalam imanmu melihat Tuhan masih berbelas kasihan sama kamu.”

Ketika kamu gagal mengucap syukur, itu bukan kegagalan kecil. No. Itu kegagalan besar, Bapak, Ibu. Besar. Kelihatannya kecil, kelihatannya, tapi ditinjau dari sudut pandang rohani, itu kegagalan besar. Karena itu artinya sekali lagi kita sudah mulai gagal melihat kebaikan Allah di dalam hidup kita. Tapi kita mengucap syukur ya, kita melihat teladan yang begitu besar yang Tuhan berikan, yaitu salah satunya Paulus. Di penjara pun dia punya seribu macam alasan untuk mengeluh, bersungut-sungut, dan menangis, merasa nggak ada pengharapan. Dia punya semua alasan itu, and yet, tapi Paulus mengucap syukur.

Di dalam surat yang Paulus pernah tulis sebelum surat Filipi ini; karena surat Tesalonika itu surat yang kemungkinan besar di awal-awal ditulis oleh Paulus, Filipi ini agak belakangan. Di dalam 1 Tes. 5:16, ada satu ayat yang gampang dihafal, cuma dua kata: “Bersukacitalah senantiasa.” Cuma dua kata ini jangan sampai nggak hafal, Bapak, Ibu ya. 1 Tes. 5:16 , “Bersukacitalah senantiasa.” Dan ternyata Paulus sungguh menghidupi apa yang dia ajarkan. Paulus kasih tahu kepada jemaat, “Bersukacitalah senantiasa.” Tapi kemudian dia sendiri kayak, “Aduh, mengeluh terus gitu ya. Hidup ini berat gitu ya. Ayub pun tidak seberat saya.” Wah, rupamu, gitu ya.  Ayub hilang anak sepuluh gitu ya, dari crazy rich jadi crazy poor, kaya banget jadi sangat kere gitu ya. Tapi dia tetap mengatakan, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan.” Rupamu kamu kalau mengatakan saya lebih sengsara daripada Ayub! Nggak sama sekali, nggak gitu ya. Masih jauh lah ya kita dari Ayub begitu.

Waktu Paulus mengatakan bersukacita senantiasa, dia menghidupi itu. Dia terus senantiasa mengucap syukur meskipun kondisinya sulit. Dan inilah yang seharusnya menjadi satu dasar bagi kita, Bapak, Ibu. Kita mengucap syukur bukan karena situasi baik-baik saja. Kita mengucap syukur karena masih ada pekerjaan baik dari Allah yang masih dinyatakan di dalam hidup kita dan di dalam hidup orang-orang, saudara-saudari seiman di sekitar kita. Dan jelas ketika di sini Paulus menyatakan, “Aku bersyukur kepada Allah karena kamu.” Kita boleh mengucap syukur karena barang ya. Misalnya kita doa, “Tuhan, saya butuh mobil. Saya minta mobil.” Wah, ternyata Tuhan kasih. “Tuhan, saya butuh rumah. Saya minta rumah.” Tuhan kasih. Silakan mengucap syukur untuk barang-barang itu. Itu juga pemberian Tuhan. Tapi seberapa sering kita bersyukur karena saudara-saudari seiman di sekitar kita? Atau jangan-jangan susah ya mengucap syukur. Si A dosa ini, si B dosa itu, si C dosa itu. Ah, semuanya musuh saya gitu ya. Kalau bisa duduknya paling jauh di antara yang lain gitu ya, karena saya nggak suka sama mereka gitu ya. Akhirnya nggak pernah bersyukur karena saudara-saudari seiman yang Tuhan tempatkan di sekitar kita.

Bapak, Ibu semua di sini, waktu saya bicara soal mengucap syukur, seringkali kan kita kontraskan ucapan syukur dengan keluhan ya. Ini saya sengaja bahas juga ya supaya kita nggak salah sangka, supaya nggak ekstrem gitu ya. Karena ada orang Kristen yang bisa salah menangkap. Oh, berarti harus mengucap syukur terus ya Pak ya, nggak boleh mengeluh sama sekali ya. Itu terlalu ekstrem, Bapak, Ibu ya. Nanti misalnya mau pulang, aduh hujan gitu ya, baru mulai ngomong, “Aduh, hu…” baru, baru “hugitu ya, terus eh nggak boleh gitu, mengucap syukur aja gitu ya. Terus kemudian ditabok suami, gitu ya.” Aduh, Tuhan kok suami…”, eh baru aduh nggak boleh, nggak boleh ngeluh gitu ya. Mengucap syukur aja, masih punya suami gitu ya. Ya, kita nggak ekstrem kayak gitu, Bapak, Ibu ya.

Kita harus bisa membedakan keluhan di dalam kitab Mazmur dengan sungut-sungut di padang gurun. Ini kita harus tahu bedanya, Bapak, Ibu ya. Karena ada orang yang salah mengerti lalu merasa mengeluh sedikit, “Oh, itu kamu sudah kayak Israel di padang gurun ya. Hati-hati loh, dihabisin Tuhan kamu.” Akhirnya nggak berani curhat, nggak berani mengeluh gitu ya, nggak berani meratap di hadapan Tuhan karena nanti saya seperti orang di padang gurun, nanti dihabisin sama Tuhan gitu ya, keliling-keliling di padang gurun nggak tahu di mana lah gitu ya.

Apa bedanya mengeluh di dalam kitab Mazmur dengan sungut-sungut di padang gurun? Keluhan di dalam kitab Mazmur adalah keluhan di dalam iman. Betul pemazmur itu mengeluh, tapi dia mengeluh di dalam doa sekaligus dia tetap menyimpan pengharapan Tuhan akan menjawab saya. Itu di Mazmur, Bapak, Ibu ya. Pemazmur mengeluh dengan imannya di dalam doa dan dia punya pengharapan Tuhan akan menjawab doa saya meskipun nggak tahu kapan dan cara apa. Tetapi keluhan di padang gurun, sungut-sungut di padang gurun adalah satu complain, satu keluhan di dalam ketidakberimanan. Tahu dari mana, Pak? Ya, Allah sendiri yang bicarakan kepada Musa, “mereka mencobai Aku 10 kali”. Yaitu, angka 10 itu mungkin bukan literal 10, ya, tapi maksudnya “sudah banyak mereka mencobai Aku.” Lalu kalau kita mengingat sungut-sungutnya Israel setelah keluar Mesir, sudah berhasil keluar, Tuhan sengaja bawa ke Laut Merah. Dead end. Gang buntu, mentok. Firaun kirim tentaranya. Mulai panik, kan? Mulai panik. Ini jalan buntu, terus kita dikejar pasukan berkuda, lebih tepatnya kereta kuda. Itu zaman dulu, Bapak, Ibu, namanya perang sudah pakai kereta kuda, itu kayaknya senjata paling mutakhir, cepat dan mematikan. Makanya kalau kita baca Perjanjian Lama, peperangan-peperangan itu begitu dikatakan, “Wah, mereka pakai kerta kuda.” Itu biasanya ceritanya adalah ini kita bisa kalahin nggak, ya? Ya, begitu. Kalau cuma berhadapan dengan orang pejalan kaki, gitu, ya, bawa pedang atau tombak, ya, masih bisa dilawanlah. Tapi kalau udah kereta kuda tuh setengah mati, ya. Di sini Firaun itu benar-benar nggak tanggung-tanggung. “Waduh, kalau kita lepasin mereka, ya dari Mesir, ya? Budak-budak ini. Ya, sudah kejar.” Pakai apa?Kereta kuda langsung, gitu, ya. Firaun kasih yang terbaik untuk ngejar Israel. Dan mereka sudah di gang buntu, depan laut, belakang kereta kuda. Lalu di sana orang Israel mulai mengeluh, kan, ya. Mengeluhnya sarkastik, gitu, kan, ya. “Musa, di Mesir kurang kuburan, ya? Kamu pengen kami mati di sini aja, ya?” Itu kan bukan sekedar ngeluh Bapak, Ibu, ya. Itu bukan sekedar curhat. Di belakang itu sebenarnya orang Israel mau bilang, “Saya nggak percaya kamu. Kamu mau mencelakakan kami, kan? Kurang ajar kamu, ya. Tega sekali sama saya, ya.”

Di sini kita bisa melihat, ya, tadi pemazmur mengeluh di dalam imannya dan dia masih punya pengharapan sama Tuhan. Orang Israel di padang gurun mengeluh dengan satu spirit yang curiga kepada Tuhan, kepada Musa, dengan satu jiwa yang saya nggak bisa berharap sama kamu. Saya benci kamu, saya kesal sama kamu. Beda kan, ya, Bapak, Ibu? Ya, beda. Maka, Alkitab tidak pernah melarang kita untuk mengeluh sama sekali, nggak, ya. Tapi, Alkitab mengajarkan kita, mengeluhlah dengan iman di hadapan Tuhan dalam doamu dan tetaplah berharap Tuhan akan jawab segala air matamu.

Maka, ketika di sini Paulus mengucap syukur, kita kembali lagi ke bagian ini. Waktu Paulus mengucap syukur, ya, ini bukan berarti sama sekali tidak boleh mengeluh, ya, Bapak, Ibu, ya. Tapi, mengeluhlah dengan cara yang benar di dalam iman dan di dalam pengharapan. Lalu, kita melihat dari ayat ketiga, ya, dikatakan oleh Paulus, “Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.” Dan dikatakan ayat 4, “Setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita.” Di sini kita melihat ada beberapa tema yang bisa kita kaitkan, yaitu ucapan syukur, pertemanan, ya, atau ikatan persaudaraan, persekutuan sebagai saudara seiman, dan sukacita. Tiga hal ini menjadi satu jalinan yang sangat baik, Bapak, Ibu, semuanya. Dia mengucap syukur karena apa? Karena ada orang-orang seiman. Setiap kali Paulus ingat jemaat dan dikatakan mengingat kamu semua, aku mengucap syukur. Mungkin kalau kita kebayang, ya, wah, Paulus mengucap syukur, ya, mengingat kamu semua jemaat Filipi. Wah, Paulus mengucap syukur. Apakah ini berarti jemaat Filipi itu bagus semua, gitu, ya? Oh, rohaninya dewasa semua. Nggak, Bapak, Ibu. Gereja Filipi sama dengan gereja yang lainnya, tidak sempurna. Bahkan, nanti ketika kita masuk ke pasal tertentu, kita akan melihat ternyata di Filipi pun ada masalah internal. Mereka tidak hanya menghadapi tantangan dari luar terhadap gereja. Mereka juga menghadapi masalah di dalam dan kemungkinan mulai ada benih-benih perpecahan di dalam jemaat Filipi. Tapi, Paulus tidak selektif gitu, Bapak, Ibu. Aku mengucap syukur ketika mengingat kamu yang baik-baik, yang rajin pelayanan, yang rajin persembahan, yang mau jadi teman aku, secara implisit mau bilang, Kamu yang kurang persembahan, kamu yang kurang pelayanan, saya nggak mengucap syukur loh,” gitu, ya. Enyahlah kalian gitu, ya. Nggak. Paulus mengatakan, “Aku mengucap syukur untuk kamu semua.”

Saya yakin Paulus tahulah, ya, gereja Filipi nggak sempurna, ya. Dia kok, ya, yang menginjili di sana, dia kok, ya, yang mendirikan gereja di sana. Dan tidak mudah bagi Paulus untuk melayani di Filipi kalau kita melihat Kisah Rasul 16. Tapi, terlepas dari semua itu, Paulus tetap mengucap syukur. Ada nggak, sih, memangnya orang Kristen yang sempurna? Nggak ada, ya. Kalau kita baru mengucap syukur ketika ketemu saudara seiman yang sempurna, ya, udah, sampai mati kita nggak mengucap syukur, sih. Setiap orang ada dosanya masing-masing. Saya mengatakan ini bukan untuk meng-excuse, ya, Bapak, Ibu. Saya menyatakan realita setiap orang Kristen ada dosa masing-masing. Hamba Tuhan, saya, ada dosanya tersendiri. Tapi itu tidak boleh memberhentikan kita dari mengucap syukur kepada Allah.

Kita pasti tahu, kan, ya, suami pasti puya kekurangan, anak-anak ada kekurangan tersendiri, keluarga kita punya kekurangan. Bahkan, harusnya kita berkaca dulu, kan, ya. Yesus kan mengatakan sebelum keluarkan serpihan di mata orang lain, balok di matamu keluarin dulu. Maksudnya apa? Itu serpihan sama balok, serpihan itu kecil, balok itu gede. Tuhan tuh mau sadarkan kita, ya. Kamu sering salahkan orang lain, kamu nggak tahu, ya, salahmu itu mungkin lebih gede, loh. Sadarilah orang sekitarmu nggak sempurna. Kamu sendiri pun jauh dari kesempurnaan. Mari rendah hati dan mari kita sama-sama tetap mengucap syukur karena selalu ada alasan untuk mengucap syukur. Di dalam keberdosaan, kita selalu melihat alasan untuk mengeluh, sungut-sungut, mencurigai Tuhan. Tetapi di dalam iman harusnya kita selalu punya alasan untuk bersyukur kepada Tuhan.

Dan dikatakan di sini Paulus mengingat jemaatnya. Paulus yang seorang akademis, seorang yang sangat jitu teologinya dari surat-suratnya pun kita bisa melihat betapa pintarnya Paulus. Sampai kemudian di dalam Kisah Para Rasul ada yang mengatakan “Paulus kamu ini saking pintarnyakamu ini gila, ya.” Terlalu banyak pengetahuan kamu. Sampai ada yang komen seperti itu, ya. Tetapi Paulus mengatakan “Nggak, aku nggak gila, gitu. Tapi aku menginjili, ya demi Tuhan.” Paulus begitu pintar, begitu akademis kalau kita boleh katakan dia didikan Gamaliel sebagai orang Farisi. Tapi dia juga punya hati yang begitu kasih begitu hangat ya. Aku ingat kamu terus, saya doaian kamu terus dan setiap kali saya ingat kamu, semua saya sukacita.

Di sini kita melihat kaitannya juga Bapak, Ibu ya, sukacita dengan doa dengan persekutuan. Mungkin kita pernah menemukan dari Galatia 5 tentang buah Roh. Buah Roh apa? Salah satunya sukacita. Tapi banyak orang Kristen salah mengerti. Dipikir, dipikir karena buah Roh, oh ya sudah saya diam aja, nanti Roh munculin sendiri, tuing, gitu ya. Eh, tiba-tiba sukacita gitu ya. Itu nggak tahu saya ajak ke psikiater gitu ya. Tiba-tiba gitu ya. Suddenly eh tiba-tiba sukacita nggak ada angin nggak ada apa gitu ya. Sukacita Kristen tidak pernah terlepas dari Firman Tuhan, doa dan persekutuan , sekali lagi Bapak,  Ibu ya, sukacita Kristen tidak pernah terlepas dari Firman Tuhan, doa dan persekutuan. Kalau ditanya bisa nggak sih, Tuhan kasih sukacita tanpa Firman, tanpa doa, tanpa persekutuan? Ya, kalau bicara kemahakuasaan Tuhan ya bisa-bisa aja, semua juga bisa begitu, ya. Tetapi Allah di dalam bijaksana-Nya yang besar yang tidak terbatas, memilih, menetapkan sukacita kita tidak boleh terlepas daripada Firman, doa dan persekutuan. Dan secara secara khusus di bagian ini kita melihat sukacita yang berkaitan dengan doa Paulus, doa ucapan syukur, dan persekutuan Paulus dengan jemaat di Filipi. Maka kalau kita mulai merasa, kok saya kurang sukacita ya, coba kita tinjau hal ini dulu. Apa jangan-jangan kita sudah nggak saat teduh, sudah nggak lihat Firman Tuhan lagi, datang dengar khotbah cuma sekedar masuk kanan keluar kiri. Atau mungkin juga kita bisa mengingat jangan-jangan memang kita kurang berdoa. Itu penyakit GRII kan ya. Jujur aja, kurang doa lalu minta Tuhan “Oh, saya harus sukacita, kok saya nggak sukacita ya Tuhan?”  Mungkin kurang berdoa kurang bersyukur, simpel. Atau kita kurang bersekutu, yang penting saya dengan Tuhan, persetan dengan orang lain. Wah celaka, itu bukan orang Kristen Bapak, Ibu.

Spirit individualis itu nggak ada di  dalam Alkitab sebenarnya. Paulus selalu memberikan pesan, ya. Kamu sebagai komunitas. Ini seringkali dilupakan di dalam zaman modern, apalagi di kota makin berkembang makin besar sifat individualisme itu makin kencang, kan ya. Itu sangat nyata di Amerika dan juga di Jakarta itu cukup nyata ya. Meskipun ya, saya mengucap syukur mulai banyak yang sadar. Kita nggak bisa loh cuma individualis. Nggak bisa. Tuhan menetapkan kita sebagai gereja. Gereja itu apa? Kumpulan orang-orang yang ditebus Tuhan. Sekumpulan. Memang Tuhan menebus satu, satu, satu, satu. Tapi bukan supaya pada akhirnya ya udah, kamu masing-masing ya bikin gereja sendiri, ibadah sendiri di rumah, no. Tuhan tebus satu per satu supaya kemudian berkumpul sebagai anggota tubuh Kristus yang saling melengkapi. Dan melalui komunitas itulah Tuhan menyatakan sukacita.

Dan kalau kita melihat, Bapak, Ibu, semua ya, kita melihat surat-surat Paulus, pesan-pesan Paulus, kita akan menemukan ya berkali-kali Paulus itu menyatakan. Aku rindu ketemu, misalnya Timotius, ketemu siapa saudara saudari seiman, karena kehadiran mereka membuat aku sukacita. Paulus nggak mengatakan, “Oh I’m strong, saya kuat kok sendiri,” gitu ya. “Saya Paulus, gitu loh,” nggak. Paulus menyatakan saya pengen ketemu kamu supaya aku juga mendapat sukacita. Sukacita kita tidak terlepas dari Firman Tuhan, doa, dan persekutuan.

Dan dikatakan oleh Paulus di bagian berikutnya dia mengucap syukur, ya, selalu. Paulus adalah seorang yang berdoa Bapak, Ibu. Paulus adalah seorang yang berdoa. Meskipun sangat pintar tapi dia tidak pernah lalai dalam berdoa. Ini kita mesti pelajari juga Bapak, Ibu. Ini saya singgung sedikit, ya nggak bisa semua ya, singgung sedikit topik tentang doa, karena ini sering menjadi penyakitnya orang GRII ya. Ya kan kita harus self-critic ya, harus berani kritik diri sendiri. Kita dosanya di mana? Harus bertobat di mana? Kalau nggak kita nggak bertumbuh. Saya waktu pertama kali mengenal Reformed, belajar kedaulatan Allah. Oh Allah berdaulat, segala sesuatu iya, hal terkecil pun Allah berdaulat, tidak ada satu pun yang lepas, setiap atom, setiap elektron, setiap partikel Tuhan berdaulat. Dan Allah Maha tahu sebelum kamu minta, Dia sudah tahu. Lalu mulai muncul pertanyaan kalau gitu kenapa saya harus doa? Gitu kan ya? Sering kali begitu, kan? Kalau Allah berdaulat emangnya doa saya bisa mengubah Dia? Itu juga pertanyaan yang muncul kan? Kalau gitu saya doa kita buat apa ya? Ada poinnya nggak sih saya berdoa? Ini sering saya melihat ya, rohaninya jemaat GRII. Pokoknya kalau doa kehendak-Mu jadilah. Udah pokoknya gitu aja ya. Doanya singkat, padat, dan jelas. Dua kata “Kehendak-Mu jadilah”. Udah nggak usah minta yang lain. Toh Tuhan berdaulat, Tuhan tahu. Dan semua macam teori itu lah. Yang penting kehendak-Mu jadilah.

Dan akhirnya ya doa kita tuh kayak ya karena sudah disuruh doa diajak PD sama Pak Dawis, nggak enak kalau nggak datang kan gitu ya. Ya sudah ikut doa tapi ya, mari kita buka suara kita berdoa, ya sebenarnya agak susah ya mau doa apa ya. Ya pokoknya kehendak-Mu jadilah amin gitu ya. Nggak ada apinya sama sekali dalam doa. Saya merenungkan Bapak, Ibu ya kan kadang ada yang komen ya ini sudah sering lah ya komennya kok GRII itu dingin ya, bukan karena AC-nya ya walaupun kadang dingin juga sih memang. Kenapa GRII itu dingin gitu? Oh ya karena persekutuannya dingin. Ok itu satu poin. Tapi saya juga renungkan poin lain Bapak, Ibu ini. Bapak, Ibu boleh setuju boleh nggak setuju ya, karena ini opini saya saja. Jangan-jangan GRII ini dingin karena doa kita juga dingin loh. Kita nggak punya spirit berdoa.

Satu prinsip saya pegang dari surat Yakobus. Saya akan bacakan. Saya harap ini jadi ayat hafalan juga ya, cuma satu bagian kecilnya saja. Yakobus pasal 4. Saya bacakan ayat lengkapnya nanti saya kutip bagian sedikitnya. Yak. 4:2 “Kamu mengingini sesuatu tetapi tidak memperolehnya. Lalu kamu membunuh, kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu. Lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa karena kamu tidak berdoa.” Kamu tidak memperoleh apa-apa karena kamu tidak berdoa. Saya ini butuh penjelasan banyak kan Bapak, Ibu ya. Pak, bagaimana mengaitkan kedaulatan Tuhan dengan doa kita gitu ya. Logikanya di mana? Sinkronnya di mana? Bagaimana mendamaikan seolah-olah kedaulatan Allah dan doa itu dua hal yang nggak bisa didamaikan gitu ya. Itu saya nggak bisa bahas di sini nanti terlalu lama dan terlalu melenceng. Tapi saya mau kita pegang ayat ini baik-baik. “Kamu tidak memperoleh apa-apa karena kamu tidak berdoa.” Artinya kamu kalau nggak doa dan nggak dapat, jangan salahin Tuhan. Jangan bilang, “Ya, tapi kan Tuhan tahu apa yang saya perlukan. Masa saya tetap perlu doa?” Nggak. Yakobus bilang, “Kamu nggak dapat karena kamu nggak doa.” Titik. Mungkin nanti kalau saya dapat kesempatan pimpin persekutuan doa, saya jelaskan lebih gitu ya bagian ini ya. Tapi intinya kita pegang ini dulu. Doamu itu signifikan loh. Jangan pikir, “Oh, yang penting kehendak Tuhan jadilah selesai.” Itu karena kita malas. Malas berharap sama Tuhan. Ah, Tuhan belum tentu jawab kan? Ya sudahlah gitu. Daripada saya sudah terlanjur berharap nanti di-PHP-in Tuhan, ya sudahlah paling safe, paling aman kehendak-Mu jadilah. Tapi kita nggak mengerti ya, kadang dua kata simpel itu, “kehendak-Mu jadilah”.

Yesus berdoa di Taman Getsemani sampai dikatakan keringatnya seperti tetesan darah. Satu penderitaan yang besar yang Yesus alami di Taman Getsemani, murid-muridNya tidur semua. Yang sadar akan penderitaan besar itu cuma Yesus satu-satunya. Murid-Nya yang paling dekat sama Dia pun nggak mengerti. Benar-benar tersendiri. Dan Yesus berdoa sampai tiga kali, “Ya Bapa, jika cawan ini boleh lalu, kiranya berlalu, tetapi kehendak-Mu jadilah.” Yesus waktu mengucapkan “kehendak-Mu jadilah” itu bukan lagi santai gitu ya. Ya, ya sudahlah terserah Bapak gitu ya. Saya terima-terima aja gitu mau yes, mau no ya sudah gitu. Nggak. Tapi kadang kita bisa memahami dua kata itu secara salah kan ya, seperti santai aja gitu ya. Udah kehendak-Mu jadilah, simpel, saya ikut aja gitu ya. Nggak.

Waktu Yesus menaikkan doa itu keringat-Nya sampai seperti butiran darah. Itu satu penderitaan mental, hati yang sangat berat. Yesus berdoa semalaman loh. Baru Dia setelah proses yang begitu menyakitkan itu baru Dia berkata, “Kehendak-Mu jadilah.” Jadi kalau kita belum mengerti bobot penderitaan Yesus, jangan berani-berani dengan gampang menyatakan “kehendak-Mu jadilah”. Hanya setelah kita merenungkan baik-baik, menggumulkan baik-baik di hadapan Tuhan, di tengah kita berdoa, kok Tuhan nggak jawab, kok Tuhan ulur waktu segala macam ya, lalu kita mulai ada satu kegelisahan, mulai mengutarakan isi hati kita kepada Tuhan. Kapan Tuhan menjawab? Ada pergumulan seperti pemazmur. Setelah melalui semua proses itu baru saya rasa kita boleh mengatakan, “kehendak-Mu jadilah”. “Kehendak-Mu jadilah” bukan satu frasa yang boleh diucapkan orang yang malas berdoa.

Kita kembali ke bagian Filipi. Kenapa Paulus mengucap syukur? Dikatakan dia mengucap syukur karena peran serta atau persekutuanmu dalam berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang. Paulus bisa bersyukur kepada jemaat Filipi ya mungkin karena banyak hal Bapak, Ibu ya. Apa mungkin jemaatnya baik ke dia gitu ya. Itu bisa jadi salah satu poin ya. Ketika orang-orang baik kepada kita, kita mengucap syukur kepada Tuhan itu sah-sah saja. Tapi kemudian poin pertama yang Paulus sampaikan di sini adalah aku mengucap syukur karena persekutuanmu dalam berita Injil. Maksudnya apa persekutuanmu dalam berita Injil? Bapak, Ibu semua, ini bisa juga diterjemahkan sebagai aku mengucap syukur kepada Allah karena partisipasimu dalam berita Injil. Yang menjadi perdebatan dan seringkali menjadi banyak opini adalah maksudnya apa ya partisipasi dalam berita Injil? Ya, saya merenungkan membaca berapa komentari. Berpartisipasi atau bersekutu dalam berita Injil itu berarti satu jemaat Filipi menerima Injil. Ya, itu pasti jelas menerima Injil, tapi tidak berhenti sampai di sana. Kita juga tidak boleh hanya sekadar, “Oh, sudah percaya Yesus, selamat, ya Pak, ya? Dijamin masuk surga, ya Pak, ya?” “Iya.” “Oh, ya sudah. Selesai.” No! Nggak berhenti di sana. Tidak boleh berhenti di sana! Satu: menerima Injil.

Kedua: menghidupi Injil. Ini yang banyak orang Kristen sering lewatkan juga. “Yang penting Yesus. Saya sudah percaya kan, ya Pak, ya?” Injil itu bukan sekadar satu tiket supaya saya bisa masuk surga, Bapak, Ibu. Injil itu adalah berita yang seharusnya mengubahkan seluruh hidup kita. Injil itu bukan hanya untuk diterima otak. Injil itu adalah berita yang Tuhan pakai untuk mentransformasi hidup kita. Maka dari itu, di bagian ayat yang lain Paulus mengatakan, “Hidupmu harus berpadanan dengan Injil Kristus!” Bukan cuma kata-katamu, loh. Bukan cuma teologi di otakmu, loh, yang berpadanan dengan Injil. Tapi hidupmu berpadanan dengan Injil! Dan itu memang jemaat Filipi lakukan meskipun –sekali lagi– tidak dalam kesempurnaan.

Jadi, yang pertama tadi menerima Injil. Menghidupi Injil. Lalu yang ketiga: membagikan Injil. Ketika Tuhan memberikan kesempatan, memberikan orang-orang di sekitar kita, memberikan kita akses untuk kita boleh bersahabat, membangun relasi, sampai satu titik kita bisa membagikan nama Yesus kepada mereka, itu juga tanggung jawab kita. Dan itu juga dilakukan jemaat Filipi. Lalu yang poin yang terakhir yang seringkali dianggap ini poin yang pasti, ya dalam persekutuan dalam berita Injil. Jemaat Filipi juga mendukung pekerjaan Injil. Jadi, menerima Injil, menghidupi Injil, membagikan Injil, dan terakhir mendukung pekerjaan Injil. Dalam hal apa? Kalau kita melihat di bagian lain, kita tahu jemaat Filipi itu sangat, sangat mendukung pelayanan Paulus secara materi.

Saya mengajak kita untuk melihat 2 Kor. 8. Saya akan bacakan. Saya akan bacakan dari versi TB2, ya, Terjemahan Baru yang kedua. 2 Kor. 8:1–5. “Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang anugerah yang diberikan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. –Kota Filipi ini di daerah Makedonia, Bapak, Ibu. Jadi, waktu Paulus di sini dikatakan Makedonia, itu berarti mencakup Filipi– Selagi dicobai dengan berat dalam berbagai penderitaan, sukacita mereka meluap, –Nah, ini, ya: sukacita jemaat Filipi– dan meskipun mereka sangat miskin, mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi bahwa mereka telah memberi menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. –Bahkan, ya dikatakan ayat 4– Dengan kerelaan sendiri mereka meminta, mereka mendesak kami supaya mereka juga beroleh anugerah untuk ambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. –Bahkan kemudian Paulus memuji di ayat kelima– Mereka memberikan lebih banyak daripada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Tuhan, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.”

Kalau kita membaca bagian-bagian lainnya juga kita akan makin jelas, Bapak, Ibu. Bisa dikatakan gereja Filipi ini mungkin adalah gereja yang paling banyak mendukung pelayanan Paulus, termasuk secara materi. Kita mengingat Firman dari Tuhan Yesus, “Di mana hartamu berada, di situ hatimu juga.” Saya di sini bukan mau bilang, “Setelah ini kantong persembahan harus penuh, ya Bapak, Ibu.” Bukan itu, ya Bapak, Ibu. Kalau kita tadi baca: Paulus tidak pernah memaksa jemaat Filipi. Tidak pernah jadi preman tiba-tiba todong pisau, “Eh, perpuluhan udah, belum?” Gitu, ya. “Kok catatan namanya nggak ada?” Minta dari bendahara gitu, ya. Catatannya nggak ada, ya. “Mana, mana, mana?” Nggak. Paulus tidak pernah melakukan itu. Paulus mengajak jemaat, “Ayo berbagian dalam mendukung pekerjaan Injil.” Dan ternyata –seperti yang tadi ditulis di 2 Korintus 8– ternyata jemaat Filipi memberikan bahkan lebih daripada yang diharapkan Paulus. Di sini lah kemudian Paulus bisa dengan confident melihat Filipi, “Jemaat Filipi, kamu sudah terus menjalankan persekutuan di dalam berita Injil dari hari pertama bahkan sampai sekarang.” Terus, mereka mendukung Paulus. Makanya ini salah satu jemaat yang bisa kita katakan dekat sekali sama Paulus.

Biar kiranya ini menjadi satu perenungan yang menyadarkan kita, Bapak, Ibu semua, bagaimana kita harus terus mengucap syukur di hadapan Tuhan. Bagaimana juga kita harus terus menumbuhkan sukacita melalui sarana-sarana yang Tuhan berikan: melalui doa kita, melalui persekutuan kita, melalui firman Tuhan. Dan bagaimana Paulus tidak henti-hentinya berdoa dan kita pun juga harus demikian. Dan bagaimana juga Paulus menyatakan bahwa kita harus terus-menerus bersekutu dalam berita Injil. Mari kita sama-sama berdoa.

Bapa, kami menyatakan syukur kami di hadapan-Mu karena Engkau, sampai hari ini, Engkau terus menyatakan kebaikan-Mu. Ketika kami bisa terus menghidupi Injil, diberikan kesempatan untuk membagikan Injil, bahkan juga untuk mendukung pekerjaan Injil, kami mengucap syukur. Karena itu semua menyatakan kepada kami bahwa Allah masih bekerja di dalam hidup kami. Itu semua menyatakan kepada kami bahwa Allah masih berkenan untuk mengerjakan keselamatan di dalam hidup kami. Kami mengucap syukur, ya Tuhan. Ajarlah kami untuk senantiasa bersyukur. Ajarkanlah kami untuk senantiasa bersukacita. Ajarkanlah kami agar kami tidak terlarut di dalam situasi yang tidak nyaman, tetapi bisa melihat segala kebaikan Tuhan, bahkan di tengah kondisi yang menyakitkan bagi kami sekali pun. Ajarlah kami untuk berdoa seperti Paulus. Ajarkanlah kami untuk menjadi orang-orang yang semakin lama semakin mencintai Tuhan. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.