Kebangunan Rohani, Kebangunan Misi, 8 Februari 2026

Ul. 6:4-5, Mat. 28:18-20

Pdt. Nathanael Marvin, M. Th

Tanggal 31 Januari 2026 kemarin, STTRII atau Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili Internasional mengadakan sidang senat terbuka untuk mengukuhkan 2 guru besar yang baru ada atau baru akan diberikan gelarnya, yaitu  Pdt. Prof. Billy Kristanto dan juga Pdt. Prof. Dr. Stevri Indra Lumintang. Ya ada 2 guru besar dari teologi setelah sebelumnya Pdt. Benyamin F. Intan juga sudah menjadi profesor terlebih dahulu di dalam teologi. Dan Pak Ben juga senantiasa mendukung agar rekan-rekannya boleh terus melanjutkan studi, mengembangkan diri, khususnya dalam hal akademik. Sekalipun juga kita tahu, Pdt. Stephen Tong juga selalu menasihati bahwa hati-hati soal akademik. Akademik itu bagus, pengetahuan itu baik, tapi kalau hati kita, tekad kita, kemauan kita, rohani kita tidak terbakar, kita tidak bisa menggunakan pengetahuan tentang teologi untuk kita aplikasikan dalam kehidupan kita. Nah ini adalah satu berkat besar bagi STTRII. Berkat besar juga bagi kekristenan di Indonesia, di mana kita boleh melihat ada 2 profesor yang baru.

Nah kemudian ketika saya dapat kesempatan, saya mau mendengar orasi ilmiah dari Pdt. Billy maupun Pdt. Stevri, kemudian saya lihat YouTube-nya ya. Saya lihat YouTube-nya, saya coba dengarkan; wah ini adalah hal yang bagus. Saya katakan kepada istri saya, saya mau khotbah minggu deh, dari bahan mereka berdua, dari bahan profesor. Sudah agak seperti profesor nih, khotbah hari ini. Karena apa? Sangat bagus, sangat sederhana. Kurang lebih khotbah ini berasal dari materi Pak Billy dan Pak Stevri. Digabungkan gitu ya.

Nah Bapak, Ibu, Saudara sekalian, dalam kekristenan di sejarah kekristenan, kita lihat bahwa ada kalanya kekristenan itu menurun. Apanya sih menurun? Ya entahlah, dikatakan menurun. Kekristenan menurun dalam hal rohani, dalam hal mungkin jumlah orang yang mengabarkan Injil, ataupun jumlah jemaat. Bahkan kita tahu dalam sejarah ada gereja-gereja yang tutup. Ada gereja yang dulu ada, sekarang tidak ada lagi. Tapi kita juga bisa lihat dalam kekristenan bukan saja menurun, tapi ada juga naik. Dan naiknya ada suatu kebangunan rohani, ada suatu pertambahan. Dulu, 35 tahun, kalau saya nggak salah ya, 35 tahun yang lalu nggak ada GRII Yogyakarta. Kurang lebih 30 tahun kemudian ada GRII Yogyakarta. Kita bisa lihat kekristenan itu ada kemerosotan, ada kebangunan. Ada turun, ada naik.

Kalau kita lihat Alkitab Bapak, Ibu sekalian, ambil contoh dalam kisah Nuh. Di situ umat manusia, padahal semua satu keluarga lho. Adam, Hawa terus memiliki anak Kain, Habel, terus banyak anak, banyak anak lagi. Tibalah di zaman Nuh, kemerosotan rohani begitu besar, Tuhan sampai emosi sekali. ”Aku sudah ciptakan begitu banyak manusia tetapi semuanya melanggar firman Tuhan, semuanya melawan Tuhan, semuanya menyedihkan hati Tuhan.” Bahkan Alkitab dalam bahasa Indonesia mengatakan, “Tuhan menyesal ciptakan manusia.” Sebenarnya bukan menyesal dalam definisi yang literal, bahwa, “Aduh Saya salah ini ciptakan manusia.” Bukan! Tapi rasanya itu, bahasa Jawa nya apa, “gelo”, sedih sekali kenapa sih manusia itu begitu jahat. Menyesal gitu ya. Ini merupakan perasaan yang mendalam dari Tuhan ketika ada kemerosotan rohani, Tuhan itu sedih, berduka. Sampai Tuhan katakan kepada Nuh bahwa, Aku begitu sedih, bahkan marah. Bercampur ya, emosi sedih dan marah sering kali juga bercampur. Tuhan katakan, “Aku akan membinasakan seluruh Bumi dengan air bah.” Karena apa? Rusak moralnya, orang rusak, tidak bisa diperbaiki. Orang rusak, susah bertobat, hapus saja dalam sejarah dunia. Oh Tuhan bisa kurang lebih ya katakan demikian, “Aku mau kirim air bah kepada Nuh dan orang-orang zamannya.”

Tapi Tuhan belas kasih kepada Nuh dan keluarganya sehingga Nuh diperintahkan untuk membuat bahtera dan kemudian memulai zaman yang baru. Tuhan harapkan apa? Dari kemerosotan rohani, Tuhan harapkan dari Nuh dan keluarganya ada apa? Ada kebangunan rohani. Bangsa Israel terus lakukan dosa, kita ingat dalam zaman Hakim-hakim, Tuhan sudah bebaskan bangsa Israel, kirimkan hakim. Hakim-hakim, Otniel, Samgar, Elon, semua dikirimkan hakim-hakim untuk menolong bangsa Israel yang sedang terpuruk karena dijajah oleh bangsa lain. Karena apa? Dosa mereka. Tuhan kirimkan hakim, menyelamatkan bangsa Israel, bangun mereka rohaninya. “Sembah Israel!” Hakim itu mati, balik lagi kemerosotan rohani lagi. Berzinah secara rohani lagi.

Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya, kita lihat bahwa kekristenan memang ada kemerosotan, kebangunan, tetapi kita harus tahu hati Tuhan. Dan rencana Tuhan dalam kehidupan kita adalah Tuhan menginginkan kita itu terus memiliki kebangunan rohani. Digambarkan bahwa kerohanian kita itu seperti api yang terus membakar. Membakar apa? Lilin, kalau di dalam pernyataan Natal ya. Kenapa kita pakai lilin, pakai api? Supaya kita mau menunjukkan bahwa kehidupan kekristenan yang terbakar itu mengorbankan diri, menghabiskan banyak waktu, tenaga, uang. Untuk apa? Supaya sinar Kristus itu boleh terpancar ke seluruh dunia. Kita bisa lihat bahwa Allah itu menginginkan hati kita itu boleh dijaga dengan api dari Roh Kudus, semangat untuk terus bangun.

Kita bukan berarti perfeksionisme, kita tidak percaya perfeksionisme. Kekristenan tidak mau mengajarkan bahwa kamu harus sempurna tanpa cacat, tanpa cela, tanpa kelemahan. Tidak! Karena kita manusia berdosa. Tapi yang Tuhan inginkan adalah pengudusan, bukan perfeksionisme. Tuhan inginkan kita pertobatan, pengudusan, pertumbuhan di dalam iman kita.

Kekristenan diwarnai dengan kemerosotan dan juga kebangunan. Mulai dari zaman raja-raja, zaman Nehemia, ada firman dibacakan kemudian umat menangis, bertobat. Di Kisah Para Rasul, Pentakosta, bagaimana firman Tuhan mereka dengar dari Rasul Petrus, kemudian 3,000 orang bertobat. Itu merupakan satu kebangunan rohani. Lalu sampai kepada abad pertengahan Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kita bisa lihat ada kemerosotan rohani di mana firman Tuhan itu disembunyikan oleh banyak pendeta-pendeta atau pastor-pastor, oleh gereja Tuhan. “Sudah nggak penting memberitakan firman Tuhan. Jemaat maunya dengar yang sederhana-sederhana, yang sebentar-sebentar. 15 menit. OK nggak apa-apa. Itu 15 menit kayak mungkin makan ya. Makan fisik, udah, pengen-nya, mudahnya, sebentar saja, kita kasih yang sebentar. Kita tidak usah mempelajari Alkitab yang begitu rumit. Lagi pula itu hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu dalam bahasa tertentu, ya. Maka gereja mengalami kemerosotan rohani ketika apa? Menyembunyikan Firman Tuhan atau mengabaikan Firman Tuhan.

Firman Tuhan tidak ditinggikan dan banyak praktik dosa yang begitu buruk. Tetapi kebangunan rohani muncul dalam masa reformasi, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, bahwa Injil itu membersihkan tradisi-tradisi manusia yang bobrok. Tidak perlu surat pengampunan dosa untuk minta ampun dosa kepada Tuhan. Yang sudah meninggal sudah selesai. Ya, mereka sudah hidup di alam yang lain. Ya, mereka sudah selesai finish, hidupnya dihakimi berdasarkan hidup ketika masih hidup di bumi ini. Kita nggak bisa memohon pengampunan dosa kepada orang yang sudah meninggal. Itu sudah dunia yang berbeda. Sudah finish, Tuhan katakan. Tetapi kita bisa terus bergumul minta ampun selama kita masih hidup berarti Tuhan baik untuk memberikan kesempatan kita bertobat. Sola scriptura, akhirnya mulai dijunjung kembali, ajaran keselamatan Kristen mulai dikumandangkan bahwa kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik dan anugerah Tuhan, bukan. Kita diselamatkan dari seluruh dosa-dosa kita karena anugerah Tuhan semata. Hanya karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman itu bukan hasil usahamu.

Martin Luther berani melawan sistem pemerintahan yang salah. Itu kebangunan rohani. John Calvin dengan tekun mengulas dan juga mencatat, merangkum Firman Tuhan di dalam dua bukunya Institutio yang begitu tebal. Eropa mengalami kebangunan rohani di mana Alkitab ditinggikan. Banyak orang bertobat dan banyak orang juga menjauhi segala praktik ketidakadilan maupun kebohongan. Itulah kebangunan rohani. Dan ketika Tuhan melihat umat-Nya dibangkitkan atau rohani orang-orang umat-Nya adalah dibangunkan, itu bukan menyesal. Tuhan bukan menyesal. Tuhan senang. Tuhan sangat senang. Kalau bisa hidup, hidup selamanya. Mungkin Tuhan berkata kepada pendeta Stephen Tong, “Ya, kalau Pak Tong bisa hidup 100 tahun, 100 tahun deh.” Karena hidupnya apa? Menyenangkan Tuhan, membangunkan rohani orang-orang yang lainnya, gereja-gereja Tuhan, sampai umur 86 tahun pun masih mau KPIN di kota-kota yang kecil yang mungkin kita baru tahu, ya. Ada Banyumas, ada Wonosobo, atau Purworejo. Tuhan mungkin berkata kepada gereja yang senantiasa punya api, “Aku senang terhadap gereja ini.” Tapi kemudian kepada gereja yang lemas, malas khotbah, malas pelayanan, malas beribadah, nyesal.  “Nyesal aku punya gereja seperti itu.

Bapak, Ibu, sekalian, kebangunan dan kemerosotan rohani ini menentukan hati Tuhan juga. Apakah Tuhan senang dalam kehidupan manusia atau tidak? Kalau merosot rohani kita, Tuhan sedih, Tuhan marah. Tapi kalau hati kita bangun, maka Tuhan senang. Bukan hanya di Eropa, tetapi di dalam Sejarah Amerika pun ada dua kebangunan besar atau great awakening. Itu Jonathan Edwards khotbah biasa aja, ya, khotbah biasa aja kita itu, ya, manusia berdosa itu, seperti laba-laba yang dengan jaringnya begitu tipis di bawahnya tuh api neraka. Tinggal potong jaring itu begitu tipis masuk neraka, mati. Kalau kita tidak bertobat, tidak percaya kepada Kristus, kita seperti laba-laba yang jatuh dan dibakar dalam neraka yang kekal. Wah, semua orang begitu tersentuh dengan khotbah yang biasa tapi Injil, tapi Firman Tuhan. Dan akhirnya orang-orang bertobat, percaya kepada Kristus terus tekun berdoa. Terus kemudian banyak George Whitefield, John Wesley, dan kotbah kemudian dikumandangkan dengan begitu besar. Injil diberitakan secara massal, banyak orang berdoa kepada Tuhan dan banyak orang senang Firman Tuhan. Inilah kebangunan rohani.

Sejarah kekristenan diwarnai dengan hal demikian, Bapak, Ibu sekalian. Ada kemerosotan, ada kebangunan rohani. Sekarang kita merenungkan yang pertama, ya. Sebenarnya apa sih kebangunan rohani itu? Kebangunan rohani itu bagaimana? Pertama, ya, kita bisa lihat pengaruh rohani lebih tersebar dengan luas. Dan pengaruh rohani ini bicara soal tentang siapakah Allah, pengetahuan tentang Allah maupun juga pengetahuan tentang diri manusia yang berdosa maupun juga tentang pekerjaan Allah. Ini adalah kebangunan rohani. Ya, ada satu ciri, ada satu definisi bahwa pengaruh rohani itu tersebar luas atau aktif terus bekerja mempengaruhi banyak orang. Ambil contoh Bapak, Ibu, sekalian, ya, gereja yang aktif melayani dan berkegiatan yaitu merupakan apa? Ada api. Ya, saya ditanya oleh pemuda dari gereja lain, “Sekarang kamu sudah jadi pendeta, ya, Marvin, ya?” Karena seumuran, ya, “Marvin, kamu sudah jadi pendeta, ya. Kegiatannya apa saja pelayanannya di GRII Solo? Ada hari kosong nggak?” Oh, setiap hari ada pelayanannya. Selalu ada acara setiap hari Senin apa, jelasin bisa. Tapi apakah kita berarti itu gila kerja? Workaholic? Tidak, kita tahu itu capek, kok. Setiap hari ada acara coba, ya. Tiap malam ada acara, ada acara. Kadang-kadang saya ngomong sama istri saya, “Tumben nggak ada acara ya hari malam ini, kayak santai gitu ya, hari malam.” Tapi Bapak, Ibu, Saudara sekalian ketika Tuhan izinkan sesuatu ada di dalam gereja Tuhan, ada kegiatan, bagus ini. Ya, orang ahli ilmu ekonomi saja bagus kok kalau perusahannnya itu kerja terus jangan banyak liburnya, ya, sekalipun Indonesia banyak liburnya. Tapi kita tahu bahwa kalau gereja aktif, ada acara, ada acara, itu setidaknya, ya, kita tidak tentu bahwa kita akan bertumbuh dengan banyaknya ikut acara, tetapi setidaknya kita bisa lihat ada Tuhan mau terus memakai gereja kita. Lebih baik banyak acara atau lebih baik nggak ada acara sama sekali? Udah, kayak, ya udah nggak ada acara apa-apa, ya di gereja. Cuman hari Minggu 2 jam, itu pun dirasa lama, ya. Wah, ini kemerosotan rohani, ya. Gereja itu akhirnya giat mempengaruhi umatnya sendiri maupun mempengaruhi gereja yang lain. Itu pengaruh, ya, pengaruh yang lebih luas. Bahkan gereja itu diketahui oleh kota tersebut. Nah, ini GRII Yogyakarta ini unik, ya. Salibnya mungkin paling tinggi se-Yogyakarta, ya. Salib Kristus ditinggikan, ya. Orang-orang mulai tahu GRII Yogyakarta, “Oh, ada gedung sebelah pom bensin itu, ya. Ya, jalannya keren banget, ya, namanya Jl. Bener No.1.” misalnya. Ya, wah, ini lumayan loh, ya lumayan pengaruh di mana Tuhan mau memberikan setidaknya pengaruh bagi orang Yogyakarta dan sekitarnya. Gereja bahkan bisa melayani ke pedalaman, merintis gereja yang baru dan lain-lain, itu adalah suatu pengaruh yang besar. Itulah kebangunan rohani, ya. Banyak orang rindu mengenal pekerjaan Tuhan dan juga terlibat di dalam pekerjaan Tuhan.

Nah, sedikit banyak Bapak, Ibu sekalian ya. Yayasan STEMI itu ya, yayasan STEMI kan yayasan apa? Penginjilan. Ada lembaga-lembaga penginjilan, ya kita bisa katakan lembaga penginjilan itu lembaga kebangunan rohani. Karena apa? Karena mau memberitakan firman Tuhan, mau memberitakan injil, tidak ada penginjilan tanpa kebangunan rohani. Orang yang merosot imannya, lemas ya, mana mungkin bisa kabarkan Injil, mana mungkin bisa ajak orang “ayok ke gereja.” Hatinya aja malas ke gereja kok, udah berat ke gereja aja berat, apalagi ngajak orang. Tapi kalau bisa ngajak orang ayo ke gereja, oh dia sudah punya kebangunan rohani, sudah ada api. Saya bukan hanya bawa diri saya sendiri, keluarga saya, saya bisa bawa orang lain dan keluarga yang lain. Itu adalah sebuah bentuk rohani yang kuat, rohani yang dibangunkan.

Yang kedua, Bapak, Ibu sekalian, apa sih kebangunan rohani itu, selain pengaruh rohani begitu merajalela, tetapi kebangunan rohani juga menunjukkan bahwa kita, orang tersebut ya punya kasih kepada Allah yang sungguh-sungguh. Maka tadi saya ajak kita membaca Ulangan 6:4-5. “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap kekuatanmu, segenap jiwa mu.” Kebangunan rohani, seseorang yang rohaninya baik ya, dan juga suatu tanda, ciri-ciri kalau di sini banyak pemuda ya, kalau mau cari pasangan hidup itu, rohaninya yang bangun, bukannya merosot, ke gereja aja malas, gitu ya. Dan punya kasih yang begitu besar kepada Allah, dan kasih yang begitu besar kepada sesama. Dia bukan doakan dirinya sendiri tapi doakan orang lain. Kasihan ya orang itu, nah itu, itu salah satu ciri orang yang hatinya penuh kasih kepada sesama, orang itu kasihan. Kenapa kasihan? Tubuhnya cacat, tubuhnya sakit, kasihan dia berkekurangan misalkan kayak gitu, dia punya kasih dalam omongannya itu muncul kasih. Eh, kita nggak boleh bohong loh, bohong dosa. Misalkan kaya gitu ya.

Ada pencegahan jangan sampai kita tidak mengasihi Allah, maupun juga sesama, ya. Bagaimana sih wujud kita dalam mengasihi Allah dan sesama? Nah, setidaknya kita bisa tahu bahwa kalau kita cinta Tuhan, ya, kita akan baca surat cintanya Tuhan. Kenapa kita bisa cinta Tuhan karena kita dicintai oleh Tuhan, kalau tidak dicintai oleh Tuhan, kita tidak bisa mencintai Tuhan. Nah, bagaimana wujud kita sungguh-sungguh membalas cinta kisah Tuhan, baca surat cinta Tuhan, Alkitab itu, setiap hari, kalau kita tanya orang, baca kitab nggak? Saat teduh nggak hari ini? Oh enggak sih, sibuk soalnya, dia lebih cinta sibuknya dari pada cinta Tuhannya, cinta pemberian Tuhannya, memang Tuhan berikan kesibukan. Tetapi kalau kita tidak bisa menempatkan waktu untuk dengar Tuhan, ngomong sama Tuhan apakah kita bisa dikatakan orang yang cinta Tuhan? Cinta itu harus ada komunikasi, ada mendengar, ada bicara. Kalau tidak ada mendengarkan tidak bicara itu bukan cinta. Tidak ada komunikasi itu bukan cinta. Maka dari itu Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau kita memiliki kebangunan rohani, kita sudah memiliki ciri-ciri hidup Kristen yang baik, mencintai firman Tuhan, ya.

Bapak, Ibu sekalian, saya yakin ya, kita yang sudah baca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu, tahu hukum yang terutama dari Tuhan Yesus, apa. Bahkan orang yang tidak baca Alkitab, sudah selesai dari Kejadian sampai Wahyu tahu kok, bahkan orang non Kristen pun tahu kok Yesus mengajarkan hukum terutama itu apa, yaitu apa Bapak, Ibu sekalian? Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu. Ini Bapak, Ibu sekalian tahu ya, ini hukum terutama dari Taurat adalah kasih kepada Allah maupun kasih kepada sesama. Ini satu konsep, kalau kita tahu ini satu konsep saja, itu namanya kurang lebih skripsi. Lalu Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kalau kita kaitkan satu konsep dengan konsep yang lain, saya ini ketika mempersiapkan khotbah ini juga baru ngeh, ada kaitan hukum terutama dengan Amanat Agung, yang barusan kita baca. Amanat Agung apakah jadi bukan hukum yang terutama, kalau Tuhan Yesus mengatakan, hukum terutama adalah kasihilah Allahmu dengan segenap hatimu, kasihilah sesamamu manusia. Terus kemudian Yesus mengatakan Amanat Agung menjelang Dia naik ke surga, yaitu, “Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Kemudian kita sudah tahu hukum kasih, kita tahu Amanat Agung, kalau kita gabungkan itu, ini menjadi tesis. Relasinya bagaimana dengan Amanat Agung. Hukum taurat yang terutama dengan Amanat Agung itu dikaitkan menjadi tesis. Lalu Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya, implikasinya pada gereja bagaimana? Ini baru jadi disertasi. Aplikasinya luas memberkati orang. Kenapa? Karena kita memikirkan hukum Taurat dan juga Amanat Agung dari Tuhan Yesus Kristus. Dan kalau kita lihat ya, ciri dari bahasa Inggrisnya itu kita lihat bahwa begitu indah. Satu great commandment, satu great commission. Satu hukum yang terutama, satu misi yang utama di dalam kehidupan orang Kristen.

Maka dari itu kita bisa lihat bahwa, ini adalah suatu kunci kita mengalami kebangunan rohani. Kalau kita punya kasih kepada Allah, kalau kita punya niat untuk menjalankan Amanat Agung mengabarkan Injil kepada banyak orang, maka kerohanian kita adalah kerohanian yang dibangunkan. Yesus di akhir pelayananNya sebelum naik ke surga memberikan great commission, apa bedanya dengan great commandment maupun juga great commission. Kalau great commandment, yaitu hukum kasih itu fokus kepada hidup orang percaya. Yaitu hukum kasih itu fokus pada hidup orang percaya. Kamu mengasihi Allah atau nggak? Kamu mengasihi sesama atau enggak? Tetapi Amanat Agung fokus pada tugas gereja keluar yaitu membawa bangsa-bangsa lain, atau orang-orang beragama lain yang tidak percaya kepada Kristus untuk menjadi murid Kristus. Tugas untuk mengabarkan Injil kepada orang di luar sana.

Tugas gereja kasihi Allah, kasihilah sesamamu manusia. Ya, tugas gereja juga adalah keluar pergi mengabarkan Injil, yang satu kurang lebih ya, etika kerajaan Allah, yang satu adalah bagaimana kita diutus keluar dari kerajaan Allah. Ya, yang mana etika kerajaan Allah hidup penuh kasih. Yang mana kita diutus keluar dari kerajaan Allah hidup yang bermisi. Dalam pelayanannya, Yesus menegaskan hukum terutama sebagai inti dari murid Kristus. Tetapi setelah Ia menyelesaikan karya penebusan-Nya Yesus memberi Amanat Agung, sebagai tugas murid sampai ke ujung bumi. Ini unik ya, great commandment itu ketika Yesus belum disalib, belum melakukan pekerjaan karya keselamatan. Great commission, itu setelah Yesus menyelesaikan seluruh kasih kepada Allah, maupun kasih kepada sesama, di bumi ini. Ini adalah suatu perintah yang begitu indah ya.

Ini yang kedua yang menunjukkan bahwa kita itu memiliki kebangunan rohani. Dan yang ketiga adalah kesadaran akan dosa yang tinggi dan kemudian membawa pada pertobatan. Ya, John Calvin katakan bahwa orang yang hidup suci, orang yang hidup dalam pengudusan itu bukanlah orang yang tanpa dosa, tetapi orang yang peka ini dosa, ini nggak baik. Ngomong itu nggak baik. Ngerasani orang itu nggak baik. Gosipin orang nggak baik.

Saya pernah diskusi dengan pemuda lagi ya, pemuda dari gereja karismatik ya. Kita harus belajar dari sesama gereja yang baik. Ya, gereja Reformed kalau ada kelemahan dalam fellowship, dalam penggembalaan, sedangkan gereja karismatik kuat, kita harus belajar kepada gereja karismatik, tapi bukan soal ajarannya. Karena kita yang kuat ajaran kan ya, tetapi soal fellowship-nya, penggembalaannya. Tetapi orang karismatik pun sendiri bilang bahwa iya kita tuh fellowship, fellowship dekat sih dekat, sering ketemu, sering ketemu. Tetapi akhirnya apa? Kita di gereja ada kantin gitu ya, tapi kita duduk ngobrol tuh bukan firman Tuhan. Kita ngerasani orang, itu bajunya jelek tuh tadi yang lihat ya tadi di ibadah padahal sudah rapi misalkan ya. Kalau fellowship tanpa firman Tuhan pun jadi kumpulan sarang penyamun ya, sarang penggosip, gosip, gosip, nyebarin kebencian, efek negatif kalau firman-Nya nggak kuat. Tetapi kita kalau ajarannya kuat, nah kita mulai membenahi fellowship di dalam gereja Reformed. Waktu kita bersekutu, kita tuh orang-orang yang banyak berpikir kan sehingga kelihatannya dingin. Karena apa? Takut dia ngambek, takut dia tersinggung, takut salah. Kita ini mau hidup benar tapi kurangnya adalah kita akhirnya diam, pasif. Nah ngomong aja SKSD tapi tulus gitu ya. Jangan benar-benar munafik seperti itu ya.

Nah, ini ya Bapak, Ibu sekalian, kita kalau sadar ada dosa nih. Ngomong dikit salah. Ini nggak baik loh ngomongin seperti ini. Itu merupakan suatu tanda kita memiliki kebangunan rohani. Visi kekudusan Allah. Ya, di dalam Yesaya itu dikatakan malaikat itu menyanyikan pujian kepada Allah. Nyanyian pujian malaikat adalah kudus, kudus, kuduslah Tuhan. Allah itu kudus. Kita tidak boleh sembarangan dalam hidup kita, meskipun ngomongin kejelekan orang tuh yummy ya, renyah kayaknya, memang bodoh orang itu ya, memang nyebelin orang itu ya. Tapi apakah itu benar dari hati yang penuh kasih kepada orang lain dan Tuhan? Tidak. Itu hanya caci maki, hanya hinaan gitu ya. Kita harus lihat pengudusan Allah, ini singkat ya.

Yang keempat adalah bagaimana kebangunan rohani itu muncul? Itu muncul seruan-seruan tentang kebenaran dan pertobatan. Saya pernah dinasihati jemaat, gimana nih kalau khotbah itu sebenarnya khotbah yang bagus seperti apa? Bayangkan ya, jemaat mau mengajarin pendetanya, tapi nggak apa-apa, kita dengarkan ya. Yang penting firman Tuhan saya beritakan, kuasa firman Tuhan, karena iman timbul dari pendengaran akan firman Tuhan. Betul. Firman Tuhan diberitakan. Terus dia fokuskan bahwa kalau khotbah itu ya supaya lebih bagus gitu ya. Lebih bagus itu bagaimana? Menegur, menegur dosa orang maksudnya. Oh ini satu poin. Di gereja zaman sekarang bahkan di agama-agama lain pun ya, orang tuh dihibur dengan kenyamanan, enak didengar ya, tidak mau menegur dosa. Ya, menegur dosa adalah salah satu fungsi dari nabi dan kita semua berfungsi sebagai nabi. Yesus Nabi di atas segala nabi. Tidak ada nabi yang lain yang melebihi Dia. Dan setelah Yesus tidak ada nabi yang lain. Tetapi kita pun berfungsi sebagai nabi, yaitu apa? Memberitakan kebenaran. Kita tegur dosa. Kalau orang itu berdosa, tegur. Meskipun kita tahu ya, menegur secara publik itu Tuhan Yesus bahkan kasih tahu caranya sulit. Yaitu apa? Kalau ada orang di antara kamu, komunitas kamu itu melakukan dosa, kamu jangan tegur-tegur dia secara langsung di depan umum. Ya, dosa yang cukup besar misalkan yang berefek negatif, pengaruhnya besar, kamu panggil dia. Misalkan orang itu suka bohong, suka manipulatif orang. Sekarang banyak sekali orang-orang yang manipulatif ya. Pintar ngomong tapi bohong semua, munafik dan lain-lain. Nah, kemudian Bapak Ibu sekalian ya, panggil dia empat mata dulu. Oke, dinasihati, terus dia masih bohong, masih munafik. Kemudian ya dipanggillah rekan yang lain ya. Rekan yang lain dipanggil, ayo ditegur dosanya. Kalau tidak masih bertobat, ya sudah umumkan. Di gereja ini ada orang yang omongannya tidak bisa dipercaya, hati-hati ya. Diumumkan secara lebih publik. Nah itu ya, itu adalah fungsi apa? Fungsi nabi. Tegur dosanya yang jelas-jelas berdosa ya. Ya, jangan sampai kita juga menegur yang ternyata bukan dosa yang kita pikir itu salah padahal bukan.

Lalu kemudian yang kelima ya, kebangunan rohani berarti kita mengerti Taurat Allah makin dalam ya. Hukum Taurat, kita merenungkan siang dan malam. Firman Tuhan itu menjadikan orang yang berkelimpahan di dalam Tuhan ya. Orang yang berbahagia adalah orang yang merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam dan melakukannya dalam kehidupannya sehari-hari. Ya, dia mau terus merenungkan firman Tuhan. Pengenalan akan Tuhan semakin dalam. Nah, kita tahu di dalam teologi reformed ya, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, hukum Taurat itu berfungsi ada tiga. Kenapa kita baca hukum Taurat dari satu sampai sepuluh? Jangan ada Allah lain di hadapanku. Terus juga jangan sampai mengingini milik sesamamu. Kenapa kita tahu, kita hafal, kita pelajari, coba kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari itu karena apa? Itu karena pertama, hukum Taurat itu menyadarkan kita akan dosa. Itu fungsi yang pertama. Yang kedua adalah hukum Taurat menyadarkan kita akan Kristus. Kita nggak bisa melakukan hukum Taurat itu semua dengan sempurna. Hanya Kristus yang sempurna dan mampu menyempurnakan hukum Taurat. Dan yang ketiga, kenapa kita lakukan? Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, ingat dan kuduskanlah hari Sabat, jangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan, jangan membuat patung dan sujud menyembah kepadanya, hormatilah ayahmu dan ibumu, jangan berdusta. Kenapa kita lakukan itu? Supaya kita semakin dewasa rohaninya. Jadi itu adalah pendidikan iman kita. Kenapa kita cinta Taurat? Itu menyadarkan kita akan dosa. Itu menyadarkan kita juga bahwa kita butuh Kristus dan kita ingin dididik oleh Tuhan. Maka kita terus ingat dan lakukan hukum Taurat.

Nah, inilah kurang lebih ya lima tanda kebangunan rohani, atau lima definisi dari kebangunan rohani. Pengaruh rohani semakin luas. Kita makin cinta Tuhan, makin cinta sesama. Kita sadar dan peka terhadap segala dosa. Kita juga mau bertumbuh dalam hukum Taurat. Kita juga mau terus bersama-sama menyerukan firman Tuhan. Dan ini adalah pedang yang bermata dua ya, orang bisa benci sama kita. Orang Farisi, ahli Taurat itu benci sama Yesus. Kenapa Yesus? Karena rohani Yesus itu selalu terbakar! Dia selalu melakukan apa yang barusan kita pikirkan. Yesus cinta Tuhan dengan besar.

Nah, yang bagian kedua adalah kita merenungkan sebenarnya apa sih misi? Sebenarnya misi itu apa? Kita tahu film Mission Impossible. Itu misi juga, ya. Misi-misi yang sebenarnya mustahil terjadi, tapi dapat dilakukan dengan berbagai cara yang unik. Misi yang tidak ada kaitannya dengan suatu firman Tuhan. Misi itu apa? Ya, kita tahulah. Misi berarti suatu tugas yang penting. Suatu tugas yang khusus. Suatu tugas yang tentu tidak mudah. Maka kamu diberikan misi. Amanat Agung adalah misi kita. Susah? Susah. Penting? Penting, ya. Khusus bagi kita? Khusus. Orang non-Kristen tidak diberikan Amanat Agung. Hanya orang Kristen yang diberikan Amanat Agung. Susah? Susah, tapi penting dan istimewa.

Nah, pengertian misi dalam kekristenan adalah bagaimana, ya. John Calvin mengatakan itu adalah perluasan Kerajaan Allah di seluruh bumi. Jadi, waktu kita pikir misi itu, bukan Mission Impossible, ya. Tapi waktu kita pikir misi sebagai orang Kristen, “Oh, Kingdom of God.” Kita adalah agen Kerajaan Allah. Kita harus memberitakan Injil ke seluruh dunia. Injil diberitakan secara masif di semua bidang apa pun. Di dalam ekonomi ada Injil. Di dalam politik ada Injil, ya. Di dalam pendidikan ada Injil. Di dalam budaya ada Injil. Maka John Calvin mengatakan bahwa ini adalah holistic mission. Tugasnya berat sekali. Orang Kristen, ya, kalau kerja harus memuliakan Kristus, ya. Kalau kerja, punya teman, sahabat baik yang belum percaya kepada Kristus: tugas kita, misi kita adalah beritakan Yesus. Karena kalau tidak berarti tanggung jawab kita tidak kita lakukan, tugas kita tidak dilakukan. Berdosa lagi di hadapan Tuhan. Menjadi orang Kristen itu semakin banyak –akhirnya, ya kalau kita pikir-pikir– semakin banyak juga dosa yang kita lakukan kalau kita tidak lakukan misi. Orang non-Kristen tidak disuruh oleh Yesus beritakan Injil lho. Dosa? Ya memang dosa, dia. Tetapi orang Kristen sudah kenal Yesus, dapat misi dari Yesus, kalau tidak lakukan? Dosa. Jadi dosanya makin banyak juga loh, ya. Bagaimana kita bisa hidup tanpa dosa? Nah, ini menunjukkan bahwa kita tuh lemah. Sebagai orang Kristen tidak kabarkan Injil. Sebagai orang Kristen tidak tahu Taurat. Sebagai orang Kristen tidak berdoa. Dosa-dosa kita semakin banyak. Kenapa? Ada tugas yang Tuhan berikan secara khusus kepada kita.

John Calvin dikenal sebagai pendeta yang kurang lebih hanya menggembalakan saja. Tetapi ternyata tidak, ya. Pdt. Stevri jelaskan bahwa John Calvin sendiri adalah misiolog, ya. Misiolog. Seringnya kita kenal John Calvin itu teolog, ya. Tetapi Calvin membangun fondasi misi dan menemukan Injil yang hilang. Dia rangkum Injil itu seperti ini. Wah, ini seorang misiolog. Injil itu harus diberitakan kepada banyak orang dan dia menjelaskan secara detail tentang apa sebenarnya Injil itu sendiri, ya. Calvin mempengaruhi kota Jenewa dengan mengadakan pembaruan. Dulunya Kota Jenewa bukan pusat Kekristenan, ya. Kota biasa lah. banyak pengungsi di situ. Kota, ya umumnya, lah. Tapi sejak John Calvin ada, dia melakukan kebangunan rohani untuk kotanya Jenewa. Tetapi juga dia mengirimkan banyak misionaris ke luar kota Jenewa. Gereja di Indonesia kebanyakan Calvinis. Mayoritas Calvinis. Ingat, ya, bahwa gereja-gereja yang dulu dijajah –maksudnya kita dijajah oleh Belanda– itu akhirnya Belanda juga pengaruh dari John Calvin.

Nah, Calvin percaya bahwa –dia sendiri percaya– bahwa, “A good missionary had to be a good theologian first and so he inspired and educated them.” Seorang misionaris yang hebat adalah seorang teolog yang hebat juga, ya. Jadi, siap-siap nih, wah, khususnya para pendeta, ya. Di sini pendeta cuman saya, ya, Bapak, Ibu sekalian. Siap-siap kalau jadi misionaris juga, nih. Karena, bagi John Calvin, kalau sudah jadi pendeta justru harus bermisi. Siap menjadi good missionary. Karena kamu sudah jadi good theologian. Kamu harus mengabarkan Injil juga.

Terus John Calvin juga, ya, ketika memikir dengan gereja Tuhan, dia pikirkan tentang institusi keluarga. Keluarga itu ada ayah, ada ibu, ya. Terus kenapa, ya Allah itu pengen dipanggil kita, Bapak? Ibunya siapa? Ya, akhirnya ada Kekristenan, gereja-gereja tertentu katakan bahwa, “Ibunya Roh Kudus, ya, biar jadi keluarga indah itu.” Allah Tritunggal gitu, ya. Kacau, ya. Allah Bapa, Anak, Roh Kudus, ibunya mana? Masih mikir kayak gitu. Itu tuh roh, ya. Allah itu roh. Tidak boleh digambarkan seperti kita yang adalah manusia. Tetapi John Calvin menghormati Allah Tritunggal. Kalau Allah pengen disebut Bapa, ya kita nurut. Bapa berarti kan sumber. Bapa berarti pemimpin, ya. Bapa berarti yang merencanakan. Gitu, ya.

Nah, sekarang ibunya siapa, ya? –Roh Kudus, ya Roh Kudus– Nah, ibunya adalah gereja ini, ya. Gereja yang saya dirikan, Gereja Reformed. Gereja adalah ibu bagi jemaatnya: siap mengasihi, mendidik agar semua jemaat menerima makanan rohani yang sehat. Maka gereja itu kalau bisa disiplin, disiplin, ya. Kalau bisa melebihi disiplinnya militer, ya. Apa barak-barak militer, kalau perlu kayak gitu. Supaya apa? Dididik. Kita memang dididik, ya. Militer itu on time. Militer itu tegas. “Ayo cepat!” Gitu, ya. “Lakukan yang sudah diperintahkan!” “Oh, siap!” Sekarang kita diperintahkan oleh Tuhan, loh, masa nggak lakukan? Oke. Intinya John Calvin katakan Allah kita, ya Bapa kita. Gereja adalah ibu. Dan Allah serta gereja bekerja sama untuk apa? Mengabarkan Injil. Maka gereja harus kabarkan Injil. Gereja yang tidak kabarkan Injil adalah gereja yang sudah merosot rohaninya. Tetapi juga gereja bisa kelihatan mengabarkan Injil, hanya saja Injilnya palsu, Injilnya tidak benar. Dan ini sayang sekali.

Nah, Wayne Grudem –Bapak, Ibu, Saudara sekalian– seorang teolog, itu mengkritik gereja Tuhan karena gereja Tuhan itu seringkali mengurangi Injil. Injilnya sudah jelas. Ketat, kan? Jelas sekali. Tuhan katakan, “Tidak ada satu nama, di bawah kolong langit ini, di mana kamu bisa diselamatkan kecuali nama Yesus Kristus.” Berarti Yesus itu satu-satunya jalan, kebenaran, dan hidup. Gitu, ya. Yesus satu-satunya jalan untuk bisa diselamatkan. Tetapi gereja itu mengurangi Injil. “Ayo kita percaya Yesus!” Tapi di luar Yesus ada –tetap mereka orang baik bisa diselamatkan juga– nah, ini namanya mengurangi Injil. Tidak akurat, tidak menjelaskan firman secara akurat, mengaburkan iman jemaat.

Maka, Bapak, Ibu sekalian, tidak sedikit jemaat yang beribadah di gereja reformed itu bersaksi bahwa kalau di gereja reformed, kita itu lebih jelas. “Oh, ini tuh iman Kristen toh? “Sebab karena kasih karunia, kamu diselamatkan oleh iman.” Berarti, kita diselamatkan oleh iman, percaya. “Itu bukan hasil perbuatan baik.” Berarti, doa kita, ibadah kita, kebaikan kita tidak menyelamatkan. Oh, baru tahu saya, setelah lama jadi Kristen. Itu Alkitab sudah jelaskan sejak kapan, ya?” Dan saya pun demikian, Bapak, Ibu sekalian, ya. Baru mulai ngeh itu waktu masuk remaja, SMA. Oh, Tuhan itu menyelamatkan dengan anugerah yang begitu besar. Saya pikir, dulu, dengan usaha saya sendiri, saya bisa menyelamatkan diri saya sendiri dengan kebaikan saya sendiri. Baru ngeh. Karena apa? Banyak ajaran yang salah.

Gereja juga ada kelemahan untuk tidak menawarkan Injil yang sejati. Maka dari itu, kita perlu hati-hati juga dalam mendengarkan firman Tuhan, mendengarkan pengkhotbah. Kita juga perlu standar yang membuat kita tahu bahwa ini khotbah yang baik, khotbah yang salah, buruk, atau khotbah yang benar, seperti itu, ya. Yaitu standarnya apa? Firman Tuhan. Gereja suka mengurangi Injil, tidak menjelaskan akurat tentang Injil apa, tidak pernah memanggil, “Ayo, bertobat! Jangan berdosa lagi.” Nggak pernah. Nggak ada kebaktian mempertobatkan orang. Tidak ada akhirnya menekankan tentang Yesus Kristus. Boleh kita survei kalau kita ada waktu lebih banyak. Coba, ya. Kita ibadah di satu gereja tertentu. Kalau ada Kristusnya, bagus. Tetapi, ada gereja yang tidak mengkhotbahkan Kristus, tidak mengkhotbahkan firman Tuhan, hanya pelajaran-pelajaran moralitas. Nah, itu juga kelemahan atau serangan iblis kepada para pengkhotbah atau pendeta juga, ya.

Lalu juga, membaca Alkitab comot-comot, terus jelaskan sesuatu yang dia ingin jelaskan, cocokologi dan lain-lain. Itu merupakan suatu interpretasi atau pengajaran yang tidak bertanggung jawab juga. Padahal, Alkitab itu satu kesatuan, ya, Bapak, Ibu sekalian. Sekalipun 66 Kitab, tetapi itu 1 Kitab. Makanya, jadi Alkitab. 1 saja. Maka, tidak boleh bertentangan antara Kitab Kejadian maupun Kitab Wahyu. Kan 1. Memang dibagi dalam 66 Kitab. Maka, tidak boleh bertentangan. Kalau ada yang bertentangan, tafsirannya salah. Kita tidak bertanggung jawab dalam pemahaman tentang Injil dan firman Tuhan. Maka dari itu, gereja yang bermisi ternyata juga gereja yang sudah dibangunkan rohaninya untuk kembali kepada firman dan meneliti firman Tuhan dari Kejadian sampai Wahyu.  

Tetapi, Bapak, Ibu sekalian, sekali lagi, ya, memang salah satu keunikan dari orang Kristen adalah tanggung jawabnya adalah saat teduh. Ini istilah yang bagus juga, ya. Apa kalau bahasa Inggris itu? Quiet time. Masa teduh. Hati kita penuh dengan gejolak. Situasi dunia penuh gejolak. Kita bersaat teduh di hadapan Tuhan. Tuhan adalah Allah yang paling tenang. Dia tidak terganggu, terusik oleh apa pun. Dia tetap dalam kontrol kedaulatan-Nya. Waktu kita berhadapan dengan Allah, kita meneduhkan hati kita. Kita mau menjalankan tugas kita, yaitu adalah saat teduh, lewat firman Tuhan.

Jadi, ketika kita baca Alkitab atau berdoa, itu rutinitas seorang Kristen, itu bukan menjadi masa-masa yang menjengkelkan, tetapi menjadi masa-masa yang menyenangkan. Karena apa? Kita dikuatkan. Kita diteduhkan jiwanya dari badai yang begitu besar, dari kesedihan yang begitu besar. Kita saat teduh tiap pagi. Itu menjadi satu hal yang seharusnya kita rindukan. Pengen baca Alkitab. Ya, pagi-pagi baca Alkitab, senang. Kenapa? Ketemu Tuhan. Pribadi yang paling mencintai kita dan juga Pribadi yang tidak pernah salah, tidak pernah mengecewakan kita. Masak kita nggak mau ketemu Dia? Nah, itu saat teduh menjadi moment yang begitu indah, di mana kita menyukai firman Tuhan dan kita juga diutus untuk memberitakan firman Tuhan. Maka, lewat saat teduh, kita mengalami kebangunan rohani pribadi lepas pribadi. Sekalipun orang yang saat teduh bisa dengan cara yang salah, tetapi kalau sudah tidak saat teduh, ya, kita masih ada kekuatan, kita masih ingat firman Tuhan, tetapi kita tidak disegarkan rohaninya. Kita menjadi orang yang akhirnya bisa melupakan firman Tuhan jika kita tidak bergantung kepada apa yang sudah Tuhan sediakan di dalam firman-Nya.

Bapak, Ibu sekalian, ya, menutup khotbah ini, inilah yang kita renungkan pada pagi hari ini. Kebangunan rohani, maupun kebangunan misi. Apa sih kebangunan rohani? Apa sih kebangunan misi? Bukan ditandai dengan gereja yang musiknya keren, yang bisa membuat kepala kita gerak sendiri. Gerak sendiri, kenapa nih? Tadi, saya naik mobil bersama istri saya juga, ya. Ada bus telolet. Terus, kemudian, eh, ini berisik amat sih busnya, ya, bunyi-bunyi. Tetapi, ketika didengar, enak juga musiknya. Jadi angguk-angguk juga, ya. Ternyata itu terompet yang tidak mengganggu. Lagunya tidak mengganggu, lho. Untuk menikmati lagu itu nggak usah ke gereja, ya. Bus saja bisa membuat kita angguk-angguk kepala. Kebangunan rohani, kebangunan misi bukan ditandai dengan musik yang hebat, suasana yang penuh dengan orang. Orang bisa jerit-jerit, geblak-geblak, meraung-raung, menangis. Kadang-kadang, kita itu mencari kemuliaan diri, ya. Kalau kita bisa doakan orang, orangnya menangis, itu kayaknya doa kita berkuasa gitu, ya. Kayaknya levelnya lebih tinggi nih. Orang menangis kok ketika kita doa. “Oh, itu karena suara kamu itu membuat orang itu berbelaskasihan kepada kamu, ya. Suara kamu begitu mau nangis. Ya, orang nangis.” Tetapi, bukan itu, ya. Intinya adalah kita setia. Kita doain orang nggak masalah, mau menangis, mau nggak. Itu sudah kebangunan rohani kok. Kita mendoakan kan perintah Tuhan. Musuh kita doakan. Musuh nggak akan menangis. Marah! “Ngapain kamu doa-doakan saya? Saya musuh kamu! Saya benci kamu!” Tetapi, Yesus berkata, doakanlah musuhmu. Doakanlah orang yang menganiaya kamu. Dia nggak bertobat kok, dia tetap marah. Tetapi kita, itu adalah wujud ketaatan kita kepada Tuhan.

Kebangunan rohani itu bukanlah soal manipulasi suasana. Wah, kalau ke gereja ini, tiba-tiba rambut saya kok berdiri semua, ya? Ya, mungkin ada setannya, ya. Itu menyanyi tuh terangkat. Jadi mimpi itu. Saya baru khotbah tentang menafsirkan mimpi di Solo minggu lalu, ya. Mimpi itu kan ya, Bapak, Ibu sekalian, secara akademik itu adalah fungsi logika menurun, emosi naik. Fungsi logika menurun, emosi naik, mimpi kita nggak masuk akal. Ada yang bilang, “Saya dapat cek 10 miliar.” Wow. Ya, itu mimpi tapi ya. Mimpi jadi pilot ya, saya jadi pilot nihnggak pernah belajar pilot. Itu mimpi. Tapi apa? Emosi itu muncul tinggi. Kita nggak pernah berhenti otak ini ya. Kita nggak pernah shut down, Bapak, Ibu sekalian. Ini bisa di-shutdown, mati, tapi otak kita selalu kerja. Nah, mimpi terjadi ketika apa? Otak sibuk mikir, tapi tubuh sudah tidur, lemes ototnya. Tapi pikiran terus kerja, itu disebut dengan rapid eye movement ya, kalau kita belajar soal kesehatan. Mata kita terus bergerak ketika tidur. Nah, itu mimpi. Tapi logika hilang, emosi naik. Masa kita mau membuat realitas dunia ini jadi mimpi? Itu banyak gereja-gereja pengen orang hidup dalam mimpi, emosi naik, wah senang. Logika nggak ada. Itu nggak masuk logika. Nah, banyak gereja jadi mimpi juga. Itu kebangunan rohani. Oh, kita bisa wah ngejengking gitu ya, wah meraung-raung.

Kebangunan rohani atau revival adalah pekerjaan Roh Kudus yang besar-besaran melalui firman Tuhan. Kebangunan rohani dan misi dalam kekristenan adalah ketika firman Tuhan ditinggikan. Bapak, Ibu sekalian, kalau kita sungguh-sungguh merenungkan hal yang sederhana seperti ini, dengar khotbah tapi kita tahu ini firman Tuhan, itu adalah kebangunan rohani. Kita bisa dengar khotbah tanpa ngantuk misalkan ya, itu kamu dibangunkan secara rohani, biasanya ngantuk kok. Terus kemudian wah kita semangat. Pokoknya saya dengar khotbah, saya tahu kalau ditanya orang. Saya kadang-kadang di pemuda Solo tuh isengin pemuda ya. Ya, khotbah tadi tentang apa coba? Ingat nggak? Kalau tahu ya ini sebatas kognitif, tidak menentukan rohani orang ya. Tetapi setidaknya kita tahu apa sih yang Tuhan inginkan kita lakukan dalam kehidupan kita. Pulang dari ibadah setelah baca firman gitu ya, itu kebangunan rohani ya. Bukan akhirnya wah kelihatan hebat, kelihatan heboh ya. Nah, akhirnya kita bisa lihat bahwa kebangunan rohani ketika banyak umat Kristen itu rindu firman Tuhan. Ya, semua pengkhotbah akhirnya memberitakan firman Tuhan dengan baik dan khotbahnya itu adalah hanya kebenaran firman Tuhan. Dan kemudian jemaat tidak suka kalau dengar yang bukan firman Tuhan, itu kebangunan rohani. Ini apa sih ngomongin apa sih pendetanya ya?  Ini cuman cerita tentang pengalamannya diri sendiri, cerita tentang dirinya sendiri, bukan firman Tuhan. Saya mau Alkitab, maka hatinya sudah gentar, sudah memiliki kebangunan rohani. Alkitab dibaca, direnungkan, diberitakan, dikhotbahkan, dan ditaati. Orang-orang meninggalkan dosa, kembali pada hukum Taurat. Yesus Kristus ditinggikan dan dipermuliakan dan banyak orang berkata bahwa aku ingin Yesus Kristus. Aku ingin lebih cinta Yesus, ya. Aku mau cinta Yesus selamanya. Itu rohani yang sudah dibangunkan. Aku ingin menyenangkan Yesus selama-lamanya.

Nah, inilah Bapak, Ibu, Saudara sekalian ya, sebagai orang Kristen kita perlu memahami teologi yang sederhana ini, tapi sangat powerful ya di dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Bagaimana kita memiliki rohani, tapi rohani yang diperbaharui, dibangunkan, dan juga kita memiliki misi ya. Bagaimana kita akhirnya mau dipimpin Roh Kudus, kita menyukai Injil, kita suka firman Tuhan, dan juga kita sebagai orang Kristen memimpin dunia dengan Injil. Ini adalah satu kutipan yang menggugahkan saya ketika mendengarkan orasi ilmiah dari pendeta Stevri itu menutup bahwa kita harus pimpin dunia dengan Injil. Ini teraplikasi dalam segala sesuatu. Kita mimpin istri kita dengan Injil, mimpin anak kita dengan Injil, mimpin keluarga kita dengan Injil, mimpin gereja ini dengan Injil, mimpin perusahaan dengan Injil, mimpin diri kita sendiri dengan Injil, mimpin apa pun dengan kabar baik yang Yesus sudah berikan kepada kita.

Maka kita bisa simpulkan, Bapak Ibu sekalian, kebangunan rohani berarti apa? Menaati great commandment. Ya, menaati commandment: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan kasihilah sesamamu manusia. Ini perintah dari Yesus Kristus sendiri. Dan juga misi berarti apa? Kebangunan misi yaitu kita menaati Great Commission dari Yesus Kristus untuk kemuliaan Yesus Kristus. Mari kita sama-sama menjalankan dua great ini: great commandment, great commissions. Dua-duanya sama, GC, ya. Ini adalah suatu hal yang indah yang Yesus nyatakan di dalam kehidupan kita. Kiranya kita sebagai murid Kristus dan gereja Kristus boleh memiliki kebangunan rohani dalam hidup kita. Mulai dari hal kecil, yaitu apa? Kebangunan rohani dalam pribadi kita, ya. Baru kita harapkan kebangunan rohani bagi gereja kita. Baru kita harapkan kebangunan rohani bagi seluruh kota. Mari kita sama-sama berdoa kepada Tuhan.

Bapa kami yang ada di surga, sungguh sering kali kami mengabaikan perintah-perintah yang utama dari Tuhan sendiri. Padahal kami tahu bahwa segala perintah yang Tuhan berikan kepada kami itu adalah hal yang baik buat kehidupan kami, buat masa depan kami. Tuhan tidak pernah membawa kami kepada hal-hal yang buruk, hal-hal yang celaka. Rancangan-Mu selalu rancangan damai sejahtera dan bukan kecelakaan. Tetapi sering kali kamilah yang mengambil jalan, mengambil keputusan untuk melawan Tuhan, sehingga kami sendiri yang mendapatkan celaka karena pemberontakan kami kepada Tuhan. Tuhan, melalui firman Tuhan hari ini, Tuhan yang boleh membangunkan kerohanian kami, menyadarkan kami bahwa hidup kami ini sudah dicintai oleh Engkau dengan begitu besar dan sudah sewajarnya kami pun mencintai Engkau dengan seluruh kehidupan kami. Ajar kami juga Tuhan, meskipun kami belum ada pengalaman ataupun juga kesulitan untuk menjalankan amanat agung. Kiranya Tuhan boleh tolong kami untuk taat dan setia. Kiranya kami boleh sungguh-sungguh melayani Engkau, menjalankan great commandment maupun juga great commission yang sudah Tuhan Yesus perintahkan kepada kami semua. Pimpinlah hidup kami Tuhan. Jadikanlah kami murid Kristus yang setia dan juga rendah hati. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa dan bersyukur. Amin.